buku, hobby, lomba blog

[Mozaik Blog Competition]: Buku itu mahal bagi saya…


Ya, buku itu mahal. Jujur harus saya akui itu, karena saya berasal dari keluarga yang biasa saja perekonomiannya, jangankan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder (bagi saya waktu itu) seperti buku bacaan, untuk buku pelajaran di sekolah saja, saya lebih sering memanfaatkan fotokopi atau mencatat ala kadarnya butir-butir penting yang saya butuhkan.

Meskipun budaya baca buku bagi saya sudah ada sejak sebelum SD, bahkan bukan hanya buku, namun setiap material yang ada tulisannya seperti label, bungkus, dan barang-barang pulungan – kebetulan saya dulu punya hobi memulung barang rongsokan, dalam artian benaran loh…, bersama teman-teman kecil saya – menjadi bahan bacaan di sela-sela waktu makan, menonton, membersihkan rumah, dan bermain.

Tidak punya uang untuk beli buku tidak menjadikan saya patah semangat untuk membaca dan menambah pengetahuan atau hanya sekedar mencari hiburan. Saat SD hampir setiap hari saya main ke rumah teman yang punya banyak koleksi majalah Bobo dan Ananda, bayangkan, sampai satu gudang gitu koleksinya.

Meskipun saya tidak pernah dilanggani majalah anak-anak oleh ortu karena memang ga ada uang, sesekali ortu tetap juga mengusahakan untuk membelikan bahan bacaan, saya ingat kami dibelikan majalah (lupa judulnya) yang isinya ada cerita si Komo dan si Musang Wangi. Senang sekali rasanya.

Saya dan teman-teman juga termasuk sering pergi ke taman baca buku di pasar dengan menyewa di tempat atau dibawa pulang. Seringnya sih membaca di tempat saja karena kalau membawa pulang lebih mahal dan juga belum tentu bisa menyelesaikan membacanya dalam waktu yang cepat. Biasanya yang saya sewa adalah komik-komik gareng dan petruk. Ini berlanjut sampai saya hobi membaca novel-novel yang lebih dewasa seperti Wiro Sableng dan komik-komik karya Hans Jaladara yang disuplai (dipinjamkan gratis) oleh teman kantor Bapak saya.

Sayang sekali hobi membaca ini menjadikan saya tidak peduli kesehatan saya, sampai SMP saya sudah kena penyakit lambung (gastritis) yang luar biasa sakitnya ketika pertama kali mengalami.

Selain itu, perpustakaan SD sering sekali saya datangi  meski pun bukan untuk melihat buku pelajaran karena saya lebih suka membaca ensiklopedia bergambar, sejarah tokoh, fenomena-fenomena sains, buku-buku membuat barang-barang aneh, trik-trik sulap, dan buku-buku elektronika. Alhasil, jadilah tambahan hobi saya waktu itu membuat prakarya (handy craft). Setiap tugas akhir membuat keterampilan di SD, saya selalu memasukkan hasil karya saya dan selalu mendapatkan nilai tinggi. Saya ingat waktu itu dari membaca buku, sejak SD saya sudah bisa membuat periskop (teropong kapal selam), lampu tidur, alarm mekanis, rangkaian elektronika sederhana seperti lampu kelap-kelip, sirene, interkom, detektor air, mobil-mobilan, perangkat-perangkat sulap, dan lain sebagainya. Buku-buku tutorial menjadi koleksi terbanyak saya pada waktu itu, meskipun cuma memfotokopi atau meminjam dari perpustakaan. O, ya, saking cintanya saya dengan buku tutorial di perpustakaan, pernah sampai penuh daftar peminjaman yang ada di belakang buku itu dengan nama saya karena sering kali dipinjam, dan juga tentu saja kasihan dengan buku itu yang sudah lecek, dan akhirnya saya perbaiki, dilem dan diberi sampul plastik atau kertas warna kulit padi.

Ketika kuliah di kedokteran, saya keder dengan harga buku yang selangit, masa’ ada buku harganya 1/2 juta sampai jutaan gitu. Dibelikan stetoskop yang bermerek saja oleh ortu, saya sudah sangat bersyukur. Tapi kalau buku saya ga sanggup. Bisa dihitung deh, seingat saya, saya cuma punya buku teks kedokteran yang asli sekitar 2 buah saja yaitu buku teks Biokimia dan Neurologi Klinis (Syaraf). Lainnya saya ga sanggup beli karena mahal. Buku anatomi bergambar asli tubuh manusia telanjang yang termahal waktu itu pun saya fotokopi terutama bagian yang saya mau pelajari saja, tidak semuanya. Untunglah ada juga teman dan kakak kelas yang bersedia meminjamkan bukunya. Jadi kesedihan tidak punya buku sedikit terobati. Saya juga waktu itu hobi sekali ngendon di perpustakaan kampus, selain buat belajar internet juga buat cari-cari buku yang bisa dibaca, disalin, atau difotokopi. Saya juga sangat terbantu dengan adanya semacam tim pencatat bahan kuliah di fakultas kedokteran yang digawangi oleh setiap angkatan, lalu bahan kuliah dicetak dalam bentuk lembaran fotokopi. Nama timnya HSC (Health Study Club).

Selama di SMA dan kuliah saya dan teman-teman hobi menyelenggarakan bazar, salah satunya bazar buku, kita mendatangi berbagai toko buku, salah satu yang sering kami datangi adalah shopping center buku di dekat pasar Beringharjo, Yogyakarta dan Toko Buku Social Agency yang belakangan saya tahu toko itu punya ortu sejawat saya, dokter di RS tempat saya bekerja. Kita melakukan penawaran menjualkan buku dengan prinsip konsinyasi. Namun keuntungan dari penjualan dari hasil konsinyasi itu kita masukkan semua untuk membiayai kegiatan ekstrakurikuler kita, bukan untuk bisnis pribadi. Tapi yang penting pada waktu itu saya dan teman-teman bisa sambil membaca ketika bazar berlangsung. Di SMA aktifitas membeli buku sangat dipengaruhi ketika saya sudah mengenal Islam melalui pengajian-pengajian. Memang buku yang saya beli sebagian besar cuma buku saku yang harganya ribuan rupiah saja. Saya ga kuat mengalokasikan uang belanja saya yang hanya cukup untuk beli mie rebus untuk beli buku-buku fikih, sirah, dan sejenisnya yang mahalnya minta ampun buat saya. Untunglah ga diminta pun guru dan teman ngaji saya hobi meminjamkan saya buku-buku mahal itu.

Hal yang memalukan sempat pula saya alami dengan tidak punya alokasi biaya untuk membeli buku ini. Seperti kejadian ditegur oleh satpam toko buku karena mencatat tulisan-tulisan yang ada pada buku yang dipajang, hahahaha…, namanya juga usaha kan… Meski pun begitu begitu saya tetap menjaga diri saya supaya tidak tergoda mencuri seperti yang dilakukan oleh oknum teman mahasiswa di fakultas saya. Banyak lembaran buku-buku mahal di perpustakaan yang dipreteli (disobek dengan rapi), tentu saja untuk mendapatkan bahan bacaan yang mereka butuhkan.

Saya akhirnya sempat merasakan bahwa buku itu mudah bagi saya untuk memperoleh dan membelinya, yaitu ketika saya mulai nyambi bekerja ketika program studi koasistensi sedang berjalan. Saya sangat dibebaskan oleh bos untuk membeli buku apa saja yang sesuai untuk pekerjaan saya waktu itu, semahal apa pun buku itu. Dan ketika mendapatkan beasiswa untuk S2 pun saya merasakan surga buku itu, semuanya gratis. Dan buku itu yang termasuk banyak menghiasi kardus dan rak di rumah. Kesadaran untuk membeli buku karena alokasi budget sudah ada, mulai rapi ketika sudah menikah. Saya ingat waktu dulu pernah memborong sekitar 10 buku tebal tentang pernikahan di bazar buku. Sekarang ini hobinya sih membelikan buku untuk anak-anak saya dan hobi membacanya lebih diarahkan membaca koleksi e-book dan surfing di dunia maya. Lebih praktis.

Diajukan untuk lomba [Mozaik Blog Competition]

lomba blog

Mau ikut lomba blog lagi, tapi…. :-(


Bagi pelanggan kartu Si***ti (Tel****el), beberapa hari ini pasti mendapatkan tampilan pengumuman lomba blog ketika mengecek sisa pulsa melalui *888#: Ikuti Mobile Blogging Competition, daftar ke www.mypulau.com.

Aku tertarik juga, jadilah meluncur ke website tersebut. Tapi kok ketika baca di sini, jadi kehilangan selera buat ikutan. Masih bermain di sekitar judi terselubung via SMS dan MMS kah? Wallahu a’lam, yang jelas pihak penyelenggara hanya menentukan pemenang dari undian dengan modal besar-besaran pengumpulan poin dari SMS dan MMS yang dikirimkan.

Gimana nih, kok masih membodohi para pelanggan toh? 😦

pic was modified from here

livinginjogja, lomba blog

Blog MP-ku masuk nominasi terbaik!!


Tadi iseng-iseng buka MP, eh ada hetsot panitia lomba blog JRC…. Trus ku buka blog panitia dan official site JRC. Pengen juga ngobrol ama panitianya via YM.

Waaahh, alhamdulillah, ternyata blog-ku masuk nominasi terbaik…ga percaya buka aja di sini

Berikut arsip chat-ku dengan id panitia:

Widodo Wirawan: Halo….
lombablog: ya?
Widodo Wirawan: makasih udah maen-maen ke blog-ku…

lombablog:
lombablog:
lombablog: maen2nya harus tuh
Widodo Wirawan: ebat yah promosi websitenya lewat lomba blog…
Widodo Wirawan: pdhal hadiahnya ga mahal-mahal amat….
lombablog: oh ya?
lombablog: ini sebenarnya bagian dari kecintaan pada jogja kok
lombablog: tema lomba-nya kan LIJ?
lombablog: tahu drmn hadiahnya gak mahaL?
lombablog:
Widodo Wirawan: klo hadiahnya rumah…wah bisa semangat banget ikutnya…
lombablog: oohh
lombablog:
lombablog: jadi sekarang gak semangat ya?
Widodo Wirawan: yeee….
Widodo Wirawan: ntar klo merek hadiahnya ga disebutin, penonton…eh pelomba blog yg menag bisa kecewa…
lombablog:
lombablog: itu artinya mereka hanya mengharapkan hadiah
lombablog: bukan menghargai jogja
lombablog:

lombablog: dijamin gak bakalan kecewa deh
Widodo Wirawan: loh….kan lomba…ya mengharapkan hadiah dong….
Widodo Wirawan: menghargai jogjanya kan ngikut….
lombablog:
Widodo Wirawan: kebalik…hehehe
lombablog: kami sudah bisa memperkirakan hal tsb
lombablog: jadi itulah gunanya BLOG WALKING yg kami lakukan
lombablog: dari postingan peserta kami tahu
lombablog: mana sih yg HANYA mengharapkan hadiah
lombablog: mana sih yg peduli dengan JOGJA
Widodo Wirawan: gitu ya…
lombablog: kelihatan kok, mana aja yg sekedar ikut2an
Widodo Wirawan: lah, aslinya kan yg mbuat blog itu memang senang menulis…
lombablog: coba aja deh blog walking di para peserta lomba
lombablog: ntar bisa menilai sendiri
Widodo Wirawan: klo yg hanya ikut-ikutan, biasanya blognya kan masih perawan gitu, alis masih blank…
lombablog: gak juga
lombablog: ada yg sekedar kopi pes, u/ ngisi postingan, berharap udah ada artrikel yg bisa dinilai
lombablog:
Widodo Wirawan: eh, ada info tanah murah ga di jogja?
Widodo Wirawan: pengen beli nih….
lombablog: lagian yg akan jadi juri, sebenarnya adalah para peserta dan para blogwalker
lombablog: hmm..
lombablog: masalah tanah saat ini pihak marketing JRC lagi istirahat siang
lombablog: mungkin nunggu kali ya..
Widodo Wirawan: ooo, ya gpp…
lombablog: biar bisa kontak langsung dgn marketing-nya
Widodo Wirawan: klo lewat JRC kok mahal amat yah?
lombablog: maksudnya?
lombablog: JRC tidak julaan rumah kok
lombablog: hanya informasi ttg perumahan jogja
Widodo Wirawan: contohnya ini: http://www.jogjarumahku.com/perumahan/ibu_hermini/index.php
Widodo Wirawan:
Widodo Wirawan: kan udah laku ya…
lombablog: belum kayaknya
lombablog: itu rumah type 36 tapi udah lantai 2
Widodo Wirawan:
lombablog: mungkin lokasi kali
Widodo Wirawan: wong aku tinggal disebelahnya kok….
lombablog: yg paling ngerti marketing-nya
Widodo Wirawan:
lombablog: saya hanya panitia lomba blog
Widodo Wirawan: gpp
Widodo Wirawan: kok ketentuannya berubah? POINT yang anda dapatkan dari link peserta adalah banyaknya pengunjung Blog anda yang meng-klik banner Lomba BLOG JRC. Diakhir periode ini bagi peserta lomba blog dengan jumlah klik terbanyak akan mendapatkan ‘bingkisan menarik’ dari JRC
lombablog: hmm sudah dibilang yg jadi juri bukan hanya kami tapi juga peserta dan pengunjung blog
lombablog: ketentuan bukan berubah, tapi mengalami updating karena masukan dari peserta
Widodo Wirawan: eh terntara blogku terbaik kedua bulan Juni ya… kok bisa sih…gimana nih sebenarnya poin2nya?
lombablog:
Widodo Wirawan: terntara=ternyata
lombablog: ya dibaca dunk
Widodo Wirawan: wah, iya klo ini sangat transparan, dibanding sebelumnya….
Widodo Wirawan: walaupun ga dapet kaos…senang juga sih, bisa jadi masuk yg terbaik…
lombablog: kami berusaha se-obyektif mungkin
lombablog: cuman tetep aja kami mohon maaf jika  masihsaja  ada kekurangan disana-sini
lombablog: karena rencananya ini akan jadi event tahunan
Widodo Wirawan: gpp, namanya juga baru tahun pertama kan…kayaknya memang harus tiap tahon nih lombanya….
lombablog: yup
lombablog: tapi tema-nya akan berubah
Widodo Wirawan: hadiahnya juga dong… rumah getoh…
lombablog: jangan salah HP-nya bisa untuk dapetin rumah kok
Widodo Wirawan: ga tergodaa….kan aku ga mengharapkan hadiah…halahh…
lombablog:
Widodo Wirawan: udah ya, maksih banyak loh mba/mas…aku mo kerja lagi…

Ayo….teman-teman MP yg belum daftar lomba blog di JRC, aku rekomendasikan ikut deh, ya, buat ngeramein lah.