agama, kontemplasi, manajemen, rumah sakit

Shalih vs Muslih


Jumat lalu terinspirasi dari sebuah khutbah saat mampir Jumatan di sebuah masjid besar di perempatan Kasihan Bantul. Sang khatib yang ceramahnya tidak membuat kantuk namun juga membuat jama’ah betah menyimak. Beliau menyitir sebuah ayat Al Quran tentang larangan menyembunyikan kebenaran. Beliau menekankan bahwa penting menjadi orang baik, namun jauh lebih penting menjadi orang yang mengajak kepada kebaikan, penting tidak berbuat keburukan, namun jauh lebih penting mencegah tersebarnya keburukan. Menurut beliau menjadi pemimpin yang adil, tidak takut menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran jauh lebih baik daripada orang yang hanya suka berdzikir di masjid. Apalagi kalau sudah tahu ada ketidakbenaran, dia diam saja, maka itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan.

Fenomena mencolok akhir-akhir ini kita lihat tempat ibadah semakin penuh, secara kasat mata dapat dikatakan semakin banyak orang shalih, namun kita lihat ternyata bencana dan adzab tidak semakin berkurang. Kedzaliman dan kecurangan terus-menerus dan semakin banyak terjadi, hoax bertebaran tak terkendali.

Saya ingat seorang teman dokter yang galau ketika diminta untuk naik ke level manajemen, menjadi salah satu pimpinan di tempat kerjanya. Saya katakan kepada dia, meski pun itu sulit, tapi dia menyaksikan sendiri bagaimana kondisi tempat kerjanya yang tidak menyenangkan, budaya kerja yang tidak baik, manajemen yang tidak transparan. Saya katakan, itulah tantangannya yang membuahkan hasil yang lebih terhormat dan tinggi nilainya di sisi Sang Khalik. Kalau kita tidak senang melihat hal tersebut, tidak bisa kita hanya sekadar kasih usul atau bahkan cuma menggerutu. Jadilah agen perubahan. Jangan takut naik level, mendapatkan lebih banyak masalah, karena masalah itu justru akan semakin menguatkan kita.

Agen perubahan dalam terminologi Al Quran disebut sebagai muslih, adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk bisa menolak adzab dan kerusakan. Tak hanya kuat dari sisi nahi mungkar, melainkan juga teguh dalam amar ma’ruf.  Ketika seseorang itu menolak kedzaliman dan kerusakan, otomatis ia juga mendatangkan maslahat. Begitu juga sebaliknya, bila ia mendatangkan maslahat, secara otomatis juga ia menolak adanya mafsadat/kerusakan. Tujuan islah/perbaikan yang dilakukan seorang muslih tidak selamanya untuk menghilangkan maksiat dan kedzaliman, namun juga untuk mencegah turunnya adzab Allah yang bisa menimpa semua orang (baik yang shalih maupun yang berdosa).

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang dzalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 116-117).

Muslih tidak mesti sempurna terlebih dahulu (dari segi amalan dan ilmunya), dalam hadits: “Serukanlah yang ma’ruf walaupun kalian tidak melakukannya secara sempurna, dan cegahlah kemungkaran walaupun kalian tidak berlepas darinya seluruhnya”. (HR Thabrani dan Baihaqi).

Keluarga muslih tidak mesti semuanya orang-orang shalih, sebab Nabi Nuh saja tidak bisa menshalihkan anak dan istrinya, Nabi Ibrahim tidak bisa menshalihkan ayahnya, dan Nabi Muhammad tidak bisa menshalihkan pamannya Abu Lahab, dan Abu Thalib. Dalam ayat: “Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai” (QS al-Qashash: 56).

Apa ciri utama muslih: di awal dia bergerak musuhnya lebih banyak daripada temannya, berbeda sama orang shalih (baik): lebih banyak temannya daripada musuhnya, karena orang shalih tidak pernah mengutak-atik urusan orang lain, berbeda sama orang muslih yang senantiasa peduli dengan apa yang terjadi di orang lain dan lingkungannya. Dalam hal ini saya tidak setuju kalau ibadah itu hanya meliputi wilayah privat/pribadi, itu hanya ibadah ritual, seperti orang shalih yang hanya berdzikir saja di masjid, tidak mau berkubang sama masalah. Mungkin ada yang ingat mengenai level keimanan dalam sebuah hadits dari sisi mengatasi kedzaliman/kemungkaran, bahwa yang paling tinggi itu adalah level penggunaan kekuasaan, ini hanya bisa dilakukan oleh para pemimpin (istilahnya umara), para ustadz dan kyai mungkin cuma sampai pada level kedua yaitu menggunakan lisan/ucapannya, dan yang paling rendah justru malah bisa tersemat pada orang-orang shalih yang cukup cari aman saja, berdzikir saja di masjid, ternyata dapat dikategorikan sebagai selemah-lemahnya iman, yaitu hanya bisa mengutuki/menggerutu di dalam hati saja mengenai kerusakan yang terjadi.

Satu orang muslih lebih dicintai oleh Allah daripada seribu orang yang shalih, sebab dengan adanya muslih, Allah menjaga seluruh umat dari adzab (dunia), dan orang shalih hanya bisa menjaga dirinya sendiri, tanpa orang lain. So, marilah menjadi orang shalih, namun juga sekaligus muslih.

Referensi: dari berbagai sumber hasil searching di google

Difinalisasi sehabis rapat koordinasi manajemen RS UII di 02052019
Berusaha menulis minimal 1 tulisan dalam sepekan. Rencananya rilis setiap Senin, apa daya, waktu tak selamanya bisa digenggam. Baik pemirsa, silakan disimak blog ini ya, terimakasih 🙂

dokter, kesehatan, manajemen, rumah sakit, yankes

Uncertainty & Unclearness


Mungkin teman-teman mengenal istilah PHP? Jauh sebelum istilah PHP yang merupakan bahasa gaul dari “Pemberi Harapan Palsu”, sudah dikenal terlebih dahulu singkatan rekursif (perulangan) yang merupakan sebuah bentuk lelucon dari sebuah bahasa pemrograman PHP, yaitu PHP Hypertext Preprocessor. Saya yakin tidak banyak yang paham dan bisa tertawa dengan lelucon rumit seperti ini… Malah tambah pusing kan? 😁 Kalau teman-teman lagi gabut (silakan searching sendiri arti gabut ini ya) silakan searching di mesin google istilah-istilah di atas ya… (tuh… ikut-ikutan rekursif kan sayanya) 😁

Saya sebenarnya mau berbicara tentang PHP yang merupakan singkatan dari “Pemberi Harapan Palsu”. Siapa pun, selama masih namanya manusia, pria atau wanita, mesti tidak suka di PHP kan? Ada istilah lain dalam bahasa Inggris yang saya kira dapat mewakili istilah gaul berbahasa Indonesia ini, yaitu Uncertainty dan Unclearness.

Dalam scope (cakupan) terbatas, mungkin juga teman-teman pernah mendengar isitilah BPIS? Saya yakin jarang sekali, mesti…. Beda sama BPJS, mesti udah paham semua kan 😊

Okey! BPIS adalah akronim (singkatan) dari “Bila Pasien Itu Saya”, “If the Patient Is Me”, sebuah istilah yang mulai gencar digaungkan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia akhir-akhir ini. Dalam scope kerumahsakitan, istilah BPIS muncul dalam separuh lebih dari bab-bab standar akreditasi rumah sakit (RS). Dahulu sistem pelayanan kesehatan menganut pola “hospital centered care” atau pun “doctor centered care”. Sistem yang melihat posisi masyarakat yang menggunakan fasilitas layanan kesehatan sebagai objek yang tidak memiliki wewenang apa-apa dalam menentukan kesembuhan dirinya. Apa-apanya mesti manut kepada dokter atau RS. Zaman sudah berubah. Di era diseminasi/sebaran informasi yang sangat cepat melalui teknologi internet, menghendaki masyarakat (pasien) untuk memegang peranan sangat penting dalam menentukan kesembuhan dirinya, memegang peranan penting dalam memutuskan intervensi pengobatan dan tindakan medik terhadap dirinya. Selain dijamin oleh negara, secara kekuatan sosial, posisi tawar masyarakat sudah lebih baik terhadap layanan kesehatan. Seorang dokter yang memberikan pelayanan yang tidak memuaskan di mata seorang pasien, dapat tersebar dengan cepat dan akan berakibat tidak baik terhadap dokter itu sendiri.

Nah, teman-teman, salah satu unsur dari sekian banyak dimensi mutu dalam memberikan layanan publik, tak terkecuali layanan kesehatan adalah unsur kepastian (certainty) dan kejelasan (clearness). Bayangkan posisi kita sebagai pasien yang kepayahan dengan sakitnya, menunggu seorang dokter yang diinformasikan secara jelas oleh bagian administasi akan praktik pada jam sekian-sekian. Lalu kita (sebagai pasien) ternyata harus menunggu sampai lebih dari, katakanlah, lebih dari 1 jam (bahkan bisa ada yang sampai 7 jam!). Apakah dalam posisi tersebut, teman-teman akan mengalami lonjakan emosi yang sangat atau biasa saja? 🙄

Unsur certainty dan clearness sangat erat dalam menentukan apakah pasien akan puas atau tidak dengan layanan dokter/RS. Seorang dokter menolak dan marah ketika diingatkan bahwa dia akan praktik pada jam sekian-sekian oleh bagian administrasi, seolah-olah dia tidak akan lupa atau tidak akan ada masalah yang menyebabkan dia tidak akan jadi praktik pada hari/jam yang telah dipublikasikan secara luas kepada masyarakat. Di sini petugas administrasi telah menjalankan unsur certainty, memastikan bahwa dokter pasti (insyaAllah) akan praktik pada hari/jam yang telah ditentukan. Di lain waktu, seorang dokter marah ketika tidak diingatkan bahwa pada hari/jam tertentu dia akan praktik. Petugas administrasi tiba-tiba secara mendadak menginformasikan kepada dokter bahwa telah ada antrian pendaftaran pasien yang cukup banyak. Dia tidak siap karena petugas administrasi tidak memberitahukan/mengingatkan jauh-jauh dari waktu praktiknya. Dalam hal ini petugas administrasi telah lalai tidak menjalankan unsur certainty tadi. Dua kejadian ini ternyata mengakibatkan ketidakpuasan dari pihak dokter mau pun pasien. Ketidakpuasan biasanya akan melahirkan komplain, yang dapat bermanifestasi baik atau buruk, tergantung respon yang diberikan. Ketidakpuasan dan komplain lahir karena ada gap (kesenjangan, jurang pemisah) antara harapan (ekspektasi, idealita) dengan kenyataan (realita). Harapan dari pasien bahwa dokter bisa praktik tepat waktu, tapi kenyataan yang dihadapi oleh pasien tidak sesuai harapannya, maka kekecewaan akan muncul, tidak puas, dan tidak mustahil akan terjadi komplain. Bayangkan bila teman-teman berposisi sebagai pasien itu ya…

Pasien yang berhadapan dengan kenyataan yang tak pasti (uncertainty), pada level komplain terburuk akan menyebarkan ketakpuasan itu kepada teman-temannya dan seisi dunia (tidak bisa dikatakan lebay ya di zaman internet ini, karena sudah banyak buktinya), dan terparah akan mengajak orang lain untuk tidak menggunakan layanan kesehatan di RS atau tidak usah berobat ke dokter yang melakukan PHP tadi 😊 masih ingat ya istilah PHP yang saya maksud ini…

Ada ga sih cara mengurangi level ketidakpuasan dan komplain pasien ini? Ada. Yaitu memberikan penjelasan. Kejelasan (clearness), yaitu memberikan informasi secara responsif (cepat) dan up to date (terbaru), dalam waktu terukur (ada standar jelas, tertuang dalam dokumen prosedur baku), mengenai gap yang terjadi, dalam kasus di atas, mengapa dokter tidak bisa praktik tepat waktu. Tapi perlu sangat diperhatikan bahwa pemakluman masyarakat terhadap unsur clearness ini hanya pada hal-hal yang memang di luar kendali, yang secara manusiawi dapat diterima oleh akal sehat. Dan masyarakat juga akan melihat apakah unsur clearness ini hanya berupa bentuk cari-cari alasan atau memang harus dimaklumi. Pernah dong kita kalau ga puas sama seseorang, kita bisa jadi ga akan percaya lagi sama dia, karena itu-itu saja yang diulang klarifikasi/penjelasan yang diberikannya kepada kita kan… 😊 Sama dong, pasien juga akan seperti itulah…

Nah, coba kita bayangkan lagi, sudahlah tidak pasti (uncertainty) ditambah lagi tidak jelas kapan dokter akan datang, alasan telatnya apa saja, karena tidak dapat penjelasan (unclearness), apa yang akan terjadi? Kalau saya, mending cari dokter lain atau RS lain aja, ngapain mau di-PHP-in terus, ya ga? 😁

Artikel ini dicicil saat menunggu si Kakak yang ikut kelas Parenting Kids dari tim Pola Pertolongan Allah (PPA) di Hotel Syariah Grand Dafam Rohan Jogja hari Ahad kemarin, dilanjut menulis saat perjalanan ke RS UII, difinishing di ruangan kerja sambil menunggu sesi rapat tim marketing support Senin pagi ini. Terimakasih yang telah berkenan membaca. 😊

manajemen, rumah sakit, yankes

Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan?


Postingan pertama di tahun ini setelah sekian lama mengalami fase dorman yang sempat membekukan otak. Tepatnya adalah sisi otak yang memberikan stimulasi untuk menulis kembali. Semoga dengan memulai dengan tulisan yang ringan ini – menurut saya, dapat sedikit demi sedikit mencairkan sisi beku otak saya tersebut.

Memulai sebuah petualangan baru di sebuah institusi besar bernama Rumah Sakit Universitas Islam Indonesia, kebanyakan secara tak sadar saya telah mengalokasikan sumber daya tenaga dan pikiran yang besar, serta pengorbanan-pengorbanan lainnya yang mungkin itu sesuatu yang luar biasa, yang juga kebanyakan tidak saya sadari. Ya, kebanyakan tidak saya sadari setelah saya sering menerima komplain dari orang-orang terdekat terhadap berkurangnya porsi perhatian kepada mereka. Namun di sini saya tidak akan membahas hal itu. Saya fokus sesuai judul tulisan ini saja ya.

Sebuah istilah mengungkapkan hal tersebut: “Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan”. Benarkah begitu? Ada sih istilah lainnya: “Memulai Lebih Mudah Daripada Mempertahankan” untuk yang ini saya setuju 100 persen Tapi saya juga tidak akan membahas istilah yang ini. Saya kembalikan saja untuk fokus ke istilah pertama ya…

Ya, untuk memulai menulis kembali di blog ini, saya rasakan juga tidak mudah, tetapi jauh terasa lebih mudah mencairkan kebekuan dengan sedikit pemanasan melalui tulisan ini, perlahan, saya yakin semakin lama akan cair secara total, dan akan mengalir lancar kembali, insyaAllah. Saya yakin mereka yang belum pernah menulis di blog, analog dengan sulitnya mencairkan ide di awal dulu saat saya memulai coretan di blog ini, mungkin waktu itu masih terlalu banyak pertimbangan dan mental block (ketidakpercayaan diri) yang menghalangi.

Saya berbicara dari pengalaman saya saja yang baru segelintir saja di umur, yang kata orang masih muda ini. Saya pernah merasakan menjadi direktur ke-4 di RS Islam Yogyakarta PDHI, ditambah dengan berkarir selama 5 tahun sebelum menjadi direktur di RS ini. Pengalaman selama 10 tahun ini, yang saya mulai dari level staf, lebih memudahkan saya merasakan dinamika organisasi. Ini menjadi bekal berharga ketika naik level ke pimpinan puncak. Namun, itu pun sebenarnya tidak mudah di tengah stigma-stigma pribadi dan institusi yang terlanjur melekat di mata pelanggan internal maupun eksternal. Perlu waktu yang panjang juga untuk membalikkan stigma-stigma negatif menjadi stigma-stigma positif agar tercapai budaya organisasi yang sehat dan pelayanan berkualitas. Perlu meyakinkan, dan itu sering saya lakukan berulang-ulang, tanpa bosan, meski kadang lelah mendera, mentransfer kekuatan spirit visi misi pribadi dan institusi ke segenap komponen organisasi, tentu saja turut langsung memberikan contoh bagaimana cara merealisasikan dalam tataran operasional. Saya tidak terbiasa hanya berkeluh-kesah, memerintah, memberi usul atau dorongan saja, tanpa terlibat langsung memberikan contoh, bahkan dari sisi teknis sekali pun, saya akan lakukan itu. Saya sering kali harus memaklumi bahwa ide-ide saya tidak begitu saja mudah dimengerti oleh teman-teman saya, untuk itulah saya harus selalu meyakinkan mereka dan membuat contoh-contoh kecil, agar mereka mampu melihat tahapan-tahapannya serta capaian keberhasilan kecil terlebih dahulu. Hal ini akan menimbulkan rasa kepercayaan yang semakin kuat serta potensial energi penggerak untuk melangkah menuju ke tahap kesuksesan yang lebih besar, dengan masalah yang lebih rumit tentu saja.

Sedikit deskripsi di atas semoga dapat memberikan gambaran bahwa berada dalam posisi “meneruskan” itu sebenarnya juga butuh energi yang besar juga.

Sekarang saya mencoba membandingkan dengan situasi saya sebagai direktur utama di institusi besar bernama RS Universitas Islam Indonesia, dalam posisi “memulai”. Kebanyakan teman saya bilang: “hebat sekali kamu, pasti jauh lebih sulit ya?” Tapi seorang mentor bilang ke saya: “engga, dia enjoy kok…”

Komentar saya: “kedua pertanyaan dan pernyataan itu benar buat saya” 😊

Yang tidak banyak terungkap adalah, kondisi saya di dua institusi tersebut, pada saat mengawali fase “meneruskan” dan kemudian pindah (move on) ke kondisi mengawali fase “memulai” itu sama-sama galau secara psikologis. Ya, karena sama-sama mengawali, mengawali untuk “meneruskan” dan mengawali untuk “memulai”. Paham ya. Jadi ini mungkin belum terlalu menjawab apakah “Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan” untuk konteks diri saya ya 😁

Baiklah. Supaya mudah, enaknya di-poin-kan saja secara objektif dan subjektif apa yang saya temukan di dua institusi ini ya, nanti silakan bila berkenan berikan komentar, bila teman-teman pembaca yang menghadapi situasi ini, kira-kira apa yang akan dilakukan? Dan apakah bisa menjawab “Memulai Lebih Sulit Daripada Meneruskan”?

RS Islam Yogyakarta PDHI

  1. Merupakan RS tumbuh, bermula dari Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin sejak tahun 1997, resmi menjadi RS pada tahun 2005. Berkembang menjadi RS kelas C sejak tahun 2016. Dimiliki oleh Yayasan Persaudaraan Djama’ah Haji Indonesia.
  2. Terkenal sebagai RS sosial dengan segmen pasar menengah ke bawah. Sedang berproses memperkuat segmen pasar kelas atas.
  3. Sumber daya manusia (staf) mudah dibentuk meski pun harus dengan pembelajaran yang lama, budaya organisasi sudah terbentuk sejak lama. Di sisi lain ini menjadi hambatan untuk move on lebih cepat untuk meninggalkan status quo comfort zone, sehingga cukup memakan banyak korban bagi yang tidak dapat mengikuti perkembangan organisasi.
  4. Stakeholder kunci (shareholder) sedikit, sangat tergantung kepada beberapa orang saja, pola gerak termasuk kurang responsif dalam eksekusi untuk pertumbuhan, harus diimbangi kekuatan advokasi direksi dan pemahaman terus-menerus agar segenap komponen bersinergi dengan baik.
  5. Pola gerak pemasaran masih terkesan pasif, inisiatif belum terlalu baik, kreatifitas masih harus terus dikawal dan diasah agar tidak mengalami fase antiklimaks.
  6. Di kalangan dan wilayah terbatas posisi brand sudah baik, namun di luar itu masih perlu dicitrakan terus-menerus agar bisa lebih global melalui kancah regional dan nasional.
  7. Jaringan pre existing masih cukup homogen, perlu lebih heterogen untuk ekspansi jaringan.
  8. Power resources mesti lebih dikembangkan, mesti lebih kreatif dan lebih bebas di luar sekat-sekat yang sudah ada.
  9. Kegamangan citra tidak terlalu dirasakan, sehingga tidak terlalu menjadi beban, tetapi dapat menjadi hambatan dalam pertumbuhan, kecuali bila terus-menerus dipompa kesadaran spirit ilahiyah diiringi dengan perbaikan profesionalitas berorganisasi. Ini kombinasi power yang dahsyat.
  10. Tuntutan terhadap pertumbuhan organisasi dan pelayanan tidak terlalu besar.

RS Universitas Islam Indonesia

  1. Merupakan RS mapan (langsung jadi) dan super mewah, berbentuk badan usaha/perseroan yang dimiliki oleh Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia. Resmi beroperasional sejak Februari 2019 sebagai RS kelas C.
  2. Masih teridentikkan sebagai RS segmen menengah ke atas seperti RS milik Yayasan Badan Wakaf UII yang lebih dahulu ada. Padahal faktanya segmen pasarnya adalah untuk semua kalangan. Dengan tarif sangat kompetitif/terjangkau meski pun dengan fasilitas mewah dan pelayanan yang baik dan cukup responsif di awal beroperasi.
  3. Sumber daya manusia dengan latar belakang sangat beragam, sebagian besar berpengalaman meski pun cukup banyak pada level jabatan strategis belum banyak yang memahami bisnis perumahsakitan dan berinisiatif baik. Budaya organisasi sedang dibangun.
  4. Lebih banyak stakeholder (shareholder) yang mesti diberikan perhatian karena terdiri dari mereka yang sangat berpengalaman dalam bidang perumahsakitan agar tidak menjadi kontraproduktif dengan arah bisnis RS, sebaliknya dapat menjadi potensi tenaga yang bersinergi baik sehingga mendapatkan output yang luar biasa baik dan responsif.
  5. Pola gerak pemasaran dan pelayanan jauh lebih agresif namun perlu diimbangi dengan koordinasi yang intens, serta coaching ketat agar langkah-langkah tetap on the track, sesuai dengan keinginan pemilik.
  6. Posisi tawar brand sangat baik, sangat membantu dalam melakukan negosiasi, positioning, dan ekspansi.
  7. Jaringan pre existing jauh lebih menggurita, merupakan potensi dahsyat dalam ekspansi.
  8. Power resources lainnya jauh lebih kuat.
  9. Kegamangan pre existing image membuat rasa was-was dalam menyeimbangkan (memantaskan) gerak organisasi dan menjaga nama baik.
  10. Tuntutan besar terhadap percepatan pertumbuhan organisasi dan pelayanan.

Saya kira sementara cukup perbandingan 10 poin tersebut dahulu ya, meski bisa lebih banyak yang ada dalam pikiran saya. Nah, apakah sudah punya jawaban? Kalau saya sih sudah ada… 😊

Bila butuh jawaban saya, silakan kontak saya ya, terimakasih 😁

Tulisan ini dibuat saat menunggu proses boarding dan penerbangan dari Ternate menuju Jogjakarta, serta saat menunggu transit yang telat 3 jam dari jadwalnya (menunggu 6 jam) di Makassar.

Bonus: saya kasih pemandangan hasil jepretan saya saat di Ternate.

Danau Tolire di kaki Gunung Gamalama
Danau Tolire di kaki Gunung Gamalama
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri, area snorkeling/diving
Pantai Sulamadaha, view Pulau Hiri, area snorkeling/diving
Pantai Sulamadaha
Pantai Sulamadaha
Pulau Hiri
Pulau Hiri
manajemen, rumah sakit

Hospital Management Class: Enam Topi Berpikir


Beberapa bulan terakhir pasca kelulusan akreditasi RS kami, saya dan teman-teman berusaha kembali menghadirkan suasana pembelajaran di tengah suasana kerja pelayanan yang padat. Agar kompetensi manajerial senantiasa terasah, otak mampu terus berpikir di tengah permasalahan yang semakin rumit. Tidak cukup hanya membangun motivasi dan spirit, namun juga dibutuhkan penguasaan terhadap perangkat-perangkat manajemen handal untuk mengefisienkan dan mengefektifkan kerja. Dalam konteks ilmu Balanced Scorecard (BSC), elemen pertumbuhan dan pembelajaran komponen organisasi menjadi sangat penting agar senantiasa dapat melahirkan proses pelayanan yang kreatif dan inovatif serta minimal konflik. Dalam lingkup ke-RS-an, dengan komposisi padat karya yang dibangun dari berbagai level personal dengan variasi profesi berbeda, sangat tidak mudah memfasilitasi suatu nilai-nilai kebersamaan yang bersinergi dalam mencapai tujuan jangka pendek dan panjang organisasi. Namun dalam situasi positif, ini adalah sebuah tantangan, bukan pelemahan, bahkan kata seorang konsultan ini merupakan lorong-lorong transendental sebagai proses-proses ujian untuk kenaikan level personal maupun organisasi.

Syukurlah hasil-hasil pembelajaran selama ini mulai bisa ditularkan kembali kepada sebanyak mungkin komponen organisasi agar semakin paham dalam berpikir dan melangkah. Salah satunya menerapkan kelas manajerial rutin bagi para pejabat struktur organisasi. Ini baru sebatas diseminasi keilmuan, belum lagi nanti harus memperbanyak proses-proses magang untuk memastikan apa yang telah diterima, memang benar dikuasai dengan baik. Kali ini saya berkesempatan meneruskan kuliah manajerial dalam sebuah rapat rutin pejabat struktur. Kali ini kita belajar dan melatihkan secara awal penggunaan perangkat perencanaan dan pengambilan keputusan dengan metode “6 Topi Berpikir”, dalam bahasa aslinya, “Six Thinking Hats” yang digagas oleh seorang pemikir pengembangan fungsi otak, Edward de Bono.

Kata orang, mengumpulkan dan berhadapan dengan berbagai “isi kepala” yang variatif itu sangat memusingkan dan menyebabkan sebuah langkah pengambilan keputusan dapat mengalami set back/kemunduran atau minimal hanya jalan ditempat. Dengan metode planning, berpikir dengan gagasan 6 topi ini, maka segala permasalahan yang ditemui, akan lebih mudah diselesaikan dengan baik. Dalam perangkat 6 topi berpikir ini, setiap personal yang terlibat diberikan kesempatan yang sama dalam waktu yang ditentukan untuk mengenakan “topi berpikir” yang disimbolkan dengan warna tertentu ketika menilai suatu permasalahan. Kelebihan metode ini akan membuat keteraturan dan pola berpikir serta komprehensif karena melibatkan tinjauan dari semua aspek berpikir yang lahir dari sisi pribadi manusia itu sendiri, yaitu sisi objektifitas/netralitas, intuisi/emosional, positifitas, negatifitas, kreatifitas, dan pengendalian. “Enam topi berpikir” juga mempunyai kelebihan lain yaitu, membuat seseorang yang terbiasa berpikir melompat-lompat dapat berpikir lebih sistematis dan mengalir, ini untuk menghindarkan hal-hal penting yang dapat terlewatkan dan menyebabkan suatu keputusan tidak dapat dieksekusi dengan baik. Di sisi lain juga berguna bagi mereka yang terbiasa pasif dan susah mengemukakan pendapat, 6 topi berpikir dapat “memaksa” agar seseorang lebih terlatih mengeluarkan ide-ide saat menggunakan topi-topi itu apalagi didampingi oleh fasilitator yang baik.

Baiklah. Terlebih dahulu saya definisikan makna dari setiap topi. Topi Putih adalah sisi objektifitas, yang berbicara dari sisi data, informasi, dan fakta yang tersedia. Topi Putih memerlukan persiapan, membutuhkan sedikit usaha dan waktu sehingga sebaiknya sebelum sesi latihan/pertemuan menggunakan 6 topi berpikir ini, telah ditentukan terlebih dahulu permasalahan yang akan dibahas sehingga data-datanya juga sudah dipersiapkan. Berikutnya, Topi Merah adalah sisi emosional, dimana setiap individu pada saat yang sama dipersilakan mengeluarkan pernyataan emosionalnya yang tidak dipengaruhi oleh logika, jadi gunakan subjektifitas dalam menilai suatu isu/masalah. Curah pendapat ketika Topi Merah dipakai akan memberikan suatu kepuasan bagi pribadi-pribadi untuk berusaha melepaskan segala unek-uneknya dalam rangka memperkecil ego. Selanjutnya, Topi Kuning adalah melambangkan cara berpikir positif optimistik dan visioner (melihat jauh ke depan). Terkadang tidak jarang banyak ide-ide gila yang muncul saat Topi Kuning dipakai, meski masih dalam tataran konsep, namun logika positifnya dapat tetap dipertanggungjawabkan. Berikan sebanyak mungkin konsep-konsep yang membangun/konstruktif ketika Topi Kuning sedang dipakai. Lalu, Topi Hitam, sesuai namanya adalah memposisikan diri dalam situasi kritis negatif, memaparkan sikap pesimistik dan selalu memandang skeptis serta memaparkan dampak-dampak buruk yang mungkin akan timbul dari suatu masalah yang sedang dibahas. Topi Hitam merupakan penyeimbang yang kuat terhadap pola berpikir Topi Kuning agar senantiasa siap dengan situasi-situasi akan datang yang telah diprediksi sehingga selalu ada rencana cadangan dan antisipasinya. Sebagaimana pola berpikir Topi Merah, menggunakan Topi Hitam sedikit lebih mudah bagi sebagian orang yang telah mengemukakan pendapatnya ketika memakai Topi Merah, karena Topi Hitam tinggal ditambahkan logika berpikir yang negatif. Selanjutnya, dipersilakan mengenakan Topi Hijau, saat dimana semua berpikir tentang solusi yang kreatif, tidak jarang merupakan hasil pengembangan berpikir ketika memakai Topi Kuning. Meski pun tampaknya beberapa individu yang dominan mengemukakan pendapatnya ketika mengenakan topi warna lain, terutama Topi Merah dan Topi Hitam, tidak cukup mudah ketika harus mengemukakan pendapat ketika mengenakan Topi Hijau. Menjadi individu yang kreatif, berpikir solutif memerlukan sesi pembelajaran tersendiri. Terakhir, Topi Biru, merupakan pengendali proses dari segala hal yang muncul dari semua topi berpikir tadi. Topi Biru memegang peranan kunci di awal dalam menentukan permasalahan yang akan dibahas, batas waktu pembahasan, dan aturan main pembahasan lainnya. Di akhir sesi pelatihan/pertemuan, Topi Biru merefleksikan semua proses yang telah dilalui dan menyepakati keputusan-keputusan yang akan diambil dan langkah-langkah berikutnya yang akan dilakukan. Meski pun umumnya Topi Biru ini diperankan oleh fasilitator atau pemimpin pelatihan/pertemuan, namun setiap orang yang terlibat dapat belajar menggunakan Topi Biru terutama dalam melakukan pengendalian dan oto-refleksi terhadap peran-peran yang telah dilakukan ketika mengenakan berbagai warna topi yang berbeda.

Di sinilah hebatnya teknik 6 topi berpikir ini, seseorang dari hasil akhir perannya dapat melihat suatu masalah secara global, lebih sederhana, komprehensif, dan menepis egonya. Untuk memperlancar penggunaan perangkat 6 topi berpikir ini, diharapkan setiap pejabat struktur dapat membiasakan menggunakannya di dalam rapat-rapat pembahasan terhadap suatu permasalahan yang dianggap rumit. Berbagai contoh kasus dalam penerapan 6 topi berpikir ini dapat dieksplorasi lebih lanjut dari sekian banyak referensi yang ada. Semoga bermanfaat.