WidodoWirawan.Com


23 Komentar

[Tips] Bila Jatuh Cinta (Lagi) Pada Orang Lain


Beberapa teman akhir-akhir ini curhat tentang kisah cinta mereka, baik yang sudah menikah atau masih dalam tahap penjajagan. Mengapa urusan cinta (atau hati) mampu meresahkan mereka yang berusia 15 tahun, 25, 35, atau 45 tahun bahkan 55 dan 65 tahun?

Jatuh Cinta memang tampak sepele tetapi emosi yang satu ini memang demikian istimewa, sebab  demikianlah fitrah manusia yang dapat tertarik dengan lawan jenisnya.

Jatuh Cinta

Perlu diingat. Setiap orang bisa jatuh cinta; remaja SMP atau orangtua, bahkan mereka yang telah menikah selama belasan atau puluhan tahun. Proses emosi dan chemistry rumit ini melibatkan hormon, otak, proses sensori persepsi, pengalaman, value dan banyak sekali elemen rumit. Makanya, kalau ditanya, kenapa kamu bisa jatuh cinta sama dia?

”Pokoknya aku cinta, titik. Nggak bisa menjelaskan. Bukankah itu true love?”

Maka, tiap kali memikirkannya, yang ada hanya detak jantung yang berdegup lebih cepat. Merasakan kesenangan, kebahagiaan. Memikirkannya tersenyum, tertawa, berbicara, melintas; menciptakan atmosfer kebahagiaan yang sulit dideskripsikan.

Begitu rumitkah cinta?

Atau begitu sederhana?

Jangan sepelekan perasaan cinta terhadap lawan jenis, sebab ia bisa menghinggapi siapa saja, mereka yang berkomitmen teguh dalam Islam pun suatu saat akan mengalami resah saat bertemu seseorang, lawan jenis yang memukau pikiran dan perasaan. Entah sosok, keberanian, caranya mengemukakan pendapat, kewibawaan, kecantikan yang sederhana, atau sosok keibuannya.

Fall in love saat masih remaja hingga dihinggapi virus puppy love masih dimaafkan; tetapi bagaimana bila jatuh cinta lagi pada orang yang bukan pasangannya? Solusi apa yang diperlukan?

Bagi yang belum pernah jatuh cinta mungkin akan berkomentar, gitu aja kok masalah?

Dalam novel Harafisy (Nagouib Mahfouz) dikisahkan dalam bab awal, betapa Asyur, anak asuh Syaikh Afra Zaydan yang memayunginya dengan sayap kebaikan tumbuh sebagai pemuda perkasa yang polos dan sholih serta baik hati. Sekalipun kebaikan hatinya sering diartikan kedunguan oleh Darwis Zaydan, Asyur berusaha tabah dan teguh. Namun hatinya terombang ambing saat terpaksa tinggal bersama tuan Zayn Al Naturi dan memelihara kuda serta ternaknya: Zaynab, putri sulungnya yang melintas sesekali saat akan berangkat berdagang. Asyur, berusaha melebur rasa tetapi ia tak kuasa menolak saat tanpa sengaja matanya dan mata Zaynab bertemu.

Bisa dibayangkan betapa resah seseorang yang hanya terlahir sebagai Harafisy, seorang papa kelana dan jatuh cinta pada putri tuannya?

Rational Emotif  Albert Ellis

Klinisian yang satu ini memilih cara rasional yang menghantam emosi saat menterapi orang yang mengalami permasalahan.

Memilih cara berbeda dengan Carl Roger dengan CCT (client centered therapy) yang lembut memperlakukan klien, Albert Ellis memilih cara konfrontatif. Untuk permasalahan cinta, saya lebih menyukai cara RE Albert Ellis. Sebab perasaan yang terombang ambing, bila dihanyutkan, akan semakin terbawa. Cinta terhadap lawan jenis seharusnya tidak hanya melibatkan perasaan atau emosi semata, tetapi di titik tertentu rasio harus dilibatkan pula. Mengapa? Sebab cinta memang bicara perasaan, tetapi dampak cinta itu menyangkut kehidupan realita orang yang bersangkutan, teman-teman, keluarga, pekerjaan, bahkan masa depannya.

Cara Albert Ellis dengan Rational Emotif mungkin kira-kira begini.

T (therapist) & K (klien).

K : saya jatuh cinta lagi dengan perempuan di kantor. Ia cerdas, enak diajak diskusi. Pengetahuannya lumayan. Kalau dibilang cantik, biasa aja. Lebih cantik istri saya. Hanya ya….beda. Sebut saja istri saya Nina, teman saya Leni

T : anda tertarik padanya karena ia berbeda dengan istri. Leni enak diajak diskusi.

K : ya…begitulah. Ah , saya masih cinta istri saya. Kami dikaruniai dua anak yang lucu. Usia pernikahan kami baru enam tahun. Tidak ada masalah dalam hubungan cinta saya dan Nina. Semua baik-baik saja, mulai dari masalah kamar hingga keuangan. Friksi tentulah ada. Sesekali orangtua saya atau orangtua Nina memang bikin kesal, tapi nggak seberapa. Tapi….

T : ya…?

K : Leni beda. Apalagi Leni punya masalah dengan tunangannya yang hingga kini masih menggantung kapan mereka sesungguhnya mau menikah. Leni sering curhat. Awalnya saya hanya mendengar, lama-lama simpati, dan saya suka cara Leni mengatasi masalah. Easy going, berusaha ceria, menganggap setiap orang pasti punya masalah juga. Empati Leni tinggi.

T : intinya, Leni dan Nina beda.

K : mungkin begitu ya?

T : anda sudah memutuskan.

K : belum. Untuk itulah saya kemari.

T : jadi anda bertanya apa yang terbaik.

K : ya…

T : tidak ada yang terbaik.

K : lho kenapa?

T : kalau itu datangnya dari saya. Anda harus memutuskan sendiri. Menikahi Leni, misalnya.

K : bagaimana dengan Nina?     dia…pasti sakit hati.

T : jadi anda berharap bisa dapat Leni, Nina juga, dan tidak ada yag sakit hati? Anda berharap semua kejadian akan berjalan baik-baik saja dengan apa yang telah anda lakukan, dengan apa yang anda putuskan? Anda harus sadar, buat list, kalau mau Leni maka akan kehilangan Nina dan 2 anak, mungkin pekerjaan. Orangtua, dukungan teman, kredibilitas.

K : saya tidak mau kehilangan Nina dan 2 anak saya! Pekerjaan yang sudah saya rintis sekian lama!

T : tapi itu kenyataannya bila anda tetap mempertahankan Leni. Leni bukan Nina! Dia mungkin tidak bisa memberi 2 anak, tidak bisa mendampingi anda seperti Nina.

K : bagaimana dengan …poligami, misalnya?

T : oke. Jadi kapan tepatnya anda akan menikahi Leni. Tak perlu izin ke Nina kan?

K :…..saya belum tau.

T : jadi anda juga belum tahu bagaimana caranya berpoligami. Sudah bilang ke Leni?

K : sempat ada pembahasan ke arah situ.

T : bagus, kalau begitu segera saja libatkan Leni dan Nina…

……………………..

Begitulah kira-kira cara Rational Emotif.

Anda bisa memprediksi apakah lelaki itu pada akhirnya memperistri Leni. Ia yang masih muda, katakanlah sekitar 30 an tahun, sedang dalam masa early adulthood dengan ledakan energi. Benturan dengan realitas setidaknya membuat dirinya berpikir, mau dikemanakan cinta dan perasaanku terhadap Leni, bila ternyata tak ada solusi? Membayangkan poligami yang terus dikawal oleh therapis, bukan keputusan mudah. Menyiapkan 2 rumah, membagi penghasilan, membagi hari, mencoba membayangkan konflik yang muncul; cinta tak selalu berurusan dengan emosi semata. Di titik tertentu, ketika rasio dilibatkan, perasaan mulai tawar menawar.

Teknik Jatuh Cinta

Banyak orang bisa memaksakan diri ’jatuh cinta’ saat terpaksa. Sebut saja terpaksa menikah dengan jodoh pilihan orangtua/ustadz, terpaksa menggeluti pekerjaan X meski minatnya tak disitu. Seorang gadis pernah dites bakat minat, semua mengarahkan pada Literary atau kecenderungan sastra. Orangtuanya mengarahkan agar ia menjadi paramedis, sebab paramedis lebih banyak memiliki lapangan pekerjaan. Meski awalnya tak suka, lama-lama ia mencintai dunia kerja berbau karbol dan perlahan meninggalkan impiannya menjadi penulis atau editor. Ia mencintai dunia kerjanya sekarang, dan berniat melanjutkan studi di bidang yang sama.

Cinta dapat ditumbuhkan.

Bagaimana menghilangkannya?

Selain rational emotif Albert Ellis yang terus menggiring pikiran dan emosi seseorang untuk siap berbenturan dengan realita, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan. Kita tidak bicara skala cinta Rubin, mana ada orang jatuh cinta mau di tes psikologi untuk membuktikan seberapa dalam cintanya? Tetapi bila berniat menghilangkan cinta pada seseorang yang bukan pasangan, ada beberapa teknik yang saya coba rangkum dari berbagai sumber. Sebut saja X, orang yang bukan pasangan.

  • Ikat diri dengan rasa bersalah, bawa foto pasangan atau barang kenangan kemanapun, terutama saat di kantor atau bertemu orang yang sedang disukai (X)
  • MSG, musik klasik, love song akan menguatkan perasaan. Bila bersama orang X, hindarkan makan dengan kadar MSG tinggi seperti bakso, mie ayam. Hindarkan pula memutar musik klasik atau love song. Putarlah lagu –lagu yang bersemangat
  • Banyak aktivitas
  • Berdoalah, semoga anda dan X dapat menjadi saudara atau sahabat sejati, tanpa fitnah
  • Membaca Quran. Ingat, cinta adalah emosi. Bacaan quran, mampu menenangkan gelombang otak hingga membuat reaksi kimiawi tak berlebihan, terutama hormon2 yang mungkin bekerja berlebihan saat bertemu X
  • Carilah nasehat bijak, cari pula note-note tentang pernikahan yang banyak tersebar.

Maka simak pendapat Albert Ellis yang kurang lebih demikian.

~berpikir & bertingkah laku irrasional adalah keadaan alami yang menimpa kita semua (termasuk jatuh cinta) maka cobalah menantang gagasan irrasional yang menyebabkan gangguan perilaku~

Ujilah gagasan. Lihatlah, betapa irrasionalnya

(saran untuk teman-teman yang sedang jatuh cinta lagi. Semoga menjadi solusi. Kalaupun Rational Emotif Albert Ellis masih belum pas, semoga ada terapi lain)

Di Co-Pas atas seizin Penulisnya: Sinta Yudisia, Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Iklan


21 Komentar

Doa supaya bisa berpoligami :-)


Saya ga mau…. :-b

اَلَّلهُمَّ ارْزُقْنِيْ زَوْجَةً ثَانِيَةً, جَمِيْلَةً وَصَالِحَةً إِنَّ اللهَ سَمِيْعُ الدُّعَاء

Oh Tuhan, berikanlah aku isteri kedua yang cantik dan solehah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar doa!

Doa ini harus diamalkan istiqamah setiap shalat fardu, akan lebih sempurna dan baik kita sediakan satu waktu dalam shalat 5 waktu kita shalat berjama’ah dengan istri kita dan setelah selesai shalat dan berzikir setelah diawali dengan shalawat nabi.

Membaca doanya dengan jahr (keras) dan suruh istri mengaminkan doa kita :) . Sangat penting istri kita mengaminkan doa diatas agar jika kelak Allah mengijabah doa kita tidak akan banyak menemui tantangan dan hambatan sebab sudah atas “persetujuan” istri. membaca doa diatas boleh digabungkan dengan doa-doa lainnya…….

Nb: kepada para istri ..adalah lebih baik paham bahasa arab sebab manalah tahu jika suami kalian membaca doa di atas dan kalian turut mengaminkan :) :) :) dan bukan salah suami jika mendapatkan jodoh lagi sebab kalian “memperkenankan’” suami berpoligami

sumber: sini


79 Komentar

KHUSUS DEWASA: Seks liar itu nikmat, taaapiii…


Tadi sore ada telpon dari seorang teman akrab waktu sekolah dulu. Nama, umur dan identitas lain seperti daerah dan asal sekolah aku rahasiakan.

Dia minta waktu untuk ngobrol lama, ya, udah aku bilang OK, walau banyak antrian pasien. Lalu aku minta waktu ke petugas front office.

Dia mengatakan mau mengkonsultasikan temannya kepada aku. Katanya temannya itu, seorang pria, menghamili seorang janda kembang, yang sudah mempunyai tunangan.

Langsung aja aku balas: “bukan kamu yang menghamili?” *dengan nada bercanda
Spontan dijawab: “ya, enggalah Do!”
“OK, dilanjut…”, kataku.
“Jadi gimana ceritanya?” lanjutku.

“Iya, Do, temanku itu kan ceweknya beberapa hari yang lalu keguguran, perdarahan gitu…”
“Terus…”
“Nah, dia nanya, bahaya ga tuh, karena takut ceweknya itu kesakitan perutnya…? trus dia nanya harus periksa apa aja dan apa obatnya?”
“Hamilnya sudah berapa bulan?”
“Ga, tahu…”
“Menstruasi terakhir kapan…?”

“Mmm…Do, dokter itu wajib menjaga rahasia pasien ya…?”
“O, iya, jelas”, kataku.
“Trus tadi kok bisa kamu nuduh aku yang melakukan…?”
“Aku ga nuduh, karena aku tahu kamu yang melakukan kan? ayo ngaku aja… (ekspresiku cengengesan sambil ngakak)

“Hehe, OK-lah Do, memang aku…”
“OK, ga pa pa, dilanjut…”
“Tapi kamu jaga rahasia ya? kamu bisa kan ini hubungan aku sebagai pasien dan kamu sebagai dokter..?”
“OK…OK, ga pa pa, jangan khawatir, aku udah pengalaman, banyak kok yang kayak kamu…, OK lanjut aja…” (dalam hatiku tertawa….)
“Sebenarnya dia udah punya tunangan, Do, cuma dia dan aku sama-sama senang aja…, awalnya sih bisa jaga, tapi-lama-lama ya, gitu…keenakan. Awalnya aku tembak di luar. Selanjutnya aku coba tembak di dalam, kok ya keterusan….Kata dia ga apa-apa, mungkin dia pengalaman kali ya Do, dia setelah berhubungan loncat-loncat, katanya biar spermanya langsung keluar dan ga sempat masuk…, dari awal aku ga pernah pake pengaman. Tapi aku heran aja, kok sampai berkali-kali dia ga hamil ya..jadi aku khawatir jangan-jangan aku yang mandul, atau dia yang mandul…”

OK, jadi mens terakhirnya kapan…?”
“Ya, sekitar 3 minggu yang lalu…, trus aku kan takut dia kenapa-kenapa, ya, aku tahu itu dosalah, takut aku takut kenapa-kenapa, jadi aku harus gimana Do…?”
“Ya, yang jelas harus periksa dulu ke dokter kandungan, nanti dipastikan apa benar sudah keguguran apa belum…”

Terus dia tanya mengenai biaya. Aku jelaskan saja secara diplomatis dan perkiraan kemungkinan pemeriksaan sampai kemungkinan tindakan, obat, dan kisaran biayanya.

“Emang sudah berapa lama dan berapa kali kamu begitu?”, aku mulai iseng dan pengen tahu, hehe.
“Benar Do, seumur hidup aku, ini baru yang pertama kali (*sepertinya yang ini aku percaya dia jujur, hehe…). Aku begitu sama cewek itu bulan Mei kemarin, sebanyak 3 kali, terus bulan Juni ada 20 kali lah…, dan bulan seterusnya 3-4 hari sekali…” (*untung ga 3-4 kali sehari, hehe…kayak minum obat aja…). Nah, pas bulan puasa kemarin seringlah, nah, setelah lebaran, dia bilang dia ga mens, dan ada perubahan yang dia rasakan dalam dirinya, ya seperti orang hamil gitulah….”

“Di mana kamu begituan sama dia?
“Di rumahku…”

“Wah, kalau kamu udah sampai hamilin dia, harusnya kamu tanggung jawab dong…”, celetukku.
“(Kedengaran emosi nadanya) aku tanggung jawab Do, tapi kalau untuk nikahi dia kayaknya ga mungkin, dia kan udah punya tunangan, bentuk tanggung jawabku ya itu menanggung biaya periksa dan obat untuk dia itu! Lagipula sebenarnya awalnya dia ga bilang, itu aja aku paksa ngomong baru mau ngaku, kalau dia hamil…”

“OK, ya, segera aja kamu periksa, selesaikan secepatnya, setelah itu kamu cari cewek lain aja (*maksudku bukan untuk digitu’in lagi, hehe…), lain kali hati-hati kalau berbuat, semuanya ada akibatnya. Kamu pernah ga kepikiran kalau cewekmu itu ga jujur? apa ga mungkin dia sama tunangan juga begituan?”

“Jujur, Do, dia bilang dulu sebelum berhubungan sama aku, pernah sekali sama tunangannya, tapi cuma sekali itu kata dia…”
“Mmm, aku ga percaya sama cewekmu itu…”
“Kamu ga percaya?”
“Iya, aku dah sangat berpengalaman dengan yang beginian, banyak pasienku dulu yang akhirnya ngaku juga bahwa sebenarnya dia ga jujur atau bahkan sebenarnya dia tidak kenal siapa atau tahu persis pasangannya. Sulit percaya pada orang yang suka ngobral begitu…jangan-jangan sebenarnya dia hamil juga bukan berasal dari punyamu…”
“Gitu, ya…”
“Iya, pokoknya kamu harus hati-hati dan segera menjauh, kamu ga tahu kan klo dia ternyata berpenyakit, kasihan kamunya, ga sekarang penyakit itu akan mengenai kamu, bisa saja setahun atau beberapa tahun kemudian, atau bisa juga dalam beberapa bulan ke depan ini…”
“Ga langsung ketahuan ya, Do…?” (mulai keder kedengaran suaranya…)
“Iya, contohnya HIV, kamu mau kena penyakit itu, padahal pembawanya biasanya ga menunjukkan sakit apa-apa, penyakit menular seksual lainnya juga begitu, pembawanya kelihatan sehat-sehat aja…”
“Ga ada obatnya kalo HIV, Do?”
“Iya, cuma nunggu mati aja, kamu mau? ya, mudah-mudahan kamu ga kena, aku cuma mengingatkan aja, coba 3 bulan lagi kamu tes deh misal untuk tes HIV dan penyakit menular lain siapa tahu kena…”

“Ya, Do…ya, pokoknya aku udah memutuskan segera menjauhi cewek itu dan ga begituan lagi”
“OK, eh, sorry nih, pasiennya udah menumpuk banget, ntar lagi deh kamu bisa telpon aku lagi kalau masih butuh info atau mau tanya-tanya, udah ya…”
“OK, Do…”

——-
Penting: beberapa kalimat di atas sarat dengan kesalahan persepsi dalam kesehatan reproduksi yang berakibat fatal, mohon diperhatikan dan silakan ditanya kalau ga paham… 🙂

Pic dari sini


42 Komentar

Antara MedRep, Dokter, dan MLM-ers


Maaf, ini bukan dimasudkan untuk menyinggung, tapi klo ada yang tersinggung…ya maaf

Sudah bukan rahasia lagi bahwa dokter yang menjalankan praktiknya (karena ada juga dokter yang ga praktik) selalu berurusan dengan obat. Nah, obat-obat ini (apalagi di Indonesia) banyak banget jenisnya, istilah kerennya sediaan spesialistisnya bejibun. Untuk obat dengan komposisi Parasetamol saja (penurun panas) ada ratusan merek dagang. Tentu saja dengan variasi harga yang berbeda. Aku memang tidak membantah kalau ada yang mengatakan, secara praktis ternyata sediaan spesilistis ini berbeda khasiatnya dibanding generik, walaupun di iklan TV dulu digembargemborkan mengenai khasiat obat generik sama aja dengan obat bermerek.

Tapi bukan masalah khasiat yang akan aku bicarakan tetapi lebih kepada strategi promosi dan penjualan obat-obat spesialistis (non-generik) tersebut.

Menurutku dokter memang sulit terlepas sebagai target promosi oleh medical representative (MedRep, mirip dengan SPG-lah = sales promotion girl). Karena dokter (maupun apoteker) merupakan ujung tombak penjualan obat dari pabrik pembuatnya. Namun, yang amat disayangkan ialah, persaingan kuat antar pabrik obat membuat para MedRep cukup dibuat pusing, mereka diberi target oleh perusahaan untuk “mengumpulkan” tandatangan para dokter. Nah, yang paling susah, ketika sang MedRep ga “kuat” alias ga sabaran ketika bertemu dokter yang idealis atau sangat susah ditemui karena sibuk, padahal deadline pengumpulan daftar tandatangan sudah di depan mata. Jadilah sering ada tandatangan dokter yang dipalsukan. Selain itu, para MedRep ini juga terkadang (tidak semua), terutama MedRep perempuan, memberikan bonus berupa dirinya, mulai dari senyum manisnya bahkan bisa sampai seperti yang dilakukan oleh lady escort (pada tahu kan…??)

Aku tidak menyalahkan apa yang MedRep lakukan. Semuanya berpulang ke pada si dokter sendiri, kalau dia kuat iman tidak akan tergoda dengan berbagai cara yang sudah di luar batas itu.

Beberapa waktu lalu aku sempat dicurhati adik kelas yang masih koas (mahasiswa profesi dokter), tentang seorang guru kami, staf sebuah RS terkenal, yang dengan santainya mengatakan: “Kalau tidak karena obat-obat itu (atau kalau tidak karena MedRep dan pabriknya), mana mungkin saya dan keluarga bisa jalan-jalan ke luar negeri? So, jangan anggap remeh obat obat itu!”

Dulu pun ketika aku masih koas, banyak sekali “guyonan” tentang gimmick (baca: strategi/muslihat bonus) oleh pabrik obat ini. Ada staf pengajar ditempatku yang ngomong sambil tertawa: “Dik, tahu ga..klakson mobil saya itu bunyinya C**do..C**do” (bukan tin..tin atau tet..tet..). Yang di maksud itu ialah nama sebuah pabrik obat yang memberikan bonus mobil karena si dokter dianggap mampu mencapai target peresepan obat. Yah, target peresepan!, kuncinya di sini. Sehingga menurutku tidak masalah ketika MedRep tidak memberi target peresepan tertentu kepada sang dokter ketika mempromosikan obatnya, misalnya begini: Dok, kalau dokter bisa meresepkan obat kami yang ini, sejumlah batas minimal 100 tablet per minggu, maka nanti dokter dapat bonus kunci mobil…langsung di depan” (maksudnya sih sudah bisa langsung dipake mobilnya). Selain itu aku juga melihat langsung (waktu masih koas juga) pasien yang ditawari sebuah alat kesehatan untuk mengeluarkan cairan dari rongga dadanya. Setelah aku usut, ternyata alat itu dijual oleh seorang dokter bedah senior.

Dari teori yang pernah aku ketahui, ini disebut sebagai Supply Induce Demand, sayang sekali sang konsumen atau pasien buta sama sekali terhadap tindakan, obat, dan alat kesehatan yang ditawarkan kepadanya. Pasien dan keluarganya kalau sudah sakit prinsip utamanya ialah: yang penting sembuh. Bahkan sang dokter justru nakut-nakutin kalau ga pake obat (merek ini) si pasien ga bakalan sembuh. Jadi enak banget toh jadi dokter yang bermental pedagang, hehehe…maksudnya dagang obat kepada pasien.

Wah, serunya lagi kalau sang dokter juga ikut jadi penyemarak dunia MLM (Multi Level Marketing) seperti Ti***hi, K-**nk, dll. Pasti cepat kaya tuh dokter. Kan apa kata dokter dianggap sebagai “sabda dewa penyelamat”.

OK, kembali ke awal tentang dokter yang main mata dengan pabrik obat melalui MedRep-nya. Beberapa waktu lalu, aku sempat didatangi MedRep juga, dia promosi tentang obatnya dengan diakhiri kata-kata seperti biasanya: “mohon dibantu peresepannya buat pasien dokter…” Seperti biasa aku bilang: OK, pasti saya bantu, yang penting obat lebih murah dan cespleng. Iseng juga aku tanya ke MedRep tersebut. “Pabrik obatnya sering menyelenggarakan seminar kedokteran ga?” “Wah, kalau kita belum pernah kok dok…, tapi dokter ada rencana mau ikut seminar? nanti kita bayarin…” Nah..nah.. “OK, boleh ya? ada umpan balik ga kalau saya dibiayai ikut seminar? (si MedRep kayaknya langsung paham). O, engga kok dok, kita ga nargetin apa-apa, silakan kontak saya aja kalau dokter butuh dibiayai ikut seminar…”. “Baik, terima kasih…”

Terus-terang teman-teman…inilah lingkaran syetan yang tersulit untuk dibasmi, kalau dokternya masih waras seperti aku (hehehe…) pasien insya Allah tidak akan terzalimi atau tertipu. Asal si dokter berorientasi kepada kepuasan dan membela hak pasien pasti hal tersebut bisa diminimalisasi.

Terus terang lagi, kondisi yang sulit tetap dialami dokter seperti (ini asumsi kalau dokternya masih waras):

  • Kerja di RS, dan belum hapal harga obat (jadi harus bolak-balik tanya harga ke bagian farmasi/apotek). Pernah aku kebobolan obatnya terlalu mahal, sampai si keluarga pasien nanya lagi berapa harga obatnya, ketika mau aku tambah obat lagi (karena indikasi lain)
  • Kerja di apotek/klinik, apalagi yang waralaba, dijamin kantong pasien sering kebobolan. Apalagi bos apotek menyaratkan nilai nominal tertentu seperti yang dialami oleh banyak rekan sejawatku ketika kerja di klinik 24 jam. Pokoknya harga obat yang diresepin minimal harus (katakan saja) 20 ribu, kalau kurang dari itu, yah…harus ditambah apa gitu (misal: vitamin, atau merek obatnya diganti dengan yang lebih mahal) agar plafon harga terendah dapat tercapai. Apotek/klinik untung, dokter pusing kepalanya (karena harus tetap bertahan di tempat kerja tersebut), pasien bobol kantongnya…

Posisi kerja yang ideal sebagai dokter menurutku ialah seperti di tempat kerjaku yang lain yaitu di klinik mahasiswa yang dibiayai dengan premi asuransi. Jadi pasien ga peduli apa sakitnya, dia akan dapatkan obat (bahkan obat terbaik sekali pun) tanpa perlu takut dengan harganya. Dokter senang melayani (karena gajinya juga bisa tinggi), pabrik obat juga senang karena obatnya laku keras.

Berikut tips supaya tidak dibobolin kantongnya:

  • Bilang ke dokter diresepin obat generiknya aja (kadang dokter jarang menawarkan resep generik. Atau kalau memang tidak ada obat generiknya mohon dicarikan dengan harga termurah tapi berkualitas (untuk hal ini si dokter akan melihat daftar harga obat atau menanyakan ke pihak apotek). Kadang pun kalau sudah diresepin generik, sering juga apoteknya main nakal, obatnya diganti dengan yang mahal.
  • Selalulah minta second opinion ke dokter lain, atau baca-baca literatur, jika diberikan obat tertentu, apakah sudah sesuai baik indikasi maupun harganya.
  • Kalau dokternya sampai ngomong: “kalau tidak pakai obat merek ini tidak akan sembuh”, atau si dokter tidak mau melayani lebih lanjut…, saranku: minta dirawat dokter lain, pindah ke dokter praktik lain atau apoteklainnya. Tapi kalau ternyata kasusnya kita tidak bisa memilih karena (misal): ternyata cuma ada si dokter tersebut di tempat itu, atau apotek lain jauuuh, yah…sudahlah terimalah nasib itu, berdoalah agar situasi tersebut cepat berubah 

Gambar dari sini


30 Komentar

Aku tidak akan berselingkuh, istriku….


Judul di atas merupakan bentuk azzam/komitmenku yang hanya aku lafazkan di dalam hati, karena aku sungguh mencintai istriku, dan rasanya tidak perlu dizahirkan (diucapkan) kepada istriku itu, karena menurutku tidak ada gunanya… (tidak ada hubungnya dengan bab romantis…hehehe…)

Mengapa hal ini senantiasa terbersit, tidak lain secara satu minggu ini, kok yang selalu masuk ke kupingku seringnya tentang topik selingkuh ya… ? aneh…aneh…
Di mulai ketika shalat Jumat kemarin , khatibnya berkhutbah tentang selingkuh, atau berzina, sebagai hal yang (sudah) dianggap wajar. Tema ceramah sebenarnya “mengapa banyak di antara kita sudah mengerti ilmu agama, sudah tahu apa saja hal-hal yang menyebabkan dosa, tetapi kita bersikap ANOMALI, bersikap menyimpang”. Aku ga kenal siapa khatibnya, sepertinya salah satu dosen teknik, karena cukup banyak istilah teknik yang keluar…

Kemudian di hari-hari lain, ada “gosip” panas beredar di sekitarku tentang seseorang yang baru ku kenal, tapi sebenarnya beliau sudah sangat terkenal kok, akunya aja yang kuper…hehehe… Beliau beristri dua, menurutku tidak ada salahnya beliau melakukan begitu, toh beliau sangat mampu. Cuma, yang di sayangkan (ini bukan menurutku, tapi gosip-gosip yang beredar itu) cara menuju pernikahan dengan istri keduanya itu. Istri pertama beliau yang merupakan istri sejati (menurutku) telah mengalami sakit yang lama (lebih kurang sepuluh tahun). Beliau menderita sejenis penyakit autoimun (aparat kekebalan tubuh menyerang tuannya sendiri), yang bersifat progresif (perlahan tapi pasti akan menyebabkan kematian…) dan memang kematian itu telah menjemput istri beliau itu, sekitar satu setengah bulan lalu. Sungguh disayangkan (sekali lagi menurut gosip itu), ternyata beliau diam-diam menikahi seorang janda beranak (beliau juga telah dikarunia anak yang cukup banyak). Padahal istrinya dalam keadaan sakit yang parah itu. Wallahua’lam, apakah kematian istri pertama beliau “dipercepat” setelah memendam rasa sakit hati yang memang amat menyakitkan itu…

Ya, memang tidak ada kewajiban bagi sang suami untuk melapor pada istri pertamanya ketika akan menikah lagi, tapi kondisinya itu yang amat sangat disayangkan…. Apalagi ada cerita bahwa istri kedua beliau itu bukanlah “orang yang baik-baik”, setidaknya menurut komunitas yang mengedarkan “gosip” ini”. Istri kedua ternyata bercerai dengan suami pertamanya tidak dengan baik-baik (entalah ada masalah apa…). Dan “katanya” pernikahan terjadi sebelum lewat masa iddah (masa menunggu, lihat di sini) selesai. Sehingga ada dugaan, mereka telah berselingkuh selama masa istrinya sedang sakit (perlu diketahui, istri kedua adalah asisten beliau di tempat kerja). Dan akhirnya anak-anak beliaulah yang jadi korban, secara di awalnya juga, anak-anak beliau tidak menerima keberadaan ibu kedua itu. Yah, akhirnya anak-anak juga yang jadi korban, generasi mendatang yang penuh dengan trauma akibat perbuatan orang tuanya.

Dan hari ini, aku tak sengaja menyimak acara curhat di “Female Radio” Jogja. Sang curhator (hehehe…benar ga ya istilahnya…), seorang wanita, bercerita tentang suaminya yang ketahuan berselingkuh dengan rekan tempat kerjanya, seorang tenaga medis. Alasannya simpel saja kenapa berselingkuh: karena sang istri tidak mampu memberikan anak setelah menikah selama 4 tahun. Ya, Allah… sungguh kasihan benar kaum wanita kalau hanya dijadikan objek seperti ini… Parahnya lagi, ketika si suami sakit, dan si istri menjenguknya, disuruh mengaku sebagai saudara perempuan si suami, karena selingkuhannya ada di situ, menunggui….sungguh tragis!! Solusi bercerai tidak mampu ditempuh oleh calon ibu ini, karena image di masyarakat tidak mendukung.

Memang zaman ANOMALI, mau dikata apalagi…??

Gambar di ambil dari http://tiraikasih.tripod.com/selingkuh.jpg