agama, doa, inspiring, kajian islam, kontemplasi

Ilmu Ramadhan Flash Sale


flash sale.jpeg

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman selama 1/3 perjalanan puasa bulan Ramadhan ini. Ada fenomena menarik yang sudah umum kita temui di bulan ini, yaitu ramainya tempat ibadah, dan sebenarnya juga seimbang dengan ramainya tempat jajanan, seolah ikut bersaing menyelenggarakan jama’ah jajan tersendiri, yang jelas membuat para jama’ah jajan ini kelihatannya kehilangan momentum sholat Isya berjama’ah dan Tarawih, karena setelah buka puasa, sholat Maghrib dilanjut dengan obrolan seru sambil menyantap jajan dan menyeruput minuman yang dipesan.

Menjerumuskan? Jelaslah…

OK, saya ga mau bahas itu lebih lanjut, saya mau bahas fenomena membludaknya masjid di awal Ramadhan saja. Bagaimana pun turut bersyukur fenomena ini selalu terjadi, meski dapat diramal, seiring Ramadhan akan berakhir, masjid akan kembali sepi, tersisa orang-orang yang biasanya istiqomah (konsisten) ke masjid selain di bulan Ramadhan, fenomena umumnya di negara kita.

Saya pernah membuat tulisan yang berhubungan sama hal ini di https://widodowirawan.com/2013/07/11/lomba-lari-maraton-di-bulan-puasa/

Ada fenomena lain teramati oleh saya, yaitu disebabkan karena terbatasnya ilmu dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Ilmu yang terbatas ini menyebabkan umat yang ke masjid dan melaksanakan ibadah puasa hanya bermodalkan semangat saja atau sekadar ikut-ikutan sehingga berpotensi tidak mendapatkan pahala Ramadhan Flash Sale yang memang sangat fantastis kelipatan pahalanya, bahkan sebaliknya malah menyebabkan dosa dan penyakit.

Melewatkan makan sahur

Makan sahur ada berkah yang besar di dalamnya, berbeda dengan puasa sunnah, puasa di bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk makan sahur, meski pun itu cuma sedikit. Bukan sebaliknya kalau tidak makan sahur lebih baik, toh tetap kuat juga menjalani puasa. Ini pemahaman yang menjerumuskan juga.

“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad)

“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”  (QS. Ali Imran: 17)

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 18)

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Sholat isyroq atau sholat syuruq

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”

Perkara sholat isyroq ini tidak banyak yang mengetahui besar pahalanya, yaitu setara pahala haji dan umroh. Jadi bagi mereka yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji atau umroh, atau pun yang sudah menunaikan sekali pun, dapat mengusahakan pahala yang sama persis dengan melakukan sholat isyroq ini. Sebenarnya sholat isyroq ini adalah termasuk sholat dhuha. Bedanya adalah dia dikerjakan di awal waktu dhuha, yaitu sekitar 15 menit setelah matahari terbit. Cukup 2 rakaat saja.

Di tempat saya matahari terbit sekarang sekitar pukul 05.40, jadi sholat isyroq bisa dikerjakan mulai pukul 05.55. Tidak boleh mengerjakan sholat saat pas matahari terbit, karena merupakan waktu yang terlarang. Sholat isyroq ini terasa sangat berat, bila pahalanya ingin setara haji dan umroh, yaitu harus dikerjakan di masjid, setelah selesai selesai waktu sholat subuh sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas. Artinya ada waktu menunggu sekitar 1 jam lebih sedikit sejak masuk waktu subuh. Pahala ini semakin berlipat bila kita rutin mengerjakan sholat sunnah sebelum sholat subuh, yang derajatnya lebih baik dari pada dunia seisinya. Bayangkan betapa royalnya Allah kepada manusia dalam memberikan pahala. Sholat isyroq sebenarnya tidak hanya bisa dikerjakan di bulan Ramadhan saja. Dia berlaku di semua bulan. Namun spirit Ramadhan ini mestinya memberikan energi lebih, meski pun godaannya juga lebih banyak, sehabis makan sahur dan subuh biasanya rasa kantuk menyerang hebat. Ya wajarlah, makanya pahalanya setara haji dan umroh, hanya orang terpilih yang mau dan mampu. Karena dosa saya sendiri masih banyak sekali, jadi sayang banget kalau tidak mengambil momentum menunggu waktu sholat isyroq ini. Disela-sela menunggu setelah selesai mendengar ceramah pasca sholat Subuh, saya bisa membaca Al Quran dengan halaman yang cukup banyak dari pada waktu lainnya atau berdzikir memuji Allah dan meminta ampun atas dosa-dosa saya.

Berdoa sebanyak-banyaknya

Berdoa adalah salah satu bentuk pengakuan sebagai hamba kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Pengabul Doa. Juga sebagai indikator ketidaksombongan kita, hanya mereka yang sombong yang malas berdoa kepada Sang Penciptanya.

Bulan Ramadhan ini dijanjikan melalui banyak dalil, yang pasti akan ditepati janji itu oleh Allah, sebagai salah satu momentum dan waktu terpanjang saat dikabulkannya doa. Berdoalah sebanyak-banyaknya penuh harap dan tanpa bosan, sehingga kita semakin sadar bahwa kita ini bukanlah siapa-siapa.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) do’a pemimpin yang adil, (2) do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi)

Ramadhan ini sebagai sarana cuci dosa, revitalisasi, dan latihan untuk mempersiapkan energi pada bulan-bulan selanjutnya. Amat sangat sayang untuk dilewatkan dengan hanya sekadar menunaikan kewajiban menahan lapar dan haus saja.

Oh, Ramadhan, tak terasa sebentar lagi engkau akan meninggalkan kami. Atau sebenarnya kamilah yang akan meninggalkan engkau terlebih dahulu karena tidak bersabarnya kami menanti akhirmu. Karena bosan dan benci dengan produk-produkmu, atau karena kami tidak punya ilmu dan semangat untuk membelinya. Maka dari itu kepada Yang Menciptakanmu kami berdoa: Berikanlah kami kesempatan yang luas dan kemampuan untuk membeli produk-produk flash sale-mu. Karena kami ga yakin akan dapat menemui momen flash sale lagi di tahun depan… Berikanlah kepada kami ilmu dan kemudahan untuk meraup sebesar-sebesarnya pahala Ramadhan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalaamiin…

Ramadhan ke-11, 16 Mei 2019

agama, kontemplasi, manajemen, rumah sakit

Shalih vs Muslih


Jumat lalu terinspirasi dari sebuah khutbah saat mampir Jumatan di sebuah masjid besar di perempatan Kasihan Bantul. Sang khatib yang ceramahnya tidak membuat kantuk namun juga membuat jama’ah betah menyimak. Beliau menyitir sebuah ayat Al Quran tentang larangan menyembunyikan kebenaran. Beliau menekankan bahwa penting menjadi orang baik, namun jauh lebih penting menjadi orang yang mengajak kepada kebaikan, penting tidak berbuat keburukan, namun jauh lebih penting mencegah tersebarnya keburukan. Menurut beliau menjadi pemimpin yang adil, tidak takut menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran jauh lebih baik daripada orang yang hanya suka berdzikir di masjid. Apalagi kalau sudah tahu ada ketidakbenaran, dia diam saja, maka itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan.

Fenomena mencolok akhir-akhir ini kita lihat tempat ibadah semakin penuh, secara kasat mata dapat dikatakan semakin banyak orang shalih, namun kita lihat ternyata bencana dan adzab tidak semakin berkurang. Kedzaliman dan kecurangan terus-menerus dan semakin banyak terjadi, hoax bertebaran tak terkendali.

Saya ingat seorang teman dokter yang galau ketika diminta untuk naik ke level manajemen, menjadi salah satu pimpinan di tempat kerjanya. Saya katakan kepada dia, meski pun itu sulit, tapi dia menyaksikan sendiri bagaimana kondisi tempat kerjanya yang tidak menyenangkan, budaya kerja yang tidak baik, manajemen yang tidak transparan. Saya katakan, itulah tantangannya yang membuahkan hasil yang lebih terhormat dan tinggi nilainya di sisi Sang Khalik. Kalau kita tidak senang melihat hal tersebut, tidak bisa kita hanya sekadar kasih usul atau bahkan cuma menggerutu. Jadilah agen perubahan. Jangan takut naik level, mendapatkan lebih banyak masalah, karena masalah itu justru akan semakin menguatkan kita.

Agen perubahan dalam terminologi Al Quran disebut sebagai muslih, adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk bisa menolak adzab dan kerusakan. Tak hanya kuat dari sisi nahi mungkar, melainkan juga teguh dalam amar ma’ruf.  Ketika seseorang itu menolak kedzaliman dan kerusakan, otomatis ia juga mendatangkan maslahat. Begitu juga sebaliknya, bila ia mendatangkan maslahat, secara otomatis juga ia menolak adanya mafsadat/kerusakan. Tujuan islah/perbaikan yang dilakukan seorang muslih tidak selamanya untuk menghilangkan maksiat dan kedzaliman, namun juga untuk mencegah turunnya adzab Allah yang bisa menimpa semua orang (baik yang shalih maupun yang berdosa).

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang dzalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 116-117).

Muslih tidak mesti sempurna terlebih dahulu (dari segi amalan dan ilmunya), dalam hadits: “Serukanlah yang ma’ruf walaupun kalian tidak melakukannya secara sempurna, dan cegahlah kemungkaran walaupun kalian tidak berlepas darinya seluruhnya”. (HR Thabrani dan Baihaqi).

Keluarga muslih tidak mesti semuanya orang-orang shalih, sebab Nabi Nuh saja tidak bisa menshalihkan anak dan istrinya, Nabi Ibrahim tidak bisa menshalihkan ayahnya, dan Nabi Muhammad tidak bisa menshalihkan pamannya Abu Lahab, dan Abu Thalib. Dalam ayat: “Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai” (QS al-Qashash: 56).

Apa ciri utama muslih: di awal dia bergerak musuhnya lebih banyak daripada temannya, berbeda sama orang shalih (baik): lebih banyak temannya daripada musuhnya, karena orang shalih tidak pernah mengutak-atik urusan orang lain, berbeda sama orang muslih yang senantiasa peduli dengan apa yang terjadi di orang lain dan lingkungannya. Dalam hal ini saya tidak setuju kalau ibadah itu hanya meliputi wilayah privat/pribadi, itu hanya ibadah ritual, seperti orang shalih yang hanya berdzikir saja di masjid, tidak mau berkubang sama masalah. Mungkin ada yang ingat mengenai level keimanan dalam sebuah hadits dari sisi mengatasi kedzaliman/kemungkaran, bahwa yang paling tinggi itu adalah level penggunaan kekuasaan, ini hanya bisa dilakukan oleh para pemimpin (istilahnya umara), para ustadz dan kyai mungkin cuma sampai pada level kedua yaitu menggunakan lisan/ucapannya, dan yang paling rendah justru malah bisa tersemat pada orang-orang shalih yang cukup cari aman saja, berdzikir saja di masjid, ternyata dapat dikategorikan sebagai selemah-lemahnya iman, yaitu hanya bisa mengutuki/menggerutu di dalam hati saja mengenai kerusakan yang terjadi.

Satu orang muslih lebih dicintai oleh Allah daripada seribu orang yang shalih, sebab dengan adanya muslih, Allah menjaga seluruh umat dari adzab (dunia), dan orang shalih hanya bisa menjaga dirinya sendiri, tanpa orang lain. So, marilah menjadi orang shalih, namun juga sekaligus muslih.

Referensi: dari berbagai sumber hasil searching di google

Difinalisasi sehabis rapat koordinasi manajemen RS UII di 02052019
Berusaha menulis minimal 1 tulisan dalam sepekan. Rencananya rilis setiap Senin, apa daya, waktu tak selamanya bisa digenggam. Baik pemirsa, silakan disimak blog ini ya, terimakasih 🙂

agama, rumah sakit, syariah

RS Syariah, Era Baru Perumahsakitan di Dunia


Kita mungkin sudah terbiasa mendengar label syariah pada institusi perbankan, pegadaian, asuransi dan perhotelan. Tapi label syariah pada institusi RS? saya yakin belum terlalu banyak yang mengetahui. Meski pun kalau kita cari di google telah banyak bertebaran artikel dan beritanya. Memang sampai tahun ini baru ada 2 RS syariah resmi yang ada di Indonesia, yaitu RS Islam Sultan Agung Semarang Jawa Tengah dan RS Nur Hidayah Bantul Yogyakarta. Saya sendiri baru terpapar istilah RS berprinsip syariah pada tahun 2015 pada waktu mengikuti The 32nd FIMA (Federation of Islamic Medical Association) Conference and the 8th Mukisi National Meeting di Grand Clarion Makassar. Mukisi (Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia) – http://www.mukisi.com/profile – ternyata telah melahirkan standar perumahsakitan syariah hasil kolaborasi dengan DSN MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia) yang juga telah menerbitkan fatwa mengenai RS syariah di tahun 2016. Dan luar biasanya, ini baru yang pertama di dunia.

Saya beserta rekan-rekan dan bersama beberapa RS lain dalam tahun ini melakukan intensifikasi menuju RS syariah melalui sertifikasi, maka percepatan pembelajaran pun dilakukan. Ternyata dampaknya memang luar biasa dari sisi internal dan eksternal RS. Kami berharap nanti pada ajang 1st International Islamic Healthcare Conference and Expo 2018 di Jakarta Convention Center yang insyaAllah akan berlangsung tanggal 10-12 April 2018 (https://www.persi.or.id/59-event-news/257-1st-international-islamic-healthcare-conference-and-expo-2018) dapat menerima sertifikat RS syariah. Aamiin.

RS sebagai institusi (katanya) terkompleks berimbas kepada sistem sertifikasi syariah yang pada akhirnya juga lebih mendalam dibanding institusi syariah lainnya. Manakala perbankan dan pegadaian syariah hanya berkutat kepada sistem keuangan syariah, serta perhotelan syariah berkutat kepada sistem akomodasi syariah, berbeda dengan RS syariah yang mencakup aspek lebih luas. Prinsip utama RS syariah yang diambil dari 5 lima tujuan dari syariah Islam, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, menjadikan RS syariah menerapkan standar yang lebih komprehensif. Tentu ini merupakan suatu nilai tambah yang besar bagi RS yang telah mampu melewati proses akreditasi dari Komisi Akreditasi RS (KARS).

Proses sertifikasi RS syariah secara luar biasa telah mampu mengkondisikan aspek manajemen dan pelayanan RS agar semakin sesuai dengan prinsip syariah. Tentu ini juga menjadi keuntungan bagi masyarakat yang menggunakan layanan RS. Di tengah carut-marut image RS di dalam media berita nasional dan media sosial, ternyata hal ini dapat menjadi semacam obat penyembuh kepercayaan masyarakat kepada institusi RS. Sehingga sangat bagus bila terus digalakkan gaung RS syariah ini. Terlebih detail bila dikaitkan dengan tingkat kesadaran masyarakat dalam mendekatkan diri kepada agama sehingga kecenderungan mencari layanan kesehatan yang bernilai universal, aman, bermutu, nyaman, dan tenang. Saya melihat tren masyarakat semakin memilih menggunakan pola medikasi/pengobatan yang halal. Ini terjawab dalam sertifikasi RS syariah yang menghendaki tersedianya sistem jaminan halal dari produk layanan RS. Meliputi kehalalan pengelolaan gizi, laundri, obat dan alat kesehatan RS.

Saya sendiri lebih suka melihat aspek ke dalam RS sendiri. Sumber daya manusia (SDM) RS. RS sebagai institusi yang core business-nya merupakan jasa pelayanan dari SDM medis dan non medis. Prinsip kesyariahan ternyata mampu menciptakan budaya yang lebih baik mencakup banyak hal di antaranya perbaikan dan penguatan niat/keikhlasan, peningkatan kapasitas dan kompetensi keagamaan, kinerja dan akhlak tolong-menolong, dan yang jarang dipikirkan adalah keberkahan dalam melayani, serta meminimalkan praktik-praktik yang tidak sesuai dengan prinsip syariah seperti berperilaku tidak jujur, tidak ramah, korupsi, dan individulistik.

Saya berdoa, semoga ke depannya semakin banyak lagi RS yang menerapkan prinsip syariah dengan standar yang telah ditetapkan oleh DSN MUI. Aamiin.

agama, kontemplasi

Diet? Siapa Takut!


P60415-173326Sejak seminggu ini saya melakukan program pengaturan pola makan atau tepatnya pengurusan badan yang dikenal dengan istilah diet. Meski pun secara objektif dengan timbangan baru turun hampir 2 kilogram namun efek psikologis dan fisiknya sangat terasa. Seperti, volume perut dan ukuran lingkar pinggangnya terasa berkurang dengan indikator subjektif berupa celana-celana mulai terasa tidak sesak. Sepertinya efek diet ini memang memulai dari “gudang”-nya penyakit ini dulu, perut.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya harus repot ikut-ikutan tren menguruskan badan? berpuasa dari makanan-makanan enak yang mampir di depan hidung?

Pertama, saya sudah mulai tua. Jelas terjadi perlambatan metabolisme tubuh dalam melakukan netralisasi terhadap zat-zat berbahaya yang juga berasal dari makanan sehari-hari.

Kedua, sekarang sebagai orang yang bekerja dengan situasi kurang gerak, banyak duduk, jarang olah raga, tentu diet menjadi pilihan yang “lebih fleksibel” meski pun lebih “menyiksa”.

Ketiga, saya dan istri ingin hidup ini lebih berkualias dari sisi pengaturan pola makan. Memang dunia itu enak dan penuh dengan makanan yang enak. Tapi kita paham sesuatu yang enak itu sebenarnya merupakan jebakan yang menjerumuskan. Kita tentu paham dengan dalil “makan dan minumlah, jangan berlebihan”. Saya ingin menerapkan itu dengan sungguh-sungguh.

Keempat, pada suatu waktu sampai sekarang, bergelimang dengan makanan yang enak itu membuat kita semakin susah, susah dalam meningkatkan produktifitas, terlalu sering kena masalah perut, bangun tidur tak nyaman, konsentrasi menurun karena mudah ngantuk karena kebanyakan makan.

Kelima, sekaligus menjelang bulan puasa, ini juga semacam latihan untuk mengurangi interaksi dengan makanan. Meski pun harus saya akui, diet itu lebih berat daripada berpuasa. Mengapa? saya ga tahu persis, namun itu yang saya rasakan. Semoga nanti juga bisa lebih sering puasa.

Untuk menjalankan diet ini, saya berpatokan dengan pola diet “General Motors” yang dimodifikasi. Pola diet GM sendiri aslinya bukan diet yang terstandar menurut para ahli gizi. Jadi tidak harus mutlak diikuti. Modifikasi dilakukan untuk tidak mempersulit diri dalam melakukan persiapan diet setiap harinya. Dan tidak terpatok hanya 1 minggu program dalam satu bulannya. Tidak ada aturan baku mengenai diet saya ini selain pertimbangan kalori yang masuk harus lebih kecil daripada kalori yang keluar. Apakah lalu repot harus mengukur berapa kalori yang masuk, berapa yang keluar? Ya tentu tidak, karena saya sendiri ingin diet ini sebisa mungkin jangan menyebabkan stres tambahan yang terlalu menekan. Selain saya juga punya penyakit lambung (gastritis) yang kronik, juga supaya tidak terlalu merepotkan istri yang menjadi leader dalam program diet ini. Selama minggu pertama kemarin saya akui cukup menyiksa karena badan masih harus ekstra keras menyesuaikan diri. Siapa bilang diet GM itu tanpa rasa lapar? Di hari pertama hanya makan buah, sungguh banyak buah yang harus saya konsumsi untuk mengatasi rasa lapar yang terlalu cepat mendera. Alhamdulillah lambung saya aman. Awal minggu ini terasa lebih ringan, apalagi setelah saya bisa berfokus pada kegiatan-kegiatan lain yang tidak harus berfokus pada kegiatan perut. Kegiatan perut ini memang sungguh susah diatasi karena banyak acara yang saya ikuti selalu tersedia makanan yang menggoda selera. Itu ujian buat saya dan istri. Hikmah lain program ini, bisa lebih berbagi banyak makanan kepada orang lain dan hewan-hewan di rumah. Semoga bisa seterusnya melakukan pengaturan pola makan ini. Aamiin.

Referensi:
Turunkan 4 Kilo dalam 5 Hari Tanpa Rasa Lapar dengan Diet GM

agama, bisnis, halal life

Gonjang-ganjing Kehalalan Restoran Solaria


Beberapa waktu lalu di status BBM teman saya, dicantumkan bahwa dia sedang makan dengan anak istrinya di Resto Solaria, Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta. Karena saya dapat referensi, yang saya sendiri belum pastikan kebenarannya, maka saya katakan kepada teman saya itu juga melalui BBM, bahwa Solaria belum jelas kehalalannya. Maka tak lama statusnya berubah menjadi “Astaghfirullah…”. Lalu saya tanyakan lagi kelanjutannya, ternyata dia sekeluarga pergi ke toilet, dan memuntahkan isi perutnya…

Ternyata drama tentang Solaria berlanjut, istri saya dulu pun terbiasa makan di Solaria waktu masih di Jakarta. Di grup BB beredar juga macam-macam tentang Solaria. Terakhir hari ini, saya menyimak status Facebook teman yang ditautkan sebuah link mengenai klaim Solaria, membantah isu sajiannya tidak halal. OK-lah dari pada berlanjut ga jelas, sebagaimana kebiasaan saya dahulu ketika ada isu seperti ini, maka saya langsung email LPPOM MUI yang memang sebagai lembaga pengawas dan sertifikasi produk halal.

Begini jawabannya:

————–

Kepada Yth,

Bapak Widodo Wirawan,
Terima kasih atas email yang telah dikirimkan. Kami informasikan bahwa, sehubungan dengan banyaknya pertanyaan dari masyarakat mengenai kehalalan restoran Solaria, maka bersama ini disampaikan bahwa MUI melalui Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) belum pernah melakukan pemeriksaan atas produk makanan/minuman dan atau mengeluarkan sertifikat halal untuk restoran Solaria di mana pun, sehingga MUI tidak menjamin kehalalan makanan/minuman yang disajikan oleh restoran Solaria.

Demikian pengumuman ini disampaikan, untuk menjawab kebingunan masyarakat serta demi melindungi umat Islam dari makanan yang tidak terjamin kehalalannya.

Klarifikasi ini juga kami sampaikan melalui website resmi LPPOM MUI dengan link sebagai berikut:

http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/detil_page/8/1604/30/

Demikian informasi ini kami sampaikan. Apabila ada pertanyaan mengenai produk halal lainnya, silakan menghubungi kami kembali. Terima kasih.
Regards,
Sekretariat LPPOM MUI

Ir. Hj. Osmena Gunawan (Mrs)
Vice Director

See the biggest Indonesia International Halal Expo (INDHEX) 2013
on Oct 30 – Nov 2, 2013 at JI EXPO Kemayoran Jakarta.
For More information contact us : +6251 8358748 / +6221 3918917
CP : Agung (+6281316928827) / Eko (+628129853571)
Email : info@halalmui.org

Secretariat Office (Jakarta)
Majelis Ulama Indonesia Building, 3rd Floor.
Jl. Proklamasi No. 51 Menteng, Jakarta Pusat 10320, Indonesia
Phone. 62 21 3918917 & Fax. 62 21 3924667

Operational Office (Bogor)
Gd. LPPOM MUI – Kampus IPB Baranangsiang
Jl.Raya Pajajaran Bogor 16144, Jawa Barat, Indonesia
Phone 62 251 8358748 & Fax 62 251 8358747
————–

Nah, sudah jelaskan. Kalau saya sendiri, lebih baik menghindarinya, sebagaimana dahulu, saya menghindarkan anak-anak saya untuk makan permen Yupi sebelum ada kejelasan mengenai kehalalannya.

agama, kontemplasi

Lomba Lari Maraton di Bulan Puasa


Puasa di Bulan Ramadhan ibarat mengikuti lomba lari maraton berjarak 42 kilometer lebih itu. Ya, kita mengetahui bahwa lari maraton merupakan jenis lomba lari dengan jarak terjauh. Diperlukan latihan, semangat, bahkan ilmu untuk mengikuti maraton itu. Biasanya lari maraton, apalagi yang sifatnya massal, memiliki banyak peserta. Bila kita mengambil contoh maraton massal, maka ada beragam individu pula dengan berbagai karakter ilmu, kemampuan fisik, dan semangat yang mengikutinya.

Orang yang kuat secara fisik jelas lebih berpotensi memenangkan lomba maraton itu, meskipun orang berfisik kuat saja tidak cukup namun fisik kuat yang terlatih sebelum lomba maraton berlangsung jelas akan lebih unggul. Lalu peserta maraton yang berilmu biasanya juga lebih mampu untuk menyelesaikan lomba maraton tersebut, mungkin fisik bisa jadi tidak terlalu kuat, tapi dia tahu bahwa maraton memakan waktu yang lama sehingga diperlukan kesabaran dan irama yang baik dalam mengatur langkahnya. Berlari cepat (sprint) di awal waktu hanya akan cepat menguras energinya sehingga dia lebih memilih untuk berlari secara teratur, ajeg (konsisten, sedikit atau pelan-pelan lebih baik namun berkelanjutan), mengatur napas, sampai fisiknya beradaptasi dengan lingkungan maraton tersebut. Berilmu juga mengetahui bahwa gerakan aerobik akan lebih bertahan lama karena tidak menyebabkan asam laktat bertumpuk yang lebih cepat menyebabkan kelelahan. Lalu peserta maraton yang bersemangat biasanya memilki motivasi tertentu sehingga dia mau mengikuti lomba yang melelahkan itu.

Memang semua karakter itu mesti bersinergi untuk melahirkan seorang pelari maraton yang unggul , yang tidak hanya mencapai garis finish, tapi juga mampu mendapatkan predikat juara maraton. Tapi tidak mengapalah, karena masing-masing peserta bisa memilih ingin menjadi apa dia dan apa tujuannya untuk mengikuti lomba maraton itu. Yang jelas begitu pula dengan puasa di bulan Ramadhan yang penuh perjuangan itu. Kalau hanya puasanya saja sih mudah kali ya, namun yang berat itu adalah mempertahankan ibadah-ibadah pengiring puasa itu yang akan menentukan kita bisa mencapai target sebagai orang yang bertakwa atau tidak. Kalau sekadar puasa saja, seperti apa yang telah menjadi ketentuan: bisa jadi cuma mendapat rasa haus dan lapar saja.

Ada contoh menarik yang diberikan, ketika dihadapkan pilihan beberapa lembar kertas uang berbeda nominal kepada seorang anak TK dan anak SD, ternyata anak TK mengambil uang berwarna merah (Rp 10.000) dan anak SD mengambil uang biru (Rp. 50.000). Dari uji kasus singkat itu jelas memberikan informasi kepada kita bahwa persepsi ilmu setiap anak ketika dihadapkan kepada uang kertas tersebut akan mempengaruhi pilihannya. Begitu pula halnya dengan puasa di bulan Ramadhan. Bagi manusia yang mengerti ilmunya tentang besarnya manfaaat bulan Ramadhan (tidak hanya puasanya saja) maka tentu secara logika orang sehat dia akan memilih nilai tertinggi sesuai persepsi yang dia dapatkan dari ilmunya. Bisa dikatakan sangat naif bila anak SD yang telah mengetahui arti nilai uang Rp 50.000, lebih memilih uang kertas senilai Rp 10.000. Sesuai fitrah (hukum alam), manusia tentunya tidak hanya mau berhenti sampai di level TK saja, bukan? Coba tanyakan kepada anak-anak TK, sebagian besar tentu saja ingin melanjutkan ke SD, dan seterusnya ke level pendidikan yang lebih tinggi.

Tapi itulah sifat manusia, ada juga yang malas, dan mungkin berbagai faktor lain yang mengganggu berjalannya fitrah. Bulan Ramadhan ya sama saja, di awal, di garis start, luar biasa pesertanya: masjid penuh dengan jama’ah sholat tarawih meski kadang tarawihnya lebih semangat daripada sholat subuh berjama’ahnya karena sudah keburu mengantuk terbuai alam mimpi karena kekenyangan dan terlalu dini makan sahurnya. Seiring berjalannya waktu mendekati akhir Ramadhan, sudah dapat dipastikan akan kembali seperti “normal” lagi, para peserta lari maraton sudah pada kelelahan, berguguran di jalan. Iming-iming bayangan persiapan hari raya lebih terasa di angannya daripada untuk mengintensifkan ibadah melalui i’tikaf di akhir Ramadhan. Ini sebenarnya juga godaan terkuat bagi saya, yaitu adanya prosesi mudik yang bisa sangat mempengaruhi untuk meluluhlantakkan target garis finish kita, dan biasanya akan terpengaruh. Saya berdo’a semoga saya dan teman-teman sekalian bisa bertahan untuk mencapai garis finish dan mendapatkan predikat juara… aamiin…

agama, kontemplasi

Menggunakan dan menempatkan akal secara benar


Ini tulisan yang sangat bagus saya kira, semoga bisa menjadi pelajaran bersama bagi kita, terutama bagi kita-kita yang masih terus mencari kebenaran…

Isra’ Mi’raj Tidak Masuk Akal?

Oleh: Dr. Adian Husaini

DALAM sebuah acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, di Jakarta, pembawa acara menyampaikan narasi, bahwa Isra’ Mi’raj adalah adalah sebuah peristiwa yang harus diterima dengan iman dan tidak bisa diterima dengan akal, karena peristiwa itu memang tidak masuk akal. Mungkin, kita sering mendengar ungkapan serupa; bahwa hal-hal yang ghaib harus diterima dengan iman, bukan dengan akal. Benarkah pernyataan seperti itu?

Ketika itu, saya menguraikan, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj memang tidak masuk di akalnya Abu Jahal. Tetapi, peristiwa tersebut masuk di akalnya Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.. Abu Jahal bahkan menjadikan Isra’ Mi’raj sebagai senjata untuk menarik kembali orang-orang Quraisy dari keimanan Islam. Dan memang, sejumlah orang akhirnya keluar dari Islam, karena menganggap cerita Isra’ Mi’raj sebagai kebohongan dan tidak masuk akal.

Tetapi, provokasi Abu Jahal dan beberapa tokoh kafir Quraisy tidak ‘mempan’ untuk membatalkan keimanan Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau cukup berlogika sederhana: Jika yang menyampaikan berita itu adalah Muhammad saw, pasti cerita itu benar adanya. Bahkan, lebih dari itu pun Abu Bakar ash-Shiddiq percaya. Jadi, Isra’ Mi’raj sangat masuk di akalnya Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, dan tidak masuk pada akalnya akalnya Abu Jahal.

Persoalan akal mendapatkan kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Orang dibebani kewajiban menjalankan syariat jika dia sudah “mukallaf”, artinya, dia sudah baligh (dewasa) dan mempunyai akal. Jika hilang akalnya, maka dia bebas syariat. Itulah karunia Allah! Manusia bisa saja menuntut bebas dari melaksanakan syariat Allah, asalkan mereka sudah kehilangan akal.

Memang, dengan akal-lah manusia dikatakan sebagai manusia. Laulal aqlu la-kaanal-insaanu kal-bahaaim. Begitu sebuah ungkapan Arab yang bermakna: tanpa akal, maka manusia ibarat binatang. Manusia menjadi manusia, karena akalnya, bukan karena jasadnya. Lihatlah, seorang ahli fisika Inggris Stephen Hawking! Meskipun tubuhnya sudah lemah lunglai, terhempas di kursi roda, tanpa bisa berkata apa-apa, jalan pikirannya tetap diperhatikan oleh dunia. Meskipun dia sekular, tetapi dia tetap dipandang sebagai manusia. Akalnya masih ada!

Bandingkan dengan seorang yang masih gagah perkasa atau cantik jelita, jika hilang akalnya, maka hilang pula nilainya sebagai manusia. Karena itu, kita melihat ada hal yang kontradiktif pada kaum sekular yang memandang manusia hanya dari segi fisiknya saja. Tengoklah buku-buku sejarah atau Biologi yang diajarkan kepada anak-anak kita! Tatkala membahas tentang asal-usul manusia, mereka hanya berbicara tentang sejarah fisik atau tubuh manusia. Yang mereka teliti hanya sejarah tulang belulang. Mereka hanya meneliti fosil, karena hanya itu yang bisa mereka lihat.

Mereka tidak mengakui adanya RUH yang justru merupakan inti dari manusia. Sedangkan jasad adalah “tunggangan” RUH. Saat bicara tentang sejarah manusia, maka harusnya mereka sampai pada satu momen penting dari sejarah manusia, yaitu tatkala manusia membuat perjanjian dengan Allah di alam arwah. Ketika itu, Allah bertanya: “Apakah Aku ini Tuhanmu?” maka serentak manusia menjawab: “Benar, kami menjadi saksi!” (QS 7:172).

Itulah sebuah momen penting dari sejarah manusia. Bukan hanya menelusuri sejarah tulang belulang. Sayangnya, kaum sekularis dan materialis tidak mengakui informasi yang berasal dari wahyu sebagai “Ilmu”. Bagi mereka informasi wahyu dianggap sebagai dogma, yang tidak bisa diilmiahkan. Informasi tentang RUH, alam akhirat, dan alam ghaib lainnya, tidak dikategorikan sebagai ilmu. Karena itulah, dalam struktur keilmuan yang banyak dipelajari di sekolah-sekolah atau Perguruan Tinggi sekarang, yang dimasukkan dalam kategori “sains” hanyalah hal-hal yang bisa diindera. Mereka tidak mengakui adanya Sains tentang akhirat, sains tentang sorga dan neraka.

Padahal, dalam Islam, informasi tentang sifat-sifat Allah, tentang Akhirat, adanya pahala dan dosa, tentang berkah, dan sebagainya, merupakan bagian dari Ilmu! Informasi tentang kenabian Muhammad saw, bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, adalah merupakan ILMU. Dalam QS 3:19 disebutkan, bahwa kaum ahlul kitab tidak berselisih paham kecuali setelah datangnya ILMU pada mereka, karena sikap iri dan dengki. Jadi, bukti kenabian Muhammad saw adalah suatu ILMU, yakni suatu informasi yang pasti kebenarannya.

Jadi, informasi tentang hal-hal ghaib adalah ILMU dan masuk akal. Sebab, informasi itu dibawa oleh manusia-manusia yang terpercaya. Karena sumber informasinya adalah pasti (khabar shadiq/true report), makan nilai informasi itu pun menjadi pasti pula. Sebenarnya, fenomena semacam ini terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kita percaya, bahwa kedua orang tua kita sekarang ini, benar-benar orang tua kita, juga berdasarkan informasi dari orang-orang yang kita percayai. Karena semua orang yang kita percayai memberikan informasi yang sama – bahwa mereka adalah orang tua kita – maka kita pun percayai, meskipun kita tidak melakukan tes golongan darah atau tes DNA.

Mungkin ada mahasiswa yang berlagak kritis dan rasional dalam segala hal. Dia mau mengkritisi semua hal. Katanya, “Saya hanya percaya kepada hal-hal yang bisa diindera secara langsung atau yang rasional. Di luar itu, saya tidak percaya!”

Kita jawab: “Anda pun tidak kritis pada diri Anda sendiri. Coba tanyakan dengan cara yang sesopan mungkin kepada kedua orang tua Anda, apa bukti ilmiah yang empiris dan rasional bahwa Anda benar-benar anak mereka?”

Seorang mahasiswa tidak akan pernah menjadi sarjana, jika dia bersikap kritis. Saat dosennya menyatakan, bahwa ini adalah rumus Phytagoras atau hukum ini ciptaan Archimides, maka si mahasiswa yang mengaku kritis tadi, harusnya bertanya kepada dosennya, bagaimana Bapak tahu, bahwa rumus itu berasal dari Phytagoras? Bagaimana membuktikannya? Apakah Bapak melihat sendiri? Kenapa Bapak percaya begitu saja.

Saat seorang dosen atau guru fisika menerangkan bahwa kecepatan cahaya adalah 270 ribu sekian km/detik, maka si mahasiswa harusnya bertanya, “Bagaimana Bapak bisa mengatakan seperti itu. Apa buktinya?”

Syahdan, dulu ada seorang ilmuwan di Indonesia yang terkenal sangat rasional dan “Western oriented”. Dia hanya mau menerima hal-hal yang empiris dan rasional. Suatu ketika, sang ilmuwan ini akan balik kampong dan menaiki Kapal Laut. Maka, temannya, yang seorang cendekiawan Muslim mengingatkan dia: “Jika kamu rasional, harusnya kamu tidak naik kapal, tetapi berenang. Sebab, ketika naik kapal, kamu sudah tidak rasional, karena kamu percaya saja kepada nakhoda atau petugas kapal yang kamu tidak kenal sama mereka!”

Tatkala kita menaiki pesawat terbang, kita dipaksa menjadi tidak rasional dan tidak kritis.Saat diumumkan, bahwa pesawat ini akan menuju suatu kota dengan ketinggian sekian, dengan pilot Si Fulan, maka kita pun percaya begitu saja! Padahal, kita tidak kenal sama sekali dengan para awak pesawat, tidak mengecek langsung, apakah si pilot benar-benar pilot atau pelawak.

Itulah anehnya manusia. Kadangkala, mereka percaya kepada dukun yang jelas-jelas mengaku bodho, percaya kepada ilmuwan fosil yang belum tentu jujur, percaya kepada pramugari pesawat yang sama sekali tidak dikenalnya. Tetai, ajaibnya, mereka tidak percaya kepada seorang “manusia” yang kejujurannya diakui oleh bangsanya, diakui oleh kawan maupun lawannya. Bahkan, sejak umur 25 tahun, kaumnya sudah member gelar istimewa “al-Amin”, manusia yang terpercaya.

Jika dukun yang menamakan dirinya sebagai orang bodho bisa dipercaya, mengapa kita tidak percaya kepada Nabi Muhammad saw? Itulah akal Abu Bakar ash-Shiddiq r.a., yaitu akal yang jernih; akal yang sanggup mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Saat berita Isra’ Mi’raj itu tiba padanya, maka Sayyidina Abu Bakar cukup menggunakan logika yang sederhana: Jika yang mengatakan itu adalah Muhammad saw, pasti itu benar adanya!

Ada lagi sebagian kalangan yang berlagak kiritis kepada Nabi Muhammad saw, kritis kepada sahabat Nabi dan para ulama terkemuka. “Kita harus kiritis!” katanya. Bahkan, masih kata dia lagi, “Kita harus berani kritis terhadap pikiran kita sendiri!”

Dalam acara bedah Novel Kemi di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 28 Juni 2011, ada seorang mahasiswa bertanya kepada saya: Apa definisi iman, kafir, dan sebagainya?”

Tentu saja, saya cukup keheranan. Bagaimana seorang yang belajar agama Islam pada level perguruan tinggi masih belum tahu, ada definisi iman dan kafir. Saya jawab, “Kenapa kita tidak merujuk saja kepada pendapat para ulama yang mu’tabarah tentang definisi-definisi tersebut? Lihat saja pendapat Imam al-Syafii, Imam al-Ghazali, dan sebagainya!”

Si mahasiswa tadi sebenarnya sedang menghadapi krisis otoritas. Dia menolak otoritas para ulama Islam, tetapi mengakui otoritas Nasr Hamid Abu Zaid, dan para orientalis. Dia lebih percaya kepada pendapat orientalis ketimbang pendapat ulama. Padahal, setiap bidang ilmu selalu menempatkan otoritas-otoritas tertentu. JIka kita belajar Fisika, maka kita diminta menerima otoritas keilmuan yang dimiliki ilmuwan-ilmuwan besar di bidang Fisika. Sama halnya dengan otoritas di bidang ilmu ekonomi, ilmu Sosiologi, dan sebagainya. Ironisnya, saat ini, otoritas keilmuan di Perguruan Tinggi kadangkala diletakkan kepada gelar formal, dan bukan pada kualitas keilmuan seseorang. Meskipun bodoh dan kurang ilmu, tetapi karena sudah bergelar professor maka dia diberikan otoritas keilmuan di bidangnya.

Jika mahasiswa tidak mengakui otoritas keilmuan seseorang, maka dia tidak akan pernah menjadi sarjana, sebab saat menyusun skripsi, tesis, atau disertasi, pasti dia mengutip sana-sini, pendapat-pendapat dari orang-orang yang dianggap mempunyai otoritas tertentu di bidangnya. Saat membahas tafsir UUD 1945, tentu kita lebih percaya kepada tafsiran Prof. Dr. Jimly ash-Shiddiqy dibandingkan tafsiran Inul atau Thukul.

Untuk menundukkan akal manusia agar menerima kebenaran misi kenabian, maka Allah memberikan bukti-bukti nyata berupa mu’jizat pada para utusan-Nya. Dengan itu, diharapkan, akal manusia akan menerima kebenaran yang berasal dari Allah, yang merupakan sumber kebenaran. Jadi, berita tentang misi kenabian adalah suatu Ilmu dan ilmiah. Adalah ironis, jika berita kenabian tidak dianggap sebagai ILMU, sedangkan informasi tentang kehidupan di bumi jutaan tahun lalu, dianggap sebagai ILMU.

Pintu masuk seorang menjadi Muslim adalah “syahadat”: saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Konsekuensinya, seorang Muslim pasti percaya kepada apa pun yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. Allah adalah sumber ILMU. Allah yang mengajarkan Ilmu kepada manusia, baik yang disampaikan melalui para nabinya, maupun yang diberikan kepada manusia dalam bentuk ilham, dan sebagainya.

Yang jelas, tatkala mendapatkan ILMU, maka kita yakin, bahwa Ilmu itu adalah anugerah Allah. Ilmu adalah karunia Allah. Meskipun manusia bekerja keras, jika Allah tidak menghendaki dia meraih ilmu, maka suatu ilmu tidak akan sampai padanya. Bertemunya upaya manusia dan anugerah Allah akan datangnya suatu makna pada diri manusia, itulah yang dikatakan Prof Syed Naquib al-Attas sebagai suatu Ilmu. Di sini terpadu unsur upaya manusia, sebagai syariat untuk meraih ilmu. Tetapi, pada sisi lain, bagaimana pun, keberhasilan manusia untuk meraih satu ilmu tertentu adalah merupakan anugerah Allah SWT.

Jadi, seorang Muslim adalah seorang yang sangat menghargai akalnya, dan mampu menempatkan akal manusia pada tempatnya. Akal adalah anugerah Allah. Akal digunakan untuk berpikir yang tujuan tertingginya adalah untuk mengenal Sang Pencipta (ma’rifatullah). Pengakuan akan ke-Tuhanan Allah SWT dan kenabian Muhammad saw itulah yang membedakan akal orang mukmin dengan akal orang kafir. Orang mukmin mengarahkan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Orang mukmin paham akan tujuan dan makna hidup yang sebenarnya. Dengan akalnya, orang mukmin paham, bahwa kebahagiaan tertinggi di dunia ini adalah mengenal dan berzikir kepada Allah; bukan menuruti semua tuntutan syahwat. Dengan akalnya, manusia dapat mengenal Sang Pencipta. Dengan akalnya, manusia dapat memahami cara-cara menyembah Sang Pencipta, sebagaimana diajarkan oleh utusan Allah.

Jadi, meskipun sama-sama berakal, ada perbedaan yang mendasar antara akal Abu Bakar ash-Shiddiq dan akal Abu Jahal. Akal Abu Bakar adalah akal yang jernih, akal yang benar (aqlun shahihun), sedangkan akal Abu Jahal adalah akal yang salah, akal yang buruk, akal yang tidak mampu mengantarkan manusia kepada pengenalan Sang Pencipta. Wallahu a’lam bil-shawab. (***).

Bonus:

Ketika akal lebih suci dari kitab,
sebuah kitab tak ada guna tanpa akal,
sebuah kitab kehilangan makna tanpa akal,
bahkan, sebuah kitab tak lagi suci tanpa akal.
Yang sempurna bukanlah kitab,
melainkan akal.
Kalau Tuhan mengatakan manusia sebaik-baik bentuk ciptaan,
itu karena akal, bukan kitab.
Meski semua itu tertulis di dalam Kitab.

Bonus dari sini

Pic dari sini

agama, curhat, makanan, syariah

Saya ga mau makan seafood lagi!


Ini akumulasi kekesalan saya pada para penjual makanan seafood. Beberapa hari lalu istri saya kebelet mau makan seafood. Saya pun setuju dan sudah lama tidak makan makanan favorit saya itu. Apalagi kata istri, ada warung seafood baru di dekat hotel Hyatt, so, berangkatlah kami ke warung tersebut. Sampai di sana saya lihat botol-botol yang ada di samping gerobak pembuatan seafood tersebut. Ternyata ada sederetan tulisan cina pada label botol-botol seperti botol kecap itu. tulisan lain yang kebaca klo ga salah “Sari Ketan Beras”. Sehapal saya botol yang ada tulisan cina itu biasanya ada tulisan “Ang Ciu” yang artinya arak merah.

Ga pake nanya, saya langsung mau cabut dari situ. Istri malah mendatangi penjualnya yang berjilbab setelah juga melihat botol-botol itu dan bertanya: “Pake Ang Ciu?”. Lalu dijawab dengan jawaban diplomatis, “klo ga mau pake juga ga apa-apa…”

Dari jauh saya juga udah lihat klo ada label arab bertuliskan halal pada spanduk yang ada di warung itu. Di depan gerobaknya sekilas saya lihat juga ditempeli papan berukir dan bertulis huruf arab, tidak saya perhatikan itu tulisannya apa.

Akhirnya istri dengan berat hati ikut meninggalkan warung itu, lalu sambil nyetir motor saya jelaskan klo Ang Ciu itu kan haram. Bukan masalah penjual seafood itu menawarkan untuk diganti dengan sari ketan beras, yang saya juga ga tahu statusnya apa masih bentuk fermentasi biasa atau bukan, tapi adalah ketidakjujuran penjual itu menjadi poin yang jelek di mata saya. Seandainya saya ga tahu, pasti mereka tetap memberi Ang Ciu ke dalam campuran seafoodnya. Ini pernah saya alami.

Biasanya saya klo makan seafood (itu pun sejak saya aware klo rata-rata penjual seafood memakai Ang Ciu) bilang dulu, ga usah pake Ang Ciu dan sejenisnya. Dan mereka menurut. Tapi pernah juga saya lupa, lalu saya tinggal sebentar pergi ke tempat lain sambil penjual memasak seafoodnya. Setelah selesai saya lalu tanya apakah tadi pake Ang Cui. Ternyata mereka tetap memakainya. Ya sudah, saya bilang ke mereka itu ga boleh alias haram (mana labelnya halal lagi…), lalu seafood yang sudah terlanjur saya pesan itu saya bayar dan bungkus, namun di tengah jalan pulang saya masukkan ke tong sampah, siapa tahu ada kucing garong yang kelaparan mencari makan di tengah malam. Rugi 30-ribuan ya ga papa, yang penting jangan sampai perut saya dan keluarga saya kemasukan makanan haram yang akhirnya tidak berkah dan menghambat terkabulnya doa saya kepada Allah.

Pic dari sini

agama

Tanya-Jawab: Hipnotis Bagian Dari Konspirasi New Age dan Undermind Control?


Rating: ★★★★★
Category: Other
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saat ini sedang marak pelatihan-pelatihan hipnotis untuk terapi penyakit, untuk pendidikan anak dan yang lain-lain. Saya pun pernah mengikuti pelatihan itu dimana mentornya adalah ahli hipnoterapi. Awalnya saya sangat percaya bahwa hipnotis murni science. yang menggunakan sugesti yang dimasukkan pada pikiran bawah sadar.
Saya masih percaya itu hingga saya menonton video “Arrival” karya Noreagaa dan Archenar. saya lupa pada episode berapa, tapi disitu jelas disebut hipnotis memang dikembangkan dan diupayakan agar diterima oleh masyarakat dunia sebagai murni science. sehingga masyarakat buta akan unsur syirik yang sebenarnya ada didalamnya.
Yang membuat saya sedih lagi, banyak ustad dan pengajar muslim yang memakai ilmu ini, karena mereka yakin hipnotis sama sekali bebas dari syirik dan tidak ada unsur bantuan jin. Sebagaimana doktrin yang memang disampaikan pada semua pelatihan hipnotis.
Dalam rubrik tanya jawab ustad menjawab sendiri telah ada jawaban bahwa hipnotis ada campur tangan mahluk halus/jin (http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hipnotis-menurut-islam.htm).  Tetapi itu dibantah oleh orang yang merasa yakin hipnotis itu bukan syirik di http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/tanggapan-tentang-jawaban-ustadz-menjawab-soal-hipnotis.htm. Saya kembali mencari rujukan lain dan saya menemukan web seorang sarjana psikolog yang memang percaya hipnotis itu masih ada unsur syirik.
RD
Jawaban
Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Terimakasih atas pertanyaan anda. Semoga anda selalu diberikan keberkahan oleh Allah Subhana wa ta’ala. Saya mendapat pertanyaan serupa seperti saudara untuk menjelaskan bagaimana posisi hipnosis sebagai bentuk konspirasi kabbalis dan iluminasi. Oleh karena itu, saya coba akan jelaskan terlebih dahulu kaitan antara Hipnosis dan New Age.
Hipnosis dan Konspirasi New Age
Jadi, yang anda katakan tersebut memang tidak salah, sejarah hipnotis memang terkait akan misi Zionis yang saya sederhanakan di sini menjadi New Age Movement.
Paradigma New Age sendiri lahir dari ketidak percayaan Barat terhadap agama. Agama, dalam termin Barat, memang bermasalah. Ia gagal memberi pencerahan bagi masyarakat dalam dua hal, yakni rasionalitas dan spiritualitas.
Hal inilah yang membuat masyarakat Barat mencari spiritualitas model baru yang tidak terlalu formil layaknya Kristen. Anda mungkin tahu kasus ucapan bahwa “Tuhan Sudah Mati” ala Frederich Nietsczhe? Itu mungkin contoh kecilnya.
Namun, yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa spiritualitas dalam termin New Age bukan berarti sama dengan religiusitas dalam konteks Islam yang tidak memberi ruang terhadap dunia mistik dan musyrik. New Age sendiri lebih kepada spiritual mistis dan penyatuan agama-agama dimana tidak ada lagi sekat teologis di dalamnya.
Nah dimana hubungan hipnotis dengan New Age? Hipnotis hampir tidak mengenal unsur keagamaan yang sejalan dengan misi New Age. Akidah menjadi tidak terlalu penting dalam hipnotis. Ya mungkin para ahli hipnotis bisa bergeming dengan menyatakan ajaran kami bebas dari musyrik.
Ya, itu tidak masalah. Saya sendiri tidak menyalahkan para praktisi hipnosis yang bisa jadi juga masih awam dengan NAM (New Age Movement), karena itu tadi sifat sejati hipnosis yang sebenarnya membawa misi kabbalah menjadi tertutup pada awalnya ketika diperkenalkan.
Dan ini diamini oleh Sherry Shriner penulis buku-buku konspirasi dan pengkaji Bible yang menyatakan bahwa karakter New Age memang seperti itu. Para pengusung New Age yang sejatinya adalah kabalis tahu betul bahwa orang Kristen tidak bisa menerima serangan frontal doktrin okultism, sehingga mereka mengubah kata-kata sihir ke dalam istilah Kristen seperti “iman,” “Tuhan,” “Kristus,” dan “kelahiran kembali” dan banyak gereja terkecoh. Termasuk dengan menggunakan hipnosis, spiritual intelligence, emotional intelligence, dan sebagainya.
Makanya ketika kita ikut training hipnosis tanpa banyak kita ketahui adalah bahwa konteks alam bawah sadar yang dikenalkan dalam hipnosis tidak lain adalah ajaran Sigmund Freud, seorang Yahudi atheis yang sudah dikenal sebagai pengusung psikoanalisis yang sangat bermasalah dalam Islam.
Kealpaan para praktisi hipnosis itu juga terlihat jelas ketika mereka tidak menjelaskan apakah yang dimaksud alam bawah sadar dalam versi Freud yang tidak lebih sebagai manifesto terpendam dari seksualitas manusia.
Lalu kenapa ini menjadi samar? Kita kembali lagi ke perkataan Sherry Shinner tadi, karena para pengusung New Age tahu betul bahwa mereka tidak bisa menjelaskan ajaran sejati mereka (baca: kabbalis) jika bertindak terlalu frontal.
Oleh karena itu Nancy Percy, seorang pengkaji worldview dari Philadhelphia Biblical University, dalam tulisannya, “Modern Islam And The New Age Movement”, menyatakan bahwa gerakan NAM seperti hypnosis hanyalah ekspresi yang lebih baru dari kecenderungan lama untuk mengimpor panteisme Timur ke dalam budaya Barat, yang dimulai dengan doktrinasi Plotinus dan neo-Platonisme.
Hipnosis: Tidak Efektif Bagi Umat Islam
Oke, baiklah itu kaitan antara NAM dan hipnosis dalam kajian konspiratif. Sekarang kita bisa menjajal keampuhan hipnosis, jika hipnosis memang dikatakan bukan pseudo sains. Ada dua hal yang bermasalah dari statement itu. Pertama, bukan berarti bahwa karena hipnosis adalah sains murni, dia tidak cacat dari segi keilmuan. Kedua, kita bisa membuktikan apakah betul hipnosis adalah metode yang ampuh dalam menterapi masalah manusia.
Saya ingin bercerita pengalaman saya ketika mengikuti training hipnosis dan mempraktekannya saat menjadi guru. Kami, para guru kala itu, dikumpulkan dalam satu ruangan oleh trainer. Trainer tersebut mensugesti kami agar kedua telapak tangan masing-masing diantara kami saling mencengkeram hingga jari jemari kami seakan-akan lengket dilumuri lem.
Saat proses tersebut kami diajarkan untuk mendengarkan sugesti trainer saja (baca: taqlid), jangan banyak berfikir (baca: tidak boleh kritis) dan jangan melawan sugesti. Bagi saya, orang yang dominan dan sangat rasionalis terhadap apa-apa yang datang dalam diri saya, akan mudah sekali melawan sugesti itu.
Akan tetapi, apa yang dilakukan trainer saat itu, melihat kami-kami yang mencoba kritis atas sugestinya? Ia mulai mengeluarkan jurus sakti, yakni mensugesti buta peserta bahwa peserta yang mau mengikuti segala perkataan trainer tanpa menggubris sedikit pun adalah calon guru yang baik. Nah disinilah gaya-gaya undermind control ala zionis. Mirip sekali. Karena itu pikiran diarahkan hanya pada satu instrument hingga kita tidak sadar telah mengikutinya.
Itu kan seakan-akan bermakna bahwa orang yang tidak mau mengikuti perkataan sugestor bukanlah orang yang baik. Padahal Allah mengajarkan kita untuk kritis setiap kali datang sebuah permintaan. Apalagi sugesti yang bisa jadi bertentangan dengan Islam. (Bayangkan jika anda perempuan yang dihipnotis, lalu anda tertidur di pelukan trainer pria, bukankah itu menyalahi konsep hijab dalam Islam?)
Selain itu kelemahan hypnosis bahwa sugesti itu mudah sekali dipatahkan. Anda boleh mencoba. Makanya, ketika saya menerapkannya di sekolah, hipnosis menjadi tidak efektif. Karena memang murid-murid saya memang sudah kritis sejak awal.
Terlebih orang-orang yang dominan pada otak kiri. Kekuatan mereka dalam logika akan serta merta meruntuhkan sugesti hipnosis. Hampir pasti saya katakan bahwa mereka amat tidak cocok dihipnotis.
Skenario Menghancurkan Islam: Hanya Berfikir Yang Praktis
Ketika umat Islam memandang praktis urusan “makna hidup”, disitulah zionis akan bermain. Umat Islam akhirnya jauh dari ilmu, mereka sudah terpesona pada paket-paket pelatihan praktis dan paket kilat dalam mencapai kesempurnaan.
Oleh karena itu menurut saya, ketimbang kita habiskan uang untuk megikuti pelatihan yang relative cukup mahal. Lebih baik kita belanjakan uang itu untuk membeli buku-buku Islam dari ulama yang luas ilmunya.
Kita bisa mengenalkan anak-anak kita akan kitab-kitab ulama seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Al Ghazali, Ibnu Katsir. Kita isi rumah kita dengan buku biografi para ulama. Didik diri kita dan anak kita lewat Al Qur’an dan Hadis.
Menurut saya itu lebih efektif membentuk kepribadian muslim sejati. Selain karena berpahala, membelanjakan uang bagi keilmuan Islam mendekatkan diri kita kepada Allah. wallahu’alam
Dari: EraMuslim
agama, kontemplasi

Beragama itu memudahkan…


Meski silaturahim dalam waktu yang singkat, banyak sekali penyegaran dan ilmu baru yang didapatkan. Saya dan beberapa teman bertamu ke rumah seorang ustadz yang mengasuh sebuah pondok pesantren di Panggeran, Sleman.

Resume silaturahim tadi malam ke seorang ustadz:

  • Jangan melakukan zihar kepada istri yaitu menyamakan isterinya dengan seorang wanita yang haram dinikahi olehnya selama-lamanya, atau menyamakannya dengan bagian-bagian tubuh yang diharamkan untuk dilihatnya, seperti punggung, perut, paha dan lainnya seperti perkataannya kepada isterinya
  • NII bukan mencuci otak, tapi mengotori otak manusia
  • Dalam beragama harus mempermudah urusan, tidak mempersulit, namun juga tidak memudah-mudahkan
  • Memaafkan lebih baik daripada membalas
  • Munafik tetap diperlakukan sebagai muslim
  • Cap kafir sebaiknya tidak mudah terucapkan, sampai jelas perbuatan mengingkari itu dilakukan berulang-ulang
  • Bila ingin mengetahui pengamalan agama secara nyata, pelajari sejarah hidup (sirah) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam
  • Perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam lebih kuat hukumnya daripada perbuatannya