dokter, kesehatan, manajemen, rumah sakit, yankes

Uncertainty & Unclearness


Mungkin teman-teman mengenal istilah PHP? Jauh sebelum istilah PHP yang merupakan bahasa gaul dari “Pemberi Harapan Palsu”, sudah dikenal terlebih dahulu singkatan rekursif (perulangan) yang merupakan sebuah bentuk lelucon dari sebuah bahasa pemrograman PHP, yaitu PHP Hypertext Preprocessor. Saya yakin tidak banyak yang paham dan bisa tertawa dengan lelucon rumit seperti ini… Malah tambah pusing kan? ๐Ÿ˜ Kalau teman-teman lagi gabut (silakan searching sendiri arti gabut ini ya) silakan searching di mesin google istilah-istilah di atas ya… (tuh… ikut-ikutan rekursif kan sayanya) ๐Ÿ˜

Saya sebenarnya mau berbicara tentang PHP yang merupakan singkatan dari “Pemberi Harapan Palsu”. Siapa pun, selama masih namanya manusia, pria atau wanita, mesti tidak suka di PHP kan? Ada istilah lain dalam bahasa Inggris yang saya kira dapat mewakili istilah gaul berbahasa Indonesia ini, yaitu Uncertainty dan Unclearness.

Dalam scope (cakupan) terbatas, mungkin juga teman-teman pernah mendengar isitilah BPIS? Saya yakin jarang sekali, mesti…. Beda sama BPJS, mesti udah paham semua kan ๐Ÿ˜Š

Okey! BPIS adalah akronim (singkatan) dari “Bila Pasien Itu Saya”, “If the Patient Is Me”, sebuah istilah yang mulai gencar digaungkan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia akhir-akhir ini. Dalam scope kerumahsakitan, istilah BPIS muncul dalam separuh lebih dari bab-bab standar akreditasi rumah sakit (RS). Dahulu sistem pelayanan kesehatan menganut pola “hospital centered care” atau pun “doctor centered care”. Sistem yang melihat posisi masyarakat yang menggunakan fasilitas layanan kesehatan sebagai objek yang tidak memiliki wewenang apa-apa dalam menentukan kesembuhan dirinya. Apa-apanya mesti manut kepada dokter atau RS. Zaman sudah berubah. Di era diseminasi/sebaran informasi yang sangat cepat melalui teknologi internet, menghendaki masyarakat (pasien) untuk memegang peranan sangat penting dalam menentukan kesembuhan dirinya, memegang peranan penting dalam memutuskan intervensi pengobatan dan tindakan medik terhadap dirinya. Selain dijamin oleh negara, secara kekuatan sosial, posisi tawar masyarakat sudah lebih baik terhadap layanan kesehatan. Seorang dokter yang memberikan pelayanan yang tidak memuaskan di mata seorang pasien, dapat tersebar dengan cepat dan akan berakibat tidak baik terhadap dokter itu sendiri.

Nah, teman-teman, salah satu unsur dari sekian banyak dimensi mutu dalam memberikan layanan publik, tak terkecuali layanan kesehatan adalah unsur kepastian (certainty) dan kejelasan (clearness). Bayangkan posisi kita sebagai pasien yang kepayahan dengan sakitnya, menunggu seorang dokter yang diinformasikan secara jelas oleh bagian administasi akan praktik pada jam sekian-sekian. Lalu kita (sebagai pasien) ternyata harus menunggu sampai lebih dari, katakanlah, lebih dari 1 jam (bahkan bisa ada yang sampai 7 jam!). Apakah dalam posisi tersebut, teman-teman akan mengalami lonjakan emosi yang sangat atau biasa saja? ๐Ÿ™„

Unsur certainty dan clearness sangat erat dalam menentukan apakah pasien akan puas atau tidak dengan layanan dokter/RS. Seorang dokter menolak dan marah ketika diingatkan bahwa dia akan praktik pada jam sekian-sekian oleh bagian administrasi, seolah-olah dia tidak akan lupa atau tidak akan ada masalah yang menyebabkan dia tidak akan jadi praktik pada hari/jam yang telah dipublikasikan secara luas kepada masyarakat. Di sini petugas administrasi telah menjalankan unsur certainty, memastikan bahwa dokter pasti (insyaAllah) akan praktik pada hari/jam yang telah ditentukan. Di lain waktu, seorang dokter marah ketika tidak diingatkan bahwa pada hari/jam tertentu dia akan praktik. Petugas administrasi tiba-tiba secara mendadak menginformasikan kepada dokter bahwa telah ada antrian pendaftaran pasien yang cukup banyak. Dia tidak siap karena petugas administrasi tidak memberitahukan/mengingatkan jauh-jauh dari waktu praktiknya. Dalam hal ini petugas administrasi telah lalai tidak menjalankan unsur certainty tadi. Dua kejadian ini ternyata mengakibatkan ketidakpuasan dari pihak dokter mau pun pasien. Ketidakpuasan biasanya akan melahirkan komplain, yang dapat bermanifestasi baik atau buruk, tergantung respon yang diberikan. Ketidakpuasan dan komplain lahir karena ada gap (kesenjangan, jurang pemisah) antara harapan (ekspektasi, idealita) dengan kenyataan (realita). Harapan dari pasien bahwa dokter bisa praktik tepat waktu, tapi kenyataan yang dihadapi oleh pasien tidak sesuai harapannya, maka kekecewaan akan muncul, tidak puas, dan tidak mustahil akan terjadi komplain. Bayangkan bila teman-teman berposisi sebagai pasien itu ya…

Pasien yang berhadapan dengan kenyataan yang tak pasti (uncertainty), pada level komplain terburuk akan menyebarkan ketakpuasan itu kepada teman-temannya dan seisi dunia (tidak bisa dikatakan lebay ya di zaman internet ini, karena sudah banyak buktinya), dan terparah akan mengajak orang lain untuk tidak menggunakan layanan kesehatan di RS atau tidak usah berobat ke dokter yang melakukan PHP tadi ๐Ÿ˜Š masih ingat ya istilah PHP yang saya maksud ini…

Ada ga sih cara mengurangi level ketidakpuasan dan komplain pasien ini? Ada. Yaitu memberikan penjelasan. Kejelasan (clearness), yaitu memberikan informasi secara responsif (cepat) dan up to date (terbaru), dalam waktu terukur (ada standar jelas, tertuang dalam dokumen prosedur baku), mengenai gap yang terjadi, dalam kasus di atas, mengapa dokter tidak bisa praktik tepat waktu. Tapi perlu sangat diperhatikan bahwa pemakluman masyarakat terhadap unsur clearness ini hanya pada hal-hal yang memang di luar kendali, yang secara manusiawi dapat diterima oleh akal sehat. Dan masyarakat juga akan melihat apakah unsur clearness ini hanya berupa bentuk cari-cari alasan atau memang harus dimaklumi. Pernah dong kita kalau ga puas sama seseorang, kita bisa jadi ga akan percaya lagi sama dia, karena itu-itu saja yang diulang klarifikasi/penjelasan yang diberikannya kepada kita kan… ๐Ÿ˜Š Sama dong, pasien juga akan seperti itulah…

Nah, coba kita bayangkan lagi, sudahlah tidak pasti (uncertainty) ditambah lagi tidak jelas kapan dokter akan datang, alasan telatnya apa saja, karena tidak dapat penjelasan (unclearness), apa yang akan terjadi? Kalau saya, mending cari dokter lain atau RS lain aja, ngapain mau di-PHP-in terus, ya ga? ๐Ÿ˜

Artikel ini dicicil saat menunggu si Kakak yang ikut kelas Parenting Kids dari tim Pola Pertolongan Allah (PPA) di Hotel Syariah Grand Dafam Rohan Jogja hari Ahad kemarin, dilanjut menulis saat perjalanan ke RS UII, difinishing di ruangan kerja sambil menunggu sesi rapat tim marketing support Senin pagi ini. Terimakasih yang telah berkenan membaca. ๐Ÿ˜Š

Iklan
dokter, kesehatan

Profesi Malaikat


dokter malaikat2
Sumber Gambar: Tabloid Nakita

Acara rapat komite medik RS kami tadi malam, seperti biasanya berlangsung akrab dalam suasana kekeluargaan. Sudah menjadi tradisi setiap rapat diadakan – seringnya bertempat di sebuah resto langganan RS kami – sambil menyantap makanan yang tersedia, kita pararelkan dengan acara obrolan-obrolan seru dan saru (versi medis). Tidak lupa setiap rapat, ada protokoler rapat seperti sambutan-sambutan, juga terdapat sesi tausiyah, atau nasihat spiritual, yang disampaikan oleh anggota komite medik sendiri. Rapat kali ini meliputi paparan perkembangan layanan RS, sosialisasi layanan dan aturan baru, evaluasi layanan, perkenalan dokter baru. Yang paling seru pembahasan terkait gratifikasi dokter dan perkara imbal jasa tenaga medis (dokter). Momen paling berkesan saya rasakan ketika sesi tausiyah berlangsung. Seorang senior yang menjabat sebagai ketua staf medis fungsional bedah kami, memberikan nasihat yang saya rasakan menembus relung hati nurani kami sebagai pemberi layanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus menjadi otokritik bagi kita semua. Beliau mengawali cerita tentang wisuda anaknya yang baru saja lulus menjadi dokter. Saat sumpah dokter diucapkan, beliau menangis, teringat sumpah yang sama yang pernah diucapkan oleh beliau puluhan tahun yang lalu. Beliau menangis tidak hanya untuk dirinya tapi juga menangis untuk komunitas tenaga medis yang sepertinya sudah semakin lupa dengan sumpah dokternya.

Pada tausiyah ini, beliau membacakan kembali sumpah dokter tersebut, saya menyaksikan sendiri bagaimana tremornya (gemetar) tangan beliau ketika memegang smartphone yang menampilkan teks sumpah dokter tersebut, dan suaranya bergetar ketika membacakan kembali sumpah dokter tersebut secara perlahan kepada kami semuanya. Saya perhatikan mata beliau juga kembali berkaca-kaca. Mari kita simak kembali sumpah dokter itu:

——————

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatani saya.

——————

Lalu beliau mengatakan. Dari isi sumpah ini jelas sekali, dokter adalah profesi malaikat. Versi saya tentu yang dimaksud adalah malaikat penyelamat, bukan malaikat pencabut nyawa…
Seorang malaikat tidak pernah menuntut pamrih dari yang diselamatkan. Tidak ada dalam sumpah dokter tersebut, memuat poin mengenai jasa medik, tidak ada poin mengenai diskriminasi strata sosial maupun pelayanan seperti kelas pasien, misalnya sesuai tarif JKN/BPJS. Tidak ada poin mengenai: penderita akan saya tolong ketika sudah membayar, tidak ada poin mengenai: penderita miskin dan kaya akan saya bedakan obatnya.

Beliau berharap, dokter tidak menjadi pedagang, yang berpikir: apa yang bisa saya jual, apa yang bisa saya dapat dari pasien. Tetapi sebaliknya apa yang saya bisa berikan (bahkan sesegera mungkin) untuk kesembuhan dan kebahagiaan pasien.

Beliau mengemukakan kembali sebuah pernyataan beliau di dalam sebuah grup obrolan virtual kami di RS. Berikut pernyataannya:

“Matematika dokter. Kalau kita menolong 2 orang pasien saja setiap hari dengan ikhlas, tanpa berharap apapun, kecuali keinginan membantu, menolong. Maka sebulan kita akan menolong 50 orang pasien tanpa pamrih. Dan artinya setahun kita akan menolong 600 orang pasien tanpa pamrih, semata-mata karena ingin membantu. Ikhlas. Kalau separuh saja pasien kita itu tahu diri, dan mendo’akan kita, maka di tengah sepinya malam, ketika kita terlelap karena seharian bekerja, akan ada 300 pasang tangan menengadah ke langit, dan bibir mereka berucap dengan air mata menetes. Mereka berdo’a: “Ya Allah, aku ini orang miskin, tapi ada dokter yang bersedia merawat anakku yang sakit dengan penuh perhatian, penuh kasih sayang, padahal mereka tahu aku tak akan mampu membayar mereka ya Allah. Ya Allah, aku miskin, tak kuat membayar mereka, tapi Engkau Maha Kaya ya Allah, bayarlah mereka dengan rizkiMu yang halal dan thoyyib, ya Allah, mereka tak sempat beristirahat dan menjaga kesehatan serta berkumpul dengan keluarganya karena mengurusi anakku yang sakit, ya Allah, jagalah kesehatannya, bahagiakan keluarganya. Aamiin.” Do’a orang-orang miskin di tengah sepinya malam itu bisakah kita hargai dengan nominal sekian juta/milyar? yang kalau Allah kehendaki semua itu akan bisa lenyap dalam sekejap.”

Di samping itu beliau menambahkan. Manakala seorang dokter mendapatkan penghasilan yang lebih misalnya menangani pasien kelas VIP, itu juga patut disyukuri karena itu sudah rezekinya. Yang salah adalah ketika dokter sudah tidak mampu lagi mempertahankan sumpah dokternya, lalu berpikir: apa yang bisa saya jual kepada pasien. Dokter merangkap sebagai pedagang, lalu terpaksa menerima gratifikasi, menggadaikan kehormatan profesinya. Memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan oleh pasien, demi mendapatkan untung dari pasien.

Seorang dokter spesialis pernah melontarkan sebuah pernyataan sebagai berikut:
“Nanti dokter nyari passive income saja… meriksa pasien sesempatnya saja… karena banyak ancaman.. wong mau meriksa dan menolong pasien tapi ditodong masalah hukum… yang penting kita ga melanggar hukum Alloh SWT.. hukum manusia tidak perlu
kita takutkan… yang penting kita selalu berpegang hukum Alloh dan sunnah Rasul SAW…”

Saya sendiri melihat pernyataan itu sangat ambigu. Dan ternyata beliau yang memberikan tausiyah ini juga berpendapat begitu. Di era sekarang ini, memang sangat baik, dokter diharapkan bisa mencari passive income dari bisnis lain, bisnis non kesehatan yang tidak memiliki konflik kepentingan terhadap pasien. Bisa dibayangkan bila dokter mempunyai bisnis, misalnya bisnis POM bensin yang maju, sehingga ia tidak perlu berpikir bagaimana bisa kaya dari pasiennya, ia akan bekerja dengan tenang bahkan membantu pasien bila tidak mampu. Pernyataan “memeriksa pasien sesempatnya saja…”, menurut beliau telah melanggar sumpah dokter itu sendiri, karena tentu saja pasien tidak mendapatkan pelayanan yang optimal serta akan terjadi diskriminasi.

Di luar pentingnya dokter menjaga komitmen sumpahnya itu, beliau juga memaparkan kondisi ideal sebuah sistem pelayanan kesehatan. Dokter harusnya memang tidak perlu memikirkan bagaiman cara dia bisa survive/bertahan hidup bila harus berbakti seperti itu. Itulah tugas negara, kata beliau. Tugas manajemen RS bagaimana supaya dokter bisa tenang melayani pasien. Bila dokter butuh rumah, butuh biaya untuk anak dan istrinya, bahkan butuh barang mewah seperti mobil dan sebagainya, mestinya negara yang menyediakan. Bukan malah main mata dengan pabrik farmasi dan alat kesehatan dan memeras pasien. Tapi itu kondisi ideal. Sedang sekarang kondisinya belum bisa begitu. Jadi tentu saja bagaimana kembali, dokter bisa senantiasa mengingat dan menerapkan sumpah dokternya. Itu kalau dokter masih ingin disebut sebagai profesi malaikat, malaikat penolong dan penyelamat. Bukan malaikat pencabut nyawa.

dokter, kesehatan, konsultasi

Konsultasi Dokter Online, Layakkah?


Tulisan ini terkait proyek aplikasi (sementara baru bisa di perangkat Android dan emulatornya) yang sedang dikembangkan oleh teman-teman saya, saya hanya salah satu penasihat, fasilitator, reviewer, sekaligus sebagai pemain juga. Aplikasi yang dimaksud adalah ChatDoctor, aplikasi konsultasi jarak jauh dokter dengan pasien secara real time melalui akses internet. Aplikasi ini bisa diunduh melalui Google Play. Pada proses pengembangan ini memberikan kebebasan bagi member berkonsultasi secara gratis.

Sebagai salah satu dokter yang mengampu rubrik konsultasi pada aplikasi ini, saya merasakan aplikasi ini berguna bagi masyarakat yang membutuhkan akses cepat (real time) dikala mereka terkena masalah kesehatan tertentu. Sepertinya mereka sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini, terbukti dengan beberapa testimoni positif yang masuk ke dalam ruang konsultasi saya.

Memang sebagai produk teknologi, dalam pengembangannya, masih banyak kekurangan aplikasi ini yang masih menyulitkan bagi dokter dan pasien. Seperti proses arsip yang belum sempurna untuk keperluan rekam medis secara online. Beberapa bugs yang muncul juga turut membuat kurang nyaman, namun ini justru membuat aplikasi ini semakin sempurna dengan semakin banyaknya masukan. Kesulitan lain adalah masih sedikit dokter yang mau berpartisipsi dalam aplikasi ini. Bisa dipastikan bahwa dokter yang bergabung dalam aplikasi ini adalah dokter yang melek teknologi serta mau meluangkan waktunya untuk memberikan ruang konsultasi kepada masyarakat. Ini yang paling susah saya kira. Praktik dokter secara online sebenarnya sama saja dengan offline, namun di sini dituntut ketelitian yang lebih dalam memberikan advise kepada pasien. Saya sendiri dari dulu sudah terbiasa memberikan konsultasi jarak jauh melalui media internet mau pun via sms atau telepon, jadi tidak ada masalah berarti. Kecuali satu mungkin, yaitu waktu yang lebih agak tersita, karena tag line dari apliasi ini adalah real time. Begitu pasien bertanya, dokter sebaiknya secepat mungkin memberikan respon. Ini yang masih sulit juga, memerlukan komitmen kuat, gadget yang handal, dan koneksi internet yang stabil. Selama terlibat di aplikasi ini saya belum mendapatkan konsultasi kasus emergensi dari masyarakat, meski pun suatu saat bisa saja terjadi seperti line 911 di luar negeri. Sehingga trik yang diterapkan adalah membatasi jam praktik online, yaitu dengan mencantumkan jam praktik sehingga bisa dilihat oleh member, namun sepertinya ini belum efektif. Masih banyak yang bertanya di luar jam praktik. Yah, sebenarnya ini bisa dimaklumi, sama saja ketika kita praktik secara offline, semisal di rumah, meski ada jam praktik tertulis jelas di plang praktik, ya tetap saja ada pasien yang berobat di luar jam praktik. Ini menjadi tantangan, selain tag line real time, aplikasi ini juga mencita-citakan online non stop 24 jam, stand by untuk konsultasi. Yah, memang perlu sumber daya dokter yang banyak, itulah tantangan.

Mungkin ada yang bertanya, biasanya dari para sejawat dokter sendiri: Layakkah aplikasi seperti ini dijadikan salah satu sarana pengambilan keputusan medis bahkan memberikan rekomendasi tertentu kepada masyarakat yang bisa jadi berdampak negatif dikarenakan keterbatasan tertentu seperti tidak bertatap muka secara langsung? Mungkin kita lupa, bahwa selama ini para dokter juga menerima berbagai konsultasi seperti kondisi yang ada pada aplikasi ini. Dan selama ini tidak menjadi masalah. Memang ada batasan, kasus apa saja yang bisa ditangani secara tidak langsung seperti ini. Ini tentu memerlukan kreatifitas yang tinggi dari seorang dokter dalam menggali informasi yang sebagian besarnya bersifat tulisan, gambar, dan attachment lainnya seperti video dan audio. Inilah yang disebut sebagai telemedicine. Syukur-syukur kalau ke depan bisa ada standar yang lebih jelas, semacam pedoman praktik online bagi para dokter. Untuk ini kita bisa mengambil referensi dari website-website konsultasi yang sudah ada banyak baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Di samping kemungkinan efek negatifnya, ada banyak efek positif yang memberikan keuntungan bagi dokter dan masyarakat bila bergabung dalam aplikasi seperti ini. Dokter bisa mendapatkan kepercayaan yang lebih dan meningkatkan angka promosi dirinya atau institusinya bila bergabung dengan aplikasi ini, karena aplikasi ini memberikan ruang iklan seperti tempat dokter praktik disertai dengan peta onlinenya. Keuntungan bagi pasien terutama adalah mendapatkan akses konsultasi yang jauh lebih mudah, dengan biaya yang sangat murah.

Semoga aplikasi ini ini semakin berkembang dan memberikan kemanfaatan yang lebih banyak kepada masyarakat. Aamiin.

Referensi:

http://chatdoctor.net/

https://play.google.com/store/apps/details?id=xrb21.chat.dokter&hl=en

https://kitabisa.com/chatdoctor

dokter, kesehatan

Panduan masuk sekolah kedokteran, mahal berkualitas?


Jadinya saya membandingkan dengan zaman saya:
SPP S1= Rp 2.250.000
SPP Koas= Rp 1.600.000
POTMA= Rp 750.000
Buku/Praktikum/Fotokopi Rp. 3.000.000
Biaya hidup Rp 6.000.000
Total sampai selesai jadi dokter Rp 13.600.000. Lumayan dengan pengeluaran segitu sudah lama balik modalnya. Lah klo era sekarang berapa lama balik modalnya. Bisa sih cepat, asal… anda tentu lebih tahu…
Tentu di zaman TS yang lebih senior, jauh lebih murah lagi, dan malah ada yang gratis kan…
FAKULTAS KEDOKTERAN TERMAHAL DI INDONESIA TAHUN 2011
Kriteria penilaian:
1. Asumsi total biaya selama 10 semester (S.Ked + Co-Assistant)
2. Total biaya mencapai minimal Rp 300 juta atau lebih
3. Biaya meliputi sumbangan pendidikan, biaya studi per semester, biaya laboratorium, dll
3. Mencakup kelas reguler (PTS), kelas internasional (PTN) dan jalur mandiri (PTN)
1. FK UPH
Universitas Pelita Harapan
Akreditasi: B
Lokasi: Lippo Karawaci, Tangerang
Total biaya studi: Rp 502.250.000
Biaya semester: Rp 31.350.000
2. FKUI Internasional
Universitas Indonesia
Akreditasi: ?
Lokasi: Salemba, Jakarta Pusat
Total biaya studi: Rp 425.000.000
Biaya semester: Rp 35.000.000
3. FK UAJ
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Akreditasi: A
Lokasi: Pluit, Jakarta Utara
Total biaya studi: Rp 350.275.000
Biaya semester: Rp 18.075.000
4. FK UKM
Universitas Kristen Maranatha
Akreditasi: B
Lokasi: Surya Sumantri, Bandung
Total biaya studi: Rp 341.530.000
Biaya semester: Rp 22.000.000
5. FK UGM International
Universitas Gadjah Mada
Akreditasi: ?
Lokasi: Yogyakarta
Total biaya studi: Rp 340.000.000
Biaya semester: Rp 20.000.000
6. FK UKI
Universitas Kristen Indonesia
Akreditasi: B
Lokasi: Cawang, Jakarta Timur
Total biaya studi: Rp 328.300.000
Biaya semester: Rp 17.000.000
7. FK Untar
Universitas Tarumanagara
Akreditasi: B
Lokasi: Grogol, Jakarta Barat
Total biaya studi: Rp 328.000.000
Biaya semester: Rp 15.350.000
8. FK Trisakti
Universitas Trisakti
Akreditasi: B
Lokasi: Grogol, Jakarta Barat
Total biaya studi: Rp 322.500.000
Biaya semester: Rp 17.000.000
9. FK Yarsi
Universitas Yarsi
Akreditasi: A
Lokasi: Cempaka Putih, Jakarta Pusat
Total biaya studi: Rp 312.000.000
Biaya semester: Rp 14.000.000
Sumber data sini
curhat, dokter, salahkaprah

Dokter Spesialis dan Kemapanan


Saya sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk mengambil pendidikan spesialis. Sudah sangat kebal bagi saya setiap kali orang menanyakan: “Dokter spesialis apa?”, atau “Sudah spesialis apa, Dok?”, “Kapan ngambil spesialis, Dok?”

Entah apa yang ada dibenak para penanya tersebut. Namun saya menduga sebagian besarnya adalah sama karena menganggap mungkin menjadi spesialis itu lebih mapan terutama dari sisi finansial. Pernah ini terpikir pada saat ngobrol dengan tetangga yang juga sukanya membanding-bandingkan saya, yang dokter umum dengan tetangga baru yang dokter spesialis jantung (anak) dengan rumahnya yang gede mentereng. Bahkan mungkin dengan maksud memanas-manasi saya, tetangga itu bilang bahwa dokter spesialis jantung itu juga masih muda seperti saya, yang ternyata belakangan saya tahu ternyata dokternya udah bangkotan, hahaha….
Biasanya saya langsung mengunci dialog, bila ada yang menanyakan hal itu, saya akan langsung ngomong: “saya lagi S2”, atau “saya sedang fokus karir di RS dulu”, atau klo teman dekat yang nanya langsung saya bilang: “blum ada duit.” hahaha. Baru biasanya mereka ga tanya-tanya atau meremehkan lagi.
Apapun kata orang, tapi saya ingin meluruskan bahwa dokter itu punya banyak jenjang karir, bukan hanya spesialis saja. Bahkan trennya sudah banyak yang ga ngambil spesialis ย karena berbagai hal, misalnya (yang positif saja ya):
  1. Karena sudah mapan menjadi dokter umum, terutama mereka yang praktik di perifer/daerah terpencil, mereka sudah jadi raja di sana.
  2. Lebih memilih untuk menjadi bisnismen, dan bisnisnya udah sukses, jadi kalau orientasinya cuma duit, untuk apa ngambil pendidikan spesialis.
  3. Lebih fokus menjadi ibu rumah tangga, ini terbukti dengan teman-teman sejawat saya yang sudah menjadi ibu bagi anak-anaknya, memang mereka sebagian besar sudah mapan, ortu dan suaminya sudah kaya, jadi ga mikir macam-macam lagi.
  4. Lebih memilih karir di birokrasi yang ternyata lebih banyak duitnya dan bahkan lebih bebas mengatur orang atau dokter, misalnya jadi pejabat di Kementerian Kesehatan.
  5. Lebih memilih karir manajemen seperti di RS, ya seperti saya ini contohnya, bisa mengatur banyak orang, hidup lebih santai, bisa pergi lebih bebas, dan tidak selalu terikat jam kerja kantor, itu menurut saya yang saya rasakan, dibandingkan saya praktik seperti kejar setoran pada zaman baheula. Lalu apakah saya tidak punya minat untuk spesialis, ya tentu tetap ada, tapi saya akan melihat-lihat perjalanan karir saya dulu. Ada banyak rencana dalam hidup saya daripada hanya fokus untuk menjadi spesialis.
  6. Bagi sejawat yang baca ini, silakan ditambahkan ya…
curhat, dokter

Dokter Spesialis dan Kemapanan


Saya sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk mengambil pendidikan spesialis. Sudah sangat kebal bagi saya setiap kali orang menanyakan: “Dokter spesialis apa?”, atau “Sudah spesialis apa, Dok?”, “Kapan ngambil spesialis, Dok?”
Entah apa yang ada dibenak para penanya tersebut. Namun saya menduga sebagian besarnya adalah sama karena menganggap mungkin menjadi spesialis itu lebih mapan terutama dari sisi finansial. Pernah ini terpikir pada saat ngobrol dengan tetangga yang juga sukanya membanding-bandingkan saya, yang dokter umum dengan tetangga baru yang dokter spesialis jantung (anak) dengan rumahnya yang gede mentereng. Bahkan mungkin dengan maksud memanas-manasi saya, tetangga itu bilang bahwa dokter spesialis jantung itu juga masih muda seperti saya, yang ternyata belakangan saya tahu ternyata dokternya udah bangkotan, hahaha….
Biasanya saya langsung mengunci dialog, bila ada yang menanyakan hal itu, saya akan langsung ngomong: “saya lagi S2”, atau “saya sedang fokus karir di RS dulu”, atau klo teman dekat yang nanya langsung saya bilang: “blum ada duit.” hahaha. Baru biasanya mereka ga tanya-tanya atau meremehkan lagi.
Apapun kata orang, tapi saya ingin meluruskan bahwa dokter itu punya banyak jenjang karir, bukan hanya spesialis saja. Bahkan trennya sudah banyak yang ga ngambil spesialis karena berbagai hal, misalnya (yang positif saja ya):
  1. Karena sudah mapan menjadi dokter umum, terutama mereka yang praktik di perifer/daerah terpencil, mereka sudah jadi raja di sana.
  2. Lebih memilih untuk menjadi bisnismen, dan bisnisnya udah sukses, jadi kalau orientasinya cuma duit, untuk apa ngambil pendidikan spesialis.
  3. Lebih fokus menjadi ibu rumah tangga, ini terbukti dengan teman-teman sejawat saya yang sudah menjadi ibu bagi anak-anaknya, memang mereka sebagian besar sudah mapan, ortu dan suaminya sudah kaya, jadi ga mikir macam-macam lagi.
  4. Lebih memilih karir di birokrasi yang ternyata lebih banyak duitnya dan bahkan lebih bebas mengatur orang atau dokter, misalnya jadi pejabat di Kementerian Kesehatan.
  5. Lebih memilih karir manajemen seperti di RS, ya seperti saya ini contohnya, bisa mengatur banyak orang, hidup lebih santai, bisa pergi lebih bebas, dan tidak selalu terikat jam kerja kantor, itu menurut saya yang saya rasakan, dibandingkan saya praktik seperti kejar setoran pada zaman baheula. Lalu apakah saya tidak punya minat untuk spesialis, ya tentu tetap ada, tapi saya akan melihat-lihat perjalanan karir saya dulu. Ada banyak rencana dalam hidup saya daripada hanya fokus untuk menjadi spesialis.
  6. Bagi sejawat yang baca ini, silakan ditambahkan ya…
Pic dari
sini
dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ga kapok…


Akhirnya kisahnya bersambung…sebelumnya silakan baca di Keputihan 2 Tahun.ย Ya, sepertinya saya ingat, pihak laboratorium tidak mau melakukan pemeriksaan pap smear dengan alasan pasien belum menikah. Saya lupa, karena sama rekan sejawat saya yang menerima kontrol pasien itu tidak dituliskan itu dari hasil pemeriksaan apa, sehingga hasil yang bisa saya baca di catatan medis hanya: terdapat bakteri gram negatif, dan jumlah leukosit yang banyak, mungkin itu cuma hasil swab (apusan) cairan vagina atau cuma dialihkan ke periksa urin atau air kencing saja. Aneh juga sih, kok bisa memeriksa cairan vagina tapi ga mau melakukan pap smear. Kalau pasiennya setuju dengan informed consent, mestinya tidak menjadi masalah, toh untuk kepastian diagnosis pasien itu sendiri. Setahu saya papsmear itu boleh dilakukan pada orang yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, meski dia belum menikah. Apa pihak lab takut menghilangkan selaput dara si pasien? yang justru saya pertanyakan, apakah si pasien memang masih perawan? setelah berhobi ria melakukan hubungan seks? entahlah…

Nah, kembali ke “ga kapok”-nya pasien saya itu. Oleh teman saya, diterapi dengan antibiotik selama 5 hari, belum membaik, lalu ditambah dengan anti jamur dan jenis antibiotiknya diganti. Entahlah, si pasien sembuh apa tidak, karena tidak kontrol, untuk melaporkan perkembangan keluhannya.

Setelah 3 bulan berlalu, si mahasiswi berjilbab datang lagi, dengan keluhan demam, mual, pusing, nyeri perut kanan bawah, keputihan, dan sering buang air kecil. Lalu sama teman saya diperiksa lab urin (air kencing)-nya. Hasilnya, hari ini dia datang menyerahkan hasil lab urin dengan hasil warna urin yang keruh, jumlah sel darah putih yang banyak, dan kandungan bakterinya positif. Ya, sudah diagnosis ditegakkan saja: urinary tract infection atau infeksi saluran kencing, atau ISK. Untuk mempertajam saja, lalu saya tambah proses tanya jawabnya.

“Habis menahan pipis?”

“Engga…”

“Habis berhubungan seks…?”

‘Iya, Dok…?”

“Kapan..?”

“Dua minggu sebelumnya Dok..”

“Dua minggu sebelum timbul keluhan?”

“Iya…”

“Pake pengaman?”

“Pake…”

“Sama siapa?”

“Teman…”

“Itu teman yang sudah tunangan?” (saya nanya gini bukan berarti klo udah tunangan, boleh ngeseks sembarangan loh…)

“Engga…”

“Jadi, belum pasti ya (nikahnya), brarti nanti bisa lari…meninggalkan mba..?”

“…..”

“Jadi pake pengaman ga menjamin juga….aman buat cowok, ga aman buat mba…apa lagi komplikasi ini ga terduga, bisa ke ginjal loh…”

“….”

“Jadi, sebaiknya dihentikan saja kegiatan berisiko itu….ya risikonya mungkin ga hamil klo pake kondom, tapi mungkin bisa ada iritasi dan alergi sama kondom…”

“….”

“Cowoknya yang minta ya….?” (maksudnya yang minta berhubungan seks duluan….)

“Iya…”

“Lain kali, beranilah bilang “tidak”…, karena tetap perempuan yang akan dirugikan….”

“Iya, Dok…”

“OK, setelah minum obat yang saya berikan, hari Sabtu kontrol ya, buat evaluasi…”

“Ya, Dok, makasih….”

“Ya”

———————————————————————————————————————————-

Referensi berguna:
http://labparahita.com/parahita/2011/02/pemeriksaan-pap-smear/
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/kiayati/2009/01/30/lets-talk-pap-smear/
http://www.kznhealth.gov.za/papsmear.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Pap_smear
http://www.medicinenet.com/urine_infection/article.htm
http://emedicine.medscape.com/article/233101-overview
http://www.mayoclinic.com/health/urinary-tract-infection/DS00286

dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ngeseks Saat Mens


“Terimakasih ya Dok ya….”
———————————————————————————————————————————-
Kali ini saya lebih kalem ketika ketemu pasien yang melakukan hubungan seks di luar nikah, apalagi karena kebodohannya…

Saya berharap nasihat-nasihat saya nantinya bisa masuk dan tidak menjadi bumerang terhadap pasien, saya usahakan tidak melakukan penghakiman langsung kepada pasien.

Saya mau cerita lagi tentang pasien saya sore kemarin, seorang mahasiswi 18 tahun, anak kedokteran hewan, tampilan biasa saja menurut saya. Datang dengan keluhan pusing mual pilek perut perih. Lalu saya tetapkan diagnosisnya cuma Common Cold (flu) dan Dyspepsia (sakit maag). Beri obat untuk meringankan gejala yang dirasakannnya dan menyebutkan anjuran dan pantangan.

Lalu mahasiswi tersebut bertanya kepada saya: “Kalau gejala hamil itu apa saja Dok…?”

“Pernah hubungan seks?” saya menyolot.

“Iya, Dok…”

“Kapan?”

“Dua minggu yang lalu…”

“Mens terakhir kapan, hari pertamanya…?”

“Dua minggu yang lalu, Dok…”

“Hari keberapa mens, tepatnya berhubungan?”

“Kedua…”. “Bisa hamil ga Dok, apa gejala yang saya rasakan ini tanda-tanda hamil…?”

“Bisa jadi…”, jawab saya

“Apa itu sedang masa subur?”

“Bukan masa subur…, tapi masa hidup sperma kan tidak bisa diduga…”

“Oooo, lama ya Dok?”

“Bisa jadi…, lah mba berhubungan pake pengaman?”

“Engga…”

“Dikeluarin di mana?”

“Ga sempat keluar Dok…, cuma lendir gitu, ga ada putihnya…sperma putih kan Dok?

“Mmm…, sama sapa berhubungan?”

“Pacar, Dok…”

“Berhubungan pertama kali? mba masih perawan waktu itu?”

“(mimik ga yakin, mengangguk saja…), kalau cairan bening itu ada spermanya Dok?”

“Bisa ada…, sperma itu kan sel yang kecil, ga bisa kelihatan dengan mata biasa, harus pake mikroskop, kalau yang putih itu jumlah spermanya lebih banyak, sudah kumpulan gitu…”

“(manggut-manggut), jadi gimana Dok, saya hamil ga? saya takut Dok…”

“Belum bisa ditentukan sekarang…, kita observasi saja, mbanya kontrol saja nanti…saat siklus berikutnya, bila tidak mens…, mensnya teratur?”

“Teratur Dok, tapi kadang maju tanggalnya…”

“Ya, ga pa pa, perkiraan saja majunya kapan, klo ga keluar mensnya, ke sini saja, nanti kita tes…”

“Ya, Dok..”

“Baik, untuk sakit yang ini, obatnya sudah saya resepkan, bisa ditunggu di depan apotek, nanti dipanggil…”

“Terimakasih ya Dok ya….”

“Sama-sama…”
———————————————————————————————————————————-
Pic dari sini

baksos, dokter, kesehatan, penyakit, salahkaprah, yankes

Pengobatan Gratis, Masihkah Perlu?


Sabtu, 14 Mei lalu, saya sempat menyaksikan acara baru reality show Trans TV, Pukul 18.30-19.00: “Pengabdian” yang menghadirkan sosok dr. Irma Rismayanty, dokter muda lulusan FK UI yang menerobos daerah terpencil di wilayah Serang, Banten untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat temporer selama beberapa hari. Dia menginap di sana dan melakukan beberapa kegiatan seperti pengobatan gratis dan penyuluhan.

Sebenarnya saya dulu sering sekali mengadakan dan ikut acara-acara bakti sosial pengobatan gratis begitu. Apalagi kalau keluar kota, pasti saya semangat, soalnya sekalian jalan-jalan, hehehe…

Berbicara pengobatan gratis, memang lebih mudah dalam penyelenggaraannya, namun tidak semudah dalam melihat efek jangka panjangnya terhadap kegiatan tersebut. Berdasarkan pengamatan saya pengobatan gratis sering tidak bersifat kontinyu alias berkesinambungan dan jarang disertai dengan penyuluhan yang efektif serta advokasi bagi masyarakat awam untuk lebih membuka wawasan mereka.

Contoh lain kasus pengungsi Merapi di shelter-shelter ternyata sebagian besar dari survey tim saya, mereka sudah jenuh dengan yang namanya pengobatan massal yang gratis. Obat-obatan mahal tidak diminum dan dibiarkan saja tergeletak di rumah masing-masing. Obat-obat jenis antibiotik sudah jelas tidak akan sesuai perlakuannya sehingga justru akan mempertinggi risiko kekebalan terhadap kuman penyakit. Obat-obat penyakit kronik seperti hipertensi dan diabetes bahkan dapat semakin parah bila peserta pengobatan massal tidak punya kesadaran untuk melanjutkan pengobatan di pusat pelayanan kesehatan terdekat seperti puskesmas.

Tapi, apakah pengobatan massal dan gratis tidak diperlukan lagi? Tergantung, bila untuk fase bencana yang akut alias untuk jangka waktu yang singkat, maka masih sangat diperlukan karena memang ada keterbatasan akses pengobatan. Untuk daerah terpencil memang juga masih sangat perlu. Tentu saja sangat perlu diiringi dengan advokasi kepada para pemegang kebijakan untuk mau turun tangan dan memberikan tindak lanjut terhadap mereka yang menjadi kaum marjinal ini. Selain itu perlu upaya terus-terusan untuk menyadarkan masyarakat kita tentang pentingnya kondisi sehat dan kemampuan untuk mendeteksi secara dini penyakit-penyakit yang berbahaya.

dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Sex Edu – Keputihan 2 Tahun


Hari ini saya menemukan pasien yang luar biasa lagi. Lagi-lagi seorang mahasiswi dengan kerudungnya yang cukup rapi, datang mengeluhkan menderita keputihan (leukorea) selama 2 tahun. Riwayat hubungan seksual pertama kali sejak 1 tahun sebelum periksa ke saya. Jadi dia sudah mengalami keputihan sebelum perawannya direnggut dengan sukarela oleh teman akrabnya sendiri (bukan pacar) saat berumur 17 tahun. Sekarang dia berumur 18 tahun.
Sebelum pernah melakukan kontak seksual, saya memperkirakan keputihannya masih dalam batas normal karena tidak berbau, tidak gatal, dan masih bening. Masalah timbul setelah dia melakukan hubungan seksual dengan cara yang sangat-sangat tidak aman. Jarang menggunakan kondom, jadi teman prianya melakukan coitus interruptus atau senggama terputus atau azl. Sama seperti kasus yang saya tulis sebelumnya bahwa perilaku ini tetap berisiko untuk menimbulkan kehamilan. Apalagi ketika saya tanyakan mengenai kegiatan gonta-ganti pasangan. Ternyata si mahasiswi mengetahui bahwa teman prianya itu juga melakukannya dengan perempuan lain. Lalu apakah mahasiswi ini melakukan dengan 1 teman prianya saja? Ternyata juga tidak. Dia mengaku berhubungan dengan 2 pria saja.
Lalu dia menanyakan ke saya: “Apa saya mungkin terkena kanker leher rahim?” Tentu saja saya jawab: “Sangat bisa”
Karena saya penasaran, tidak langsung saya rujuk ke dokter obsgin seperti kasus sebelumnya. Tapi saya cek dulu ke laboratorium untuk pap smear dan cek kandungan dari cairan vaginanya. Mudah-mudahan kisah ini bersambung untuk menjadi pelajaran bagi kita bersama.