WidodoWirawan.Com

Sikap Positif Tubuh Dapat Memperbaiki Mood, Kepercayaan Diri, dan Kondisi Kesehatan

Tinggalkan komentar


High vs Low Power Poses Sumber: http://thespiritscience.net/

High vs Low Power Poses
Sumber: http://thespiritscience.net/

Secara tidak sengaja saya menemukan sebuah video inspiratif dan aplikatif, setelah browsing untuk penyegaran pengetahuan dan skill presentasi saya. Sumber asli video ini ada di website TEDTalks (ted.com) atau langsung ke http://www.ted.com/talks/amy_cuddy_your_body_language_shapes_who_you_are

Video ini bisa langsung teman-teman download dan jangan lupa memilih teks terjemahan (subtitle) untuk bahasa Indonesia ya…

Video-video di TEDTalks ini memang sangat menginpirasi bagi para penontonnya, dulu saya ingat saya pernah posting di blog saya ini mengenai cara penurunan berat badan secara revolusioner, ada di https://widodowirawan.wordpress.com/2013/04/04/menguruskan-badan-hanya-minum-jus-selama-60-hari/

Nah, video kali ini bercerita tentang penemuan ilmiah dari Prof. Amy Cuddy (beliau sendiri yang presentasi di video itu) mengenai sikap tubuh yang dapat mempengaruhi kadar hormon testosteron dan kortisol. Saya tidak usah terangkan apa itu fungsi kedua hormon itu karena sudah dijelaskan dalam video dan transkrip/subtitle video yang saya sertakan di sini. Bagi yang memerlukan artikel ilmiah Prof Cuddy bisa dilihat di Power Posing Brief Nonverbal Displays Affect Neuroendocrine Levels and Risk Tolerance: http://pss.sagepub.com/content/21/10/1363.abstract dan di https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&uact=8&ved=0CEcQFjAI&url=http%3A%2F%2Fdash.harvard.edu%2Fbitstream%2Fhandle%2F1%2F9547823%2F13-027.pdf%3Fsequence%3D1&ei=09KUVNedOI6VuQT1i4LgCQ&usg=AFQjCNF_XmzmLJG6WcP0MxUDgQ7KzxLbIw&sig2=r5ZIQ-hFmA3nQmxTbeKHHw

Namun, temuan ini dapat diperluas dengan menduplikasi temuan ini dalam proses-proses terapi penyembuhan pasien dengan faktor-faktor yang dipengaruhi oleh hormon adrenalin dan kortisol serta kondisi psikosomatis lainnya, seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, gangguan jiwa, dan sakit lambung/maag/dispepsia.

Yang jelas, inti dari temuan beliau itu ada 2 yaitu:

1. bahwa “tubuh juga dapat mempengaruhi pikiran sebagaimana – yang sudah lumrah – pikiran mempengaruhi tubuh”.

2. bahwa untuk menuju perubahan pikiran itu diperlukan “keterpaksaan”, melalui kepalsuan/berpura-pura sampai kita benar-benar (sering tanpa disadari) berada dalam kondisi/pikiran yang kita inginkan.

Hal ini pernah juga saya presentasikan dahulu waktu masih pendidikan koasistensi di bangsal ilmu jiwa mengenai feedback positif dari senyuman (yang dipaksa dalam kondisi tidak mood) untuk perbaikan mood dan kondisi kejiwaan lainnya. Jadi jangan lupa untuk diterapkan sehari-hari agar jiwa dan tubuh kita semakin sehat, serta awet muda 😀

Selamat beraktifitas kembali dan berbahagia dengan hidup teman-teman.

————–

Saya ingin mulai dengan menawarkan sebuah cara gratis dan sederhana, dan Anda hanya perlu mengubah sikap tubuh Anda selama dua menit. Tapi sebelum saya memberikannya, saya ingin meminta Anda sekarang untuk sedikit memeriksa tubuh Anda dan apa yang Anda lakukan dengan tubuh Anda. Jadi, berapa dari Anda membuat diri Anda tampak lebih kecil? Mungkin Anda sedang membungkuk, menyilangkan kaki Anda mungkin memeluk pergelangan kaki. Kadang-kadang kita menyilangkan tangan kita seperti ini. Kadang-kadang kita membukanya lebar-lebar. (Tawa) Saya bisa melihat Anda. (Tawa) Jadi, saya ingin Anda memperhatikan apa yang sedang Anda lakukan sekarang. Kita akan kembali membahas tentang itu dalam beberapa menit,dan saya berharap jika Anda belajar untuk sedikit mengubahnya,hal ini dapat secara signifikan mengubah cara hidup Anda.

Jadi, kami benar-benar kagum dengan bahasa tubuh,dan khususnya sangat tertarik dengan bahasa tubuh orang lain. Anda tahu, kita tertarik kepada hal-hal seperti, misalnya – (Tawa) – sebuah interaksi yang canggung, atau senyuman, atau pandangan merendahkan, atau mungkin kedipan yang sangat canggung,atau bahkan mungkin sesuatu seperti jabat tangan.

Narator: Tibalah mereka di No. 10, dan lihat ini polisi beruntung bisa berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat. Oh, dan inilah Perdana Menteri dari …? Tidak. (Tawa) (Tepuk tangan)
(Tawa) (Tepuk tangan)

Amy Cuddy: Jadi, sebuah jabat tangan, atau tanpa jabat tangan, bisa kita bahas selama berminggu-minggu. Bahkan di BBC dan The New York Times. Jadi, jelas ketika kita berpikir tentang perilaku nonverbal, atau bahasa tubuh – kami menyebutnya nonverbal sebagai ilmuwan sosial – itu adalah bahasa, jadi kita berpikir tentang komunikasi. Saat kita berpikir tentang komunikasi, kita berpikir tentang interaksi.

Jadi, apa yang bahasa tubuh Anda komunikasikan kepada saya? Bahasa tubuh apa yang sedang saya komunikasikan kepada Anda?

Dan ada begitu banyak alasan untuk percaya bahwa ini adalah suatu cara yang valid untuk melihat ini. Jadi, ilmuwan sosial
telah menghabiskan banyak waktu untuk melihat efek dari bahasa tubuh kita, atau bahasa tubuh orang lain, pada penilaian. Dan kita membuat penilaian sepintas dan membaca kesimpulan dari bahasa tubuh. Dan penilaian-penilaian tersebut bisa menentukan pencapaian hidup yang sungguh penting seperti siapa yang kita pekerjakan atau promosikan, siapa yang kita ajak berkencan.

Contohnya, Nalini Ambady, seorang peneliti di Universitas Tufts, menunjukkan bahwa ketika orang menonton 30 detik klip tanpa suara tentang interaksi nyata antara dokter-pasien, interaksi nyata antara dokter-pasien, PENILAIAN MEREKA AKAN KERAMAHAN DOKTER JUGA MENENTUKAN APAKAH DOKTER ITU AKAN DITUNTUT ATAU TIDAK. Jadi ini TIDAK TERLALU BERHUBUNGAN DENGAN APAKAH DOKTER TERSEBUT KOMPETEN ATAU TIDAK, TAPI APAKAH KITA MENYUKAINYA DAN BAGAIMANA MEREKA BERINTERAKSI?

Secara lebih dramatis, Alex Todorov di Princeton telah menunjukkan kepada kita bahwa penilaian pada wajah-wajah kandidat politik dalam satu detik saja menentukan 70 persen hasil dari pemilihan anggota senat Amerika dan hasil pemilihan kegubernuran, dan bahkan, di dunia digital, emoticon yang digunakan dengan baik dalam negosiasi online dapat memberikan nilai tambah bagi Anda dalam negosiasi tersebut. Kalau Anda memakainya dengan buruk, bisa gawat. Bukan?

Jadi ketika kita berpikir tentang nonverbal, kita berpikir tentang bagaimana kita menilai orang lain, bagaimana mereka menilai kita dan apa akibatnya. TAPI, KITA CENDERUNG LUPA, MASIH ADA PENONTON LAIN YANG TERPENGARUHI OLEH NONVERBAL KITA, YAITU DIRI KITA SENDIRI.

Kita juga dipengaruhi oleh nonverbal kita, pikiran kita dan perasaan kita, dan fisiologi kita. Jadi nonverbal apa yang saya maksud di sini? Saya seorang psikolog sosial. Saya mempelajari prasangka, dan saya mengajar di sebuah sekolah bisnis yang kompetitif, jadi tanpa terelakkan lagi saya jadi tertarik pada dinamika kekuatan. Saya jadi sangat tertarik dengan ekspresi nonverbal dari kekuatan dan kekuasaan. Dan apa ekspresi nonverbal dari kekuatan dan kekuasaan? Nah, inilah mereka.

Dalam kerajaan hewan, ini berkaitan dengan ekspansi. Jadi, Anda membuat diri Anda kelihatan besar, Anda merentang, Anda mengambil tempat lebih besar, pada dasarnya Anda membuka diri. Ini adalah tentang membuka diri. Dan ini nyata terjadi di dunia hewan. Tidak hanya terbatas pada primata. Dan manusia melakukan hal yang sama. (Tawa)

Jadi mereka melakukannya baik ketika mereka memiliki kekuatan yang berkesinambungan, maupun ketika mereka merasa kuat sesaat. Dan yang satu ini sangat menarik karena ini benar-benar menunjukkan betapa universal dan tuanya ekspresi kekuatan ini. Ekspresi ini, yang dikenal sebagai kebanggaan, telah dipelajari oleh Jessica Tracy. Dia menunjukkan bahwa orang yang dilahirkan dengan penglihatan dan orang yang buta sejak lahir sama-sama melakukannya ketika mereka memenangkan suatu kompetisi fisik. Jadi saat mereka melewati garis akhir dan menang, walaupun mereka belum pernah melihat orang lain melakukannya.

Mereka melakukan ini. Kedua tangan terangkat seperti “V”, dagu sedikit diangkat. Apa yang kita lakukan saat kita merasa lemah? Kita melakukan kebalikannya. Kita menutup. Kita membungkus diri kita. Kita membuat diri kita kecil. Kita takut menyenggol orang di sebelah kita. Jadi sekali lagi, baik hewan maupun manusia melakukan hal yang sama.

Dan ini yang terjadi bila Anda mempertemukan yang kuat dan yang lemah. Jadi yang cenderung kita lakukan ketika dihadapkan dengan kekuatan adalah kita bereaksi terhadap nonverbal orang lain.

Jadi jika ada seseorang yang jauh lebih berkuasa daripada kita, kita cenderung membuat diri kita lebih kecil. Kita tidak meniru bahasa tubuh mereka. Kita lakukan kebalikannya. Jadi saya memperhatikan perilaku ini di ruang kelas, dan apa yang saya lihat? Saya lihat bahwa mahasiswa MBA benar-benar menunjukkan seluruh rentang kekuatan nonverbal.

Jadi ada orang yang seperti karikatur alfa, masuk ke dalam ruangan, mereka langsung ke tengah ruangan bahkan sebelum kelas dimulai, seakan mereka benar-benar ingin menguasai daerahnya. Ketika mereka duduk, mereka seperti membuka lebar. Mereka mengangkat tangan seperti ini. Yang lainnya ada yang kelihatan menciut ketika mereka memasuki ruangan. Begitu mereka masuk, Anda bisa melihatnya. Anda melihatnya di wajah mereka dan tubuh mereka, dan mereka duduk di kursi mereka dan mereka membuat diri mereka kecil, dan mereka berbuat seperti ini ketika mereka mengangkat tangan. Saya perhatikan beberapa hal tentang ini.

Satu, Anda tak akan terkejut. Hal ini tampaknya berkaitan dengan jenis kelamin. Jadi wanita sangat cenderung untuk melakukan seperti ini dibandingkan pria. Wanita selalu merasa lebih lemah daripada pria, jadi hal ini tidak mengejutkan. Tapi hal lain yang saya perhatikan adalah tampaknya hal ini juga berkaitan dengan sejauh mana para mahasiswa berpartisipasi, dan seberapa baik partisipasi mereka. Dan hal ini sangat penting dalam ruang kelas MBA, karena partisipasi berbobot setengah dari nilai. Jadi sekolah-sekolah bisnis telah bergumul dengan kesenjangan nilai antar jenis kelamin. Anda mendapatkan para wanita dan pria dengan kualifikasi yang setara saat mendaftar dan ketika Anda menemukan kesenjangan dalam nilai, dan tampaknya mungkin sebagian disebabkan oleh perbedaan tingkat partisipasi.

Jadi saya mulai ingin tahu, begitu, oke, jadi ada orang-orang yang datang seperti ini, dan mereka berpartisipasi. Mungkinkah kita dapat membuat orang-orang untuk “berpura-pura” dan kemudian itu membuat mereka dapat lebih berpartisipasi?

Jadi rekan utama saya, Dana Carney, di Berkeley, dan saya benar-benar ingin tahu, apakah kita dapat “berpura-pura” sampai kita berhasil? Dapatkah kita melakukan ini sebentar dan kemudian benar-benar mengalami perubahan sikap sehingga membuat kita tampak lebih kuat?

Jadi kita mengetahui bahwa nonverbal kita mempengaruhi bagaimana pikiran dan perasaan orang tentang kita. Ada banyak bukti.

Namun pertanyaan kita sebenarnya adalah, apakah nonverbal kita mempengaruhi bagaimana pikiran dan perasaan kita tentang kita sendiri? Terdapat bukti bahwa mereka memang berpengaruh.

Sebagai contoh, kita tersenyum ketika kita merasa bahagia, namun juga, ketika kita dipaksa tersenyum dengan menggigit bolpen seperti ini, ini membuat kita merasa bahagia. Jadi ini bekerja dua arah. Ketika berhubungan dengan kekuatan, ini juga bekerja dua arah. Kalau Anda merasa kuat, Anda cenderung melakukan ini, tetapi mungkin juga ketika Anda berpura-pura kuat, ada kemungkinan Anda juga jadi benar-benar merasa lebih kuat.

Jadi pertanyaan keduanya adalah, begini, jadi kita tahu bahwa pikiran kita mempengaruhi tubuh kita, tapi apakah tubuh kita juga sungguh mempengaruhi pemikiran kita? Dan ketika saya mengatakan pikiran, pada orang yang kuat, apa yang saya maksudkan?

Jadi saya berbicara tentang pemikiran dan perasaan dan segala hal fisiologis yang membentuk pemikiran dan perasaan kita,dan dalam kasus ini, itu adalah hormon. Saya meneliti hormon.

Jadi bagaimana pemikiran yang kuat dan yang lemah apabila dibandingkan? Orang yang sangat kuat cenderung untuk, tentu saja, lebih tegas, dan lebih percaya diri, lebih optimis. Mereka sungguh merasa bahwa mereka akan menang bahkan dalam permainan peluang. Mereka juga cenderung untuk mampu berpikir secara lebih abstrak. Jadi terdapat beberapa perbedaan. Mereka mengambil lebih banyak resiko.

Terdapat banyak perbedaan antara orang yang kuat dan orang yang lemah. Secara fisiologi, terdapat pula perbedaan pada dua hormon utama: testosteron, yang merupakan hormon dominasi, dan kortisol, yang merupakan hormon stres. Jadi yang kita temukan adalah bahwa pejantan alfa dalam hirarki primata mempunyai testosteron yang tinggi dan kortisol yang rendah, dan pemimpin yang kuat dan efektif juga mempunyai testosteron yang tinggi dan kortisol yang rendah.

Jadi apa artinya hal ini?
Bila Anda berpikir tentang kekuatan, orang cenderung berpikir bahwa ini hanyalah tentang testosteron, karena itu berkaitan dengan dominasi. Tapi sebenarnya, kekuatan juga berkaitan dengan bagaimana Anda bereaksi terhadap tekanan. Apakah Anda ingin mempunyai pemimpin yang kuat, yang dominan, testosteron tinggi, namun mudah dipengaruhi stres? Mungkin tidak, bukan? Anda menginginkan orang yang kuat dan tegas dan dominan, tetapi tidak terlalu reaktif, orang yang santai.

Jadi kita tahu bahwa dalam hirarki primata, bila seekor alfa ingin mengambil alih kekuasaan, bila suatu individu ingin mengambil alih peran alfa secara mendadak, dalam beberapa hari, testosteron individu tersebut telah naik secara signifikan, dan kortisol telah turun secara signifikan. Jadi kita punya bukti ini, bahwa tubuh dapat mempengaruhi pikiran, setidaknya pada tingkat wajah, dan juga bahwa perubahan peran dapat membentuk pikiran. Jadi apa yang terjadi, misalnya, Anda mengambil perubahan peran, apa yang terjadi kalau Anda melakukannya pada tingkat minimal, seperti manipulasi kecil, intervensi kecil berikut?

“Untuk dua menit,” Anda katakan, “saya ingin Anda berdiri seperti ini, dan ini akan membuat Anda merasa lebih kuat.” Jadi inilah yang kami lakukan. Kami memutuskan untuk membawa orang ke dalam lab. dan menjalankan eksperimen kecil, dan orang-orang ini mengambil, selama dua menit, antara pose kekuatan besar atau pose kekuatan rendah, dan saya hanya akan menunjukkan kepada Anda lima pose, walaupun sebenarnya hanya ada dua jenis. Jadi ini satu.

Dua lagi. Yang ini dijuluki pose “Wonder Woman” oleh media. Dan ini dua lagi. Jadi Anda bisa saja berdiri atau Anda dapat duduk. Dan ini adalah pose kekuatan rendah. Jadi Anda melipat tangan, dan membuat diri Anda lebih kecil. Yang satu ini kekuatan sangat rendah. Ketika Anda menyentuh leher, Anda seperti sedang melindungi diri.

Jadi inilah yang terjadi. Mereka masuk, mereka meludah ke dalam tabung kecil, kami menginstruksikan, “Selama dua menit, Anda harus melakukan ini atau itu.” Mereka tidak melihat foto pose. Kami tidak ingin memancing mereka dengan konsep kekuatan. Kami ingin mereka merasakan kekuatan, bukan?

Jadi selama dua menit mereka melakukan ini. Kemudian kami bertanya kepada mereka, “Anda merasa sekuat apa?” pada serangkaian kondisi, kemudian kami beri mereka kesempatan untuk berjudi, dan kemudian kami ambil sekali lagi contoh ludah. Itu saja. Itu keseluruhan eksperimen. Jadi inilah yang kami temukan. Toleransi resiko, dalam hal ini berjudi, yang kami temukan adalah bahwa ketika Anda berada dalam kondisi pose kekuatan tinggi, 86 persen orang akan berjudi. Ketika seseorang berada pada kondisi pose kekuatan rendah hanya 60 persen, dan ini merupakan perbedaan yang sungguh sangat besar.

Inilah yang kami temukan tentang testosteron. Berdasarkan kondisi awal ketika mereka datang, orang dengan kekuatan tinggi mengalami kenaikan sekitar 20 persen, dan orang dengan kekuatan rendah mengalami penurunan sekitar 10 persen.

Jadi sekali lagi, dua menit, dan Anda mendapatkan perubahan ini. Inilah yang Anda dapatkan tentang kortisol. Orang dengan kekuatan tinggi mengalami penurunan sekitar 25 persen, dan orang dengan kekuatan rendah mengalami kenaikan sekitar 15 persen. Jadi dua menit menyebabkan perubahan-perubahan hormonal ini yang pada dasarnya mengatur otak Anda untuk menjadi antara tegas, percaya diri dan nyaman, atau mudah terpengaruh oleh stress, dan merasa seperti dimatikan. Dan kita semua pernah merasakannya, bukan?

Jadi tampaknya nonverbal kita sungguh mempengaruhi bagaimana pikiran dan perasaan kita tentang diri kita sendiri, jadi ini bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk kita sendiri.

Juga, tubuh kita dapat mengubah pikiran kita. Namun pertanyaan berikutnya, tentunya, adalah dapatkah melakukan pose kekuatan selama beberapa menit sungguh mengubah hidup Anda secara berarti? Jadi ini di lab. Ini hal kecil, begitulah, hanya dua menit. Di mana Anda bisa benar-benar menerapkan ini? Yang sungguh menarik bagi kita, tentunya.

Dan jadi kami pikir inilah, yang sungguh penting, di mana Anda ingin menggunakan ini adalah situasi evaluatif seperti situasi ancaman sosial. Di mana Anda sedang dievaluasi, baik oleh teman-teman anda? Seperti remaja di meja makan siang.

Bisa juga, misalnya, untuk orang-orang yang berbicara di pertemuan dewan sekolah. Mungkin memberikan presentasi singkat atau berbicara di muka umum seperti ini atau melakukan suatu wawancara kerja. Kami memutuskan bahwa satu yang mengena untuk banyak orang karena sebagian besar orang pernah mengalaminya adalah wawancara kerja.

Jadi kami mempublikasikan temuan ini, dan media mencermatinya, dan mereka berkata, “Oke, jadi ini yang Anda lakukan ketika Anda pergi untuk wawancara kerja, bukan?” (Tawa)

Begitulah, jadi kita tentu saja terkejut, dan berkata, “Ya ampun, bukan. Bukan. Sebenarnya bukan itu yang kami maksudkan. Untuk banyak alasan, jangan. Jangan. Jangan lakukan itu.”

Sekali lagi, ini bukan tentang Anda berbicara kepada orang lain. Ini adalah Anda berbicara kepada diri Anda sendiri. Apa yang Anda lakukan sebelum Anda pergi ke sebuah wawancara kerja? Anda melakukan ini. Betul? Anda duduk. Anda melihat ke iPhone atau Android Anda, tanpa mengganggu siapa pun. Anda, begitulah, Anda melihat catatan Anda, Anda membungkuk, membuat diri Anda lebih kecil, ketika sesungguhnya yang seharusnya Anda lakukan mungkin adalah ini, misalnya, di kamar mandi, bukan? Lakukanlah itu. Sempatkan dua menit. Jadi inilah yang ingin kami uji. Oke? Jadi kami bawa orang ke sebuah lab, dan mereka melakukan lagi antara pose kekuatan tinggi atau rendah, kemudian mereka melalui sebuah wawancara kerja yang sangat menegangkan. Selama lima menit. Mereka direkam. Mereka juga dinilai, dan para penilai telah terlatih untuk tidak memberikan sedikit pun feedback nonverbal jadi mereka tampak seperti ini. Bayangkan ini adalah orang yang mewawancarai Anda. Jadi selama lima menit, tidak ada apa-apa, dan ini lebih buruk daripada dicela.

Orang-orang membenci ini. Ini adalah situasi yang disebut oleh Marianne LaFrance sebagai “berdiri di dalam pasir apung sosial.” (percakapan membosankan yang tidak bisa dihentikan)

Jadi ini benar-benar menaikkan kortisol Anda secara drastis. Jadi ini adalah wawancara kerja yang harus mereka lalui, karena kami benar-benar ingin melihat apa yang terjadi. Kemudian kami meminta empat orang penilai untuk menonton rekaman wawancara. Hipotesis kami tidak diinformasikan kepada mereka. Dan mereka tidak tahu situasi dan kondisinya. Mereka tidak tahu siapa yang sedang berpose seperti apa, dan mereka akhirnya melihat rekaman ini, dan mereka bilang, “Oh, kami mau
mempekerjakan orang-orang ini,” – semua yang berpose kekuatan tinggi – “kami tidak mau mempekerjakan orang-orang ini, Hasil evaluasi kami terhadap orang-orang ini jauh lebih baik secara keseluruhan.”

Tetapi apa yang mendorong hal ini? Ini bukan tentang isi pembicaraan. Ini tentang pembawaan yang mereka bawa dalam pembicaraan. Juga, karena kami menilai mereka berdasarkan semua variabel ini secara berhubungan dengan kompetensi, seperti: sebaik apa struktur pembicaraan? Sebaik apa pembicaraan? Apa kualifikasi mereka? Tidak ada pengaruh pada variabel kompetensi tersebut. Yang terpengaruh adalah ini, hal seperti ini: orang membawa kepribadian asli mereka, pada dasarnya. Mereka membawa diri mereka sendiri. Mereka membawa ide mereka, tetapi sebagai diri mereka sendiri, tanpa, sebutlah, sisa diri mereka. Jadi inilah hal yang mendorong pengaruh, atau membawa pengaruh.

Jadi ketika saya bercerita tentang hal ini, bahwa tubuh kita mengubah pikiran kita dan pikiran kita mengubah perilaku kita, dan perilaku kita dapat mengubah hasil usaha kita, mereka berkata kepada saya, “Saya tidak… Ini terasa menipu.” Bukankah begitu?

Jadi kubilang, “Berpura-puralah sampai Anda berhasil.” – “Saya tidak bisa… Ini bukan saya. Saya tidak ingin mencapai ke sana dan kemudian masih merasa seperti curang. Saya tidak mau merasa seperti penipu. Saya tidak mau mencapai ke sana hanya untuk kemudian merasa tidak pantas ada di sana.” Dan itu sungguh pernah saya rasakan juga, karena saya akan menceritakan kepada Anda sebuah cerita pendek tentang menjadi seorang penipu dan merasa seperti tidak pantas berada di sini.

Ketika saya berusia 19, saya mengalami kecelakaan yang sangat parah. Saya terlempar keluar dari mobil, terguling-guling beberapa kali. Saya terlempar dari mobil. Dan saya bangun di bangsal rehabilitasi untuk cedera di kepala, dan saya mengundurkan diri dari perkuliahan, dan saya akhirnya mengetahui bahwa IQ saya turun sebesar dua standar deviasi, yang merupakan hal yang sangat traumatis. Saya tahu IQ saya karena saya biasa dianggap cerdas dan dulu saya dianggap anak berbakat.

Jadi saya keluar dari universitas, saya terus berusaha untuk kembali. Mereka bilang, “Kamu tidak akan bisa menyelesaikan kuliah. Masih ada hal-hal lain yang bisa kamu lakukan, tetapi kuliah bukan jalan untukmu.” Jadi saya sungguh berjuang dengan ini, dan saya harus katakan, kehilangan identitas Anda, identitas penting Anda, dan bagi saya merupakan sebagai orang yang cerdas, hal itu diambil darimu, tidak ada hal yang membuat Anda merasa lebih tidak berdaya daripada itu.

Jadi saya merasa sungguh tidak berdaya.Saya berjuang dan berjuang dan berjuang, dan saya mendapat keberuntungan, dan berjuang, dan beruntung lagi, dan berjuang lagi. Akhirnya saya lulus kuliah.

Saya membutuhkan empat tahun lebih lama daripada rekan-rekan saya. Dan saya meyakinkan seseorang, malaikat pembimbing saya, Susan Fiske, untuk membimbing saya, dan akhirnya sama diterima di Princeton, dan saya merasa seperti, saya tidak pantas berada di sini. Saya seorang penipu.

Dan malam sebelum pidato tahun pertama dan pidato tahun pertama di Princeton adalah pidato 20 menit di hadapan 20 orang. Itu saja. Saya begitu takut akan ketahuan di keesokan harinya sampai saya menelfon dia dan bilang, “Saya mau keluar.” Dia bilang, “Kamu tidak boleh keluar, karena saya sudah mendukung kamu dengan segala resikonya, dan kamu harus bertahan. Kamu akan bertahan, dan inilah yang akan kamu lakukan. Kamu akan berpura-pura. Kamu akan memberi pidato setiap kali kamu diminta untuk pidato. Kamu hanya akan melakukan dan melakukannya dan melakukannya, walaupun kamu merasa ketakutan dan merasa lumpuh dan hampir pingsan, sampai kamu mencapai saat itu ketika kamu bilang, ‘Ya ampun, saya melakukannya. Seperti saya telah menjadi pantas untuk ini. Saya benar-benar melakukannya.'”

Jadi itulah yang kulakukan. Lima tahun di sekolah pascasarjana, waktu yang cukup singkat, saya di daerah Barat Laut. Saya pindah ke Harvard, saya di Harvard sekarang, saya tidak memikirkannya lagi, tetapi untuk beberapa waktu yang lama, saya terus berpikir, “Tidak pantas berada di sini. Tidak pantas berada di sini.”Jadi pada akhir dari tahun pertama saya di Harvard, seorang mahasiswi yang belum pernah berbicara di kelas sepanjang semester, saya pernah bilang kepadanya, “Begini, kamu harus berpartisipasi, kalau tidak, kamu tidak akan lulus,” Dia datang ke kantor saya. Saya sungguh tidak mengenalnya sama sekali. Dan dia bilang, dia datang, dengan putus asa, dan dia bilang, “Saya tidak seharusnya ada di sini.” Dan itulah saatnya untuk saya. Karena dua hal terjadi. Yang pertama adalah: saya menjadi sadar, “Ya ampun, saya tidak merasa seperti itu lagi.” Begitulah. Saya tidak merasakan itu lagi, tetapi dia merasa demikian, dan saya sangat mengerti perasaan itu. Dan yang kedua adalah: dia memang pantas ada di sini! Seperti, dia bisa berpura-pura, dia bisa menjadi itu. Jadi saya katakan, “Iya, betul kok! Kamu memang pantas berada di sini! Dan besok kamu akan berpura-pura bisa, kamu akan membuat dirimu kuat, dan, begitulah, kamu akan – ” (Tepuk Tangan)

(Tepuk Tangan)

“Dan kamu akan pergi ke ruang kelas, dan kamu akan memberikan komentar yang terbaik.” Tahukah Anda? Dia benar-benar memberikan komentar terbaik yang pernah saya dengar, dan orang-orang menengok dan mereka seakan berkata, “Ya Tuhan, Saya bahkan tidak pernah memperhatikan dia duduk di sana.”

Dia datang kembali kepada saya beberapa bulan kemudian, dan saya menyadari bahwa dia bukan sekedar berpura-pura sampai dia berhasil, dia telah benar-benar berpura-pura sampai dia menjadi benar-benar menjadi itu. Jadi dia telah berubah. Dan jadi saya ingin katakan kepada Anda, jangan hanya berpura-pura sampai berhasil, berpura-puralah sampai Anda benar-benar menjadi seperti itu. Lakukanlah terus sampai Anda benar-benar menjadi seperti itu dari dalam diri Anda.

Hal terakhir yang akan saya berikan kepada Anda adalah ini:

Perubahan kecil dapat membawa perubahan besar. Jadi ini adalah dua menit. Dua menit, dua menit, dua menit. Sebelum Anda akan masuk dalam situasi evaluatif yang menegangkan untuk dua menit, coba lakukan ini, di dalam lift, di dalam toilet, di meja kerja, di belakang pintu. Itulah yang perlu Anda lakukan.
Mengatur otak Anda untuk menghadapi situasi itu dengan kemampuan terbaik.

Naikkan testosteron Anda. Turunkan kortisol Anda. Jangan tinggalkan situasi itu sambil merasa seperti, “Aduh, tadi saya tidak menunjukkan siapa saya sebenarnya. “Tinggalkan situasi itu sambil merasa seperti, “Oh, saya sungguh merasa bahwa saya telah mengatakan siapa saya dan menunjukkan siapa saya.”

Jadi saya ingin meminta Anda, untuk mencoba pose kekuatan dan juga saya ingin meminta Anda untuk membagikan ilmu ini, karena ini sederhana. Saya tidak punya kepentingan pribadi dalam hal ini. Berikan. Bagikan dengan orang-orang, karena orang yang dapat paling banyak dapat menggunakannya adalah tanpa sumber daya dan tanpa teknologi dan tanpa status dan tanpa kekuatan.
Berikan kepada mereka karena mereka dapat melakukannya diam-diam. Mereka hanya perlu tubuh mereka, sedikit keleluasaan pribadi, dan dua menit, dan ini secara signifikan dapat meningkatkan pencapaian dalam hidup mereka.

Terima kasih. (Tepuk tangan) (Tepuk tangan)

————–

PERINGATAN: jangan lakukan posisi high power poses itu di tempat umum apalagi di depan bos Anda sekalian ya? bisa dimakan nanti lakukan di tempat tertutup dan ga dilihat orang lain… kecuali Anda bos-nya 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s