alat bantu dengar, deafness, hearing impairment, istri, pernik, tunarungu

Recharge…


Kiri: Nadifa, Kanan: Ifa
Kiri: Nadifa, Kanan: Ifa

Sekian bulan lamanya saya tidak menulis di blog ini. Bahkan setelah melewati tahun pun belum terisi lagi blog ini. Jelas ada banyak rasa yang hilang. Kalau dibilang tidak sempat rasanya tidak juga, mungkin hanya rasa malas dan semakin banyaknya distraksi, hal-hal lain yang simpel, menarik, seperti aktifitas chat di grup-grup smartphone. Rasanya menulis di blog bukan menjadi sebuah kenikmatan dan bukan menjadi bentuk refreshing lagi. Mesti ini harus didobrak dengan segenap usaha. Salah satunya dengan mengisi lagi dengan tulisan ini. Saya tidak ingin otak penuh dengan ide-ide yang dibiarkan membusuk saja.

Kalau berbicara ide, tentu banyak sekali yang terlintas, meski pun gadget sudah super canggih, namun tak berdaya juga untuk menuangkannya dalam blog ini. Semoga kali ini berhasil 😀

Sebenarnya, banyak sekali hal menarik yang saya temui ketika saya vakum dalam kegiatan menulis di blog beberapa bulan ini. Selain fokus terbesar ada di tempat kerja, saya bersama istri juga masih intens berkutat dengan anak-anak. Dan itu penuh dengan cerita-cerita yang amat layak dibagi di blog ini. Bagaimana pun blog ini lebih abadi bagi saya dibanding dengan grup-grup media sosial dan di smartphone yang gampang hilang begitu saja.

Baiklah, mengawali lagi, saya ingin cerita saja tentang perkembangan dalam kehidupan keseharian saya dan keluarga. Tidak usahlah dulu membahas masalah kerjaan yang sudah cukup rumit dan memakan waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya. Sudah cukup pusing. Maka, saya akan kembalikan dulu blog ini sebagai awalan untuk memotivasi diri kembali untuk menulis sebagai wadah refreshing dan memory reminding.

Ceritanya, anak-anak saya sekarang sudah mulai memasuki masa-masa akhir balita. Eh tidak…, malah yang pertama, sudah lewat masa balita dan sebentar lagi sudah mau sekolah di SD, sudah diterima di sebuah SD. Tinggal menghitung bulan wisudanya di TK. Waktu terasa cepat saja berlalu, terbukti juga anak kedua, tahu-tahu sudah jadi pretty little girl yang semakin memerlukan perhatian lebih. Sampai kita rembukan lama, istri saya bertekad mengajukan cuti di luar tanggungan negara untuk mendampingi anak kedua yang spesial ini. Saya dukung penuh dan berharap bisa berjalan lancar permohonannya. I love you full, Yang…

O, ya, kedua anak saya ini sekarang sudah pintar berenang. Ya, karena memang kita kursuskan renang. Putri pertama yang ceriwis awalnya kursus privat sebelum akhirnya masuk klub renang, dan sudah sempat mendapatkan penghargaan dari sebuah lomba renang. We proud of you, girl! Putri kedua sudah bisa berenang gaya marinir melalui privat dengan 2 guru sekaligus, atau lebih tepatnya gaya anjing, hahaha… iya, gaya renang dengan kepala yang tidak menyelup ke air dan kedua tangan mengayuh di bawah permukaan air. Dan itu sudah berani dia lakukan di tempat dalam. Salut kepada para pelatihnya yang penuhdengan inovasi.

Kedua putri saya ini juga sudah tidak mengompol lagi ketika tidur di malam hari. Ibunya pintar membuat strategi bagaimana bisa berhasil tidak mengompol lagi. Jelas, biaya diaper semakin tertekan, termasuk biaya susu yang awalnya luar biasa besar, sekarang sudah jauh berkurang. Biaya terberat sekarang adalah biaya pendidikan, terapi, dan perlengkapan bantu mendengar untuk putri saya yang kedua. Di kedua telinganya sekarang masih bergantung alat bantu dengar yang harganya melebihi anting-anting dan harga motor. Tapi saya senang dengan perkembangan kemauan belajar, konsentrasi dan daya juang anak kedua saya ini. Sehingga, khusus dia, sudah lama saya buatkan akun facebook. Tempat mendokumentasikan dan berbagi. Padahal saya sendiri malas bermain facebook, karena memang sudah saya matikan lama sekali facebook saya itu.

Nah, gara-gara anak saya yang kedua ini saya juga akhirnya terpaksa terjun ke dunia facebook kembali dan bergabung di dalam grup-grup yang berhubungan dengan ke-spesial-an anak kedua saya ini. Takdir pun membawa ke dunia pergaulan baru, dunia difabel, saya terlibat secara online dan offline dengan komunitas difabel. Senang sekali rasanya bertemu dengan komunitas baru ini. Ada peningkatan rasa empati, kemanusiaan, sensitifitas dalam diri, di samping rasa “sensi” yang semakin meningkat juga. Iya, sensi bila ada orang yang masih merendahkan kaum difabel.

Demikian saja yang bisa saya tulis di siang hari ini sebelum menyantap ransum di tempat kerja. Saya berdoa untuk diri saya agar tetap terjaga motivasinya, buat mengisi blog ini. Aamiin.

curhat, istri, kesehatan, penyakit

Puasa pertama ga fit deh…


Kondisi puasa hari pertama ini, aku ga begitu fit, secara baru pemulihan sakit sejak dari Jakarta, menengok anak istri. Ya, Jumat kemarin aku ke Jakarta naik Progo dan syukurnya tidak kebagian tempat duduk, jadi lesehan di depan toilet bergerombolan dengan penumpang lain. Baru kali ini naik Progo seru banget. Nanti aku ceritakan di jurnal lain ya.

Kali ini aku cerita tentang kondisi yang ga fit dan agenda di Jakarta kemarin dulu. Iya, Jakarta beberapa hari kemarin cuacanya agak aneh, ujan panas ga jelas, malam dan dini harinya dingin banget, mana Ahad malamnya ada acara pengajian menyambut puasa lagi, dan oleh warga sekitar dipaksa ikut serta, sambil kedinginan dan batuk batuk, ga betah sama sekali nyimak acaranya yang hanya berisi kata-kata sambutan, dan sampai-sampai makanannya pun ga aku sentuh, walau pun sudah dibawain istri ke rumah, itu soto Lamongan nganggur basi sampai pagi. Ya, puncak sakitku Ahad malam dan dini harinya.

Harusnya pulang ke Jogja Senin sore, eh, badan ga bisa diajak kompromi, masih goyang buat berdiri dan masih keringatan dingin gitu. Ya, udah, aku izin ke atasan ga pulang dulu sampai agak fit dikitlah. Ya, walau pun masih sakit, Senin itu aku paksakan juga untuk ngajak istri ke RS Fatmawati buat imunisasi Nadif dan mengkonsultasikan masalah tumbuh kembangnya. Secara hari Sabtu sore seputaran Ragunan hujan lebat dan hari Ahadnya aku nemanin istri belanja ke Pejaten Village, dan di sana kami hampir kena tipu sales kompor ga jelas, nanti aku ceritakan juga deh. OK, di Fatmawati, kami ke Klinik Griya Husada, poliklinik eksekutif, semacam sayap bisnisnya RS Fatmawati kali ya. Ternyata cukup memuaskanlah, apalagi dokter anaknya komunikatif dan ga galak. Sukses juga akhirnya buat meriksain anak yang sudah direncanakan cukup lama.

Selain mengobati rasa kangen ke anak istri dan meriksain Nadif, juga ada keperluan melakukan vaksinasi Hepatitis yang kedua buat istri dan suntik KB 3 bulanan, hehe… ya itung-itung menghematlah bawa vaksin sendiri dari tempat kerja.

OK-lah, aku sudah puas dengan agenda yang tuntas walau pun badan ga bisa terlalu kompromi. Selasa pagi, aku pulang ke Jogja pake Taksaka biar agak “nyaman” dikiiit…alhamdulillah nyampe rumah pas azan Isya setelah nyambung pake Trans Jogja yang alon-alon asal kelakon, dan sudah masuk bulan Ramadlan hari pertama ternyata. Marhaban ya Ramadlan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman muslim, semoga menjadi semakin sehat dan bersih dengan berpuasa.

bayi, doa, dokter, istri

Dambaan hati itu telah lahir…


Alhamdulillah, tlah lahir normal puteri pertama kami, Senin 16 06 08 pkl.01.23 di RSIY Kalasan Sleman, BB 2650 g, P 48 cm. Mhn doa agar jadi anak shalih (Dodo & Iin)

Begitu pesan singkat yang aku kirimkan ke sebagian besar nomor kontak di phonebook HP-ku. Terus terang ga sabar ketika harus menunggu subuh untuk menyampaikan berita gembira ini. Banyak balasan diiringi doa-doa berharga bahkan dari mereka yang tak menerima sms-ku karena kebetulan tidak terdaftar di phonebook. Terima kasih atas semua dukungan dan doa yang diberikan kepada kami selama ini… semoga mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah.

Ingin kilas balik sejenak, mengenang detik-detik kelahiran sang buah hati…

Istri mulai mengeluarkan lendir darah pada Jumat, 13 Juni 2008, Hari Perkiraan Lahir (HPL) bayi jatuh pada Hari Ahad 15 Juni 2008. Mules-mulesnya sih belum, tapi khawatir aja… makanya langsung aku bawa ke rumahsakit tempat biasanya istri ANC (antenatal care=perawatan sebelum lahir). Di periksa di UGD, ternyata mulut rahimnya masih pembukaan 1 cm. Ditawarkan nginap sih, tapi istri lebih nyaman di rumah kata, ya udah… kita pulang lagi ke rumah.

Sabtu udah mulai mules-mules, tapi kontraksi rahim belum teratur dan masih lemah. Aku sarankan untuk relaksasi saja, istri merasa lebih nyaman kalau tiduran sambil duduk di kursi. Ahad sore udah mulai meningkat lagi kontraksinya, sampai mengaduh-aduh, aku hitung lama dan interval antar kontraksi juga belum teratur. Ga tega juga lihat istri, tapi ya aku berusaha memberikan saran dengan teori-teori yang aku ketahui. Pas aku lagi dinas jaga, sepertinya sudah lebih parah sakitnya. Memang sih istri sendirian di rumah, kasihan juga kan, ga ada tempat berkeluh kesah  yaa, risiko kalau udah gini, keluarga jauh semua dan waktunya pada belum bisa. Kebetulan kakak ipar bisa datang dengan satu bibi yang akan membantu, tapi baru bisa nyampe sekitar waktu maghrib. Melalui telepon aku saranin istri melakukan posisi seperti sujud, menumpu pada kedua lutut dan lengan, sambil dibuka lebar antar lengan dan pahanya. Aku minta lakukan selama 30 menit, alhamdulillah bisa berkurang sakitnya. Pukul 21 aku selesai dinas, langsung cabut ke rumah, belum sampe rumah udah ditelepon istri: bisa pesan taksi sekarang ga? Posisi di mana? Aku katakan sedikit lagi nyampe rumah… kebetulan sebelum pulang dinas aku beli gel pelumas dan sarung tangan untuk periksa dalam, memantau sejauh mana pembukaan mulut rahim istri. Kebetulan kakak ipar juga udah nyampe dan membawa pesananku: Doppler (alat untuk mengetahui dan menghitung denyut jantung janin) dan stetoskop janin. Langsung aja aku cek denyut jantung calon bayi kami, Alhamdulillah masih normal berkisar 140-an kali permenit. Terus aku periksa dalam. Wah…ternyata sudah pembukaan 4-5 cm. Tanpa pikir panjang (belum sempat ganti baju, apalagi mandi… hehehe) aku langsung cari taksi, untung ada pangkalan taksi di Hotel Hyatt, dan dekat dari rumah. Sekitar pukul 22.30 kami nyampe di rumahsakit. Langsung masuk ruang observasi persalinan (VK). Diperiksa sama bidan, eh… udah pembukaan 6 cm. Ga tega banget lihat istri kesakitan gitu, sampai bergetar badannya menahan sakit, tapi istriku ga teriak-teriak, cuma ekspresinya menggambarkan kesakitan sekali. Ya, aku sambil menemani istri dikabari kalau dokter kandungannya sebentar lagi datang (sekitar 1 jam, dengan perkiraan sudah pembukaan lengkap). Sekitar pukul 00, Senin 16 Juni 2008 sudah lengkap pembukaannya. Istri kemudian dipimpin oleh dokter untuk mengejan. Bu dokternya memintaku membantunya, walah… padahal mau mendokumentasikan keluarnya sang jabang bayi, hehehe… ya udah pake sarung tangan dan langsung ikut turun tangan. Lumayan lama mengejan, berulang kali, sekali-sekali istri diberi minum dan dipompa semangatnya. Alhamdulillah pukul 01.23, bayi kami lahir. Sesuai hasil USG, jenis kelaminnya perempuan, mungil banget, beratnya 2650 gram (kalau dari USG terakhir: 2900 gram, tapi masih BBLC (Berat Bayi Lahir Cukup) kok… ternyata plasentanya juga kecil, jadi wajar saja penyaluran nutrisi dari ibu ke bayi juga sedikit…

OK, sekarang cerita dikit tentang bayinya ya. Subhanallahu, aku sampai sekarang masih merasa takjub punya bayi yang mungil dan cantik begini…hhhhh….gemes…tapi rada-rada khawatir waktu pertama kali menimangnya. Maklumlah… baru jadi bapak baru sih… J. Kalo aku perhatikan sih rada-rada mirip aku gitu… hahaha… ya iyalah…

Selasa sore setelah imunisasi BCG (waktu lahir langsung diimunisasi Hepatitis B), kami pulang dari rumahsakit, wah… tetap lebih enak di rumah, si bayi lebih tenang kayaknya. Kata orang repot kalau bayi masih baru gigi, memang sih, tapi kan semua itu hilang dengan rasa bahagia yang amat sangat…

Walau ga cuti kerja aku sempatkan sebisaku membantu mengasuh si bayi mungil kami, sudah mulai diperkenalkan ke tetangga, dijemur, minumin susu. Yah, si bayi akhirnya “dipaksa” minum formula (ini juga berdasarkan petunjuk dokter anaknya), karena ibunya belum juga bisa mengeluarkan ASI secara adekuat (kolostrum udah keluar, tapi mandek lagi…). Sayang ga dapat asupan energi kalau cuma diminumin air putih saja. Ya, mau gimana lagi. Tapi aku motivasi terus istri untuk tetap meneteki bayi untuk lebih menstimulasi produksi ASI, selain itu juga diberi obat perangsang produksi ASI. Hari pertama kelahiran si bayi aku tahnik-kan (salah satu sunnah nabi) dengan madu (ga sempat cari kurma). Mengganti popok juga udah, kalau memandikan belum sih… hehehe, maklumlah masih berbagi tugas.

Kalo ditanya siapa namanya, wah…nunggu aqiqahnya saja ya…masih dicari-cari nih yang cocok dan tentu saja baik bagi si bayi lah… ditunggu ya. “Ya rabb kami, jadikanlah bayi kami menjadi penyejuk mata bagi kami dalam mengarungi kehidupan dunia ini dan menjadi penambah pahala kami di akhirat nanti… serta jadikan ia orang yang berguna bagi umat manusia… amiiin ya rabbal ‘aalamiin…”

Foto-foto selengkapnya (klik aja)

bayi, hamil, istri

Cerita hamil istriku


Karena belum sempat cerita-cerita tentang kehamilan istri seperti yang direncanakan, akhirnya aku rangkum saja semuanya dalam satu tulisan ini. Semoga dapat diambil manfaatnya.

Yah, istri hamil…tentu saja sangat menggembirakan sang suami. Apalagi bagi diriku yang lumayan lama menunggu diberi calon pewaris tahta (hehehe…). 2 tahun 2 bulan aku kira penungguan yang cukup lama sejak pernikahan kami pertengahan 2005 lalu. Di sinilah kami senantiasa bersyukur bahwa memang semuanya sudah diatur Sang Pemberi Rizki. Tapi memang terus terang aku tidak terlalu intensif memperhatikan proses kehamilan istri secara dia semakin sering kutinggal karena urusan kerja dan aktivitas yang cukup padat… Sering juga peningkatan emosi saat hamil dan perasaan supaya lebih minta diperhatikan hadir secara mendadak, jadi memang agak repot sih, tapi tetap menyenangkan lah. Berhubung ini juga calon cucu pertama dari pihak mertua dan calon cucu kedua dari ortuku, jadi terkesan memang harus ekstra hati-hati memelihara kehamilannya. Kadang-kadang kok aku seperti ”berempati” seolah-olah ikut hamil, kalo perut istri sakit, aku ikut mules gitu… aneh…

Alhamdulillah, keluhan selama kehamilan istri tidak terlalu ”menakutkan” seperti ngidam, muntah, jungkir balik, dll…ya paling nyeri-nyeri dikit di perut bawah, kata dokter kandungan akibat penambahan beban saja. Walau pun ga ngidam tapi kalo diajak makan ke luar selalu ga menolak, mintanya sih macam-macam…hehehe, tapi bukan ngidam kok… ?

Kalo ditanya kontrol hamilnya kemana aja, wah jelas kami tidak pernah setia sama satu tempat saja alias berpindah-pindah. Soalnya sering ga puas kalau periksa. Selama hamil pernah diperiksa di dokter kandungan di Purwokerto, pas istri lagi ngurus tes PNS-nya. Mahal banget obatnya, waktu itu sih memang aku suruh segera periksa karena terjadi pengeluaran bercak kemerahan. Di USG ternyata ga apa-apa. Di beri vitamin dan penguat kehamilan. Kali kedua periksa di dokter kandungan cewek di kliniknya yang cukup terkenal di Jogja. Waduh, dokternya ga komunikatif, periksanya  mahal, kapok! Terus akhirnya aku bawa istri ke RS Ghrasia Pakem (ini dulu rumah sakit khusus rehabilitasi penderita gangguan jiwa, katanya di situ ada USG 4 dimensi. Itu loh USG yang memadukan gambar tiga dimensi dalam bentuk video. Wah, hebat, murah banget! Mungkin masih promosi kali ya, cuma habis sekitar 80 ribu. Itu udah plus CD-ROM buat ngopy file USG-nya. Memang sih yang memeriksa bukan dokter kandungan tapi dokter penyakit dalam, tapi ga masalah lah, dia juga mengerti kok, pelayanannya juga enak, komunikatif! Kalau melihat video USG 4D ini, kami bisa senyum-senyum sendiri, soalnya kelihatan banget si bayi lagi ngapain, kadang cemberut, kadang tersenyum, kadang menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, hahaha…very excited (kalo teman-teman mau lihat boleh buka di menu video)

Terakhir aku periksakan istri ditempat kerjaku sendiri, nah, di sini lebih enak lagi, gratis tisss… hehehe… Rencana kontrol berikutnya di sana aja ah… rencana melahirkan juga sekalian ah…, kan bisa menghemat gitu. O, iya sekarang umur kehamilan istriku 32 minggu atau 8 bulan. HPL atau hari perkiraan lahir 15 Juni 2008. Jenis kelamin calon bayi kami ”dipastikan” perempuan melalui USG 2 dimesi pada pemeriksaan terkhir kemarin. Doa kan ya semoga semuanya dimudahkan.

hamil, istri

Alhamdulillah…istriku hamil!!


Kemarin sore beli strip tes kehamilan (plus pack test – PP Test) bareng istri sekaligus silaturahim ke tempat pak lik dan teman di seputaran Gombong dan Tambak Banyumas. Aku kira di ruang praktik almarhumah ibu mertua masih ada sisa stripnya, kata istriku udah ga ada, jadinya yah kita beli aja. Selain itu juga ga sabar menunggu nanti setelah di Jogja aja dites-nya, secara masih punya beberapa cadangan strip di rumah.

Pagi tadi sebelum sholat subuh, aku bangunkan istri untuk urinasi (red: pipis-maaf), dan dites pake strip yang dibeli. Sebenarnya aku deg-degan juga, hamil ga ya…hamil ga ya… :-b Tapi, dari luar aku tampakkan wajah yang biasa-biasa aja, hehehe…maklum seperti pengalaman dulu selama dua tahun, seringnya kecewa setelah dites, ternyata ga positif hamil. Jadi kali ini diusahakan biasa aja. Tapi, beberapa saat kemudian istriku kembali ke kamar, sambil cengengesan, “hehehe…hamil, Yang…”, “Manaa…coba liat”, kataku. O, iya, alhamdulillah, stripnya menunjukkkan 2 garis merah, artinya positif terdeteksi hormon kehamilan, hCG (Human Chorionic Gonadotrophin). Memang, hCG tidak mesti menandakan positif hamil, karena ada kondisi lain yang menimbulkan sekresi (pengeluaran) hormon ini, seperti pada tumor tertentu dan kondisi hamil anggur (mola hydatidosa).

Dari perubahan fisik istri memang belum begitu jelas. Cuma dia sudah merasakan perutnya mules/kram dan puting payudaranya nyeri. Selain itu menstruasinya memang sudah berhenti, alias telat hampir 2 minggu ini. Jadi sudah terjadi konsepsi (pembuahan) lebih kurang 3 minggu yang lalu (ini disebut sebagai umur kehamilan yang asli). Kalau berpatokan kepada HPM (hari pertama menstruasi yang terakhir) hitungannya sudah hampir 6 minggu. Tanda lainnya, istri merasakan sering keluar lendir, jauh dari waktu seharusnya, sebelum dia mengalami menstruasi lagi. Klo yang aku rasakan, suhu badan istri lebih tinggi dari biasanya, alias lebih hangat… :-b

OK deh sekali lagi belum mau euforia (bahagia berlebihan) dulu, secara masih panjang “perjalanan” yang harus dilalui. Mudah-mudah memang benar positif hamil berisi janin, calon junior kami melalui tes-tes selanjutnya, dan berharap tidak ada kelainan yang fatal dari pihak istri mau pun janin. Aamiin…

Rabbana hablana min azwajina wazurriyatina qurrata a’yun, wajalna lil muttaqina imaama…

Gambar dilink dari sini