pernik, wisata

Ngajak anak pertama ke benteng bersejarah


Sebenarnya Ifa, anak pertamaku, sudah sering aku ajak ke benteng ini. Ya, kebetulan di seputar Gombong yang paling menarik bagi anak-anak, menurutku, ya di lokasi benteng ini. Benteng ini termasuk warisan sejarah terbesar di wilayah Jawa Tengah, namanya Benteng Van der Wijck, cuma sekitar 3 km dari rumah mertuaku. Informasi sejarah mengenai benteng ini bisa baca di sini dan di sini.

Benteng ini oleh pengusaha di Gombong disulap menjadi arena bermain yang cukup menarik bagi anak-anak dan dewasa, di samping sebagai tempat wisata bersejarah. Di area benteng ini terdapat water park, kolam renang dengan pernak-pernik permainan di dalamnya. Ada juga kereta kelinci, kereta kencana, dan kuda, bila ingin berkeliling lokasi. Berbagai hiburan lainnya disajikan seperti panggung musik di atas kolam bebek/kereta air, di sekitarnya ada banyak permainan lain yaitu mobil “ferrari” bertenaga baterai, kolam bola, kereta api mini, helikopter mini, berbagai bentuk ayunan, odong-odong, dan sebagainya. Ada juga kereta listrik di atas benteng, sehingga kita bisa melihat pemandangan yang lebih OK. Beberapa permainan memang kurang terawat, tetapi masih lumayanlah untuk ukuran sebuah kota kecil. Selain itu komplek wisata ini memberikan fasilitas lain berupa taman bercengkrama untuk keluarga, gedung pertemuan, gedung untuk acara pernikahan, dan wisma penginapan. Lumayanlah klo mau mengadakan pesta di sini, para tamu juga sekaligus bisa mendapatkan keuntungan plus.

Jadi, jangan lupa klo lewat ke Gombong, dan ada waktu mampirlah ke tempat wisata ini. Murah kok, ongkos masuk hanya dikenakan untuk orang berusia di atas 3 tahun, yaitu 6 ribu rupiah, rata-rata karcis permainan cuma seharga 4 ribu rupiah.

curhat, gadget, hobby, livinginjogja, pernik

Testimoni gadget – ada harga ada rupa, memang masih berlaku ya?


Seharian tadi agendaku muter-muter Jogja menyambangi berbagai macam service center. Iya, sudah banyak gadget elektronikku yang rusak. Jadi sekalian aja ditumpuk jadi satu waktu biar ga ribet.

Pertama, kamera digital Samsung 8 mega piksel yang sudah sangat berjasa lebih dari 2 tahun kepake, akhirnya rusak juga, walaupun ga total. Pengambilan gambar dengan resolusi tinggi menghasilkan rekaman gambar yang bergaris. Fungsi kamera video masih normal. Hasil googling ga menemukan secara detail penyebabnya, kemungkinan ada pada chip resolusi tingginya, dan ada yang bilang memang penyakitnya digicam Samsung seperti itu. Waduh… Padahal itu kamera ga murah-murah amat harganya, mungkin terlalu diforsir aja pemakaiannya, huahaha. Nah, kamera kesayangan ini aku bawa ke service center Samsung (katanya cuma satu-satunya di Jogja) di Jl. Godean (400 meteran barat Tugu Jogja). CS-nya bilang belum bisa dipastikan berapa lama Samsung-ku mondok di sana, karena para teknisinya pada masih libur, huaaa, aku nanti ditelpon tentang kepastian dan harga servis dan part-nya. Kalau part-nya mendekati harga kameranya, ya mending aku beli baru aja kali ya…

Kedua, DVD player merek Vitron (asli…, aku sebenarnya ketipu aja dengan merek ini, barang Cina berteknologi Jepang…? halah!) belinya dulu di Mirota Kampus, sekarang aku perhatikan udah ga ada merek itu lagi di sana. Harganya juga sebenarnya ga murah-murah amat, hampir mencapai harga 400 ribu. Hampir 1 tahun usianya. Dua bulan pertama pemakaian, power supply-nya hangus bin gosong. Mondok hampir 1 bulan. Mana nyari service center-nya susah lagi, ternyata satu atap dengan service center Sony dan JVC di daerah HOS Cokroaminoto, arah ke Bantul. Nah, pas lebaran kemarin aku cek player tersebut saat mudik karena anakku hobinya nonton VCD lagu dan film anak-anak jadi aku titipkan di rumah mertua. Eh, pas dicoba ternyata ga mau di-open tray DVD-nya. Apa elektronik atau mekaniknya yang rusak ya…, embuhlah…jadi tadi aku bawa kembali ke pusat servis Sony tersebut. Dijanjikan kira-kira 1 minggu. Sayang aja, kenapa buru-buru aku bongkar kemarin ya, sehingga agak baret casingnya dan stiker garansinya robek, karena setelah tak cek lagi, ternyata masa garansinya sisa sekitar 1 minggu lebih dikit lagi, kan lumayan tuh masih bisa gratis…

Ketiga, yang paling parah ini, HP CDMA Smartfren promo harga 350 ribu yang dibundel dengan pulsa gratis 150 ribu dan internet gratis 1 bulan, genap 1 bulan pemakaian matek total. Udah ke Mobile 8 Center di dekat fly over Janti, disuruh langsung ke service center di dekat Mirota Godean, yang ternyata service center-nya merek Vitell. Kalau software-nya yang rusak butuh waktu 3-4 hari, klo hardware-nya yang rusak butuh waktu 3 mingguan, waduh…aku tanya mba CS-nya: ga ada HP pengganti sementara? dijawab engga, trus aku mau nelpon pake apa? Karena sebenarnya Fren ini sudah cukup berjasa hampir setahun buat pake telpon-telponan dengan istri di Jakarta sana, karena memang free alias gratis. Nah, pas promo kemarin aku tukarkan HP seken yang buluk buat dapat HP Smartfren tersebut, eh, malah rusak, untung masih ada HP seken Nokia jadul…

Klo aku pikir-pikir sepertinya merek terkenal dengan harga agak mahal dikit memang lebih OK ya, dasar akunya aja dari dulu hobi beli barang murah, hehe….

Pic dari sini

curhat, hobby, livinginjogja, pernik, tanaman

Kejutan, buah semangka di teras rumah nongol juga!


Kira-kira 1 bulan ini di teras depan rumahku, tepatnya di calon taman yang ga jadi-jadi diberesin, nongol tunas daun yang mirip semangka, aku juga diberi tahu oleh tetangga depan kalo itu pohon semangka.

Hahaha, secara tamannya memang ga jadi-jadi dan ga sempat ngurusin dan nyiram, eh, tetangga depan aku perhatikan sepertinya rajin nyiramin pokok semangka itu, kelihatan setiap sore tanahnya basah oleh air, ya cuma pohon semangka itu yang disiram…

Ditambah lagi dengan beberapa hari terakhir ini sering hujan di malam hari dan paginya matahari bersinar cerah, jadinya pohon semangka tersebut lebih giat tumbuhnya.

Akhirnya kalo ga salah ingat, 3 hari yang lalu saat mau berangkat kerja, aku perhatikan udah nongol 1 biji semangka mungil, selain masih banyak calon semangka yang masih berwujud bunga.

Aku memang sering asal buang biji tanaman dari semangka, pepaya, kelenglengkeng, jambu biji, alpukat, dll, di sembarang tempat, tanah kosong di sekitar rumahku. Dulu pernah tumbuh jambu bijinya, tapi dibersihkan sama tetangga, katanya nanti malah jadi bahan rebutan anak-anak kampung kalo udah berbuah. Ya, repot juga sih, rumahku kan belum dibuatin pagar sampai sekarang dan mungkin juga tidak akan dipagar sampai nanti.

Selain semangka, yang sudah sempat kami nikmati adalah beberapa tanaman sayuran yang aku tanam dan tumbuh sendiri yaitu sayur daun katu, enak banget kalau dilodeh gitu deh…, trus ada juga daun bayam yang tumbuh subur, saking suburnya waktu itu penuh halaman depan dengan tanaman bayam berdaun lebar-lebar, sampai ibu-ibu tetangga pada “iri” dan sering minta buat disayur atau dibuat kerupuk bayam. Dan, hmmm…tentu saja aku sangat berterimakasih, karena kan aku ga bisa manfaatin semuanya, dan enaknya lagi aku juga diberi kerupuk bayam yang lezat satu kaleng penuh, hehehe…

Memang sih ada cita-cita dari dulu buat kebun tanaman sayur dan buah kecil-kecilan selain tanaman bunga yang cantik-cantik tentunya. Tapi nunggu istri dan anak kembali ke pangkuanku aja deh…

livinginjogja, pernik

Tetek bengek bermasyarakat


Hari Ahad kemarin, kami sekeluarga mengadakan acara syukuran pindahan ke rumah baru dan perkenalan ke warga setempat. Satu bulan setelah menjejakkan kaki di rumah baru, “resmilah” kami menjadi menjadi warga baru di Pedukuhan Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman. Seminggu sebelumnya aku juga mengikuti kumpulan (rapat) RT dan sudah sekilas juga memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan undangan ke warga untuk menghadiri acara syukuran tersebut. Alhamdulillah yang datang lumayan ramai sampai rumah kecil kami tidak muat oleh tamu sehingga harus juga menempati beranda.

RT kami memang strata sosialnya memang sangat beragam, mulai dari pengemis, pemulung, mahasiswa, polisi, pedagang, tukang, mantan danrem (sekarang staf kodam), insinyur, dan menteri, kurang satu yang belum…artis… :-D. aku sendiri melengkapi strata sosial sebagai dokter. Sedikit cerita lucu dari ibu-ibu tetangga yang intinya begini: “wah, mas sekarang sudah semua RT di RW kita ini ada dokternya. Jadi besok klo ada yang sakit tidak boleh berobat ke dokter di RT yang lain…” Hehehe, ada-ada aja.

Acara syukuran dibuat sederhana saja, duduk lesehan, tapi sama tetangga dipinjamin kursi dan tikar, karena punya kami tidak cukup, dan ternyata teras rumah juga tidak cukup menampung para tamu, jadilah harus ada yang duduk di kursi yang di letakkan di halaman rumah. Untung aku masih punya koleksi amplifier (pengeras suara) dan dua loudspeaker ukuran sedang, koleksi dan hasil hobi saat zaman mahasiswa dulu. Alhamdulillah cuaca juga tidak jadi hujan sehingga acara berlangsung lancar.

Format syukuran standarlah, sambutan oleh Pak Dukuh, Pak RT, aku sendiri sebagai perwakilan keluarga, dan terakhir diisi pengajian serta doa oleh Ustadz Didik Purwodarsono, Pimpinan Pondok Pesantren Takwinul Mubalighin Yogyakarta. Pak Dukuh memperkenalkan aku sebagai warga penuh di sini, sudah ber-KTP dan ber-KK sini, jadi semua hak dan kewajibannya harap ditunaikan selayaknya, termasuk jika ada tarikan-tarikan (sumbangan) seperti uang pembangunan, uang sosial dan lain sebagainya (waks…!! kok ininya yang ditekankan sih….). Pak RT juga kurang lebih sama, supaya saling menjaga toleransi (kebetulan Pak RT beragama Nasrani), beliau juga memaklumi bila aku mungkin sulit waktunya untuk intens berinteraksi dengan kegiatan masyarakat karena berprofesi sebagai dokter (engga juga sih Pak…coba aja kita lihat nanti). Dan paling menarik menurutku sesi pengajian, kebetulan diisi oleh seorang ustadz yang memang sudah terkenal dengan kepiawaiannya membawakan tema-tema kemasyarakatan, dengan suasana yang segar penuh humor, dan sebagian besar dalam bahasa Jawa. Sehingga suasana siang yang cocok buat tidur jadi hidup dan bersemangat. Ustadz Didik banyak memberikan wejangan tentang kehidupan bermasyrakat dan bertetangga. Beliau menyinggung juga tentang tanda-tanda rumah tangga yang diberkahi (sebagian besar tercantum dalam surat ke 65 Al Qur’an yaitu Ath Thalaaq ayat 2-3, silakan baca sendiri ya). Prinsip prinsip bermasyarakat dan bertetangga juga dijelaskan dengan sangat baik dan disertai dengan contoh-contoh yang mengena. Yang aku ingat dari beliau, sebagai anggota masyarakat, bila ingin hidup diridhoi Allah dan hidupnya bahagia ada 4 prinsip yang harus dijalani yaitu: 1. memberikan manfaat bagi sekitar, tidak menghitung-hitung apa yang diberikan, dan tidak menghitung-hitung apa yang diterima, berbuat seoptimal mungkin untuk kebaikan masyarakat dan tidak menyelaraskan dengan rezeki yang diterima. 2. senantiasa lapang dada, mudah memaafkan, dan tidak mudah terpancing emosi. 3. tidak egois dan membangga-banggakan diri di tengah masyarakat 4. membiasakan introspeksi diri untuk membiasakan berhati-hati dan mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Mudah-mudahan kami menjadi warga baru yang bisa memberikan banyak manfaat (bukan dimanfaatkan, hehehe…) banyak bagi warga sekitar. Rumah baru kami menjadi surga dan tempat menyenangkan untuk berkumpul dan beraktivitas.

livinginjogja, pernik

Tak mau menjadi kaya…


Sangat jarang kita menemui orang yang mengucapkan hal tersebut. Tapi orang itu aku temukan juga, yaitu seorang kolega di klinik universitas, tempat kerjaku yang lain. Jangan dibilang ia bukan “orang kaya”, masyarakat di tempat tinggalnya saja menyebutnya sebagai tuan tanah, “O, Pak X ingkang duwe lemah katah niku…” (O, Pak X yang punya tanah banyak itu…”

Dia sudah punya titel haji, sudah hampir spesialis juga. Penampilannya sederhana aja. Ke kantor cuma naik motor butut, tapi begitu pemurah, klo ada yang sakit langsung ngomong: “kamu butuh apa?” Klo pas giliran dinas biasanya men(t)raktir semua karyawan yang ada. Nah, saat-saat makan itu kami sering menanyakan kok rajin men(t)raktir? “Ga pengen jadi orang kaya…”, katanya. Pokoknya orangnya sama sekali ga pelit bin medit. Aku aja sempat ngiler lihat internet broadband mobile yang dia langgani pernah ditawari untuk nyoba dan dipersilakan bawa pulang…wah!! Ya, mungkin ada yang berpendapat: “Ah, beliau kan memang ga punya keluarga, jadi ga butuh uanglah…” (maksudnya ga punya istri dan anak, memang beliau ga menikah…) Tapi menurutku bukan itu yang utama.

Di kesempatan lain, dia ngomong yang sama: “Ga mau jadi orang kaya…” katanya. “Kenapa, Pak?”, seorang perawat menanyakan. Aku langsung aja nyolot: “Ga tahan konsekuensinya ya, Pak?” Dia langsung ketawa: “Iya benar, orang kaya itu berat konsekuensinya, masuk surga aja paling belakang sendiri, karena harus ditanya macem-macem dulu…” Oooo, ternyata itu toh…

Andaikan banyak orang berfikir seperti beliau, mungkin ga banyak orang serakah yang akan merugikan orang banyak di bumi ini.

Pic dari sini

dokter, livinginjogja, pernik

Aku lebaran di rumahsakit…


Menjelang lebaran fitri besok, aku belum dapat segera menunaikan hasrat sebagai bangsa Indonesia baik, apalagi kalo bukan yang namanya mudik. Masih ada jadwal dinas di rumahsakit-ku, walaupun di tempat praktik lain udah libur, tapi rumahsakit belum libur sih. Untung aja istri dan anak udah mudik duluan, jadi ga masalah jadwal dinasku dipadatin sampai hari lebaran +3, so insya Allah baru bisa mudik hari Jumat sore, itupun cuma ke tempat mertua di Kuwarasan, Kebumen, secara cuma dapat libur 2 hari, karena Senin, tanggal 6 sudah harus dinas lagi. Ya, ga apa-apalah menurutku, namanya juga profesi penuh pengorbanan 🙂 mesti ada enaknya ada engganya. Apalagi di rumahsakit ini karirku masih baru, jadi perlu sedikit semacam “prestasi” kerja agar lebih cepat mengungkit status, hahaha…

O, iya, karena udah malam lebaran nih, aku mau ngucapin Selamat menyambut Idul Fitri, semoga amal perbuatan kita diterima Allah, amiin, maafin juga ya semua kesalahanku selama ini, semoga ke depannya bisa lebih baik…. Bagi yang sudah mudik, ingat-ingat oleh-olehnya ya, bagi yang sedang di jalan yang mau mudik, hati-hati aja ya…. Bagi yang ga mudik, santai aja lagi… 🙂

korupsi, pemerintah, pernik, salah urus

Negeri Salah Urus – Tentang Kenaikan Harga LPG dan BBM


Sebenarnya aku malas memperbesar (sebenarnya sudah sangat besar) masalah-masalah kesalahan pemerintah (emang sukanya cuma memerintah) negeri ini. Tapi, aku kayaknya HARUS secara udah terlalu penuh nih kepala dengan berbagai hal tidak beres di sekitar kehidupan kita.

Jelas, aku senewen, secara sejak nikah aku kan pake LPG, padahal ortuku sendiri sampai sekarang masih pake minyak tanah, mbahku pake minyak tanah juga. Pake LPG bukan karena ngegaya, tapi memang lebih banyak kelebihannya, kalau dikonversi ke rupiah malah jadi lebih hemat, buktinya saja untuk satu tabung gas LPG bisa bertahan sampai 2-3 bulan, padahal sering dipake buat masak air buat mandi (aku ga punya water heater canggih… ). Ealah, dengar kemarin pas istri mbayar LPG-nya yang habis kok jadi 63 ribu, bahkan katanya udah 69 ribu ya?

Sebenarnya aku masih sangat bersyukur masih bisa membeli LPG tersebut, tapi ga kebayang dengan mereka yang memang sangat tergantung penuh dengan LPG seperti para pedagang kecil itu kan pada pake LPG juga, wah, pasti nanti harga barang dagangnya jadi naik juga, WEEKSS!! berarti kan aku kena imbas juga, mummettttss!!!

Cuma aku sempat terpikir, kok alasan kenaikan LPG ini kok atas alasan menyesuaikan dengan harga gas dunia, gimana logikanya itu? Pemerintah membunuh rakyatnya sendiri secara perlahan. Penghasilan hidup tidak jauh bertambah, malah harga menggila, sudah itu kita pada meronta, tapi apa daya, ternyata pemerintah juga tak peka (malah jadi bersajak gini…)

Katanya untuk menutupi bisnis PERTAMINA yang merugi (dengan mengorbankan rakyat). Setahuku tidak ada pegawai PERTAMINA yang melarat, bahkan cenderung berfoya-foya, aku lihat sendiri rumah mereka luar biasa besarnya, kayak rumah setan (kata istriku loh…)

PERTAMINA memang memonopoli kekayaaan alam untuk digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama (seperti bunyi pasal di UUD 45 kan??). Nah, bersama ini jelas untuk kepentingan teman-temannya saja kan. Contoh teman-temannya ini misalnya para penjabat dengan mobil mewahnya yang menghabiskan banyak BBM ga jelas juntrungannya untuk plesir, ngebut-ngebut di jalan pake dikawal polisi, buat kencan sama WIL-nya. Bahkan polisi sendiri kan dapat BBM gratis ya dari PERTAMINA? kata PERTAMINA sih, polisi dan angkatan berhutang harga BBM juga kepada mereka, pantas aja polisi jadi ikut kejar setoran juga, gilaaa….

Apa iya pemerintah kita ini terpengaruh dengan kampanye global warming itu??
Dengan memahalkan harga BB fosil diharapkan rakyat tidak terlalu banyak melakukan pembakaran yang tidak perlu, mahal sih… Ya udah kalo gitu kita mari kembali ke alam. Alam mana nih….? Ah, udahlah…. semoga dosa pemerintah diberikan balasan yang setimpal. Untuk para aleg maupun caleg maupun calon pejabat yang masih punya nurani, ini semua menjadi PR besar untuk memperbaiki negara salah urus ini. Ayo, kita-kita hanya bisa mendukung, jangan sampai GOLPUT deh, kalo tidak jelas kita akan tambah dijajah oleh pemerintah kita sendiri yang otaknya ga tahu dipake untuk apa…. PARAAAAH…..

Pic dari sini

curhat, pernik

Kalah njago bupati jadi edan?



Parah benar wajah endonesa sekarang ya, maksudnya manusia-manusianya itu loh, terutama mereka yang amat bernafsu dengan jabatan. Walaupun aku juga orang endonesa tapi kok ya miris ya, apalagi lihat berita pagi ini di salah satu TV tentang dampak kekalahan pilkada. Seorang calon bupati yang kalah njago, jadi setengah edan. Dia udah ngeluarin duit 2 milyar lebih, digugat cerai sama istrinya, walaaahh…apa jadinya kalo dia jadi berkuasa ya? sepertinya memang sudah tabi’at manusia haus akan kekuasaan, haus akan prestise jabatan. Tidak sadar bahwa itu adalah hanyalah sebuah titipan bahkan sebuah amanah atau kepercayaan yang amat berat untuk melayani masyarakat, bukan agar dilayani.

Punya pengalaman juga ketemu pasien kayak gini, cuma skalanya lebih kecil, seorang mantan kepala desa yang anaknya ikut njago jadi kepala desa juga. Si bapak sampai masuk ke rumahsakitku karena serangan stroke saat pulang coblosan. Untung saja anaknya menang kalo engga??! mungkin udah bablas nyawanya ke akherat, innalillahi…

Jadi, mungkin wajar kali ya, kalo calon pejabat kelas teri saja bisa begitu, apalagi bila calon pejabat kelas kakap kalah njago, bila tidak mempunyai sikap mental yang baik, pasti bakal jadi gila dan kepalanya bisa meledak seketika…

Aku yakin endonesa ini tidak akan pernah beres kalo setiap orang yang njago jadi pemimpin hanya semata-mata untuk prestise, kehormatan (seperti yang dikatakan oleh salah satu pelawak yang sekarang jadi politisi senayan dan ikut njago pilkada juga). Siapa yang ga bangga kalo jadi pemimpin? ya Allah, untuk apa bangga ya, kalo cuma nanti untuk kepentingan perut dan keluarga sendiri??!

Aku yakin endonesa ini punya harapan besar untuk memperbaiki dirinya, memperbaiki manusia-manusianya. Apalagi dalam suasana menuju pemilu 2009 sembilan ini, mestinya kita bisa berpikir cerdas dan tidak semata-mata menentukan pilihan asal emosi semata, apalagi menjadi golput, sperti orang yang putus asa dan sudah apatis menjadi bangsa endonesa.

Smoga endonesa makin baik ya…
————————————————–
Pic dari sini