agama, kontemplasi

Beragama itu memudahkan…


Meski silaturahim dalam waktu yang singkat, banyak sekali penyegaran dan ilmu baru yang didapatkan. Saya dan beberapa teman bertamu ke rumah seorang ustadz yang mengasuh sebuah pondok pesantren di Panggeran, Sleman.

Resume silaturahim tadi malam ke seorang ustadz:

  • Jangan melakukan zihar kepada istri yaitu menyamakan isterinya dengan seorang wanita yang haram dinikahi olehnya selama-lamanya, atau menyamakannya dengan bagian-bagian tubuh yang diharamkan untuk dilihatnya, seperti punggung, perut, paha dan lainnya seperti perkataannya kepada isterinya
  • NII bukan mencuci otak, tapi mengotori otak manusia
  • Dalam beragama harus mempermudah urusan, tidak mempersulit, namun juga tidak memudah-mudahkan
  • Memaafkan lebih baik daripada membalas
  • Munafik tetap diperlakukan sebagai muslim
  • Cap kafir sebaiknya tidak mudah terucapkan, sampai jelas perbuatan mengingkari itu dilakukan berulang-ulang
  • Bila ingin mengetahui pengamalan agama secara nyata, pelajari sejarah hidup (sirah) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam
  • Perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam lebih kuat hukumnya daripada perbuatannya
Iklan
inspiring, kesehatan, kontemplasi

Di depan jenazah Bu Lik


Malam ini saya berada di hadapan jenazah seorang Bu Lik (adik kandung Bapak saya) di rumahnya, Bojonegoro, Jawa Timur. Saya dikabari beliau meninggal pukul 2 siang tadi di RS, akibar kanker leher rahim (serviks) yang sudah 2 tahun ini diketahui dan sempat pula berobat ke Jogja. Kanker tersebut sudah menyebar kemana-mana termasuk ginjalnya, yang akhirnya gagal fungsi.

Semoga beliau mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Mari deteksi dini kanker serviks dengan melalukan pap smear rutin. Konsulkan dengan dokter kandungan anda. Lebih bagus bila melakukan vaksinasi anti kanker serviks yang sebagian besar disebabkan oleh virus human papilloma.

kontemplasi, pernik

Stylish MPer Award – Lebih dalam tentang diri saya


Beberapa lama ga ngempi secara aktif, eh, kok tahu-tahu dapat PR dari mba Romekasari, mba Ratna Susanti, dan mba Ida Chairunnisa Hidayat. Mana PR saya di dunia nyata lagi seabrek nih…hehehe. Tapi demi mereka karena sudah sangat berkenan menghargai saya yang begini ini, yah, di-ikhlash-in deh ngerja’in PR-nya. Mohon maaf klo baru sempat sekarang 🙂

Buat yang belum baca jurnal mereka yang memberikan PR ini kepada saya, silakan berkunjung ke sini:

Intinya sih menurut saya PR berantai ini supaya antar blogger (baca: MPers) bisa lebih mengenal teman mayanya.

Di dunia nyata saya sebenarnya pernah juga melakukan survey untuk mengumpulkan pendapat orang lain (teman kuliah, teman satu kelompok, bahkan ortu saya sendiri), perspektif mereka terhadap diri saya. Benar deh, lebih banyak jeleknya, hehehe… Itu saya lakukan ketika saya akan menikah, ketika saya agak sulit untuk mendeskripsikan diri saya kepada calon istri saya. Jadinya saya butuh pendapat orang lain.

OK saya mulai aja yah… Mudah-mudahan saya bisa mendeskripsikan pribadi saya yang ter-update. Karena orang kan senantiasa berubah ya… 🙂 Dan sepertinya juga pernah saya jurnalkan juga tentang diri saya, lupa naruh di mana….

Pertama, saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada sahabat saya di MP, meskipun kita belum pernah kopdar, tapi serasa dekat di hati *halah. Buat mereka yang sudah memberikan kehormatan untuk menulis PR ini: mba Romekasari, mba Ratna Susanti, dan mba Ida Chairunnisa Hidayat. Saya malu sebenarnya dengan mereka yang sering berkunjung ke MP saya, tapi mungkin tidak begitu sebaliknya, mohon dimaafkan ya…. 🙂

Kedua, perkenalkan (hehe…) nama saya Widodo Wirawan, orang bilang saya PUJAKESUMA, Putera Jawa Kelahiran Sumatera. Karena Bapak saya asli Jogja, tapi Mama saya asli Riau. Umur saya sekarang 31 tahun, sudah tidak muda lagi kan :-b
Anak sudah dua, masih mau tambah terussss….. istri, mudah-mudahan cuma satu saja. 🙂

Lalu apa saja yang penting dari saya? emang ada yang penting gitu?
Karena cuma terbatas 8 saja untuk mendeskripsikan diri saya, jangan salahkan saya kalau saya ngawur yah, menggabungkan berbagai hal tentang saya, hahaha….

KESATU, hal yang paling menonjol dari pribadi saya adalah saya orang yang ambisius, keras kepala, tapi juga sangat moody, dan untuk sekarang saya butuh sifat moody saya itu untuk bisa menjalankan hidup ini secara seimbang. Namun akibatnya saya kurang bisa menempatkan berbagai macam hal dalam skala prioritas akibat sifat moody saya yang keterlaluan itu. OK, lah… katakan saja moody itu identik dengan pemalas, tapi saya bukan orang yang gampang patah semangat. Memang saat skala moody saya sudah dalam level parah, saya harus berusaha mengumpulkan tenaga dan merumuskan strategi untuk bisa bangkit dan berakselerasi. (bahasa apaan sih ini….)

KEDUA, saya orangnya egois, tapi untunglah di sisi lain saya masih bisa mengasah sifat pengiba/pengasih saya, ga tahan lihat orang menderita. Tapi itu sekali lagi tergantung level moody saya, hehe….

KETIGA, kata orang yang pernah jadi rekan kerja saya, saya itu sifatnya mbossy, maksudnya senang jadi boss. Tapi sebenarnya saya sering berpura-pura aja ga mau, padahal sebenarnya pengen banget. Saya berusaha agar sifat saya ini bisa diubah dengan sisi lain saya yang care dan berusaha akrab, terbuka, dan sejajar dengan anak buah

KEEMPAT, saya mudah terpicu marah oleh hal-hal yang mengusik harga diri dan yang menyangkut kepentingan saya. Saya terkesan ga takut sama siapa pun, hehehe, macan pun saya TELAN, yah tentu saja kalau saya tersesat di hutan, dan ga ada yang harus dimakan selain macan, hahaha….. Untuk ini saya masih terus mengembangkan sikap mawas diri atau memperkuat insight diri saya. Mencoba melihat segala sesuatu dengan memberikan jeda untuk berpikir secara logis dan berhati-hati. Memang akhirnya saya jadi kurang menggebu-gebu, terkesan lambat dan pilin-plan dalam mengambil keputusan. Tapi saya kira engga juga, bingung kan…? hehe…..

KELIMA, saya sangat obsesif terhadap barang-barang milik saya, mungkin bisa dikatakan saya setia gitu, meski kadang suka pelirak-pelirik. Saya bersyukur sekali dengan sifat saya yang ini. Tapi tidak bagi istri saya, barang koleksi saya yang meliputi barang-barang hobby saya sejak SD masih saya simpan sampai sekarang. Kata istri saya, itu RONGSOKAN, hahaha….

KEENAM, saya pendiam? begitu sebagian besar teman saya yang bilang tentang diri saya. Sebenarnya engga, sekali lagi itu tergantung mood saja. Saya termasuk orang yang paling cerewet dan pantang menyerah untuk berdebat sampai menang. Memang saya ga begitu berminat membicarakan hal-hal yang tidak penting bagi saya, karena kan memang saya egois, hehe…

KETUJUH, saya cuek. Benar sekali, saya luar biasa untuk yang satu ini. Sering tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Apalagi bila sedang ada sesuatu hal yang menarik perhatian dan memerlukan konsentrasi saya. Meski pun konsentrasi itu untuk sesuatu hal yang bukan prioritas.

KEDELAPAN, saya sulit konsentrasi, terutama konsentrasi yang sifatnya berkelanjutan, saya mudah mengalami distraksi/pengalihan konsentrasi. Sekilas memang agak bertentangan dengan sifat saya yang ketujuh, cuek itu. Yang saya maknai adalah: cuek saya itu sebenarnya, saya sedang full konsentrasi, hahaha…..

Tuh, kan, banyakan jeleknya kan kepribadian saya, hahaha….

Dan, yang terakhir, dikatakan dalam aturan main, saya harus “balas dendam” kepada 8 (atau 10 nih…) MPers lainnya untuk ngerjain PR ini. Baiklah, dalam hal ini saya menggunakan sikap KEDUA dan KETIGA saya. Saya CUKUPKAN sampai di sini saja. Cukuplah PR ini sampai di sini. OK?! Hehehe….

curhat, kontemplasi, livinginjogja, pernik

Penting bagi saya: alasan malas ngempi


Tulisan ini menyambung QN saya sebelumnya, mengapa saya mulai kehilangan hasrat ngempi, bahkan hanya untuk sekedar posting comment, jadi mohon maaf klo yang muncul cuma HS saya :-b

Pertama. Saya akui, memang saya punya kebiasaan sangat jelek, super autis (bukan istilah yang tepat memang). Saya ga bisa lepas dari laptop atau komputer. Di kantor selalu berhadapan dengan komputer, bukan apa-apa sih, ya sekedar buat ngempi dan membaca posting teman-teman. Meski kadang saya berusaha untuk multitasking sebagaimana beberapa yang orang lakukan, mata ke monitor, sambil ngempi, baca berita, buat catatan rapat, buka milis, dan sebagainya, sedang telinga berusaha mendengar. Saya sadari kadang saya hilang konsentrasi dan menggangu konsentrasi teman-teman dunia nyata, hehe… Jangan dikata klo rapat, meskipun saya memimpin rapat, laptop jarang sekali ga saya buka. Peduli amat, daripada ngantuk karena habis jaga malam, ngempi jadi “kopi” pengusir kantuk bagi saya. Nah, sejak jadi orang nomor 2 di tempat kerja primer saya, saya khawatir kebiasaan jelek saya itu menjadi contoh buruk bagi teman dan anak buah. Meski saya sebenarnya sudah lama menjalankan kebiasaan buruk itu.

Kedua. Sebagian besar tebakan teman-teman MPer benar! saya dan keluarga sudah bersatu lagi, alhamdulillahalhamdulillah… 🙂 Memang ini yang paling membahagiakan saya. 2 tahun sudah terpisah di antara 2 tempat, Jogja dan Jakarta, bahkan setahun terakhir terpisah antara 3 tempat, Jogja, Gombong, Jakarta. Sejak hari Ahad kemarin istri dan anak kedua saya sudah mendarat di Jogja, sementara saya masih di Jakarta mengawal evakuasi barang-barang istri yang dititipkan ke rumah mertua di Gombong, karena memang ga muat klo harus ditaruh langsung ke rumah di Jogja. Barangnya sudah 1/2 truk. Saya sempat menilik anak pertama saya, Ifa, saat Senin dini hari sampai di Gombong, namun sorenya harus cabut ke Jogja karena saya membawa logistik berupa baju-baju istri dan anak saya yang kedua, Nadifa. Jadi memang Ifa belum bisa ikut ke Jogja, menunggu kami mendapatkan asisten untuk membantu mengasuh anak-anak ketika kami berangkat kerja. Mudah-mudah Ifa bisa segera ke Jogja dalam minggu ini atau minggu depannya.

Entahlah, sampai kapan euforia ini. Saya harus menata ulang semua jadwal saya. Sangat bahagia sekaligus harus sedikit lebih repot karena selama ini sudah terbiasa jomblo temporer, ga pulang 2-3 hari ke rumah pun OK saja, hehe… Untunglah mulai bulan depan saya sudah tidak dapat jatah dinas malam. Itu akan sangat membantu menjaga stamina saya dan memperbanyak waktu kebersamaan saya dengan keluarga, menemani mereka tidur di malam hari. Inilah saat saya masih harus menikmati rasa yang sangat-sangat membahagiakan ini. Yang entah kapan makhluk itu (LDR/LDL) akan merenggutnya lagi, mudah-mudahan tidak!

Pic dari sini

jalan jalan, kesehatan, kontemplasi, livinginjogja

Belanja cerdas dan sehat, perlukah?


Kurang dari seminggu yang lalu, anak pertama nginap di rumahku. Di suatu hari aku ajak dia main ke Indogrosir yang cuma 1 kiloan meter dari rumah. Yah, sekadar ngajak jalan-jalan nyoba arena bermain anak yang masih baru dan rencana beli-beli baju dan makanan buat dia. Ternyata Ifa, anakku itu, benar-benar sudah didoktrin baik sekali oleh mbah dan budenya, supaya jadi anak yang manis, ga royal klo diajak jalan-jalan. Alhasil ketika belanja makanan dia cuma milih (itu pun ditawarin) nata de coco dan semacam roti kenyal mini mirip permen berbentuk pizza. Habisnya klo ga salah cuma 4 ribuan rupiah.

Bukan itu yang mau aku bicarakan. Tapi adalah hal yang membuat aku rada senewen  bin heran karena mengantri cukup lama di kasir, gara-gara di depan kami sudah ngetem seorang ibu dengan belanjaan seabrek-abrek. Ga masalah sih sebenarnya klo mau belanja sebanyak apa pun yang dia mau. Cuma yang menarik perhatianku, itu ibu belanjanya cuma snack-snack instan model chitato dan sebangsanya. Beberapa kali sebenarnya aku amati cukup banyak konsumen di swalayan besar yang belanjaannya model begitu.

Tapi yang ini aku perhatikan, lumayan luar bisa. 2 kerangang dorong (troli) penuh dengan berbagai macam snack seperti itu saja. Aku kira dia pedagang, tapi aku ga yakin secara klo pedagang kan belinya kardusan dan hanya beberapa jenis saja. Tapi ini…? mungkin puluhan jenis merek dengan beberapa bungkus saja per item mereknya… Mungkin itu cemilan buat 1/2 tahun kali yah, atau mungkin cuma 1 minggu saja, entahlah…

Yang aku heran, mengapa dia hanya memilih makanan seperti itu yang sebenarnya tidak sehat kalau dikonsumsi dalam jumlah berlebih, ya dasar orang kaya, ga mikir dampaknya yang penting enaknya aja kali… Mana aku perhatikan secara fisik ibu itu juga hancur-hancuran, memang sih rada menor tapi malah hancur gitu penampilannya, kulit udah jelek, muka udah keliatan jauh lebih tua, apa kebanyakan makannya cuma kayak-kayak gitu aja kali ya…

Tahu ga berapa habisnya duit buat 2 troli snack-snack itu? hampir 800 ribu rupiah!!

Pic dari sini

dokter, kontemplasi

Sumpah Dokter Indonesia




Demi Allah, saya bersumpah bahwa:

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;

Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja­an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;

Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

homo seksual, kontemplasi, pernik, salahkaprah

Antara Homoseksualitas dan Materialisme


Loh ada hubungan apa homoseksual dengan materialis, apakah mereka yang menyimpang tersebut mata duitan? hehehe… bukan sesederhana itu logikanya. Makanya saya pengen nulis nih…
Nulis agak serius dikit ga pa-pa yah… 🙂
Pola pikir materialis dan mungkin juga pola pikir sekuler, saya kira sebagian besar sudah meresap dalam diri kita, itu kesan mendalam yang saya rasakan ketika berinteraksi dengan teman-teman MPers dalam berbagai postingan/komentar mereka dan postingan/komentar saya sendiri.
Apa itu Materialisme?
Sederhananya adalah pola pemikiran atau paham atau keyakinan yang melandaskan pada materi, yaitu sesuatu yang tampak alias berwujud. Pengertian lain yang tentu saja mirip (materialisme itu banyak jenisnya, jadi kita sederhanakan saja dengan mengambil beberapa sampel), adalah:
  • Wujud itu sama dengan materi dan material. Sesuatu itu dianggap ada apabila ia berupa materi yang memiliki bentuk dan meliputi tiga dimensi (panjang, lebar dan padat) atau meliputi tipologi materi sehingga ia disifati dengan kuantitas dan dapat dibagi
  • Bahwa satu-satunya yang ada adalah benda atau materi, bahwa segala sesuatu yang terdiri dari material dan semua fenomena (termasuk kesadaran) adalah hasil interaksi material. Dengan kata lain, materi adalah satu-satunya substansi
  • Bahwa semua yang ada adalah fisik, tidak ada realitas yang lebih tinggi, tidak ada kebenaran psikis atau spiritual independen dari dunia fisik. Materialisme sendiri adalah meme (“gen” perilaku), cara, budaya spesifik ditentukan dari pemikiran tentang realitas
  • Sistem filsafat yang menganggap materi sebagai satu-satunya realitas di dunia, yang berguna untuk menjelaskan setiap peristiwa di alam semesta sebagai akibat dari kondisi dan aktivitas materi, dan menyangkal keberadaan Tuhan dan jiwa
Jadi materialis tidak selalu sama dengan matre atau mata duitan 🙂
Contoh kasus ketika kita berbicara tentang homoseksualitas dan pelakunya, sering kita beranggapan, bila hal tersebut tidak mengganggu kita dan kelihatan memang tidak menggangu kita, maka mengapa kita merasa terganggu? mengapa kita merasa sewot? mereka kan tidak bersalah? mereka kan sama-sama manusia? sama dengan kita kan? mereka punya hak hidup juga kan? dan berbagai deretan pertanyaan lainnya.
Dari contoh sederhana ini saja sebenarnya kita bisa melihat, bahwa paham materialis memang sudah mendarah daging dalam diri kita, terpola dalam setiap pikir dan lisan kita. Dan sayangnya kita sering tidak menyadari bahwa itulah bentuk materialisme. Secara tidak sadar materialisme membuat kita berpikir pendek, menolak bila berdiskusi atau dinasihati atau diajak dengan dalil-dalil mapan, nilai-nilai moral dan agama. Kita melihat homoseksualitas sebagai wujud materi saja, hanya dampak materi saja yang kita pikirkan (yang dikatakan: homoseksualitas tidak ada dampaknya) tanpa mau melihat dampak non materi.
Berdasarkan definisi materialisme di atas, kita melihat bahwa sikap materialis inilah yang bisa menciptakan komunitas baru seperti komunitas homoseksual dan sejenisnya. Ini dikenal sebagai meme (baca: mim), yaitu mengacu pada suatu kepingan kecil dari budaya atau perilaku yang kemudian menduplikasi menjadi banyak di kalangan orang-orang, serupa dengan yang terjadi pada gen dalam bidang biologi. Sehingga dengan pengertian ini pula kita bisa mengerti kenapa terjadi bentuk-bentuk komunitas negatif yang sifatnya sangat menular.
Kemampuan proteksi pribadi tergantung dari seberapa kuat daya kekebalan/imunitas seseorang agar tidak tertular. Daya kekebalan ini, seperti halnya kekebalan biologis, ada yang bersifat alami, yaitu nurani dan kekebalan buatan dengan memberikan suntikan-suntikan moral dan nilai-nilai keagamaan kepada akal kita. Sehingga akal kita itu menjadi kebal dan kita disebut sebagai orang yang punya prinsip. Selain itu kekebalan yang didapatkan dalam skala domestik/rumahan itu juga tidak 100% akan menjamin kita tidak akan tertular. Sekuat apa pun batu karang akan mengalami abrasi juga jika perlahan-lahan air laut mengikisnya. Dengan kata lain mengkondisikan lingkungan dengan melakukan perbaikan perbaikan sosial akan mendukung kelestarian batu karang (baca: prinsip) kita tadi.
So, mudah-mudahan dengan ini kita bisa memilah mana yang harus kita hindari mana yang harus kita butuhkan untuk diambil.
Referensi/bacaan tambahan:
Gambar dari sini
kontemplasi, korupsi

Antara Pamrih dan Gayus


Link (Shared from Pak Dono)

Seorang rekan baru saja menemukan tasnya yang semula tertinggal di kereta dalam perjalanan Virgin Train London-Manchester. Kebetulan saya waktu itu bepergian bersama teman ini dari London, jadi saya tahu betapa khawatir dan shock-nya si teman ini setelah sadar tasnya tertinggal di kereta api malam itu. Tas ransel itu berisi pasport, laptop dan sejumlah uang yang tidak sedikit. Malam itu juga kami telepon dan datang mengunjungi loket lost property di stasiun tujuan utama, dan juga bertanya pada manajer perusahaan kereta api yang ada di sana. Namun tidak ditemukan tanda-tanda dimana tas itu berada. Kereta api yang kami gunakan semula juga sudah tidak berada di stasiun itu, sudah pergi entah kemana.

Besok paginya, si teman ini menyambangi lagi stasiun kereta api itu untuk mencari tahu keberadaan tas yang berisi barang-barang yang penting itu. Bayangkan saja, pasport adalah identitas diri yang paling penting di negeri orang. Apalagi di dalamnya juga ada stiker visa yang mengijinkan si pemegang paspor untuk tinggal di negeri ini selama menjalankan studinya. Di dalam laptopnya juga mungkin berisi dokumen-dokumen penting bagi studi si teman. Jika sampai tidak ditemukan, pasport harus diganti, visa harus dibuat ulang, laptop harus direlakan, dan dokumen elektonik dalam laptop juga musnah. 

Setelah hampir putus asa dan pasrah kalau tasnya benar-benar tidak bisa ditemukan, tidak dinyana selang beberapa hari kemudian seorang manajer perusahaan perawatan kereta api mengirim email berisi pemberitahuan akan ditemukannya tas yang hilang itu dalam kereta yang dulu kami naiki. Betapa lega dan senang hati sang teman ini ketika tahu tasnya ditemukan. Bahkan tas itu kemudian diantar ke kediamannya oleh salah satu personel British Transport Police, tanpa ada kekurangan atau kehilangan di dalamnya.

Hal ini mengingatkan pada pengalaman seorang kawan yang juga pernah mengalami hal serupa. Kebetulan saya juga dalam perjalanan bersama dia saat itu. Tasnya tertinggal di rak barang dalam gerbong kereta api di salah satu stasiun kota London. Saat kami sadar tasnya tertinggal di sana, si kereta sudah berjalan meninggalkan stasiun menuju pemberhentian selanjutnya. Segera saja kami laporkan kehilangan ini ke petugas stasiun dan si petugas segera mengontak rekannya yang bekerja di stasiun tujuan berikut dari rangkaian kereta api itu. Kami lalu diminta segera naik kereta api selanjutnya menuju stasiun berikut dan menemui petugas yang ada disana. Ternyata tas dan segenap isinya ditemukan dengan baik tanpa kehilangan satu hal pun. Pasport, laptop dan barang-barang penting lainnya masih di sana. Senang menerima tasnya masih lengkap, si teman ini memberikan beberapa kaus souvenir bagi si petugas stasiun, walau umumnya hal ini jarang dilakukan di tanah ratu Elizabeth ini. Dengan mengucapkan terima kasih tulus saja sudah cukup. Mereka hanya menjalankan tugasnya. Menemukan dan mengembalikan tas yang hilang itu adalah bagian dari tugasnya tanpa perlu minta imbalan apa-apa.

Saya sendiri juga pernah kehilangan serupa, namun bukan berupa tas atau laptop. Saya pernah tidak sengaja lupa meletakkan handphone di bangku kereta api, dan lupa mengambilnya kembali saat saya tiba di stasiun tujuan di dekat rumah. Tanpa sadar telah melupakan si handphone, saya berjalan pulang ke rumah pelan-pelan. Tidak disangka saat masuk rumah telepon rumah berdering, dan si penelpon di ujung telepon mengabarkan kalau dia menemukan telepon saya di atas kereta api. Si penelepon adalah kondektur kereta api yang saya naiki tadi. Ia menemukan nomor rumah saya karena dalam call register muncul entri berjudul ‘Home’, yang jelas menggambarkan bahwa nomor itu adalah nomor rumah kediaman saya. Lalu saya segera diminta kembali ke stasiun tempat saya turun tadi karena ia akan kembali melintasinya saat si kereta api kembali ke arah stasiun kota asal.

Tentu saja saya segera berlari ke stasiun dan menunggu si kereta kembali datang. Begitu datang, dengan melihat saya menunggu di platform stasiun ia langsung menyerahkan si handphone (yang saat itu masih cukup gres kondisinya) pada saya tanpa bertanya apa-apa. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus lalu ia segera masuk kembali ke dalam kereta api untuk meneruskan pekerjaan dan perjalanannya.

Dari ketiga pengalaman pribadi di atas, saya merasa tidak ada pamrih pada ketiga pihak yang membantu menemukan barang-barang hilang itu. Mereka hanya menjalankan tugasnya dengan baik. Jangan sangka mereka tidak butuh uang, karena saya tahu juga sebenarnya gaji mereka-mereka ini tidak besar-besar amat. Memang secara nominal gaji pegawai di Inggris relatif lebih besar dibanding gaji di Indonesia, tapi pengeluarannya juga besar jadi sebenarnya ujung-ujungnya sama saja.

Lalu saya bayangkan pengalaman-pengalaman ini pada beberapa cerita teman-teman lain khususnya ketika masih di Indonesia. Biasanya, kalau kita ketinggalan sebuah barang berharga di kendaraan umum, kita tidak bisa harapkan bisa menemukan lagi barang-barang itu, atau setidaknya jika bisa ditemukan kembali ada yang hilang atau tidak lengkap. Kadang juga si penemu barang meminta imbalan baik secara terang-terangan maupun terselubung halus. Penemu kebanyakan berpamrih saat mengembalikan barang temuannya.

Apalagi jika kita sambungkan ini pada kasus Gayus yang sedang hangat diberitakan di media massa Indonesia. Gayus adalah pegawai negeri yang berurusan dengan pengurusan pajak beberapa perusahaan besar. Saat selesai membantu pengurusan pajak perusahaan-perusahaan itu, ia lalu menerima uang terima kasih dalam jumlah yang aduhai. Mulai dari $500 ribu, $1 juta, sampai $2 juta. Semua ini didapat ekstra dari pihak yang ‘berterima kasih’ atas jerih payah kerjanya.Tidak heran kemudian diketahui bahwa si Gayus ini, dalam usia yang relatif muda (30 tahun), ada uang sejumlah 25 milyar rupiah dalam rekening2nya, dan harta jenis lain dalam safe deposit box seharga 74 milyar!

Sebagai pegawai departemen keuangan, Gayus sudah menerima gaji dari rekening pemerintah untuk menjalankan tugasnya membantu para wajib pajak itu. Jadi, ucapan ‘terima kasih’ berupa uang ini sebenarnya adalah penerimaan yang tidak bisa dibenarkan alias gratifikasi. Apalagi gaji pegawai di departemen keuangan jumlahnya relatif memadai, jauh lebih besar dibanding pegawai negeri sektor lainnya.

Gayus tentu tidak sendirian. Dulu saya sering heran kalau bepergian ke kompleks perumahan pejabat pertanahan, perpajakan, atau kejaksaaan. Maaf-maaf saja, di sana mudah kita lihat rumah-rumah perkasa dan mentereng yang rasanya tidak sesuai dengan besar pendapatan sebagai pegawai negeri. Darimana sumber dana untuk membangun rumah-rumah keren itu? Mudah-mudahan sih bukan seperti apa yang Gayus lakukan. Tapi sangat sulit bagi saya untuk tidak berprasangka buruk pada pemilik rumah-rumah itu. Tapi jangan su’udzon lah yaw 😀

kesehatan, kontemplasi, rokok, salahkaprah

Kampanye anjuran merokok



Dengan modal 4000 zat kimia beracun dalam sebatang rokok, pakai semua cara buat membangun pabrik kimia pribadimu.

Silakan merokok sepuasnya yah…hehehe….

Enjoy aja!

Cuma tar, karbondioksida dan nikotin doang kok. 200 lebih zat berbahaya lainnya loe gak perlu tau, tapi rasain aja.

Masih banyak celah kok nyerah, tanya kenapa

Dengan modal 4000 zat kimia beracun dalam sebatang rokok, pakai semua cara buat membangun pabrik kimia pribadimu.

Nggak ada loe, nggak rame!

Tiap tahunnya sekitar 57.000 jiwa manusia berhasil rame-rame berhenti merokok di sini. Mau bergabung?

Sumber gambar:
http://fc00.deviantart.net/fs16/f/2007/145/f/b/PSA_lets_smoke1_by_chocoplay.jpg
http://fc00.deviantart.net/fs16/f/2007/145/c/2/PSA_Lets_Smoke3_by_chocoplay.jpg
http://fc00.deviantart.net/fs18/f/2007/145/2/3/PSA_Lets_Smoke2_by_chocoplay.jpg

asuransikesehatan, kontemplasi

Pesan Nabi Yusuf Terlupakan Oleh Kaum Muslimin


Rating: ★★★★★
Category: Other

Ah, bagus sekali ini tulisannya,ternyata memang mukjizat dan sekaligus bisa jadi dalil motivasi 🙂

———————————
Sura Yusuf (12) merupakan rujukan utama Kaum Muslimin untuk menabung dan berasuransi. Akan tetapi Sura Yusuf ini hanya tersosialisasi pada kaum Muslimin sebagai Sura yang dibacakan kepad Ibu Hamil supaya janinnya kelak ganteng seperti Nabi Yusuf. Namun makna yang terkandung dalam Sura Yusuf sesunggungnya banyak sekali, bukan hanya sebagai Sura yang dibacakan untuk Ibu Hamil. Dalam Sura Yusuf telah mencatat perdagangan orang, sifat diskriminasi orang tua terhadap anak, hakim yang adil, penguasa yang lalim, tabir mimpi, dan terpenting tentang menabung dan berasuransi.

Pada saat saya mengikuti training asuransi Pelatihnya bukan seorang muslim, namun ia secara cerdas dan sadar menjelaskan firman Allah dalam Sura Yusuf terutama ayat 47 dan 48. Ini mujizat Quran untuk Manusia (bukan hanya kaum Muslimin).

Sura Yusuf ayat 47, bunyinya “Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Ayat 48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

Sungguh dahsyat ayat ini telah memberikan petunjuk yang pasti bahwa manusia tidak selamanya mapan, namun suatu waktu akan merasakan kesengsaraan. Hal ini dapat dianalogikan – saat sehat kita mengumpulkan semua harta, pada masa sulit merasakan jeri payah selama masa sehat.

Pertanyaannya sekarang mengapa Kaum Muslim tidak banyak menabung dan berasuransi? Jawaban sementara, belum banyak ustad yang diamanahi untuk mencerdaskan umatnya, secara sadar memperkenalkan ayat-ayat Al-Quran yang telah teruji. Selain itu
para ustad masih berkutat dengan masalah hilafiah. Yang seharusnya mereka memberikan pemahaman yang mumpuni kepada umatnya, justru mereka lebih banyak menakut-nakuti umatnya.

Masjid Corong Perbankan dan Asuransi

Sudah saatnya Masjid sebagai corong Perbankan dan Asuransi. Tidak henti-hentinya ustad Antonio Safei memperkenalkan mengenai Bank Syaria, namun upaya beliau belum banyak mendapat sokongan yang masif sampai ke daerah Perdesaan.

Ustad dan imam Masjid patut mengoreksi diri – apakah telah menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama dalam membangun umat? Jika belum, maka sudah saatnya untuk berubah. Selama ini Al-Quran terkenal bukan oleh Kaum Muslimin, justru oleh umat lain – lihat saja mereka yang sukses memperkenalkan Asuransi, Lebah, dan lain-lain mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama, meskipun mereka tidak secara nyata menyatakan. Begitu juga, jika kita memperhatikan literatur tentang motivasi, maka sebagian besar rujukannya Al-Quran dan Al-Hadist. Itupun juga mereka tidak secara nyata menyebutkannya. Hanya mereka yang secara sadar telah menyelesaikan pembacaan Al-Quran dan Al-Hadist dapat menemukannya.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita mengenai ”Kelapa Sawit” yang mengalami masa booming sekitar beberapa tahun yang lalu. Para petani dan pengusaha terus memperluas lahannya, namun mereka lupa menabung dan mengantisipasinya. Saat Kelapa Sawit mengalami penurunan, petani dan pengusaha kelagapan. Intinya, mereka lupa pesan dalam Sura Yusuf (12).

Begitu juga banyak kaum Muslim yang miskin tidak dapat menyekolahkan anaknya, karena mereka belum menjadikan Al-Quran sebagai pegangan hidup, selain mereka tidak punya Quran, juga tidak bisa baca. Ini semua menjadi tanggung jawab Masjid.

Pesan Allah kepada Nabi Muhammad untuk umat Manusia Baca
Baca
Baca
 Bukan hanya baca huruf tetapi semua pesan yang ada di alam.

Ayo Menabung dan Berasuransi

———————————

Sumber: http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2010/11/18/pesan-nabi-yusuf-terlupakan-oleh-kaum-muslimin/

Gambar: http://pcinsureme.files.wordpress.com/2009/08/car-insurance-funny.jpg