Diposkan pada curhat, hobby, livinginjogja, pernik, tanaman

Kejutan, buah semangka di teras rumah nongol juga!


Kira-kira 1 bulan ini di teras depan rumahku, tepatnya di calon taman yang ga jadi-jadi diberesin, nongol tunas daun yang mirip semangka, aku juga diberi tahu oleh tetangga depan kalo itu pohon semangka.

Hahaha, secara tamannya memang ga jadi-jadi dan ga sempat ngurusin dan nyiram, eh, tetangga depan aku perhatikan sepertinya rajin nyiramin pokok semangka itu, kelihatan setiap sore tanahnya basah oleh air, ya cuma pohon semangka itu yang disiram…

Ditambah lagi dengan beberapa hari terakhir ini sering hujan di malam hari dan paginya matahari bersinar cerah, jadinya pohon semangka tersebut lebih giat tumbuhnya.

Akhirnya kalo ga salah ingat, 3 hari yang lalu saat mau berangkat kerja, aku perhatikan udah nongol 1 biji semangka mungil, selain masih banyak calon semangka yang masih berwujud bunga.

Aku memang sering asal buang biji tanaman dari semangka, pepaya, kelenglengkeng, jambu biji, alpukat, dll, di sembarang tempat, tanah kosong di sekitar rumahku. Dulu pernah tumbuh jambu bijinya, tapi dibersihkan sama tetangga, katanya nanti malah jadi bahan rebutan anak-anak kampung kalo udah berbuah. Ya, repot juga sih, rumahku kan belum dibuatin pagar sampai sekarang dan mungkin juga tidak akan dipagar sampai nanti.

Selain semangka, yang sudah sempat kami nikmati adalah beberapa tanaman sayuran yang aku tanam dan tumbuh sendiri yaitu sayur daun katu, enak banget kalau dilodeh gitu deh…, trus ada juga daun bayam yang tumbuh subur, saking suburnya waktu itu penuh halaman depan dengan tanaman bayam berdaun lebar-lebar, sampai ibu-ibu tetangga pada “iri” dan sering minta buat disayur atau dibuat kerupuk bayam. Dan, hmmm…tentu saja aku sangat berterimakasih, karena kan aku ga bisa manfaatin semuanya, dan enaknya lagi aku juga diberi kerupuk bayam yang lezat satu kaleng penuh, hehehe…

Memang sih ada cita-cita dari dulu buat kebun tanaman sayur dan buah kecil-kecilan selain tanaman bunga yang cantik-cantik tentunya. Tapi nunggu istri dan anak kembali ke pangkuanku aja deh…

Diposkan pada curhat, istri, kesehatan, penyakit

Puasa pertama ga fit deh…


Kondisi puasa hari pertama ini, aku ga begitu fit, secara baru pemulihan sakit sejak dari Jakarta, menengok anak istri. Ya, Jumat kemarin aku ke Jakarta naik Progo dan syukurnya tidak kebagian tempat duduk, jadi lesehan di depan toilet bergerombolan dengan penumpang lain. Baru kali ini naik Progo seru banget. Nanti aku ceritakan di jurnal lain ya.

Kali ini aku cerita tentang kondisi yang ga fit dan agenda di Jakarta kemarin dulu. Iya, Jakarta beberapa hari kemarin cuacanya agak aneh, ujan panas ga jelas, malam dan dini harinya dingin banget, mana Ahad malamnya ada acara pengajian menyambut puasa lagi, dan oleh warga sekitar dipaksa ikut serta, sambil kedinginan dan batuk batuk, ga betah sama sekali nyimak acaranya yang hanya berisi kata-kata sambutan, dan sampai-sampai makanannya pun ga aku sentuh, walau pun sudah dibawain istri ke rumah, itu soto Lamongan nganggur basi sampai pagi. Ya, puncak sakitku Ahad malam dan dini harinya.

Harusnya pulang ke Jogja Senin sore, eh, badan ga bisa diajak kompromi, masih goyang buat berdiri dan masih keringatan dingin gitu. Ya, udah, aku izin ke atasan ga pulang dulu sampai agak fit dikitlah. Ya, walau pun masih sakit, Senin itu aku paksakan juga untuk ngajak istri ke RS Fatmawati buat imunisasi Nadif dan mengkonsultasikan masalah tumbuh kembangnya. Secara hari Sabtu sore seputaran Ragunan hujan lebat dan hari Ahadnya aku nemanin istri belanja ke Pejaten Village, dan di sana kami hampir kena tipu sales kompor ga jelas, nanti aku ceritakan juga deh. OK, di Fatmawati, kami ke Klinik Griya Husada, poliklinik eksekutif, semacam sayap bisnisnya RS Fatmawati kali ya. Ternyata cukup memuaskanlah, apalagi dokter anaknya komunikatif dan ga galak. Sukses juga akhirnya buat meriksain anak yang sudah direncanakan cukup lama.

Selain mengobati rasa kangen ke anak istri dan meriksain Nadif, juga ada keperluan melakukan vaksinasi Hepatitis yang kedua buat istri dan suntik KB 3 bulanan, hehe… ya itung-itung menghematlah bawa vaksin sendiri dari tempat kerja.

OK-lah, aku sudah puas dengan agenda yang tuntas walau pun badan ga bisa terlalu kompromi. Selasa pagi, aku pulang ke Jogja pake Taksaka biar agak “nyaman” dikiiit…alhamdulillah nyampe rumah pas azan Isya setelah nyambung pake Trans Jogja yang alon-alon asal kelakon, dan sudah masuk bulan Ramadlan hari pertama ternyata. Marhaban ya Ramadlan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman muslim, semoga menjadi semakin sehat dan bersih dengan berpuasa.

Diposkan pada curhat, livinginjogja

Ceritaku 1 minggu ini (28 Juli-4 Agustus)


Bismillah, rekan MPers yang berbahagia, ini aku mau update lagi (dengan tertatih-tatih…hiks..)

(Yah, daripada ga update-update MP-ku ini, jadinya dikompilasi aja ya untuk 1 minggu sekaligus, hahaha…so mohon maaf kalau rada panjang jurnalnya)

Di mulai dari Rabu pekan kemarin, istriku mendadak harus pulang ke Jogja, karena ada acara wawancara di Gedung Kepatihan, Malioboro, terkait dengan proses usulan mutasinya. Padahal Rabu malam itu aku dinas di RS, jadilah aku nongkrongin di RS lebih awal sambil nunggu landing. Sayang sekali terjadi delay penerbangan selama 2 jam, sehingga baru sampai Adi Sucipto 1/2 9 lebih. Syukurnya rekan sejawat yang dinas siang mau overtime dikit, karena aku harus jemput istri dan anak bungsu (Nadif) dan ngantar ke rumah.

Kamis pagi aku langsung cabut ke rumah, ganti’in istri momongin Nadif. Rencana wawancara menurut surat dimulai jam 9 pagi, tapi Nadif lagi rewel dan butuh ibunya, jadi istri baru bisa cabut ke Kepatihan jam 11 lebih. Wah ternyata acaranya belum dimulai. Ya, maklum aja sih, birokrat kan sukanya molor…udah apal deh…

Kamis itu termasuk hari repot, secara aku siangnya harus dinas di klinik, dan acara istri belum kelar juga. Akhirnya aku bawa Nadif ke kantor. Tetangga sih udah nawarin mau momongin, tapi aku bilang pasti nanti repot secara Nadif cuma terbiasa sama ibu dan bapaknya saja, selain para pengasuh di TPA kantor istri. Udah pengalaman di Jakarta kemarin, ditinggal sama budenya aja, malah kasihan nangis terus… Dan di kantor terbukti juga, staf, perawat, dan sejawat lain yang coba momongin Nadif nyerah, ya sudah, akhirnya bapaknya yang turun tangan, sekitar 2 jam momong, akhirnya Nadif bisa tidur pulas 3 jam.

Alhamdulillah wawancara istri selesai 1 hari, walaupun sampai sore, karena di surat disebutkan range waktu wawancara adalah 3 hari, ternyata selesai 1 hari saja (tepatnya 1/2 hari). Tinggal nunggu hasilnya saja. Biar kami bisa bersatu kembali (hiks…)

Hari Jumat rencana aku berangkat kemping sampai hari Ahad sore ke wilayah Imogiri, Bantul. Semua perlengkapan sudah OK, seperti: backpack, headlamp, sleeping bag, matras, ponco, topi rimba, sepatu kats baru yang udah dijahit+kaos kaki, water pack, celana renang untuk pengganti underwear saat heking jarak jauh biar selangkangan ga lecet, baju-celana ganti, dan kudapan berenergi.

Sayang sekali, walaupun persiapan udah OK, sejawat pengganti untuk hari Jumat juga sudah didapat, ternyata Kamis siang waktu aku akan membawa Nadif ke kantor, pergelangan kaki kananku terkilir karena terperosok lubang yang cukup dalam di seputaran Monumen Jogja Kembali (Monjali), untung saja Nadif tidak terlempar atau terjatuh ke tanah. Sakitnya baru terasa saat mau pulang ke rumah, dan sampai sekarang pun masih sakit sebenarnya, namanya juga cedera cukup berat ya memang rada lama sembuh sempurna, apalagi aku malas minum obat rutin, hahaha…

Jadilah acara kempingnya batal. Ada hikmahnya juga, aku bisa di rumah sama istri dan anak, walaupun ternyata Jumat itu ada masalah dadakan lainnya. Ditelpon dari kampus ada masalah dengan syarat maju ujian proposal hari Rabu ini. Wah, untung aja ga berangkat. Dan untung paginya aku udah lari ke apotik buat beli perban elastis untuk fiksasi sendiku yang terkilir. Dan malam sebelum pulang dari kantor udah order obat antinyeri, dah aku minum dengan dosis 2 kali dari biasanya. Karena sudah bertekad untuk tidak mundur ujian lagi, jadi aku hunting ke mana-mana hari Jumat itu, ke bank, ke rektorat (sempat dipingpong ke sana kemari), dan ke fakultas. Syukur bisa selesai walaupun masih ngegantung karena nunggu kepastian hari Seninnya.

Hari Sabtu termasuk hari yang OK, libur full, beli tiket buat istri kembali ke Jakarta , bersih-bersih rumah untuk menyambut kedatangan bapak mertua, kakak dan adik ipar, dan anak sulungku, Ifa, dari Gombong, Kebumen. Selepas magrib cabut ke House of Raminten, istriku pengen nyoba suasana di sana. Rasa terkilir kaki sedikit terlupakan. Tengah malam barulah rombongan dari Kebumen nyampe rumah.

Hari Ahad pagi nganterin istri dan Nadif ke stasiun Tugu untuk kembali ke Jakarta. Malamnya ke House of Raminten, hahaha…
Sayangnya kesan kali ini ga OK di bapak mertua dan ipar. Dari mulai tempat parkirnya yang ga OK, suasananya yang ternyata ga cocok, makanannya yang ga enak. Padahal pas aku dan istri yang makan kebetulan pesan yang enak kali ya…hehehe…
Malamnya adik iparku kembali duluan ke Kebumen karena besoknya masuk kerja, sedang kakak ipar tetap tinggal karena memang ada acara pendampingan mahasiswanya ke Solo. Dan bapak mertuaku juga tetap tinggal, karena momong Ifa saat aku dan kakak iparku ga ada di rumah.

Hari Senin aku konfirm ke fakultas untuk kepastian jadwal ujianku, alhamdulillah ternyata OK, tidak ada masalah. Selanjutnya aku rapat rutin di RS, siangnya pulang awal dengan alasan mau mendaftarkan anak sulungku, Ifa ke play group, untuk 4 hari saja, karena Sabtu besok mereka sudah kembali ke Kebumen. Sayang, play groupnya udah tutup, ternyata cuma sampai jam 11 siang. Tapi ga papa, masih ada hari Selasa. Jadinya sore itu aku ajak Ifa berenang ke Tirtasari, Jl. Kaliurang KM 9. Waduh, kok sekarang ga terurus ya tempat berenang ini? mana pancurannya udah ga ada lagi. Kolam anaknya cuma tinggal 1 lagi. Ya udah ga papa lagi deh, dah terlanjur, akhirnya kami nyebur selama 1 1/2 jam.

Hari Selasa pagi aku anterin metua dan Ifa ke play group yang ditarget hari Senin kemarin. OK kayaknya, Ifa langsung masuk hari itu. Play group ini dekat dari rumahku, sekitar 100 meter saja. Dan sebenarnya play group ini untuk anak berkebutuhan khusus seperti sekolah luar biasa gitu, tapi waktu aku tanya-tanya ternyata ada anak normalnya juga, ya jadi aku OK aja. Sepertinya Ifa senang sekali sekolah di situ, hehehe… Selanjutnya aku cabut ke RS untuk rapat lagi sampai siang.

Rabu pagi ini aku disidang di fakultas, dalam rangka presentasi usulan penelitianku untuk tesis yang sudah sangat lama tertunda. Syukurlah semua berjalan dengan lancar. Aku ga ngira sebelumnya kalau yang nguji adalah para pejabat: profesor di bagian anatomi, kepala dinkes, dekan fakultas kedokteran swasta terkenal. Untung udah kenal sebagian, jadi ga grogilah, hehehe, prinsipnya mengalah aja deh….

Demikian aja ceritaku selama seminggu ini. Sekali lagi memang aku harusnya tetap ngeblog di MP ini. Ini disupor sama pembimbing tesisku juga loh, dia memang tahu bahwa aku memang suka ngeblog. Dia mendorong untuk tetap menulis, karena akan mengasah otak kita agar tidak menjadi beku, dan ide-ide tidak menjadi dingin, hahaha… trimakasih buat pembimbingku…

Diposkan pada curhat

5th wedding anniversary yang menyedihkan


Hai, MPers…

Aku kembali ke ngeMPi yah 🙂 lagi-lagi ga kuasa menahan untuk ga berekspresi.
Kebetulan ada momen juga.

17 Juli kemarin ternyata hari pernikahan kami yang kelima!
Aku masih di kantor saat itu, lagi malas pulang ke rumah, karena rumah baru saja kosong, setelah 1 minggu kemarin rame dengan suara-suara yang membahagiakan. Ya, siapa lagi kalo bukan anak-anakku, Ifa (25 bulan) dan Nadif (10 bulan). Nadif dan ibunya cuma 5 hari saja di Jogja, Ifa bersama Bu De dan mbah Kakung  mukim selama 8 hari.

Nah, sebenarnya 1 bulan yang lalu sudah mempersiapkan ke Jakarta bertepatan dengan wedding anniversary kelima, ternyata harus batal karena Ifa harus ikut Bu De ke Jogja, secara Bu De-nya ada acara kerja di Solo. Jadilah istriku dan Nadif juga curi-curi waktu berlibur ke Jogja, hehe…

Dasar pikiran lagi mumet dan ga konsentrasi, jadinya tanggal 17 itu kelupaan. Dan sorenya istri nelpon duluan, ngingetin kalo ini hari H-nya…walah…ya, kasian juga, sampai dicuekin gitu…

Malamnya dia sms (kayaknya masih kepikiran terus, biasanya udah tidur):
I  luv u yang.. Syang ya, qta ga bs ngrayain ultah prnikhan qta, ga trasa udh 5 th..

Yang sayangnya sms itu juga baru kebaca subuhnya, secara aku udah terbang ke alam mimpi duluan…

Langsung aja aku balas setelah bangun:
Kok blum tidur Yang..aq pulang udah bablas tidur. Maaf kalo ga enak suasana ‘perayaannya’, yg penting aq slalu dan makin sayang sama dirimu Yang..

Entahlah apa rasanya saat itu. Yang jelas, habis sholat subuh aku sesenggukan berlinang air mata setelah cukup lama ga begitu…

Ya, Allah, trimakasih telah melanggengkan pernikahan kami, walaupun kami masih berjauhan. Walaupun aku sangat tidak romantis dan tidak paham dengan perasaan istri, moga aku bisa terus belajar dan memperbaikinya…

Diposkan pada curhat, kesehatan, rokok, tips

NgeRokok lageee…


Nyempati belanja ke Indogrosir tadi, lalu mampir ke food court, wah penuh banget ga seperti biasa, banyak bisnismen lagi miting sambil makan kayaknya. Pesan stik ayam 2 buah untuk makan siang di rumah. Eh, kok nunggunya lumayan lamaaaa.

Ya, udah, mulai jelalatan memperhatikan orang-orang yang pada makan. Eh, ada cewek cantik bareng teman-teman cowoknya lagi makan. Seorang cowok ngeluarin laptop mini sambil makan dan menghisap rokok. Kayaknya bicara tentang kerja kantor, kelihatan program yang dibuka MS Word. Awalnya sih cuma memperhatikan yang pake laptop aja, aku kira food courtnya udah ada wifi, eh ternyata belum, hehehe.

Bolak-balik ke luar lihat troliku, masih ada ato engga, soale isinya lumayan berharga: minuman galon, pepaya, jeruk, jambu klutuk merah (rencana buat kudapan Ifa). Balik lagi ke konter makanan pesananku, eh kok belum jadi juga. Keburu masuk nih… 😦 mana udah laper juga…

Pelirak-pelirik lagi…, walah, kok si cewek yang tadi ternyata njepit rokok juga di jarinya, cuma agak gimana-gimana gitu, rada maluw kali ya… 🙂 Wah baru saja habis makan dia, terus ngerokok gitu, pasti nikmat kali (menurutnya…)

Inilah salah satu emansipasi wanita saat ini, hehehe… OK lah, mudah-mudahan dia segera sadar ga ngerokok lagi. (Pesanku udah jadi, langsung cabut deh…)

Bagi teman-teman yang masih merokok, mari renungkan lagi pesan berikut ini,

Bukti akibat rokok:
– penyebab kematian terbesar didunia, yang sebetulnya dapat dicegah
– 4,9 juta orang meninggal akibat rokok th 2000, tahun 2009 udah berapa ya…
– Indonesia urutan 5 konsumsi rokok terbesar di dunia
– Total perokok di Indonesia kira-kira 62.800.000 orang (bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang dibakar…)
– 70% perokok mulai sebelum usia 19 th

Penyakit akibat  rokok:
– gangguan pernapasan (belum tua udah bengek…)
– penyakit paru-paru (parunya penuh dengan bercak…)
– penyakit jantung (mati mendadak…)
– kanker (mati perlahan…)
– caries (napas bau, gigi ambrol…)
– penyakit lambung (mirip-mirip penyakit maag…)
– gangguan sexual (letoy deh…)
– gangguan pada ibu hamil (apalagi bayinya…kasihan dong…)

keuntungan berhenti merokok (beberapa poin juga dirasakan oleh pasienku):
– dalam waktu singkat, tekanan darah, nadi kembali normal dan napas lebih lega
– dalam beberapa hari, CO2 dieliminasi dari tubuh, nikotin sudah tidak terdeteksi di tubuh
– dalam beberapa minggu, sirkulasi darah tubuh membaik
– dalam beberapa bulan, gangguan pernapasan turun
– dalam beberapa tahun, setelah 5 tahun resiko serangan jantung turun 50% dan setelah 10 tahun resiko Ca paru turun 50%
– badan menjadi lebih fit
– penelitian terbaru menyebutkan tidak bermakna jika hanya mengurangi dosis merokok, tapi tetap harus menghentikan secara total

”MATIKAN ROKOK SEBELUM ROKOK MEMATIKAN KITA”

Note: Berhenti merokok itu hanya masalah niat…

pic dari sini dan sini


Diposkan pada curhat, dokter, kesehatan, penyakit, yankes

Gemas Dengan Pengobatan Alternatif!


Mumpung masih hangat-hangatnya cerita pengobatan alternatif, aku mau nimbrung nih…
Bukan karena takut bersaing loh… 😀 Tapi berdasarkan bukti yang aku temui di tempat di RS-ku membuat aku berkesimpulan jangan pernah mencoba pengobatan alternatif tanpa pernah terlebih dahulu berkonsultasi dengan praktisi rasional alias dokter dan sejenisnya 😀

Memang tidak bisa kita menutup mata ini (baca: masyarakat lari ke pengobatan alternatif) karena sistem pelayanan kesehatan kita yang kurang pro rakyat (miskin) dan pola pikir masyarakat yang cenderung tidak banyak berubah mengenai kesehatan karena tidak ada sistem pendidikan kesehatan yang baik bagi bangsa ini.

Kasus yang paling sering di RS adalah pengobatan trauma tulang dan sendi. Pengobatan alternatif  yang sering dijadikan pelarian adalah ahli tulang alternatif alias dukun sakal putung atau apalah mungkin ada yang namanya agak berbeda di daerah lain.

Sangat miris sekali beberapa hari yang lain aku menerima pasien dengan trauma patah tulang 7 bulan yang lalu dan dibawa ke sakal putung, ga tahu tuh diapain di sana, tahu-tahu persendian tumbuh benjolan sebesar bola sepak. Wah, gadis cantik berusia 17 tahun tersebut datang dengan perdarahan di sekitar benjolannya tersebut setelah jatuh lagi di kamar mandi…

Kebetulan ada radiolog (dokter radiologi) dan ortoped (dokter bedah tulang) yang standby, “Wah…begini nih, kasihan sekali.” “Mmhh, apa nih Dok? osteosarkom (tumor ganas tulang) ya?” “Apalagi klo bukan….” “Innalillahi….”

Jadilah keluarga pasien cuma pasrah dan sangat bersedih, dan mungkin menyesal telah terlambat memberikan pertolongan medis dari awal. Akhirnya pasien kami rujuk ke RSUP Dr. Sardjito untuk mendapatkan penangan yang komprehensif. Semoga Allah memberikan “mukjizat” kepada dirimu ya dik….hiks…hiks…

pic dari sini

Diposkan pada curhat, dokter, jogja under cover, kesehatan, kontemplasi, livinginjogja, salahkaprah

(Seharusnya) Berbahagialah penderita AIDS…


Satu lagi pasien pria dengan infeksi HIV meninggal hari ini di RS tempatku bekerja. Umurnya masih sangat muda, 30 tahun. Sangat berat ketika harus kuterangkan ke sang bapak tentang penyakit  anaknya yang mengantarkannya ke pintu maut tersebut. Stigma tentang penderita AIDS memang sangat berat, keluarga yang awalnya merasa cukup bersedih dengan kejadian itu akhirnya juga merasa sedang terkena aib yang sangat besar. “Sudah banyak orang yang tahu belum, dok?” sela bapaknya dengan cemas. “Jangan khawatir, pak, privasi pasien tetap kita jaga, hanya saya, perawat di sini, dan bapak yang tahu. Selanjutnya nanti terserah bapak bagaimana mau bicaranya dengan keluarga.”, kataku berdiplomasi.

Memang komplikasi AIDS dengan hadirnya penyakit oportunis pada pasien ini sudah termasuk berat, sudah terjadi infeksi pada otaknya yang mempengaruhi kejiwaannya, dan infeksi pada organ vital lainnya. Cuma sayangnya, baru saat mondok ini saja dia diketahui terinfeksi HIV. Yah, sungguh sayang…

Kenapa aku katakan sangat disayangkan?
Seperti teman-teman ketahui, masa inkubasi (masuknya penyebab penyakit sampai saat kelihatan gejala) untuk HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang, bisa tahunan, bahkan mencapai puluhan tahun. Sehingga tentu saja sangat disayangkan ketika baru diketahui setelah mencapai fase terminal AIDS sendiri. Aku ga begitu tahu pasti darimana sang pasien terinfeksi. Cuma ada petunjuk: si pasien memiliki tato yang banyak, dan selama beberapa tahun yang lalu bekerja sebagai driver di wilayah ibu kota. Sudah pisah dari istri sejak empat tahun yang lalu (mudah-mudahan istrinya ga kena infeksi…)

Sebagaimana jenis penyakit fatal lain yang bisa diramal usia hidupnya di dunia, tentulah dalam masa-masa menderita penyakit mematikan ini penderita dapat lebih berbuat yang lebih baik bagi dirinya dan orang lain. Bagi mereka yang merasa masa lalunya kelam (tidak semua penderita HIV adalah orang yang berlumuran dosa), sangat terbuka pintu taubat yang sebesar-besarnya. Sungguh “enak” sehali mereka itu… diberikan “peringatan” yang amat jelas oleh Sang Pencipta, agar bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum ajal menjelang…

Beruntunglah mereka…, yah…, beruntunglah mereka jika benar-benar paham ketika telah diberikan kesempatan emas itu, maka pergunakanlah kesempatan itu…

— kutuliskan jurnal ini dalam keadaan bersedih…. tambah sedih melihat pola kampanye penanggulangan HIV/AIDS yang sering salah arah…. 😦 so, mari bantu penderita AIDS menghadapi sisa hidupnya secara benar —

Pic dari sini

Diposkan pada curhat, livinginjogja, salahkaprah

PNS lebih OK?


“Wah, bayi swasta nih, ya… ooo, moga besok anak kedua ya…” (maksudnya: klo udah anak kedua aku sudah kerja di instansi negeri), celetuk seorang bidan puskesmas yang menerima anakku untuk diimunisasi. Itu setelah aku bilang, aku kerjanya di RS swasta. Sebuah “guyonan” yang menjengkelkan!! Tapi kupikir untuk apa melayani hal “kecil” itu, biarin aja…

Istriku aja ga lebih kurang lagi jengkelnya dari aku. “Wah, anak swasta nih ye…” diulanginya kata tersebut ke Ifa, anak kami.

Ga begitu ngerti aku, apa sih maksud si bidan ngomong begitu. Apa ini karena pas musim CPNS? 🙂 sehingga bidannya punya kesan tersendiri terhadap PNS? entahlah…

Klo yang aku pikirkan sih, mungkin bidan itu mengira swasta itu ga elit, ga dapat tunjangan kesehatan anak, sehingga sampai imunisasi anak aja ke puskesmas, padahal kan di mana-mana yang namanya imunisasi dasar itu gratis. Bahkan klo mau sih tinggal aku suntik sendiri aja si Ifa (seperti yang aku lakukan waktu imunisasi HiB pertama). Sama istri sudah dijelaskan pengennya imunisasi di tempat yang dekat aja dari rumah.
Klo perkiraanku benar, bidan itu salah besar. Justru kerja di swasta itu jauh lebih enak, kerja lebih semangat, gaji jelas lebih besar, tunjangan kesehatan keluarga dan hari tua? alhamdulillah di tempatku bekerja menjamin itu semua.

Istriku nanggapi juga: “Ya, memang gitu pendapat masyarakat awam…”
Ah, udahlah…malas membahas lebih lanjut. Yang penting akunya memang dari dulu ga berminat jadi “antek” pemerintah kok… 🙂

Diposkan pada curhat, dokter, kesehatan

WARNING buat IBU pe-NGANDUNG anak PERTAMA


Akhirnya aku ketemu juga kasus yang aku takuti selama ini, kondisi gawat darurat yang amat susah ditangani selain dengan merujuk segera ke RS yang punya unit perawatan intensif (ICU). Yah, pasien tersebut akhirnya meninggal di ruang UGD, saat aku dinas Rabu malam  minggu lalu pukul 23.10 (cuma selisih 10 menit saat datang ke RS). Seorang ibu hamil 7 bulan usia 35 tahun (anak pertama) berpulang ke rahmatullahi karena menderita eklamsi. Beliau sudah lama kejang-kejang sejak dari rumah dan riwayat pemeriksaan antenatal (waktu hamil) tidak diketahui oleh keluarga yang mengantar. Tekanan darahnya waktu itu 220 per 80 milimeter air raksa, dengan badan dan kaki yang bengkak-bengkak. Padahal ambulans sudah siap mau mengantar ke RSUP Dr. Sardjito, ternyata takdirnya sudah tiba, harus meninggal sebelum sempat mendapatkan perawatan lanjut.

Aku setengah kesal dan “marah” sama keluarga yang mengantar (suaminya ga ada di tempat). Mereka tidak pernah tahu riwayat kehamilan sang ibu, periksa kemana, tensinya biasanya berapa, pernah bengkak-bengkak atau engga. Ya, sudah akhirnya aku dengan antara menahan haru dan emosi kesal, menginformasikan ke keluarganya. “Mohon lain waktu, kalau ada yang hamil tekanan darahnya dipantau ya…, kontrol rutin di bidan atau puskesmas ya…” Keluarga bingung, kenapa bisa terjadi demikian dengan sang ibu. Aku informasikan bahwa sang ibu menderita “keracunan” kehamilan. Begini jadinya kalau tidak kontrol rutin ke bidan atau puskesmas. Datang-datang sudah dalam keadaan sangat gawat.

Jadi mohon kepada ibu-ibu di MP yang sedang hamil (terutama anak pertama) mohon waspada dengan tekanan darahnya, selain itu dianjurkan untuk tes air kencingnya. Semoga diberikan kelancaran dalam kehamilan dan ketika melahirkan. Amiin…

Gambar dari sini