gadget, kesehatan, kontemplasi, pernik, teknologi, tips

Normalisasi Intensitas Bergadget Ria


KhongGuan-GadgetTulisan dengan judul ini saya buat ketika sedang sendiri, tidak di depan teman kerja maupun di depan keluarga. Itu pun diketik melalui laptop jadul saya yang masih bertahan sampai sekarang sejak dibeli tahun 2007 lalu. Mengapa saya perlu menyatakan ini? Ada kaitannya dengan peristiwa hari Ahad kemarin, ketika secara spontan saya merespon positif usulan istri untuk mengungsikan semua gadget smartphone dari rumah. Usulan ini terlontar ketika hari Ahad kemarin pasca memperingati ulang tahun pernikahan ke-11, kami saling melihat, semua sedang sibuk dengan gadget masing-masing termasuk anak-anak. Yah, itu hari libur memang dan juga habis dari jalan-jalan dan makan di luar, cuma memang hari itu terasa lama sekali anak-anak dan saya berinteraksi dengan gadget smartphone.

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di blog ini, bagaimana mensiasati screen time pada anak, di link berikut. Namun, seiring bertambahnya umur anak-anak dan percepatan wahana komunikasi di gadget saya seperti semakin banyaknya grup-grup diskusi dan obrolan, akhirnya saya spontan saja, harus ada terobosan berani dan revolusioner sebagaimana dulu saya juga berani mematikan akun sosmed saya (facebook) yang sempat berjaya untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting. Saat ini saya melihat hal penting itu. Penting dan genting. Penting untuk menormalisasi hubungan dengan gadget yang seharusnya intensitasnya di bawah hubungan nyata antar komponen di dalam keluarga dan teman kerja. Apalagi dengan trik-trik yang pernah saya bahas sebelumnya sudah tidak mempan karena semakin pintarnya anak-anak dalam mensiasatinya. Namanya juga anak generasi native masa industri keempat. Tidak seperti kita yang masih merupakan generasi transisi. Sebenarnya semuanya sudah tidak sehat, saling menyalahkan dan linglung sendiri. Kalau tidak ada yang mengalah, ya memang repot. Saya bilang kemarin, sayalah yang paling berat sebenarnya berlepas diri dari hal-hal seperti ini. Namun, sekali lagi orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya. Saya akan mempertanggungjawabkan itu. Biarlah di masa sekarang memperbaiki interaksi nyata antara ortu dan anak, serta antara anak-anak sendiri. Genting, karena dengan siasat-siasat lama tetapi wujud fisik gadgetnya tetap ada di rumah menjadikan anak-anak lebih tidak kooperatif, menjadi kurang sehat secara psikis (saya kira nantinya juga berimbas secara fisik), menjadi kurang kreatif secara positif dan semakin malas, begitu juga dengan saya, sama saja. Ditambah lagi dengan semakin kewalahan kami melakukan blocking terhadap konten-konten yang tidak sehat terutama dari youtube dan game. Memang ini masih fase uji coba, namun saya berharap fase ini bisa berlanjut sukses, sebagimana suksesnya kami menghilangkan tontonan TV di rumah yang sudah memasuki waktu bulan ke-10. Nyatanya tanpa siaran TV di rumah tidak mematikan kita. Mental dan fisik kita terasa lebih sehat, apalagi di era seliweran informasi yang kebablasan dan penuh hoaks ini. Saya dan keluarga tidak mau dicekokin informasi secara aktif yang akan merusak idealisme kita. Kita yang harus mengendalikan informasi yang akan kita terima, jangan sampai dicekoki apalagi direcoki.

Sehingga saya mohon maaf kepada teman-teman yang terkoneksi dengan gadget saya dan link sosial media kami, tentu akan mengalami slow dan late respons, bahkan mungkin tak berespon. Semuanya demi kebaikan kami juga. Gadget yang terkoneksi internet hanya akan saya pegang ketika tidak di depan anak-anak, dalam fase uji coba ini. Saya sendiri sudah tidak membawa gadget saya yang terkoneksi penuh internet pulang ke rumah sejak hari Senin kemarin. Rasanya memang berat namun sekaligus ringan dan bahagia. Sayang masih ada keteledoron sedikit. Anak saya menemukan gadget tabletnya di dalam kendaraan saat jalan mencari makan tadi malam. Tapi bisa saya sita dengan baik-baik dan diamankan ke kantor. Saya dan istri sepakat dulu, anak-anak hanya boleh main gadget sejak Sabtu sore dan Ahad saja. Itu pun masih diusahakan disiasati agar dialihkan dengan aktifitas lain, tentu harus lebih menarik aktifitas lain itu. Itu pun nanti kalau ga berhasil, maka semua hari di rumah akan mengalami hari tanpa gadget.

Doakan kami berhasil ya…. 😀

Sumbar: http://www.gadgetgaul.com/

android, gadget, kontemplasi, software, teknologi, tips

Inaccessible Memory Card!


Malam ini terjadi peristiwa yang cukup membuat saya sedikit khawatir. Sedang asyik chat serius dalam beberapa grup di Whatsapp via emulator Android “Bluestacks di tablet Windows, tiba-tiba muncul notifikasi permintaan untuk mem-format kartu memori microsd 64 GB merek V-Gen, yang memang dulu pernah bermasalah sehingga diklaim garansi karena pernah mati. Beberapa hari ini memang saya online via Windows untuk menggantikan handset Android saya yang tewas layar LCD-nya ketika pulang dari Kota Tegal. Yah, mungkin tergencet saat saya tidur di kursi bis. Hanya retak di bagian atas, namun saya paksakan untuk tetap menggunakannya. Namun beberapa waktu setelahnya tidak sengaja saya menjatuhkan tablet Android kesayangan saya itu. Jadilah retak LCD-nya bertambah, dan ternyata sudah tidak bisa menampilkan hal yang bermakna, hanya sinar putih bercampur dengan bias-bias retakan LCD-nya. Maklum, tablet murah merek Axioo Picopad 7 inchi ini memang sudah sering kebanting, dan selama ini memang tidak ada masalah dengan layarnya karena memang saya beri perlindungan silicone case dan anti gores (lebih tepatnya memang untuk jadi korban goresan). Pelindung layar transparan build in-nya sendiri masih utuh. Tapi memang mungkin dia sudah melewati batas daya tahannya terhadap gencetan dan bantingan. Beberapa bulan lalu tablet Axioo saya ini pernah juga diklaim garansi untuk baterainya yang mengalami bengkak sehingga sering mengalami power drop tiba-tiba. Karena ini sudah lewat masa garansi-nya, saya masih memikirkan apakah menunggu diganti LCD-nya ke IT-Clinic Axioo. Atau terpaksa beli gadget baru. Kebetulan di Smartfren sedang banyak promo, dan saya sedang tertarik dengan Smartfren Andromax R 4G, karena harganya turun drastis dari 1,6 juta menjadi 1 juta. Nah, maksud hati mengulur waktu agar tidak terburu-buru mengganti gadget, jadi online dulu via tablet Windows 10. Eh, ya takdirnya juga terjadi memory loss di tablet Windows ini. Dan yang jelas, apa yang tersimpan di memori internal tablet Axioo-nya juga belum bisa di-back up karena layarnya blank begitu, sedangkan koneksi via USB tidak dalam posisi on untuk akses ke memorinya.

Jadilah saya bisa menulis blog ini lagi sambil menunggu proses penyelamatan data microsd tersebut menggunakan iCare Data Recovery. Ingin mencoba saja software recovery ini setelah melakukan googling dan membaca testimoni di beberapa web, meski pun saya sebelumnya lebih sering menggunakan Get Data Back. Yang membuat saya sedikit khawatir karena isi dari kartu microsd di tablet Windows itu belum semuanya saya back-up karena seingat saya ada beberapa data penting pekerjaan dan file-file penting pribadi. Semoga bisa terselamatkan. Pelajaran berharga dari kejadian ini:
1. Akan mempertimbangkan ulang dengan kuat untuk melakukan full back up dan sinkronisasi secara online melalui aplikasi cloud seperti Dropbox, Google Drive atau OneDrive. Sekuritas adalah isu kedua yang saya pikir dapat diabaikan dibandingkan takdir terjadinya memory loss yang tidak pakai permisi meski pun tanda-tandanya sudah ada, tapi tidak jelas. Pencegahan lebih baik daripada mengobati!
2. Sepertinya akan kapok dengan kartu memori merek tersebut. Mahal sedikit tidak apalah asal handal!
3. Jangan menunggu menyepelekan penyakit gadget meski pun gejala-nya masih ringan. Lakukan antisipasi, back-up… back up… dan… back up!

Karena saya perhatikan proses scanning-nya sekitar 2 jam lebih, jadi saya tinggal tidur saja, insyaAllah dilanjut besok pagi. Itu saja. Semoga nanti tulisan ini bisa diupdate.

23.35 @ 27.12.2015

hemat, keuangan, teknologi, tips

Efisiensi


IMG_20150605_231022-

Beberapa waktu lalu saya sempat menulis untuk mengikuti lomba mengenai energi, sayang saya tidak terlalu serius untuk memperjuangkan agar artikel saya itu masuk nominasi. Tidak mengapalah, yang penting ide (untuk) menulis (lagi) sudah terealisasi, dan sedikit banyak sudah tertuang dalam wujud tulisan yang bisa dibaca banyak orang dan berharap memberikan inspirasi dan manfaat.

Kali ini saya mau bercerita terkait judul tulisan ini. Yah, efisiensi. Tentu kata ini saya yakin sudah tidak asing bagi kita semua. Silakan cari maknanya yang begitu banyak di google. Saya sendiri mengartikan efisiensi sebagai penghematan. Hemat dari hal-hal yang selama ini dirasakan sebagai pemborosan. Berhemat dari kegiatan-kegiatan yang seharusnya bisa ditiadakan bila hasil yang dicapai bisa sama bahkan bisa lebih baik. Terkadang efisiensi tidak memberikan kenyamanan. Tetapi kan, kenyamanan itu karena faktor pembiasaan saja. Dan kita mungkin sudah sedikit paham, terkadang kenyamanan itu lama-lama bisa membunuh kita dengan lebih cepat. Membunuh dalam artian sebenarnya, atau membunuh kemampuan diri kita untuk lebih maju menghadapi tantangan agar survive dalam dunia yang semakin keras ini.

Baiklah… supaya tidak melebar kemana-kemana, saya langsung saja cerita mengenai proses-proses efisiensi yang sedang saya lakukan di tempat kerja dan di rumah. Memang ada bagian tertentu yang dari sananya sudah terlanjur sejak awal sehingga tidak bisa dilakukan efisiensi yang berarti seperti desain rumah dan kantor, lokasi rumah dan kantor, jarak ke tempat kerja, daya listrik PLN, dan sebagainya. Namun di era yang semakin keras ini, efisiensi menjadi suatu kewajiban untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dengan pengorbanan (uang dan tenaga) yang lebih kecil, dan tentu saja bisa memberikan tabungan dan sedekah yang lebih banyak. Berikut proses efisiensi yang saya lakukan:

1. Listrik
Sekarang setiap ada bola lampu yang rusak, maka saya selalu mencari penggantinya dari jenis LED, kalau bisa cari yang paling murah, dibandingkan dengan merek termahal dan katanya terbaik, tapi sebisa mungkin juga cari yang ada garansinya. Akhirnya bisa juga dapat bola lampu seharga 60 ribuan (lebih murah dari itu belum dapat yang ada garansi, tapi saya coba juga, siapa tahu awet , hehe) berkapasitas 12 watt, cukup untuk penerangan efektif namun hemat energi. Selain itu kami senantiasa, terutama saya yang paling rewel, mematikan lampu bila tidak digunakan, saat tidur kami usahakan tidur dengan lampu maksimal 5 watt saja, kalau perlu tidak usah pakai penerangan sama sekali. Banyak tulisan yang menjelaskan tidur tanpa penerangan lebih sehat. Yang paling susah dilakukan sampai sekarang adalah mengkondisikan suhu ruangan kamar tidur agar tidur tetap nyaman. Lingkungan dan desain rumah yang tidak menguntungkan membuat suhu ruang juga tidak bersahabat. Namun ada beberapa cara yang kita lakukan. Bila kondisi ruangan tidur suhunya tidak nyaman, yah, terpaksa AC hidup. Dulu di awal, masih rajin membuat setingan agar AC tidak terlalu boros listrik seperti mengaktifkan fitur low energy, fitur timer off/otomatis off bila sudah pukul 2-3 dinihari. Cara lain kalau lagi tidak terlalu panas, dengan membuka pintu kamar tidur sehingga sirkulasi udara lebih baik, jangan membuka jendela, nanti malah maling bisa masuk, hehe. Cara ini terpaksa bila AC sedang rusak, hehe. Bisa dikombinasikan dengan menghidupkan kipas angin. Bersyukurlah bagi mereka yang bisa membuat rumah yang tidak memerlukan AC. Berkaitan dengan AC ini, saya sendiri pernah menderita sakit persendian lutut karena terlalu sering terpapar udara AC secara langsung, karena juga suka lupa memakai pelindung seperti selimut. Tidur yang paling nyaman bagi saya ketika AC ruangan hidup adalah dengan memakai sarung atau celana di bawah lutut. Sayangilah lutut kita… Dan bagaimana pun sampai sekarang saya merindukan rumah tanpa AC, dan itu memerlukan investasi mahal, entah kapan bisa terealisasi. Mahal di awal, namun bisa murah untuk proses lanjutannya. Untuk peralatan komputer, alhamdulillah sampai sekarang ga punya komputer desktop/PC yang watt-nya amat besar itu. Meski sudah banyak akhir-akhir ini komputer hemat energi…, secara pribadi saya belum membelinya, masih memakai laptop biasa saja. Namun untuk kantor kami sedang melakukan eksperimen dan substitusi untuk perangkat komputer hemat energi ini. Semoga sukses dan nanti bisa dibuatkan reviewnya. O, iya sekarang saya sangat jarang sekali nonton TV, selain acara TV sekarang banyak yang tidak bermanfaat, kok kayaknya lebih enak tidur atau browsing daripada menonton, haha…

2. Bahan bakar
Bahan bakar utama di rumah seperti di dapur sampai sekarang menggunakan gas LPG, sayang sekarang gas juga semakin mahal. Efisiensi yang bisa dilakukan sebatas bagaimana memasak yang efisien. Mungkin nanti istri saya bisa menyumbang cara masak yang efisien ini, karena saya sendiri ketika masak, masih boros, haha… O, iya, sayang juga, memasak nasi pilihannya masih memakai energi listrik yang juga besar dan semakin mahal. Masih menunggu kompor yang memiliki efisiensi tinggi untuk memasak nasi. Katanya ada ya…, tapi kali harganya juga mahal, haha…
Untuk kendaraan bermotor, sampai sekarang masih bermimpi punya sepeda yang layak agar bisa lebih banyak menggunakan sepeda untuk kemana-mana. Saat ini saya lebih prefer memakai kendaraan roda dua bila cuaca mendukung, dan tingkat kemacetan lagi parah-parahnya. Memakai mobil pun saya betul-betul berusaha mengemudi secara eco drive (susah loh, mesti nekan emosi ga terpancing ngebut-ngebutan dan main banyak rem, pagi hari lebih suka AC dimatikan, buka jendela dikit untuk hirup udara segar). Sebisa mungkin saya sewaktu memakai kendaraan sudah memetakan daerah macet agar tidak boros bahan bakar.

3. Makan
Terus terang, sekarang lebih banyak makan di rumah, tetap enak masakan istri daripada jajan di warung. Ternyata ini sangat menghemat pengeluaran. Meski pun akhirnya boros saat ga bisa nahan makan bersama di luar atau emosi membeli mainan untuk anak-anak. Di kantor rencana pengadaan katering mandiri masih tahap wacana saja, semoga bisa terealisasi yah…

4. Minum
Sayang, air sumur kami tidak mendukung untuk layak buat diminum. Was-was aja gitu, selain belum dites, juga karena tingkat iritasinya cukup tinggi terbukti tangan yang mudah teritasi saat digunakan untuk mencuci. Sampai sekarang masih minum dari air galon komersial yang cukup menguras budget, artinya yah, belum efisien. Target ke depannya ingin beralih ke mesin filter air yang sekarang banyak bermunculan dari merek terkenal. Semoga. Untuk kantor pun kami akan mereplace semua galon komersial dengan produksi sendiri dengan mesin sendiri. Smoga juga bisa segera. Banyak sekali hematnya loh…

5. Pulsa
Penggunaan pulsa menjadi salah satu perhatian saya sejak lama. Syukurlah akhirnya terpecahkan juga setelah melalui berbagai eksperimen dan evaluasi. Saya dan istri menggunakan nomor pasca bayar CDMA merek terkenal. Gratis telpon semaunya. Abonemen cukup bayar 25 ribu saja. Internet akhirnya memakai pasca bayar juga, cukup 90 ribu unlimited per bulan, pakai bersama sudah lebih dari cukup buat streaming youtube, browsing, chit-chat di grup-grup media sosial, pokoknya puaslah, dapat 15 GB per bulan untuk FUP-nya.

6. Saya kira kalau ditulis semua, banyak deh… maksudnya tulisan ini juga bisa mendapatkan masukan dari para pembaca, model-model efisiensi yang sedang diterapkan oleh teman-teman, siapa tahu bisa saya contoh. Sangat ditunggu share-nya yah, makasih…

Tulisan ini dibuat memakai tablet windows (yang jelas hemat energi), diterangi lampu belajar emergensi LED, dan kipas angin plafon (cuaca begitu sumuknya…). Diupload menggunakan jaringan internet hemat pulsa.

blacberry, curhat, gadget, internet, tips

Moody buat menulis? Bagaimana mengatasinya?


Moody? Saya banget itu! Menulis itu salah satu aktivitas yang sangat baik untuk me-recall informasi yang telah kita dapatkan melalui indra kita. Menulis juga sebagai ajang aktualisasi diri dan saling berbagi, menulis juga salah satu cara mengurangi tingkat stresor meski tergantung juga dengan apa yang akan ditulis (kalau menulis tesis ya tetap makin stres, hahaha…), menulis bahkan dapat mencegah penyakit lupa ingatan yang dalam dunia medis disebut demensia.

Sejak nge-trend-nya dunia blogging, menulis menjadi salah satu primadona bagi netizen (penduduk dunia maya), berbeda dengan virtual social networking (jejaring pertemanan maya), motif orang melakukan aktifitas menulis dalam blognya lebih beragam. Bagi saya sendiri seperti alasan yang saya kemukakkan di atas. Ada kalanya menulis dalam blog (diari online) yang berasal dari kata “web logging” sangat memberikan bantuan bagi diri saya sendiri untuk meninjau kembali momentum dari hal-hal yang pernah saya lakukan dalam hidup. Bahkan dari hal yang terkecil sekali pun, saya sedikit galau bin kecewa ketika saya susah untuk mengingat kapan saya membeli suatu barang yang menggunakan angsuran melalui kartu kredit saya. Meski hal itu bisa dilacak dari dokumen transaksi, namun mencari dokumen itu lebih sulit daripada membuka laptop, terus mengetikkan di google mengenai sesuatu yang pernah saya tulis. Bukankah justru hal ini yang saya maksud mengurangi stres. Maklumlah pengarsipan offline saya sungguh berantakan.

Selain itu, menulis hal-hal seputar dunia saya (medis) ternyata selain berguna bagi diri sendiri juga berguna bagi orang lain seperti “bagaimana cara mencegah penularan cacar air” yang ternyata banyak yang menanyakan. Dan untuk itu saya tidak harus berulang-ulang cerewet, cukup memberikan tautan (link) ke tulisan di blog saya yang berhubungan dengan hal tersebut.

Menulis itu sulit kalau tidak dimulai dari hal yang menyenangkan, hal yang menyenangkan biasanya terkait dengan hidup keseharian kita seperti aktifitas mengasuh anak, kegiatan seputar hobi, dan lain sebagainya. Makanya saya tidak membatasi apa yang akan saya tulis. Selain malah membuat stres juga karena saya memiliki sifat moody yang sangat parah.

Sulit kalau harus menargetkan tulisan kapan selesai dan naik tayang di blog. Harus meluangkan waktu khusus di depan laptop? Susah itu bagi saya, karena di laptop saya senangnya browsing buat membaca dan instalasi program-program atau hal lain yang memang harus pakai laptop. Akhirnya saya mencoba menerapkan tips simpel bagi diri saya sendiri. Saya mengoptimalkan ponsel yang saya bawa. Kebetulan saya membawa Blackberry (a.k.a. BB) jadul merek Huron 8830 yang saya persenjatai dengan Smartfren. Kadang saya juga membawa ponsel android saya yang juga dipersenjatai Smartfren. Maklumlah saya penggemar berat Smartfren meski dulu beberapa kali pernah dikecewakan. Namun ternyata menulis di ponsel yang memiliki keypad fisik itu jauh lebih enak dibanding dengan keypad virtual yang touchscreen itu. Keypad fisik QWERTY memberikan sensasi yang justru tidak melelahkan, meskipun sebentar lagi akan keluar jenis keypad fisik yang bisa timbul dari layar sentuh.

Meskipun belum optimal, selain karena pakai BB kuno – tapi keypadnya empuk dan renyah (emang kerupuk), juga belum bisa langsung posting ke blog ini karena saya biasanya cuma memakai paket BB untuk BBM dan Push Email saja. Jadi kalau mau upload tulisan setelah selesai diketik di BB, mesti diemail dulu, lalu emailnya dibuka di tempat yang ada koneksi internet buat upload seperti laptop atau android saya dan dipindahkan ke blog. Ga repot sih, meski ada cara langsung dari push email bisa langsung tayang di blog, cuma belum saya coba, mungkin di waktu lain. Dan bagi saya waktu terlama itu ya, membuat tulisannya. Untuk tulisan ini saja sampai berhari-hari baru selesai, karena membuatnya dicicil saat-saat senggang (daripada bengong atau cuma BBM-an ga jelas, hehe…) seperti saat saya menunggu Nadifa (anak saya) yang sedang diterapi wicara atau terapi okupasi. Bisa juga saya mengetik saat lagi di parkiran ketika menunggu orang, ya pas lagi kosong dan malas bengong tapi juga sedang ada mood menulis, ya langsung melanjutkan tulisan yang saya simpan di Memopad-nya BB.

OK-lah, akhirnya selesai juga tulisan ini ketika saya sedang di RS tempat saya kerja, sambil nunggu Nadifa terapi okupasi. Semoga berguna dan memicu ide yang lebih bagus dari teman-teman. Mohon kalau ada ide lain, jangan segan memberitahu saya. Terimakasih.

tips

Video Tips: menyetir agar terhindar dari tabrakan maut


Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian terbesar di dunia. Oleh karena itu saya pun peduli untuk membagikan video dokumenter yang menggugah ini. Dan tentu saja ini juga menjadi pelajaran kuat bagi saya untuk mengubah kebiasaan yang jelek.

Berikut saya sajikan tautan video, tips bagi yang suka sms/bbm/telpon sambil nyetir, very interesting:

Video berukuran 10 MB, bisa didownload di http://goo.gl/ordw8, bisa streaming via Youtube. Silakan pasang video ini di tempat kerja kita, lebih bagus lagi kalau polisi mau mengulang-ulang video pendidikan ini, misalnya dipasang display besar di setiap perhentian lampu merah.

kesehatan, makanan, tak terkategorisasi, tips

Menguruskan badan hanya minum jus selama 60 hari


Masih malas nulis dari ide sendiri, jadinya posting skrip Presentasi Kabir Kumar di TEDxFremont yang saya terjemahkan sendiri. Itung-itung melatih menerjemahkan meski pun belum sempurna.

O, iya, badan saya juga udah parah ini, terutama bagian perut, jadi pengen nyontoh Pak Kumar ini. Semangat!!

Video presentasi silakan lihat di http://youtu.be/qkGXADXjkrg

Ada tiga belas dari kami di foto ini – saya sendiri, istri saya, anak saya dan di dalam baju saya ada sekitar 10 bola bowling. Dan kemudian saya membaca statistik yang mengubah segalanya – jika Anda mengalami kegemukan, kemungkinan anak Anda menjadi kegemukan meningkat sebesar 50%. Saya katakan lagi: jika Anda mengalami kegemukan, kemungkinan anak Anda menjadi kegemukan meningkat sebesar 50%.

Saya mempunyai sebuah realisasi. Sesuatu harus berubah dan itu harus segera berubah. Selama saya bisa ingat, menurunkan berat badan adalah resolusi tahun baru saya. Setiap tahun adalah tahun ketika saya akan mengubah pola makan saya, memulai berolahraga dan menjadi orang yang saya tahu saya bisa melakukannya – tapi tidak ada yang berubah. Tapi tahun ini berbeda, karena keputusan ini tidak lagi hanya tentang saya, itu adalah tentang pengaruh negatif saya pada anak saya. Saya sedih, saya kecewa dan kebanyakan dari semuanya saya merasa takut. Saya sekarang tahu mengapa saya harus mengambil tindakan, tapi saya masih perlu untuk menemukan “cara” saya.

Dua bulan kemudian, saya menemukan “cara” saya. Saya menyaksikan film dokumenter tentang lemak, sakit dan hampir mati, kisah tentang seorang pria biasa, Joe Cross, yang membuat keputusan untuk mengambil tanggung jawab atas kesehatannya dengan memulai puasa dan hanya minum jus 60 hari. Saya melihat dia berjuang dengan berat badannya, ketergantungan pada obat-obatan dan mendorong untuk mengubah hidupnya. Saya berjuang dengan berat badan saya sepanjang hidup saya, dan saya dipenuhi dengan harapan dan optimisme. Jelas sekali bahwa ini bukan hanya tentang jus, ini tentang perjalanan hidup, dan saya siap.

Dua hari setelah itu, saya mulai berpuasa dan hanya minum jus sayuran selama tujuh hari – kebiasaan besar baru saya.

Tujuh hari itu adalah hari-hari paling sulit dalam hidup saya. Hari pertama – saya sangat bersemangat melaluinya. Saya mempunyai energi dan kegembiraan yang besar – adrenalin mengalir dan saya merasa dipompa. Namun dihari kedua, kegembiraan mulai berkurang – saya mendapatkan rasa lapar dan lelah, semua yang ingin saya lakukan adalah meringkuk dan tidur. Di hari keempat, saya sudah siap untuk berhenti. Mental saya lelah dan harus berjuang untuk tetap fokus. Tapi berhenti bukanlah pilihan. Setelah minggu terpanjang itu dalam hidup saya, saya telah berhasil sampai hari ketujuh.

Kemudian semuanya berubah.

Saya mulai benar-benar memahami bahwa ini bukan hanya tentang jus, ini tentang perjalanan hidup. Ini adalah perjalanan untuk mengubah hidup saya, melalui kebiasaan besar dan kecil. Saya pergi dari berjuang untuk jus setiap pagi, untuk melompat dari tempat tidur setiap pagi. Ini adalah perjalanan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik dan kuat untuk hidup. Saya suka menyebutnya sebagai momentum kejelasan – dokter saya menyebutnya pengolahan keton. Apa pun itu, saya tahu bahwa hidup saya tidak akan pernah sama dalam pilihan yang saya buat dan keputusan yang saya ambil.

Setiap hari setelahnya, itu menjadi lebih mudah – jus menjadi kebiasaan yang terpelihara untuk menjadi kebiasaan yang alami. Ini telah bergeser, dari hambatan dalam hidup saya menjadi bagian dari hidup saya. Pada minggu kedua, saya serasa dalam kondisi autopilot – 7 hari menjadi 14 hari, lalu menjadi 21 hari, lalu menjadi 30 hari, lalu menjadi 45 hari dan sebelum saya menyadarinya, saya telah menyelesaikan 63 hari berpuasa dan hanya murni minum jus. Pada hari 63, saya telah membuat jus lebih dari 500 pon (227 kilogram) buah-buahan dan sayuran, dan meminum 189 gelas jus.

Hidup saya berubah positif dalam banyak hal. Dalam 15 bulan berikutnya, saya telah kehilangan berat badan hampir 100 pon (45 kilogram) melalui puasa dan hanya minum jus dan itu terus berlangsung, latihan dan serangkaian perubahan gaya hidup. Saya telah mulai bersepeda teratur, dan mengikuti keanggotaan prabayar untuk dua tahun di klub senam lokal – yang saya lakukan tiga kali seminggu. Tapi ini hanya awal. Saya telah memiliki penyimpangan sejak saya mulai tapi yang membuat saya kembali ke jalur adalah tanggung jawab pribadi, tanggung jawab kepada orang yang saya cintai dan peluang yang lebih baik untuk anak saya.

Saya tidak bisa memberitahu Anda bagaimana cerita saya berakhir, saya hanya dapat memberitahu Anda bagaimana itu dimulai. Tapi saya tahu bahwa apa pun yang terjadi, dari sinilah keluarnya, saya akan secara aktif mengambil tanggung jawab untuk kesehatan saya dan hidup saya. Saya mendorong Anda untuk mengambil tindakan saat ini – Anda tidak perlu menunggu satu menit pun untuk menemukan cara-cara yang bermakna untuk meningkatkan kehidupan Anda dan kehidupan orang-orang di sekitar Anda.

Dan ingat, ini bukan hanya tentang jus, ini tentang perjalanan hidup.

Kabir Kumar at TEDxFremont
(Senior Development Officer at Silicon Valley Community Foundation)
http://itsnotaboutjuice.tumblr.com/

curhat, livinginjogja, open source, pernik, tips

TIPS – Bila Tak Ada Pembantu


Ini sudah hari kedua tanpa pembantu rumah tangga, karena Bi Inem, begitu biasa dipanggil anak saya, akhirnya resign setelah hampir setahun menjadi bagian dari keluarga kami dengan mengajukan alasan diminta suaminya pulang ke kampung.
Sejak hampir 4 tahun punya anak, kami memang baru 2 kali punya pembantu rumah tangga. Susyehnye cari pembantu itu sudah rahasia umum kayaknya. Susyeh dalam artian cari yang awet itu dan ga musingin kepala tingkahnya. Tapi ini benar-benar mustahil bagi kami, pasti selalu ada masalah.
Ya, udah ga usah membahas itulah, meski pun kami tetap berharap bisa mendapatkan segera pembantu lainnya.
Tips ini seperti, mungkin, tips keluarga lainnya yang tanpa pembantu dalam hidup mereka *ssyiaah! Simak deh:
1. Harus ga malas bangun pagi sekali, telat dikit, pasti berabe ke arah belakangnya. Mana hari Senin ini istri saya upacara lagi, biasanya yang rebutan untuk berangkat dulu-duluan itu di hari Jumat, karena sama-sama ada jadwal senam.
2. Bagi tugas, tapi sebenarnya bagi tugas ini ga mutlak, yang penting saling mengisi, jangan saling menunggu (saya sih masih suka diingatkan karena sering menunggu ini), misal: istri lagi menyuci pakaian, ya kita nyuci piring dan gelas kotorlah, istri lagi masak, ya kita ngasih makan anak, istri nyiapin perlengkapan anak sekolah, ya kita mandi’in anak.
3. Memanfaatkan tetangga. Ini memang harus punya hubungan baik dengan tetangga, saya perhatikan dua hari ini halaman rumah saya yang seuprit selalu bersih dan ada bekas-bekas sapu lidi. Nah, tadi pagi saya memergoki bapak tetangga depan yang orang Nasrani, lagi nyapu’in halaman rumah saya, tentu saja sekalian dengan halaman rumahnya dia dong. Eh, tapi ini ga baik kan ya? memanfaatkan…., hahaha, habis, ya saya memang masih belum sempat nyapu-nyapu halaman lagi, internal rumah saja belum tersapu.
4. Outsourcing alias pake jasa pihak ketiga yang berbayar (tentu), ya itung-itung sebagai ganti pembantu, seperti jasa laundry. Ini istri kemarin sore sudah pergi ke laundry dengan 6 kilogram pakaian kusut siap di setrika, sekaligus survey, ternyata ada yang di dekat rumah, dan sekalian hari ini petugas laundrynya akan mulai melakukan antar-jemput pesanan, hehehe… murah habis sekitar 9 ribuan, brarti sekitar 1500 rupiah per kilo. Masalah klasik dengan laundry biasanya telat nganter dan kadang ga beres setrikaannya, jadi diantisipasi dengan mengontrak 2 tempat laundry.
5. Masak sendiri? kemarin walau ada pembantu pun kita ga rekomen untuk masak, selain buang waktu dan seringnya ga enak masakannya, juga ternyata budgetnya malah mahal. Maka  2 bulanan pake jasa outsourcing katering, murah juga oiy…, cuma 15 ribu per hari, untuk 6 hari jadi 90 ribu atau 360 ribu per bulan. Hari Ahad difokuskan variasi makanan lain, bisa beli lagi di luar atau masak sendiri, tergantung selera dan budget, hihi…
6. Penitipan anak, di awal dulu ini yang paling pusing, sempat pernah sekali-dua kali dititip tetangga, namun ternyata tetangga yang ini suka mengungkit-ngungkit “kebaikannya” dan disalahgunakan, jadi kita ga berharap akan seperti itu lagi. Alhamdulillah kedua anak kami, Ifa dan Nadifa, sudah sekolah play group semua, dan pulang sampai pukul 15/16. Jadi aman deh…
7. Lainnya? sumbang saran ya… karena rumah masih berantakan, belum disapu, belum dipel, tempat tidur masih awut-awutan, nanti sore juga masih ga kepikir mau ndulangin anak makan karena udah capek…
Pic dari sini