Diposkan pada imunisasi, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Buat Yang Ragu: Pahami 8 Fakta Penting Soal Imunisasi


Sampai saat ini, beberapa pendapat keliru di masyarakat tentang imunisasi masih sering terjadi. Sebagian orang merasa bahwa imunisasi tak diperlukan lagi lantaran pada dasarnya manusia sudah dikaruniakan kekebalan oleh sang pencipta.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Soedjatmiko, Sp.A K (Msi)  di sela-sela acara journalist class, dengan tema “Kesehatan Fisik dan Mental Anak Sebagai Investasi Tak Ternilai Bagi Bangsa”, Rabu, (3/8/2011) di Jakarta.

Menurut Soedjatmiko, pendapat tersebut sebetulnya tak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. “Benarnya adalah bahwa memang betul Tuhan telah memberikan kekebalan pada tubuh kita. Tapi kalau kumannya dalam jumlah banyak dan ganas, tubuh kita tidak akan bisa melawan,” katanya.

Ia mencontohkan, pada negara-negara maju yang sosial ekonomi nya baik, gizinya bagus, dan lingkungannya bersih, masih bisa terkena wabah bakteri E Coli. Padahal, sebagaimana diketahui, mereka bukanlah dari sosial ekonomi yang buruk. Pada kasus tersebut Soedjatmiko berkesimpulan bahwa, kebersihan badan, lingkungan dan gizi yang baik belum mampu untuk mencegah penyakit menular.

“Ini untuk mengcounter pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa imunisasi itu tidak perlu,” tegasnya.

Soedjatmiko juga memaparkan 8 fakta seputar imunisasi yang perlu diketahui. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada lagi salah kaprah di masyarakat mengenai imunisasi.

1. Imunisasi merangsang kekebalan spesifik bayi dan anak

Pemberian vaksin akan merangsang peningkatan kekebalan spesifik pada bayi dan anak untuk membunuh kuman atau racun yang dihasilkan oleh kuman yang masuk ke dalam tubuh. Jadi vaksin tidak melemahkan kekebalan tubuh, tetapi justru merangsang peningkatan kekebalan tubuh yang spesifik terhadap kuman atau racun.

2. Imunisasi mencegah penyakit berbahaya

Kalau anak tidak di imunisasi, maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit. Bila kuman berbahaya yang masuk bersifat ganas dan banyak, maka tubuh tidak akan mampu melawan, sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal. Sampai saat ini, imunisasi yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk imunisasi rutin meliputi, Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Campak dan vaksin jemaah haji (Maningitis).

3. Imunisasi lebih praktis dan efektif cegah penyakit

Imunisasi lebih praktis, karena sangat cepat meningkatkan kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak. Setelah diimunisasi dalam waktu 2-4 minggu, maka akan mulai terbentuk kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak untuk melawan kuman. Sementara itu, pemberian ASI, hidup sehat, dan kebersihan lingkungan memang dapat menurunkan risiko serangan penyakit, tetapi membutuhkan waktu  berbulan-bulan untuk memperbaikinya. Sehingga lebih sulit dan lebih lama hasilnya dibandingkan imunisasi.

4. Negara maju tetap butuh imunisasi

Negara maju dengan tingkat gizi dan lingkungan yang baik tetap melakukan imunisasi rutin pada semua bayinya, karena terbukti bermanfaat untuk bayi yang diimunisasi dan mencegah penyebaran ke anak sekitarnya. Sampai saat ini menurut data WHO, sekitar 194 negara maju maupun sedang berkembang tetap melakukan imunisasi rutin pada bayi dan balitanya. “Jadi, tidak benar kalau ada informasi yang mengatakan negara kaya tidak membutuhkan imunisasi. Mereka tetap melakukan vaksinasi, bahkan vaksin yang diberikan jauh lebih banyak,” kata Soedjatmiko.

5. Tidak ada negara yang melarang program imunisasi

Sampai saat ini, tidak ada satupun negara yang melarang program vaksin. Semua ahli-ahli di dunia dan pemerintah yakin dan sepakat bahwa program vaksin pentng dan bermanfaat untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit berbahaya.

6. Vaksin imunisasi di Indonesia adalah produk lokal

 Vaksin yang digunakan untuk program imunisasi di Indonesia dibuat oleh PT. Biofarma Bandung dan sudah dinyatakan aman oleh badan internasional WHO. Bahkan vaksin buatan Biofarma saat ini sudah digunakan oleh Unicef untuk lebih dari 120 negara didunia. “Masa, negara lain percaya sama produk kita, tapi kita sendiri nggak,” katanya.

7. Pasca imunisasi muncul ‘kejadian ikutan pasca imunisasi’

Setelah imunisasi kadang muncul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) seperti demam ringan sampai tinggi, bengkak, kemerahan dan gampang rewel. Menurut Soedjamiko, kejadian seperti itu adalah reaksi yang umum terjadi pasca imunisasi. Biasanya dalam hitungan 3-4 hari, gejala tersebut akan berangsur-angasur hilang dengan sendirinya.

8. Setelah diimunisasi masih bisa terkena penyakit, tapi ringan

Soedjatmiko mengatakan, perlindungan imunisasi memang tidak ada yang 100 persen. Artinya, setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit, tapi kemungkinannya sangat kecil yakni sekitar 5-15 persen.

Sumber: http://health.kompas.com/read/2011/08/04/11245835/Pahami.8.Fakta.Penting.Soal.Imunisasi

Diposkan pada kesehatan, kontemplasi, rokok

Apel Haram, Rokok Halal…



Cerita ini dari Mesir. Pencerita bilang dia lagi shalat tahiyatul masjid, khusu’nya keganggu oleh bau asep rokok yang kuat banget, setelah salam dia tahu darimana asal bau itu, dari orang yang bibirnya saja item karena rokok. Dia ngomong ke dirinya, “nanti selesai solat gue mau ngomong ama tuh orang.” Tapi mendadak ada anak kecil sembilan taunan umurnya masuk mesjid, duduk disamping perokok itu. Dan si anak itu mencium bau asap rokok juga, kemudian mereka terdengar ngobrol.

Anak: Assalamu’alaikum paman, paman orang Mesir?

Perokok: ya betul aku orang Mesir.

Anak: Paman kenal Syeikh Abdul Hamid Kisyk?

Perokok: ya kenal.

Anak: Paman juga kenal Syeikh Jaad al-Haq?

Perokok: ya kenal juga.

Anak: Paman juga kenal Syeikh Muhammad al-Ghazali?

Perokok: ya aku juga kenal.

Anak: Paman pernah dong mendengar pendapat dan fatwa-fatwa mereka?

Perokok: ya dengar juga.

Anak: Mereka itu ulama dan syeikh yang berkata bahwa rokok itu haram, kenapa paman menghisapnya??

Perokok: Ngga, rokok ngga haram.

Anak: Haram paman, bukankah Allah mengharamkannya: وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الخَبَائِثِ (Allah mengharamkan yang buruk-buruk bagi kalian) apakah paman waktu ngerokok baca bismillah dan baca alhamdulillah waktu selesainya??

Perokok: Ngga, rokok ngga haram, mana ada ayat al-Quran yang berbunyi وَيُحَرِّمُ عَلَيْكُمُ الدُخَانَ (Allah mengharamkan rokok bagimu).

Anak: Paman, rokok itu haram seperti haramnya apel!!!

Perokok: (sambil marah) Apel haram!!! Bagaimana kamu bisa menghalalkan dan mengharamkan itu.

Anak: Coba paman tunjukkan ayat وَيُحِلُّ لَكُمُ التُّفَاحَ (Allah menghalalkan apel)!

Perokok itu sadar diri dan diam, ngga keluar lagi kata-katanya, seterusnya dia nangis dan waktu solat juga dia nangis. Sehabis solat perokok itu deketin si anak kecil, sang da’i yang nyadarin dirinya, terus janji, “nak, paman berjanji kepada Allah tidak akan ngerokok lagi sampai akhir hidup paman.”

Sumber: http://theonlynelly.wordpress.com/2010/05/13/apel-haram-rokok-halal/

Pic dari: sini

Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ga kapok…


Akhirnya kisahnya bersambung…sebelumnya silakan baca di Keputihan 2 Tahun. Ya, sepertinya saya ingat, pihak laboratorium tidak mau melakukan pemeriksaan pap smear dengan alasan pasien belum menikah. Saya lupa, karena sama rekan sejawat saya yang menerima kontrol pasien itu tidak dituliskan itu dari hasil pemeriksaan apa, sehingga hasil yang bisa saya baca di catatan medis hanya: terdapat bakteri gram negatif, dan jumlah leukosit yang banyak, mungkin itu cuma hasil swab (apusan) cairan vagina atau cuma dialihkan ke periksa urin atau air kencing saja. Aneh juga sih, kok bisa memeriksa cairan vagina tapi ga mau melakukan pap smear. Kalau pasiennya setuju dengan informed consent, mestinya tidak menjadi masalah, toh untuk kepastian diagnosis pasien itu sendiri. Setahu saya papsmear itu boleh dilakukan pada orang yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, meski dia belum menikah. Apa pihak lab takut menghilangkan selaput dara si pasien? yang justru saya pertanyakan, apakah si pasien memang masih perawan? setelah berhobi ria melakukan hubungan seks? entahlah…

Nah, kembali ke “ga kapok”-nya pasien saya itu. Oleh teman saya, diterapi dengan antibiotik selama 5 hari, belum membaik, lalu ditambah dengan anti jamur dan jenis antibiotiknya diganti. Entahlah, si pasien sembuh apa tidak, karena tidak kontrol, untuk melaporkan perkembangan keluhannya.

Setelah 3 bulan berlalu, si mahasiswi berjilbab datang lagi, dengan keluhan demam, mual, pusing, nyeri perut kanan bawah, keputihan, dan sering buang air kecil. Lalu sama teman saya diperiksa lab urin (air kencing)-nya. Hasilnya, hari ini dia datang menyerahkan hasil lab urin dengan hasil warna urin yang keruh, jumlah sel darah putih yang banyak, dan kandungan bakterinya positif. Ya, sudah diagnosis ditegakkan saja: urinary tract infection atau infeksi saluran kencing, atau ISK. Untuk mempertajam saja, lalu saya tambah proses tanya jawabnya.

“Habis menahan pipis?”

“Engga…”

“Habis berhubungan seks…?”

‘Iya, Dok…?”

“Kapan..?”

“Dua minggu sebelumnya Dok..”

“Dua minggu sebelum timbul keluhan?”

“Iya…”

“Pake pengaman?”

“Pake…”

“Sama siapa?”

“Teman…”

“Itu teman yang sudah tunangan?” (saya nanya gini bukan berarti klo udah tunangan, boleh ngeseks sembarangan loh…)

“Engga…”

“Jadi, belum pasti ya (nikahnya), brarti nanti bisa lari…meninggalkan mba..?”

“…..”

“Jadi pake pengaman ga menjamin juga….aman buat cowok, ga aman buat mba…apa lagi komplikasi ini ga terduga, bisa ke ginjal loh…”

“….”

“Jadi, sebaiknya dihentikan saja kegiatan berisiko itu….ya risikonya mungkin ga hamil klo pake kondom, tapi mungkin bisa ada iritasi dan alergi sama kondom…”

“….”

“Cowoknya yang minta ya….?” (maksudnya yang minta berhubungan seks duluan….)

“Iya…”

“Lain kali, beranilah bilang “tidak”…, karena tetap perempuan yang akan dirugikan….”

“Iya, Dok…”

“OK, setelah minum obat yang saya berikan, hari Sabtu kontrol ya, buat evaluasi…”

“Ya, Dok, makasih….”

“Ya”

———————————————————————————————————————————-

Referensi berguna:
http://labparahita.com/parahita/2011/02/pemeriksaan-pap-smear/
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/kiayati/2009/01/30/lets-talk-pap-smear/
http://www.kznhealth.gov.za/papsmear.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Pap_smear
http://www.medicinenet.com/urine_infection/article.htm
http://emedicine.medscape.com/article/233101-overview
http://www.mayoclinic.com/health/urinary-tract-infection/DS00286

Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ngeseks Saat Mens


“Terimakasih ya Dok ya….”
———————————————————————————————————————————-
Kali ini saya lebih kalem ketika ketemu pasien yang melakukan hubungan seks di luar nikah, apalagi karena kebodohannya…

Saya berharap nasihat-nasihat saya nantinya bisa masuk dan tidak menjadi bumerang terhadap pasien, saya usahakan tidak melakukan penghakiman langsung kepada pasien.

Saya mau cerita lagi tentang pasien saya sore kemarin, seorang mahasiswi 18 tahun, anak kedokteran hewan, tampilan biasa saja menurut saya. Datang dengan keluhan pusing mual pilek perut perih. Lalu saya tetapkan diagnosisnya cuma Common Cold (flu) dan Dyspepsia (sakit maag). Beri obat untuk meringankan gejala yang dirasakannnya dan menyebutkan anjuran dan pantangan.

Lalu mahasiswi tersebut bertanya kepada saya: “Kalau gejala hamil itu apa saja Dok…?”

“Pernah hubungan seks?” saya menyolot.

“Iya, Dok…”

“Kapan?”

“Dua minggu yang lalu…”

“Mens terakhir kapan, hari pertamanya…?”

“Dua minggu yang lalu, Dok…”

“Hari keberapa mens, tepatnya berhubungan?”

“Kedua…”. “Bisa hamil ga Dok, apa gejala yang saya rasakan ini tanda-tanda hamil…?”

“Bisa jadi…”, jawab saya

“Apa itu sedang masa subur?”

“Bukan masa subur…, tapi masa hidup sperma kan tidak bisa diduga…”

“Oooo, lama ya Dok?”

“Bisa jadi…, lah mba berhubungan pake pengaman?”

“Engga…”

“Dikeluarin di mana?”

“Ga sempat keluar Dok…, cuma lendir gitu, ga ada putihnya…sperma putih kan Dok?

“Mmm…, sama sapa berhubungan?”

“Pacar, Dok…”

“Berhubungan pertama kali? mba masih perawan waktu itu?”

“(mimik ga yakin, mengangguk saja…), kalau cairan bening itu ada spermanya Dok?”

“Bisa ada…, sperma itu kan sel yang kecil, ga bisa kelihatan dengan mata biasa, harus pake mikroskop, kalau yang putih itu jumlah spermanya lebih banyak, sudah kumpulan gitu…”

“(manggut-manggut), jadi gimana Dok, saya hamil ga? saya takut Dok…”

“Belum bisa ditentukan sekarang…, kita observasi saja, mbanya kontrol saja nanti…saat siklus berikutnya, bila tidak mens…, mensnya teratur?”

“Teratur Dok, tapi kadang maju tanggalnya…”

“Ya, ga pa pa, perkiraan saja majunya kapan, klo ga keluar mensnya, ke sini saja, nanti kita tes…”

“Ya, Dok..”

“Baik, untuk sakit yang ini, obatnya sudah saya resepkan, bisa ditunggu di depan apotek, nanti dipanggil…”

“Terimakasih ya Dok ya….”

“Sama-sama…”
———————————————————————————————————————————-
Pic dari sini

Diposkan pada baksos, dokter, kesehatan, penyakit, salahkaprah, yankes

Pengobatan Gratis, Masihkah Perlu?


Sabtu, 14 Mei lalu, saya sempat menyaksikan acara baru reality show Trans TV, Pukul 18.30-19.00: “Pengabdian” yang menghadirkan sosok dr. Irma Rismayanty, dokter muda lulusan FK UI yang menerobos daerah terpencil di wilayah Serang, Banten untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat temporer selama beberapa hari. Dia menginap di sana dan melakukan beberapa kegiatan seperti pengobatan gratis dan penyuluhan.

Sebenarnya saya dulu sering sekali mengadakan dan ikut acara-acara bakti sosial pengobatan gratis begitu. Apalagi kalau keluar kota, pasti saya semangat, soalnya sekalian jalan-jalan, hehehe…

Berbicara pengobatan gratis, memang lebih mudah dalam penyelenggaraannya, namun tidak semudah dalam melihat efek jangka panjangnya terhadap kegiatan tersebut. Berdasarkan pengamatan saya pengobatan gratis sering tidak bersifat kontinyu alias berkesinambungan dan jarang disertai dengan penyuluhan yang efektif serta advokasi bagi masyarakat awam untuk lebih membuka wawasan mereka.

Contoh lain kasus pengungsi Merapi di shelter-shelter ternyata sebagian besar dari survey tim saya, mereka sudah jenuh dengan yang namanya pengobatan massal yang gratis. Obat-obatan mahal tidak diminum dan dibiarkan saja tergeletak di rumah masing-masing. Obat-obat jenis antibiotik sudah jelas tidak akan sesuai perlakuannya sehingga justru akan mempertinggi risiko kekebalan terhadap kuman penyakit. Obat-obat penyakit kronik seperti hipertensi dan diabetes bahkan dapat semakin parah bila peserta pengobatan massal tidak punya kesadaran untuk melanjutkan pengobatan di pusat pelayanan kesehatan terdekat seperti puskesmas.

Tapi, apakah pengobatan massal dan gratis tidak diperlukan lagi? Tergantung, bila untuk fase bencana yang akut alias untuk jangka waktu yang singkat, maka masih sangat diperlukan karena memang ada keterbatasan akses pengobatan. Untuk daerah terpencil memang juga masih sangat perlu. Tentu saja sangat perlu diiringi dengan advokasi kepada para pemegang kebijakan untuk mau turun tangan dan memberikan tindak lanjut terhadap mereka yang menjadi kaum marjinal ini. Selain itu perlu upaya terus-terusan untuk menyadarkan masyarakat kita tentang pentingnya kondisi sehat dan kemampuan untuk mendeteksi secara dini penyakit-penyakit yang berbahaya.

Diposkan pada deafness, kesehatan, tunarungu

Anak kedua saya tuna rungu?


Ya, dari hasil pertama deteksi peralatan medis bernama BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry), menyimpulkan begitu, anak kedua saya, Nadifa Kamilia (Nadif, yang menjadi headshot MP saya), mengalami gangguan pendengaran yang bisa dikatagorikan parah, bahasa medisnya: profound, distal neural hearing loss, dengan tingkat gangguan pendengaran mencapai 105 desibel. Saya dan istri sampai saat ini mempercepat mendalami referensi tentang deafness/ketulian ini, survei berbagai jenis pemeriksaan lain, jenis terapi, lembaga pendidikan, bahkan berbagai website dan blog para tuna rungu dan ortu mereka, termasuk di MP ini. Alhamdulillah, ternyata banyak juga MPer yang tuna rungu atau anaknya yang tuna rungu.

Doakan kami semangat untuk mengajar dan mendidik anak kami….

Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Sex Edu – Keputihan 2 Tahun


Hari ini saya menemukan pasien yang luar biasa lagi. Lagi-lagi seorang mahasiswi dengan kerudungnya yang cukup rapi, datang mengeluhkan menderita keputihan (leukorea) selama 2 tahun. Riwayat hubungan seksual pertama kali sejak 1 tahun sebelum periksa ke saya. Jadi dia sudah mengalami keputihan sebelum perawannya direnggut dengan sukarela oleh teman akrabnya sendiri (bukan pacar) saat berumur 17 tahun. Sekarang dia berumur 18 tahun.
Sebelum pernah melakukan kontak seksual, saya memperkirakan keputihannya masih dalam batas normal karena tidak berbau, tidak gatal, dan masih bening. Masalah timbul setelah dia melakukan hubungan seksual dengan cara yang sangat-sangat tidak aman. Jarang menggunakan kondom, jadi teman prianya melakukan coitus interruptus atau senggama terputus atau azl. Sama seperti kasus yang saya tulis sebelumnya bahwa perilaku ini tetap berisiko untuk menimbulkan kehamilan. Apalagi ketika saya tanyakan mengenai kegiatan gonta-ganti pasangan. Ternyata si mahasiswi mengetahui bahwa teman prianya itu juga melakukannya dengan perempuan lain. Lalu apakah mahasiswi ini melakukan dengan 1 teman prianya saja? Ternyata juga tidak. Dia mengaku berhubungan dengan 2 pria saja.
Lalu dia menanyakan ke saya: “Apa saya mungkin terkena kanker leher rahim?” Tentu saja saya jawab: “Sangat bisa”
Karena saya penasaran, tidak langsung saya rujuk ke dokter obsgin seperti kasus sebelumnya. Tapi saya cek dulu ke laboratorium untuk pap smear dan cek kandungan dari cairan vaginanya. Mudah-mudahan kisah ini bersambung untuk menjadi pelajaran bagi kita bersama.
Diposkan pada dokter, kesehatan, penyakit

Sex Edu – Keputihan 2 Tahun


Hari ini saya menemukan pasien yang luar biasa lagi. Lagi-lagi seorang mahasiswi dengan kerudungnya yang cukup rapi, datang mengeluhkan menderita keputihan (leukorea) selama 2 tahun. Riwayat hubungan seksual pertama kali sejak 1 tahun sebelum periksa ke saya. Jadi dia sudah mengalami keputihan sebelum perawannya direnggut dengan sukarela oleh teman akrabnya sendiri (bukan pacar) saat berumur 17 tahun. Sekarang dia berumur 18 tahun.
Sebelum pernah melakukan kontak seksual, saya memperkirakan keputihannya masih dalam batas normal karena tidak berbau, tidak gatal, dan masih bening. Masalah timbul setelah dia melakukan hubungan seksual dengan cara yang sangat-sangat tidak aman. Jarang menggunakan kondom, jadi teman prianya melakukan coitus interruptus atau senggama terputus atau azl. Sama seperti
kasus yang saya tulis sebelumnya bahwa perilaku ini tetap berisiko untuk menimbulkan kehamilan. Apalagi ketika saya tanyakan mengenai kegiatan gonta-ganti pasangan. Ternyata si mahasiswi mengetahui bahwa teman prianya itu juga melakukannya dengan perempuan lain. Lalu apakah mahasiswi ini melakukan dengan 1 teman prianya saja? Ternyata juga tidak. Dia mengaku berhubungan dengan 2 pria saja.
Lalu dia menanyakan ke saya: “Apa saya mungkin terkena kanker leher rahim?” Tentu saja saya jawab: “Sangat bisa”
Karena saya penasaran, tidak langsung saya rujuk ke dokter obsgin
seperti kasus sebelumnya. Tapi saya cek dulu ke laboratorium untuk pap smear dan cek kandungan dari cairan vaginanya. Mudah-mudahan kisah ini bersambung untuk menjadi pelajaran bagi kita bersama.
Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Sex Edu – Ketagihan


Saya mau bertanya kepada laki-laki MPers di sini, terutama yang sudah menikah. Berapa kali berhubungan suami istri dalam waktu 1 minggu? Ga perlu dijawab deh, cukup disimpan di hati 🙂 Trus saya mau nanya lagi: biasanya yang ngajak berhubungan laki-laki (suami) duluan atau perempuan (istri) duluan? Lagi-lagi ga usah dijawab deh, entar melebar kemana-mana, hehehe….

Maksud saya adalah ingin berbagi tentang (lagi-lagi) tentang pergaulan remaja zaman sekarang yang gimana gitu, dibilang kebablasan, ya memang kebablasan…

Hari ini saya dapat pasien dengan kasus yang menarik hati (bukan pasiennya yang menarik hati saya, tapi kasusnya)

Seorang mahasiswi kedokteran berusia 19 tahun datang untuk curhat masalah yang dihadapinya. Dia mengeluhkan keluar flek/cairan kecoklatan dan bergumpal sejak 6 hari yang lalu. Pernah mengalami hal yang sama 1/2 tahun yang lalu.

Saya sendiri belum tahu pasti itu apa. Tapi yang jelas hasil wawancara medis yang cukup rinci saya mengetahui, dia baru saja 1 minggu yang lalu melakukan hubungan seksual dengan pacarnya tanpa memakai kondom, alias sperma dikeluarkan di luar vagina. Pertama kali berhubungan umur 16 tahun masih dengan pacar yang sama. Perbuatan terlarang tersebut dilakukan di rumah pacarnya. Memang ini belum bisa ditentukan dia hamil atau tidak karena belum sampai kepada masa dia mengalami telat menstruasi. Tes hormon via urin pun masih menunjukkan hasil negatif. Pasien itu akhirnya saya rujuk saja ke dokter ahli obstetri dan ginekologi (kebidanan dan onderdil reproduksi wanita).

Saya bukan mau membahas kasus itu secara mendetail, tapi ingin memaparkan edukasi yang saya berikan kepada mahasiswi itu. Sehingga beberapa pertanyaan iseng, saya ajukan kepada mahasiswi itu.

“Emang enak berhubungan itu mba?” Tentu saja dia ga mau jawablah, hehehe…cuma mesem aja.

“Trus yang ngajak berhubungan siapa?” Dijawab: “Ya, pacar saya, Dok”

“Biasanya kalo berhubungan, paling banyak dalam sebulan berapa kali? Dijawab:”Jarang Dok, kita berhubungan pada tanggal-tanggal tertentu, paling banyak 3 kali dalam sebulan…”

Ini edukasi saya:
“Maaf ya mba, bukan maksud memprovokasi ya…
Ya, kalo masalah agama ya tahu sendirilah…
Mba nih anak kedokteran kan?
Tahu ga, klo ngeluarin sperma di luar itu belum tentu ga bisa hamil?
Mba tahu ga klo pacar mba itu setia, ga berhubungan atau jajan dengan perempuan lain…? Biasanya kalo orang, terutama cowok kalo sudah pernah berhubungan seks, dia akan merasa ketagihan. Ga cukup itu kalo cuma 3 kali dalam sebulan. Trus, apa mba ga khawatir pacar mba itu berhubungan dengan cewek lain? Iya kalo cewek lain itu bersih, lah kalo pacar mba jajan dan kena penyakit, entar malah mba kena getahnya juga kan…? belum lagi nanti kalo hamil, lalu ditinggal sama pacar mba…lalu mba mikir untuk aborsi dengan taruhan nyawa mba sendiri…”

Yang sempat membuat saya mangkel adalah, dia ngomong: “Saya ga takut kalo hamilnya Dok, tapi yang lebih ngeri dari itu, apa saya kemungkinan kena HPV (Human Papilloma Virus) yang menyebabkan kanker serviks?”

Saya pikir: apa dia ga ngerti ada yang lebih bahaya dari itu seperti HIV??

Bener-bener deh…mau ngomong apa lagi saya….?

Diposkan pada kesehatan, tips

Tips Serius – Cara Menggemukkan Badan


Dapat tulisan bagus dan lucu tentang tips menggemukkan badan… silakan baca dari sumber aslinya di sini
Pic dari sini

Banyak wanita yang gemuk mendambakan tubuh langsing, sekse, singset, padat, berisi *berisi kodok ta Ros?* dan sebagainya. Namun tak sedikit pula banyak wanita maupun pria dengan berat badan yang kurang berisi menginginkan penambahan daging alias pingin gemuk seperi Rusli Zainal sang Visioner. Seperti teman saya di blog sebelah.

Berbagai cara telah dia tempuh untuk memuluskan niatnya menggemukkan badan. Karena saking pinginnya gemuk sampai-sampai ia masukkan dalam daftar obsesi tahun baru kala itu. Tapi sepertinya sampai sekarang, tukang vektor yang kini mengadu nasib ke Bali itu belum ada perubahan berarti. Ada satu tips jitu yang belum ia lakukan, menikah.

Yahh.. berbagai sumber menyatakan dengan menikah orang cenderung akan gemuk dan sehat. Kenapa? berikut adalah alasan cukup masuk akal yang saya ambil dari niwanda (di edit sesuai gaya bahasa saya):

Kenapa bisa gemuk ?

  1. Istrinya suka masak, jadi si suami sering makan dalam porsi yang lumayan besar.
  2. Hobi makan atau wisata kuliner tersalurkan karena sekarang ada temannya. Bayangin kalao ngajak temen sekolah atau teman kerja, tekor sebelum makan wakaka.
  3. Punya rasa tanggung jawab atas ‘anak orang’ yang dititipkan hingga harus selalu memperhatikan soal makan. Dulu waktu masih single mungkin cuek-cuek aja mau makan apa dan di mana, tapi gawat juga kalau istri sakit gara-gara tidak makan. Mau tidak mau harus nemenin istri makan juga kan?
  4. Merasa bertanggung jawab ke ortu & mertua. Istri tercinta (maaf tidak ada link, takut menimbulkan fitnah) yang dipasrahkan malah jadi kurus. Atau khawatir istri dianggap kurang becus mengurus suami, masa habis nikah malah kerempeng. Jadi makan dibanyakin de hehehe.
  5. Istrinya perhatian banget dan rajin ngingetin suami makan. Seperti milih menu makana sehat, mengatur jadwal makan dsb. Kalau perlu ngancem pakai golok wakakaka.
  6. Dulu rajin jogging atau main bola, setelah nikah tidak sempet lagi. Cucian numpuk, rumah belum dibersihin… emang tega istri beresin rumah sendirian?
  7. Dulu dengan semangat jalan kaki atau ngejar angkutan umum ke mana-mana *jadi inget masa SMP dan SMA ni wakaka*. Sekarang kasihan sama bidadari di samping jadi beli kendaraan. Energi numpuk jadi lemak juga kan?
  8. Perasaan nyaman & tenteram setelah punya istri sholeha (jangan tanya link, tak cekik entar kekeke), cantik, baik hati, lucu, suka humor, dsb. Hal ini membuat tubuh memproduksi hormon ketenangan sehingga pembakaran kalori berkurang.
  9. Istrinya diet, atau males makan, atau pilih-pilih makanan, minimal jaim, jadi harus selalu ngabisin makanan istri.

Kenapa bisa makin sehat (tambahan sendiri) :

  1. Jogging pagi yang biasa’e males-malesan jadi makin rajin, soale bareng sama istri idaman hehe.
  2. Namanya juga sudah jadi suami orang, tentunya harus keluar tenaga ekstra untuk melakukan segalah hal sendiri. Seperti ngangkat kulkas, mindah kursi, dsb.
  3. Olahraga tambahan yang rutin tiap malam. Poin ini tidak perlu saya bahas, silahkan ke blog saya tentang Seks dan Kesehatan. Sayapun cuman copas untuk melangsingkan alexa. Tanpa membaca penuh apalagi mendalami, takut kepingin lak bahaya hahaha. Nanti ae kalau sudah nikah baru dipelajari.

Sedikit penjelasan ilmiahnya mungkin seperti ini:

Ketika mendapat tekanan psikis (karena menikah) adrenalin seseorang akan meningkat. Adrenali tersebut bersama dengan hormon lain yang bernama Cortisol akan lebih giat memompa energi. Apabila tidak tersalurkan dengan baik akan tertimbun dan menyebabkan kegemukan. Ditambah lagi ketika setelah menikah otomatis jam tidur berkurang. Ini menyebabkan akan lebih mudah lapar. Kalau sudah begitu tau sendiri dech makan dan makan.

Terus kamu percaya Ros, kalau habis nikah bisa gemuk?

Percaya.. percaya banget. Teman kerja saya di Toko Ho Yoe Sidoarjo dulu langsung gemuk sehabis nikah. Eros pun sudah membuktikan. Mungkin perasaan damai, bahagia dan usaha untuk tampil lebih membuat saya jauh lebih gemuk saat 2x menjalin hubungan khusus dengan anak orang, padahal belum nikah lo, maksimal baru pacar.

Apalagi saya percaya akan darah keturunan yang disalurkan dari keluarga ibu. Dialah paman saya Khotib, waktu naksir dan niat nikah dengan istrinya kena semprot kurang lebih “kecil-kecil berani ngajakin nikah”. Bukan sulap bukan sihir, setelah nikah tubuh yang sebelumnya kecil dan imut seperti saya ini berubah menjadi sosok yang gemuk, tinggi, besar dan gagah.

So, buat kalian yang ingin memiliki tubuh gemuk ideal dan sehat saya sarankan segeralah menikah. Tergantung suasana hati tapi, kalau nikah malah tertekan ya tidak tanggung jawab saya xixixi. Untuk tukang vektor yang saya sebutin diatas “wes rabi nang kono ae le, ndolek prawan Bali wekeke. Aku gak nitip, cukup soko lemah dewe ae” (sudah kamu nikah disana saja, cari gadis Bali wekeke. Aku gak titip, cukup dari tanah sendiri saja, Ros).