imunisasi, kesehatan, obat, penyakit

Pencegahan Praktis Demam Berdarah Dengue Dari Rumah Kita


P60307-182652Beberapa minggu terakhir saya mendapatkan cukup banyak berita dari teman kerja dan teman lainnya mengenai penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang menyerang mereka atau orang terdekat mereka. Saya sebagai teman dan sebagai manusia yang sama seperti mereka terus-terang merasa sedih dan was-was, kasus DBD menyebabkan hilangnya harta benda dan nyawa dari teman dan keluarga kita. DBD berhubungan erat dengan agen penyebarnya yaitu nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Untuk skala dunia, kasus kejadian DBD ini termasuk luar biasa, setiap tahun ada sekitar 400 juta kasus DBD, 20 ribu orang di antaranya meninggal. Lebih dramatis dikatakan, setiap menit ada 1 manusia yang meninggal akibat DBD.

Bagi saya, seperti penyakit lainnya, untuk kasus DBD ini, mencegah tetap lebih baik sebelum terjadi, sebelum menderita penyakit demam berdarah, karena memang tingkat penderitaannya tidak bisa ditebak, jadi lebih baik waspada dan bersiap sedia sejak awal agar tidak terjangkit virus itu. Caranya tentu saja bagaimana kita tidak digigit oleh nyamuk Aedes ini, yang jam kerja menggigitnya pada siang hari. Meski pun program pemberantasan DBD cukup gencar dilancarkan pemerintah dan lembaga non pemerintah, nyatanya banyak dari kita yang kurang dan tidak peduli, bahwa kita adalah salah satu calon mangsa dari nyamuk dan virus ini. Tidak ada jaminan kita tidak akan terkena. Meski pun banyak strategi pemberantasan yang telah disosialisasikan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (Menguras, Mengubur, Menutup) yang dianggap sebagai cara paling efektif, namun faktanya gerakan 3M ini akhirnya diubah menjadi gerakan 3M Plus. Plus di sini yaitu menghindari gigitan nyamuk. Selain itu secara aktif pemerintah menggalakkan program Jumantik, Juru Pemantau Jentik.

Program dasar 3M dan Jumantik merupakan program komunal dengan keterlibatan pribadi-pribadi dalam kelompok masyarakat yang biasanya memerlukan usaha yang lebih besar. Sedangkan menghindari gigitan nyamuk lebih bersifat kepada kewaspadaan pribadi. Sebagai pribadi, terus terang saya lebih mudah untuk berkomitmen dengan usaha untuk menghindari gigitan nyamuk ini. Selain lebih praktis; tidak butuh alokasi waktu khusus seperti gotong royong dan sebagainya. Saya yakin orang-orang kota dan sibuk seperti saya, malas untuk melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Yang dibutuhkan disini adalah biaya dan komitmen pribadi yang sebenarnya juga tidak lebih besar kadarnya dari gerakan PSN. Bayangkan kita harus rutin 3M setiap minggu minimal. Itu pun kalau kita aja yang rajin, nyatanya kita bisa kena gigitan naymuk tetangga atau nyamuk dari tempat lain. Memang sangat baik bila 3M plus bisa kita lakukan. Tapi saya realistis saja.

Saya hanya berusaha agar nyamuk tidak menggigit saya dan anggota keluarga saya. Cukup banyak usaha yang bisa dilakukan untuk hal ini seperti memakai kelambu, memakai pakaian yang lebih tertutup, memakai raket setrum nyamuk, pengusir nyamuk ultrasonik, memakai pendingin ruangan, memakai obat nyamuk bakar/semprot dan sebagainya. Di antara semua cara itu saya pilih lagi cara yang lebih praktis, mudah dilakukan dan sesuai dengan kondisi saya yaitu memakai krim relepen/penolak nyamuk (mosquito repellent) di waktu pagi dan siang hari, serta mengandalkan vaporizer, alat pengusir nyamuk elektrik jenis vaporize/uap yang bisa dihidupkan terus-menerus selama 24 jam. Apakah murni hanya menggunakan 2 cara ini saja? Tidak, kami mempunyai juga raket nyamuk, ruang kamar ber-AC, kipas angin, dan semprotan nyamuk. Tapi itu jarang dipakai. Selain itu kami memilih menggunakan ember tampung yang kecil untuk alat mencuci dan mandi, diusahakan airnya tidak mengendap lama karena berpotensi jadi tempat bertelur nyamuk di dalam rumah. Lebih praktis lagi cukup pakai alat shower/pancuran untuk mandi.

Selanjutnya, saya ingin menekankan kembali kepada pemakaian repelen anti nyamuk ini karena lebih praktis, untuk menghindari gigitan nyamuk karena bisa jadi nyamuk menggigit kita ketika kita dan anggota keluarga kita berada di sekolah, tempat kerja, luar rumah, tempat belanja, tempat wisata, tempat bermain dan sebagainya. Di rumah kami tidak menggunakan repelen, cukup memakai vaporizer yang dihidupkan terus-menerus 24 jam. Saya baru tahu sekarang sudah ada smart vaporizer yang bisa kita pilih programnya agar mengeluarkan uap pengusir nyamuk sesuai dengan keinginan kita. Lalu apakah tidak berbahaya menggunakan 2 cara ini. Kan isinya racun semua. Benar. Memilih kedua cara ini membutuhkan pertimbangan yang cukup lama, saya sampai browsing banyak artikel tentang ini, ilmiah mau pun tak ilmiah/populer. Kebnayakan artikel berbahasa Indonesia tidak memmuat informasi yang berimbang dan lebih cenderung menakuti-nakuti agar tidak menggunakan cara ini, berbeda dengan artikel dari luar negeri yang mereka muat semua unsur positif dan negatifnya. Namun dalam dunia kedokteran, obat pun disebut sebagai racun. Yang membedakan obat dan racun adalah dari dosis yang digunakan. Jadi untuk repelan gunakan setipis mungkin, hindari area yang tertutup pakaian, kulit muka, dan selaput lendir seperti mata dan hidung. Jangan lupa cuci tangan ketika akan memegang makanan. Begitu juga untuk penggunaaan obat nyamuk, silahkan memilih obat nyamuk bakar yang lebih murah atau vaporizer yang lebih mahal (sebetulnya lebih hemat dan praktis), namun penggunaan juga harus diuji, jangan ditaruh di ruangan tertutup agar konsentrasi uap racun tidak membahayakan kita.

Cara praktis ini saya pilih juga atas pertimbangan perbandingan risiko kalau kita sudah kena DBD, yang sudah kejadian pada teman-teman saya dan anggota keluarganya, dibandingkan risiko minimal yang mungkin kita rasakan saat menggunakan dua cara ini. Sampai saat ini saya pribadi masih mencari dan memikirkan cara-cara alami untuk menggantikan dua cara itu yaitu menggunakan repelen alami dan vaporize alami. Sayangnya, belum ketemu yang baik dan praktis.

Cara lain yang bisa menjadi harapan cerah di masa depan untuk mencegah DBD ini, yaitu melalui imunisasi. Memang sudah ada produk vaksin DBD perdana yang sudah beredar. Namanya Denvaxia. Lahir setelah melalui waktu 20 tahun penelitian dengan biaya 1,65 triliun dolar amerika, melibatkan 40.000 orang subjek penelitian. Meski pun sudah dipakai di Meksiko, sebentar lagi digunakan oleh Filipina, namun efektifitas vaksin DBD ini diperkirakan masih sekitar 60 persen dengan jenis varian virus (serotipe) yang tidak sama persis dengan di Indonesia, jadi bisa kurang efektif seperti halnya vaksin Influenza. Harga diperkirakan sekitar 300 ribuan rupiah. Dan pemerintah menjanjikan vaksin ini akan masuk menjadi vaksin dasar alias gratis.

Semoga kita semua terhindar dari gigitan nyamuk dan DBD ini. Aamiin.

Bacaan lebih lanjut:

Iklan
hobby, jalan jalan, kucing, livinginjogja, makanan, wisata

Kafe Kucing di Jogja


P60206-202134Akhirnya Jogja mempunyai kafe kucing juga. Mungkin pemiliknya terinspirasi dari kafe kucing yang sebelumnya telah ada di Jakarta dan Bandung serta negara lain seperti Jepang dan Amerika. Bagi penggemar kucing seperti saya, dan anak-anak saya, ini merupakan hiburan tersendiri, di tengah kesulitan untuk mengadopsi kucing di rumah sendiri. Selain ibu anak-anak tidak menyukai hewan berbulu ini, juga merasa kasihan karena di rumah suka tidak ada orang. Pernah kejadian anak kucing yang sempat diadopsi sama anak saya yang pertama, “melarikan” diri karena merasa mungkin ga diasuh dengan baik, meski pun makanan dan minuman dipenuhi, namun kebutuhan kucing tidak itu saja, dia butuh bermanja-manja dengan pemiliknya.

Saya beserta adik-adik saya dan ortu penggemar kucing. Pernah mempunyai 17 ekor kucing dalam waktu bersamaan. Karena punya induk 3, sekali lahiran berbarengan. Masih ingat tingkah mereka kalau lonceng makan tiba, pada balapan lari ke lokasi tempat makan disediakan. Sepertinya ini sudah menjadi kegemaran turun-temurun ya, mbah dan nenek saya pun suka memelihara banyak kucing. Nah, kafe kucing ini saya sendiri mengapresiasi karena kucingnya juga terawat dengan baik, pengunjungnya juga merasa nyaman dan tidak takut akan tertular penyakit.

Saya ingat sudah sekitar 5 kali berkunjung ke kedua kafe kucing ini. Di sini selain kita bisa berinteraksi dengan berbagai jenis kucing yang lucu-lucu dan menggemaskan, juga bisa menikmati sajian yang disediakan, terdiri dari makanan seperti sosis bakar, roti bakar, es krim, jus, kopi, susu kocok, makaroni, pisang, kue durian, dsb. Harganya lebih mahal sedikit dari jajanan di warung biasa, ya wajarlah saya kira karena butuh biaya mahal juga untuk melakukan perawatan pada kucing-kucing tersebut.

Pertama tahu ada kafe kucing karena anak saya yang pertama dapat info dari teman sekolahnya tentang kafe ini, lalu hasil browsing di internet, ketemulah alamatnya, yaitu di Miaw Shake Cat Coffee, Jalan Masjid Kuncen (area sebelah utara Pasar Klitikan), No. 25, Jogja. Bukanya dari pukul 16.00 sampai 22.00. Pertama kali ke sini memang kesannya kurang nyaman, keluar bau pesing dari kotoran kucing, AC dan lampu suka mati karena sepertinya daya listriknya ga kuat, kali berikutnya datang sudah tidak mencium bau-bau aneh, tapi listrik ya masih suka mati. Yah, maklumlah mungkin pemiliknya belum punya modal lebih untuk mencari lokasi yang lebih representatif. Satu lagi kafe kucing, berada di antara Komplek UGM dan UNY, tepatnya Jl. Bougenville (Selokan Mataram), nama kafenya Cats and Coffee. Kesannya kafe ini lebih bagus dan bersih, meski pun tempatnya juga sempit, namun variasi jenis kucingnya lebih banyak mulai dari kucing berkaki pendek yang sangat interaktif berjenis langka seperti Munchkin, kucing raksasa jenis Maine Coon, kucing tanpa bulu (benarnya ada bulu tapi tipis banget kayak karpet) yaitu jenis Sphinx, dan sisanya yang terbanyak ras Persia.

Anak-anak akan senang sekali berada di kafe ini karena juga disediakan tools untuk bermain dengan kucing. Meski pun kucing-kucing ini boleh dielus-elus, namun sangat tidak dianjurkan untuk mengangkat, meneriaki, menarik ekor, mengambil foto memakai lampu kilat, memberi makan (kalau saya kadang ngasih makan juga sih dari makanan yang dibeli, hehehe, karena kok kelihatannya ada yang masih lapar….)

Demikian saja tulisan sekilas tentang kafe kucing di Jogja. Silakan yang tertarik ke sana. Tipsnya kalau ga punya cukup uang, dari rumah sudah makan dulu yang kenyang, jadi pesan makanan dan minuman minimalis saja sebagai basa-basi. Meski pun untuk kafe di daerah Kuncen wajib memesan menu makan/minuman sejumlah orang yang masuk ke dalam kafe tersebut. Dan satu lagi, jangan lupa untuk mengabadikan momen-momen yang tak terlupakan di kafe-kafe itu ya…

Salam.

android, gadget, kontemplasi, software, teknologi, tips

Inaccessible Memory Card!


Malam ini terjadi peristiwa yang cukup membuat saya sedikit khawatir. Sedang asyik chat serius dalam beberapa grup di Whatsapp via emulator Android “Bluestacks di tablet Windows, tiba-tiba muncul notifikasi permintaan untuk mem-format kartu memori microsd 64 GB merek V-Gen, yang memang dulu pernah bermasalah sehingga diklaim garansi karena pernah mati. Beberapa hari ini memang saya online via Windows untuk menggantikan handset Android saya yang tewas layar LCD-nya ketika pulang dari Kota Tegal. Yah, mungkin tergencet saat saya tidur di kursi bis. Hanya retak di bagian atas, namun saya paksakan untuk tetap menggunakannya. Namun beberapa waktu setelahnya tidak sengaja saya menjatuhkan tablet Android kesayangan saya itu. Jadilah retak LCD-nya bertambah, dan ternyata sudah tidak bisa menampilkan hal yang bermakna, hanya sinar putih bercampur dengan bias-bias retakan LCD-nya. Maklum, tablet murah merek Axioo Picopad 7 inchi ini memang sudah sering kebanting, dan selama ini memang tidak ada masalah dengan layarnya karena memang saya beri perlindungan silicone case dan anti gores (lebih tepatnya memang untuk jadi korban goresan). Pelindung layar transparan build in-nya sendiri masih utuh. Tapi memang mungkin dia sudah melewati batas daya tahannya terhadap gencetan dan bantingan. Beberapa bulan lalu tablet Axioo saya ini pernah juga diklaim garansi untuk baterainya yang mengalami bengkak sehingga sering mengalami power drop tiba-tiba. Karena ini sudah lewat masa garansi-nya, saya masih memikirkan apakah menunggu diganti LCD-nya ke IT-Clinic Axioo. Atau terpaksa beli gadget baru. Kebetulan di Smartfren sedang banyak promo, dan saya sedang tertarik dengan Smartfren Andromax R 4G, karena harganya turun drastis dari 1,6 juta menjadi 1 juta. Nah, maksud hati mengulur waktu agar tidak terburu-buru mengganti gadget, jadi online dulu via tablet Windows 10. Eh, ya takdirnya juga terjadi memory loss di tablet Windows ini. Dan yang jelas, apa yang tersimpan di memori internal tablet Axioo-nya juga belum bisa di-back up karena layarnya blank begitu, sedangkan koneksi via USB tidak dalam posisi on untuk akses ke memorinya.

Jadilah saya bisa menulis blog ini lagi sambil menunggu proses penyelamatan data microsd tersebut menggunakan iCare Data Recovery. Ingin mencoba saja software recovery ini setelah melakukan googling dan membaca testimoni di beberapa web, meski pun saya sebelumnya lebih sering menggunakan Get Data Back. Yang membuat saya sedikit khawatir karena isi dari kartu microsd di tablet Windows itu belum semuanya saya back-up karena seingat saya ada beberapa data penting pekerjaan dan file-file penting pribadi. Semoga bisa terselamatkan. Pelajaran berharga dari kejadian ini:
1. Akan mempertimbangkan ulang dengan kuat untuk melakukan full back up dan sinkronisasi secara online melalui aplikasi cloud seperti Dropbox, Google Drive atau OneDrive. Sekuritas adalah isu kedua yang saya pikir dapat diabaikan dibandingkan takdir terjadinya memory loss yang tidak pakai permisi meski pun tanda-tandanya sudah ada, tapi tidak jelas. Pencegahan lebih baik daripada mengobati!
2. Sepertinya akan kapok dengan kartu memori merek tersebut. Mahal sedikit tidak apalah asal handal!
3. Jangan menunggu menyepelekan penyakit gadget meski pun gejala-nya masih ringan. Lakukan antisipasi, back-up… back up… dan… back up!

Karena saya perhatikan proses scanning-nya sekitar 2 jam lebih, jadi saya tinggal tidur saja, insyaAllah dilanjut besok pagi. Itu saja. Semoga nanti tulisan ini bisa diupdate.

23.35 @ 27.12.2015

asuransikesehatan, kesehatan, politik, rumah sakit, yankes

Bulan-Tahun Jejaring dan Advokasi


483523c5-a4c7-4431-b01d-aaca65958e16

Beberapa bulan terakhir ini terasa begitu lebih banyak aktifitas yang menyita energi fisik dan pikiran. Saya bersyukur istri sedikit bisa memahami untuk full time mengurus anak-anak. Mengurus anak pertama yang sedang menempuh ujian akhir semester, dan melakukan seleksi guru pendamping untuk anak kedua. Saya tahu menjadi ibu full time itu berat meski kadang saya tidak peka, mungkin karena sedang lelah juga dan pikiran bercabang-cabang. Saya berdoa semoga semua bisa berjalan dengan baik dalam situasi yang sangat crowded ini. Dan aktifitas menulis ini pun saya paksa agar bisa terlaksana malam ini juga, setelah lelah pulang kegiatan pra rapat kerja rumah sakit, dan tentu saja setelah sekian lama vakum mengisi blog ini. Memaksa, karena perut baru saja terisi makan malam sehingga berusaha untuk tidak langsung tidur meski mata telah berat.

Hari-hari di rumah sakit harus banyak saya disposisikan kepada teman-teman lain agar bisa berkonsentrasi sejenak memperkuat jejaring eksternal, dalam rangka kebaikan bersama juga membangun sistem yang diharapkan bisa menjadi lebih baik. Tentu saja isunya tidak jauh dari seputar JKN-BPJS, dan aturan-aturan kerumahsakitan, yang terasa semakin hari semakin perlu mendapatkan perhatian lebih. Dan kebersamaan itu walau terkesan melelahkan dan lambat, namun pasti progresnya sehingga melahirkan aksi-aksi nyata, meski pun masih sangat jauh dari hasil yang benar-benar dapat diharapkan. Namun di sanalah kita senantiasa memompa semangat kebersamaan agar lelah bisa terus ditepis, sehingga tidak melahirkan keputusasaan.

Mulai dari terbentuknya Forum Komunikasi RS Kelas C & D Daerah Istimewa Yogyakarta yang sangat kompak, namun terbentur oleh legalitas sehingga melahirkan transformasi yang lebih kuat berupa Asosiasi RS Swasta Daerah Istimewa Yogyakarta (ARSSI DIY) yang sedianya akan dilantik tanggal 19 Desember ini, bersamaan dengan launching web official yang memuat kumpulan data terintegrasi RS Swasta di Jogja, rsswastajogja.com, namun karena beberapa pertimbangan realistis, akan dimundurkan sekitar minggu ketiga tahun depan – hikmahnya tentu lebih bisa mengatur napas, sampai menggeliatnya Persatuan RS Seluruh Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PERSI DIY), sebagai wadah asosiasi yang lebih besar untuk semakin aware dengan dinamika konstelasi bidang kerumahsakitan. Akhirnya forum-forum lintas komponen dan stakeholder pun terjalin: Keraton, DPRD, Dinkes, BPJS, BPRS, FKTP, Lembaga Ombudsman. Kolaborasi golongan tua dan muda terjalin apik di sini, saling pemahaman terjadi. Meski masih banyak yang saling berkelit. Namanya juga manusia. Banyak kepala banyak kemauan, banyak kepentingan juga.

Saya senantiasa berharap, kepentingan khalayak masyarakat, tetaplah yang paling utama, meski pun setiap pihak mengklaim juga: kami ya juga untuk kebaikan masyarakat. Paling lucu ketika berulang kali menyaksikan bahwa pihak-pihak tertentu tidak dapat bertindak sesuai kewenangannya. Pejabat dimana kami berharap, namun malah susah diharapkan. Entahlah apa yang ada di pikirannya. Namun kita berpikiran positif saja, dan terus bergerak, memperbanyak komunikasi dan memperkuat konsolidasi. Adakala lembut, namun tegas juga harus diasah. Lelah memang, namun itulah konsekuensi menuju perubahan bermakna. Salam kompak.
Sleman, 22.15 WIB

dokter, kesehatan

Profesi Malaikat


dokter malaikat2
Sumber Gambar: Tabloid Nakita

Acara rapat komite medik RS kami tadi malam, seperti biasanya berlangsung akrab dalam suasana kekeluargaan. Sudah menjadi tradisi setiap rapat diadakan – seringnya bertempat di sebuah resto langganan RS kami – sambil menyantap makanan yang tersedia, kita pararelkan dengan acara obrolan-obrolan seru dan saru (versi medis). Tidak lupa setiap rapat, ada protokoler rapat seperti sambutan-sambutan, juga terdapat sesi tausiyah, atau nasihat spiritual, yang disampaikan oleh anggota komite medik sendiri. Rapat kali ini meliputi paparan perkembangan layanan RS, sosialisasi layanan dan aturan baru, evaluasi layanan, perkenalan dokter baru. Yang paling seru pembahasan terkait gratifikasi dokter dan perkara imbal jasa tenaga medis (dokter). Momen paling berkesan saya rasakan ketika sesi tausiyah berlangsung. Seorang senior yang menjabat sebagai ketua staf medis fungsional bedah kami, memberikan nasihat yang saya rasakan menembus relung hati nurani kami sebagai pemberi layanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus menjadi otokritik bagi kita semua. Beliau mengawali cerita tentang wisuda anaknya yang baru saja lulus menjadi dokter. Saat sumpah dokter diucapkan, beliau menangis, teringat sumpah yang sama yang pernah diucapkan oleh beliau puluhan tahun yang lalu. Beliau menangis tidak hanya untuk dirinya tapi juga menangis untuk komunitas tenaga medis yang sepertinya sudah semakin lupa dengan sumpah dokternya.

Pada tausiyah ini, beliau membacakan kembali sumpah dokter tersebut, saya menyaksikan sendiri bagaimana tremornya (gemetar) tangan beliau ketika memegang smartphone yang menampilkan teks sumpah dokter tersebut, dan suaranya bergetar ketika membacakan kembali sumpah dokter tersebut secara perlahan kepada kami semuanya. Saya perhatikan mata beliau juga kembali berkaca-kaca. Mari kita simak kembali sumpah dokter itu:

——————

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatani saya.

——————

Lalu beliau mengatakan. Dari isi sumpah ini jelas sekali, dokter adalah profesi malaikat. Versi saya tentu yang dimaksud adalah malaikat penyelamat, bukan malaikat pencabut nyawa…
Seorang malaikat tidak pernah menuntut pamrih dari yang diselamatkan. Tidak ada dalam sumpah dokter tersebut, memuat poin mengenai jasa medik, tidak ada poin mengenai diskriminasi strata sosial maupun pelayanan seperti kelas pasien, misalnya sesuai tarif JKN/BPJS. Tidak ada poin mengenai: penderita akan saya tolong ketika sudah membayar, tidak ada poin mengenai: penderita miskin dan kaya akan saya bedakan obatnya.

Beliau berharap, dokter tidak menjadi pedagang, yang berpikir: apa yang bisa saya jual, apa yang bisa saya dapat dari pasien. Tetapi sebaliknya apa yang saya bisa berikan (bahkan sesegera mungkin) untuk kesembuhan dan kebahagiaan pasien.

Beliau mengemukakan kembali sebuah pernyataan beliau di dalam sebuah grup obrolan virtual kami di RS. Berikut pernyataannya:

“Matematika dokter. Kalau kita menolong 2 orang pasien saja setiap hari dengan ikhlas, tanpa berharap apapun, kecuali keinginan membantu, menolong. Maka sebulan kita akan menolong 50 orang pasien tanpa pamrih. Dan artinya setahun kita akan menolong 600 orang pasien tanpa pamrih, semata-mata karena ingin membantu. Ikhlas. Kalau separuh saja pasien kita itu tahu diri, dan mendo’akan kita, maka di tengah sepinya malam, ketika kita terlelap karena seharian bekerja, akan ada 300 pasang tangan menengadah ke langit, dan bibir mereka berucap dengan air mata menetes. Mereka berdo’a: “Ya Allah, aku ini orang miskin, tapi ada dokter yang bersedia merawat anakku yang sakit dengan penuh perhatian, penuh kasih sayang, padahal mereka tahu aku tak akan mampu membayar mereka ya Allah. Ya Allah, aku miskin, tak kuat membayar mereka, tapi Engkau Maha Kaya ya Allah, bayarlah mereka dengan rizkiMu yang halal dan thoyyib, ya Allah, mereka tak sempat beristirahat dan menjaga kesehatan serta berkumpul dengan keluarganya karena mengurusi anakku yang sakit, ya Allah, jagalah kesehatannya, bahagiakan keluarganya. Aamiin.” Do’a orang-orang miskin di tengah sepinya malam itu bisakah kita hargai dengan nominal sekian juta/milyar? yang kalau Allah kehendaki semua itu akan bisa lenyap dalam sekejap.”

Di samping itu beliau menambahkan. Manakala seorang dokter mendapatkan penghasilan yang lebih misalnya menangani pasien kelas VIP, itu juga patut disyukuri karena itu sudah rezekinya. Yang salah adalah ketika dokter sudah tidak mampu lagi mempertahankan sumpah dokternya, lalu berpikir: apa yang bisa saya jual kepada pasien. Dokter merangkap sebagai pedagang, lalu terpaksa menerima gratifikasi, menggadaikan kehormatan profesinya. Memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan oleh pasien, demi mendapatkan untung dari pasien.

Seorang dokter spesialis pernah melontarkan sebuah pernyataan sebagai berikut:
“Nanti dokter nyari passive income saja… meriksa pasien sesempatnya saja… karena banyak ancaman.. wong mau meriksa dan menolong pasien tapi ditodong masalah hukum… yang penting kita ga melanggar hukum Alloh SWT.. hukum manusia tidak perlu
kita takutkan… yang penting kita selalu berpegang hukum Alloh dan sunnah Rasul SAW…”

Saya sendiri melihat pernyataan itu sangat ambigu. Dan ternyata beliau yang memberikan tausiyah ini juga berpendapat begitu. Di era sekarang ini, memang sangat baik, dokter diharapkan bisa mencari passive income dari bisnis lain, bisnis non kesehatan yang tidak memiliki konflik kepentingan terhadap pasien. Bisa dibayangkan bila dokter mempunyai bisnis, misalnya bisnis POM bensin yang maju, sehingga ia tidak perlu berpikir bagaimana bisa kaya dari pasiennya, ia akan bekerja dengan tenang bahkan membantu pasien bila tidak mampu. Pernyataan “memeriksa pasien sesempatnya saja…”, menurut beliau telah melanggar sumpah dokter itu sendiri, karena tentu saja pasien tidak mendapatkan pelayanan yang optimal serta akan terjadi diskriminasi.

Di luar pentingnya dokter menjaga komitmen sumpahnya itu, beliau juga memaparkan kondisi ideal sebuah sistem pelayanan kesehatan. Dokter harusnya memang tidak perlu memikirkan bagaiman cara dia bisa survive/bertahan hidup bila harus berbakti seperti itu. Itulah tugas negara, kata beliau. Tugas manajemen RS bagaimana supaya dokter bisa tenang melayani pasien. Bila dokter butuh rumah, butuh biaya untuk anak dan istrinya, bahkan butuh barang mewah seperti mobil dan sebagainya, mestinya negara yang menyediakan. Bukan malah main mata dengan pabrik farmasi dan alat kesehatan dan memeras pasien. Tapi itu kondisi ideal. Sedang sekarang kondisinya belum bisa begitu. Jadi tentu saja bagaimana kembali, dokter bisa senantiasa mengingat dan menerapkan sumpah dokternya. Itu kalau dokter masih ingin disebut sebagai profesi malaikat, malaikat penolong dan penyelamat. Bukan malaikat pencabut nyawa.

tak terkategorisasi

Panjang Lebar Mengenai Orientasi Seksual


11541910_10207185999677285_8089357713101580280_nBerikut saya salinkan penjelasan dari Kak Sinyo Egie, konsulen Same Sex Attraction dan LGBT di Grup Peduli Sahabat (https://www.facebook.com/groups/pedulisahabat2014/), http://pedulisahabat.org/ semoga bisa memberikan pencerahan kepada kita semua.

Pertanyaan yang Sering Muncul (FAQ) di Peduli Sahabat

Berikut ini pertanyaan yang sering muncul (Frequently Asked Questions) di grup Peduli Sahabat. Sebagian besar contoh menggunakan aturan Islam, teman-teman yang berbeda agama dapat menyesuaikan.

FAQ ini disusun berdasarkan pertanyaan hingga tgl 09 Juli 2015, kelak akan disempurnakan kembali. Semoga bermanfaat 🙂

Orientasi seksual

1. Apakah orientasi seksual itu?

Agar mudah dipahami, orientasi (ketertarikan) seksual seseorang itu disamakan saja dengan ‘niat’. Bagi umat muslim pasti sudah tahu bagaimana hukum ‘niat’.

Kadang timbul niat baik dan tidak baik dalam diri kita.

Kalau niat baik tidak dilakukan mendapat satu pahala, dijalankan memperoleh dua pahala.

Jika niat buruk ditahan (tidak dilakukan) akan mendapat satu pahala dan kalau dijalankan akan berdosa.

Ukuran baik dan buruk tentu sesuai aturan agama.

Orientasi seks sesama jenis (ssa = same sex attraction atau bisa juga disebut homoseksual) dihukumi sebagai ‘niat buruk’ dalam Islam karena jelas tindakan seks sesama jenis (dalam Islam) dilarang.

Anda yang mempunyai SSA kalau sabar dan ditahan akan berpahala terus-menerus.

2. Apakah orientasi seksual bisa berubah?

Secara teori memang bisa dengan situasi dan kondisi tertentu, tidak bisa disamaratakan. Di luar Peduli Sahabat banyak bukti bahwa orientasi seksual bisa berubah tapi kami tidak ingin mengambil bukti dari luar.

Peduli Sahabat mempunyai empat narasumber yang berhasil mengubah orientasi seksualnya.

Satu orang dari heteroseksual menjadi SSA kemudian berbalik lagi menjadi heteroseksual. Kisah hidup beliau sudah ada di dalam grup dan situs Peduli Sahabat (kasus ini contoh sempurna tentang Kaum Luth).

Tiga orang yang lain adalah dari SSA kemudian menjadi heteroseksual, id FB mereka tidak ingin diberitakan kepada siapa saja, jadi hanya Peduli Sahabat yang tahu dan ada di daftar friends list Bapak Sinyo di Facebook.

Keempat narasumber itulah yang kemudian jadikan model dan metode untuk membimbing teman-teman yang ingin tetap memilih identitas hetero, baik secara mandiri (sudah ada di buku Anakku Bertanya tentang LGBT) atau lewat pendampingan di Peduli Sahabat. Kalau orientasi seksual juga ikut berubah maka itu adalah bonus atas usahanya.

Jadi jawabnya adalah bisa tetapi tergantung situasi dan kondisi seseorang.

3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh mereka yang berhasil berubah orientasinya?

Satu narasumber butuh sekitar 3 – 4 tahun.

Kasus tiga narasumber SSA tadi di atas (nomor 2) umur 40 tahun ke atas dengan catatan belum pernah melakukan tindakan homoseksual, sudah menikah (tersalurkan hasrat seksualnya), dan mempunyai anak.

Sebagai gambaran, ada kasus seorang anak berumur dua tahun sedang duduk berdua dengan neneknya di dapur. Atap dapur terbuat dari seng. Tiba-tiba hujan deras, sang nenek berlari mengambil jemuran tanpa meberitahu cucunya yang masih kecil itu.

Tahukah apa yang terjadi kemudian? Si cucu berpikir bahwa hujan sangat menakutkan karena neneknya sampai lari tunggang langgang. Sejak itu setiap datang hujan dia selalu berlari ketakutan.
Orang tua si anak memerlukan waktu sekitar 3 bulan untuk meyakinkan bahwa hujan baik-baik saja.

Sekarang bayangkan kejadian anak berumur 2 tahun tadi, hujan tidak sampai lima menit saja memerlukan waktu 3 bulan untuk mengubahnya. Nah bagi orang yang SSA sejak kecil sampai dewasa, tentu membutuhkan waktu dan proses yang lama jika ingin mengubah orientasi seksual itu. Mungkin sampai orang tersebut wafat pun akan tetap ada.

Ingat, empat narasumber di atas berjuang sendiri tanpa metode pendampingan. Saat ini kami sedang memantau salah satu narasumber bernama kak Semoga Bermanfaat New. Ikut pendampingan PS tahun 2012, menikah tahun 2014 dan sekarang sudah mempunyai momongan.

Dia adalah SSA sejak kecil dan sebelum menikah hanya tertarik kepada laki-laki saja. Sekarang di tahun 2015 dia masih tertarik dengan laki-laki tetapi tidak sampai ‘on’, dia hanya ‘on’ kepada istri. Luar biasa ya 🙂 Semoga progresnya positif.

4. Apakah perubahan itu menetap dan terjamin 24 jam?

Lihat nomor 2, tergantung dari orangnya tentu saja karena ini masalah jiwa yang tidak bisa disamaratakan.

Empat narasumber di atas mengaku telah berubah, perkara permanen dan berlaku 24 jam itu lain urusan. Tentu bisa saja suatu saat berubah lagi tergantung sikonnya.

Ada beberapa ilmuwan yang membuat kategori apakah seseorang disebut heteroseksual, biseksual, atau homoseksual (SSA), silakan dicari sendiri dan dibaca.

5. Apakah orang dengan orientasi heteroseksual sesekali tertarik sesama jenis?

Tergantung situasi dan kondisinya. Setiap laki-laki mempunyai kromosom XY yang berarti ada potensi besar untuk berubah orientasinya menjadi bisexual. Untuk perempuan kemungkinannya kecil.

6. Ada pendapat bahwa orientasi seksual tidak berubah menetap (hanya bisa ditahan) dan semua yang berubah suatu saat akan kembali lagi seperti semula.

Coba Anda bayangkan bahwa semua materi di dunia ini berbentuk bulat semua. Apakah kita bisa menyembut benda itu ‘bulat’? Tentu tidak, kita bisa menyebut bulat karena ada kotak, segitiga, atau yang lain.

Begitu juga pendapat di atas, kalau mereka mengatakan ‘semua’ atau ‘tidak ada’, otomatis pendapat itu akan gugur. Bagaimana kita bisa menyebut ‘semua’ kalau tidak ada ‘sebagian kecil’ atau kata ‘tidak ada’ kalau tanpa kata ‘ada’?

Mungkin maksudnya sebagian besar orang SSA tidak bisa mengubah orientasi seksualnya karena keburu dijemput oleh maut.

7. Apakah orientasi SSA sebuah penyakit?

Di peduli Sahabat kita lebih cocok menyebutnya ‘tidak sesuai dengan fitrahnya’ sebagai laki-laki atau perempuan. Sesuai pengalaman kami hal ini memberi dampak yang positif walau mungkin maksudnya sama. Klien kami merasa lebih diterima sebagai orang yang ingin berubah, bukan sebagai pesakitan.

8. Apakah Oreintasi SSA merupakan bawaan gen atau keturunan?

Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah tentang hal itu yang bisa dijadikan patokan pasti, masih menjadi perdebatan para ilmuwan. Silakan buka di mesin cari dan ketikkan ‘gay gene myth’ atau ‘gay gene hoax’ (tanpa tanda petik).

Klien kami berpijak pada sesuatu yang pasti bahwa lingkungan (pendidikan) yang paling berpengauh dalam pembentukan orientasi seksual. Mereka tidak mau mengambil keputusan dari satu hal yang absurd (belum jelas).

Orang-orang yang beropini bahwa SSA adalah keturunan enggan untuk membuktikan diri di rumah sakit atau penelitian karena takut jika terjadi sebaliknya. Ya, sampai saat ini hanya ‘opini’ tanpa mau membuktikan langsung padahal zaman sudah sedemikian maju.

Itulah kenapa klien SSA di Peduli Sahabat tidak mau ikut ribut soal itu karena SSA dianggap sebagai pemberian (anugerah) berupa ujian keburukan yang harus disikapi dengan kesabaran.

9. Lantas apa penyebab orientasi SSA yang paling kuat atau mendasar?

Terlepas perdebatan soal gay gene , data Peduli Sahabat menunjukkan ada 3 kategori utama pemicu seorang anak balita berbelok arah menjadi SSA, yaitu:

  • Pemaksaan dalam mengambill role model (contoh model). Misalnya seorang anak laki-laki mengambil peran dari ibunya. Pemaksaan ini disebabkan oleh beberapa hal seperti broken home, ketidakharmonisan keluarga, dominasi ibu, dominasi ayah, kekerasan rumah tangga, dll. Sekitar 60% klien kami mengalami ini.
  • Over Protective (terlalu dimanja/dilindungi). Biasanya terjadi pada anak bungsu, tunggal, satu-satunya jenis kelamin dalam keluarga, atau anak istimewa (misalnya paling ganteng atau paling cerdas). Sekitar 30% klien kami mengalami ini.
  • Salah mengambil role model secara sukarela. Berbeda dengan nomor satu, sikon si anak diberi kebebasan memilih model sendiri (biasanya kedua orang tua sibuk kerja dengan materi berlimpah atau anak yatim-piatu). Jadi secara hubungan keluarga harmonis tapi anak-anak dibiarkan memilih model tanpa diberi contoh atau pemberitahuan. Sekitar 10% klien kami mengalami ini

10. Apakah bukan karena trauma jiwa, misalnya pelecahan seksual?

Berdasarkan data kami, itu bukan pemicu tetapi penguatan. Anak sudah berbelok dahulu kemudian dikuatkan dengan berbagai situasi dan kondisi yang mendukungnya. Misalnya pelecahan seksual, bully, pola pengasuhan anak, atau yang lain. Kebanyakan hal ini terjadi di atas balita.

11. Apa indikasi atau ciri-ciri seorang anak atau remaja mempunyai SSA?

Kurang lebih seperti ini saat anak-anak.

  • Indikasi fisik berlawanan dengan jenis kelaminnya, misalnya laki-laki bertingkah laku seperti wanita. Perlu dipahami bahwa dugaan ini hanya 50% saja karena masih ada biseksual, transgender, metroseksual (dewasa), kultur setempat (misalnya orang Solo bicara agak halus).
  • Pilihan karakter berkebalikan dengan jenis kelaminnya sangat dominan. Misalnya laki-laki suka main boneka barbie, berdandan, animasi dengan tokoh perempuan, lagu melankolis, dll.
  • bermain dekat dengan lawan jenis dibandingkan sesama jenis.

12. Apakah itu juga berlaku untuk remaja dan dewasa?

Biasanya saat remaja orang SSA sudah memahami dan berusaha menutupi kekurangan (yang dianggap tidak sesuai norma hetero) tersebut dengan ikut kegiatan yang sesuai. Mulai dari sini biasanya mulai kabur. Orang yang bersangkutan bisa memlilh menyindiri atau sebaliknya aktif di banyak kegiatan.

Hanya saja tetap masih bisa dideteksi jika kita mau mendalami lewat interaksi yang efektif.

13. Bagaimana mencegah anak agar tidak mempunyai SSA?

Dalam islam sudah diajarkan agar anak-anak dididik dengan kasih sayang secukupnya dengan role model yang jelas. Tidak berlebih dan tidak kurang, seimbang. Bisa dibaca dalam buku-buku tentang parenting terutama peran ayah.

Di Indonesia memang peran ayah dalam mendidik anak sangat minim bahkan cenderung menjadi musuh bagi anak-anak. Ayah adalah ‘sesuatu yang menakutkan’ bagi mereka. Lihatlah mulai dari anak-anak, TK, sampai SD sebagian besar pendidik formal perempuan.

Jadi berilah contoh kepada anak-anak bagaimana seorang ayah dan ibu yang baik.

14. Bagaimana jika orang tua tidak lengkap?

Ambillah role model dari keluarga terdekat atau bisa memberi contoh langsung dari tetangga yang harmonis. Anak-anak akan mudah menangkap lewat contoh.

15. Apakah harus dibedakan mainan untuk anak laki-laki dan perempuan?

Kalau hanya sekadar mengenalkan macam-macam mainan dan permainan tidak masalah agar tahu tapi kalau sudah sampai ke pilihan jelaskan dengan bijak apa yang sering laki-laki dan perempuan lakukan. Hal terpenting di sini adalah penjelasan dan contoh.
16. Apakah orang heteroseksual bisa melakukan tindakan homoseksual?

Sangat bisa, contohnya kaum Nabi Luth. Awalnya juga masyarakat umum dengan identitas hetero seperti kaum lainnya. Secara bertahap mereka mencoba tindakan seksual sesama jenis. Akhirnya tindakan itu bahkan merata. Di Peduli Sahabat ada contohnya.

17. Apakah mereka tidak jijik?

Seks sering melupakan batas-batas norma yang seharusnya dijaga umat manusia, terutama laki-laki. banyak laki-laki heteroseksual yang mengambil keuntungan di dunia seks sesama jenis termasuk di dunia LGBT. Contohnya:

  • Terhindar dari kehamilan (bebas dari tuntutan)
  • Tahu sama tahu bagian yang ‘enak’ bagi laki-laki
  • Tidak dicurigai dengan alasan teman satu hobi
  • Mencari kenikmatan seks secara gratis sekaligus materi, secara materi sebagian kaum LGBT termasuk mapan
  • Kalau berpisah aman, karena kalau ada tuntutan akan dicibir masyarakat, dll.

18. Apakah dari kebiasaan itu seorang heteroseksual bisa berubah menjadi SSA?

Bisa
Identitas Sosial

1. Apakah benar ada ‘gay radar’?

Tidak, itu hanya mitos. Kenapa sesama SSA bisa saling mengenali karena ya gestur tubuh dan mimik mukanya menunjukkan itu. Tidak beda dengan laki-laki heteroseksual yang menyukai seorang wanita maka si wanita pasti akan tahu dari gerak-geriknya, tatapan matanya, dll.

Nah begitu juga dengan orang SSA, karena saling mengamati maka akan terdeteksi. Coba Anda lihat di mall-mall kota besar, hal ini mudah dilihat. Kelompok yang sekadar berteman atau memang ada ‘hubungan spesial’, sekali lagi hanya dengan melihat gestur tubuh dan mimik mukanya.
2. Apakah orang dengan SSA otomatis bisa disebut LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender)

Belum tentu. Bedakan antara orientasi seksual dan identitas sosial.

LGBT adalah identitas sosial, semacam penerimaan diri, pencitraan, aktualisasi diri yang hadir sebagai lawan dari identitas hetero. Itulah kenapa kaum LGBT juga ingin diakui eksistensinya seperti kaum hetero seperti persamaan pengakuan di mata masyarakat, persamaan legalisasi pernikahan, dan lain sebagainya.

Nah kalau SSA itu orientasi seksual sesama jenis. Misalnya ada orang yang mempunyai SSA dan pernah melakukan tindakan seks sesama jenis tetapi dia tidak ingin menjadi LGBT maka kita tidak bisa menyebutnya LGBT.

Mudahnya, seorang SSA belum tentu LGBT tapi kalau LGB (Transgender saya sendirikan karena kasus khusus) sudah pasti mempunyai SSA.

Masih banyak orang SSA yang tidak ingin menjadi LGBT, dia ingin hidup secara identitas hetero seperti yang ada dalam agama atau adat setempat.

Di Peduli Sahabat, para SSA ini menganggap bahwa orientasi seks sesama jenis merupakan pemberian (anugerah) Allah sebagai ujian berupa keburukan. Sikap yang diambil adalah sabar dan tetap berusaha hidup di jalan Allah dengan identitas hetero (menikah dengan wanita, punya anak dll) walau dirasa berat.

Sebaliknya kaum LGBT beranggapan bawah SSA adalah pemberian (anugerah) Allah sebagai ujian berupa kebaikan sehingga harus disyukuri dengan jalan menyalurkannya kepada sesama jenis, kalau perlu memperjuangkan hak menikah secara legal.

4. Berarti SSA yang memilih identitas hetero munafik dan membohongi istrinya?

Tidak, karena memang dia menikah atas dasar agama. Bagaimana mungkin orang yang mematuhi agama dikatakan munafik?

Soal cinta itu juga urusan lain, cinta tidak selalu berhubungan dengan orientasi seksual. Banyak klien kami yang mencintai istrinya karena Allah.

5. Peduli Sahabat pro atau kontra LGBT?

Pro dan kontra LGBT sudah jelas secara UU dan agama tapi kita tidak mau membahasnya karena itu urusan masing-masing orang. Kami fokus membantu teman-teman SSA untuk menjalani hidup sesuai perintah agama dan menyesuaikan dengan adat setempat.

Silakan melihat visi dan misi kami agar jelas.


Tentang Peduli Sahabat

1. Peran Peduli Sahabat?Kami mendampingi:

  • Orang non-heteroseskual yang ingin hidup di jalan agama dan adat setempat. Apakah mereka nanti akan berubah orientasi seksualnya itu bukan tujuan utama, hanya efek saja. Tujuan utama mereka bisa hidup secera identitas hetero dan nyaman di jalan agama dan adat setempat.
  • Keluarga (orang tua, anak, saudara kandung) yang bingung menyikapi saat keluarganya ada yang mempunyai SSA.
  • Suami atau istri yang pasangannya mempunyai SSA.

Kami belum bisa mendampingi oreng ketiga karena akan kesusahan menggali data, lewat edukasilah kami mebantu orang ketiga yang curhat tentang teman, sahabat, paman, bibi, dll yang mempunyai SSA.

2. Berapa lama klien didampingi?

Normalnya paling minim 7 bulan, bisa lebih dari itu karena kadang masalah yang dihadapi bukan sekadar orientasi seksual tapi juga hal lain. Seperti kemampuan memahami orang lain, masalah rumah tangga, dll.

Setelah pendampingan selesai klien bisa menjalani hidup sesuai norma agama dan budaya setempat. Perkara orientasi seksual akan berubah atau tidak sudah urusan lain.

3. Bagaimana cara mendaftar menjadi klien PS

Berikut tata cara layanan pendampingan Peduli Sahabat pusat lewat chat FB:

  • Baca dulu semua FILES di grup ini.
  • Sebaiknya membaca buku Anakku Bertanya tentang LGBT (dapat dibeli di tobuk terdekat) agar saat wawancara pendamping PS tidak terlalu capek menjelaskan satu per satu. Ini buku umum – parenting, bebas dibaca siapa saja dan jangat takut dituduh berorientasi non-heteroseksual.
  • Buat id atau akun baru di FB (tidak ada foto atau tautan pornografi) agar aman bagi Anda (takutnya kalau memakai id/akun asli bisa membuka aib karena ini grup umum.Hubungi pendamping kami (untuk sementara ini baru Sinyo) guna meminta kode klien. Kami berusaha online 12 jam sehari tapi mohon maaf kalau sedang tidak di depan PC akan dijadwlkan ulang.
  • Sebutkan kode klien setiap curhat atau wawancara.
  • Sabar, karena pendamping harus melayani banyak pihak. Bisa sekali waktu atau beberapa kali pertemuan sesuai sikon.
  • Ikuti wawancara sampai selesai (maaf kalau pendamping bawel karena memang harus tahu keadaan klien).
  • Ikuti tugas-tugas (selama kurang lebih 7 bulan) hingga selesai, kecuali kasus khusus.
  • Klien harus aktif karena semua ini gratis, kasihan pendamping kalau harus menguber-uber klien 🙂
  • Setelah lulus keberhasilan cita-cita klien diusahakan oleh dirinya sendiri, kami hanya membekali alat-alat di perjalanan menuju cita-cita.
  • Jika cita-cita berhasil, boleh melupakan kami (sangat disarankan untuk keharmonisan rumah tangga) tetapi mohon doakan kami agar selalu eksis. Kalau ingin membantu perjuangan PS harap pastikan aman bagi hubungan keluarga yang dibina. Kalau gagal, ya diocba lagi sampai berhasil ^_^
  • Ingin donasi boleh (sementara memakai rekening pribadi) yang akan dilaporkan setiap bulan di grup Peduli Sahabat (Facebook)
  • Dilarang membagi informasi pribadi (foto, CV, dll) kepada sesama klien atau anggota PS yang umum dengan alasan apa saja. Apalagi sampai bertemu darat kecuali dengan pendamping yang ditunjuk.

4. Bagaimana seorang SSA sudah pernah berhubungan seksual sesama jenis tapi ingin tobat?

Tobat Nasuha, tobat yang sesungguhnya yaitu berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut. Bisa bergabung lewat Peduli Sahabat.

5. Apa perbedaan dan persamaan antara laki-laki dan perempuan SSA?

Laki-laki dan perempuan SSA sama saja karakter dasarnya dengan laki-laki dan perempuan heteroseksual hanya berbeda objek yang dihasrati.

6. Bagaimana cara menumbuhkan cinta ke lawan jenis bagi orang SSA?

Dari data kami bisa dilakukan setelah menikah terutama saat sudah menjalani keluarga yang harmonis apalagi hadirnya buah hati.

kalau yang dimaksud saat masih bujang menumbuhkan hasrat seksual ke lain jenis terus terang susah karena tidak ada tempat praktik. Satu-satunya ya lewat doa agar ditemukan dengan jodoh yang cocok atau nyaman di hati.

7. Bagaimana orang SSA bisa melakukan hubungan dengan lawan jenis kalau tidak tertarik?

Bisa, silakan ikuti pendampingan di Peduli Sahabat.

8. Apakah perlu jujur ttg kondisi SSA pada pasangan, baik yg sudah menikah atau akan menikah?

Saran utama kami sebaiknya tidak usah karena hal itu benteng pertama yang akan menghalangi klien untuk melakukan tindakan seks sesama jenis.

Kecuali situasi khusus karena pasangan sudah paham dunia ini dan siap menerima kenyataan dan yang bersangkutan memang benar-benar yakin tidak akan melakukan tindakan seksual sesama jenis.

Bahaya jika pasangan tahu keadaan yang bersangkutan adalah terjadinya ‘deal’ pemakluman sehingga kurang berhati-hati dalam bertindak.

Semua diserahkan kepada klien dengan segala konsekuensinya.

9. Apakah harus nikah jika masih belum tertarik pada lawan jenis sama sekali?

Sebaiknya begitu karena lewat menikahlah salah satu bantuan terbesar mengubah orientasi seksual.

10. Bagaimana menangani anak yg tahu bahwa ayahnya seorang gay Apakah ada kemungkinan mereka akan balas dendam dengan menjadi gay juga.

Ini harus dijawab per kasus karena umur dan pengetahuan anak sangat berpengaruh. ikut saja pendampingan di PS nanti akan kami masukkan layanan keluarga.

11.Apa saja yang harus dipersiapkan oleh seorang calon istri menjelang pernikahannya dengan seorang calon suami yangg punya SSA?

Ada pendampingan khusus calon pasangan atau pasangan. Kami hanya melayani calon suami SSA yang sudah ikut (mau dengan ikhlas ikut) pendampingan SSA. kami akan dampingi secara bertahap dari dua sisi.

Intinya keduanya harus memahami benar dunia SSA dengan baik.

12. Apakah harus memaafkan orang yang pernah mencabuli saya ketika kecil?

Kejadian masa lalu tidak bisa diubah berkebalikan dengan masa depan yang ada di tangan masing-masing orang. Memaafkan kesalahan orang lain adalah salah satu akhlak terpuji dalam Islam.

13. Apakah seorang SSA yang masuk syurga disana dipasangkan dengan suami or istrinya di dunia or dipasangkan dengan yang didunia cuma bisa ditahan tahan?

Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedkitpun pahala amal (kebajikan) mereka.” (QS. Ath Thur: 21).

14. Apakah setelah masalah SSAnya tuntas boleh tetap ‘kontrol’ ke PS?

Curhat atau membantu boleh dengan catatan aman bagi pernikahan yang bersangkutan. Jangan sampai pernikahan yang haromis berantakan gara-gara ingin curhat dan membantu kami.

15. Apa alasan paling banyak seorang SSA memilih identitas sosial hetero?

Keyakinan untuk mengikuti agamanya.

16. Bagaimana meneguhkan niat untuk tetap fokus pada tujuan utama belajar menjadi hetero?

Ingatlah mati.

17. Bagaiaman menyikapi orang dengan kecenderungan biseksual?

Sikapi dengan akhlak mulia, kalau dia terbuka dengan kita maka bantulah, jika dia menutup diri berilah informasi tentang pentingnya mengikuti jalan agama secara tidak langsung.

18. Bagaimana mendeteksi orang SSA kalau dijodohkan?

Selidiki masa kecil dan remaja lewat keluarga, sahabat, atau kerabat dekatnya. Tanya pula teman-teman dekat bagaimana keseharian calon suami.

19. Apakah ada pertanyaaan khusus agar kita bisa membedakan orang SSA atau hetero, terutama kalau kita pacaran?

Ya tanya saja langsung, kamu SSA atau heteroseksual? Berharap saja orangnya jujur 🙂 . Cara terbaik selediki masa lalunya.

20. Bagaimana tafsir tentang hukuman bagi orang yang melakukan tindakan homoseksual?

Hal itu sudah dijelaskan ulama hanya saja perlu beberapa tingkatan untuk mencapai hukumuan terberat. Apalagi di Indonesia bukan negara yang memakai hukum Islam, bahkan kalau memakai hukum Islam sekali pun tentu perlu pengadilan agama dengan saksi-saksi yang cukup serta memadai.
21. Saya ketahuan memiliki SSA oleh orang tua, bagaimana menjelaskan kepada mereka kalau saya bukan LGBT?

Jelaskan semampunya, jika kesulitan hubungi Peduli Sahabat untuk menjelaskan kepada orang tua.

22. Bagaimana saya harus bersikap terhadap teman-teman LGBT yang berpendapat bahwa saya ini sebenarnya hanyalah gay in denial?

Ya cuek saja fokus ke tujuan yang akan dicapai toh hidup ini dijalani masing-masing. Tidak mungkin memaksa orang lain untuk setuju dengan langkah yang kita ambil walau mungkin baik dan sesuai agama.

23. Kenapa sih kok laki bisa suka laki? Apa yg mereka cari? Kan apa yg ada di diri mereka sama?

Macam-macam, bagi mereka yang heteroseksual tetapi melakukan hubungan seks sesama jenis hanya sekadar pemuasan nafsu saja. Mereka yang mencari duit tentu ya demi harta, dan lain sebagainya. Tergantung masing-masing individu termasuk kebutuhan psikologis. Terkadang hubungan seksual yang mungkin terjadi bukan seks itu semata tetapi kepuasan jiwa karena ada sesuatu yang didapatkan pada laki-laki yang disukai.

24. Teman saya baru mengaku kalau dia SSA. Apa yg harus saya lakukan?

Dalami dulu apa yang dia mau, kadang orang SSA butuh teman curhat agar dia terkurangi beban hidupnya. kalau sudah didalami dan tahu apa keinginan yang utama maka arahkan ke jalan Allah.

25. Saya baru mengetahui kalo putra saya menyukai sesama jenis. Sebagai ibunya saya merasa terpukul dan gagal dakam mendidiknya. Apa yang harus saya perbuat?

Pertama jangan panik. Langkah kedua pelajari dunia SSA dengan baik dan bantu dia untuk belajar berubah. Kalau kesulitan bisa menghubungi Peduli Sahabat.

26. Kenapa ada perempuan yang bersikap dan meniru lelaki, apa bisa dikategorikan dia LBGT?

Kalau LGBT atau tidak ya harus ditanya. Nah kalau SSA atau tidak ya harus diselidiki dulu, tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dari sikap luar saja.

27. Saya mimpi basah bercinta dengan perempuan, padahal saya perempuan, apa saya punya potensi SSA?

Tergantung intensitas mimpinya, kalau lebih dari satu kali iya berpotensi. Terpenting saat sadar saja karena soal mimpi masih menjadi bahan penilitian yang kadang penuh misteri.

28. Apakah ada makanan tertentu yang bikin jadi SSA?

Setahu kami makanan yang terpapar zat kimia tertantu bisa meningkatkan hormon tertentu tetapi kalau sampai menjadikan seseorang kemudian SSA masih perlu penelitian yang lebih mendalam.

29. Saya ingin mencoba psikoterapi guna mengatasi masalah SSA saya. Bagaimana saya bisa tahu psikolog mana yang sesuai dengan kebutuhan saya?

Para psikolog yang tergabung di Peduli Sahabat, berita dari mulut ke mulut, atau psikolog yang sudah jelas mendukung ke arah agama dengan baik.

30. Apakah benar terlalu alim atau terlalu menghormati wanita misal ibu atau sayang sekali kepada kakak wanita, bisa menjadi sebab hilangnya keingintahuan pada wanita. Akhirnya mengarah ke sesama jenis?

Sudah dijelaskan pembelokan terjadi pada masa balita, kalau ada trauma atau hal psikolgis lain biasanya adalah penguatan. Pertanyaan di atas lebih ke pola asuh yang akan menguatkan pembelokan yang sudah ada.

Peduli Sahabat, 10 juli 2015

Penyusun Sinyo

tak terkategorisasi

Runtuhnya Teori ‘Gen Gay’


Mumpung rame kembali kasus pelegalan kawin sejenis di US oleh Obama…

Iwan Yuliyanto

…dan Dialog Tentang Indonesia Tanpa Diskriminasi |

Gay

Bismillah…

Jurnal ini tambahan penjelasan tentang runtuhnya teori ‘Gen Gay’ pada jurnal sebelumnya: Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak.

Berawal dari obrolan dengan Tyas Sarce, pegiat Indonesia Tanpa Diskriminasi (ITD); juga dengan teh Onya Aza, pegiat Anti Sepilis dan Anti LGBT. Saat obrolan sampai bagian tentang fitrah manusia, Tyas Sarce menulis:

Lihat pos aslinya 2.255 kata lagi

android, gadget, tunarungu

Menyiasati screen time yang berlebihan pada anak


mac

Keberadaan gadget elektronik yang memiliki fitur layar di era moderen membuat anak lebih malas untuk beraktifitas secara fisik. Orang tua sering tidak menyadari keberadaan gadget memberikan dampak yang serius bagi anak. Memang tidak semua gadget berfitur layar membuat anak malas beraktifitas secara fisik karena ada juga gadget yang justru memberikan anak semacam edukasi tertentu. Biasanya gadget jenis ini ada di sentra permainan anak di pusat perbelanjaan atau tempat wisata.

Kami pun merasa begitu, gadget merupakan ancaman tersendiri bagi kami, yang memiliki anak berkebutuhan khusus/ABK (tuna rungu). Anak ABK memerlukan kondisi bermain dan belajar yang harusnya lebih terkondisikan agar mampu menerima input yang sesuai diharapkan. Dan yang lebih penting lagi menghindari ketergantungan yang parah terhadap permainan-permainan di gadget. Anak sekarang selain sulit dicegah, mereka juga justru lebih kreatif mencari celah untuk mendapatkan keinginan mereka. Dalam kasus Nadifa (dan juga kakaknya), meski pun gadget sudah diberi proteksi password sekali pun, ternyata mereka bisa membongkarnya. Calon hacker juga ternyata, haha…

Untuk televisi lebih gampang di saat ini, karena sudah bisa lebih diatur kapan boleh nonton TV, apalagi sejak kami tidak lagi berlangganan TV satelit, dan kami sendiri juga sudah jarang menonton TV. Sedang untuk small gadget seperti android handset, itu jauh lebih sulit. Apalagi biasanya gadget jenis ini terkoneksi terus ke internet. Sehingga sangat banyak hal yang bisa dieksplorasi oleh anak. Mereka sudah terbiasa membuka google play store untuk mendownload sendiri game kegemaran mereka, atau pun tahan memelototi berjam-jam channel youtube favorit mereka. Dahulu kalau dilarang mengakibatkan mereka marah-marah dan justru sulit diajak belajar alias waktu ngambeknya sangat panjang. Untunglah sejalan waktu ada hal-hal yang bisa dimodifikasi agar screen time lebih bisa dikendalikan.

1. Membiasakan anak beraktifitas outdoor/luar ruangan. Bagaimana pun ini butuh energi besar bagi orang tua untuk memfasilitasi anak agar anak bisa beraktifitas di luar rumah. Sangat susah di situasi dunia perkotaan dengan lahan/halaman yang sempit. Sampai saat ini pun aktifitas di luar masih seperti yang dulu, les renang. Kadang main pasir di tanah tetangga, kadang main air, menyiram tanaman, senam, main petak umpet, hula hop, dan sebagainya. Sebenarnya banyak sekali referensi mengenai aktifitas outdoor. Syaratnya cuma satu: kemampuan orang tua untuk meluangkan waktunya menemani anak bermain. Ini yang susah. Padahal di zaman orang tua kecil dulu, banyak sekali aktifitas outdoor yang bisa dilakukan.

2. Mengurangi waktu koneksi ke internet. Ini jelas susah dilakukan bila gadget terkoneksi full internet. Kami menyiasatinya dengan menggunakan modem berjenis wifi mini router, sehingga lebih cepat digunakan saat dibutuhkan, dimatikan bila tidak diperlukan. Bila anak sudah memegang gadget dan terlihat siap membuka youtube atau google play store, modemnya tinggal dimatikan. Tentu saja orang tua juga tidak bisa koneksi ke internet. Memang itu konsekuensi, tidak mengapa. Yang sulit adalah ketika orang tua sedang butuh koneksi internet seperti untuk membalas email, dan sebagainya. Ini bisa disiasati, misalnya dengan menggunakan dua jenis modem, tapi ini justru menambah biaya. Cara lain yang lebih praktis dan tidak keluar biaya tambahan, yaitu dengan melakukan filtering. Ini memerlukan pengaturan di aplikasi modemnya sendiri. Saya biasanya menggunakan filtering berdasarkan MAC address dari gadget yang digunakan atau berdasarkan alamat website tertentu. Filtering menggunakan MAC address akan memblokir penggunaan internet di gadget yang kita inginkan. Jadi orang tua tetap bisa melakukan koneksi melalui gadget lain, misal laptop, ketika harus melakukan koneksi ke internet. Dengan sistem seperti ini sampai sekarang anak tidak melakukan protes, karena bisa kita lakukan dengan diam-diam.

3. Melakukan kompensasi dengan memeberikan fasilitasi mainan yang interaktif dan memerlukan aktifasi motorik yang lebih banyak. Bila mempunyai budget/anggaran khusus buat membeli mainan, tentu ini dapat menggantikan permainan-permainan virtual di gadget, sehingga memungkinkan anak mengembangkan motorik, berkonsentrasi, dan belajar secara lebih baik. Syukur kalau orang tua lebih kreatif membuat mainan-mainan biaya murah bahkan tanpa biaya sebagaimana pengamalam mereka sewaktu kecil dulu.

4. Dan lain sebagainya, silakan orang tua atau teman-teman yang mempunyai pengalaman, dapat menambahkan tip-tipsnya. Terimakasih.

hemat, keuangan, teknologi, tips

Efisiensi


IMG_20150605_231022-

Beberapa waktu lalu saya sempat menulis untuk mengikuti lomba mengenai energi, sayang saya tidak terlalu serius untuk memperjuangkan agar artikel saya itu masuk nominasi. Tidak mengapalah, yang penting ide (untuk) menulis (lagi) sudah terealisasi, dan sedikit banyak sudah tertuang dalam wujud tulisan yang bisa dibaca banyak orang dan berharap memberikan inspirasi dan manfaat.

Kali ini saya mau bercerita terkait judul tulisan ini. Yah, efisiensi. Tentu kata ini saya yakin sudah tidak asing bagi kita semua. Silakan cari maknanya yang begitu banyak di google. Saya sendiri mengartikan efisiensi sebagai penghematan. Hemat dari hal-hal yang selama ini dirasakan sebagai pemborosan. Berhemat dari kegiatan-kegiatan yang seharusnya bisa ditiadakan bila hasil yang dicapai bisa sama bahkan bisa lebih baik. Terkadang efisiensi tidak memberikan kenyamanan. Tetapi kan, kenyamanan itu karena faktor pembiasaan saja. Dan kita mungkin sudah sedikit paham, terkadang kenyamanan itu lama-lama bisa membunuh kita dengan lebih cepat. Membunuh dalam artian sebenarnya, atau membunuh kemampuan diri kita untuk lebih maju menghadapi tantangan agar survive dalam dunia yang semakin keras ini.

Baiklah… supaya tidak melebar kemana-kemana, saya langsung saja cerita mengenai proses-proses efisiensi yang sedang saya lakukan di tempat kerja dan di rumah. Memang ada bagian tertentu yang dari sananya sudah terlanjur sejak awal sehingga tidak bisa dilakukan efisiensi yang berarti seperti desain rumah dan kantor, lokasi rumah dan kantor, jarak ke tempat kerja, daya listrik PLN, dan sebagainya. Namun di era yang semakin keras ini, efisiensi menjadi suatu kewajiban untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dengan pengorbanan (uang dan tenaga) yang lebih kecil, dan tentu saja bisa memberikan tabungan dan sedekah yang lebih banyak. Berikut proses efisiensi yang saya lakukan:

1. Listrik
Sekarang setiap ada bola lampu yang rusak, maka saya selalu mencari penggantinya dari jenis LED, kalau bisa cari yang paling murah, dibandingkan dengan merek termahal dan katanya terbaik, tapi sebisa mungkin juga cari yang ada garansinya. Akhirnya bisa juga dapat bola lampu seharga 60 ribuan (lebih murah dari itu belum dapat yang ada garansi, tapi saya coba juga, siapa tahu awet , hehe) berkapasitas 12 watt, cukup untuk penerangan efektif namun hemat energi. Selain itu kami senantiasa, terutama saya yang paling rewel, mematikan lampu bila tidak digunakan, saat tidur kami usahakan tidur dengan lampu maksimal 5 watt saja, kalau perlu tidak usah pakai penerangan sama sekali. Banyak tulisan yang menjelaskan tidur tanpa penerangan lebih sehat. Yang paling susah dilakukan sampai sekarang adalah mengkondisikan suhu ruangan kamar tidur agar tidur tetap nyaman. Lingkungan dan desain rumah yang tidak menguntungkan membuat suhu ruang juga tidak bersahabat. Namun ada beberapa cara yang kita lakukan. Bila kondisi ruangan tidur suhunya tidak nyaman, yah, terpaksa AC hidup. Dulu di awal, masih rajin membuat setingan agar AC tidak terlalu boros listrik seperti mengaktifkan fitur low energy, fitur timer off/otomatis off bila sudah pukul 2-3 dinihari. Cara lain kalau lagi tidak terlalu panas, dengan membuka pintu kamar tidur sehingga sirkulasi udara lebih baik, jangan membuka jendela, nanti malah maling bisa masuk, hehe. Cara ini terpaksa bila AC sedang rusak, hehe. Bisa dikombinasikan dengan menghidupkan kipas angin. Bersyukurlah bagi mereka yang bisa membuat rumah yang tidak memerlukan AC. Berkaitan dengan AC ini, saya sendiri pernah menderita sakit persendian lutut karena terlalu sering terpapar udara AC secara langsung, karena juga suka lupa memakai pelindung seperti selimut. Tidur yang paling nyaman bagi saya ketika AC ruangan hidup adalah dengan memakai sarung atau celana di bawah lutut. Sayangilah lutut kita… Dan bagaimana pun sampai sekarang saya merindukan rumah tanpa AC, dan itu memerlukan investasi mahal, entah kapan bisa terealisasi. Mahal di awal, namun bisa murah untuk proses lanjutannya. Untuk peralatan komputer, alhamdulillah sampai sekarang ga punya komputer desktop/PC yang watt-nya amat besar itu. Meski sudah banyak akhir-akhir ini komputer hemat energi…, secara pribadi saya belum membelinya, masih memakai laptop biasa saja. Namun untuk kantor kami sedang melakukan eksperimen dan substitusi untuk perangkat komputer hemat energi ini. Semoga sukses dan nanti bisa dibuatkan reviewnya. O, iya sekarang saya sangat jarang sekali nonton TV, selain acara TV sekarang banyak yang tidak bermanfaat, kok kayaknya lebih enak tidur atau browsing daripada menonton, haha…

2. Bahan bakar
Bahan bakar utama di rumah seperti di dapur sampai sekarang menggunakan gas LPG, sayang sekarang gas juga semakin mahal. Efisiensi yang bisa dilakukan sebatas bagaimana memasak yang efisien. Mungkin nanti istri saya bisa menyumbang cara masak yang efisien ini, karena saya sendiri ketika masak, masih boros, haha… O, iya, sayang juga, memasak nasi pilihannya masih memakai energi listrik yang juga besar dan semakin mahal. Masih menunggu kompor yang memiliki efisiensi tinggi untuk memasak nasi. Katanya ada ya…, tapi kali harganya juga mahal, haha…
Untuk kendaraan bermotor, sampai sekarang masih bermimpi punya sepeda yang layak agar bisa lebih banyak menggunakan sepeda untuk kemana-mana. Saat ini saya lebih prefer memakai kendaraan roda dua bila cuaca mendukung, dan tingkat kemacetan lagi parah-parahnya. Memakai mobil pun saya betul-betul berusaha mengemudi secara eco drive (susah loh, mesti nekan emosi ga terpancing ngebut-ngebutan dan main banyak rem, pagi hari lebih suka AC dimatikan, buka jendela dikit untuk hirup udara segar). Sebisa mungkin saya sewaktu memakai kendaraan sudah memetakan daerah macet agar tidak boros bahan bakar.

3. Makan
Terus terang, sekarang lebih banyak makan di rumah, tetap enak masakan istri daripada jajan di warung. Ternyata ini sangat menghemat pengeluaran. Meski pun akhirnya boros saat ga bisa nahan makan bersama di luar atau emosi membeli mainan untuk anak-anak. Di kantor rencana pengadaan katering mandiri masih tahap wacana saja, semoga bisa terealisasi yah…

4. Minum
Sayang, air sumur kami tidak mendukung untuk layak buat diminum. Was-was aja gitu, selain belum dites, juga karena tingkat iritasinya cukup tinggi terbukti tangan yang mudah teritasi saat digunakan untuk mencuci. Sampai sekarang masih minum dari air galon komersial yang cukup menguras budget, artinya yah, belum efisien. Target ke depannya ingin beralih ke mesin filter air yang sekarang banyak bermunculan dari merek terkenal. Semoga. Untuk kantor pun kami akan mereplace semua galon komersial dengan produksi sendiri dengan mesin sendiri. Smoga juga bisa segera. Banyak sekali hematnya loh…

5. Pulsa
Penggunaan pulsa menjadi salah satu perhatian saya sejak lama. Syukurlah akhirnya terpecahkan juga setelah melalui berbagai eksperimen dan evaluasi. Saya dan istri menggunakan nomor pasca bayar CDMA merek terkenal. Gratis telpon semaunya. Abonemen cukup bayar 25 ribu saja. Internet akhirnya memakai pasca bayar juga, cukup 90 ribu unlimited per bulan, pakai bersama sudah lebih dari cukup buat streaming youtube, browsing, chit-chat di grup-grup media sosial, pokoknya puaslah, dapat 15 GB per bulan untuk FUP-nya.

6. Saya kira kalau ditulis semua, banyak deh… maksudnya tulisan ini juga bisa mendapatkan masukan dari para pembaca, model-model efisiensi yang sedang diterapkan oleh teman-teman, siapa tahu bisa saya contoh. Sangat ditunggu share-nya yah, makasih…

Tulisan ini dibuat memakai tablet windows (yang jelas hemat energi), diterangi lampu belajar emergensi LED, dan kipas angin plafon (cuaca begitu sumuknya…). Diupload menggunakan jaringan internet hemat pulsa.

dokter, kesehatan, konsultasi

Konsultasi Dokter Online, Layakkah?


Tulisan ini terkait proyek aplikasi (sementara baru bisa di perangkat Android dan emulatornya) yang sedang dikembangkan oleh teman-teman saya, saya hanya salah satu penasihat, fasilitator, reviewer, sekaligus sebagai pemain juga. Aplikasi yang dimaksud adalah ChatDoctor, aplikasi konsultasi jarak jauh dokter dengan pasien secara real time melalui akses internet. Aplikasi ini bisa diunduh melalui Google Play. Pada proses pengembangan ini memberikan kebebasan bagi member berkonsultasi secara gratis.

Sebagai salah satu dokter yang mengampu rubrik konsultasi pada aplikasi ini, saya merasakan aplikasi ini berguna bagi masyarakat yang membutuhkan akses cepat (real time) dikala mereka terkena masalah kesehatan tertentu. Sepertinya mereka sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini, terbukti dengan beberapa testimoni positif yang masuk ke dalam ruang konsultasi saya.

Memang sebagai produk teknologi, dalam pengembangannya, masih banyak kekurangan aplikasi ini yang masih menyulitkan bagi dokter dan pasien. Seperti proses arsip yang belum sempurna untuk keperluan rekam medis secara online. Beberapa bugs yang muncul juga turut membuat kurang nyaman, namun ini justru membuat aplikasi ini semakin sempurna dengan semakin banyaknya masukan. Kesulitan lain adalah masih sedikit dokter yang mau berpartisipsi dalam aplikasi ini. Bisa dipastikan bahwa dokter yang bergabung dalam aplikasi ini adalah dokter yang melek teknologi serta mau meluangkan waktunya untuk memberikan ruang konsultasi kepada masyarakat. Ini yang paling susah saya kira. Praktik dokter secara online sebenarnya sama saja dengan offline, namun di sini dituntut ketelitian yang lebih dalam memberikan advise kepada pasien. Saya sendiri dari dulu sudah terbiasa memberikan konsultasi jarak jauh melalui media internet mau pun via sms atau telepon, jadi tidak ada masalah berarti. Kecuali satu mungkin, yaitu waktu yang lebih agak tersita, karena tag line dari apliasi ini adalah real time. Begitu pasien bertanya, dokter sebaiknya secepat mungkin memberikan respon. Ini yang masih sulit juga, memerlukan komitmen kuat, gadget yang handal, dan koneksi internet yang stabil. Selama terlibat di aplikasi ini saya belum mendapatkan konsultasi kasus emergensi dari masyarakat, meski pun suatu saat bisa saja terjadi seperti line 911 di luar negeri. Sehingga trik yang diterapkan adalah membatasi jam praktik online, yaitu dengan mencantumkan jam praktik sehingga bisa dilihat oleh member, namun sepertinya ini belum efektif. Masih banyak yang bertanya di luar jam praktik. Yah, sebenarnya ini bisa dimaklumi, sama saja ketika kita praktik secara offline, semisal di rumah, meski ada jam praktik tertulis jelas di plang praktik, ya tetap saja ada pasien yang berobat di luar jam praktik. Ini menjadi tantangan, selain tag line real time, aplikasi ini juga mencita-citakan online non stop 24 jam, stand by untuk konsultasi. Yah, memang perlu sumber daya dokter yang banyak, itulah tantangan.

Mungkin ada yang bertanya, biasanya dari para sejawat dokter sendiri: Layakkah aplikasi seperti ini dijadikan salah satu sarana pengambilan keputusan medis bahkan memberikan rekomendasi tertentu kepada masyarakat yang bisa jadi berdampak negatif dikarenakan keterbatasan tertentu seperti tidak bertatap muka secara langsung? Mungkin kita lupa, bahwa selama ini para dokter juga menerima berbagai konsultasi seperti kondisi yang ada pada aplikasi ini. Dan selama ini tidak menjadi masalah. Memang ada batasan, kasus apa saja yang bisa ditangani secara tidak langsung seperti ini. Ini tentu memerlukan kreatifitas yang tinggi dari seorang dokter dalam menggali informasi yang sebagian besarnya bersifat tulisan, gambar, dan attachment lainnya seperti video dan audio. Inilah yang disebut sebagai telemedicine. Syukur-syukur kalau ke depan bisa ada standar yang lebih jelas, semacam pedoman praktik online bagi para dokter. Untuk ini kita bisa mengambil referensi dari website-website konsultasi yang sudah ada banyak baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Di samping kemungkinan efek negatifnya, ada banyak efek positif yang memberikan keuntungan bagi dokter dan masyarakat bila bergabung dalam aplikasi seperti ini. Dokter bisa mendapatkan kepercayaan yang lebih dan meningkatkan angka promosi dirinya atau institusinya bila bergabung dengan aplikasi ini, karena aplikasi ini memberikan ruang iklan seperti tempat dokter praktik disertai dengan peta onlinenya. Keuntungan bagi pasien terutama adalah mendapatkan akses konsultasi yang jauh lebih mudah, dengan biaya yang sangat murah.

Semoga aplikasi ini ini semakin berkembang dan memberikan kemanfaatan yang lebih banyak kepada masyarakat. Aamiin.

Referensi:

http://chatdoctor.net/

https://play.google.com/store/apps/details?id=xrb21.chat.dokter&hl=en

https://kitabisa.com/chatdoctor