android, blacberry, gadget

Nikmatnya Hijrah BB Messenger dari Blackberry ke Android


Momentum diluncurkan Blackberry Messenger a.k.a. BBM oleh RIM Blackberry ke Playstore Android dan AppStore Apple beberapa hari lalu menjadikan saya ikut-ikutan mengaktifkan BBM saya di Android.

Meski di awal sedikit bingung dengan cara registrasi yang ribet yaitu dengan masuknya email yang saya daftarkan ke dalam daftar tunggu, namun akhirnya berhasil juga. Meski ada cara lain yang lebih cepat yaitu dengan menggunakan ID Blackberry kita atau ada cara “curang” sehingga tidak perlu masuk daftar tunggu, silakan di google caranya, hehe.

Saya juga menemukan dan membaca perihal artikel-artikel online mengenai migrasi (lebih tepatnya diversifikasi, membuang eksklusifitas) BBM ke Android dan IOS/Iphone. Meskipun BBM untuk Android ini belum sempurna seperti belum ada menu untuk menambahkan klasifikasi kontak BBM, menu ekspor/impor kontak, dan fasilitas voice call. Namun fungsi dasarnya sudah sangat cukup untuk ber-BBM secara normal. Beberapa kali di perangkat Android saya, aplikasi BBM-nya close mendadak, tapi tidak hang, atau timbul jam pasir kayak di BB, hehe… tapi itu tidak terlalu menggangu, namanya juga masih versi-versi awal. Mudah-mudahan BBM untuk selain Blackberry bukan semacam jebakan bagi user, seperti dipaksa untuk akhirnya membayar aplikasi tersebut. Meski pun saya baca ada niat dari RIM Blackberry untuk memonetisasi BBM versi Android dan IOS-nya. Yah, wait and see saja.

Yang jelas ada kelebihan dan kekurangan yang saya rasakan dengan BBM di perangkat Android itu.

Kelebihannya:
– Jelas lebih cepat dan murah untuk spek henset Android yang minimal, misalnya merek henset Android apa pun bisa dipasang BBM asal sudah versi ICS (Ice Cream Sandwich), minimal. Namun ternyata masih ada laporan dari teman-teman yang mendapatkan peringatan bahwa perangkat Android-nya tidak kompatibel alias tidak bisa dipasang BBM, meski pun spek dan syarat versi-nya sudah terpenuhi. Untuk itu saya coba carikan solusi, ketemulah file instalasi BBM yang sudah dimodifikasi untuk perangkat yang dikatakan oleh Playstore tidak kompatibel. Bisa download di https://widodowirawan.com/file/bbm.apk

Sudah ada yang coba pasang file BBM hasil modifikasi itu, dan berhasil, hanya dengan menggunakan perangkat Android seharga kurang dari 1 juta rupiah.

Lebih cepatnya itu juga karena Android sangat jarang mengalami hang, kalau lambat pun, tidak akan ada jam pasir atau pakai acara copot baterai seperti di BB, cukup melakukan bersih-bersih dengan aplikasi yang banyak tersebar di Playstore. Saya pun tidak khawatir dengan jumlah grup dan kontak yang lebih banyak dibandingkan dengan BB saya yang sebenarnya juga masih OK banget kinerjanya, karena hanya saya minimalkan aplikasinya untuk BBM dan Push Email. Tipe BB saya Huron 8830, yang dulu saya beli seharga 750 ribu, dan konon bekasnya saja ga sampai angka 400 ribu, bahkan mungkin sudah tidak laku dijual, hahaha. Tapi boleh dibandingkan kebandelannya dengan BB canggih sekali pun, karena saya termasuk rajin melakukan perawatan BB saya itu (meski BB ini sudah pernah berenang di air), ya bukan perawatan fisik sih, karena itu BB juga sudah retak casing-nya di sana-sini. Tapi pemeliharaan jumlah memori, bila sudah timbul jam pasir satu kali saja, maka saya restart pake aplikasi, jadi ga perlu copot baterai. Copot baterai terpaksa dilakukan bila BB benar-benar freeze alias hang. Tidak ada jalan lain, karena dengan soft restart dengan tombol kombinasi ALT + Right CapsLock + DEL pun tidak mempan. Karena menurut saya fungsi dasar BB itu selain buat telepon dan SMS, ya buat BBM dan Push Email tadi. Saya tidak menggunakan aplikasi pihak ketiga di BB yang banyak digunakan oleh orang seperti Whatsapp, Yahoo Messenger, Picture Editor seperti PicMix dkk, dan aplikasi alay lainnya yang akan sangat memberatkan kerja BB itu sendiri. Browsing dan Streaming di BB apalagi, sudah lama tidak saya gunakan. Karena hitungannya hanya buang-buang duit dengan harga paket yang mahal.

– Jelas lebih murah, karena di Android, cukup membayar paket internet unlimited yang harganya tidak sampai 50 ribu rupiah, dan saya sudah dapat paket full service seperti di BB.

– Jelas meringankan, karena ga perlu lagi banyak-banyak bawa perangkat henset, ya maklum saja, beberapa teman masih ada yang bersikukuh bertahan di BB, jadi saya harus mengalah sedikit. Tapi dengan adanya BBM untuk Android ini, tidak ada alasan itu lagi, cukup bawa 1 perangkat saja di saku. Bahkan Android zaman sekarang itu fungsinya sudah sangat bisa menggantikan komputer atau laptop. Semuanya bisa kita lakukan dengan 1 perangkat saja. Keuntungan tambahan yang didapatkan misalnya: saya tidak akan sering lupa lagi, meninggalkan henset saya (sebenarnya kececeren) di toilet, di tempat kerja, di parkiran dan sebagainya, karena banyaknya perangkat yang harus dibawa. Kebetulan juga Android saya punya spek yang bagus dengan sistem dual CDMA dan GSM, sudah sangat cukup, baterainya juga sudah powerfull, kalau pun terpaksa, tinggal bawa Power Bank ukuran kecil buat cadangan baterai. Jauh lebih simpel.

Kekurangannya cuma satu menggunakan BBM di Android, itu mungkin hanya menurut saya sih… karena saya juga sudah nyaman dengan BB kuno saya itu dengan keypad fisiknya yang empuk dan smooth untuk mengarang indah atau cit-cat berjam-jam dengan teman-teman. Di sistem Android masih jarang perangkat yang menyertakan keypad fisik. Meski katanya nanti di masa datang akan ada keypad jenis taktil yang akan muncul otomatis di bawah layar sentuhnya, hebat ya… Untuk urusan keypad layar sentuh ini saya siasati dengan memasang keypad qwerty layar sentuh super besar sehingga jari dan mata saya lebih nyaman, dan mengetik jadi lebih cepat dan minim kesalahan.

Sekian aja ya, ini mungkin hanya jadi tulisan tunggal saya di bulan Oktober, banyak ide sih, tapi karena mood-nya hari ini yang dipicu oleh euforia diversifikasi BBM ini, ya dipaksa juga buat menulis di sela-sela kesibukan mikir dan mengerjakan yang lain. Selamat meninggalkan Blackberry Anda. Menjadikan perangkat BB Anda sebagai ganjal pintu, akan membantu mendobrak kapitalis RIM Blackberry yang sudah lama menjajah Indonesia ūüėÄ

Note: O, iya, dulu saya pelit ngasih PIN BBM karena saya cuma pakai BB jadul yang rawan hang, nah sekarang bolehlah kita uji kehandalan BBM di Android ini dengan “kerelaan” mengumbar PIN BBM Android saya, ini 75338F84.

blacberry, curhat, gadget, internet, tips

Moody buat menulis? Bagaimana mengatasinya?


Moody? Saya banget itu! Menulis itu salah satu aktivitas yang sangat baik untuk me-recall informasi yang telah kita dapatkan melalui indra kita. Menulis juga sebagai ajang aktualisasi diri dan saling berbagi, menulis juga salah satu cara mengurangi tingkat stresor meski tergantung juga dengan apa yang akan ditulis (kalau menulis tesis ya tetap makin stres, hahaha…), menulis bahkan dapat mencegah penyakit lupa ingatan yang dalam dunia medis disebut demensia.

Sejak nge-trend-nya dunia blogging, menulis menjadi salah satu primadona bagi netizen (penduduk dunia maya), berbeda dengan virtual social networking (jejaring pertemanan maya), motif orang melakukan aktifitas menulis dalam blognya lebih beragam. Bagi saya sendiri seperti alasan yang saya kemukakkan di atas. Ada kalanya menulis dalam blog (diari online) yang berasal dari kata “web logging” sangat memberikan bantuan bagi diri saya sendiri untuk meninjau kembali momentum dari hal-hal yang pernah saya lakukan dalam hidup. Bahkan dari hal yang terkecil sekali pun, saya sedikit galau bin kecewa ketika saya susah untuk mengingat kapan saya membeli suatu barang yang menggunakan angsuran melalui kartu kredit saya. Meski hal itu bisa dilacak dari dokumen transaksi, namun mencari dokumen itu lebih sulit daripada membuka laptop, terus mengetikkan di google mengenai sesuatu yang pernah saya tulis. Bukankah justru hal ini yang saya maksud mengurangi stres. Maklumlah pengarsipan offline saya sungguh berantakan.

Selain itu, menulis hal-hal seputar dunia saya (medis) ternyata selain berguna bagi diri sendiri juga berguna bagi orang lain seperti “bagaimana cara mencegah penularan cacar air” yang ternyata banyak yang menanyakan. Dan untuk itu saya tidak harus berulang-ulang cerewet, cukup memberikan tautan (link) ke tulisan di blog saya yang berhubungan dengan hal tersebut.

Menulis itu sulit kalau tidak dimulai dari hal yang menyenangkan, hal yang menyenangkan biasanya terkait dengan hidup keseharian kita seperti aktifitas mengasuh anak, kegiatan seputar hobi, dan lain sebagainya. Makanya saya tidak membatasi apa yang akan saya tulis. Selain malah membuat stres juga karena saya memiliki sifat moody yang sangat parah.

Sulit kalau harus menargetkan tulisan kapan selesai dan naik tayang di blog. Harus meluangkan waktu khusus di depan laptop? Susah itu bagi saya, karena di laptop saya senangnya browsing buat membaca dan instalasi program-program atau hal lain yang memang harus pakai laptop. Akhirnya saya mencoba menerapkan tips simpel bagi diri saya sendiri. Saya mengoptimalkan ponsel yang saya bawa. Kebetulan saya membawa Blackberry (a.k.a. BB) jadul merek Huron 8830 yang saya persenjatai dengan Smartfren. Kadang saya juga membawa ponsel android saya yang juga dipersenjatai Smartfren. Maklumlah saya penggemar berat Smartfren meski dulu beberapa kali pernah dikecewakan. Namun ternyata menulis di ponsel yang memiliki keypad fisik itu jauh lebih enak dibanding dengan keypad virtual yang touchscreen itu. Keypad fisik QWERTY memberikan sensasi yang justru tidak melelahkan, meskipun sebentar lagi akan keluar jenis keypad fisik yang bisa timbul dari layar sentuh.

Meskipun belum optimal, selain karena pakai BB kuno – tapi keypadnya empuk dan renyah (emang kerupuk), juga belum bisa langsung posting ke blog ini karena saya biasanya cuma memakai paket BB untuk BBM dan Push Email saja. Jadi kalau mau upload tulisan setelah selesai diketik di BB, mesti diemail dulu, lalu emailnya dibuka di tempat yang ada koneksi internet buat upload seperti laptop atau android saya dan dipindahkan ke blog. Ga repot sih, meski ada cara langsung dari push email bisa langsung tayang di blog, cuma belum saya coba, mungkin di waktu lain. Dan bagi saya waktu terlama itu ya, membuat tulisannya. Untuk tulisan ini saja sampai berhari-hari baru selesai, karena membuatnya dicicil saat-saat senggang (daripada bengong atau cuma BBM-an ga jelas, hehe…) seperti saat saya menunggu Nadifa (anak saya) yang sedang diterapi wicara atau terapi okupasi. Bisa juga saya mengetik saat lagi di parkiran ketika menunggu orang, ya pas lagi kosong dan malas bengong tapi juga sedang ada mood menulis, ya langsung melanjutkan tulisan yang saya simpan di Memopad-nya BB.

OK-lah, akhirnya selesai juga tulisan ini ketika saya sedang di RS tempat saya kerja, sambil nunggu Nadifa terapi okupasi. Semoga berguna dan memicu ide yang lebih bagus dari teman-teman. Mohon kalau ada ide lain, jangan segan memberitahu saya. Terimakasih.

blacberry, gadget, internet, software, tips

Berhemat, Blackberry buat modem


Dari pada saya ngedumel terus karena BB itu ngerepotin, bahkan BB yang saya pake ini, meski baru beli 2 minggu sudah mati speakerphonenya (memang saya sering “sial” dengan barang elektroniklah….), saya mau berbagi mengenai membuat canggih BB kita. Itu klo punya BB loh, hehe…

Yang jelas, malu-maluin saja, pake BB tapi ga bisa mengoptimalkan fungsinya.

BB memang sih lumayan buat browsing apalagi klo pake tipe dengan layar yang lebar. Tapi bagaimana pun, saya akui, browsing di laptop/komputer lebih nyaman. Masalahnya saya sudah terlanjur daftar paket BB yang ada item koneksi internetnya melalui browser bawaan BB. Saya kira jarang yang mau sekaligus langganan paket modem karena memang mahal sekali. Paket full service biasanya cuma mencakup item BBM, Chatting, Browsing, dan Email.

Saya sendiri langganan paket browsing (selain paket BBM, Chatting, dan Push Email tentunya) sekaligus juga langganan paket terpisah untuk modem biar bisa koneksi melalui laptop. Tapi ini jatuhnya mahal juga untuk saya pribadi.

Padahal ternyata ada cara supaya kita bisa memanfaatkan paket browsing kita sekaligus sebagai modem. Sayangnya memang untuk melakukan trik ini kita butuh sebuah aplikasi berbayar. Nah berbayarnya itu yang membuat agak sedikit eneg. Klo kita bandingkan dengan sistem operasi lain di merek lain, maka kita akan melakukannya dengan sangat mudah dan mungkin juga free of charge.

Harga aplikasi/software sekitar 270 ribu rupiah (US$29.99) atau seharga modemlah. Tapi klo kita beli modem lagi kan sama aja bo’ong, harus beli paket sendiri untuk mengisi modem itu. Jadinya tujuan untuk penghematan tidak tercapai. Prinsipnya, berat di awal, ringan untuk bulan-bulan selanjutnya. Ada aplikasi yang lebih murah tapi saya coba kok ga bisa jalan. Saya sekarang masih pake versi trialnya jadi masih gratis. Nama aplikasinya Tether. Cari aja di webstore-nya BB. Lakukan instalasi di BB dan lakukan instalasi juga di laptop yang akan kita gunakan. Aplikasi ini bisa menggunakan koneksi melalui kabel USB dan Bluetooth. Setelah saya coba lumayan memuaskan karena ternyata lebih cepat dari paket internet bulanan yang masih saya pake. Apa ini karena melewati server BB-nya, entahlah…

Mengenai proses instalasinya lumayan ribet bagi yang belum terbiasa. Bisa baca tutorial di file dokumentasinya atau di beberapa website yang sudah ada.

Satu yang belum saya tahu, untuk provider yang dipake BB saya, berapa kuota yang diberikan untuk paket browsing. Sepertinya nanti perlu saya tanyakan ke galeri, atau mungkin di-trial aja, klo sudah menyedot pulsa berarti sudah habis jatahnya dan berarti bukan unlimited, hehe…

Pic dari sini

blacberry, curhat, gadget, internet

Masih tentang BB yang merepotkan


Akhirnya BB itu saya kembalikan ke penjualnya. Uangnya juga dikembalikan utuh. Itu semua setelah nyata kecacatan BB itu.¬†Penjualnya juga sudah kelihatan hopeless. Apalagi sudah dicoba pake BB satunya lagi, eh sama aja. Memang susah ya, barang¬†rusak kok dijual, bukan satu bijji lagi yang rusak… Dan sebelum dikembalikan tentu semua data saya back up, dan BB direset ke¬†setingan pabrik, dan injeksi nomor saya dikartukan kembali. Untuk mengartukan harus bayar 5 ribu, seperti beli kartu perdana.

Lalu, saya berhenti make BB hampir selama kurang lebih 1 minggu, dan ternyata bos saya ga tahu BB saya sudah ga ada. Dia¬†masih ngirim pesan ke saya via BBM, dan bisa ditebak pasti ga nyampe. Mana pesannya penting lagi, disuruh ganti’in rapat¬†dengan pengurus yayasan. Ya, maap deh… ya mestinya jangan mengandalkan satu jalur komunikasi, kan ada sms, email, dsb.
Lalu saya kasih tahu juga ke bos jangan BBM-an dulu ke saya, BB saya rusak. Dan saya diminta beli yang jenis GSM aja, ga¬†banyak trouble. Ya, saya pikir sih itu kan pendapat beliau aja. Lah, mau dikemana’in paket BIS yang sudah saya daftarin, bisa¬†hangus sia-sia ga kepake dong. Meski cuma 75 ribu, tapi itu kan duit? meski pun dibayarin, hehehe.
Nah, minggu lalu saya main ke toko yang direkomendasikan sama galeri dan rekomendasi teman kantor saya juga. Dia juga beli BB di sana. Katanya lebih bisa dipercaya, barang terjamin, dan lebih murah. Akhirnya beli tipe Storm 9530. Dapat garansi 2 tahun. Bundling carrier-nya dari Verizon. Bisa CDMA dan GSM. Apa ga OK tuh. Dan waktu mau beli saya juga sudah kasih syarat ke penjualnya, bila saya cek ada yang cacat, saya langsung kembalikan BB itu dan uang saya minta kembali. Penjualnya setuju.
Saya ke galeri untuk injek lagi, dan saya tes semua fungsinya. Ternyata OK semua, bahkan modemnya juga langsung bisa, ga seperti tipe Aries yang saya beli sebelumnya.
Memang sih sampai saat ini saya masih eksplorasi untuk mengoptimalkan penggunaan BB ini. Sayang belum bisa seleluasa ponsel-ponsel Android. Saya masih harus berjuang keras menjinakkan BB ini, hehehe…
Kekurangan BB yang saya masih anggap belum ketemu solusinya:
1. Belum bisa menaruh instalasi program aplikasi ke SDCard-nya (memori eksternal), padahal tuh BB masih dipake uji coba install program macam-macam, eh udah kasih warning aja, kapasitas internal mepet dan bahkan sempat nol. Akhirnya BB melambat kerjanya. Jadi akhirnya juga bersih-bersih, uninstall yang ga berguna, lalu coba yang lain.
2. Belum ketemu aplikasi kebutuhan saya seperti untuk merekam pembicaraan telepon, dan aplikasi pendukung kerja lainnya, serta tool penunjang BB-nya sendiri supaya optimal.
3. Belum bisa pake modem melalui server RIM BB-nya. Maksudnya supaya lebih hemat, saya cukup langganan paket BIS berupa BBM, push email, dan browsing. Sedang untuk modem saya ga perlu langganan lagi paket Connex-nya, cukup pake paket BIS yang sudah ada. Sudah sempat lihat triknya di sebuah forum maya. Tapi belum sempat coba-coba lagi.
Lalu, apa sih kelebihan BB?
1. Bisa naik pamor? lah, anak buah saya pada mupeng, nanya: “Masih ada stok di tokonya ga?” ya saya bilang: “Coba aja deh,¬†kayaknya masih.” Heran juga , saya aja kepaksa make BB, eh, ini masih mikir gengsi, padahal juga udah punya BB.
2. Bos juga sempat takjub. Kok BB-nya kalah keren… Itu sih menurut pengamatan saya aja. Lah, beda harga cuma 100 ribu kok¬†dapat yang lebih OK. Lah, saya juga ga tahu, itu juga atas kebaikan penjualnya kasih-kasih lihat ke saya. Dan kebetulan saya¬†juga suka.
3. Mba galeri Smartfren sepertinya juga takjub, tanya-tanya gitu, harga berapa, beli di mana. Dan dia malah¬†bilang: “Ga beda kok Mas dengan Storm 2 secara fisiknya.”
4. Istri saya juga heran bin takjub, kok sama ya kayak punya kakak ipar saya. Embuhlah kata saya, karena secara harga lebih mahal BB kakak ipar saya, mungkin pake tipe Torch dianya.
So, cuma itu kelebihan BB, selain cuma bisa dipake BBM-an? ya begitulah, hehehe, jadi ga usah beli deh, klo cuma buat gaya-gayaan. Ntar malah jadi malu sendiri seperti kasus para alay di: http://adit38.wordpress.com/2011/08/06/ngakak-kisah-alay-dan-hapenya/
Pic minjam dari sini
blacberry, curhat, gadget, internet

BB itu membuat saya repot!


Akhirnya saya ngalah, dan harus beli BB deh…
Pulang haji, ternyata direktur saya tidak lupa dengan pesannya sebelum berangkat haji dulu, agar saya beli Blackberry alias BB saja untuk lebih mudah berkomunikasi. Saya sebenarnya tidak ada halangan komunikasi dengan beliau. Pada saat rapat empat mata beberapa hari lalu, beliau menginstruksikan lagi. Saya sudah tawarkan cara komunikasi alternatif, tidak harus dengan BB. Tapi apa daya ternyata ada alasan lain beliau yang tidak bisa saya ganggu gugat yaitu sudah cukup banyak punya grup BB yang penting.

Ya sudahlah. Lima hari lalu saya langsung ke galeri Smartfren di Ambarrukmo Plaza (Amplaz). Alhamdulillah ga antri panjang seperti galeri utamanya di Jl. Kenari. Ternyata mereka ga jual dan harus beli di distributornya di Jl. Gejayan. Saya yang malas harus bolak balik agak jauh akhirnya beli di counter seberang galeri yang katanya juga distributor mereka. Meski cuma adanya BB kosongan alias belum bundling dengan nomor Fren ya saya terima aja meski nanti ga dapat bonus Blackberry Internet Service (BIS)-nya. Lalu setelah beli langsung ke galeri lagi buat diinjeksikan nomor Fren saya. O, iya, saya beli BB tipe Curve 8530 atau dikenal sebagai Aries warna merah marun seharga 1,6 juta. Ga bisa milih karena adanya cuma tipe dan warna itu dan saya malas pindah untuk cari-cari di counter lain. Ternyata Aries ini saudara kembar si Gemini 8520 dari versi GSM.

Dalam waktu singkat nomor Fren saya sudah berpindah nyawanya ke BB. Sedang jasad alias kartu RUIM-nya dikuburkan alias diminta sama petugas CS Smartfren-nya. Sedih juga saya karena si Fren tidak bisa selingkuh dengan HP atau modem lainnya. Lalu langsung isi pulsa 200 ribu meski udah ada pulsa 50 ribu lebih. Ya, buat jaga-jaga dan uji coba berbagai paket BIS yang ada. Mbak CS manganjurkan untuk coba paket harian dulu untuk merasakan auranya, hehe… Saya pilih yang Rp 1.980 untuk dapat paket BB Message, Social Networking, dan Chatting. Eh, saya salah pilih harusnya yang ada push emailnya yang sama harganya.

Ya sudahlah… Lalu di rumah saya aktifkan paket Smartfren Connex bulanan 45 ribu yang biasa saya pake karena saya belum coba paket BIS yang ada paket browsing atau paket modemnya. Ternyata ga bisa tuh paket Connex-nya. Dan paginya saya coba di kantor kok Wifi-nya ga bisa konek juga. Wah… mulai senewen! Meski bos saya sudah senang karena habis injek kemarin saya langsung minta PIN BB beliau dan sudah bisa chat. Siangnya saya kembali ke Amplaz buat komplain ke distributor kok ga bisa konek hotspot wifi. Di utak-atik dikit eh kok malah bisa. Padahal saya perhatikan sama aja caranya.

Lalu masalah paket Connex untuk modemnya saya ngadu ke CS galeri. Mereka menawarkan untuk menunggu teknisinya yang datang agak sore. Wah ya ga bisa karena saya masih harus meneruskan rapat. Akhirnya saya minta diaktifkan paket harian BIS yang ada item browsingnya. Saya pilih yang paling murah yaitu Rp 3.850 per hari. Sepertinya lancar, malamnya langsung saya registrasi yang bulanan seharga Rp 75.900.

Sementara itu paket Connex yang harusnya bisa untuk dijadikan modem ke laptop belum bisa juga. Lalu keesokan hari menjelang Jum’atan saya ke galeri utama Smartfren di Jl. Kenari, Timoho. Syukur pas lagi ga banyak antrian. Eh, saya diterima oleh CS, seorang mba cantik yang ternyata masih training. Bingung dan terdiam seribu bahasa dia. Lalu minta digantikan sama temannya yang cewek juga. Sama aja ga ngerti. Lalu akhirnya saya dilayani oleh seorang mas yang saya nilai lumayanlah ilmunya. BB-nya diutak-atik sama dia, dibandingkan dengan punya dia dan dengan komputer lain. Di dapatkan kesimpulan masalahnya ada pada device alias BB-nya sendiri. Jadi BB-nya cacat nih? ya, kira-kira begitulah…

Hhhh…
Entahlah dari dulu saya bisa dikatakan sering tidak bernasib mujur ketika harus beli barang-barang elektronik apalagi sejenis gadget ini. Sering aja ada masalah. Kata istri saya karena kebanyakan dosa, hehehe, ya bisa jadi deh. Tapi saya ambil hikmah saja, saya bisa jadi semakin tahu perselukbelukan gadget karena banyak ketemu orang-orang yang berilmu meski tak jarang juga yang oon. Dan saya terus belajar mengendalikan emosi saya ketika harus keliling-keliling untuk melakukan komplain ke berbagai orang. Dan saya sangat memperhatikan mereka ketika menangani keluhan pelanggan (handling complain) karena hal itu saya butuhkan untuk kantor saya juga.

So, saya diminta kembali ke distributor BB di Amplaz. Sedikit menahan emosi dan dengan intonasi berat saya bilang tentang masalah BB itu. Saya sudah duga awalnya pasti ada resistensi dan mereka mencari-cari alasan. Semuanya saya patahkan, meski setelah dilempar ke galeri diseberang distributornya dan mereka juga kasih alasan, bahkan sampai dites ulang (lagi-lagi) dan akhirnya mereka menemukan sendiri bahwa BB yang bermasalah. Saya ditawarkan oleh pihak Smartfren untuk meng-kartu-kan kembali nomor saya alias injek-nya dicabut supaya saya bisa pake di HP lain atau di modem. Tapi saya protes bagaimana dengan BB saya, klo harus dirawat inap (apalagi pake lama dan biasanya begitu) di tempat service. Apalagi saya sudah aktifkan paket BIS-nya. Saya ga mau rugi. Tapi mereka membujuk supaya saya mengorbankan salah satunya. Saya masih bersikukuh kesalahan bukan di saya. Saya sangat mengharapkan ada BB pengganti karena saya sedang komunikasi intensif dengan bos saya. Ya, itu memang alasan saya. Saya mau lihat cara mereka. Saya tunggu saja lanjutannya. Meski janjinya hari ini saya mau dihubungi. Tapi belum tuh.

Pic asli dari sini (setelah modifikasi dikit)