agama, covid19, kajian islam, kontemplasi, penyakit, salahkaprah

Memaknai Rasa Takut di Era Zombie Vampire Covid19


I am afraid of coronavirus hand drawn vector illustration with sad man crying in cartoon comic style epidemic, from istockphoto.com

Tulisan kompilasi ini muncul karena banyaknya diskusi di berbagai grup whatsapp saya mengenai situasi mencekam penuh ketakutan dengan banyaknya berita hoax dan bukan hoax yang ekstrim, yang satu memberitakan betapa sangat berbahayanya virus corona, yang lain memberitakan bahwa sudah ada yang sembuh dari virus corona, sehingga masyarakat menjadi kurang kewaspadaannya karena menganggap ternyata virus corona bisa hilang, dsb. Semoga tulisan ini bisa memicu kembali semangat menulis saya.

Di era Covid19 ini dapat kita perhatikan berbagai macam sikap manusia, paling ekstrim adalah tidak merasa takut sama sekali dengan virus corona, sedang yang satu lagi merasa takut setengah mati sama virus corona, menjadi paranoid sampai depresi. Lalu bagaimana Islam memandang rasa takut ini, berikut saya paparkan saripati dari berbagai sumber, dan diakhiri kesimpulan dari saya.

—————-

Pengaruh Rasa Takut pada Tubuh dalam Penjelasan Alquran dan Sains

https://techno.okezone.com/read/2017/07/11/56/1733898/pengaruh-rasa-takut-pada-tubuh-dalam-penjelasan-alquran-dan-sains

Setiap manusia dibekali dengan emosi yang secara alamiah dimilikinya. Salah satu jenis emosi itu yakni rasa takut, yang merupakan suatu mekanisme pertahanan hidup dasar, sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu seperti rasa sakit atau ancaman bahaya.

Tak hanya berpengaruh pada perasaan seseorang, rasa takut juga rupanya memiliki pengaruh terhadap tubuh manusia. Dijelaskan dalam buku ‘Sains dalam Alquran’ yang ditulis Nadiah Thayyarah, pengaruh rasa takut telah dibahas dalam Alquran melalui firman Allah.

“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, takutlah semua perempuan yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala perempuan yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya,” Surah Al Hajj Ayat 2.

Dalam ayat ini terkandung isyarat bahwa rasa takut yang berlebihan dapat menyebabkan keguguran kandungan. Hal ini juga telah dibuktikan oleh ilmu kedokteran modern.

Ayat lain menyebutkan, “Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati,” Surah Al Ahzab Ayat 19.

Ayat tersebut mengisyaratkan akan timbulnya gangguan pada gerakan mata saat takut. Hal ini terjadi akibat bertambahnya sekresi adrenalin yang menimbulkan gangguan pada otot dan syaraf yang berfungsi untuk menggerakkan mata.

Surah Al Muzammil ayat 17 juga menerangkan, “Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.” Ayat ini mengisyaratkan bahwa rasa takut yang berlebihan dapat menyebabkan penuaan atau timbulnya uban.

Riset medis menyimpulkan bahwa rambut yang ada di kepala manusia berjumlah sekitar 200.000 helai. Setiap helai memiliki satu pembuluh darah, saraf, otot, kelenjar, dan umbi. Para ilmuwan mengatakan, penyebab langsung timbulnya uban adalah kekurangan suplai darah yang memberi gizi rambut, yang timbul akibat emosi.

Pengaruh lain akibat rasa takut pada tubuh manusia yakni kulit yang merinding. Hal ini juga telah disebut dalam firman-Nya.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah,” Surah Az Zumar Ayat 23.

Neraka dalam Al Quran

https://kumparan.com/kc-tv-kalianyar-corner/nerara-dalam-al-quran

Sejak kecil kita telah mendengar istilah surga dan neraka. Sejak kecil kita telah disodorkan dua pilihan, menjadi orang baik dengan iming-iming surga atau menjadi orang jahat dengan ancaman neraka. Sampai akhirnya, ada kelompok menuduh agama sebagai upaya meninabobokkan masyarakat agar berharap surga dan takut neraka supaya tidak lagi berpikir kehidupan dunia.

Al-Qur’an juga banyak bercerita tentang manisnya surga dan pedihnya neraka. Jika orang melihat dengan pandangan negatif, mereka akan mempertanyakan apa maksud Al-Qur’an menakut-nakuti manusia dengan neraka dan siksanya. Namun jika kita melihat dengan pandangan rahmat. Kita akan tau bahwa Allah bercerita tentang neraka karena kasih sayang dan rahmat-Nya kepada manusia. Allah tidak ingin ada hamba-Nya yang terjerumus ke dalamnya. Seperti seorang ayah yang memberi tahu anaknya bahwa di depan ada bahaya, jangan melewati jalan itu! Apakah ayah itu hendak menakut-nakuti? Sungguh tidak! Itu semua karena kasih sayangnya pada anaknya. Maha Suci Allah atas segala contoh.

Rasul pun sering bercerita tentang surga dan neraka. Bahkan di zaman Imam Ja’far As-Shodiq, salah satu cucu Rasulullah saw, banyak sahabatnya yang datang dan berkata “Wahai putra Rasulullah saw, jadikan kami rindu kepada surga” atau ada orang lain yang berkata, “Hati sedang keras dan gersang, ceritakanlah pedihnya api neraka agar aku bisa melunakkan hatiku agar tidak lagi menuruti hawa nafsu.”

“Maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah 24)

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(At-Tahrim 6)

“Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia Perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(At-Tahrim 6)

“Dan tidak ada makanan (baginya) kecuali dari darah dan nanah.”
(Al-Haqqah 36)

“Setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.”
(Al-Waqi’ah 54)

“Diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong?”
(Muhammad 15)

“Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami Memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.”
(Al-A’raf 41)

—————-

Kesimpulan

  • Maksud Allah memberikan ketakutan manusia ini adalah agar manusia ingat kembali siapa Sang Pencipta mereka. Allah tidak pernah malu menampakkan pelajaran dari hanya sekadar sekumpulan nyamuk yang dapat membuat heboh di sebuah zaman, dan itu serupa ketika Allah memberikan pengajarannya di zaman ini melalui virus corona.
  • Virus Corona adalah bagian cobaan dari hidup manusia, dalam perspektif Islam, sikap yang benar sebagai orang bertaqwa adalah berada di tengah-tengahnya. Arti taqwa sendiri artinya takut dan berhati hati ibarat berjalan di jalanan yang penuh duri. Takut tertusuk duri sehingga membekali diri dengan sebaik-baiknya bagaimana supaya tidak tertusuk duri seperti memperhatikan jalan dengan baik, berjalan perlahan, menggunakan sepatu anti duri, dsb.
  • Virus Corona ini mengingatkan kita akan pentingnya kehidupan di akhirat, corona hanya sebagian kecil cobaan dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaqwaan kita. Sudahkah kita percaya akan adanya makhluk “gaib” bernama corona ini, sebagaimana kita percaya akan adanya makhluk gaib lainnya? Sudahkah kita percaya bahwa virus corona dapat membahayakan bagi kita. Sehingga, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk menghadapi bahaya ini?
  • Takutnya kita kepada virus corona adalah sangat manusiawi. Takutnya kita membaca berita-berita tentang corona juga sangat manusiawi, dan dari kompilasi tulisan di atas pun kita lihat Allah menjadikan rasa takut itu agar manusia senantiasa bertaqwa, berhati-hati, sekaligus waspada, serta menghindari perbuatan-perbuatan yang terlarang. Agar tidak menjadi hanya sekadar takut maka kita mesti mencari hal-hal yang benar tentang virus corona ini, melalui ahlinya, sebagaimana ketika kita mencari info tentang ngerinya api neraka dari ahlinya yaitu para nabi. Lalu ketika kita menyadari bahwa memang virus ini berbahaya, tidak perlu juga kita menjadi takut keterlaluan sampai menjadi timbulnya penyakit mental, karena kita diajarkan oleh agama kita juga bagaimana cara mengelola rasa takut itu, yaitu dengan banyak mengingat Allah. Hanya dengan mengingat Allah, hati kita menjadi tenang, serta membaca kabar-kabar gembira yang membuat kita selalu optimis dan bersemangat dalam menghadapi virus corona ini. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Tetap Semangat Yaa…
dr. WW

agama, doa, inspiring, kajian islam, kontemplasi

Ilmu Ramadhan Flash Sale


flash sale.jpeg

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman selama 1/3 perjalanan puasa bulan Ramadhan ini. Ada fenomena menarik yang sudah umum kita temui di bulan ini, yaitu ramainya tempat ibadah, dan sebenarnya juga seimbang dengan ramainya tempat jajanan, seolah ikut bersaing menyelenggarakan jama’ah jajan tersendiri, yang jelas membuat para jama’ah jajan ini kelihatannya kehilangan momentum sholat Isya berjama’ah dan Tarawih, karena setelah buka puasa, sholat Maghrib dilanjut dengan obrolan seru sambil menyantap jajan dan menyeruput minuman yang dipesan.

Menjerumuskan? Jelaslah…

OK, saya ga mau bahas itu lebih lanjut, saya mau bahas fenomena membludaknya masjid di awal Ramadhan saja. Bagaimana pun turut bersyukur fenomena ini selalu terjadi, meski dapat diramal, seiring Ramadhan akan berakhir, masjid akan kembali sepi, tersisa orang-orang yang biasanya istiqomah (konsisten) ke masjid selain di bulan Ramadhan, fenomena umumnya di negara kita.

Saya pernah membuat tulisan yang berhubungan sama hal ini di https://widodowirawan.com/2013/07/11/lomba-lari-maraton-di-bulan-puasa/

Ada fenomena lain teramati oleh saya, yaitu disebabkan karena terbatasnya ilmu dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Ilmu yang terbatas ini menyebabkan umat yang ke masjid dan melaksanakan ibadah puasa hanya bermodalkan semangat saja atau sekadar ikut-ikutan sehingga berpotensi tidak mendapatkan pahala Ramadhan Flash Sale yang memang sangat fantastis kelipatan pahalanya, bahkan sebaliknya malah menyebabkan dosa dan penyakit.

Melewatkan makan sahur

Makan sahur ada berkah yang besar di dalamnya, berbeda dengan puasa sunnah, puasa di bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk makan sahur, meski pun itu cuma sedikit. Bukan sebaliknya kalau tidak makan sahur lebih baik, toh tetap kuat juga menjalani puasa. Ini pemahaman yang menjerumuskan juga.

“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad)

“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”  (QS. Ali Imran: 17)

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 18)

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Sholat isyroq atau sholat syuruq

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”

Perkara sholat isyroq ini tidak banyak yang mengetahui besar pahalanya, yaitu setara pahala haji dan umroh. Jadi bagi mereka yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji atau umroh, atau pun yang sudah menunaikan sekali pun, dapat mengusahakan pahala yang sama persis dengan melakukan sholat isyroq ini. Sebenarnya sholat isyroq ini adalah termasuk sholat dhuha. Bedanya adalah dia dikerjakan di awal waktu dhuha, yaitu sekitar 15 menit setelah matahari terbit. Cukup 2 rakaat saja.

Di tempat saya matahari terbit sekarang sekitar pukul 05.40, jadi sholat isyroq bisa dikerjakan mulai pukul 05.55. Tidak boleh mengerjakan sholat saat pas matahari terbit, karena merupakan waktu yang terlarang. Sholat isyroq ini terasa sangat berat, bila pahalanya ingin setara haji dan umroh, yaitu harus dikerjakan di masjid, setelah selesai selesai waktu sholat subuh sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas. Artinya ada waktu menunggu sekitar 1 jam lebih sedikit sejak masuk waktu subuh. Pahala ini semakin berlipat bila kita rutin mengerjakan sholat sunnah sebelum sholat subuh, yang derajatnya lebih baik dari pada dunia seisinya. Bayangkan betapa royalnya Allah kepada manusia dalam memberikan pahala. Sholat isyroq sebenarnya tidak hanya bisa dikerjakan di bulan Ramadhan saja. Dia berlaku di semua bulan. Namun spirit Ramadhan ini mestinya memberikan energi lebih, meski pun godaannya juga lebih banyak, sehabis makan sahur dan subuh biasanya rasa kantuk menyerang hebat. Ya wajarlah, makanya pahalanya setara haji dan umroh, hanya orang terpilih yang mau dan mampu. Karena dosa saya sendiri masih banyak sekali, jadi sayang banget kalau tidak mengambil momentum menunggu waktu sholat isyroq ini. Disela-sela menunggu setelah selesai mendengar ceramah pasca sholat Subuh, saya bisa membaca Al Quran dengan halaman yang cukup banyak dari pada waktu lainnya atau berdzikir memuji Allah dan meminta ampun atas dosa-dosa saya.

Berdoa sebanyak-banyaknya

Berdoa adalah salah satu bentuk pengakuan sebagai hamba kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Pengabul Doa. Juga sebagai indikator ketidaksombongan kita, hanya mereka yang sombong yang malas berdoa kepada Sang Penciptanya.

Bulan Ramadhan ini dijanjikan melalui banyak dalil, yang pasti akan ditepati janji itu oleh Allah, sebagai salah satu momentum dan waktu terpanjang saat dikabulkannya doa. Berdoalah sebanyak-banyaknya penuh harap dan tanpa bosan, sehingga kita semakin sadar bahwa kita ini bukanlah siapa-siapa.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) do’a pemimpin yang adil, (2) do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi)

Ramadhan ini sebagai sarana cuci dosa, revitalisasi, dan latihan untuk mempersiapkan energi pada bulan-bulan selanjutnya. Amat sangat sayang untuk dilewatkan dengan hanya sekadar menunaikan kewajiban menahan lapar dan haus saja.

Oh, Ramadhan, tak terasa sebentar lagi engkau akan meninggalkan kami. Atau sebenarnya kamilah yang akan meninggalkan engkau terlebih dahulu karena tidak bersabarnya kami menanti akhirmu. Karena bosan dan benci dengan produk-produkmu, atau karena kami tidak punya ilmu dan semangat untuk membelinya. Maka dari itu kepada Yang Menciptakanmu kami berdoa: Berikanlah kami kesempatan yang luas dan kemampuan untuk membeli produk-produk flash sale-mu. Karena kami ga yakin akan dapat menemui momen flash sale lagi di tahun depan… Berikanlah kepada kami ilmu dan kemudahan untuk meraup sebesar-sebesarnya pahala Ramadhan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalaamiin…

Ramadhan ke-11, 16 Mei 2019