manajemen, rumah sakit, yankes

Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan?


Postingan pertama di tahun ini setelah sekian lama mengalami fase dorman yang sempat membekukan otak. Tepatnya adalah sisi otak yang memberikan stimulasi untuk menulis kembali. Semoga dengan memulai dengan tulisan yang ringan ini – menurut saya, dapat sedikit demi sedikit mencairkan sisi beku otak saya tersebut.

Memulai sebuah petualangan baru di sebuah institusi besar bernama Rumah Sakit Universitas Islam Indonesia, kebanyakan secara tak sadar saya telah mengalokasikan sumber daya tenaga dan pikiran yang besar, serta pengorbanan-pengorbanan lainnya yang mungkin itu sesuatu yang luar biasa, yang juga kebanyakan tidak saya sadari. Ya, kebanyakan tidak saya sadari setelah saya sering menerima komplain dari orang-orang terdekat terhadap berkurangnya porsi perhatian kepada mereka. Namun di sini saya tidak akan membahas hal itu. Saya fokus sesuai judul tulisan ini saja ya.

Sebuah istilah mengungkapkan hal tersebut: “Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan”. Benarkah begitu? Ada sih istilah lainnya: “Memulai Lebih Mudah Daripada Mempertahankan” untuk yang ini saya setuju 100 persen Tapi saya juga tidak akan membahas istilah yang ini. Saya kembalikan saja untuk fokus ke istilah pertama ya…

Ya, untuk memulai menulis kembali di blog ini, saya rasakan juga tidak mudah, tetapi jauh terasa lebih mudah mencairkan kebekuan dengan sedikit pemanasan melalui tulisan ini, perlahan, saya yakin semakin lama akan cair secara total, dan akan mengalir lancar kembali, insyaAllah. Saya yakin mereka yang belum pernah menulis di blog, analog dengan sulitnya mencairkan ide di awal dulu saat saya memulai coretan di blog ini, mungkin waktu itu masih terlalu banyak pertimbangan dan mental block (ketidakpercayaan diri) yang menghalangi.

Saya berbicara dari pengalaman saya saja yang baru segelintir saja di umur, yang kata orang masih muda ini. Saya pernah merasakan menjadi direktur ke-4 di RS Islam Yogyakarta PDHI, ditambah dengan berkarir selama 5 tahun sebelum menjadi direktur di RS ini. Pengalaman selama 10 tahun ini, yang saya mulai dari level staf, lebih memudahkan saya merasakan dinamika organisasi. Ini menjadi bekal berharga ketika naik level ke pimpinan puncak. Namun, itu pun sebenarnya tidak mudah di tengah stigma-stigma pribadi dan institusi yang terlanjur melekat di mata pelanggan internal maupun eksternal. Perlu waktu yang panjang juga untuk membalikkan stigma-stigma negatif menjadi stigma-stigma positif agar tercapai budaya organisasi yang sehat dan pelayanan berkualitas. Perlu meyakinkan, dan itu sering saya lakukan berulang-ulang, tanpa bosan, meski kadang lelah mendera, mentransfer kekuatan spirit visi misi pribadi dan institusi ke segenap komponen organisasi, tentu saja turut langsung memberikan contoh bagaimana cara merealisasikan dalam tataran operasional. Saya tidak terbiasa hanya berkeluh-kesah, memerintah, memberi usul atau dorongan saja, tanpa terlibat langsung memberikan contoh, bahkan dari sisi teknis sekali pun, saya akan lakukan itu. Saya sering kali harus memaklumi bahwa ide-ide saya tidak begitu saja mudah dimengerti oleh teman-teman saya, untuk itulah saya harus selalu meyakinkan mereka dan membuat contoh-contoh kecil, agar mereka mampu melihat tahapan-tahapannya serta capaian keberhasilan kecil terlebih dahulu. Hal ini akan menimbulkan rasa kepercayaan yang semakin kuat serta potensial energi penggerak untuk melangkah menuju ke tahap kesuksesan yang lebih besar, dengan masalah yang lebih rumit tentu saja.

Sedikit deskripsi di atas semoga dapat memberikan gambaran bahwa berada dalam posisi “meneruskan” itu sebenarnya juga butuh energi yang besar juga.

Sekarang saya mencoba membandingkan dengan situasi saya sebagai direktur utama di institusi besar bernama RS Universitas Islam Indonesia, dalam posisi “memulai”. Kebanyakan teman saya bilang: “hebat sekali kamu, pasti jauh lebih sulit ya?” Tapi seorang mentor bilang ke saya: “engga, dia enjoy kok…”

Komentar saya: “kedua pertanyaan dan pernyataan itu benar buat saya” 😊

Yang tidak banyak terungkap adalah, kondisi saya di dua institusi tersebut, pada saat mengawali fase “meneruskan” dan kemudian pindah (move on) ke kondisi mengawali fase “memulai” itu sama-sama galau secara psikologis. Ya, karena sama-sama mengawali, mengawali untuk “meneruskan” dan mengawali untuk “memulai”. Paham ya. Jadi ini mungkin belum terlalu menjawab apakah “Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan” untuk konteks diri saya ya 😁

Baiklah. Supaya mudah, enaknya di-poin-kan saja secara objektif dan subjektif apa yang saya temukan di dua institusi ini ya, nanti silakan bila berkenan berikan komentar, bila teman-teman pembaca yang menghadapi situasi ini, kira-kira apa yang akan dilakukan? Dan apakah bisa menjawab “Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan”?

RS Islam Yogyakarta PDHI

  1. Merupakan RS tumbuh, bermula dari Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin sejak tahun 1997, resmi menjadi RS pada tahun 2005. Berkembang menjadi RS kelas C sejak tahun 2016. Dimiliki oleh Yayasan Persaudaraan Djama’ah Haji Indonesia.
  2. Terkenal sebagai RS sosial dengan segmen pasar menengah ke bawah. Sedang berproses memperkuat segmen pasar kelas atas.
  3. Sumber daya manusia (staf) mudah dibentuk meski pun harus dengan pembelajaran yang lama, budaya organisasi sudah terbentuk sejak lama. Di sisi lain ini menjadi hambatan untuk move on lebih cepat untuk meninggalkan status quo comfort zone, sehingga cukup memakan banyak korban bagi yang tidak dapat mengikuti perkembangan organisasi.
  4. Stakeholder kunci (shareholder) sedikit, sangat tergantung kepada beberapa orang saja, pola gerak termasuk kurang responsif dalam eksekusi untuk pertumbuhan, harus diimbangi kekuatan advokasi direksi dan pemahaman terus-menerus agar segenap komponen bersinergi dengan baik.
  5. Pola gerak pemasaran masih terkesan pasif, inisiatif belum terlalu baik, kreatifitas masih harus terus dikawal dan diasah agar tidak mengalami fase antiklimaks.
  6. Di kalangan dan wilayah terbatas posisi brand sudah baik, namun di luar itu masih perlu dicitrakan terus-menerus agar bisa lebih global melalui kancah regional dan nasional.
  7. Jaringan pre existing masih cukup homogen, perlu lebih heterogen untuk ekspansi jaringan.
  8. Power resources mesti lebih dikembangkan, mesti lebih kreatif dan lebih bebas di luar sekat-sekat yang sudah ada.
  9. Kegamangan citra tidak terlalu dirasakan, sehingga tidak terlalu menjadi beban, tetapi dapat menjadi hambatan dalam pertumbuhan, kecuali bila terus-menerus dipompa kesadaran spirit ilahiyah diiringi dengan perbaikan profesionalitas berorganisasi. Ini kombinasi power yang dahsyat.
  10. Tuntutan terhadap pertumbuhan organisasi dan pelayanan tidak terlalu besar.

RS Universitas Islam Indonesia

  1. Merupakan RS mapan (langsung jadi) dan super mewah, berbentuk badan usaha/perseroan yang dimiliki oleh Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia. Resmi beroperasional sejak Februari 2019 sebagai RS kelas C.
  2. Masih teridentikkan sebagai RS segmen menengah ke atas seperti RS milik Yayasan Badan Wakaf UII yang lebih dahulu ada. Padahal faktanya segmen pasarnya adalah untuk semua kalangan. Dengan tarif sangat kompetitif/terjangkau meski pun dengan fasilitas mewah dan pelayanan yang baik dan cukup responsif di awal beroperasi.
  3. Sumber daya manusia dengan latar belakang sangat beragam, sebagian besar berpengalaman meski pun cukup banyak pada level jabatan strategis belum banyak yang memahami bisnis perumahsakitan dan berinisiatif baik. Budaya organisasi sedang dibangun.
  4. Lebih banyak stakeholder (shareholder) yang mesti diberikan perhatian karena terdiri dari mereka yang sangat berpengalaman dalam bidang perumahsakitan agar tidak menjadi kontraproduktif dengan arah bisnis RS, sebaliknya dapat menjadi potensi tenaga yang bersinergi baik sehingga mendapatkan output yang luar biasa baik dan responsif.
  5. Pola gerak pemasaran dan pelayanan jauh lebih agresif namun perlu diimbangi dengan koordinasi yang intens, serta coaching ketat agar langkah-langkah tetap on the track, sesuai dengan keinginan pemilik.
  6. Posisi tawar brand sangat baik, sangat membantu dalam melakukan negosiasi, positioning, dan ekspansi.
  7. Jaringan pre existing jauh lebih menggurita, merupakan potensi dahsyat dalam ekspansi.
  8. Power resources lainnya jauh lebih kuat.
  9. Kegamangan pre existing image membuat rasa was-was dalam menyeimbangkan (memantaskan) gerak organisasi dan menjaga nama baik.
  10. Tuntutan besar terhadap percepatan pertumbuhan organisasi dan pelayanan.

Saya kira sementara cukup perbandingan 10 poin tersebut dahulu ya, meski bisa lebih banyak yang ada dalam pikiran saya. Nah, apakah sudah punya jawaban? Kalau saya sih sudah ada… 😊

Bila butuh jawaban saya, silakan kontak saya ya, terimakasih 😁

Tulisan ini dibuat saat menunggu proses boarding dan penerbangan dari Ternate menuju Jogjakarta, serta saat menunggu transit yang telat 3 jam dari jadwalnya (menunggu 6 jam) di Makassar.

Bonus: saya kasih pemandangan hasil jepretan saya saat di Ternate.

Danau Tolire di kaki Gunung Gamalama
Danau Tolire di kaki Gunung Gamalama
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri, area snorkeling/diving
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri, area snorkeling/diving
Pantai Sulamadaha
Pantai Sulamadaha
Pulau Hiri
Pulau Hiri

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.