WidodoWirawan.Com


Tinggalkan komentar

Sehat & Bugar itu di-Perjuangkan


Lama tidak mengisi blog ini, ga boleh kalah sama anak saya yang sekarang aktif menulis blog, monggo yang berkenan baca blog anak saya yang masih umur 8 tahun ini: http://fathinaas.blogspot.com/. Selain malu sama anak saya yang badannya sudah mulai singset karena rutin ikut taekwondo (mungkin loh ya, selain malas makan juga), juga malu sama diri sendiri yang kurang kuat melakukan self motivation dalam memperbaiki kesehatan dan kebugaran badan, akibatnya beberapa waktu lalu sempat dihampiri oleh berbagai macam jenis penyakit. Alhamdulillah kondisi sekarang lebih lumayan sehat dan fit. Dulu banget waktu masih mahasiswa, bugar dan sehat saya lakukan melalui klub-klub yang saya ikuti, jadi termotivasi oleh orang lain. Setelah nikah? Ya, mungkin itu problem banyak orang, rasanya lebih nyaman di kasur dan tempat makan, sampai kita merasakan akibat kenyamanan itu membuat akumulasi akibat yang tidak baik. Benar ungkapan sebuah kalimat: Kenyamanan Itu Mematikan!

So, mengambil kembali momentum-momentum yang ada untuk berjuang memotivasi diri sendiri dalam usia yang masih bisa dibilang mudalah. Investasi bugar & sehat sangat penting bagi produktifitas kita sendiri. Meski dalam tahap-tahap awal ini serasa tersiksa luar biasa, godaannya serasa lebih besar. Tapi bagaimana pun harus yakin: Saya, dan Kita bisa!

Komitmen & Realisasi:
– Jogging tiap hari
– Minum air putih + jeruk nipis peras sebanyak mungkin
– Tidur cukup
– Makan yang cukup (banyak, ini yang agak susah…)

*Momentum Persiapan Festival Night Run 5K


Iklan


Tinggalkan komentar

Normalisasi Intensitas Bergadget Ria


KhongGuan-GadgetTulisan dengan judul ini saya buat ketika sedang sendiri, tidak di depan teman kerja maupun di depan keluarga. Itu pun diketik melalui laptop jadul saya yang masih bertahan sampai sekarang sejak dibeli tahun 2007 lalu. Mengapa saya perlu menyatakan ini? Ada kaitannya dengan peristiwa hari Ahad kemarin, ketika secara spontan saya merespon positif usulan istri untuk mengungsikan semua gadget smartphone dari rumah. Usulan ini terlontar ketika hari Ahad kemarin pasca memperingati ulang tahun pernikahan ke-11, kami saling melihat, semua sedang sibuk dengan gadget masing-masing termasuk anak-anak. Yah, itu hari libur memang dan juga habis dari jalan-jalan dan makan di luar, cuma memang hari itu terasa lama sekali anak-anak dan saya berinteraksi dengan gadget smartphone.

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di blog ini, bagaimana mensiasati screen time pada anak, di link berikut. Namun, seiring bertambahnya umur anak-anak dan percepatan wahana komunikasi di gadget saya seperti semakin banyaknya grup-grup diskusi dan obrolan, akhirnya saya spontan saja, harus ada terobosan berani dan revolusioner sebagaimana dulu saya juga berani mematikan akun sosmed saya (facebook) yang sempat berjaya untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting. Saat ini saya melihat hal penting itu. Penting dan genting. Penting untuk menormalisasi hubungan dengan gadget yang seharusnya intensitasnya di bawah hubungan nyata antar komponen di dalam keluarga dan teman kerja. Apalagi dengan trik-trik yang pernah saya bahas sebelumnya sudah tidak mempan karena semakin pintarnya anak-anak dalam mensiasatinya. Namanya juga anak generasi native masa industri keempat. Tidak seperti kita yang masih merupakan generasi transisi. Sebenarnya semuanya sudah tidak sehat, saling menyalahkan dan linglung sendiri. Kalau tidak ada yang mengalah, ya memang repot. Saya bilang kemarin, sayalah yang paling berat sebenarnya berlepas diri dari hal-hal seperti ini. Namun, sekali lagi orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya. Saya akan mempertanggungjawabkan itu. Biarlah di masa sekarang memperbaiki interaksi nyata antara ortu dan anak, serta antara anak-anak sendiri. Genting, karena dengan siasat-siasat lama tetapi wujud fisik gadgetnya tetap ada di rumah menjadikan anak-anak lebih tidak kooperatif, menjadi kurang sehat secara psikis (saya kira nantinya juga berimbas secara fisik), menjadi kurang kreatif secara positif dan semakin malas, begitu juga dengan saya, sama saja. Ditambah lagi dengan semakin kewalahan kami melakukan blocking terhadap konten-konten yang tidak sehat terutama dari youtube dan game. Memang ini masih fase uji coba, namun saya berharap fase ini bisa berlanjut sukses, sebagimana suksesnya kami menghilangkan tontonan TV di rumah yang sudah memasuki waktu bulan ke-10. Nyatanya tanpa siaran TV di rumah tidak mematikan kita. Mental dan fisik kita terasa lebih sehat, apalagi di era seliweran informasi yang kebablasan dan penuh hoaks ini. Saya dan keluarga tidak mau dicekokin informasi secara aktif yang akan merusak idealisme kita. Kita yang harus mengendalikan informasi yang akan kita terima, jangan sampai dicekoki apalagi direcoki.

Sehingga saya mohon maaf kepada teman-teman yang terkoneksi dengan gadget saya dan link sosial media kami, tentu akan mengalami slow dan late respons, bahkan mungkin tak berespon. Semuanya demi kebaikan kami juga. Gadget yang terkoneksi internet hanya akan saya pegang ketika tidak di depan anak-anak, dalam fase uji coba ini. Saya sendiri sudah tidak membawa gadget saya yang terkoneksi penuh internet pulang ke rumah sejak hari Senin kemarin. Rasanya memang berat namun sekaligus ringan dan bahagia. Sayang masih ada keteledoron sedikit. Anak saya menemukan gadget tabletnya di dalam kendaraan saat jalan mencari makan tadi malam. Tapi bisa saya sita dengan baik-baik dan diamankan ke kantor. Saya dan istri sepakat dulu, anak-anak hanya boleh main gadget sejak Sabtu sore dan Ahad saja. Itu pun masih diusahakan disiasati agar dialihkan dengan aktifitas lain, tentu harus lebih menarik aktifitas lain itu. Itu pun nanti kalau ga berhasil, maka semua hari di rumah akan mengalami hari tanpa gadget.

Doakan kami berhasil ya…. 😀

Sumbar: http://www.gadgetgaul.com/


2 Komentar

​Vaksin Palsu, Mendudukkan Permasalahan Secara Adil


IMG-20160715-WA0017.jpg
IMG-20160715-WA0019.jpg
Tulisan ini saya buat dengan rasa prihatin atas terungkapnya peredaran vaksin palsu. Prihatin terhadap begitu masifnya persebaran vaksin palsu ini sehingga menjadi bahan berita berhari-hari lamanya. Sebagai sebuah berita tentu banyak sisi pandang berlainan yang muncul ke permukaan. Salah satunya yang saya tangkap adalah kehebohan masyarakat terutama masyarakat yang telah mengimunisasikan anak-anaknya dengan vaksin-vaksin itupada masa/periode perkiraan  pemalsuan. Kehebohan ini semakin ditambah dengan diumumkannya fasilitas kesehatan (rumahsakit, bidan praktik, klinik) yang melayani imunisasi dengan vaksin palsu.

Saya sendiri merasakan sendiri kehebohan ini karena ada salah satu saudara saya yang anaknya ternyata juga diduga kuat pernah diimunisasi vaksin palsu dari data yang didapatkan dari berita yang telah beredar. Sebagai bagian dari orang  medis, saya telah memberikan saran kepada saudara saya itu untuk menanyakan kepada rumahsakit terkait mengenai vaksin yang pernah disuntikkan ke anaknya. Lalu apakah rumahsakit dalam hal ini bersalah karena telah menggunakan vaksin palsu. Saya sebagai salah satu aktifis di bidang perumahsakitan tidak berani memastikan karena harus diteliti lebih dalam apakah memang ada RS, sebagai sebuah institusi benar-benar mengetahui bahwa vaksin yang digunakannya adalah palsu.

Sampai dititik ini, sebaiknya kita menyadari bahwa RS mau pun fasilitas kesehatan lainnya juga bagian dari masyarakat, konsumen yang memakai vaksin itu. Saya yakin sebagian RS yang disebutkan tersebut, direktur dan bagian pengadaannya tidak mengetahui apakah vaksin itu palsu atau asli. Memang beberapa fasilitas kesehatan dinilai teledor melakukan transaksi ke distributor yang tidak bonafit? ini pun masih bisa diperdebatkan. Bukankah ini bukan hanya tanggung jawab rumahsakit untuk memastikan bahwa suatu distributor benar-benar menjual vaksin yang asli. Saya kira kita tidak perlu berdebat bahwa sebenarnya sudah ada cara menentukan bahwa sebuah vaksin itu adalah palsu, namun itu juga bukan jaminan.

Saya ingin mempertanyakan kemana orang atau lembaga yang berperan sebagai pengawas peredaran vaksin ini. Ternyata pun ada juga semacam pemakluman bahwa lembaga pengawas tidak bisa bekerja optimal di belantara peredaran vaksin (dan tentunya obat-obat lainnya, belum lagi untuk makanan yang beredar) karena sedikitnya jumlah personil mereka. Lalu siapa yang harus disalahkan? Saya tidak mau menjawabnya. Sebaiknya semuanya bertanggung jawab. Di sisi lain sebaiknya pemerintah juga lebih kuat menjalankan hukum yang berlaku. Aspirasi masyarakat untuk menghukum sekeras-kerasnya para produsen vaksin palsu, menurut saya cukup tepat untuk menjadi peringatan bersama, jangan macam-macam kalau terkait dengan urusan kepentingan masyarakat banyak. Saya hanya berharap pemerintah bisa. Disamping itu sebaiknya pemerintah juga harus bertanggung jawab bukan hanya melemparkan kesalahan kepada pihak, misalnya rumahsakit, bahkan dalam sebuah judul berita di sebuah media massa, sudah ada judul “Kepala RS menjadi tersangka”.

Baiklah, agar tulisan ini tidak bertele-tele, kita sebagai masyarakat fokus kepada diri kita saja. Saya melakukan pemisalan saja bagaimana cara menghadapi masalah vaksin palsu ini. Pagi ini saya membeli 4 butir telor asin di sebuah warung jejaring waralaba untuk lauk sarapan anak saya. Sampai di rumah, ketika istri saya membagi dua sebutir telor, ditemukan banyak jamur tumbuh pada telor tersebut. Lalu istri saya minta saya kembali ke warung untuk melakukan komplain. Awalnya saya agak emosi, telor busuk kok dijual, padahal tanggal kadaluawarsanya masih lama, 25 Juli 2016. Namun atas saran istri, baik-baik saja komplainnya. Saya turuti. Saya kembali ke warung menemui mba penjualnya dan bilang dengan lembut: “Mba, tolong telor asin ini ditukar sama telor biasa aja ya, ini udah berjamur gini padahal tanggal belum kadaluwarsa. Diganti telor biasa aja mba soalnya saya yakin telor asin lainnya juga gini…”. Si Mba tanggap, tanpa babibu, langsung memilihkan telor biasa setelah saya menyerahkan struk pemebelian. Ternyata 10 butir telor biasa harganya hampir sama dengan 4 buitur telor asin, dan saya masih dapat kembalian uang. Lumayan, telor 4 beranak jadi telor 10. Saya juga pesan ke mba-nya: “tolong suplier telornya dibilangin ya.” Dijawab: “Tentu Pak”. Sip, saya lega. Saya yakin warung itu ganti melakukan komplain ke suplier telor asinnya. Setelah itu saya tanya ke mba-nya: “kalau telor ini busuk juga gimana mba”. Dia bilang, langsung aja datang ke warung lagi. Ini sekian kalinya ini saya melakukan komplain dengan baik-baik (tanpa sedikit pun emosi di hati saat ketemu petugas warungnya) dan dapat tanggapan yang baik pula.

Nah, pengalaman beli telor ini, menurut saya, sebaiknya bisa kita aplikasikan juga, sebagai masyarakat yang mungkin sudah diduga mendapatkan suntikan vaksin palsu kepada anaknya. Jangan langsung menyalahkan lembaga kesehatannya, cobalah baik-baik datang untuk konfirmasi ke rumahsakit. Begitu juga rumahsakitnya, sebaiknya tetap bertanggung jawab dan melayani komplain dengan baik. Lakukan imunisasi ulang, lalu panggil supliernya buat mempertanggungjawabkan dan mengganti vaksin yang palsu. Memang kalau berkelit, tentu harus ada upaya lain. Namun sebisa mungkin masyarakat jangan sampai kena imbas yang parah.

Masalah vaksin palsu ini menjadi masalah yang sangat serius dan menjadi pelajaran besar bagi kita semua, agar tidak terulang dan semakin meningkatkan kewaspadaan. Terhadap oknum rumahsakit yang memang ketahuan bermain kotor dan dan mengetahui bahwa vaksin itu palsu, ini adilnya memang tetap harus diproses hukum.

Kemudian, untuk pemerintah. Saya menyarankan agar lebih banyak mengalokasi sumber daya pengawasan dan lebih intensif melakukan pengawasan. Kasus vaksin ini hanya fenomena gunung es, ada masalah yang lebih besar dan siap meletus. Yaitu obat palsu. Obat dengan harga yang sangat murah selisih jauh harganya dengan di pasaran, bisa diduga sebagai obat palsu. Saya menceritakan lagi pengalaman saya ketika mengobatkan anak ke sebuah rumahsakit pemerintah yang besar. Saya diminta oleh oleh dokter untuk menebus di luar rumah sakit (kebetulan menurut petugas, persediaan di rumahsakit habis) resep obat bermerek yang harganya menurut saya cukup mahal. Alhamdulillah bisa ketemu obat itu di apotek yang saya kira juga bisa dipercaya, karena harga obatnya wajar. Namun (sayangnya) keluarga pasien sebelah saya bilang, kok ga beli di Pasar P*****a saja. Dia dapatkan obatnya yang sama dengan harga yang sangat murah menurut saya. Saya cukup terkejut. Terkejut karena saya baru sadar, apakah pihak rumahsakit dan pemerintah mengetahui bahwa hal ini bisa merugikan pasien sendiri. Sebagai pasien tentu ingin yang paling murah, tapi mereka tidak tahu mana yang palsu. Kewajiban RS tetap melakukan edukasi secara baik dan jelas kepada pasien dan keluarga.Kewajiban pemerintah seperti saya tadi di atas, memperketat pengawasan dan memperberat hukuman serta menjalankannya. Semoga kasus ini tidak berulang di tahun depan. Aamiin.


Tinggalkan komentar

Pencegahan Praktis Demam Berdarah Dengue Dari Rumah Kita


P60307-182652Beberapa minggu terakhir saya mendapatkan cukup banyak berita dari teman kerja dan teman lainnya mengenai penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang menyerang mereka atau orang terdekat mereka. Saya sebagai teman dan sebagai manusia yang sama seperti mereka terus-terang merasa sedih dan was-was, kasus DBD menyebabkan hilangnya harta benda dan nyawa dari teman dan keluarga kita. DBD berhubungan erat dengan agen penyebarnya yaitu nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Untuk skala dunia, kasus kejadian DBD ini termasuk luar biasa, setiap tahun ada sekitar 400 juta kasus DBD, 20 ribu orang di antaranya meninggal. Lebih dramatis dikatakan, setiap menit ada 1 manusia yang meninggal akibat DBD.

Bagi saya, seperti penyakit lainnya, untuk kasus DBD ini, mencegah tetap lebih baik sebelum terjadi, sebelum menderita penyakit demam berdarah, karena memang tingkat penderitaannya tidak bisa ditebak, jadi lebih baik waspada dan bersiap sedia sejak awal agar tidak terjangkit virus itu. Caranya tentu saja bagaimana kita tidak digigit oleh nyamuk Aedes ini, yang jam kerja menggigitnya pada siang hari. Meski pun program pemberantasan DBD cukup gencar dilancarkan pemerintah dan lembaga non pemerintah, nyatanya banyak dari kita yang kurang dan tidak peduli, bahwa kita adalah salah satu calon mangsa dari nyamuk dan virus ini. Tidak ada jaminan kita tidak akan terkena. Meski pun banyak strategi pemberantasan yang telah disosialisasikan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (Menguras, Mengubur, Menutup) yang dianggap sebagai cara paling efektif, namun faktanya gerakan 3M ini akhirnya diubah menjadi gerakan 3M Plus. Plus di sini yaitu menghindari gigitan nyamuk. Selain itu secara aktif pemerintah menggalakkan program Jumantik, Juru Pemantau Jentik.

Program dasar 3M dan Jumantik merupakan program komunal dengan keterlibatan pribadi-pribadi dalam kelompok masyarakat yang biasanya memerlukan usaha yang lebih besar. Sedangkan menghindari gigitan nyamuk lebih bersifat kepada kewaspadaan pribadi. Sebagai pribadi, terus terang saya lebih mudah untuk berkomitmen dengan usaha untuk menghindari gigitan nyamuk ini. Selain lebih praktis; tidak butuh alokasi waktu khusus seperti gotong royong dan sebagainya. Saya yakin orang-orang kota dan sibuk seperti saya, malas untuk melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Yang dibutuhkan disini adalah biaya dan komitmen pribadi yang sebenarnya juga tidak lebih besar kadarnya dari gerakan PSN. Bayangkan kita harus rutin 3M setiap minggu minimal. Itu pun kalau kita aja yang rajin, nyatanya kita bisa kena gigitan naymuk tetangga atau nyamuk dari tempat lain. Memang sangat baik bila 3M plus bisa kita lakukan. Tapi saya realistis saja.

Saya hanya berusaha agar nyamuk tidak menggigit saya dan anggota keluarga saya. Cukup banyak usaha yang bisa dilakukan untuk hal ini seperti memakai kelambu, memakai pakaian yang lebih tertutup, memakai raket setrum nyamuk, pengusir nyamuk ultrasonik, memakai pendingin ruangan, memakai obat nyamuk bakar/semprot dan sebagainya. Di antara semua cara itu saya pilih lagi cara yang lebih praktis, mudah dilakukan dan sesuai dengan kondisi saya yaitu memakai krim relepen/penolak nyamuk (mosquito repellent) di waktu pagi dan siang hari, serta mengandalkan vaporizer, alat pengusir nyamuk elektrik jenis vaporize/uap yang bisa dihidupkan terus-menerus selama 24 jam. Apakah murni hanya menggunakan 2 cara ini saja? Tidak, kami mempunyai juga raket nyamuk, ruang kamar ber-AC, kipas angin, dan semprotan nyamuk. Tapi itu jarang dipakai. Selain itu kami memilih menggunakan ember tampung yang kecil untuk alat mencuci dan mandi, diusahakan airnya tidak mengendap lama karena berpotensi jadi tempat bertelur nyamuk di dalam rumah. Lebih praktis lagi cukup pakai alat shower/pancuran untuk mandi.

Selanjutnya, saya ingin menekankan kembali kepada pemakaian repelen anti nyamuk ini karena lebih praktis, untuk menghindari gigitan nyamuk karena bisa jadi nyamuk menggigit kita ketika kita dan anggota keluarga kita berada di sekolah, tempat kerja, luar rumah, tempat belanja, tempat wisata, tempat bermain dan sebagainya. Di rumah kami tidak menggunakan repelen, cukup memakai vaporizer yang dihidupkan terus-menerus 24 jam. Saya baru tahu sekarang sudah ada smart vaporizer yang bisa kita pilih programnya agar mengeluarkan uap pengusir nyamuk sesuai dengan keinginan kita. Lalu apakah tidak berbahaya menggunakan 2 cara ini. Kan isinya racun semua. Benar. Memilih kedua cara ini membutuhkan pertimbangan yang cukup lama, saya sampai browsing banyak artikel tentang ini, ilmiah mau pun tak ilmiah/populer. Kebnayakan artikel berbahasa Indonesia tidak memmuat informasi yang berimbang dan lebih cenderung menakuti-nakuti agar tidak menggunakan cara ini, berbeda dengan artikel dari luar negeri yang mereka muat semua unsur positif dan negatifnya. Namun dalam dunia kedokteran, obat pun disebut sebagai racun. Yang membedakan obat dan racun adalah dari dosis yang digunakan. Jadi untuk repelan gunakan setipis mungkin, hindari area yang tertutup pakaian, kulit muka, dan selaput lendir seperti mata dan hidung. Jangan lupa cuci tangan ketika akan memegang makanan. Begitu juga untuk penggunaaan obat nyamuk, silahkan memilih obat nyamuk bakar yang lebih murah atau vaporizer yang lebih mahal (sebetulnya lebih hemat dan praktis), namun penggunaan juga harus diuji, jangan ditaruh di ruangan tertutup agar konsentrasi uap racun tidak membahayakan kita.

Cara praktis ini saya pilih juga atas pertimbangan perbandingan risiko kalau kita sudah kena DBD, yang sudah kejadian pada teman-teman saya dan anggota keluarganya, dibandingkan risiko minimal yang mungkin kita rasakan saat menggunakan dua cara ini. Sampai saat ini saya pribadi masih mencari dan memikirkan cara-cara alami untuk menggantikan dua cara itu yaitu menggunakan repelen alami dan vaporize alami. Sayangnya, belum ketemu yang baik dan praktis.

Cara lain yang bisa menjadi harapan cerah di masa depan untuk mencegah DBD ini, yaitu melalui imunisasi. Memang sudah ada produk vaksin DBD perdana yang sudah beredar. Namanya Denvaxia. Lahir setelah melalui waktu 20 tahun penelitian dengan biaya 1,65 triliun dolar amerika, melibatkan 40.000 orang subjek penelitian. Meski pun sudah dipakai di Meksiko, sebentar lagi digunakan oleh Filipina, namun efektifitas vaksin DBD ini diperkirakan masih sekitar 60 persen dengan jenis varian virus (serotipe) yang tidak sama persis dengan di Indonesia, jadi bisa kurang efektif seperti halnya vaksin Influenza. Harga diperkirakan sekitar 300 ribuan rupiah. Dan pemerintah menjanjikan vaksin ini akan masuk menjadi vaksin dasar alias gratis.

Semoga kita semua terhindar dari gigitan nyamuk dan DBD ini. Aamiin.

Bacaan lebih lanjut:


Tinggalkan komentar

Bulan-Tahun Jejaring dan Advokasi


483523c5-a4c7-4431-b01d-aaca65958e16

Beberapa bulan terakhir ini terasa begitu lebih banyak aktifitas yang menyita energi fisik dan pikiran. Saya bersyukur istri sedikit bisa memahami untuk full time mengurus anak-anak. Mengurus anak pertama yang sedang menempuh ujian akhir semester, dan melakukan seleksi guru pendamping untuk anak kedua. Saya tahu menjadi ibu full time itu berat meski kadang saya tidak peka, mungkin karena sedang lelah juga dan pikiran bercabang-cabang. Saya berdoa semoga semua bisa berjalan dengan baik dalam situasi yang sangat crowded ini. Dan aktifitas menulis ini pun saya paksa agar bisa terlaksana malam ini juga, setelah lelah pulang kegiatan pra rapat kerja rumah sakit, dan tentu saja setelah sekian lama vakum mengisi blog ini. Memaksa, karena perut baru saja terisi makan malam sehingga berusaha untuk tidak langsung tidur meski mata telah berat.

Hari-hari di rumah sakit harus banyak saya disposisikan kepada teman-teman lain agar bisa berkonsentrasi sejenak memperkuat jejaring eksternal, dalam rangka kebaikan bersama juga membangun sistem yang diharapkan bisa menjadi lebih baik. Tentu saja isunya tidak jauh dari seputar JKN-BPJS, dan aturan-aturan kerumahsakitan, yang terasa semakin hari semakin perlu mendapatkan perhatian lebih. Dan kebersamaan itu walau terkesan melelahkan dan lambat, namun pasti progresnya sehingga melahirkan aksi-aksi nyata, meski pun masih sangat jauh dari hasil yang benar-benar dapat diharapkan. Namun di sanalah kita senantiasa memompa semangat kebersamaan agar lelah bisa terus ditepis, sehingga tidak melahirkan keputusasaan.

Mulai dari terbentuknya Forum Komunikasi RS Kelas C & D Daerah Istimewa Yogyakarta yang sangat kompak, namun terbentur oleh legalitas sehingga melahirkan transformasi yang lebih kuat berupa Asosiasi RS Swasta Daerah Istimewa Yogyakarta (ARSSI DIY) yang sedianya akan dilantik tanggal 19 Desember ini, bersamaan dengan launching web official yang memuat kumpulan data terintegrasi RS Swasta di Jogja, rsswastajogja.com, namun karena beberapa pertimbangan realistis, akan dimundurkan sekitar minggu ketiga tahun depan – hikmahnya tentu lebih bisa mengatur napas, sampai menggeliatnya Persatuan RS Seluruh Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PERSI DIY), sebagai wadah asosiasi yang lebih besar untuk semakin aware dengan dinamika konstelasi bidang kerumahsakitan. Akhirnya forum-forum lintas komponen dan stakeholder pun terjalin: Keraton, DPRD, Dinkes, BPJS, BPRS, FKTP, Lembaga Ombudsman. Kolaborasi golongan tua dan muda terjalin apik di sini, saling pemahaman terjadi. Meski masih banyak yang saling berkelit. Namanya juga manusia. Banyak kepala banyak kemauan, banyak kepentingan juga.

Saya senantiasa berharap, kepentingan khalayak masyarakat, tetaplah yang paling utama, meski pun setiap pihak mengklaim juga: kami ya juga untuk kebaikan masyarakat. Paling lucu ketika berulang kali menyaksikan bahwa pihak-pihak tertentu tidak dapat bertindak sesuai kewenangannya. Pejabat dimana kami berharap, namun malah susah diharapkan. Entahlah apa yang ada di pikirannya. Namun kita berpikiran positif saja, dan terus bergerak, memperbanyak komunikasi dan memperkuat konsolidasi. Adakala lembut, namun tegas juga harus diasah. Lelah memang, namun itulah konsekuensi menuju perubahan bermakna. Salam kompak.
Sleman, 22.15 WIB


6 Komentar

Profesi Malaikat


dokter malaikat2

Sumber Gambar: Tabloid Nakita

Acara rapat komite medik RS kami tadi malam, seperti biasanya berlangsung akrab dalam suasana kekeluargaan. Sudah menjadi tradisi setiap rapat diadakan – seringnya bertempat di sebuah resto langganan RS kami – sambil menyantap makanan yang tersedia, kita pararelkan dengan acara obrolan-obrolan seru dan saru (versi medis). Tidak lupa setiap rapat, ada protokoler rapat seperti sambutan-sambutan, juga terdapat sesi tausiyah, atau nasihat spiritual, yang disampaikan oleh anggota komite medik sendiri. Rapat kali ini meliputi paparan perkembangan layanan RS, sosialisasi layanan dan aturan baru, evaluasi layanan, perkenalan dokter baru. Yang paling seru pembahasan terkait gratifikasi dokter dan perkara imbal jasa tenaga medis (dokter). Momen paling berkesan saya rasakan ketika sesi tausiyah berlangsung. Seorang senior yang menjabat sebagai ketua staf medis fungsional bedah kami, memberikan nasihat yang saya rasakan menembus relung hati nurani kami sebagai pemberi layanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus menjadi otokritik bagi kita semua. Beliau mengawali cerita tentang wisuda anaknya yang baru saja lulus menjadi dokter. Saat sumpah dokter diucapkan, beliau menangis, teringat sumpah yang sama yang pernah diucapkan oleh beliau puluhan tahun yang lalu. Beliau menangis tidak hanya untuk dirinya tapi juga menangis untuk komunitas tenaga medis yang sepertinya sudah semakin lupa dengan sumpah dokternya.

Pada tausiyah ini, beliau membacakan kembali sumpah dokter tersebut, saya menyaksikan sendiri bagaimana tremornya (gemetar) tangan beliau ketika memegang smartphone yang menampilkan teks sumpah dokter tersebut, dan suaranya bergetar ketika membacakan kembali sumpah dokter tersebut secara perlahan kepada kami semuanya. Saya perhatikan mata beliau juga kembali berkaca-kaca. Mari kita simak kembali sumpah dokter itu:

——————

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatani saya.

——————

Lalu beliau mengatakan. Dari isi sumpah ini jelas sekali, dokter adalah profesi malaikat. Versi saya tentu yang dimaksud adalah malaikat penyelamat, bukan malaikat pencabut nyawa…
Seorang malaikat tidak pernah menuntut pamrih dari yang diselamatkan. Tidak ada dalam sumpah dokter tersebut, memuat poin mengenai jasa medik, tidak ada poin mengenai diskriminasi strata sosial maupun pelayanan seperti kelas pasien, misalnya sesuai tarif JKN/BPJS. Tidak ada poin mengenai: penderita akan saya tolong ketika sudah membayar, tidak ada poin mengenai: penderita miskin dan kaya akan saya bedakan obatnya.

Beliau berharap, dokter tidak menjadi pedagang, yang berpikir: apa yang bisa saya jual, apa yang bisa saya dapat dari pasien. Tetapi sebaliknya apa yang saya bisa berikan (bahkan sesegera mungkin) untuk kesembuhan dan kebahagiaan pasien.

Beliau mengemukakan kembali sebuah pernyataan beliau di dalam sebuah grup obrolan virtual kami di RS. Berikut pernyataannya:

“Matematika dokter. Kalau kita menolong 2 orang pasien saja setiap hari dengan ikhlas, tanpa berharap apapun, kecuali keinginan membantu, menolong. Maka sebulan kita akan menolong 50 orang pasien tanpa pamrih. Dan artinya setahun kita akan menolong 600 orang pasien tanpa pamrih, semata-mata karena ingin membantu. Ikhlas. Kalau separuh saja pasien kita itu tahu diri, dan mendo’akan kita, maka di tengah sepinya malam, ketika kita terlelap karena seharian bekerja, akan ada 300 pasang tangan menengadah ke langit, dan bibir mereka berucap dengan air mata menetes. Mereka berdo’a: “Ya Allah, aku ini orang miskin, tapi ada dokter yang bersedia merawat anakku yang sakit dengan penuh perhatian, penuh kasih sayang, padahal mereka tahu aku tak akan mampu membayar mereka ya Allah. Ya Allah, aku miskin, tak kuat membayar mereka, tapi Engkau Maha Kaya ya Allah, bayarlah mereka dengan rizkiMu yang halal dan thoyyib, ya Allah, mereka tak sempat beristirahat dan menjaga kesehatan serta berkumpul dengan keluarganya karena mengurusi anakku yang sakit, ya Allah, jagalah kesehatannya, bahagiakan keluarganya. Aamiin.” Do’a orang-orang miskin di tengah sepinya malam itu bisakah kita hargai dengan nominal sekian juta/milyar? yang kalau Allah kehendaki semua itu akan bisa lenyap dalam sekejap.”

Di samping itu beliau menambahkan. Manakala seorang dokter mendapatkan penghasilan yang lebih misalnya menangani pasien kelas VIP, itu juga patut disyukuri karena itu sudah rezekinya. Yang salah adalah ketika dokter sudah tidak mampu lagi mempertahankan sumpah dokternya, lalu berpikir: apa yang bisa saya jual kepada pasien. Dokter merangkap sebagai pedagang, lalu terpaksa menerima gratifikasi, menggadaikan kehormatan profesinya. Memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan oleh pasien, demi mendapatkan untung dari pasien.

Seorang dokter spesialis pernah melontarkan sebuah pernyataan sebagai berikut:
“Nanti dokter nyari passive income saja… meriksa pasien sesempatnya saja… karena banyak ancaman.. wong mau meriksa dan menolong pasien tapi ditodong masalah hukum… yang penting kita ga melanggar hukum Alloh SWT.. hukum manusia tidak perlu
kita takutkan… yang penting kita selalu berpegang hukum Alloh dan sunnah Rasul SAW…”

Saya sendiri melihat pernyataan itu sangat ambigu. Dan ternyata beliau yang memberikan tausiyah ini juga berpendapat begitu. Di era sekarang ini, memang sangat baik, dokter diharapkan bisa mencari passive income dari bisnis lain, bisnis non kesehatan yang tidak memiliki konflik kepentingan terhadap pasien. Bisa dibayangkan bila dokter mempunyai bisnis, misalnya bisnis POM bensin yang maju, sehingga ia tidak perlu berpikir bagaimana bisa kaya dari pasiennya, ia akan bekerja dengan tenang bahkan membantu pasien bila tidak mampu. Pernyataan “memeriksa pasien sesempatnya saja…”, menurut beliau telah melanggar sumpah dokter itu sendiri, karena tentu saja pasien tidak mendapatkan pelayanan yang optimal serta akan terjadi diskriminasi.

Di luar pentingnya dokter menjaga komitmen sumpahnya itu, beliau juga memaparkan kondisi ideal sebuah sistem pelayanan kesehatan. Dokter harusnya memang tidak perlu memikirkan bagaiman cara dia bisa survive/bertahan hidup bila harus berbakti seperti itu. Itulah tugas negara, kata beliau. Tugas manajemen RS bagaimana supaya dokter bisa tenang melayani pasien. Bila dokter butuh rumah, butuh biaya untuk anak dan istrinya, bahkan butuh barang mewah seperti mobil dan sebagainya, mestinya negara yang menyediakan. Bukan malah main mata dengan pabrik farmasi dan alat kesehatan dan memeras pasien. Tapi itu kondisi ideal. Sedang sekarang kondisinya belum bisa begitu. Jadi tentu saja bagaimana kembali, dokter bisa senantiasa mengingat dan menerapkan sumpah dokternya. Itu kalau dokter masih ingin disebut sebagai profesi malaikat, malaikat penolong dan penyelamat. Bukan malaikat pencabut nyawa.


5 Komentar

Konsultasi Dokter Online, Layakkah?


Tulisan ini terkait proyek aplikasi (sementara baru bisa di perangkat Android dan emulatornya) yang sedang dikembangkan oleh teman-teman saya, saya hanya salah satu penasihat, fasilitator, reviewer, sekaligus sebagai pemain juga. Aplikasi yang dimaksud adalah ChatDoctor, aplikasi konsultasi jarak jauh dokter dengan pasien secara real time melalui akses internet. Aplikasi ini bisa diunduh melalui Google Play. Pada proses pengembangan ini memberikan kebebasan bagi member berkonsultasi secara gratis.

Sebagai salah satu dokter yang mengampu rubrik konsultasi pada aplikasi ini, saya merasakan aplikasi ini berguna bagi masyarakat yang membutuhkan akses cepat (real time) dikala mereka terkena masalah kesehatan tertentu. Sepertinya mereka sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini, terbukti dengan beberapa testimoni positif yang masuk ke dalam ruang konsultasi saya.

Memang sebagai produk teknologi, dalam pengembangannya, masih banyak kekurangan aplikasi ini yang masih menyulitkan bagi dokter dan pasien. Seperti proses arsip yang belum sempurna untuk keperluan rekam medis secara online. Beberapa bugs yang muncul juga turut membuat kurang nyaman, namun ini justru membuat aplikasi ini semakin sempurna dengan semakin banyaknya masukan. Kesulitan lain adalah masih sedikit dokter yang mau berpartisipsi dalam aplikasi ini. Bisa dipastikan bahwa dokter yang bergabung dalam aplikasi ini adalah dokter yang melek teknologi serta mau meluangkan waktunya untuk memberikan ruang konsultasi kepada masyarakat. Ini yang paling susah saya kira. Praktik dokter secara online sebenarnya sama saja dengan offline, namun di sini dituntut ketelitian yang lebih dalam memberikan advise kepada pasien. Saya sendiri dari dulu sudah terbiasa memberikan konsultasi jarak jauh melalui media internet mau pun via sms atau telepon, jadi tidak ada masalah berarti. Kecuali satu mungkin, yaitu waktu yang lebih agak tersita, karena tag line dari apliasi ini adalah real time. Begitu pasien bertanya, dokter sebaiknya secepat mungkin memberikan respon. Ini yang masih sulit juga, memerlukan komitmen kuat, gadget yang handal, dan koneksi internet yang stabil. Selama terlibat di aplikasi ini saya belum mendapatkan konsultasi kasus emergensi dari masyarakat, meski pun suatu saat bisa saja terjadi seperti line 911 di luar negeri. Sehingga trik yang diterapkan adalah membatasi jam praktik online, yaitu dengan mencantumkan jam praktik sehingga bisa dilihat oleh member, namun sepertinya ini belum efektif. Masih banyak yang bertanya di luar jam praktik. Yah, sebenarnya ini bisa dimaklumi, sama saja ketika kita praktik secara offline, semisal di rumah, meski ada jam praktik tertulis jelas di plang praktik, ya tetap saja ada pasien yang berobat di luar jam praktik. Ini menjadi tantangan, selain tag line real time, aplikasi ini juga mencita-citakan online non stop 24 jam, stand by untuk konsultasi. Yah, memang perlu sumber daya dokter yang banyak, itulah tantangan.

Mungkin ada yang bertanya, biasanya dari para sejawat dokter sendiri: Layakkah aplikasi seperti ini dijadikan salah satu sarana pengambilan keputusan medis bahkan memberikan rekomendasi tertentu kepada masyarakat yang bisa jadi berdampak negatif dikarenakan keterbatasan tertentu seperti tidak bertatap muka secara langsung? Mungkin kita lupa, bahwa selama ini para dokter juga menerima berbagai konsultasi seperti kondisi yang ada pada aplikasi ini. Dan selama ini tidak menjadi masalah. Memang ada batasan, kasus apa saja yang bisa ditangani secara tidak langsung seperti ini. Ini tentu memerlukan kreatifitas yang tinggi dari seorang dokter dalam menggali informasi yang sebagian besarnya bersifat tulisan, gambar, dan attachment lainnya seperti video dan audio. Inilah yang disebut sebagai telemedicine. Syukur-syukur kalau ke depan bisa ada standar yang lebih jelas, semacam pedoman praktik online bagi para dokter. Untuk ini kita bisa mengambil referensi dari website-website konsultasi yang sudah ada banyak baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Di samping kemungkinan efek negatifnya, ada banyak efek positif yang memberikan keuntungan bagi dokter dan masyarakat bila bergabung dalam aplikasi seperti ini. Dokter bisa mendapatkan kepercayaan yang lebih dan meningkatkan angka promosi dirinya atau institusinya bila bergabung dengan aplikasi ini, karena aplikasi ini memberikan ruang iklan seperti tempat dokter praktik disertai dengan peta onlinenya. Keuntungan bagi pasien terutama adalah mendapatkan akses konsultasi yang jauh lebih mudah, dengan biaya yang sangat murah.

Semoga aplikasi ini ini semakin berkembang dan memberikan kemanfaatan yang lebih banyak kepada masyarakat. Aamiin.

Referensi:

http://chatdoctor.net/

https://play.google.com/store/apps/details?id=xrb21.chat.dokter&hl=en

https://kitabisa.com/chatdoctor


Tinggalkan komentar

Sikap Positif Tubuh Dapat Memperbaiki Mood, Kepercayaan Diri, dan Kondisi Kesehatan


High vs Low Power Poses Sumber: http://thespiritscience.net/

High vs Low Power Poses
Sumber: http://thespiritscience.net/

Secara tidak sengaja saya menemukan sebuah video inspiratif dan aplikatif, setelah browsing untuk penyegaran pengetahuan dan skill presentasi saya. Sumber asli video ini ada di website TEDTalks (ted.com) atau langsung ke http://www.ted.com/talks/amy_cuddy_your_body_language_shapes_who_you_are

Video ini bisa langsung teman-teman download dan jangan lupa memilih teks terjemahan (subtitle) untuk bahasa Indonesia ya…

Video-video di TEDTalks ini memang sangat menginpirasi bagi para penontonnya, dulu saya ingat saya pernah posting di blog saya ini mengenai cara penurunan berat badan secara revolusioner, ada di https://widodowirawan.wordpress.com/2013/04/04/menguruskan-badan-hanya-minum-jus-selama-60-hari/

Nah, video kali ini bercerita tentang penemuan ilmiah dari Prof. Amy Cuddy (beliau sendiri yang presentasi di video itu) mengenai sikap tubuh yang dapat mempengaruhi kadar hormon testosteron dan kortisol. Saya tidak usah terangkan apa itu fungsi kedua hormon itu karena sudah dijelaskan dalam video dan transkrip/subtitle video yang saya sertakan di sini. Bagi yang memerlukan artikel ilmiah Prof Cuddy bisa dilihat di Power Posing Brief Nonverbal Displays Affect Neuroendocrine Levels and Risk Tolerance: http://pss.sagepub.com/content/21/10/1363.abstract dan di https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&uact=8&ved=0CEcQFjAI&url=http%3A%2F%2Fdash.harvard.edu%2Fbitstream%2Fhandle%2F1%2F9547823%2F13-027.pdf%3Fsequence%3D1&ei=09KUVNedOI6VuQT1i4LgCQ&usg=AFQjCNF_XmzmLJG6WcP0MxUDgQ7KzxLbIw&sig2=r5ZIQ-hFmA3nQmxTbeKHHw

Namun, temuan ini dapat diperluas dengan menduplikasi temuan ini dalam proses-proses terapi penyembuhan pasien dengan faktor-faktor yang dipengaruhi oleh hormon adrenalin dan kortisol serta kondisi psikosomatis lainnya, seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, gangguan jiwa, dan sakit lambung/maag/dispepsia.

Yang jelas, inti dari temuan beliau itu ada 2 yaitu:

1. bahwa “tubuh juga dapat mempengaruhi pikiran sebagaimana – yang sudah lumrah – pikiran mempengaruhi tubuh”.

2. bahwa untuk menuju perubahan pikiran itu diperlukan “keterpaksaan”, melalui kepalsuan/berpura-pura sampai kita benar-benar (sering tanpa disadari) berada dalam kondisi/pikiran yang kita inginkan.

Hal ini pernah juga saya presentasikan dahulu waktu masih pendidikan koasistensi di bangsal ilmu jiwa mengenai feedback positif dari senyuman (yang dipaksa dalam kondisi tidak mood) untuk perbaikan mood dan kondisi kejiwaan lainnya. Jadi jangan lupa untuk diterapkan sehari-hari agar jiwa dan tubuh kita semakin sehat, serta awet muda 😀

Selamat beraktifitas kembali dan berbahagia dengan hidup teman-teman.

————–

Saya ingin mulai dengan menawarkan sebuah cara gratis dan sederhana, dan Anda hanya perlu mengubah sikap tubuh Anda selama dua menit. Tapi sebelum saya memberikannya, saya ingin meminta Anda sekarang untuk sedikit memeriksa tubuh Anda dan apa yang Anda lakukan dengan tubuh Anda. Jadi, berapa dari Anda membuat diri Anda tampak lebih kecil? Mungkin Anda sedang membungkuk, menyilangkan kaki Anda mungkin memeluk pergelangan kaki. Kadang-kadang kita menyilangkan tangan kita seperti ini. Kadang-kadang kita membukanya lebar-lebar. (Tawa) Saya bisa melihat Anda. (Tawa) Jadi, saya ingin Anda memperhatikan apa yang sedang Anda lakukan sekarang. Kita akan kembali membahas tentang itu dalam beberapa menit,dan saya berharap jika Anda belajar untuk sedikit mengubahnya,hal ini dapat secara signifikan mengubah cara hidup Anda.

Jadi, kami benar-benar kagum dengan bahasa tubuh,dan khususnya sangat tertarik dengan bahasa tubuh orang lain. Anda tahu, kita tertarik kepada hal-hal seperti, misalnya – (Tawa) – sebuah interaksi yang canggung, atau senyuman, atau pandangan merendahkan, atau mungkin kedipan yang sangat canggung,atau bahkan mungkin sesuatu seperti jabat tangan.

Narator: Tibalah mereka di No. 10, dan lihat ini polisi beruntung bisa berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat. Oh, dan inilah Perdana Menteri dari …? Tidak. (Tawa) (Tepuk tangan)
(Tawa) (Tepuk tangan)

Amy Cuddy: Jadi, sebuah jabat tangan, atau tanpa jabat tangan, bisa kita bahas selama berminggu-minggu. Bahkan di BBC dan The New York Times. Jadi, jelas ketika kita berpikir tentang perilaku nonverbal, atau bahasa tubuh – kami menyebutnya nonverbal sebagai ilmuwan sosial – itu adalah bahasa, jadi kita berpikir tentang komunikasi. Saat kita berpikir tentang komunikasi, kita berpikir tentang interaksi.

Jadi, apa yang bahasa tubuh Anda komunikasikan kepada saya? Bahasa tubuh apa yang sedang saya komunikasikan kepada Anda?

Dan ada begitu banyak alasan untuk percaya bahwa ini adalah suatu cara yang valid untuk melihat ini. Jadi, ilmuwan sosial
telah menghabiskan banyak waktu untuk melihat efek dari bahasa tubuh kita, atau bahasa tubuh orang lain, pada penilaian. Dan kita membuat penilaian sepintas dan membaca kesimpulan dari bahasa tubuh. Dan penilaian-penilaian tersebut bisa menentukan pencapaian hidup yang sungguh penting seperti siapa yang kita pekerjakan atau promosikan, siapa yang kita ajak berkencan.

Contohnya, Nalini Ambady, seorang peneliti di Universitas Tufts, menunjukkan bahwa ketika orang menonton 30 detik klip tanpa suara tentang interaksi nyata antara dokter-pasien, interaksi nyata antara dokter-pasien, PENILAIAN MEREKA AKAN KERAMAHAN DOKTER JUGA MENENTUKAN APAKAH DOKTER ITU AKAN DITUNTUT ATAU TIDAK. Jadi ini TIDAK TERLALU BERHUBUNGAN DENGAN APAKAH DOKTER TERSEBUT KOMPETEN ATAU TIDAK, TAPI APAKAH KITA MENYUKAINYA DAN BAGAIMANA MEREKA BERINTERAKSI?

Secara lebih dramatis, Alex Todorov di Princeton telah menunjukkan kepada kita bahwa penilaian pada wajah-wajah kandidat politik dalam satu detik saja menentukan 70 persen hasil dari pemilihan anggota senat Amerika dan hasil pemilihan kegubernuran, dan bahkan, di dunia digital, emoticon yang digunakan dengan baik dalam negosiasi online dapat memberikan nilai tambah bagi Anda dalam negosiasi tersebut. Kalau Anda memakainya dengan buruk, bisa gawat. Bukan?

Jadi ketika kita berpikir tentang nonverbal, kita berpikir tentang bagaimana kita menilai orang lain, bagaimana mereka menilai kita dan apa akibatnya. TAPI, KITA CENDERUNG LUPA, MASIH ADA PENONTON LAIN YANG TERPENGARUHI OLEH NONVERBAL KITA, YAITU DIRI KITA SENDIRI.

Kita juga dipengaruhi oleh nonverbal kita, pikiran kita dan perasaan kita, dan fisiologi kita. Jadi nonverbal apa yang saya maksud di sini? Saya seorang psikolog sosial. Saya mempelajari prasangka, dan saya mengajar di sebuah sekolah bisnis yang kompetitif, jadi tanpa terelakkan lagi saya jadi tertarik pada dinamika kekuatan. Saya jadi sangat tertarik dengan ekspresi nonverbal dari kekuatan dan kekuasaan. Dan apa ekspresi nonverbal dari kekuatan dan kekuasaan? Nah, inilah mereka.

Dalam kerajaan hewan, ini berkaitan dengan ekspansi. Jadi, Anda membuat diri Anda kelihatan besar, Anda merentang, Anda mengambil tempat lebih besar, pada dasarnya Anda membuka diri. Ini adalah tentang membuka diri. Dan ini nyata terjadi di dunia hewan. Tidak hanya terbatas pada primata. Dan manusia melakukan hal yang sama. (Tawa)

Jadi mereka melakukannya baik ketika mereka memiliki kekuatan yang berkesinambungan, maupun ketika mereka merasa kuat sesaat. Dan yang satu ini sangat menarik karena ini benar-benar menunjukkan betapa universal dan tuanya ekspresi kekuatan ini. Ekspresi ini, yang dikenal sebagai kebanggaan, telah dipelajari oleh Jessica Tracy. Dia menunjukkan bahwa orang yang dilahirkan dengan penglihatan dan orang yang buta sejak lahir sama-sama melakukannya ketika mereka memenangkan suatu kompetisi fisik. Jadi saat mereka melewati garis akhir dan menang, walaupun mereka belum pernah melihat orang lain melakukannya.

Mereka melakukan ini. Kedua tangan terangkat seperti “V”, dagu sedikit diangkat. Apa yang kita lakukan saat kita merasa lemah? Kita melakukan kebalikannya. Kita menutup. Kita membungkus diri kita. Kita membuat diri kita kecil. Kita takut menyenggol orang di sebelah kita. Jadi sekali lagi, baik hewan maupun manusia melakukan hal yang sama.

Dan ini yang terjadi bila Anda mempertemukan yang kuat dan yang lemah. Jadi yang cenderung kita lakukan ketika dihadapkan dengan kekuatan adalah kita bereaksi terhadap nonverbal orang lain.

Jadi jika ada seseorang yang jauh lebih berkuasa daripada kita, kita cenderung membuat diri kita lebih kecil. Kita tidak meniru bahasa tubuh mereka. Kita lakukan kebalikannya. Jadi saya memperhatikan perilaku ini di ruang kelas, dan apa yang saya lihat? Saya lihat bahwa mahasiswa MBA benar-benar menunjukkan seluruh rentang kekuatan nonverbal.

Jadi ada orang yang seperti karikatur alfa, masuk ke dalam ruangan, mereka langsung ke tengah ruangan bahkan sebelum kelas dimulai, seakan mereka benar-benar ingin menguasai daerahnya. Ketika mereka duduk, mereka seperti membuka lebar. Mereka mengangkat tangan seperti ini. Yang lainnya ada yang kelihatan menciut ketika mereka memasuki ruangan. Begitu mereka masuk, Anda bisa melihatnya. Anda melihatnya di wajah mereka dan tubuh mereka, dan mereka duduk di kursi mereka dan mereka membuat diri mereka kecil, dan mereka berbuat seperti ini ketika mereka mengangkat tangan. Saya perhatikan beberapa hal tentang ini.

Satu, Anda tak akan terkejut. Hal ini tampaknya berkaitan dengan jenis kelamin. Jadi wanita sangat cenderung untuk melakukan seperti ini dibandingkan pria. Wanita selalu merasa lebih lemah daripada pria, jadi hal ini tidak mengejutkan. Tapi hal lain yang saya perhatikan adalah tampaknya hal ini juga berkaitan dengan sejauh mana para mahasiswa berpartisipasi, dan seberapa baik partisipasi mereka. Dan hal ini sangat penting dalam ruang kelas MBA, karena partisipasi berbobot setengah dari nilai. Jadi sekolah-sekolah bisnis telah bergumul dengan kesenjangan nilai antar jenis kelamin. Anda mendapatkan para wanita dan pria dengan kualifikasi yang setara saat mendaftar dan ketika Anda menemukan kesenjangan dalam nilai, dan tampaknya mungkin sebagian disebabkan oleh perbedaan tingkat partisipasi.

Jadi saya mulai ingin tahu, begitu, oke, jadi ada orang-orang yang datang seperti ini, dan mereka berpartisipasi. Mungkinkah kita dapat membuat orang-orang untuk “berpura-pura” dan kemudian itu membuat mereka dapat lebih berpartisipasi?

Jadi rekan utama saya, Dana Carney, di Berkeley, dan saya benar-benar ingin tahu, apakah kita dapat “berpura-pura” sampai kita berhasil? Dapatkah kita melakukan ini sebentar dan kemudian benar-benar mengalami perubahan sikap sehingga membuat kita tampak lebih kuat?

Jadi kita mengetahui bahwa nonverbal kita mempengaruhi bagaimana pikiran dan perasaan orang tentang kita. Ada banyak bukti.

Namun pertanyaan kita sebenarnya adalah, apakah nonverbal kita mempengaruhi bagaimana pikiran dan perasaan kita tentang kita sendiri? Terdapat bukti bahwa mereka memang berpengaruh.

Sebagai contoh, kita tersenyum ketika kita merasa bahagia, namun juga, ketika kita dipaksa tersenyum dengan menggigit bolpen seperti ini, ini membuat kita merasa bahagia. Jadi ini bekerja dua arah. Ketika berhubungan dengan kekuatan, ini juga bekerja dua arah. Kalau Anda merasa kuat, Anda cenderung melakukan ini, tetapi mungkin juga ketika Anda berpura-pura kuat, ada kemungkinan Anda juga jadi benar-benar merasa lebih kuat.

Jadi pertanyaan keduanya adalah, begini, jadi kita tahu bahwa pikiran kita mempengaruhi tubuh kita, tapi apakah tubuh kita juga sungguh mempengaruhi pemikiran kita? Dan ketika saya mengatakan pikiran, pada orang yang kuat, apa yang saya maksudkan?

Jadi saya berbicara tentang pemikiran dan perasaan dan segala hal fisiologis yang membentuk pemikiran dan perasaan kita,dan dalam kasus ini, itu adalah hormon. Saya meneliti hormon.

Jadi bagaimana pemikiran yang kuat dan yang lemah apabila dibandingkan? Orang yang sangat kuat cenderung untuk, tentu saja, lebih tegas, dan lebih percaya diri, lebih optimis. Mereka sungguh merasa bahwa mereka akan menang bahkan dalam permainan peluang. Mereka juga cenderung untuk mampu berpikir secara lebih abstrak. Jadi terdapat beberapa perbedaan. Mereka mengambil lebih banyak resiko.

Terdapat banyak perbedaan antara orang yang kuat dan orang yang lemah. Secara fisiologi, terdapat pula perbedaan pada dua hormon utama: testosteron, yang merupakan hormon dominasi, dan kortisol, yang merupakan hormon stres. Jadi yang kita temukan adalah bahwa pejantan alfa dalam hirarki primata mempunyai testosteron yang tinggi dan kortisol yang rendah, dan pemimpin yang kuat dan efektif juga mempunyai testosteron yang tinggi dan kortisol yang rendah.

Jadi apa artinya hal ini?
Bila Anda berpikir tentang kekuatan, orang cenderung berpikir bahwa ini hanyalah tentang testosteron, karena itu berkaitan dengan dominasi. Tapi sebenarnya, kekuatan juga berkaitan dengan bagaimana Anda bereaksi terhadap tekanan. Apakah Anda ingin mempunyai pemimpin yang kuat, yang dominan, testosteron tinggi, namun mudah dipengaruhi stres? Mungkin tidak, bukan? Anda menginginkan orang yang kuat dan tegas dan dominan, tetapi tidak terlalu reaktif, orang yang santai.

Jadi kita tahu bahwa dalam hirarki primata, bila seekor alfa ingin mengambil alih kekuasaan, bila suatu individu ingin mengambil alih peran alfa secara mendadak, dalam beberapa hari, testosteron individu tersebut telah naik secara signifikan, dan kortisol telah turun secara signifikan. Jadi kita punya bukti ini, bahwa tubuh dapat mempengaruhi pikiran, setidaknya pada tingkat wajah, dan juga bahwa perubahan peran dapat membentuk pikiran. Jadi apa yang terjadi, misalnya, Anda mengambil perubahan peran, apa yang terjadi kalau Anda melakukannya pada tingkat minimal, seperti manipulasi kecil, intervensi kecil berikut?

“Untuk dua menit,” Anda katakan, “saya ingin Anda berdiri seperti ini, dan ini akan membuat Anda merasa lebih kuat.” Jadi inilah yang kami lakukan. Kami memutuskan untuk membawa orang ke dalam lab. dan menjalankan eksperimen kecil, dan orang-orang ini mengambil, selama dua menit, antara pose kekuatan besar atau pose kekuatan rendah, dan saya hanya akan menunjukkan kepada Anda lima pose, walaupun sebenarnya hanya ada dua jenis. Jadi ini satu.

Dua lagi. Yang ini dijuluki pose “Wonder Woman” oleh media. Dan ini dua lagi. Jadi Anda bisa saja berdiri atau Anda dapat duduk. Dan ini adalah pose kekuatan rendah. Jadi Anda melipat tangan, dan membuat diri Anda lebih kecil. Yang satu ini kekuatan sangat rendah. Ketika Anda menyentuh leher, Anda seperti sedang melindungi diri.

Jadi inilah yang terjadi. Mereka masuk, mereka meludah ke dalam tabung kecil, kami menginstruksikan, “Selama dua menit, Anda harus melakukan ini atau itu.” Mereka tidak melihat foto pose. Kami tidak ingin memancing mereka dengan konsep kekuatan. Kami ingin mereka merasakan kekuatan, bukan?

Jadi selama dua menit mereka melakukan ini. Kemudian kami bertanya kepada mereka, “Anda merasa sekuat apa?” pada serangkaian kondisi, kemudian kami beri mereka kesempatan untuk berjudi, dan kemudian kami ambil sekali lagi contoh ludah. Itu saja. Itu keseluruhan eksperimen. Jadi inilah yang kami temukan. Toleransi resiko, dalam hal ini berjudi, yang kami temukan adalah bahwa ketika Anda berada dalam kondisi pose kekuatan tinggi, 86 persen orang akan berjudi. Ketika seseorang berada pada kondisi pose kekuatan rendah hanya 60 persen, dan ini merupakan perbedaan yang sungguh sangat besar.

Inilah yang kami temukan tentang testosteron. Berdasarkan kondisi awal ketika mereka datang, orang dengan kekuatan tinggi mengalami kenaikan sekitar 20 persen, dan orang dengan kekuatan rendah mengalami penurunan sekitar 10 persen.

Jadi sekali lagi, dua menit, dan Anda mendapatkan perubahan ini. Inilah yang Anda dapatkan tentang kortisol. Orang dengan kekuatan tinggi mengalami penurunan sekitar 25 persen, dan orang dengan kekuatan rendah mengalami kenaikan sekitar 15 persen. Jadi dua menit menyebabkan perubahan-perubahan hormonal ini yang pada dasarnya mengatur otak Anda untuk menjadi antara tegas, percaya diri dan nyaman, atau mudah terpengaruh oleh stress, dan merasa seperti dimatikan. Dan kita semua pernah merasakannya, bukan?

Jadi tampaknya nonverbal kita sungguh mempengaruhi bagaimana pikiran dan perasaan kita tentang diri kita sendiri, jadi ini bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk kita sendiri.

Juga, tubuh kita dapat mengubah pikiran kita. Namun pertanyaan berikutnya, tentunya, adalah dapatkah melakukan pose kekuatan selama beberapa menit sungguh mengubah hidup Anda secara berarti? Jadi ini di lab. Ini hal kecil, begitulah, hanya dua menit. Di mana Anda bisa benar-benar menerapkan ini? Yang sungguh menarik bagi kita, tentunya.

Dan jadi kami pikir inilah, yang sungguh penting, di mana Anda ingin menggunakan ini adalah situasi evaluatif seperti situasi ancaman sosial. Di mana Anda sedang dievaluasi, baik oleh teman-teman anda? Seperti remaja di meja makan siang.

Bisa juga, misalnya, untuk orang-orang yang berbicara di pertemuan dewan sekolah. Mungkin memberikan presentasi singkat atau berbicara di muka umum seperti ini atau melakukan suatu wawancara kerja. Kami memutuskan bahwa satu yang mengena untuk banyak orang karena sebagian besar orang pernah mengalaminya adalah wawancara kerja.

Jadi kami mempublikasikan temuan ini, dan media mencermatinya, dan mereka berkata, “Oke, jadi ini yang Anda lakukan ketika Anda pergi untuk wawancara kerja, bukan?” (Tawa)

Begitulah, jadi kita tentu saja terkejut, dan berkata, “Ya ampun, bukan. Bukan. Sebenarnya bukan itu yang kami maksudkan. Untuk banyak alasan, jangan. Jangan. Jangan lakukan itu.”

Sekali lagi, ini bukan tentang Anda berbicara kepada orang lain. Ini adalah Anda berbicara kepada diri Anda sendiri. Apa yang Anda lakukan sebelum Anda pergi ke sebuah wawancara kerja? Anda melakukan ini. Betul? Anda duduk. Anda melihat ke iPhone atau Android Anda, tanpa mengganggu siapa pun. Anda, begitulah, Anda melihat catatan Anda, Anda membungkuk, membuat diri Anda lebih kecil, ketika sesungguhnya yang seharusnya Anda lakukan mungkin adalah ini, misalnya, di kamar mandi, bukan? Lakukanlah itu. Sempatkan dua menit. Jadi inilah yang ingin kami uji. Oke? Jadi kami bawa orang ke sebuah lab, dan mereka melakukan lagi antara pose kekuatan tinggi atau rendah, kemudian mereka melalui sebuah wawancara kerja yang sangat menegangkan. Selama lima menit. Mereka direkam. Mereka juga dinilai, dan para penilai telah terlatih untuk tidak memberikan sedikit pun feedback nonverbal jadi mereka tampak seperti ini. Bayangkan ini adalah orang yang mewawancarai Anda. Jadi selama lima menit, tidak ada apa-apa, dan ini lebih buruk daripada dicela.

Orang-orang membenci ini. Ini adalah situasi yang disebut oleh Marianne LaFrance sebagai “berdiri di dalam pasir apung sosial.” (percakapan membosankan yang tidak bisa dihentikan)

Jadi ini benar-benar menaikkan kortisol Anda secara drastis. Jadi ini adalah wawancara kerja yang harus mereka lalui, karena kami benar-benar ingin melihat apa yang terjadi. Kemudian kami meminta empat orang penilai untuk menonton rekaman wawancara. Hipotesis kami tidak diinformasikan kepada mereka. Dan mereka tidak tahu situasi dan kondisinya. Mereka tidak tahu siapa yang sedang berpose seperti apa, dan mereka akhirnya melihat rekaman ini, dan mereka bilang, “Oh, kami mau
mempekerjakan orang-orang ini,” – semua yang berpose kekuatan tinggi – “kami tidak mau mempekerjakan orang-orang ini, Hasil evaluasi kami terhadap orang-orang ini jauh lebih baik secara keseluruhan.”

Tetapi apa yang mendorong hal ini? Ini bukan tentang isi pembicaraan. Ini tentang pembawaan yang mereka bawa dalam pembicaraan. Juga, karena kami menilai mereka berdasarkan semua variabel ini secara berhubungan dengan kompetensi, seperti: sebaik apa struktur pembicaraan? Sebaik apa pembicaraan? Apa kualifikasi mereka? Tidak ada pengaruh pada variabel kompetensi tersebut. Yang terpengaruh adalah ini, hal seperti ini: orang membawa kepribadian asli mereka, pada dasarnya. Mereka membawa diri mereka sendiri. Mereka membawa ide mereka, tetapi sebagai diri mereka sendiri, tanpa, sebutlah, sisa diri mereka. Jadi inilah hal yang mendorong pengaruh, atau membawa pengaruh.

Jadi ketika saya bercerita tentang hal ini, bahwa tubuh kita mengubah pikiran kita dan pikiran kita mengubah perilaku kita, dan perilaku kita dapat mengubah hasil usaha kita, mereka berkata kepada saya, “Saya tidak… Ini terasa menipu.” Bukankah begitu?

Jadi kubilang, “Berpura-puralah sampai Anda berhasil.” – “Saya tidak bisa… Ini bukan saya. Saya tidak ingin mencapai ke sana dan kemudian masih merasa seperti curang. Saya tidak mau merasa seperti penipu. Saya tidak mau mencapai ke sana hanya untuk kemudian merasa tidak pantas ada di sana.” Dan itu sungguh pernah saya rasakan juga, karena saya akan menceritakan kepada Anda sebuah cerita pendek tentang menjadi seorang penipu dan merasa seperti tidak pantas berada di sini.

Ketika saya berusia 19, saya mengalami kecelakaan yang sangat parah. Saya terlempar keluar dari mobil, terguling-guling beberapa kali. Saya terlempar dari mobil. Dan saya bangun di bangsal rehabilitasi untuk cedera di kepala, dan saya mengundurkan diri dari perkuliahan, dan saya akhirnya mengetahui bahwa IQ saya turun sebesar dua standar deviasi, yang merupakan hal yang sangat traumatis. Saya tahu IQ saya karena saya biasa dianggap cerdas dan dulu saya dianggap anak berbakat.

Jadi saya keluar dari universitas, saya terus berusaha untuk kembali. Mereka bilang, “Kamu tidak akan bisa menyelesaikan kuliah. Masih ada hal-hal lain yang bisa kamu lakukan, tetapi kuliah bukan jalan untukmu.” Jadi saya sungguh berjuang dengan ini, dan saya harus katakan, kehilangan identitas Anda, identitas penting Anda, dan bagi saya merupakan sebagai orang yang cerdas, hal itu diambil darimu, tidak ada hal yang membuat Anda merasa lebih tidak berdaya daripada itu.

Jadi saya merasa sungguh tidak berdaya.Saya berjuang dan berjuang dan berjuang, dan saya mendapat keberuntungan, dan berjuang, dan beruntung lagi, dan berjuang lagi. Akhirnya saya lulus kuliah.

Saya membutuhkan empat tahun lebih lama daripada rekan-rekan saya. Dan saya meyakinkan seseorang, malaikat pembimbing saya, Susan Fiske, untuk membimbing saya, dan akhirnya sama diterima di Princeton, dan saya merasa seperti, saya tidak pantas berada di sini. Saya seorang penipu.

Dan malam sebelum pidato tahun pertama dan pidato tahun pertama di Princeton adalah pidato 20 menit di hadapan 20 orang. Itu saja. Saya begitu takut akan ketahuan di keesokan harinya sampai saya menelfon dia dan bilang, “Saya mau keluar.” Dia bilang, “Kamu tidak boleh keluar, karena saya sudah mendukung kamu dengan segala resikonya, dan kamu harus bertahan. Kamu akan bertahan, dan inilah yang akan kamu lakukan. Kamu akan berpura-pura. Kamu akan memberi pidato setiap kali kamu diminta untuk pidato. Kamu hanya akan melakukan dan melakukannya dan melakukannya, walaupun kamu merasa ketakutan dan merasa lumpuh dan hampir pingsan, sampai kamu mencapai saat itu ketika kamu bilang, ‘Ya ampun, saya melakukannya. Seperti saya telah menjadi pantas untuk ini. Saya benar-benar melakukannya.'”

Jadi itulah yang kulakukan. Lima tahun di sekolah pascasarjana, waktu yang cukup singkat, saya di daerah Barat Laut. Saya pindah ke Harvard, saya di Harvard sekarang, saya tidak memikirkannya lagi, tetapi untuk beberapa waktu yang lama, saya terus berpikir, “Tidak pantas berada di sini. Tidak pantas berada di sini.”Jadi pada akhir dari tahun pertama saya di Harvard, seorang mahasiswi yang belum pernah berbicara di kelas sepanjang semester, saya pernah bilang kepadanya, “Begini, kamu harus berpartisipasi, kalau tidak, kamu tidak akan lulus,” Dia datang ke kantor saya. Saya sungguh tidak mengenalnya sama sekali. Dan dia bilang, dia datang, dengan putus asa, dan dia bilang, “Saya tidak seharusnya ada di sini.” Dan itulah saatnya untuk saya. Karena dua hal terjadi. Yang pertama adalah: saya menjadi sadar, “Ya ampun, saya tidak merasa seperti itu lagi.” Begitulah. Saya tidak merasakan itu lagi, tetapi dia merasa demikian, dan saya sangat mengerti perasaan itu. Dan yang kedua adalah: dia memang pantas ada di sini! Seperti, dia bisa berpura-pura, dia bisa menjadi itu. Jadi saya katakan, “Iya, betul kok! Kamu memang pantas berada di sini! Dan besok kamu akan berpura-pura bisa, kamu akan membuat dirimu kuat, dan, begitulah, kamu akan – ” (Tepuk Tangan)

(Tepuk Tangan)

“Dan kamu akan pergi ke ruang kelas, dan kamu akan memberikan komentar yang terbaik.” Tahukah Anda? Dia benar-benar memberikan komentar terbaik yang pernah saya dengar, dan orang-orang menengok dan mereka seakan berkata, “Ya Tuhan, Saya bahkan tidak pernah memperhatikan dia duduk di sana.”

Dia datang kembali kepada saya beberapa bulan kemudian, dan saya menyadari bahwa dia bukan sekedar berpura-pura sampai dia berhasil, dia telah benar-benar berpura-pura sampai dia menjadi benar-benar menjadi itu. Jadi dia telah berubah. Dan jadi saya ingin katakan kepada Anda, jangan hanya berpura-pura sampai berhasil, berpura-puralah sampai Anda benar-benar menjadi seperti itu. Lakukanlah terus sampai Anda benar-benar menjadi seperti itu dari dalam diri Anda.

Hal terakhir yang akan saya berikan kepada Anda adalah ini:

Perubahan kecil dapat membawa perubahan besar. Jadi ini adalah dua menit. Dua menit, dua menit, dua menit. Sebelum Anda akan masuk dalam situasi evaluatif yang menegangkan untuk dua menit, coba lakukan ini, di dalam lift, di dalam toilet, di meja kerja, di belakang pintu. Itulah yang perlu Anda lakukan.
Mengatur otak Anda untuk menghadapi situasi itu dengan kemampuan terbaik.

Naikkan testosteron Anda. Turunkan kortisol Anda. Jangan tinggalkan situasi itu sambil merasa seperti, “Aduh, tadi saya tidak menunjukkan siapa saya sebenarnya. “Tinggalkan situasi itu sambil merasa seperti, “Oh, saya sungguh merasa bahwa saya telah mengatakan siapa saya dan menunjukkan siapa saya.”

Jadi saya ingin meminta Anda, untuk mencoba pose kekuatan dan juga saya ingin meminta Anda untuk membagikan ilmu ini, karena ini sederhana. Saya tidak punya kepentingan pribadi dalam hal ini. Berikan. Bagikan dengan orang-orang, karena orang yang dapat paling banyak dapat menggunakannya adalah tanpa sumber daya dan tanpa teknologi dan tanpa status dan tanpa kekuatan.
Berikan kepada mereka karena mereka dapat melakukannya diam-diam. Mereka hanya perlu tubuh mereka, sedikit keleluasaan pribadi, dan dua menit, dan ini secara signifikan dapat meningkatkan pencapaian dalam hidup mereka.

Terima kasih. (Tepuk tangan) (Tepuk tangan)

————–

PERINGATAN: jangan lakukan posisi high power poses itu di tempat umum apalagi di depan bos Anda sekalian ya? bisa dimakan nanti lakukan di tempat tertutup dan ga dilihat orang lain… kecuali Anda bos-nya 😀


8 Komentar

Tips: Mengelola sakit maag selama berpuasa.


Ini pengalaman saya secara pribadi, sebagai dokter, juga penderita sakit maag/lambung. Saya sudah ditemani oleh penyakit ini sejak masih SMP kelas 3, akibat dari pola makan yang tidak teratur, kalau sudah berkutat sama hobby, makan bisa jadi aktifitas nomor kesekian. Makanya saya waktu kecil ceking bodynya, hehehe… Penyebab sakit maag bukan hanya karena pola makan tidak teratur, untuk keterangan lebih lanjut, cari sendiri via google atau dokter lain ya… 😀

Untuk kali ini, karena pas bulan puasa, saya fokuskan pembahasan pengalaman saya dengan sakit maag ini melalui seputar tips agar kita dapat mengelola penyakit ini selama kita berpuasa. Puasa bagi penderita sakit maag bisa berakibat merugikan bila kita tidak mengerti bagaimana memperlakukannya. Puasa saya sendiri, pada waktu masih SMA terkadang batal karena kambuhnya sakit itu dengan akibat yang tak tertahankan seperti muntah-muntah, pusing berputar sampai seperti mau pingsan (saya seumur hidup belum pernah pingsan), dan rasa sakit perut yang tak tertahankan.

Semoga dengan tips berikut ini bisa membantu teman-teman yang mempunya sakit maag. Bagi yang belum sakit maag jangan sampai terkena ya, untuk diketahui saja saat awal terkena sakit maag (fase akut) itu sungguh sangat mengerikan, sampai jungkir balik guling-guling di kasur saya waktu itu sambil berceceran, eh bercucuran air mata.

OK, langsung simak tips berikut ala saya:

1. Jangan lupa minum obat maag berjenis masa kerja panjang seperti lansoprazole dan omeprazole pada saat sahur. Obat ini berfungsi mengurangi pengeluaran asam lambung secara berlebihan dari sumbernya. Tidak setiap orang cocok dengan obat ini, jadi terlebih dahulu bisa mendatangi dokter terdekat buat berkonsultasi.

2. Sebaiknya kurangi menu makanan yang mengandung pedas, makan cabe boleh asal tidak terlalu pedas dan dalam jumlah banyak (cabe sedang mahal tau…) dan diiringi dengan makanan/minuman lain untuk mengimbangi rasa pedas. Silakan perkirakan sendiri toleransi kita terhadap makanan pedas ini. Saya sendiri masih sulit melepaskan makanan pedas, maklum sudah terbiasa dari kecil makan pedas, hehe…

3. Hindari terlalu banyak makan sayur dan buah-buahan karena akan memperberat kerja lambung. Ini terlihat sedikit agak bertentangan dengan pola makan sehat yang mengharuskan konsumsi buah dan sayur secara rutin. Namun sekali lagi sesuaikan reaksi yang terjadi bagi lambung kita masing-masing. Saya sendiri maniak sayuran dan buah.

4. Makan tidak terlalu kenyang agar tidak menimbulkan rasa sebah/penuh/kembung dan memperberat kerja lambung. Untuk diketahui: porsi makan saya, terutama nasi, porsinya bisa berkurang 1/4 porsi dibanding tidak berpuasa, lauk pauknya yang banyak, hehehe…

5. Sebisa mungkin hindari minuman es di kala sahur dan buka. Padahal saya setiap hari minum es. Es dapat saja dikonsumsi setelah buka atau setelah memakan makanan lain, dan porsinya juga jangan terlalu banyak. Minum-minuman hangat akan membuat lambung lebih terasa plong, mempercepat terurainya gas-gas lambung yang mengurangi kenyamanan.

6. Sebisa mungkin jangan memakai pakaian yang ketat di daerah perut karena akan membuat gesekan antar mukosa (lapisan permukaan) lambung lebih mungkin terjadi. Pada penderita sakit maag kronis hal ini akan sangat berpengaruh karena mukosa lambung sudah ada yang mengalami kerusakan (luka/erosi). Pakaian ketat di seputar perut juga meningkatkan stresor otot di sekitar lambung yang justru lebih memicu terjadinya kembung. Saya sendiri lebih suka celana kendor pas di pinggang, tanpa menggunakan tali pinggang, di rumah saya lebih suka memakai t-shirt/kaos oblong, dan celana dengan pengikat tali/karet/celana olahraga.

7. Makanan dan minuman yang mengiritasi lambung kebanyakan bersifat individual (berbeda-beda) setiap orang, biasanya asam lambung akan meningkat dengan konsumsi kopi, coklat, teh, soda, sayuran berserat tinggi, buah-buahan asam dan berserat tinggi.

8. Makanan karbohidrat dengan serat tinggi justru baik bagi lambung dan meningkatkan pemecahan energi secara bertahap seperti oat dan gandum sehingga dapat memberikan rasa kenyang yang lebih lama. Puasa tahun lalu hampir tiap hari saya makan bubur oat, lauk pauk sekreatif mungkin, rasanya perut lebih enak dan rasa kenyang lebih lama dalam porsi sedikit dibandingkan nasi.

9. Kelolalah pikiran atau stresor fisik dan psikis. Terlalu banyak stresor akan meningkatkan pengeluaran asam lambung secara berlebihan.

10. Berhati-hati bila meminum obat yang dapat menyebabkan iritasi dan peningkatan produksi asam lambung, terutama obat-obat pereda nyeri. Bila terpaksa harus meminumnya, lakukan sesudah makan, dan perhatikan reaksinya terhadap lambung kita. Hentikan bila reaksi tidak bisa ditoleransi.

11. Bila gejala asam lambung muncul, beristirahatlah dengan membaringkan diri dalam posisi rileks, tarik napas panjang secara perlahan, pejamkan mata, tarik napas dari hidung dengan mengembangkan perut (bukan dada), tahan napas itu sejenak 1-2 detik, lalu hembuskan perlahan lewat hidung, lakukan berulang-ulang sampai keluhan berkurang. Untuk saya sendiri hal ini banyak membantu. Cara pengelolaan seperti ini terinpirasi ketika saya mengikuti bela diri yang menggunakan teknik olah napas perut.

12. Bila terasa kembung dan ada desakan dari perut untuk mengeluarkan gas ke saluran pernapasan, JANGAN diikuti. Maksudnya kita jangan melakukan sendawa secara aktif, sampai berulang-ulang glegek’an, eegh…eegh…eegh…. Inilah kebiasaan buruk yang pernah saya lakukan sebelum saya terlalu mengerti mekanisme dan komplikasi sakit maag. Bila kita masih saja melakukannya maka akan memperparah komplikasi refluks/berbaliknya/naik asam lambung keluar/atas lambung yang disebut dengan “heart burn” yaitu rasa terbakar pada rongga dada, kerongkongan, dan tenggorokan, disertai dengan rasa sesak napas. Heart burn ini adalah akibat naiknya asam lambung ke saluran pencernaan di atas lambung dan kadang bisa masuk ke saluran pernapasan, asam lambung yang kuat tentu akan menyebabkan area yang tak terlindungi dengan pelapis khusus akan terluka dan menyebabkan sensasi nyeri terbakar/panas/sesak napas tadi. Selain dengan kebiasaan buruk bersendawa secara aktif tersebut, makan/minum sampai perut penuh juga bisa mengakibatkan hal ini. Pada mereka yang memiliki komplikasi lemahnya katub/klep antara lambung dengan saluran makanan di atas lambung, hal ini lebih mudah terjadi terutama pada posisi horizontal/berbaring. Sering juga terjadi pada ibu hamil tua. Tentu cara menguranginya bisa dengan tidur pada posisi dada dan kepala lebih tinggi dari perut.

13. Sesuai tuntunan, makan sahur diakhirkan menjelang azan subuh bukan sebelum imsak dan menyegerakan berbuka begitu terdengar suara sirine/bedug/azan maghrib. Jangan merasa kuat dengan terlalu awal sahur atau tidak sahur dan menunda-nunda berbuka, kasihan lambungnya.

14. Jangan memaksakan diri untuk berpuasa bila gejala sakit maag terasa sangat berat seperti sampai muntah, lemas, sakit kepala berat, sakit perut tak tertahankan. Segeralah berbuka. Dan puasa boleh diganti di luar bulan puasa.

Demikian tips dari saya, semoga berguna.


12 Komentar

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Pada Bayi Kita, Pentingkah?


Masih banyak calon pengantin dan pasangan suami istri yang tidak begitu peduli dengan profil kesehatan (fisik) mereka, bahkan tidak terkecuali dengan mereka yang notabene berprofesi sebagai tenaga kesehatan, contohnya saya. Tapi itu bukan hal yang patut ditiru. Karena akhirnya saya dan istri pun “kena batu”-nya karena ketidakpedulian itu. Bukan bermaksud untuk mengungkit peristiwa lampau yang cukup mengharukan bagi kehidupan kami yang dikarunia anak spesial dari Sang Pencipta – tentu saja ini merupakan amanah yang sangat besar dan menjadi lahan bagi kami untuk menjadi orang tua yang hebat karena diberikan guru yang hebat pula, yaitu anak kami sendiri – melainkan untuk menjadi pelajaran bagi kami sendiri dan kita semua agar sesuatu hal yang mestinya bisa dicegah, diantisipasi, dikelola sedini mungkin dapat dilakukan secepatnya. Yah, sebagai bentuk kepedulian kita kepada generasi penerus kehidupan di masa depan dan sebagai orang tua yang menjadi pendidik yang baik bagi anak-anak kita.

Sekadar mengulangi saja, bahwa anak kedua kami, Nadifa Kamilia, yang biasa kami panggil “adek” merupakan anak tuna rungu alias difable (different ability people) klasifikasi gangguan pendengaran (hearing impairment) kategori Profound Sensori Neural Hearing Loss (Hilangnya Pendengaran Persyarafan Yang Sangat Berat). Sempat terlintas penyesalan beberapa saat lamanya, mengapa saya, yang notabene sebagai dokter pun kurang aware/peduli terhadap proses pra kehamilan, selama kehamilan, dan pasca kehamilan istri.

Nadifa sendiri baru terdeteksi di rahim istri ketika sudah berusia 4 bulan, meski pun kami sudah “tes pek” selama 2 kali sejak bulan-bulan awal telatnya menstruasi, namun mungkin sudah takdirnya belum terdeteksi dengan model kadar kualitatif hormon kehamilan itu. Istri akhirnya di bulan keempat pasca telat haid merasa ada benjolan keras bulat di perutnya. Langsung curiga hamil dan periksa USG dan benar hamil, dan sempat di”gerutui” sama dokter kandungannya.

Mulailah agak teratur periksa kehamilan, dan di trimester akhir terdeteksi jumlah cairan ketuban (liquor amnion) kurang dari normal. Cuma satu dokter yang bilang normal. Yah, cuma sampai di situ saja, belum terpikir mau tes-tes lain, yah terus terang itulah bentuk “ketololan” saya sebagai dokter. Maka jangan sampai terulang, termasuk bagi teman-teman yang awam sekali pun.

Lalu sampailah saat kelahiran, tepat di malam lebaran idul fitri, melahirkan dengan mudah secara normal karena berat Nadifa cuma 2,4 kilogram, sempat masuk inkubator/warmer selama sehari karena napas dan saluran napasnya tidak adekuat alias mengkis-mengkis alias kembang kempis dan berlendir banyak ketika pindah ke bangsal yang memakai AC. Secara fisik memang Nadifa terlihat lemah. Bulan-bulan selanjutnya di awal kehidupan terlihat Nadifa kurang aktif, perkembangan fisik seperti menegakkan kepala tidak secepat kakaknya. Menurut ibunya di bulan awal, Nadifa masih respon dengan beberapa suara, tapi entahlah, karena kami belum tes secara benar pada waktu itu. Istri juga ingat sekali tidak ada hal yang aneh atau penyakit yang tampak dialami istri selama hamil seperti beberapa tanda yang jelas adanya penyakit yang menggangu janin pada beberapa ibu hamil lainnya. Mungkin inilah salah satu sebab kewaspadaan kami begitu kurang.

Kecurigaan gangguan pendengaran mulai ada sekitar umur 4 bulan, tapi itu pun tidak yakin sekali karena Nadifa masih respon (terkejut) ketika mendengar beberapa suara, ya saya juga kadang menyaksikan responnya. Tapi ya itu tadi, kok ya tidak tergerak untuk tes secara lebih lanjut.

O, iya, sebenarnya kami juga pernah ke dokter anak di tempat kerja saya, dan Nadifa didiagnosis dengan gangguan perkembangan global (global delayed development) dan ukuran kepala lebih kecil dari normal (mikrosepali). Sayang benar kenapa kami tidak “mencecar” apa saja penyebab/kemungkinan kondisi itu dan dokter anak juga kurang memberikan informasi secara aktif, cuma disarankan USG kepala. Kami bawa Nadifa USG kepala di Cirendeu, Tangerang atas rujukan dokter anak RS Fatmawati yang tentu saja atas rekomendasi dokter anak saya yang di Jogja dan ketemunya “cuma” perbesaran ruang 4 pada tulang tengkorak (ventrikulomegali), itu pun “cuma” dianggap normal dan tidak signifikan atau tidak terlalu sesuai dengan diagnosis dokter anak dan dikatakan perlu dievaluasi. Sayang juga, kami tidak segera kontrol ke dokter anak atau mencari second opinion.

Akhirnya setelah istri mutasi ke Jogja, barulah kami  “agresif” dan mulai merasa “ngeh”. Saya berinisiatif membawa Nadifa periksa ke dokter THT, lagi-lagi di tempat kerja saya. Yah, seperti kecurigaan kami, Nadifa memang mengalami gangguan pendengaran. Dan itu baru kami periksa ketika Nadifa berumur 18 bulan, lalu dirujuk untuk tes yang lebih canggih di RSUP Sardjito dengan BERA, dan muncul diagnosis profound sensori neural hearing loss (SNHL) untuk kedua telinga tadi. Syukurlah kami tidak sampai harus tangis-tangisan, tapi yang jelas galau sekali dengan kondisi dan situasi waktu itu. Keluarga besar ikut galau juga dan ada yang tidak percaya. Tetangga pun masih menganggap normal anak usia segitu belum bisa bicara.
Entahlah, kebingungan kami seperti di jawab langsung sama Allah, habis kontrol THT untuk dapat penjelasan mengenai hasil BERA, sewaktu pulang, di depan lift RS kami bertemu seorang ibu dan anaknya yang sepertinya juga gangguan dengar. Saya ga sempat tanya identitas ibu itu, dia menyarankan kami ke sebuah hearing center yang cukup terkenal di Jogja. Panjang sebenarnya kisah pencarian informasi ini, singkat cerita akhirnya Nadifa bisa pakai Alat Bantu Dengar.

Lalu belum lama ini kami “iseng” ingin tahu dugaan kami mengapa Nadifa bisa mengalami gangguan pendengaran sejak lahir. Lalu kami melakukan CT Scan kepala dan tes laboratorium untuk deteksi TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus/CMV, Herpes). Benar dugaan kami, Nadifa ada riwayat terinfeksi Rubella, CMV, dan Herpes.

Penyesalan tidak ada gunanya, namun yang penting mengambil pelajaran, bahwa perlu melakukan deteksi dini gangguan pendengaran kepada anak kita, karena mendengar merupakan faktor penting untuk berbahasa dan menjalani kehidupan. Lalu apa tes yang perlu dilakukan kepada anak kita untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran? Kalau tidak mau menduga-duga langsung saja begitu anak kita lahir, kita minta dilakukan tes deteksi dini dengan alat bernama OAE (oto acoustic emission), sebuah alat berbasis komputer yang mampu mendeteksi kerusakan pada bagian rumah siput/koklea terutama fungsi rambut halus penerima getaran suara pada rumah siput itu. Tes ini sangat sederhana, cepat, tidak menyakitkan, dan murah harganya. Memang baru rumahsakit dan toko pusat alat bantu dengar tertentu saja yang memilikinya. Bisa kita tanyakan sama dokter THT dimana kita bisa memperoleh anak kita melakukan tes tersebut. Kebetulan juga di RS tempat saya bekerja juga bisa melakukan tes tersebut karena sudah bekerjasama dengan sebuah pusat alat bantu dari Jakarta. Bagi mereka yang tetap sulit mencari tempat tes ini, lakukan saja seperti orang tua zaman dahulu menguji pendengaran anaknya. Bisa dengan memberikan suara secara tiba-tiba seperti gebrakan meja, bagaimana reaksi anak ketika mendengar suara petir dan suara-suara lain di sekitarnya. Diperlukan sedikit kepedulian dan ketelitian terhadap ini, atau kalau masih ragu, datangi saja dokter THT (sebenarnya dokter umum juga bisa melakukan) yang biasanya akan melakukan tes secara sederhana juga menggunakan garpu tala dan tepukan tangan. Kita pun sebagai orang tua juga bisa kok kalau cuma pakai cara tepuk tangan di samping atau belakang anak yang mau kita tes.

Nah, bila sudah yakin anak kita ada gangguan pendengaran dengan sedini mungkin maka selanjutnya diperlukan upaya penanganan yang sedini mungkin pula. Memang harus ditentukan pula sebab pastinya karena bisa jadi si anak proses penyebab gangguan pendengarannya masih berlangsung seperti pada kasus infeksi bakteri pada telinga sehingga perlu dilakukan pengobatan medis untuk penyebab gangguan. Namun untuk bayi dengan gangguan pendengaran yang sudah terdeteksi di awal-awal kelahirannya, lebih banyak disebabkan faktor kehamilan ibunya. Meski pada beberapa kasus proses itu masih berlangsung ketika bayi lahir.

OK. Rumit kalau saya memaparkan semuanya. Intinya perlu dilakukan deteksi seawal mungkin agar penanganan yang tepat juga bisa diberikan seawal mungkin dan tentu kita berharap keberhasilan anak kita lebih besar untuk sembuh dari gangguan pendengarannya, atau proses gangguan itu tidak berlanjut dan semakin parah merusak sistem pendengarannya. Dan anak kita lebih mudah untuk belajar sedini mungkin agar sisa pendengarannya bisa terasah dengan harapan akhirnya dia bisa berbicara, berbahasa, dan memahami kehidupan seperti anak-anak lainnya.