curhat, doa, inspiring, kontemplasi, rumah sakit, yankes

Resolusi 2020


Terus terang, baru ini saya menuliskan benar-benar komitmen untuk 2020, sejak berusia 40 di awal semester kedua tahun 2019, yang kata orang merupakan tahapan kehidupan fase kedua di dunia, titik awal berikutnya yang sangat menentukan, terutamanya saya harus lebih banyak menyerap energi kebijaksanaan, belajar dari para sesepuh dan pakar, menekan ego-ego negatif, belajar menghargai yang muda yang kreatif, berusaha menjadi manusia yang lebih dewasa, menatap jauh ke depan, dan terus melangkah, serta terpenting mengusahakan untuk semakin peduli dengan kehidupan akhirat. Sehingga rasanya sangat perlu merencanakan masa depan secara lebih matang. Tidak hanya sekadar mengalir saja. Umur terbatas, zaman serba tidak pasti, galau selalu ada namun selama mampu berusaha, berdoa dan semakin mendekatkan diri kepada Yang Menciptakan drama-drama dunia ini, drama penuh tantangan, yang jauh lebih rumit dari drakor-drakor itu, insyaAllah akan berlalu dengan lebih mudah dan sederhana. Berlatih keikhlasan dalam beratnya terpaan cobaan hidup. Dan sukses tidak hanya sekadar ditentukan oleh ukuran dunia, tapi kepada seberapa berkenan Sang Pencipta aktor-aktor dunia kepada kita. Kita hanya menjadi sekadar serpihan debu dunia yang tak berbekas sama sekali ditiup angin di mata Sang Sutradara, bila hanya menurutkan ambisi pribadi dunia semata. Merasa nyaman dengan dunia, berpuas diri, kemaruk dengan hidup yang seolah-olah dapat membuat bahagia. Padahal bahagia tanpa tantangan dan ujian itu hanya bahagia semu saja. Bahagia dalam menjalani tantangan dan penderitaan, itu tentu luar biasa, tak mudah, perlu selalu berlatih, dan tak pernah puas berlatih.

Oya, orang yang hidupnya serba merasa bahagia dan mudah, tidak merasa sulit harta/uang, apa pun bisa dibeli, bebas jalan-jalan liburan, rajin beribadah belum tentu masuk surga loh… Tak percaya? Simak deh di bacaan ini: https://rislah.com/apakah-semua-orang-islam-masuk-syurga/

Nah, selanjutnya, saya mau kasih tahu sedikit resolusi tim saya di start up yang penuh tantangan, yaitu Rumah Sakit UII Bantul. Setelah beroperasi hampir 11 bulan – sejak soft opening di 10 Februari 2019, dan grand opening di 24 September 2019 – meski pun banyak yang menyangsikan kami akan mampu survive di kancah perbisnisan rumah sakit, terutama secara lokasi yang saat ini benar-benar menjadi tantangan, ditambah dengan modal kemewahan yang dilekatkan kepada kami, sehingga melahirkan sebuah image kontras dengan strategi harga layanan yang perlahan ternyata mampu mendobrak image: mewah, nyaman, bersih, wangi, berkualitas itu harus mahal.

Saya ga mau berkecap ria secara pribadi, silakan baca saja testimoni tentang Rumah Sakit UII yang banyak bertebaran di google dan media sosial:


Tentu harapannya, kami ke depan mampu mempertahankan prestasi itu bahkan harus meningkatkannya. Silakan simak rekaman resolusi komitmen saya dan tim di video berikut:

Lalu, apa resolusi pribadi saya di tahun 2020?

  1. Membawa Rumah Sakit UII semakin melejit. Kami mempunyai tantangan yang cukup berat di tahun 2020, di tengah usaha mempersiapkan akreditasi RS, juga harus tetap fokus mengejar target revenue dan melakukan efisiensi yang ketat. Alhamdulillah target tahun 2019 tercapai dengan baik. InsyaAllah dengan optimisme yang baik dan kekompakan tim di semua lini, selalu dibantu doa, insyaAllah akan dapat mencapai target di 2020. Aamiin.
  2. Bisa semakin dekat sama keluarga. Sebenarnya ini resolusi terbesar saya. Saya sangat berharap bisa membuat keluarga inti semakin solid, bahagia, rukun, ceria, intim, penuh cinta dan kehangatan. Saya sangat merasa sebagai suami dan bapak, masih kurang dalam segala hal. Senang bisa memulai tadarus Quran bersama istri di masa liburan anak-anak ini yang merupakan idaman dari dulu. Nanti bisa dilanjut sama anak-anak juga. Semakin dekat sama anak pertama yang menjelang masuk SMP, saya sangat berharap bisa lekat lagi seperti waktu masih balita, dalam suasana yang lain tentunya. Semakin bisa juga, harapannya mendampingi anak kedua belajar, meringankan beban istri saya yang memang penuh energi mendampingi anak difabel kesayangan kami. Mohon doanya. Tambahan video kiriman dari istri, berikut…
  3. Melanjutkan target yang gagal di 2019, menulis buku. Semoga bisa tercapai di tahun 2020. Mengapa saya masih sangat berambisi menulis buku. Ya, katanya buku itu merupakan salah satu warisan abadi, amal jariyah untuk mengikat ilmu agar tak hilang menguap selepas meninggalkan dunia fana. Apalagi setelah membaca sebuah kutipan dari seorang penulis, yang merupakan modifikasi quote legendaris dari Imam Ghozali: bila kamu bukan keturunan bangsawan, ilmuwan atau hartawan, maka menulis (buku) akan membuatmu kekal dan selalu dikenang. Aamiin. (https://masnurulhilal.wordpress.com/2017/02/19/imam-ghozali-jika-kau-bukan-anak-raja-menulislah/)
  4. Umroh bersama istri, memang ini istri yang minta dan saya mengiyakan, katanya mau berdoa di Makkah, semoga tercapai, aamiin ya Allah…
  5. Lebih bisa rutin menulis di blog ini, yang juga merupakan media abadi, selama internet masih ada di dunia, semoga…

Nah, sedikit aja kan resolusinya, kalau banyak-banyak entar malah jadi ga fokus, terutama fokus dulu sama diri dan keluarga serta terhadap situasi sekarang, senantiasa berdoa dan berharap masih ada waktu hidup di dunia di tahun-tahun berikutnya agar bisa lebih bermanfaat dan menorehkan resolusi-resolusi selanjutnya, semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan kesabaran, aamiin…

31 Desember 2019

curhat, deafness, gadget, hearing impairment, kontemplasi, menulis, tunarungu

Edukasi Koersif Untuk Anak, Perlukah?


Lama tidak berefleksi dalam tulisan. Judul tulisan ini pun melintas sekilas tapi masih membekas cukup kuat, memberikan daya kepada saya membuka aplikasi notepad di laptop tua yang sudah berkonversi menjadi desktop abal-abal karena LCD-nya telah pensiun, dan terlalu mahal hanya untuk menggantinya karena sudah langka di pasaran. Jadilah saya coba menulis kembali, sedikit saja dulu, buat pemanasan kembali.

Ceritanya, anak bungsu saya yang tuna rungu, maghrib ini tumben mengambil mukenanya dan pengen ikut sholat ke Masjid. Sregep begitu. Saya langsung ter-flashback ke satu hari lalu, manakala si adek mulai malas-malasan lagi buat sholat. Ibunya ikut uring-uringan susahnya sekarang diajak sholat. Sebagai anak tuna rungu, menguasai konsep pemahaman berbau abstrak itu sangat-sangat-sangat sulit bagi anak saya ini. Selama ini anak bungsu saya ini masih belajar kosa kata dan kalimat sederhana seputar kata benda, kata kerja, kata sifat. Dengan pengertian yang masih-masih sangat simpel. Tentu itu tidak dapat selalu memuaskan dia. Terbukti, bertubi-tubi sekarang Nadifa memberondong dengan kata tanya “apa” dan “mana”. Kita sendiri yang ikut pusing karena harus memikirkan dan mengucapkan dalam bahasa yang juga tidak gampang bisa dimengerti oleh anak berkebutuhan khusus seperti anak saya. Termasuk saya pikir dalam konsep sholat ini: mengapa dia perlu sholat. Dalam bentuk perluasan lain: mengapa dia perlu berdoa, mengapa dia perlu belajar, dan sebagainya. Sampai sekarang misalnya, ini ibunya yang omong ke saya: Nadifa di umur yang hampir 9 tahun, baru tahunya kalau uang di dompet ortunya sudah habis, tahunya dia ambil ke ATM. Dengan kombinasi bahasa isyarat dia minta ambil uang ke ATM. Walah nduk… nduk… uang itu perlu dicari melalui bekerja. Bukan minta ke ATM…. ūüėÄ

Kalau hanya konsep sehari-hari keduniawian lain seperti: mengapa harus cuci tangan, gosok gigi, mandi, mengapa harus tidur tidak kemalaman, mengapa harus makan, itu lebih gampang. Mandi supaya hilang bau badan dan tidak kotor. Cuci tangan sebelum makan supaya tidak kotor dan jadi sakit. Gosok gigi juga begitu. Dan ajaibnya anak bungsu saya ini, aslinya lebih fanatik terhadap suatu konsep dibanding kakaknya yang normal. Saklek banget begitu. Kotor dikit ga mau, bau dikit ga mau. Rajin sekali sikat gigi, sampai-sampai dokter gigi favorit langganan saya, tadi periksa Nadifa bilang: oke banget giginya, belum ada yang lobang. Selain itu, selalu memperhatikan simbol-simbol larangan di tempat-tempat umum dan suka perhatian bahkan marah sama ortunya kalau kasih toleransi dikit sama simbol-simbol larangan itu. Misal simbol dilarang membawa kamera, simbol dilarang membawa makanan minuman, dan sebagainya. Hitam putih begitu.

Jadilah saya manfaatkan juga pola pikir yang masih hitam putih ini untuk memberikan pemahaman kepada dia, mengapa harus sholat. Saya bukakan youtube dan cari kata kunci “tidak sholat neraka”. Muncul banyak video edukasi yang sedikit mengerikan bagi anak seumur dia. Tapi dia malah mendekat dan tertarik. Saya bukakan satu video yang menayangkan orang yang rajin sholat, lalu orang yang tidak sholat, dibakar pakai api di neraka, lalu ada tayangan ular neraka bernama Syuja’ul Aqra’ yang amat bengis kepada penghuni neraka yang semasa hidupnya malas atau jarang atau tidak sholat sama sekali. Ularnya mirip naga dinosaurus gitu. Sebagai maniak dinosaurus, Nadifa antusias dan kelihatan amat membekas. Habis lihat tayangan itu dia segera sholat. Dan maghrib tadi masih membekas, ikut bapaknya sholat ke masjid.

Mungkin banyak ortu yang tidak setuju cara mendidik anak seperti ini. Dengan cara komunikasi koersif, kekerasan, atau minimal menampilkan kekerasan? Entahlah. Tapi dalam agama mengajar itu bisa dengan lemah-lembut, tapi juga bisa dengan koersif, peringatan bahkan “kekerasan” atau lebih enak: ketegasan, bahasanya ya. Saya, alhamdulillah sudah ga pernah “main tangan dan kaki” lagi sekarang mengajarin anak-anak. Emosi sudah jauh lebih terkendali. Itu pun karena anak-anak saya yang justru jadi guru saya dalam belajar mengendalikan emosi. Syukur yaa Allah diberi amanah anak-anak hebat ini…

Saya semoga tidak banyak-banyak menggunakan cara komunikasi koersif ini untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak. PR masih amat banyak, pengendalian diri sendiri yang masih amat susah, apalagi memberi contoh, itu yang paling amat susah. Televisi sudah lama disingkirkan, dan saya juga ikut kena imbas tidak bisa nonton TV lagi. Gadget handphone, masih susah, masih sering dicerewetin sama istri, ya meski kadang juga saya ganti cerewetin hehe… . Mandi pun begitu, masih suka suruh-suruh anak mandi duluan, bapaknya sendiri masih belum mandi saat tulisan ini dibuat… Selain itu saya memang harus terus belajar membagi waktu dan menghimpun energi lebih besar, lebih banyak mencari modul-modul bagi anak-anak saya yang pembosan ini, sama dengan bapaknya, pengennya belajar yang baru terus.

Monjali, 9 Juli 2018. Pukul 21.30.

*Bersiap mandi ūüėÄ

blacberry, curhat, gadget, internet, tips

Moody buat menulis? Bagaimana mengatasinya?


Moody? Saya banget itu! Menulis itu salah satu aktivitas yang sangat baik untuk me-recall informasi yang telah kita dapatkan melalui indra kita. Menulis juga sebagai ajang aktualisasi diri dan saling berbagi, menulis juga salah satu cara mengurangi tingkat stresor meski tergantung juga dengan apa yang akan ditulis (kalau menulis tesis ya tetap makin stres, hahaha…), menulis bahkan dapat mencegah penyakit lupa ingatan yang dalam dunia medis disebut demensia.

Sejak nge-trend-nya dunia blogging, menulis menjadi salah satu primadona bagi netizen (penduduk dunia maya), berbeda dengan virtual social networking (jejaring pertemanan maya), motif orang melakukan aktifitas menulis dalam blognya lebih beragam. Bagi saya sendiri seperti alasan yang saya kemukakkan di atas. Ada kalanya menulis dalam blog (diari online) yang berasal dari kata “web logging” sangat memberikan bantuan bagi diri saya sendiri untuk meninjau kembali momentum dari hal-hal yang pernah saya lakukan dalam hidup. Bahkan dari hal yang terkecil sekali pun, saya sedikit galau bin kecewa ketika saya susah untuk mengingat kapan saya membeli suatu barang yang menggunakan angsuran melalui kartu kredit saya. Meski hal itu bisa dilacak dari dokumen transaksi, namun mencari dokumen itu lebih sulit daripada membuka laptop, terus mengetikkan di google mengenai sesuatu yang pernah saya tulis. Bukankah justru hal ini yang saya maksud mengurangi stres. Maklumlah pengarsipan offline saya sungguh berantakan.

Selain itu, menulis hal-hal seputar dunia saya (medis) ternyata selain berguna bagi diri sendiri juga berguna bagi orang lain seperti “bagaimana cara mencegah penularan cacar air” yang ternyata banyak yang menanyakan. Dan untuk itu saya tidak harus berulang-ulang cerewet, cukup memberikan tautan (link) ke tulisan di blog saya yang berhubungan dengan hal tersebut.

Menulis itu sulit kalau tidak dimulai dari hal yang menyenangkan, hal yang menyenangkan biasanya terkait dengan hidup keseharian kita seperti aktifitas mengasuh anak, kegiatan seputar hobi, dan lain sebagainya. Makanya saya tidak membatasi apa yang akan saya tulis. Selain malah membuat stres juga karena saya memiliki sifat moody yang sangat parah.

Sulit kalau harus menargetkan tulisan kapan selesai dan naik tayang di blog. Harus meluangkan waktu khusus di depan laptop? Susah itu bagi saya, karena di laptop saya senangnya browsing buat membaca dan instalasi program-program atau hal lain yang memang harus pakai laptop. Akhirnya saya mencoba menerapkan tips simpel bagi diri saya sendiri. Saya mengoptimalkan ponsel yang saya bawa. Kebetulan saya membawa Blackberry (a.k.a. BB) jadul merek Huron 8830 yang saya persenjatai dengan Smartfren. Kadang saya juga membawa ponsel android saya yang juga dipersenjatai Smartfren. Maklumlah saya penggemar berat Smartfren meski dulu beberapa kali pernah dikecewakan. Namun ternyata menulis di ponsel yang memiliki keypad fisik itu jauh lebih enak dibanding dengan keypad virtual yang touchscreen itu. Keypad fisik QWERTY memberikan sensasi yang justru tidak melelahkan, meskipun sebentar lagi akan keluar jenis keypad fisik yang bisa timbul dari layar sentuh.

Meskipun belum optimal, selain karena pakai BB kuno – tapi keypadnya empuk dan renyah (emang kerupuk), juga belum bisa langsung posting ke blog ini karena saya biasanya cuma memakai paket BB untuk BBM dan Push Email saja. Jadi kalau mau upload tulisan setelah selesai diketik di BB, mesti diemail dulu, lalu emailnya dibuka di tempat yang ada koneksi internet buat upload seperti laptop atau android saya dan dipindahkan ke blog. Ga repot sih, meski ada cara langsung dari push email bisa langsung tayang di blog, cuma belum saya coba, mungkin di waktu lain. Dan bagi saya waktu terlama itu ya, membuat tulisannya. Untuk tulisan ini saja sampai berhari-hari baru selesai, karena membuatnya dicicil saat-saat senggang (daripada bengong atau cuma BBM-an ga jelas, hehe…) seperti saat saya menunggu Nadifa (anak saya) yang sedang diterapi wicara atau terapi okupasi. Bisa juga saya mengetik saat lagi di parkiran ketika menunggu orang, ya pas lagi kosong dan malas bengong tapi juga sedang ada mood menulis, ya langsung melanjutkan tulisan yang saya simpan di Memopad-nya BB.

OK-lah, akhirnya selesai juga tulisan ini ketika saya sedang di RS tempat saya kerja, sambil nunggu Nadifa terapi okupasi. Semoga berguna dan memicu ide yang lebih bagus dari teman-teman. Mohon kalau ada ide lain, jangan segan memberitahu saya. Terimakasih.

curhat, tunarungu

Menaklukkan Nadifa, si picky eater


Sebenarnya ya, takluknya cuma sesaat, banyak ga takluknya sih. Berbeda dengan kakaknya, Nadifa adalah seorang batita yang super picky eater. Ortunya lumayan stres menghadapi putri kemayu ning gratilan bin¬†petakilan ini, apalagi Ibunya tuh yang paling stres… Ingat ga Bu, dulu waktu masih di Jakarta, ada tetangga depan yang¬†ibunya hobi ngeplakin anaknya yang susah makan, jadi sambil makan gitu sambil menempeleng, jadilah si anak¬†makan sambil nangis, anaknya sih sudah lewat balita klo ga salah ingat. Si ibu ngomong, seingat saya: “kamu¬†itu, makan sulitnya minta ampun, bersyukur kamu masih bisa makan, lihat tuh banyak orang yang ga bisa¬†makan!”
Lah, tapi sama Nadifa, masa mau diterapkan seperti itu? yang ada dia cuek aja, lah ga dengar gitu,¬†hahaha…
Berbagai cara kita coba dan cari inovasi-inovasi sesuai referensi juga sih. Dulu Ifa, kakaknya jadi gemuk¬†karena terlalu sering dicekoki susu sama pembantu, dan memang lebih banyak makannya, tapi ya ga se-picky¬†Nadifa. Buktinya sekarang hobi utamanya ya makan dan ngemil sampe udah bisa kasih jawaban konsisten¬†ketika ditanya sama orang, “Wah, kamu kok gemuk ya?” Dijawab: “Karena banyak makan, karena banyak¬†minum susu…” hahaha… Di episode pamer keperkakasan, eh…keperkasaan kemarin bisa lihat sendiri¬†buktinya deh…
Nah, Nadifa ini betul, butuh ekstra banget, sangat tidak konsisten untuk masalah makan. Sempat lama juga dia makan pake makanan yang diblender, habis klo makan padat dikit dilepeh terus, selalu begitu, daripada ga masuk asupan gizi, akhirnya dibuat cair atau semi cair, pokoknya nasi dan lauk pauk diblender gitu, dibantu sama pembantu, diajak kelililing kampung, sambil makan, tapi tetap aja sulit habisnya. Di sekolah ya sama aja, awalnya saja ketika ada perubahan suasana, lahap makannya, setelah itu ya kembali ke selera asal, hahaha.
Nah, ga ada pembantu sekarang ini jauh lebih repot. Hari ini ibunya laporan ga mau makan juga tuh anak. Udah dikeluarin segala macam jenis makanan dan lauk, termasuk sereal energen yang sempat jadi favoritnya, sama aja. Yang belum bosan tuh ya, susu sama jus-jus gitu deh seperti jus jeruk dan jambu.
Beberapa minggu lalu ibunya beli abon, eh si Nadifa ternyata suka, jadilah lebih kurang 2-3 hari, makannya lahap cuma pake nasi+abon, kadang tambah kuah dikit, diselingi dengan jus jeruk. Namuuun, itu cuma bertahan sebentar, habis itu ga mau lagi, cuma banyak minum jusnya aja.
Nadifa juga suka sayur lodeh/bersantan gitu, sekali waktu lahap, sekali waktu ya mandeg, ya sama aja, ga¬†bisa juga bisa dibilang sukalah, hahaha….
Klo makan di luar sih kadang mau makan, itu pun klo ketemu jodoh makanan yang tepat, seperti mie ayam,¬†tumben waktu itu lahap makan mie ayam di Indogrosir dan minum jus jeruk dan jambu biji habis banyak¬†sampe beol deh, parah….
Akhirnya ibunya bikin lagi mie telur, tapi sekali lagi cuma bertahan sebentar. Lalu tiba-tiba Nadifa suka makan¬†pake kentang goreng saja, lalu mandeg, lalu tiba-tiba senang dengan nuget ayam, lalu mandeg lagi, begitu¬†seterusnya. Bahkan terakhir kemarin pagi dan sore makan pake sup mie Promina, sebelumnya sih udah¬†sempat bosan, tapi kemarin itu maunya karena apa coba…? karena wadahnya berbeda, pake ini nih wadah¬†makannya…
Pusing kan… jadinya setiap malam sudah mulai lagi dicekoki susu campur ekstra protein kedele beli dari apotek. Klo beli langsung borong, murah sih 4 ribuan gitu per sachet. Plus ditambah vitamin berwujud sirup gitu setiap harinya.
Tolong dong, klo masih ada ide yang sudah pengalaman dengan anak yang picky eater. Rencana sih ya nanti makanan-makanan yang disukai itu diputar aja alias diulang secara periodik, trus wadahnya digonta-ganti gitu, sama suasana makannya juga diubah-ubah deh… yang terakhir ini yang sulit, ga telaten.
curhat, dokter, salahkaprah

Dokter Spesialis dan Kemapanan


Saya sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk mengambil pendidikan spesialis. Sudah sangat kebal bagi saya setiap kali orang menanyakan: “Dokter spesialis apa?”, atau “Sudah spesialis apa, Dok?”, “Kapan ngambil spesialis, Dok?”

Entah apa yang ada dibenak para penanya tersebut. Namun saya menduga sebagian besarnya adalah sama karena menganggap mungkin menjadi spesialis itu lebih mapan terutama dari sisi finansial. Pernah ini terpikir pada saat ngobrol dengan tetangga yang juga sukanya membanding-bandingkan saya, yang dokter umum dengan tetangga baru yang dokter spesialis jantung (anak) dengan rumahnya yang gede mentereng. Bahkan mungkin dengan maksud memanas-manasi saya, tetangga itu bilang bahwa dokter spesialis jantung itu juga masih muda seperti saya, yang ternyata belakangan saya tahu ternyata dokternya udah bangkotan, hahaha….
Biasanya saya langsung mengunci dialog, bila ada yang menanyakan hal itu, saya akan langsung ngomong: “saya lagi S2”, atau “saya sedang fokus karir di RS dulu”, atau klo teman dekat yang nanya langsung saya bilang: “blum ada duit.” hahaha. Baru biasanya mereka ga tanya-tanya atau meremehkan lagi.
Apapun kata orang, tapi saya ingin meluruskan bahwa dokter itu punya banyak jenjang karir, bukan hanya spesialis saja. Bahkan trennya sudah banyak yang ga ngambil spesialis  karena berbagai hal, misalnya (yang positif saja ya):
  1. Karena sudah mapan menjadi dokter umum, terutama mereka yang praktik di perifer/daerah terpencil, mereka sudah jadi raja di sana.
  2. Lebih memilih untuk menjadi bisnismen, dan bisnisnya udah sukses, jadi kalau orientasinya cuma duit, untuk apa ngambil pendidikan spesialis.
  3. Lebih fokus menjadi ibu rumah tangga, ini terbukti dengan teman-teman sejawat saya yang sudah menjadi ibu bagi anak-anaknya, memang mereka sebagian besar sudah mapan, ortu dan suaminya sudah kaya, jadi ga mikir macam-macam lagi.
  4. Lebih memilih karir di birokrasi yang ternyata lebih banyak duitnya dan bahkan lebih bebas mengatur orang atau dokter, misalnya jadi pejabat di Kementerian Kesehatan.
  5. Lebih memilih karir manajemen seperti di RS, ya seperti saya ini contohnya, bisa mengatur banyak orang, hidup lebih santai, bisa pergi lebih bebas, dan tidak selalu terikat jam kerja kantor, itu menurut saya yang saya rasakan, dibandingkan saya praktik seperti kejar setoran pada zaman baheula. Lalu apakah saya tidak punya minat untuk spesialis, ya tentu tetap ada, tapi saya akan melihat-lihat perjalanan karir saya dulu. Ada banyak rencana dalam hidup saya daripada hanya fokus untuk menjadi spesialis.
  6. Bagi sejawat yang baca ini, silakan ditambahkan ya…
curhat, dokter

Dokter Spesialis dan Kemapanan


Saya sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk mengambil pendidikan spesialis. Sudah sangat kebal bagi saya setiap kali orang menanyakan: “Dokter spesialis apa?”, atau “Sudah spesialis apa, Dok?”, “Kapan ngambil spesialis, Dok?”
Entah apa yang ada dibenak para penanya tersebut. Namun saya menduga sebagian besarnya adalah sama karena menganggap mungkin menjadi spesialis itu lebih mapan terutama dari sisi finansial. Pernah ini terpikir pada saat ngobrol dengan tetangga yang juga sukanya membanding-bandingkan saya, yang dokter umum dengan tetangga baru yang dokter spesialis jantung (anak) dengan rumahnya yang gede mentereng. Bahkan mungkin dengan maksud memanas-manasi saya, tetangga itu bilang bahwa dokter spesialis jantung itu juga masih muda seperti saya, yang ternyata belakangan saya tahu ternyata dokternya udah bangkotan, hahaha….
Biasanya saya langsung mengunci dialog, bila ada yang menanyakan hal itu, saya akan langsung ngomong: “saya lagi S2”, atau “saya sedang fokus karir di RS dulu”, atau klo teman dekat yang nanya langsung saya bilang: “blum ada duit.” hahaha. Baru biasanya mereka ga tanya-tanya atau meremehkan lagi.
Apapun kata orang, tapi saya ingin meluruskan bahwa dokter itu punya banyak jenjang karir, bukan hanya spesialis saja. Bahkan trennya sudah banyak yang ga ngambil spesialis karena berbagai hal, misalnya (yang positif saja ya):
  1. Karena sudah mapan menjadi dokter umum, terutama mereka yang praktik di perifer/daerah terpencil, mereka sudah jadi raja di sana.
  2. Lebih memilih untuk menjadi bisnismen, dan bisnisnya udah sukses, jadi kalau orientasinya cuma duit, untuk apa ngambil pendidikan spesialis.
  3. Lebih fokus menjadi ibu rumah tangga, ini terbukti dengan teman-teman sejawat saya yang sudah menjadi ibu bagi anak-anaknya, memang mereka sebagian besar sudah mapan, ortu dan suaminya sudah kaya, jadi ga mikir macam-macam lagi.
  4. Lebih memilih karir di birokrasi yang ternyata lebih banyak duitnya dan bahkan lebih bebas mengatur orang atau dokter, misalnya jadi pejabat di Kementerian Kesehatan.
  5. Lebih memilih karir manajemen seperti di RS, ya seperti saya ini contohnya, bisa mengatur banyak orang, hidup lebih santai, bisa pergi lebih bebas, dan tidak selalu terikat jam kerja kantor, itu menurut saya yang saya rasakan, dibandingkan saya praktik seperti kejar setoran pada zaman baheula. Lalu apakah saya tidak punya minat untuk spesialis, ya tentu tetap ada, tapi saya akan melihat-lihat perjalanan karir saya dulu. Ada banyak rencana dalam hidup saya daripada hanya fokus untuk menjadi spesialis.
  6. Bagi sejawat yang baca ini, silakan ditambahkan ya…
Pic dari
sini
curhat, livinginjogja, open source, pernik, tips

TIPS – Bila Tak Ada Pembantu


Ini sudah hari kedua tanpa pembantu rumah tangga, karena Bi Inem, begitu biasa dipanggil anak saya, akhirnya resign setelah hampir setahun menjadi bagian dari keluarga kami dengan mengajukan alasan diminta suaminya pulang ke kampung.
Sejak hampir 4 tahun punya anak, kami memang baru 2 kali punya pembantu rumah tangga. Susyehnye cari pembantu itu sudah rahasia umum kayaknya. Susyeh dalam artian cari yang awet itu dan ga musingin kepala tingkahnya. Tapi ini benar-benar mustahil bagi kami, pasti selalu ada masalah.
Ya, udah ga usah membahas itulah, meski pun kami tetap berharap bisa mendapatkan segera pembantu lainnya.
Tips ini seperti, mungkin, tips keluarga lainnya yang tanpa pembantu dalam hidup mereka *ssyiaah! Simak deh:
1. Harus ga malas bangun pagi sekali, telat dikit, pasti berabe ke arah belakangnya. Mana hari Senin ini istri saya upacara lagi, biasanya yang rebutan untuk berangkat dulu-duluan itu di hari Jumat, karena sama-sama ada jadwal senam.
2. Bagi tugas, tapi sebenarnya bagi tugas ini ga mutlak, yang penting saling mengisi, jangan saling menunggu¬†(saya sih masih suka diingatkan karena sering menunggu ini), misal: istri lagi menyuci pakaian, ya kita nyuci¬†piring dan gelas kotorlah, istri lagi masak, ya kita ngasih makan anak, istri nyiapin perlengkapan anak¬†sekolah, ya kita mandi’in anak.
3. Memanfaatkan tetangga. Ini memang harus punya hubungan baik dengan tetangga, saya perhatikan dua¬†hari ini halaman rumah saya yang seuprit selalu bersih dan ada bekas-bekas sapu lidi. Nah, tadi pagi saya¬†memergoki bapak tetangga depan yang orang Nasrani, lagi nyapu’in halaman rumah saya, tentu saja sekalian¬†dengan halaman rumahnya dia dong. Eh, tapi ini ga baik kan ya? memanfaatkan…., hahaha, habis, ya saya memang masih belum¬†sempat nyapu-nyapu halaman lagi, internal rumah saja belum tersapu.
4. Outsourcing alias pake jasa pihak ketiga yang berbayar (tentu), ya itung-itung sebagai ganti pembantu,¬†seperti jasa laundry. Ini istri kemarin sore sudah pergi ke laundry dengan 6 kilogram pakaian kusut siap di¬†setrika, sekaligus survey, ternyata ada yang di dekat rumah, dan sekalian hari ini petugas laundrynya akan¬†mulai melakukan antar-jemput pesanan, hehehe… murah habis sekitar 9 ribuan, brarti sekitar 1500 rupiah¬†per kilo. Masalah klasik dengan laundry biasanya telat nganter dan kadang ga beres setrikaannya, jadi¬†diantisipasi dengan mengontrak 2 tempat laundry.
5. Masak sendiri? kemarin walau ada pembantu pun kita ga rekomen untuk masak, selain buang waktu dan¬†seringnya ga enak masakannya, juga ternyata budgetnya malah mahal. Maka ¬†2 bulanan pake jasa outsourcing¬†katering, murah juga oiy…, cuma 15 ribu per hari, untuk 6 hari jadi 90 ribu atau 360 ribu per bulan. Hari¬†Ahad difokuskan variasi makanan lain, bisa beli lagi di luar atau masak sendiri, tergantung selera dan budget,¬†hihi…
6. Penitipan anak, di awal dulu ini yang paling pusing, sempat pernah sekali-dua kali dititip tetangga, namun ternyata tetangga yang ini suka mengungkit-ngungkit “kebaikannya” dan disalahgunakan, jadi kita ga berharap akan seperti itu lagi. Alhamdulillah kedua anak kami, Ifa dan Nadifa, sudah sekolah play group semua, dan pulang sampai pukul 15/16. Jadi aman deh…
7. Lainnya? sumbang saran ya… karena rumah masih berantakan, belum disapu, belum dipel, tempat tidur¬†masih awut-awutan, nanti sore juga masih ga kepikir mau ndulangin anak makan karena udah capek…
Pic dari sini