Diposkan pada curhat, dokter, salahkaprah

Pernahkan anda bekerja full melebihi 24 jam…?


Bukan untuk menyombongkan diri, tapi beginilah keadaanku sekarang, dan sebenarnya lebih banyak yang lebih parah dari aku. Hari ini dari kemarin saja, aku kerja sekitar 30 jam. Dan tidak sekali itu saja, setiap minggunya hampir selalu kena hal demikian, bukan lembur, tapi memang masih jam kerja. Padahal aku hanya memanfaatkan fasilitas 2 tempat kerja saja dari 3 tempat kerja yang diperbolehkan bagi seorang dokter. Pindah dari satu tempat kerja, ke tempat kerja yang lain.

Aku sih masih muda masih kuat, tetapi yang luar biasa ada temanku sekantor, udah kepala 4 lebih, masih kuat aja wara-wiri di tiga tempat praktik. Bahkan ada adik kelasku yang sampai melanggar sampai 5 tempat praktik. Ya, tapi itu, kalau seminar selalu ketiduran 😀

Kami sebenarnya tidak mau seperti itu tapi banyak hal yang menuntut para dokter seperti gila kerja. Karena kebutuhan material, karena kebutuhan permintaan pelayanan yang tidak bisa ditolak karena memang suatu tempat membutuhkan dokter, dan mungkin yang masih muda butuh kejar setoran buat biaya nikah, hehehe…

Aku sadar sebenarnya ini tidak “sehat”, dokter akan tidak waspada, contohnya seorang dokter bedah di tempatku, sudah 2 kali kecelakaan dengan mobilnya saat menyetir sendiri, karena kantuk yang luar biasa. Bahkan kecelakaannya yang paling parah membuat cacat wajah dan penglihatannya. Namun Allah masih memberikan kesempatan beliau untuk berbakti dan melayani. Sekarang beliau tidak pernah menyetir sendiri, pasti minta dijemput atau diantar dari rumahnya…

Seperti banyak hal yang ditulis tentang pandangan miring terhadap profesi dokter, sebenarnya banyak kisah-kisah heroik individual dokter yang tidak terekspos. Mulai dari kerasnya kondisi alam yang terpencil, bahaya dari berbagai kerusuhan etnis, sampai pada bahaya perang seperti yang dialami kakak kelasku waktu ikut jadi relawan di Kapal Mavi Marmara, kepunyaan Turki.

Aku sendiri juga berpengalaman dari berbagai keikutsertaan sebagai relawan bencana, jadi lumayan bisa merasakan kerasnya pengabdian profesi dokter. Kami berharap saja semua pihak memandang secara berimbang tentang profesi ini karena banyak hal yang melatarbelakangi mengapa terjadi hal-hal yang sebenarnya tidak seharusnya terjadi.

Seandainya penghasilan dokter itu layak, maka dokter-dokter dari instansi pemerintah tidak perlu mangkir dalam jam kerjanya dan nyambi di banyak tempat. Seandainya harga obat itu murah, maka dokter tidak akan banyak yang terjerumus dalam kolusi dengan pabrikan farmasi. Seandainya pendidikan dokter itu terjangkau maka akan lebih banyak melahirkan dokter yang tidak matre. Seandainya masyarakat bisa berpikir jernih, maka dokter-dokter tidak akan terbeban dengan stigma-stigma tertentu.

Sekedar curhat saja… 🙂

Diposkan pada curhat, dokter, kesehatan, penyakit, yankes

Gemas Dengan Pengobatan Alternatif!


Mumpung masih hangat-hangatnya cerita pengobatan alternatif, aku mau nimbrung nih…
Bukan karena takut bersaing loh… 😀 Tapi berdasarkan bukti yang aku temui di tempat di RS-ku membuat aku berkesimpulan jangan pernah mencoba pengobatan alternatif tanpa pernah terlebih dahulu berkonsultasi dengan praktisi rasional alias dokter dan sejenisnya 😀

Memang tidak bisa kita menutup mata ini (baca: masyarakat lari ke pengobatan alternatif) karena sistem pelayanan kesehatan kita yang kurang pro rakyat (miskin) dan pola pikir masyarakat yang cenderung tidak banyak berubah mengenai kesehatan karena tidak ada sistem pendidikan kesehatan yang baik bagi bangsa ini.

Kasus yang paling sering di RS adalah pengobatan trauma tulang dan sendi. Pengobatan alternatif  yang sering dijadikan pelarian adalah ahli tulang alternatif alias dukun sakal putung atau apalah mungkin ada yang namanya agak berbeda di daerah lain.

Sangat miris sekali beberapa hari yang lain aku menerima pasien dengan trauma patah tulang 7 bulan yang lalu dan dibawa ke sakal putung, ga tahu tuh diapain di sana, tahu-tahu persendian tumbuh benjolan sebesar bola sepak. Wah, gadis cantik berusia 17 tahun tersebut datang dengan perdarahan di sekitar benjolannya tersebut setelah jatuh lagi di kamar mandi…

Kebetulan ada radiolog (dokter radiologi) dan ortoped (dokter bedah tulang) yang standby, “Wah…begini nih, kasihan sekali.” “Mmhh, apa nih Dok? osteosarkom (tumor ganas tulang) ya?” “Apalagi klo bukan….” “Innalillahi….”

Jadilah keluarga pasien cuma pasrah dan sangat bersedih, dan mungkin menyesal telah terlambat memberikan pertolongan medis dari awal. Akhirnya pasien kami rujuk ke RSUP Dr. Sardjito untuk mendapatkan penangan yang komprehensif. Semoga Allah memberikan “mukjizat” kepada dirimu ya dik….hiks…hiks…

pic dari sini

Diposkan pada dokter, kesehatan, politikkesehatan, salahkaprah, yankes

Kampanye No Puyer, Menyesatkan!


Entahlah, siapa yang lebih dahulu memulai kampanye anti pemakaian obat sediaan bubuk (puyer) ini. Dari awal memang sudah aneh saja melihat alasannya yang mengada-ada dan terkesan ada motif bisnis yang melatarbelakangi kampanye ini.

Sayangnya kampanye No Puyer ini sudah sangat menyebar di jagat internet beberapa tahun terakhir, dan di saat terakhir ini malah menjadi booming di media massa elektronik alias dunia pertelevisian dan media massa cetak alias koran.

Aku awalnya udah ga begitu “care” karena sangat kental kesan no evidence based medicine yang relevan dan substansial terhadap kampanye ini. Apalagi dengan jargon lain “Obat Puyer Membahayakan” justru ditangkap oleh orang awam sebagai sesuatu yang sangat menakutkan dan menjadi salah kaprah. Beberapa hari sebelum ini aku  mengikuti seminar yang di adakan oleh sebuah subbagian Ilmu Kesehatan Anak FK UGM (almamaterku), ketika ada peserta menanyakan tentang kampanye puyer ini. Di jawab oleh seorang senior spesialis anak: terlalu berlebihan, bukan puyernya yang salah, tetapi bagaimana prosedur dan etika peresepan obat dan mekanisme pembuatan puyer tersebut. Apalagi sekarang untuk konteks Indonesia tidak banyak obat tunggal  dalam sediaan non puyer, misal sediaan sirup yang bisa diperoleh.

Aku hanya menghimbau teman-teman jangan termakan kampanye no puyer yang menyesatkan ini. Sebagai panduan bagi orang tua ketika berobat ke dokter, jangan takut ketika dokter memberikan puyer. Tapi yang penting perhatikan obat apa saja yang diberikan, fungsinya, cara minumnya, dan reaksi sampingnya. Jika perlu mintalah salinan resep sehingga bila kontrol atau ke dokter lain, dapat dilihat riwayat pengobatannya.

Berikut aku lampirkan beberapa link bantahan terhadap kampanye No Puyer ini, dan beberapa link berisi tips bila harus menerima resep sediaan puyer:

Perdebatan Soal Puyer Tidak Pada Substansinya

Kontroversi Puyer, Membuat Masyarakat Bingung

YLKI: Konsumsi Obat Puyer Masih Dilematis

Puyer Dilarang, Obat Anak Bisa Mahal

IDI : Sesuai Prosedur, Obat Puyer Tak Masalah

—————————————————————————–
Klo gitu aku ikut-ikutan kampanye ah… 🙂

Puyer?? Siapa Takut!!

pic dari sini

Diposkan pada curhat, dokter, jogja under cover, kesehatan, kontemplasi, livinginjogja, salahkaprah

(Seharusnya) Berbahagialah penderita AIDS…


Satu lagi pasien pria dengan infeksi HIV meninggal hari ini di RS tempatku bekerja. Umurnya masih sangat muda, 30 tahun. Sangat berat ketika harus kuterangkan ke sang bapak tentang penyakit  anaknya yang mengantarkannya ke pintu maut tersebut. Stigma tentang penderita AIDS memang sangat berat, keluarga yang awalnya merasa cukup bersedih dengan kejadian itu akhirnya juga merasa sedang terkena aib yang sangat besar. “Sudah banyak orang yang tahu belum, dok?” sela bapaknya dengan cemas. “Jangan khawatir, pak, privasi pasien tetap kita jaga, hanya saya, perawat di sini, dan bapak yang tahu. Selanjutnya nanti terserah bapak bagaimana mau bicaranya dengan keluarga.”, kataku berdiplomasi.

Memang komplikasi AIDS dengan hadirnya penyakit oportunis pada pasien ini sudah termasuk berat, sudah terjadi infeksi pada otaknya yang mempengaruhi kejiwaannya, dan infeksi pada organ vital lainnya. Cuma sayangnya, baru saat mondok ini saja dia diketahui terinfeksi HIV. Yah, sungguh sayang…

Kenapa aku katakan sangat disayangkan?
Seperti teman-teman ketahui, masa inkubasi (masuknya penyebab penyakit sampai saat kelihatan gejala) untuk HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang, bisa tahunan, bahkan mencapai puluhan tahun. Sehingga tentu saja sangat disayangkan ketika baru diketahui setelah mencapai fase terminal AIDS sendiri. Aku ga begitu tahu pasti darimana sang pasien terinfeksi. Cuma ada petunjuk: si pasien memiliki tato yang banyak, dan selama beberapa tahun yang lalu bekerja sebagai driver di wilayah ibu kota. Sudah pisah dari istri sejak empat tahun yang lalu (mudah-mudahan istrinya ga kena infeksi…)

Sebagaimana jenis penyakit fatal lain yang bisa diramal usia hidupnya di dunia, tentulah dalam masa-masa menderita penyakit mematikan ini penderita dapat lebih berbuat yang lebih baik bagi dirinya dan orang lain. Bagi mereka yang merasa masa lalunya kelam (tidak semua penderita HIV adalah orang yang berlumuran dosa), sangat terbuka pintu taubat yang sebesar-besarnya. Sungguh “enak” sehali mereka itu… diberikan “peringatan” yang amat jelas oleh Sang Pencipta, agar bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum ajal menjelang…

Beruntunglah mereka…, yah…, beruntunglah mereka jika benar-benar paham ketika telah diberikan kesempatan emas itu, maka pergunakanlah kesempatan itu…

— kutuliskan jurnal ini dalam keadaan bersedih…. tambah sedih melihat pola kampanye penanggulangan HIV/AIDS yang sering salah arah…. 😦 so, mari bantu penderita AIDS menghadapi sisa hidupnya secara benar —

Pic dari sini

Diposkan pada dokter, kesehatan, malpraktik

Kisah Dugaan Malpraktik


Rating: ★★★★★
Category: Other

Bicara tentang dugaan malpraktik tidak pernah ada habisnya, apalagi di Indonesia dengan berbagai kesenjangan yang terjadi. Berdasarkan telusuranku selama ini kasus dugaan mapraktik sebagian besar diakibatkan kesenjangan informasi baik oleh tidak baiknya komunikasi tenaga kesehatan dengan klien. Selain itu konsumen kesehatan di Indonesia jarang bersifat rasional, lebih mementingkan gengsi, sok pintar (maaf…), tidak berusaha untuk mencari second opinion, tidak kritis (dalam hal yang baik) dengan intervensi tenaga kesehatan terhadap dirinya.

Berikut ini sebuah kisah nyata yang telah difiksikan :-), tenttu saja sudah banyak ditambahi “bumbu, biar lebih menarik, tetapi tidak kehilangan pesan yang ingin disampaikan. Terimakasih kepada dr. Posma Siahaan, Sp.PD yang telah berkenan berbagi cerita ini kepada kita.

——————————————————————————————————————

BALADA KASUS MALPRAKTEK

By: PB Siahaan

Kasus I. Persidangan Perdana Dokter Bassing

“ Terdakwa dokter Bassing, anda telah dituduh dengan sengaja mengobati pengacara Wisman yang nyata-nyata di wasiatnya melarang diobati oleh siapapun dokter dalam negeri Gemah Ripah. Apakah anda mengaku bersalah ?” Tanya si hakim tegas, tapi terlihat mimik mukanya geli menahan senyum. Tapi namanya kasus sudah berjalan dan berkas lengkap, terpaksa pertanyaan yang sekilas konyol ini dibacakan.

“ Saya mengaku dengan sadar mengobati pengacara Wisman yang saat itu serangan jantung, tapi saya tidak merasa bersalah!” Jawab Bassing tegas.

“ Baiklah, karena terdakwa tidak merasa bersalah, sidang kita tunda minggu depan dengan agenda mendengarkan tuntutan dari penuntut umum.” Tuk..tuk..tuk palu pun diketuk dan sidang pun bubar.

Dr. Bassing tidak ditahan, hanya dilarang ke luar kota saja dan tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter umum di ruang gawat darurat Rumah Sakit Damai. Tak ada yang berbeda dengan pekerjaannya, manajemen rumah sakit pun tetap mendukungnya. Persidangan tersebut tidak menurunkan kepercayaan pada tindakannya, malah semakin meningkatkan rasa hormat masyarakat pada dirinya.

Ya, kisah aneh ini berawal dari pengalaman tidak menyenangkan pengacara Wisman saat mengobati istrinya yang sakit gangguan penglihatan, mendadak gelap seperti buta. Di sebuah rumah sakit tercanggih di ibu kota Gemah Ripah, si ibu dinyatakan gangguan di retina, dan harus dioperasi matanya. Bila tak dioperasi mata pasti buta dan kalau dioperasi masih mungkin 50% buta. No choice!!!

“ Tidak ada pilihan lain, Pak. Rumah sakit inilah yang tercanggih di negeri Gemah Ripah, bapak boleh cari second opinion, tapi tak mungkin ada pilihan lain di negeri ini. Putuskan satu hari ini pak, kalau terlambat kami tidak bisa berbuat apa-apa.” Sang dokter berusaha meyakinkan si pengacara ternama.

Wisman marah meradang, dibawanya istrinya berobat ke Singapura, 1-2 hari diperiksa di sana ternyata ada gumpalan darah di saraf mata dan pengobatannya hanya anti pembekuan darah biasa saja. Si istri disuntik 1 kali di pusar selama seminggu, gumpalan itu pun mencair dan dia bisa melihat kembali.

“ Ini penipuan! Saya menuntut dokter mata kemarin dan manajemen Rumah Sakit Exellent karena melakukan kesalahan diagnosis!!” Teriak Wisman dengan mata berkaca-kaca di depan wartawan. Dia memang terkenal karena selalu membentuk opini publik pada setiap kasus yang ditanganinya.

“ Masak rumah sakit tercanggih di Gemah Ripah tak bisa mendiagnosis kelainan darah?” Dan tuntutan diajukannya ke pengadilan, tetapi akhirnya kalah. Rumah Sakit Exellent ternyata bisa membuktikan bahwa proses penegakan diagnosis yang dilakukan sudah sesuai prosedur dan tindakan yang ditawarkan juga meminta persetujuan keluarga. Jadi Wisman pun kalah dan ia marah.

Maka diumumkanlah di tanggal 21 Mei 1998 (bersamaan dengan peringatan 100 tahun kemerdekaan negeri Gemah Ripah) sumpah serapah pengacara Wisman yang dibuat di atas kertas segel bermeterai 6000, di depan ratusan wartawan ibu kota: Saya yang bertanda tangan di bawah ini Wisman, SH, MH, menyatakan tidak mengijinkan satu orang pun dokter dari negeri Gemah Ripah mengobati saya atau keluarga saya, apa pun yang terjadi. Bila ada yang berani melakukannya akan saya tuntut seberat-beratnya.

Dan memang sejak itu dalam 10 tahun terakhir Wisman sekeluarga selalu berobat dan check up di Penang, Singapuran dan Australia, walau hanya untuk mengobati panu saja. No problem, no case, nothing to discuss.

Peristiwa yang menjadi pemicu persidangan itu terjadi pada tanggal 21 Agustus 2008 pukul 20.30 waktu Gemah Ripah Bagian Barat, pengacara Wisman yang kelelahan dalam membela kasus perbankan yang bermasalah mendadak nyeri dada kiri hebat, seperti ditusuk-tusuk jarum berkarat. Nyeri seperti ini pernah dialaminya tahun 2003, tapi saat itu masih jam 8 pagi dan keluarga langsung menyewa pesawat carteran, lalu membawanya ke Singapura. Dia dirawat 7 hari kemudian dinyatakan sembuh dan kerja seperti biasa.

Tapi malam itu hujan lebat, ditambah banyaknya petir dan kilat, semua perusahaan penyewaan pesawat angkat tangan tak sanggup berangkat, sementara nyeri dada pak Wisman tambah berat.

Akhirnya keluarga memutuskan membawanya ke rumah sakit terdekat, tapi ternyata wajah pak Wisman sudah ada fotonya di semua bagian gawat darurat dan registrasi rumah sakit ibu kota dengan tulisan besar-besar di bawah fotonya: PERSONA NON GRATA, orang yang tidak diterima, berpotensi buat masalah!!!

“ Maaf, bu. Kami tidak bisa melayani pak Wisman!” Kata si dokter jaga rumah sakit pertama.

“ Tempat penuh, bu…” Kata paramedis rumah sakit kedua.

“ Tempat parkir penuh, mas…..” Kata si satpam rumah sakit ketiga, rupanya dia sudah dapat kabar manajemen rumah sakit untuk langsung menolak jika mobil mewah keluarga Wisman memasuki gerbang rumah sakit mereka.

Akhirnya di rumah sakit Damai, yang kecil di pinggiran kota, rumah sakit ketujuh yang didatangi, setelah 45 menit putus asa ditolak semua rumah sakit sebelumnya, masuklah keluarga ke UGD dan yang menjaga dokter Bassing. Si dokter muda itu memeriksa dengan sigap dan langsung bertindak cepat.

“ Isosorbid 1 tablet bawah lidah, asetosal 80 mg 2 tablet, morphin 1 ampul, infus isotonik 1 kolf mikrodrip…….Rekam jantung….” Dan seterusnya prosedur tatalaksana gawat jantung dia ucapkan….

“ Dok…itu yang diobati, pengacara Wisman!!!” Setengah berbisik perawat Nuri mengingatkan….

“ Saya tahu, terapi teruskan…..” Jawab si dokter tegas.

“ Wah, dokter periksa cipika-cipiki, ya? (istilah analis Rumah Sakit Damai untuk pemeriksaan enzym jantung CPK-CKMB)…..Lho, dok….ini, kan si Wisman? Kalau darahnya diambil nanti saya kena masalah, gak?” Ucap Linda si analis laboratorium senior ragu-ragu..

“ Saya yang tanggung jawab! Kerjakan tugas mu, Linda…” Jawab Bassing tegas.

Nyawa pengacara ternama itu pun tertolong. Wisman dirawat lima hari di Rumah Sakit Damai oleh dokter Bassing, seorang dokter umum, padahal semestinya oleh dokter jantung, namun tak ada dokter lain yang berani menjamah pengacara Wisman di rumah sakit itu. Dan mungkin karena terlalu lama jantung tersumbat dan kehilangan kesadaran akibat kelamaan keliling ditolak banyak rumah sakit, atau karena hanya dirawat dokter umum dan bukannya dokter jantung di intensive care cardiology unit (ICCU), Wisman memang hidup, sadar, tapi menderita kelumpuhan lengan dan kaki, serta tak bisa bicara.

“ Baiklah, saya tak sanggup lagi. Hanya bisa begini kemampuan saya, karena pak Wisman sudah stabil, silahkan keluarga bawa pulang atau rujuk ke rumah sakit lain.” Jelas dokter Bassing di hari kelima.

Wisman dibawa keluarga ke Singapura, ternyata kelumpuhan dan kebisuannya belum sembuh juga. Mungkin bisa kembali normal, tapi waktunya perlu lama. Akhirnya keluarga memutuskan merehabilitasi si Bapak di dalam negeri saja.

Satu minggu setelah ada di rumah, sekertaris Wisman di kantor membesuk dan berbisik ke istrinya. “Bu, pak Wisman lumpuh begini gara-gara ditolong dokter Gemah Ripah, sesuai wasiat bapak, dokter itu kita tuntut saja, kalau tidak nanti pak Wisman dianggap masyarakat hanya besar mulut saja. Bisa-bisa jatuh pamor kantor bantuan hukum kita.”

“ Tapi, dokter itu kan tidak salah!!” Si istri jadi bingung mendengarnya.

“ Kami tahu bu. Tapi semua client dan koneksi Bapak menanyakan wasiat itu. Ini masalah komitmen, bu. Kepercayaan orang terhadap apa yang diucapkan dan dinyatakan pak Wisman. Kalau tuntutan itu dilakukan, kantor pengacara kita dianggap berkredibilitas dan berkomitmen tinggi pada janji dan ucapan. Ini menyangkut nama baik pak Wisman, bu.” Setengah memaksa sekertaris meminta.

Istri Wisman pun dengan beratnya menandatangani surat kuasa pengaduan, dan tak lama kemudian dokter Bassing pun menjalani pemeriksaan.

Sidang dilanjutkan tanpa pengacara dari pihak dokter Bassing, karena dia menolaknya. Dan pada sidang ketiga, saat agenda acara mendengarkan pembelaan terdakwa, Bassing hanya berkata, “ Saat dilantik saya telah bersumpah untuk menghargai kehidupan sejak awal pembuahan. Tanpa membedakan segala bentuk agama, golongan, suku, ras, apalagi hanya mengandalkan selembar kertas wasiat. Bagi saya, nyawa pak Wisman lebih berharga dari kertas segel bermeterai 6000 rupiah. Sekian pembelaan saya!”

Tepuk tangan riuh di ruang sidang, beberapa orang di ruang sidang malah menangis terharu. Dan di sudut pojokan, Wisman di atas kursi rodanya matanya memandang nanar ke depan kursi pesakitan, berlinang setetes air mata mengalir dari kelopak, ke bulu mata, lalu pipinya. Dan terasa benar dia begitu gemas ingin bicara, tapi tak bisa.

Sidang keempat, hadir saksi meringankan, memberatkan, lalu bla-bla-bla….Lanjutkan minggu depan…Dan akhirnya minggu kelima vonis itu dijatuhkan.

“ Terdakwa Dokter Bassing. Setelah mendengar saksi-saksi dan bukti-bukti, dan mengingat anda tidak merasa bersalah telah melanggar wasiat seorang pengacara, dan anda tidak menyesal akan perbuatan anda, maka kami nyatakan:ANDA BERSALAH SECARA HUKUM. Namun karena yang anda lakukan adalah tindakan mulia, anda hanya diberikan hukuman satu tahun tidak boleh ke luar negeri, alias tahanan dalam negeri. Demikianlah putusan ini ditetapkan di Pusat Gemah Ripah….Tuk…Tuk..Tuk” Pak hakim membalikkan badan dan tertawa sepuasnya.

Tepuk tangan membahana di ruangan pengadilan. Persidangan 5 minggu itu menghasilkan keputusan yang elegan: Bersalah secara hukum, tapi benar secara kemanusiaan. Dan hukuman dilarang satu tahun ke luar negeri itu seperti bukan hukuman, karena Bassing memang gak pernah cukup uang untuk jalan-jalan ke luar negeri.

Saat ruangan sidang mulai sepi, sebuah kursi roda didorong mendekati Dokter Bassing, ya siapa lagi kalau bukan Wisman. Mereka sempat terdiam saling tatap 2 menit sebelum akhirnya dari mulut Wisman keluar desisan berat nian….lalu dia tarik nafas panjang dan akhirnya terbata-bata terucaplah kata, “ Te..ter..rim…ma…..kas..ssihhhh..”

Kursi roda itu pun pergi meninggalkannya termenung sendiri.

Akhirnya Bassing menentukan langkah hidup selanjutnya. Ya, dia merasa sebagai dokter sungguh lemah di mata hukum, dan rentan pengaduan, maka dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke spesialisas kedokteran, namun malah mengambil kuliah hukum malam selama 4 tahun, dilanjutkan 2 tahun ambil pengacara.

Agustus 2014, telah mulai praktek pengacara yang dokter dan dokter yang pengacara bernama dr. Bassing,SH, yang khusus menangani kasus malpraktek. Dan kalau tidak ada kasus dia praktek biasa, namun dengan kepercayaan diri tinggi tidak takut dipermainkan lagi oleh pengacara lainnya.

Sumber: http://posmavip.multiply.com/journal/item/132/Balada_malpraktek_kasus_1

Diposkan pada dokter, livinginjogja, pernik

Aku lebaran di rumahsakit…


Menjelang lebaran fitri besok, aku belum dapat segera menunaikan hasrat sebagai bangsa Indonesia baik, apalagi kalo bukan yang namanya mudik. Masih ada jadwal dinas di rumahsakit-ku, walaupun di tempat praktik lain udah libur, tapi rumahsakit belum libur sih. Untung aja istri dan anak udah mudik duluan, jadi ga masalah jadwal dinasku dipadatin sampai hari lebaran +3, so insya Allah baru bisa mudik hari Jumat sore, itupun cuma ke tempat mertua di Kuwarasan, Kebumen, secara cuma dapat libur 2 hari, karena Senin, tanggal 6 sudah harus dinas lagi. Ya, ga apa-apalah menurutku, namanya juga profesi penuh pengorbanan 🙂 mesti ada enaknya ada engganya. Apalagi di rumahsakit ini karirku masih baru, jadi perlu sedikit semacam “prestasi” kerja agar lebih cepat mengungkit status, hahaha…

O, iya, karena udah malam lebaran nih, aku mau ngucapin Selamat menyambut Idul Fitri, semoga amal perbuatan kita diterima Allah, amiin, maafin juga ya semua kesalahanku selama ini, semoga ke depannya bisa lebih baik…. Bagi yang sudah mudik, ingat-ingat oleh-olehnya ya, bagi yang sedang di jalan yang mau mudik, hati-hati aja ya…. Bagi yang ga mudik, santai aja lagi… 🙂

Diposkan pada curhat, dokter, kesehatan

WARNING buat IBU pe-NGANDUNG anak PERTAMA


Akhirnya aku ketemu juga kasus yang aku takuti selama ini, kondisi gawat darurat yang amat susah ditangani selain dengan merujuk segera ke RS yang punya unit perawatan intensif (ICU). Yah, pasien tersebut akhirnya meninggal di ruang UGD, saat aku dinas Rabu malam  minggu lalu pukul 23.10 (cuma selisih 10 menit saat datang ke RS). Seorang ibu hamil 7 bulan usia 35 tahun (anak pertama) berpulang ke rahmatullahi karena menderita eklamsi. Beliau sudah lama kejang-kejang sejak dari rumah dan riwayat pemeriksaan antenatal (waktu hamil) tidak diketahui oleh keluarga yang mengantar. Tekanan darahnya waktu itu 220 per 80 milimeter air raksa, dengan badan dan kaki yang bengkak-bengkak. Padahal ambulans sudah siap mau mengantar ke RSUP Dr. Sardjito, ternyata takdirnya sudah tiba, harus meninggal sebelum sempat mendapatkan perawatan lanjut.

Aku setengah kesal dan “marah” sama keluarga yang mengantar (suaminya ga ada di tempat). Mereka tidak pernah tahu riwayat kehamilan sang ibu, periksa kemana, tensinya biasanya berapa, pernah bengkak-bengkak atau engga. Ya, sudah akhirnya aku dengan antara menahan haru dan emosi kesal, menginformasikan ke keluarganya. “Mohon lain waktu, kalau ada yang hamil tekanan darahnya dipantau ya…, kontrol rutin di bidan atau puskesmas ya…” Keluarga bingung, kenapa bisa terjadi demikian dengan sang ibu. Aku informasikan bahwa sang ibu menderita “keracunan” kehamilan. Begini jadinya kalau tidak kontrol rutin ke bidan atau puskesmas. Datang-datang sudah dalam keadaan sangat gawat.

Jadi mohon kepada ibu-ibu di MP yang sedang hamil (terutama anak pertama) mohon waspada dengan tekanan darahnya, selain itu dianjurkan untuk tes air kencingnya. Semoga diberikan kelancaran dalam kehamilan dan ketika melahirkan. Amiin…

Gambar dari sini

Diposkan pada bayi, doa, dokter, istri

Dambaan hati itu telah lahir…


Alhamdulillah, tlah lahir normal puteri pertama kami, Senin 16 06 08 pkl.01.23 di RSIY Kalasan Sleman, BB 2650 g, P 48 cm. Mhn doa agar jadi anak shalih (Dodo & Iin)

Begitu pesan singkat yang aku kirimkan ke sebagian besar nomor kontak di phonebook HP-ku. Terus terang ga sabar ketika harus menunggu subuh untuk menyampaikan berita gembira ini. Banyak balasan diiringi doa-doa berharga bahkan dari mereka yang tak menerima sms-ku karena kebetulan tidak terdaftar di phonebook. Terima kasih atas semua dukungan dan doa yang diberikan kepada kami selama ini… semoga mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah.

Ingin kilas balik sejenak, mengenang detik-detik kelahiran sang buah hati…

Istri mulai mengeluarkan lendir darah pada Jumat, 13 Juni 2008, Hari Perkiraan Lahir (HPL) bayi jatuh pada Hari Ahad 15 Juni 2008. Mules-mulesnya sih belum, tapi khawatir aja… makanya langsung aku bawa ke rumahsakit tempat biasanya istri ANC (antenatal care=perawatan sebelum lahir). Di periksa di UGD, ternyata mulut rahimnya masih pembukaan 1 cm. Ditawarkan nginap sih, tapi istri lebih nyaman di rumah kata, ya udah… kita pulang lagi ke rumah.

Sabtu udah mulai mules-mules, tapi kontraksi rahim belum teratur dan masih lemah. Aku sarankan untuk relaksasi saja, istri merasa lebih nyaman kalau tiduran sambil duduk di kursi. Ahad sore udah mulai meningkat lagi kontraksinya, sampai mengaduh-aduh, aku hitung lama dan interval antar kontraksi juga belum teratur. Ga tega juga lihat istri, tapi ya aku berusaha memberikan saran dengan teori-teori yang aku ketahui. Pas aku lagi dinas jaga, sepertinya sudah lebih parah sakitnya. Memang sih istri sendirian di rumah, kasihan juga kan, ga ada tempat berkeluh kesah  yaa, risiko kalau udah gini, keluarga jauh semua dan waktunya pada belum bisa. Kebetulan kakak ipar bisa datang dengan satu bibi yang akan membantu, tapi baru bisa nyampe sekitar waktu maghrib. Melalui telepon aku saranin istri melakukan posisi seperti sujud, menumpu pada kedua lutut dan lengan, sambil dibuka lebar antar lengan dan pahanya. Aku minta lakukan selama 30 menit, alhamdulillah bisa berkurang sakitnya. Pukul 21 aku selesai dinas, langsung cabut ke rumah, belum sampe rumah udah ditelepon istri: bisa pesan taksi sekarang ga? Posisi di mana? Aku katakan sedikit lagi nyampe rumah… kebetulan sebelum pulang dinas aku beli gel pelumas dan sarung tangan untuk periksa dalam, memantau sejauh mana pembukaan mulut rahim istri. Kebetulan kakak ipar juga udah nyampe dan membawa pesananku: Doppler (alat untuk mengetahui dan menghitung denyut jantung janin) dan stetoskop janin. Langsung aja aku cek denyut jantung calon bayi kami, Alhamdulillah masih normal berkisar 140-an kali permenit. Terus aku periksa dalam. Wah…ternyata sudah pembukaan 4-5 cm. Tanpa pikir panjang (belum sempat ganti baju, apalagi mandi… hehehe) aku langsung cari taksi, untung ada pangkalan taksi di Hotel Hyatt, dan dekat dari rumah. Sekitar pukul 22.30 kami nyampe di rumahsakit. Langsung masuk ruang observasi persalinan (VK). Diperiksa sama bidan, eh… udah pembukaan 6 cm. Ga tega banget lihat istri kesakitan gitu, sampai bergetar badannya menahan sakit, tapi istriku ga teriak-teriak, cuma ekspresinya menggambarkan kesakitan sekali. Ya, aku sambil menemani istri dikabari kalau dokter kandungannya sebentar lagi datang (sekitar 1 jam, dengan perkiraan sudah pembukaan lengkap). Sekitar pukul 00, Senin 16 Juni 2008 sudah lengkap pembukaannya. Istri kemudian dipimpin oleh dokter untuk mengejan. Bu dokternya memintaku membantunya, walah… padahal mau mendokumentasikan keluarnya sang jabang bayi, hehehe… ya udah pake sarung tangan dan langsung ikut turun tangan. Lumayan lama mengejan, berulang kali, sekali-sekali istri diberi minum dan dipompa semangatnya. Alhamdulillah pukul 01.23, bayi kami lahir. Sesuai hasil USG, jenis kelaminnya perempuan, mungil banget, beratnya 2650 gram (kalau dari USG terakhir: 2900 gram, tapi masih BBLC (Berat Bayi Lahir Cukup) kok… ternyata plasentanya juga kecil, jadi wajar saja penyaluran nutrisi dari ibu ke bayi juga sedikit…

OK, sekarang cerita dikit tentang bayinya ya. Subhanallahu, aku sampai sekarang masih merasa takjub punya bayi yang mungil dan cantik begini…hhhhh….gemes…tapi rada-rada khawatir waktu pertama kali menimangnya. Maklumlah… baru jadi bapak baru sih… J. Kalo aku perhatikan sih rada-rada mirip aku gitu… hahaha… ya iyalah…

Selasa sore setelah imunisasi BCG (waktu lahir langsung diimunisasi Hepatitis B), kami pulang dari rumahsakit, wah… tetap lebih enak di rumah, si bayi lebih tenang kayaknya. Kata orang repot kalau bayi masih baru gigi, memang sih, tapi kan semua itu hilang dengan rasa bahagia yang amat sangat…

Walau ga cuti kerja aku sempatkan sebisaku membantu mengasuh si bayi mungil kami, sudah mulai diperkenalkan ke tetangga, dijemur, minumin susu. Yah, si bayi akhirnya “dipaksa” minum formula (ini juga berdasarkan petunjuk dokter anaknya), karena ibunya belum juga bisa mengeluarkan ASI secara adekuat (kolostrum udah keluar, tapi mandek lagi…). Sayang ga dapat asupan energi kalau cuma diminumin air putih saja. Ya, mau gimana lagi. Tapi aku motivasi terus istri untuk tetap meneteki bayi untuk lebih menstimulasi produksi ASI, selain itu juga diberi obat perangsang produksi ASI. Hari pertama kelahiran si bayi aku tahnik-kan (salah satu sunnah nabi) dengan madu (ga sempat cari kurma). Mengganti popok juga udah, kalau memandikan belum sih… hehehe, maklumlah masih berbagi tugas.

Kalo ditanya siapa namanya, wah…nunggu aqiqahnya saja ya…masih dicari-cari nih yang cocok dan tentu saja baik bagi si bayi lah… ditunggu ya. “Ya rabb kami, jadikanlah bayi kami menjadi penyejuk mata bagi kami dalam mengarungi kehidupan dunia ini dan menjadi penambah pahala kami di akhirat nanti… serta jadikan ia orang yang berguna bagi umat manusia… amiiin ya rabbal ‘aalamiin…”

Foto-foto selengkapnya (klik aja)

Diposkan pada asuransikesehatan, dokter, kesehatan, politikkesehatan, selingkuh, tips

Antara MedRep, Dokter, dan MLM-ers


Maaf, ini bukan dimasudkan untuk menyinggung, tapi klo ada yang tersinggung…ya maaf

Sudah bukan rahasia lagi bahwa dokter yang menjalankan praktiknya (karena ada juga dokter yang ga praktik) selalu berurusan dengan obat. Nah, obat-obat ini (apalagi di Indonesia) banyak banget jenisnya, istilah kerennya sediaan spesialistisnya bejibun. Untuk obat dengan komposisi Parasetamol saja (penurun panas) ada ratusan merek dagang. Tentu saja dengan variasi harga yang berbeda. Aku memang tidak membantah kalau ada yang mengatakan, secara praktis ternyata sediaan spesilistis ini berbeda khasiatnya dibanding generik, walaupun di iklan TV dulu digembargemborkan mengenai khasiat obat generik sama aja dengan obat bermerek.

Tapi bukan masalah khasiat yang akan aku bicarakan tetapi lebih kepada strategi promosi dan penjualan obat-obat spesialistis (non-generik) tersebut.

Menurutku dokter memang sulit terlepas sebagai target promosi oleh medical representative (MedRep, mirip dengan SPG-lah = sales promotion girl). Karena dokter (maupun apoteker) merupakan ujung tombak penjualan obat dari pabrik pembuatnya. Namun, yang amat disayangkan ialah, persaingan kuat antar pabrik obat membuat para MedRep cukup dibuat pusing, mereka diberi target oleh perusahaan untuk “mengumpulkan” tandatangan para dokter. Nah, yang paling susah, ketika sang MedRep ga “kuat” alias ga sabaran ketika bertemu dokter yang idealis atau sangat susah ditemui karena sibuk, padahal deadline pengumpulan daftar tandatangan sudah di depan mata. Jadilah sering ada tandatangan dokter yang dipalsukan. Selain itu, para MedRep ini juga terkadang (tidak semua), terutama MedRep perempuan, memberikan bonus berupa dirinya, mulai dari senyum manisnya bahkan bisa sampai seperti yang dilakukan oleh lady escort (pada tahu kan…??)

Aku tidak menyalahkan apa yang MedRep lakukan. Semuanya berpulang ke pada si dokter sendiri, kalau dia kuat iman tidak akan tergoda dengan berbagai cara yang sudah di luar batas itu.

Beberapa waktu lalu aku sempat dicurhati adik kelas yang masih koas (mahasiswa profesi dokter), tentang seorang guru kami, staf sebuah RS terkenal, yang dengan santainya mengatakan: “Kalau tidak karena obat-obat itu (atau kalau tidak karena MedRep dan pabriknya), mana mungkin saya dan keluarga bisa jalan-jalan ke luar negeri? So, jangan anggap remeh obat obat itu!”

Dulu pun ketika aku masih koas, banyak sekali “guyonan” tentang gimmick (baca: strategi/muslihat bonus) oleh pabrik obat ini. Ada staf pengajar ditempatku yang ngomong sambil tertawa: “Dik, tahu ga..klakson mobil saya itu bunyinya C**do..C**do” (bukan tin..tin atau tet..tet..). Yang di maksud itu ialah nama sebuah pabrik obat yang memberikan bonus mobil karena si dokter dianggap mampu mencapai target peresepan obat. Yah, target peresepan!, kuncinya di sini. Sehingga menurutku tidak masalah ketika MedRep tidak memberi target peresepan tertentu kepada sang dokter ketika mempromosikan obatnya, misalnya begini: Dok, kalau dokter bisa meresepkan obat kami yang ini, sejumlah batas minimal 100 tablet per minggu, maka nanti dokter dapat bonus kunci mobil…langsung di depan” (maksudnya sih sudah bisa langsung dipake mobilnya). Selain itu aku juga melihat langsung (waktu masih koas juga) pasien yang ditawari sebuah alat kesehatan untuk mengeluarkan cairan dari rongga dadanya. Setelah aku usut, ternyata alat itu dijual oleh seorang dokter bedah senior.

Dari teori yang pernah aku ketahui, ini disebut sebagai Supply Induce Demand, sayang sekali sang konsumen atau pasien buta sama sekali terhadap tindakan, obat, dan alat kesehatan yang ditawarkan kepadanya. Pasien dan keluarganya kalau sudah sakit prinsip utamanya ialah: yang penting sembuh. Bahkan sang dokter justru nakut-nakutin kalau ga pake obat (merek ini) si pasien ga bakalan sembuh. Jadi enak banget toh jadi dokter yang bermental pedagang, hehehe…maksudnya dagang obat kepada pasien.

Wah, serunya lagi kalau sang dokter juga ikut jadi penyemarak dunia MLM (Multi Level Marketing) seperti Ti***hi, K-**nk, dll. Pasti cepat kaya tuh dokter. Kan apa kata dokter dianggap sebagai “sabda dewa penyelamat”.

OK, kembali ke awal tentang dokter yang main mata dengan pabrik obat melalui MedRep-nya. Beberapa waktu lalu, aku sempat didatangi MedRep juga, dia promosi tentang obatnya dengan diakhiri kata-kata seperti biasanya: “mohon dibantu peresepannya buat pasien dokter…” Seperti biasa aku bilang: OK, pasti saya bantu, yang penting obat lebih murah dan cespleng. Iseng juga aku tanya ke MedRep tersebut. “Pabrik obatnya sering menyelenggarakan seminar kedokteran ga?” “Wah, kalau kita belum pernah kok dok…, tapi dokter ada rencana mau ikut seminar? nanti kita bayarin…” Nah..nah.. “OK, boleh ya? ada umpan balik ga kalau saya dibiayai ikut seminar? (si MedRep kayaknya langsung paham). O, engga kok dok, kita ga nargetin apa-apa, silakan kontak saya aja kalau dokter butuh dibiayai ikut seminar…”. “Baik, terima kasih…”

Terus-terang teman-teman…inilah lingkaran syetan yang tersulit untuk dibasmi, kalau dokternya masih waras seperti aku (hehehe…) pasien insya Allah tidak akan terzalimi atau tertipu. Asal si dokter berorientasi kepada kepuasan dan membela hak pasien pasti hal tersebut bisa diminimalisasi.

Terus terang lagi, kondisi yang sulit tetap dialami dokter seperti (ini asumsi kalau dokternya masih waras):

  • Kerja di RS, dan belum hapal harga obat (jadi harus bolak-balik tanya harga ke bagian farmasi/apotek). Pernah aku kebobolan obatnya terlalu mahal, sampai si keluarga pasien nanya lagi berapa harga obatnya, ketika mau aku tambah obat lagi (karena indikasi lain)
  • Kerja di apotek/klinik, apalagi yang waralaba, dijamin kantong pasien sering kebobolan. Apalagi bos apotek menyaratkan nilai nominal tertentu seperti yang dialami oleh banyak rekan sejawatku ketika kerja di klinik 24 jam. Pokoknya harga obat yang diresepin minimal harus (katakan saja) 20 ribu, kalau kurang dari itu, yah…harus ditambah apa gitu (misal: vitamin, atau merek obatnya diganti dengan yang lebih mahal) agar plafon harga terendah dapat tercapai. Apotek/klinik untung, dokter pusing kepalanya (karena harus tetap bertahan di tempat kerja tersebut), pasien bobol kantongnya…

Posisi kerja yang ideal sebagai dokter menurutku ialah seperti di tempat kerjaku yang lain yaitu di klinik mahasiswa yang dibiayai dengan premi asuransi. Jadi pasien ga peduli apa sakitnya, dia akan dapatkan obat (bahkan obat terbaik sekali pun) tanpa perlu takut dengan harganya. Dokter senang melayani (karena gajinya juga bisa tinggi), pabrik obat juga senang karena obatnya laku keras.

Berikut tips supaya tidak dibobolin kantongnya:

  • Bilang ke dokter diresepin obat generiknya aja (kadang dokter jarang menawarkan resep generik. Atau kalau memang tidak ada obat generiknya mohon dicarikan dengan harga termurah tapi berkualitas (untuk hal ini si dokter akan melihat daftar harga obat atau menanyakan ke pihak apotek). Kadang pun kalau sudah diresepin generik, sering juga apoteknya main nakal, obatnya diganti dengan yang mahal.
  • Selalulah minta second opinion ke dokter lain, atau baca-baca literatur, jika diberikan obat tertentu, apakah sudah sesuai baik indikasi maupun harganya.
  • Kalau dokternya sampai ngomong: “kalau tidak pakai obat merek ini tidak akan sembuh”, atau si dokter tidak mau melayani lebih lanjut…, saranku: minta dirawat dokter lain, pindah ke dokter praktik lain atau apoteklainnya. Tapi kalau ternyata kasusnya kita tidak bisa memilih karena (misal): ternyata cuma ada si dokter tersebut di tempat itu, atau apotek lain jauuuh, yah…sudahlah terimalah nasib itu, berdoalah agar situasi tersebut cepat berubah 

Gambar dari sini

Diposkan pada dokter, jogja under cover, livinginjogja, penyakit

Jogja Undercover versiku, bagian II: Apakah harus EGP?


Kasus freesex di kalangan oknum mahasiswa/mahasiswi memang tidak diragukan lagi kebenarannya. Mudah saja aku menemukan kasus ini di tempat praktikku. Kemarin baru saja nemu kasus lagi, mahasiswa yang mengeluh BAK (buang air kecil alias pipis)-nya sakit, terasa panas, dan keluar lendir putih.

Aku sih ga sempat lihat medical history (catatan medis) si mahasiswa ini secara masih banyak antrian pasien. So, aku beri aja rujukan ke laboratorium buat periksa air seninya. Kunjungan berikutnya ternyata si mahasiswa diterima rekan sejawatku, aku baca status periksanya…eh, ternyata ada riwayat sexual contact dengan pacarnya. Na’udzubillah mindzalik.

Menurutku, si mahasiswa tersebut berbohong. Simpelnya begini (berdasarkan pengalaman belajar selama ini sih…), kalau orang hanya setia dengan satu partner/mitra seks sangat kecil kemungkinan dia mendapatkan berbagai penyakit kelamin yang menjijikkan tersebut, apalagi ini ternyata kasusnya berulang, alias si mahasiswa bolak-balik ke tempat praktikku karena kasus yang mirip. Atau mungkin pacarnya banyak kaleee ya…What a fool guy!

Terus aku ngobrol dengan rekan sejawat lain tentang kasus ini. “EGP lah (masa bodoh ah),…” gitu komentar beliau. Ya, aku paham, mungkin rekanku ini udah “jeleh” alias muak nemu kasus seperti ini. Mungkin juga dia sudah beri nasihat. Tapi kalau berulang terus siapa yang ga muak kan??

Cuma, kan aku kasihan juga, begitu bodohnya si mahasiswa ini, apa dia tidak sadar sedang gambling (berjudi) dengan virus mematikan, si HIV?! Apa dia ga tau masa inkubasi (masa tunas virus sampai terlihatnya gejala pertama) cukup lama bagi si penyebar maut?!  Sehingga bisa saja dia sudah terkena HIV?! Coba deh, ntar kalau aku ketemu si mahaiswa ini lagi, aku coba “takut-takutin” dikit Ya, minimal aku suruh tes HIV lah… atau disuruh nikah begitu…hehehe… 

——————————————-
Keterangan gambar:
Maaf, klo rada gimana githu, gambarnya…
Itu kasus AIDS dengan oral candidiasis (infeksi jamur di rongga mulut)

Sumber dari sini