blacberry, curhat, gadget, internet

BB itu membuat saya repot!


Akhirnya saya ngalah, dan harus beli BB deh…
Pulang haji, ternyata direktur saya tidak lupa dengan pesannya sebelum berangkat haji dulu, agar saya beli Blackberry alias BB saja untuk lebih mudah berkomunikasi. Saya sebenarnya tidak ada halangan komunikasi dengan beliau. Pada saat rapat empat mata beberapa hari lalu, beliau menginstruksikan lagi. Saya sudah tawarkan cara komunikasi alternatif, tidak harus dengan BB. Tapi apa daya ternyata ada alasan lain beliau yang tidak bisa saya ganggu gugat yaitu sudah cukup banyak punya grup BB yang penting.

Ya sudahlah. Lima hari lalu saya langsung ke galeri Smartfren di Ambarrukmo Plaza (Amplaz). Alhamdulillah ga antri panjang seperti galeri utamanya di Jl. Kenari. Ternyata mereka ga jual dan harus beli di distributornya di Jl. Gejayan. Saya yang malas harus bolak balik agak jauh akhirnya beli di counter seberang galeri yang katanya juga distributor mereka. Meski cuma adanya BB kosongan alias belum bundling dengan nomor Fren ya saya terima aja meski nanti ga dapat bonus Blackberry Internet Service (BIS)-nya. Lalu setelah beli langsung ke galeri lagi buat diinjeksikan nomor Fren saya. O, iya, saya beli BB tipe Curve 8530 atau dikenal sebagai Aries warna merah marun seharga 1,6 juta. Ga bisa milih karena adanya cuma tipe dan warna itu dan saya malas pindah untuk cari-cari di counter lain. Ternyata Aries ini saudara kembar si Gemini 8520 dari versi GSM.

Dalam waktu singkat nomor Fren saya sudah berpindah nyawanya ke BB. Sedang jasad alias kartu RUIM-nya dikuburkan alias diminta sama petugas CS Smartfren-nya. Sedih juga saya karena si Fren tidak bisa selingkuh dengan HP atau modem lainnya. Lalu langsung isi pulsa 200 ribu meski udah ada pulsa 50 ribu lebih. Ya, buat jaga-jaga dan uji coba berbagai paket BIS yang ada. Mbak CS manganjurkan untuk coba paket harian dulu untuk merasakan auranya, hehe… Saya pilih yang Rp 1.980 untuk dapat paket BB Message, Social Networking, dan Chatting. Eh, saya salah pilih harusnya yang ada push emailnya yang sama harganya.

Ya sudahlah… Lalu di rumah saya aktifkan paket Smartfren Connex bulanan 45 ribu yang biasa saya pake karena saya belum coba paket BIS yang ada paket browsing atau paket modemnya. Ternyata ga bisa tuh paket Connex-nya. Dan paginya saya coba di kantor kok Wifi-nya ga bisa konek juga. Wah… mulai senewen! Meski bos saya sudah senang karena habis injek kemarin saya langsung minta PIN BB beliau dan sudah bisa chat. Siangnya saya kembali ke Amplaz buat komplain ke distributor kok ga bisa konek hotspot wifi. Di utak-atik dikit eh kok malah bisa. Padahal saya perhatikan sama aja caranya.

Lalu masalah paket Connex untuk modemnya saya ngadu ke CS galeri. Mereka menawarkan untuk menunggu teknisinya yang datang agak sore. Wah ya ga bisa karena saya masih harus meneruskan rapat. Akhirnya saya minta diaktifkan paket harian BIS yang ada item browsingnya. Saya pilih yang paling murah yaitu Rp 3.850 per hari. Sepertinya lancar, malamnya langsung saya registrasi yang bulanan seharga Rp 75.900.

Sementara itu paket Connex yang harusnya bisa untuk dijadikan modem ke laptop belum bisa juga. Lalu keesokan hari menjelang Jum’atan saya ke galeri utama Smartfren di Jl. Kenari, Timoho. Syukur pas lagi ga banyak antrian. Eh, saya diterima oleh CS, seorang mba cantik yang ternyata masih training. Bingung dan terdiam seribu bahasa dia. Lalu minta digantikan sama temannya yang cewek juga. Sama aja ga ngerti. Lalu akhirnya saya dilayani oleh seorang mas yang saya nilai lumayanlah ilmunya. BB-nya diutak-atik sama dia, dibandingkan dengan punya dia dan dengan komputer lain. Di dapatkan kesimpulan masalahnya ada pada device alias BB-nya sendiri. Jadi BB-nya cacat nih? ya, kira-kira begitulah…

Hhhh…
Entahlah dari dulu saya bisa dikatakan sering tidak bernasib mujur ketika harus beli barang-barang elektronik apalagi sejenis gadget ini. Sering aja ada masalah. Kata istri saya karena kebanyakan dosa, hehehe, ya bisa jadi deh. Tapi saya ambil hikmah saja, saya bisa jadi semakin tahu perselukbelukan gadget karena banyak ketemu orang-orang yang berilmu meski tak jarang juga yang oon. Dan saya terus belajar mengendalikan emosi saya ketika harus keliling-keliling untuk melakukan komplain ke berbagai orang. Dan saya sangat memperhatikan mereka ketika menangani keluhan pelanggan (handling complain) karena hal itu saya butuhkan untuk kantor saya juga.

So, saya diminta kembali ke distributor BB di Amplaz. Sedikit menahan emosi dan dengan intonasi berat saya bilang tentang masalah BB itu. Saya sudah duga awalnya pasti ada resistensi dan mereka mencari-cari alasan. Semuanya saya patahkan, meski setelah dilempar ke galeri diseberang distributornya dan mereka juga kasih alasan, bahkan sampai dites ulang (lagi-lagi) dan akhirnya mereka menemukan sendiri bahwa BB yang bermasalah. Saya ditawarkan oleh pihak Smartfren untuk meng-kartu-kan kembali nomor saya alias injek-nya dicabut supaya saya bisa pake di HP lain atau di modem. Tapi saya protes bagaimana dengan BB saya, klo harus dirawat inap (apalagi pake lama dan biasanya begitu) di tempat service. Apalagi saya sudah aktifkan paket BIS-nya. Saya ga mau rugi. Tapi mereka membujuk supaya saya mengorbankan salah satunya. Saya masih bersikukuh kesalahan bukan di saya. Saya sangat mengharapkan ada BB pengganti karena saya sedang komunikasi intensif dengan bos saya. Ya, itu memang alasan saya. Saya mau lihat cara mereka. Saya tunggu saja lanjutannya. Meski janjinya hari ini saya mau dihubungi. Tapi belum tuh.

Pic asli dari sini (setelah modifikasi dikit)

curhat, gadget, hobby, livinginjogja, pernik

Testimoni gadget – ada harga ada rupa, memang masih berlaku ya?


Seharian tadi agendaku muter-muter Jogja menyambangi berbagai macam service center. Iya, sudah banyak gadget elektronikku yang rusak. Jadi sekalian aja ditumpuk jadi satu waktu biar ga ribet.

Pertama, kamera digital Samsung 8 mega piksel yang sudah sangat berjasa lebih dari 2 tahun kepake, akhirnya rusak juga, walaupun ga total. Pengambilan gambar dengan resolusi tinggi menghasilkan rekaman gambar yang bergaris. Fungsi kamera video masih normal. Hasil googling ga menemukan secara detail penyebabnya, kemungkinan ada pada chip resolusi tingginya, dan ada yang bilang memang penyakitnya digicam Samsung seperti itu. Waduh… Padahal itu kamera ga murah-murah amat harganya, mungkin terlalu diforsir aja pemakaiannya, huahaha. Nah, kamera kesayangan ini aku bawa ke service center Samsung (katanya cuma satu-satunya di Jogja) di Jl. Godean (400 meteran barat Tugu Jogja). CS-nya bilang belum bisa dipastikan berapa lama Samsung-ku mondok di sana, karena para teknisinya pada masih libur, huaaa, aku nanti ditelpon tentang kepastian dan harga servis dan part-nya. Kalau part-nya mendekati harga kameranya, ya mending aku beli baru aja kali ya…

Kedua, DVD player merek Vitron (asli…, aku sebenarnya ketipu aja dengan merek ini, barang Cina berteknologi Jepang…? halah!) belinya dulu di Mirota Kampus, sekarang aku perhatikan udah ga ada merek itu lagi di sana. Harganya juga sebenarnya ga murah-murah amat, hampir mencapai harga 400 ribu. Hampir 1 tahun usianya. Dua bulan pertama pemakaian, power supply-nya hangus bin gosong. Mondok hampir 1 bulan. Mana nyari service center-nya susah lagi, ternyata satu atap dengan service center Sony dan JVC di daerah HOS Cokroaminoto, arah ke Bantul. Nah, pas lebaran kemarin aku cek player tersebut saat mudik karena anakku hobinya nonton VCD lagu dan film anak-anak jadi aku titipkan di rumah mertua. Eh, pas dicoba ternyata ga mau di-open tray DVD-nya. Apa elektronik atau mekaniknya yang rusak ya…, embuhlah…jadi tadi aku bawa kembali ke pusat servis Sony tersebut. Dijanjikan kira-kira 1 minggu. Sayang aja, kenapa buru-buru aku bongkar kemarin ya, sehingga agak baret casingnya dan stiker garansinya robek, karena setelah tak cek lagi, ternyata masa garansinya sisa sekitar 1 minggu lebih dikit lagi, kan lumayan tuh masih bisa gratis…

Ketiga, yang paling parah ini, HP CDMA Smartfren promo harga 350 ribu yang dibundel dengan pulsa gratis 150 ribu dan internet gratis 1 bulan, genap 1 bulan pemakaian matek total. Udah ke Mobile 8 Center di dekat fly over Janti, disuruh langsung ke service center di dekat Mirota Godean, yang ternyata service center-nya merek Vitell. Kalau software-nya yang rusak butuh waktu 3-4 hari, klo hardware-nya yang rusak butuh waktu 3 mingguan, waduh…aku tanya mba CS-nya: ga ada HP pengganti sementara? dijawab engga, trus aku mau nelpon pake apa? Karena sebenarnya Fren ini sudah cukup berjasa hampir setahun buat pake telpon-telponan dengan istri di Jakarta sana, karena memang free alias gratis. Nah, pas promo kemarin aku tukarkan HP seken yang buluk buat dapat HP Smartfren tersebut, eh, malah rusak, untung masih ada HP seken Nokia jadul…

Klo aku pikir-pikir sepertinya merek terkenal dengan harga agak mahal dikit memang lebih OK ya, dasar akunya aja dari dulu hobi beli barang murah, hehe….

Pic dari sini