agama, covid19, kajian islam, kontemplasi, penyakit, salahkaprah

Memaknai Rasa Takut di Era Zombie Vampire Covid19


I am afraid of coronavirus hand drawn vector illustration with sad man crying in cartoon comic style epidemic, from istockphoto.com

Tulisan kompilasi ini muncul karena banyaknya diskusi di berbagai grup whatsapp saya mengenai situasi mencekam penuh ketakutan dengan banyaknya berita hoax dan bukan hoax yang ekstrim, yang satu memberitakan betapa sangat berbahayanya virus corona, yang lain memberitakan bahwa sudah ada yang sembuh dari virus corona, sehingga masyarakat menjadi kurang kewaspadaannya karena menganggap ternyata virus corona bisa hilang, dsb. Semoga tulisan ini bisa memicu kembali semangat menulis saya.

Di era Covid19 ini dapat kita perhatikan berbagai macam sikap manusia, paling ekstrim adalah tidak merasa takut sama sekali dengan virus corona, sedang yang satu lagi merasa takut setengah mati sama virus corona, menjadi paranoid sampai depresi. Lalu bagaimana Islam memandang rasa takut ini, berikut saya paparkan saripati dari berbagai sumber, dan diakhiri kesimpulan dari saya.

—————-

Pengaruh Rasa Takut pada Tubuh dalam Penjelasan Alquran dan Sains

https://techno.okezone.com/read/2017/07/11/56/1733898/pengaruh-rasa-takut-pada-tubuh-dalam-penjelasan-alquran-dan-sains

Setiap manusia dibekali dengan emosi yang secara alamiah dimilikinya. Salah satu jenis emosi itu yakni rasa takut, yang merupakan suatu mekanisme pertahanan hidup dasar, sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu seperti rasa sakit atau ancaman bahaya.

Tak hanya berpengaruh pada perasaan seseorang, rasa takut juga rupanya memiliki pengaruh terhadap tubuh manusia. Dijelaskan dalam buku ‘Sains dalam Alquran’ yang ditulis Nadiah Thayyarah, pengaruh rasa takut telah dibahas dalam Alquran melalui firman Allah.

“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, takutlah semua perempuan yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala perempuan yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya,” Surah Al Hajj Ayat 2.

Dalam ayat ini terkandung isyarat bahwa rasa takut yang berlebihan dapat menyebabkan keguguran kandungan. Hal ini juga telah dibuktikan oleh ilmu kedokteran modern.

Ayat lain menyebutkan, “Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati,” Surah Al Ahzab Ayat 19.

Ayat tersebut mengisyaratkan akan timbulnya gangguan pada gerakan mata saat takut. Hal ini terjadi akibat bertambahnya sekresi adrenalin yang menimbulkan gangguan pada otot dan syaraf yang berfungsi untuk menggerakkan mata.

Surah Al Muzammil ayat 17 juga menerangkan, “Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.” Ayat ini mengisyaratkan bahwa rasa takut yang berlebihan dapat menyebabkan penuaan atau timbulnya uban.

Riset medis menyimpulkan bahwa rambut yang ada di kepala manusia berjumlah sekitar 200.000 helai. Setiap helai memiliki satu pembuluh darah, saraf, otot, kelenjar, dan umbi. Para ilmuwan mengatakan, penyebab langsung timbulnya uban adalah kekurangan suplai darah yang memberi gizi rambut, yang timbul akibat emosi.

Pengaruh lain akibat rasa takut pada tubuh manusia yakni kulit yang merinding. Hal ini juga telah disebut dalam firman-Nya.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah,” Surah Az Zumar Ayat 23.

Neraka dalam Al Quran

https://kumparan.com/kc-tv-kalianyar-corner/nerara-dalam-al-quran

Sejak kecil kita telah mendengar istilah surga dan neraka. Sejak kecil kita telah disodorkan dua pilihan, menjadi orang baik dengan iming-iming surga atau menjadi orang jahat dengan ancaman neraka. Sampai akhirnya, ada kelompok menuduh agama sebagai upaya meninabobokkan masyarakat agar berharap surga dan takut neraka supaya tidak lagi berpikir kehidupan dunia.

Al-Qur’an juga banyak bercerita tentang manisnya surga dan pedihnya neraka. Jika orang melihat dengan pandangan negatif, mereka akan mempertanyakan apa maksud Al-Qur’an menakut-nakuti manusia dengan neraka dan siksanya. Namun jika kita melihat dengan pandangan rahmat. Kita akan tau bahwa Allah bercerita tentang neraka karena kasih sayang dan rahmat-Nya kepada manusia. Allah tidak ingin ada hamba-Nya yang terjerumus ke dalamnya. Seperti seorang ayah yang memberi tahu anaknya bahwa di depan ada bahaya, jangan melewati jalan itu! Apakah ayah itu hendak menakut-nakuti? Sungguh tidak! Itu semua karena kasih sayangnya pada anaknya. Maha Suci Allah atas segala contoh.

Rasul pun sering bercerita tentang surga dan neraka. Bahkan di zaman Imam Ja’far As-Shodiq, salah satu cucu Rasulullah saw, banyak sahabatnya yang datang dan berkata “Wahai putra Rasulullah saw, jadikan kami rindu kepada surga” atau ada orang lain yang berkata, “Hati sedang keras dan gersang, ceritakanlah pedihnya api neraka agar aku bisa melunakkan hatiku agar tidak lagi menuruti hawa nafsu.”

“Maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah 24)

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(At-Tahrim 6)

“Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia Perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(At-Tahrim 6)

“Dan tidak ada makanan (baginya) kecuali dari darah dan nanah.”
(Al-Haqqah 36)

“Setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.”
(Al-Waqi’ah 54)

“Diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong?”
(Muhammad 15)

“Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami Memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.”
(Al-A’raf 41)

—————-

Kesimpulan

  • Maksud Allah memberikan ketakutan manusia ini adalah agar manusia ingat kembali siapa Sang Pencipta mereka. Allah tidak pernah malu menampakkan pelajaran dari hanya sekadar sekumpulan nyamuk yang dapat membuat heboh di sebuah zaman, dan itu serupa ketika Allah memberikan pengajarannya di zaman ini melalui virus corona.
  • Virus Corona adalah bagian cobaan dari hidup manusia, dalam perspektif Islam, sikap yang benar sebagai orang bertaqwa adalah berada di tengah-tengahnya. Arti taqwa sendiri artinya takut dan berhati hati ibarat berjalan di jalanan yang penuh duri. Takut tertusuk duri sehingga membekali diri dengan sebaik-baiknya bagaimana supaya tidak tertusuk duri seperti memperhatikan jalan dengan baik, berjalan perlahan, menggunakan sepatu anti duri, dsb.
  • Virus Corona ini mengingatkan kita akan pentingnya kehidupan di akhirat, corona hanya sebagian kecil cobaan dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaqwaan kita. Sudahkah kita percaya akan adanya makhluk “gaib” bernama corona ini, sebagaimana kita percaya akan adanya makhluk gaib lainnya? Sudahkah kita percaya bahwa virus corona dapat membahayakan bagi kita. Sehingga, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk menghadapi bahaya ini?
  • Takutnya kita kepada virus corona adalah sangat manusiawi. Takutnya kita membaca berita-berita tentang corona juga sangat manusiawi, dan dari kompilasi tulisan di atas pun kita lihat Allah menjadikan rasa takut itu agar manusia senantiasa bertaqwa, berhati-hati, sekaligus waspada, serta menghindari perbuatan-perbuatan yang terlarang. Agar tidak menjadi hanya sekadar takut maka kita mesti mencari hal-hal yang benar tentang virus corona ini, melalui ahlinya, sebagaimana ketika kita mencari info tentang ngerinya api neraka dari ahlinya yaitu para nabi. Lalu ketika kita menyadari bahwa memang virus ini berbahaya, tidak perlu juga kita menjadi takut keterlaluan sampai menjadi timbulnya penyakit mental, karena kita diajarkan oleh agama kita juga bagaimana cara mengelola rasa takut itu, yaitu dengan banyak mengingat Allah. Hanya dengan mengingat Allah, hati kita menjadi tenang, serta membaca kabar-kabar gembira yang membuat kita selalu optimis dan bersemangat dalam menghadapi virus corona ini. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Tetap Semangat Yaa…
dr. WW

agama, inspiring, kanker, kontemplasi

Selamat jalan menempuh alam abadi Pak Ginus… Allah menyayangi Bapak!


In Memoriam Prof. dr. Ginus Partadiredja, M.Sc., PhD

Pak Ginus, begitu saya biasanya memanggil beliau. Hal paling utama terkesan dari beliau adalah sikapnya yang bersahaja, hemat kata, namun sangat peduli dan antusias dalam setiap hal. 4 bulan lalu saya sekeluarga main ke rumah beliau di bilangan Komplek Sawit Sari. Waktu kita sampai di rumah beliau, bertemu sama Bu dr. Rizq, istri beliau. Kami menunggu sebentar beliau pulang dari masjid. Tak lama beliau pulang, masjid cukup jauh dari rumah beliau, jadi beliau naik sepeda. MasyaAllah, dalam keadaan sakit parah dengan kanker paru stadium 4B, keadaan sesak napas dan batuk-batuk, beliau tetap rajin ke masjid. Terlihat semangatnya yang tidak kunjung padam dan sama sekali tidak kelihatan sedih dan berputus asa bercerita tentang penyakit kanker paru beliau dan kegiatan beliau lainnya.

Tadi pagi, 18 Januari jam 06-an saya sempatkan layat dan menyolati jenazah beliau, guru saya yang berdedikasi tinggi, setelah mendapatkan kabar wafatnya beliau kemarin sore. Sayang saya belum sempat membesuk beliau ke RSUP Sardjito. Padahal, ternyata ketika beliau dirawat kembali Sabtu pekan lalu, saya pas lagi di RSUP Sardjito juga sedang membesuk kepala tim proyek kami yang juga dirawat karena menderita kanker darah. Sehari sebelum kabar wafat beliau saya sempat mengajak istri untuk membesuk, tapi hari sudah malam, jadi ga enak buat membesuk.

Saya ingat dulu beliau guru tutorial kelompok saya di skills lab komunikasi bahasa inggris kedokteran. Masih muda sekali waktu itu, sekitar 32 tahun umurnya. Meski pun wafatnya juga masih dalam keadaan sangat muda, belum berusia 55 tahun. Setelah fase tutorial itu saya lama ga bertemu beliau lagi karena melanjutkan sekolah kembali ke Australia (https://orcid.org/0000-0003-0395-4240). Bertemu kembali secara lebih intens dalam kegiatan keislaman di masjid Ibnu Sina, Fakultas Kedokteran UGM dan di RS Islam Yogyakarta PDHI, karena istri beliau adalah salah satu manajer saya waktu itu. Beberapa kali tim RS Islam Yogyakarta PDHI, juga mampir ke rumah baliau, buat buka bersama. Sebelum beliau wafat saya juga sempat layat untuk almarhumah Ibu beliau yang wafat juga setelah menderita kanker dan telah berobat rutin ke Singapura. Dari istri beliau saya mendapatkan info dan lungsuran perawat pramu rukti Ibu beliau, untuk membantu merawat Bapak saya, yang juga menderita berbagai komplikasi penyakit. Perawat rukti terbaik yang pernah saya dapat, sayang tidak lama karena Mba Perawat tersebut mau melanjutkan sekolahnya.

Pak Ginus, adalah anak dari Prof. Ace Partadireja, guru besar Fakultas Ekonomi UII yang juga mantan Rektor UII. Silakan membaca tentang Prof. Ace di https://datacenterukp.wordpress.com/2013/10/08/mengenal-lebih-dekat-sosok-prof-dr-h-ace-partadiredja/. Pak Ginus sendiri adalah dosen saya dalam bidang ilmu fisiologi kedokteran.

Dalam suasasa layat tadi, Bu Rizq menuturkan bahwa surat keputusan guru besarnya Pak Ginus sudah terbit di bulan Oktober, 1 bulan setelah saya membesuk beliau. Sehingga dalam waktu bersiap menjelang proses pengukuhan beliau sudah menyempatkan diri mengetik pidato pengukuhan, meski pun beliau sadar ajal sudah menunggu. Tapi beliau terus berusaha, bahkan kata Bu Rizq di saat-saat menjelang dipanggil Allah, beliau masih menyempatkan mencarikan literatur dan mengemail mahasiswa bimbingan doktoral (S3) beliau. Itu dilakukan sesaat saja sebelum beliau wafat. Tampaknya falsafah: berjuang sampai titik darah penghabisan, sangat melekat didiri beliau. Sangat pantas diteladani!

Saya sebagai murid beliau menghaturkan terimakasih sebesar-besarnya atas jasa beliau kepada kami, semoga amal jariyah beliau dari ilmu yang bermanfaat, mendapatkan aliran pahala yang terus-menerus di akhirat sana, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin…

WidodoWirawan.Com

curhat, doa, inspiring, kontemplasi, rumah sakit, yankes

Resolusi 2020


Terus terang, baru ini saya menuliskan benar-benar komitmen untuk 2020, sejak berusia 40 di awal semester kedua tahun 2019, yang kata orang merupakan tahapan kehidupan fase kedua di dunia, titik awal berikutnya yang sangat menentukan, terutamanya saya harus lebih banyak menyerap energi kebijaksanaan, belajar dari para sesepuh dan pakar, menekan ego-ego negatif, belajar menghargai yang muda yang kreatif, berusaha menjadi manusia yang lebih dewasa, menatap jauh ke depan, dan terus melangkah, serta terpenting mengusahakan untuk semakin peduli dengan kehidupan akhirat. Sehingga rasanya sangat perlu merencanakan masa depan secara lebih matang. Tidak hanya sekadar mengalir saja. Umur terbatas, zaman serba tidak pasti, galau selalu ada namun selama mampu berusaha, berdoa dan semakin mendekatkan diri kepada Yang Menciptakan drama-drama dunia ini, drama penuh tantangan, yang jauh lebih rumit dari drakor-drakor itu, insyaAllah akan berlalu dengan lebih mudah dan sederhana. Berlatih keikhlasan dalam beratnya terpaan cobaan hidup. Dan sukses tidak hanya sekadar ditentukan oleh ukuran dunia, tapi kepada seberapa berkenan Sang Pencipta aktor-aktor dunia kepada kita. Kita hanya menjadi sekadar serpihan debu dunia yang tak berbekas sama sekali ditiup angin di mata Sang Sutradara, bila hanya menurutkan ambisi pribadi dunia semata. Merasa nyaman dengan dunia, berpuas diri, kemaruk dengan hidup yang seolah-olah dapat membuat bahagia. Padahal bahagia tanpa tantangan dan ujian itu hanya bahagia semu saja. Bahagia dalam menjalani tantangan dan penderitaan, itu tentu luar biasa, tak mudah, perlu selalu berlatih, dan tak pernah puas berlatih.

Oya, orang yang hidupnya serba merasa bahagia dan mudah, tidak merasa sulit harta/uang, apa pun bisa dibeli, bebas jalan-jalan liburan, rajin beribadah belum tentu masuk surga loh… Tak percaya? Simak deh di bacaan ini: https://rislah.com/apakah-semua-orang-islam-masuk-syurga/

Nah, selanjutnya, saya mau kasih tahu sedikit resolusi tim saya di start up yang penuh tantangan, yaitu Rumah Sakit UII Bantul. Setelah beroperasi hampir 11 bulan – sejak soft opening di 10 Februari 2019, dan grand opening di 24 September 2019 – meski pun banyak yang menyangsikan kami akan mampu survive di kancah perbisnisan rumah sakit, terutama secara lokasi yang saat ini benar-benar menjadi tantangan, ditambah dengan modal kemewahan yang dilekatkan kepada kami, sehingga melahirkan sebuah image kontras dengan strategi harga layanan yang perlahan ternyata mampu mendobrak image: mewah, nyaman, bersih, wangi, berkualitas itu harus mahal.

Saya ga mau berkecap ria secara pribadi, silakan baca saja testimoni tentang Rumah Sakit UII yang banyak bertebaran di google dan media sosial:


Tentu harapannya, kami ke depan mampu mempertahankan prestasi itu bahkan harus meningkatkannya. Silakan simak rekaman resolusi komitmen saya dan tim di video berikut:

Lalu, apa resolusi pribadi saya di tahun 2020?

  1. Membawa Rumah Sakit UII semakin melejit. Kami mempunyai tantangan yang cukup berat di tahun 2020, di tengah usaha mempersiapkan akreditasi RS, juga harus tetap fokus mengejar target revenue dan melakukan efisiensi yang ketat. Alhamdulillah target tahun 2019 tercapai dengan baik. InsyaAllah dengan optimisme yang baik dan kekompakan tim di semua lini, selalu dibantu doa, insyaAllah akan dapat mencapai target di 2020. Aamiin.
  2. Bisa semakin dekat sama keluarga. Sebenarnya ini resolusi terbesar saya. Saya sangat berharap bisa membuat keluarga inti semakin solid, bahagia, rukun, ceria, intim, penuh cinta dan kehangatan. Saya sangat merasa sebagai suami dan bapak, masih kurang dalam segala hal. Senang bisa memulai tadarus Quran bersama istri di masa liburan anak-anak ini yang merupakan idaman dari dulu. Nanti bisa dilanjut sama anak-anak juga. Semakin dekat sama anak pertama yang menjelang masuk SMP, saya sangat berharap bisa lekat lagi seperti waktu masih balita, dalam suasana yang lain tentunya. Semakin bisa juga, harapannya mendampingi anak kedua belajar, meringankan beban istri saya yang memang penuh energi mendampingi anak difabel kesayangan kami. Mohon doanya. Tambahan video kiriman dari istri, berikut…
  3. Melanjutkan target yang gagal di 2019, menulis buku. Semoga bisa tercapai di tahun 2020. Mengapa saya masih sangat berambisi menulis buku. Ya, katanya buku itu merupakan salah satu warisan abadi, amal jariyah untuk mengikat ilmu agar tak hilang menguap selepas meninggalkan dunia fana. Apalagi setelah membaca sebuah kutipan dari seorang penulis, yang merupakan modifikasi quote legendaris dari Imam Ghozali: bila kamu bukan keturunan bangsawan, ilmuwan atau hartawan, maka menulis (buku) akan membuatmu kekal dan selalu dikenang. Aamiin. (https://masnurulhilal.wordpress.com/2017/02/19/imam-ghozali-jika-kau-bukan-anak-raja-menulislah/)
  4. Umroh bersama istri, memang ini istri yang minta dan saya mengiyakan, katanya mau berdoa di Makkah, semoga tercapai, aamiin ya Allah…
  5. Lebih bisa rutin menulis di blog ini, yang juga merupakan media abadi, selama internet masih ada di dunia, semoga…

Nah, sedikit aja kan resolusinya, kalau banyak-banyak entar malah jadi ga fokus, terutama fokus dulu sama diri dan keluarga serta terhadap situasi sekarang, senantiasa berdoa dan berharap masih ada waktu hidup di dunia di tahun-tahun berikutnya agar bisa lebih bermanfaat dan menorehkan resolusi-resolusi selanjutnya, semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan kesabaran, aamiin…

31 Desember 2019

agama, doa, inspiring, kajian islam, kontemplasi

Ilmu Ramadhan Flash Sale


flash sale.jpeg

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman selama 1/3 perjalanan puasa bulan Ramadhan ini. Ada fenomena menarik yang sudah umum kita temui di bulan ini, yaitu ramainya tempat ibadah, dan sebenarnya juga seimbang dengan ramainya tempat jajanan, seolah ikut bersaing menyelenggarakan jama’ah jajan tersendiri, yang jelas membuat para jama’ah jajan ini kelihatannya kehilangan momentum sholat Isya berjama’ah dan Tarawih, karena setelah buka puasa, sholat Maghrib dilanjut dengan obrolan seru sambil menyantap jajan dan menyeruput minuman yang dipesan.

Menjerumuskan? Jelaslah…

OK, saya ga mau bahas itu lebih lanjut, saya mau bahas fenomena membludaknya masjid di awal Ramadhan saja. Bagaimana pun turut bersyukur fenomena ini selalu terjadi, meski dapat diramal, seiring Ramadhan akan berakhir, masjid akan kembali sepi, tersisa orang-orang yang biasanya istiqomah (konsisten) ke masjid selain di bulan Ramadhan, fenomena umumnya di negara kita.

Saya pernah membuat tulisan yang berhubungan sama hal ini di https://widodowirawan.com/2013/07/11/lomba-lari-maraton-di-bulan-puasa/

Ada fenomena lain teramati oleh saya, yaitu disebabkan karena terbatasnya ilmu dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Ilmu yang terbatas ini menyebabkan umat yang ke masjid dan melaksanakan ibadah puasa hanya bermodalkan semangat saja atau sekadar ikut-ikutan sehingga berpotensi tidak mendapatkan pahala Ramadhan Flash Sale yang memang sangat fantastis kelipatan pahalanya, bahkan sebaliknya malah menyebabkan dosa dan penyakit.

Melewatkan makan sahur

Makan sahur ada berkah yang besar di dalamnya, berbeda dengan puasa sunnah, puasa di bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk makan sahur, meski pun itu cuma sedikit. Bukan sebaliknya kalau tidak makan sahur lebih baik, toh tetap kuat juga menjalani puasa. Ini pemahaman yang menjerumuskan juga.

“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad)

“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”  (QS. Ali Imran: 17)

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 18)

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Sholat isyroq atau sholat syuruq

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”

Perkara sholat isyroq ini tidak banyak yang mengetahui besar pahalanya, yaitu setara pahala haji dan umroh. Jadi bagi mereka yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji atau umroh, atau pun yang sudah menunaikan sekali pun, dapat mengusahakan pahala yang sama persis dengan melakukan sholat isyroq ini. Sebenarnya sholat isyroq ini adalah termasuk sholat dhuha. Bedanya adalah dia dikerjakan di awal waktu dhuha, yaitu sekitar 15 menit setelah matahari terbit. Cukup 2 rakaat saja.

Di tempat saya matahari terbit sekarang sekitar pukul 05.40, jadi sholat isyroq bisa dikerjakan mulai pukul 05.55. Tidak boleh mengerjakan sholat saat pas matahari terbit, karena merupakan waktu yang terlarang. Sholat isyroq ini terasa sangat berat, bila pahalanya ingin setara haji dan umroh, yaitu harus dikerjakan di masjid, setelah selesai selesai waktu sholat subuh sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas. Artinya ada waktu menunggu sekitar 1 jam lebih sedikit sejak masuk waktu subuh. Pahala ini semakin berlipat bila kita rutin mengerjakan sholat sunnah sebelum sholat subuh, yang derajatnya lebih baik dari pada dunia seisinya. Bayangkan betapa royalnya Allah kepada manusia dalam memberikan pahala. Sholat isyroq sebenarnya tidak hanya bisa dikerjakan di bulan Ramadhan saja. Dia berlaku di semua bulan. Namun spirit Ramadhan ini mestinya memberikan energi lebih, meski pun godaannya juga lebih banyak, sehabis makan sahur dan subuh biasanya rasa kantuk menyerang hebat. Ya wajarlah, makanya pahalanya setara haji dan umroh, hanya orang terpilih yang mau dan mampu. Karena dosa saya sendiri masih banyak sekali, jadi sayang banget kalau tidak mengambil momentum menunggu waktu sholat isyroq ini. Disela-sela menunggu setelah selesai mendengar ceramah pasca sholat Subuh, saya bisa membaca Al Quran dengan halaman yang cukup banyak dari pada waktu lainnya atau berdzikir memuji Allah dan meminta ampun atas dosa-dosa saya.

Berdoa sebanyak-banyaknya

Berdoa adalah salah satu bentuk pengakuan sebagai hamba kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Pengabul Doa. Juga sebagai indikator ketidaksombongan kita, hanya mereka yang sombong yang malas berdoa kepada Sang Penciptanya.

Bulan Ramadhan ini dijanjikan melalui banyak dalil, yang pasti akan ditepati janji itu oleh Allah, sebagai salah satu momentum dan waktu terpanjang saat dikabulkannya doa. Berdoalah sebanyak-banyaknya penuh harap dan tanpa bosan, sehingga kita semakin sadar bahwa kita ini bukanlah siapa-siapa.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) do’a pemimpin yang adil, (2) do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi)

Ramadhan ini sebagai sarana cuci dosa, revitalisasi, dan latihan untuk mempersiapkan energi pada bulan-bulan selanjutnya. Amat sangat sayang untuk dilewatkan dengan hanya sekadar menunaikan kewajiban menahan lapar dan haus saja.

Oh, Ramadhan, tak terasa sebentar lagi engkau akan meninggalkan kami. Atau sebenarnya kamilah yang akan meninggalkan engkau terlebih dahulu karena tidak bersabarnya kami menanti akhirmu. Karena bosan dan benci dengan produk-produkmu, atau karena kami tidak punya ilmu dan semangat untuk membelinya. Maka dari itu kepada Yang Menciptakanmu kami berdoa: Berikanlah kami kesempatan yang luas dan kemampuan untuk membeli produk-produk flash sale-mu. Karena kami ga yakin akan dapat menemui momen flash sale lagi di tahun depan… Berikanlah kepada kami ilmu dan kemudahan untuk meraup sebesar-sebesarnya pahala Ramadhan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalaamiin…

Ramadhan ke-11, 16 Mei 2019

agama, kontemplasi, manajemen, rumah sakit

Shalih vs Muslih


Jumat lalu terinspirasi dari sebuah khutbah saat mampir Jumatan di sebuah masjid besar di perempatan Kasihan Bantul. Sang khatib yang ceramahnya tidak membuat kantuk namun juga membuat jama’ah betah menyimak. Beliau menyitir sebuah ayat Al Quran tentang larangan menyembunyikan kebenaran. Beliau menekankan bahwa penting menjadi orang baik, namun jauh lebih penting menjadi orang yang mengajak kepada kebaikan, penting tidak berbuat keburukan, namun jauh lebih penting mencegah tersebarnya keburukan. Menurut beliau menjadi pemimpin yang adil, tidak takut menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran jauh lebih baik daripada orang yang hanya suka berdzikir di masjid. Apalagi kalau sudah tahu ada ketidakbenaran, dia diam saja, maka itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan.

Fenomena mencolok akhir-akhir ini kita lihat tempat ibadah semakin penuh, secara kasat mata dapat dikatakan semakin banyak orang shalih, namun kita lihat ternyata bencana dan adzab tidak semakin berkurang. Kedzaliman dan kecurangan terus-menerus dan semakin banyak terjadi, hoax bertebaran tak terkendali.

Saya ingat seorang teman dokter yang galau ketika diminta untuk naik ke level manajemen, menjadi salah satu pimpinan di tempat kerjanya. Saya katakan kepada dia, meski pun itu sulit, tapi dia menyaksikan sendiri bagaimana kondisi tempat kerjanya yang tidak menyenangkan, budaya kerja yang tidak baik, manajemen yang tidak transparan. Saya katakan, itulah tantangannya yang membuahkan hasil yang lebih terhormat dan tinggi nilainya di sisi Sang Khalik. Kalau kita tidak senang melihat hal tersebut, tidak bisa kita hanya sekadar kasih usul atau bahkan cuma menggerutu. Jadilah agen perubahan. Jangan takut naik level, mendapatkan lebih banyak masalah, karena masalah itu justru akan semakin menguatkan kita.

Agen perubahan dalam terminologi Al Quran disebut sebagai muslih, adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk bisa menolak adzab dan kerusakan. Tak hanya kuat dari sisi nahi mungkar, melainkan juga teguh dalam amar ma’ruf.  Ketika seseorang itu menolak kedzaliman dan kerusakan, otomatis ia juga mendatangkan maslahat. Begitu juga sebaliknya, bila ia mendatangkan maslahat, secara otomatis juga ia menolak adanya mafsadat/kerusakan. Tujuan islah/perbaikan yang dilakukan seorang muslih tidak selamanya untuk menghilangkan maksiat dan kedzaliman, namun juga untuk mencegah turunnya adzab Allah yang bisa menimpa semua orang (baik yang shalih maupun yang berdosa).

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang dzalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 116-117).

Muslih tidak mesti sempurna terlebih dahulu (dari segi amalan dan ilmunya), dalam hadits: “Serukanlah yang ma’ruf walaupun kalian tidak melakukannya secara sempurna, dan cegahlah kemungkaran walaupun kalian tidak berlepas darinya seluruhnya”. (HR Thabrani dan Baihaqi).

Keluarga muslih tidak mesti semuanya orang-orang shalih, sebab Nabi Nuh saja tidak bisa menshalihkan anak dan istrinya, Nabi Ibrahim tidak bisa menshalihkan ayahnya, dan Nabi Muhammad tidak bisa menshalihkan pamannya Abu Lahab, dan Abu Thalib. Dalam ayat: “Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai” (QS al-Qashash: 56).

Apa ciri utama muslih: di awal dia bergerak musuhnya lebih banyak daripada temannya, berbeda sama orang shalih (baik): lebih banyak temannya daripada musuhnya, karena orang shalih tidak pernah mengutak-atik urusan orang lain, berbeda sama orang muslih yang senantiasa peduli dengan apa yang terjadi di orang lain dan lingkungannya. Dalam hal ini saya tidak setuju kalau ibadah itu hanya meliputi wilayah privat/pribadi, itu hanya ibadah ritual, seperti orang shalih yang hanya berdzikir saja di masjid, tidak mau berkubang sama masalah. Mungkin ada yang ingat mengenai level keimanan dalam sebuah hadits dari sisi mengatasi kedzaliman/kemungkaran, bahwa yang paling tinggi itu adalah level penggunaan kekuasaan, ini hanya bisa dilakukan oleh para pemimpin (istilahnya umara), para ustadz dan kyai mungkin cuma sampai pada level kedua yaitu menggunakan lisan/ucapannya, dan yang paling rendah justru malah bisa tersemat pada orang-orang shalih yang cukup cari aman saja, berdzikir saja di masjid, ternyata dapat dikategorikan sebagai selemah-lemahnya iman, yaitu hanya bisa mengutuki/menggerutu di dalam hati saja mengenai kerusakan yang terjadi.

Satu orang muslih lebih dicintai oleh Allah daripada seribu orang yang shalih, sebab dengan adanya muslih, Allah menjaga seluruh umat dari adzab (dunia), dan orang shalih hanya bisa menjaga dirinya sendiri, tanpa orang lain. So, marilah menjadi orang shalih, namun juga sekaligus muslih.

Referensi: dari berbagai sumber hasil searching di google

Difinalisasi sehabis rapat koordinasi manajemen RS UII di 02052019
Berusaha menulis minimal 1 tulisan dalam sepekan. Rencananya rilis setiap Senin, apa daya, waktu tak selamanya bisa digenggam. Baik pemirsa, silakan disimak blog ini ya, terimakasih 🙂

curhat, deafness, gadget, hearing impairment, kontemplasi, menulis, tunarungu

Edukasi Koersif Untuk Anak, Perlukah?


Lama tidak berefleksi dalam tulisan. Judul tulisan ini pun melintas sekilas tapi masih membekas cukup kuat, memberikan daya kepada saya membuka aplikasi notepad di laptop tua yang sudah berkonversi menjadi desktop abal-abal karena LCD-nya telah pensiun, dan terlalu mahal hanya untuk menggantinya karena sudah langka di pasaran. Jadilah saya coba menulis kembali, sedikit saja dulu, buat pemanasan kembali.

Ceritanya, anak bungsu saya yang tuna rungu, maghrib ini tumben mengambil mukenanya dan pengen ikut sholat ke Masjid. Sregep begitu. Saya langsung ter-flashback ke satu hari lalu, manakala si adek mulai malas-malasan lagi buat sholat. Ibunya ikut uring-uringan susahnya sekarang diajak sholat. Sebagai anak tuna rungu, menguasai konsep pemahaman berbau abstrak itu sangat-sangat-sangat sulit bagi anak saya ini. Selama ini anak bungsu saya ini masih belajar kosa kata dan kalimat sederhana seputar kata benda, kata kerja, kata sifat. Dengan pengertian yang masih-masih sangat simpel. Tentu itu tidak dapat selalu memuaskan dia. Terbukti, bertubi-tubi sekarang Nadifa memberondong dengan kata tanya “apa” dan “mana”. Kita sendiri yang ikut pusing karena harus memikirkan dan mengucapkan dalam bahasa yang juga tidak gampang bisa dimengerti oleh anak berkebutuhan khusus seperti anak saya. Termasuk saya pikir dalam konsep sholat ini: mengapa dia perlu sholat. Dalam bentuk perluasan lain: mengapa dia perlu berdoa, mengapa dia perlu belajar, dan sebagainya. Sampai sekarang misalnya, ini ibunya yang omong ke saya: Nadifa di umur yang hampir 9 tahun, baru tahunya kalau uang di dompet ortunya sudah habis, tahunya dia ambil ke ATM. Dengan kombinasi bahasa isyarat dia minta ambil uang ke ATM. Walah nduk… nduk… uang itu perlu dicari melalui bekerja. Bukan minta ke ATM…. 😀

Kalau hanya konsep sehari-hari keduniawian lain seperti: mengapa harus cuci tangan, gosok gigi, mandi, mengapa harus tidur tidak kemalaman, mengapa harus makan, itu lebih gampang. Mandi supaya hilang bau badan dan tidak kotor. Cuci tangan sebelum makan supaya tidak kotor dan jadi sakit. Gosok gigi juga begitu. Dan ajaibnya anak bungsu saya ini, aslinya lebih fanatik terhadap suatu konsep dibanding kakaknya yang normal. Saklek banget begitu. Kotor dikit ga mau, bau dikit ga mau. Rajin sekali sikat gigi, sampai-sampai dokter gigi favorit langganan saya, tadi periksa Nadifa bilang: oke banget giginya, belum ada yang lobang. Selain itu, selalu memperhatikan simbol-simbol larangan di tempat-tempat umum dan suka perhatian bahkan marah sama ortunya kalau kasih toleransi dikit sama simbol-simbol larangan itu. Misal simbol dilarang membawa kamera, simbol dilarang membawa makanan minuman, dan sebagainya. Hitam putih begitu.

Jadilah saya manfaatkan juga pola pikir yang masih hitam putih ini untuk memberikan pemahaman kepada dia, mengapa harus sholat. Saya bukakan youtube dan cari kata kunci “tidak sholat neraka”. Muncul banyak video edukasi yang sedikit mengerikan bagi anak seumur dia. Tapi dia malah mendekat dan tertarik. Saya bukakan satu video yang menayangkan orang yang rajin sholat, lalu orang yang tidak sholat, dibakar pakai api di neraka, lalu ada tayangan ular neraka bernama Syuja’ul Aqra’ yang amat bengis kepada penghuni neraka yang semasa hidupnya malas atau jarang atau tidak sholat sama sekali. Ularnya mirip naga dinosaurus gitu. Sebagai maniak dinosaurus, Nadifa antusias dan kelihatan amat membekas. Habis lihat tayangan itu dia segera sholat. Dan maghrib tadi masih membekas, ikut bapaknya sholat ke masjid.

Mungkin banyak ortu yang tidak setuju cara mendidik anak seperti ini. Dengan cara komunikasi koersif, kekerasan, atau minimal menampilkan kekerasan? Entahlah. Tapi dalam agama mengajar itu bisa dengan lemah-lembut, tapi juga bisa dengan koersif, peringatan bahkan “kekerasan” atau lebih enak: ketegasan, bahasanya ya. Saya, alhamdulillah sudah ga pernah “main tangan dan kaki” lagi sekarang mengajarin anak-anak. Emosi sudah jauh lebih terkendali. Itu pun karena anak-anak saya yang justru jadi guru saya dalam belajar mengendalikan emosi. Syukur yaa Allah diberi amanah anak-anak hebat ini…

Saya semoga tidak banyak-banyak menggunakan cara komunikasi koersif ini untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak. PR masih amat banyak, pengendalian diri sendiri yang masih amat susah, apalagi memberi contoh, itu yang paling amat susah. Televisi sudah lama disingkirkan, dan saya juga ikut kena imbas tidak bisa nonton TV lagi. Gadget handphone, masih susah, masih sering dicerewetin sama istri, ya meski kadang juga saya ganti cerewetin hehe… . Mandi pun begitu, masih suka suruh-suruh anak mandi duluan, bapaknya sendiri masih belum mandi saat tulisan ini dibuat… Selain itu saya memang harus terus belajar membagi waktu dan menghimpun energi lebih besar, lebih banyak mencari modul-modul bagi anak-anak saya yang pembosan ini, sama dengan bapaknya, pengennya belajar yang baru terus.

Monjali, 9 Juli 2018. Pukul 21.30.

*Bersiap mandi 😀

kesehatan, kontemplasi, olahraga, penyakit

Sehat & Bugar itu di-Perjuangkan


Lama tidak mengisi blog ini, ga boleh kalah sama anak saya yang sekarang aktif menulis blog, monggo yang berkenan baca blog anak saya yang masih umur 8 tahun ini: http://fathinaas.blogspot.com/. Selain malu sama anak saya yang badannya sudah mulai singset karena rutin ikut taekwondo (mungkin loh ya, selain malas makan juga), juga malu sama diri sendiri yang kurang kuat melakukan self motivation dalam memperbaiki kesehatan dan kebugaran badan, akibatnya beberapa waktu lalu sempat dihampiri oleh berbagai macam jenis penyakit. Alhamdulillah kondisi sekarang lebih lumayan sehat dan fit. Dulu banget waktu masih mahasiswa, bugar dan sehat saya lakukan melalui klub-klub yang saya ikuti, jadi termotivasi oleh orang lain. Setelah nikah? Ya, mungkin itu problem banyak orang, rasanya lebih nyaman di kasur dan tempat makan, sampai kita merasakan akibat kenyamanan itu membuat akumulasi akibat yang tidak baik. Benar ungkapan sebuah kalimat: Kenyamanan Itu Mematikan!

So, mengambil kembali momentum-momentum yang ada untuk berjuang memotivasi diri sendiri dalam usia yang masih bisa dibilang mudalah. Investasi bugar & sehat sangat penting bagi produktifitas kita sendiri. Meski dalam tahap-tahap awal ini serasa tersiksa luar biasa, godaannya serasa lebih besar. Tapi bagaimana pun harus yakin: Saya, dan Kita bisa!

Komitmen & Realisasi:
– Jogging tiap hari
– Minum air putih + jeruk nipis peras sebanyak mungkin
– Tidur cukup
– Makan yang cukup (banyak, ini yang agak susah…)

*Momentum Persiapan Festival Night Run 5K

gadget, kesehatan, kontemplasi, pernik, teknologi, tips

Normalisasi Intensitas Bergadget Ria


KhongGuan-GadgetTulisan dengan judul ini saya buat ketika sedang sendiri, tidak di depan teman kerja maupun di depan keluarga. Itu pun diketik melalui laptop jadul saya yang masih bertahan sampai sekarang sejak dibeli tahun 2007 lalu. Mengapa saya perlu menyatakan ini? Ada kaitannya dengan peristiwa hari Ahad kemarin, ketika secara spontan saya merespon positif usulan istri untuk mengungsikan semua gadget smartphone dari rumah. Usulan ini terlontar ketika hari Ahad kemarin pasca memperingati ulang tahun pernikahan ke-11, kami saling melihat, semua sedang sibuk dengan gadget masing-masing termasuk anak-anak. Yah, itu hari libur memang dan juga habis dari jalan-jalan dan makan di luar, cuma memang hari itu terasa lama sekali anak-anak dan saya berinteraksi dengan gadget smartphone.

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di blog ini, bagaimana mensiasati screen time pada anak, di link berikut. Namun, seiring bertambahnya umur anak-anak dan percepatan wahana komunikasi di gadget saya seperti semakin banyaknya grup-grup diskusi dan obrolan, akhirnya saya spontan saja, harus ada terobosan berani dan revolusioner sebagaimana dulu saya juga berani mematikan akun sosmed saya (facebook) yang sempat berjaya untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting. Saat ini saya melihat hal penting itu. Penting dan genting. Penting untuk menormalisasi hubungan dengan gadget yang seharusnya intensitasnya di bawah hubungan nyata antar komponen di dalam keluarga dan teman kerja. Apalagi dengan trik-trik yang pernah saya bahas sebelumnya sudah tidak mempan karena semakin pintarnya anak-anak dalam mensiasatinya. Namanya juga anak generasi native masa industri keempat. Tidak seperti kita yang masih merupakan generasi transisi. Sebenarnya semuanya sudah tidak sehat, saling menyalahkan dan linglung sendiri. Kalau tidak ada yang mengalah, ya memang repot. Saya bilang kemarin, sayalah yang paling berat sebenarnya berlepas diri dari hal-hal seperti ini. Namun, sekali lagi orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya. Saya akan mempertanggungjawabkan itu. Biarlah di masa sekarang memperbaiki interaksi nyata antara ortu dan anak, serta antara anak-anak sendiri. Genting, karena dengan siasat-siasat lama tetapi wujud fisik gadgetnya tetap ada di rumah menjadikan anak-anak lebih tidak kooperatif, menjadi kurang sehat secara psikis (saya kira nantinya juga berimbas secara fisik), menjadi kurang kreatif secara positif dan semakin malas, begitu juga dengan saya, sama saja. Ditambah lagi dengan semakin kewalahan kami melakukan blocking terhadap konten-konten yang tidak sehat terutama dari youtube dan game. Memang ini masih fase uji coba, namun saya berharap fase ini bisa berlanjut sukses, sebagimana suksesnya kami menghilangkan tontonan TV di rumah yang sudah memasuki waktu bulan ke-10. Nyatanya tanpa siaran TV di rumah tidak mematikan kita. Mental dan fisik kita terasa lebih sehat, apalagi di era seliweran informasi yang kebablasan dan penuh hoaks ini. Saya dan keluarga tidak mau dicekokin informasi secara aktif yang akan merusak idealisme kita. Kita yang harus mengendalikan informasi yang akan kita terima, jangan sampai dicekoki apalagi direcoki.

Sehingga saya mohon maaf kepada teman-teman yang terkoneksi dengan gadget saya dan link sosial media kami, tentu akan mengalami slow dan late respons, bahkan mungkin tak berespon. Semuanya demi kebaikan kami juga. Gadget yang terkoneksi internet hanya akan saya pegang ketika tidak di depan anak-anak, dalam fase uji coba ini. Saya sendiri sudah tidak membawa gadget saya yang terkoneksi penuh internet pulang ke rumah sejak hari Senin kemarin. Rasanya memang berat namun sekaligus ringan dan bahagia. Sayang masih ada keteledoron sedikit. Anak saya menemukan gadget tabletnya di dalam kendaraan saat jalan mencari makan tadi malam. Tapi bisa saya sita dengan baik-baik dan diamankan ke kantor. Saya dan istri sepakat dulu, anak-anak hanya boleh main gadget sejak Sabtu sore dan Ahad saja. Itu pun masih diusahakan disiasati agar dialihkan dengan aktifitas lain, tentu harus lebih menarik aktifitas lain itu. Itu pun nanti kalau ga berhasil, maka semua hari di rumah akan mengalami hari tanpa gadget.

Doakan kami berhasil ya…. 😀

Sumbar: http://www.gadgetgaul.com/

agama, kontemplasi

Diet? Siapa Takut!


P60415-173326Sejak seminggu ini saya melakukan program pengaturan pola makan atau tepatnya pengurusan badan yang dikenal dengan istilah diet. Meski pun secara objektif dengan timbangan baru turun hampir 2 kilogram namun efek psikologis dan fisiknya sangat terasa. Seperti, volume perut dan ukuran lingkar pinggangnya terasa berkurang dengan indikator subjektif berupa celana-celana mulai terasa tidak sesak. Sepertinya efek diet ini memang memulai dari “gudang”-nya penyakit ini dulu, perut.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya harus repot ikut-ikutan tren menguruskan badan? berpuasa dari makanan-makanan enak yang mampir di depan hidung?

Pertama, saya sudah mulai tua. Jelas terjadi perlambatan metabolisme tubuh dalam melakukan netralisasi terhadap zat-zat berbahaya yang juga berasal dari makanan sehari-hari.

Kedua, sekarang sebagai orang yang bekerja dengan situasi kurang gerak, banyak duduk, jarang olah raga, tentu diet menjadi pilihan yang “lebih fleksibel” meski pun lebih “menyiksa”.

Ketiga, saya dan istri ingin hidup ini lebih berkualias dari sisi pengaturan pola makan. Memang dunia itu enak dan penuh dengan makanan yang enak. Tapi kita paham sesuatu yang enak itu sebenarnya merupakan jebakan yang menjerumuskan. Kita tentu paham dengan dalil “makan dan minumlah, jangan berlebihan”. Saya ingin menerapkan itu dengan sungguh-sungguh.

Keempat, pada suatu waktu sampai sekarang, bergelimang dengan makanan yang enak itu membuat kita semakin susah, susah dalam meningkatkan produktifitas, terlalu sering kena masalah perut, bangun tidur tak nyaman, konsentrasi menurun karena mudah ngantuk karena kebanyakan makan.

Kelima, sekaligus menjelang bulan puasa, ini juga semacam latihan untuk mengurangi interaksi dengan makanan. Meski pun harus saya akui, diet itu lebih berat daripada berpuasa. Mengapa? saya ga tahu persis, namun itu yang saya rasakan. Semoga nanti juga bisa lebih sering puasa.

Untuk menjalankan diet ini, saya berpatokan dengan pola diet “General Motors” yang dimodifikasi. Pola diet GM sendiri aslinya bukan diet yang terstandar menurut para ahli gizi. Jadi tidak harus mutlak diikuti. Modifikasi dilakukan untuk tidak mempersulit diri dalam melakukan persiapan diet setiap harinya. Dan tidak terpatok hanya 1 minggu program dalam satu bulannya. Tidak ada aturan baku mengenai diet saya ini selain pertimbangan kalori yang masuk harus lebih kecil daripada kalori yang keluar. Apakah lalu repot harus mengukur berapa kalori yang masuk, berapa yang keluar? Ya tentu tidak, karena saya sendiri ingin diet ini sebisa mungkin jangan menyebabkan stres tambahan yang terlalu menekan. Selain saya juga punya penyakit lambung (gastritis) yang kronik, juga supaya tidak terlalu merepotkan istri yang menjadi leader dalam program diet ini. Selama minggu pertama kemarin saya akui cukup menyiksa karena badan masih harus ekstra keras menyesuaikan diri. Siapa bilang diet GM itu tanpa rasa lapar? Di hari pertama hanya makan buah, sungguh banyak buah yang harus saya konsumsi untuk mengatasi rasa lapar yang terlalu cepat mendera. Alhamdulillah lambung saya aman. Awal minggu ini terasa lebih ringan, apalagi setelah saya bisa berfokus pada kegiatan-kegiatan lain yang tidak harus berfokus pada kegiatan perut. Kegiatan perut ini memang sungguh susah diatasi karena banyak acara yang saya ikuti selalu tersedia makanan yang menggoda selera. Itu ujian buat saya dan istri. Hikmah lain program ini, bisa lebih berbagi banyak makanan kepada orang lain dan hewan-hewan di rumah. Semoga bisa seterusnya melakukan pengaturan pola makan ini. Aamiin.

Referensi:
Turunkan 4 Kilo dalam 5 Hari Tanpa Rasa Lapar dengan Diet GM

android, gadget, kontemplasi, software, teknologi, tips

Inaccessible Memory Card!


Malam ini terjadi peristiwa yang cukup membuat saya sedikit khawatir. Sedang asyik chat serius dalam beberapa grup di Whatsapp via emulator Android “Bluestacks di tablet Windows, tiba-tiba muncul notifikasi permintaan untuk mem-format kartu memori microsd 64 GB merek V-Gen, yang memang dulu pernah bermasalah sehingga diklaim garansi karena pernah mati. Beberapa hari ini memang saya online via Windows untuk menggantikan handset Android saya yang tewas layar LCD-nya ketika pulang dari Kota Tegal. Yah, mungkin tergencet saat saya tidur di kursi bis. Hanya retak di bagian atas, namun saya paksakan untuk tetap menggunakannya. Namun beberapa waktu setelahnya tidak sengaja saya menjatuhkan tablet Android kesayangan saya itu. Jadilah retak LCD-nya bertambah, dan ternyata sudah tidak bisa menampilkan hal yang bermakna, hanya sinar putih bercampur dengan bias-bias retakan LCD-nya. Maklum, tablet murah merek Axioo Picopad 7 inchi ini memang sudah sering kebanting, dan selama ini memang tidak ada masalah dengan layarnya karena memang saya beri perlindungan silicone case dan anti gores (lebih tepatnya memang untuk jadi korban goresan). Pelindung layar transparan build in-nya sendiri masih utuh. Tapi memang mungkin dia sudah melewati batas daya tahannya terhadap gencetan dan bantingan. Beberapa bulan lalu tablet Axioo saya ini pernah juga diklaim garansi untuk baterainya yang mengalami bengkak sehingga sering mengalami power drop tiba-tiba. Karena ini sudah lewat masa garansi-nya, saya masih memikirkan apakah menunggu diganti LCD-nya ke IT-Clinic Axioo. Atau terpaksa beli gadget baru. Kebetulan di Smartfren sedang banyak promo, dan saya sedang tertarik dengan Smartfren Andromax R 4G, karena harganya turun drastis dari 1,6 juta menjadi 1 juta. Nah, maksud hati mengulur waktu agar tidak terburu-buru mengganti gadget, jadi online dulu via tablet Windows 10. Eh, ya takdirnya juga terjadi memory loss di tablet Windows ini. Dan yang jelas, apa yang tersimpan di memori internal tablet Axioo-nya juga belum bisa di-back up karena layarnya blank begitu, sedangkan koneksi via USB tidak dalam posisi on untuk akses ke memorinya.

Jadilah saya bisa menulis blog ini lagi sambil menunggu proses penyelamatan data microsd tersebut menggunakan iCare Data Recovery. Ingin mencoba saja software recovery ini setelah melakukan googling dan membaca testimoni di beberapa web, meski pun saya sebelumnya lebih sering menggunakan Get Data Back. Yang membuat saya sedikit khawatir karena isi dari kartu microsd di tablet Windows itu belum semuanya saya back-up karena seingat saya ada beberapa data penting pekerjaan dan file-file penting pribadi. Semoga bisa terselamatkan. Pelajaran berharga dari kejadian ini:
1. Akan mempertimbangkan ulang dengan kuat untuk melakukan full back up dan sinkronisasi secara online melalui aplikasi cloud seperti Dropbox, Google Drive atau OneDrive. Sekuritas adalah isu kedua yang saya pikir dapat diabaikan dibandingkan takdir terjadinya memory loss yang tidak pakai permisi meski pun tanda-tandanya sudah ada, tapi tidak jelas. Pencegahan lebih baik daripada mengobati!
2. Sepertinya akan kapok dengan kartu memori merek tersebut. Mahal sedikit tidak apalah asal handal!
3. Jangan menunggu menyepelekan penyakit gadget meski pun gejala-nya masih ringan. Lakukan antisipasi, back-up… back up… dan… back up!

Karena saya perhatikan proses scanning-nya sekitar 2 jam lebih, jadi saya tinggal tidur saja, insyaAllah dilanjut besok pagi. Itu saja. Semoga nanti tulisan ini bisa diupdate.

23.35 @ 27.12.2015