Diposkan pada curhat, livinginjogja, open source, pernik, tips

TIPS – Bila Tak Ada Pembantu


Ini sudah hari kedua tanpa pembantu rumah tangga, karena Bi Inem, begitu biasa dipanggil anak saya, akhirnya resign setelah hampir setahun menjadi bagian dari keluarga kami dengan mengajukan alasan diminta suaminya pulang ke kampung.
Sejak hampir 4 tahun punya anak, kami memang baru 2 kali punya pembantu rumah tangga. Susyehnye cari pembantu itu sudah rahasia umum kayaknya. Susyeh dalam artian cari yang awet itu dan ga musingin kepala tingkahnya. Tapi ini benar-benar mustahil bagi kami, pasti selalu ada masalah.
Ya, udah ga usah membahas itulah, meski pun kami tetap berharap bisa mendapatkan segera pembantu lainnya.
Tips ini seperti, mungkin, tips keluarga lainnya yang tanpa pembantu dalam hidup mereka *ssyiaah! Simak deh:
1. Harus ga malas bangun pagi sekali, telat dikit, pasti berabe ke arah belakangnya. Mana hari Senin ini istri saya upacara lagi, biasanya yang rebutan untuk berangkat dulu-duluan itu di hari Jumat, karena sama-sama ada jadwal senam.
2. Bagi tugas, tapi sebenarnya bagi tugas ini ga mutlak, yang penting saling mengisi, jangan saling menunggu (saya sih masih suka diingatkan karena sering menunggu ini), misal: istri lagi menyuci pakaian, ya kita nyuci piring dan gelas kotorlah, istri lagi masak, ya kita ngasih makan anak, istri nyiapin perlengkapan anak sekolah, ya kita mandi’in anak.
3. Memanfaatkan tetangga. Ini memang harus punya hubungan baik dengan tetangga, saya perhatikan dua hari ini halaman rumah saya yang seuprit selalu bersih dan ada bekas-bekas sapu lidi. Nah, tadi pagi saya memergoki bapak tetangga depan yang orang Nasrani, lagi nyapu’in halaman rumah saya, tentu saja sekalian dengan halaman rumahnya dia dong. Eh, tapi ini ga baik kan ya? memanfaatkan…., hahaha, habis, ya saya memang masih belum sempat nyapu-nyapu halaman lagi, internal rumah saja belum tersapu.
4. Outsourcing alias pake jasa pihak ketiga yang berbayar (tentu), ya itung-itung sebagai ganti pembantu, seperti jasa laundry. Ini istri kemarin sore sudah pergi ke laundry dengan 6 kilogram pakaian kusut siap di setrika, sekaligus survey, ternyata ada yang di dekat rumah, dan sekalian hari ini petugas laundrynya akan mulai melakukan antar-jemput pesanan, hehehe… murah habis sekitar 9 ribuan, brarti sekitar 1500 rupiah per kilo. Masalah klasik dengan laundry biasanya telat nganter dan kadang ga beres setrikaannya, jadi diantisipasi dengan mengontrak 2 tempat laundry.
5. Masak sendiri? kemarin walau ada pembantu pun kita ga rekomen untuk masak, selain buang waktu dan seringnya ga enak masakannya, juga ternyata budgetnya malah mahal. Maka  2 bulanan pake jasa outsourcing katering, murah juga oiy…, cuma 15 ribu per hari, untuk 6 hari jadi 90 ribu atau 360 ribu per bulan. Hari Ahad difokuskan variasi makanan lain, bisa beli lagi di luar atau masak sendiri, tergantung selera dan budget, hihi…
6. Penitipan anak, di awal dulu ini yang paling pusing, sempat pernah sekali-dua kali dititip tetangga, namun ternyata tetangga yang ini suka mengungkit-ngungkit “kebaikannya” dan disalahgunakan, jadi kita ga berharap akan seperti itu lagi. Alhamdulillah kedua anak kami, Ifa dan Nadifa, sudah sekolah play group semua, dan pulang sampai pukul 15/16. Jadi aman deh…
7. Lainnya? sumbang saran ya… karena rumah masih berantakan, belum disapu, belum dipel, tempat tidur masih awut-awutan, nanti sore juga masih ga kepikir mau ndulangin anak makan karena udah capek…
Pic dari sini
Diposkan pada imunisasi, kesehatan, obat

Pencegahan Penularan Cacar Air Dengan Tablet Acyclovir


Masih ada aja yang kena cacar air, termasuk anaknya teman saya, dan dia khawatir menular ke anggota keluarga yang lain, lalu saya berikan resep pencegahannya yang pernah saya gunakan dulu. Dan ternyata saya belum mendokumentasikannya di MP saya sendiri, hehe…

Langsung aja deh…

Dosis pencegahan dengan tablet acyclovir untuk cacar air adalah 40 miligram per kilogram berat badan per hari, dibagi dalam 4 dosis atau 10 miligram per kilogram berat badan untuk sekali pemberian. Berikan dosis ini setiap 6 jam selama 7 hari atau 1 minggu dalam rentang waktu 7-14 hari sejak dugaan paparan virus yaitu hari di saat timbulnya demam pertama kali. Diusahakan tepat waktu dengan menggunakan alat time reminder pada ponsel setiap jam 06.00, 12.00, 18.00, dan 00.00 (ini untuk mudahnya saja, yang penting setiap 6 jam)

Contoh di saya:

  • Untuk istri dan pembantu (dewasa), saya berikan 800 mg (2 buah tablet 400 mg) setiap 6 jam selama 7 hari. Berarti butuh 56 tablet atau hampir 6 strip (1 strip berisi 10 tablet)
  • Untuk anak saya yang beratnya 10 kg, saya berikan 100 mg (1/2 tablet 200 mg) setiap 6 jam  selama 7 hari
  • Untuk anak saya yang beratnya 20 kg, saya berikan 200 mg (1 tablet 200 mg) setiap 6 jam  selama 7 hari

Sediaan generik acyclovir tablet yang saya jumpai di tempat saya adalah 200 mg dan 400 mg.

Rasa tablet acyclovir (generik) ini tidak pahit, tapi netral, dan mudah sekali larut dalam air, sehingga tidak sulit diminumkan pada anak-anak, bisa dicampur makanan atau susu. Harganya juga murah, hanya sekitar 70-80 ribu per 100 butirnya.

Semoga berguna.

Diposkan pada livinginjogja, sekolah, tunarungu

Malam Amal SLB Karnnamanohara – Langkah Kecil Meraih Asa


Akhirnya, saya jadi juga membeli tiket untuk acara Malam Amal SLB (B) Karnnamanohara, tempat anak saya, Nadifa, bersekolah. Saya beli satu saja tiketnya. Sebenarnya hari Ahad, 26 Pebruari besok saya ada jadwal dinas, tapi saya pikir ini acara penting untuk saya melihat kemampuan anak-anak tuna rungu menunjukkan kemampuan mereka. Memang, kelas anak saya belum dilibatkan karena mereka masih kecil-kecil banget, masih latihan pula.

Mudah-mudahan besok saya bisa mendokumentasikan acar ini dengan baik supaya bisa di-share di empe

O, ya, sepertinya tiket untuk acara masih banyak, bagi yang berada di Jogja dan sekitarnya dan mau ikut nonton silakan beli tiketnya (kalo ga salah 20 ribu rupiah saja) di SLB B Karnnamanohara, Jln. Pandean 2 (Gg. Wulung Deresan Condong Catur Depok, Sleman), Yogyakarta.

Diposkan pada kanker, kesehatan, teknologi

[PENTING] Gempur Kanker dengan Listrik Statis


Kanker hingga kini menjadi pembunuh nomor satu di dunia dan Indonesia. Berbagai upaya medis ditempuh untuk menaklukkannya, salah satunya dengan listrik statis berdaya rendah. Dalam uji coba, teknik ini bisa menyembuhkan tiga kasus kanker stadium lanjut.

Kanker atau tumor terbentuk akibat mutasi gen yang tak terkendali sehingga menjadi sel yang tidak diperlukan tubuh. Pertumbuhan kanker dapat berlangsung beberapa bulan hingga tahunan.

Selama ini, kanker sangat sulit dibasmi karena mekanisme kerja molekulernya yang rumit sehingga mampu menyebar atau bermetastatis ke bagian tubuh lain.

Berbeda dari sel normal, sel kanker dapat terus tumbuh atau bereplikasi. Sel kanker juga mampu menginvasi jaringan di sekitarnya dan membentuk anak sebar.

Karena sifatnya itu, beberapa obat antikanker dikembangkan, antara lain berdasarkan aktivitas molekuler dari sel kanker itu.

Selain itu, pada terapi banyak dilakukan pengangkatan jaringan kanker dikombinasi dengan kemoterapi. Namun, cara ini sering kali menimbulkan efek samping negatif, antara lain matinya sel normal pada tubuh dan meningkatnya keganasan sel itu.

Tahun lalu, pakar tomografi, Warsito Purwo Taruno, menemukan cara baru menaklukkan kanker, yaitu dengan medan listrik statis yang disebut electrical capacitance volume tomography (ECVT).

Di bidang medis, aplikasi teknologi tomografi yang dikenalkan tahun 1972 masih sebatas untuk pencitraan organ tiga dimensi. Namun, teknik ini mencapai pengembangan yang signifikan di tangan Warsito, doktor lulusan Universitas Shizuoka, Jepang.

Dalam kurun waktu 10 tahun sejak 1988, tomografi dapat dikembangkan dari yang semula dua dimensi statis menjadi dinamis. Lalu, dalam program postdoktoral di Ohio University selama lima tahun hingga 2003, Warsito berhasil menciptakan tomografi tiga dimensi yang statis dan dinamis.

Kembali ke Tanah Air, mulai tahun 2010, Warsito, yang kini staf ahli khusus Menristek, menerapkannya untuk terapi kanker. Menurut dia, ECVT dapat membunuh sel kanker melalui pancaran listrik statis yang terpancar secara terus-menerus. Gelombang listrik ini dapat mengganggu proses pembelahan sel kanker hingga menghancurkannya.

Hal ini telah dibuktikan melalui penelitiannya di laboratorium Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Percobaan pada sel kanker menunjukkan, ECVT dapat mematikan 30 persen sel kanker dalam waktu tiga hari.

Uji terbatas

Tahap selanjutnya, Warsito merancang prototipe untuk terapi kanker payudara. Alat terapi kanker payudara terdiri dari satu set pakaian menyerupai baju senam atau kutang dan satu panel kontrol elektronik yang terhubung ke elektroda.

Dalam pakaian berbahan khusus ini dipasang dua kutub elektroda yang ditempatkan di antara lokasi tumor atau kanker yang menjadi target. Elektroda tersebut dialiri listrik oleh panel kontrol elektronik berupa kotak kecil yang berisi baterai.

Dalam kondisi aktif, elektroda positif di satu sisi akan memancarkan gelombang listrik magnet yang kemudian ditangkap elektroda negatif di sisi lainnya. Pancaran gelombang listrik ini membentuk medan listrik di antara dua katoda. Karena berada di antara dua kutub elektroda itu, kanker akan terpengaruh oleh medan listrik itu.

Apa yang terjadi jika tumor dipengaruhi gelombang listrik statis itu? “Gelombang listrik ini akan memengaruhi pembelahan kromosom sel. Akibatnya, sel tumor itu tidak membelah, malah hancur,” ujarnya.

Sejak Mei 2010

Terapi kanker dengan sistem listrik statis mulai dikembangkan pada Mei 2010. Alat ini telah diterapkan pada Juni 2010 untuk terapi kanker payudara stadiun empat yang telah bermetastasis atau menyebar ke kelenjar limpa.

Pasien bersangkutan bahkan telah divonis hanya dapat bertahan selama dua tahun. Untuk menangani kanker, pasien harus menjalani kemoterapi sembilan kali dalam setahun. Terapi ini sangat memberatkan karena sekali perawatan menelan biaya hingga Rp 28 juta. Namun, dengan terapi listrik statis ini, dalam waktu sebulan hasilnya telah negatif.

Alat ini juga telah menyembuhkan pasien kanker nesofarink stadium tiga setelah menjalani perawatan selama tiga bulan. Untuk itu, dirancang penutup kepala dan wajah. Pasien kanker rahim stadium 2-3 juga dapat disembuhkan. Untuk pasien ini dibuat pakaian berelektroda berupa celana dalam.

Dengan menggunakan pakaian yang dilengkapi elektroda pemancar gelombang listrik itu, terapi listrik statis bisa terfokus. Listriknya menggunakan arus tak langsung dan berdaya rendah, hanya 9 volt, dan dengan frekuensi antara 50 kilohertz dan 5 megahertz.

Teknik ini memiliki kelebihan lain, yaitu kecepatan pemindaiannya hanya memakan waktu seperseratus detik.

Terapi dengan alat ini berlangsung selama 24 jam nonstop selama sebulan hingga tiga bulan. Adapun untuk pencegahan, pemakaiannya delapan jam sehari.

Uji klinis

Keberhasilan Warsito dan timnya di Edwar Technology menyembuhkan tiga kasus kanker itu mendapat sambutan dari India, yang menawarkan kerja sama dalam melakukan uji klinis di Negeri Gajah itu.

Untuk uji coba itu disediakan 1.000 relawan. Langkah ini akan mengarah pada perolehan sertifikat dari Food and Drug Agency (FDA). “Jika sertifikat ini dapat diperoleh, akan terbuka aplikasi sistem terapi kanker ini di seluruh dunia,” ujarnya. Jika berhasil, tahun depan India memesan 100.000 unit.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, menurut Warsito, harus dilakukan diagnosis kondisi tumor atau kanker, antara lain lokasi dan ukurannya. Dari hasil diagnosis itu baru didesain alat, posisi elektroda, dan komputasi optimal medan listrik yang akan dibangkitkan untuk mematikan kanker. Untuk itu, Warsito dan timnya tengah mengembangkan sistem diagnosis kanker dengan sistem yang sama berbasis tomografi.

Oleh YUNI IKAWATI dari http://health.kompas.com/read/2011/08/26/06353017/Gempur.Kanker.dengan.Listrik.Statis

Diposkan pada kontemplasi, poligami, selingkuh

[Tips] Bila Jatuh Cinta (Lagi) Pada Orang Lain


Beberapa teman akhir-akhir ini curhat tentang kisah cinta mereka, baik yang sudah menikah atau masih dalam tahap penjajagan. Mengapa urusan cinta (atau hati) mampu meresahkan mereka yang berusia 15 tahun, 25, 35, atau 45 tahun bahkan 55 dan 65 tahun?

Jatuh Cinta memang tampak sepele tetapi emosi yang satu ini memang demikian istimewa, sebab  demikianlah fitrah manusia yang dapat tertarik dengan lawan jenisnya.

Jatuh Cinta

Perlu diingat. Setiap orang bisa jatuh cinta; remaja SMP atau orangtua, bahkan mereka yang telah menikah selama belasan atau puluhan tahun. Proses emosi dan chemistry rumit ini melibatkan hormon, otak, proses sensori persepsi, pengalaman, value dan banyak sekali elemen rumit. Makanya, kalau ditanya, kenapa kamu bisa jatuh cinta sama dia?

”Pokoknya aku cinta, titik. Nggak bisa menjelaskan. Bukankah itu true love?”

Maka, tiap kali memikirkannya, yang ada hanya detak jantung yang berdegup lebih cepat. Merasakan kesenangan, kebahagiaan. Memikirkannya tersenyum, tertawa, berbicara, melintas; menciptakan atmosfer kebahagiaan yang sulit dideskripsikan.

Begitu rumitkah cinta?

Atau begitu sederhana?

Jangan sepelekan perasaan cinta terhadap lawan jenis, sebab ia bisa menghinggapi siapa saja, mereka yang berkomitmen teguh dalam Islam pun suatu saat akan mengalami resah saat bertemu seseorang, lawan jenis yang memukau pikiran dan perasaan. Entah sosok, keberanian, caranya mengemukakan pendapat, kewibawaan, kecantikan yang sederhana, atau sosok keibuannya.

Fall in love saat masih remaja hingga dihinggapi virus puppy love masih dimaafkan; tetapi bagaimana bila jatuh cinta lagi pada orang yang bukan pasangannya? Solusi apa yang diperlukan?

Bagi yang belum pernah jatuh cinta mungkin akan berkomentar, gitu aja kok masalah?

Dalam novel Harafisy (Nagouib Mahfouz) dikisahkan dalam bab awal, betapa Asyur, anak asuh Syaikh Afra Zaydan yang memayunginya dengan sayap kebaikan tumbuh sebagai pemuda perkasa yang polos dan sholih serta baik hati. Sekalipun kebaikan hatinya sering diartikan kedunguan oleh Darwis Zaydan, Asyur berusaha tabah dan teguh. Namun hatinya terombang ambing saat terpaksa tinggal bersama tuan Zayn Al Naturi dan memelihara kuda serta ternaknya: Zaynab, putri sulungnya yang melintas sesekali saat akan berangkat berdagang. Asyur, berusaha melebur rasa tetapi ia tak kuasa menolak saat tanpa sengaja matanya dan mata Zaynab bertemu.

Bisa dibayangkan betapa resah seseorang yang hanya terlahir sebagai Harafisy, seorang papa kelana dan jatuh cinta pada putri tuannya?

Rational Emotif  Albert Ellis

Klinisian yang satu ini memilih cara rasional yang menghantam emosi saat menterapi orang yang mengalami permasalahan.

Memilih cara berbeda dengan Carl Roger dengan CCT (client centered therapy) yang lembut memperlakukan klien, Albert Ellis memilih cara konfrontatif. Untuk permasalahan cinta, saya lebih menyukai cara RE Albert Ellis. Sebab perasaan yang terombang ambing, bila dihanyutkan, akan semakin terbawa. Cinta terhadap lawan jenis seharusnya tidak hanya melibatkan perasaan atau emosi semata, tetapi di titik tertentu rasio harus dilibatkan pula. Mengapa? Sebab cinta memang bicara perasaan, tetapi dampak cinta itu menyangkut kehidupan realita orang yang bersangkutan, teman-teman, keluarga, pekerjaan, bahkan masa depannya.

Cara Albert Ellis dengan Rational Emotif mungkin kira-kira begini.

T (therapist) & K (klien).

K : saya jatuh cinta lagi dengan perempuan di kantor. Ia cerdas, enak diajak diskusi. Pengetahuannya lumayan. Kalau dibilang cantik, biasa aja. Lebih cantik istri saya. Hanya ya….beda. Sebut saja istri saya Nina, teman saya Leni

T : anda tertarik padanya karena ia berbeda dengan istri. Leni enak diajak diskusi.

K : ya…begitulah. Ah , saya masih cinta istri saya. Kami dikaruniai dua anak yang lucu. Usia pernikahan kami baru enam tahun. Tidak ada masalah dalam hubungan cinta saya dan Nina. Semua baik-baik saja, mulai dari masalah kamar hingga keuangan. Friksi tentulah ada. Sesekali orangtua saya atau orangtua Nina memang bikin kesal, tapi nggak seberapa. Tapi….

T : ya…?

K : Leni beda. Apalagi Leni punya masalah dengan tunangannya yang hingga kini masih menggantung kapan mereka sesungguhnya mau menikah. Leni sering curhat. Awalnya saya hanya mendengar, lama-lama simpati, dan saya suka cara Leni mengatasi masalah. Easy going, berusaha ceria, menganggap setiap orang pasti punya masalah juga. Empati Leni tinggi.

T : intinya, Leni dan Nina beda.

K : mungkin begitu ya?

T : anda sudah memutuskan.

K : belum. Untuk itulah saya kemari.

T : jadi anda bertanya apa yang terbaik.

K : ya…

T : tidak ada yang terbaik.

K : lho kenapa?

T : kalau itu datangnya dari saya. Anda harus memutuskan sendiri. Menikahi Leni, misalnya.

K : bagaimana dengan Nina?     dia…pasti sakit hati.

T : jadi anda berharap bisa dapat Leni, Nina juga, dan tidak ada yag sakit hati? Anda berharap semua kejadian akan berjalan baik-baik saja dengan apa yang telah anda lakukan, dengan apa yang anda putuskan? Anda harus sadar, buat list, kalau mau Leni maka akan kehilangan Nina dan 2 anak, mungkin pekerjaan. Orangtua, dukungan teman, kredibilitas.

K : saya tidak mau kehilangan Nina dan 2 anak saya! Pekerjaan yang sudah saya rintis sekian lama!

T : tapi itu kenyataannya bila anda tetap mempertahankan Leni. Leni bukan Nina! Dia mungkin tidak bisa memberi 2 anak, tidak bisa mendampingi anda seperti Nina.

K : bagaimana dengan …poligami, misalnya?

T : oke. Jadi kapan tepatnya anda akan menikahi Leni. Tak perlu izin ke Nina kan?

K :…..saya belum tau.

T : jadi anda juga belum tahu bagaimana caranya berpoligami. Sudah bilang ke Leni?

K : sempat ada pembahasan ke arah situ.

T : bagus, kalau begitu segera saja libatkan Leni dan Nina…

……………………..

Begitulah kira-kira cara Rational Emotif.

Anda bisa memprediksi apakah lelaki itu pada akhirnya memperistri Leni. Ia yang masih muda, katakanlah sekitar 30 an tahun, sedang dalam masa early adulthood dengan ledakan energi. Benturan dengan realitas setidaknya membuat dirinya berpikir, mau dikemanakan cinta dan perasaanku terhadap Leni, bila ternyata tak ada solusi? Membayangkan poligami yang terus dikawal oleh therapis, bukan keputusan mudah. Menyiapkan 2 rumah, membagi penghasilan, membagi hari, mencoba membayangkan konflik yang muncul; cinta tak selalu berurusan dengan emosi semata. Di titik tertentu, ketika rasio dilibatkan, perasaan mulai tawar menawar.

Teknik Jatuh Cinta

Banyak orang bisa memaksakan diri ’jatuh cinta’ saat terpaksa. Sebut saja terpaksa menikah dengan jodoh pilihan orangtua/ustadz, terpaksa menggeluti pekerjaan X meski minatnya tak disitu. Seorang gadis pernah dites bakat minat, semua mengarahkan pada Literary atau kecenderungan sastra. Orangtuanya mengarahkan agar ia menjadi paramedis, sebab paramedis lebih banyak memiliki lapangan pekerjaan. Meski awalnya tak suka, lama-lama ia mencintai dunia kerja berbau karbol dan perlahan meninggalkan impiannya menjadi penulis atau editor. Ia mencintai dunia kerjanya sekarang, dan berniat melanjutkan studi di bidang yang sama.

Cinta dapat ditumbuhkan.

Bagaimana menghilangkannya?

Selain rational emotif Albert Ellis yang terus menggiring pikiran dan emosi seseorang untuk siap berbenturan dengan realita, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan. Kita tidak bicara skala cinta Rubin, mana ada orang jatuh cinta mau di tes psikologi untuk membuktikan seberapa dalam cintanya? Tetapi bila berniat menghilangkan cinta pada seseorang yang bukan pasangan, ada beberapa teknik yang saya coba rangkum dari berbagai sumber. Sebut saja X, orang yang bukan pasangan.

  • Ikat diri dengan rasa bersalah, bawa foto pasangan atau barang kenangan kemanapun, terutama saat di kantor atau bertemu orang yang sedang disukai (X)
  • MSG, musik klasik, love song akan menguatkan perasaan. Bila bersama orang X, hindarkan makan dengan kadar MSG tinggi seperti bakso, mie ayam. Hindarkan pula memutar musik klasik atau love song. Putarlah lagu –lagu yang bersemangat
  • Banyak aktivitas
  • Berdoalah, semoga anda dan X dapat menjadi saudara atau sahabat sejati, tanpa fitnah
  • Membaca Quran. Ingat, cinta adalah emosi. Bacaan quran, mampu menenangkan gelombang otak hingga membuat reaksi kimiawi tak berlebihan, terutama hormon2 yang mungkin bekerja berlebihan saat bertemu X
  • Carilah nasehat bijak, cari pula note-note tentang pernikahan yang banyak tersebar.

Maka simak pendapat Albert Ellis yang kurang lebih demikian.

~berpikir & bertingkah laku irrasional adalah keadaan alami yang menimpa kita semua (termasuk jatuh cinta) maka cobalah menantang gagasan irrasional yang menyebabkan gangguan perilaku~

Ujilah gagasan. Lihatlah, betapa irrasionalnya

(saran untuk teman-teman yang sedang jatuh cinta lagi. Semoga menjadi solusi. Kalaupun Rational Emotif Albert Ellis masih belum pas, semoga ada terapi lain)

Di Co-Pas atas seizin Penulisnya: Sinta Yudisia, Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Diposkan pada blacberry, gadget, internet, software, tips

Berhemat, Blackberry buat modem


Dari pada saya ngedumel terus karena BB itu ngerepotin, bahkan BB yang saya pake ini, meski baru beli 2 minggu sudah mati speakerphonenya (memang saya sering “sial” dengan barang elektroniklah….), saya mau berbagi mengenai membuat canggih BB kita. Itu klo punya BB loh, hehe…

Yang jelas, malu-maluin saja, pake BB tapi ga bisa mengoptimalkan fungsinya.

BB memang sih lumayan buat browsing apalagi klo pake tipe dengan layar yang lebar. Tapi bagaimana pun, saya akui, browsing di laptop/komputer lebih nyaman. Masalahnya saya sudah terlanjur daftar paket BB yang ada item koneksi internetnya melalui browser bawaan BB. Saya kira jarang yang mau sekaligus langganan paket modem karena memang mahal sekali. Paket full service biasanya cuma mencakup item BBM, Chatting, Browsing, dan Email.

Saya sendiri langganan paket browsing (selain paket BBM, Chatting, dan Push Email tentunya) sekaligus juga langganan paket terpisah untuk modem biar bisa koneksi melalui laptop. Tapi ini jatuhnya mahal juga untuk saya pribadi.

Padahal ternyata ada cara supaya kita bisa memanfaatkan paket browsing kita sekaligus sebagai modem. Sayangnya memang untuk melakukan trik ini kita butuh sebuah aplikasi berbayar. Nah berbayarnya itu yang membuat agak sedikit eneg. Klo kita bandingkan dengan sistem operasi lain di merek lain, maka kita akan melakukannya dengan sangat mudah dan mungkin juga free of charge.

Harga aplikasi/software sekitar 270 ribu rupiah (US$29.99) atau seharga modemlah. Tapi klo kita beli modem lagi kan sama aja bo’ong, harus beli paket sendiri untuk mengisi modem itu. Jadinya tujuan untuk penghematan tidak tercapai. Prinsipnya, berat di awal, ringan untuk bulan-bulan selanjutnya. Ada aplikasi yang lebih murah tapi saya coba kok ga bisa jalan. Saya sekarang masih pake versi trialnya jadi masih gratis. Nama aplikasinya Tether. Cari aja di webstore-nya BB. Lakukan instalasi di BB dan lakukan instalasi juga di laptop yang akan kita gunakan. Aplikasi ini bisa menggunakan koneksi melalui kabel USB dan Bluetooth. Setelah saya coba lumayan memuaskan karena ternyata lebih cepat dari paket internet bulanan yang masih saya pake. Apa ini karena melewati server BB-nya, entahlah…

Mengenai proses instalasinya lumayan ribet bagi yang belum terbiasa. Bisa baca tutorial di file dokumentasinya atau di beberapa website yang sudah ada.

Satu yang belum saya tahu, untuk provider yang dipake BB saya, berapa kuota yang diberikan untuk paket browsing. Sepertinya nanti perlu saya tanyakan ke galeri, atau mungkin di-trial aja, klo sudah menyedot pulsa berarti sudah habis jatahnya dan berarti bukan unlimited, hehe…

Pic dari sini

Diposkan pada blacberry, curhat, gadget, internet

Masih tentang BB yang merepotkan


Akhirnya BB itu saya kembalikan ke penjualnya. Uangnya juga dikembalikan utuh. Itu semua setelah nyata kecacatan BB itu. Penjualnya juga sudah kelihatan hopeless. Apalagi sudah dicoba pake BB satunya lagi, eh sama aja. Memang susah ya, barang rusak kok dijual, bukan satu bijji lagi yang rusak… Dan sebelum dikembalikan tentu semua data saya back up, dan BB direset ke setingan pabrik, dan injeksi nomor saya dikartukan kembali. Untuk mengartukan harus bayar 5 ribu, seperti beli kartu perdana.

Lalu, saya berhenti make BB hampir selama kurang lebih 1 minggu, dan ternyata bos saya ga tahu BB saya sudah ga ada. Dia masih ngirim pesan ke saya via BBM, dan bisa ditebak pasti ga nyampe. Mana pesannya penting lagi, disuruh ganti’in rapat dengan pengurus yayasan. Ya, maap deh… ya mestinya jangan mengandalkan satu jalur komunikasi, kan ada sms, email, dsb.
Lalu saya kasih tahu juga ke bos jangan BBM-an dulu ke saya, BB saya rusak. Dan saya diminta beli yang jenis GSM aja, ga banyak trouble. Ya, saya pikir sih itu kan pendapat beliau aja. Lah, mau dikemana’in paket BIS yang sudah saya daftarin, bisa hangus sia-sia ga kepake dong. Meski cuma 75 ribu, tapi itu kan duit? meski pun dibayarin, hehehe.
Nah, minggu lalu saya main ke toko yang direkomendasikan sama galeri dan rekomendasi teman kantor saya juga. Dia juga beli BB di sana. Katanya lebih bisa dipercaya, barang terjamin, dan lebih murah. Akhirnya beli tipe Storm 9530. Dapat garansi 2 tahun. Bundling carrier-nya dari Verizon. Bisa CDMA dan GSM. Apa ga OK tuh. Dan waktu mau beli saya juga sudah kasih syarat ke penjualnya, bila saya cek ada yang cacat, saya langsung kembalikan BB itu dan uang saya minta kembali. Penjualnya setuju.
Saya ke galeri untuk injek lagi, dan saya tes semua fungsinya. Ternyata OK semua, bahkan modemnya juga langsung bisa, ga seperti tipe Aries yang saya beli sebelumnya.
Memang sih sampai saat ini saya masih eksplorasi untuk mengoptimalkan penggunaan BB ini. Sayang belum bisa seleluasa ponsel-ponsel Android. Saya masih harus berjuang keras menjinakkan BB ini, hehehe…
Kekurangan BB yang saya masih anggap belum ketemu solusinya:
1. Belum bisa menaruh instalasi program aplikasi ke SDCard-nya (memori eksternal), padahal tuh BB masih dipake uji coba install program macam-macam, eh udah kasih warning aja, kapasitas internal mepet dan bahkan sempat nol. Akhirnya BB melambat kerjanya. Jadi akhirnya juga bersih-bersih, uninstall yang ga berguna, lalu coba yang lain.
2. Belum ketemu aplikasi kebutuhan saya seperti untuk merekam pembicaraan telepon, dan aplikasi pendukung kerja lainnya, serta tool penunjang BB-nya sendiri supaya optimal.
3. Belum bisa pake modem melalui server RIM BB-nya. Maksudnya supaya lebih hemat, saya cukup langganan paket BIS berupa BBM, push email, dan browsing. Sedang untuk modem saya ga perlu langganan lagi paket Connex-nya, cukup pake paket BIS yang sudah ada. Sudah sempat lihat triknya di sebuah forum maya. Tapi belum sempat coba-coba lagi.
Lalu, apa sih kelebihan BB?
1. Bisa naik pamor? lah, anak buah saya pada mupeng, nanya: “Masih ada stok di tokonya ga?” ya saya bilang: “Coba aja deh, kayaknya masih.” Heran juga , saya aja kepaksa make BB, eh, ini masih mikir gengsi, padahal juga udah punya BB.
2. Bos juga sempat takjub. Kok BB-nya kalah keren… Itu sih menurut pengamatan saya aja. Lah, beda harga cuma 100 ribu kok dapat yang lebih OK. Lah, saya juga ga tahu, itu juga atas kebaikan penjualnya kasih-kasih lihat ke saya. Dan kebetulan saya juga suka.
3. Mba galeri Smartfren sepertinya juga takjub, tanya-tanya gitu, harga berapa, beli di mana. Dan dia malah bilang: “Ga beda kok Mas dengan Storm 2 secara fisiknya.”
4. Istri saya juga heran bin takjub, kok sama ya kayak punya kakak ipar saya. Embuhlah kata saya, karena secara harga lebih mahal BB kakak ipar saya, mungkin pake tipe Torch dianya.
So, cuma itu kelebihan BB, selain cuma bisa dipake BBM-an? ya begitulah, hehehe, jadi ga usah beli deh, klo cuma buat gaya-gayaan. Ntar malah jadi malu sendiri seperti kasus para alay di: http://adit38.wordpress.com/2011/08/06/ngakak-kisah-alay-dan-hapenya/
Pic minjam dari sini
Diposkan pada blacberry, curhat, gadget, internet

BB itu membuat saya repot!


Akhirnya saya ngalah, dan harus beli BB deh…
Pulang haji, ternyata direktur saya tidak lupa dengan pesannya sebelum berangkat haji dulu, agar saya beli Blackberry alias BB saja untuk lebih mudah berkomunikasi. Saya sebenarnya tidak ada halangan komunikasi dengan beliau. Pada saat rapat empat mata beberapa hari lalu, beliau menginstruksikan lagi. Saya sudah tawarkan cara komunikasi alternatif, tidak harus dengan BB. Tapi apa daya ternyata ada alasan lain beliau yang tidak bisa saya ganggu gugat yaitu sudah cukup banyak punya grup BB yang penting.

Ya sudahlah. Lima hari lalu saya langsung ke galeri Smartfren di Ambarrukmo Plaza (Amplaz). Alhamdulillah ga antri panjang seperti galeri utamanya di Jl. Kenari. Ternyata mereka ga jual dan harus beli di distributornya di Jl. Gejayan. Saya yang malas harus bolak balik agak jauh akhirnya beli di counter seberang galeri yang katanya juga distributor mereka. Meski cuma adanya BB kosongan alias belum bundling dengan nomor Fren ya saya terima aja meski nanti ga dapat bonus Blackberry Internet Service (BIS)-nya. Lalu setelah beli langsung ke galeri lagi buat diinjeksikan nomor Fren saya. O, iya, saya beli BB tipe Curve 8530 atau dikenal sebagai Aries warna merah marun seharga 1,6 juta. Ga bisa milih karena adanya cuma tipe dan warna itu dan saya malas pindah untuk cari-cari di counter lain. Ternyata Aries ini saudara kembar si Gemini 8520 dari versi GSM.

Dalam waktu singkat nomor Fren saya sudah berpindah nyawanya ke BB. Sedang jasad alias kartu RUIM-nya dikuburkan alias diminta sama petugas CS Smartfren-nya. Sedih juga saya karena si Fren tidak bisa selingkuh dengan HP atau modem lainnya. Lalu langsung isi pulsa 200 ribu meski udah ada pulsa 50 ribu lebih. Ya, buat jaga-jaga dan uji coba berbagai paket BIS yang ada. Mbak CS manganjurkan untuk coba paket harian dulu untuk merasakan auranya, hehe… Saya pilih yang Rp 1.980 untuk dapat paket BB Message, Social Networking, dan Chatting. Eh, saya salah pilih harusnya yang ada push emailnya yang sama harganya.

Ya sudahlah… Lalu di rumah saya aktifkan paket Smartfren Connex bulanan 45 ribu yang biasa saya pake karena saya belum coba paket BIS yang ada paket browsing atau paket modemnya. Ternyata ga bisa tuh paket Connex-nya. Dan paginya saya coba di kantor kok Wifi-nya ga bisa konek juga. Wah… mulai senewen! Meski bos saya sudah senang karena habis injek kemarin saya langsung minta PIN BB beliau dan sudah bisa chat. Siangnya saya kembali ke Amplaz buat komplain ke distributor kok ga bisa konek hotspot wifi. Di utak-atik dikit eh kok malah bisa. Padahal saya perhatikan sama aja caranya.

Lalu masalah paket Connex untuk modemnya saya ngadu ke CS galeri. Mereka menawarkan untuk menunggu teknisinya yang datang agak sore. Wah ya ga bisa karena saya masih harus meneruskan rapat. Akhirnya saya minta diaktifkan paket harian BIS yang ada item browsingnya. Saya pilih yang paling murah yaitu Rp 3.850 per hari. Sepertinya lancar, malamnya langsung saya registrasi yang bulanan seharga Rp 75.900.

Sementara itu paket Connex yang harusnya bisa untuk dijadikan modem ke laptop belum bisa juga. Lalu keesokan hari menjelang Jum’atan saya ke galeri utama Smartfren di Jl. Kenari, Timoho. Syukur pas lagi ga banyak antrian. Eh, saya diterima oleh CS, seorang mba cantik yang ternyata masih training. Bingung dan terdiam seribu bahasa dia. Lalu minta digantikan sama temannya yang cewek juga. Sama aja ga ngerti. Lalu akhirnya saya dilayani oleh seorang mas yang saya nilai lumayanlah ilmunya. BB-nya diutak-atik sama dia, dibandingkan dengan punya dia dan dengan komputer lain. Di dapatkan kesimpulan masalahnya ada pada device alias BB-nya sendiri. Jadi BB-nya cacat nih? ya, kira-kira begitulah…

Hhhh…
Entahlah dari dulu saya bisa dikatakan sering tidak bernasib mujur ketika harus beli barang-barang elektronik apalagi sejenis gadget ini. Sering aja ada masalah. Kata istri saya karena kebanyakan dosa, hehehe, ya bisa jadi deh. Tapi saya ambil hikmah saja, saya bisa jadi semakin tahu perselukbelukan gadget karena banyak ketemu orang-orang yang berilmu meski tak jarang juga yang oon. Dan saya terus belajar mengendalikan emosi saya ketika harus keliling-keliling untuk melakukan komplain ke berbagai orang. Dan saya sangat memperhatikan mereka ketika menangani keluhan pelanggan (handling complain) karena hal itu saya butuhkan untuk kantor saya juga.

So, saya diminta kembali ke distributor BB di Amplaz. Sedikit menahan emosi dan dengan intonasi berat saya bilang tentang masalah BB itu. Saya sudah duga awalnya pasti ada resistensi dan mereka mencari-cari alasan. Semuanya saya patahkan, meski setelah dilempar ke galeri diseberang distributornya dan mereka juga kasih alasan, bahkan sampai dites ulang (lagi-lagi) dan akhirnya mereka menemukan sendiri bahwa BB yang bermasalah. Saya ditawarkan oleh pihak Smartfren untuk meng-kartu-kan kembali nomor saya alias injek-nya dicabut supaya saya bisa pake di HP lain atau di modem. Tapi saya protes bagaimana dengan BB saya, klo harus dirawat inap (apalagi pake lama dan biasanya begitu) di tempat service. Apalagi saya sudah aktifkan paket BIS-nya. Saya ga mau rugi. Tapi mereka membujuk supaya saya mengorbankan salah satunya. Saya masih bersikukuh kesalahan bukan di saya. Saya sangat mengharapkan ada BB pengganti karena saya sedang komunikasi intensif dengan bos saya. Ya, itu memang alasan saya. Saya mau lihat cara mereka. Saya tunggu saja lanjutannya. Meski janjinya hari ini saya mau dihubungi. Tapi belum tuh.

Pic asli dari sini (setelah modifikasi dikit)

Diposkan pada deafness, tunarungu

(Kisah Anak Tuna Rungu) Pasca habilitasi mau kemana?



Alhamdulillah, sungguh dengan ABD ini kami menyaksikan perkembangan daya perhatian Nadifa, dan sudah mulai senang berbunyi mulutnya dan bergerak-gerak, meski belum ada arti.

Minggu kemarin merupakan minggu terakhir anak saya yang kedua, Nadifa, mendapatkan terapi habilitasi gratis di toko alat bantu dengarnya. Saya dan istri sepakat untuk mengintesifkan waktu pemakaian alat bantu dengarnya (ABD) dengan cara menyekolahkan Nadifa pada pagi harinya. Mengapa? karena secara waktu kami sendiri sangat kesulitan mengawasi secara penuh. Di rumah cuma sama pembantu yang tidak bisa kami harapkan terlalu bnayak bantuannya.
Kalau saya atau istri lagi banyak waktu di rumah, diusahakan untuk mengawal Nadifa belajar sambil mengawasi ABD yang dipakainya. Walau pun sekarang sudah jauh lebih mudah dipakaikan ABD-nya, namun Nadifa masih menganggap ABD itu hanya perlu dipakai pada saat-saat tertentu saja seperti saat belajar, saat nonton, saat bermain. Sehingga kami masih harus berusaha keras agar Nadifa lebih paham bahwa alat itu harus dia gunakan sepanjang dia tidak tidur.
Sekarang Nadifa masih ada kesalahan persepsi kapan menggunakan ABD itu. Saya sudah diajarkan triknya supaya Nadifa mau mengubah persepsinya itu. Misal, dulu dia pakai ABD kalau hanya ketika belajar di kelas. Sekolahnya sekarang cuma belajar dari pukul 13.00-15.00. Nah, saat pulang, Nadifa otomatis akan mencopot ABD-nya. Lalu saya dan istri memberi kode agar Nadifa tetap menggunakan ABD-nya. Nadifa memang sudah paham bahasa larangan yang masih kode gelengan kepala, larangan dengan lambaian tangan dengan disertai suara. Ini sudah jauh lebih mending. Dulu Nadifa masih harus menangis karena dipaksa dengan bahasa yang agak kasar dengan kode tepukan pada tangannya . Tepukan loh ya, bukan pukulan…
Persepsi salah lainnya adalah saat Nadifa mau minum susu botol, dia pasti akan melakukan gerakan akan mencopot ABD dari telinganya. Saya kebetulan kemarin bisa seharian ngawasi Nadifa. Saya menangkap respon yang salah itu. Lalu saya larang dia. Dan dia menurut. Tapi lucunya, Nadifa malah ga mau dibaringkan sambil minum susu meski ABD-nya telah saya off-kan. Entahlah, apa dia masih ga nyaman dengan ABD terpasang sambil berbaring. Akhirnya dia nyedot botol itu sambil duduk dan sambil angguk ke atas untuk menenggak susunya dan ke depan untuk nonton TV .
Rencana ke depan setelah sesi habilitasi gratis, ya kami harus habilitasi sendiri dulu di rumah. Dan Nadifa juga sepakat akan kami sekolahkan juga di pagi hari agar selalu ABD-nya terpasang. Kasihan juga sebenarnya pagi sekolah, siang harus sekolah lagi. Sambil kami akan selingi dengan terapi wicara di RS.
Semangat terus ya Nak….

Diposkan pada jalan jalan, livinginjogja, wisata

Serial Wisata – Pantai (Mistis) Ngobaran, Gunung Kidul



Indah sangat toh….

Sudah lama ga berwisata rame-rame ke pantai. Alhamdulillah, pada akhir tahun ini saya bisa 2 kali ke wilayah paling selatan dari Kabupaten Gunung Kidul untuk kembali menjelajahi wisata pantainya. Salah satunya Pantai Ngobaran ini. Menurut cerita dari mulut ke mulut, asal kata “Ngobaran” adalah dari Terbakar, yaitu peristiwa membakar diri seorang raja Majapahit.
Cerita lebih lanjut mengenai Pantai Ngobaran nan indah ini bisa baca di: