gadget, kesehatan, kontemplasi, pernik, teknologi, tips

Normalisasi Intensitas Bergadget Ria


KhongGuan-GadgetTulisan dengan judul ini saya buat ketika sedang sendiri, tidak di depan teman kerja maupun di depan keluarga. Itu pun diketik melalui laptop jadul saya yang masih bertahan sampai sekarang sejak dibeli tahun 2007 lalu. Mengapa saya perlu menyatakan ini? Ada kaitannya dengan peristiwa hari Ahad kemarin, ketika secara spontan saya merespon positif usulan istri untuk mengungsikan semua gadget smartphone dari rumah. Usulan ini terlontar ketika hari Ahad kemarin pasca memperingati ulang tahun pernikahan ke-11, kami saling melihat, semua sedang sibuk dengan gadget masing-masing termasuk anak-anak. Yah, itu hari libur memang dan juga habis dari jalan-jalan dan makan di luar, cuma memang hari itu terasa lama sekali anak-anak dan saya berinteraksi dengan gadget smartphone.

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di blog ini, bagaimana mensiasati screen time pada anak, di link berikut. Namun, seiring bertambahnya umur anak-anak dan percepatan wahana komunikasi di gadget saya seperti semakin banyaknya grup-grup diskusi dan obrolan, akhirnya saya spontan saja, harus ada terobosan berani dan revolusioner sebagaimana dulu saya juga berani mematikan akun sosmed saya (facebook) yang sempat berjaya untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting. Saat ini saya melihat hal penting itu. Penting dan genting. Penting untuk menormalisasi hubungan dengan gadget yang seharusnya intensitasnya di bawah hubungan nyata antar komponen di dalam keluarga dan teman kerja. Apalagi dengan trik-trik yang pernah saya bahas sebelumnya sudah tidak mempan karena semakin pintarnya anak-anak dalam mensiasatinya. Namanya juga anak generasi native masa industri keempat. Tidak seperti kita yang masih merupakan generasi transisi. Sebenarnya semuanya sudah tidak sehat, saling menyalahkan dan linglung sendiri. Kalau tidak ada yang mengalah, ya memang repot. Saya bilang kemarin, sayalah yang paling berat sebenarnya berlepas diri dari hal-hal seperti ini. Namun, sekali lagi orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya. Saya akan mempertanggungjawabkan itu. Biarlah di masa sekarang memperbaiki interaksi nyata antara ortu dan anak, serta antara anak-anak sendiri. Genting, karena dengan siasat-siasat lama tetapi wujud fisik gadgetnya tetap ada di rumah menjadikan anak-anak lebih tidak kooperatif, menjadi kurang sehat secara psikis (saya kira nantinya juga berimbas secara fisik), menjadi kurang kreatif secara positif dan semakin malas, begitu juga dengan saya, sama saja. Ditambah lagi dengan semakin kewalahan kami melakukan blocking terhadap konten-konten yang tidak sehat terutama dari youtube dan game. Memang ini masih fase uji coba, namun saya berharap fase ini bisa berlanjut sukses, sebagimana suksesnya kami menghilangkan tontonan TV di rumah yang sudah memasuki waktu bulan ke-10. Nyatanya tanpa siaran TV di rumah tidak mematikan kita. Mental dan fisik kita terasa lebih sehat, apalagi di era seliweran informasi yang kebablasan dan penuh hoaks ini. Saya dan keluarga tidak mau dicekokin informasi secara aktif yang akan merusak idealisme kita. Kita yang harus mengendalikan informasi yang akan kita terima, jangan sampai dicekoki apalagi direcoki.

Sehingga saya mohon maaf kepada teman-teman yang terkoneksi dengan gadget saya dan link sosial media kami, tentu akan mengalami slow dan late respons, bahkan mungkin tak berespon. Semuanya demi kebaikan kami juga. Gadget yang terkoneksi internet hanya akan saya pegang ketika tidak di depan anak-anak, dalam fase uji coba ini. Saya sendiri sudah tidak membawa gadget saya yang terkoneksi penuh internet pulang ke rumah sejak hari Senin kemarin. Rasanya memang berat namun sekaligus ringan dan bahagia. Sayang masih ada keteledoron sedikit. Anak saya menemukan gadget tabletnya di dalam kendaraan saat jalan mencari makan tadi malam. Tapi bisa saya sita dengan baik-baik dan diamankan ke kantor. Saya dan istri sepakat dulu, anak-anak hanya boleh main gadget sejak Sabtu sore dan Ahad saja. Itu pun masih diusahakan disiasati agar dialihkan dengan aktifitas lain, tentu harus lebih menarik aktifitas lain itu. Itu pun nanti kalau ga berhasil, maka semua hari di rumah akan mengalami hari tanpa gadget.

Doakan kami berhasil ya…. 😀

Sumbar: http://www.gadgetgaul.com/

alat bantu dengar, deafness, hearing impairment, istri, pernik, tunarungu

Recharge…


Kiri: Nadifa, Kanan: Ifa
Kiri: Nadifa, Kanan: Ifa

Sekian bulan lamanya saya tidak menulis di blog ini. Bahkan setelah melewati tahun pun belum terisi lagi blog ini. Jelas ada banyak rasa yang hilang. Kalau dibilang tidak sempat rasanya tidak juga, mungkin hanya rasa malas dan semakin banyaknya distraksi, hal-hal lain yang simpel, menarik, seperti aktifitas chat di grup-grup smartphone. Rasanya menulis di blog bukan menjadi sebuah kenikmatan dan bukan menjadi bentuk refreshing lagi. Mesti ini harus didobrak dengan segenap usaha. Salah satunya dengan mengisi lagi dengan tulisan ini. Saya tidak ingin otak penuh dengan ide-ide yang dibiarkan membusuk saja.

Kalau berbicara ide, tentu banyak sekali yang terlintas, meski pun gadget sudah super canggih, namun tak berdaya juga untuk menuangkannya dalam blog ini. Semoga kali ini berhasil 😀

Sebenarnya, banyak sekali hal menarik yang saya temui ketika saya vakum dalam kegiatan menulis di blog beberapa bulan ini. Selain fokus terbesar ada di tempat kerja, saya bersama istri juga masih intens berkutat dengan anak-anak. Dan itu penuh dengan cerita-cerita yang amat layak dibagi di blog ini. Bagaimana pun blog ini lebih abadi bagi saya dibanding dengan grup-grup media sosial dan di smartphone yang gampang hilang begitu saja.

Baiklah, mengawali lagi, saya ingin cerita saja tentang perkembangan dalam kehidupan keseharian saya dan keluarga. Tidak usahlah dulu membahas masalah kerjaan yang sudah cukup rumit dan memakan waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya. Sudah cukup pusing. Maka, saya akan kembalikan dulu blog ini sebagai awalan untuk memotivasi diri kembali untuk menulis sebagai wadah refreshing dan memory reminding.

Ceritanya, anak-anak saya sekarang sudah mulai memasuki masa-masa akhir balita. Eh tidak…, malah yang pertama, sudah lewat masa balita dan sebentar lagi sudah mau sekolah di SD, sudah diterima di sebuah SD. Tinggal menghitung bulan wisudanya di TK. Waktu terasa cepat saja berlalu, terbukti juga anak kedua, tahu-tahu sudah jadi pretty little girl yang semakin memerlukan perhatian lebih. Sampai kita rembukan lama, istri saya bertekad mengajukan cuti di luar tanggungan negara untuk mendampingi anak kedua yang spesial ini. Saya dukung penuh dan berharap bisa berjalan lancar permohonannya. I love you full, Yang…

O, ya, kedua anak saya ini sekarang sudah pintar berenang. Ya, karena memang kita kursuskan renang. Putri pertama yang ceriwis awalnya kursus privat sebelum akhirnya masuk klub renang, dan sudah sempat mendapatkan penghargaan dari sebuah lomba renang. We proud of you, girl! Putri kedua sudah bisa berenang gaya marinir melalui privat dengan 2 guru sekaligus, atau lebih tepatnya gaya anjing, hahaha… iya, gaya renang dengan kepala yang tidak menyelup ke air dan kedua tangan mengayuh di bawah permukaan air. Dan itu sudah berani dia lakukan di tempat dalam. Salut kepada para pelatihnya yang penuhdengan inovasi.

Kedua putri saya ini juga sudah tidak mengompol lagi ketika tidur di malam hari. Ibunya pintar membuat strategi bagaimana bisa berhasil tidak mengompol lagi. Jelas, biaya diaper semakin tertekan, termasuk biaya susu yang awalnya luar biasa besar, sekarang sudah jauh berkurang. Biaya terberat sekarang adalah biaya pendidikan, terapi, dan perlengkapan bantu mendengar untuk putri saya yang kedua. Di kedua telinganya sekarang masih bergantung alat bantu dengar yang harganya melebihi anting-anting dan harga motor. Tapi saya senang dengan perkembangan kemauan belajar, konsentrasi dan daya juang anak kedua saya ini. Sehingga, khusus dia, sudah lama saya buatkan akun facebook. Tempat mendokumentasikan dan berbagi. Padahal saya sendiri malas bermain facebook, karena memang sudah saya matikan lama sekali facebook saya itu.

Nah, gara-gara anak saya yang kedua ini saya juga akhirnya terpaksa terjun ke dunia facebook kembali dan bergabung di dalam grup-grup yang berhubungan dengan ke-spesial-an anak kedua saya ini. Takdir pun membawa ke dunia pergaulan baru, dunia difabel, saya terlibat secara online dan offline dengan komunitas difabel. Senang sekali rasanya bertemu dengan komunitas baru ini. Ada peningkatan rasa empati, kemanusiaan, sensitifitas dalam diri, di samping rasa “sensi” yang semakin meningkat juga. Iya, sensi bila ada orang yang masih merendahkan kaum difabel.

Demikian saja yang bisa saya tulis di siang hari ini sebelum menyantap ransum di tempat kerja. Saya berdoa untuk diri saya agar tetap terjaga motivasinya, buat mengisi blog ini. Aamiin.

pernik

Tak mau menjadi kaya…


Sangat jarang kita menemui orang yang mengucapkan hal tersebut. Tapi orang itu aku temukan juga, yaitu seorang kolega di klinik universitas, tempat kerjaku yang lain. Jangan dibilang ia bukan “orang kaya”, masyarakat di tempat tinggalnya saja menyebutnya sebagai tuan tanah, “O, Pak X ingkang duwe lemah katah niku…” (O, Pak X yang punya tanah banyak itu…”Dia sudah punya titel haji, sudah hampir spesialis juga. Penampilannya sederhana aja. Ke kantor cuma naik motor butut, tapi begitu pemurah, klo ada yang sakit langsung ngomong: “kamu butuh apa?” Klo pas giliran dinas biasanya men(t)raktir semua karyawan yang ada. Nah, saat-saat makan itu kami sering menanyakan kok rajin men(t)raktir? “Ga pengen jadi orang kaya…”, katanya. Pokoknya orangnya sama sekali ga pelit bin medit. Aku aja sempat ngiler lihat internet broadband mobile yang dia langgani pernah ditawari untuk nyoba dan dipersilakan bawa pulang…wah!! Ya, mungkin ada yang berpendapat: “Ah, beliau kan memang ga punya keluarga, jadi ga butuh uanglah…” (maksudnya ga punya istri dan anak, memang beliau ga menikah…) Tapi menurutku bukan itu yang utama.

Di kesempatan lain, dia ngomong yang sama: “Ga mau jadi orang kaya…” katanya. “Kenapa, Pak?”, seorang perawat menanyakan. Aku langsung aja nyolot: “Ga tahan konsekuensinya ya, Pak?” Dia langsung ketawa: “Iya benar, orang kaya itu berat konsekuensinya, masuk surga aja paling belakang sendiri, karena harus ditanya macem-macem dulu…” Oooo, ternyata itu toh…

Andaikan banyak orang berfikir seperti beliau, mungkin ga banyak orang serakah yang akan merugikan orang banyak di bumi ini.

Pic dari
sini

curhat, livinginjogja, open source, pernik, tips

TIPS – Bila Tak Ada Pembantu


Ini sudah hari kedua tanpa pembantu rumah tangga, karena Bi Inem, begitu biasa dipanggil anak saya, akhirnya resign setelah hampir setahun menjadi bagian dari keluarga kami dengan mengajukan alasan diminta suaminya pulang ke kampung.
Sejak hampir 4 tahun punya anak, kami memang baru 2 kali punya pembantu rumah tangga. Susyehnye cari pembantu itu sudah rahasia umum kayaknya. Susyeh dalam artian cari yang awet itu dan ga musingin kepala tingkahnya. Tapi ini benar-benar mustahil bagi kami, pasti selalu ada masalah.
Ya, udah ga usah membahas itulah, meski pun kami tetap berharap bisa mendapatkan segera pembantu lainnya.
Tips ini seperti, mungkin, tips keluarga lainnya yang tanpa pembantu dalam hidup mereka *ssyiaah! Simak deh:
1. Harus ga malas bangun pagi sekali, telat dikit, pasti berabe ke arah belakangnya. Mana hari Senin ini istri saya upacara lagi, biasanya yang rebutan untuk berangkat dulu-duluan itu di hari Jumat, karena sama-sama ada jadwal senam.
2. Bagi tugas, tapi sebenarnya bagi tugas ini ga mutlak, yang penting saling mengisi, jangan saling menunggu (saya sih masih suka diingatkan karena sering menunggu ini), misal: istri lagi menyuci pakaian, ya kita nyuci piring dan gelas kotorlah, istri lagi masak, ya kita ngasih makan anak, istri nyiapin perlengkapan anak sekolah, ya kita mandi’in anak.
3. Memanfaatkan tetangga. Ini memang harus punya hubungan baik dengan tetangga, saya perhatikan dua hari ini halaman rumah saya yang seuprit selalu bersih dan ada bekas-bekas sapu lidi. Nah, tadi pagi saya memergoki bapak tetangga depan yang orang Nasrani, lagi nyapu’in halaman rumah saya, tentu saja sekalian dengan halaman rumahnya dia dong. Eh, tapi ini ga baik kan ya? memanfaatkan…., hahaha, habis, ya saya memang masih belum sempat nyapu-nyapu halaman lagi, internal rumah saja belum tersapu.
4. Outsourcing alias pake jasa pihak ketiga yang berbayar (tentu), ya itung-itung sebagai ganti pembantu, seperti jasa laundry. Ini istri kemarin sore sudah pergi ke laundry dengan 6 kilogram pakaian kusut siap di setrika, sekaligus survey, ternyata ada yang di dekat rumah, dan sekalian hari ini petugas laundrynya akan mulai melakukan antar-jemput pesanan, hehehe… murah habis sekitar 9 ribuan, brarti sekitar 1500 rupiah per kilo. Masalah klasik dengan laundry biasanya telat nganter dan kadang ga beres setrikaannya, jadi diantisipasi dengan mengontrak 2 tempat laundry.
5. Masak sendiri? kemarin walau ada pembantu pun kita ga rekomen untuk masak, selain buang waktu dan seringnya ga enak masakannya, juga ternyata budgetnya malah mahal. Maka  2 bulanan pake jasa outsourcing katering, murah juga oiy…, cuma 15 ribu per hari, untuk 6 hari jadi 90 ribu atau 360 ribu per bulan. Hari Ahad difokuskan variasi makanan lain, bisa beli lagi di luar atau masak sendiri, tergantung selera dan budget, hihi…
6. Penitipan anak, di awal dulu ini yang paling pusing, sempat pernah sekali-dua kali dititip tetangga, namun ternyata tetangga yang ini suka mengungkit-ngungkit “kebaikannya” dan disalahgunakan, jadi kita ga berharap akan seperti itu lagi. Alhamdulillah kedua anak kami, Ifa dan Nadifa, sudah sekolah play group semua, dan pulang sampai pukul 15/16. Jadi aman deh…
7. Lainnya? sumbang saran ya… karena rumah masih berantakan, belum disapu, belum dipel, tempat tidur masih awut-awutan, nanti sore juga masih ga kepikir mau ndulangin anak makan karena udah capek…
Pic dari sini
pernik, poligami, selingkuh

Doa supaya bisa berpoligami :-)


Saya ga mau…. :-b

اَلَّلهُمَّ ارْزُقْنِيْ زَوْجَةً ثَانِيَةً, جَمِيْلَةً وَصَالِحَةً إِنَّ اللهَ سَمِيْعُ الدُّعَاء

Oh Tuhan, berikanlah aku isteri kedua yang cantik dan solehah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar doa!

Doa ini harus diamalkan istiqamah setiap shalat fardu, akan lebih sempurna dan baik kita sediakan satu waktu dalam shalat 5 waktu kita shalat berjama’ah dengan istri kita dan setelah selesai shalat dan berzikir setelah diawali dengan shalawat nabi.

Membaca doanya dengan jahr (keras) dan suruh istri mengaminkan doa kita :) . Sangat penting istri kita mengaminkan doa diatas agar jika kelak Allah mengijabah doa kita tidak akan banyak menemui tantangan dan hambatan sebab sudah atas “persetujuan” istri. membaca doa diatas boleh digabungkan dengan doa-doa lainnya…….

Nb: kepada para istri ..adalah lebih baik paham bahasa arab sebab manalah tahu jika suami kalian membaca doa di atas dan kalian turut mengaminkan :) :) :) dan bukan salah suami jika mendapatkan jodoh lagi sebab kalian “memperkenankan’” suami berpoligami

sumber: sini
kontemplasi, pernik

Stylish MPer Award – Lebih dalam tentang diri saya


Beberapa lama ga ngempi secara aktif, eh, kok tahu-tahu dapat PR dari mba Romekasari, mba Ratna Susanti, dan mba Ida Chairunnisa Hidayat. Mana PR saya di dunia nyata lagi seabrek nih…hehehe. Tapi demi mereka karena sudah sangat berkenan menghargai saya yang begini ini, yah, di-ikhlash-in deh ngerja’in PR-nya. Mohon maaf klo baru sempat sekarang 🙂

Buat yang belum baca jurnal mereka yang memberikan PR ini kepada saya, silakan berkunjung ke sini:

Intinya sih menurut saya PR berantai ini supaya antar blogger (baca: MPers) bisa lebih mengenal teman mayanya.

Di dunia nyata saya sebenarnya pernah juga melakukan survey untuk mengumpulkan pendapat orang lain (teman kuliah, teman satu kelompok, bahkan ortu saya sendiri), perspektif mereka terhadap diri saya. Benar deh, lebih banyak jeleknya, hehehe… Itu saya lakukan ketika saya akan menikah, ketika saya agak sulit untuk mendeskripsikan diri saya kepada calon istri saya. Jadinya saya butuh pendapat orang lain.

OK saya mulai aja yah… Mudah-mudahan saya bisa mendeskripsikan pribadi saya yang ter-update. Karena orang kan senantiasa berubah ya… 🙂 Dan sepertinya juga pernah saya jurnalkan juga tentang diri saya, lupa naruh di mana….

Pertama, saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada sahabat saya di MP, meskipun kita belum pernah kopdar, tapi serasa dekat di hati *halah. Buat mereka yang sudah memberikan kehormatan untuk menulis PR ini: mba Romekasari, mba Ratna Susanti, dan mba Ida Chairunnisa Hidayat. Saya malu sebenarnya dengan mereka yang sering berkunjung ke MP saya, tapi mungkin tidak begitu sebaliknya, mohon dimaafkan ya…. 🙂

Kedua, perkenalkan (hehe…) nama saya Widodo Wirawan, orang bilang saya PUJAKESUMA, Putera Jawa Kelahiran Sumatera. Karena Bapak saya asli Jogja, tapi Mama saya asli Riau. Umur saya sekarang 31 tahun, sudah tidak muda lagi kan :-b
Anak sudah dua, masih mau tambah terussss….. istri, mudah-mudahan cuma satu saja. 🙂

Lalu apa saja yang penting dari saya? emang ada yang penting gitu?
Karena cuma terbatas 8 saja untuk mendeskripsikan diri saya, jangan salahkan saya kalau saya ngawur yah, menggabungkan berbagai hal tentang saya, hahaha….

KESATU, hal yang paling menonjol dari pribadi saya adalah saya orang yang ambisius, keras kepala, tapi juga sangat moody, dan untuk sekarang saya butuh sifat moody saya itu untuk bisa menjalankan hidup ini secara seimbang. Namun akibatnya saya kurang bisa menempatkan berbagai macam hal dalam skala prioritas akibat sifat moody saya yang keterlaluan itu. OK, lah… katakan saja moody itu identik dengan pemalas, tapi saya bukan orang yang gampang patah semangat. Memang saat skala moody saya sudah dalam level parah, saya harus berusaha mengumpulkan tenaga dan merumuskan strategi untuk bisa bangkit dan berakselerasi. (bahasa apaan sih ini….)

KEDUA, saya orangnya egois, tapi untunglah di sisi lain saya masih bisa mengasah sifat pengiba/pengasih saya, ga tahan lihat orang menderita. Tapi itu sekali lagi tergantung level moody saya, hehe….

KETIGA, kata orang yang pernah jadi rekan kerja saya, saya itu sifatnya mbossy, maksudnya senang jadi boss. Tapi sebenarnya saya sering berpura-pura aja ga mau, padahal sebenarnya pengen banget. Saya berusaha agar sifat saya ini bisa diubah dengan sisi lain saya yang care dan berusaha akrab, terbuka, dan sejajar dengan anak buah

KEEMPAT, saya mudah terpicu marah oleh hal-hal yang mengusik harga diri dan yang menyangkut kepentingan saya. Saya terkesan ga takut sama siapa pun, hehehe, macan pun saya TELAN, yah tentu saja kalau saya tersesat di hutan, dan ga ada yang harus dimakan selain macan, hahaha….. Untuk ini saya masih terus mengembangkan sikap mawas diri atau memperkuat insight diri saya. Mencoba melihat segala sesuatu dengan memberikan jeda untuk berpikir secara logis dan berhati-hati. Memang akhirnya saya jadi kurang menggebu-gebu, terkesan lambat dan pilin-plan dalam mengambil keputusan. Tapi saya kira engga juga, bingung kan…? hehe…..

KELIMA, saya sangat obsesif terhadap barang-barang milik saya, mungkin bisa dikatakan saya setia gitu, meski kadang suka pelirak-pelirik. Saya bersyukur sekali dengan sifat saya yang ini. Tapi tidak bagi istri saya, barang koleksi saya yang meliputi barang-barang hobby saya sejak SD masih saya simpan sampai sekarang. Kata istri saya, itu RONGSOKAN, hahaha….

KEENAM, saya pendiam? begitu sebagian besar teman saya yang bilang tentang diri saya. Sebenarnya engga, sekali lagi itu tergantung mood saja. Saya termasuk orang yang paling cerewet dan pantang menyerah untuk berdebat sampai menang. Memang saya ga begitu berminat membicarakan hal-hal yang tidak penting bagi saya, karena kan memang saya egois, hehe…

KETUJUH, saya cuek. Benar sekali, saya luar biasa untuk yang satu ini. Sering tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Apalagi bila sedang ada sesuatu hal yang menarik perhatian dan memerlukan konsentrasi saya. Meski pun konsentrasi itu untuk sesuatu hal yang bukan prioritas.

KEDELAPAN, saya sulit konsentrasi, terutama konsentrasi yang sifatnya berkelanjutan, saya mudah mengalami distraksi/pengalihan konsentrasi. Sekilas memang agak bertentangan dengan sifat saya yang ketujuh, cuek itu. Yang saya maknai adalah: cuek saya itu sebenarnya, saya sedang full konsentrasi, hahaha…..

Tuh, kan, banyakan jeleknya kan kepribadian saya, hahaha….

Dan, yang terakhir, dikatakan dalam aturan main, saya harus “balas dendam” kepada 8 (atau 10 nih…) MPers lainnya untuk ngerjain PR ini. Baiklah, dalam hal ini saya menggunakan sikap KEDUA dan KETIGA saya. Saya CUKUPKAN sampai di sini saja. Cukuplah PR ini sampai di sini. OK?! Hehehe….

curhat, kontemplasi, livinginjogja, pernik

Penting bagi saya: alasan malas ngempi


Tulisan ini menyambung QN saya sebelumnya, mengapa saya mulai kehilangan hasrat ngempi, bahkan hanya untuk sekedar posting comment, jadi mohon maaf klo yang muncul cuma HS saya :-b

Pertama. Saya akui, memang saya punya kebiasaan sangat jelek, super autis (bukan istilah yang tepat memang). Saya ga bisa lepas dari laptop atau komputer. Di kantor selalu berhadapan dengan komputer, bukan apa-apa sih, ya sekedar buat ngempi dan membaca posting teman-teman. Meski kadang saya berusaha untuk multitasking sebagaimana beberapa yang orang lakukan, mata ke monitor, sambil ngempi, baca berita, buat catatan rapat, buka milis, dan sebagainya, sedang telinga berusaha mendengar. Saya sadari kadang saya hilang konsentrasi dan menggangu konsentrasi teman-teman dunia nyata, hehe… Jangan dikata klo rapat, meskipun saya memimpin rapat, laptop jarang sekali ga saya buka. Peduli amat, daripada ngantuk karena habis jaga malam, ngempi jadi “kopi” pengusir kantuk bagi saya. Nah, sejak jadi orang nomor 2 di tempat kerja primer saya, saya khawatir kebiasaan jelek saya itu menjadi contoh buruk bagi teman dan anak buah. Meski saya sebenarnya sudah lama menjalankan kebiasaan buruk itu.

Kedua. Sebagian besar tebakan teman-teman MPer benar! saya dan keluarga sudah bersatu lagi, alhamdulillahalhamdulillah… 🙂 Memang ini yang paling membahagiakan saya. 2 tahun sudah terpisah di antara 2 tempat, Jogja dan Jakarta, bahkan setahun terakhir terpisah antara 3 tempat, Jogja, Gombong, Jakarta. Sejak hari Ahad kemarin istri dan anak kedua saya sudah mendarat di Jogja, sementara saya masih di Jakarta mengawal evakuasi barang-barang istri yang dititipkan ke rumah mertua di Gombong, karena memang ga muat klo harus ditaruh langsung ke rumah di Jogja. Barangnya sudah 1/2 truk. Saya sempat menilik anak pertama saya, Ifa, saat Senin dini hari sampai di Gombong, namun sorenya harus cabut ke Jogja karena saya membawa logistik berupa baju-baju istri dan anak saya yang kedua, Nadifa. Jadi memang Ifa belum bisa ikut ke Jogja, menunggu kami mendapatkan asisten untuk membantu mengasuh anak-anak ketika kami berangkat kerja. Mudah-mudah Ifa bisa segera ke Jogja dalam minggu ini atau minggu depannya.

Entahlah, sampai kapan euforia ini. Saya harus menata ulang semua jadwal saya. Sangat bahagia sekaligus harus sedikit lebih repot karena selama ini sudah terbiasa jomblo temporer, ga pulang 2-3 hari ke rumah pun OK saja, hehe… Untunglah mulai bulan depan saya sudah tidak dapat jatah dinas malam. Itu akan sangat membantu menjaga stamina saya dan memperbanyak waktu kebersamaan saya dengan keluarga, menemani mereka tidur di malam hari. Inilah saat saya masih harus menikmati rasa yang sangat-sangat membahagiakan ini. Yang entah kapan makhluk itu (LDR/LDL) akan merenggutnya lagi, mudah-mudahan tidak!

Pic dari sini