curhat, deafness, gadget, hearing impairment, kontemplasi, menulis, tunarungu

Edukasi Koersif Untuk Anak, Perlukah?


Lama tidak berefleksi dalam tulisan. Judul tulisan ini pun melintas sekilas tapi masih membekas cukup kuat, memberikan daya kepada saya membuka aplikasi notepad di laptop tua yang sudah berkonversi menjadi desktop abal-abal karena LCD-nya telah pensiun, dan terlalu mahal hanya untuk menggantinya karena sudah langka di pasaran. Jadilah saya coba menulis kembali, sedikit saja dulu, buat pemanasan kembali.

Ceritanya, anak bungsu saya yang tuna rungu, maghrib ini tumben mengambil mukenanya dan pengen ikut sholat ke Masjid. Sregep begitu. Saya langsung ter-flashback ke satu hari lalu, manakala si adek mulai malas-malasan lagi buat sholat. Ibunya ikut uring-uringan susahnya sekarang diajak sholat. Sebagai anak tuna rungu, menguasai konsep pemahaman berbau abstrak itu sangat-sangat-sangat sulit bagi anak saya ini. Selama ini anak bungsu saya ini masih belajar kosa kata dan kalimat sederhana seputar kata benda, kata kerja, kata sifat. Dengan pengertian yang masih-masih sangat simpel. Tentu itu tidak dapat selalu memuaskan dia. Terbukti, bertubi-tubi sekarang Nadifa memberondong dengan kata tanya “apa” dan “mana”. Kita sendiri yang ikut pusing karena harus memikirkan dan mengucapkan dalam bahasa yang juga tidak gampang bisa dimengerti oleh anak berkebutuhan khusus seperti anak saya. Termasuk saya pikir dalam konsep sholat ini: mengapa dia perlu sholat. Dalam bentuk perluasan lain: mengapa dia perlu berdoa, mengapa dia perlu belajar, dan sebagainya. Sampai sekarang misalnya, ini ibunya yang omong ke saya: Nadifa di umur yang hampir 9 tahun, baru tahunya kalau uang di dompet ortunya sudah habis, tahunya dia ambil ke ATM. Dengan kombinasi bahasa isyarat dia minta ambil uang ke ATM. Walah nduk… nduk… uang itu perlu dicari melalui bekerja. Bukan minta ke ATM…. 😀

Kalau hanya konsep sehari-hari keduniawian lain seperti: mengapa harus cuci tangan, gosok gigi, mandi, mengapa harus tidur tidak kemalaman, mengapa harus makan, itu lebih gampang. Mandi supaya hilang bau badan dan tidak kotor. Cuci tangan sebelum makan supaya tidak kotor dan jadi sakit. Gosok gigi juga begitu. Dan ajaibnya anak bungsu saya ini, aslinya lebih fanatik terhadap suatu konsep dibanding kakaknya yang normal. Saklek banget begitu. Kotor dikit ga mau, bau dikit ga mau. Rajin sekali sikat gigi, sampai-sampai dokter gigi favorit langganan saya, tadi periksa Nadifa bilang: oke banget giginya, belum ada yang lobang. Selain itu, selalu memperhatikan simbol-simbol larangan di tempat-tempat umum dan suka perhatian bahkan marah sama ortunya kalau kasih toleransi dikit sama simbol-simbol larangan itu. Misal simbol dilarang membawa kamera, simbol dilarang membawa makanan minuman, dan sebagainya. Hitam putih begitu.

Jadilah saya manfaatkan juga pola pikir yang masih hitam putih ini untuk memberikan pemahaman kepada dia, mengapa harus sholat. Saya bukakan youtube dan cari kata kunci “tidak sholat neraka”. Muncul banyak video edukasi yang sedikit mengerikan bagi anak seumur dia. Tapi dia malah mendekat dan tertarik. Saya bukakan satu video yang menayangkan orang yang rajin sholat, lalu orang yang tidak sholat, dibakar pakai api di neraka, lalu ada tayangan ular neraka bernama Syuja’ul Aqra’ yang amat bengis kepada penghuni neraka yang semasa hidupnya malas atau jarang atau tidak sholat sama sekali. Ularnya mirip naga dinosaurus gitu. Sebagai maniak dinosaurus, Nadifa antusias dan kelihatan amat membekas. Habis lihat tayangan itu dia segera sholat. Dan maghrib tadi masih membekas, ikut bapaknya sholat ke masjid.

Mungkin banyak ortu yang tidak setuju cara mendidik anak seperti ini. Dengan cara komunikasi koersif, kekerasan, atau minimal menampilkan kekerasan? Entahlah. Tapi dalam agama mengajar itu bisa dengan lemah-lembut, tapi juga bisa dengan koersif, peringatan bahkan “kekerasan” atau lebih enak: ketegasan, bahasanya ya. Saya, alhamdulillah sudah ga pernah “main tangan dan kaki” lagi sekarang mengajarin anak-anak. Emosi sudah jauh lebih terkendali. Itu pun karena anak-anak saya yang justru jadi guru saya dalam belajar mengendalikan emosi. Syukur yaa Allah diberi amanah anak-anak hebat ini…

Saya semoga tidak banyak-banyak menggunakan cara komunikasi koersif ini untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak. PR masih amat banyak, pengendalian diri sendiri yang masih amat susah, apalagi memberi contoh, itu yang paling amat susah. Televisi sudah lama disingkirkan, dan saya juga ikut kena imbas tidak bisa nonton TV lagi. Gadget handphone, masih susah, masih sering dicerewetin sama istri, ya meski kadang juga saya ganti cerewetin hehe… . Mandi pun begitu, masih suka suruh-suruh anak mandi duluan, bapaknya sendiri masih belum mandi saat tulisan ini dibuat… Selain itu saya memang harus terus belajar membagi waktu dan menghimpun energi lebih besar, lebih banyak mencari modul-modul bagi anak-anak saya yang pembosan ini, sama dengan bapaknya, pengennya belajar yang baru terus.

Monjali, 9 Juli 2018. Pukul 21.30.

*Bersiap mandi 😀

gadget, internet, teknologi

Alternatif Pengganti Telpon Rumah Kabel


Menyempatkan kembali mengisi blog yang sudah mulai karatan ini…

img_20161225_074502

Saya tuliskan saja sebuah pengalaman saya belum lama ini, yaitu mencarikan solusi untuk telpon rumah mertua yang sangat sering bermasalah. Sudah lama masalahnya dan sudah dianjurkan berulang kali untuk diputus saja ke telkomnya. Tagihan bayar terus tapi jarang berfungsi. Memang di sana sering terjadi pencurian kabel telpon oleh manusia tak bertanggung jawab sehingga menyebabkan banyak sambungan telpon di desa itu yang terputus dalam waktu lama.

Akhirnya saya belikan saja sebuah router GSM nirkabel produksi Huawei yang di local branding oleh provider telpon dari Arab Saudi, Mobily. Saya pilih seri B683. Router ini memiliki multi fungsi, namun saya hanya memanfaatkan fungsi untuk menelpon/menerima telpon sebagai pengganti jaringan kabel telkom. Dengan menggunakan router ini, pesawat telpon konvensional yang dimiliki mertua saya masih dapat dimanfaatkan. Tinggal dicolokin ke alat ini, langsung bisa berfungsi sebagai telpon rumah. Memang sih nomornya ganti menjadi nomor GSM. Tapi yang penting sudah bisa komunikasi lagi dari dan ke rumah mertua. Kelebihan lainnya router ini dapat berfungsi sebagai poin akses internet nirkabel dari paket yang ada di kartu GSM-nya. Meski pun cuma sampai mode 3G (belum 4G/LTE), namun saat saya coba, kecepatannya download dapat melewati angka 7 mega bit per detik, uploadnya mencapai kecepatan di atas 2 mega bit per detik. Itu waktu saya tes di rumah saya, entahlah pas dipakai di rumah mertua. Akses internet juga bisa diperoleh melalui sambungan kabel LAN/local area network di sejumlah 4 titik yang disediakan. Selain itu disediakan pula colokan USB yang menurut buku petunjuknya dapat digunakan untuk berbagi perangkat penyimpan eksternal seperti hard disk atau flash disk. Dan dapat pula dicolkin printer biasa agar dapat berfungsi sebagai printer nirkabel. Cukup canggih, namun belum sempat saya coba.

img_20161223_110216

Di pasaran memang dijual juga pesawat telpon Fixed Wireless Phone/FWP, yaitu model telpon GSM berbentuk seperti telpon rumah konvesional tapi saya memilih router ini agar pesawat telpon lama masih bisa tetap digunakan. Dan juga susah mencari FWP yang bisa memberikan koneksi internet. Jadi tetap lebih unggul bila menggunakan router. Namun kelemahan router ini, karena tidak ada back up baterai, sehingga saat listrik mati, telponnya juga ikut mati. Tapi ini bisa diakali dengan menggunakan UPS. Sedangkan FWP menggunakan baterai, namun saya kira nanti cukup sulit menemukan baterai pengganti bila baterainya mengalami kerusakan.

Semoga routernya bisa awet, saya dan mertua senang, kakak ipar juga senang bisa menggunakan akses internet saat di rumah.

gadget, kesehatan, kontemplasi, pernik, teknologi, tips

Normalisasi Intensitas Bergadget Ria


KhongGuan-GadgetTulisan dengan judul ini saya buat ketika sedang sendiri, tidak di depan teman kerja maupun di depan keluarga. Itu pun diketik melalui laptop jadul saya yang masih bertahan sampai sekarang sejak dibeli tahun 2007 lalu. Mengapa saya perlu menyatakan ini? Ada kaitannya dengan peristiwa hari Ahad kemarin, ketika secara spontan saya merespon positif usulan istri untuk mengungsikan semua gadget smartphone dari rumah. Usulan ini terlontar ketika hari Ahad kemarin pasca memperingati ulang tahun pernikahan ke-11, kami saling melihat, semua sedang sibuk dengan gadget masing-masing termasuk anak-anak. Yah, itu hari libur memang dan juga habis dari jalan-jalan dan makan di luar, cuma memang hari itu terasa lama sekali anak-anak dan saya berinteraksi dengan gadget smartphone.

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di blog ini, bagaimana mensiasati screen time pada anak, di link berikut. Namun, seiring bertambahnya umur anak-anak dan percepatan wahana komunikasi di gadget saya seperti semakin banyaknya grup-grup diskusi dan obrolan, akhirnya saya spontan saja, harus ada terobosan berani dan revolusioner sebagaimana dulu saya juga berani mematikan akun sosmed saya (facebook) yang sempat berjaya untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting. Saat ini saya melihat hal penting itu. Penting dan genting. Penting untuk menormalisasi hubungan dengan gadget yang seharusnya intensitasnya di bawah hubungan nyata antar komponen di dalam keluarga dan teman kerja. Apalagi dengan trik-trik yang pernah saya bahas sebelumnya sudah tidak mempan karena semakin pintarnya anak-anak dalam mensiasatinya. Namanya juga anak generasi native masa industri keempat. Tidak seperti kita yang masih merupakan generasi transisi. Sebenarnya semuanya sudah tidak sehat, saling menyalahkan dan linglung sendiri. Kalau tidak ada yang mengalah, ya memang repot. Saya bilang kemarin, sayalah yang paling berat sebenarnya berlepas diri dari hal-hal seperti ini. Namun, sekali lagi orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya. Saya akan mempertanggungjawabkan itu. Biarlah di masa sekarang memperbaiki interaksi nyata antara ortu dan anak, serta antara anak-anak sendiri. Genting, karena dengan siasat-siasat lama tetapi wujud fisik gadgetnya tetap ada di rumah menjadikan anak-anak lebih tidak kooperatif, menjadi kurang sehat secara psikis (saya kira nantinya juga berimbas secara fisik), menjadi kurang kreatif secara positif dan semakin malas, begitu juga dengan saya, sama saja. Ditambah lagi dengan semakin kewalahan kami melakukan blocking terhadap konten-konten yang tidak sehat terutama dari youtube dan game. Memang ini masih fase uji coba, namun saya berharap fase ini bisa berlanjut sukses, sebagimana suksesnya kami menghilangkan tontonan TV di rumah yang sudah memasuki waktu bulan ke-10. Nyatanya tanpa siaran TV di rumah tidak mematikan kita. Mental dan fisik kita terasa lebih sehat, apalagi di era seliweran informasi yang kebablasan dan penuh hoaks ini. Saya dan keluarga tidak mau dicekokin informasi secara aktif yang akan merusak idealisme kita. Kita yang harus mengendalikan informasi yang akan kita terima, jangan sampai dicekoki apalagi direcoki.

Sehingga saya mohon maaf kepada teman-teman yang terkoneksi dengan gadget saya dan link sosial media kami, tentu akan mengalami slow dan late respons, bahkan mungkin tak berespon. Semuanya demi kebaikan kami juga. Gadget yang terkoneksi internet hanya akan saya pegang ketika tidak di depan anak-anak, dalam fase uji coba ini. Saya sendiri sudah tidak membawa gadget saya yang terkoneksi penuh internet pulang ke rumah sejak hari Senin kemarin. Rasanya memang berat namun sekaligus ringan dan bahagia. Sayang masih ada keteledoron sedikit. Anak saya menemukan gadget tabletnya di dalam kendaraan saat jalan mencari makan tadi malam. Tapi bisa saya sita dengan baik-baik dan diamankan ke kantor. Saya dan istri sepakat dulu, anak-anak hanya boleh main gadget sejak Sabtu sore dan Ahad saja. Itu pun masih diusahakan disiasati agar dialihkan dengan aktifitas lain, tentu harus lebih menarik aktifitas lain itu. Itu pun nanti kalau ga berhasil, maka semua hari di rumah akan mengalami hari tanpa gadget.

Doakan kami berhasil ya…. 😀

Sumbar: http://www.gadgetgaul.com/

android, gadget, kontemplasi, software, teknologi, tips

Inaccessible Memory Card!


Malam ini terjadi peristiwa yang cukup membuat saya sedikit khawatir. Sedang asyik chat serius dalam beberapa grup di Whatsapp via emulator Android “Bluestacks di tablet Windows, tiba-tiba muncul notifikasi permintaan untuk mem-format kartu memori microsd 64 GB merek V-Gen, yang memang dulu pernah bermasalah sehingga diklaim garansi karena pernah mati. Beberapa hari ini memang saya online via Windows untuk menggantikan handset Android saya yang tewas layar LCD-nya ketika pulang dari Kota Tegal. Yah, mungkin tergencet saat saya tidur di kursi bis. Hanya retak di bagian atas, namun saya paksakan untuk tetap menggunakannya. Namun beberapa waktu setelahnya tidak sengaja saya menjatuhkan tablet Android kesayangan saya itu. Jadilah retak LCD-nya bertambah, dan ternyata sudah tidak bisa menampilkan hal yang bermakna, hanya sinar putih bercampur dengan bias-bias retakan LCD-nya. Maklum, tablet murah merek Axioo Picopad 7 inchi ini memang sudah sering kebanting, dan selama ini memang tidak ada masalah dengan layarnya karena memang saya beri perlindungan silicone case dan anti gores (lebih tepatnya memang untuk jadi korban goresan). Pelindung layar transparan build in-nya sendiri masih utuh. Tapi memang mungkin dia sudah melewati batas daya tahannya terhadap gencetan dan bantingan. Beberapa bulan lalu tablet Axioo saya ini pernah juga diklaim garansi untuk baterainya yang mengalami bengkak sehingga sering mengalami power drop tiba-tiba. Karena ini sudah lewat masa garansi-nya, saya masih memikirkan apakah menunggu diganti LCD-nya ke IT-Clinic Axioo. Atau terpaksa beli gadget baru. Kebetulan di Smartfren sedang banyak promo, dan saya sedang tertarik dengan Smartfren Andromax R 4G, karena harganya turun drastis dari 1,6 juta menjadi 1 juta. Nah, maksud hati mengulur waktu agar tidak terburu-buru mengganti gadget, jadi online dulu via tablet Windows 10. Eh, ya takdirnya juga terjadi memory loss di tablet Windows ini. Dan yang jelas, apa yang tersimpan di memori internal tablet Axioo-nya juga belum bisa di-back up karena layarnya blank begitu, sedangkan koneksi via USB tidak dalam posisi on untuk akses ke memorinya.

Jadilah saya bisa menulis blog ini lagi sambil menunggu proses penyelamatan data microsd tersebut menggunakan iCare Data Recovery. Ingin mencoba saja software recovery ini setelah melakukan googling dan membaca testimoni di beberapa web, meski pun saya sebelumnya lebih sering menggunakan Get Data Back. Yang membuat saya sedikit khawatir karena isi dari kartu microsd di tablet Windows itu belum semuanya saya back-up karena seingat saya ada beberapa data penting pekerjaan dan file-file penting pribadi. Semoga bisa terselamatkan. Pelajaran berharga dari kejadian ini:
1. Akan mempertimbangkan ulang dengan kuat untuk melakukan full back up dan sinkronisasi secara online melalui aplikasi cloud seperti Dropbox, Google Drive atau OneDrive. Sekuritas adalah isu kedua yang saya pikir dapat diabaikan dibandingkan takdir terjadinya memory loss yang tidak pakai permisi meski pun tanda-tandanya sudah ada, tapi tidak jelas. Pencegahan lebih baik daripada mengobati!
2. Sepertinya akan kapok dengan kartu memori merek tersebut. Mahal sedikit tidak apalah asal handal!
3. Jangan menunggu menyepelekan penyakit gadget meski pun gejala-nya masih ringan. Lakukan antisipasi, back-up… back up… dan… back up!

Karena saya perhatikan proses scanning-nya sekitar 2 jam lebih, jadi saya tinggal tidur saja, insyaAllah dilanjut besok pagi. Itu saja. Semoga nanti tulisan ini bisa diupdate.

23.35 @ 27.12.2015

android, gadget, tunarungu

Menyiasati screen time yang berlebihan pada anak


mac

Keberadaan gadget elektronik yang memiliki fitur layar di era moderen membuat anak lebih malas untuk beraktifitas secara fisik. Orang tua sering tidak menyadari keberadaan gadget memberikan dampak yang serius bagi anak. Memang tidak semua gadget berfitur layar membuat anak malas beraktifitas secara fisik karena ada juga gadget yang justru memberikan anak semacam edukasi tertentu. Biasanya gadget jenis ini ada di sentra permainan anak di pusat perbelanjaan atau tempat wisata.

Kami pun merasa begitu, gadget merupakan ancaman tersendiri bagi kami, yang memiliki anak berkebutuhan khusus/ABK (tuna rungu). Anak ABK memerlukan kondisi bermain dan belajar yang harusnya lebih terkondisikan agar mampu menerima input yang sesuai diharapkan. Dan yang lebih penting lagi menghindari ketergantungan yang parah terhadap permainan-permainan di gadget. Anak sekarang selain sulit dicegah, mereka juga justru lebih kreatif mencari celah untuk mendapatkan keinginan mereka. Dalam kasus Nadifa (dan juga kakaknya), meski pun gadget sudah diberi proteksi password sekali pun, ternyata mereka bisa membongkarnya. Calon hacker juga ternyata, haha…

Untuk televisi lebih gampang di saat ini, karena sudah bisa lebih diatur kapan boleh nonton TV, apalagi sejak kami tidak lagi berlangganan TV satelit, dan kami sendiri juga sudah jarang menonton TV. Sedang untuk small gadget seperti android handset, itu jauh lebih sulit. Apalagi biasanya gadget jenis ini terkoneksi terus ke internet. Sehingga sangat banyak hal yang bisa dieksplorasi oleh anak. Mereka sudah terbiasa membuka google play store untuk mendownload sendiri game kegemaran mereka, atau pun tahan memelototi berjam-jam channel youtube favorit mereka. Dahulu kalau dilarang mengakibatkan mereka marah-marah dan justru sulit diajak belajar alias waktu ngambeknya sangat panjang. Untunglah sejalan waktu ada hal-hal yang bisa dimodifikasi agar screen time lebih bisa dikendalikan.

1. Membiasakan anak beraktifitas outdoor/luar ruangan. Bagaimana pun ini butuh energi besar bagi orang tua untuk memfasilitasi anak agar anak bisa beraktifitas di luar rumah. Sangat susah di situasi dunia perkotaan dengan lahan/halaman yang sempit. Sampai saat ini pun aktifitas di luar masih seperti yang dulu, les renang. Kadang main pasir di tanah tetangga, kadang main air, menyiram tanaman, senam, main petak umpet, hula hop, dan sebagainya. Sebenarnya banyak sekali referensi mengenai aktifitas outdoor. Syaratnya cuma satu: kemampuan orang tua untuk meluangkan waktunya menemani anak bermain. Ini yang susah. Padahal di zaman orang tua kecil dulu, banyak sekali aktifitas outdoor yang bisa dilakukan.

2. Mengurangi waktu koneksi ke internet. Ini jelas susah dilakukan bila gadget terkoneksi full internet. Kami menyiasatinya dengan menggunakan modem berjenis wifi mini router, sehingga lebih cepat digunakan saat dibutuhkan, dimatikan bila tidak diperlukan. Bila anak sudah memegang gadget dan terlihat siap membuka youtube atau google play store, modemnya tinggal dimatikan. Tentu saja orang tua juga tidak bisa koneksi ke internet. Memang itu konsekuensi, tidak mengapa. Yang sulit adalah ketika orang tua sedang butuh koneksi internet seperti untuk membalas email, dan sebagainya. Ini bisa disiasati, misalnya dengan menggunakan dua jenis modem, tapi ini justru menambah biaya. Cara lain yang lebih praktis dan tidak keluar biaya tambahan, yaitu dengan melakukan filtering. Ini memerlukan pengaturan di aplikasi modemnya sendiri. Saya biasanya menggunakan filtering berdasarkan MAC address dari gadget yang digunakan atau berdasarkan alamat website tertentu. Filtering menggunakan MAC address akan memblokir penggunaan internet di gadget yang kita inginkan. Jadi orang tua tetap bisa melakukan koneksi melalui gadget lain, misal laptop, ketika harus melakukan koneksi ke internet. Dengan sistem seperti ini sampai sekarang anak tidak melakukan protes, karena bisa kita lakukan dengan diam-diam.

3. Melakukan kompensasi dengan memeberikan fasilitasi mainan yang interaktif dan memerlukan aktifasi motorik yang lebih banyak. Bila mempunyai budget/anggaran khusus buat membeli mainan, tentu ini dapat menggantikan permainan-permainan virtual di gadget, sehingga memungkinkan anak mengembangkan motorik, berkonsentrasi, dan belajar secara lebih baik. Syukur kalau orang tua lebih kreatif membuat mainan-mainan biaya murah bahkan tanpa biaya sebagaimana pengamalam mereka sewaktu kecil dulu.

4. Dan lain sebagainya, silakan orang tua atau teman-teman yang mempunyai pengalaman, dapat menambahkan tip-tipsnya. Terimakasih.

android, blacberry, gadget

Nikmatnya Hijrah BB Messenger dari Blackberry ke Android


Momentum diluncurkan Blackberry Messenger a.k.a. BBM oleh RIM Blackberry ke Playstore Android dan AppStore Apple beberapa hari lalu menjadikan saya ikut-ikutan mengaktifkan BBM saya di Android.

Meski di awal sedikit bingung dengan cara registrasi yang ribet yaitu dengan masuknya email yang saya daftarkan ke dalam daftar tunggu, namun akhirnya berhasil juga. Meski ada cara lain yang lebih cepat yaitu dengan menggunakan ID Blackberry kita atau ada cara “curang” sehingga tidak perlu masuk daftar tunggu, silakan di google caranya, hehe.

Saya juga menemukan dan membaca perihal artikel-artikel online mengenai migrasi (lebih tepatnya diversifikasi, membuang eksklusifitas) BBM ke Android dan IOS/Iphone. Meskipun BBM untuk Android ini belum sempurna seperti belum ada menu untuk menambahkan klasifikasi kontak BBM, menu ekspor/impor kontak, dan fasilitas voice call. Namun fungsi dasarnya sudah sangat cukup untuk ber-BBM secara normal. Beberapa kali di perangkat Android saya, aplikasi BBM-nya close mendadak, tapi tidak hang, atau timbul jam pasir kayak di BB, hehe… tapi itu tidak terlalu menggangu, namanya juga masih versi-versi awal. Mudah-mudahan BBM untuk selain Blackberry bukan semacam jebakan bagi user, seperti dipaksa untuk akhirnya membayar aplikasi tersebut. Meski pun saya baca ada niat dari RIM Blackberry untuk memonetisasi BBM versi Android dan IOS-nya. Yah, wait and see saja.

Yang jelas ada kelebihan dan kekurangan yang saya rasakan dengan BBM di perangkat Android itu.

Kelebihannya:
– Jelas lebih cepat dan murah untuk spek henset Android yang minimal, misalnya merek henset Android apa pun bisa dipasang BBM asal sudah versi ICS (Ice Cream Sandwich), minimal. Namun ternyata masih ada laporan dari teman-teman yang mendapatkan peringatan bahwa perangkat Android-nya tidak kompatibel alias tidak bisa dipasang BBM, meski pun spek dan syarat versi-nya sudah terpenuhi. Untuk itu saya coba carikan solusi, ketemulah file instalasi BBM yang sudah dimodifikasi untuk perangkat yang dikatakan oleh Playstore tidak kompatibel. Bisa download di https://widodowirawan.com/file/bbm.apk

Sudah ada yang coba pasang file BBM hasil modifikasi itu, dan berhasil, hanya dengan menggunakan perangkat Android seharga kurang dari 1 juta rupiah.

Lebih cepatnya itu juga karena Android sangat jarang mengalami hang, kalau lambat pun, tidak akan ada jam pasir atau pakai acara copot baterai seperti di BB, cukup melakukan bersih-bersih dengan aplikasi yang banyak tersebar di Playstore. Saya pun tidak khawatir dengan jumlah grup dan kontak yang lebih banyak dibandingkan dengan BB saya yang sebenarnya juga masih OK banget kinerjanya, karena hanya saya minimalkan aplikasinya untuk BBM dan Push Email. Tipe BB saya Huron 8830, yang dulu saya beli seharga 750 ribu, dan konon bekasnya saja ga sampai angka 400 ribu, bahkan mungkin sudah tidak laku dijual, hahaha. Tapi boleh dibandingkan kebandelannya dengan BB canggih sekali pun, karena saya termasuk rajin melakukan perawatan BB saya itu (meski BB ini sudah pernah berenang di air), ya bukan perawatan fisik sih, karena itu BB juga sudah retak casing-nya di sana-sini. Tapi pemeliharaan jumlah memori, bila sudah timbul jam pasir satu kali saja, maka saya restart pake aplikasi, jadi ga perlu copot baterai. Copot baterai terpaksa dilakukan bila BB benar-benar freeze alias hang. Tidak ada jalan lain, karena dengan soft restart dengan tombol kombinasi ALT + Right CapsLock + DEL pun tidak mempan. Karena menurut saya fungsi dasar BB itu selain buat telepon dan SMS, ya buat BBM dan Push Email tadi. Saya tidak menggunakan aplikasi pihak ketiga di BB yang banyak digunakan oleh orang seperti Whatsapp, Yahoo Messenger, Picture Editor seperti PicMix dkk, dan aplikasi alay lainnya yang akan sangat memberatkan kerja BB itu sendiri. Browsing dan Streaming di BB apalagi, sudah lama tidak saya gunakan. Karena hitungannya hanya buang-buang duit dengan harga paket yang mahal.

– Jelas lebih murah, karena di Android, cukup membayar paket internet unlimited yang harganya tidak sampai 50 ribu rupiah, dan saya sudah dapat paket full service seperti di BB.

– Jelas meringankan, karena ga perlu lagi banyak-banyak bawa perangkat henset, ya maklum saja, beberapa teman masih ada yang bersikukuh bertahan di BB, jadi saya harus mengalah sedikit. Tapi dengan adanya BBM untuk Android ini, tidak ada alasan itu lagi, cukup bawa 1 perangkat saja di saku. Bahkan Android zaman sekarang itu fungsinya sudah sangat bisa menggantikan komputer atau laptop. Semuanya bisa kita lakukan dengan 1 perangkat saja. Keuntungan tambahan yang didapatkan misalnya: saya tidak akan sering lupa lagi, meninggalkan henset saya (sebenarnya kececeren) di toilet, di tempat kerja, di parkiran dan sebagainya, karena banyaknya perangkat yang harus dibawa. Kebetulan juga Android saya punya spek yang bagus dengan sistem dual CDMA dan GSM, sudah sangat cukup, baterainya juga sudah powerfull, kalau pun terpaksa, tinggal bawa Power Bank ukuran kecil buat cadangan baterai. Jauh lebih simpel.

Kekurangannya cuma satu menggunakan BBM di Android, itu mungkin hanya menurut saya sih… karena saya juga sudah nyaman dengan BB kuno saya itu dengan keypad fisiknya yang empuk dan smooth untuk mengarang indah atau cit-cat berjam-jam dengan teman-teman. Di sistem Android masih jarang perangkat yang menyertakan keypad fisik. Meski katanya nanti di masa datang akan ada keypad jenis taktil yang akan muncul otomatis di bawah layar sentuhnya, hebat ya… Untuk urusan keypad layar sentuh ini saya siasati dengan memasang keypad qwerty layar sentuh super besar sehingga jari dan mata saya lebih nyaman, dan mengetik jadi lebih cepat dan minim kesalahan.

Sekian aja ya, ini mungkin hanya jadi tulisan tunggal saya di bulan Oktober, banyak ide sih, tapi karena mood-nya hari ini yang dipicu oleh euforia diversifikasi BBM ini, ya dipaksa juga buat menulis di sela-sela kesibukan mikir dan mengerjakan yang lain. Selamat meninggalkan Blackberry Anda. Menjadikan perangkat BB Anda sebagai ganjal pintu, akan membantu mendobrak kapitalis RIM Blackberry yang sudah lama menjajah Indonesia 😀

Note: O, iya, dulu saya pelit ngasih PIN BBM karena saya cuma pakai BB jadul yang rawan hang, nah sekarang bolehlah kita uji kehandalan BBM di Android ini dengan “kerelaan” mengumbar PIN BBM Android saya, ini 75338F84.

blacberry, curhat, gadget, internet, tips

Moody buat menulis? Bagaimana mengatasinya?


Moody? Saya banget itu! Menulis itu salah satu aktivitas yang sangat baik untuk me-recall informasi yang telah kita dapatkan melalui indra kita. Menulis juga sebagai ajang aktualisasi diri dan saling berbagi, menulis juga salah satu cara mengurangi tingkat stresor meski tergantung juga dengan apa yang akan ditulis (kalau menulis tesis ya tetap makin stres, hahaha…), menulis bahkan dapat mencegah penyakit lupa ingatan yang dalam dunia medis disebut demensia.

Sejak nge-trend-nya dunia blogging, menulis menjadi salah satu primadona bagi netizen (penduduk dunia maya), berbeda dengan virtual social networking (jejaring pertemanan maya), motif orang melakukan aktifitas menulis dalam blognya lebih beragam. Bagi saya sendiri seperti alasan yang saya kemukakkan di atas. Ada kalanya menulis dalam blog (diari online) yang berasal dari kata “web logging” sangat memberikan bantuan bagi diri saya sendiri untuk meninjau kembali momentum dari hal-hal yang pernah saya lakukan dalam hidup. Bahkan dari hal yang terkecil sekali pun, saya sedikit galau bin kecewa ketika saya susah untuk mengingat kapan saya membeli suatu barang yang menggunakan angsuran melalui kartu kredit saya. Meski hal itu bisa dilacak dari dokumen transaksi, namun mencari dokumen itu lebih sulit daripada membuka laptop, terus mengetikkan di google mengenai sesuatu yang pernah saya tulis. Bukankah justru hal ini yang saya maksud mengurangi stres. Maklumlah pengarsipan offline saya sungguh berantakan.

Selain itu, menulis hal-hal seputar dunia saya (medis) ternyata selain berguna bagi diri sendiri juga berguna bagi orang lain seperti “bagaimana cara mencegah penularan cacar air” yang ternyata banyak yang menanyakan. Dan untuk itu saya tidak harus berulang-ulang cerewet, cukup memberikan tautan (link) ke tulisan di blog saya yang berhubungan dengan hal tersebut.

Menulis itu sulit kalau tidak dimulai dari hal yang menyenangkan, hal yang menyenangkan biasanya terkait dengan hidup keseharian kita seperti aktifitas mengasuh anak, kegiatan seputar hobi, dan lain sebagainya. Makanya saya tidak membatasi apa yang akan saya tulis. Selain malah membuat stres juga karena saya memiliki sifat moody yang sangat parah.

Sulit kalau harus menargetkan tulisan kapan selesai dan naik tayang di blog. Harus meluangkan waktu khusus di depan laptop? Susah itu bagi saya, karena di laptop saya senangnya browsing buat membaca dan instalasi program-program atau hal lain yang memang harus pakai laptop. Akhirnya saya mencoba menerapkan tips simpel bagi diri saya sendiri. Saya mengoptimalkan ponsel yang saya bawa. Kebetulan saya membawa Blackberry (a.k.a. BB) jadul merek Huron 8830 yang saya persenjatai dengan Smartfren. Kadang saya juga membawa ponsel android saya yang juga dipersenjatai Smartfren. Maklumlah saya penggemar berat Smartfren meski dulu beberapa kali pernah dikecewakan. Namun ternyata menulis di ponsel yang memiliki keypad fisik itu jauh lebih enak dibanding dengan keypad virtual yang touchscreen itu. Keypad fisik QWERTY memberikan sensasi yang justru tidak melelahkan, meskipun sebentar lagi akan keluar jenis keypad fisik yang bisa timbul dari layar sentuh.

Meskipun belum optimal, selain karena pakai BB kuno – tapi keypadnya empuk dan renyah (emang kerupuk), juga belum bisa langsung posting ke blog ini karena saya biasanya cuma memakai paket BB untuk BBM dan Push Email saja. Jadi kalau mau upload tulisan setelah selesai diketik di BB, mesti diemail dulu, lalu emailnya dibuka di tempat yang ada koneksi internet buat upload seperti laptop atau android saya dan dipindahkan ke blog. Ga repot sih, meski ada cara langsung dari push email bisa langsung tayang di blog, cuma belum saya coba, mungkin di waktu lain. Dan bagi saya waktu terlama itu ya, membuat tulisannya. Untuk tulisan ini saja sampai berhari-hari baru selesai, karena membuatnya dicicil saat-saat senggang (daripada bengong atau cuma BBM-an ga jelas, hehe…) seperti saat saya menunggu Nadifa (anak saya) yang sedang diterapi wicara atau terapi okupasi. Bisa juga saya mengetik saat lagi di parkiran ketika menunggu orang, ya pas lagi kosong dan malas bengong tapi juga sedang ada mood menulis, ya langsung melanjutkan tulisan yang saya simpan di Memopad-nya BB.

OK-lah, akhirnya selesai juga tulisan ini ketika saya sedang di RS tempat saya kerja, sambil nunggu Nadifa terapi okupasi. Semoga berguna dan memicu ide yang lebih bagus dari teman-teman. Mohon kalau ada ide lain, jangan segan memberitahu saya. Terimakasih.