agama, curhat, makanan, syariah

Saya ga mau makan seafood lagi!


Ini akumulasi kekesalan saya pada para penjual makanan seafood. Beberapa hari lalu istri saya kebelet mau makan seafood. Saya pun setuju dan sudah lama tidak makan makanan favorit saya itu. Apalagi kata istri, ada warung seafood baru di dekat hotel Hyatt, so, berangkatlah kami ke warung tersebut. Sampai di sana saya lihat botol-botol yang ada di samping gerobak pembuatan seafood tersebut. Ternyata ada sederetan tulisan cina pada label botol-botol seperti botol kecap itu. tulisan lain yang kebaca klo ga salah “Sari Ketan Beras”. Sehapal saya botol yang ada tulisan cina itu biasanya ada tulisan “Ang Ciu” yang artinya arak merah.

Ga pake nanya, saya langsung mau cabut dari situ. Istri malah mendatangi penjualnya yang berjilbab setelah juga melihat botol-botol itu dan bertanya: “Pake Ang Ciu?”. Lalu dijawab dengan jawaban diplomatis, “klo ga mau pake juga ga apa-apa…”

Dari jauh saya juga udah lihat klo ada label arab bertuliskan halal pada spanduk yang ada di warung itu. Di depan gerobaknya sekilas saya lihat juga ditempeli papan berukir dan bertulis huruf arab, tidak saya perhatikan itu tulisannya apa.

Akhirnya istri dengan berat hati ikut meninggalkan warung itu, lalu sambil nyetir motor saya jelaskan klo Ang Ciu itu kan haram. Bukan masalah penjual seafood itu menawarkan untuk diganti dengan sari ketan beras, yang saya juga ga tahu statusnya apa masih bentuk fermentasi biasa atau bukan, tapi adalah ketidakjujuran penjual itu menjadi poin yang jelek di mata saya. Seandainya saya ga tahu, pasti mereka tetap memberi Ang Ciu ke dalam campuran seafoodnya. Ini pernah saya alami.

Biasanya saya klo makan seafood (itu pun sejak saya aware klo rata-rata penjual seafood memakai Ang Ciu) bilang dulu, ga usah pake Ang Ciu dan sejenisnya. Dan mereka menurut. Tapi pernah juga saya lupa, lalu saya tinggal sebentar pergi ke tempat lain sambil penjual memasak seafoodnya. Setelah selesai saya lalu tanya apakah tadi pake Ang Cui. Ternyata mereka tetap memakainya. Ya sudah, saya bilang ke mereka itu ga boleh alias haram (mana labelnya halal lagi…), lalu seafood yang sudah terlanjur saya pesan itu saya bayar dan bungkus, namun di tengah jalan pulang saya masukkan ke tong sampah, siapa tahu ada kucing garong yang kelaparan mencari makan di tengah malam. Rugi 30-ribuan ya ga papa, yang penting jangan sampai perut saya dan keluarga saya kemasukan makanan haram yang akhirnya tidak berkah dan menghambat terkabulnya doa saya kepada Allah.

Pic dari sini

Iklan

76 tanggapan untuk “Saya ga mau makan seafood lagi!”

  1. Pelajaran yang menarik, mas Wid.
    Saya malah tidak memperhatikan botol kemasan kecapnya pake apa. Nanti saya coba untuk lebih berhati-hati lagi, siapa tahu di Batam trend-nya juga sama, mengingat produk2 Cina sudah membabi buta menghujani pasar.

  2. seafood itu enaknya cuman di rebus aja gak usah pakai bumbu2, nanti makannya pakai parutan nenas, sambal dan kecap + kacang goreng yg sudah di uleg itu. asal seafood nya segar pasti enak kok. *lebih suka makan seafood tanpa bumbu*

  3. kalau ke warung seafood pesennya kerang dara rebus dan udang goreng tepung, masih aman gak ya ?
    tapi jarang2 juga siy makan seafood karena mahal …huehehehehe
    paling sering beli pecel lelenya aja :))

  4. klo ke resto cina asli saya belum pernah, biasanya yang ke orang cina baru pernah nyoba mie ayam. pokoknya yang penting ada halalnya dan saya ga lihat ada sesuatu yang haram, ya sikat aja πŸ™‚

  5. saya juga ga tahu persis Mas, bisa browse aja di internet… saya menemukan beberapa (dan tidak bisa digeneralisir): tumis-san seperti cah kangkung.

    hahaha, sulit kan, apalagi klo kita harus tanya-tanya seperti ini:
    ———————————————————————————–
    Setelah menemukan angciu di warung2 tenda yang menjual seafood dan kangkung,
    sekarang saya jadi was was kalau makan di resto tradisional. Biasanya saya
    mengajukan paket pertanyaan yang standar dan sejauh ini cukup manjur:)

    Pertanyaan pertama saya: “ada/tidaknya menu babi?” Jawaban: tidak ada. Berarti bisa lanjut ke pertanyaan kedua

    Pertanyaan kedua:
    “menu apa saja yang pakai angciu?”
    biasanya saya menambahkan dengan kalimat:
    “saya alergi dengan angciu (ya sebagai muslim kita harus alergi bukan dengan angciu?), kalau sampai termakan oleh saya dan saya kenapa2 nanti bisa repot lho Pak”
    Tambahan kalimat ini perlu saya ucapkan karena terkadang penggunaan ang ciu ini sering disembunyikan. Sejauh ini, jika saya mengucapkan “ancaman” ini mereka jujur, mungkin khawatir saya kenapa2 dan mereka harus nanggung biaya RS nya.
    Jawaban dari resto sambara cukup mengagetkan saya karena banyak sekali menu mereka yang menggunakan angciu.

    Pertanyaan ketiga:
    “untuk yang tidak memakai angciu, minyak apa yang digunakan? “
    untuk pertanyaan ini, biasanya saya minta bukti dan langsung ke dapurnya untuk melihat langsung. seperti yang tadi, saya juga menambahkn pertanyaan dengan info berikut:
    “saya gak bisa makan sembarang minyak lho Pak, nanti bisa bahaya” (bahaya buat saya di akherat nanti)

    untuk di Sambara, hampir semuanya memakai angciu dan kalaupun tidak mereka menggunakan minyak yang berasal dari tumbuhan..(lupa namanya). saya ragu dengan minyak tumbuhan yang mereka gunakan karena minyak tersebut mereka impor langsung dari Cina dan saat saya ingin melihat kemasan minyak tersebut mereka tidak bersedia memberi tahu.

    akhirnya saya makan cumi bumbu kunyit yang tidak pakai minyak apa2, perkedel jagung yang pakai minyak goreng kemasan dan nasi merah. tumisan sayur dan menu lainnya tidak berani saya makan
    ———————————————————————————–

    klo patokan saya gampang saja:
    selama saya tahu itu ada label halal, terutama makanan hewani, dan secara pandangan sekilas tidak ada barang haram, ya sikat saja. Agama kita mudah dan tidak mempersulit….

  6. Rasanya saya kalo nemu satu tempat makan pakai Ang Ciu langsung mundur tidak tanya-tanya atau mesan tanpa Ang Ciu. Karena bisa terkena 'kontaminasi silang' (Dapat istilah ini dari MasterChef Indonesia), karena alat masaknya bisa saja sudah dipakai untuk masak masakan Ang Ciu tanpa di bersihkan dahulu.

    Terkadang saya sering lihat botol-botol bertulisan merek Cina tanpa mengetahui itu arak atau cuka atau kecap asin…. Thank Infonya.

  7. situ kan udah bayar, tapi kenapa sampeyan g ngotot minta ganti aja, suruh
    penjual masak lg tanpa ang ciu, jd
    seafoodnya g usah dibuang di tong
    sampah gitu pak (Β¬_Β¬)

  8. o, kerang itu saya maniak! menurut saya aman Mba, saya juga suka itu… πŸ™‚ biasanya yang pake Ang Ciu yang berkuah kental/saos gitu seperti udang, cumi, kangkung…

    tapi apa dikata, kerang memang banyak terkontaminasi logam berat (merkuri)… hiks…

  9. wah dari dulu ga merhatiin tuh, untung jarang bgt makan seafood…
    cuma kalau makan mie ayam, ada botol minyak biru-kuning tulisan kanji…
    itu ang ciu juga gak?
    dulu kl ada botolminyak itu aku minta gak pake…. walau efeknya agak hambar…

  10. maksudnya, bukan semua seafoood dipukul rata. karena toh, kita bisa beli seafood di pasar, lalu memasaknya sendiri.

    untuk makan makanan hasil masakan pihak lain, memang kita harus ekstra hati-hati.

  11. Bukan cuma seafood mas, tapi warung mi goreng. Bukan mi jawa, tapi mi biasa. Saya pernah mengalaminya. Yang jual pake kerudung. Waktu saya tanya, jawabannya “biasanya gak papa”. Ya udah aku tinggal pergi. gak jadi beli disana.

  12. di jogja ada teman yg langganan tongseng rw / 11 selama kuliah 5 thn-an, kelar kuliah balik yogya kangen tongseng langganan tersebut, tp saat masuk warung di “usir” krn itu warung wedhus balap, teman heran, saat tanya lebih detail dijelaskan sama tukang parkir klo itu tongseng asu.. seketika sang teman muntah2..

    saat langganan jaman kuliah tidak berjilbab, tp saat kembali mau nostalgia sudah berjilbab.

  13. iya di Jogja banyak yang begituan: tongseng kambing balap atau tongseng jamu.

    balik lagi, selama tidak tahu ya ga apa-apa, yang berdasa adalah penjualnya, tidak transparan. Saya menghargai warung/restoran yang transparan seperti di Jl. Gejayan ada restoran mencantumkan dengan jelas khusus restoran babi. Jadi orang tahu dan tidak tertipu.

    Lumayan tuh, fungsi jilbab jadi keliatan, melindungi diri dari terkontaminasi makanan haram. Saya juga pernah diceritakan seorang ustadz yang ketika makan di sekitar Malioboro, ketika dia mau makan sama penjualnya dibilangin, jangan makan di sini karena isinya menu asu. Pada waktu itu beliau beratribut peci dan memang berjenggot.

  14. JFS, pak. Sy baru tamat membaca “diskusi per angciu an” di sini. Semenjak mengetahui hal tsb memang saya jadi tidak percaya lagi dengan logo halal made in dhewe. Mesti tanya langsung ke koki dan melongok dapurnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s