Diposkan pada curhat, livinginjogja, salahkaprah

PNS lebih OK?


“Wah, bayi swasta nih, ya… ooo, moga besok anak kedua ya…” (maksudnya: klo udah anak kedua aku sudah kerja di instansi negeri), celetuk seorang bidan puskesmas yang menerima anakku untuk diimunisasi. Itu setelah aku bilang, aku kerjanya di RS swasta. Sebuah “guyonan” yang menjengkelkan!! Tapi kupikir untuk apa melayani hal “kecil” itu, biarin aja…

Istriku aja ga lebih kurang lagi jengkelnya dari aku. “Wah, anak swasta nih ye…” diulanginya kata tersebut ke Ifa, anak kami.

Ga begitu ngerti aku, apa sih maksud si bidan ngomong begitu. Apa ini karena pas musim CPNS? 🙂 sehingga bidannya punya kesan tersendiri terhadap PNS? entahlah…

Klo yang aku pikirkan sih, mungkin bidan itu mengira swasta itu ga elit, ga dapat tunjangan kesehatan anak, sehingga sampai imunisasi anak aja ke puskesmas, padahal kan di mana-mana yang namanya imunisasi dasar itu gratis. Bahkan klo mau sih tinggal aku suntik sendiri aja si Ifa (seperti yang aku lakukan waktu imunisasi HiB pertama). Sama istri sudah dijelaskan pengennya imunisasi di tempat yang dekat aja dari rumah.
Klo perkiraanku benar, bidan itu salah besar. Justru kerja di swasta itu jauh lebih enak, kerja lebih semangat, gaji jelas lebih besar, tunjangan kesehatan keluarga dan hari tua? alhamdulillah di tempatku bekerja menjamin itu semua.

Istriku nanggapi juga: “Ya, memang gitu pendapat masyarakat awam…”
Ah, udahlah…malas membahas lebih lanjut. Yang penting akunya memang dari dulu ga berminat jadi “antek” pemerintah kok… 🙂

Diposkan pada dokter, livinginjogja, pernik

Aku lebaran di rumahsakit…


Menjelang lebaran fitri besok, aku belum dapat segera menunaikan hasrat sebagai bangsa Indonesia baik, apalagi kalo bukan yang namanya mudik. Masih ada jadwal dinas di rumahsakit-ku, walaupun di tempat praktik lain udah libur, tapi rumahsakit belum libur sih. Untung aja istri dan anak udah mudik duluan, jadi ga masalah jadwal dinasku dipadatin sampai hari lebaran +3, so insya Allah baru bisa mudik hari Jumat sore, itupun cuma ke tempat mertua di Kuwarasan, Kebumen, secara cuma dapat libur 2 hari, karena Senin, tanggal 6 sudah harus dinas lagi. Ya, ga apa-apalah menurutku, namanya juga profesi penuh pengorbanan 🙂 mesti ada enaknya ada engganya. Apalagi di rumahsakit ini karirku masih baru, jadi perlu sedikit semacam “prestasi” kerja agar lebih cepat mengungkit status, hahaha…

O, iya, karena udah malam lebaran nih, aku mau ngucapin Selamat menyambut Idul Fitri, semoga amal perbuatan kita diterima Allah, amiin, maafin juga ya semua kesalahanku selama ini, semoga ke depannya bisa lebih baik…. Bagi yang sudah mudik, ingat-ingat oleh-olehnya ya, bagi yang sedang di jalan yang mau mudik, hati-hati aja ya…. Bagi yang ga mudik, santai aja lagi… 🙂

Diposkan pada dokter, jogja under cover, livinginjogja, penyakit

Jogja Undercover versiku, bagian II: Apakah harus EGP?


Kasus freesex di kalangan oknum mahasiswa/mahasiswi memang tidak diragukan lagi kebenarannya. Mudah saja aku menemukan kasus ini di tempat praktikku. Kemarin baru saja nemu kasus lagi, mahasiswa yang mengeluh BAK (buang air kecil alias pipis)-nya sakit, terasa panas, dan keluar lendir putih.

Aku sih ga sempat lihat medical history (catatan medis) si mahasiswa ini secara masih banyak antrian pasien. So, aku beri aja rujukan ke laboratorium buat periksa air seninya. Kunjungan berikutnya ternyata si mahasiswa diterima rekan sejawatku, aku baca status periksanya…eh, ternyata ada riwayat sexual contact dengan pacarnya. Na’udzubillah mindzalik.

Menurutku, si mahasiswa tersebut berbohong. Simpelnya begini (berdasarkan pengalaman belajar selama ini sih…), kalau orang hanya setia dengan satu partner/mitra seks sangat kecil kemungkinan dia mendapatkan berbagai penyakit kelamin yang menjijikkan tersebut, apalagi ini ternyata kasusnya berulang, alias si mahasiswa bolak-balik ke tempat praktikku karena kasus yang mirip. Atau mungkin pacarnya banyak kaleee ya…What a fool guy!

Terus aku ngobrol dengan rekan sejawat lain tentang kasus ini. “EGP lah (masa bodoh ah),…” gitu komentar beliau. Ya, aku paham, mungkin rekanku ini udah “jeleh” alias muak nemu kasus seperti ini. Mungkin juga dia sudah beri nasihat. Tapi kalau berulang terus siapa yang ga muak kan??

Cuma, kan aku kasihan juga, begitu bodohnya si mahasiswa ini, apa dia tidak sadar sedang gambling (berjudi) dengan virus mematikan, si HIV?! Apa dia ga tau masa inkubasi (masa tunas virus sampai terlihatnya gejala pertama) cukup lama bagi si penyebar maut?!  Sehingga bisa saja dia sudah terkena HIV?! Coba deh, ntar kalau aku ketemu si mahaiswa ini lagi, aku coba “takut-takutin” dikit Ya, minimal aku suruh tes HIV lah… atau disuruh nikah begitu…hehehe… 

——————————————-
Keterangan gambar:
Maaf, klo rada gimana githu, gambarnya…
Itu kasus AIDS dengan oral candidiasis (infeksi jamur di rongga mulut)

Sumber dari sini

Diposkan pada hobby, livinginjogja

SAKAW – Kangen ama MP!!


Udah sebulan lebih (sejak 18 Oktober) ga posting dan ga blog walking di MP….hhhhhhhh….kangen berat (sebenarnya) . Bukan apa-apa sih..hanya sekedar mau rileks dan melepaskan sejenak perilaku internet abuse-ku (dalam artian positif loh…).

Sementara ini lebih sering diarahkan untuk melototin jurnal-jurnal ilmiah . Yah, apa mau dikata…memang  yang namanya withdrawal syndrome untuk per-internetan apalagi per-blogging-an, apalageeh per-MP-an  ternyata ga jauh beda kalo kita melakukan drugs abuse (mungkin kali yah…habis belum pernah nyoba…hahaha). Menghentikan secara mendadak hanya akan mengakibatkan efek yang lebih buruk, alih-alih mau tobat, malah makin terjerumus hahaha….maka dengan itu, aku berusahalah demi masa depan yang lebih baik, ceileee.. berupaya dikit demi sedikit mengurangi konsumsi aktifitas nge-net… yah kalo ga bisa-bisa amat, paling aku cobalah untuk substitusi, seperti halnya kalo meng-konsumsi heroin disubstitusi dengan metadon.

Mumpung lagi sakaw gini, jadilah harus posting-posting yang ga penting (yang penting sakaw terobati..hahaha…)

Rencana ke depan mau posting foto-foto lawas dan foto-foto jepretan hp jelekku. Pengen juga ntar posting cerita tentang seputar cerita-cerita kehamilan istri serta melanjutkan tulisan tengang Jogja Under Cover Versi-ku. O, iya, ada juga beberapa PR jurnal pesanan teman-teman yang juga harus diposting…sabar yah… Ah, apa lagi yah, ya nanti aja kalo sedang terpikir dan sakaw-nya kambuh lagi…


Note: karena lagi nge-tren artis kita yang ketangkep karena narkoba, so jadi ikut-ikutan juga nih…hanya sebuah analogi 

Pic di-link dari http://www.techtoons.com/images/programmer.gif

Diposkan pada livinginjogja

Menjadi orang merdeka di Jogja



Menjelang peringatan kemerdekaan RI ke-62, aku teringat kembali saat menjadi panitia kampung setahun lalu di salah satu dusun di Maguwoharjo, Sleman. Begitu banyak kegiatan untuk menyambut hari bersejarah tersebut, ada kerja bakti, jalan santai, lomba anak-anak, dan acara puncaknya sendiri. Sayang sekali tahun ini belum sempat ikut meramaikan lagi di kampung baruku, maklum kemarin sempat lama absen sehingga tidak tahu perkembangan lingkungan.

Kalau sudah begini, terasa ada kekurangan secara kehidupan bersosialiasasi membutuhkan hal-hal seperti ini. Dan Jogja itu salah satu tempat di Indonesia yang mampu memberikan miliu (lingkungan) baik untuk belajar bermasyarakat. Minat “urbanis” untuk hijrah ke kota gudeg sejauh yang aku tahu, memberikan alasan demikian, selain sebagai wilayah yang sangat nyaman tentunya 😀

Menjadi orang merdeka di Jogja sangat memungkinkan, dalam artian tidak terkungkung dengan ego individulis sebagaimana di banyak kota besar lain. Yah, aku lebih suka mengatakan makna merdeka itu sebagai orang yang tidak kuper, peduli dengan sekitar, komunikasi yang lancar, dan baik dengan tetangga, hehehe…

Merdeka dalam artian bebas mengekspresikan ego kita seluas-luasnya tanpa mengindahkan peraturan, menurutku, secara tak sadar telah menjadikan kita justru terkungkung oleh batas ego kita. Berapa banyak orang yang sakit (terutama sakit psikis, bahkan tak jarang merembet ke penyakit fisik) secara memaknai kemerdekaan “sa’penak’e dewe” (semau gue).

Kalau anda datang ke Jogja, di titik manapun anda berhenti, insyaallah kesempatan untuk menjadi orang yang merdeka terbuka lebar 😀

Pic dari sini

Diposkan pada livinginjogja

Melestarikan becak…haruskah??



Becak!!
Dua suku kata ini melekat amat dalam di memoriku. Bukan apa-apa, melainkan transportas ajaib itu juga sempat mengisi relung hati terdalamku, :-b

Waktu kecilku di Kota Bengkalis (kota yang sekarang katanya termasuk salah satu kota kaya dan tercepat perkembangannya), sering banget menggunakan becak. Yah, becak di sana memang beda dikit dengan becak di Jogja. Kalo di Jogja kan supirnya ada di belakang penumpang, nah kalau di sana supirnya ada di samping. Klo supir di depan? mungkin cuma di Cina kali yaa, tapi itu seprtinya bukan jenis becak karena tidak dikayuh dengan kaki, tapi ditarik langsung oleh supirnya (secara aku sering lihat film Jet Lee..hehehe).

Cuma pas dah dewasa gini…kok ada rasa iba dan segan yang mendalam ketika harus “terpaksa” menaiki becak….
Iya, kalau terpaksa saja aku naik becak, bukan karena mahal dan lambatnya sih, tapi karena ga tega dengan pak supirnya yang bersimbah peluh dan ngos-ngosan 😦 Apalagi klo di Jogja kan supirnya ada di belakang, jadi seperti gimana gitu….
Pernah aku terpaksa naik becak, karena ga ada transport lain menuju suatu pedalaman, wah…wah…pak supirnya “mesakke” (kasihan). Udah jalanannya ga rata, naik turun, pake becek lagi… 😦 sebagai orang yang masih berperikebecakan :-b tentu aku turun dong, mengiringi tukang becak sampai jalannya mulus, bahkan harus membantu mendorong ketika jalanan mendaki…hehehe

Nah, berbicara pelestarian becak (terinspirasi oleh salah satu tulisan di Harian Kedaulatan Rakyat), ….aku pikir memang harus begitu. Di Jakarta saja ada pelestarian bajaj (yaa, maksudnya perlahan dikonversi menjadi bajaj berbahan bakar gas). Begitu juga seharusnya dengan becak, apalagi kalo ada jaminan kesejahteraan bagi supir becak oleh pemerintah, misalnya supir becak di gaji oleh pemerintah daerah (seperti supir bis trans Jakarta), tentu saja harus ditentukan trayeknya: mencakup batas jarak tempuh dan jurusannya, bobot penumpang, ketentuan tips/bonus, dan rotasi supir dan becaknya. Selain itu kalo becak lebih seragam wujudnya dan lebih “bersih”, misal diciptakan becak dari fiber glass, dengan ban tubeless, plus gear switcher, hehehe…

Ya, pokoknya aku dukunglah pelestaian becak di Jogjkarta ini 😀

Ada yang ingat lagu tentang becak??? (itu loh yang liriknya digubah oleh mahasiswa kalau lagi demonstrasi…)

Klo aku ingatnya: “Abang tukang becak…mari dong kemari…aku mau beli…loh..!!”
pic dari sini

Diposkan pada livinginjogja

Kembali ke Jogja


Akhirnya aku kembali ke Jogja setelah cukup lama berada di seputaran Purwokerto dan Kebumen. Masih terasa kesedihan ditinggal ibu kami yang tercinta…

Istriku pun masih demikian sehingga masih merasa perlu untuk tinggal lebih lama lagi di Gombong, sekaligus menemani bapak yang belum terbiasa sendiri setelah di tinggal ibu. Berbicara tentang kesendirian…persis seperti apa juga yang aku rasakan sekarang ini. Terasa banget kesenyapan di rumah, yang biasanya rame dengan “celotehan” istri.

Memang pas pulang kemarin rumah masih belum sempat diberesin, jadilah aku menghibur diri dengan mencoba “bekerja” membereskan rumah, menyuci piring, pakaian, menyapu (di pesan ngepel sekalian, tapi belum sempat…), wah tumpukan pakaian yang udah dicuci ternyata menggunung…mudah-mudahan bisa menyetrikanya…  Nonton pun terasa garing sendirian. Apalagi makan, seperti tidak berselera. Makanya pas ada adik-adik kelasku main ke rumah, aku belikan lauk-sayur dan masak nasi, jadi kita makan bareng-bareng…lumayanlah sedikit terobati kesepian ini. Sempat juga minta adik kandungku nemani tidur di rumah, tapi dia ga bisa terus-terusan karena harus persiapan buat pendadaran skripsinya besok Selasa, semoga sukses ya No…

Paling terasa itu ketika memasuki jam makan, bingung mau “makan apa”, atau “makan di mana…” . Ya, yang punya ide atau berinisiatif menanyakan “mau makan apa” itu..ya biasanya istriku sih….
———————————
Mau ngerj’ain tesisku…waduh ini lagi apalagi…malesss buangettt…!! Ayo…ayo…mana energimu!!! Ya sedikit menghibur dirilah bisa keluar ke warnet sebentar secara emang sudah lama ga ke warnet!!

OK, deh teman-teman…semoga kalian semua tetap dalam keadaan sehat…aamiin, jaga kesehatan ya, jangat ngebut-ngebutan, hati-hati klo nyeberang yaa…( masih trauma nih…)

pic dari http://www.harbourfrontcentre.com/nws/performances/images/Back_Home.jpg

Diposkan pada livinginjogja, wisata

Mau cari alternatif wisata alam?



Foto selengkapnya bisa dilihat di sini dan di sini

Ya, tempat ini bisa dijadikan alternatif bagi teman-teman yang tertarik dengan wisata hutan dan sungai. Nama lokasinya Wilayah Hutan Bunder Perhutani. Tempat ini dapat dicapai dengan kendaraan apa pun, bahkan pada saat surut sungainya (Kali Oyo) bisa diseberangi dengan mudah. Susunan batuan kali yang apik membuat sensasi tersendiri. Daerah yang berlokasi 2 kilometer dari daerah peristirahatan (rest area) bagi para pemakai jalan di Kabupaten Gunung Kidul (arah Yogyakarta), sebagian besar dikelilingi oleh pohon-pohon kayu putih. Kalau sulit menemukannya, cari saja wilayah Wanagama I (laboratorium alami Fakultas Kehutanan UGM).

Aku sendiri sudah 2 kali “main” ketempat ini, cuma belum sempat aja jalan-jalan terutama ke tempat penangkaran kijangnya. Cuaca di tempat ini bersahabat, tidak dingin, tidak panas sehingga cocok buat kemping/berkemah, apalagi ditunjang dengan keberadaan Kali Oyo yang menambah indahnya tempat ini. Aku kemari karena ada undangan buat mengisi materi tentang kedaruratan (P3K). Moga lain kali bisa langsung nge-track di lokasi deh… 😀

Pokoknya kalo mampir ditempat ini landscapenya ruaarr biasa, so jangan lupa’in bawa kamera ya…

Catatan:
Transportasi, Kalo hanya sekedar mampir, sebaiknya membawa motor/mobil sendiri. Kalo mau kemping atau heking, sebaiknya ya…naik bis dari Terminal Giwangan Yogyakarta, secara tidak ada penitipan parkir di tempat ini.

Diposkan pada livinginjogja

Ulang Tahun Perkawinan


Membaca rumpian ibu-ibu di sini terasa menyesakkan dadaku, karena tadi malam aku dan istri hanya bisa “merayakan” wedding anniversary dalam situasi dan waktu yang tidak pas. Padahal 17 Juli kemarin itu momentum kami memulai bahtera rumah tangga. Harusnya aku mencoba menyisihkan waktu untuknya 1 hari penuh di hari istimewa itu. Secara jauh-jauh hari justru dia yang paling ingat dengan hari bersejarah itu seolah-olah menghitung hari saja…. Yah…, dari pagi aku sibuk berkutat dengan pekerjaan, praktik, dan malamnya ada acara rutin mingguan sampai pukul 23-an.

Yah…. paginya padahal kami sempat ngobrol lama membicarakan (baca: mengevaluasi) perjalanan pernikahan kami, sampai istriku sesenggukan mengenang beberapa hal yang tidak mengenakkan…aku pun sebenarnya sempat berkaca-kaca, tapi ku coba menahan diri sambil menenangkan istriku…

Aku berjanji untuk menemaninya makan di luar, tapiiii…yah…gara-gara sibuk praktik, akhirnya baru jam 20 nyampe rumah, terus langsung cabut nyari warung terdekat… akhirnya diputuskan di salah satu warung bakso kesukaannya. Tapi malah aku memesan siomay untukku… sedang dia tentu saja memesan bakso…

“Mas, masih ingat ga tempat kita “merayakan” ultah nikah kita yang pertama?”
“Mmm…lupaaa, Yang…di mana ya kemarin?” penyakit lupaku kambuh!
“Itu loh, di warung ikan yang di sana….”
“O, iya…, jadi sekarang lebih merana ya?”

“Yang…makasih ya..udah menemaniku selama 2 tahun….”

“Iya, maafin klo banyak salah ya, i love you….” (aku ga punya kata-kata manis selain ini!!! )

Singkat kata, setelah terburu-buru menyantap bakso, siomay, teh, dan kopi susu, akhirnya aku ngajak pulang, keburu di tunggu ama teman-teman….
Maafkan aku Yang….ultah pernikahan kita kali ini kurang greget ya…..

MPers yang terhormat, tolong dong ajarin aku biar bisa lebih bisa bersikap romantis kepada Sayangku…

soriii, klupaan, gambar di sikat dari http://www.hattdesign.com/Letters/Party/wedding%20anniversary.jpg dengan dikit kroping…

Diposkan pada livinginjogja, wisata

Merasakan kembali sejuknya hawa Merapi


Malam minggu kemarin lusa (aduh…, bahasanya…)  aku bareng istri dan teman-teman dapat kesempatan nginap gratis di kawasan wisata Kaliurang. Alhamdulillah…..Bagi teman-teman yang belum pernah ke Kaliurang, ini adalah salah satu tempat wisata dataran tinggi di Jogja, tepatnya di kaki Gunung Merapi. Ini kali kedua, aku main ke Kaliurang, pasca penutupan kawasan wisata Merapi tahun kemarin. Alhamdulillah, ternyata hawanya masih sangat sejuk (yaaa, bolehlah dikatakan sangat dingin…), sehingga pagi harinya aku menahan diri untuk tidak mandi, hehehe…bauuuu….

Kali ini aku sempat main ke kawasan wisata gardu pandang. Tempat ini jadi tempat favorit karena menyediakan sebuah titik terdekat yang nyaman untuk melihat keindahan Merapi, tanpa perlu naik ke “punggungnya”. Kawasan ini dikelilingi oleh taman bunga dan tempat rekreasi keluarga seperti outbond serta arena permainan.

Klo maen ke sini jangan lupa membawa alat dokumentasi ya…

jalan-jalan abis subuh, brrrrr….

simbah yang rajin…

bluur ni pic, ini loh contoh bunker merapi

actiooon!!
subhanallahu…
the best side!

mengenang masa keciiil…!!