Diposkan pada pernik

Tak mau menjadi kaya…


Sangat jarang kita menemui orang yang mengucapkan hal tersebut. Tapi orang itu aku temukan juga, yaitu seorang kolega di klinik universitas, tempat kerjaku yang lain. Jangan dibilang ia bukan “orang kaya”, masyarakat di tempat tinggalnya saja menyebutnya sebagai tuan tanah, “O, Pak X ingkang duwe lemah katah niku…” (O, Pak X yang punya tanah banyak itu…”Dia sudah punya titel haji, sudah hampir spesialis juga. Penampilannya sederhana aja. Ke kantor cuma naik motor butut, tapi begitu pemurah, klo ada yang sakit langsung ngomong: “kamu butuh apa?” Klo pas giliran dinas biasanya men(t)raktir semua karyawan yang ada. Nah, saat-saat makan itu kami sering menanyakan kok rajin men(t)raktir? “Ga pengen jadi orang kaya…”, katanya. Pokoknya orangnya sama sekali ga pelit bin medit. Aku aja sempat ngiler lihat internet broadband mobile yang dia langgani pernah ditawari untuk nyoba dan dipersilakan bawa pulang…wah!! Ya, mungkin ada yang berpendapat: “Ah, beliau kan memang ga punya keluarga, jadi ga butuh uanglah…” (maksudnya ga punya istri dan anak, memang beliau ga menikah…) Tapi menurutku bukan itu yang utama.

Di kesempatan lain, dia ngomong yang sama: “Ga mau jadi orang kaya…” katanya. “Kenapa, Pak?”, seorang perawat menanyakan. Aku langsung aja nyolot: “Ga tahan konsekuensinya ya, Pak?” Dia langsung ketawa: “Iya benar, orang kaya itu berat konsekuensinya, masuk surga aja paling belakang sendiri, karena harus ditanya macem-macem dulu…” Oooo, ternyata itu toh…

Andaikan banyak orang berfikir seperti beliau, mungkin ga banyak orang serakah yang akan merugikan orang banyak di bumi ini.

Pic dari
sini

Diposkan pada tak terkategorisasi

Menulis jangan pernah mati!


Assalamu’alaikum.

Rencana penutupan fasilitas blogging di situs Multiply.com pada awal Desember 2012 nanti akhirnya memotivasi saya untuk mengaktifkan cadangan akun di situs ini. Tujuh tahun dengan domain gratis memakai nama http://subhanallahu.multiply.com telah cukup banyak memberikan pengajaran berarti bagi diri pribadi. Dan akhirnya saya juga memastikan agar aktifitas menulis bisa tetap berlanjut dengan aman dan nyaman dengan membeli domain dot com dari WordPress dan juga menggunakan server dan sekaligus content management system yang sama. Yah, spontan saja dan sekadar cari mudahnya saja. Tidak mau ribet karena tujuan utamanya adalah untuk menulis, menulis pengalaman sehari-hari, merekam momen-momen penting (emang ada yang ga penting…?) dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan lingkungan, serta sebagai wahana jualan ide saya dan juga (mungkin, siapa tahu) jualan barang, hehehe… Semoga bisa bertemu dengan teman-teman lama dan teman-teman baru juga. Happy Blogging!!

Diposkan pada dokter, kesehatan

Panduan masuk sekolah kedokteran, mahal berkualitas?


Jadinya saya membandingkan dengan zaman saya:
SPP S1= Rp 2.250.000
SPP Koas= Rp 1.600.000
POTMA= Rp 750.000
Buku/Praktikum/Fotokopi Rp. 3.000.000
Biaya hidup Rp 6.000.000
Total sampai selesai jadi dokter Rp 13.600.000. Lumayan dengan pengeluaran segitu sudah lama balik modalnya. Lah klo era sekarang berapa lama balik modalnya. Bisa sih cepat, asal… anda tentu lebih tahu…
Tentu di zaman TS yang lebih senior, jauh lebih murah lagi, dan malah ada yang gratis kan…
FAKULTAS KEDOKTERAN TERMAHAL DI INDONESIA TAHUN 2011
Kriteria penilaian:
1. Asumsi total biaya selama 10 semester (S.Ked + Co-Assistant)
2. Total biaya mencapai minimal Rp 300 juta atau lebih
3. Biaya meliputi sumbangan pendidikan, biaya studi per semester, biaya laboratorium, dll
3. Mencakup kelas reguler (PTS), kelas internasional (PTN) dan jalur mandiri (PTN)
1. FK UPH
Universitas Pelita Harapan
Akreditasi: B
Lokasi: Lippo Karawaci, Tangerang
Total biaya studi: Rp 502.250.000
Biaya semester: Rp 31.350.000
2. FKUI Internasional
Universitas Indonesia
Akreditasi: ?
Lokasi: Salemba, Jakarta Pusat
Total biaya studi: Rp 425.000.000
Biaya semester: Rp 35.000.000
3. FK UAJ
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Akreditasi: A
Lokasi: Pluit, Jakarta Utara
Total biaya studi: Rp 350.275.000
Biaya semester: Rp 18.075.000
4. FK UKM
Universitas Kristen Maranatha
Akreditasi: B
Lokasi: Surya Sumantri, Bandung
Total biaya studi: Rp 341.530.000
Biaya semester: Rp 22.000.000
5. FK UGM International
Universitas Gadjah Mada
Akreditasi: ?
Lokasi: Yogyakarta
Total biaya studi: Rp 340.000.000
Biaya semester: Rp 20.000.000
6. FK UKI
Universitas Kristen Indonesia
Akreditasi: B
Lokasi: Cawang, Jakarta Timur
Total biaya studi: Rp 328.300.000
Biaya semester: Rp 17.000.000
7. FK Untar
Universitas Tarumanagara
Akreditasi: B
Lokasi: Grogol, Jakarta Barat
Total biaya studi: Rp 328.000.000
Biaya semester: Rp 15.350.000
8. FK Trisakti
Universitas Trisakti
Akreditasi: B
Lokasi: Grogol, Jakarta Barat
Total biaya studi: Rp 322.500.000
Biaya semester: Rp 17.000.000
9. FK Yarsi
Universitas Yarsi
Akreditasi: A
Lokasi: Cempaka Putih, Jakarta Pusat
Total biaya studi: Rp 312.000.000
Biaya semester: Rp 14.000.000
Sumber data sini
Diposkan pada keuangan, syariah

Saatnya take over untuk menurunkan beban utang di bank


Mimpi untuk mengurangi utang akhirnya dekat juga di depan mata. Ya, meski pun utang pembiayaan rumah kami tinggal 3,5 tahun lagi. Namun karena istri saya juga minjam lagi untuk memperluas dan renovasi rumah, jadinya utang itu semakin besar saja.
Harapan itu akhirnya akan segera datang setelah istri menemani temannya untuk mengambil pembiayaan KPR di sebuah bank syariah. Ternyata margin (keuntungan penjualan) dari pihak bank sudah sangat turun sekarang ini. Entahlah apakah ini akibat rupiah menguat atau faktor lainnya.
Empat tahun lalu saya mengambil pembiayaan di sebuah bank syariah yang berbeda dengan punya istri. Waktu itu dikenai margin hampir 9 persen. Sedang sekarang bank tersebut ternyata sudah turun margin penjualannya menjadi 6%-an.
Istri saya punya ide untuk pengalihan pinjaman atau istilahnya take over. Setelah dihitung-hitung. Bisa terjadi penghematan sebesar 1 jutaan rupiah cicilan per bulan! bisa lebih kalau jangka waktu utang kita perpanjang. Tapi kami berpikir yang paling optimal saja, dimana kita tidak terlalu lelah menyicil dan masih bisa menabung lebih banyak.
Kalau akhirnya ini bisa kami selesaikan, maka nanti (semoga proses ini bisa lancar dalam 2 minggu ini) utang kami (saya dan istri) secara total bisa berkurang hampir 40 juta! (saya hemat 18 jutaan, istri hemat 20 jutaan). Persis seperti yang saya omongkan di http://medilubis.multiply.com/journal/item/446/Menuju-rumah-impian
Jadi saran saya buat teman-teman yang masih punya utang di bank, mari manfaatkan kesempatan ini.
Gambar dari sini
Diposkan pada gadget

Nyoba Kamera Rahasia…, ternyata memang OK!


Rating: ★★★★
Category: Computers & Electronics
Product Type: Digital Cameras
Manufacturer:   Cina
Beberapa hari lalu saya membeli kamera rahasia (spy cam) berwujud bolpen di sebuah toko online yang ternyata ada toko offlinenya juga di Jogja.
Sayang barang yang saya minati itu cuma tinggal 1 saja, meski hari ini saya baru saja di SMS, bahwa sudah ada lagi barangnya. Rencana memang saya butuh beberapa biji. Pertama buat saya sendiri dan kedua buat kantor saya di rumahsakit. Jenis spy cam berbentuk bolpen lainnya memang tersedia tapi saya ga minat karena kualitas resolusinya lebih rendah (masih VGA), dan ga ada rekaman suara/voice-nya.
Sudah cukup lama saya berniat membeli kamera rahasia ini. Pertama karena mungkin agak terlalu sering nonton liputan investigasi dengan kamera tersembunyi . Kedua, beberapa pertistiwa yang kami alami di rumahsakit, mengharuskan kami untuk memiliki perangkat ini. Dan terakhir terinspirasi oleh anak-anak saya, karena di suatu waktu saya inspeksi ke sekolahnya, ada beberapa peristiwa bullying antar anak-anak. Namun saya ga mau memata-matai peristiwa bullying itu, tapi untuk memantau pembelajaran Nadifa, anak saya yang tuna rungu di sekolahnya, saat sesi terapi wicara. agar kami, ortunya, bisa ikut belajar dan mengawasi perkembangan terapi Nadifa dan membantu juga ketika di rumah.
Berikut gambar kamera rahasia yang saya beli seharga Rp 410.000.
Setelah saya uji coba di kantor dengan objek pasien saya dan teman-teman di kantor, dan sebuah ATM dan banknya. Dengan kapasitas 4 GB, bisa bertahan sekitar 75 menit, dengan daya baterai yang masih tersisa. Sayang memang, yang tersedia di tokonya hanya kapasitas 4 GB dan ga bisa ditambahi kartu memeori eksternal, padahal saya lihat di produsennya ada yang kapasitas 8 GB. Tentu bisa lebih panjang daya rekamnya. O, iya saya merekamnya dengan modus video kualitas high definition (HD), satu-satunya pilihan kualitasnya karena memang judulnya alat ini HDC 720P, High Definition Camcoder 720 Pixel. resolusi lengkapnya 1280 x 720 pixel, dengan daya rekam 30 frame per menit, jadi hasil rekamannya mulus jalannya. Untuk keterangan lainnya bisa di lihat di http://campark.en.alibaba.com/product/378650895-209843499/HDC_720P_Hidden_Pen_Camera.html atau di http://www.glyby.com/4gb-spy-camera-pen-hdc-720p-high-definition-digital-video-pen-camcorder_p3439.html
Siapa tahu teman-teman sekalian juga tertarik… 
Diposkan pada buku, hobby, lomba blog

[Mozaik Blog Competition]: Buku itu mahal bagi saya…


Ya, buku itu mahal. Jujur harus saya akui itu, karena saya berasal dari keluarga yang biasa saja perekonomiannya, jangankan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder (bagi saya waktu itu) seperti buku bacaan, untuk buku pelajaran di sekolah saja, saya lebih sering memanfaatkan fotokopi atau mencatat ala kadarnya butir-butir penting yang saya butuhkan.

Meskipun budaya baca buku bagi saya sudah ada sejak sebelum SD, bahkan bukan hanya buku, namun setiap material yang ada tulisannya seperti label, bungkus, dan barang-barang pulungan – kebetulan saya dulu punya hobi memulung barang rongsokan, dalam artian benaran loh…, bersama teman-teman kecil saya – menjadi bahan bacaan di sela-sela waktu makan, menonton, membersihkan rumah, dan bermain.

Tidak punya uang untuk beli buku tidak menjadikan saya patah semangat untuk membaca dan menambah pengetahuan atau hanya sekedar mencari hiburan. Saat SD hampir setiap hari saya main ke rumah teman yang punya banyak koleksi majalah Bobo dan Ananda, bayangkan, sampai satu gudang gitu koleksinya.

Meskipun saya tidak pernah dilanggani majalah anak-anak oleh ortu karena memang ga ada uang, sesekali ortu tetap juga mengusahakan untuk membelikan bahan bacaan, saya ingat kami dibelikan majalah (lupa judulnya) yang isinya ada cerita si Komo dan si Musang Wangi. Senang sekali rasanya.

Saya dan teman-teman juga termasuk sering pergi ke taman baca buku di pasar dengan menyewa di tempat atau dibawa pulang. Seringnya sih membaca di tempat saja karena kalau membawa pulang lebih mahal dan juga belum tentu bisa menyelesaikan membacanya dalam waktu yang cepat. Biasanya yang saya sewa adalah komik-komik gareng dan petruk. Ini berlanjut sampai saya hobi membaca novel-novel yang lebih dewasa seperti Wiro Sableng dan komik-komik karya Hans Jaladara yang disuplai (dipinjamkan gratis) oleh teman kantor Bapak saya.

Sayang sekali hobi membaca ini menjadikan saya tidak peduli kesehatan saya, sampai SMP saya sudah kena penyakit lambung (gastritis) yang luar biasa sakitnya ketika pertama kali mengalami.

Selain itu, perpustakaan SD sering sekali saya datangi  meski pun bukan untuk melihat buku pelajaran karena saya lebih suka membaca ensiklopedia bergambar, sejarah tokoh, fenomena-fenomena sains, buku-buku membuat barang-barang aneh, trik-trik sulap, dan buku-buku elektronika. Alhasil, jadilah tambahan hobi saya waktu itu membuat prakarya (handy craft). Setiap tugas akhir membuat keterampilan di SD, saya selalu memasukkan hasil karya saya dan selalu mendapatkan nilai tinggi. Saya ingat waktu itu dari membaca buku, sejak SD saya sudah bisa membuat periskop (teropong kapal selam), lampu tidur, alarm mekanis, rangkaian elektronika sederhana seperti lampu kelap-kelip, sirene, interkom, detektor air, mobil-mobilan, perangkat-perangkat sulap, dan lain sebagainya. Buku-buku tutorial menjadi koleksi terbanyak saya pada waktu itu, meskipun cuma memfotokopi atau meminjam dari perpustakaan. O, ya, saking cintanya saya dengan buku tutorial di perpustakaan, pernah sampai penuh daftar peminjaman yang ada di belakang buku itu dengan nama saya karena sering kali dipinjam, dan juga tentu saja kasihan dengan buku itu yang sudah lecek, dan akhirnya saya perbaiki, dilem dan diberi sampul plastik atau kertas warna kulit padi.

Ketika kuliah di kedokteran, saya keder dengan harga buku yang selangit, masa’ ada buku harganya 1/2 juta sampai jutaan gitu. Dibelikan stetoskop yang bermerek saja oleh ortu, saya sudah sangat bersyukur. Tapi kalau buku saya ga sanggup. Bisa dihitung deh, seingat saya, saya cuma punya buku teks kedokteran yang asli sekitar 2 buah saja yaitu buku teks Biokimia dan Neurologi Klinis (Syaraf). Lainnya saya ga sanggup beli karena mahal. Buku anatomi bergambar asli tubuh manusia telanjang yang termahal waktu itu pun saya fotokopi terutama bagian yang saya mau pelajari saja, tidak semuanya. Untunglah ada juga teman dan kakak kelas yang bersedia meminjamkan bukunya. Jadi kesedihan tidak punya buku sedikit terobati. Saya juga waktu itu hobi sekali ngendon di perpustakaan kampus, selain buat belajar internet juga buat cari-cari buku yang bisa dibaca, disalin, atau difotokopi. Saya juga sangat terbantu dengan adanya semacam tim pencatat bahan kuliah di fakultas kedokteran yang digawangi oleh setiap angkatan, lalu bahan kuliah dicetak dalam bentuk lembaran fotokopi. Nama timnya HSC (Health Study Club).

Selama di SMA dan kuliah saya dan teman-teman hobi menyelenggarakan bazar, salah satunya bazar buku, kita mendatangi berbagai toko buku, salah satu yang sering kami datangi adalah shopping center buku di dekat pasar Beringharjo, Yogyakarta dan Toko Buku Social Agency yang belakangan saya tahu toko itu punya ortu sejawat saya, dokter di RS tempat saya bekerja. Kita melakukan penawaran menjualkan buku dengan prinsip konsinyasi. Namun keuntungan dari penjualan dari hasil konsinyasi itu kita masukkan semua untuk membiayai kegiatan ekstrakurikuler kita, bukan untuk bisnis pribadi. Tapi yang penting pada waktu itu saya dan teman-teman bisa sambil membaca ketika bazar berlangsung. Di SMA aktifitas membeli buku sangat dipengaruhi ketika saya sudah mengenal Islam melalui pengajian-pengajian. Memang buku yang saya beli sebagian besar cuma buku saku yang harganya ribuan rupiah saja. Saya ga kuat mengalokasikan uang belanja saya yang hanya cukup untuk beli mie rebus untuk beli buku-buku fikih, sirah, dan sejenisnya yang mahalnya minta ampun buat saya. Untunglah ga diminta pun guru dan teman ngaji saya hobi meminjamkan saya buku-buku mahal itu.

Hal yang memalukan sempat pula saya alami dengan tidak punya alokasi biaya untuk membeli buku ini. Seperti kejadian ditegur oleh satpam toko buku karena mencatat tulisan-tulisan yang ada pada buku yang dipajang, hahahaha…, namanya juga usaha kan… Meski pun begitu begitu saya tetap menjaga diri saya supaya tidak tergoda mencuri seperti yang dilakukan oleh oknum teman mahasiswa di fakultas saya. Banyak lembaran buku-buku mahal di perpustakaan yang dipreteli (disobek dengan rapi), tentu saja untuk mendapatkan bahan bacaan yang mereka butuhkan.

Saya akhirnya sempat merasakan bahwa buku itu mudah bagi saya untuk memperoleh dan membelinya, yaitu ketika saya mulai nyambi bekerja ketika program studi koasistensi sedang berjalan. Saya sangat dibebaskan oleh bos untuk membeli buku apa saja yang sesuai untuk pekerjaan saya waktu itu, semahal apa pun buku itu. Dan ketika mendapatkan beasiswa untuk S2 pun saya merasakan surga buku itu, semuanya gratis. Dan buku itu yang termasuk banyak menghiasi kardus dan rak di rumah. Kesadaran untuk membeli buku karena alokasi budget sudah ada, mulai rapi ketika sudah menikah. Saya ingat waktu dulu pernah memborong sekitar 10 buku tebal tentang pernikahan di bazar buku. Sekarang ini hobinya sih membelikan buku untuk anak-anak saya dan hobi membacanya lebih diarahkan membaca koleksi e-book dan surfing di dunia maya. Lebih praktis.

Diajukan untuk lomba [Mozaik Blog Competition]

Diposkan pada curhat, tunarungu

Menaklukkan Nadifa, si picky eater


Sebenarnya ya, takluknya cuma sesaat, banyak ga takluknya sih. Berbeda dengan kakaknya, Nadifa adalah seorang batita yang super picky eater. Ortunya lumayan stres menghadapi putri kemayu ning gratilan bin petakilan ini, apalagi Ibunya tuh yang paling stres… Ingat ga Bu, dulu waktu masih di Jakarta, ada tetangga depan yang ibunya hobi ngeplakin anaknya yang susah makan, jadi sambil makan gitu sambil menempeleng, jadilah si anak makan sambil nangis, anaknya sih sudah lewat balita klo ga salah ingat. Si ibu ngomong, seingat saya: “kamu itu, makan sulitnya minta ampun, bersyukur kamu masih bisa makan, lihat tuh banyak orang yang ga bisa makan!”
Lah, tapi sama Nadifa, masa mau diterapkan seperti itu? yang ada dia cuek aja, lah ga dengar gitu, hahaha…
Berbagai cara kita coba dan cari inovasi-inovasi sesuai referensi juga sih. Dulu Ifa, kakaknya jadi gemuk karena terlalu sering dicekoki susu sama pembantu, dan memang lebih banyak makannya, tapi ya ga se-picky Nadifa. Buktinya sekarang hobi utamanya ya makan dan ngemil sampe udah bisa kasih jawaban konsisten ketika ditanya sama orang, “Wah, kamu kok gemuk ya?” Dijawab: “Karena banyak makan, karena banyak minum susu…” hahaha… Di episode pamer keperkakasan, eh…keperkasaan kemarin bisa lihat sendiri buktinya deh…
Nah, Nadifa ini betul, butuh ekstra banget, sangat tidak konsisten untuk masalah makan. Sempat lama juga dia makan pake makanan yang diblender, habis klo makan padat dikit dilepeh terus, selalu begitu, daripada ga masuk asupan gizi, akhirnya dibuat cair atau semi cair, pokoknya nasi dan lauk pauk diblender gitu, dibantu sama pembantu, diajak kelililing kampung, sambil makan, tapi tetap aja sulit habisnya. Di sekolah ya sama aja, awalnya saja ketika ada perubahan suasana, lahap makannya, setelah itu ya kembali ke selera asal, hahaha.
Nah, ga ada pembantu sekarang ini jauh lebih repot. Hari ini ibunya laporan ga mau makan juga tuh anak. Udah dikeluarin segala macam jenis makanan dan lauk, termasuk sereal energen yang sempat jadi favoritnya, sama aja. Yang belum bosan tuh ya, susu sama jus-jus gitu deh seperti jus jeruk dan jambu.
Beberapa minggu lalu ibunya beli abon, eh si Nadifa ternyata suka, jadilah lebih kurang 2-3 hari, makannya lahap cuma pake nasi+abon, kadang tambah kuah dikit, diselingi dengan jus jeruk. Namuuun, itu cuma bertahan sebentar, habis itu ga mau lagi, cuma banyak minum jusnya aja.
Nadifa juga suka sayur lodeh/bersantan gitu, sekali waktu lahap, sekali waktu ya mandeg, ya sama aja, ga bisa juga bisa dibilang sukalah, hahaha….
Klo makan di luar sih kadang mau makan, itu pun klo ketemu jodoh makanan yang tepat, seperti mie ayam, tumben waktu itu lahap makan mie ayam di Indogrosir dan minum jus jeruk dan jambu biji habis banyak sampe beol deh, parah….
Akhirnya ibunya bikin lagi mie telur, tapi sekali lagi cuma bertahan sebentar. Lalu tiba-tiba Nadifa suka makan pake kentang goreng saja, lalu mandeg, lalu tiba-tiba senang dengan nuget ayam, lalu mandeg lagi, begitu seterusnya. Bahkan terakhir kemarin pagi dan sore makan pake sup mie Promina, sebelumnya sih udah sempat bosan, tapi kemarin itu maunya karena apa coba…? karena wadahnya berbeda, pake ini nih wadah makannya…
Pusing kan… jadinya setiap malam sudah mulai lagi dicekoki susu campur ekstra protein kedele beli dari apotek. Klo beli langsung borong, murah sih 4 ribuan gitu per sachet. Plus ditambah vitamin berwujud sirup gitu setiap harinya.
Tolong dong, klo masih ada ide yang sudah pengalaman dengan anak yang picky eater. Rencana sih ya nanti makanan-makanan yang disukai itu diputar aja alias diulang secara periodik, trus wadahnya digonta-ganti gitu, sama suasana makannya juga diubah-ubah deh… yang terakhir ini yang sulit, ga telaten.
Diposkan pada curhat, dokter

Dokter Spesialis dan Kemapanan


Saya sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk mengambil pendidikan spesialis. Sudah sangat kebal bagi saya setiap kali orang menanyakan: “Dokter spesialis apa?”, atau “Sudah spesialis apa, Dok?”, “Kapan ngambil spesialis, Dok?”
Entah apa yang ada dibenak para penanya tersebut. Namun saya menduga sebagian besarnya adalah sama karena menganggap mungkin menjadi spesialis itu lebih mapan terutama dari sisi finansial. Pernah ini terpikir pada saat ngobrol dengan tetangga yang juga sukanya membanding-bandingkan saya, yang dokter umum dengan tetangga baru yang dokter spesialis jantung (anak) dengan rumahnya yang gede mentereng. Bahkan mungkin dengan maksud memanas-manasi saya, tetangga itu bilang bahwa dokter spesialis jantung itu juga masih muda seperti saya, yang ternyata belakangan saya tahu ternyata dokternya udah bangkotan, hahaha….
Biasanya saya langsung mengunci dialog, bila ada yang menanyakan hal itu, saya akan langsung ngomong: “saya lagi S2”, atau “saya sedang fokus karir di RS dulu”, atau klo teman dekat yang nanya langsung saya bilang: “blum ada duit.” hahaha. Baru biasanya mereka ga tanya-tanya atau meremehkan lagi.
Apapun kata orang, tapi saya ingin meluruskan bahwa dokter itu punya banyak jenjang karir, bukan hanya spesialis saja. Bahkan trennya sudah banyak yang ga ngambil spesialis karena berbagai hal, misalnya (yang positif saja ya):
  1. Karena sudah mapan menjadi dokter umum, terutama mereka yang praktik di perifer/daerah terpencil, mereka sudah jadi raja di sana.
  2. Lebih memilih untuk menjadi bisnismen, dan bisnisnya udah sukses, jadi kalau orientasinya cuma duit, untuk apa ngambil pendidikan spesialis.
  3. Lebih fokus menjadi ibu rumah tangga, ini terbukti dengan teman-teman sejawat saya yang sudah menjadi ibu bagi anak-anaknya, memang mereka sebagian besar sudah mapan, ortu dan suaminya sudah kaya, jadi ga mikir macam-macam lagi.
  4. Lebih memilih karir di birokrasi yang ternyata lebih banyak duitnya dan bahkan lebih bebas mengatur orang atau dokter, misalnya jadi pejabat di Kementerian Kesehatan.
  5. Lebih memilih karir manajemen seperti di RS, ya seperti saya ini contohnya, bisa mengatur banyak orang, hidup lebih santai, bisa pergi lebih bebas, dan tidak selalu terikat jam kerja kantor, itu menurut saya yang saya rasakan, dibandingkan saya praktik seperti kejar setoran pada zaman baheula. Lalu apakah saya tidak punya minat untuk spesialis, ya tentu tetap ada, tapi saya akan melihat-lihat perjalanan karir saya dulu. Ada banyak rencana dalam hidup saya daripada hanya fokus untuk menjadi spesialis.
  6. Bagi sejawat yang baca ini, silakan ditambahkan ya…
Pic dari
sini
Diposkan pada tunarungu

[Tuna Rungu] Perkembangan yang menggembirakan


Pose saat mau berangkat sekolah pagi
Senang sekali Nadifa sudah paham beberapa bahasa reseptif. Seperti misalnya dia sudah bisa menunjukkan mana gambar ikan, ketika diucapkan kata “mana ikan”. Menunjuk mata ikan ketika diucapkan kata “mana mata ikan”. Dengan ini saya semakin yakin sepenuhnya bahwa ABD (alat bantu dengar)-nya berfungsi.
Selain itu fungsi motoriknya sudah banyak percepatan, sudah bisa melepas dan memakai celana sendiri, sudah bisa naik ke motor tanpa bantuan, dan kebiasaan-kebiasaan repetitif/berulang yang diduga gejala autisnya sudah jauh berkurang seperti suka berputar-putar sendiri, suka mendelik-delik matanya.
Memang, sudah beberapa minggu ini Nadifa juga kami pindahkan ke sekolah inklusi alias sekolah umum playgroup, yaitu sekolah yang sama dengan kakaknya. Namun, sekolah siangnya di SLB tetap kami pertahankan sebagai wahana pembanding dan melatih konsentrasinya. Sepertinya Nadifa lebih senang di sekolah inklusi tersebut, terbukti suatu waktu ketika saya jemput dari sana untuk diantar ke sekolah siangnya, dia menolak, meski akhirnya mau juga, meski kelihatan bete gitu mukanya, hehe…
Kami akui kami masih sangat kurang untuk menjalankan metode AVT (auditory verbal therapy) mandiri di rumah, selain belum bisa membuat iklim yang kondusif, sarana yang masih kurang, dan manajemen bapak dan ibunya dalam membagi waktu untuk belajar 🙂
Kami berharap bisa segera menata hal tersebut untuk percepatan belajar Nadifa.
Diposkan pada jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Nikmat membawa sengsara…


Sudah lama ga dapat kasus seru lagi secara udah jarang praktik…
Hari ini, seorang mahasiswa almamater saya (parah!), 21 tahun, dengan keluhan nyeri saat buang air kecil, dari lubang penis keluar nanah, riwayat berhubungan seksual dengan pacarnya yang satu kota asal dengannya, mahasiswinya kuliah di kota yang berbeda.
Alasan berhubungan adalah sekadar coba-coba, pacar sudah berpengalaman artinya sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain sebelum dengan mahasiswa ini.
Mengeluarkan sperma di luar vagina si mahasiswi artinya ga pake pengaman.
Lupa menanyakan, melakukannya di mana? di kursi, di tempat tidur, di semak belukar?  tapi yang jelas di kota yang sama tempat mereka berasal, mungkin pas lagi mudik bareng 
Saran ke mahasiswa, cek laboratorium sampel air kencing dan nanahnya dulu, kemungkinan diagnosis penyakit kencing nanah (GO), menjelaskan risiko jangka panjang bila terkena GO, yaitu saluran pipisnya akan mengkerut dan akan sangat sulit pipis, akhirnya nanti harus dioperasi (pucat dia…)
Syukurlah, katanya kapok ga mau berhubungan seks lagi, mudah-mudahan… 🙂
Pic dari sini