android, internet, rumah sakit, teknologi, ubuntu

Rumahsakit Elektronik, Tulisan II


Lab DigitalSetelah 3 tahun lebih berlalu, sejak tulisan pertama saya mengenai RS Elektronik (klik di Rumahsakit Elektronik, Tulisan I), baru sempat sekarang atau kalau boleh dikata cukup PD (Percaya Diri) membuat edisi kedua dari tulisan di akhir tahun 2014 itu.

Selain karena sekarang waktu tidak saya prioritaskan menulis di blog ini, juga karena beban waktu offline yang cukup besar sekarang ini. Tak apalah, semoga saya bisa berbagi dan merekam milestone sejarah per-digital-an di RS kami.

Saya mulai dari cerita mengenai kiriman pesan pribadi seorang direktur sebuah RS besar milik salah satu ormas besar di Indonesia kepada saya, beliau ingin berkunjung ke RS kami bersama tim-nya untuk melihat implementasi sistem rekam medis elektronik (Electronic Medical Record – EMR/e-MR).

Sungguh, saya heran. Begitu juga ketika saya paparkan kepada teman-teman di tim IT (Informasi & Teknologi) kami, mereka dengan muka ragu mengungkapkan: “apa ga salah itu? mereka lebih canggih, SDM IT maupun sarana mereka, kita berguru sama mereka?”. Tapi ya ga mungkin kami menolak mereka, sehingga terwujudlah pertemuan itu. Karena saya juga masih penasaran, dengan rendah hati sambil tersenyum akhirnya saya tanyakan kepada beliau saat beliau dan tim berkunjung, dapat info dari mana dan mengapa memilih berkunjung ke tempat kami. Dapatlah jawaban itu, ternyata beliau dapat info dari sebuah grup dokter spesialis, ada yang memberitahu bahwa RS kami telah menerapkan sistem e-MR dan sukses alias berjalan dengan baik serta mampu mengkondisikan penggunanya. Saya ya masih penasaran dan mengulang pertanyaan dari tim saya, bukankah di sana juga sudah punya sistem itu dan lebih canggih, mahal, dan diampu oleh SDM berkualitas. Bisa kualat kami para murid ini. Beliau tertawa dan bilang: “tidak selamanya guru itu lebih pintar dari muridnya”. Semoga ini tidak membuat kepala saya dan tim semakin besar, bahaya nanti bisa pecah, hahaha… Karena sebelumnya saya juga sudah bilang ke tim saya: “Nah, itu! mestinya kepercayaan dari pihak lain membuat kita semakin percaya diri, giat, ulet dan semakin cepat inovasinya, meski dengan kekuatan terbatas, jangan buat mereka kecewa!”

Bisa ditebak selanjutnya, tim dari RS itu banyak bertanya mengenai beberapa hal penting terkait implementasi e-MR. Mereka awalnya memang pernah menerapkan e-MR namun sekarang berhenti dan para pengguna terutama dokter tidak banyak yang mendukung. Jadi antara lain yang saya ingat pertanyaannya:

1. Bagaimana supaya pengguna seperti dokter dan petugas RS lainnya mau menggunakan e-MR
2. Bagaimana perjalanan sistem e-MR di RS kami
3. Bagaimana cara membangun dan menjalankan sistemnya
4. Modal apa yang diperlukan
5. Bagaimana kaitannya dengan efisiensi dan efektifitas pelayanan
6. Apa saja kesulitan lain yang dialami selain faktor pengguna

Pertanyaan di atas terungkap secara eksplisit maupun implisit dalam forum diskusi di ruangan sebelum melihat langsung ke lapangan/area pelayanan. Saya dan tim banyak bicara dan dengan senang hati semua diungkapkan terkait pertanyaan-pertanyaan di atas. Supaya mudah saya tuliskan secara berurut jawabannya sesuai pertanyaan di atas:

1. Bagaimana supaya pengguna seperti dokter dan petugas RS lainnya mau menggunakan e-MR
Sederhananya implementasi e-MR ini dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu: brainware, hardware, software. Kami menerangkan bahwa brainware adalah faktor terpenting baik meliputi top management/direktur, SDM IT, dan segenap SDM pendukung dan pengguna e-MR ini. Dan yang terpenting adalah dari para pengguna e-MR itu sendiri. Pertama, kami telah memetakan 3 kelompok pengguna e-MR ini, yaitu: 1. mendukung sepenuhnya e-MR dan sudah menggunakan e-MR, 2. mendukung penggunaan e-MR namun belum mampu menggunakannya (gagap teknologi), 3. menolak penggunaan e-MR. Kelompok ke-3 sebenarnya dapat dibagi menjadi 2 kelompok lagi yaitu: 1. tidak mau menggunakan e-MR karena merasa menyulitkan (gagap teknologi) dan memang merasa tidak perlu, 2. tidak mau menggunakan e-MR dengan alasan yang belum terungkap. Tim kami fokus kepada pengguna e-MR kelompok ke-1 dan ke-2 sehingga penyempurnaan sistem juga berjalan dengan baik dengan mengabaikan sementara pengguna kelompok ke-3. Sehingga akhirnya dalam waktu sekitar 1 tahun mencapai penggunaan 75%, tentu ini berasal dari kelompok ke-1 dan ke-2. Angka ini melahirkan dampak positif untuk mempengaruhi kelompok yang semakin minoritas apalagi ditambah oleh tekanan-tekanan dari luar sistem seperti sistem BPJS Kesehatan yang menghendaki efisiensi klaim pelayanan dan pembayaran melalui electronic claim (e-claim) menuju kepada virtual claim (v-claim). Sampai saat ini telah berhasil melewati angka lebih dari 80% pengguna e-MR di RS kami. Kami memang melakukan proses terus-menerus secara perlahan namun pasti dan konsisten agar tidak terjadi kondisi patah semangat dan tanpa bukti yang jelas, sehingga dapat berakibat terjadinya situasi set back/mundur, jalan di tempat atau bahkan berhenti menggunakan e-MR seperti terjadi RS yang berkunjung ke tempat kami itu. Kedua, kami menjadikan pengguna sebagai mitra karib dan pemberi masukan utama terhadap penyempurnaan sistem e-MR dan tim IT harus rela, rendah hati, serta terbuka menerima masukan yang muncul, karena e-MR ini memang akan dipakai oleh pengguna bukan oleh tim IT. Tim IT bahkan secara pro aktif intens mengkomukasikan dengan para pengguna dan responsif mengadakan perbaikan, sehingga update e-MR langung dapat diuji-cobakan dan semakin dirasakan kemudahannya oleh pengguna. Ketiga, membentuk tim digital yang terdiri dari komponen tim IT dan perwakilan setiap unit kerja yang memiliki posisi tawar tinggi di unitnya dan tentu saja berkemauan kuat menjadi contoh dan edukator di unitnya masing-masing. Tahun ini saya menaikkan posisi tawar tim IT dengan menjadikan mereka sebagai bagian tersendiri dan digabung dengan tim rekam medis, karena kaitan yang sangat erat dalam sistem digitalisasi RS untuk semakin memudahkan koordinasi dan implementasi lanjutan.

2. Bagaimana perjalanan sistem e-MR di RS kami
Pada dasarnya hampir sama dengan RS lain yang sudah lebih dulu melakukan implementasi, yaitu dimulai dari sistem yang dibuat untuk unit tertentu dan belum terintegrasi dengan semua unit. Sebagai sebuah RS yang sudah berjalan lebih dahulu tanpa melalui sistem elektronik di awal beroperasi, hal ini merupakan sebuah kewajaran, berbeda mungkin dengan RS baru yang langsung mengimplementasikan sistem elektroniknya secara mandatory (wajib) terintegrasi untuk semua unit dan menjadi syarat mutlak bagi SDM yang mendaftar ke RS tersebut sebagai pekerja.

3. Bagaimana cara membangun dan menjalankan sistemnya
Pertanyaan ini ada kaitan dengan jawaban pertanyaan pertama, kami memilih untuk mengembangkan SDM IT (brainware) kami melalui pembelajaran yang panjang sehingga melahirkan tim yang handal dan pantang menyerah dibanding berkutat kepada kemampuan membeli software outsourcing atau fokus kepada kecanggihan hardware. Tidak. Sebagai RS yang memiliki kemampuan finansial terbatas kami menyadari bahwa membeli aplikasi dari pihak ketiga hanya akan menjadi beban secara berkepanjangan bagi RS kami, seperti pengalaman masa lalu yang pernah kami lewati. Selain itu untuk memfasilitasi pembalajaran yang baik bagi tim dan pengguna, kami membangun sebuah lab IT yang menjadi pusat diskusi, pengembangan, analisis, uji coba, dan edukasi bagi tim dan pengguna. Juga, tim digital semakin lengkap formasinya dengan melakukan edukasi secara aktif dalam format on job training dan sistem troubleshoot/penyelesaian masalah yang reponsif. Tim IT sekarang sudah bekerja dan standby menjadi 3 shift, pagi, siang, malam, 24 jam.

4. Modal apa yang diperlukan
Utamanya (mungkin) modal nekat dan ngeyel yah… hahaha. Pengalaman kami beberapa kali dulu terjadi gesekan yang besar dengan berbagai komponen faktor yang ada. Tapi itu justru menjadi sebuah tantangan dengan kerangka berpikir shared vision untuk kemajuan RS dan mewujudkan pelayanan yang lebih baik. Kemajuan teknologi tidak akan terbendung, tinggal kita mau menyesuaikan dengan mengikuti iramanya bahkan berinovasi atau memilih tertinggal jauh. Itu hanya sebuah pilihan, namun dampaknya mesti harus disadari oleh segenap komponen yang ada di RS, sebelum terlambat. Ya, sebenarnya modalnya cuma itu, karena modal-modal lainnya insyaAllah akan mengikuti saja.

5. Bagaimana kaitannya dengan efisiensi dan efektifitas pelayanan
Yah, lagi-lagi ini terkait dengan jawaban pertanyaan nomor 1. Bagaimana sebanyak mungkin menghadirkan testimoni positif penggunaan e-MR, tanpa bosan kepada segenap komponben RS, paparkan segala hal yang positif, klarifikasi hal yang negatif, antisipasi kemungkinan hambatan seperti permasalahan hardware, software, serta virus. Jelas tidak dapat terbantahkan dari berbagai bukti di sektor lain dan sektor perumahsakitan sendiri, bahwa implementasi e-MR yang baik dapat sangat-sangat meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan kepada pasien dan berdampak baik kepada pengguna e-MR itu sendiri. Di lapangan RS yang berkunjung ke tempat kami dapat langsung melihat dua hal tersebut dan testimoni yang langsung mereka dapat lihat dan dengarkan dari para pengguna e-MR. Detail dua ini dapat dibaca lagi di tulisan pertama saya tentang RS Elektronik (klik di Rumahsakit Elektronik, Tulisan I)

6. Apa saja kesulitan lain yang dialami selain faktor pengguna
Telah saya singgung sekilas di poin-poin sebelumnya, yaitu isu hardware dan software. Ke depan kami memerlukan perbaikan kepada dua hal itu. Migrasi software juga sudah dilakukan bertahap untuk mengefisienkan biaya dan antisipasi serangan virus dan isu sekuritas lainnya. Perbaikan prosedur kerja meliputi dokumen-dokumen panduan, prosedur operasional baku, edukasi, dan antisipasi masalah. Dari sisi inti aplikasi, kita memilih ke arah opensource dan no dependency operating system, yaitu sistem web-based dikombinasikan dengan mobile system berbasis seperti android. Dari sisi hardware juga pengembangan untuk kemampuan yang lebih handal, rancangan ergonomik untuk meminimalkan penyakit akibat kerja menggunakan sistem elektronik yang berkepanjangan, serta sistem cadangan (back up) yang lebih baik. Di luar itu ada dukungan hardware berupa sistem kelistrikan dan jaringan intra dan internet yang diharapkan semakin baik.

Pada akhirnya, e-MR ini hanyalah merupakan sebuah komponen dari banyak komponen lain yang sebaiknya tergabung di dalam sebuah sistem RS elektronik. Biasanya disebut juga SIM RS, Sistem Imformasi Manajemen Rumah Sakit atau dalam versi luar negeri disebut HIS, Hospital Information System. Dan di RS kami, memang kami bukan menyebutnya e-MR, tapi SIM RS, dengan visi yang jauh ke depan untuk menjadi sebuah Smart Cyber Hospital.

Sementara ini yang dapat saya paparkan mengenai perkembangan e-MR di RS kami. Semoga dengan sharing yang singkat ini dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan sistem e-MR di RS lain. Salam.

Iklan
android, gadget, kontemplasi, software, teknologi, tips

Inaccessible Memory Card!


Malam ini terjadi peristiwa yang cukup membuat saya sedikit khawatir. Sedang asyik chat serius dalam beberapa grup di Whatsapp via emulator Android “Bluestacks di tablet Windows, tiba-tiba muncul notifikasi permintaan untuk mem-format kartu memori microsd 64 GB merek V-Gen, yang memang dulu pernah bermasalah sehingga diklaim garansi karena pernah mati. Beberapa hari ini memang saya online via Windows untuk menggantikan handset Android saya yang tewas layar LCD-nya ketika pulang dari Kota Tegal. Yah, mungkin tergencet saat saya tidur di kursi bis. Hanya retak di bagian atas, namun saya paksakan untuk tetap menggunakannya. Namun beberapa waktu setelahnya tidak sengaja saya menjatuhkan tablet Android kesayangan saya itu. Jadilah retak LCD-nya bertambah, dan ternyata sudah tidak bisa menampilkan hal yang bermakna, hanya sinar putih bercampur dengan bias-bias retakan LCD-nya. Maklum, tablet murah merek Axioo Picopad 7 inchi ini memang sudah sering kebanting, dan selama ini memang tidak ada masalah dengan layarnya karena memang saya beri perlindungan silicone case dan anti gores (lebih tepatnya memang untuk jadi korban goresan). Pelindung layar transparan build in-nya sendiri masih utuh. Tapi memang mungkin dia sudah melewati batas daya tahannya terhadap gencetan dan bantingan. Beberapa bulan lalu tablet Axioo saya ini pernah juga diklaim garansi untuk baterainya yang mengalami bengkak sehingga sering mengalami power drop tiba-tiba. Karena ini sudah lewat masa garansi-nya, saya masih memikirkan apakah menunggu diganti LCD-nya ke IT-Clinic Axioo. Atau terpaksa beli gadget baru. Kebetulan di Smartfren sedang banyak promo, dan saya sedang tertarik dengan Smartfren Andromax R 4G, karena harganya turun drastis dari 1,6 juta menjadi 1 juta. Nah, maksud hati mengulur waktu agar tidak terburu-buru mengganti gadget, jadi online dulu via tablet Windows 10. Eh, ya takdirnya juga terjadi memory loss di tablet Windows ini. Dan yang jelas, apa yang tersimpan di memori internal tablet Axioo-nya juga belum bisa di-back up karena layarnya blank begitu, sedangkan koneksi via USB tidak dalam posisi on untuk akses ke memorinya.

Jadilah saya bisa menulis blog ini lagi sambil menunggu proses penyelamatan data microsd tersebut menggunakan iCare Data Recovery. Ingin mencoba saja software recovery ini setelah melakukan googling dan membaca testimoni di beberapa web, meski pun saya sebelumnya lebih sering menggunakan Get Data Back. Yang membuat saya sedikit khawatir karena isi dari kartu microsd di tablet Windows itu belum semuanya saya back-up karena seingat saya ada beberapa data penting pekerjaan dan file-file penting pribadi. Semoga bisa terselamatkan. Pelajaran berharga dari kejadian ini:
1. Akan mempertimbangkan ulang dengan kuat untuk melakukan full back up dan sinkronisasi secara online melalui aplikasi cloud seperti Dropbox, Google Drive atau OneDrive. Sekuritas adalah isu kedua yang saya pikir dapat diabaikan dibandingkan takdir terjadinya memory loss yang tidak pakai permisi meski pun tanda-tandanya sudah ada, tapi tidak jelas. Pencegahan lebih baik daripada mengobati!
2. Sepertinya akan kapok dengan kartu memori merek tersebut. Mahal sedikit tidak apalah asal handal!
3. Jangan menunggu menyepelekan penyakit gadget meski pun gejala-nya masih ringan. Lakukan antisipasi, back-up… back up… dan… back up!

Karena saya perhatikan proses scanning-nya sekitar 2 jam lebih, jadi saya tinggal tidur saja, insyaAllah dilanjut besok pagi. Itu saja. Semoga nanti tulisan ini bisa diupdate.

23.35 @ 27.12.2015

android, gadget, tunarungu

Menyiasati screen time yang berlebihan pada anak


mac

Keberadaan gadget elektronik yang memiliki fitur layar di era moderen membuat anak lebih malas untuk beraktifitas secara fisik. Orang tua sering tidak menyadari keberadaan gadget memberikan dampak yang serius bagi anak. Memang tidak semua gadget berfitur layar membuat anak malas beraktifitas secara fisik karena ada juga gadget yang justru memberikan anak semacam edukasi tertentu. Biasanya gadget jenis ini ada di sentra permainan anak di pusat perbelanjaan atau tempat wisata.

Kami pun merasa begitu, gadget merupakan ancaman tersendiri bagi kami, yang memiliki anak berkebutuhan khusus/ABK (tuna rungu). Anak ABK memerlukan kondisi bermain dan belajar yang harusnya lebih terkondisikan agar mampu menerima input yang sesuai diharapkan. Dan yang lebih penting lagi menghindari ketergantungan yang parah terhadap permainan-permainan di gadget. Anak sekarang selain sulit dicegah, mereka juga justru lebih kreatif mencari celah untuk mendapatkan keinginan mereka. Dalam kasus Nadifa (dan juga kakaknya), meski pun gadget sudah diberi proteksi password sekali pun, ternyata mereka bisa membongkarnya. Calon hacker juga ternyata, haha…

Untuk televisi lebih gampang di saat ini, karena sudah bisa lebih diatur kapan boleh nonton TV, apalagi sejak kami tidak lagi berlangganan TV satelit, dan kami sendiri juga sudah jarang menonton TV. Sedang untuk small gadget seperti android handset, itu jauh lebih sulit. Apalagi biasanya gadget jenis ini terkoneksi terus ke internet. Sehingga sangat banyak hal yang bisa dieksplorasi oleh anak. Mereka sudah terbiasa membuka google play store untuk mendownload sendiri game kegemaran mereka, atau pun tahan memelototi berjam-jam channel youtube favorit mereka. Dahulu kalau dilarang mengakibatkan mereka marah-marah dan justru sulit diajak belajar alias waktu ngambeknya sangat panjang. Untunglah sejalan waktu ada hal-hal yang bisa dimodifikasi agar screen time lebih bisa dikendalikan.

1. Membiasakan anak beraktifitas outdoor/luar ruangan. Bagaimana pun ini butuh energi besar bagi orang tua untuk memfasilitasi anak agar anak bisa beraktifitas di luar rumah. Sangat susah di situasi dunia perkotaan dengan lahan/halaman yang sempit. Sampai saat ini pun aktifitas di luar masih seperti yang dulu, les renang. Kadang main pasir di tanah tetangga, kadang main air, menyiram tanaman, senam, main petak umpet, hula hop, dan sebagainya. Sebenarnya banyak sekali referensi mengenai aktifitas outdoor. Syaratnya cuma satu: kemampuan orang tua untuk meluangkan waktunya menemani anak bermain. Ini yang susah. Padahal di zaman orang tua kecil dulu, banyak sekali aktifitas outdoor yang bisa dilakukan.

2. Mengurangi waktu koneksi ke internet. Ini jelas susah dilakukan bila gadget terkoneksi full internet. Kami menyiasatinya dengan menggunakan modem berjenis wifi mini router, sehingga lebih cepat digunakan saat dibutuhkan, dimatikan bila tidak diperlukan. Bila anak sudah memegang gadget dan terlihat siap membuka youtube atau google play store, modemnya tinggal dimatikan. Tentu saja orang tua juga tidak bisa koneksi ke internet. Memang itu konsekuensi, tidak mengapa. Yang sulit adalah ketika orang tua sedang butuh koneksi internet seperti untuk membalas email, dan sebagainya. Ini bisa disiasati, misalnya dengan menggunakan dua jenis modem, tapi ini justru menambah biaya. Cara lain yang lebih praktis dan tidak keluar biaya tambahan, yaitu dengan melakukan filtering. Ini memerlukan pengaturan di aplikasi modemnya sendiri. Saya biasanya menggunakan filtering berdasarkan MAC address dari gadget yang digunakan atau berdasarkan alamat website tertentu. Filtering menggunakan MAC address akan memblokir penggunaan internet di gadget yang kita inginkan. Jadi orang tua tetap bisa melakukan koneksi melalui gadget lain, misal laptop, ketika harus melakukan koneksi ke internet. Dengan sistem seperti ini sampai sekarang anak tidak melakukan protes, karena bisa kita lakukan dengan diam-diam.

3. Melakukan kompensasi dengan memeberikan fasilitasi mainan yang interaktif dan memerlukan aktifasi motorik yang lebih banyak. Bila mempunyai budget/anggaran khusus buat membeli mainan, tentu ini dapat menggantikan permainan-permainan virtual di gadget, sehingga memungkinkan anak mengembangkan motorik, berkonsentrasi, dan belajar secara lebih baik. Syukur kalau orang tua lebih kreatif membuat mainan-mainan biaya murah bahkan tanpa biaya sebagaimana pengamalam mereka sewaktu kecil dulu.

4. Dan lain sebagainya, silakan orang tua atau teman-teman yang mempunyai pengalaman, dapat menambahkan tip-tipsnya. Terimakasih.

android

Optimalisasi Handset Android Jadul


Hanset jadul saya: Hisense E-910

Sudah hampir 3 minggu handset android yang biasa saya pakai mondok di Pusat Reparasi (Galeri) Smartfren. Sehingga dengan terpaksa saya harus menggunakan handset android jadul saya yang keluaran Smartfren juga. Sampai sekarang cukup betah memakainya, meski kesulitan dengan kualitas kamera ala kadarnya. Kelemahan lain di baterai, meski sudah saya belikan baterai yang lebih mahal dari baterai originalnya (karena galeri Smartfren sudah ga ada stok baterai) tetap saja ga bisa tahan dalam setengah hari. Di sini fungsi powerbank sangat berperan ketika handset saya sedang sekarat baterainya.

Handset ini sudah lama saya oprek alias di-root. Jadi bisa diinstal aplikasi sebanyak apapun yang saya mau, sudah pernah saya instal sampai lebih dari 180 aplikasi. Bagaimanapun beban utamanya ada di kapasitas RAM dan baterai, sedang memori dari micro SD-nya ga masalah karena saya pasang kapasitas 32 GB dengan kecepatan kelas 10.

Sekarang saya optimalkan untuk aplikasi yang sering saya gunakan, sisanya saya back up termasuk aplikasi game yang biasanya dimainkan anak-anak saya, hitung-hitung supaya mereka ga menjamah handset saya terlalu sering, hehehe….

Berikut daftar aplikasi di handset saya terkini:

Tampilan Drawer
Tampilan Big Keyboard
Tampilan Desktop

/system/app mover: mengubah tipe aplikasi
AdFree: mencegah munculnya iklan
Android Device ID: identitas handset
Anti Theft Alarm Pro: bisa buat menjebak maling
App Lister: menampilkan daftar aplikasi
Atasoy LANPhone: buat video call via wifi
BBM: buat chat
Big Keyboard: keyboard supergede
Blackmart: biasa… buat cari aplikasi berbayar yang gratis
DU Meter: indikator kecepatan download dan upload
Disable Service: memperingan android dengan menonaktifkan komponen aplikasi
ES File Explorer: browser file plus
ES Task Manager: optimalisasi RAM
EasyNote: membuat catatan penting
Facebook: media sosial
File Expert: browser file plus
File Manager: browser file biasa
Html Reader: membuka file html
Jadwal Sholat dan Kiblat: sesuai namanya
KeepAwake: layar android tetap nyala
Kingsoft Office: membuka file word, ppt, excel, pdf
MP3 Video Converter: mengubah file video
MX Player Pro: buat nonton film
Memory App Cache Cleaner: optimalisasi RAM
MirrorOp Sender: penampil layar android ke pc
Opera Mini: browser internet
Photo Grid: penggabung gambar
Photo Editor: pengedit gambar
QuickPic: browser gambar
Samba Filesharing: sharing ke jaringan
Screenshot Easy Pro: penangkap tampilan di layar
Soul Movie: buat nonton film
Sound Recorder: perekam suara dan telpon
Speedtest: uji kecepatan internet
Telegram: buat chat
Terminal Emulator: mirip command prompt pc
Titanium Backup: aplikasi backup dan restore
TubeMate: pengunduh video youtube
VNC Viewer: penampil layar pc di layar android/kendali jarak jauh pc
Walkie Talkie: komunikasi suara via wifi
Web PC Suite: antarmuka android ke pc via web browser
WhatsApp: buat chat
Wi-Fi Auto-connect: sesuai namanya
Wi-Fi Talkie: komunikasi suara via wifi
Wifi Analyzer: pendeteksi kekuatan sinyal wifi
Wifi Protector: pelindung koneksi wifi
WordPress: blogging
akRDC: penampil layar pc di layar android/kendali jarak jauh pc
androidVNC: penampil layar pc di layar android/kendali jarak jauh pc
bVNC Pro: penampil layar pc di layar android/kendali jarak jauh pc
droid VNC server: tampilkan layar android di pc
goo.gl: penyingkat tautan
iDisplay: tampilkan layar android di pc
iQuran: al quran lengkap
myMail: baca dan kirim email

I love this gadget, smart gadget for smart people, mestinya….

android, blacberry, gadget

Nikmatnya Hijrah BB Messenger dari Blackberry ke Android


Momentum diluncurkan Blackberry Messenger a.k.a. BBM oleh RIM Blackberry ke Playstore Android dan AppStore Apple beberapa hari lalu menjadikan saya ikut-ikutan mengaktifkan BBM saya di Android.

Meski di awal sedikit bingung dengan cara registrasi yang ribet yaitu dengan masuknya email yang saya daftarkan ke dalam daftar tunggu, namun akhirnya berhasil juga. Meski ada cara lain yang lebih cepat yaitu dengan menggunakan ID Blackberry kita atau ada cara “curang” sehingga tidak perlu masuk daftar tunggu, silakan di google caranya, hehe.

Saya juga menemukan dan membaca perihal artikel-artikel online mengenai migrasi (lebih tepatnya diversifikasi, membuang eksklusifitas) BBM ke Android dan IOS/Iphone. Meskipun BBM untuk Android ini belum sempurna seperti belum ada menu untuk menambahkan klasifikasi kontak BBM, menu ekspor/impor kontak, dan fasilitas voice call. Namun fungsi dasarnya sudah sangat cukup untuk ber-BBM secara normal. Beberapa kali di perangkat Android saya, aplikasi BBM-nya close mendadak, tapi tidak hang, atau timbul jam pasir kayak di BB, hehe… tapi itu tidak terlalu menggangu, namanya juga masih versi-versi awal. Mudah-mudahan BBM untuk selain Blackberry bukan semacam jebakan bagi user, seperti dipaksa untuk akhirnya membayar aplikasi tersebut. Meski pun saya baca ada niat dari RIM Blackberry untuk memonetisasi BBM versi Android dan IOS-nya. Yah, wait and see saja.

Yang jelas ada kelebihan dan kekurangan yang saya rasakan dengan BBM di perangkat Android itu.

Kelebihannya:
– Jelas lebih cepat dan murah untuk spek henset Android yang minimal, misalnya merek henset Android apa pun bisa dipasang BBM asal sudah versi ICS (Ice Cream Sandwich), minimal. Namun ternyata masih ada laporan dari teman-teman yang mendapatkan peringatan bahwa perangkat Android-nya tidak kompatibel alias tidak bisa dipasang BBM, meski pun spek dan syarat versi-nya sudah terpenuhi. Untuk itu saya coba carikan solusi, ketemulah file instalasi BBM yang sudah dimodifikasi untuk perangkat yang dikatakan oleh Playstore tidak kompatibel. Bisa download di https://widodowirawan.com/file/bbm.apk

Sudah ada yang coba pasang file BBM hasil modifikasi itu, dan berhasil, hanya dengan menggunakan perangkat Android seharga kurang dari 1 juta rupiah.

Lebih cepatnya itu juga karena Android sangat jarang mengalami hang, kalau lambat pun, tidak akan ada jam pasir atau pakai acara copot baterai seperti di BB, cukup melakukan bersih-bersih dengan aplikasi yang banyak tersebar di Playstore. Saya pun tidak khawatir dengan jumlah grup dan kontak yang lebih banyak dibandingkan dengan BB saya yang sebenarnya juga masih OK banget kinerjanya, karena hanya saya minimalkan aplikasinya untuk BBM dan Push Email. Tipe BB saya Huron 8830, yang dulu saya beli seharga 750 ribu, dan konon bekasnya saja ga sampai angka 400 ribu, bahkan mungkin sudah tidak laku dijual, hahaha. Tapi boleh dibandingkan kebandelannya dengan BB canggih sekali pun, karena saya termasuk rajin melakukan perawatan BB saya itu (meski BB ini sudah pernah berenang di air), ya bukan perawatan fisik sih, karena itu BB juga sudah retak casing-nya di sana-sini. Tapi pemeliharaan jumlah memori, bila sudah timbul jam pasir satu kali saja, maka saya restart pake aplikasi, jadi ga perlu copot baterai. Copot baterai terpaksa dilakukan bila BB benar-benar freeze alias hang. Tidak ada jalan lain, karena dengan soft restart dengan tombol kombinasi ALT + Right CapsLock + DEL pun tidak mempan. Karena menurut saya fungsi dasar BB itu selain buat telepon dan SMS, ya buat BBM dan Push Email tadi. Saya tidak menggunakan aplikasi pihak ketiga di BB yang banyak digunakan oleh orang seperti Whatsapp, Yahoo Messenger, Picture Editor seperti PicMix dkk, dan aplikasi alay lainnya yang akan sangat memberatkan kerja BB itu sendiri. Browsing dan Streaming di BB apalagi, sudah lama tidak saya gunakan. Karena hitungannya hanya buang-buang duit dengan harga paket yang mahal.

– Jelas lebih murah, karena di Android, cukup membayar paket internet unlimited yang harganya tidak sampai 50 ribu rupiah, dan saya sudah dapat paket full service seperti di BB.

– Jelas meringankan, karena ga perlu lagi banyak-banyak bawa perangkat henset, ya maklum saja, beberapa teman masih ada yang bersikukuh bertahan di BB, jadi saya harus mengalah sedikit. Tapi dengan adanya BBM untuk Android ini, tidak ada alasan itu lagi, cukup bawa 1 perangkat saja di saku. Bahkan Android zaman sekarang itu fungsinya sudah sangat bisa menggantikan komputer atau laptop. Semuanya bisa kita lakukan dengan 1 perangkat saja. Keuntungan tambahan yang didapatkan misalnya: saya tidak akan sering lupa lagi, meninggalkan henset saya (sebenarnya kececeren) di toilet, di tempat kerja, di parkiran dan sebagainya, karena banyaknya perangkat yang harus dibawa. Kebetulan juga Android saya punya spek yang bagus dengan sistem dual CDMA dan GSM, sudah sangat cukup, baterainya juga sudah powerfull, kalau pun terpaksa, tinggal bawa Power Bank ukuran kecil buat cadangan baterai. Jauh lebih simpel.

Kekurangannya cuma satu menggunakan BBM di Android, itu mungkin hanya menurut saya sih… karena saya juga sudah nyaman dengan BB kuno saya itu dengan keypad fisiknya yang empuk dan smooth untuk mengarang indah atau cit-cat berjam-jam dengan teman-teman. Di sistem Android masih jarang perangkat yang menyertakan keypad fisik. Meski katanya nanti di masa datang akan ada keypad jenis taktil yang akan muncul otomatis di bawah layar sentuhnya, hebat ya… Untuk urusan keypad layar sentuh ini saya siasati dengan memasang keypad qwerty layar sentuh super besar sehingga jari dan mata saya lebih nyaman, dan mengetik jadi lebih cepat dan minim kesalahan.

Sekian aja ya, ini mungkin hanya jadi tulisan tunggal saya di bulan Oktober, banyak ide sih, tapi karena mood-nya hari ini yang dipicu oleh euforia diversifikasi BBM ini, ya dipaksa juga buat menulis di sela-sela kesibukan mikir dan mengerjakan yang lain. Selamat meninggalkan Blackberry Anda. Menjadikan perangkat BB Anda sebagai ganjal pintu, akan membantu mendobrak kapitalis RIM Blackberry yang sudah lama menjajah Indonesia 😀

Note: O, iya, dulu saya pelit ngasih PIN BBM karena saya cuma pakai BB jadul yang rawan hang, nah sekarang bolehlah kita uji kehandalan BBM di Android ini dengan “kerelaan” mengumbar PIN BBM Android saya, ini 75338F84.