curhat, dokter, salahkaprah

Dokter Spesialis dan Kemapanan


Saya sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk mengambil pendidikan spesialis. Sudah sangat kebal bagi saya setiap kali orang menanyakan: “Dokter spesialis apa?”, atau “Sudah spesialis apa, Dok?”, “Kapan ngambil spesialis, Dok?”

Entah apa yang ada dibenak para penanya tersebut. Namun saya menduga sebagian besarnya adalah sama karena menganggap mungkin menjadi spesialis itu lebih mapan terutama dari sisi finansial. Pernah ini terpikir pada saat ngobrol dengan tetangga yang juga sukanya membanding-bandingkan saya, yang dokter umum dengan tetangga baru yang dokter spesialis jantung (anak) dengan rumahnya yang gede mentereng. Bahkan mungkin dengan maksud memanas-manasi saya, tetangga itu bilang bahwa dokter spesialis jantung itu juga masih muda seperti saya, yang ternyata belakangan saya tahu ternyata dokternya udah bangkotan, hahaha….
Biasanya saya langsung mengunci dialog, bila ada yang menanyakan hal itu, saya akan langsung ngomong: “saya lagi S2”, atau “saya sedang fokus karir di RS dulu”, atau klo teman dekat yang nanya langsung saya bilang: “blum ada duit.” hahaha. Baru biasanya mereka ga tanya-tanya atau meremehkan lagi.
Apapun kata orang, tapi saya ingin meluruskan bahwa dokter itu punya banyak jenjang karir, bukan hanya spesialis saja. Bahkan trennya sudah banyak yang ga ngambil spesialis  karena berbagai hal, misalnya (yang positif saja ya):
  1. Karena sudah mapan menjadi dokter umum, terutama mereka yang praktik di perifer/daerah terpencil, mereka sudah jadi raja di sana.
  2. Lebih memilih untuk menjadi bisnismen, dan bisnisnya udah sukses, jadi kalau orientasinya cuma duit, untuk apa ngambil pendidikan spesialis.
  3. Lebih fokus menjadi ibu rumah tangga, ini terbukti dengan teman-teman sejawat saya yang sudah menjadi ibu bagi anak-anaknya, memang mereka sebagian besar sudah mapan, ortu dan suaminya sudah kaya, jadi ga mikir macam-macam lagi.
  4. Lebih memilih karir di birokrasi yang ternyata lebih banyak duitnya dan bahkan lebih bebas mengatur orang atau dokter, misalnya jadi pejabat di Kementerian Kesehatan.
  5. Lebih memilih karir manajemen seperti di RS, ya seperti saya ini contohnya, bisa mengatur banyak orang, hidup lebih santai, bisa pergi lebih bebas, dan tidak selalu terikat jam kerja kantor, itu menurut saya yang saya rasakan, dibandingkan saya praktik seperti kejar setoran pada zaman baheula. Lalu apakah saya tidak punya minat untuk spesialis, ya tentu tetap ada, tapi saya akan melihat-lihat perjalanan karir saya dulu. Ada banyak rencana dalam hidup saya daripada hanya fokus untuk menjadi spesialis.
  6. Bagi sejawat yang baca ini, silakan ditambahkan ya…
Iklan
jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Nikmat membawa sengsara…


Sudah lama ga dapat kasus seru lagi secara udah jarang praktik…
Hari ini, seorang mahasiswa almamater saya (parah!), 21 tahun, dengan keluhan nyeri saat buang air kecil, dari lubang penis keluar nanah, riwayat berhubungan seksual dengan pacarnya yang satu kota asal dengannya, mahasiswinya kuliah di kota yang berbeda.
Alasan berhubungan adalah sekadar coba-coba, pacar sudah berpengalaman artinya sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain sebelum dengan mahasiswa ini.
Mengeluarkan sperma di luar vagina si mahasiswi artinya ga pake pengaman.
Lupa menanyakan, melakukannya di mana? di kursi, di tempat tidur, di semak belukar?  tapi yang jelas di kota yang sama tempat mereka berasal, mungkin pas lagi mudik bareng 
Saran ke mahasiswa, cek laboratorium sampel air kencing dan nanahnya dulu, kemungkinan diagnosis penyakit kencing nanah (GO), menjelaskan risiko jangka panjang bila terkena GO, yaitu saluran pipisnya akan mengkerut dan akan sangat sulit pipis, akhirnya nanti harus dioperasi (pucat dia…)
Syukurlah, katanya kapok ga mau berhubungan seks lagi, mudah-mudahan… 🙂
Pic dari sini
imunisasi, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Buat Yang Ragu: Pahami 8 Fakta Penting Soal Imunisasi


Sampai saat ini, beberapa pendapat keliru di masyarakat tentang imunisasi masih sering terjadi. Sebagian orang merasa bahwa imunisasi tak diperlukan lagi lantaran pada dasarnya manusia sudah dikaruniakan kekebalan oleh sang pencipta.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Soedjatmiko, Sp.A K (Msi)  di sela-sela acara journalist class, dengan tema “Kesehatan Fisik dan Mental Anak Sebagai Investasi Tak Ternilai Bagi Bangsa”, Rabu, (3/8/2011) di Jakarta.

Menurut Soedjatmiko, pendapat tersebut sebetulnya tak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. “Benarnya adalah bahwa memang betul Tuhan telah memberikan kekebalan pada tubuh kita. Tapi kalau kumannya dalam jumlah banyak dan ganas, tubuh kita tidak akan bisa melawan,” katanya.

Ia mencontohkan, pada negara-negara maju yang sosial ekonomi nya baik, gizinya bagus, dan lingkungannya bersih, masih bisa terkena wabah bakteri E Coli. Padahal, sebagaimana diketahui, mereka bukanlah dari sosial ekonomi yang buruk. Pada kasus tersebut Soedjatmiko berkesimpulan bahwa, kebersihan badan, lingkungan dan gizi yang baik belum mampu untuk mencegah penyakit menular.

“Ini untuk mengcounter pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa imunisasi itu tidak perlu,” tegasnya.

Soedjatmiko juga memaparkan 8 fakta seputar imunisasi yang perlu diketahui. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada lagi salah kaprah di masyarakat mengenai imunisasi.

1. Imunisasi merangsang kekebalan spesifik bayi dan anak

Pemberian vaksin akan merangsang peningkatan kekebalan spesifik pada bayi dan anak untuk membunuh kuman atau racun yang dihasilkan oleh kuman yang masuk ke dalam tubuh. Jadi vaksin tidak melemahkan kekebalan tubuh, tetapi justru merangsang peningkatan kekebalan tubuh yang spesifik terhadap kuman atau racun.

2. Imunisasi mencegah penyakit berbahaya

Kalau anak tidak di imunisasi, maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit. Bila kuman berbahaya yang masuk bersifat ganas dan banyak, maka tubuh tidak akan mampu melawan, sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal. Sampai saat ini, imunisasi yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk imunisasi rutin meliputi, Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Campak dan vaksin jemaah haji (Maningitis).

3. Imunisasi lebih praktis dan efektif cegah penyakit

Imunisasi lebih praktis, karena sangat cepat meningkatkan kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak. Setelah diimunisasi dalam waktu 2-4 minggu, maka akan mulai terbentuk kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak untuk melawan kuman. Sementara itu, pemberian ASI, hidup sehat, dan kebersihan lingkungan memang dapat menurunkan risiko serangan penyakit, tetapi membutuhkan waktu  berbulan-bulan untuk memperbaikinya. Sehingga lebih sulit dan lebih lama hasilnya dibandingkan imunisasi.

4. Negara maju tetap butuh imunisasi

Negara maju dengan tingkat gizi dan lingkungan yang baik tetap melakukan imunisasi rutin pada semua bayinya, karena terbukti bermanfaat untuk bayi yang diimunisasi dan mencegah penyebaran ke anak sekitarnya. Sampai saat ini menurut data WHO, sekitar 194 negara maju maupun sedang berkembang tetap melakukan imunisasi rutin pada bayi dan balitanya. “Jadi, tidak benar kalau ada informasi yang mengatakan negara kaya tidak membutuhkan imunisasi. Mereka tetap melakukan vaksinasi, bahkan vaksin yang diberikan jauh lebih banyak,” kata Soedjatmiko.

5. Tidak ada negara yang melarang program imunisasi

Sampai saat ini, tidak ada satupun negara yang melarang program vaksin. Semua ahli-ahli di dunia dan pemerintah yakin dan sepakat bahwa program vaksin pentng dan bermanfaat untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit berbahaya.

6. Vaksin imunisasi di Indonesia adalah produk lokal

 Vaksin yang digunakan untuk program imunisasi di Indonesia dibuat oleh PT. Biofarma Bandung dan sudah dinyatakan aman oleh badan internasional WHO. Bahkan vaksin buatan Biofarma saat ini sudah digunakan oleh Unicef untuk lebih dari 120 negara didunia. “Masa, negara lain percaya sama produk kita, tapi kita sendiri nggak,” katanya.

7. Pasca imunisasi muncul ‘kejadian ikutan pasca imunisasi’

Setelah imunisasi kadang muncul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) seperti demam ringan sampai tinggi, bengkak, kemerahan dan gampang rewel. Menurut Soedjamiko, kejadian seperti itu adalah reaksi yang umum terjadi pasca imunisasi. Biasanya dalam hitungan 3-4 hari, gejala tersebut akan berangsur-angasur hilang dengan sendirinya.

8. Setelah diimunisasi masih bisa terkena penyakit, tapi ringan

Soedjatmiko mengatakan, perlindungan imunisasi memang tidak ada yang 100 persen. Artinya, setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit, tapi kemungkinannya sangat kecil yakni sekitar 5-15 persen.

Sumber: http://health.kompas.com/read/2011/08/04/11245835/Pahami.8.Fakta.Penting.Soal.Imunisasi

dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ga kapok…


Akhirnya kisahnya bersambung…sebelumnya silakan baca di Keputihan 2 Tahun. Ya, sepertinya saya ingat, pihak laboratorium tidak mau melakukan pemeriksaan pap smear dengan alasan pasien belum menikah. Saya lupa, karena sama rekan sejawat saya yang menerima kontrol pasien itu tidak dituliskan itu dari hasil pemeriksaan apa, sehingga hasil yang bisa saya baca di catatan medis hanya: terdapat bakteri gram negatif, dan jumlah leukosit yang banyak, mungkin itu cuma hasil swab (apusan) cairan vagina atau cuma dialihkan ke periksa urin atau air kencing saja. Aneh juga sih, kok bisa memeriksa cairan vagina tapi ga mau melakukan pap smear. Kalau pasiennya setuju dengan informed consent, mestinya tidak menjadi masalah, toh untuk kepastian diagnosis pasien itu sendiri. Setahu saya papsmear itu boleh dilakukan pada orang yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, meski dia belum menikah. Apa pihak lab takut menghilangkan selaput dara si pasien? yang justru saya pertanyakan, apakah si pasien memang masih perawan? setelah berhobi ria melakukan hubungan seks? entahlah…

Nah, kembali ke “ga kapok”-nya pasien saya itu. Oleh teman saya, diterapi dengan antibiotik selama 5 hari, belum membaik, lalu ditambah dengan anti jamur dan jenis antibiotiknya diganti. Entahlah, si pasien sembuh apa tidak, karena tidak kontrol, untuk melaporkan perkembangan keluhannya.

Setelah 3 bulan berlalu, si mahasiswi berjilbab datang lagi, dengan keluhan demam, mual, pusing, nyeri perut kanan bawah, keputihan, dan sering buang air kecil. Lalu sama teman saya diperiksa lab urin (air kencing)-nya. Hasilnya, hari ini dia datang menyerahkan hasil lab urin dengan hasil warna urin yang keruh, jumlah sel darah putih yang banyak, dan kandungan bakterinya positif. Ya, sudah diagnosis ditegakkan saja: urinary tract infection atau infeksi saluran kencing, atau ISK. Untuk mempertajam saja, lalu saya tambah proses tanya jawabnya.

“Habis menahan pipis?”

“Engga…”

“Habis berhubungan seks…?”

‘Iya, Dok…?”

“Kapan..?”

“Dua minggu sebelumnya Dok..”

“Dua minggu sebelum timbul keluhan?”

“Iya…”

“Pake pengaman?”

“Pake…”

“Sama siapa?”

“Teman…”

“Itu teman yang sudah tunangan?” (saya nanya gini bukan berarti klo udah tunangan, boleh ngeseks sembarangan loh…)

“Engga…”

“Jadi, belum pasti ya (nikahnya), brarti nanti bisa lari…meninggalkan mba..?”

“…..”

“Jadi pake pengaman ga menjamin juga….aman buat cowok, ga aman buat mba…apa lagi komplikasi ini ga terduga, bisa ke ginjal loh…”

“….”

“Jadi, sebaiknya dihentikan saja kegiatan berisiko itu….ya risikonya mungkin ga hamil klo pake kondom, tapi mungkin bisa ada iritasi dan alergi sama kondom…”

“….”

“Cowoknya yang minta ya….?” (maksudnya yang minta berhubungan seks duluan….)

“Iya…”

“Lain kali, beranilah bilang “tidak”…, karena tetap perempuan yang akan dirugikan….”

“Iya, Dok…”

“OK, setelah minum obat yang saya berikan, hari Sabtu kontrol ya, buat evaluasi…”

“Ya, Dok, makasih….”

“Ya”

———————————————————————————————————————————-

Referensi berguna:
http://labparahita.com/parahita/2011/02/pemeriksaan-pap-smear/
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/kiayati/2009/01/30/lets-talk-pap-smear/
http://www.kznhealth.gov.za/papsmear.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Pap_smear
http://www.medicinenet.com/urine_infection/article.htm
http://emedicine.medscape.com/article/233101-overview
http://www.mayoclinic.com/health/urinary-tract-infection/DS00286

dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ngeseks Saat Mens


“Terimakasih ya Dok ya….”
———————————————————————————————————————————-
Kali ini saya lebih kalem ketika ketemu pasien yang melakukan hubungan seks di luar nikah, apalagi karena kebodohannya…

Saya berharap nasihat-nasihat saya nantinya bisa masuk dan tidak menjadi bumerang terhadap pasien, saya usahakan tidak melakukan penghakiman langsung kepada pasien.

Saya mau cerita lagi tentang pasien saya sore kemarin, seorang mahasiswi 18 tahun, anak kedokteran hewan, tampilan biasa saja menurut saya. Datang dengan keluhan pusing mual pilek perut perih. Lalu saya tetapkan diagnosisnya cuma Common Cold (flu) dan Dyspepsia (sakit maag). Beri obat untuk meringankan gejala yang dirasakannnya dan menyebutkan anjuran dan pantangan.

Lalu mahasiswi tersebut bertanya kepada saya: “Kalau gejala hamil itu apa saja Dok…?”

“Pernah hubungan seks?” saya menyolot.

“Iya, Dok…”

“Kapan?”

“Dua minggu yang lalu…”

“Mens terakhir kapan, hari pertamanya…?”

“Dua minggu yang lalu, Dok…”

“Hari keberapa mens, tepatnya berhubungan?”

“Kedua…”. “Bisa hamil ga Dok, apa gejala yang saya rasakan ini tanda-tanda hamil…?”

“Bisa jadi…”, jawab saya

“Apa itu sedang masa subur?”

“Bukan masa subur…, tapi masa hidup sperma kan tidak bisa diduga…”

“Oooo, lama ya Dok?”

“Bisa jadi…, lah mba berhubungan pake pengaman?”

“Engga…”

“Dikeluarin di mana?”

“Ga sempat keluar Dok…, cuma lendir gitu, ga ada putihnya…sperma putih kan Dok?

“Mmm…, sama sapa berhubungan?”

“Pacar, Dok…”

“Berhubungan pertama kali? mba masih perawan waktu itu?”

“(mimik ga yakin, mengangguk saja…), kalau cairan bening itu ada spermanya Dok?”

“Bisa ada…, sperma itu kan sel yang kecil, ga bisa kelihatan dengan mata biasa, harus pake mikroskop, kalau yang putih itu jumlah spermanya lebih banyak, sudah kumpulan gitu…”

“(manggut-manggut), jadi gimana Dok, saya hamil ga? saya takut Dok…”

“Belum bisa ditentukan sekarang…, kita observasi saja, mbanya kontrol saja nanti…saat siklus berikutnya, bila tidak mens…, mensnya teratur?”

“Teratur Dok, tapi kadang maju tanggalnya…”

“Ya, ga pa pa, perkiraan saja majunya kapan, klo ga keluar mensnya, ke sini saja, nanti kita tes…”

“Ya, Dok..”

“Baik, untuk sakit yang ini, obatnya sudah saya resepkan, bisa ditunggu di depan apotek, nanti dipanggil…”

“Terimakasih ya Dok ya….”

“Sama-sama…”
———————————————————————————————————————————-
Pic dari sini

baksos, dokter, kesehatan, penyakit, salahkaprah, yankes

Pengobatan Gratis, Masihkah Perlu?


Sabtu, 14 Mei lalu, saya sempat menyaksikan acara baru reality show Trans TV, Pukul 18.30-19.00: “Pengabdian” yang menghadirkan sosok dr. Irma Rismayanty, dokter muda lulusan FK UI yang menerobos daerah terpencil di wilayah Serang, Banten untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat temporer selama beberapa hari. Dia menginap di sana dan melakukan beberapa kegiatan seperti pengobatan gratis dan penyuluhan.

Sebenarnya saya dulu sering sekali mengadakan dan ikut acara-acara bakti sosial pengobatan gratis begitu. Apalagi kalau keluar kota, pasti saya semangat, soalnya sekalian jalan-jalan, hehehe…

Berbicara pengobatan gratis, memang lebih mudah dalam penyelenggaraannya, namun tidak semudah dalam melihat efek jangka panjangnya terhadap kegiatan tersebut. Berdasarkan pengamatan saya pengobatan gratis sering tidak bersifat kontinyu alias berkesinambungan dan jarang disertai dengan penyuluhan yang efektif serta advokasi bagi masyarakat awam untuk lebih membuka wawasan mereka.

Contoh lain kasus pengungsi Merapi di shelter-shelter ternyata sebagian besar dari survey tim saya, mereka sudah jenuh dengan yang namanya pengobatan massal yang gratis. Obat-obatan mahal tidak diminum dan dibiarkan saja tergeletak di rumah masing-masing. Obat-obat jenis antibiotik sudah jelas tidak akan sesuai perlakuannya sehingga justru akan mempertinggi risiko kekebalan terhadap kuman penyakit. Obat-obat penyakit kronik seperti hipertensi dan diabetes bahkan dapat semakin parah bila peserta pengobatan massal tidak punya kesadaran untuk melanjutkan pengobatan di pusat pelayanan kesehatan terdekat seperti puskesmas.

Tapi, apakah pengobatan massal dan gratis tidak diperlukan lagi? Tergantung, bila untuk fase bencana yang akut alias untuk jangka waktu yang singkat, maka masih sangat diperlukan karena memang ada keterbatasan akses pengobatan. Untuk daerah terpencil memang juga masih sangat perlu. Tentu saja sangat perlu diiringi dengan advokasi kepada para pemegang kebijakan untuk mau turun tangan dan memberikan tindak lanjut terhadap mereka yang menjadi kaum marjinal ini. Selain itu perlu upaya terus-terusan untuk menyadarkan masyarakat kita tentang pentingnya kondisi sehat dan kemampuan untuk mendeteksi secara dini penyakit-penyakit yang berbahaya.

dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Sex Edu – Keputihan 2 Tahun


Hari ini saya menemukan pasien yang luar biasa lagi. Lagi-lagi seorang mahasiswi dengan kerudungnya yang cukup rapi, datang mengeluhkan menderita keputihan (leukorea) selama 2 tahun. Riwayat hubungan seksual pertama kali sejak 1 tahun sebelum periksa ke saya. Jadi dia sudah mengalami keputihan sebelum perawannya direnggut dengan sukarela oleh teman akrabnya sendiri (bukan pacar) saat berumur 17 tahun. Sekarang dia berumur 18 tahun.
Sebelum pernah melakukan kontak seksual, saya memperkirakan keputihannya masih dalam batas normal karena tidak berbau, tidak gatal, dan masih bening. Masalah timbul setelah dia melakukan hubungan seksual dengan cara yang sangat-sangat tidak aman. Jarang menggunakan kondom, jadi teman prianya melakukan coitus interruptus atau senggama terputus atau azl. Sama seperti kasus yang saya tulis sebelumnya bahwa perilaku ini tetap berisiko untuk menimbulkan kehamilan. Apalagi ketika saya tanyakan mengenai kegiatan gonta-ganti pasangan. Ternyata si mahasiswi mengetahui bahwa teman prianya itu juga melakukannya dengan perempuan lain. Lalu apakah mahasiswi ini melakukan dengan 1 teman prianya saja? Ternyata juga tidak. Dia mengaku berhubungan dengan 2 pria saja.
Lalu dia menanyakan ke saya: “Apa saya mungkin terkena kanker leher rahim?” Tentu saja saya jawab: “Sangat bisa”
Karena saya penasaran, tidak langsung saya rujuk ke dokter obsgin seperti kasus sebelumnya. Tapi saya cek dulu ke laboratorium untuk pap smear dan cek kandungan dari cairan vaginanya. Mudah-mudahan kisah ini bersambung untuk menjadi pelajaran bagi kita bersama.
dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Sex Edu – Ketagihan


Saya mau bertanya kepada laki-laki MPers di sini, terutama yang sudah menikah. Berapa kali berhubungan suami istri dalam waktu 1 minggu? Ga perlu dijawab deh, cukup disimpan di hati 🙂 Trus saya mau nanya lagi: biasanya yang ngajak berhubungan laki-laki (suami) duluan atau perempuan (istri) duluan? Lagi-lagi ga usah dijawab deh, entar melebar kemana-mana, hehehe….

Maksud saya adalah ingin berbagi tentang (lagi-lagi) tentang pergaulan remaja zaman sekarang yang gimana gitu, dibilang kebablasan, ya memang kebablasan…

Hari ini saya dapat pasien dengan kasus yang menarik hati (bukan pasiennya yang menarik hati saya, tapi kasusnya)

Seorang mahasiswi kedokteran berusia 19 tahun datang untuk curhat masalah yang dihadapinya. Dia mengeluhkan keluar flek/cairan kecoklatan dan bergumpal sejak 6 hari yang lalu. Pernah mengalami hal yang sama 1/2 tahun yang lalu.

Saya sendiri belum tahu pasti itu apa. Tapi yang jelas hasil wawancara medis yang cukup rinci saya mengetahui, dia baru saja 1 minggu yang lalu melakukan hubungan seksual dengan pacarnya tanpa memakai kondom, alias sperma dikeluarkan di luar vagina. Pertama kali berhubungan umur 16 tahun masih dengan pacar yang sama. Perbuatan terlarang tersebut dilakukan di rumah pacarnya. Memang ini belum bisa ditentukan dia hamil atau tidak karena belum sampai kepada masa dia mengalami telat menstruasi. Tes hormon via urin pun masih menunjukkan hasil negatif. Pasien itu akhirnya saya rujuk saja ke dokter ahli obstetri dan ginekologi (kebidanan dan onderdil reproduksi wanita).

Saya bukan mau membahas kasus itu secara mendetail, tapi ingin memaparkan edukasi yang saya berikan kepada mahasiswi itu. Sehingga beberapa pertanyaan iseng, saya ajukan kepada mahasiswi itu.

“Emang enak berhubungan itu mba?” Tentu saja dia ga mau jawablah, hehehe…cuma mesem aja.

“Trus yang ngajak berhubungan siapa?” Dijawab: “Ya, pacar saya, Dok”

“Biasanya kalo berhubungan, paling banyak dalam sebulan berapa kali? Dijawab:”Jarang Dok, kita berhubungan pada tanggal-tanggal tertentu, paling banyak 3 kali dalam sebulan…”

Ini edukasi saya:
“Maaf ya mba, bukan maksud memprovokasi ya…
Ya, kalo masalah agama ya tahu sendirilah…
Mba nih anak kedokteran kan?
Tahu ga, klo ngeluarin sperma di luar itu belum tentu ga bisa hamil?
Mba tahu ga klo pacar mba itu setia, ga berhubungan atau jajan dengan perempuan lain…? Biasanya kalo orang, terutama cowok kalo sudah pernah berhubungan seks, dia akan merasa ketagihan. Ga cukup itu kalo cuma 3 kali dalam sebulan. Trus, apa mba ga khawatir pacar mba itu berhubungan dengan cewek lain? Iya kalo cewek lain itu bersih, lah kalo pacar mba jajan dan kena penyakit, entar malah mba kena getahnya juga kan…? belum lagi nanti kalo hamil, lalu ditinggal sama pacar mba…lalu mba mikir untuk aborsi dengan taruhan nyawa mba sendiri…”

Yang sempat membuat saya mangkel adalah, dia ngomong: “Saya ga takut kalo hamilnya Dok, tapi yang lebih ngeri dari itu, apa saya kemungkinan kena HPV (Human Papilloma Virus) yang menyebabkan kanker serviks?”

Saya pikir: apa dia ga ngerti ada yang lebih bahaya dari itu seperti HIV??

Bener-bener deh…mau ngomong apa lagi saya….?

agama, salahkaprah

Penyeimbang – Kerusuhan Temanggung


Rating: ★★★★★
Category: Other
Saya benar-benar malas melihat media massa mainstream yang selalu tidak seimbang dan sering memelintir berita. Untung ada klarifikasi berikut. Mohon diperhatikan.

————————————

Pernyataan Forum Umat Islam Bersatu Temanggung tentang kerusuhan di Temanggung

Forum Umat Islam Bersatu Temanggung atau FUIB Temanggung membuat Buku Putih kronologi Kerusuhan di Temanggung, untuk meluruskan issu yang sebenarnya :

Bisa di download di http://www.4shared.com/get/Mhs5rd8S/Buku_Putih_FUIB.
Bisa juga diligat di : www.fuibonline.blogspot.com


F U I B
FORUM UMAT ISLAM BERSATU
Jl. MT. Haryono 50 Temanggung
BUKU PUTIH
TERKAIT KERUSUHAN DI
TEMANGGUNG,
SELASA, 8 FEBRUARI 2011

MUKADIMAH

Sehubungan dengan terjadinya peristiwa kerusuhan berlatar belakang penistaan agama di Temanggung pada hari Selasa, 8 Pebruari 2011, muncullah pemberitaan di media baik elektronik maupun surat kabar yang tidak seimbang. Dalam hal ini, umat Islam sangat dirugikan karena pemberitaan tersebut menempatkan umat Islam sebagai pelaku atas semua kerusuhan yang terjadi. Sehingga umat Islam Temanggung yang faktanya adalah sebagai KORBAN penistaan agama, justru menjadi pihak yang TERTUDUH.

Atas dasar kenyataan tersebut, perlu dibuat upaya pelurusan berita dengan data-data yang akurat dan obyektif baik di lapangan, maupun melalui saksi-saksi yang secara langsung melihat dan mengalami peristiwa tersebut. Maka perlu dilahirkan sebuah BUKU PUTIH untuk mengakomodasi data-data itu semua, demi menjaga ketertiban dan keamanan, khususnya di Temanggung dan sekitarnya, serta umumnya di seluruh wilayah NKRI.

KRONOLOGI
• Pada tanggal 23 Oktober 2010, Antonius Richmond Bawengan yang merupakan warga Duren Sawit, Jakarta Timur, diketahui tertangkap tangan menyebarkan selebaran yang berisi penistaan agama. Salah satu selebaran itu diletakkan di depan rumah warga dusun Kenalan desa Kranggan, Kec. Kranggan, Temanggung, Jawa Tengah, yang bernama H. Bambang
Suryoko.

• Warga yang mengetahui perbuatan Richmond, bersama pengurus RT yang bernama Bp. Fatchurrozi (Fauzi), yang juga anggota Polsek Kaloran, langsung melaporkannya ke Polsek
Kranggan, kemudian dilimpahkan ke Polres Temanggung.

• Pada tanggal 21 November 2010, oleh Kejaksaan Negeri Temanggung, berkas pemeriksanaan sudah dinyatakan P21 (lengkap).

• Sidang pertama digelar pada tanggal 13 Januari 2011, dengan agenda pembacan dakwaan.

• Sidang kedua digelar pada tanggal 20 Januari 2011, dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

• Sidang ketiga digelar pada tanggal 27 Januari 2011, dengan agenda pemeriksaan dua orang saksi dan seorang saksi ahli.

• Sidang keempat digelar pada tanggal 8 Februari 2011, dengan agenda pembacaan tuntutan.

• Pada sidang ke empat, setiap pengunjung sidang yang masuk ke area Pengadilan Negeri Temanggung diperiksa oleh petugas, untuk memastikan tidak adanya benda-benda terlarang yang mereka bawa ke area tersebut.

• Setelah pembacaan tuntutan, massa mulai gelisah, hakim meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun, dan tersangka diamankan oleh aparat. Hal itu mengakibatkan suasana
menjadi lebih gelisah dan massa menjadi tidak terkendali.

• Kemudian beberapa tokoh ulama berusaha menenangkan pengunjung sidang. Di antara tokoh tersebut adalah: KH. Syihabuddin (Pengasuh Ponpes di Wonoboyo) dan KH. Rofi’i
(Pengasuh Ponpes di Kemuning).

• Setelah sekitar 30 menit kemudian sidang dilanjutkan dengan agenda pembacaan vonis, tanpa pledoi terlebih dahulu. Hakim memutuskan hukuman 5 (lima) tahun penjara, sesuai dengan tuntutan jaksa.

• Dalam suasana ketegangan tersebut, beberapa orang melarang penggunaan kamera, baik yang dibawa wartawan maupun warga, sehingga massa pun terprovokasi menjadi lebih emosional. Apalagi sidang sebelumnya ada insiden pemukulan terhadap seorang pengunjung yang dilakukan oleh seorang polisi bernama Kurniawan.

• Ada provokasi sekelompok orang yang memecah kaca di PN Temanggung. Suasana pun semakin ricuh. Aksi pecah kaca pun kemudian berlanjut, dilakukan oleh orang-orang yang tidak dikenal, diikuti oleh pembakaran ban di tiga titik di lingkungan PN. Tidak diketahui dari mana ban tersebut masuk. Padahal, sebelum masuk halaman pintu gerbang timur PN (hanya satu pintu gerbang yang dibuka), setiap pengunjung sudah diperiksa dengan seksama oleh petugas menggunakan metal detector.

• Di depan tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari para Ustadz dan Kyai yang sedang melihat jalannya sidang, dilemparkan gas air mata, diikuti oleh suara tembakan. Menurut saksi mata, tidak ada tembakan peringatan terlebih dahulu.

• Korban yang berhasil diketahui sampai saat ini ada 9 orang, dilarikan di Rumah Sakit. Empat orang di antaranya yang masih dalam perawatan adalah:
1. Sholahuddin, 40 th, putra pengasuh Ponpes Al-Munawar, Kertosari, Temanggung, luka tembak di kepala, dengan enam jahitan.
2. Roy Hanif, 15 th, asal Gandurejo, Ngablak, Magelang. Luka tembak di kepala dan pelipis kiri. Bahu sebelah kiri berubah bentuk, dicurigai patah tulang.
3. Madyo, 48 th, asal Braol, Campursari, Ngadirejo, Temanggung. Korban dilempar batu dari jarak dekat oleh personal Brimob di Taman Kartini, depan Stadion Bumi Phala, sekitar 300 m dari PN. Mengalami patah tulang di kaki sebelah kanan dan harus dioperasi.
4. Suparman, 28 th, luka 3 cm di daera h mata kiri.

• Semua korban tersebut berobat atas biaya sendiri.

• Kegelisahan massa semakin menjadi-jadi ketika putra pengasuh Pondok Al-Munawwar Kertosari tersebut, jatuh terkena tembakan, dan diisukan sampai meninggal dunia.

• Pengunjung sidang dikejar-kejar polisi. Selain mengejar pengunjung, beberapa polisi juga merusak puluhan sepeda motor pengunjung yang diparkir di seberang PN.

• Sebagian pengurus FUIB berlindung masuk ke Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah, dan menutup gerbang PAY untuk mengantisipasi masuknya orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

• Namun, polisi masih tetap mengejar mereka. Di depan pintu gerbang PAY, polisi mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.

“Neng kene celeng… asu.. PKI kabeh. Saya bunuh!” Polisi melemparkan gas air mata tiga kali ke halaman PAY.

• Setelah terjadi dinegoisasi antara pimpinan massa dan polisi, akhirnya pemilik motor diperbolehkan mengambil motor. Namun mereka terlebih dahulu dipukuli dan diambil gambar motor dan pemiliknya. Saat itu, Polisi juga bertakbir dan berkata, “Polisi juga Islam.” Takbir dilafalkan secara cengengesan sambil memukul massa yang kelihatan mempunyai jenggot.

• Sekelompok orang tidak dikenal di depan BPR Surya Yudha mengajak massa untuk melanjutkan aksi ke Parakan, dan membakar gereja. Provokator serupa juga ada di sebelah
barat. Sambil mengatakan, “Munafik!” ke orang-orang yang tidak mau mengikutinya, mereka terus mengajak massa untuk membakar gereja. Massa diam, tidak bergerak mengikuti mereka. Lalu, beberapa saat pembakaran beberapa gereja benar-benar terjadi. Tidak diketahui siapa kelompok yang membakar gereja tersebut.

• Beberapa saksi melihat di dalam gereja sudah ada orang yang ikut memprovokasi massa untuk merusak gereja dengan memulai pelemparan. Ketika ditanya identitasnya, orang-orang tersebut tetap tidak menunjukkan. Bahkan mereka langsung lari menghilang.

• Saksi lain melihat ada orang bercadar sudah berada di dalam gereja Pantekosta. Setelah gereja terbakar orang itu berlari keluar sambil mencopot cadarnya dan bergabung dengan massa penonton.

• Berdasarkan pantauan saksi di lapangan, beberapa orang tak dikenal mengajak masa untuk membakar gereja. Anehnya, gaya bicara orang tersebut menggunakan dialek luar Jawa. Hal serupa juga terjadi ketika ada isu Sholahuddin, korban putra pengasuh PP. Al-Munawaar, meninggal dunia. Ajakan provokasi itu disampaikan secara sporadis, singkat, habis itu orang tersebut menghilang.

KESIMPULAN
• Adanya kesengajaan untuk memantik kemarahan massa dengan pelemparan gas air mata di depan para ustadz dan kyai.

• Kerusuhan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada kelompok tertentu yang memang merencanakannya.

• Setiap pengunjung yang masuk ke halaman Pengadilan Negeri Temanggung harus diperiksa dengan ketat oleh petugas Polri. Sehingga sangat aneh ketika terjadi pembakaran ban di halaman Pengadilan Negeri Temanggung. Siapa yang melakukannya? Siapa yang meloloskannya, sehingga ban yang ukurannya sangat besar bisa masuk?

• Salah satu pemicu kemarahan massa adalah ketidakadilan hukum dalam penanganan kasus ini.

• Apa yang telah dikerjakan oleh Antonius Richmond Bawengan adalah perbuatan yang sangat berbahaya, sangat potensial untuk memecah sendi-sendi kehidupan bermasyarakat,
bahkan bisa menyebabkan disintegrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan Antonius Richmond Bawengan terbukti memperlihatkan militansinya dan sangat terlatih untuk melakukan penistaan agama semacam ini.

Penampilannya sangat tenang, SAMA SEKALI TIDAK MERASA BERSALAH, dan dengan percaya diri menolak untuk didampingi pengacara. Bahkan, informasi sementara yang dihimpun, ada indikasi kuat bahwa Antonius juga melakukan aksi serupa di Poso yang memicu kerusuhan Poso, sebelum di Temanggung.

Namun Polri hanya mau menyelidiki apa yang telah dikerjakan oleh Antonius Richmond Bawengan di Temanggung saja, tanpa mau menyelidiki latar belakangnya, latar belakang pendidikannya, organisasi yang membackupnya, siapa pendukung dananya, siapa aktor intelektual yang ada di baliknya. Padahal, FUIB sangat yakin polisi punya kemampuan untuk mengungkap semuanya. Sikap polisi semacam ini akan memicu kelompok Antonius untuk berbuat serupa di tempat lain.

• Ada proses peradilan yang dilanggar, sehingga berpotensi untuk menjadikan terdakwa terbebas dari semua dakwaan, ketika dilakukan peninjauan kembali (PK) di MA. Pelanggaran
tersebut adalah:
1.Tidak adanya pengacara yang mendampingi terdakwa, padahal ancaman hukumannya 5 (lima) tahun. Apakah ini kelalaian, atau kesengajaan yang dilakukan oleh majelis hakim PN Temanggung dalam upaya untuk membebaskan Antonius Richmond Bawengan melalui PK-nya nanti?
2. Sidang pembacaan tuntutan oleh jaksa itu tidak jelas statusnya, karena hakim meninggalkan ruang sidang begitu saja, tanpa ada sepatah kata pun.

• Konsentrasi polisi saat kerusuhan terjadi ada di sebelah timur gedung Pengadilan Negeri Temanggung. Sementara di sebelah barat, jalur ke arah kota, sepi dari polisi. Ketika masa panik, otomatis mengarah ke arah kota. Keganjilan ini memicu pertanyaan, apakah konsentrasi massa sengaja diarahkan ke kota? Untuk apa?

SERUAN
• FUIB mendesak kepada Kapolri untuk mencopot Kapolda Jawa Tengah dan Kapolres Temanggung karena tidak bisa menjalankan deteksi dini, tidak mampu mengantisipasi kerusuhan, tidak bisa melakukan pembinaan kepada anggotanya, sehingga Polri yang seharusnya bisa mencegah terjadinya kerusuhan, tapi justru menjadi salah satu penyebab utama massa menjadi beringas dan tidak terkendali.

• FUIB menuntut aparat keamanan untuk mengusut tuntas kelompok dan aktor intelektual di belakang Antonius. Sebab, keresahan massa dan provokasi yang memantik kerusuhan di Temanggung 8 Februari 2011, semuanya bermula dari kasus Antonius. Bila kelompok dan aktor intelektual ini tidak disentuh, sangat patut kuat diduga mereka akan melanjutkan aksi ke daerah-daerah lain.

• FUIB membentuk sebuah tim advokasi yang diberi nama TANGKIS (Tim Advokasi dan Perlindungan Korban Penistaan Terhadap Islam), dan mengajak seluruh ahli hukum dan advokat untuk bergabung dalam tim ini.

• Mendesak kepada DPRD Temanggung dan atau Bupati Temanggung untuk membentuk Tim Investigasi Independen untuk menuntaskan kasus ini.

Temanggung, 9 Februari 2011
H. Taufan Sugianto, S.Pd.
Sekretaris

F U I B
FORUM UMAT ISLAM BERSATU
Jl. MT. Haryono 50 Temanggung

dokter, jogja under cover, livinginjogja, penyakit, salahkaprah

Jogja Under Cover III: Pentingnya pendidikan seksual yang benar



Pic dari sini


Banyaknya kasus penderita penyakit seksual dan kehamilan yang tak diinginkan oleh ABG dari usia sangat muda sampai tingkat mahasiswa, menjadikan aku begitu yakin akan pentingnya pendidikan seksual yang benar sejak anak-anak masih usia dini. Bahkan seharusnya kurikulum pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi sudah sangat mendesak diberlakukan di sekolah-sekolah. Kebanyakan bagi pelaku seks bebas/multipartner dan mereka yang ga begitu ngeh dengan perilaku berisiko lainnya terkesan sekali mereka tidak mengerti arti kesehatan reproduksi dan risiko-risiko berbahaya yang harus mereka terima.

Pengalamanku sendiri dan rekan sejawat di kantor terhadap kasus-kasus tersebut lumayan menggiriskan hati. Berikut aku akumulasikan saja beberapa kasusnya, beberapa sudah pernah aku tulis lengkap dan sering aku catatkan di status, waktu FB/fesbuk-ku masih hidup.

Misalnya, keperawanan hilang dari seorang mahasiswi karena  coba-coba dengan pacarnya, ngakunya sih cuma 1 kali saja melakukan hubungan seksual. Terus periksa untuk mengetahui apakah masih perawan atau tidak (aneh kan…), dan hamil atau tidak.

Lalu, seorang mahasiswa yang datang karena menderita sakit kelamin yaitu kencing nanah (uretritis gonorrhea) karena berhubungan seks dengan pacarnya (ngakunya pake pengaman dan pacarnya setia alias ga berhubungan dengan orang lain, bullshit! Siapa yang percaya dengan omongan orang suka ngeseks bebas?!) lalu setelah sembuh 8 bulan kemudian menderita kutil kelamin (condyloma acuminata) dan sudah di”bakar” (kauterisasi) di RS, lalu terkena jamur kulit (tinea cruris) di sekitar alat kelaminnya.

Lalu, yang miris, seorang mahasiswi muda, hamil 5 bulan, yang berencana mau menggugurkan kandungannya, dan mau ditinggalin sama pacarnya, ortunya juga belum tahu kalau dia hamil, duh…

Lalu, pasangan muda (belum nikah) datang periksa, eh, ga tahu klo si cewek hamil 7 bulan, lantas perut yang buncit itu selama itu dianggap apa?!

Lalu, seorang ABG perempuan bau kencur masih 12 tahun, hamil 3 bulan, datang dengan pacar (ternyata adik kelasnya) dan ortunya, meminta surat keterangan hamil untuk menikah di pengadilan agama, karena KUA tidak berani menikahkan karena masih di bawah umur.

Lalu, pasangan muda, pegawai cafe dugem yang cukup terkenal di Jogja, datang mengeluhkan karena masalah sakit kelamin juga, ditanya kapan nikahnya, malah cekikikan dan mengarang cerita bohong (dikira kita ga ngerti kalau mereka bohong apa?!)

Lalu, seorang mahasiswa yang mengaku gay, periksa dengan keluhan sakit juga pada kelaminnya yang ada “dua” itu, karena kadang dia jadi cowok, kadang jadi “cewek”. Ada juga mahasiswa lain yang main ke salah satu tempat lokalisasi terkenal di Jogja, kena sakit kelamin juga, ada juga mahasiswa  yang lain merasa ketakutan secara ada keluhan di sekitar mulutnya . Dia baru dikerja’in oleh seorang waria untuk melakukan kegiatan oral dan dibayar loh…

Lalu, seperti QN-ku barusan, seorang calon ibu muda 17 tahun yang MBA (married by accident), datang dengan pasangan yang imut-imut dan ibu kandungnya yang menurutku juga “gaul” (sama degan anaknya pake cat rambut pirang sebagian), dengan keluhan perut terasa kencang-kencang, padahal usia kehamilannya baru sekitar 8 bulan, ternyata dipake buat berhubungan seks dengan suami mudanya itu (padahal sebenarnya sebagian besar juga ga mengalami apa-apa bila berhubungan seks waktu hamil, entahlah…)

Lalu seorang mahasiswi cantik kayak artis, putih, imut, mungil, kalem, (sampai aku terkagum-kagum) mau periksa apakah dia hamil atau tidak, ternyata hamil, langsung cemberut dan cemas, dan ga pernah datang lagi… malu apa ya…

Lalu yang lucu, seorang mahasiswa, datang dengan kelamin lecet-lecet sampai berdarah, ternyata melakukan masturbasi secara serampangan, entahlah ga tau cara persisnya, ga aku gali lebih dalam.

Lalu, kasus yang paling gres, sampai keluar di koran lokal setengah nasional, tentang kasus pengguguran yang terjadi di toilet sebuah RS tetangga RS tempat aku kerja, oleh seorang perempuan masih SMP. Bukan pihak RS yang menggugurkan tetapi si pacar yang sebelumnya sudah memberikan ramuan-ramuan untuk menggugurkan janin tersebut.

Lalu, lalu…lalu… puluhan kasus lainnya… yang kalo mau diceritakan semua, bisa bosan dan muak membacanya. 🙂

Referensi sebelumnya:

Mahasiswi oh mahasiswi…Jogja Undercover versiku, bagian I

Jogja Undercover versiku, bagian II: Apakah harus EGP?

KHUSUS DEWASA: Seks liar itu nikmat, taaapiii…