Diposkan pada livinginjogja, pernik

Tak mau menjadi kaya…


Sangat jarang kita menemui orang yang mengucapkan hal tersebut. Tapi orang itu aku temukan juga, yaitu seorang kolega di klinik universitas, tempat kerjaku yang lain. Jangan dibilang ia bukan “orang kaya”, masyarakat di tempat tinggalnya saja menyebutnya sebagai tuan tanah, “O, Pak X ingkang duwe lemah katah niku…” (O, Pak X yang punya tanah banyak itu…”

Dia sudah punya titel haji, sudah hampir spesialis juga. Penampilannya sederhana aja. Ke kantor cuma naik motor butut, tapi begitu pemurah, klo ada yang sakit langsung ngomong: “kamu butuh apa?” Klo pas giliran dinas biasanya men(t)raktir semua karyawan yang ada. Nah, saat-saat makan itu kami sering menanyakan kok rajin men(t)raktir? “Ga pengen jadi orang kaya…”, katanya. Pokoknya orangnya sama sekali ga pelit bin medit. Aku aja sempat ngiler lihat internet broadband mobile yang dia langgani pernah ditawari untuk nyoba dan dipersilakan bawa pulang…wah!! Ya, mungkin ada yang berpendapat: “Ah, beliau kan memang ga punya keluarga, jadi ga butuh uanglah…” (maksudnya ga punya istri dan anak, memang beliau ga menikah…) Tapi menurutku bukan itu yang utama.

Di kesempatan lain, dia ngomong yang sama: “Ga mau jadi orang kaya…” katanya. “Kenapa, Pak?”, seorang perawat menanyakan. Aku langsung aja nyolot: “Ga tahan konsekuensinya ya, Pak?” Dia langsung ketawa: “Iya benar, orang kaya itu berat konsekuensinya, masuk surga aja paling belakang sendiri, karena harus ditanya macem-macem dulu…” Oooo, ternyata itu toh…

Andaikan banyak orang berfikir seperti beliau, mungkin ga banyak orang serakah yang akan merugikan orang banyak di bumi ini.

Pic dari sini

Diposkan pada curhat, livinginjogja, salahkaprah

PNS lebih OK?


“Wah, bayi swasta nih, ya… ooo, moga besok anak kedua ya…” (maksudnya: klo udah anak kedua aku sudah kerja di instansi negeri), celetuk seorang bidan puskesmas yang menerima anakku untuk diimunisasi. Itu setelah aku bilang, aku kerjanya di RS swasta. Sebuah “guyonan” yang menjengkelkan!! Tapi kupikir untuk apa melayani hal “kecil” itu, biarin aja…

Istriku aja ga lebih kurang lagi jengkelnya dari aku. “Wah, anak swasta nih ye…” diulanginya kata tersebut ke Ifa, anak kami.

Ga begitu ngerti aku, apa sih maksud si bidan ngomong begitu. Apa ini karena pas musim CPNS? 🙂 sehingga bidannya punya kesan tersendiri terhadap PNS? entahlah…

Klo yang aku pikirkan sih, mungkin bidan itu mengira swasta itu ga elit, ga dapat tunjangan kesehatan anak, sehingga sampai imunisasi anak aja ke puskesmas, padahal kan di mana-mana yang namanya imunisasi dasar itu gratis. Bahkan klo mau sih tinggal aku suntik sendiri aja si Ifa (seperti yang aku lakukan waktu imunisasi HiB pertama). Sama istri sudah dijelaskan pengennya imunisasi di tempat yang dekat aja dari rumah.
Klo perkiraanku benar, bidan itu salah besar. Justru kerja di swasta itu jauh lebih enak, kerja lebih semangat, gaji jelas lebih besar, tunjangan kesehatan keluarga dan hari tua? alhamdulillah di tempatku bekerja menjamin itu semua.

Istriku nanggapi juga: “Ya, memang gitu pendapat masyarakat awam…”
Ah, udahlah…malas membahas lebih lanjut. Yang penting akunya memang dari dulu ga berminat jadi “antek” pemerintah kok… 🙂

Diposkan pada dokter, kesehatan, malpraktik

Kisah Dugaan Malpraktik


Rating: ★★★★★
Category: Other

Bicara tentang dugaan malpraktik tidak pernah ada habisnya, apalagi di Indonesia dengan berbagai kesenjangan yang terjadi. Berdasarkan telusuranku selama ini kasus dugaan mapraktik sebagian besar diakibatkan kesenjangan informasi baik oleh tidak baiknya komunikasi tenaga kesehatan dengan klien. Selain itu konsumen kesehatan di Indonesia jarang bersifat rasional, lebih mementingkan gengsi, sok pintar (maaf…), tidak berusaha untuk mencari second opinion, tidak kritis (dalam hal yang baik) dengan intervensi tenaga kesehatan terhadap dirinya.

Berikut ini sebuah kisah nyata yang telah difiksikan :-), tenttu saja sudah banyak ditambahi “bumbu, biar lebih menarik, tetapi tidak kehilangan pesan yang ingin disampaikan. Terimakasih kepada dr. Posma Siahaan, Sp.PD yang telah berkenan berbagi cerita ini kepada kita.

——————————————————————————————————————

BALADA KASUS MALPRAKTEK

By: PB Siahaan

Kasus I. Persidangan Perdana Dokter Bassing

“ Terdakwa dokter Bassing, anda telah dituduh dengan sengaja mengobati pengacara Wisman yang nyata-nyata di wasiatnya melarang diobati oleh siapapun dokter dalam negeri Gemah Ripah. Apakah anda mengaku bersalah ?” Tanya si hakim tegas, tapi terlihat mimik mukanya geli menahan senyum. Tapi namanya kasus sudah berjalan dan berkas lengkap, terpaksa pertanyaan yang sekilas konyol ini dibacakan.

“ Saya mengaku dengan sadar mengobati pengacara Wisman yang saat itu serangan jantung, tapi saya tidak merasa bersalah!” Jawab Bassing tegas.

“ Baiklah, karena terdakwa tidak merasa bersalah, sidang kita tunda minggu depan dengan agenda mendengarkan tuntutan dari penuntut umum.” Tuk..tuk..tuk palu pun diketuk dan sidang pun bubar.

Dr. Bassing tidak ditahan, hanya dilarang ke luar kota saja dan tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter umum di ruang gawat darurat Rumah Sakit Damai. Tak ada yang berbeda dengan pekerjaannya, manajemen rumah sakit pun tetap mendukungnya. Persidangan tersebut tidak menurunkan kepercayaan pada tindakannya, malah semakin meningkatkan rasa hormat masyarakat pada dirinya.

Ya, kisah aneh ini berawal dari pengalaman tidak menyenangkan pengacara Wisman saat mengobati istrinya yang sakit gangguan penglihatan, mendadak gelap seperti buta. Di sebuah rumah sakit tercanggih di ibu kota Gemah Ripah, si ibu dinyatakan gangguan di retina, dan harus dioperasi matanya. Bila tak dioperasi mata pasti buta dan kalau dioperasi masih mungkin 50% buta. No choice!!!

“ Tidak ada pilihan lain, Pak. Rumah sakit inilah yang tercanggih di negeri Gemah Ripah, bapak boleh cari second opinion, tapi tak mungkin ada pilihan lain di negeri ini. Putuskan satu hari ini pak, kalau terlambat kami tidak bisa berbuat apa-apa.” Sang dokter berusaha meyakinkan si pengacara ternama.

Wisman marah meradang, dibawanya istrinya berobat ke Singapura, 1-2 hari diperiksa di sana ternyata ada gumpalan darah di saraf mata dan pengobatannya hanya anti pembekuan darah biasa saja. Si istri disuntik 1 kali di pusar selama seminggu, gumpalan itu pun mencair dan dia bisa melihat kembali.

“ Ini penipuan! Saya menuntut dokter mata kemarin dan manajemen Rumah Sakit Exellent karena melakukan kesalahan diagnosis!!” Teriak Wisman dengan mata berkaca-kaca di depan wartawan. Dia memang terkenal karena selalu membentuk opini publik pada setiap kasus yang ditanganinya.

“ Masak rumah sakit tercanggih di Gemah Ripah tak bisa mendiagnosis kelainan darah?” Dan tuntutan diajukannya ke pengadilan, tetapi akhirnya kalah. Rumah Sakit Exellent ternyata bisa membuktikan bahwa proses penegakan diagnosis yang dilakukan sudah sesuai prosedur dan tindakan yang ditawarkan juga meminta persetujuan keluarga. Jadi Wisman pun kalah dan ia marah.

Maka diumumkanlah di tanggal 21 Mei 1998 (bersamaan dengan peringatan 100 tahun kemerdekaan negeri Gemah Ripah) sumpah serapah pengacara Wisman yang dibuat di atas kertas segel bermeterai 6000, di depan ratusan wartawan ibu kota: Saya yang bertanda tangan di bawah ini Wisman, SH, MH, menyatakan tidak mengijinkan satu orang pun dokter dari negeri Gemah Ripah mengobati saya atau keluarga saya, apa pun yang terjadi. Bila ada yang berani melakukannya akan saya tuntut seberat-beratnya.

Dan memang sejak itu dalam 10 tahun terakhir Wisman sekeluarga selalu berobat dan check up di Penang, Singapuran dan Australia, walau hanya untuk mengobati panu saja. No problem, no case, nothing to discuss.

Peristiwa yang menjadi pemicu persidangan itu terjadi pada tanggal 21 Agustus 2008 pukul 20.30 waktu Gemah Ripah Bagian Barat, pengacara Wisman yang kelelahan dalam membela kasus perbankan yang bermasalah mendadak nyeri dada kiri hebat, seperti ditusuk-tusuk jarum berkarat. Nyeri seperti ini pernah dialaminya tahun 2003, tapi saat itu masih jam 8 pagi dan keluarga langsung menyewa pesawat carteran, lalu membawanya ke Singapura. Dia dirawat 7 hari kemudian dinyatakan sembuh dan kerja seperti biasa.

Tapi malam itu hujan lebat, ditambah banyaknya petir dan kilat, semua perusahaan penyewaan pesawat angkat tangan tak sanggup berangkat, sementara nyeri dada pak Wisman tambah berat.

Akhirnya keluarga memutuskan membawanya ke rumah sakit terdekat, tapi ternyata wajah pak Wisman sudah ada fotonya di semua bagian gawat darurat dan registrasi rumah sakit ibu kota dengan tulisan besar-besar di bawah fotonya: PERSONA NON GRATA, orang yang tidak diterima, berpotensi buat masalah!!!

“ Maaf, bu. Kami tidak bisa melayani pak Wisman!” Kata si dokter jaga rumah sakit pertama.

“ Tempat penuh, bu…” Kata paramedis rumah sakit kedua.

“ Tempat parkir penuh, mas…..” Kata si satpam rumah sakit ketiga, rupanya dia sudah dapat kabar manajemen rumah sakit untuk langsung menolak jika mobil mewah keluarga Wisman memasuki gerbang rumah sakit mereka.

Akhirnya di rumah sakit Damai, yang kecil di pinggiran kota, rumah sakit ketujuh yang didatangi, setelah 45 menit putus asa ditolak semua rumah sakit sebelumnya, masuklah keluarga ke UGD dan yang menjaga dokter Bassing. Si dokter muda itu memeriksa dengan sigap dan langsung bertindak cepat.

“ Isosorbid 1 tablet bawah lidah, asetosal 80 mg 2 tablet, morphin 1 ampul, infus isotonik 1 kolf mikrodrip…….Rekam jantung….” Dan seterusnya prosedur tatalaksana gawat jantung dia ucapkan….

“ Dok…itu yang diobati, pengacara Wisman!!!” Setengah berbisik perawat Nuri mengingatkan….

“ Saya tahu, terapi teruskan…..” Jawab si dokter tegas.

“ Wah, dokter periksa cipika-cipiki, ya? (istilah analis Rumah Sakit Damai untuk pemeriksaan enzym jantung CPK-CKMB)…..Lho, dok….ini, kan si Wisman? Kalau darahnya diambil nanti saya kena masalah, gak?” Ucap Linda si analis laboratorium senior ragu-ragu..

“ Saya yang tanggung jawab! Kerjakan tugas mu, Linda…” Jawab Bassing tegas.

Nyawa pengacara ternama itu pun tertolong. Wisman dirawat lima hari di Rumah Sakit Damai oleh dokter Bassing, seorang dokter umum, padahal semestinya oleh dokter jantung, namun tak ada dokter lain yang berani menjamah pengacara Wisman di rumah sakit itu. Dan mungkin karena terlalu lama jantung tersumbat dan kehilangan kesadaran akibat kelamaan keliling ditolak banyak rumah sakit, atau karena hanya dirawat dokter umum dan bukannya dokter jantung di intensive care cardiology unit (ICCU), Wisman memang hidup, sadar, tapi menderita kelumpuhan lengan dan kaki, serta tak bisa bicara.

“ Baiklah, saya tak sanggup lagi. Hanya bisa begini kemampuan saya, karena pak Wisman sudah stabil, silahkan keluarga bawa pulang atau rujuk ke rumah sakit lain.” Jelas dokter Bassing di hari kelima.

Wisman dibawa keluarga ke Singapura, ternyata kelumpuhan dan kebisuannya belum sembuh juga. Mungkin bisa kembali normal, tapi waktunya perlu lama. Akhirnya keluarga memutuskan merehabilitasi si Bapak di dalam negeri saja.

Satu minggu setelah ada di rumah, sekertaris Wisman di kantor membesuk dan berbisik ke istrinya. “Bu, pak Wisman lumpuh begini gara-gara ditolong dokter Gemah Ripah, sesuai wasiat bapak, dokter itu kita tuntut saja, kalau tidak nanti pak Wisman dianggap masyarakat hanya besar mulut saja. Bisa-bisa jatuh pamor kantor bantuan hukum kita.”

“ Tapi, dokter itu kan tidak salah!!” Si istri jadi bingung mendengarnya.

“ Kami tahu bu. Tapi semua client dan koneksi Bapak menanyakan wasiat itu. Ini masalah komitmen, bu. Kepercayaan orang terhadap apa yang diucapkan dan dinyatakan pak Wisman. Kalau tuntutan itu dilakukan, kantor pengacara kita dianggap berkredibilitas dan berkomitmen tinggi pada janji dan ucapan. Ini menyangkut nama baik pak Wisman, bu.” Setengah memaksa sekertaris meminta.

Istri Wisman pun dengan beratnya menandatangani surat kuasa pengaduan, dan tak lama kemudian dokter Bassing pun menjalani pemeriksaan.

Sidang dilanjutkan tanpa pengacara dari pihak dokter Bassing, karena dia menolaknya. Dan pada sidang ketiga, saat agenda acara mendengarkan pembelaan terdakwa, Bassing hanya berkata, “ Saat dilantik saya telah bersumpah untuk menghargai kehidupan sejak awal pembuahan. Tanpa membedakan segala bentuk agama, golongan, suku, ras, apalagi hanya mengandalkan selembar kertas wasiat. Bagi saya, nyawa pak Wisman lebih berharga dari kertas segel bermeterai 6000 rupiah. Sekian pembelaan saya!”

Tepuk tangan riuh di ruang sidang, beberapa orang di ruang sidang malah menangis terharu. Dan di sudut pojokan, Wisman di atas kursi rodanya matanya memandang nanar ke depan kursi pesakitan, berlinang setetes air mata mengalir dari kelopak, ke bulu mata, lalu pipinya. Dan terasa benar dia begitu gemas ingin bicara, tapi tak bisa.

Sidang keempat, hadir saksi meringankan, memberatkan, lalu bla-bla-bla….Lanjutkan minggu depan…Dan akhirnya minggu kelima vonis itu dijatuhkan.

“ Terdakwa Dokter Bassing. Setelah mendengar saksi-saksi dan bukti-bukti, dan mengingat anda tidak merasa bersalah telah melanggar wasiat seorang pengacara, dan anda tidak menyesal akan perbuatan anda, maka kami nyatakan:ANDA BERSALAH SECARA HUKUM. Namun karena yang anda lakukan adalah tindakan mulia, anda hanya diberikan hukuman satu tahun tidak boleh ke luar negeri, alias tahanan dalam negeri. Demikianlah putusan ini ditetapkan di Pusat Gemah Ripah….Tuk…Tuk..Tuk” Pak hakim membalikkan badan dan tertawa sepuasnya.

Tepuk tangan membahana di ruangan pengadilan. Persidangan 5 minggu itu menghasilkan keputusan yang elegan: Bersalah secara hukum, tapi benar secara kemanusiaan. Dan hukuman dilarang satu tahun ke luar negeri itu seperti bukan hukuman, karena Bassing memang gak pernah cukup uang untuk jalan-jalan ke luar negeri.

Saat ruangan sidang mulai sepi, sebuah kursi roda didorong mendekati Dokter Bassing, ya siapa lagi kalau bukan Wisman. Mereka sempat terdiam saling tatap 2 menit sebelum akhirnya dari mulut Wisman keluar desisan berat nian….lalu dia tarik nafas panjang dan akhirnya terbata-bata terucaplah kata, “ Te..ter..rim…ma…..kas..ssihhhh..”

Kursi roda itu pun pergi meninggalkannya termenung sendiri.

Akhirnya Bassing menentukan langkah hidup selanjutnya. Ya, dia merasa sebagai dokter sungguh lemah di mata hukum, dan rentan pengaduan, maka dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke spesialisas kedokteran, namun malah mengambil kuliah hukum malam selama 4 tahun, dilanjutkan 2 tahun ambil pengacara.

Agustus 2014, telah mulai praktek pengacara yang dokter dan dokter yang pengacara bernama dr. Bassing,SH, yang khusus menangani kasus malpraktek. Dan kalau tidak ada kasus dia praktek biasa, namun dengan kepercayaan diri tinggi tidak takut dipermainkan lagi oleh pengacara lainnya.

Sumber: http://posmavip.multiply.com/journal/item/132/Balada_malpraktek_kasus_1

Diposkan pada dokter, livinginjogja, pernik

Aku lebaran di rumahsakit…


Menjelang lebaran fitri besok, aku belum dapat segera menunaikan hasrat sebagai bangsa Indonesia baik, apalagi kalo bukan yang namanya mudik. Masih ada jadwal dinas di rumahsakit-ku, walaupun di tempat praktik lain udah libur, tapi rumahsakit belum libur sih. Untung aja istri dan anak udah mudik duluan, jadi ga masalah jadwal dinasku dipadatin sampai hari lebaran +3, so insya Allah baru bisa mudik hari Jumat sore, itupun cuma ke tempat mertua di Kuwarasan, Kebumen, secara cuma dapat libur 2 hari, karena Senin, tanggal 6 sudah harus dinas lagi. Ya, ga apa-apalah menurutku, namanya juga profesi penuh pengorbanan 🙂 mesti ada enaknya ada engganya. Apalagi di rumahsakit ini karirku masih baru, jadi perlu sedikit semacam “prestasi” kerja agar lebih cepat mengungkit status, hahaha…

O, iya, karena udah malam lebaran nih, aku mau ngucapin Selamat menyambut Idul Fitri, semoga amal perbuatan kita diterima Allah, amiin, maafin juga ya semua kesalahanku selama ini, semoga ke depannya bisa lebih baik…. Bagi yang sudah mudik, ingat-ingat oleh-olehnya ya, bagi yang sedang di jalan yang mau mudik, hati-hati aja ya…. Bagi yang ga mudik, santai aja lagi… 🙂

Diposkan pada curhat, dokter, kesehatan

WARNING buat IBU pe-NGANDUNG anak PERTAMA


Akhirnya aku ketemu juga kasus yang aku takuti selama ini, kondisi gawat darurat yang amat susah ditangani selain dengan merujuk segera ke RS yang punya unit perawatan intensif (ICU). Yah, pasien tersebut akhirnya meninggal di ruang UGD, saat aku dinas Rabu malam  minggu lalu pukul 23.10 (cuma selisih 10 menit saat datang ke RS). Seorang ibu hamil 7 bulan usia 35 tahun (anak pertama) berpulang ke rahmatullahi karena menderita eklamsi. Beliau sudah lama kejang-kejang sejak dari rumah dan riwayat pemeriksaan antenatal (waktu hamil) tidak diketahui oleh keluarga yang mengantar. Tekanan darahnya waktu itu 220 per 80 milimeter air raksa, dengan badan dan kaki yang bengkak-bengkak. Padahal ambulans sudah siap mau mengantar ke RSUP Dr. Sardjito, ternyata takdirnya sudah tiba, harus meninggal sebelum sempat mendapatkan perawatan lanjut.

Aku setengah kesal dan “marah” sama keluarga yang mengantar (suaminya ga ada di tempat). Mereka tidak pernah tahu riwayat kehamilan sang ibu, periksa kemana, tensinya biasanya berapa, pernah bengkak-bengkak atau engga. Ya, sudah akhirnya aku dengan antara menahan haru dan emosi kesal, menginformasikan ke keluarganya. “Mohon lain waktu, kalau ada yang hamil tekanan darahnya dipantau ya…, kontrol rutin di bidan atau puskesmas ya…” Keluarga bingung, kenapa bisa terjadi demikian dengan sang ibu. Aku informasikan bahwa sang ibu menderita “keracunan” kehamilan. Begini jadinya kalau tidak kontrol rutin ke bidan atau puskesmas. Datang-datang sudah dalam keadaan sangat gawat.

Jadi mohon kepada ibu-ibu di MP yang sedang hamil (terutama anak pertama) mohon waspada dengan tekanan darahnya, selain itu dianjurkan untuk tes air kencingnya. Semoga diberikan kelancaran dalam kehamilan dan ketika melahirkan. Amiin…

Gambar dari sini

Diposkan pada tak terkategorisasi

Hari ini aku ulang tanggal ya?


Hahaha…iya…ya harusnya yang benar kan Ulang Tanggal bukan Ulang Tahun yah? untung diingatkan sama Pak Gogod. Udah dari beberapa minggu lalu aku ingat mau ulang tanggal ini. Tapi ya, seperti tahun-tahun lalu, biasa aja, angin lewat…apalagi sekarang lagi banyak yang mau dipikir dan kebetulan lumayan bokek nih (ada sebabnya sih…) Jadi mohon maaf tidak ada traktiran, hahaha….

Trimakasih buat teman-teman Mp yang udah mendoakan via PM atau nyelip via reply-an 🙂 terlebih lagi buat Pak Yo, yang udah rela sms aku (sampai ingat gitu Pak), nagih traktiran, hahaha…

BTW, di hari ulang tanggal ini aku juga punya harapan dalam hati, aku bocorin nih: pengen bisa lebih baik lagi, maksudnya pribadiku, ya syukur-syukur klo penghasilan makin meningkat, secara masih banyak utang nih…hahaha…

Klo nagih traktiran, itu tuh silakan dicicipi tarnya…
———————————–
Kue tart dipesan dari sini 🙂

Diposkan pada bayi, doa, dokter, istri

Dambaan hati itu telah lahir…


Alhamdulillah, tlah lahir normal puteri pertama kami, Senin 16 06 08 pkl.01.23 di RSIY Kalasan Sleman, BB 2650 g, P 48 cm. Mhn doa agar jadi anak shalih (Dodo & Iin)

Begitu pesan singkat yang aku kirimkan ke sebagian besar nomor kontak di phonebook HP-ku. Terus terang ga sabar ketika harus menunggu subuh untuk menyampaikan berita gembira ini. Banyak balasan diiringi doa-doa berharga bahkan dari mereka yang tak menerima sms-ku karena kebetulan tidak terdaftar di phonebook. Terima kasih atas semua dukungan dan doa yang diberikan kepada kami selama ini… semoga mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah.

Ingin kilas balik sejenak, mengenang detik-detik kelahiran sang buah hati…

Istri mulai mengeluarkan lendir darah pada Jumat, 13 Juni 2008, Hari Perkiraan Lahir (HPL) bayi jatuh pada Hari Ahad 15 Juni 2008. Mules-mulesnya sih belum, tapi khawatir aja… makanya langsung aku bawa ke rumahsakit tempat biasanya istri ANC (antenatal care=perawatan sebelum lahir). Di periksa di UGD, ternyata mulut rahimnya masih pembukaan 1 cm. Ditawarkan nginap sih, tapi istri lebih nyaman di rumah kata, ya udah… kita pulang lagi ke rumah.

Sabtu udah mulai mules-mules, tapi kontraksi rahim belum teratur dan masih lemah. Aku sarankan untuk relaksasi saja, istri merasa lebih nyaman kalau tiduran sambil duduk di kursi. Ahad sore udah mulai meningkat lagi kontraksinya, sampai mengaduh-aduh, aku hitung lama dan interval antar kontraksi juga belum teratur. Ga tega juga lihat istri, tapi ya aku berusaha memberikan saran dengan teori-teori yang aku ketahui. Pas aku lagi dinas jaga, sepertinya sudah lebih parah sakitnya. Memang sih istri sendirian di rumah, kasihan juga kan, ga ada tempat berkeluh kesah  yaa, risiko kalau udah gini, keluarga jauh semua dan waktunya pada belum bisa. Kebetulan kakak ipar bisa datang dengan satu bibi yang akan membantu, tapi baru bisa nyampe sekitar waktu maghrib. Melalui telepon aku saranin istri melakukan posisi seperti sujud, menumpu pada kedua lutut dan lengan, sambil dibuka lebar antar lengan dan pahanya. Aku minta lakukan selama 30 menit, alhamdulillah bisa berkurang sakitnya. Pukul 21 aku selesai dinas, langsung cabut ke rumah, belum sampe rumah udah ditelepon istri: bisa pesan taksi sekarang ga? Posisi di mana? Aku katakan sedikit lagi nyampe rumah… kebetulan sebelum pulang dinas aku beli gel pelumas dan sarung tangan untuk periksa dalam, memantau sejauh mana pembukaan mulut rahim istri. Kebetulan kakak ipar juga udah nyampe dan membawa pesananku: Doppler (alat untuk mengetahui dan menghitung denyut jantung janin) dan stetoskop janin. Langsung aja aku cek denyut jantung calon bayi kami, Alhamdulillah masih normal berkisar 140-an kali permenit. Terus aku periksa dalam. Wah…ternyata sudah pembukaan 4-5 cm. Tanpa pikir panjang (belum sempat ganti baju, apalagi mandi… hehehe) aku langsung cari taksi, untung ada pangkalan taksi di Hotel Hyatt, dan dekat dari rumah. Sekitar pukul 22.30 kami nyampe di rumahsakit. Langsung masuk ruang observasi persalinan (VK). Diperiksa sama bidan, eh… udah pembukaan 6 cm. Ga tega banget lihat istri kesakitan gitu, sampai bergetar badannya menahan sakit, tapi istriku ga teriak-teriak, cuma ekspresinya menggambarkan kesakitan sekali. Ya, aku sambil menemani istri dikabari kalau dokter kandungannya sebentar lagi datang (sekitar 1 jam, dengan perkiraan sudah pembukaan lengkap). Sekitar pukul 00, Senin 16 Juni 2008 sudah lengkap pembukaannya. Istri kemudian dipimpin oleh dokter untuk mengejan. Bu dokternya memintaku membantunya, walah… padahal mau mendokumentasikan keluarnya sang jabang bayi, hehehe… ya udah pake sarung tangan dan langsung ikut turun tangan. Lumayan lama mengejan, berulang kali, sekali-sekali istri diberi minum dan dipompa semangatnya. Alhamdulillah pukul 01.23, bayi kami lahir. Sesuai hasil USG, jenis kelaminnya perempuan, mungil banget, beratnya 2650 gram (kalau dari USG terakhir: 2900 gram, tapi masih BBLC (Berat Bayi Lahir Cukup) kok… ternyata plasentanya juga kecil, jadi wajar saja penyaluran nutrisi dari ibu ke bayi juga sedikit…

OK, sekarang cerita dikit tentang bayinya ya. Subhanallahu, aku sampai sekarang masih merasa takjub punya bayi yang mungil dan cantik begini…hhhhh….gemes…tapi rada-rada khawatir waktu pertama kali menimangnya. Maklumlah… baru jadi bapak baru sih… J. Kalo aku perhatikan sih rada-rada mirip aku gitu… hahaha… ya iyalah…

Selasa sore setelah imunisasi BCG (waktu lahir langsung diimunisasi Hepatitis B), kami pulang dari rumahsakit, wah… tetap lebih enak di rumah, si bayi lebih tenang kayaknya. Kata orang repot kalau bayi masih baru gigi, memang sih, tapi kan semua itu hilang dengan rasa bahagia yang amat sangat…

Walau ga cuti kerja aku sempatkan sebisaku membantu mengasuh si bayi mungil kami, sudah mulai diperkenalkan ke tetangga, dijemur, minumin susu. Yah, si bayi akhirnya “dipaksa” minum formula (ini juga berdasarkan petunjuk dokter anaknya), karena ibunya belum juga bisa mengeluarkan ASI secara adekuat (kolostrum udah keluar, tapi mandek lagi…). Sayang ga dapat asupan energi kalau cuma diminumin air putih saja. Ya, mau gimana lagi. Tapi aku motivasi terus istri untuk tetap meneteki bayi untuk lebih menstimulasi produksi ASI, selain itu juga diberi obat perangsang produksi ASI. Hari pertama kelahiran si bayi aku tahnik-kan (salah satu sunnah nabi) dengan madu (ga sempat cari kurma). Mengganti popok juga udah, kalau memandikan belum sih… hehehe, maklumlah masih berbagi tugas.

Kalo ditanya siapa namanya, wah…nunggu aqiqahnya saja ya…masih dicari-cari nih yang cocok dan tentu saja baik bagi si bayi lah… ditunggu ya. “Ya rabb kami, jadikanlah bayi kami menjadi penyejuk mata bagi kami dalam mengarungi kehidupan dunia ini dan menjadi penambah pahala kami di akhirat nanti… serta jadikan ia orang yang berguna bagi umat manusia… amiiin ya rabbal ‘aalamiin…”

Foto-foto selengkapnya (klik aja)

Diposkan pada asuransikesehatan, dokter, kesehatan, politikkesehatan, selingkuh, tips

Antara MedRep, Dokter, dan MLM-ers


Maaf, ini bukan dimasudkan untuk menyinggung, tapi klo ada yang tersinggung…ya maaf

Sudah bukan rahasia lagi bahwa dokter yang menjalankan praktiknya (karena ada juga dokter yang ga praktik) selalu berurusan dengan obat. Nah, obat-obat ini (apalagi di Indonesia) banyak banget jenisnya, istilah kerennya sediaan spesialistisnya bejibun. Untuk obat dengan komposisi Parasetamol saja (penurun panas) ada ratusan merek dagang. Tentu saja dengan variasi harga yang berbeda. Aku memang tidak membantah kalau ada yang mengatakan, secara praktis ternyata sediaan spesilistis ini berbeda khasiatnya dibanding generik, walaupun di iklan TV dulu digembargemborkan mengenai khasiat obat generik sama aja dengan obat bermerek.

Tapi bukan masalah khasiat yang akan aku bicarakan tetapi lebih kepada strategi promosi dan penjualan obat-obat spesialistis (non-generik) tersebut.

Menurutku dokter memang sulit terlepas sebagai target promosi oleh medical representative (MedRep, mirip dengan SPG-lah = sales promotion girl). Karena dokter (maupun apoteker) merupakan ujung tombak penjualan obat dari pabrik pembuatnya. Namun, yang amat disayangkan ialah, persaingan kuat antar pabrik obat membuat para MedRep cukup dibuat pusing, mereka diberi target oleh perusahaan untuk “mengumpulkan” tandatangan para dokter. Nah, yang paling susah, ketika sang MedRep ga “kuat” alias ga sabaran ketika bertemu dokter yang idealis atau sangat susah ditemui karena sibuk, padahal deadline pengumpulan daftar tandatangan sudah di depan mata. Jadilah sering ada tandatangan dokter yang dipalsukan. Selain itu, para MedRep ini juga terkadang (tidak semua), terutama MedRep perempuan, memberikan bonus berupa dirinya, mulai dari senyum manisnya bahkan bisa sampai seperti yang dilakukan oleh lady escort (pada tahu kan…??)

Aku tidak menyalahkan apa yang MedRep lakukan. Semuanya berpulang ke pada si dokter sendiri, kalau dia kuat iman tidak akan tergoda dengan berbagai cara yang sudah di luar batas itu.

Beberapa waktu lalu aku sempat dicurhati adik kelas yang masih koas (mahasiswa profesi dokter), tentang seorang guru kami, staf sebuah RS terkenal, yang dengan santainya mengatakan: “Kalau tidak karena obat-obat itu (atau kalau tidak karena MedRep dan pabriknya), mana mungkin saya dan keluarga bisa jalan-jalan ke luar negeri? So, jangan anggap remeh obat obat itu!”

Dulu pun ketika aku masih koas, banyak sekali “guyonan” tentang gimmick (baca: strategi/muslihat bonus) oleh pabrik obat ini. Ada staf pengajar ditempatku yang ngomong sambil tertawa: “Dik, tahu ga..klakson mobil saya itu bunyinya C**do..C**do” (bukan tin..tin atau tet..tet..). Yang di maksud itu ialah nama sebuah pabrik obat yang memberikan bonus mobil karena si dokter dianggap mampu mencapai target peresepan obat. Yah, target peresepan!, kuncinya di sini. Sehingga menurutku tidak masalah ketika MedRep tidak memberi target peresepan tertentu kepada sang dokter ketika mempromosikan obatnya, misalnya begini: Dok, kalau dokter bisa meresepkan obat kami yang ini, sejumlah batas minimal 100 tablet per minggu, maka nanti dokter dapat bonus kunci mobil…langsung di depan” (maksudnya sih sudah bisa langsung dipake mobilnya). Selain itu aku juga melihat langsung (waktu masih koas juga) pasien yang ditawari sebuah alat kesehatan untuk mengeluarkan cairan dari rongga dadanya. Setelah aku usut, ternyata alat itu dijual oleh seorang dokter bedah senior.

Dari teori yang pernah aku ketahui, ini disebut sebagai Supply Induce Demand, sayang sekali sang konsumen atau pasien buta sama sekali terhadap tindakan, obat, dan alat kesehatan yang ditawarkan kepadanya. Pasien dan keluarganya kalau sudah sakit prinsip utamanya ialah: yang penting sembuh. Bahkan sang dokter justru nakut-nakutin kalau ga pake obat (merek ini) si pasien ga bakalan sembuh. Jadi enak banget toh jadi dokter yang bermental pedagang, hehehe…maksudnya dagang obat kepada pasien.

Wah, serunya lagi kalau sang dokter juga ikut jadi penyemarak dunia MLM (Multi Level Marketing) seperti Ti***hi, K-**nk, dll. Pasti cepat kaya tuh dokter. Kan apa kata dokter dianggap sebagai “sabda dewa penyelamat”.

OK, kembali ke awal tentang dokter yang main mata dengan pabrik obat melalui MedRep-nya. Beberapa waktu lalu, aku sempat didatangi MedRep juga, dia promosi tentang obatnya dengan diakhiri kata-kata seperti biasanya: “mohon dibantu peresepannya buat pasien dokter…” Seperti biasa aku bilang: OK, pasti saya bantu, yang penting obat lebih murah dan cespleng. Iseng juga aku tanya ke MedRep tersebut. “Pabrik obatnya sering menyelenggarakan seminar kedokteran ga?” “Wah, kalau kita belum pernah kok dok…, tapi dokter ada rencana mau ikut seminar? nanti kita bayarin…” Nah..nah.. “OK, boleh ya? ada umpan balik ga kalau saya dibiayai ikut seminar? (si MedRep kayaknya langsung paham). O, engga kok dok, kita ga nargetin apa-apa, silakan kontak saya aja kalau dokter butuh dibiayai ikut seminar…”. “Baik, terima kasih…”

Terus-terang teman-teman…inilah lingkaran syetan yang tersulit untuk dibasmi, kalau dokternya masih waras seperti aku (hehehe…) pasien insya Allah tidak akan terzalimi atau tertipu. Asal si dokter berorientasi kepada kepuasan dan membela hak pasien pasti hal tersebut bisa diminimalisasi.

Terus terang lagi, kondisi yang sulit tetap dialami dokter seperti (ini asumsi kalau dokternya masih waras):

  • Kerja di RS, dan belum hapal harga obat (jadi harus bolak-balik tanya harga ke bagian farmasi/apotek). Pernah aku kebobolan obatnya terlalu mahal, sampai si keluarga pasien nanya lagi berapa harga obatnya, ketika mau aku tambah obat lagi (karena indikasi lain)
  • Kerja di apotek/klinik, apalagi yang waralaba, dijamin kantong pasien sering kebobolan. Apalagi bos apotek menyaratkan nilai nominal tertentu seperti yang dialami oleh banyak rekan sejawatku ketika kerja di klinik 24 jam. Pokoknya harga obat yang diresepin minimal harus (katakan saja) 20 ribu, kalau kurang dari itu, yah…harus ditambah apa gitu (misal: vitamin, atau merek obatnya diganti dengan yang lebih mahal) agar plafon harga terendah dapat tercapai. Apotek/klinik untung, dokter pusing kepalanya (karena harus tetap bertahan di tempat kerja tersebut), pasien bobol kantongnya…

Posisi kerja yang ideal sebagai dokter menurutku ialah seperti di tempat kerjaku yang lain yaitu di klinik mahasiswa yang dibiayai dengan premi asuransi. Jadi pasien ga peduli apa sakitnya, dia akan dapatkan obat (bahkan obat terbaik sekali pun) tanpa perlu takut dengan harganya. Dokter senang melayani (karena gajinya juga bisa tinggi), pabrik obat juga senang karena obatnya laku keras.

Berikut tips supaya tidak dibobolin kantongnya:

  • Bilang ke dokter diresepin obat generiknya aja (kadang dokter jarang menawarkan resep generik. Atau kalau memang tidak ada obat generiknya mohon dicarikan dengan harga termurah tapi berkualitas (untuk hal ini si dokter akan melihat daftar harga obat atau menanyakan ke pihak apotek). Kadang pun kalau sudah diresepin generik, sering juga apoteknya main nakal, obatnya diganti dengan yang mahal.
  • Selalulah minta second opinion ke dokter lain, atau baca-baca literatur, jika diberikan obat tertentu, apakah sudah sesuai baik indikasi maupun harganya.
  • Kalau dokternya sampai ngomong: “kalau tidak pakai obat merek ini tidak akan sembuh”, atau si dokter tidak mau melayani lebih lanjut…, saranku: minta dirawat dokter lain, pindah ke dokter praktik lain atau apoteklainnya. Tapi kalau ternyata kasusnya kita tidak bisa memilih karena (misal): ternyata cuma ada si dokter tersebut di tempat itu, atau apotek lain jauuuh, yah…sudahlah terimalah nasib itu, berdoalah agar situasi tersebut cepat berubah 

Gambar dari sini

Diposkan pada kesehatan, tips

Ketika kita harus membeli obat…


Hati-hati ketika teman-teman harus membeli obat ke apotek. Apalagi apotek dengan sistem franchise. Tak terkecuali membeli obat dengan resep dokter sekalipun. Prinsip bisnis dalam penjualan obat sangat kentara, ini sudah sering aku survei secara kecil-kecilan. Coba aja tanya ke salah satu apotik (pilih apotek besar) apakah ada obat X, ketika dijawab tidak ada, biasanya CS (customer service) menawarkan obat lain yang diklaim lebih baik dan jelas lebih mahal harganya.

Cerita singkat pasienku berikut mungkin bisa menjadi pembanding,

Cerita I: seorang CS salah satu apotek waralaba terkenal. Dia cerita kalau obat-obat yang diberi oleh dokter di tempat dia bekerja tidak manjur dan mahal pula. Ini terjadi berulang kali ketika dia sakit. Aku sih ga tahu juga apa memang karena obatnya atau karena sugesti aja. Yang jelas ketika berobat ketempatku dia mengakui obatnya jauh lebih murah dan manjur.

Cerita II: seorang pasienku yang datang diberi salep Acyclovir, CS apotek mengatakan dia terkena herpes (ini akan aku bahas saja di lain jurnal, kayaknya penting banget…). Setelah aku periksa ternyata itu bukan herpes, maka tentu saja salep itu tidak berefek.

Cerita III: seorang pasien kakek-kakek beli obat batuk, diberi obat batuk merek terkenal dengan kandungan antitusif/penghenti batuk. Padahal si kakek batuk berdahak. Bisa dibayangkan apa yang terjadi. Si kakek malah sesak napas karena dahaknya tidak bisa keluar. Terlebih lagi si kakek ternyata sebelumnya sudah mengkonsumsi obat batuk juga yang ternyata isinya sama-sama antitusif, jadilah dia overdosis. Menurutku ini juga kesalahan si petugas apotek saat konsumen membeli obat, tidak diterangkan dengan baik untuk apa obat itu dan berapa dosisnya.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari fragmen-fragmen singkat di atas?
Gini aja deh saranku:

  • Boleh saja langsung ke apotek, dengan syarat memang sebelumnnya sudah pernah mendapatkan resep obat yang sama, alias memang sudah ada rekomendasi dari dokter untuk meneruskan obat tersebut
  • Jangan sekali-kali mau menerima vonis diagnosis penyakit dari petugas apotek, mereka bukanlah penentu apa sakit kita
  • Jangan mau disuruh ganti obat kecuali setelah berkonsultasi dengan dokter atau apoteker yang dapat dipercaya
  • Baca baik-baik aturan pakai obat, kalau tidak mengerti tanyakan dokter atau apoteker
  • Efek obat tidak bisa dipukul rata untuk semua orang. Obat tertentu cocok buat seseorang tapi belum tentu cocok untuk orang lain. Kadang faktor sugesti juga berpengaruh besar. Ini aku alami sendiri ketika menangani pasien sesak napas. Si ibu udah hapal dengan obat yang biasa dia pakai ketika sesak. Dan saat itu dia juga mendikteku untuk memberinya obat tersebut, tapi aku kira dia saat itu cuma histeria (sakit secara psikis). Jadi aku beri aja vitamin B, dan sembuh.

Gambar dari sini

Diposkan pada bayi, hamil, istri

Cerita hamil istriku


Karena belum sempat cerita-cerita tentang kehamilan istri seperti yang direncanakan, akhirnya aku rangkum saja semuanya dalam satu tulisan ini. Semoga dapat diambil manfaatnya.

Yah, istri hamil…tentu saja sangat menggembirakan sang suami. Apalagi bagi diriku yang lumayan lama menunggu diberi calon pewaris tahta (hehehe…). 2 tahun 2 bulan aku kira penungguan yang cukup lama sejak pernikahan kami pertengahan 2005 lalu. Di sinilah kami senantiasa bersyukur bahwa memang semuanya sudah diatur Sang Pemberi Rizki. Tapi memang terus terang aku tidak terlalu intensif memperhatikan proses kehamilan istri secara dia semakin sering kutinggal karena urusan kerja dan aktivitas yang cukup padat… Sering juga peningkatan emosi saat hamil dan perasaan supaya lebih minta diperhatikan hadir secara mendadak, jadi memang agak repot sih, tapi tetap menyenangkan lah. Berhubung ini juga calon cucu pertama dari pihak mertua dan calon cucu kedua dari ortuku, jadi terkesan memang harus ekstra hati-hati memelihara kehamilannya. Kadang-kadang kok aku seperti ”berempati” seolah-olah ikut hamil, kalo perut istri sakit, aku ikut mules gitu… aneh…

Alhamdulillah, keluhan selama kehamilan istri tidak terlalu ”menakutkan” seperti ngidam, muntah, jungkir balik, dll…ya paling nyeri-nyeri dikit di perut bawah, kata dokter kandungan akibat penambahan beban saja. Walau pun ga ngidam tapi kalo diajak makan ke luar selalu ga menolak, mintanya sih macam-macam…hehehe, tapi bukan ngidam kok… ?

Kalo ditanya kontrol hamilnya kemana aja, wah jelas kami tidak pernah setia sama satu tempat saja alias berpindah-pindah. Soalnya sering ga puas kalau periksa. Selama hamil pernah diperiksa di dokter kandungan di Purwokerto, pas istri lagi ngurus tes PNS-nya. Mahal banget obatnya, waktu itu sih memang aku suruh segera periksa karena terjadi pengeluaran bercak kemerahan. Di USG ternyata ga apa-apa. Di beri vitamin dan penguat kehamilan. Kali kedua periksa di dokter kandungan cewek di kliniknya yang cukup terkenal di Jogja. Waduh, dokternya ga komunikatif, periksanya  mahal, kapok! Terus akhirnya aku bawa istri ke RS Ghrasia Pakem (ini dulu rumah sakit khusus rehabilitasi penderita gangguan jiwa, katanya di situ ada USG 4 dimensi. Itu loh USG yang memadukan gambar tiga dimensi dalam bentuk video. Wah, hebat, murah banget! Mungkin masih promosi kali ya, cuma habis sekitar 80 ribu. Itu udah plus CD-ROM buat ngopy file USG-nya. Memang sih yang memeriksa bukan dokter kandungan tapi dokter penyakit dalam, tapi ga masalah lah, dia juga mengerti kok, pelayanannya juga enak, komunikatif! Kalau melihat video USG 4D ini, kami bisa senyum-senyum sendiri, soalnya kelihatan banget si bayi lagi ngapain, kadang cemberut, kadang tersenyum, kadang menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, hahaha…very excited (kalo teman-teman mau lihat boleh buka di menu video)

Terakhir aku periksakan istri ditempat kerjaku sendiri, nah, di sini lebih enak lagi, gratis tisss… hehehe… Rencana kontrol berikutnya di sana aja ah… rencana melahirkan juga sekalian ah…, kan bisa menghemat gitu. O, iya sekarang umur kehamilan istriku 32 minggu atau 8 bulan. HPL atau hari perkiraan lahir 15 Juni 2008. Jenis kelamin calon bayi kami ”dipastikan” perempuan melalui USG 2 dimesi pada pemeriksaan terkhir kemarin. Doa kan ya semoga semuanya dimudahkan.