Mengapa Blogging Itu Perlu?




Sejak tahun 2005 saya telah mempunyai weblog (biasa disebut/disingkat blog saja). Weblog terdiri dari 2 suku kata: “web” dan “log”. Web itu jaring untuk istilah internet atau online (terhubung secara global/mendunia), sedang “log” artinya catatan atau diari. Zaman dahulu sebelum ada internet sebagian orang suka melakukan dokumentasi kehidupan kesehariannya melalui catatan harian yang disebut diari. Diari pada umumnya berwujud buku tulis berpenampilan bagus bahkan wangi baunya. Tapi saya sendiri tidak pernah membuat diari konvensional seperti itu karena kesannya diari zaman itu hanya untuk cewek. Sedangkan saya cowok macho waktu itu. Jadi blog, bahasa lainnya adalah buku diari online.

Saya lupa awalnya mengapa saya bisa terjerumus membuat diari online. Mungkin pada waktu itu saya sudah memasuki dunia kerja, dunia kerja saya waktu itu berhubungan dengan riset dan pengembangan di sebuah instansi pendidikan bonafit. Mungkin juga saya ketularan teman-teman pada waktu itu. Lupa persisnya. Namun yang saya ingat waktu itu sudah ada semacam media sosial online, namanya “Frindster”. Saya aktif di friendster dan mendapatkan banyak teman di dunia maya, bahkan beberapa kali kopi darat dengan teman-teman online itu, ada juga yang saya ajak serta menjadi surveior pada sebuah penelitian yang kami buat.

O, iya sepertinya saya ingat, sepertinya supervisor saya mendorong saya belajar banyak menulis. Beliau pernah bilang ke saya: “untuk belajar menulis secara benar saja apalagi tulisan riset (academic writing), saya melakukan kursus tersendiri di Amerika sana.” Ya, saya sih belum pernah ke Amerika, semoga bisa suatu saat nanti. Awalnya memang tidak jelas motivasinya, mungkin memang karena dipaksa itu.

Saya ingat juga setelah zaman Friendster itu, booming media sosial yang mengkombinasikan kegiatan blogging dan marketing/selling yaitu Multiply, disingkat MP/eMPe. Meski pun pada waktu itu sudah muncul juga Blogspot dan WordPress. Namun platform Multiply jauh lebih menarik sepertinya karena sesama MPers saling memotivasi melalui interaksi super masif di kolom komentar, bahkan tak jarang komentarnya melenceng jauh dari tulisan yang dibuat, apalagi bila sudah akrab dan pernah kopi darat (kopdar). Tidak jarang juga waktu itu ajang perjodohan banyak terjadi dan lahirnya pasangan suami istri dari kegiatan di Multiply tersebut. Alhamdulillah saya sudah menikah waktu saya aktif di Multiply. Aktifitas di MP, sangat membuat membernya selalu bersemangat untuk menulis karena selalu ada motivasi melalui interkasi online dan offline/kopdar, challenge/tantangan seperti lomba, dan sebagainya. Saya waktu itu pun sempat memenangkan lomba penulisan dan mendapatkan hadiah sebuah flashdisk MP3 player (https://goo.gl/zrwWx3). Pernah juga mendapat kiriman kaos dan cinderamata tanda persahabatan dari teman online yang belum pernah kopdar sama sekali. Yang paling luar biasa waktu itu, ketika saya mengadakan penggalangan dana untuk kegiatan bakti sosial pertolongan korban banjir di daerah Bojonegoro, Jawa Timur. Baca di https://goo.gl/2jP7ca Saya menggalang dana untuk menambah paket bantuan dari tim yang kami bentuk waktu itu. Cukup banyak waktu itu sumbangannya, dan luar biasanya ada dari luar negeri juga yang memberikan sumbangannya, dari Jepang, Australia, Singapura, Inggris, dan para TKI di Hongkong.

Aktifitas blogging di awal itu sebenarnya emang sedikit aneh dan mungkin memalukan, karena kita bingung tidak tahu apa yang mau kita tuliskan atau apa yang pantas dituliskan. Menurut pengalaman saya: abaikan saja semua perasaan-perasaan itu, mulai dari yang mudah dan terlintas dalam pikiran kita, meski itu kontroversial. Itu cara belajar kita. Mungkin akan banyak protes dari orang-orang, terutama orang-orang dekat kita atau teman dari teman dekat kita. Itu wajar, itu bentuk ujian. Dari sini kita bisa melakukan evaluasi sejauh mana daya tarik dan peningkatan kemampuan menulis kita. InsyaAllah semakin sering kita menulis, kita akan semakin mampu beradaptasi dan semakin cepat berpikir dan menuangkan ide kita ke dalam tulisan.

Sepertinya paparan di atas sedikti memberikan gambaran mengapa blogging itu penting. Jadi di awal saya butuh blogging itu untuk meningkatkan kemampuan menulis dan kreatifitas berpikir dan aktifitas keseharian saya sendiri. Dan momentum untuk kembali semangat menulis diari online/blog ini setelah dibukanya grup Whatsapp oleh seorang teman, saya dijadikan admin grup itu juga akhirnya. Silakan yang berkenan bergabung untuk belajar, berbagi, dan saling memotivasi di https://goo.gl/PaBrZt

Saya lanjutkan mengenai manfaat blogging yang saya coba ringkaskan sebagai berikut:

  1. Menuangkan ide, berbagi ide
  2. Mengasah otak agar rajin berpikir, mencegah penyakit pikun
  3. Menjadi pengingat di kala lupa, sarana dokumentasi
  4. Cermin diri, saya suka melihat tulisan lampau saya, saya bandingkan semangat muda saya dahulu dengan semangat yang lebih dewasa sekarang ini. Juga dapat sebagai sarana evaluasi tulisan untuk perbaikan
  5. Berlatih menulis, dari yang sederhana, populis, sampai yang rumit akademik
  6. Menyebarkan ilmu, ada unsur amal jariyah
  7. Mencari uang, donasi, menjual produk atau jasa
  8. Sarana publikasi dan komunikasi
  9. Berlatih desain grafis dan pemrograman
  10. Memperbanyak teman
  11. Dsb, silakan ditambahkan, terutama bagi yang telah merasakan manfaat blogging

Menulis di diari online/blog sangat berbeda dengan bila kita menulis di sosial media seperti facebook dan twitter. Sangat berbeda pula jika kita hanya rajin menulis di media offline seperti diari, media massa/koran, dan sebagainya. Memang agak mirip fungsinya bila kita menulis di media massa online seperti kompasiana. Mirip yang saya maksudkan di sini adalah bahwa menulis di blog, saya dapat membantu otak saya mengingat hal-hal penting, dan melakukan sharing/berbagi informasi yang sering berulang, sehingga saya terbantu bila ada sesuatu hal atau momentum yang saya lupa, saya tinggal ingat kata kuncinya, lalu saya masukkan ke mesin pencari dan nama blog saya, maka semuanya akan jauh lebih mudah. Berbagi informasi yang sering saya gunakan misalnya mengenai tema tulisan tertentu, maka saya ga perlu menulis ulang atau berbicara ulang, cukup saya bagikan tulisan yang ada di blog saya, sehingga hemat waktu dan energi.

Kelebihan blog yang lain seperti hal-nya media sosial, jenis reader/audiensnya juga bisa di-set. Bagi yang butuh menulis curahan hati (curhat) untuk stress release atau mengingat momentum tertentu yang tidak perlu dipublish secara umum, maka bisa di-set sebagai tulisan privat. Kelebihan blog dibanding sosial media adalah tulisan di blog sifatnya eternal/abadi tidak seperti menulis di status media sosial yang bersifat volatile/menguap karena berbasiskan lini-masa (timeline), meski pun sekarang media sosial juga sudah melengkapkan dengan sistem posting jurnal untuk akomodasi tulisan panjang dan dapat diberikan label/tanda pagar (tagar) tertentu, sehingga juga mudah dicari bila dibutuhkan.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Semoga berguna.

Sumber gambar: dari sini

Hospital Management Class: Enam Topi Berpikir


Beberapa bulan terakhir pasca kelulusan akreditasi RS kami, saya dan teman-teman berusaha kembali menghadirkan suasana pembelajaran di tengah suasana kerja pelayanan yang padat. Agar kompetensi manajerial senantiasa terasah, otak mampu terus berpikir di tengah permasalahan yang semakin rumit. Tidak cukup hanya membangun motivasi dan spirit, namun juga dibutuhkan penguasaan terhadap perangkat-perangkat manajemen handal untuk mengefisienkan dan mengefektifkan kerja. Dalam konteks ilmu Balanced Scorecard (BSC), elemen pertumbuhan dan pembelajaran komponen organisasi menjadi sangat penting agar senantiasa dapat melahirkan proses pelayanan yang kreatif dan inovatif serta minimal konflik. Dalam lingkup ke-RS-an, dengan komposisi padat karya yang dibangun dari berbagai level personal dengan variasi profesi berbeda, sangat tidak mudah memfasilitasi suatu nilai-nilai kebersamaan yang bersinergi dalam mencapai tujuan jangka pendek dan panjang organisasi. Namun dalam situasi positif, ini adalah sebuah tantangan, bukan pelemahan, bahkan kata seorang konsultan ini merupakan lorong-lorong transendental sebagai proses-proses ujian untuk kenaikan level personal maupun organisasi.

Syukurlah hasil-hasil pembelajaran selama ini mulai bisa ditularkan kembali kepada sebanyak mungkin komponen organisasi agar semakin paham dalam berpikir dan melangkah. Salah satunya menerapkan kelas manajerial rutin bagi para pejabat struktur organisasi. Ini baru sebatas diseminasi keilmuan, belum lagi nanti harus memperbanyak proses-proses magang untuk memastikan apa yang telah diterima, memang benar dikuasai dengan baik. Kali ini saya berkesempatan meneruskan kuliah manajerial dalam sebuah rapat rutin pejabat struktur. Kali ini kita belajar dan melatihkan secara awal penggunaan perangkat perencanaan dan pengambilan keputusan dengan metode “6 Topi Berpikir”, dalam bahasa aslinya, “Six Thinking Hats” yang digagas oleh seorang pemikir pengembangan fungsi otak, Edward de Bono.

Kata orang, mengumpulkan dan berhadapan dengan berbagai “isi kepala” yang variatif itu sangat memusingkan dan menyebabkan sebuah langkah pengambilan keputusan dapat mengalami set back/kemunduran atau minimal hanya jalan ditempat. Dengan metode planning, berpikir dengan gagasan 6 topi ini, maka segala permasalahan yang ditemui, akan lebih mudah diselesaikan dengan baik. Dalam perangkat 6 topi berpikir ini, setiap personal yang terlibat diberikan kesempatan yang sama dalam waktu yang ditentukan untuk mengenakan “topi berpikir” yang disimbolkan dengan warna tertentu ketika menilai suatu permasalahan. Kelebihan metode ini akan membuat keteraturan dan pola berpikir serta komprehensif karena melibatkan tinjauan dari semua aspek berpikir yang lahir dari sisi pribadi manusia itu sendiri, yaitu sisi objektifitas/netralitas, intuisi/emosional, positifitas, negatifitas, kreatifitas, dan pengendalian. “Enam topi berpikir” juga mempunyai kelebihan lain yaitu, membuat seseorang yang terbiasa berpikir melompat-lompat dapat berpikir lebih sistematis dan mengalir, ini untuk menghindarkan hal-hal penting yang dapat terlewatkan dan menyebabkan suatu keputusan tidak dapat dieksekusi dengan baik. Di sisi lain juga berguna bagi mereka yang terbiasa pasif dan susah mengemukakan pendapat, 6 topi berpikir dapat “memaksa” agar seseorang lebih terlatih mengeluarkan ide-ide saat menggunakan topi-topi itu apalagi didampingi oleh fasilitator yang baik.

Baiklah. Terlebih dahulu saya definisikan makna dari setiap topi. Topi Putih adalah sisi objektifitas, yang berbicara dari sisi data, informasi, dan fakta yang tersedia. Topi Putih memerlukan persiapan, membutuhkan sedikit usaha dan waktu sehingga sebaiknya sebelum sesi latihan/pertemuan menggunakan 6 topi berpikir ini, telah ditentukan terlebih dahulu permasalahan yang akan dibahas sehingga data-datanya juga sudah dipersiapkan. Berikutnya, Topi Merah adalah sisi emosional, dimana setiap individu pada saat yang sama dipersilakan mengeluarkan pernyataan emosionalnya yang tidak dipengaruhi oleh logika, jadi gunakan subjektifitas dalam menilai suatu isu/masalah. Curah pendapat ketika Topi Merah dipakai akan memberikan suatu kepuasan bagi pribadi-pribadi untuk berusaha melepaskan segala unek-uneknya dalam rangka memperkecil ego. Selanjutnya, Topi Kuning adalah melambangkan cara berpikir positif optimistik dan visioner (melihat jauh ke depan). Terkadang tidak jarang banyak ide-ide gila yang muncul saat Topi Kuning dipakai, meski masih dalam tataran konsep, namun logika positifnya dapat tetap dipertanggungjawabkan. Berikan sebanyak mungkin konsep-konsep yang membangun/konstruktif ketika Topi Kuning sedang dipakai. Lalu, Topi Hitam, sesuai namanya adalah memposisikan diri dalam situasi kritis negatif, memaparkan sikap pesimistik dan selalu memandang skeptis serta memaparkan dampak-dampak buruk yang mungkin akan timbul dari suatu masalah yang sedang dibahas. Topi Hitam merupakan penyeimbang yang kuat terhadap pola berpikir Topi Kuning agar senantiasa siap dengan situasi-situasi akan datang yang telah diprediksi sehingga selalu ada rencana cadangan dan antisipasinya. Sebagaimana pola berpikir Topi Merah, menggunakan Topi Hitam sedikit lebih mudah bagi sebagian orang yang telah mengemukakan pendapatnya ketika memakai Topi Merah, karena Topi Hitam tinggal ditambahkan logika berpikir yang negatif. Selanjutnya, dipersilakan mengenakan Topi Hijau, saat dimana semua berpikir tentang solusi yang kreatif, tidak jarang merupakan hasil pengembangan berpikir ketika memakai Topi Kuning. Meski pun tampaknya beberapa individu yang dominan mengemukakan pendapatnya ketika mengenakan topi warna lain, terutama Topi Merah dan Topi Hitam, tidak cukup mudah ketika harus mengemukakan pendapat ketika mengenakan Topi Hijau. Menjadi individu yang kreatif, berpikir solutif memerlukan sesi pembelajaran tersendiri. Terakhir, Topi Biru, merupakan pengendali proses dari segala hal yang muncul dari semua topi berpikir tadi. Topi Biru memegang peranan kunci di awal dalam menentukan permasalahan yang akan dibahas, batas waktu pembahasan, dan aturan main pembahasan lainnya. Di akhir sesi pelatihan/pertemuan, Topi Biru merefleksikan semua proses yang telah dilalui dan menyepakati keputusan-keputusan yang akan diambil dan langkah-langkah berikutnya yang akan dilakukan. Meski pun umumnya Topi Biru ini diperankan oleh fasilitator atau pemimpin pelatihan/pertemuan, namun setiap orang yang terlibat dapat belajar menggunakan Topi Biru terutama dalam melakukan pengendalian dan oto-refleksi terhadap peran-peran yang telah dilakukan ketika mengenakan berbagai warna topi yang berbeda.

Di sinilah hebatnya teknik 6 topi berpikir ini, seseorang dari hasil akhir perannya dapat melihat suatu masalah secara global, lebih sederhana, komprehensif, dan menepis egonya. Untuk memperlancar penggunaan perangkat 6 topi berpikir ini, diharapkan setiap pejabat struktur dapat membiasakan menggunakannya di dalam rapat-rapat pembahasan terhadap suatu permasalahan yang dianggap rumit. Berbagai contoh kasus dalam penerapan 6 topi berpikir ini dapat dieksplorasi lebih lanjut dari sekian banyak referensi yang ada. Semoga bermanfaat.

Sehat & Bugar itu di-Perjuangkan


Lama tidak mengisi blog ini, ga boleh kalah sama anak saya yang sekarang aktif menulis blog, monggo yang berkenan baca blog anak saya yang masih umur 8 tahun ini: http://fathinaas.blogspot.com/. Selain malu sama anak saya yang badannya sudah mulai singset karena rutin ikut taekwondo (mungkin loh ya, selain malas makan juga), juga malu sama diri sendiri yang kurang kuat melakukan self motivation dalam memperbaiki kesehatan dan kebugaran badan, akibatnya beberapa waktu lalu sempat dihampiri oleh berbagai macam jenis penyakit. Alhamdulillah kondisi sekarang lebih lumayan sehat dan fit. Dulu banget waktu masih mahasiswa, bugar dan sehat saya lakukan melalui klub-klub yang saya ikuti, jadi termotivasi oleh orang lain. Setelah nikah? Ya, mungkin itu problem banyak orang, rasanya lebih nyaman di kasur dan tempat makan, sampai kita merasakan akibat kenyamanan itu membuat akumulasi akibat yang tidak baik. Benar ungkapan sebuah kalimat: Kenyamanan Itu Mematikan!

So, mengambil kembali momentum-momentum yang ada untuk berjuang memotivasi diri sendiri dalam usia yang masih bisa dibilang mudalah. Investasi bugar & sehat sangat penting bagi produktifitas kita sendiri. Meski dalam tahap-tahap awal ini serasa tersiksa luar biasa, godaannya serasa lebih besar. Tapi bagaimana pun harus yakin: Saya, dan Kita bisa!

Komitmen & Realisasi:
– Jogging tiap hari
– Minum air putih + jeruk nipis peras sebanyak mungkin
– Tidur cukup
– Makan yang cukup (banyak, ini yang agak susah…)

*Momentum Persiapan Festival Night Run 5K


Alternatif Pengganti Telpon Rumah Kabel


Menyempatkan kembali mengisi blog yang sudah mulai karatan ini…

img_20161225_074502

Saya tuliskan saja sebuah pengalaman saya belum lama ini, yaitu mencarikan solusi untuk telpon rumah mertua yang sangat sering bermasalah. Sudah lama masalahnya dan sudah dianjurkan berulang kali untuk diputus saja ke telkomnya. Tagihan bayar terus tapi jarang berfungsi. Memang di sana sering terjadi pencurian kabel telpon oleh manusia tak bertanggung jawab sehingga menyebabkan banyak sambungan telpon di desa itu yang terputus dalam waktu lama.

Akhirnya saya belikan saja sebuah router GSM nirkabel produksi Huawei yang di local branding oleh provider telpon dari Arab Saudi, Mobily. Saya pilih seri B683. Router ini memiliki multi fungsi, namun saya hanya memanfaatkan fungsi untuk menelpon/menerima telpon sebagai pengganti jaringan kabel telkom. Dengan menggunakan router ini, pesawat telpon konvensional yang dimiliki mertua saya masih dapat dimanfaatkan. Tinggal dicolokin ke alat ini, langsung bisa berfungsi sebagai telpon rumah. Memang sih nomornya ganti menjadi nomor GSM. Tapi yang penting sudah bisa komunikasi lagi dari dan ke rumah mertua. Kelebihan lainnya router ini dapat berfungsi sebagai poin akses internet nirkabel dari paket yang ada di kartu GSM-nya. Meski pun cuma sampai mode 3G (belum 4G/LTE), namun saat saya coba, kecepatannya download dapat melewati angka 7 mega bit per detik, uploadnya mencapai kecepatan di atas 2 mega bit per detik. Itu waktu saya tes di rumah saya, entahlah pas dipakai di rumah mertua. Akses internet juga bisa diperoleh melalui sambungan kabel LAN/local area network di sejumlah 4 titik yang disediakan. Selain itu disediakan pula colokan USB yang menurut buku petunjuknya dapat digunakan untuk berbagi perangkat penyimpan eksternal seperti hard disk atau flash disk. Dan dapat pula dicolkin printer biasa agar dapat berfungsi sebagai printer nirkabel. Cukup canggih, namun belum sempat saya coba.

img_20161223_110216

Di pasaran memang dijual juga pesawat telpon Fixed Wireless Phone/FWP, yaitu model telpon GSM berbentuk seperti telpon rumah konvesional tapi saya memilih router ini agar pesawat telpon lama masih bisa tetap digunakan. Dan juga susah mencari FWP yang bisa memberikan koneksi internet. Jadi tetap lebih unggul bila menggunakan router. Namun kelemahan router ini, karena tidak ada back up baterai, sehingga saat listrik mati, telponnya juga ikut mati. Tapi ini bisa diakali dengan menggunakan UPS. Sedangkan FWP menggunakan baterai, namun saya kira nanti cukup sulit menemukan baterai pengganti bila baterainya mengalami kerusakan.

Semoga routernya bisa awet, saya dan mertua senang, kakak ipar juga senang bisa menggunakan akses internet saat di rumah.

Normalisasi Intensitas Bergadget Ria


KhongGuan-GadgetTulisan dengan judul ini saya buat ketika sedang sendiri, tidak di depan teman kerja maupun di depan keluarga. Itu pun diketik melalui laptop jadul saya yang masih bertahan sampai sekarang sejak dibeli tahun 2007 lalu. Mengapa saya perlu menyatakan ini? Ada kaitannya dengan peristiwa hari Ahad kemarin, ketika secara spontan saya merespon positif usulan istri untuk mengungsikan semua gadget smartphone dari rumah. Usulan ini terlontar ketika hari Ahad kemarin pasca memperingati ulang tahun pernikahan ke-11, kami saling melihat, semua sedang sibuk dengan gadget masing-masing termasuk anak-anak. Yah, itu hari libur memang dan juga habis dari jalan-jalan dan makan di luar, cuma memang hari itu terasa lama sekali anak-anak dan saya berinteraksi dengan gadget smartphone.

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di blog ini, bagaimana mensiasati screen time pada anak, di link berikut. Namun, seiring bertambahnya umur anak-anak dan percepatan wahana komunikasi di gadget saya seperti semakin banyaknya grup-grup diskusi dan obrolan, akhirnya saya spontan saja, harus ada terobosan berani dan revolusioner sebagaimana dulu saya juga berani mematikan akun sosmed saya (facebook) yang sempat berjaya untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting. Saat ini saya melihat hal penting itu. Penting dan genting. Penting untuk menormalisasi hubungan dengan gadget yang seharusnya intensitasnya di bawah hubungan nyata antar komponen di dalam keluarga dan teman kerja. Apalagi dengan trik-trik yang pernah saya bahas sebelumnya sudah tidak mempan karena semakin pintarnya anak-anak dalam mensiasatinya. Namanya juga anak generasi native masa industri keempat. Tidak seperti kita yang masih merupakan generasi transisi. Sebenarnya semuanya sudah tidak sehat, saling menyalahkan dan linglung sendiri. Kalau tidak ada yang mengalah, ya memang repot. Saya bilang kemarin, sayalah yang paling berat sebenarnya berlepas diri dari hal-hal seperti ini. Namun, sekali lagi orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya. Saya akan mempertanggungjawabkan itu. Biarlah di masa sekarang memperbaiki interaksi nyata antara ortu dan anak, serta antara anak-anak sendiri. Genting, karena dengan siasat-siasat lama tetapi wujud fisik gadgetnya tetap ada di rumah menjadikan anak-anak lebih tidak kooperatif, menjadi kurang sehat secara psikis (saya kira nantinya juga berimbas secara fisik), menjadi kurang kreatif secara positif dan semakin malas, begitu juga dengan saya, sama saja. Ditambah lagi dengan semakin kewalahan kami melakukan blocking terhadap konten-konten yang tidak sehat terutama dari youtube dan game. Memang ini masih fase uji coba, namun saya berharap fase ini bisa berlanjut sukses, sebagimana suksesnya kami menghilangkan tontonan TV di rumah yang sudah memasuki waktu bulan ke-10. Nyatanya tanpa siaran TV di rumah tidak mematikan kita. Mental dan fisik kita terasa lebih sehat, apalagi di era seliweran informasi yang kebablasan dan penuh hoaks ini. Saya dan keluarga tidak mau dicekokin informasi secara aktif yang akan merusak idealisme kita. Kita yang harus mengendalikan informasi yang akan kita terima, jangan sampai dicekoki apalagi direcoki.

Sehingga saya mohon maaf kepada teman-teman yang terkoneksi dengan gadget saya dan link sosial media kami, tentu akan mengalami slow dan late respons, bahkan mungkin tak berespon. Semuanya demi kebaikan kami juga. Gadget yang terkoneksi internet hanya akan saya pegang ketika tidak di depan anak-anak, dalam fase uji coba ini. Saya sendiri sudah tidak membawa gadget saya yang terkoneksi penuh internet pulang ke rumah sejak hari Senin kemarin. Rasanya memang berat namun sekaligus ringan dan bahagia. Sayang masih ada keteledoron sedikit. Anak saya menemukan gadget tabletnya di dalam kendaraan saat jalan mencari makan tadi malam. Tapi bisa saya sita dengan baik-baik dan diamankan ke kantor. Saya dan istri sepakat dulu, anak-anak hanya boleh main gadget sejak Sabtu sore dan Ahad saja. Itu pun masih diusahakan disiasati agar dialihkan dengan aktifitas lain, tentu harus lebih menarik aktifitas lain itu. Itu pun nanti kalau ga berhasil, maka semua hari di rumah akan mengalami hari tanpa gadget.

Doakan kami berhasil ya…. 😀

Sumbar: http://www.gadgetgaul.com/

​Vaksin Palsu, Mendudukkan Permasalahan Secara Adil


IMG-20160715-WA0017.jpg
IMG-20160715-WA0019.jpg
Tulisan ini saya buat dengan rasa prihatin atas terungkapnya peredaran vaksin palsu. Prihatin terhadap begitu masifnya persebaran vaksin palsu ini sehingga menjadi bahan berita berhari-hari lamanya. Sebagai sebuah berita tentu banyak sisi pandang berlainan yang muncul ke permukaan. Salah satunya yang saya tangkap adalah kehebohan masyarakat terutama masyarakat yang telah mengimunisasikan anak-anaknya dengan vaksin-vaksin itupada masa/periode perkiraan  pemalsuan. Kehebohan ini semakin ditambah dengan diumumkannya fasilitas kesehatan (rumahsakit, bidan praktik, klinik) yang melayani imunisasi dengan vaksin palsu.

Saya sendiri merasakan sendiri kehebohan ini karena ada salah satu saudara saya yang anaknya ternyata juga diduga kuat pernah diimunisasi vaksin palsu dari data yang didapatkan dari berita yang telah beredar. Sebagai bagian dari orang  medis, saya telah memberikan saran kepada saudara saya itu untuk menanyakan kepada rumahsakit terkait mengenai vaksin yang pernah disuntikkan ke anaknya. Lalu apakah rumahsakit dalam hal ini bersalah karena telah menggunakan vaksin palsu. Saya sebagai salah satu aktifis di bidang perumahsakitan tidak berani memastikan karena harus diteliti lebih dalam apakah memang ada RS, sebagai sebuah institusi benar-benar mengetahui bahwa vaksin yang digunakannya adalah palsu.

Sampai dititik ini, sebaiknya kita menyadari bahwa RS mau pun fasilitas kesehatan lainnya juga bagian dari masyarakat, konsumen yang memakai vaksin itu. Saya yakin sebagian RS yang disebutkan tersebut, direktur dan bagian pengadaannya tidak mengetahui apakah vaksin itu palsu atau asli. Memang beberapa fasilitas kesehatan dinilai teledor melakukan transaksi ke distributor yang tidak bonafit? ini pun masih bisa diperdebatkan. Bukankah ini bukan hanya tanggung jawab rumahsakit untuk memastikan bahwa suatu distributor benar-benar menjual vaksin yang asli. Saya kira kita tidak perlu berdebat bahwa sebenarnya sudah ada cara menentukan bahwa sebuah vaksin itu adalah palsu, namun itu juga bukan jaminan.

Saya ingin mempertanyakan kemana orang atau lembaga yang berperan sebagai pengawas peredaran vaksin ini. Ternyata pun ada juga semacam pemakluman bahwa lembaga pengawas tidak bisa bekerja optimal di belantara peredaran vaksin (dan tentunya obat-obat lainnya, belum lagi untuk makanan yang beredar) karena sedikitnya jumlah personil mereka. Lalu siapa yang harus disalahkan? Saya tidak mau menjawabnya. Sebaiknya semuanya bertanggung jawab. Di sisi lain sebaiknya pemerintah juga lebih kuat menjalankan hukum yang berlaku. Aspirasi masyarakat untuk menghukum sekeras-kerasnya para produsen vaksin palsu, menurut saya cukup tepat untuk menjadi peringatan bersama, jangan macam-macam kalau terkait dengan urusan kepentingan masyarakat banyak. Saya hanya berharap pemerintah bisa. Disamping itu sebaiknya pemerintah juga harus bertanggung jawab bukan hanya melemparkan kesalahan kepada pihak, misalnya rumahsakit, bahkan dalam sebuah judul berita di sebuah media massa, sudah ada judul “Kepala RS menjadi tersangka”.

Baiklah, agar tulisan ini tidak bertele-tele, kita sebagai masyarakat fokus kepada diri kita saja. Saya melakukan pemisalan saja bagaimana cara menghadapi masalah vaksin palsu ini. Pagi ini saya membeli 4 butir telor asin di sebuah warung jejaring waralaba untuk lauk sarapan anak saya. Sampai di rumah, ketika istri saya membagi dua sebutir telor, ditemukan banyak jamur tumbuh pada telor tersebut. Lalu istri saya minta saya kembali ke warung untuk melakukan komplain. Awalnya saya agak emosi, telor busuk kok dijual, padahal tanggal kadaluawarsanya masih lama, 25 Juli 2016. Namun atas saran istri, baik-baik saja komplainnya. Saya turuti. Saya kembali ke warung menemui mba penjualnya dan bilang dengan lembut: “Mba, tolong telor asin ini ditukar sama telor biasa aja ya, ini udah berjamur gini padahal tanggal belum kadaluwarsa. Diganti telor biasa aja mba soalnya saya yakin telor asin lainnya juga gini…”. Si Mba tanggap, tanpa babibu, langsung memilihkan telor biasa setelah saya menyerahkan struk pemebelian. Ternyata 10 butir telor biasa harganya hampir sama dengan 4 buitur telor asin, dan saya masih dapat kembalian uang. Lumayan, telor 4 beranak jadi telor 10. Saya juga pesan ke mba-nya: “tolong suplier telornya dibilangin ya.” Dijawab: “Tentu Pak”. Sip, saya lega. Saya yakin warung itu ganti melakukan komplain ke suplier telor asinnya. Setelah itu saya tanya ke mba-nya: “kalau telor ini busuk juga gimana mba”. Dia bilang, langsung aja datang ke warung lagi. Ini sekian kalinya ini saya melakukan komplain dengan baik-baik (tanpa sedikit pun emosi di hati saat ketemu petugas warungnya) dan dapat tanggapan yang baik pula.

Nah, pengalaman beli telor ini, menurut saya, sebaiknya bisa kita aplikasikan juga, sebagai masyarakat yang mungkin sudah diduga mendapatkan suntikan vaksin palsu kepada anaknya. Jangan langsung menyalahkan lembaga kesehatannya, cobalah baik-baik datang untuk konfirmasi ke rumahsakit. Begitu juga rumahsakitnya, sebaiknya tetap bertanggung jawab dan melayani komplain dengan baik. Lakukan imunisasi ulang, lalu panggil supliernya buat mempertanggungjawabkan dan mengganti vaksin yang palsu. Memang kalau berkelit, tentu harus ada upaya lain. Namun sebisa mungkin masyarakat jangan sampai kena imbas yang parah.

Masalah vaksin palsu ini menjadi masalah yang sangat serius dan menjadi pelajaran besar bagi kita semua, agar tidak terulang dan semakin meningkatkan kewaspadaan. Terhadap oknum rumahsakit yang memang ketahuan bermain kotor dan dan mengetahui bahwa vaksin itu palsu, ini adilnya memang tetap harus diproses hukum.

Kemudian, untuk pemerintah. Saya menyarankan agar lebih banyak mengalokasi sumber daya pengawasan dan lebih intensif melakukan pengawasan. Kasus vaksin ini hanya fenomena gunung es, ada masalah yang lebih besar dan siap meletus. Yaitu obat palsu. Obat dengan harga yang sangat murah selisih jauh harganya dengan di pasaran, bisa diduga sebagai obat palsu. Saya menceritakan lagi pengalaman saya ketika mengobatkan anak ke sebuah rumahsakit pemerintah yang besar. Saya diminta oleh oleh dokter untuk menebus di luar rumah sakit (kebetulan menurut petugas, persediaan di rumahsakit habis) resep obat bermerek yang harganya menurut saya cukup mahal. Alhamdulillah bisa ketemu obat itu di apotek yang saya kira juga bisa dipercaya, karena harga obatnya wajar. Namun (sayangnya) keluarga pasien sebelah saya bilang, kok ga beli di Pasar P*****a saja. Dia dapatkan obatnya yang sama dengan harga yang sangat murah menurut saya. Saya cukup terkejut. Terkejut karena saya baru sadar, apakah pihak rumahsakit dan pemerintah mengetahui bahwa hal ini bisa merugikan pasien sendiri. Sebagai pasien tentu ingin yang paling murah, tapi mereka tidak tahu mana yang palsu. Kewajiban RS tetap melakukan edukasi secara baik dan jelas kepada pasien dan keluarga.Kewajiban pemerintah seperti saya tadi di atas, memperketat pengawasan dan memperberat hukuman serta menjalankannya. Semoga kasus ini tidak berulang di tahun depan. Aamiin.

Diet? Siapa Takut!


P60415-173326Sejak seminggu ini saya melakukan program pengaturan pola makan atau tepatnya pengurusan badan yang dikenal dengan istilah diet. Meski pun secara objektif dengan timbangan baru turun hampir 2 kilogram namun efek psikologis dan fisiknya sangat terasa. Seperti, volume perut dan ukuran lingkar pinggangnya terasa berkurang dengan indikator subjektif berupa celana-celana mulai terasa tidak sesak. Sepertinya efek diet ini memang memulai dari “gudang”-nya penyakit ini dulu, perut.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya harus repot ikut-ikutan tren menguruskan badan? berpuasa dari makanan-makanan enak yang mampir di depan hidung?

Pertama, saya sudah mulai tua. Jelas terjadi perlambatan metabolisme tubuh dalam melakukan netralisasi terhadap zat-zat berbahaya yang juga berasal dari makanan sehari-hari.

Kedua, sekarang sebagai orang yang bekerja dengan situasi kurang gerak, banyak duduk, jarang olah raga, tentu diet menjadi pilihan yang “lebih fleksibel” meski pun lebih “menyiksa”.

Ketiga, saya dan istri ingin hidup ini lebih berkualias dari sisi pengaturan pola makan. Memang dunia itu enak dan penuh dengan makanan yang enak. Tapi kita paham sesuatu yang enak itu sebenarnya merupakan jebakan yang menjerumuskan. Kita tentu paham dengan dalil “makan dan minumlah, jangan berlebihan”. Saya ingin menerapkan itu dengan sungguh-sungguh.

Keempat, pada suatu waktu sampai sekarang, bergelimang dengan makanan yang enak itu membuat kita semakin susah, susah dalam meningkatkan produktifitas, terlalu sering kena masalah perut, bangun tidur tak nyaman, konsentrasi menurun karena mudah ngantuk karena kebanyakan makan.

Kelima, sekaligus menjelang bulan puasa, ini juga semacam latihan untuk mengurangi interaksi dengan makanan. Meski pun harus saya akui, diet itu lebih berat daripada berpuasa. Mengapa? saya ga tahu persis, namun itu yang saya rasakan. Semoga nanti juga bisa lebih sering puasa.

Untuk menjalankan diet ini, saya berpatokan dengan pola diet “General Motors” yang dimodifikasi. Pola diet GM sendiri aslinya bukan diet yang terstandar menurut para ahli gizi. Jadi tidak harus mutlak diikuti. Modifikasi dilakukan untuk tidak mempersulit diri dalam melakukan persiapan diet setiap harinya. Dan tidak terpatok hanya 1 minggu program dalam satu bulannya. Tidak ada aturan baku mengenai diet saya ini selain pertimbangan kalori yang masuk harus lebih kecil daripada kalori yang keluar. Apakah lalu repot harus mengukur berapa kalori yang masuk, berapa yang keluar? Ya tentu tidak, karena saya sendiri ingin diet ini sebisa mungkin jangan menyebabkan stres tambahan yang terlalu menekan. Selain saya juga punya penyakit lambung (gastritis) yang kronik, juga supaya tidak terlalu merepotkan istri yang menjadi leader dalam program diet ini. Selama minggu pertama kemarin saya akui cukup menyiksa karena badan masih harus ekstra keras menyesuaikan diri. Siapa bilang diet GM itu tanpa rasa lapar? Di hari pertama hanya makan buah, sungguh banyak buah yang harus saya konsumsi untuk mengatasi rasa lapar yang terlalu cepat mendera. Alhamdulillah lambung saya aman. Awal minggu ini terasa lebih ringan, apalagi setelah saya bisa berfokus pada kegiatan-kegiatan lain yang tidak harus berfokus pada kegiatan perut. Kegiatan perut ini memang sungguh susah diatasi karena banyak acara yang saya ikuti selalu tersedia makanan yang menggoda selera. Itu ujian buat saya dan istri. Hikmah lain program ini, bisa lebih berbagi banyak makanan kepada orang lain dan hewan-hewan di rumah. Semoga bisa seterusnya melakukan pengaturan pola makan ini. Aamiin.

Referensi:
Turunkan 4 Kilo dalam 5 Hari Tanpa Rasa Lapar dengan Diet GM

Pencegahan Praktis Demam Berdarah Dengue Dari Rumah Kita


P60307-182652Beberapa minggu terakhir saya mendapatkan cukup banyak berita dari teman kerja dan teman lainnya mengenai penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang menyerang mereka atau orang terdekat mereka. Saya sebagai teman dan sebagai manusia yang sama seperti mereka terus-terang merasa sedih dan was-was, kasus DBD menyebabkan hilangnya harta benda dan nyawa dari teman dan keluarga kita. DBD berhubungan erat dengan agen penyebarnya yaitu nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Untuk skala dunia, kasus kejadian DBD ini termasuk luar biasa, setiap tahun ada sekitar 400 juta kasus DBD, 20 ribu orang di antaranya meninggal. Lebih dramatis dikatakan, setiap menit ada 1 manusia yang meninggal akibat DBD.

Bagi saya, seperti penyakit lainnya, untuk kasus DBD ini, mencegah tetap lebih baik sebelum terjadi, sebelum menderita penyakit demam berdarah, karena memang tingkat penderitaannya tidak bisa ditebak, jadi lebih baik waspada dan bersiap sedia sejak awal agar tidak terjangkit virus itu. Caranya tentu saja bagaimana kita tidak digigit oleh nyamuk Aedes ini, yang jam kerja menggigitnya pada siang hari. Meski pun program pemberantasan DBD cukup gencar dilancarkan pemerintah dan lembaga non pemerintah, nyatanya banyak dari kita yang kurang dan tidak peduli, bahwa kita adalah salah satu calon mangsa dari nyamuk dan virus ini. Tidak ada jaminan kita tidak akan terkena. Meski pun banyak strategi pemberantasan yang telah disosialisasikan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (Menguras, Mengubur, Menutup) yang dianggap sebagai cara paling efektif, namun faktanya gerakan 3M ini akhirnya diubah menjadi gerakan 3M Plus. Plus di sini yaitu menghindari gigitan nyamuk. Selain itu secara aktif pemerintah menggalakkan program Jumantik, Juru Pemantau Jentik.

Program dasar 3M dan Jumantik merupakan program komunal dengan keterlibatan pribadi-pribadi dalam kelompok masyarakat yang biasanya memerlukan usaha yang lebih besar. Sedangkan menghindari gigitan nyamuk lebih bersifat kepada kewaspadaan pribadi. Sebagai pribadi, terus terang saya lebih mudah untuk berkomitmen dengan usaha untuk menghindari gigitan nyamuk ini. Selain lebih praktis; tidak butuh alokasi waktu khusus seperti gotong royong dan sebagainya. Saya yakin orang-orang kota dan sibuk seperti saya, malas untuk melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Yang dibutuhkan disini adalah biaya dan komitmen pribadi yang sebenarnya juga tidak lebih besar kadarnya dari gerakan PSN. Bayangkan kita harus rutin 3M setiap minggu minimal. Itu pun kalau kita aja yang rajin, nyatanya kita bisa kena gigitan naymuk tetangga atau nyamuk dari tempat lain. Memang sangat baik bila 3M plus bisa kita lakukan. Tapi saya realistis saja.

Saya hanya berusaha agar nyamuk tidak menggigit saya dan anggota keluarga saya. Cukup banyak usaha yang bisa dilakukan untuk hal ini seperti memakai kelambu, memakai pakaian yang lebih tertutup, memakai raket setrum nyamuk, pengusir nyamuk ultrasonik, memakai pendingin ruangan, memakai obat nyamuk bakar/semprot dan sebagainya. Di antara semua cara itu saya pilih lagi cara yang lebih praktis, mudah dilakukan dan sesuai dengan kondisi saya yaitu memakai krim relepen/penolak nyamuk (mosquito repellent) di waktu pagi dan siang hari, serta mengandalkan vaporizer, alat pengusir nyamuk elektrik jenis vaporize/uap yang bisa dihidupkan terus-menerus selama 24 jam. Apakah murni hanya menggunakan 2 cara ini saja? Tidak, kami mempunyai juga raket nyamuk, ruang kamar ber-AC, kipas angin, dan semprotan nyamuk. Tapi itu jarang dipakai. Selain itu kami memilih menggunakan ember tampung yang kecil untuk alat mencuci dan mandi, diusahakan airnya tidak mengendap lama karena berpotensi jadi tempat bertelur nyamuk di dalam rumah. Lebih praktis lagi cukup pakai alat shower/pancuran untuk mandi.

Selanjutnya, saya ingin menekankan kembali kepada pemakaian repelen anti nyamuk ini karena lebih praktis, untuk menghindari gigitan nyamuk karena bisa jadi nyamuk menggigit kita ketika kita dan anggota keluarga kita berada di sekolah, tempat kerja, luar rumah, tempat belanja, tempat wisata, tempat bermain dan sebagainya. Di rumah kami tidak menggunakan repelen, cukup memakai vaporizer yang dihidupkan terus-menerus 24 jam. Saya baru tahu sekarang sudah ada smart vaporizer yang bisa kita pilih programnya agar mengeluarkan uap pengusir nyamuk sesuai dengan keinginan kita. Lalu apakah tidak berbahaya menggunakan 2 cara ini. Kan isinya racun semua. Benar. Memilih kedua cara ini membutuhkan pertimbangan yang cukup lama, saya sampai browsing banyak artikel tentang ini, ilmiah mau pun tak ilmiah/populer. Kebnayakan artikel berbahasa Indonesia tidak memmuat informasi yang berimbang dan lebih cenderung menakuti-nakuti agar tidak menggunakan cara ini, berbeda dengan artikel dari luar negeri yang mereka muat semua unsur positif dan negatifnya. Namun dalam dunia kedokteran, obat pun disebut sebagai racun. Yang membedakan obat dan racun adalah dari dosis yang digunakan. Jadi untuk repelan gunakan setipis mungkin, hindari area yang tertutup pakaian, kulit muka, dan selaput lendir seperti mata dan hidung. Jangan lupa cuci tangan ketika akan memegang makanan. Begitu juga untuk penggunaaan obat nyamuk, silahkan memilih obat nyamuk bakar yang lebih murah atau vaporizer yang lebih mahal (sebetulnya lebih hemat dan praktis), namun penggunaan juga harus diuji, jangan ditaruh di ruangan tertutup agar konsentrasi uap racun tidak membahayakan kita.

Cara praktis ini saya pilih juga atas pertimbangan perbandingan risiko kalau kita sudah kena DBD, yang sudah kejadian pada teman-teman saya dan anggota keluarganya, dibandingkan risiko minimal yang mungkin kita rasakan saat menggunakan dua cara ini. Sampai saat ini saya pribadi masih mencari dan memikirkan cara-cara alami untuk menggantikan dua cara itu yaitu menggunakan repelen alami dan vaporize alami. Sayangnya, belum ketemu yang baik dan praktis.

Cara lain yang bisa menjadi harapan cerah di masa depan untuk mencegah DBD ini, yaitu melalui imunisasi. Memang sudah ada produk vaksin DBD perdana yang sudah beredar. Namanya Denvaxia. Lahir setelah melalui waktu 20 tahun penelitian dengan biaya 1,65 triliun dolar amerika, melibatkan 40.000 orang subjek penelitian. Meski pun sudah dipakai di Meksiko, sebentar lagi digunakan oleh Filipina, namun efektifitas vaksin DBD ini diperkirakan masih sekitar 60 persen dengan jenis varian virus (serotipe) yang tidak sama persis dengan di Indonesia, jadi bisa kurang efektif seperti halnya vaksin Influenza. Harga diperkirakan sekitar 300 ribuan rupiah. Dan pemerintah menjanjikan vaksin ini akan masuk menjadi vaksin dasar alias gratis.

Semoga kita semua terhindar dari gigitan nyamuk dan DBD ini. Aamiin.

Bacaan lebih lanjut:

Kafe Kucing di Jogja


P60206-202134Akhirnya Jogja mempunyai kafe kucing juga. Mungkin pemiliknya terinspirasi dari kafe kucing yang sebelumnya telah ada di Jakarta dan Bandung serta negara lain seperti Jepang dan Amerika. Bagi penggemar kucing seperti saya, dan anak-anak saya, ini merupakan hiburan tersendiri, di tengah kesulitan untuk mengadopsi kucing di rumah sendiri. Selain ibu anak-anak tidak menyukai hewan berbulu ini, juga merasa kasihan karena di rumah suka tidak ada orang. Pernah kejadian anak kucing yang sempat diadopsi sama anak saya yang pertama, “melarikan” diri karena merasa mungkin ga diasuh dengan baik, meski pun makanan dan minuman dipenuhi, namun kebutuhan kucing tidak itu saja, dia butuh bermanja-manja dengan pemiliknya.

Saya beserta adik-adik saya dan ortu penggemar kucing. Pernah mempunyai 17 ekor kucing dalam waktu bersamaan. Karena punya induk 3, sekali lahiran berbarengan. Masih ingat tingkah mereka kalau lonceng makan tiba, pada balapan lari ke lokasi tempat makan disediakan. Sepertinya ini sudah menjadi kegemaran turun-temurun ya, mbah dan nenek saya pun suka memelihara banyak kucing. Nah, kafe kucing ini saya sendiri mengapresiasi karena kucingnya juga terawat dengan baik, pengunjungnya juga merasa nyaman dan tidak takut akan tertular penyakit.

Saya ingat sudah sekitar 5 kali berkunjung ke kedua kafe kucing ini. Di sini selain kita bisa berinteraksi dengan berbagai jenis kucing yang lucu-lucu dan menggemaskan, juga bisa menikmati sajian yang disediakan, terdiri dari makanan seperti sosis bakar, roti bakar, es krim, jus, kopi, susu kocok, makaroni, pisang, kue durian, dsb. Harganya lebih mahal sedikit dari jajanan di warung biasa, ya wajarlah saya kira karena butuh biaya mahal juga untuk melakukan perawatan pada kucing-kucing tersebut.

Pertama tahu ada kafe kucing karena anak saya yang pertama dapat info dari teman sekolahnya tentang kafe ini, lalu hasil browsing di internet, ketemulah alamatnya, yaitu di Miaw Shake Cat Coffee, Jalan Masjid Kuncen (area sebelah utara Pasar Klitikan), No. 25, Jogja. Bukanya dari pukul 16.00 sampai 22.00. Pertama kali ke sini memang kesannya kurang nyaman, keluar bau pesing dari kotoran kucing, AC dan lampu suka mati karena sepertinya daya listriknya ga kuat, kali berikutnya datang sudah tidak mencium bau-bau aneh, tapi listrik ya masih suka mati. Yah, maklumlah mungkin pemiliknya belum punya modal lebih untuk mencari lokasi yang lebih representatif. Satu lagi kafe kucing, berada di antara Komplek UGM dan UNY, tepatnya Jl. Bougenville (Selokan Mataram), nama kafenya Cats and Coffee. Kesannya kafe ini lebih bagus dan bersih, meski pun tempatnya juga sempit, namun variasi jenis kucingnya lebih banyak mulai dari kucing berkaki pendek yang sangat interaktif berjenis langka seperti Munchkin, kucing raksasa jenis Maine Coon, kucing tanpa bulu (benarnya ada bulu tapi tipis banget kayak karpet) yaitu jenis Sphinx, dan sisanya yang terbanyak ras Persia.

Anak-anak akan senang sekali berada di kafe ini karena juga disediakan tools untuk bermain dengan kucing. Meski pun kucing-kucing ini boleh dielus-elus, namun sangat tidak dianjurkan untuk mengangkat, meneriaki, menarik ekor, mengambil foto memakai lampu kilat, memberi makan (kalau saya kadang ngasih makan juga sih dari makanan yang dibeli, hehehe, karena kok kelihatannya ada yang masih lapar….)

Demikian saja tulisan sekilas tentang kafe kucing di Jogja. Silakan yang tertarik ke sana. Tipsnya kalau ga punya cukup uang, dari rumah sudah makan dulu yang kenyang, jadi pesan makanan dan minuman minimalis saja sebagai basa-basi. Meski pun untuk kafe di daerah Kuncen wajib memesan menu makan/minuman sejumlah orang yang masuk ke dalam kafe tersebut. Dan satu lagi, jangan lupa untuk mengabadikan momen-momen yang tak terlupakan di kafe-kafe itu ya…

Salam.

Inaccessible Memory Card!


Malam ini terjadi peristiwa yang cukup membuat saya sedikit khawatir. Sedang asyik chat serius dalam beberapa grup di Whatsapp via emulator Android “Bluestacks di tablet Windows, tiba-tiba muncul notifikasi permintaan untuk mem-format kartu memori microsd 64 GB merek V-Gen, yang memang dulu pernah bermasalah sehingga diklaim garansi karena pernah mati. Beberapa hari ini memang saya online via Windows untuk menggantikan handset Android saya yang tewas layar LCD-nya ketika pulang dari Kota Tegal. Yah, mungkin tergencet saat saya tidur di kursi bis. Hanya retak di bagian atas, namun saya paksakan untuk tetap menggunakannya. Namun beberapa waktu setelahnya tidak sengaja saya menjatuhkan tablet Android kesayangan saya itu. Jadilah retak LCD-nya bertambah, dan ternyata sudah tidak bisa menampilkan hal yang bermakna, hanya sinar putih bercampur dengan bias-bias retakan LCD-nya. Maklum, tablet murah merek Axioo Picopad 7 inchi ini memang sudah sering kebanting, dan selama ini memang tidak ada masalah dengan layarnya karena memang saya beri perlindungan silicone case dan anti gores (lebih tepatnya memang untuk jadi korban goresan). Pelindung layar transparan build in-nya sendiri masih utuh. Tapi memang mungkin dia sudah melewati batas daya tahannya terhadap gencetan dan bantingan. Beberapa bulan lalu tablet Axioo saya ini pernah juga diklaim garansi untuk baterainya yang mengalami bengkak sehingga sering mengalami power drop tiba-tiba. Karena ini sudah lewat masa garansi-nya, saya masih memikirkan apakah menunggu diganti LCD-nya ke IT-Clinic Axioo. Atau terpaksa beli gadget baru. Kebetulan di Smartfren sedang banyak promo, dan saya sedang tertarik dengan Smartfren Andromax R 4G, karena harganya turun drastis dari 1,6 juta menjadi 1 juta. Nah, maksud hati mengulur waktu agar tidak terburu-buru mengganti gadget, jadi online dulu via tablet Windows 10. Eh, ya takdirnya juga terjadi memory loss di tablet Windows ini. Dan yang jelas, apa yang tersimpan di memori internal tablet Axioo-nya juga belum bisa di-back up karena layarnya blank begitu, sedangkan koneksi via USB tidak dalam posisi on untuk akses ke memorinya.

Jadilah saya bisa menulis blog ini lagi sambil menunggu proses penyelamatan data microsd tersebut menggunakan iCare Data Recovery. Ingin mencoba saja software recovery ini setelah melakukan googling dan membaca testimoni di beberapa web, meski pun saya sebelumnya lebih sering menggunakan Get Data Back. Yang membuat saya sedikit khawatir karena isi dari kartu microsd di tablet Windows itu belum semuanya saya back-up karena seingat saya ada beberapa data penting pekerjaan dan file-file penting pribadi. Semoga bisa terselamatkan. Pelajaran berharga dari kejadian ini:
1. Akan mempertimbangkan ulang dengan kuat untuk melakukan full back up dan sinkronisasi secara online melalui aplikasi cloud seperti Dropbox, Google Drive atau OneDrive. Sekuritas adalah isu kedua yang saya pikir dapat diabaikan dibandingkan takdir terjadinya memory loss yang tidak pakai permisi meski pun tanda-tandanya sudah ada, tapi tidak jelas. Pencegahan lebih baik daripada mengobati!
2. Sepertinya akan kapok dengan kartu memori merek tersebut. Mahal sedikit tidak apalah asal handal!
3. Jangan menunggu menyepelekan penyakit gadget meski pun gejala-nya masih ringan. Lakukan antisipasi, back-up… back up… dan… back up!

Karena saya perhatikan proses scanning-nya sekitar 2 jam lebih, jadi saya tinggal tidur saja, insyaAllah dilanjut besok pagi. Itu saja. Semoga nanti tulisan ini bisa diupdate.

23.35 @ 27.12.2015