dokter, kesehatan, manajemen, rumah sakit, yankes

Uncertainty & Unclearness


Mungkin teman-teman mengenal istilah PHP? Jauh sebelum istilah PHP yang merupakan bahasa gaul dari “Pemberi Harapan Palsu”, sudah dikenal terlebih dahulu singkatan rekursif (perulangan) yang merupakan sebuah bentuk lelucon dari sebuah bahasa pemrograman PHP, yaitu PHP Hypertext Preprocessor. Saya yakin tidak banyak yang paham dan bisa tertawa dengan lelucon rumit seperti ini… Malah tambah pusing kan? 😁 Kalau teman-teman lagi gabut (silakan searching sendiri arti gabut ini ya) silakan searching di mesin google istilah-istilah di atas ya… (tuh… ikut-ikutan rekursif kan sayanya) 😁

Saya sebenarnya mau berbicara tentang PHP yang merupakan singkatan dari “Pemberi Harapan Palsu”. Siapa pun, selama masih namanya manusia, pria atau wanita, mesti tidak suka di PHP kan? Ada istilah lain dalam bahasa Inggris yang saya kira dapat mewakili istilah gaul berbahasa Indonesia ini, yaitu Uncertainty dan Unclearness.

Dalam scope (cakupan) terbatas, mungkin juga teman-teman pernah mendengar isitilah BPIS? Saya yakin jarang sekali, mesti…. Beda sama BPJS, mesti udah paham semua kan 😊

Okey! BPIS adalah akronim (singkatan) dari “Bila Pasien Itu Saya”, “If the Patient Is Me”, sebuah istilah yang mulai gencar digaungkan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia akhir-akhir ini. Dalam scope kerumahsakitan, istilah BPIS muncul dalam separuh lebih dari bab-bab standar akreditasi rumah sakit (RS). Dahulu sistem pelayanan kesehatan menganut pola “hospital centered care” atau pun “doctor centered care”. Sistem yang melihat posisi masyarakat yang menggunakan fasilitas layanan kesehatan sebagai objek yang tidak memiliki wewenang apa-apa dalam menentukan kesembuhan dirinya. Apa-apanya mesti manut kepada dokter atau RS. Zaman sudah berubah. Di era diseminasi/sebaran informasi yang sangat cepat melalui teknologi internet, menghendaki masyarakat (pasien) untuk memegang peranan sangat penting dalam menentukan kesembuhan dirinya, memegang peranan penting dalam memutuskan intervensi pengobatan dan tindakan medik terhadap dirinya. Selain dijamin oleh negara, secara kekuatan sosial, posisi tawar masyarakat sudah lebih baik terhadap layanan kesehatan. Seorang dokter yang memberikan pelayanan yang tidak memuaskan di mata seorang pasien, dapat tersebar dengan cepat dan akan berakibat tidak baik terhadap dokter itu sendiri.

Nah, teman-teman, salah satu unsur dari sekian banyak dimensi mutu dalam memberikan layanan publik, tak terkecuali layanan kesehatan adalah unsur kepastian (certainty) dan kejelasan (clearness). Bayangkan posisi kita sebagai pasien yang kepayahan dengan sakitnya, menunggu seorang dokter yang diinformasikan secara jelas oleh bagian administasi akan praktik pada jam sekian-sekian. Lalu kita (sebagai pasien) ternyata harus menunggu sampai lebih dari, katakanlah, lebih dari 1 jam (bahkan bisa ada yang sampai 7 jam!). Apakah dalam posisi tersebut, teman-teman akan mengalami lonjakan emosi yang sangat atau biasa saja? 🙄

Unsur certainty dan clearness sangat erat dalam menentukan apakah pasien akan puas atau tidak dengan layanan dokter/RS. Seorang dokter menolak dan marah ketika diingatkan bahwa dia akan praktik pada jam sekian-sekian oleh bagian administrasi, seolah-olah dia tidak akan lupa atau tidak akan ada masalah yang menyebabkan dia tidak akan jadi praktik pada hari/jam yang telah dipublikasikan secara luas kepada masyarakat. Di sini petugas administrasi telah menjalankan unsur certainty, memastikan bahwa dokter pasti (insyaAllah) akan praktik pada hari/jam yang telah ditentukan. Di lain waktu, seorang dokter marah ketika tidak diingatkan bahwa pada hari/jam tertentu dia akan praktik. Petugas administrasi tiba-tiba secara mendadak menginformasikan kepada dokter bahwa telah ada antrian pendaftaran pasien yang cukup banyak. Dia tidak siap karena petugas administrasi tidak memberitahukan/mengingatkan jauh-jauh dari waktu praktiknya. Dalam hal ini petugas administrasi telah lalai tidak menjalankan unsur certainty tadi. Dua kejadian ini ternyata mengakibatkan ketidakpuasan dari pihak dokter mau pun pasien. Ketidakpuasan biasanya akan melahirkan komplain, yang dapat bermanifestasi baik atau buruk, tergantung respon yang diberikan. Ketidakpuasan dan komplain lahir karena ada gap (kesenjangan, jurang pemisah) antara harapan (ekspektasi, idealita) dengan kenyataan (realita). Harapan dari pasien bahwa dokter bisa praktik tepat waktu, tapi kenyataan yang dihadapi oleh pasien tidak sesuai harapannya, maka kekecewaan akan muncul, tidak puas, dan tidak mustahil akan terjadi komplain. Bayangkan bila teman-teman berposisi sebagai pasien itu ya…

Pasien yang berhadapan dengan kenyataan yang tak pasti (uncertainty), pada level komplain terburuk akan menyebarkan ketakpuasan itu kepada teman-temannya dan seisi dunia (tidak bisa dikatakan lebay ya di zaman internet ini, karena sudah banyak buktinya), dan terparah akan mengajak orang lain untuk tidak menggunakan layanan kesehatan di RS atau tidak usah berobat ke dokter yang melakukan PHP tadi 😊 masih ingat ya istilah PHP yang saya maksud ini…

Ada ga sih cara mengurangi level ketidakpuasan dan komplain pasien ini? Ada. Yaitu memberikan penjelasan. Kejelasan (clearness), yaitu memberikan informasi secara responsif (cepat) dan up to date (terbaru), dalam waktu terukur (ada standar jelas, tertuang dalam dokumen prosedur baku), mengenai gap yang terjadi, dalam kasus di atas, mengapa dokter tidak bisa praktik tepat waktu. Tapi perlu sangat diperhatikan bahwa pemakluman masyarakat terhadap unsur clearness ini hanya pada hal-hal yang memang di luar kendali, yang secara manusiawi dapat diterima oleh akal sehat. Dan masyarakat juga akan melihat apakah unsur clearness ini hanya berupa bentuk cari-cari alasan atau memang harus dimaklumi. Pernah dong kita kalau ga puas sama seseorang, kita bisa jadi ga akan percaya lagi sama dia, karena itu-itu saja yang diulang klarifikasi/penjelasan yang diberikannya kepada kita kan… 😊 Sama dong, pasien juga akan seperti itulah…

Nah, coba kita bayangkan lagi, sudahlah tidak pasti (uncertainty) ditambah lagi tidak jelas kapan dokter akan datang, alasan telatnya apa saja, karena tidak dapat penjelasan (unclearness), apa yang akan terjadi? Kalau saya, mending cari dokter lain atau RS lain aja, ngapain mau di-PHP-in terus, ya ga? 😁

Artikel ini dicicil saat menunggu si Kakak yang ikut kelas Parenting Kids dari tim Pola Pertolongan Allah (PPA) di Hotel Syariah Grand Dafam Rohan Jogja hari Ahad kemarin, dilanjut menulis saat perjalanan ke RS UII, difinishing di ruangan kerja sambil menunggu sesi rapat tim marketing support Senin pagi ini. Terimakasih yang telah berkenan membaca. 😊

kesehatan, kontemplasi, olahraga, penyakit

Sehat & Bugar itu di-Perjuangkan


Lama tidak mengisi blog ini, ga boleh kalah sama anak saya yang sekarang aktif menulis blog, monggo yang berkenan baca blog anak saya yang masih umur 8 tahun ini: http://fathinaas.blogspot.com/. Selain malu sama anak saya yang badannya sudah mulai singset karena rutin ikut taekwondo (mungkin loh ya, selain malas makan juga), juga malu sama diri sendiri yang kurang kuat melakukan self motivation dalam memperbaiki kesehatan dan kebugaran badan, akibatnya beberapa waktu lalu sempat dihampiri oleh berbagai macam jenis penyakit. Alhamdulillah kondisi sekarang lebih lumayan sehat dan fit. Dulu banget waktu masih mahasiswa, bugar dan sehat saya lakukan melalui klub-klub yang saya ikuti, jadi termotivasi oleh orang lain. Setelah nikah? Ya, mungkin itu problem banyak orang, rasanya lebih nyaman di kasur dan tempat makan, sampai kita merasakan akibat kenyamanan itu membuat akumulasi akibat yang tidak baik. Benar ungkapan sebuah kalimat: Kenyamanan Itu Mematikan!

So, mengambil kembali momentum-momentum yang ada untuk berjuang memotivasi diri sendiri dalam usia yang masih bisa dibilang mudalah. Investasi bugar & sehat sangat penting bagi produktifitas kita sendiri. Meski dalam tahap-tahap awal ini serasa tersiksa luar biasa, godaannya serasa lebih besar. Tapi bagaimana pun harus yakin: Saya, dan Kita bisa!

Komitmen & Realisasi:
– Jogging tiap hari
– Minum air putih + jeruk nipis peras sebanyak mungkin
– Tidur cukup
– Makan yang cukup (banyak, ini yang agak susah…)

*Momentum Persiapan Festival Night Run 5K

gadget, kesehatan, kontemplasi, pernik, teknologi, tips

Normalisasi Intensitas Bergadget Ria


KhongGuan-GadgetTulisan dengan judul ini saya buat ketika sedang sendiri, tidak di depan teman kerja maupun di depan keluarga. Itu pun diketik melalui laptop jadul saya yang masih bertahan sampai sekarang sejak dibeli tahun 2007 lalu. Mengapa saya perlu menyatakan ini? Ada kaitannya dengan peristiwa hari Ahad kemarin, ketika secara spontan saya merespon positif usulan istri untuk mengungsikan semua gadget smartphone dari rumah. Usulan ini terlontar ketika hari Ahad kemarin pasca memperingati ulang tahun pernikahan ke-11, kami saling melihat, semua sedang sibuk dengan gadget masing-masing termasuk anak-anak. Yah, itu hari libur memang dan juga habis dari jalan-jalan dan makan di luar, cuma memang hari itu terasa lama sekali anak-anak dan saya berinteraksi dengan gadget smartphone.

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di blog ini, bagaimana mensiasati screen time pada anak, di link berikut. Namun, seiring bertambahnya umur anak-anak dan percepatan wahana komunikasi di gadget saya seperti semakin banyaknya grup-grup diskusi dan obrolan, akhirnya saya spontan saja, harus ada terobosan berani dan revolusioner sebagaimana dulu saya juga berani mematikan akun sosmed saya (facebook) yang sempat berjaya untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting. Saat ini saya melihat hal penting itu. Penting dan genting. Penting untuk menormalisasi hubungan dengan gadget yang seharusnya intensitasnya di bawah hubungan nyata antar komponen di dalam keluarga dan teman kerja. Apalagi dengan trik-trik yang pernah saya bahas sebelumnya sudah tidak mempan karena semakin pintarnya anak-anak dalam mensiasatinya. Namanya juga anak generasi native masa industri keempat. Tidak seperti kita yang masih merupakan generasi transisi. Sebenarnya semuanya sudah tidak sehat, saling menyalahkan dan linglung sendiri. Kalau tidak ada yang mengalah, ya memang repot. Saya bilang kemarin, sayalah yang paling berat sebenarnya berlepas diri dari hal-hal seperti ini. Namun, sekali lagi orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya. Saya akan mempertanggungjawabkan itu. Biarlah di masa sekarang memperbaiki interaksi nyata antara ortu dan anak, serta antara anak-anak sendiri. Genting, karena dengan siasat-siasat lama tetapi wujud fisik gadgetnya tetap ada di rumah menjadikan anak-anak lebih tidak kooperatif, menjadi kurang sehat secara psikis (saya kira nantinya juga berimbas secara fisik), menjadi kurang kreatif secara positif dan semakin malas, begitu juga dengan saya, sama saja. Ditambah lagi dengan semakin kewalahan kami melakukan blocking terhadap konten-konten yang tidak sehat terutama dari youtube dan game. Memang ini masih fase uji coba, namun saya berharap fase ini bisa berlanjut sukses, sebagimana suksesnya kami menghilangkan tontonan TV di rumah yang sudah memasuki waktu bulan ke-10. Nyatanya tanpa siaran TV di rumah tidak mematikan kita. Mental dan fisik kita terasa lebih sehat, apalagi di era seliweran informasi yang kebablasan dan penuh hoaks ini. Saya dan keluarga tidak mau dicekokin informasi secara aktif yang akan merusak idealisme kita. Kita yang harus mengendalikan informasi yang akan kita terima, jangan sampai dicekoki apalagi direcoki.

Sehingga saya mohon maaf kepada teman-teman yang terkoneksi dengan gadget saya dan link sosial media kami, tentu akan mengalami slow dan late respons, bahkan mungkin tak berespon. Semuanya demi kebaikan kami juga. Gadget yang terkoneksi internet hanya akan saya pegang ketika tidak di depan anak-anak, dalam fase uji coba ini. Saya sendiri sudah tidak membawa gadget saya yang terkoneksi penuh internet pulang ke rumah sejak hari Senin kemarin. Rasanya memang berat namun sekaligus ringan dan bahagia. Sayang masih ada keteledoron sedikit. Anak saya menemukan gadget tabletnya di dalam kendaraan saat jalan mencari makan tadi malam. Tapi bisa saya sita dengan baik-baik dan diamankan ke kantor. Saya dan istri sepakat dulu, anak-anak hanya boleh main gadget sejak Sabtu sore dan Ahad saja. Itu pun masih diusahakan disiasati agar dialihkan dengan aktifitas lain, tentu harus lebih menarik aktifitas lain itu. Itu pun nanti kalau ga berhasil, maka semua hari di rumah akan mengalami hari tanpa gadget.

Doakan kami berhasil ya…. 😀

Sumbar: http://www.gadgetgaul.com/

imunisasi, kesehatan, pemerintah, rumah sakit, salah urus, yankes

​Vaksin Palsu, Mendudukkan Permasalahan Secara Adil


IMG-20160715-WA0017.jpg
IMG-20160715-WA0019.jpg
Tulisan ini saya buat dengan rasa prihatin atas terungkapnya peredaran vaksin palsu. Prihatin terhadap begitu masifnya persebaran vaksin palsu ini sehingga menjadi bahan berita berhari-hari lamanya. Sebagai sebuah berita tentu banyak sisi pandang berlainan yang muncul ke permukaan. Salah satunya yang saya tangkap adalah kehebohan masyarakat terutama masyarakat yang telah mengimunisasikan anak-anaknya dengan vaksin-vaksin itupada masa/periode perkiraan  pemalsuan. Kehebohan ini semakin ditambah dengan diumumkannya fasilitas kesehatan (rumahsakit, bidan praktik, klinik) yang melayani imunisasi dengan vaksin palsu.

Saya sendiri merasakan sendiri kehebohan ini karena ada salah satu saudara saya yang anaknya ternyata juga diduga kuat pernah diimunisasi vaksin palsu dari data yang didapatkan dari berita yang telah beredar. Sebagai bagian dari orang  medis, saya telah memberikan saran kepada saudara saya itu untuk menanyakan kepada rumahsakit terkait mengenai vaksin yang pernah disuntikkan ke anaknya. Lalu apakah rumahsakit dalam hal ini bersalah karena telah menggunakan vaksin palsu. Saya sebagai salah satu aktifis di bidang perumahsakitan tidak berani memastikan karena harus diteliti lebih dalam apakah memang ada RS, sebagai sebuah institusi benar-benar mengetahui bahwa vaksin yang digunakannya adalah palsu.

Sampai dititik ini, sebaiknya kita menyadari bahwa RS mau pun fasilitas kesehatan lainnya juga bagian dari masyarakat, konsumen yang memakai vaksin itu. Saya yakin sebagian RS yang disebutkan tersebut, direktur dan bagian pengadaannya tidak mengetahui apakah vaksin itu palsu atau asli. Memang beberapa fasilitas kesehatan dinilai teledor melakukan transaksi ke distributor yang tidak bonafit? ini pun masih bisa diperdebatkan. Bukankah ini bukan hanya tanggung jawab rumahsakit untuk memastikan bahwa suatu distributor benar-benar menjual vaksin yang asli. Saya kira kita tidak perlu berdebat bahwa sebenarnya sudah ada cara menentukan bahwa sebuah vaksin itu adalah palsu, namun itu juga bukan jaminan.

Saya ingin mempertanyakan kemana orang atau lembaga yang berperan sebagai pengawas peredaran vaksin ini. Ternyata pun ada juga semacam pemakluman bahwa lembaga pengawas tidak bisa bekerja optimal di belantara peredaran vaksin (dan tentunya obat-obat lainnya, belum lagi untuk makanan yang beredar) karena sedikitnya jumlah personil mereka. Lalu siapa yang harus disalahkan? Saya tidak mau menjawabnya. Sebaiknya semuanya bertanggung jawab. Di sisi lain sebaiknya pemerintah juga lebih kuat menjalankan hukum yang berlaku. Aspirasi masyarakat untuk menghukum sekeras-kerasnya para produsen vaksin palsu, menurut saya cukup tepat untuk menjadi peringatan bersama, jangan macam-macam kalau terkait dengan urusan kepentingan masyarakat banyak. Saya hanya berharap pemerintah bisa. Disamping itu sebaiknya pemerintah juga harus bertanggung jawab bukan hanya melemparkan kesalahan kepada pihak, misalnya rumahsakit, bahkan dalam sebuah judul berita di sebuah media massa, sudah ada judul “Kepala RS menjadi tersangka”.

Baiklah, agar tulisan ini tidak bertele-tele, kita sebagai masyarakat fokus kepada diri kita saja. Saya melakukan pemisalan saja bagaimana cara menghadapi masalah vaksin palsu ini. Pagi ini saya membeli 4 butir telor asin di sebuah warung jejaring waralaba untuk lauk sarapan anak saya. Sampai di rumah, ketika istri saya membagi dua sebutir telor, ditemukan banyak jamur tumbuh pada telor tersebut. Lalu istri saya minta saya kembali ke warung untuk melakukan komplain. Awalnya saya agak emosi, telor busuk kok dijual, padahal tanggal kadaluawarsanya masih lama, 25 Juli 2016. Namun atas saran istri, baik-baik saja komplainnya. Saya turuti. Saya kembali ke warung menemui mba penjualnya dan bilang dengan lembut: “Mba, tolong telor asin ini ditukar sama telor biasa aja ya, ini udah berjamur gini padahal tanggal belum kadaluwarsa. Diganti telor biasa aja mba soalnya saya yakin telor asin lainnya juga gini…”. Si Mba tanggap, tanpa babibu, langsung memilihkan telor biasa setelah saya menyerahkan struk pemebelian. Ternyata 10 butir telor biasa harganya hampir sama dengan 4 buitur telor asin, dan saya masih dapat kembalian uang. Lumayan, telor 4 beranak jadi telor 10. Saya juga pesan ke mba-nya: “tolong suplier telornya dibilangin ya.” Dijawab: “Tentu Pak”. Sip, saya lega. Saya yakin warung itu ganti melakukan komplain ke suplier telor asinnya. Setelah itu saya tanya ke mba-nya: “kalau telor ini busuk juga gimana mba”. Dia bilang, langsung aja datang ke warung lagi. Ini sekian kalinya ini saya melakukan komplain dengan baik-baik (tanpa sedikit pun emosi di hati saat ketemu petugas warungnya) dan dapat tanggapan yang baik pula.

Nah, pengalaman beli telor ini, menurut saya, sebaiknya bisa kita aplikasikan juga, sebagai masyarakat yang mungkin sudah diduga mendapatkan suntikan vaksin palsu kepada anaknya. Jangan langsung menyalahkan lembaga kesehatannya, cobalah baik-baik datang untuk konfirmasi ke rumahsakit. Begitu juga rumahsakitnya, sebaiknya tetap bertanggung jawab dan melayani komplain dengan baik. Lakukan imunisasi ulang, lalu panggil supliernya buat mempertanggungjawabkan dan mengganti vaksin yang palsu. Memang kalau berkelit, tentu harus ada upaya lain. Namun sebisa mungkin masyarakat jangan sampai kena imbas yang parah.

Masalah vaksin palsu ini menjadi masalah yang sangat serius dan menjadi pelajaran besar bagi kita semua, agar tidak terulang dan semakin meningkatkan kewaspadaan. Terhadap oknum rumahsakit yang memang ketahuan bermain kotor dan dan mengetahui bahwa vaksin itu palsu, ini adilnya memang tetap harus diproses hukum.

Kemudian, untuk pemerintah. Saya menyarankan agar lebih banyak mengalokasi sumber daya pengawasan dan lebih intensif melakukan pengawasan. Kasus vaksin ini hanya fenomena gunung es, ada masalah yang lebih besar dan siap meletus. Yaitu obat palsu. Obat dengan harga yang sangat murah selisih jauh harganya dengan di pasaran, bisa diduga sebagai obat palsu. Saya menceritakan lagi pengalaman saya ketika mengobatkan anak ke sebuah rumahsakit pemerintah yang besar. Saya diminta oleh oleh dokter untuk menebus di luar rumah sakit (kebetulan menurut petugas, persediaan di rumahsakit habis) resep obat bermerek yang harganya menurut saya cukup mahal. Alhamdulillah bisa ketemu obat itu di apotek yang saya kira juga bisa dipercaya, karena harga obatnya wajar. Namun (sayangnya) keluarga pasien sebelah saya bilang, kok ga beli di Pasar P*****a saja. Dia dapatkan obatnya yang sama dengan harga yang sangat murah menurut saya. Saya cukup terkejut. Terkejut karena saya baru sadar, apakah pihak rumahsakit dan pemerintah mengetahui bahwa hal ini bisa merugikan pasien sendiri. Sebagai pasien tentu ingin yang paling murah, tapi mereka tidak tahu mana yang palsu. Kewajiban RS tetap melakukan edukasi secara baik dan jelas kepada pasien dan keluarga.Kewajiban pemerintah seperti saya tadi di atas, memperketat pengawasan dan memperberat hukuman serta menjalankannya. Semoga kasus ini tidak berulang di tahun depan. Aamiin.

imunisasi, kesehatan, obat, penyakit

Pencegahan Praktis Demam Berdarah Dengue Dari Rumah Kita


P60307-182652Beberapa minggu terakhir saya mendapatkan cukup banyak berita dari teman kerja dan teman lainnya mengenai penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang menyerang mereka atau orang terdekat mereka. Saya sebagai teman dan sebagai manusia yang sama seperti mereka terus-terang merasa sedih dan was-was, kasus DBD menyebabkan hilangnya harta benda dan nyawa dari teman dan keluarga kita. DBD berhubungan erat dengan agen penyebarnya yaitu nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Untuk skala dunia, kasus kejadian DBD ini termasuk luar biasa, setiap tahun ada sekitar 400 juta kasus DBD, 20 ribu orang di antaranya meninggal. Lebih dramatis dikatakan, setiap menit ada 1 manusia yang meninggal akibat DBD.

Bagi saya, seperti penyakit lainnya, untuk kasus DBD ini, mencegah tetap lebih baik sebelum terjadi, sebelum menderita penyakit demam berdarah, karena memang tingkat penderitaannya tidak bisa ditebak, jadi lebih baik waspada dan bersiap sedia sejak awal agar tidak terjangkit virus itu. Caranya tentu saja bagaimana kita tidak digigit oleh nyamuk Aedes ini, yang jam kerja menggigitnya pada siang hari. Meski pun program pemberantasan DBD cukup gencar dilancarkan pemerintah dan lembaga non pemerintah, nyatanya banyak dari kita yang kurang dan tidak peduli, bahwa kita adalah salah satu calon mangsa dari nyamuk dan virus ini. Tidak ada jaminan kita tidak akan terkena. Meski pun banyak strategi pemberantasan yang telah disosialisasikan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (Menguras, Mengubur, Menutup) yang dianggap sebagai cara paling efektif, namun faktanya gerakan 3M ini akhirnya diubah menjadi gerakan 3M Plus. Plus di sini yaitu menghindari gigitan nyamuk. Selain itu secara aktif pemerintah menggalakkan program Jumantik, Juru Pemantau Jentik.

Program dasar 3M dan Jumantik merupakan program komunal dengan keterlibatan pribadi-pribadi dalam kelompok masyarakat yang biasanya memerlukan usaha yang lebih besar. Sedangkan menghindari gigitan nyamuk lebih bersifat kepada kewaspadaan pribadi. Sebagai pribadi, terus terang saya lebih mudah untuk berkomitmen dengan usaha untuk menghindari gigitan nyamuk ini. Selain lebih praktis; tidak butuh alokasi waktu khusus seperti gotong royong dan sebagainya. Saya yakin orang-orang kota dan sibuk seperti saya, malas untuk melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Yang dibutuhkan disini adalah biaya dan komitmen pribadi yang sebenarnya juga tidak lebih besar kadarnya dari gerakan PSN. Bayangkan kita harus rutin 3M setiap minggu minimal. Itu pun kalau kita aja yang rajin, nyatanya kita bisa kena gigitan naymuk tetangga atau nyamuk dari tempat lain. Memang sangat baik bila 3M plus bisa kita lakukan. Tapi saya realistis saja.

Saya hanya berusaha agar nyamuk tidak menggigit saya dan anggota keluarga saya. Cukup banyak usaha yang bisa dilakukan untuk hal ini seperti memakai kelambu, memakai pakaian yang lebih tertutup, memakai raket setrum nyamuk, pengusir nyamuk ultrasonik, memakai pendingin ruangan, memakai obat nyamuk bakar/semprot dan sebagainya. Di antara semua cara itu saya pilih lagi cara yang lebih praktis, mudah dilakukan dan sesuai dengan kondisi saya yaitu memakai krim relepen/penolak nyamuk (mosquito repellent) di waktu pagi dan siang hari, serta mengandalkan vaporizer, alat pengusir nyamuk elektrik jenis vaporize/uap yang bisa dihidupkan terus-menerus selama 24 jam. Apakah murni hanya menggunakan 2 cara ini saja? Tidak, kami mempunyai juga raket nyamuk, ruang kamar ber-AC, kipas angin, dan semprotan nyamuk. Tapi itu jarang dipakai. Selain itu kami memilih menggunakan ember tampung yang kecil untuk alat mencuci dan mandi, diusahakan airnya tidak mengendap lama karena berpotensi jadi tempat bertelur nyamuk di dalam rumah. Lebih praktis lagi cukup pakai alat shower/pancuran untuk mandi.

Selanjutnya, saya ingin menekankan kembali kepada pemakaian repelen anti nyamuk ini karena lebih praktis, untuk menghindari gigitan nyamuk karena bisa jadi nyamuk menggigit kita ketika kita dan anggota keluarga kita berada di sekolah, tempat kerja, luar rumah, tempat belanja, tempat wisata, tempat bermain dan sebagainya. Di rumah kami tidak menggunakan repelen, cukup memakai vaporizer yang dihidupkan terus-menerus 24 jam. Saya baru tahu sekarang sudah ada smart vaporizer yang bisa kita pilih programnya agar mengeluarkan uap pengusir nyamuk sesuai dengan keinginan kita. Lalu apakah tidak berbahaya menggunakan 2 cara ini. Kan isinya racun semua. Benar. Memilih kedua cara ini membutuhkan pertimbangan yang cukup lama, saya sampai browsing banyak artikel tentang ini, ilmiah mau pun tak ilmiah/populer. Kebnayakan artikel berbahasa Indonesia tidak memmuat informasi yang berimbang dan lebih cenderung menakuti-nakuti agar tidak menggunakan cara ini, berbeda dengan artikel dari luar negeri yang mereka muat semua unsur positif dan negatifnya. Namun dalam dunia kedokteran, obat pun disebut sebagai racun. Yang membedakan obat dan racun adalah dari dosis yang digunakan. Jadi untuk repelan gunakan setipis mungkin, hindari area yang tertutup pakaian, kulit muka, dan selaput lendir seperti mata dan hidung. Jangan lupa cuci tangan ketika akan memegang makanan. Begitu juga untuk penggunaaan obat nyamuk, silahkan memilih obat nyamuk bakar yang lebih murah atau vaporizer yang lebih mahal (sebetulnya lebih hemat dan praktis), namun penggunaan juga harus diuji, jangan ditaruh di ruangan tertutup agar konsentrasi uap racun tidak membahayakan kita.

Cara praktis ini saya pilih juga atas pertimbangan perbandingan risiko kalau kita sudah kena DBD, yang sudah kejadian pada teman-teman saya dan anggota keluarganya, dibandingkan risiko minimal yang mungkin kita rasakan saat menggunakan dua cara ini. Sampai saat ini saya pribadi masih mencari dan memikirkan cara-cara alami untuk menggantikan dua cara itu yaitu menggunakan repelen alami dan vaporize alami. Sayangnya, belum ketemu yang baik dan praktis.

Cara lain yang bisa menjadi harapan cerah di masa depan untuk mencegah DBD ini, yaitu melalui imunisasi. Memang sudah ada produk vaksin DBD perdana yang sudah beredar. Namanya Denvaxia. Lahir setelah melalui waktu 20 tahun penelitian dengan biaya 1,65 triliun dolar amerika, melibatkan 40.000 orang subjek penelitian. Meski pun sudah dipakai di Meksiko, sebentar lagi digunakan oleh Filipina, namun efektifitas vaksin DBD ini diperkirakan masih sekitar 60 persen dengan jenis varian virus (serotipe) yang tidak sama persis dengan di Indonesia, jadi bisa kurang efektif seperti halnya vaksin Influenza. Harga diperkirakan sekitar 300 ribuan rupiah. Dan pemerintah menjanjikan vaksin ini akan masuk menjadi vaksin dasar alias gratis.

Semoga kita semua terhindar dari gigitan nyamuk dan DBD ini. Aamiin.

Bacaan lebih lanjut:

asuransikesehatan, kesehatan, politik, politikkesehatan, rumah sakit, yankes

Bulan-Tahun Jejaring dan Advokasi


483523c5-a4c7-4431-b01d-aaca65958e16

Beberapa bulan terakhir ini terasa begitu lebih banyak aktifitas yang menyita energi fisik dan pikiran. Saya bersyukur istri sedikit bisa memahami untuk full time mengurus anak-anak. Mengurus anak pertama yang sedang menempuh ujian akhir semester, dan melakukan seleksi guru pendamping untuk anak kedua. Saya tahu menjadi ibu full time itu berat meski kadang saya tidak peka, mungkin karena sedang lelah juga dan pikiran bercabang-cabang. Saya berdoa semoga semua bisa berjalan dengan baik dalam situasi yang sangat crowded ini. Dan aktifitas menulis ini pun saya paksa agar bisa terlaksana malam ini juga, setelah lelah pulang kegiatan pra rapat kerja rumah sakit, dan tentu saja setelah sekian lama vakum mengisi blog ini. Memaksa, karena perut baru saja terisi makan malam sehingga berusaha untuk tidak langsung tidur meski mata telah berat.

Hari-hari di rumah sakit harus banyak saya disposisikan kepada teman-teman lain agar bisa berkonsentrasi sejenak memperkuat jejaring eksternal, dalam rangka kebaikan bersama juga membangun sistem yang diharapkan bisa menjadi lebih baik. Tentu saja isunya tidak jauh dari seputar JKN-BPJS, dan aturan-aturan kerumahsakitan, yang terasa semakin hari semakin perlu mendapatkan perhatian lebih. Dan kebersamaan itu walau terkesan melelahkan dan lambat, namun pasti progresnya sehingga melahirkan aksi-aksi nyata, meski pun masih sangat jauh dari hasil yang benar-benar dapat diharapkan. Namun di sanalah kita senantiasa memompa semangat kebersamaan agar lelah bisa terus ditepis, sehingga tidak melahirkan keputusasaan.

Mulai dari terbentuknya Forum Komunikasi RS Kelas C & D Daerah Istimewa Yogyakarta yang sangat kompak, namun terbentur oleh legalitas sehingga melahirkan transformasi yang lebih kuat berupa Asosiasi RS Swasta Daerah Istimewa Yogyakarta (ARSSI DIY) yang sedianya akan dilantik tanggal 19 Desember ini, bersamaan dengan launching web official yang memuat kumpulan data terintegrasi RS Swasta di Jogja, rsswastajogja.com, namun karena beberapa pertimbangan realistis, akan dimundurkan sekitar minggu ketiga tahun depan – hikmahnya tentu lebih bisa mengatur napas, sampai menggeliatnya Persatuan RS Seluruh Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PERSI DIY), sebagai wadah asosiasi yang lebih besar untuk semakin aware dengan dinamika konstelasi bidang kerumahsakitan. Akhirnya forum-forum lintas komponen dan stakeholder pun terjalin: Keraton, DPRD, Dinkes, BPJS, BPRS, FKTP, Lembaga Ombudsman. Kolaborasi golongan tua dan muda terjalin apik di sini, saling pemahaman terjadi. Meski masih banyak yang saling berkelit. Namanya juga manusia. Banyak kepala banyak kemauan, banyak kepentingan juga.

Saya senantiasa berharap, kepentingan khalayak masyarakat, tetaplah yang paling utama, meski pun setiap pihak mengklaim juga: kami ya juga untuk kebaikan masyarakat. Paling lucu ketika berulang kali menyaksikan bahwa pihak-pihak tertentu tidak dapat bertindak sesuai kewenangannya. Pejabat dimana kami berharap, namun malah susah diharapkan. Entahlah apa yang ada di pikirannya. Namun kita berpikiran positif saja, dan terus bergerak, memperbanyak komunikasi dan memperkuat konsolidasi. Adakala lembut, namun tegas juga harus diasah. Lelah memang, namun itulah konsekuensi menuju perubahan bermakna. Salam kompak.
Sleman, 22.15 WIB

dokter, kesehatan

Profesi Malaikat


dokter malaikat2
Sumber Gambar: Tabloid Nakita

Acara rapat komite medik RS kami tadi malam, seperti biasanya berlangsung akrab dalam suasana kekeluargaan. Sudah menjadi tradisi setiap rapat diadakan – seringnya bertempat di sebuah resto langganan RS kami – sambil menyantap makanan yang tersedia, kita pararelkan dengan acara obrolan-obrolan seru dan saru (versi medis). Tidak lupa setiap rapat, ada protokoler rapat seperti sambutan-sambutan, juga terdapat sesi tausiyah, atau nasihat spiritual, yang disampaikan oleh anggota komite medik sendiri. Rapat kali ini meliputi paparan perkembangan layanan RS, sosialisasi layanan dan aturan baru, evaluasi layanan, perkenalan dokter baru. Yang paling seru pembahasan terkait gratifikasi dokter dan perkara imbal jasa tenaga medis (dokter). Momen paling berkesan saya rasakan ketika sesi tausiyah berlangsung. Seorang senior yang menjabat sebagai ketua staf medis fungsional bedah kami, memberikan nasihat yang saya rasakan menembus relung hati nurani kami sebagai pemberi layanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus menjadi otokritik bagi kita semua. Beliau mengawali cerita tentang wisuda anaknya yang baru saja lulus menjadi dokter. Saat sumpah dokter diucapkan, beliau menangis, teringat sumpah yang sama yang pernah diucapkan oleh beliau puluhan tahun yang lalu. Beliau menangis tidak hanya untuk dirinya tapi juga menangis untuk komunitas tenaga medis yang sepertinya sudah semakin lupa dengan sumpah dokternya.

Pada tausiyah ini, beliau membacakan kembali sumpah dokter tersebut, saya menyaksikan sendiri bagaimana tremornya (gemetar) tangan beliau ketika memegang smartphone yang menampilkan teks sumpah dokter tersebut, dan suaranya bergetar ketika membacakan kembali sumpah dokter tersebut secara perlahan kepada kami semuanya. Saya perhatikan mata beliau juga kembali berkaca-kaca. Mari kita simak kembali sumpah dokter itu:

——————

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatani saya.

——————

Lalu beliau mengatakan. Dari isi sumpah ini jelas sekali, dokter adalah profesi malaikat. Versi saya tentu yang dimaksud adalah malaikat penyelamat, bukan malaikat pencabut nyawa…
Seorang malaikat tidak pernah menuntut pamrih dari yang diselamatkan. Tidak ada dalam sumpah dokter tersebut, memuat poin mengenai jasa medik, tidak ada poin mengenai diskriminasi strata sosial maupun pelayanan seperti kelas pasien, misalnya sesuai tarif JKN/BPJS. Tidak ada poin mengenai: penderita akan saya tolong ketika sudah membayar, tidak ada poin mengenai: penderita miskin dan kaya akan saya bedakan obatnya.

Beliau berharap, dokter tidak menjadi pedagang, yang berpikir: apa yang bisa saya jual, apa yang bisa saya dapat dari pasien. Tetapi sebaliknya apa yang saya bisa berikan (bahkan sesegera mungkin) untuk kesembuhan dan kebahagiaan pasien.

Beliau mengemukakan kembali sebuah pernyataan beliau di dalam sebuah grup obrolan virtual kami di RS. Berikut pernyataannya:

“Matematika dokter. Kalau kita menolong 2 orang pasien saja setiap hari dengan ikhlas, tanpa berharap apapun, kecuali keinginan membantu, menolong. Maka sebulan kita akan menolong 50 orang pasien tanpa pamrih. Dan artinya setahun kita akan menolong 600 orang pasien tanpa pamrih, semata-mata karena ingin membantu. Ikhlas. Kalau separuh saja pasien kita itu tahu diri, dan mendo’akan kita, maka di tengah sepinya malam, ketika kita terlelap karena seharian bekerja, akan ada 300 pasang tangan menengadah ke langit, dan bibir mereka berucap dengan air mata menetes. Mereka berdo’a: “Ya Allah, aku ini orang miskin, tapi ada dokter yang bersedia merawat anakku yang sakit dengan penuh perhatian, penuh kasih sayang, padahal mereka tahu aku tak akan mampu membayar mereka ya Allah. Ya Allah, aku miskin, tak kuat membayar mereka, tapi Engkau Maha Kaya ya Allah, bayarlah mereka dengan rizkiMu yang halal dan thoyyib, ya Allah, mereka tak sempat beristirahat dan menjaga kesehatan serta berkumpul dengan keluarganya karena mengurusi anakku yang sakit, ya Allah, jagalah kesehatannya, bahagiakan keluarganya. Aamiin.” Do’a orang-orang miskin di tengah sepinya malam itu bisakah kita hargai dengan nominal sekian juta/milyar? yang kalau Allah kehendaki semua itu akan bisa lenyap dalam sekejap.”

Di samping itu beliau menambahkan. Manakala seorang dokter mendapatkan penghasilan yang lebih misalnya menangani pasien kelas VIP, itu juga patut disyukuri karena itu sudah rezekinya. Yang salah adalah ketika dokter sudah tidak mampu lagi mempertahankan sumpah dokternya, lalu berpikir: apa yang bisa saya jual kepada pasien. Dokter merangkap sebagai pedagang, lalu terpaksa menerima gratifikasi, menggadaikan kehormatan profesinya. Memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan oleh pasien, demi mendapatkan untung dari pasien.

Seorang dokter spesialis pernah melontarkan sebuah pernyataan sebagai berikut:
“Nanti dokter nyari passive income saja… meriksa pasien sesempatnya saja… karena banyak ancaman.. wong mau meriksa dan menolong pasien tapi ditodong masalah hukum… yang penting kita ga melanggar hukum Alloh SWT.. hukum manusia tidak perlu
kita takutkan… yang penting kita selalu berpegang hukum Alloh dan sunnah Rasul SAW…”

Saya sendiri melihat pernyataan itu sangat ambigu. Dan ternyata beliau yang memberikan tausiyah ini juga berpendapat begitu. Di era sekarang ini, memang sangat baik, dokter diharapkan bisa mencari passive income dari bisnis lain, bisnis non kesehatan yang tidak memiliki konflik kepentingan terhadap pasien. Bisa dibayangkan bila dokter mempunyai bisnis, misalnya bisnis POM bensin yang maju, sehingga ia tidak perlu berpikir bagaimana bisa kaya dari pasiennya, ia akan bekerja dengan tenang bahkan membantu pasien bila tidak mampu. Pernyataan “memeriksa pasien sesempatnya saja…”, menurut beliau telah melanggar sumpah dokter itu sendiri, karena tentu saja pasien tidak mendapatkan pelayanan yang optimal serta akan terjadi diskriminasi.

Di luar pentingnya dokter menjaga komitmen sumpahnya itu, beliau juga memaparkan kondisi ideal sebuah sistem pelayanan kesehatan. Dokter harusnya memang tidak perlu memikirkan bagaiman cara dia bisa survive/bertahan hidup bila harus berbakti seperti itu. Itulah tugas negara, kata beliau. Tugas manajemen RS bagaimana supaya dokter bisa tenang melayani pasien. Bila dokter butuh rumah, butuh biaya untuk anak dan istrinya, bahkan butuh barang mewah seperti mobil dan sebagainya, mestinya negara yang menyediakan. Bukan malah main mata dengan pabrik farmasi dan alat kesehatan dan memeras pasien. Tapi itu kondisi ideal. Sedang sekarang kondisinya belum bisa begitu. Jadi tentu saja bagaimana kembali, dokter bisa senantiasa mengingat dan menerapkan sumpah dokternya. Itu kalau dokter masih ingin disebut sebagai profesi malaikat, malaikat penolong dan penyelamat. Bukan malaikat pencabut nyawa.