jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Nikmat membawa sengsara…


Sudah lama ga dapat kasus seru lagi secara udah jarang praktik…
Hari ini, seorang mahasiswa almamater saya (parah!), 21 tahun, dengan keluhan nyeri saat buang air kecil, dari lubang penis keluar nanah, riwayat berhubungan seksual dengan pacarnya yang satu kota asal dengannya, mahasiswinya kuliah di kota yang berbeda.
Alasan berhubungan adalah sekadar coba-coba, pacar sudah berpengalaman artinya sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain sebelum dengan mahasiswa ini.
Mengeluarkan sperma di luar vagina si mahasiswi artinya ga pake pengaman.
Lupa menanyakan, melakukannya di mana? di kursi, di tempat tidur, di semak belukar?  tapi yang jelas di kota yang sama tempat mereka berasal, mungkin pas lagi mudik bareng 
Saran ke mahasiswa, cek laboratorium sampel air kencing dan nanahnya dulu, kemungkinan diagnosis penyakit kencing nanah (GO), menjelaskan risiko jangka panjang bila terkena GO, yaitu saluran pipisnya akan mengkerut dan akan sangat sulit pipis, akhirnya nanti harus dioperasi (pucat dia…)
Syukurlah, katanya kapok ga mau berhubungan seks lagi, mudah-mudahan… 🙂
Pic dari sini
dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ga kapok…


Akhirnya kisahnya bersambung…sebelumnya silakan baca di Keputihan 2 Tahun. Ya, sepertinya saya ingat, pihak laboratorium tidak mau melakukan pemeriksaan pap smear dengan alasan pasien belum menikah. Saya lupa, karena sama rekan sejawat saya yang menerima kontrol pasien itu tidak dituliskan itu dari hasil pemeriksaan apa, sehingga hasil yang bisa saya baca di catatan medis hanya: terdapat bakteri gram negatif, dan jumlah leukosit yang banyak, mungkin itu cuma hasil swab (apusan) cairan vagina atau cuma dialihkan ke periksa urin atau air kencing saja. Aneh juga sih, kok bisa memeriksa cairan vagina tapi ga mau melakukan pap smear. Kalau pasiennya setuju dengan informed consent, mestinya tidak menjadi masalah, toh untuk kepastian diagnosis pasien itu sendiri. Setahu saya papsmear itu boleh dilakukan pada orang yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, meski dia belum menikah. Apa pihak lab takut menghilangkan selaput dara si pasien? yang justru saya pertanyakan, apakah si pasien memang masih perawan? setelah berhobi ria melakukan hubungan seks? entahlah…

Nah, kembali ke “ga kapok”-nya pasien saya itu. Oleh teman saya, diterapi dengan antibiotik selama 5 hari, belum membaik, lalu ditambah dengan anti jamur dan jenis antibiotiknya diganti. Entahlah, si pasien sembuh apa tidak, karena tidak kontrol, untuk melaporkan perkembangan keluhannya.

Setelah 3 bulan berlalu, si mahasiswi berjilbab datang lagi, dengan keluhan demam, mual, pusing, nyeri perut kanan bawah, keputihan, dan sering buang air kecil. Lalu sama teman saya diperiksa lab urin (air kencing)-nya. Hasilnya, hari ini dia datang menyerahkan hasil lab urin dengan hasil warna urin yang keruh, jumlah sel darah putih yang banyak, dan kandungan bakterinya positif. Ya, sudah diagnosis ditegakkan saja: urinary tract infection atau infeksi saluran kencing, atau ISK. Untuk mempertajam saja, lalu saya tambah proses tanya jawabnya.

“Habis menahan pipis?”

“Engga…”

“Habis berhubungan seks…?”

‘Iya, Dok…?”

“Kapan..?”

“Dua minggu sebelumnya Dok..”

“Dua minggu sebelum timbul keluhan?”

“Iya…”

“Pake pengaman?”

“Pake…”

“Sama siapa?”

“Teman…”

“Itu teman yang sudah tunangan?” (saya nanya gini bukan berarti klo udah tunangan, boleh ngeseks sembarangan loh…)

“Engga…”

“Jadi, belum pasti ya (nikahnya), brarti nanti bisa lari…meninggalkan mba..?”

“…..”

“Jadi pake pengaman ga menjamin juga….aman buat cowok, ga aman buat mba…apa lagi komplikasi ini ga terduga, bisa ke ginjal loh…”

“….”

“Jadi, sebaiknya dihentikan saja kegiatan berisiko itu….ya risikonya mungkin ga hamil klo pake kondom, tapi mungkin bisa ada iritasi dan alergi sama kondom…”

“….”

“Cowoknya yang minta ya….?” (maksudnya yang minta berhubungan seks duluan….)

“Iya…”

“Lain kali, beranilah bilang “tidak”…, karena tetap perempuan yang akan dirugikan….”

“Iya, Dok…”

“OK, setelah minum obat yang saya berikan, hari Sabtu kontrol ya, buat evaluasi…”

“Ya, Dok, makasih….”

“Ya”

———————————————————————————————————————————-

Referensi berguna:
http://labparahita.com/parahita/2011/02/pemeriksaan-pap-smear/
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/kiayati/2009/01/30/lets-talk-pap-smear/
http://www.kznhealth.gov.za/papsmear.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Pap_smear
http://www.medicinenet.com/urine_infection/article.htm
http://emedicine.medscape.com/article/233101-overview
http://www.mayoclinic.com/health/urinary-tract-infection/DS00286

dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ngeseks Saat Mens


“Terimakasih ya Dok ya….”
———————————————————————————————————————————-
Kali ini saya lebih kalem ketika ketemu pasien yang melakukan hubungan seks di luar nikah, apalagi karena kebodohannya…

Saya berharap nasihat-nasihat saya nantinya bisa masuk dan tidak menjadi bumerang terhadap pasien, saya usahakan tidak melakukan penghakiman langsung kepada pasien.

Saya mau cerita lagi tentang pasien saya sore kemarin, seorang mahasiswi 18 tahun, anak kedokteran hewan, tampilan biasa saja menurut saya. Datang dengan keluhan pusing mual pilek perut perih. Lalu saya tetapkan diagnosisnya cuma Common Cold (flu) dan Dyspepsia (sakit maag). Beri obat untuk meringankan gejala yang dirasakannnya dan menyebutkan anjuran dan pantangan.

Lalu mahasiswi tersebut bertanya kepada saya: “Kalau gejala hamil itu apa saja Dok…?”

“Pernah hubungan seks?” saya menyolot.

“Iya, Dok…”

“Kapan?”

“Dua minggu yang lalu…”

“Mens terakhir kapan, hari pertamanya…?”

“Dua minggu yang lalu, Dok…”

“Hari keberapa mens, tepatnya berhubungan?”

“Kedua…”. “Bisa hamil ga Dok, apa gejala yang saya rasakan ini tanda-tanda hamil…?”

“Bisa jadi…”, jawab saya

“Apa itu sedang masa subur?”

“Bukan masa subur…, tapi masa hidup sperma kan tidak bisa diduga…”

“Oooo, lama ya Dok?”

“Bisa jadi…, lah mba berhubungan pake pengaman?”

“Engga…”

“Dikeluarin di mana?”

“Ga sempat keluar Dok…, cuma lendir gitu, ga ada putihnya…sperma putih kan Dok?

“Mmm…, sama sapa berhubungan?”

“Pacar, Dok…”

“Berhubungan pertama kali? mba masih perawan waktu itu?”

“(mimik ga yakin, mengangguk saja…), kalau cairan bening itu ada spermanya Dok?”

“Bisa ada…, sperma itu kan sel yang kecil, ga bisa kelihatan dengan mata biasa, harus pake mikroskop, kalau yang putih itu jumlah spermanya lebih banyak, sudah kumpulan gitu…”

“(manggut-manggut), jadi gimana Dok, saya hamil ga? saya takut Dok…”

“Belum bisa ditentukan sekarang…, kita observasi saja, mbanya kontrol saja nanti…saat siklus berikutnya, bila tidak mens…, mensnya teratur?”

“Teratur Dok, tapi kadang maju tanggalnya…”

“Ya, ga pa pa, perkiraan saja majunya kapan, klo ga keluar mensnya, ke sini saja, nanti kita tes…”

“Ya, Dok..”

“Baik, untuk sakit yang ini, obatnya sudah saya resepkan, bisa ditunggu di depan apotek, nanti dipanggil…”

“Terimakasih ya Dok ya….”

“Sama-sama…”
———————————————————————————————————————————-
Pic dari sini