kesehatan, penyakit

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Pada Bayi Kita, Pentingkah?


Masih banyak calon pengantin dan pasangan suami istri yang tidak begitu peduli dengan profil kesehatan (fisik) mereka, bahkan tidak terkecuali dengan mereka yang notabene berprofesi sebagai tenaga kesehatan, contohnya saya. Tapi itu bukan hal yang patut ditiru. Karena akhirnya saya dan istri pun “kena batu”-nya karena ketidakpedulian itu. Bukan bermaksud untuk mengungkit peristiwa lampau yang cukup mengharukan bagi kehidupan kami yang dikarunia anak spesial dari Sang Pencipta – tentu saja ini merupakan amanah yang sangat besar dan menjadi lahan bagi kami untuk menjadi orang tua yang hebat karena diberikan guru yang hebat pula, yaitu anak kami sendiri – melainkan untuk menjadi pelajaran bagi kami sendiri dan kita semua agar sesuatu hal yang mestinya bisa dicegah, diantisipasi, dikelola sedini mungkin dapat dilakukan secepatnya. Yah, sebagai bentuk kepedulian kita kepada generasi penerus kehidupan di masa depan dan sebagai orang tua yang menjadi pendidik yang baik bagi anak-anak kita.

Sekadar mengulangi saja, bahwa anak kedua kami, Nadifa Kamilia, yang biasa kami panggil “adek” merupakan anak tuna rungu alias difable (different ability people) klasifikasi gangguan pendengaran (hearing impairment) kategori Profound Sensori Neural Hearing Loss (Hilangnya Pendengaran Persyarafan Yang Sangat Berat). Sempat terlintas penyesalan beberapa saat lamanya, mengapa saya, yang notabene sebagai dokter pun kurang aware/peduli terhadap proses pra kehamilan, selama kehamilan, dan pasca kehamilan istri.

Nadifa sendiri baru terdeteksi di rahim istri ketika sudah berusia 4 bulan, meski pun kami sudah “tes pek” selama 2 kali sejak bulan-bulan awal telatnya menstruasi, namun mungkin sudah takdirnya belum terdeteksi dengan model kadar kualitatif hormon kehamilan itu. Istri akhirnya di bulan keempat pasca telat haid merasa ada benjolan keras bulat di perutnya. Langsung curiga hamil dan periksa USG dan benar hamil, dan sempat di”gerutui” sama dokter kandungannya.

Mulailah agak teratur periksa kehamilan, dan di trimester akhir terdeteksi jumlah cairan ketuban (liquor amnion) kurang dari normal. Cuma satu dokter yang bilang normal. Yah, cuma sampai di situ saja, belum terpikir mau tes-tes lain, yah terus terang itulah bentuk “ketololan” saya sebagai dokter. Maka jangan sampai terulang, termasuk bagi teman-teman yang awam sekali pun.

Lalu sampailah saat kelahiran, tepat di malam lebaran idul fitri, melahirkan dengan mudah secara normal karena berat Nadifa cuma 2,4 kilogram, sempat masuk inkubator/warmer selama sehari karena napas dan saluran napasnya tidak adekuat alias mengkis-mengkis alias kembang kempis dan berlendir banyak ketika pindah ke bangsal yang memakai AC. Secara fisik memang Nadifa terlihat lemah. Bulan-bulan selanjutnya di awal kehidupan terlihat Nadifa kurang aktif, perkembangan fisik seperti menegakkan kepala tidak secepat kakaknya. Menurut ibunya di bulan awal, Nadifa masih respon dengan beberapa suara, tapi entahlah, karena kami belum tes secara benar pada waktu itu. Istri juga ingat sekali tidak ada hal yang aneh atau penyakit yang tampak dialami istri selama hamil seperti beberapa tanda yang jelas adanya penyakit yang menggangu janin pada beberapa ibu hamil lainnya. Mungkin inilah salah satu sebab kewaspadaan kami begitu kurang.

Kecurigaan gangguan pendengaran mulai ada sekitar umur 4 bulan, tapi itu pun tidak yakin sekali karena Nadifa masih respon (terkejut) ketika mendengar beberapa suara, ya saya juga kadang menyaksikan responnya. Tapi ya itu tadi, kok ya tidak tergerak untuk tes secara lebih lanjut.

O, iya, sebenarnya kami juga pernah ke dokter anak di tempat kerja saya, dan Nadifa didiagnosis dengan gangguan perkembangan global (global delayed development) dan ukuran kepala lebih kecil dari normal (mikrosepali). Sayang benar kenapa kami tidak “mencecar” apa saja penyebab/kemungkinan kondisi itu dan dokter anak juga kurang memberikan informasi secara aktif, cuma disarankan USG kepala. Kami bawa Nadifa USG kepala di Cirendeu, Tangerang atas rujukan dokter anak RS Fatmawati yang tentu saja atas rekomendasi dokter anak saya yang di Jogja dan ketemunya “cuma” perbesaran ruang 4 pada tulang tengkorak (ventrikulomegali), itu pun “cuma” dianggap normal dan tidak signifikan atau tidak terlalu sesuai dengan diagnosis dokter anak dan dikatakan perlu dievaluasi. Sayang juga, kami tidak segera kontrol ke dokter anak atau mencari second opinion.

Akhirnya setelah istri mutasi ke Jogja, barulah kami  “agresif” dan mulai merasa “ngeh”. Saya berinisiatif membawa Nadifa periksa ke dokter THT, lagi-lagi di tempat kerja saya. Yah, seperti kecurigaan kami, Nadifa memang mengalami gangguan pendengaran. Dan itu baru kami periksa ketika Nadifa berumur 18 bulan, lalu dirujuk untuk tes yang lebih canggih di RSUP Sardjito dengan BERA, dan muncul diagnosis profound sensori neural hearing loss (SNHL) untuk kedua telinga tadi. Syukurlah kami tidak sampai harus tangis-tangisan, tapi yang jelas galau sekali dengan kondisi dan situasi waktu itu. Keluarga besar ikut galau juga dan ada yang tidak percaya. Tetangga pun masih menganggap normal anak usia segitu belum bisa bicara.
Entahlah, kebingungan kami seperti di jawab langsung sama Allah, habis kontrol THT untuk dapat penjelasan mengenai hasil BERA, sewaktu pulang, di depan lift RS kami bertemu seorang ibu dan anaknya yang sepertinya juga gangguan dengar. Saya ga sempat tanya identitas ibu itu, dia menyarankan kami ke sebuah hearing center yang cukup terkenal di Jogja. Panjang sebenarnya kisah pencarian informasi ini, singkat cerita akhirnya Nadifa bisa pakai Alat Bantu Dengar.

Lalu belum lama ini kami “iseng” ingin tahu dugaan kami mengapa Nadifa bisa mengalami gangguan pendengaran sejak lahir. Lalu kami melakukan CT Scan kepala dan tes laboratorium untuk deteksi TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus/CMV, Herpes). Benar dugaan kami, Nadifa ada riwayat terinfeksi Rubella, CMV, dan Herpes.

Penyesalan tidak ada gunanya, namun yang penting mengambil pelajaran, bahwa perlu melakukan deteksi dini gangguan pendengaran kepada anak kita, karena mendengar merupakan faktor penting untuk berbahasa dan menjalani kehidupan. Lalu apa tes yang perlu dilakukan kepada anak kita untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran? Kalau tidak mau menduga-duga langsung saja begitu anak kita lahir, kita minta dilakukan tes deteksi dini dengan alat bernama OAE (oto acoustic emission), sebuah alat berbasis komputer yang mampu mendeteksi kerusakan pada bagian rumah siput/koklea terutama fungsi rambut halus penerima getaran suara pada rumah siput itu. Tes ini sangat sederhana, cepat, tidak menyakitkan, dan murah harganya. Memang baru rumahsakit dan toko pusat alat bantu dengar tertentu saja yang memilikinya. Bisa kita tanyakan sama dokter THT dimana kita bisa memperoleh anak kita melakukan tes tersebut. Kebetulan juga di RS tempat saya bekerja juga bisa melakukan tes tersebut karena sudah bekerjasama dengan sebuah pusat alat bantu dari Jakarta. Bagi mereka yang tetap sulit mencari tempat tes ini, lakukan saja seperti orang tua zaman dahulu menguji pendengaran anaknya. Bisa dengan memberikan suara secara tiba-tiba seperti gebrakan meja, bagaimana reaksi anak ketika mendengar suara petir dan suara-suara lain di sekitarnya. Diperlukan sedikit kepedulian dan ketelitian terhadap ini, atau kalau masih ragu, datangi saja dokter THT (sebenarnya dokter umum juga bisa melakukan) yang biasanya akan melakukan tes secara sederhana juga menggunakan garpu tala dan tepukan tangan. Kita pun sebagai orang tua juga bisa kok kalau cuma pakai cara tepuk tangan di samping atau belakang anak yang mau kita tes.

Nah, bila sudah yakin anak kita ada gangguan pendengaran dengan sedini mungkin maka selanjutnya diperlukan upaya penanganan yang sedini mungkin pula. Memang harus ditentukan pula sebab pastinya karena bisa jadi si anak proses penyebab gangguan pendengarannya masih berlangsung seperti pada kasus infeksi bakteri pada telinga sehingga perlu dilakukan pengobatan medis untuk penyebab gangguan. Namun untuk bayi dengan gangguan pendengaran yang sudah terdeteksi di awal-awal kelahirannya, lebih banyak disebabkan faktor kehamilan ibunya. Meski pada beberapa kasus proses itu masih berlangsung ketika bayi lahir.

OK. Rumit kalau saya memaparkan semuanya. Intinya perlu dilakukan deteksi seawal mungkin agar penanganan yang tepat juga bisa diberikan seawal mungkin dan tentu kita berharap keberhasilan anak kita lebih besar untuk sembuh dari gangguan pendengarannya, atau proses gangguan itu tidak berlanjut dan semakin parah merusak sistem pendengarannya. Dan anak kita lebih mudah untuk belajar sedini mungkin agar sisa pendengarannya bisa terasah dengan harapan akhirnya dia bisa berbicara, berbahasa, dan memahami kehidupan seperti anak-anak lainnya.

Iklan
kesehatan, malpraktik, obat, pemerintah, politikkesehatan, yankes

Akar Masalah Pelayanan Dokter dan RS


Mumpung masih hangat pemberitaan mengenai pelayanan kesehatan di Indonesia yang amburadul dan seringkali dinisbatkan kepada rumahsakit dan dokter (serta tenaga kesehatan lain) yang berlaku sewenang-wenang kepada masyarakat yang akan dan sedang berobat, saya tertarik juga untuk menulis tentang apa yang saya ketahui. Saya mengajak melihatnya secara global agar kita lebih bisa melihat permasalahan dasar timbulnya masalah-masalah seperti itu.

Hak untuk sehat merupakan hak dasar manusia agar dia tetap hidup. Sehat yang saya maksud di sini seperti definisi WHO, meliputi sehat bio (fisik), psiko (jiwa), sosial, dan spiritual. Untuk itu, kesehatan mestinya menjadi salah satu pilar dasar yang diurus oleh negara sebaik-baiknya selain pendidikan, ekonomi, dan keamanan. Dokter dan paramedis menurut saya termasuk pengabdi negara untuk rakyat, baik itu PNS atau swasta. Ini tercermin dalam sumpah profesi yang memberikan keutamaan kepada perlindungan kehidupan.

Profesi di bidang kesehatan tidak terlepas dalam definisi lingkup tenaga profesional yang mempunyai standar pelayanan dengan konsekuensi standar penghasilan.

Namun berbeda dengan negara kita, di negara yang sudah baik sistem kesehatannya semua hal itu diatur dengan baik dan layak baik standar pelayanan profesinya yang merupakan bentuk kewajiban dari profesi bidang kesehatan maupun tarif atau imbal jasa sebagai sebuah hak yang sama pentingnya dengan pelaksanaan kewajiban.

Selain itu, yang membedakan kita dengan beberapa negara dengan sistem kesehatan yang sudah baik meliputi berbagai hal seperti sistem pembiayaan kesehatan yang layak. Bandingkan dengan sistem kesehatan kita, untuk pembiayaan berobat saja saja sebagian besar masyarakat masih merogoh dari sakunya sendiri (sistem out of pocket atau fee for service). Berbeda dengan negara yang sudah menganut sistem pelayanan berbasis asuransi untuk semua warganya. Bahkan ada ada subsidi warga kaya kepada warga miskin melalui alokasi pajak untuk kesehatan, dan itu jumlahnya termasuk sangat besar. Dengan sistem asuransi yang baik pula kita seharusnya bisa mengendalikan biaya obat. Untuk menerapkan sistem asuransi yang baik tidak bisa dengan premi/iuran asal-asalan seperti rencana pemerintah yang telah menentukan total premi subsidi bagi masyarakat miskin sebesar Rp 15.500 per bulan. Bagaimana mungkin dengan pembiayaan semurah itu pelayanan akan berjalan dengan baik, malah bisa justru terjadi sebaliknya. Sudah ada contoh nyata di Jakarta dengan Program KJS yang belum matang itu.

Selanjutnya negara kita sistem kesehatannya juga masih bersifat konsumtif. Contoh saja, untuk masalah obat, belum ada satu pun obat medis yang bahan baku aktifnya kita produksi sendiri. Jelas ini akan berpengaruh terhadap biaya pengobatan. Begitu juga dengan alat-alat kesehatan yang amat mahal, sebagian besarnya masih diimpor dari luar negeri.

Lalu, di negara kita ini, biaya pendidikan dokter yang sangat mahal dan lama waktunya, juga belum mendapatkan perhatian yang baik oleh pemerintah. Sudah ada usul sebaiknya sekolah kedokteran dibuat saja dengan ikatan dinas seperti pegawai pajak yang lulusan STAN, atau sekolah kedinasan lainnya. Sehingga kontrak penempatan tenaga medis maupun paramedis di seluruh Indonesia bisa lebih merata. Untuk pembayaran gaji dan lama waktu pengabdian di daerah terpencil bisa mencontoh perusahan pertambangan yang layak dalam menggaji tenaga medis/paramedis serta memberikan fasilitas penunjang seperti mess, fasilitas hiburan, pendidikan , dan sebagainya, agar tenaga kesehatan itu betah di tempat terpencil. Lagi-lagi ini bukan permasalahan sepele karena itu semua memerlukan pemerataan pembangunan.

Bila faktor-faktor di atas sudah diperbaiki. Bolehlah kita berharap dokter dan paramedis bisa melayani dengan tenang tanpa perlu memikirkan kejar setoran dan mendapatkan jumlah pasien sebanyak-banyaknya. Dengan gaji dokter dan paramedis yang layak, pasien bisa mendapatkan keuntungan dengan berobat tanpa perlu membayar (hanya membayar premi yang dimasukkan dalam pajak, atau subsidi), dokter/paramedis tidak perlu kerja rodi 24 jam di banyak tempat praktik yang pada akhirnya berdampak meningkatkan angka malpraktik dan rendahnya mutu pelayanan.

Jadi isu yang mesti diwujudkan dalam aksi nyata oleh pemerintah adalah: dokter/paramedis sejahtera, rakyat sehat. Itu sudah hukum sebab akibat. Bila tidak maka ibarat pilot pesawat yang mengemudikan pesawat dalam keadaan lelah dengan bayaran tidak layak, makan ancamannnya adalah keselamatan bagi dirinya dan penumpang pesawat itu sendiri.

Salam.
WidodoWirawan.Com

kesehatan, makanan, tak terkategorisasi, tips

Menguruskan badan hanya minum jus selama 60 hari


Masih malas nulis dari ide sendiri, jadinya posting skrip Presentasi Kabir Kumar di TEDxFremont yang saya terjemahkan sendiri. Itung-itung melatih menerjemahkan meski pun belum sempurna.

O, iya, badan saya juga udah parah ini, terutama bagian perut, jadi pengen nyontoh Pak Kumar ini. Semangat!!

Video presentasi silakan lihat di http://youtu.be/qkGXADXjkrg

Ada tiga belas dari kami di foto ini – saya sendiri, istri saya, anak saya dan di dalam baju saya ada sekitar 10 bola bowling. Dan kemudian saya membaca statistik yang mengubah segalanya – jika Anda mengalami kegemukan, kemungkinan anak Anda menjadi kegemukan meningkat sebesar 50%. Saya katakan lagi: jika Anda mengalami kegemukan, kemungkinan anak Anda menjadi kegemukan meningkat sebesar 50%.

Saya mempunyai sebuah realisasi. Sesuatu harus berubah dan itu harus segera berubah. Selama saya bisa ingat, menurunkan berat badan adalah resolusi tahun baru saya. Setiap tahun adalah tahun ketika saya akan mengubah pola makan saya, memulai berolahraga dan menjadi orang yang saya tahu saya bisa melakukannya – tapi tidak ada yang berubah. Tapi tahun ini berbeda, karena keputusan ini tidak lagi hanya tentang saya, itu adalah tentang pengaruh negatif saya pada anak saya. Saya sedih, saya kecewa dan kebanyakan dari semuanya saya merasa takut. Saya sekarang tahu mengapa saya harus mengambil tindakan, tapi saya masih perlu untuk menemukan “cara” saya.

Dua bulan kemudian, saya menemukan “cara” saya. Saya menyaksikan film dokumenter tentang lemak, sakit dan hampir mati, kisah tentang seorang pria biasa, Joe Cross, yang membuat keputusan untuk mengambil tanggung jawab atas kesehatannya dengan memulai puasa dan hanya minum jus 60 hari. Saya melihat dia berjuang dengan berat badannya, ketergantungan pada obat-obatan dan mendorong untuk mengubah hidupnya. Saya berjuang dengan berat badan saya sepanjang hidup saya, dan saya dipenuhi dengan harapan dan optimisme. Jelas sekali bahwa ini bukan hanya tentang jus, ini tentang perjalanan hidup, dan saya siap.

Dua hari setelah itu, saya mulai berpuasa dan hanya minum jus sayuran selama tujuh hari – kebiasaan besar baru saya.

Tujuh hari itu adalah hari-hari paling sulit dalam hidup saya. Hari pertama – saya sangat bersemangat melaluinya. Saya mempunyai energi dan kegembiraan yang besar – adrenalin mengalir dan saya merasa dipompa. Namun dihari kedua, kegembiraan mulai berkurang – saya mendapatkan rasa lapar dan lelah, semua yang ingin saya lakukan adalah meringkuk dan tidur. Di hari keempat, saya sudah siap untuk berhenti. Mental saya lelah dan harus berjuang untuk tetap fokus. Tapi berhenti bukanlah pilihan. Setelah minggu terpanjang itu dalam hidup saya, saya telah berhasil sampai hari ketujuh.

Kemudian semuanya berubah.

Saya mulai benar-benar memahami bahwa ini bukan hanya tentang jus, ini tentang perjalanan hidup. Ini adalah perjalanan untuk mengubah hidup saya, melalui kebiasaan besar dan kecil. Saya pergi dari berjuang untuk jus setiap pagi, untuk melompat dari tempat tidur setiap pagi. Ini adalah perjalanan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik dan kuat untuk hidup. Saya suka menyebutnya sebagai momentum kejelasan – dokter saya menyebutnya pengolahan keton. Apa pun itu, saya tahu bahwa hidup saya tidak akan pernah sama dalam pilihan yang saya buat dan keputusan yang saya ambil.

Setiap hari setelahnya, itu menjadi lebih mudah – jus menjadi kebiasaan yang terpelihara untuk menjadi kebiasaan yang alami. Ini telah bergeser, dari hambatan dalam hidup saya menjadi bagian dari hidup saya. Pada minggu kedua, saya serasa dalam kondisi autopilot – 7 hari menjadi 14 hari, lalu menjadi 21 hari, lalu menjadi 30 hari, lalu menjadi 45 hari dan sebelum saya menyadarinya, saya telah menyelesaikan 63 hari berpuasa dan hanya murni minum jus. Pada hari 63, saya telah membuat jus lebih dari 500 pon (227 kilogram) buah-buahan dan sayuran, dan meminum 189 gelas jus.

Hidup saya berubah positif dalam banyak hal. Dalam 15 bulan berikutnya, saya telah kehilangan berat badan hampir 100 pon (45 kilogram) melalui puasa dan hanya minum jus dan itu terus berlangsung, latihan dan serangkaian perubahan gaya hidup. Saya telah mulai bersepeda teratur, dan mengikuti keanggotaan prabayar untuk dua tahun di klub senam lokal – yang saya lakukan tiga kali seminggu. Tapi ini hanya awal. Saya telah memiliki penyimpangan sejak saya mulai tapi yang membuat saya kembali ke jalur adalah tanggung jawab pribadi, tanggung jawab kepada orang yang saya cintai dan peluang yang lebih baik untuk anak saya.

Saya tidak bisa memberitahu Anda bagaimana cerita saya berakhir, saya hanya dapat memberitahu Anda bagaimana itu dimulai. Tapi saya tahu bahwa apa pun yang terjadi, dari sinilah keluarnya, saya akan secara aktif mengambil tanggung jawab untuk kesehatan saya dan hidup saya. Saya mendorong Anda untuk mengambil tindakan saat ini – Anda tidak perlu menunggu satu menit pun untuk menemukan cara-cara yang bermakna untuk meningkatkan kehidupan Anda dan kehidupan orang-orang di sekitar Anda.

Dan ingat, ini bukan hanya tentang jus, ini tentang perjalanan hidup.

Kabir Kumar at TEDxFremont
(Senior Development Officer at Silicon Valley Community Foundation)
http://itsnotaboutjuice.tumblr.com/

dokter, kesehatan

Panduan masuk sekolah kedokteran, mahal berkualitas?


Jadinya saya membandingkan dengan zaman saya:
SPP S1= Rp 2.250.000
SPP Koas= Rp 1.600.000
POTMA= Rp 750.000
Buku/Praktikum/Fotokopi Rp. 3.000.000
Biaya hidup Rp 6.000.000
Total sampai selesai jadi dokter Rp 13.600.000. Lumayan dengan pengeluaran segitu sudah lama balik modalnya. Lah klo era sekarang berapa lama balik modalnya. Bisa sih cepat, asal… anda tentu lebih tahu…
Tentu di zaman TS yang lebih senior, jauh lebih murah lagi, dan malah ada yang gratis kan…
FAKULTAS KEDOKTERAN TERMAHAL DI INDONESIA TAHUN 2011
Kriteria penilaian:
1. Asumsi total biaya selama 10 semester (S.Ked + Co-Assistant)
2. Total biaya mencapai minimal Rp 300 juta atau lebih
3. Biaya meliputi sumbangan pendidikan, biaya studi per semester, biaya laboratorium, dll
3. Mencakup kelas reguler (PTS), kelas internasional (PTN) dan jalur mandiri (PTN)
1. FK UPH
Universitas Pelita Harapan
Akreditasi: B
Lokasi: Lippo Karawaci, Tangerang
Total biaya studi: Rp 502.250.000
Biaya semester: Rp 31.350.000
2. FKUI Internasional
Universitas Indonesia
Akreditasi: ?
Lokasi: Salemba, Jakarta Pusat
Total biaya studi: Rp 425.000.000
Biaya semester: Rp 35.000.000
3. FK UAJ
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Akreditasi: A
Lokasi: Pluit, Jakarta Utara
Total biaya studi: Rp 350.275.000
Biaya semester: Rp 18.075.000
4. FK UKM
Universitas Kristen Maranatha
Akreditasi: B
Lokasi: Surya Sumantri, Bandung
Total biaya studi: Rp 341.530.000
Biaya semester: Rp 22.000.000
5. FK UGM International
Universitas Gadjah Mada
Akreditasi: ?
Lokasi: Yogyakarta
Total biaya studi: Rp 340.000.000
Biaya semester: Rp 20.000.000
6. FK UKI
Universitas Kristen Indonesia
Akreditasi: B
Lokasi: Cawang, Jakarta Timur
Total biaya studi: Rp 328.300.000
Biaya semester: Rp 17.000.000
7. FK Untar
Universitas Tarumanagara
Akreditasi: B
Lokasi: Grogol, Jakarta Barat
Total biaya studi: Rp 328.000.000
Biaya semester: Rp 15.350.000
8. FK Trisakti
Universitas Trisakti
Akreditasi: B
Lokasi: Grogol, Jakarta Barat
Total biaya studi: Rp 322.500.000
Biaya semester: Rp 17.000.000
9. FK Yarsi
Universitas Yarsi
Akreditasi: A
Lokasi: Cempaka Putih, Jakarta Pusat
Total biaya studi: Rp 312.000.000
Biaya semester: Rp 14.000.000
Sumber data sini
jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Nikmat membawa sengsara…


Sudah lama ga dapat kasus seru lagi secara udah jarang praktik…
Hari ini, seorang mahasiswa almamater saya (parah!), 21 tahun, dengan keluhan nyeri saat buang air kecil, dari lubang penis keluar nanah, riwayat berhubungan seksual dengan pacarnya yang satu kota asal dengannya, mahasiswinya kuliah di kota yang berbeda.
Alasan berhubungan adalah sekadar coba-coba, pacar sudah berpengalaman artinya sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain sebelum dengan mahasiswa ini.
Mengeluarkan sperma di luar vagina si mahasiswi artinya ga pake pengaman.
Lupa menanyakan, melakukannya di mana? di kursi, di tempat tidur, di semak belukar?  tapi yang jelas di kota yang sama tempat mereka berasal, mungkin pas lagi mudik bareng 
Saran ke mahasiswa, cek laboratorium sampel air kencing dan nanahnya dulu, kemungkinan diagnosis penyakit kencing nanah (GO), menjelaskan risiko jangka panjang bila terkena GO, yaitu saluran pipisnya akan mengkerut dan akan sangat sulit pipis, akhirnya nanti harus dioperasi (pucat dia…)
Syukurlah, katanya kapok ga mau berhubungan seks lagi, mudah-mudahan… 🙂
Pic dari sini
imunisasi, kesehatan, obat

Pencegahan Penularan Cacar Air Dengan Tablet Acyclovir


Masih ada aja yang kena cacar air, termasuk anaknya teman saya, dan dia khawatir menular ke anggota keluarga yang lain, lalu saya berikan resep pencegahannya yang pernah saya gunakan dulu. Dan ternyata saya belum mendokumentasikannya di MP saya sendiri, hehe…

Langsung aja deh…

Dosis pencegahan dengan tablet acyclovir untuk cacar air adalah 40 miligram per kilogram berat badan per hari, dibagi dalam 4 dosis atau 10 miligram per kilogram berat badan untuk sekali pemberian. Berikan dosis ini setiap 6 jam selama 7 hari atau 1 minggu dalam rentang waktu 7-14 hari sejak dugaan paparan virus yaitu hari di saat timbulnya demam pertama kali. Diusahakan tepat waktu dengan menggunakan alat time reminder pada ponsel setiap jam 06.00, 12.00, 18.00, dan 00.00 (ini untuk mudahnya saja, yang penting setiap 6 jam)

Contoh di saya:

  • Untuk istri dan pembantu (dewasa), saya berikan 800 mg (2 buah tablet 400 mg) setiap 6 jam selama 7 hari. Berarti butuh 56 tablet atau hampir 6 strip (1 strip berisi 10 tablet)
  • Untuk anak saya yang beratnya 10 kg, saya berikan 100 mg (1/2 tablet 200 mg) setiap 6 jam  selama 7 hari
  • Untuk anak saya yang beratnya 20 kg, saya berikan 200 mg (1 tablet 200 mg) setiap 6 jam  selama 7 hari

Sediaan generik acyclovir tablet yang saya jumpai di tempat saya adalah 200 mg dan 400 mg.

Rasa tablet acyclovir (generik) ini tidak pahit, tapi netral, dan mudah sekali larut dalam air, sehingga tidak sulit diminumkan pada anak-anak, bisa dicampur makanan atau susu. Harganya juga murah, hanya sekitar 70-80 ribu per 100 butirnya.

Semoga berguna.

kanker, kesehatan, teknologi

[PENTING] Gempur Kanker dengan Listrik Statis


Kanker hingga kini menjadi pembunuh nomor satu di dunia dan Indonesia. Berbagai upaya medis ditempuh untuk menaklukkannya, salah satunya dengan listrik statis berdaya rendah. Dalam uji coba, teknik ini bisa menyembuhkan tiga kasus kanker stadium lanjut.

Kanker atau tumor terbentuk akibat mutasi gen yang tak terkendali sehingga menjadi sel yang tidak diperlukan tubuh. Pertumbuhan kanker dapat berlangsung beberapa bulan hingga tahunan.

Selama ini, kanker sangat sulit dibasmi karena mekanisme kerja molekulernya yang rumit sehingga mampu menyebar atau bermetastatis ke bagian tubuh lain.

Berbeda dari sel normal, sel kanker dapat terus tumbuh atau bereplikasi. Sel kanker juga mampu menginvasi jaringan di sekitarnya dan membentuk anak sebar.

Karena sifatnya itu, beberapa obat antikanker dikembangkan, antara lain berdasarkan aktivitas molekuler dari sel kanker itu.

Selain itu, pada terapi banyak dilakukan pengangkatan jaringan kanker dikombinasi dengan kemoterapi. Namun, cara ini sering kali menimbulkan efek samping negatif, antara lain matinya sel normal pada tubuh dan meningkatnya keganasan sel itu.

Tahun lalu, pakar tomografi, Warsito Purwo Taruno, menemukan cara baru menaklukkan kanker, yaitu dengan medan listrik statis yang disebut electrical capacitance volume tomography (ECVT).

Di bidang medis, aplikasi teknologi tomografi yang dikenalkan tahun 1972 masih sebatas untuk pencitraan organ tiga dimensi. Namun, teknik ini mencapai pengembangan yang signifikan di tangan Warsito, doktor lulusan Universitas Shizuoka, Jepang.

Dalam kurun waktu 10 tahun sejak 1988, tomografi dapat dikembangkan dari yang semula dua dimensi statis menjadi dinamis. Lalu, dalam program postdoktoral di Ohio University selama lima tahun hingga 2003, Warsito berhasil menciptakan tomografi tiga dimensi yang statis dan dinamis.

Kembali ke Tanah Air, mulai tahun 2010, Warsito, yang kini staf ahli khusus Menristek, menerapkannya untuk terapi kanker. Menurut dia, ECVT dapat membunuh sel kanker melalui pancaran listrik statis yang terpancar secara terus-menerus. Gelombang listrik ini dapat mengganggu proses pembelahan sel kanker hingga menghancurkannya.

Hal ini telah dibuktikan melalui penelitiannya di laboratorium Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Percobaan pada sel kanker menunjukkan, ECVT dapat mematikan 30 persen sel kanker dalam waktu tiga hari.

Uji terbatas

Tahap selanjutnya, Warsito merancang prototipe untuk terapi kanker payudara. Alat terapi kanker payudara terdiri dari satu set pakaian menyerupai baju senam atau kutang dan satu panel kontrol elektronik yang terhubung ke elektroda.

Dalam pakaian berbahan khusus ini dipasang dua kutub elektroda yang ditempatkan di antara lokasi tumor atau kanker yang menjadi target. Elektroda tersebut dialiri listrik oleh panel kontrol elektronik berupa kotak kecil yang berisi baterai.

Dalam kondisi aktif, elektroda positif di satu sisi akan memancarkan gelombang listrik magnet yang kemudian ditangkap elektroda negatif di sisi lainnya. Pancaran gelombang listrik ini membentuk medan listrik di antara dua katoda. Karena berada di antara dua kutub elektroda itu, kanker akan terpengaruh oleh medan listrik itu.

Apa yang terjadi jika tumor dipengaruhi gelombang listrik statis itu? “Gelombang listrik ini akan memengaruhi pembelahan kromosom sel. Akibatnya, sel tumor itu tidak membelah, malah hancur,” ujarnya.

Sejak Mei 2010

Terapi kanker dengan sistem listrik statis mulai dikembangkan pada Mei 2010. Alat ini telah diterapkan pada Juni 2010 untuk terapi kanker payudara stadiun empat yang telah bermetastasis atau menyebar ke kelenjar limpa.

Pasien bersangkutan bahkan telah divonis hanya dapat bertahan selama dua tahun. Untuk menangani kanker, pasien harus menjalani kemoterapi sembilan kali dalam setahun. Terapi ini sangat memberatkan karena sekali perawatan menelan biaya hingga Rp 28 juta. Namun, dengan terapi listrik statis ini, dalam waktu sebulan hasilnya telah negatif.

Alat ini juga telah menyembuhkan pasien kanker nesofarink stadium tiga setelah menjalani perawatan selama tiga bulan. Untuk itu, dirancang penutup kepala dan wajah. Pasien kanker rahim stadium 2-3 juga dapat disembuhkan. Untuk pasien ini dibuat pakaian berelektroda berupa celana dalam.

Dengan menggunakan pakaian yang dilengkapi elektroda pemancar gelombang listrik itu, terapi listrik statis bisa terfokus. Listriknya menggunakan arus tak langsung dan berdaya rendah, hanya 9 volt, dan dengan frekuensi antara 50 kilohertz dan 5 megahertz.

Teknik ini memiliki kelebihan lain, yaitu kecepatan pemindaiannya hanya memakan waktu seperseratus detik.

Terapi dengan alat ini berlangsung selama 24 jam nonstop selama sebulan hingga tiga bulan. Adapun untuk pencegahan, pemakaiannya delapan jam sehari.

Uji klinis

Keberhasilan Warsito dan timnya di Edwar Technology menyembuhkan tiga kasus kanker itu mendapat sambutan dari India, yang menawarkan kerja sama dalam melakukan uji klinis di Negeri Gajah itu.

Untuk uji coba itu disediakan 1.000 relawan. Langkah ini akan mengarah pada perolehan sertifikat dari Food and Drug Agency (FDA). “Jika sertifikat ini dapat diperoleh, akan terbuka aplikasi sistem terapi kanker ini di seluruh dunia,” ujarnya. Jika berhasil, tahun depan India memesan 100.000 unit.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, menurut Warsito, harus dilakukan diagnosis kondisi tumor atau kanker, antara lain lokasi dan ukurannya. Dari hasil diagnosis itu baru didesain alat, posisi elektroda, dan komputasi optimal medan listrik yang akan dibangkitkan untuk mematikan kanker. Untuk itu, Warsito dan timnya tengah mengembangkan sistem diagnosis kanker dengan sistem yang sama berbasis tomografi.

Oleh YUNI IKAWATI dari http://health.kompas.com/read/2011/08/26/06353017/Gempur.Kanker.dengan.Listrik.Statis

imunisasi, kesehatan

Pengertian Dasar/Konsep Imunisasi


Karena masih banyak pro kontra mengenai imunisasi/vaksinasi, sebagai dokter saya ikut bertanggung jawab karena kesalahpahaman ini. Ini sebenarnya mirip bahan kuliah yang pernah saya dapatkan di fakultas kedokteran dulu, jadi sangat panjang  Dalam mata kuliah saya dulu ini namanya Imunologi.
Mungkin para dokter yang jadi anti imunisasi sudah lupa dengan konsep ini atau bolos pas kuliah dulu…. :-b Meski ini (sekali lagi) cuma copy and paste, tapi sangat komprehensif untuk membuka wawasan kita apa sebenarnya imunisasi itu.
———————————————————————————————————————————–————————-
PENGERTIAN DASAR IMUNISASI
1. Reaksi Antigen-Antibodi
Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya. Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibodi. Zat anti terhadap racun kuman disebut antioksidan. Berhasil tidaknya tubuh memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat anti yang dibentuk. Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh tubuh. Karena itu anak anda akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas. Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-antibodi, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut. Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan. Dengan dasar reaksi antigen-antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi, setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuh pun menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak terseut harus mendapat suntikan/imunisasi ulangan.
Sebagai ringkasan mengenai pengertian dasar Imunologi ialah:
(1) Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun kuman) memasuki tubuh, maka tubuh akan berusaha untuk menolaknya. Tubuh membuat zat anti yang berupa antibodi atau antitoksin.
(2) Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak cukup banyak antibodi terbentuk.
(3) Pada reaksi atau respons yang kedua, ketiga dan seterusnya tubuh sudah lebih mengenal jenis antigen tersebut. Tubuh sudah lebih pandai membuat zat anti, sehingga dalam waktu yang lebih singkat akan dibentuk zat anti cukup banyak.
(4) Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/suntikan/imunisasi ulang. Ini merupakan rangsangan bagi tubuh untuk membuat zat anti kembali.
 Reaksi antigen-antibodi merupakan mekanisme perlawanan tubuh terhadap penyakit.
 Kadar antibodi yang tinggi dalam darah menjamin anak anda terhindar dari penyakit.
 Kadar antibodi yang tinggi diperoleh dengan cara pemberian imunisasi.
 Untuk mempertahankan kadar antibodi yang tinggi, diperlukan imunisasi ulang dalam waktu-waktu tertentu.

Di manakah zat anti tersebut dibentuk tubuh? Pada tempat-tempat yang strategis terdapat alat tubuh yang dapat memproduksi zat anti. Tempat itu adalah hati, limpa, kelenjar timus dan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening misalnya, tersebar luas di seluruh jaringan tubuh, seperti di sekitar rongga hidung dan mulut, leher, ketiak, selangkangan, rongga perut. “Amandel” atau tonsil merupakan kelenjar getah bening yang terdapat pada rongga mulut sebelah dalam. Berbagai alat tubuh yang disebutkan tadi merupakan pusat jaringan terbentuknya kekebalan pada manusia. Kerusakan pada alat ini akan menyebabkan seringnya anak terserang berbagai jenis infeksi: lazimnya dikatakan “daya tahan tubuh anak merendah”.

2. Jenis Vaksin

Ada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya bagi anak, dapat dicegah dengan pemberian imunisasi. Di antara penyakit berbahaya tersebut termasuk penyakit cacar, TBC, difteri, tetanus, batuk rejan, poliomielitis, kolera, tifus, paratifus, campak, hepatitis B dan demam kuning. Terhadap penyakit tersebut telah dapat dibuat vaksinnya dalam jumlah besar, sehingga harganya terjangkau oleh masyarakat luas. Di negara yang sudah berkembang beberapa vaksin khusus telah pula diproduksi, misalnya terhadap penyakit radang otak, penyakit gondok, campak Jerman (Rubela) dan sebagainya. Bahkan beberapa vaksin yang sangat khusus dapat pula dibuat, tetapi harganya akan sangat mahal karena penggunaan yang terbatas. Untuk kepentingan masyarakat luas, di beberapa negara sedang dijajagi kemungkinan pembuatan vaksin untuk penyakit berbahaya dan merugikan, misalnya vaksin terhadap malaria dan demam berdarah. Karena penyakit tersebut di atas sangat berbahaya, pemberian imunisasi dengan cara penyuntikan kuman/antigen murni akan menyebabkan anak anda benar-benar menjadi sakit. Maka untuk itu diperlukan pembuatan suatu jenis vaksin dari kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan terlebih dahulu, sehingga tidak membahayakan dan tidak akan menimbulkan penyakit. Bahkan sebaliknya, kuman penyakit yang sudah dilemahkan itu merupakan rangsangan bagi tubuh anak untuk membuat zat anti terhadap penyakit tersebut. Akibat suntikan imunisasi dengan jenis kuman tersebut reaksi tubuh anak pun hanya berupa demam ringan yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari. Vaksin ialah suatu bahan yang terbuat dari kuman atau racunnya yang telah dilemahkan atau dimatikan. Pemberian vaksin akan merangsang tubuh anak untuk membuat antibodi.

Pada dasarnya vaksin dibuat dari: (1) kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan, (2) zat racun kuman (toksin) yang telah dilemahkan, (3) bagian kuman tertentu yang biasanya berupa protein khusus.

 Contoh vaksin yang terbuat dari kuman yang dimatikan: vaksin batuk rejan, vaksin polio jenis salk.
 Contoh vaksin yang terbuat dari kuman hidup yang dilemahkan: vaksin BCG, vaksin polio jenis sabin, vaksin campak.
 Contoh vaksin yang terbuat dari racun/toksin kuman yang dilemahkan (disebut pula toksoid): toksoid tetanus dan toksoid difteri.
 Contoh vaksin yang terbuat dari protein khusus kuman: vaksin hepatitis B.

3. Imunisasi aktif dan Imunisasi Pasif

Ada 2 jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Berikut ini akan diuraikan arti dan perbedaan kedua jenis imunisasi tersebut. Berbagai jenis vaksin yang dikemukakan di atas bila diberikan pada anak anda merupakan contoh pemberian imunisasi aktif. Dalam hal ini tubuh anak akan membuat sendiri zat anti setelah suatu rangsangan antigen dari luar tubuh, misalnya rangsangan virus yang telah dilemahkan pada imunisasi polio atau imunisasi campak. Setelah rangsangan ini kadar anti dalam tubuh anak akan meningkat, sehingga anak menjadi imun atau kebal. Jelaslah bahwa pada imunisasi aktif, tubuh anak sendiri secara aktif akan menghasilkan zat anti setelah adanya rangsangan vaksin dari luar tubuh. Berlainan halnya dengan imunisasi pasif. Dalam hal ini imunisasi dilakukan dengan penyuntikan sejumlah zat anti, sehingga kadarnya dalam darah akan meningkat. Zat anti yang disuntikkan tadi biasanya telah dipersiapkan pembuatannya di luar tubuh anak, misalnya zat anti yang terdapat dalam serum kuda yang telah dimurnikan. Jadi pada imunisasi pasif, kadar zat anti yang meningkat dalam tubuh anak itu bukan sebagai hasil produksi tubuh anak sendiri, tetapi secara pasif diperoleh karena suntikan atau pemberian dari luar tubuh. Contoh imunisasi pasif ialah pemberian ATS (Anti Tetanus Serum) pada anak yang mendapat luka kecelakaan. Serum anti tetanus ini diperoleh dari darah kuda yang mengandung banyak zat anti tetanus. Contoh imunisasi pasif lain terjadi pada bayi baru lahir. Bayi itu menerima berbagai jenis zat anti dari ibunya melalui darah uri (plasenta), misalnya zat anti terhadap penyakit campak ketika bayi masih dalam kandungan ibu.

Perbedaan yang penting antara jenis imunisasi aktif dan imunisasi pasif ialah: (1) Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, jumlah zat anti dalam tubuh harus meningkat; pada imunisasi aktif diperlukan waktu yang agak lebih lama untuk membuat zat anti itu dibandingkan dengan imunisasi pasif. (2) Kekebalan yang terdapat pada imunisasi aktif bertahan lama (bertahun-tahun), sedangkan pada imunisasi pasif hanya berlangsung untuk 1 – 2 bulan.

 Imunisasi aktif: tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan bertahan selama bertahun-tahun.
 Imunisasi pasif: tubuh anak tidak membuat sendiri zat anti. Si anak mendapatnya dari luar tubuh dengan cara penyuntikan bahan/serum yang telah mengandung zat anti.
 Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak berlangsung lama.
Pemberian imunisasi pada anak biasanya dikerjakan dengan cara imunisasi aktif, karena imunisasi aktif akan memberi kekebalan yang lebih lama. Imunisasi pasif diberikan hanya dalam keadaan yang sangat mendesak, yaitu bila diduga tubuh akan belum mempunyai kekebalan ketika terinfeksi oleh kuman penyakit yang ganas. Kadang-kadang imunisasi aktif dan pasif diberikan dalam waktu yang bersamaan, misalnya pada penyakit tetanus. Bila seorang anak terluka dan diduga akan terinfeksi kuman tetanus, maka ia memerlukan pertolongan sementara yang harus cepat dilakukan. Saat itu belum pernah mendapat imunisasi tetanus, karena itu ia diberi imunisasi pasif dengan penyuntikan serum anti tetanus. Untuk memperoleh kekebalan yang langgeng, saat itu juga sebaiknya mulai diberikan imunisasi aktif berupa penyuntikan toksoid tetanus. Kekebalan pasif yang diperoleh dengan penyuntikan serum anti tetanus hanya berlangsung selama 1 – 2 bulan. 
Secara alamiah imunisasi aktif mungkin terjadi, sehingga tanpa disadari sebenarnya tubuh si anak telah menjadi kebal. Keadaan demikian pada umumnya hanya terjadi pada penyakit yang tergolong ringan, tetapi jarang sekali pada penyakit yang berat. Misalnya penyakit tifus, yang pada anak tidak tergolong penyakit berat. Tanpa disadari seorang anak dapat menjadi kebal terhadap penyakit tifus secara alamiah. Mungkin ia telah mendapat kuman tifus tersebut dalam jumlah yang sangat sedikit, misalnya dari makanan yang kurang bersih, jajan dan sebagainya. Akan tetapi kekebalan yang diperoleh secara alamiah ini sukar diramalkan, karena seandainya jumlah kuman tifus yang masuk dalam tubuh itu cukup banyak, maka penting pula untuk diperhatikan bahwa jaminan imunisasi terhadap tertundanya anak dari suatu penyakit, tidaklah mutlak 100%. Dengan demikian mungkin saja anak anda terjangkit difteria, meskipun ia telah mendapat imunisasi difteria. Akan tetapi penyakit difteria yang diderita oleh anak anda yang telah mendapat imunisasi akan berlangsung sangat ringan dan tidak membahayakan jiwanya.
Namun demikian tetap dianjurkan: “Meskipun bayi/anak anda telah mendapat imunisasi, hindarkanlah ia dari hubungan dengan anak lain yang sedang sakit”.
4. Pelaksanaan Imunisasi
Dalam kebijakan melaksanakan imunisasi perlu dipertimbangkan dua hal: (1) manfaat imunisasi beserta komplikasi atau efek samping yang mungkin timbul, (2) akibat buruk dan bahaya penyakit tersebut. Bila yang pertama akan lebih memberikan manfaat dibandingkan dengan yang kedua, maka imunisasi dapat dilaksanakan. Sebaliknya bila manfaat imunisasi dinilai kurang dan komplikasi akibat imunisasi cukup b berbahaya, sedangkan akibat buruk penyakit tidak ada, maka imunisasi tidak perlu dilaksanakan karena risikonya terlampau tinggi.
Beberapa contoh akan dikemukakan berikut ini:
1) Seperti tertera pada tabel 1 berikut ini, penyakit campak dapat mengakibatkan komplikasi yang sangat berat dan membahayakan, yaitu radang otak, radang paru, kejang, bahkan kematian. Imunisasi pun tidak terlepas dari kemungkinan terjadinya komplikasi. Akan tetapi kejadian berbagai komplikasi tersebut jauh lebih tinggi pada penyakit campak akibat infeksi alamiah dibandingkan dengan kejadian akibat imunisasi. Maka nyata sekali perlu dilaksanakan imunisasi terhadap campak.
2) Sampai dengan tahun 1978 diperlukan imunisasi terhadap penyakit cacar, karena penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia dan merupakan penyakit yang berbahaya. Masalah yang menonjol pada waktu itu ialah di satu pihak akibat buruk penyakit, di pihak lain manfaat imunisasi yang sangat besar walaupun tidak luput dari komplikasinya. Sebaliknya pada saat ini ancaman penyakit cacar sama sekali tidak ada, karena penyakit ini sudah lenyap terberantas. Bila pada dewasa ini dilaksanakan imunisasi cacar, maka yang akan nampak bukan manfaatnya tetapi komplikasinya, yaitu radang otak atau kejang meskipun kejadiannya jarang. Dengan demikian kebijakan yang ditempuh pada saat ini ialah menghapuskan pemberian imunisasi terhadap penyakit cacar.
3) Pemberian imunisasi batuk rejan masih diperlukan, khususnya pada anak balita karena komplikasi batuk rejan dapat berakhir dengan kematian. Tetapi komplikasi akibat imunisasi pun masih cukup tinggi, khususnya pada anak yang berumur lebih dari 5 tahun. Berdasarkan kenyataan ini, imunisasi batuk rejan hanya diberikan pada golongan balita; bagi golongan anak berumur lebih dari 5 tahun lebih mudah mengobati batuk rejannya ketimbang menanggung risiko imunisasi yang berat.

Sumber tulisan: www.artikelkedokteran.com/540/pengertian-dasar-imunisasi.html
imunisasi, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Buat Yang Ragu: Pahami 8 Fakta Penting Soal Imunisasi


Sampai saat ini, beberapa pendapat keliru di masyarakat tentang imunisasi masih sering terjadi. Sebagian orang merasa bahwa imunisasi tak diperlukan lagi lantaran pada dasarnya manusia sudah dikaruniakan kekebalan oleh sang pencipta.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Soedjatmiko, Sp.A K (Msi)  di sela-sela acara journalist class, dengan tema “Kesehatan Fisik dan Mental Anak Sebagai Investasi Tak Ternilai Bagi Bangsa”, Rabu, (3/8/2011) di Jakarta.

Menurut Soedjatmiko, pendapat tersebut sebetulnya tak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. “Benarnya adalah bahwa memang betul Tuhan telah memberikan kekebalan pada tubuh kita. Tapi kalau kumannya dalam jumlah banyak dan ganas, tubuh kita tidak akan bisa melawan,” katanya.

Ia mencontohkan, pada negara-negara maju yang sosial ekonomi nya baik, gizinya bagus, dan lingkungannya bersih, masih bisa terkena wabah bakteri E Coli. Padahal, sebagaimana diketahui, mereka bukanlah dari sosial ekonomi yang buruk. Pada kasus tersebut Soedjatmiko berkesimpulan bahwa, kebersihan badan, lingkungan dan gizi yang baik belum mampu untuk mencegah penyakit menular.

“Ini untuk mengcounter pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa imunisasi itu tidak perlu,” tegasnya.

Soedjatmiko juga memaparkan 8 fakta seputar imunisasi yang perlu diketahui. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada lagi salah kaprah di masyarakat mengenai imunisasi.

1. Imunisasi merangsang kekebalan spesifik bayi dan anak

Pemberian vaksin akan merangsang peningkatan kekebalan spesifik pada bayi dan anak untuk membunuh kuman atau racun yang dihasilkan oleh kuman yang masuk ke dalam tubuh. Jadi vaksin tidak melemahkan kekebalan tubuh, tetapi justru merangsang peningkatan kekebalan tubuh yang spesifik terhadap kuman atau racun.

2. Imunisasi mencegah penyakit berbahaya

Kalau anak tidak di imunisasi, maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit. Bila kuman berbahaya yang masuk bersifat ganas dan banyak, maka tubuh tidak akan mampu melawan, sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal. Sampai saat ini, imunisasi yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk imunisasi rutin meliputi, Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Campak dan vaksin jemaah haji (Maningitis).

3. Imunisasi lebih praktis dan efektif cegah penyakit

Imunisasi lebih praktis, karena sangat cepat meningkatkan kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak. Setelah diimunisasi dalam waktu 2-4 minggu, maka akan mulai terbentuk kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak untuk melawan kuman. Sementara itu, pemberian ASI, hidup sehat, dan kebersihan lingkungan memang dapat menurunkan risiko serangan penyakit, tetapi membutuhkan waktu  berbulan-bulan untuk memperbaikinya. Sehingga lebih sulit dan lebih lama hasilnya dibandingkan imunisasi.

4. Negara maju tetap butuh imunisasi

Negara maju dengan tingkat gizi dan lingkungan yang baik tetap melakukan imunisasi rutin pada semua bayinya, karena terbukti bermanfaat untuk bayi yang diimunisasi dan mencegah penyebaran ke anak sekitarnya. Sampai saat ini menurut data WHO, sekitar 194 negara maju maupun sedang berkembang tetap melakukan imunisasi rutin pada bayi dan balitanya. “Jadi, tidak benar kalau ada informasi yang mengatakan negara kaya tidak membutuhkan imunisasi. Mereka tetap melakukan vaksinasi, bahkan vaksin yang diberikan jauh lebih banyak,” kata Soedjatmiko.

5. Tidak ada negara yang melarang program imunisasi

Sampai saat ini, tidak ada satupun negara yang melarang program vaksin. Semua ahli-ahli di dunia dan pemerintah yakin dan sepakat bahwa program vaksin pentng dan bermanfaat untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit berbahaya.

6. Vaksin imunisasi di Indonesia adalah produk lokal

 Vaksin yang digunakan untuk program imunisasi di Indonesia dibuat oleh PT. Biofarma Bandung dan sudah dinyatakan aman oleh badan internasional WHO. Bahkan vaksin buatan Biofarma saat ini sudah digunakan oleh Unicef untuk lebih dari 120 negara didunia. “Masa, negara lain percaya sama produk kita, tapi kita sendiri nggak,” katanya.

7. Pasca imunisasi muncul ‘kejadian ikutan pasca imunisasi’

Setelah imunisasi kadang muncul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) seperti demam ringan sampai tinggi, bengkak, kemerahan dan gampang rewel. Menurut Soedjamiko, kejadian seperti itu adalah reaksi yang umum terjadi pasca imunisasi. Biasanya dalam hitungan 3-4 hari, gejala tersebut akan berangsur-angasur hilang dengan sendirinya.

8. Setelah diimunisasi masih bisa terkena penyakit, tapi ringan

Soedjatmiko mengatakan, perlindungan imunisasi memang tidak ada yang 100 persen. Artinya, setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit, tapi kemungkinannya sangat kecil yakni sekitar 5-15 persen.

Sumber: http://health.kompas.com/read/2011/08/04/11245835/Pahami.8.Fakta.Penting.Soal.Imunisasi

kesehatan, kontemplasi, rokok

Apel Haram, Rokok Halal…



Cerita ini dari Mesir. Pencerita bilang dia lagi shalat tahiyatul masjid, khusu’nya keganggu oleh bau asep rokok yang kuat banget, setelah salam dia tahu darimana asal bau itu, dari orang yang bibirnya saja item karena rokok. Dia ngomong ke dirinya, “nanti selesai solat gue mau ngomong ama tuh orang.” Tapi mendadak ada anak kecil sembilan taunan umurnya masuk mesjid, duduk disamping perokok itu. Dan si anak itu mencium bau asap rokok juga, kemudian mereka terdengar ngobrol.

Anak: Assalamu’alaikum paman, paman orang Mesir?

Perokok: ya betul aku orang Mesir.

Anak: Paman kenal Syeikh Abdul Hamid Kisyk?

Perokok: ya kenal.

Anak: Paman juga kenal Syeikh Jaad al-Haq?

Perokok: ya kenal juga.

Anak: Paman juga kenal Syeikh Muhammad al-Ghazali?

Perokok: ya aku juga kenal.

Anak: Paman pernah dong mendengar pendapat dan fatwa-fatwa mereka?

Perokok: ya dengar juga.

Anak: Mereka itu ulama dan syeikh yang berkata bahwa rokok itu haram, kenapa paman menghisapnya??

Perokok: Ngga, rokok ngga haram.

Anak: Haram paman, bukankah Allah mengharamkannya: وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الخَبَائِثِ (Allah mengharamkan yang buruk-buruk bagi kalian) apakah paman waktu ngerokok baca bismillah dan baca alhamdulillah waktu selesainya??

Perokok: Ngga, rokok ngga haram, mana ada ayat al-Quran yang berbunyi وَيُحَرِّمُ عَلَيْكُمُ الدُخَانَ (Allah mengharamkan rokok bagimu).

Anak: Paman, rokok itu haram seperti haramnya apel!!!

Perokok: (sambil marah) Apel haram!!! Bagaimana kamu bisa menghalalkan dan mengharamkan itu.

Anak: Coba paman tunjukkan ayat وَيُحِلُّ لَكُمُ التُّفَاحَ (Allah menghalalkan apel)!

Perokok itu sadar diri dan diam, ngga keluar lagi kata-katanya, seterusnya dia nangis dan waktu solat juga dia nangis. Sehabis solat perokok itu deketin si anak kecil, sang da’i yang nyadarin dirinya, terus janji, “nak, paman berjanji kepada Allah tidak akan ngerokok lagi sampai akhir hidup paman.”

Sumber: http://theonlynelly.wordpress.com/2010/05/13/apel-haram-rokok-halal/

Pic dari: sini