hobby, jalan jalan, kucing, livinginjogja, makanan, wisata

Kafe Kucing di Jogja


P60206-202134Akhirnya Jogja mempunyai kafe kucing juga. Mungkin pemiliknya terinspirasi dari kafe kucing yang sebelumnya telah ada di Jakarta dan Bandung serta negara lain seperti Jepang dan Amerika. Bagi penggemar kucing seperti saya, dan anak-anak saya, ini merupakan hiburan tersendiri, di tengah kesulitan untuk mengadopsi kucing di rumah sendiri. Selain ibu anak-anak tidak menyukai hewan berbulu ini, juga merasa kasihan karena di rumah suka tidak ada orang. Pernah kejadian anak kucing yang sempat diadopsi sama anak saya yang pertama, “melarikan” diri karena merasa mungkin ga diasuh dengan baik, meski pun makanan dan minuman dipenuhi, namun kebutuhan kucing tidak itu saja, dia butuh bermanja-manja dengan pemiliknya.

Saya beserta adik-adik saya dan ortu penggemar kucing. Pernah mempunyai 17 ekor kucing dalam waktu bersamaan. Karena punya induk 3, sekali lahiran berbarengan. Masih ingat tingkah mereka kalau lonceng makan tiba, pada balapan lari ke lokasi tempat makan disediakan. Sepertinya ini sudah menjadi kegemaran turun-temurun ya, mbah dan nenek saya pun suka memelihara banyak kucing. Nah, kafe kucing ini saya sendiri mengapresiasi karena kucingnya juga terawat dengan baik, pengunjungnya juga merasa nyaman dan tidak takut akan tertular penyakit.

Saya ingat sudah sekitar 5 kali berkunjung ke kedua kafe kucing ini. Di sini selain kita bisa berinteraksi dengan berbagai jenis kucing yang lucu-lucu dan menggemaskan, juga bisa menikmati sajian yang disediakan, terdiri dari makanan seperti sosis bakar, roti bakar, es krim, jus, kopi, susu kocok, makaroni, pisang, kue durian, dsb. Harganya lebih mahal sedikit dari jajanan di warung biasa, ya wajarlah saya kira karena butuh biaya mahal juga untuk melakukan perawatan pada kucing-kucing tersebut.

Pertama tahu ada kafe kucing karena anak saya yang pertama dapat info dari teman sekolahnya tentang kafe ini, lalu hasil browsing di internet, ketemulah alamatnya, yaitu di Miaw Shake Cat Coffee, Jalan Masjid Kuncen (area sebelah utara Pasar Klitikan), No. 25, Jogja. Bukanya dari pukul 16.00 sampai 22.00. Pertama kali ke sini memang kesannya kurang nyaman, keluar bau pesing dari kotoran kucing, AC dan lampu suka mati karena sepertinya daya listriknya ga kuat, kali berikutnya datang sudah tidak mencium bau-bau aneh, tapi listrik ya masih suka mati. Yah, maklumlah mungkin pemiliknya belum punya modal lebih untuk mencari lokasi yang lebih representatif. Satu lagi kafe kucing, berada di antara Komplek UGM dan UNY, tepatnya Jl. Bougenville (Selokan Mataram), nama kafenya Cats and Coffee. Kesannya kafe ini lebih bagus dan bersih, meski pun tempatnya juga sempit, namun variasi jenis kucingnya lebih banyak mulai dari kucing berkaki pendek yang sangat interaktif berjenis langka seperti Munchkin, kucing raksasa jenis Maine Coon, kucing tanpa bulu (benarnya ada bulu tapi tipis banget kayak karpet) yaitu jenis Sphinx, dan sisanya yang terbanyak ras Persia.

Anak-anak akan senang sekali berada di kafe ini karena juga disediakan tools untuk bermain dengan kucing. Meski pun kucing-kucing ini boleh dielus-elus, namun sangat tidak dianjurkan untuk mengangkat, meneriaki, menarik ekor, mengambil foto memakai lampu kilat, memberi makan (kalau saya kadang ngasih makan juga sih dari makanan yang dibeli, hehehe, karena kok kelihatannya ada yang masih lapar….)

Demikian saja tulisan sekilas tentang kafe kucing di Jogja. Silakan yang tertarik ke sana. Tipsnya kalau ga punya cukup uang, dari rumah sudah makan dulu yang kenyang, jadi pesan makanan dan minuman minimalis saja sebagai basa-basi. Meski pun untuk kafe di daerah Kuncen wajib memesan menu makan/minuman sejumlah orang yang masuk ke dalam kafe tersebut. Dan satu lagi, jangan lupa untuk mengabadikan momen-momen yang tak terlupakan di kafe-kafe itu ya…

Salam.

Iklan
buku, hobby, lomba blog

[Mozaik Blog Competition]: Buku itu mahal bagi saya…


Ya, buku itu mahal. Jujur harus saya akui itu, karena saya berasal dari keluarga yang biasa saja perekonomiannya, jangankan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder (bagi saya waktu itu) seperti buku bacaan, untuk buku pelajaran di sekolah saja, saya lebih sering memanfaatkan fotokopi atau mencatat ala kadarnya butir-butir penting yang saya butuhkan.

Meskipun budaya baca buku bagi saya sudah ada sejak sebelum SD, bahkan bukan hanya buku, namun setiap material yang ada tulisannya seperti label, bungkus, dan barang-barang pulungan – kebetulan saya dulu punya hobi memulung barang rongsokan, dalam artian benaran loh…, bersama teman-teman kecil saya – menjadi bahan bacaan di sela-sela waktu makan, menonton, membersihkan rumah, dan bermain.

Tidak punya uang untuk beli buku tidak menjadikan saya patah semangat untuk membaca dan menambah pengetahuan atau hanya sekedar mencari hiburan. Saat SD hampir setiap hari saya main ke rumah teman yang punya banyak koleksi majalah Bobo dan Ananda, bayangkan, sampai satu gudang gitu koleksinya.

Meskipun saya tidak pernah dilanggani majalah anak-anak oleh ortu karena memang ga ada uang, sesekali ortu tetap juga mengusahakan untuk membelikan bahan bacaan, saya ingat kami dibelikan majalah (lupa judulnya) yang isinya ada cerita si Komo dan si Musang Wangi. Senang sekali rasanya.

Saya dan teman-teman juga termasuk sering pergi ke taman baca buku di pasar dengan menyewa di tempat atau dibawa pulang. Seringnya sih membaca di tempat saja karena kalau membawa pulang lebih mahal dan juga belum tentu bisa menyelesaikan membacanya dalam waktu yang cepat. Biasanya yang saya sewa adalah komik-komik gareng dan petruk. Ini berlanjut sampai saya hobi membaca novel-novel yang lebih dewasa seperti Wiro Sableng dan komik-komik karya Hans Jaladara yang disuplai (dipinjamkan gratis) oleh teman kantor Bapak saya.

Sayang sekali hobi membaca ini menjadikan saya tidak peduli kesehatan saya, sampai SMP saya sudah kena penyakit lambung (gastritis) yang luar biasa sakitnya ketika pertama kali mengalami.

Selain itu, perpustakaan SD sering sekali saya datangi  meski pun bukan untuk melihat buku pelajaran karena saya lebih suka membaca ensiklopedia bergambar, sejarah tokoh, fenomena-fenomena sains, buku-buku membuat barang-barang aneh, trik-trik sulap, dan buku-buku elektronika. Alhasil, jadilah tambahan hobi saya waktu itu membuat prakarya (handy craft). Setiap tugas akhir membuat keterampilan di SD, saya selalu memasukkan hasil karya saya dan selalu mendapatkan nilai tinggi. Saya ingat waktu itu dari membaca buku, sejak SD saya sudah bisa membuat periskop (teropong kapal selam), lampu tidur, alarm mekanis, rangkaian elektronika sederhana seperti lampu kelap-kelip, sirene, interkom, detektor air, mobil-mobilan, perangkat-perangkat sulap, dan lain sebagainya. Buku-buku tutorial menjadi koleksi terbanyak saya pada waktu itu, meskipun cuma memfotokopi atau meminjam dari perpustakaan. O, ya, saking cintanya saya dengan buku tutorial di perpustakaan, pernah sampai penuh daftar peminjaman yang ada di belakang buku itu dengan nama saya karena sering kali dipinjam, dan juga tentu saja kasihan dengan buku itu yang sudah lecek, dan akhirnya saya perbaiki, dilem dan diberi sampul plastik atau kertas warna kulit padi.

Ketika kuliah di kedokteran, saya keder dengan harga buku yang selangit, masa’ ada buku harganya 1/2 juta sampai jutaan gitu. Dibelikan stetoskop yang bermerek saja oleh ortu, saya sudah sangat bersyukur. Tapi kalau buku saya ga sanggup. Bisa dihitung deh, seingat saya, saya cuma punya buku teks kedokteran yang asli sekitar 2 buah saja yaitu buku teks Biokimia dan Neurologi Klinis (Syaraf). Lainnya saya ga sanggup beli karena mahal. Buku anatomi bergambar asli tubuh manusia telanjang yang termahal waktu itu pun saya fotokopi terutama bagian yang saya mau pelajari saja, tidak semuanya. Untunglah ada juga teman dan kakak kelas yang bersedia meminjamkan bukunya. Jadi kesedihan tidak punya buku sedikit terobati. Saya juga waktu itu hobi sekali ngendon di perpustakaan kampus, selain buat belajar internet juga buat cari-cari buku yang bisa dibaca, disalin, atau difotokopi. Saya juga sangat terbantu dengan adanya semacam tim pencatat bahan kuliah di fakultas kedokteran yang digawangi oleh setiap angkatan, lalu bahan kuliah dicetak dalam bentuk lembaran fotokopi. Nama timnya HSC (Health Study Club).

Selama di SMA dan kuliah saya dan teman-teman hobi menyelenggarakan bazar, salah satunya bazar buku, kita mendatangi berbagai toko buku, salah satu yang sering kami datangi adalah shopping center buku di dekat pasar Beringharjo, Yogyakarta dan Toko Buku Social Agency yang belakangan saya tahu toko itu punya ortu sejawat saya, dokter di RS tempat saya bekerja. Kita melakukan penawaran menjualkan buku dengan prinsip konsinyasi. Namun keuntungan dari penjualan dari hasil konsinyasi itu kita masukkan semua untuk membiayai kegiatan ekstrakurikuler kita, bukan untuk bisnis pribadi. Tapi yang penting pada waktu itu saya dan teman-teman bisa sambil membaca ketika bazar berlangsung. Di SMA aktifitas membeli buku sangat dipengaruhi ketika saya sudah mengenal Islam melalui pengajian-pengajian. Memang buku yang saya beli sebagian besar cuma buku saku yang harganya ribuan rupiah saja. Saya ga kuat mengalokasikan uang belanja saya yang hanya cukup untuk beli mie rebus untuk beli buku-buku fikih, sirah, dan sejenisnya yang mahalnya minta ampun buat saya. Untunglah ga diminta pun guru dan teman ngaji saya hobi meminjamkan saya buku-buku mahal itu.

Hal yang memalukan sempat pula saya alami dengan tidak punya alokasi biaya untuk membeli buku ini. Seperti kejadian ditegur oleh satpam toko buku karena mencatat tulisan-tulisan yang ada pada buku yang dipajang, hahahaha…, namanya juga usaha kan… Meski pun begitu begitu saya tetap menjaga diri saya supaya tidak tergoda mencuri seperti yang dilakukan oleh oknum teman mahasiswa di fakultas saya. Banyak lembaran buku-buku mahal di perpustakaan yang dipreteli (disobek dengan rapi), tentu saja untuk mendapatkan bahan bacaan yang mereka butuhkan.

Saya akhirnya sempat merasakan bahwa buku itu mudah bagi saya untuk memperoleh dan membelinya, yaitu ketika saya mulai nyambi bekerja ketika program studi koasistensi sedang berjalan. Saya sangat dibebaskan oleh bos untuk membeli buku apa saja yang sesuai untuk pekerjaan saya waktu itu, semahal apa pun buku itu. Dan ketika mendapatkan beasiswa untuk S2 pun saya merasakan surga buku itu, semuanya gratis. Dan buku itu yang termasuk banyak menghiasi kardus dan rak di rumah. Kesadaran untuk membeli buku karena alokasi budget sudah ada, mulai rapi ketika sudah menikah. Saya ingat waktu dulu pernah memborong sekitar 10 buku tebal tentang pernikahan di bazar buku. Sekarang ini hobinya sih membelikan buku untuk anak-anak saya dan hobi membacanya lebih diarahkan membaca koleksi e-book dan surfing di dunia maya. Lebih praktis.

Diajukan untuk lomba [Mozaik Blog Competition]

bunga, hobby, tanaman

Mekarnya Bunga Matahari



Ini baru sekitar 7 cm diameternya.

Ini hasil menyemai bibit bunga matahari sisa makanan hamster, ya ga hanya bunga matahari yang tumbuh, ada kacang hijau, dan beberapa tanaman dari beberapa jenis bijian lainnya yang ga tahu namanya. Kira-kira sebulan lebih kayaknya akhirnya bunga matahari ini mekar.

Sepertinya kalau ditanam berderet akan terlihat cantik sekali, apalagi sifat bunga ini menyukai sinar matahari dan mengarahkan “wajah” mahkota bunganya senantiasa ke arah sinar matahari.

curhat, gadget, hobby, livinginjogja, pernik

Testimoni gadget – ada harga ada rupa, memang masih berlaku ya?


Seharian tadi agendaku muter-muter Jogja menyambangi berbagai macam service center. Iya, sudah banyak gadget elektronikku yang rusak. Jadi sekalian aja ditumpuk jadi satu waktu biar ga ribet.

Pertama, kamera digital Samsung 8 mega piksel yang sudah sangat berjasa lebih dari 2 tahun kepake, akhirnya rusak juga, walaupun ga total. Pengambilan gambar dengan resolusi tinggi menghasilkan rekaman gambar yang bergaris. Fungsi kamera video masih normal. Hasil googling ga menemukan secara detail penyebabnya, kemungkinan ada pada chip resolusi tingginya, dan ada yang bilang memang penyakitnya digicam Samsung seperti itu. Waduh… Padahal itu kamera ga murah-murah amat harganya, mungkin terlalu diforsir aja pemakaiannya, huahaha. Nah, kamera kesayangan ini aku bawa ke service center Samsung (katanya cuma satu-satunya di Jogja) di Jl. Godean (400 meteran barat Tugu Jogja). CS-nya bilang belum bisa dipastikan berapa lama Samsung-ku mondok di sana, karena para teknisinya pada masih libur, huaaa, aku nanti ditelpon tentang kepastian dan harga servis dan part-nya. Kalau part-nya mendekati harga kameranya, ya mending aku beli baru aja kali ya…

Kedua, DVD player merek Vitron (asli…, aku sebenarnya ketipu aja dengan merek ini, barang Cina berteknologi Jepang…? halah!) belinya dulu di Mirota Kampus, sekarang aku perhatikan udah ga ada merek itu lagi di sana. Harganya juga sebenarnya ga murah-murah amat, hampir mencapai harga 400 ribu. Hampir 1 tahun usianya. Dua bulan pertama pemakaian, power supply-nya hangus bin gosong. Mondok hampir 1 bulan. Mana nyari service center-nya susah lagi, ternyata satu atap dengan service center Sony dan JVC di daerah HOS Cokroaminoto, arah ke Bantul. Nah, pas lebaran kemarin aku cek player tersebut saat mudik karena anakku hobinya nonton VCD lagu dan film anak-anak jadi aku titipkan di rumah mertua. Eh, pas dicoba ternyata ga mau di-open tray DVD-nya. Apa elektronik atau mekaniknya yang rusak ya…, embuhlah…jadi tadi aku bawa kembali ke pusat servis Sony tersebut. Dijanjikan kira-kira 1 minggu. Sayang aja, kenapa buru-buru aku bongkar kemarin ya, sehingga agak baret casingnya dan stiker garansinya robek, karena setelah tak cek lagi, ternyata masa garansinya sisa sekitar 1 minggu lebih dikit lagi, kan lumayan tuh masih bisa gratis…

Ketiga, yang paling parah ini, HP CDMA Smartfren promo harga 350 ribu yang dibundel dengan pulsa gratis 150 ribu dan internet gratis 1 bulan, genap 1 bulan pemakaian matek total. Udah ke Mobile 8 Center di dekat fly over Janti, disuruh langsung ke service center di dekat Mirota Godean, yang ternyata service center-nya merek Vitell. Kalau software-nya yang rusak butuh waktu 3-4 hari, klo hardware-nya yang rusak butuh waktu 3 mingguan, waduh…aku tanya mba CS-nya: ga ada HP pengganti sementara? dijawab engga, trus aku mau nelpon pake apa? Karena sebenarnya Fren ini sudah cukup berjasa hampir setahun buat pake telpon-telponan dengan istri di Jakarta sana, karena memang free alias gratis. Nah, pas promo kemarin aku tukarkan HP seken yang buluk buat dapat HP Smartfren tersebut, eh, malah rusak, untung masih ada HP seken Nokia jadul…

Klo aku pikir-pikir sepertinya merek terkenal dengan harga agak mahal dikit memang lebih OK ya, dasar akunya aja dari dulu hobi beli barang murah, hehe….

Pic dari sini

hobby, internet, open source, software, tips, ubuntu

Prey – Aplikasi Pelacak Maling Laptop (Gratis)


Rating: ★★★★★
Category: Computers & Electronics
Product Type: Handheld Computers/PDAs
Manufacturer:   Fork Ltd

Sudah 2 biji laptop yang hilang dari tempat kerjaku, sebuah laptop direktur, dan sebuah laptop manajer. Ya, semuanya hilang karena kelalaian. Sebenarnya itu bisa dicegah bila kita selalu waspada dan melakukan prevensi. Misalnya dengan aplikasi antimaling atau pelacak maling.

Laptop (Notebook, Netbok, dan komputer tenteng lainnya) yang akan datang sebenarnya akan dipasang chip pendeteksi maling yang berdiri sendiri. Namun untuk sekarang pun kita bisa cukup berlega dengan memasang aplikasi anti maling seperti alarm laptop. Cara kerja umumnya adalah apabila power supply dicabut, ada gerakan mouse, atau deteksi kamera, maka speaker akan berbunyi. Aku sudah coba juga, tapi kurang responsif karena memakai yang gratisan, hehe…

Nah, kali ini aku mau promosi aplikasi yang powerful. Namanya PREY. Aplikasi pelacak maling laptop, atau kalau malingnya ga ketangkep minimal keberadaan laptop kita bisa diketahui lah….

Aplikasi ini bisa bekerja di sistem operasi Windows, Linux, dan Macintosh. Silakan download di situsnya: http://preyproject.com/

Cara kerja aplikasi ini sebagai berikut:
Bila laptop kita hilang, maka kita segera menandai di situs Prey, bahwa laptop kita itu hilang. Selanjutnya aplikasi Prey yang telah diinstal di laptop kita akan mulai bekerja, saat laptop kita dihidupkan oleh maling, dan ada koneksi internet. Secara diam-diam Prey akan mengambil foto malingnya, mencatat alamat internet, dan lokasi geografis saat internet diakses, dan melaporkan ke email kita dan situs Prey. Data ini bisa kita serahkan ke kepolisian atau ke penyedia layanan internet untuk mengetahui keberadaan laptop kita.

Memang aplikasi ini tetap punya kelemahan, bila tidak ada akses internet, dan laptop keburu diformat atau diinstal ulang sistem operasinya. Tapi berdasarkan survei hal demikian jarang terjadi, biasanya maling penasaran ingin melihat isi laptop kita, siapa tahu ada data penting atau gambar yang aneh-aneh seperti laptopnya Ariel Peterporn, hehehe, jadi buat para maling, beware about it, hehehe…

Aku sudah coba di Linux Ubuntu dan Microsoft Windows, blum coba di Macintosh. Di Ubuntu aplikasi bekerja dengan baik. Maksudku webcam-nya berhasil meng-capture wajah malingnya. Tapi di Windows kok ga bisa ya…wah ga ngerti juga….

Selain itu kita bisa mengaktifkan fungsi peringatan kepada maling, bahwa laptop ini sedang dipantau/dilacak (tapi lucu juga kalau diaktifkan, lah nanti malingnya tahu kalau dia sedang dipantau). Juga ada fungsi alarm, yang akan berbunyi bila laptop dibuka pertama kali saat mengakses internet, tapi kok ga bekerja juga ya, hehe…blum tahu juga aku sebabnya.

Aplikasi ini juga bisa “mengunci” laptop kita dari jarak jauh sehingga maling ga bisa melihat-lihat data kita, tapi ini juga sebaiknya ga usah diaktifkan, biar malingnya ga curiga kalau sedang dipantau.

Untuk masalah konektifitas internet, aplikasi ini punya keunggulan bisa konek otomatis ke internet bila ada hotspot wifi (tentu saja wifi publik ya….)

Kesimpulannya, pokoknya aplikasi ini recommended banget deh. Mencegah itu lebih baik daripada tidak sama sekali….

Bagi yang agak awam, baca tutorial instalasi aplikasi ini secara perlahan di situsnya ya…

Sebagai gambaran cara instalasi:
Pertama kita harus daftar ke situs Prey, lalu download dan instal aplikasinya, lalu lakukan konfigurasi dengan menggunakan akun pendaftaran kita, isikan dengan benar agar situs Prey bisa melakukan verifikasi laptop kita. Lalu pastikan di situs Prey bahwa laptop kita sudah diverifikasi.

curhat, hobby, livinginjogja, pernik, tanaman

Kejutan, buah semangka di teras rumah nongol juga!


Kira-kira 1 bulan ini di teras depan rumahku, tepatnya di calon taman yang ga jadi-jadi diberesin, nongol tunas daun yang mirip semangka, aku juga diberi tahu oleh tetangga depan kalo itu pohon semangka.

Hahaha, secara tamannya memang ga jadi-jadi dan ga sempat ngurusin dan nyiram, eh, tetangga depan aku perhatikan sepertinya rajin nyiramin pokok semangka itu, kelihatan setiap sore tanahnya basah oleh air, ya cuma pohon semangka itu yang disiram…

Ditambah lagi dengan beberapa hari terakhir ini sering hujan di malam hari dan paginya matahari bersinar cerah, jadinya pohon semangka tersebut lebih giat tumbuhnya.

Akhirnya kalo ga salah ingat, 3 hari yang lalu saat mau berangkat kerja, aku perhatikan udah nongol 1 biji semangka mungil, selain masih banyak calon semangka yang masih berwujud bunga.

Aku memang sering asal buang biji tanaman dari semangka, pepaya, kelenglengkeng, jambu biji, alpukat, dll, di sembarang tempat, tanah kosong di sekitar rumahku. Dulu pernah tumbuh jambu bijinya, tapi dibersihkan sama tetangga, katanya nanti malah jadi bahan rebutan anak-anak kampung kalo udah berbuah. Ya, repot juga sih, rumahku kan belum dibuatin pagar sampai sekarang dan mungkin juga tidak akan dipagar sampai nanti.

Selain semangka, yang sudah sempat kami nikmati adalah beberapa tanaman sayuran yang aku tanam dan tumbuh sendiri yaitu sayur daun katu, enak banget kalau dilodeh gitu deh…, trus ada juga daun bayam yang tumbuh subur, saking suburnya waktu itu penuh halaman depan dengan tanaman bayam berdaun lebar-lebar, sampai ibu-ibu tetangga pada “iri” dan sering minta buat disayur atau dibuat kerupuk bayam. Dan, hmmm…tentu saja aku sangat berterimakasih, karena kan aku ga bisa manfaatin semuanya, dan enaknya lagi aku juga diberi kerupuk bayam yang lezat satu kaleng penuh, hehehe…

Memang sih ada cita-cita dari dulu buat kebun tanaman sayur dan buah kecil-kecilan selain tanaman bunga yang cantik-cantik tentunya. Tapi nunggu istri dan anak kembali ke pangkuanku aja deh…

hobby, open source, ubuntu

Sekilas pengalaman menggunakan sistem operasi Linux Ubuntu



Linux Ubuntu tidak kalah cantik dengan sistem operasi berbayar lainnya, bahkan bisa menyamarkan wajah aslinya bisa kelihatan sebagai Linux Ubuntu tidak kalah cantik dengan sistem operasi berbayar lainnya, bahkan bisa menyamarkan wajah aslinya bisa keliahtan sebagai “pure” Mac dan Windows, maupun kombinasi di antaranya, seperti punyaku.

Ya, aku akhirnya kembali menginstal sistem operasi varian Linux yang paling terkenal yaitu Ubuntu. Saat ini sudah sampai pada versi 10.04 dengan nama code name Lucid Lynx. Memang penamaan rilis Ubuntu sangat unik. Versi nomor diambilkan dari tahun dan bulan rilisnya. Angka 10.04 artinya dirilis bulan April tahun 2010. Dan code name-nya diambilkan dari nama binatang langka dan ditambahi nama depan dengan sifat yang sesuai dengan binatang langka itu dan biasanya juga menyesuaikan dengan tema Ubuntu yang dirilis. Ya, hitung-hitung kita ikut berkampanye untuk melestarikan binatang langka.

Linux Ubuntu terkenal dengan kestabilannya, kebal serangan virus, aplikasi yang sangat banyak, forum pendukung yang amat banyak sehingga kalau ada masalah kita bisa mencari solusi dan akan menambah pengetahuan kita, kita bisa berkontribusi membuat aplikasinya bahkan bisa terlibat dalam proyek bergengsi, tentu saja akan mendapatkan penghasilan tambahan.

Aku sampai sekarang tetap menginstal secara dual boot, artinya masih disandingkan dengan Windows (sayang, soalnya original sih…), sekaligus untuk komparasi, dan buat jaga-jaga kalau ada yang trouble salah satunya.

Aplikasi yang sering aku pakai di Ubuntu:

– GIMP Image Editor (setara dengan Adobe Photosop), sekarang udah ga pakai Photoshop lagi, udah lumayan familiar dengan GIMP. GIMP juga bisa diinstal di Windows.

– OpenOffice (setara dengan Microsoft Office), di Ubuntu bahkan kita bisa menginstal aplikasi Windows seperti Microsoft Office. Aku masih pakai juga Microsoft Office bajakan, secara terus terang OpenOffice masih ada yang ga kompatibel dengan Microsoft Office. Tapi kalau untuk penggunaan sederhana OpenOffice sangat OK-lah. OpenOffice juga bisa diinstal di Windows.

– KeePassX, baik di Windows maupun di Ubuntu, aku pakai aplikasi gratis yang sangat membantu ini, yaitu untuk menyimpan berbagai macam dokumen penting seperti password, alamat, nomor KTP, CC, ATM, No. Rek., dan sebagainya. Selain sangat aman bisa juga disinkronisasi secara online dan otomatisasi input data ke website (autotyping). Bisa juga dipakai di perangkat mobil seperti HP loh…

– Berbagai macam aplikasi untuk dokumen PDF. Ada software untuk memodifikasi dokumen PDF seperti penambahan, ekstraksi, notasi, dan lain-lain. Sangat membantu. Salah satu yang powerfull adalah PDF Mod dan Foxit.

– JabRef, semacam aplikasi reference manager untuk kita yang sering melakukan penelitian dan pembuatan karya ilmiah, gunanya untuk mendokumentasikan sitasi atau referensi seperti artikel, buku, dan sebagainya. JabRef juga bisa diinstal di Windows.

– Berbagai macam aplikasi browser internet seperti Firefox, Chrome, Konqueror, Midori.

– Thunderbird, email client gratis dari Mozilla yang powerfull buat buka POP Mail seperti GoogleMail dan RSS dari berbagai blog dan news, mirip dengan Outlook. Kalau yang mau mirip lagi bisa pakai Evolution bawaan Ubuntu. Thunderbird juga bisa diinstal di Windows.

– Dan banyak lagi, ga cukup kalau dituliskan di sini semua 🙂

O, iya, game-game di Ubuntu ternyata tidak kalah menarik dengan yang di Windows, ada yang 3D, permainan anak-anak, edukasi, simulasi, strategi, pokoknya lengkap deh… Bahkan game di Windows pun bisa diinstal di Ubuntu!

Bagi yang suka aplikasi religius, Ubuntu banyak sekali menyediakan aplikasi religius yang OK punya.

Bagi yang suka jahil, hacking, dsb, wah lebih afdol lagi, banyak tuh aplikasinya di Ubuntu. Hehehe….bocoran aja, sampai sekarang aku masih pakai aplikasi tersebut, pernah juga iseng di salah satu kantor pelayanan pemerintah dengan memblokir hotspotnya. Apa yang terjadi? aku lihat para pegawainya pada panik dan heran kok internetnya down, padahal aku masih bisa pakai… iseng aja sih, ya hitung-hitung mereka mau introspeksilah tentang kelemahan jaringan internet mereka, itu kalau mereka ngerti.

Kelebihan lain dari Ubuntu: bisa dijalankan dari USB Flash Disk, HDD Eksternal, CD/DVD, dan perangkat penyimpan bergerak lainnya secara mandiri (live), tanpa menginstalnya. Jadi kalau butuh buat demo, mencoba-coba, buat jaga-jaga kalau komputer/laptop lagi error, bisa menggunakan modul mandiri ini (live CD, misalnya)

Aku menginstal Ubuntu ke netbook menggunakan USB Flash Disk karena kan ga ada CD ROM driver-nya.

Selain itu Ubuntu juga bisa diinstal di Windows loh, seperti aplikasi windows lainnya, jadi bukan dual boot murni, sehingga nanti bisa kita uninstall dengan mudah.

Rekomendasi bacaan:

Baca-baca tentang code name Ubuntu yang lucu-lucu: http://love4live.com/2010/05/ubuntu-10-10-maverick-meerkat-seputar-ubuntu-code-name-version/

Baca-baca tentang Ubuntu dan bila mau mengunduh di situsnya:
http://www.ubuntu.com/

hobby, internet

Akhirnya bisa Ngempi lagi :-)


Senang banget udah bisa online lagi, barusan minggu kemaren dapat acc langganan internet mobile. Jadi bisa online terus nih  cuma…. secara udah lumayan lama puasa internet, jadi rada “buas” make bandwidth-nya .

Mudah-mudahan bisa lebih produktif dan meningkat multitaskingnya…

Pic: lagi melototin monitor saat online

hobby, livinginjogja

SAKAW – Kangen ama MP!!


Udah sebulan lebih (sejak 18 Oktober) ga posting dan ga blog walking di MP….hhhhhhhh….kangen berat (sebenarnya) . Bukan apa-apa sih..hanya sekedar mau rileks dan melepaskan sejenak perilaku internet abuse-ku (dalam artian positif loh…).

Sementara ini lebih sering diarahkan untuk melototin jurnal-jurnal ilmiah . Yah, apa mau dikata…memang  yang namanya withdrawal syndrome untuk per-internetan apalagi per-blogging-an, apalageeh per-MP-an  ternyata ga jauh beda kalo kita melakukan drugs abuse (mungkin kali yah…habis belum pernah nyoba…hahaha). Menghentikan secara mendadak hanya akan mengakibatkan efek yang lebih buruk, alih-alih mau tobat, malah makin terjerumus hahaha….maka dengan itu, aku berusahalah demi masa depan yang lebih baik, ceileee.. berupaya dikit demi sedikit mengurangi konsumsi aktifitas nge-net… yah kalo ga bisa-bisa amat, paling aku cobalah untuk substitusi, seperti halnya kalo meng-konsumsi heroin disubstitusi dengan metadon.

Mumpung lagi sakaw gini, jadilah harus posting-posting yang ga penting (yang penting sakaw terobati..hahaha…)

Rencana ke depan mau posting foto-foto lawas dan foto-foto jepretan hp jelekku. Pengen juga ntar posting cerita tentang seputar cerita-cerita kehamilan istri serta melanjutkan tulisan tengang Jogja Under Cover Versi-ku. O, iya, ada juga beberapa PR jurnal pesanan teman-teman yang juga harus diposting…sabar yah… Ah, apa lagi yah, ya nanti aja kalo sedang terpikir dan sakaw-nya kambuh lagi…


Note: karena lagi nge-tren artis kita yang ketangkep karena narkoba, so jadi ikut-ikutan juga nih…hanya sebuah analogi 

Pic di-link dari http://www.techtoons.com/images/programmer.gif