agama, inspiring, kanker, kontemplasi

Selamat jalan menempuh alam abadi Pak Ginus… Allah menyayangi Bapak!


In Memoriam Prof. dr. Ginus Partadiredja, M.Sc., PhD

Pak Ginus, begitu saya biasanya memanggil beliau. Hal paling utama terkesan dari beliau adalah sikapnya yang bersahaja, hemat kata, namun sangat peduli dan antusias dalam setiap hal. 4 bulan lalu saya sekeluarga main ke rumah beliau di bilangan Komplek Sawit Sari. Waktu kita sampai di rumah beliau, bertemu sama Bu dr. Rizq, istri beliau. Kami menunggu sebentar beliau pulang dari masjid. Tak lama beliau pulang, masjid cukup jauh dari rumah beliau, jadi beliau naik sepeda. MasyaAllah, dalam keadaan sakit parah dengan kanker paru stadium 4B, keadaan sesak napas dan batuk-batuk, beliau tetap rajin ke masjid. Terlihat semangatnya yang tidak kunjung padam dan sama sekali tidak kelihatan sedih dan berputus asa bercerita tentang penyakit kanker paru beliau dan kegiatan beliau lainnya.

Tadi pagi, 18 Januari jam 06-an saya sempatkan layat dan menyolati jenazah beliau, guru saya yang berdedikasi tinggi, setelah mendapatkan kabar wafatnya beliau kemarin sore. Sayang saya belum sempat membesuk beliau ke RSUP Sardjito. Padahal, ternyata ketika beliau dirawat kembali Sabtu pekan lalu, saya pas lagi di RSUP Sardjito juga sedang membesuk kepala tim proyek kami yang juga dirawat karena menderita kanker darah. Sehari sebelum kabar wafat beliau saya sempat mengajak istri untuk membesuk, tapi hari sudah malam, jadi ga enak buat membesuk.

Saya ingat dulu beliau guru tutorial kelompok saya di skills lab komunikasi bahasa inggris kedokteran. Masih muda sekali waktu itu, sekitar 32 tahun umurnya. Meski pun wafatnya juga masih dalam keadaan sangat muda, belum berusia 55 tahun. Setelah fase tutorial itu saya lama ga bertemu beliau lagi karena melanjutkan sekolah kembali ke Australia (https://orcid.org/0000-0003-0395-4240). Bertemu kembali secara lebih intens dalam kegiatan keislaman di masjid Ibnu Sina, Fakultas Kedokteran UGM dan di RS Islam Yogyakarta PDHI, karena istri beliau adalah salah satu manajer saya waktu itu. Beberapa kali tim RS Islam Yogyakarta PDHI, juga mampir ke rumah baliau, buat buka bersama. Sebelum beliau wafat saya juga sempat layat untuk almarhumah Ibu beliau yang wafat juga setelah menderita kanker dan telah berobat rutin ke Singapura. Dari istri beliau saya mendapatkan info dan lungsuran perawat pramu rukti Ibu beliau, untuk membantu merawat Bapak saya, yang juga menderita berbagai komplikasi penyakit. Perawat rukti terbaik yang pernah saya dapat, sayang tidak lama karena Mba Perawat tersebut mau melanjutkan sekolahnya.

Pak Ginus, adalah anak dari Prof. Ace Partadireja, guru besar Fakultas Ekonomi UII yang juga mantan Rektor UII. Silakan membaca tentang Prof. Ace di https://datacenterukp.wordpress.com/2013/10/08/mengenal-lebih-dekat-sosok-prof-dr-h-ace-partadiredja/. Pak Ginus sendiri adalah dosen saya dalam bidang ilmu fisiologi kedokteran.

Dalam suasasa layat tadi, Bu Rizq menuturkan bahwa surat keputusan guru besarnya Pak Ginus sudah terbit di bulan Oktober, 1 bulan setelah saya membesuk beliau. Sehingga dalam waktu bersiap menjelang proses pengukuhan beliau sudah menyempatkan diri mengetik pidato pengukuhan, meski pun beliau sadar ajal sudah menunggu. Tapi beliau terus berusaha, bahkan kata Bu Rizq di saat-saat menjelang dipanggil Allah, beliau masih menyempatkan mencarikan literatur dan mengemail mahasiswa bimbingan doktoral (S3) beliau. Itu dilakukan sesaat saja sebelum beliau wafat. Tampaknya falsafah: berjuang sampai titik darah penghabisan, sangat melekat didiri beliau. Sangat pantas diteladani!

Saya sebagai murid beliau menghaturkan terimakasih sebesar-besarnya atas jasa beliau kepada kami, semoga amal jariyah beliau dari ilmu yang bermanfaat, mendapatkan aliran pahala yang terus-menerus di akhirat sana, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin…

WidodoWirawan.Com

curhat, doa, inspiring, kontemplasi, rumah sakit, yankes

Resolusi 2020


Terus terang, baru ini saya menuliskan benar-benar komitmen untuk 2020, sejak berusia 40 di awal semester kedua tahun 2019, yang kata orang merupakan tahapan kehidupan fase kedua di dunia, titik awal berikutnya yang sangat menentukan, terutamanya saya harus lebih banyak menyerap energi kebijaksanaan, belajar dari para sesepuh dan pakar, menekan ego-ego negatif, belajar menghargai yang muda yang kreatif, berusaha menjadi manusia yang lebih dewasa, menatap jauh ke depan, dan terus melangkah, serta terpenting mengusahakan untuk semakin peduli dengan kehidupan akhirat. Sehingga rasanya sangat perlu merencanakan masa depan secara lebih matang. Tidak hanya sekadar mengalir saja. Umur terbatas, zaman serba tidak pasti, galau selalu ada namun selama mampu berusaha, berdoa dan semakin mendekatkan diri kepada Yang Menciptakan drama-drama dunia ini, drama penuh tantangan, yang jauh lebih rumit dari drakor-drakor itu, insyaAllah akan berlalu dengan lebih mudah dan sederhana. Berlatih keikhlasan dalam beratnya terpaan cobaan hidup. Dan sukses tidak hanya sekadar ditentukan oleh ukuran dunia, tapi kepada seberapa berkenan Sang Pencipta aktor-aktor dunia kepada kita. Kita hanya menjadi sekadar serpihan debu dunia yang tak berbekas sama sekali ditiup angin di mata Sang Sutradara, bila hanya menurutkan ambisi pribadi dunia semata. Merasa nyaman dengan dunia, berpuas diri, kemaruk dengan hidup yang seolah-olah dapat membuat bahagia. Padahal bahagia tanpa tantangan dan ujian itu hanya bahagia semu saja. Bahagia dalam menjalani tantangan dan penderitaan, itu tentu luar biasa, tak mudah, perlu selalu berlatih, dan tak pernah puas berlatih.

Oya, orang yang hidupnya serba merasa bahagia dan mudah, tidak merasa sulit harta/uang, apa pun bisa dibeli, bebas jalan-jalan liburan, rajin beribadah belum tentu masuk surga loh… Tak percaya? Simak deh di bacaan ini: https://rislah.com/apakah-semua-orang-islam-masuk-syurga/

Nah, selanjutnya, saya mau kasih tahu sedikit resolusi tim saya di start up yang penuh tantangan, yaitu Rumah Sakit UII Bantul. Setelah beroperasi hampir 11 bulan – sejak soft opening di 10 Februari 2019, dan grand opening di 24 September 2019 – meski pun banyak yang menyangsikan kami akan mampu survive di kancah perbisnisan rumah sakit, terutama secara lokasi yang saat ini benar-benar menjadi tantangan, ditambah dengan modal kemewahan yang dilekatkan kepada kami, sehingga melahirkan sebuah image kontras dengan strategi harga layanan yang perlahan ternyata mampu mendobrak image: mewah, nyaman, bersih, wangi, berkualitas itu harus mahal.

Saya ga mau berkecap ria secara pribadi, silakan baca saja testimoni tentang Rumah Sakit UII yang banyak bertebaran di google dan media sosial:


Tentu harapannya, kami ke depan mampu mempertahankan prestasi itu bahkan harus meningkatkannya. Silakan simak rekaman resolusi komitmen saya dan tim di video berikut:

Lalu, apa resolusi pribadi saya di tahun 2020?

  1. Membawa Rumah Sakit UII semakin melejit. Kami mempunyai tantangan yang cukup berat di tahun 2020, di tengah usaha mempersiapkan akreditasi RS, juga harus tetap fokus mengejar target revenue dan melakukan efisiensi yang ketat. Alhamdulillah target tahun 2019 tercapai dengan baik. InsyaAllah dengan optimisme yang baik dan kekompakan tim di semua lini, selalu dibantu doa, insyaAllah akan dapat mencapai target di 2020. Aamiin.
  2. Bisa semakin dekat sama keluarga. Sebenarnya ini resolusi terbesar saya. Saya sangat berharap bisa membuat keluarga inti semakin solid, bahagia, rukun, ceria, intim, penuh cinta dan kehangatan. Saya sangat merasa sebagai suami dan bapak, masih kurang dalam segala hal. Senang bisa memulai tadarus Quran bersama istri di masa liburan anak-anak ini yang merupakan idaman dari dulu. Nanti bisa dilanjut sama anak-anak juga. Semakin dekat sama anak pertama yang menjelang masuk SMP, saya sangat berharap bisa lekat lagi seperti waktu masih balita, dalam suasana yang lain tentunya. Semakin bisa juga, harapannya mendampingi anak kedua belajar, meringankan beban istri saya yang memang penuh energi mendampingi anak difabel kesayangan kami. Mohon doanya. Tambahan video kiriman dari istri, berikut…
  3. Melanjutkan target yang gagal di 2019, menulis buku. Semoga bisa tercapai di tahun 2020. Mengapa saya masih sangat berambisi menulis buku. Ya, katanya buku itu merupakan salah satu warisan abadi, amal jariyah untuk mengikat ilmu agar tak hilang menguap selepas meninggalkan dunia fana. Apalagi setelah membaca sebuah kutipan dari seorang penulis, yang merupakan modifikasi quote legendaris dari Imam Ghozali: bila kamu bukan keturunan bangsawan, ilmuwan atau hartawan, maka menulis (buku) akan membuatmu kekal dan selalu dikenang. Aamiin. (https://masnurulhilal.wordpress.com/2017/02/19/imam-ghozali-jika-kau-bukan-anak-raja-menulislah/)
  4. Umroh bersama istri, memang ini istri yang minta dan saya mengiyakan, katanya mau berdoa di Makkah, semoga tercapai, aamiin ya Allah…
  5. Lebih bisa rutin menulis di blog ini, yang juga merupakan media abadi, selama internet masih ada di dunia, semoga…

Nah, sedikit aja kan resolusinya, kalau banyak-banyak entar malah jadi ga fokus, terutama fokus dulu sama diri dan keluarga serta terhadap situasi sekarang, senantiasa berdoa dan berharap masih ada waktu hidup di dunia di tahun-tahun berikutnya agar bisa lebih bermanfaat dan menorehkan resolusi-resolusi selanjutnya, semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan kesabaran, aamiin…

31 Desember 2019

dokter, inspiring, manajemen, rumah sakit, yankes

Sukses – Part 1


WhatsApp Image 2019-11-21 at 07.40.35
Assalamu’alaikum!

Halooo apa kabar? lama ga bersua warganet semua…

Saya usahakan lagi menulis di tengah-tengah kepadatan dan kegalauan hidup ini. Yah, mungkin ada yang mikirnya aneh, orang kayak saya kok bisa galau? Saya berani menulis begini setelah menyimak sebuah paparan dari seorang coach/mentor online (dan saya baru tahu ada coach unik seperti ini), tiba-tiba, video beliau ini tampil di halaman depan saat saya membuka youtube siang kemarin. Beliau mendefinisikan timbulnya galau adalah akibat dari ketidaktahuan atau ketidakpahaman, sudah tahu pun tapi belum tentu paham alias denial, sudah dikasih jawaban-jawaban tapi masih mencari jawaban-jawaban lain yang sebenarnya yang bukan dia butuhkan, dia hanya mengambil dari persepsi orang lain. Saya pikir kalau saya mendengarkan nasihat online dari coach ini ketika waktu saya sedang mengalami situasi fully denial, bisa jadi saya betul-betul denial sama nasihat coach ini. Syukurlah kondisi saya saat ini lebih mampu terbuka melihat dunia secara lebih lebar dan memperlebar pandangan terhadap diri saya sendiri (coach bilang galau itu juga akibat dari pandangan sempit, kata lainnya bertabrakannya antara logika dan intuisi/obsesi). Lalu apakah galau ini jelek? Saya sih belum sempat buka-buka video lainnya dari caoch tersebut. Secara pandangan saya saja, galau ini justru dapat menjadi energi positif. Dan tidak mudah untuk membuat galau itu menjadi energi positif. Beda tipis antara orang yang galau sehingga menjadi berputus asa sama orang yang galau sehingga menjadi selalu optimis dalam berusaha. Saya ga mau terlalu melebar kemana-mana. Nanti saya jelaskan saja lebih lanjut di part berikutnya tulisan ini. Mohon dimaklumi di tengah keterbatasan waktu alokasi untuk menulis sehingga harus dibagi-bagi kayak cerbung hehe…

Jadi, siang hari kemarin menjelang asar, saya mendapatkan kiriman pesan whatsapp dari seorang dokter magang (internship) dari Riau, yang meminta saya untuk menjadi narasumber inspiratif di sebuah grup whatsapp, memberikan kulwap, kuliah whatsapp, istilah ngetrennya.

Berikut Term of Reference-nya:

Kuliah WhatsApp “Tantangan Dokter Era Millenial”

Pembicara : dr. Widodo Wirawan, MPH

Materi : Perjalanan Karier Dokter Widodo & Tips Jenjang Karier Struktural bagi Dokter Indonesia.

1. Gambaran Umum
Banyaknya jumlah fakultas kedokteran di Indonesia membuat setiap tahun produksi dokter yang diwisuda semakin banyak. Namun kuota yang disediakan pemerintah untuk PNS maupun Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) pada masing-masing Universitas juga terbatas. Selama ini banyak pertanyaan yang disampaikan kepada calon dokter maupun dokter adalah langsung mengacu kepada spesialisasi apa yang hendak diambil. Padahal jenjang karier yang ditempuh tidak selamanya harus menempuh jenjang spesialis. Ada banyak pilihan yang ada, salah satunya adalah jenjang struktural.
Oleh karena itu perlu motivasi dan gambaran karier di era Millenial ini pada jenjang struktural agar semakin luas opsi pilihan bagi para dokter.

2. Bentuk Acara
Bentuk acara dalam materi ini adalah panel diskusi via WhatsApp, yang mana pembicara membahas tentang bagaimana perjalanan kariernya dan tips untuk meniti jenjang karier di struktural. Peserta diharapkan memahami materi dan mempunyai pertanyaan sesuai dengan tema.

3. Peserta
Peserta Kuliah WhatsApp ini terdiri dari dokter, dokter gigi dan mahasiswa kedokteran.

4. Target dan arahan materi
– Memberikan gambaran perjalanan karier dr. Widodo dan motivasi di dalamnya.
– Memberikan wawasan dan tips jenjang karier di struktural bagi dokter Indonesia.

5. Tujuan
– Memberikan opsi pilihan yang lebih luas terkait jenjang struktural.
– Memahami langkah-langkah yang harus dilakukan jika memilih karier di struktural.

6. Waktu
Waktu pelaksanaan kegiatan ini adalah :
Hari, tanggal : Kamis, 21 November 2019
Pukul : 13.00 WIB sampai selesai.

7. Penutup
Demikian Term of Reference ini disusun sebagai kerangka acuan dalam Kuliah WhatsApp.

Terimakasih bagi yang berkenan ikut…
Sampai bertemu di part berikutnya!

agama, doa, inspiring, kajian islam, kontemplasi

Ilmu Ramadhan Flash Sale


flash sale.jpeg

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman selama 1/3 perjalanan puasa bulan Ramadhan ini. Ada fenomena menarik yang sudah umum kita temui di bulan ini, yaitu ramainya tempat ibadah, dan sebenarnya juga seimbang dengan ramainya tempat jajanan, seolah ikut bersaing menyelenggarakan jama’ah jajan tersendiri, yang jelas membuat para jama’ah jajan ini kelihatannya kehilangan momentum sholat Isya berjama’ah dan Tarawih, karena setelah buka puasa, sholat Maghrib dilanjut dengan obrolan seru sambil menyantap jajan dan menyeruput minuman yang dipesan.

Menjerumuskan? Jelaslah…

OK, saya ga mau bahas itu lebih lanjut, saya mau bahas fenomena membludaknya masjid di awal Ramadhan saja. Bagaimana pun turut bersyukur fenomena ini selalu terjadi, meski dapat diramal, seiring Ramadhan akan berakhir, masjid akan kembali sepi, tersisa orang-orang yang biasanya istiqomah (konsisten) ke masjid selain di bulan Ramadhan, fenomena umumnya di negara kita.

Saya pernah membuat tulisan yang berhubungan sama hal ini di https://widodowirawan.com/2013/07/11/lomba-lari-maraton-di-bulan-puasa/

Ada fenomena lain teramati oleh saya, yaitu disebabkan karena terbatasnya ilmu dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Ilmu yang terbatas ini menyebabkan umat yang ke masjid dan melaksanakan ibadah puasa hanya bermodalkan semangat saja atau sekadar ikut-ikutan sehingga berpotensi tidak mendapatkan pahala Ramadhan Flash Sale yang memang sangat fantastis kelipatan pahalanya, bahkan sebaliknya malah menyebabkan dosa dan penyakit.

Melewatkan makan sahur

Makan sahur ada berkah yang besar di dalamnya, berbeda dengan puasa sunnah, puasa di bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk makan sahur, meski pun itu cuma sedikit. Bukan sebaliknya kalau tidak makan sahur lebih baik, toh tetap kuat juga menjalani puasa. Ini pemahaman yang menjerumuskan juga.

“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad)

“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”  (QS. Ali Imran: 17)

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 18)

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Sholat isyroq atau sholat syuruq

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”

Perkara sholat isyroq ini tidak banyak yang mengetahui besar pahalanya, yaitu setara pahala haji dan umroh. Jadi bagi mereka yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji atau umroh, atau pun yang sudah menunaikan sekali pun, dapat mengusahakan pahala yang sama persis dengan melakukan sholat isyroq ini. Sebenarnya sholat isyroq ini adalah termasuk sholat dhuha. Bedanya adalah dia dikerjakan di awal waktu dhuha, yaitu sekitar 15 menit setelah matahari terbit. Cukup 2 rakaat saja.

Di tempat saya matahari terbit sekarang sekitar pukul 05.40, jadi sholat isyroq bisa dikerjakan mulai pukul 05.55. Tidak boleh mengerjakan sholat saat pas matahari terbit, karena merupakan waktu yang terlarang. Sholat isyroq ini terasa sangat berat, bila pahalanya ingin setara haji dan umroh, yaitu harus dikerjakan di masjid, setelah selesai selesai waktu sholat subuh sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas. Artinya ada waktu menunggu sekitar 1 jam lebih sedikit sejak masuk waktu subuh. Pahala ini semakin berlipat bila kita rutin mengerjakan sholat sunnah sebelum sholat subuh, yang derajatnya lebih baik dari pada dunia seisinya. Bayangkan betapa royalnya Allah kepada manusia dalam memberikan pahala. Sholat isyroq sebenarnya tidak hanya bisa dikerjakan di bulan Ramadhan saja. Dia berlaku di semua bulan. Namun spirit Ramadhan ini mestinya memberikan energi lebih, meski pun godaannya juga lebih banyak, sehabis makan sahur dan subuh biasanya rasa kantuk menyerang hebat. Ya wajarlah, makanya pahalanya setara haji dan umroh, hanya orang terpilih yang mau dan mampu. Karena dosa saya sendiri masih banyak sekali, jadi sayang banget kalau tidak mengambil momentum menunggu waktu sholat isyroq ini. Disela-sela menunggu setelah selesai mendengar ceramah pasca sholat Subuh, saya bisa membaca Al Quran dengan halaman yang cukup banyak dari pada waktu lainnya atau berdzikir memuji Allah dan meminta ampun atas dosa-dosa saya.

Berdoa sebanyak-banyaknya

Berdoa adalah salah satu bentuk pengakuan sebagai hamba kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Pengabul Doa. Juga sebagai indikator ketidaksombongan kita, hanya mereka yang sombong yang malas berdoa kepada Sang Penciptanya.

Bulan Ramadhan ini dijanjikan melalui banyak dalil, yang pasti akan ditepati janji itu oleh Allah, sebagai salah satu momentum dan waktu terpanjang saat dikabulkannya doa. Berdoalah sebanyak-banyaknya penuh harap dan tanpa bosan, sehingga kita semakin sadar bahwa kita ini bukanlah siapa-siapa.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) do’a pemimpin yang adil, (2) do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi)

Ramadhan ini sebagai sarana cuci dosa, revitalisasi, dan latihan untuk mempersiapkan energi pada bulan-bulan selanjutnya. Amat sangat sayang untuk dilewatkan dengan hanya sekadar menunaikan kewajiban menahan lapar dan haus saja.

Oh, Ramadhan, tak terasa sebentar lagi engkau akan meninggalkan kami. Atau sebenarnya kamilah yang akan meninggalkan engkau terlebih dahulu karena tidak bersabarnya kami menanti akhirmu. Karena bosan dan benci dengan produk-produkmu, atau karena kami tidak punya ilmu dan semangat untuk membelinya. Maka dari itu kepada Yang Menciptakanmu kami berdoa: Berikanlah kami kesempatan yang luas dan kemampuan untuk membeli produk-produk flash sale-mu. Karena kami ga yakin akan dapat menemui momen flash sale lagi di tahun depan… Berikanlah kepada kami ilmu dan kemudahan untuk meraup sebesar-sebesarnya pahala Ramadhan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalaamiin…

Ramadhan ke-11, 16 Mei 2019

agama, kontemplasi, manajemen, rumah sakit

Shalih vs Muslih


Jumat lalu terinspirasi dari sebuah khutbah saat mampir Jumatan di sebuah masjid besar di perempatan Kasihan Bantul. Sang khatib yang ceramahnya tidak membuat kantuk namun juga membuat jama’ah betah menyimak. Beliau menyitir sebuah ayat Al Quran tentang larangan menyembunyikan kebenaran. Beliau menekankan bahwa penting menjadi orang baik, namun jauh lebih penting menjadi orang yang mengajak kepada kebaikan, penting tidak berbuat keburukan, namun jauh lebih penting mencegah tersebarnya keburukan. Menurut beliau menjadi pemimpin yang adil, tidak takut menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran jauh lebih baik daripada orang yang hanya suka berdzikir di masjid. Apalagi kalau sudah tahu ada ketidakbenaran, dia diam saja, maka itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan.

Fenomena mencolok akhir-akhir ini kita lihat tempat ibadah semakin penuh, secara kasat mata dapat dikatakan semakin banyak orang shalih, namun kita lihat ternyata bencana dan adzab tidak semakin berkurang. Kedzaliman dan kecurangan terus-menerus dan semakin banyak terjadi, hoax bertebaran tak terkendali.

Saya ingat seorang teman dokter yang galau ketika diminta untuk naik ke level manajemen, menjadi salah satu pimpinan di tempat kerjanya. Saya katakan kepada dia, meski pun itu sulit, tapi dia menyaksikan sendiri bagaimana kondisi tempat kerjanya yang tidak menyenangkan, budaya kerja yang tidak baik, manajemen yang tidak transparan. Saya katakan, itulah tantangannya yang membuahkan hasil yang lebih terhormat dan tinggi nilainya di sisi Sang Khalik. Kalau kita tidak senang melihat hal tersebut, tidak bisa kita hanya sekadar kasih usul atau bahkan cuma menggerutu. Jadilah agen perubahan. Jangan takut naik level, mendapatkan lebih banyak masalah, karena masalah itu justru akan semakin menguatkan kita.

Agen perubahan dalam terminologi Al Quran disebut sebagai muslih, adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk bisa menolak adzab dan kerusakan. Tak hanya kuat dari sisi nahi mungkar, melainkan juga teguh dalam amar ma’ruf.  Ketika seseorang itu menolak kedzaliman dan kerusakan, otomatis ia juga mendatangkan maslahat. Begitu juga sebaliknya, bila ia mendatangkan maslahat, secara otomatis juga ia menolak adanya mafsadat/kerusakan. Tujuan islah/perbaikan yang dilakukan seorang muslih tidak selamanya untuk menghilangkan maksiat dan kedzaliman, namun juga untuk mencegah turunnya adzab Allah yang bisa menimpa semua orang (baik yang shalih maupun yang berdosa).

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang dzalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 116-117).

Muslih tidak mesti sempurna terlebih dahulu (dari segi amalan dan ilmunya), dalam hadits: “Serukanlah yang ma’ruf walaupun kalian tidak melakukannya secara sempurna, dan cegahlah kemungkaran walaupun kalian tidak berlepas darinya seluruhnya”. (HR Thabrani dan Baihaqi).

Keluarga muslih tidak mesti semuanya orang-orang shalih, sebab Nabi Nuh saja tidak bisa menshalihkan anak dan istrinya, Nabi Ibrahim tidak bisa menshalihkan ayahnya, dan Nabi Muhammad tidak bisa menshalihkan pamannya Abu Lahab, dan Abu Thalib. Dalam ayat: “Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai” (QS al-Qashash: 56).

Apa ciri utama muslih: di awal dia bergerak musuhnya lebih banyak daripada temannya, berbeda sama orang shalih (baik): lebih banyak temannya daripada musuhnya, karena orang shalih tidak pernah mengutak-atik urusan orang lain, berbeda sama orang muslih yang senantiasa peduli dengan apa yang terjadi di orang lain dan lingkungannya. Dalam hal ini saya tidak setuju kalau ibadah itu hanya meliputi wilayah privat/pribadi, itu hanya ibadah ritual, seperti orang shalih yang hanya berdzikir saja di masjid, tidak mau berkubang sama masalah. Mungkin ada yang ingat mengenai level keimanan dalam sebuah hadits dari sisi mengatasi kedzaliman/kemungkaran, bahwa yang paling tinggi itu adalah level penggunaan kekuasaan, ini hanya bisa dilakukan oleh para pemimpin (istilahnya umara), para ustadz dan kyai mungkin cuma sampai pada level kedua yaitu menggunakan lisan/ucapannya, dan yang paling rendah justru malah bisa tersemat pada orang-orang shalih yang cukup cari aman saja, berdzikir saja di masjid, ternyata dapat dikategorikan sebagai selemah-lemahnya iman, yaitu hanya bisa mengutuki/menggerutu di dalam hati saja mengenai kerusakan yang terjadi.

Satu orang muslih lebih dicintai oleh Allah daripada seribu orang yang shalih, sebab dengan adanya muslih, Allah menjaga seluruh umat dari adzab (dunia), dan orang shalih hanya bisa menjaga dirinya sendiri, tanpa orang lain. So, marilah menjadi orang shalih, namun juga sekaligus muslih.

Referensi: dari berbagai sumber hasil searching di google

Difinalisasi sehabis rapat koordinasi manajemen RS UII di 02052019
Berusaha menulis minimal 1 tulisan dalam sepekan. Rencananya rilis setiap Senin, apa daya, waktu tak selamanya bisa digenggam. Baik pemirsa, silakan disimak blog ini ya, terimakasih 🙂

dokter, kesehatan, manajemen, rumah sakit, yankes

Uncertainty & Unclearness


Mungkin teman-teman mengenal istilah PHP? Jauh sebelum istilah PHP yang merupakan bahasa gaul dari “Pemberi Harapan Palsu”, sudah dikenal terlebih dahulu singkatan rekursif (perulangan) yang merupakan sebuah bentuk lelucon dari sebuah bahasa pemrograman PHP, yaitu PHP Hypertext Preprocessor. Saya yakin tidak banyak yang paham dan bisa tertawa dengan lelucon rumit seperti ini… Malah tambah pusing kan? 😁 Kalau teman-teman lagi gabut (silakan searching sendiri arti gabut ini ya) silakan searching di mesin google istilah-istilah di atas ya… (tuh… ikut-ikutan rekursif kan sayanya) 😁

Saya sebenarnya mau berbicara tentang PHP yang merupakan singkatan dari “Pemberi Harapan Palsu”. Siapa pun, selama masih namanya manusia, pria atau wanita, mesti tidak suka di PHP kan? Ada istilah lain dalam bahasa Inggris yang saya kira dapat mewakili istilah gaul berbahasa Indonesia ini, yaitu Uncertainty dan Unclearness.

Dalam scope (cakupan) terbatas, mungkin juga teman-teman pernah mendengar isitilah BPIS? Saya yakin jarang sekali, mesti…. Beda sama BPJS, mesti udah paham semua kan 😊

Okey! BPIS adalah akronim (singkatan) dari “Bila Pasien Itu Saya”, “If the Patient Is Me”, sebuah istilah yang mulai gencar digaungkan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia akhir-akhir ini. Dalam scope kerumahsakitan, istilah BPIS muncul dalam separuh lebih dari bab-bab standar akreditasi rumah sakit (RS). Dahulu sistem pelayanan kesehatan menganut pola “hospital centered care” atau pun “doctor centered care”. Sistem yang melihat posisi masyarakat yang menggunakan fasilitas layanan kesehatan sebagai objek yang tidak memiliki wewenang apa-apa dalam menentukan kesembuhan dirinya. Apa-apanya mesti manut kepada dokter atau RS. Zaman sudah berubah. Di era diseminasi/sebaran informasi yang sangat cepat melalui teknologi internet, menghendaki masyarakat (pasien) untuk memegang peranan sangat penting dalam menentukan kesembuhan dirinya, memegang peranan penting dalam memutuskan intervensi pengobatan dan tindakan medik terhadap dirinya. Selain dijamin oleh negara, secara kekuatan sosial, posisi tawar masyarakat sudah lebih baik terhadap layanan kesehatan. Seorang dokter yang memberikan pelayanan yang tidak memuaskan di mata seorang pasien, dapat tersebar dengan cepat dan akan berakibat tidak baik terhadap dokter itu sendiri.

Nah, teman-teman, salah satu unsur dari sekian banyak dimensi mutu dalam memberikan layanan publik, tak terkecuali layanan kesehatan adalah unsur kepastian (certainty) dan kejelasan (clearness). Bayangkan posisi kita sebagai pasien yang kepayahan dengan sakitnya, menunggu seorang dokter yang diinformasikan secara jelas oleh bagian administasi akan praktik pada jam sekian-sekian. Lalu kita (sebagai pasien) ternyata harus menunggu sampai lebih dari, katakanlah, lebih dari 1 jam (bahkan bisa ada yang sampai 7 jam!). Apakah dalam posisi tersebut, teman-teman akan mengalami lonjakan emosi yang sangat atau biasa saja? 🙄

Unsur certainty dan clearness sangat erat dalam menentukan apakah pasien akan puas atau tidak dengan layanan dokter/RS. Seorang dokter menolak dan marah ketika diingatkan bahwa dia akan praktik pada jam sekian-sekian oleh bagian administrasi, seolah-olah dia tidak akan lupa atau tidak akan ada masalah yang menyebabkan dia tidak akan jadi praktik pada hari/jam yang telah dipublikasikan secara luas kepada masyarakat. Di sini petugas administrasi telah menjalankan unsur certainty, memastikan bahwa dokter pasti (insyaAllah) akan praktik pada hari/jam yang telah ditentukan. Di lain waktu, seorang dokter marah ketika tidak diingatkan bahwa pada hari/jam tertentu dia akan praktik. Petugas administrasi tiba-tiba secara mendadak menginformasikan kepada dokter bahwa telah ada antrian pendaftaran pasien yang cukup banyak. Dia tidak siap karena petugas administrasi tidak memberitahukan/mengingatkan jauh-jauh dari waktu praktiknya. Dalam hal ini petugas administrasi telah lalai tidak menjalankan unsur certainty tadi. Dua kejadian ini ternyata mengakibatkan ketidakpuasan dari pihak dokter mau pun pasien. Ketidakpuasan biasanya akan melahirkan komplain, yang dapat bermanifestasi baik atau buruk, tergantung respon yang diberikan. Ketidakpuasan dan komplain lahir karena ada gap (kesenjangan, jurang pemisah) antara harapan (ekspektasi, idealita) dengan kenyataan (realita). Harapan dari pasien bahwa dokter bisa praktik tepat waktu, tapi kenyataan yang dihadapi oleh pasien tidak sesuai harapannya, maka kekecewaan akan muncul, tidak puas, dan tidak mustahil akan terjadi komplain. Bayangkan bila teman-teman berposisi sebagai pasien itu ya…

Pasien yang berhadapan dengan kenyataan yang tak pasti (uncertainty), pada level komplain terburuk akan menyebarkan ketakpuasan itu kepada teman-temannya dan seisi dunia (tidak bisa dikatakan lebay ya di zaman internet ini, karena sudah banyak buktinya), dan terparah akan mengajak orang lain untuk tidak menggunakan layanan kesehatan di RS atau tidak usah berobat ke dokter yang melakukan PHP tadi 😊 masih ingat ya istilah PHP yang saya maksud ini…

Ada ga sih cara mengurangi level ketidakpuasan dan komplain pasien ini? Ada. Yaitu memberikan penjelasan. Kejelasan (clearness), yaitu memberikan informasi secara responsif (cepat) dan up to date (terbaru), dalam waktu terukur (ada standar jelas, tertuang dalam dokumen prosedur baku), mengenai gap yang terjadi, dalam kasus di atas, mengapa dokter tidak bisa praktik tepat waktu. Tapi perlu sangat diperhatikan bahwa pemakluman masyarakat terhadap unsur clearness ini hanya pada hal-hal yang memang di luar kendali, yang secara manusiawi dapat diterima oleh akal sehat. Dan masyarakat juga akan melihat apakah unsur clearness ini hanya berupa bentuk cari-cari alasan atau memang harus dimaklumi. Pernah dong kita kalau ga puas sama seseorang, kita bisa jadi ga akan percaya lagi sama dia, karena itu-itu saja yang diulang klarifikasi/penjelasan yang diberikannya kepada kita kan… 😊 Sama dong, pasien juga akan seperti itulah…

Nah, coba kita bayangkan lagi, sudahlah tidak pasti (uncertainty) ditambah lagi tidak jelas kapan dokter akan datang, alasan telatnya apa saja, karena tidak dapat penjelasan (unclearness), apa yang akan terjadi? Kalau saya, mending cari dokter lain atau RS lain aja, ngapain mau di-PHP-in terus, ya ga? 😁

Artikel ini dicicil saat menunggu si Kakak yang ikut kelas Parenting Kids dari tim Pola Pertolongan Allah (PPA) di Hotel Syariah Grand Dafam Rohan Jogja hari Ahad kemarin, dilanjut menulis saat perjalanan ke RS UII, difinishing di ruangan kerja sambil menunggu sesi rapat tim marketing support Senin pagi ini. Terimakasih yang telah berkenan membaca. 😊

manajemen, rumah sakit, yankes

Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan?


Postingan pertama di tahun ini setelah sekian lama mengalami fase dorman yang sempat membekukan otak. Tepatnya adalah sisi otak yang memberikan stimulasi untuk menulis kembali. Semoga dengan memulai dengan tulisan yang ringan ini – menurut saya, dapat sedikit demi sedikit mencairkan sisi beku otak saya tersebut.

Memulai sebuah petualangan baru di sebuah institusi besar bernama Rumah Sakit Universitas Islam Indonesia, kebanyakan secara tak sadar saya telah mengalokasikan sumber daya tenaga dan pikiran yang besar, serta pengorbanan-pengorbanan lainnya yang mungkin itu sesuatu yang luar biasa, yang juga kebanyakan tidak saya sadari. Ya, kebanyakan tidak saya sadari setelah saya sering menerima komplain dari orang-orang terdekat terhadap berkurangnya porsi perhatian kepada mereka. Namun di sini saya tidak akan membahas hal itu. Saya fokus sesuai judul tulisan ini saja ya.

Sebuah istilah mengungkapkan hal tersebut: “Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan”. Benarkah begitu? Ada sih istilah lainnya: “Memulai Lebih Mudah Daripada Mempertahankan” untuk yang ini saya setuju 100 persen Tapi saya juga tidak akan membahas istilah yang ini. Saya kembalikan saja untuk fokus ke istilah pertama ya…

Ya, untuk memulai menulis kembali di blog ini, saya rasakan juga tidak mudah, tetapi jauh terasa lebih mudah mencairkan kebekuan dengan sedikit pemanasan melalui tulisan ini, perlahan, saya yakin semakin lama akan cair secara total, dan akan mengalir lancar kembali, insyaAllah. Saya yakin mereka yang belum pernah menulis di blog, analog dengan sulitnya mencairkan ide di awal dulu saat saya memulai coretan di blog ini, mungkin waktu itu masih terlalu banyak pertimbangan dan mental block (ketidakpercayaan diri) yang menghalangi.

Saya berbicara dari pengalaman saya saja yang baru segelintir saja di umur, yang kata orang masih muda ini. Saya pernah merasakan menjadi direktur ke-4 di RS Islam Yogyakarta PDHI, ditambah dengan berkarir selama 5 tahun sebelum menjadi direktur di RS ini. Pengalaman selama 10 tahun ini, yang saya mulai dari level staf, lebih memudahkan saya merasakan dinamika organisasi. Ini menjadi bekal berharga ketika naik level ke pimpinan puncak. Namun, itu pun sebenarnya tidak mudah di tengah stigma-stigma pribadi dan institusi yang terlanjur melekat di mata pelanggan internal maupun eksternal. Perlu waktu yang panjang juga untuk membalikkan stigma-stigma negatif menjadi stigma-stigma positif agar tercapai budaya organisasi yang sehat dan pelayanan berkualitas. Perlu meyakinkan, dan itu sering saya lakukan berulang-ulang, tanpa bosan, meski kadang lelah mendera, mentransfer kekuatan spirit visi misi pribadi dan institusi ke segenap komponen organisasi, tentu saja turut langsung memberikan contoh bagaimana cara merealisasikan dalam tataran operasional. Saya tidak terbiasa hanya berkeluh-kesah, memerintah, memberi usul atau dorongan saja, tanpa terlibat langsung memberikan contoh, bahkan dari sisi teknis sekali pun, saya akan lakukan itu. Saya sering kali harus memaklumi bahwa ide-ide saya tidak begitu saja mudah dimengerti oleh teman-teman saya, untuk itulah saya harus selalu meyakinkan mereka dan membuat contoh-contoh kecil, agar mereka mampu melihat tahapan-tahapannya serta capaian keberhasilan kecil terlebih dahulu. Hal ini akan menimbulkan rasa kepercayaan yang semakin kuat serta potensial energi penggerak untuk melangkah menuju ke tahap kesuksesan yang lebih besar, dengan masalah yang lebih rumit tentu saja.

Sedikit deskripsi di atas semoga dapat memberikan gambaran bahwa berada dalam posisi “meneruskan” itu sebenarnya juga butuh energi yang besar juga.

Sekarang saya mencoba membandingkan dengan situasi saya sebagai direktur utama di institusi besar bernama RS Universitas Islam Indonesia, dalam posisi “memulai”. Kebanyakan teman saya bilang: “hebat sekali kamu, pasti jauh lebih sulit ya?” Tapi seorang mentor bilang ke saya: “engga, dia enjoy kok…”

Komentar saya: “kedua pertanyaan dan pernyataan itu benar buat saya” 😊

Yang tidak banyak terungkap adalah, kondisi saya di dua institusi tersebut, pada saat mengawali fase “meneruskan” dan kemudian pindah (move on) ke kondisi mengawali fase “memulai” itu sama-sama galau secara psikologis. Ya, karena sama-sama mengawali, mengawali untuk “meneruskan” dan mengawali untuk “memulai”. Paham ya. Jadi ini mungkin belum terlalu menjawab apakah “Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan” untuk konteks diri saya ya 😁

Baiklah. Supaya mudah, enaknya di-poin-kan saja secara objektif dan subjektif apa yang saya temukan di dua institusi ini ya, nanti silakan bila berkenan berikan komentar, bila teman-teman pembaca yang menghadapi situasi ini, kira-kira apa yang akan dilakukan? Dan apakah bisa menjawab “Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan”?

RS Islam Yogyakarta PDHI

  1. Merupakan RS tumbuh, bermula dari Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin sejak tahun 1997, resmi menjadi RS pada tahun 2005. Berkembang menjadi RS kelas C sejak tahun 2016. Dimiliki oleh Yayasan Persaudaraan Djama’ah Haji Indonesia.
  2. Terkenal sebagai RS sosial dengan segmen pasar menengah ke bawah. Sedang berproses memperkuat segmen pasar kelas atas.
  3. Sumber daya manusia (staf) mudah dibentuk meski pun harus dengan pembelajaran yang lama, budaya organisasi sudah terbentuk sejak lama. Di sisi lain ini menjadi hambatan untuk move on lebih cepat untuk meninggalkan status quo comfort zone, sehingga cukup memakan banyak korban bagi yang tidak dapat mengikuti perkembangan organisasi.
  4. Stakeholder kunci (shareholder) sedikit, sangat tergantung kepada beberapa orang saja, pola gerak termasuk kurang responsif dalam eksekusi untuk pertumbuhan, harus diimbangi kekuatan advokasi direksi dan pemahaman terus-menerus agar segenap komponen bersinergi dengan baik.
  5. Pola gerak pemasaran masih terkesan pasif, inisiatif belum terlalu baik, kreatifitas masih harus terus dikawal dan diasah agar tidak mengalami fase antiklimaks.
  6. Di kalangan dan wilayah terbatas posisi brand sudah baik, namun di luar itu masih perlu dicitrakan terus-menerus agar bisa lebih global melalui kancah regional dan nasional.
  7. Jaringan pre existing masih cukup homogen, perlu lebih heterogen untuk ekspansi jaringan.
  8. Power resources mesti lebih dikembangkan, mesti lebih kreatif dan lebih bebas di luar sekat-sekat yang sudah ada.
  9. Kegamangan citra tidak terlalu dirasakan, sehingga tidak terlalu menjadi beban, tetapi dapat menjadi hambatan dalam pertumbuhan, kecuali bila terus-menerus dipompa kesadaran spirit ilahiyah diiringi dengan perbaikan profesionalitas berorganisasi. Ini kombinasi power yang dahsyat.
  10. Tuntutan terhadap pertumbuhan organisasi dan pelayanan tidak terlalu besar.

RS Universitas Islam Indonesia

  1. Merupakan RS mapan (langsung jadi) dan super mewah, berbentuk badan usaha/perseroan yang dimiliki oleh Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia. Resmi beroperasional sejak Februari 2019 sebagai RS kelas C.
  2. Masih teridentikkan sebagai RS segmen menengah ke atas seperti RS milik Yayasan Badan Wakaf UII yang lebih dahulu ada. Padahal faktanya segmen pasarnya adalah untuk semua kalangan. Dengan tarif sangat kompetitif/terjangkau meski pun dengan fasilitas mewah dan pelayanan yang baik dan cukup responsif di awal beroperasi.
  3. Sumber daya manusia dengan latar belakang sangat beragam, sebagian besar berpengalaman meski pun cukup banyak pada level jabatan strategis belum banyak yang memahami bisnis perumahsakitan dan berinisiatif baik. Budaya organisasi sedang dibangun.
  4. Lebih banyak stakeholder (shareholder) yang mesti diberikan perhatian karena terdiri dari mereka yang sangat berpengalaman dalam bidang perumahsakitan agar tidak menjadi kontraproduktif dengan arah bisnis RS, sebaliknya dapat menjadi potensi tenaga yang bersinergi baik sehingga mendapatkan output yang luar biasa baik dan responsif.
  5. Pola gerak pemasaran dan pelayanan jauh lebih agresif namun perlu diimbangi dengan koordinasi yang intens, serta coaching ketat agar langkah-langkah tetap on the track, sesuai dengan keinginan pemilik.
  6. Posisi tawar brand sangat baik, sangat membantu dalam melakukan negosiasi, positioning, dan ekspansi.
  7. Jaringan pre existing jauh lebih menggurita, merupakan potensi dahsyat dalam ekspansi.
  8. Power resources lainnya jauh lebih kuat.
  9. Kegamangan pre existing image membuat rasa was-was dalam menyeimbangkan (memantaskan) gerak organisasi dan menjaga nama baik.
  10. Tuntutan besar terhadap percepatan pertumbuhan organisasi dan pelayanan.

Saya kira sementara cukup perbandingan 10 poin tersebut dahulu ya, meski bisa lebih banyak yang ada dalam pikiran saya. Nah, apakah sudah punya jawaban? Kalau saya sih sudah ada… 😊

Bila butuh jawaban saya, silakan kontak saya ya, terimakasih 😁

Tulisan ini dibuat saat menunggu proses boarding dan penerbangan dari Ternate menuju Jogjakarta, serta saat menunggu transit yang telat 3 jam dari jadwalnya (menunggu 6 jam) di Makassar.

Bonus: saya kasih pemandangan hasil jepretan saya saat di Ternate.

Danau Tolire di kaki Gunung Gamalama
Danau Tolire di kaki Gunung Gamalama
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri, area snorkeling/diving
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri, area snorkeling/diving
Pantai Sulamadaha
Pantai Sulamadaha
Pulau Hiri
Pulau Hiri