WidodoWirawan.Com


Tinggalkan komentar

Hospital Management Class: Enam Topi Berpikir


Beberapa bulan terakhir pasca kelulusan akreditasi RS kami, saya dan teman-teman berusaha kembali menghadirkan suasana pembelajaran di tengah suasana kerja pelayanan yang padat. Agar kompetensi manajerial senantiasa terasah, otak mampu terus berpikir di tengah permasalahan yang semakin rumit. Tidak cukup hanya membangun motivasi dan spirit, namun juga dibutuhkan penguasaan terhadap perangkat-perangkat manajemen handal untuk mengefisienkan dan mengefektifkan kerja. Dalam konteks ilmu Balanced Scorecard (BSC), elemen pertumbuhan dan pembelajaran komponen organisasi menjadi sangat penting agar senantiasa dapat melahirkan proses pelayanan yang kreatif dan inovatif serta minimal konflik. Dalam lingkup ke-RS-an, dengan komposisi padat karya yang dibangun dari berbagai level personal dengan variasi profesi berbeda, sangat tidak mudah memfasilitasi suatu nilai-nilai kebersamaan yang bersinergi dalam mencapai tujuan jangka pendek dan panjang organisasi. Namun dalam situasi positif, ini adalah sebuah tantangan, bukan pelemahan, bahkan kata seorang konsultan ini merupakan lorong-lorong transendental sebagai proses-proses ujian untuk kenaikan level personal maupun organisasi.

Syukurlah hasil-hasil pembelajaran selama ini mulai bisa ditularkan kembali kepada sebanyak mungkin komponen organisasi agar semakin paham dalam berpikir dan melangkah. Salah satunya menerapkan kelas manajerial rutin bagi para pejabat struktur organisasi. Ini baru sebatas diseminasi keilmuan, belum lagi nanti harus memperbanyak proses-proses magang untuk memastikan apa yang telah diterima, memang benar dikuasai dengan baik. Kali ini saya berkesempatan meneruskan kuliah manajerial dalam sebuah rapat rutin pejabat struktur. Kali ini kita belajar dan melatihkan secara awal penggunaan perangkat perencanaan dan pengambilan keputusan dengan metode “6 Topi Berpikir”, dalam bahasa aslinya, “Six Thinking Hats” yang digagas oleh seorang pemikir pengembangan fungsi otak, Edward de Bono.

Kata orang, mengumpulkan dan berhadapan dengan berbagai “isi kepala” yang variatif itu sangat memusingkan dan menyebabkan sebuah langkah pengambilan keputusan dapat mengalami set back/kemunduran atau minimal hanya jalan ditempat. Dengan metode planning, berpikir dengan gagasan 6 topi ini, maka segala permasalahan yang ditemui, akan lebih mudah diselesaikan dengan baik. Dalam perangkat 6 topi berpikir ini, setiap personal yang terlibat diberikan kesempatan yang sama dalam waktu yang ditentukan untuk mengenakan “topi berpikir” yang disimbolkan dengan warna tertentu ketika menilai suatu permasalahan. Kelebihan metode ini akan membuat keteraturan dan pola berpikir serta komprehensif karena melibatkan tinjauan dari semua aspek berpikir yang lahir dari sisi pribadi manusia itu sendiri, yaitu sisi objektifitas/netralitas, intuisi/emosional, positifitas, negatifitas, kreatifitas, dan pengendalian. “Enam topi berpikir” juga mempunyai kelebihan lain yaitu, membuat seseorang yang terbiasa berpikir melompat-lompat dapat berpikir lebih sistematis dan mengalir, ini untuk menghindarkan hal-hal penting yang dapat terlewatkan dan menyebabkan suatu keputusan tidak dapat dieksekusi dengan baik. Di sisi lain juga berguna bagi mereka yang terbiasa pasif dan susah mengemukakan pendapat, 6 topi berpikir dapat “memaksa” agar seseorang lebih terlatih mengeluarkan ide-ide saat menggunakan topi-topi itu apalagi didampingi oleh fasilitator yang baik.

Baiklah. Terlebih dahulu saya definisikan makna dari setiap topi. Topi Putih adalah sisi objektifitas, yang berbicara dari sisi data, informasi, dan fakta yang tersedia. Topi Putih memerlukan persiapan, membutuhkan sedikit usaha dan waktu sehingga sebaiknya sebelum sesi latihan/pertemuan menggunakan 6 topi berpikir ini, telah ditentukan terlebih dahulu permasalahan yang akan dibahas sehingga data-datanya juga sudah dipersiapkan. Berikutnya, Topi Merah adalah sisi emosional, dimana setiap individu pada saat yang sama dipersilakan mengeluarkan pernyataan emosionalnya yang tidak dipengaruhi oleh logika, jadi gunakan subjektifitas dalam menilai suatu isu/masalah. Curah pendapat ketika Topi Merah dipakai akan memberikan suatu kepuasan bagi pribadi-pribadi untuk berusaha melepaskan segala unek-uneknya dalam rangka memperkecil ego. Selanjutnya, Topi Kuning adalah melambangkan cara berpikir positif optimistik dan visioner (melihat jauh ke depan). Terkadang tidak jarang banyak ide-ide gila yang muncul saat Topi Kuning dipakai, meski masih dalam tataran konsep, namun logika positifnya dapat tetap dipertanggungjawabkan. Berikan sebanyak mungkin konsep-konsep yang membangun/konstruktif ketika Topi Kuning sedang dipakai. Lalu, Topi Hitam, sesuai namanya adalah memposisikan diri dalam situasi kritis negatif, memaparkan sikap pesimistik dan selalu memandang skeptis serta memaparkan dampak-dampak buruk yang mungkin akan timbul dari suatu masalah yang sedang dibahas. Topi Hitam merupakan penyeimbang yang kuat terhadap pola berpikir Topi Kuning agar senantiasa siap dengan situasi-situasi akan datang yang telah diprediksi sehingga selalu ada rencana cadangan dan antisipasinya. Sebagaimana pola berpikir Topi Merah, menggunakan Topi Hitam sedikit lebih mudah bagi sebagian orang yang telah mengemukakan pendapatnya ketika memakai Topi Merah, karena Topi Hitam tinggal ditambahkan logika berpikir yang negatif. Selanjutnya, dipersilakan mengenakan Topi Hijau, saat dimana semua berpikir tentang solusi yang kreatif, tidak jarang merupakan hasil pengembangan berpikir ketika memakai Topi Kuning. Meski pun tampaknya beberapa individu yang dominan mengemukakan pendapatnya ketika mengenakan topi warna lain, terutama Topi Merah dan Topi Hitam, tidak cukup mudah ketika harus mengemukakan pendapat ketika mengenakan Topi Hijau. Menjadi individu yang kreatif, berpikir solutif memerlukan sesi pembelajaran tersendiri. Terakhir, Topi Biru, merupakan pengendali proses dari segala hal yang muncul dari semua topi berpikir tadi. Topi Biru memegang peranan kunci di awal dalam menentukan permasalahan yang akan dibahas, batas waktu pembahasan, dan aturan main pembahasan lainnya. Di akhir sesi pelatihan/pertemuan, Topi Biru merefleksikan semua proses yang telah dilalui dan menyepakati keputusan-keputusan yang akan diambil dan langkah-langkah berikutnya yang akan dilakukan. Meski pun umumnya Topi Biru ini diperankan oleh fasilitator atau pemimpin pelatihan/pertemuan, namun setiap orang yang terlibat dapat belajar menggunakan Topi Biru terutama dalam melakukan pengendalian dan oto-refleksi terhadap peran-peran yang telah dilakukan ketika mengenakan berbagai warna topi yang berbeda.

Di sinilah hebatnya teknik 6 topi berpikir ini, seseorang dari hasil akhir perannya dapat melihat suatu masalah secara global, lebih sederhana, komprehensif, dan menepis egonya. Untuk memperlancar penggunaan perangkat 6 topi berpikir ini, diharapkan setiap pejabat struktur dapat membiasakan menggunakannya di dalam rapat-rapat pembahasan terhadap suatu permasalahan yang dianggap rumit. Berbagai contoh kasus dalam penerapan 6 topi berpikir ini dapat dieksplorasi lebih lanjut dari sekian banyak referensi yang ada. Semoga bermanfaat.

Iklan


2 Komentar

​Vaksin Palsu, Mendudukkan Permasalahan Secara Adil


IMG-20160715-WA0017.jpg
IMG-20160715-WA0019.jpg
Tulisan ini saya buat dengan rasa prihatin atas terungkapnya peredaran vaksin palsu. Prihatin terhadap begitu masifnya persebaran vaksin palsu ini sehingga menjadi bahan berita berhari-hari lamanya. Sebagai sebuah berita tentu banyak sisi pandang berlainan yang muncul ke permukaan. Salah satunya yang saya tangkap adalah kehebohan masyarakat terutama masyarakat yang telah mengimunisasikan anak-anaknya dengan vaksin-vaksin itupada masa/periode perkiraan  pemalsuan. Kehebohan ini semakin ditambah dengan diumumkannya fasilitas kesehatan (rumahsakit, bidan praktik, klinik) yang melayani imunisasi dengan vaksin palsu.

Saya sendiri merasakan sendiri kehebohan ini karena ada salah satu saudara saya yang anaknya ternyata juga diduga kuat pernah diimunisasi vaksin palsu dari data yang didapatkan dari berita yang telah beredar. Sebagai bagian dari orang  medis, saya telah memberikan saran kepada saudara saya itu untuk menanyakan kepada rumahsakit terkait mengenai vaksin yang pernah disuntikkan ke anaknya. Lalu apakah rumahsakit dalam hal ini bersalah karena telah menggunakan vaksin palsu. Saya sebagai salah satu aktifis di bidang perumahsakitan tidak berani memastikan karena harus diteliti lebih dalam apakah memang ada RS, sebagai sebuah institusi benar-benar mengetahui bahwa vaksin yang digunakannya adalah palsu.

Sampai dititik ini, sebaiknya kita menyadari bahwa RS mau pun fasilitas kesehatan lainnya juga bagian dari masyarakat, konsumen yang memakai vaksin itu. Saya yakin sebagian RS yang disebutkan tersebut, direktur dan bagian pengadaannya tidak mengetahui apakah vaksin itu palsu atau asli. Memang beberapa fasilitas kesehatan dinilai teledor melakukan transaksi ke distributor yang tidak bonafit? ini pun masih bisa diperdebatkan. Bukankah ini bukan hanya tanggung jawab rumahsakit untuk memastikan bahwa suatu distributor benar-benar menjual vaksin yang asli. Saya kira kita tidak perlu berdebat bahwa sebenarnya sudah ada cara menentukan bahwa sebuah vaksin itu adalah palsu, namun itu juga bukan jaminan.

Saya ingin mempertanyakan kemana orang atau lembaga yang berperan sebagai pengawas peredaran vaksin ini. Ternyata pun ada juga semacam pemakluman bahwa lembaga pengawas tidak bisa bekerja optimal di belantara peredaran vaksin (dan tentunya obat-obat lainnya, belum lagi untuk makanan yang beredar) karena sedikitnya jumlah personil mereka. Lalu siapa yang harus disalahkan? Saya tidak mau menjawabnya. Sebaiknya semuanya bertanggung jawab. Di sisi lain sebaiknya pemerintah juga lebih kuat menjalankan hukum yang berlaku. Aspirasi masyarakat untuk menghukum sekeras-kerasnya para produsen vaksin palsu, menurut saya cukup tepat untuk menjadi peringatan bersama, jangan macam-macam kalau terkait dengan urusan kepentingan masyarakat banyak. Saya hanya berharap pemerintah bisa. Disamping itu sebaiknya pemerintah juga harus bertanggung jawab bukan hanya melemparkan kesalahan kepada pihak, misalnya rumahsakit, bahkan dalam sebuah judul berita di sebuah media massa, sudah ada judul “Kepala RS menjadi tersangka”.

Baiklah, agar tulisan ini tidak bertele-tele, kita sebagai masyarakat fokus kepada diri kita saja. Saya melakukan pemisalan saja bagaimana cara menghadapi masalah vaksin palsu ini. Pagi ini saya membeli 4 butir telor asin di sebuah warung jejaring waralaba untuk lauk sarapan anak saya. Sampai di rumah, ketika istri saya membagi dua sebutir telor, ditemukan banyak jamur tumbuh pada telor tersebut. Lalu istri saya minta saya kembali ke warung untuk melakukan komplain. Awalnya saya agak emosi, telor busuk kok dijual, padahal tanggal kadaluawarsanya masih lama, 25 Juli 2016. Namun atas saran istri, baik-baik saja komplainnya. Saya turuti. Saya kembali ke warung menemui mba penjualnya dan bilang dengan lembut: “Mba, tolong telor asin ini ditukar sama telor biasa aja ya, ini udah berjamur gini padahal tanggal belum kadaluwarsa. Diganti telor biasa aja mba soalnya saya yakin telor asin lainnya juga gini…”. Si Mba tanggap, tanpa babibu, langsung memilihkan telor biasa setelah saya menyerahkan struk pemebelian. Ternyata 10 butir telor biasa harganya hampir sama dengan 4 buitur telor asin, dan saya masih dapat kembalian uang. Lumayan, telor 4 beranak jadi telor 10. Saya juga pesan ke mba-nya: “tolong suplier telornya dibilangin ya.” Dijawab: “Tentu Pak”. Sip, saya lega. Saya yakin warung itu ganti melakukan komplain ke suplier telor asinnya. Setelah itu saya tanya ke mba-nya: “kalau telor ini busuk juga gimana mba”. Dia bilang, langsung aja datang ke warung lagi. Ini sekian kalinya ini saya melakukan komplain dengan baik-baik (tanpa sedikit pun emosi di hati saat ketemu petugas warungnya) dan dapat tanggapan yang baik pula.

Nah, pengalaman beli telor ini, menurut saya, sebaiknya bisa kita aplikasikan juga, sebagai masyarakat yang mungkin sudah diduga mendapatkan suntikan vaksin palsu kepada anaknya. Jangan langsung menyalahkan lembaga kesehatannya, cobalah baik-baik datang untuk konfirmasi ke rumahsakit. Begitu juga rumahsakitnya, sebaiknya tetap bertanggung jawab dan melayani komplain dengan baik. Lakukan imunisasi ulang, lalu panggil supliernya buat mempertanggungjawabkan dan mengganti vaksin yang palsu. Memang kalau berkelit, tentu harus ada upaya lain. Namun sebisa mungkin masyarakat jangan sampai kena imbas yang parah.

Masalah vaksin palsu ini menjadi masalah yang sangat serius dan menjadi pelajaran besar bagi kita semua, agar tidak terulang dan semakin meningkatkan kewaspadaan. Terhadap oknum rumahsakit yang memang ketahuan bermain kotor dan dan mengetahui bahwa vaksin itu palsu, ini adilnya memang tetap harus diproses hukum.

Kemudian, untuk pemerintah. Saya menyarankan agar lebih banyak mengalokasi sumber daya pengawasan dan lebih intensif melakukan pengawasan. Kasus vaksin ini hanya fenomena gunung es, ada masalah yang lebih besar dan siap meletus. Yaitu obat palsu. Obat dengan harga yang sangat murah selisih jauh harganya dengan di pasaran, bisa diduga sebagai obat palsu. Saya menceritakan lagi pengalaman saya ketika mengobatkan anak ke sebuah rumahsakit pemerintah yang besar. Saya diminta oleh oleh dokter untuk menebus di luar rumah sakit (kebetulan menurut petugas, persediaan di rumahsakit habis) resep obat bermerek yang harganya menurut saya cukup mahal. Alhamdulillah bisa ketemu obat itu di apotek yang saya kira juga bisa dipercaya, karena harga obatnya wajar. Namun (sayangnya) keluarga pasien sebelah saya bilang, kok ga beli di Pasar P*****a saja. Dia dapatkan obatnya yang sama dengan harga yang sangat murah menurut saya. Saya cukup terkejut. Terkejut karena saya baru sadar, apakah pihak rumahsakit dan pemerintah mengetahui bahwa hal ini bisa merugikan pasien sendiri. Sebagai pasien tentu ingin yang paling murah, tapi mereka tidak tahu mana yang palsu. Kewajiban RS tetap melakukan edukasi secara baik dan jelas kepada pasien dan keluarga.Kewajiban pemerintah seperti saya tadi di atas, memperketat pengawasan dan memperberat hukuman serta menjalankannya. Semoga kasus ini tidak berulang di tahun depan. Aamiin.


Tinggalkan komentar

Bulan-Tahun Jejaring dan Advokasi


483523c5-a4c7-4431-b01d-aaca65958e16

Beberapa bulan terakhir ini terasa begitu lebih banyak aktifitas yang menyita energi fisik dan pikiran. Saya bersyukur istri sedikit bisa memahami untuk full time mengurus anak-anak. Mengurus anak pertama yang sedang menempuh ujian akhir semester, dan melakukan seleksi guru pendamping untuk anak kedua. Saya tahu menjadi ibu full time itu berat meski kadang saya tidak peka, mungkin karena sedang lelah juga dan pikiran bercabang-cabang. Saya berdoa semoga semua bisa berjalan dengan baik dalam situasi yang sangat crowded ini. Dan aktifitas menulis ini pun saya paksa agar bisa terlaksana malam ini juga, setelah lelah pulang kegiatan pra rapat kerja rumah sakit, dan tentu saja setelah sekian lama vakum mengisi blog ini. Memaksa, karena perut baru saja terisi makan malam sehingga berusaha untuk tidak langsung tidur meski mata telah berat.

Hari-hari di rumah sakit harus banyak saya disposisikan kepada teman-teman lain agar bisa berkonsentrasi sejenak memperkuat jejaring eksternal, dalam rangka kebaikan bersama juga membangun sistem yang diharapkan bisa menjadi lebih baik. Tentu saja isunya tidak jauh dari seputar JKN-BPJS, dan aturan-aturan kerumahsakitan, yang terasa semakin hari semakin perlu mendapatkan perhatian lebih. Dan kebersamaan itu walau terkesan melelahkan dan lambat, namun pasti progresnya sehingga melahirkan aksi-aksi nyata, meski pun masih sangat jauh dari hasil yang benar-benar dapat diharapkan. Namun di sanalah kita senantiasa memompa semangat kebersamaan agar lelah bisa terus ditepis, sehingga tidak melahirkan keputusasaan.

Mulai dari terbentuknya Forum Komunikasi RS Kelas C & D Daerah Istimewa Yogyakarta yang sangat kompak, namun terbentur oleh legalitas sehingga melahirkan transformasi yang lebih kuat berupa Asosiasi RS Swasta Daerah Istimewa Yogyakarta (ARSSI DIY) yang sedianya akan dilantik tanggal 19 Desember ini, bersamaan dengan launching web official yang memuat kumpulan data terintegrasi RS Swasta di Jogja, rsswastajogja.com, namun karena beberapa pertimbangan realistis, akan dimundurkan sekitar minggu ketiga tahun depan – hikmahnya tentu lebih bisa mengatur napas, sampai menggeliatnya Persatuan RS Seluruh Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PERSI DIY), sebagai wadah asosiasi yang lebih besar untuk semakin aware dengan dinamika konstelasi bidang kerumahsakitan. Akhirnya forum-forum lintas komponen dan stakeholder pun terjalin: Keraton, DPRD, Dinkes, BPJS, BPRS, FKTP, Lembaga Ombudsman. Kolaborasi golongan tua dan muda terjalin apik di sini, saling pemahaman terjadi. Meski masih banyak yang saling berkelit. Namanya juga manusia. Banyak kepala banyak kemauan, banyak kepentingan juga.

Saya senantiasa berharap, kepentingan khalayak masyarakat, tetaplah yang paling utama, meski pun setiap pihak mengklaim juga: kami ya juga untuk kebaikan masyarakat. Paling lucu ketika berulang kali menyaksikan bahwa pihak-pihak tertentu tidak dapat bertindak sesuai kewenangannya. Pejabat dimana kami berharap, namun malah susah diharapkan. Entahlah apa yang ada di pikirannya. Namun kita berpikiran positif saja, dan terus bergerak, memperbanyak komunikasi dan memperkuat konsolidasi. Adakala lembut, namun tegas juga harus diasah. Lelah memang, namun itulah konsekuensi menuju perubahan bermakna. Salam kompak.
Sleman, 22.15 WIB


2 Komentar

Rumahsakit Elektronik, Tulisan I


Ilustrasi mengenai edukasi pasien secara elektronik. Sumber: http://tablet-news.com/

Ilustrasi mengenai edukasi pasien secara elektronik. Sumber: http://tablet-news.com/

Menjadikan rumahsakit (RS) tempat saya berkerja, memiliki sistem berbasis elektronik secara menyeluruh adalah impian besar saya. Impian ini tentu tidak mudah begitu saja terwujud mengingat sebagian besar komponen di RS saya masih belum begitu akrab dengan sistem elektronik. Ya, maklum saja, unsur RS sebagian besar, secara umum, masih berorientasi melayani pelanggan (pasien dan keluarganya serta mitra) tanpa perlu memikirkan efektifitas dan efisiensi proses melahirkan layanan itu sendiri. Sebenarnya ini agak ambigu menurut saya, di satu sisi sebenarnya generasi terkini (termasuk generasi tua yang terpapar era teknologi elektronik) telah dilingkupi oleh lingkungan elektronik, baik sadar atau tidak sadar, justru telah mereka akrabi dalam kehidupan sehari-hari. Namun di sisi lain, sebagian besar justru tidak menjadikan sarana ini untuk benar-benar mempermudah hidup mereka dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Bisa dikatakan sebagian besar hanya untuk gaya hidup saja, biar dianggap tidak gagap teknologi, tidak dianggap kurang pergaulan. Namun, tidak menyadari filosofi, hal yang melandasi, lahirnya suatu teknologi elektronik, yaitu mempermudah hidup dan kehidupan. Akhirnya tidak sedikit juga di  era elektronik terjadi permasalahan. Contoh nyata, era elektronik sosial media. Indonesia termasuk pangsa besarnya, dan tidak jarang kita dengar semakin marak kasus-kasus permasalahan hidup dan kemasyarakatan yang lahir dari keberadaan sosial media elektronik ini.

Baiklah, saya kembali ke topik. Namun saya tidak mau membahas pengertian dari sistem elektronik itu sendiri, bisa jadi akan banyak perdebatan. Boleh saja, ada yang bilang digitalisasi, ada yang bilang paperless, ada yang bilang komputerisasi, ada yang bilang otomatisasi, ada yang bilang macam-macam lainnya. Terserahlah. Saya ingin memberi gambaran saja bahwa yang ingin diharapkan dalam penerapan RS elektronik inilah adalah untuk mempermudah proses-proses pelayanan kerumahsakitan, memberi nilai tambah, perbaikan kualitas, dan peningkatan kuantitas. Tentu saja kesan level terendah dari sistem elektronik itu adalah: biar kelihatan canggih. Itu hanya efek ikutan saja.

Ada banyak segi yang bisa kita wujudkan dalam menuju RS berbasis elektronik. Coba kita perhatikan berapa banyak unsur proses pelayanan non-elektronik dalam sistem kerumahsakitan. Ada proses surat menyurat atau keadministrasian meliputi surat keluar masuk, memo, notulensi, undangan, disposisi, surat keputusan, surat edaran, surat peringatan, dan sebagainya. Ada proses pelayanan medis itu sendiri meliputi catatan medis pasien, berkas surat rujukan, surat persetujuan medis, surat pemeriksaan penunjang, proses edukasi pasien dan keluarga. Ada proses administrasi keuangan seperti tagihan biaya, dan sebagainya. Ada proses pengelolaan sumber daya lainnya seperti sarana prasarana, dan kekaryawanan. Sebagian besar pada awalnya dan masih berstatus sebagai proses yang dilakukan secara non-elektronik. Di sinilah mungkin bisa terjadi perbedaan persepsi. Contohnya, dalam sistem pengolahan karyawan sudah dilakukan secara elektronik kok, buktinya semua berkas kekaryawan sudah dilakukan input menggunakan komputer. Namun ketika ditanyakan apakah sudah bisa dilakukan pemetaan profil umum kekaryawan suatu rumahsakit secara cepat dan realtime, serta otomatis? Tentu ini belum banyak yang bisa. Jadi kembali lagi kepada tujuan awal penggunaan sistem elektronik ini.

RS saya sebenarnya sudah cukup lama melakukan perekaman data pasien secara elektronik dengan menggunakan komputer. Namun juga masih dilakukan secara manual menggunakan kertas dan alat tulis konvensional. Jadinya malah terjadi beban ganda dan justru memperlama proses. Berbicara untuk contoh sistem elektronik dari catatan medis pasien ini misalnya, apa saja output yang kami harapkan: untuk memperbaiki proses, menghasilkan output yang lebih baik? Tentu kami mengharapkan kualitas dan kuantitas yang jauh lebih baik. Apa saja itu? Saya coba rincikan apa saja kemudahan dan perbaikan kualitas yang akan kita dapatkan bila kita menerapkan catatan medis elektronik secara baik pula:

  1. Waktu tunggu pasien dari proses pendaftaran, menunggu dokter, menunggu obat, menunggu pembayaran sangat jauh bisa berkurang. Mengapa ini bisa terjadi? Coba kita bayangkan proses manual dengan menggunakan kertas dan alat tulis konvensional. Permasalahan yang biasa terjadi dan mengesalkan bagi proses pelayanan misalnya: petugas rekam medis akan mencari dokumen kertas pasien di dalam lemari arsip. Bayangkan sebuah lemari arsip yang penuh dengan tumpukan kertas pasien, terkadang catatan medis pasien tidak ada di tempatnya, hilang, dan sebagainya. Kemudian ada jarak lokasi dan waktu ketika proses manual pencarian dilakukan oleh petugas. Bayangkan waktunya bisa berapa lama. Belum lagi ketika pasien sudah sampai di depan ruang tunggu dokter, ternyata berkas catatan pasien itu belum sampai ke ruang dokter. Belum lagi dokternya bingung dengan berkas catatan medis yang dia buka, kok ada berkas riwayat catatan pasien yang hilang, tidak lengkap, atau tidak terbaca. Semua ini bisa sangat dikurangi dengan sistem elektronik yang baik. Cukup bagi petugas dengan hanya duduk manis di depan monitor komputer, melakukan entri, pencarian, dan pengiriman data pasien, semua secara elektronik. Saya sendiri pernah sejak lama (sekitar 6 tahun) menjalani sistem ini waktu masih praktik sebagai dokter, sangat efisien dan “secepat kilat”. Secepat kilat ini maksudnya bila sudah menjadi budaya alias terlatih. Ada unsur jarak dan waktu panjang yang dihilangkan di sini.
  2. Kesalahan proses medis sangat bisa dikurangi. Berapa sering terjadi kesalahan penulisan resep karena tulisan resep dokter tidak terbaca, atau obat yang tertukar? Dengan sistem elektronik yang baik bisa diterapkan resep elektronik dan sistem verifikasi interaksi antar-obat yang merugikan pasien sehingga bisa mencegah terjadinya malpraktik.
  3. Pasien tidak direpotkan dengan berkas-berkas yang dia bawa. Bayangkan bila suatu sistem elektronik sudah bisa dikatakan sempurna. Maka pasien cukup membawa semacam chip sebagai pengganti kartu berobat yang itu memuat semua informasi tentang pasien tersebut, bahkan pasien pun bila perlu tidak lagi membawa chip, identitas biometriknya bisa dimanfaatkan seperti rekaman sidik jari, retina mata, dan sebagainya. Sangat-sangat membantu dan mempermudah birokrasi dan keadministrasian.
  4. Mempermudah edukasi. Proses edukasi pasien dan atau keluarganya biasanya menjadi permasalahan dan keluhan yang sering terjadi. Dokter terlalu cepat memeriksa dan bertatap muka dengan pasien sehingga informasi kurang bahkan tidak didapatkan dengan baik oleh pasien dan keluarganya. Di luar negeri cukup lumrah pasien mendapatkan edukasi secara elektronik. Dokter dan paramedis dibekali sistem edukasi pasien berbasiskan elektronik sehingga dapat mengakses dan memberikan informasi yang diperlukan pasien dan keluarga secara lebih baik dan lengkap. Dan bahkan pasien dan keluarga pada akhirnya diberikan akses informasi tersebut, tentu saja dengan bahasa yang sudah disesuaikan agar mudah dipahami, misalnya informasi tentang cara minum obat dengan baik dan benar, informasi tentang penyakit pasien, informasi tentang pola hidup sehat, dan sebagainya.
  5. Berkas-berkas laporan menjadi realtime dan akan jauh lebih akurat. Ini masalah krusial bagi manajemen sebuah rumahsakit karena berkaitan dengan sistem pengambilan keputusan. Bila data yang diterima salah atau mengalami distorsi, tidak mustahil dampaknya jelek juga bagi proses pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup kerumahsakitan.

Nah, itu sebuah contoh kecil saja begitu banyak manfaat bila sistem elektronik diterapkan dengan baik. Untuk proses di sistem lainnya dan kendala-kendalanya, akan saya paparkan ditulisan berikutnya, insya Allah.