Diposkan pada curhat

Puncak Stres Part 2 – MCB Listrik Abal-abal


Tahu kan MCB? Itu loh, miniature circuit breaker atau saklar mini pemutus jaringan listrik secara otomatis bila ada kelebihan beban listrik atau hubungan singkat alias korsleting pada sistem kelistrikan di rumah kita. Nah, Part ini masih berhubungan dengan jurnal saya yang ini tentang puncak stres pada hari yang sama, yaitu hari Jum’at kemarin. Salah duanya ya masalah MCB ini. Kira-kira hampir 1 minggu sebelum Jum’at kemarin itu listrik di rumah saya byar pet berulang-ulang. Frekuensinya sering dan intervalnya ga bisa diperkirakan, bahkan baru aja dihidupkan kembali MCB-nya, eh, MCB punya PLN yang ada di luar rumah ikut-ikutan jegleg! Atau kalau engga, ya baru sedetik juga dinaikkan ke atas MCB-nya langsung melorot lagi ke bawah. Malah pernah saya cuma nyentuh badan MCB-nya engga pada tuas saklarnya, eh, langsung mati itu listrik. Gimana ga mengesalkan, malam hari jadi panas belingsatan karena kamar kami memang sempit dan seringnya diisi orang empat, jadi sudah terbiasa ngandalin AC, akhirnya kipas yang biasa dipake di ruangan lain diungsikan ke kamar utama buat ngganti’in si AC, meski ga begitu nyaman apa boleh buat. Namun ternyata bukan hanya disitu permasalahannya, listrik tetap byar pet meski sumber-sumber penyedot listrik besar telah dimatikan semua, AC, kulkas, TV, pompa air, bahkan sebagian besar lampu udah juga, ah sama aja, itu MCB ga bisa diajak kompromi, malah dipaksa, dia mendadak panas dengan disertai bunyi-bunyi kemeretek.

Saya sangat menduga masalah listrik ini murni disebabkan si MCB, kok dia sepertinya sudah impoten juga, hehe… Lalu saya sempatkan bertanya sama mekanik listrik di kantor yang merangkap driver. Dia sih intinya belum bisa menentukan secara pasti masalah ada di mana, harus lihat dulu ke lokasi. Nah, bagus ini, jadi ga menduga-duga. Setelah mencocokkan jadwal melalui negosiasi yang cukup alot beberapa kali karena ternyata beliau cukup banyak orderannya, akhirnya bisa juga saya paksa Jum’at siang datang ke rumah, hehe… Ya, persis bersamaan dengan waktu reparasi sumur yang setengah sukses itu.

Ternyata, ngutak-ngatik instalasi listrik PLN itu tidak semudah yang dibayangkan meski saya juga hobi listrik dan elektronika dan punya banyak pengalaman kesetrum pada zaman baheula, tapi yang ini saya belum pernah ngerja’in. Dan ternyata waktu ditangani rekan kantor saya itu, ya memang rada sulit terutama saat membuka boks penyimpanan MCB-nya, alot beneeer… susah ditarik, dicongkel, pokoknya dibuat segala macam cara biar bisa lepas, ah, akhirnya bisa juga. Ini katanya kesalahan waktu masang di awal oleh si tukang yang membuat rumah saya. Kacau dah…

Lalu mulailah teman saya itu melepaskan si tertuduh yang menjadi biang keladinya, si MCB. Eh, benar, ternyata MCB itu sudah kobong alias hangus, saya disuruh pegang, waduuh, puaanasssnyah…

Lalu dia ngasih tahu MCB yang baru saja dilepas itu punya kemampuan 16 amper. Hah! Terkejut saya, secara malam sebelumnya saya sempat browsing mengenai MCB, dan sedikit ngeh klo nilai itu melebih batas yang diperlukan. Artinya si MCB seharusnya bisa off secara otomatis bila bebannya sudah lewat dari yang dibutuhkan oleh peralatan listrik di rumah saya. Tapi karena ukurannya hampir 3 kali dari yang seharusnya, jadi ga gampang off dia. Akhirnya ya dia ngeden alias mati tak mau tapi hidup juga sengsara karena harus merasakan panasnya beban arus listrik dan mengakibatkan akhirnya hangus tersebut. Daaaan…. ini masih untung segera terdeteksi dan rumah saya masih dilindungi Allah, tidak ikut terbakar, padahal kabel yang terhubung pada MCB itu sudah ada yang terbakar isolasinya dan akhirnya juga harus ikut diganti. Fyyuhhhhh….. Alhamdulillah.

Akhirnya saya diminta untuk beli MCB baru, beli yang sesuai kebutuhan saja yaitu 6 amper dan dipesanin merek MG (Merlin Gerin) atau Domae dari Schneider Electric, Perancis. Katanya itu yang paling bagus kualitasnya. Dan karena saya juga sempat browsing dan baca juga hasil penelitian seorang dosen di Bali tentang per-MCB-an ini, memang merek MG ini yang paling OK kualitasnya. Harganya juga ga mahal amat kok, cuma 40 ribu. Jadi, saya dulu sempat dikadalin juga sama pengembang rumah saya, masangin MCB merek abal-abal dan tidak sesuai kebutuhan pula… Lain kali ga bisa diapusi (ditipu) lagi nih klo tentang per-MCB-an ini, hehe…. Nah, selain MCB saya juga membeli 1/2 meter kabel NYA (bisa googling deh jenis-jenis kabel untuk listrik PLN) sebagai pengganti kabel yang terbakar, murah ternyata, cuma 1500 rupiah, hehe…

Alhamdulillah, listrik di rumah tidak byar pet lagi, terima kasih buat rekan kantor saya yang ga mau dibayar tapi masa’ saya tega ga ngasih bayaran, hehe…. dan kepada produsen MCB yang bagus ini.

Pic dari sini

Diposkan pada curhat

Puncak Stres Part 1 – Sumur Pompa Impoten


Hari Jumat ini benar-benar hari puncak stres bagi saya dan keluarga, termasuk mbak Inem pembantu kami. Sebenarnya sudah dari beberapa hari lalu dimulainya. Diawali dengan masalah sumur pompa yang ga kelar-kelar masalahnya dan akhirnya ngadat sama sekali, padahal pasca disuntik baru beberapa waktu lalu ketika saya terkena sakit cacar air dan itu menghabiskan biaya yang lumayan.

Tadi malam sudah mempersiapkan rencana hari ini meski pagi hari rencananya berubah lagi secara mendadak, dan saya pun tidak masuk kantor, meski janji ke teman akan datang ke kantor agak siang setelah Jum’atan, nyatanya juga tidak memungkinkan, karena harus menyelesaikan berbagai permasalahan di rumah yang sudah sangat menumpuk dan parah menurut saya.

Pertama, ya, masalah sumur pompa itu. Padahal beberapa hari sebelumnya tukang sumur yang nyuntik/ngebor dulu sudah berkunjung mempertanggungjawabkan hasil kerjanya dulu, sampai pada hari Kamis kemarin juga begitu, permasalahan dikira sudah beres. Nah, ga nyangka ternyata airnya bermasalah lagi, tekanan airnya impoten lagi dan sangat lemah ga bisa memancar ke tandon penampungan air sehingga otomatis ga keluar ke teminal-terminal kran airnya. Pompa cadangan akhirnya digunakan lagi. Sayang, pompa cadangan ini cuma bisa dipake satu titik lokasi, alias sama saja harus ngangkut air ke bak mandi utama dengan menggunakan ember karena belum disalurkan ke instalasi pipa air keluaran utama. Sedang anak-anak ga masalah karena bisa mandi bertelanjang bulat ria sambil menari-nari di teras rumah memakai pompa cadangan tersebut.

Setelah Jum’atan, tukang sumur yang ditunggu-tunggu datang, langsung pesan minta dibelikan footklep, itu loh, bagian paling bawah dari pipa pvc yang berada di dalam sumur bornya, yang berfungsi untuk menjaga tekanan air tidak turun karena tertahan pada ruang pipa. Nah, karena diduga bocor, akhirnya diganti, minta dibelikan yang lebih murah aja. Sekalian juga saya minta juga dipasangin pipa pvc ukuran 10 cm untuk proteksi agar pasir dan air resapan dari atas ga bercampur dengan sumber utama air tanah. Hari Kamis sebelumnya juga sudah dipasang pipa pvc tersebut, tapi kok dipasangnya pada pompa cadangan yang notabene tidak ada masalah. Ga habis pikir saya…

Nah, karena pada hari Jumat ini ada beberapa masalah penting lain (di Part berikutnya aja ya…)  yang harus saya pantau penyelesaiannya, akhirnya saya tidak begitu memperhatikan pekerjaan tukang sumur, tahu-tahu sudah selesai dan air bisa lancar mengalir kembali. Tapi apa benar sudah selesai? Ternyata belum, kira-kira 1 jam setelah tukang sumur cabut dari rumah saya, masalah yang sama terjadi lagi, tekanan air turun lagi. Tetangga saya saja sampai heran bin gumun dan ikut mangkel sama tukang sumurnya. Tetangga saya yang mantan tukang bangunan itu nyaranin si tukang sumur ceroboh itu diminta menunggu selama mungkin sampai diyakini benar-benar tidak ada masalah lagi. Nah, tadi sudah saya pancing dengan menggunakan air dari pompa cadangan pada lubang pancingan yang sudah dibuat pada beberapa hari lalu, dan penambahan lubang pancingan itu pun atas usulan saya, dan air bisa mengalir lagi, tapi saya yakin akan bermasalah lagi.

O, ya, pompa cadangan ini tadi juga sudah disalurkan ke sistem pipa utama sehingga air keluarannya bisa sampai ke bak mandi dan ke semua titik kran di dalam rumah meski lemah debitnya, dan air dari pompa cadangan ini tidak dinaikkan ke tandon penampung air karena memang tidak kuat daya angkat vertikalnya. Istri saya mungkin karena sudah saking stresnya juga, menolak untuk memanggil tukang sumur itu buat datang lagi besok Sabtu, karena masih bisa pake air dari pompa cadangan. Entar aja klo udah parah lagi. Sebenarnya sih maksudnya entar klo budgetnya sudah ada. Karena nyatanya setiap si tukang sumur datang, selalu ada onderdil yang diganti atau dibeli baru dan yang pasti ga tega untuk ga ngasih upah juga ke tukangnnya meski dulu dia pernah saya tagih harus mau dipanggil sebagai garansi dari hasil kerjanya, dan dia tentu saja setuju, namanya juga melayani konsumen. Namun kalau begini terus hasilnya, siapa yang engga stres.

Pic dari sini

Diposkan pada agama, curhat, makanan, syariah

Saya ga mau makan seafood lagi!


Ini akumulasi kekesalan saya pada para penjual makanan seafood. Beberapa hari lalu istri saya kebelet mau makan seafood. Saya pun setuju dan sudah lama tidak makan makanan favorit saya itu. Apalagi kata istri, ada warung seafood baru di dekat hotel Hyatt, so, berangkatlah kami ke warung tersebut. Sampai di sana saya lihat botol-botol yang ada di samping gerobak pembuatan seafood tersebut. Ternyata ada sederetan tulisan cina pada label botol-botol seperti botol kecap itu. tulisan lain yang kebaca klo ga salah “Sari Ketan Beras”. Sehapal saya botol yang ada tulisan cina itu biasanya ada tulisan “Ang Ciu” yang artinya arak merah.

Ga pake nanya, saya langsung mau cabut dari situ. Istri malah mendatangi penjualnya yang berjilbab setelah juga melihat botol-botol itu dan bertanya: “Pake Ang Ciu?”. Lalu dijawab dengan jawaban diplomatis, “klo ga mau pake juga ga apa-apa…”

Dari jauh saya juga udah lihat klo ada label arab bertuliskan halal pada spanduk yang ada di warung itu. Di depan gerobaknya sekilas saya lihat juga ditempeli papan berukir dan bertulis huruf arab, tidak saya perhatikan itu tulisannya apa.

Akhirnya istri dengan berat hati ikut meninggalkan warung itu, lalu sambil nyetir motor saya jelaskan klo Ang Ciu itu kan haram. Bukan masalah penjual seafood itu menawarkan untuk diganti dengan sari ketan beras, yang saya juga ga tahu statusnya apa masih bentuk fermentasi biasa atau bukan, tapi adalah ketidakjujuran penjual itu menjadi poin yang jelek di mata saya. Seandainya saya ga tahu, pasti mereka tetap memberi Ang Ciu ke dalam campuran seafoodnya. Ini pernah saya alami.

Biasanya saya klo makan seafood (itu pun sejak saya aware klo rata-rata penjual seafood memakai Ang Ciu) bilang dulu, ga usah pake Ang Ciu dan sejenisnya. Dan mereka menurut. Tapi pernah juga saya lupa, lalu saya tinggal sebentar pergi ke tempat lain sambil penjual memasak seafoodnya. Setelah selesai saya lalu tanya apakah tadi pake Ang Cui. Ternyata mereka tetap memakainya. Ya sudah, saya bilang ke mereka itu ga boleh alias haram (mana labelnya halal lagi…), lalu seafood yang sudah terlanjur saya pesan itu saya bayar dan bungkus, namun di tengah jalan pulang saya masukkan ke tong sampah, siapa tahu ada kucing garong yang kelaparan mencari makan di tengah malam. Rugi 30-ribuan ya ga papa, yang penting jangan sampai perut saya dan keluarga saya kemasukan makanan haram yang akhirnya tidak berkah dan menghambat terkabulnya doa saya kepada Allah.

Pic dari sini

Diposkan pada curhat, livinginjogja

Hari lelah nan menyenangkan…


Berbeda dengan hari kemarin, full seharian di rumah, menjaga Nadifa yang sedang sakit. Hari ini saya merasa sangat lelah, namun sungguh menyenangkan hari ini. Pagi-pagi jam 06, sudah rapat di RS dengan para pengurus yayasan yang sudah pada sepuh itu :-). Maklum direktur saya sedang umroh, jadi saya didaulat secara dadakan oleh rekan untuk mewakili beliau. Dasar saya yang sedang menyimpan banyak hal untuk disampaikan, maka, tadi pagi saya “muntahkan” itu semua dalam forum yang sangat berharga itu.

Habis rapat selama 2 jam, saya mengisi mentoring karyawan di masjid. Secara saya ga persiapan malamnya dan judul materinya juga baru saja di-sms sama sekretaris saat rapat tadi, akhirnya ya begitu deh, isinya pengajian plus guyon, hahaha, apalagi pesertanya ibu-ibu, dari yang muda sampai yang sudah rada berumur.

Habis mentoring, saya rapat direksi dengan rekan sesama wadir mengenai hasil rapat pengurus. Sebelum rapat dengan rekan tersebut ada telpon dari salah satu dedengkot pengurus, Ustadz Sunardi Syahuri. Beliau mengajak ke PemKab untuk ketemu Pjs. Sekda. Bapak Sunartono, mantan Ka.Din.Kes Sleman, untuk nembusin alias ngelobi kerjasama dengan suatu institusi asuransi yang rada mbulet urusannya. Syukurlah bisa lancar, meski sempat rada alot 🙂

Habis dari PemKab, Pak Nardi ngajak makan di Sate Goreng Kronggahan yang terkenal dan murah itu. Sudah lama ga ke sana. Pak Nardi sendiri pun sampai lupa posisi pasti warung sate itu. Alhamdulillah, perut kenyang setelah pagi tadi cuma sarapan energen di rumah, bubur sumsum saat rapat pengurus, dan nasi kucing porsi agak jumbo sebelum rapat direksi. Makasih Pak Nardi, ga menolak klo lain kali ditraktir lagi, hahaha….

Habis makan, saya minta di-drop di GMC, tempat kerja saya yang kedua, sedang motor masih saya titipkan di rumah Pak Nardi, yang rencananya saya ambil setelah pulang dari praktik di GMC. Mudah-mudahan masih ada Trans Jogja ke arah balai kota sana.

* Ngempi di sela-sela praktik dengan mata yang merah, habis ini mungkin balas dendam tidur, klo ga keburu ada “urusan” dengan istri :-b

Diposkan pada curhat

Kecopetan…


Rabu, 2 Pebruari siang aku kecopetan. Ya, aku kira begitu…kecopetan, bukan karena dompetku yang kececeran karena kecerobohanku. Karena aku sadar dompet bututku itu pasti mengeluarkan sinyal berisik bila dia terjatuh, karena isinya campur aduk dan ga tertata rapi, ada kunci rumah, ada duit koin, ada duit kertas sekitar 170 ribuan, lembar-lembar ga jelas seperti struk belanja, slip ATM, slip pembayaran lain-lain, kartu ATM, kartu namaku, beberapa kartu nama lain, kartu registrasi anggota dokter, STNK, dan 2 batang tusuk gigi.

Kejadiannya saat mengantri panggilan foto untuk pembuatan e-KTP di kantor kecamatan tempat tinggalku. Aku menyadari dompet yang sudah lebih dari 7 tahun menemaniku itu raib dari sakuku sewaktu akan membayar uang parkir. Ternyata sudah ga ada. Lalu balik ke ke ruangan tempat mengantri. Dan tanya-tanya sama warga di situ yang sebagian besar masih satu RT denganku. Ga ada juga. Akhirnya Pak Dukuh berinisiatif mengumumkan pake pengeras suara. Aduh, jadi malu juga, orang pada tahu…

Aku sebenarnya ga begitu panik, meski pun ini nominal yang paling besar aku kehilangan. Yang cukup merepotkan adalah ketika harus memblokir berbagai jenis kartu ATM yang ada. Mana pas ada ATM-nya istri lagi. Syukur kartu kredit dan KTP-nya ga lagi di dompet itu. Yang penting lagi juga ada STNK.

Dua hari kemudian, ketika aku telepon ke RS, ada kabar dompetku ditemukan oleh seseorang. Kebetulan HP-ku mati 2 hari itu. Jadi ga bisa dihubungi sama orang yang menemukan. Syukurlah akhirnya bisa ketemu. Meski uang kertasnya raib semua. Alhamdulillah beberapa hari kemudian banyak sekali rezeki dadakan sebagai pengganti uang yang hilang itu… Dan beberapa hari yang lalu istriku membelikan aku dompet baru. 🙂

Diposkan pada curhat, kontemplasi, livinginjogja, pernik

Penting bagi saya: alasan malas ngempi


Tulisan ini menyambung QN saya sebelumnya, mengapa saya mulai kehilangan hasrat ngempi, bahkan hanya untuk sekedar posting comment, jadi mohon maaf klo yang muncul cuma HS saya :-b

Pertama. Saya akui, memang saya punya kebiasaan sangat jelek, super autis (bukan istilah yang tepat memang). Saya ga bisa lepas dari laptop atau komputer. Di kantor selalu berhadapan dengan komputer, bukan apa-apa sih, ya sekedar buat ngempi dan membaca posting teman-teman. Meski kadang saya berusaha untuk multitasking sebagaimana beberapa yang orang lakukan, mata ke monitor, sambil ngempi, baca berita, buat catatan rapat, buka milis, dan sebagainya, sedang telinga berusaha mendengar. Saya sadari kadang saya hilang konsentrasi dan menggangu konsentrasi teman-teman dunia nyata, hehe… Jangan dikata klo rapat, meskipun saya memimpin rapat, laptop jarang sekali ga saya buka. Peduli amat, daripada ngantuk karena habis jaga malam, ngempi jadi “kopi” pengusir kantuk bagi saya. Nah, sejak jadi orang nomor 2 di tempat kerja primer saya, saya khawatir kebiasaan jelek saya itu menjadi contoh buruk bagi teman dan anak buah. Meski saya sebenarnya sudah lama menjalankan kebiasaan buruk itu.

Kedua. Sebagian besar tebakan teman-teman MPer benar! saya dan keluarga sudah bersatu lagi, alhamdulillahalhamdulillah… 🙂 Memang ini yang paling membahagiakan saya. 2 tahun sudah terpisah di antara 2 tempat, Jogja dan Jakarta, bahkan setahun terakhir terpisah antara 3 tempat, Jogja, Gombong, Jakarta. Sejak hari Ahad kemarin istri dan anak kedua saya sudah mendarat di Jogja, sementara saya masih di Jakarta mengawal evakuasi barang-barang istri yang dititipkan ke rumah mertua di Gombong, karena memang ga muat klo harus ditaruh langsung ke rumah di Jogja. Barangnya sudah 1/2 truk. Saya sempat menilik anak pertama saya, Ifa, saat Senin dini hari sampai di Gombong, namun sorenya harus cabut ke Jogja karena saya membawa logistik berupa baju-baju istri dan anak saya yang kedua, Nadifa. Jadi memang Ifa belum bisa ikut ke Jogja, menunggu kami mendapatkan asisten untuk membantu mengasuh anak-anak ketika kami berangkat kerja. Mudah-mudah Ifa bisa segera ke Jogja dalam minggu ini atau minggu depannya.

Entahlah, sampai kapan euforia ini. Saya harus menata ulang semua jadwal saya. Sangat bahagia sekaligus harus sedikit lebih repot karena selama ini sudah terbiasa jomblo temporer, ga pulang 2-3 hari ke rumah pun OK saja, hehe… Untunglah mulai bulan depan saya sudah tidak dapat jatah dinas malam. Itu akan sangat membantu menjaga stamina saya dan memperbanyak waktu kebersamaan saya dengan keluarga, menemani mereka tidur di malam hari. Inilah saat saya masih harus menikmati rasa yang sangat-sangat membahagiakan ini. Yang entah kapan makhluk itu (LDR/LDL) akan merenggutnya lagi, mudah-mudahan tidak!

Pic dari sini

Diposkan pada curhat

Komplain buat Mobile-8/Smartfren


Saya kesal berat sama provider Mobile-8 yang sekarang kolaborasi dengan provider Smart. Padahal saya sudah cukup lama pake produk Mobile-8, kira-kira 1,5 tahun saya menggunakan Fren. Meski sempat juga punya masalah berupa pengiriman iklan-iklan berbayar tidak jelas dari mereka secara otomatis di awal-awal pemakaian. Kekesalan saya berulang 3 bulan lewat ini, setelah membeli paket modem Speedup Smartfren bundling dengan perdana Mobi dengan fasilitas free koneksi broadband 1 gigabyte data selama 6 bulan.

Sebenarnya tidak free juga, karena saya tetap harus mengaktifkan nomornya setiap bulan dengan mengisi pulsa minimal 25 ribu rupiah untuk mendapatkan koneksi gratis selama 1 bulan itu. 2 bulan pertama koneksi baik-baik saja, lancar dan cepat. 3 bulan mulai kelihatan masalahnya.Dan satu bulan terakhir ini koneksi mendadak sering macet. Lancar di satu detik awal koneksi, lalu mendadak diam, halaman hasil browsing tidak bisa loading secara penuh. Padahal tidak terjadi disconnecting karena memang sinyal Mobile-8 penuh. Memang sempat dikatakan waktu saya telpon CS-nya, sedang terjadi pemeliharaan dan pengembangan jaringan internet Mobile-8. Saya diminta melakukan ping test di command prompt Windows. Memang tidak bisa koneksi, beberapa situs memang ada yang bisa. Tapi setelah di coba di browser, sama saja, macet lagi. Sudah dicoba pindah-pindah laptop dan komputer sama saja. dicoba pindah dari EVDO ke 1X, sama saja. Bahkan saya coba di handset, sama saja, putus ditengah jalan.

Selanjutnya saya coba menggunakan nomor Fren saya untuk koneksi. Ternyata, lancar koneksinya. Bukankah jaringan Fren dan Mobi sama saja. Dan CS yang lain juga bilang  ke saya tidak ada masalah dengan nomor Mobi saya. Sampai saat ini belum ada penyelesaian. Saya diminta menunggu sementara masalah saya dikonsultasikan ke tim teknis.

Note:
Saya curiga pihak Mobile-8 sengaja melakukan limitasi koneksi atau bahkan memblok Mobi saya. Bila tidak terselesaikan atau bahkan berulang lagi, saya tidak segan-segan untuk ganti provider, sebagaimana yang pernah saya lakukan kepada provider lain.

Diposkan pada curhat, dokter, livinginjogja

Beruntunglah yang tidak mudik! :-)


Sebenarnya tahun ini aku berencana tetap “mudik”, tapi cuma ke kampung istri yang jaraknya 3 jam perjalanan berkendaraan, itu pun cuma 3 hari, dari lebaran kedua sampai hari Senin. Lebaran pertama aku masih ada jam dinas siang di RS. Meskipun aku salah satu pejabat (hehe…) di RS, ga enak aja klo mau libur seenaknya, karena aslinya juga aku udah banyak libur kok terutama kalau kunjungan rutin ke Jakarta menjenguk anak istri, selain itu dalam rangka monitoring kegiatan pelayanan, karena sering hari libur besar terjadi banyak masalah.

Nah, kapan mudik ke kampungku sendiri di Pekanbaru, Riau sana? wallalahu a’lam, entahlah… sudah 5 tahun aku ga pulang ke kampung halaman sendiri. Sebenarnya itu bukan rekor terlama aku ga pulang ke kampung halaman, semasa kuliah dulu 6 tahun aku ga pulang kampung. Sebenarnya bingung juga mendefinisikan kampung halaman, wong leluhurku keturunan Jogja juga, sehingga malam takbiran dan sholat Idul Fitri aku berencana di pantai Parangtritis/Parangkusumo (kangen berat dengan suasana ini…), ya, itung-itung mungkin itu alasan masih ada dinas di hari pertama lebaran, biar semua dibagi ratalah, mbah putri yang hidup sendiri bisa dikunjungi, mertua bisa dikunjungi. Nah, kapan giliran ortuku di sana? rencananya kami akan mengambil cuti bareng, mungkin dalam waktu 2-3 bulan ke depan, syukur-syukur kalau bisa tepat Idul Adha/lebaran kurban. Secara kami sekeluarga belum pernah bertemu ortuku di Pekanbaru, Riau, selama 5 tahun ini. Beruntung Mama-ku yang sempat menjenguk cucunya saat istri masih mukim di Bogor, itu pun karena “kecelakaan” 🙂

Profesiku sebagai dokter di RS sangat menyulitkan untuk mencari waktu libur yang pas. Sama saja kayak profesi lain yang benar-benar harus jadi tumbal saat liburan besar seperti polisi, perawat, bidan, dan berbagai profesi lain yang harus senantiasa siap walau pun itu waktu liburan bagi orang pada umumnya. Hahaha, kapan ya aku pensiun jadi dokter… :-b

Pic dari sini

Diposkan pada curhat, dokter, salahkaprah

Pernahkan anda bekerja full melebihi 24 jam…?


Bukan untuk menyombongkan diri, tapi beginilah keadaanku sekarang, dan sebenarnya lebih banyak yang lebih parah dari aku. Hari ini dari kemarin saja, aku kerja sekitar 30 jam. Dan tidak sekali itu saja, setiap minggunya hampir selalu kena hal demikian, bukan lembur, tapi memang masih jam kerja. Padahal aku hanya memanfaatkan fasilitas 2 tempat kerja saja dari 3 tempat kerja yang diperbolehkan bagi seorang dokter. Pindah dari satu tempat kerja, ke tempat kerja yang lain.

Aku sih masih muda masih kuat, tetapi yang luar biasa ada temanku sekantor, udah kepala 4 lebih, masih kuat aja wara-wiri di tiga tempat praktik. Bahkan ada adik kelasku yang sampai melanggar sampai 5 tempat praktik. Ya, tapi itu, kalau seminar selalu ketiduran 😀

Kami sebenarnya tidak mau seperti itu tapi banyak hal yang menuntut para dokter seperti gila kerja. Karena kebutuhan material, karena kebutuhan permintaan pelayanan yang tidak bisa ditolak karena memang suatu tempat membutuhkan dokter, dan mungkin yang masih muda butuh kejar setoran buat biaya nikah, hehehe…

Aku sadar sebenarnya ini tidak “sehat”, dokter akan tidak waspada, contohnya seorang dokter bedah di tempatku, sudah 2 kali kecelakaan dengan mobilnya saat menyetir sendiri, karena kantuk yang luar biasa. Bahkan kecelakaannya yang paling parah membuat cacat wajah dan penglihatannya. Namun Allah masih memberikan kesempatan beliau untuk berbakti dan melayani. Sekarang beliau tidak pernah menyetir sendiri, pasti minta dijemput atau diantar dari rumahnya…

Seperti banyak hal yang ditulis tentang pandangan miring terhadap profesi dokter, sebenarnya banyak kisah-kisah heroik individual dokter yang tidak terekspos. Mulai dari kerasnya kondisi alam yang terpencil, bahaya dari berbagai kerusuhan etnis, sampai pada bahaya perang seperti yang dialami kakak kelasku waktu ikut jadi relawan di Kapal Mavi Marmara, kepunyaan Turki.

Aku sendiri juga berpengalaman dari berbagai keikutsertaan sebagai relawan bencana, jadi lumayan bisa merasakan kerasnya pengabdian profesi dokter. Kami berharap saja semua pihak memandang secara berimbang tentang profesi ini karena banyak hal yang melatarbelakangi mengapa terjadi hal-hal yang sebenarnya tidak seharusnya terjadi.

Seandainya penghasilan dokter itu layak, maka dokter-dokter dari instansi pemerintah tidak perlu mangkir dalam jam kerjanya dan nyambi di banyak tempat. Seandainya harga obat itu murah, maka dokter tidak akan banyak yang terjerumus dalam kolusi dengan pabrikan farmasi. Seandainya pendidikan dokter itu terjangkau maka akan lebih banyak melahirkan dokter yang tidak matre. Seandainya masyarakat bisa berpikir jernih, maka dokter-dokter tidak akan terbeban dengan stigma-stigma tertentu.

Sekedar curhat saja… 🙂

Diposkan pada curhat, selingkuh

Bagaimana bila anda dibilang lebih muda 6 tahun?


Bagi aku, sering kali ini menyebalkan. Iya, sampai-sampai karena dikira masih bau kencur, pernah dikomplain sampai masuk koran, karena dikira masih calon dokter alias koas. Waktu dulu di awal nikah pun teman-teman istriku pun ga yakin lihat diriku, dipikirnya aku masih anak kecil gitu, apalagi waktu itu masih kurus banget…

Engga di RS atau di klinik, pasien seringkali susah untuk percaya bahwa aku sudah dokter yang lumayan makan asam garamlah, hehehe…menyebalkan! Seorang ibu pasien pernah nyeletuk di pagi buta, saat aku belum mandi dan muka masih awut-awutan, masih dalam jam dinas malamnya di RS: “weh, dokternya masih muda!!” (dengan wajah aneh dan ga percaya). Tersenyum kecut lagi akunya….

Kalau sudah pasien rutin atau sudah keluar petatah-petitihku, maka mereka segera menyadari bahwa aku sudah cukup umurlah, hahaha….

Terakhir baru saja kemarin, pas ujian proposal tesis, pengujiku sampai menanyakan: “Saudara Widodo, atau Bapak Widodo? Dipanggil saudara atau bapak? Sudah nikah atau belum?” Dengan senyum agak kecut aku bilang: “udah bapak-bapak”, lirih aku berkata: “sudah punya anak 2 juga, Pak…”

Untungnya aku ga punya bakat kuat untuk selingkuh (apa dikit gitu? hahaha), sehingga kalau ada cewek-cewek atau pasien iseng yang agak genit atau terpesona lihat aku, ngajak pacaran, ya buru-buru aku bilang: “Saya sudah nikah loh, udah punya anak juga…” Enak aja masih dikira brondong, emang jagung?!

Saat berhadapan dengan birokrat, juga, ini yang paling menyebalkan juga, lebih dianggap remeh lagi, tapi lagi-lagi baru mereka menyadari kalau aku sudah bicara dan menunjukkan identitas…hahaha….

Karena hal-hal di atas, istriku awal-awal nikah dulu, getol banget masak dan ngajak aku makan yang enak-enak, akibatnya bobot naik luar biasa, 17 kg, ya ga gemuk sih sebenarnya cuma rada berbobot aja, hehehe… Untung sekarang udah turun 3 kg, harusnya masih 5 kg lagi sih biar lebih enteng tapi tetap berisi….

Pokoknya terus terang banyak ga enaknya bagi diriku sekarang kalau dianggap masih muka mahasiswa gitulah (sebenarnya ya masih mahasiswa sih, hehe…), maksudnya jangan dianggap masih remaja, gitulah, aku ini sudah dewasa loh, baru saja lewat kepala 3. So, percayalah kalau aku ngomong,, itu harus diperhatikan, hahaha….

Kalian ga percaya juga?? OK-lah…ini ada “testimoni” langsung dari pasienku (aku tahu ini pasienku setelah aku lacak rekam medisnya, hehehe…)

“Bergegaslah aku menuju ke ruang periksa 1, masuk, dan ternyata dokter yang akan menanganiku adalah dokter cowok, aku ga begitu memperhatikan namanya, namun aku taksir, dokter ini berumur 25an, masih muda, ditemani komputer di bawah meja kerjanya…”

Selengkapnya baca di: http://vidiholic.blogspot.com/2010/04/pengalamanku-dengan-gmc-health-center.html

Menyebalkan bukan?!