kesehatan, livinginjogja, olahraga

Gairahkan hidup dengan olahraga


Pagi ini aku berkesempatan ikut senam aerobik massal di kantor keduaku, GMC Health Center, di Sekip L3, Di Komplek Kampus UGM, Yogyakarta. Senam ini sebenarnya rutin diadakan setiap hari Sabtu pagi pukul 07.00-08.00. Asyik ternyata senamnya, yang ini make irama dan gerakan tango salsa. Wuih, pesertanya sampe meluber ke luar pekarangan kantor.

Habis senam sebenarnya aku pengen langsung ke hall fitness, tapi ternyata udah dibooking oleh cewek-cewek, ya udah aku tunggu aja sampai pukul 9, sambil makan sop ceker dan minum jus mangga di salah warung favoritku di kawasan Sendowo.

Lalu kembali ke ruangan fitness kantor, ternyata udah rame anak-anak cowok di sana, langsung aja aku ambil posisi di Electric Treadmill, buat jalan cepat dan jogging. Bisa dapat 1 kilometer-lah, secara alatnya error terus, mati mendadak, mungkin sering diperkosa ama mereka yang bobotnya kayak karung beras  Selanjutnya ambil posisi di Air Walker, ya, berlari melayang di udara gitu, tapi aku dari dulu belum mahir pake alat ini, kepeleset melulu, ngeri… Habis itu bergeser ke Fly Machine buat membentuk body, lumayan… latihan kaki, lengan, dan dada. OK, terakhir pake Exercise Bike, itu loh, ngayuh sepeda tapi sepedanya ga kemana-mana. Tapi karena ada monitor kita bisa menghitung berapa lama, berapa jarak tempuh, berapa denyut jantung, berapa kecepatan kayuhan pedal, dan berapa kalori telah dihabiskan. Alhamdulillah, dalam waktu 15 menit aku bisa menempuh jarak 10 kilometer dengan gear/gigi nomor 1 (paling enteng tapi cepat), kecepatan kayuhan dipertahankan 90-100 kali per menit atau sekitar 30-40 kilometer per jam, dan yang penting bisa habis membakar kalori 200 lebih dan bermandi keringat.
Lumayan untuk hari ini, aku perkirakan sudah membakar 500 kalori lebih  dan badan terasa segar sekali!

Kalo mau lihat tempat fitnessnya bisa di sini

kesehatan, livinginjogja, olahraga

Usaha membakar lemak



Ini merupakan gerakan isolasi untuk otot dada.
Tujuan latihan: untuk mengembangkan ukuran dan definisi otot dada tengah.
Fly machine bukan merupakan pilihan yang baik untuk mengembangkan masa otot dada, tetapi sangat berguna untuk menciptakan definisi otot dada.

Alhamdulillah bisa (memulai komitmen) berolahraga lagi, meski jenis olahraga yang ini bukan selera utamaku (ga banyak paham tentang fitness, walau dulu pernah ikut 6 bulanan waktu masih mahasiswa). Karena manajemen waktu masih berantakan, yah… apa yang ada dimanfaatin dan dijalani dulu, yang penting usahanya bisa langgeng.

Ceritanya, kemarin sebelum berangkat kerja udah niat mau manfaatin fasilitas fitness di tempat kerja, jadi nyomot kaos seadanya buat ganti. Target tercapai. Selesai sholat isya dan jam kantor tutup pukul 20.00. Minta izin ke security buat menggunakan ruang fitness.

Lumayan bisa menyegarkan badan 1 jam. Gejala flu langsung hilang. Cukuplah untuk awalan, badan jadi segar dan otot rada kencang kembali, perutnya yang masih kendor, hehe… Apalagi sampai rumah mandi air hangat trus minum susu, mmhhh, berharap nyenyak tidur malam… (loh, bentar ya, dipublish dulu nih…)

Mudah-mudah usaha (kembali) untuk olah raga bisa konsisten minimal 3 kali seminggu 1-2 jam setiap kalinya.

jalan jalan, livinginjogja

Kunjungan ke mbahku di Parangtritis


Aku sebenarnya berdarah/keturunan Jogja juga, yaitu dari pihak Bapak, aku masih punya mbah di Pedukuhan Grogol, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul sana. Dua hari yang lalu baru saja dari sana, biasalah kunjungan yang tak rutin, sesempatku saja, menjenguk mbah yang sudah semakin sepuh, 90 tahun, namun masih OK-lah fisiknya, walaupun sekarang untuk kerja berat sudah dilarang oleh anak-anaknya.

Mbah-ku itu sudah lama hidup sendiri di sebuah rumah kuno yang besar, sepi tapi sebenarnya damai :-). Entah mengapa mbah Putriku ini rada mirip kehidupannya dengan nenekku yang di Riau, dari pihak mamaku. Sama-sama, mereka hidup sendiri saja, mandiri dan bersahaja. Jauh dari hingar bingar udara kota.

Semoga mbah selalu sehat selalu dan mendapatkan mendapatkan kedamaian walaupun jauh dari anak-anak dan cucu-cucunya… aamiien yaa rabbal ‘alamiien…

livinginjogja, pernik

Mengungsi ke Jakarta dan hadiah dari Merapi


Kamis sore aku berangkat “mengungsi” ke Jakarta, acara rutin melihat istri dan anak kedua di sana. Eh, sampai di Jakarta ternyata Merapi mengamuk lagi, beritanya aku ketahui dari TV. Jadinya pas nyampe ke Jogja subuh tadi, terlihat pemandangan kota Jogja dan Sleman Utara yang sangat kontras. Sampai rumah, bukannya mandi dulu, tapi memandikan rumah yang sudah terlebih dahulu bermandikan “salju” vulkanik 🙂

curhat, kontemplasi, livinginjogja

Dicurhatin istri jenderal…


Seorang istri jenderal, tetanggaku, yang masih sangat cantik, ternyata dapat membuat diri ini senantiasa bersyukur kalau sebenarnya manusia diberikan berbagai bentuk kelebihan dan kelemahan. Ibu dua anak tersebut sekilas kelihatan sangat bahagia dengan berbagai kondisi kelebihan yang diberikan kepadanya. Sebagai istri mantan pejabat teras di Jogja dan dengan berbagai simbol kemewahan yang terpampang di tempat tinggalnya mungkin saja akan membuat iri masyarakat sekitar.

Aku sebenarnya merasa ga enak hati, sudah beberapa kali beliau mencoba main ke rumahku bareng suaminya. Malah aku ga ada di rumah. Nah, pasca lebaran kemarin aku kira beliau mudik ke kampung atau sedang ke tempat suaminya di Jakarta sana (punya rumah juga di Jakarta). Ternyata beliau memang ke Jakarta dan sempat berobat lama karena penyakit lamanya kambuh. Dan minggu terakhir ini beliau sudah kembali ke Jogja. Dan aku mengetahui kalau beliau sedang sakit dari tetangga lain dan asistennya. Nah, malam Rabu kemarin saat aku pulang kerja, aku dihampiri ibu tetanggaku yang suaminya juga sedang sakit, memberitahu kalau ibu jenderal tersebut sedang sakit keras dan mau ketemu sama aku. Kebetulan Kamis-nya aku libur seharian penuh bertepatan dengan hajatan pernikahan anak tetangga depan rumah, jadi memang harus libur dong…, jadi aku bilang besok aku akan ketempat beliau.

Kamis pagi, ditemani suami ibu yang memberitahu aku mengenai sakitnya ibu jenderal tersebut, aku main ke rumahnya.

Tanpa terasa, kami ngobrol selama lebih kurang 3 jam di sela-sela acara pesta tetangga yang punya hajat. Awalnya beliau bercerita tentang sakitnya dan meminta saran apa yang harus dilakukan. Kebetulan beliau mau berobat di Jogja saja, dan minta rekomendasi dokter siapa yang sebaiknya ditemui. Ya, akhirnya aku telpon dan sms ke sana kemari menghubungi dokter spesialis yang aku kenal dan meminta saran juga…

Selanjutnya kami ngobrol ngalor-ngidul sambil beliau nawarin kue-kue lebaran dan mengambilkan minuman. Dan keluarlah curhatan beliau, tentang anaknya yang suka sakit, tentang anaknya yang gagal masuk fakultas kedokteran, tentang dirinya yang tidak bekerja. Hehe…tentang dirinya yang hanya sebagai ibu rumah tangga ini cukup seru juga, kelihatan sekali beliau menyesal tidak bekerja, alias cuma menjadi ibu rumah tangga. Beliau bernostalgia, bagaimana ortunya yang sudah bersusah payah menyekolahkan beliau, bagaimana irinya beliau melihat teman-temannya yang bekerja. Dan beliau bilang juga sering merasa sedih kalau lagi ga punya uang padahal dirinya ga bekerja. Ah, aneh juga, orang kaya begini masih juga merasa miskin ya…

Mau tahu ga aku beri saran apa? ya salah satunya ga usah banyak terlalu memikirkan penyakitnya, nanti malah jadi stres sendiri. Dia kelihatan senang. Karena merasa memang benar. Sekali waktu dia lebih menyadari inside dirinya alias mencoba bersikap tenang dan rileks. Contoh, saat dia merasa sesak napas, dia mencoba bernapas dengan tenang, menghadirkan pikiran-pikiran positif dan mencoba tersenyum, akhirnya rasa sesak itu terasa sangat berkurang. Beliau malah ikut menasihati bapak tetangga yang menemani aku, yang sedari tadi diam saja mendengarkan. Bapak yang tentara aktif ini juga sedang sakit jantung dan mengalami stres tingkat tinggi, badannya jadi kurus dan roman mukanya banyak tidak cerianya. Sebenarnya di mata aku, beban hidup bapak tentara ini lebih berat daripada ibu jenderal tersebut. Beliau (bapak tentara itu) sudah habis uang 200 juta untuk menyekolahkan anaknya menjadi Brimob, yang sebelumnya sudah 3 kali gagal masuk jadi TNI. Belum lagi menurut tetangga banyak tagihan utang dari para dealer (ga tahu dealer apa). Belum lagi sebelumnya berobat penyakitnya ke Jakarta. Untung saja beliau ditanggung oleh asuransi tentara.

Yah, kesimpulannya aku masih sangat bersyukurlah, mesti tidak lepas dari permasalahan hidup, masih lebih mending masih bisa bernapas dengan lega, menikmati hidup yang ada, bahkan jauh lebih mawas diri. Bukankah ini salah satu resep awet muda? 🙂

Pic dari sini

curhat, gadget, hobby, livinginjogja, pernik

Testimoni gadget – ada harga ada rupa, memang masih berlaku ya?


Seharian tadi agendaku muter-muter Jogja menyambangi berbagai macam service center. Iya, sudah banyak gadget elektronikku yang rusak. Jadi sekalian aja ditumpuk jadi satu waktu biar ga ribet.

Pertama, kamera digital Samsung 8 mega piksel yang sudah sangat berjasa lebih dari 2 tahun kepake, akhirnya rusak juga, walaupun ga total. Pengambilan gambar dengan resolusi tinggi menghasilkan rekaman gambar yang bergaris. Fungsi kamera video masih normal. Hasil googling ga menemukan secara detail penyebabnya, kemungkinan ada pada chip resolusi tingginya, dan ada yang bilang memang penyakitnya digicam Samsung seperti itu. Waduh… Padahal itu kamera ga murah-murah amat harganya, mungkin terlalu diforsir aja pemakaiannya, huahaha. Nah, kamera kesayangan ini aku bawa ke service center Samsung (katanya cuma satu-satunya di Jogja) di Jl. Godean (400 meteran barat Tugu Jogja). CS-nya bilang belum bisa dipastikan berapa lama Samsung-ku mondok di sana, karena para teknisinya pada masih libur, huaaa, aku nanti ditelpon tentang kepastian dan harga servis dan part-nya. Kalau part-nya mendekati harga kameranya, ya mending aku beli baru aja kali ya…

Kedua, DVD player merek Vitron (asli…, aku sebenarnya ketipu aja dengan merek ini, barang Cina berteknologi Jepang…? halah!) belinya dulu di Mirota Kampus, sekarang aku perhatikan udah ga ada merek itu lagi di sana. Harganya juga sebenarnya ga murah-murah amat, hampir mencapai harga 400 ribu. Hampir 1 tahun usianya. Dua bulan pertama pemakaian, power supply-nya hangus bin gosong. Mondok hampir 1 bulan. Mana nyari service center-nya susah lagi, ternyata satu atap dengan service center Sony dan JVC di daerah HOS Cokroaminoto, arah ke Bantul. Nah, pas lebaran kemarin aku cek player tersebut saat mudik karena anakku hobinya nonton VCD lagu dan film anak-anak jadi aku titipkan di rumah mertua. Eh, pas dicoba ternyata ga mau di-open tray DVD-nya. Apa elektronik atau mekaniknya yang rusak ya…, embuhlah…jadi tadi aku bawa kembali ke pusat servis Sony tersebut. Dijanjikan kira-kira 1 minggu. Sayang aja, kenapa buru-buru aku bongkar kemarin ya, sehingga agak baret casingnya dan stiker garansinya robek, karena setelah tak cek lagi, ternyata masa garansinya sisa sekitar 1 minggu lebih dikit lagi, kan lumayan tuh masih bisa gratis…

Ketiga, yang paling parah ini, HP CDMA Smartfren promo harga 350 ribu yang dibundel dengan pulsa gratis 150 ribu dan internet gratis 1 bulan, genap 1 bulan pemakaian matek total. Udah ke Mobile 8 Center di dekat fly over Janti, disuruh langsung ke service center di dekat Mirota Godean, yang ternyata service center-nya merek Vitell. Kalau software-nya yang rusak butuh waktu 3-4 hari, klo hardware-nya yang rusak butuh waktu 3 mingguan, waduh…aku tanya mba CS-nya: ga ada HP pengganti sementara? dijawab engga, trus aku mau nelpon pake apa? Karena sebenarnya Fren ini sudah cukup berjasa hampir setahun buat pake telpon-telponan dengan istri di Jakarta sana, karena memang free alias gratis. Nah, pas promo kemarin aku tukarkan HP seken yang buluk buat dapat HP Smartfren tersebut, eh, malah rusak, untung masih ada HP seken Nokia jadul…

Klo aku pikir-pikir sepertinya merek terkenal dengan harga agak mahal dikit memang lebih OK ya, dasar akunya aja dari dulu hobi beli barang murah, hehe….

Pic dari sini

curhat, dokter, livinginjogja

Beruntunglah yang tidak mudik! :-)


Sebenarnya tahun ini aku berencana tetap “mudik”, tapi cuma ke kampung istri yang jaraknya 3 jam perjalanan berkendaraan, itu pun cuma 3 hari, dari lebaran kedua sampai hari Senin. Lebaran pertama aku masih ada jam dinas siang di RS. Meskipun aku salah satu pejabat (hehe…) di RS, ga enak aja klo mau libur seenaknya, karena aslinya juga aku udah banyak libur kok terutama kalau kunjungan rutin ke Jakarta menjenguk anak istri, selain itu dalam rangka monitoring kegiatan pelayanan, karena sering hari libur besar terjadi banyak masalah.

Nah, kapan mudik ke kampungku sendiri di Pekanbaru, Riau sana? wallalahu a’lam, entahlah… sudah 5 tahun aku ga pulang ke kampung halaman sendiri. Sebenarnya itu bukan rekor terlama aku ga pulang ke kampung halaman, semasa kuliah dulu 6 tahun aku ga pulang kampung. Sebenarnya bingung juga mendefinisikan kampung halaman, wong leluhurku keturunan Jogja juga, sehingga malam takbiran dan sholat Idul Fitri aku berencana di pantai Parangtritis/Parangkusumo (kangen berat dengan suasana ini…), ya, itung-itung mungkin itu alasan masih ada dinas di hari pertama lebaran, biar semua dibagi ratalah, mbah putri yang hidup sendiri bisa dikunjungi, mertua bisa dikunjungi. Nah, kapan giliran ortuku di sana? rencananya kami akan mengambil cuti bareng, mungkin dalam waktu 2-3 bulan ke depan, syukur-syukur kalau bisa tepat Idul Adha/lebaran kurban. Secara kami sekeluarga belum pernah bertemu ortuku di Pekanbaru, Riau, selama 5 tahun ini. Beruntung Mama-ku yang sempat menjenguk cucunya saat istri masih mukim di Bogor, itu pun karena “kecelakaan” 🙂

Profesiku sebagai dokter di RS sangat menyulitkan untuk mencari waktu libur yang pas. Sama saja kayak profesi lain yang benar-benar harus jadi tumbal saat liburan besar seperti polisi, perawat, bidan, dan berbagai profesi lain yang harus senantiasa siap walau pun itu waktu liburan bagi orang pada umumnya. Hahaha, kapan ya aku pensiun jadi dokter… :-b

Pic dari sini

curhat, hobby, livinginjogja, pernik, tanaman

Kejutan, buah semangka di teras rumah nongol juga!


Kira-kira 1 bulan ini di teras depan rumahku, tepatnya di calon taman yang ga jadi-jadi diberesin, nongol tunas daun yang mirip semangka, aku juga diberi tahu oleh tetangga depan kalo itu pohon semangka.

Hahaha, secara tamannya memang ga jadi-jadi dan ga sempat ngurusin dan nyiram, eh, tetangga depan aku perhatikan sepertinya rajin nyiramin pokok semangka itu, kelihatan setiap sore tanahnya basah oleh air, ya cuma pohon semangka itu yang disiram…

Ditambah lagi dengan beberapa hari terakhir ini sering hujan di malam hari dan paginya matahari bersinar cerah, jadinya pohon semangka tersebut lebih giat tumbuhnya.

Akhirnya kalo ga salah ingat, 3 hari yang lalu saat mau berangkat kerja, aku perhatikan udah nongol 1 biji semangka mungil, selain masih banyak calon semangka yang masih berwujud bunga.

Aku memang sering asal buang biji tanaman dari semangka, pepaya, kelenglengkeng, jambu biji, alpukat, dll, di sembarang tempat, tanah kosong di sekitar rumahku. Dulu pernah tumbuh jambu bijinya, tapi dibersihkan sama tetangga, katanya nanti malah jadi bahan rebutan anak-anak kampung kalo udah berbuah. Ya, repot juga sih, rumahku kan belum dibuatin pagar sampai sekarang dan mungkin juga tidak akan dipagar sampai nanti.

Selain semangka, yang sudah sempat kami nikmati adalah beberapa tanaman sayuran yang aku tanam dan tumbuh sendiri yaitu sayur daun katu, enak banget kalau dilodeh gitu deh…, trus ada juga daun bayam yang tumbuh subur, saking suburnya waktu itu penuh halaman depan dengan tanaman bayam berdaun lebar-lebar, sampai ibu-ibu tetangga pada “iri” dan sering minta buat disayur atau dibuat kerupuk bayam. Dan, hmmm…tentu saja aku sangat berterimakasih, karena kan aku ga bisa manfaatin semuanya, dan enaknya lagi aku juga diberi kerupuk bayam yang lezat satu kaleng penuh, hehehe…

Memang sih ada cita-cita dari dulu buat kebun tanaman sayur dan buah kecil-kecilan selain tanaman bunga yang cantik-cantik tentunya. Tapi nunggu istri dan anak kembali ke pangkuanku aja deh…

curhat, livinginjogja

Ceritaku 1 minggu ini (28 Juli-4 Agustus)


Bismillah, rekan MPers yang berbahagia, ini aku mau update lagi (dengan tertatih-tatih…hiks..)

(Yah, daripada ga update-update MP-ku ini, jadinya dikompilasi aja ya untuk 1 minggu sekaligus, hahaha…so mohon maaf kalau rada panjang jurnalnya)

Di mulai dari Rabu pekan kemarin, istriku mendadak harus pulang ke Jogja, karena ada acara wawancara di Gedung Kepatihan, Malioboro, terkait dengan proses usulan mutasinya. Padahal Rabu malam itu aku dinas di RS, jadilah aku nongkrongin di RS lebih awal sambil nunggu landing. Sayang sekali terjadi delay penerbangan selama 2 jam, sehingga baru sampai Adi Sucipto 1/2 9 lebih. Syukurnya rekan sejawat yang dinas siang mau overtime dikit, karena aku harus jemput istri dan anak bungsu (Nadif) dan ngantar ke rumah.

Kamis pagi aku langsung cabut ke rumah, ganti’in istri momongin Nadif. Rencana wawancara menurut surat dimulai jam 9 pagi, tapi Nadif lagi rewel dan butuh ibunya, jadi istri baru bisa cabut ke Kepatihan jam 11 lebih. Wah ternyata acaranya belum dimulai. Ya, maklum aja sih, birokrat kan sukanya molor…udah apal deh…

Kamis itu termasuk hari repot, secara aku siangnya harus dinas di klinik, dan acara istri belum kelar juga. Akhirnya aku bawa Nadif ke kantor. Tetangga sih udah nawarin mau momongin, tapi aku bilang pasti nanti repot secara Nadif cuma terbiasa sama ibu dan bapaknya saja, selain para pengasuh di TPA kantor istri. Udah pengalaman di Jakarta kemarin, ditinggal sama budenya aja, malah kasihan nangis terus… Dan di kantor terbukti juga, staf, perawat, dan sejawat lain yang coba momongin Nadif nyerah, ya sudah, akhirnya bapaknya yang turun tangan, sekitar 2 jam momong, akhirnya Nadif bisa tidur pulas 3 jam.

Alhamdulillah wawancara istri selesai 1 hari, walaupun sampai sore, karena di surat disebutkan range waktu wawancara adalah 3 hari, ternyata selesai 1 hari saja (tepatnya 1/2 hari). Tinggal nunggu hasilnya saja. Biar kami bisa bersatu kembali (hiks…)

Hari Jumat rencana aku berangkat kemping sampai hari Ahad sore ke wilayah Imogiri, Bantul. Semua perlengkapan sudah OK, seperti: backpack, headlamp, sleeping bag, matras, ponco, topi rimba, sepatu kats baru yang udah dijahit+kaos kaki, water pack, celana renang untuk pengganti underwear saat heking jarak jauh biar selangkangan ga lecet, baju-celana ganti, dan kudapan berenergi.

Sayang sekali, walaupun persiapan udah OK, sejawat pengganti untuk hari Jumat juga sudah didapat, ternyata Kamis siang waktu aku akan membawa Nadif ke kantor, pergelangan kaki kananku terkilir karena terperosok lubang yang cukup dalam di seputaran Monumen Jogja Kembali (Monjali), untung saja Nadif tidak terlempar atau terjatuh ke tanah. Sakitnya baru terasa saat mau pulang ke rumah, dan sampai sekarang pun masih sakit sebenarnya, namanya juga cedera cukup berat ya memang rada lama sembuh sempurna, apalagi aku malas minum obat rutin, hahaha…

Jadilah acara kempingnya batal. Ada hikmahnya juga, aku bisa di rumah sama istri dan anak, walaupun ternyata Jumat itu ada masalah dadakan lainnya. Ditelpon dari kampus ada masalah dengan syarat maju ujian proposal hari Rabu ini. Wah, untung aja ga berangkat. Dan untung paginya aku udah lari ke apotik buat beli perban elastis untuk fiksasi sendiku yang terkilir. Dan malam sebelum pulang dari kantor udah order obat antinyeri, dah aku minum dengan dosis 2 kali dari biasanya. Karena sudah bertekad untuk tidak mundur ujian lagi, jadi aku hunting ke mana-mana hari Jumat itu, ke bank, ke rektorat (sempat dipingpong ke sana kemari), dan ke fakultas. Syukur bisa selesai walaupun masih ngegantung karena nunggu kepastian hari Seninnya.

Hari Sabtu termasuk hari yang OK, libur full, beli tiket buat istri kembali ke Jakarta , bersih-bersih rumah untuk menyambut kedatangan bapak mertua, kakak dan adik ipar, dan anak sulungku, Ifa, dari Gombong, Kebumen. Selepas magrib cabut ke House of Raminten, istriku pengen nyoba suasana di sana. Rasa terkilir kaki sedikit terlupakan. Tengah malam barulah rombongan dari Kebumen nyampe rumah.

Hari Ahad pagi nganterin istri dan Nadif ke stasiun Tugu untuk kembali ke Jakarta. Malamnya ke House of Raminten, hahaha…
Sayangnya kesan kali ini ga OK di bapak mertua dan ipar. Dari mulai tempat parkirnya yang ga OK, suasananya yang ternyata ga cocok, makanannya yang ga enak. Padahal pas aku dan istri yang makan kebetulan pesan yang enak kali ya…hehehe…
Malamnya adik iparku kembali duluan ke Kebumen karena besoknya masuk kerja, sedang kakak ipar tetap tinggal karena memang ada acara pendampingan mahasiswanya ke Solo. Dan bapak mertuaku juga tetap tinggal, karena momong Ifa saat aku dan kakak iparku ga ada di rumah.

Hari Senin aku konfirm ke fakultas untuk kepastian jadwal ujianku, alhamdulillah ternyata OK, tidak ada masalah. Selanjutnya aku rapat rutin di RS, siangnya pulang awal dengan alasan mau mendaftarkan anak sulungku, Ifa ke play group, untuk 4 hari saja, karena Sabtu besok mereka sudah kembali ke Kebumen. Sayang, play groupnya udah tutup, ternyata cuma sampai jam 11 siang. Tapi ga papa, masih ada hari Selasa. Jadinya sore itu aku ajak Ifa berenang ke Tirtasari, Jl. Kaliurang KM 9. Waduh, kok sekarang ga terurus ya tempat berenang ini? mana pancurannya udah ga ada lagi. Kolam anaknya cuma tinggal 1 lagi. Ya udah ga papa lagi deh, dah terlanjur, akhirnya kami nyebur selama 1 1/2 jam.

Hari Selasa pagi aku anterin metua dan Ifa ke play group yang ditarget hari Senin kemarin. OK kayaknya, Ifa langsung masuk hari itu. Play group ini dekat dari rumahku, sekitar 100 meter saja. Dan sebenarnya play group ini untuk anak berkebutuhan khusus seperti sekolah luar biasa gitu, tapi waktu aku tanya-tanya ternyata ada anak normalnya juga, ya jadi aku OK aja. Sepertinya Ifa senang sekali sekolah di situ, hehehe… Selanjutnya aku cabut ke RS untuk rapat lagi sampai siang.

Rabu pagi ini aku disidang di fakultas, dalam rangka presentasi usulan penelitianku untuk tesis yang sudah sangat lama tertunda. Syukurlah semua berjalan dengan lancar. Aku ga ngira sebelumnya kalau yang nguji adalah para pejabat: profesor di bagian anatomi, kepala dinkes, dekan fakultas kedokteran swasta terkenal. Untung udah kenal sebagian, jadi ga grogilah, hehehe, prinsipnya mengalah aja deh….

Demikian aja ceritaku selama seminggu ini. Sekali lagi memang aku harusnya tetap ngeblog di MP ini. Ini disupor sama pembimbing tesisku juga loh, dia memang tahu bahwa aku memang suka ngeblog. Dia mendorong untuk tetap menulis, karena akan mengasah otak kita agar tidak menjadi beku, dan ide-ide tidak menjadi dingin, hahaha… trimakasih buat pembimbingku…

livinginjogja, pernik

Tetek bengek bermasyarakat


Hari Ahad kemarin, kami sekeluarga mengadakan acara syukuran pindahan ke rumah baru dan perkenalan ke warga setempat. Satu bulan setelah menjejakkan kaki di rumah baru, “resmilah” kami menjadi menjadi warga baru di Pedukuhan Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman. Seminggu sebelumnya aku juga mengikuti kumpulan (rapat) RT dan sudah sekilas juga memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan undangan ke warga untuk menghadiri acara syukuran tersebut. Alhamdulillah yang datang lumayan ramai sampai rumah kecil kami tidak muat oleh tamu sehingga harus juga menempati beranda.

RT kami memang strata sosialnya memang sangat beragam, mulai dari pengemis, pemulung, mahasiswa, polisi, pedagang, tukang, mantan danrem (sekarang staf kodam), insinyur, dan menteri, kurang satu yang belum…artis… :-D. aku sendiri melengkapi strata sosial sebagai dokter. Sedikit cerita lucu dari ibu-ibu tetangga yang intinya begini: “wah, mas sekarang sudah semua RT di RW kita ini ada dokternya. Jadi besok klo ada yang sakit tidak boleh berobat ke dokter di RT yang lain…” Hehehe, ada-ada aja.

Acara syukuran dibuat sederhana saja, duduk lesehan, tapi sama tetangga dipinjamin kursi dan tikar, karena punya kami tidak cukup, dan ternyata teras rumah juga tidak cukup menampung para tamu, jadilah harus ada yang duduk di kursi yang di letakkan di halaman rumah. Untung aku masih punya koleksi amplifier (pengeras suara) dan dua loudspeaker ukuran sedang, koleksi dan hasil hobi saat zaman mahasiswa dulu. Alhamdulillah cuaca juga tidak jadi hujan sehingga acara berlangsung lancar.

Format syukuran standarlah, sambutan oleh Pak Dukuh, Pak RT, aku sendiri sebagai perwakilan keluarga, dan terakhir diisi pengajian serta doa oleh Ustadz Didik Purwodarsono, Pimpinan Pondok Pesantren Takwinul Mubalighin Yogyakarta. Pak Dukuh memperkenalkan aku sebagai warga penuh di sini, sudah ber-KTP dan ber-KK sini, jadi semua hak dan kewajibannya harap ditunaikan selayaknya, termasuk jika ada tarikan-tarikan (sumbangan) seperti uang pembangunan, uang sosial dan lain sebagainya (waks…!! kok ininya yang ditekankan sih….). Pak RT juga kurang lebih sama, supaya saling menjaga toleransi (kebetulan Pak RT beragama Nasrani), beliau juga memaklumi bila aku mungkin sulit waktunya untuk intens berinteraksi dengan kegiatan masyarakat karena berprofesi sebagai dokter (engga juga sih Pak…coba aja kita lihat nanti). Dan paling menarik menurutku sesi pengajian, kebetulan diisi oleh seorang ustadz yang memang sudah terkenal dengan kepiawaiannya membawakan tema-tema kemasyarakatan, dengan suasana yang segar penuh humor, dan sebagian besar dalam bahasa Jawa. Sehingga suasana siang yang cocok buat tidur jadi hidup dan bersemangat. Ustadz Didik banyak memberikan wejangan tentang kehidupan bermasyrakat dan bertetangga. Beliau menyinggung juga tentang tanda-tanda rumah tangga yang diberkahi (sebagian besar tercantum dalam surat ke 65 Al Qur’an yaitu Ath Thalaaq ayat 2-3, silakan baca sendiri ya). Prinsip prinsip bermasyarakat dan bertetangga juga dijelaskan dengan sangat baik dan disertai dengan contoh-contoh yang mengena. Yang aku ingat dari beliau, sebagai anggota masyarakat, bila ingin hidup diridhoi Allah dan hidupnya bahagia ada 4 prinsip yang harus dijalani yaitu: 1. memberikan manfaat bagi sekitar, tidak menghitung-hitung apa yang diberikan, dan tidak menghitung-hitung apa yang diterima, berbuat seoptimal mungkin untuk kebaikan masyarakat dan tidak menyelaraskan dengan rezeki yang diterima. 2. senantiasa lapang dada, mudah memaafkan, dan tidak mudah terpancing emosi. 3. tidak egois dan membangga-banggakan diri di tengah masyarakat 4. membiasakan introspeksi diri untuk membiasakan berhati-hati dan mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Mudah-mudahan kami menjadi warga baru yang bisa memberikan banyak manfaat (bukan dimanfaatkan, hehehe…) banyak bagi warga sekitar. Rumah baru kami menjadi surga dan tempat menyenangkan untuk berkumpul dan beraktivitas.