Diposkan pada lomba blog

Mau ikut lomba blog lagi, tapi…. :-(


Bagi pelanggan kartu Si***ti (Tel****el), beberapa hari ini pasti mendapatkan tampilan pengumuman lomba blog ketika mengecek sisa pulsa melalui *888#: Ikuti Mobile Blogging Competition, daftar ke www.mypulau.com.

Aku tertarik juga, jadilah meluncur ke website tersebut. Tapi kok ketika baca di sini, jadi kehilangan selera buat ikutan. Masih bermain di sekitar judi terselubung via SMS dan MMS kah? Wallahu a’lam, yang jelas pihak penyelenggara hanya menentukan pemenang dari undian dengan modal besar-besaran pengumpulan poin dari SMS dan MMS yang dikirimkan.

Gimana nih, kok masih membodohi para pelanggan toh? 😦

pic was modified from here

Diposkan pada hobby, livinginjogja

SAKAW – Kangen ama MP!!


Udah sebulan lebih (sejak 18 Oktober) ga posting dan ga blog walking di MP….hhhhhhhh….kangen berat (sebenarnya) . Bukan apa-apa sih..hanya sekedar mau rileks dan melepaskan sejenak perilaku internet abuse-ku (dalam artian positif loh…).

Sementara ini lebih sering diarahkan untuk melototin jurnal-jurnal ilmiah . Yah, apa mau dikata…memang  yang namanya withdrawal syndrome untuk per-internetan apalagi per-blogging-an, apalageeh per-MP-an  ternyata ga jauh beda kalo kita melakukan drugs abuse (mungkin kali yah…habis belum pernah nyoba…hahaha). Menghentikan secara mendadak hanya akan mengakibatkan efek yang lebih buruk, alih-alih mau tobat, malah makin terjerumus hahaha….maka dengan itu, aku berusahalah demi masa depan yang lebih baik, ceileee.. berupaya dikit demi sedikit mengurangi konsumsi aktifitas nge-net… yah kalo ga bisa-bisa amat, paling aku cobalah untuk substitusi, seperti halnya kalo meng-konsumsi heroin disubstitusi dengan metadon.

Mumpung lagi sakaw gini, jadilah harus posting-posting yang ga penting (yang penting sakaw terobati..hahaha…)

Rencana ke depan mau posting foto-foto lawas dan foto-foto jepretan hp jelekku. Pengen juga ntar posting cerita tentang seputar cerita-cerita kehamilan istri serta melanjutkan tulisan tengang Jogja Under Cover Versi-ku. O, iya, ada juga beberapa PR jurnal pesanan teman-teman yang juga harus diposting…sabar yah… Ah, apa lagi yah, ya nanti aja kalo sedang terpikir dan sakaw-nya kambuh lagi…


Note: karena lagi nge-tren artis kita yang ketangkep karena narkoba, so jadi ikut-ikutan juga nih…hanya sebuah analogi 

Pic di-link dari http://www.techtoons.com/images/programmer.gif

Diposkan pada kontemplasi

8 facts about me – terpaksa nih…


Ini PR dari Pak Gogod. Tapi kayaknya cukup sekali ini deh Pak…secara hanya mengingatkan pada Friendster yang ga mutu, karena terlalu banyak hal-hal begininya, hehehe….

So, aturan kunci tag-nya yang ini kali yah: Each blogger starts with eight random facts/habits about themselves”
Aturan lain mah, EGP aja lah ya… <– tipe pembangkang mode on :-b
Terus menurutku, yang perlu diekspos di sini yang jelek-jelek aja ya (secara di FS duluw isinya malah sebaliknya :-D), itung-itung sebagai obat untuk memperbaiki diri. So, wish you all give me much comments…

1. Pass the time lazily. Mungkinkah sifat yang satu ini yang membuat hasil psikotes-ku duluw merekomendasikan: “memerlukan dorongan yang kuat untuk menyelesaikan pendidikan di universitas”. Terbukti deh (atau memang karena aku dibayang-bayangi saran sang psikolog yah… :-D). Yang jelas S1 dan Profesi bisa lulus dengan “berdarah-darah”. Eh, kayaknya untuk lulus S2 ini juga lebih berlumuran darah lagi… 😦

2. Fluctuated mood, alias mut-mut-an. Menurutku ini penyakitku yang paling parah. Tapi tolong dibedakan dengan inkonsistensi ya…, Dari sekarang aku belum tahu persis apa yang menyebabkan diriku sering begini? apa karena kebanyakan kegiatan? sering bersikap perfeksionis terhadap sesuatu? banyak pikiran atau apa? anybody may tell me about this? a psychologist perhaps? hehehe… Klo udah malas, minta ampun deh…tapi klo lagi datang “syetan”-nya (ini kata seniorku) pasti jadi workaholic lagi..

3. Sampai detik ini masih: very hard to say NO, untuk sesuatu hal berbau pertolongan/permintaan. Mungkin perasaanku terlalu halus kali yah…hahaha. So, ga tegaan gitu, tapi yah begitu deh akhirnya, sering mengorbankan prioritas kepentinganku sendiri, bahkan kadang memicu konflik dengan orang-orang terdekat. Sejak menikah kebiasaan yang satu ini sudah mulai dikurangi.

4. The real gamer, duluwnya sih… 😀 Alhamdulillah sangat berkurang bahkan hampir lenyap setelah menikah, lagi-lagi setelah menikah… Yah, sudah kebiasaan dari SD sih. Hampir setipa hari mampir main video game (dingdong) di pasar dekat sekolah. Waktu itu kan ada yang pake koin Rp 50 dan Rp 100. Apalagi klo ada teman yang nraktir maen, wah bisa seharian dan muter-muter di tempat lain deh… Aslinya aku ga pernah punya game console seperti Atari, Nintendo, Spica, Playstation dan sejenisnya. Bisa gawat deh klo punya. Ga punya aja bisa seharian. Bahkan, pernah aku di”upahin” teman yang memperbaikikan game console-nya kepadaku dengan meminjamkan game console-nya itu selama seminggu. Wah…wah…ingat banget waktu itu, bareng adik-adikku, tuh alat digilir ampe “berasap”. Bahkan bisa sampe subuh menjelang 🙂

5. Little bit a narcissistic man, kali ya…. Maksudnya sih ga terlalulah. Habis aslinya suka malas mandi :-b. Waktu masih kecil sampe SMP sering dibelikan kosmetik khusus :-b oleh Mamaku, jadi waktu itu agak terawat, tapi sekarang udah ancur lagi… :-). Paling, yang rutin dikerjakan sekarang, potong rambut di langganan dari awal kuliah. Kalo foto-foto sih sampai sekarang ya masih gifo (gila foto) lah…hehehe

6. I’m a hasty and panic person. Terutama dalam kondisi menepati waktu/janji – ini sifat baik yah? 🙂 – Tapi kadang tidak menyadari kalo diri sedang tergesa-gesa gitu, jadinya orang lain ikutan panik juga, wah! Dan terkadang membahayakan diri sendiri, terutama sering ga nyadar klo ngebut di jalanan.

7. Destroyer. Kata istriku ini yang paling parah. Apa aja yang bersentuhan sama diriku dipastikan 99,9% bermasalah alias RUSAK (serius mode on). Beberapa contoh real: aku ga punya koleksi mainan yang awet sewaktu kecil. Apa aja yang dibelikan ortu pasti rusak dengan segera. Sewaktu menginjak remaja, peralatan elektronik di rumah ikut-ikutan rusak dipreteli, “tidak terima pasang…hanya terima bongkar”, hehehe. Semasa kuliah, sudah berapa komputer teman yang tewas, ampe harus ngerogoh kocek sendiri. Sehingga sampai sekarang masih terbayang gimana seandainya yang rusak itu salah satu pasienku ya…. jangan deh! Padahal salah satu cita-cita yang mengingang-ngiang sampai sekarang, pengen masuk ke salah satu spesialisasi memainkan pisau bedah. Walah…

8. Love for sleep. Terutama klo stres berat. Sering harus pasang alarm pembangun. Aslinya sih mudah terbangun, terutama klo memang sedang sendiri. Nah lucu kan? justru klo sendiri biasanya pasti aku mudah memenej tidurku. Ada juga teman yang punya kebiasaan seperti ini. Aku menimpali: “Yah, daripada melek, banyak maksiat, lebih baik merem, mimpi yang ayem” 😀

Mudah-mudahan kebiasan di atas merupakan saripati kebiasaaan utama-ku yang perlu diatur lebih lanjut, artinya memang masih perlu lebih intensif mengenal diri ini, tentu saja dengan bantuan orang lain juga, yang bisa melihat secara objektif. Sangat menerima tips dari teman-teman, atau mungkin ada yang sealiran dengan poin-poin kebiasaanku?

Note: “MP-ers I’d like to tag”-nya ga aku tulis aja yah. Kasihan ntar yang ditodong nerusin PR ini 🙂 Jadi, bagi teman-teman yang mau berpartisipasi, silakan aja menggunakan tag ini…

Berikut RULE lengkapnya:
—————————————————
The Rules of Tag:

1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with eight random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their eight things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose eight people to get tagged and list their names
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog.

Diposkan pada hamil, istri

Alhamdulillah…istriku hamil!!


Kemarin sore beli strip tes kehamilan (plus pack test – PP Test) bareng istri sekaligus silaturahim ke tempat pak lik dan teman di seputaran Gombong dan Tambak Banyumas. Aku kira di ruang praktik almarhumah ibu mertua masih ada sisa stripnya, kata istriku udah ga ada, jadinya yah kita beli aja. Selain itu juga ga sabar menunggu nanti setelah di Jogja aja dites-nya, secara masih punya beberapa cadangan strip di rumah.

Pagi tadi sebelum sholat subuh, aku bangunkan istri untuk urinasi (red: pipis-maaf), dan dites pake strip yang dibeli. Sebenarnya aku deg-degan juga, hamil ga ya…hamil ga ya… :-b Tapi, dari luar aku tampakkan wajah yang biasa-biasa aja, hehehe…maklum seperti pengalaman dulu selama dua tahun, seringnya kecewa setelah dites, ternyata ga positif hamil. Jadi kali ini diusahakan biasa aja. Tapi, beberapa saat kemudian istriku kembali ke kamar, sambil cengengesan, “hehehe…hamil, Yang…”, “Manaa…coba liat”, kataku. O, iya, alhamdulillah, stripnya menunjukkkan 2 garis merah, artinya positif terdeteksi hormon kehamilan, hCG (Human Chorionic Gonadotrophin). Memang, hCG tidak mesti menandakan positif hamil, karena ada kondisi lain yang menimbulkan sekresi (pengeluaran) hormon ini, seperti pada tumor tertentu dan kondisi hamil anggur (mola hydatidosa).

Dari perubahan fisik istri memang belum begitu jelas. Cuma dia sudah merasakan perutnya mules/kram dan puting payudaranya nyeri. Selain itu menstruasinya memang sudah berhenti, alias telat hampir 2 minggu ini. Jadi sudah terjadi konsepsi (pembuahan) lebih kurang 3 minggu yang lalu (ini disebut sebagai umur kehamilan yang asli). Kalau berpatokan kepada HPM (hari pertama menstruasi yang terakhir) hitungannya sudah hampir 6 minggu. Tanda lainnya, istri merasakan sering keluar lendir, jauh dari waktu seharusnya, sebelum dia mengalami menstruasi lagi. Klo yang aku rasakan, suhu badan istri lebih tinggi dari biasanya, alias lebih hangat… :-b

OK deh sekali lagi belum mau euforia (bahagia berlebihan) dulu, secara masih panjang “perjalanan” yang harus dilalui. Mudah-mudah memang benar positif hamil berisi janin, calon junior kami melalui tes-tes selanjutnya, dan berharap tidak ada kelainan yang fatal dari pihak istri mau pun janin. Aamiin…

Rabbana hablana min azwajina wazurriyatina qurrata a’yun, wajalna lil muttaqina imaama…

Gambar dilink dari sini

Diposkan pada tak terkategorisasi

Aduuuh…sakit banget nih :-(


Gara-gara makan ga teratur dan dengan beberapa menu “asing” yang ku santap kemarin, pagi ga sarapan, siang bebek kremes yg belum pernah sama sekali ku makan waktu maksibar MPers, trus ditraktir siomay sama teman kantor, malam telat makan dengan menu kakap bumbu yg ga jelas gitu, akhirnya perut sakit luar biasa plus mual saat bangun dini hari tadi. Niatnya tadi mau puasa dan sudah nyiapin sahur, akhirnya gagal. Apalagi subuh tadi aku langsung diare, lemeees…dan maagku kambuh skaligus. Ya, Allah, mana ga ada cadangan obat lagi di rumah…Mudah-mudahan aku bisa berangkat kerja hari ini, mana ada rapat lagi ntar sore…skarang aku tepar di kasur menenangkan perut yg lagi mengamuk ini. Terasa juga ya kalau lagi singel begini, ga ada yang biasa ngurusin secara istri lagi pulang kampung sejak ahad kemarin. Untung tadi nelponin jadi langsung dicerewetin lagi akunya, lumayan menghibur…hehehe. Aduh… masih sakit nih..perih..panas.. makanya lain kali kalau makan jangan mikir lidah aje, pikirkan kan juga tuh perut..

Diposkan pada dokter

Hehehe, dapat "pujian" dari pasien


GR juga nih (dikit sih…), habis…, seorang mahasiswi nanya ke aku:

“Sebelum kerja di sini di mana lagi, Dok?”
“Aku ndoble, eh, triple ding… di xxx dan di zzz”
“Mmm…kok kayaknya dokter beda ya, sama yang lain…?”
“O, iya, memang…jelas beda dong…” (masih ga ngeh…)
“Angkatan berapa, Dok?”
“Angkatan 98”
“Jadi…, kelahiran…80”
“Bukan, 79”
“O, iya, Dok, beda gitu, klo dokter lain…ditanya cuma jawab: “ya..ya..mmm”, tapi kalau dokter engga, jelas gitu…” (hehehe, di sini aku GR abisss)
“O, iya, benar, aku juga ngerasa begitu di sini, aku memang beda kok..hehehe”

Kemudian aku jelaskan ke dia:
“Ya, gimana ya mba, kan aku juga sering bingung kalau dapat pasien dari dokter lain, waktu ditanya: “kemarin dokternya ngasih obat apa, diagnosisnya apa, hasil foto dan lab-nya apa?”, walah pada bengong juga ga tau begitu…, nah, aku kan jadi ngerasa, gimana klo itu kita yang sebagai dokternya…?

Jadi, memang, akhirnya aku buktikan sendiri, mengapa dokter ga suka banyak bicara (silakan di klik link-nya).

Jadi pilihannya kembali kepada kita, aku, sebagai dokter yang butuh banyak belajar dan menularkan pengetahuan kepada pasien, bukan membuat pasien menjadi semakin bodoh dan bisa terus diperdaya oleh dokter yang suka diam…hmmmm… 🙂

Catatan: Aku bilang juga ke mbak-nya, “Ya, tapi kalo pasien ramai banget, terpaksa aku ga bisa ngomong banyak mba, kasihan kan yang mengantri…”

Gambar di comot dari sini

Diposkan pada dokter, rokok

Dik…boleh merokok, tapi….


Ini dialog singkat ketika menerima keluhan seorang mahasiswi dan juga seorang mahasiswa yang berobat karena batuk-batuk lama, nyeri pada tenggorokannya, dan sesak napas. Ya, mereka mengaku sendiri klo merokok aktif dengan intensitas tinggi. Ini contoh pasien yang baik, belum ditanya udah menjawab…hehehe

"Aduh Dik…kenapa masih merokok, ga kasihan apa, sama badan sendiri…?"


"Iya, Mas…ini juga udah mulai dikurangi"


"Bagus, klo bisa ya distop, kasihan kan badannya, apa mau bergaya, klo sakit gini kan ga keren lagi?"


"Engga kok, sudah kebiasaan kali Mas…." (aku: sama aja kan…hehehe)

Terus terang, aku sebenarnya miris plus kasihan, plus "benci" sama perokok. Selain merugikan orang lain, ya itu tadi, kok ya ga mikir, klo dah sakit, kan jadi susah gitu…

Jadi, pas momennya tepat gini sekalian aku beri edukasi deh, biar bisa lebih dipikirkan apa yang telah mereka lakukan.

Jadi silakan saja merokok jika siapa dengan konsekuensinya… (tapi mbok ya aku ragu gitu…)

Konsekuensi merokok:

1. Kantong cekak (dalam setahun bisa menghabiskan duit jutaan bahkan puluhan juta rupiah)

2. Membawa orang lain menderita sakit

3. Jadi kebiasaan (karena mungkin awalnya cuma coba-coba, "pengobat" stres)

4. Mulutnya bau (mungkin hanya sesama perokok yang suka baunya)

5. Habis uang buat berobat

6. Menimbulkan penyakit jantung dan pembuluh darah

7. Menimbulkan kanker paru dan saluran napas

8. Sekarat

9. tambahin ya…

10. tambahin lagi ya…hehehe

11.Masuk kubur

Sekedar catatan: salah satu dosenku dulu meninggal akibat kanker nasofaring/saluran napas karena beliau perokok berat, sejak itu ada peraturan di fakultas kami, wilayah bebas rokok dan asap rokok, kecuali bagi yang mau merokok disediakan di samping kandang hewan percobaan (sekalian ikut jadi manusia percobaan….masih juga ga mau mikir!!)

Gambar dicomot n dikrop dari
sini

Diposkan pada jogja under cover

Mahasiswi oh mahasiswi…Jogja Undercover versiku, bagian I


Jogja Undercover versiku!! Yah, ingin sekali membuat bahasan ini sejak lama, akhirnya bisa terwujud juga. Beberapa tahun silam, peneliti muda Iip Wijayanto pernah mengadakan studi yang hasilnya sangat mengejutkan, mengenai virginitas di kalangan mahasiswi. Terindikasikan sebagian besar sampel penelitiannya tidak perawan lagi.

Aku awalnya tidak terlalu pedulilah, apalagi memang Iip mengambil sampel sebagian besar mahasiswi yang kuliah di kampus yang notabene bisa ditebak ke arah mana tipe pergaulannya….

Waktu masih koasistensi (praktik dokter muda) di bagian ginekologi dan kandungan, sebenarnya aku cukup banyak mendapatkan kasus akibat pergaulan terlarang tersebut. Lucu-lucu dan gemes juga kalau mengingat kembali. Ada yang ingin menggugurkan kandungannya, karena pacarnya belum lulus kuliah. Ada yang ketakutan hamil dan selaput daranya robek karena baru sekali berhubungan dengan pacarnya, pas dites kehamilan, masih negatif, kelihatan raut mukanya gembira…
Ada yang paling lucu nih, seorang mahasiswi di universitasku periksa ditemani pacarnya, kok ga dapet “tamu” udah sekian lama, eh ternyata pas diperiksa dia hamil 30 minggu lebih…

Sekarang aku kembali menemukan hal-hal tersebut, di kampusku tercinta ini, yang aku duga orangnya “bersih-bersih”, ternyata banyak kejadian serupa. Contoh saja seorang pasien, mahasiswi yang cantik sekali (menurutku…), memeriksakan diri dengan keluhan tidak enak pada perutnya, belum juga datang “tamu”. Aku kan selalu berbaik sangka gitu lah, sehingga terapinya masih biasa-biasa saja. 😀 Beberapa hari kemudian, datang lagi dengan keluhan yang sama, tetapi dengan alasan, obatnya hilang, jatuh entah kemana…terus aku beri lagi obat yang sama, dan disarankan kontrol lagi.

Pas kontrol berikutnya, giliran temanku yang sudah sangat berpengalaman dengan kasus-kasus demikian, memeriksa mahasiswi tersebut. Yah, dia masih menduga hanya masalah hormonal biasa, sehingga diberikan obat yang biasa pula, tetapi sebenarnya berbahaya bagi orang hamil. Yah, inilah risikonya kalau pasien ga mau ngaku ketika ditanya, apalagi kita kan seringnya berbaik sangka gituww… :-). Aku yang ngerti, klo dia itu pasienku, menanyakan tentang kemunginan dugaan temanku, yah, sama aja, masih berprasangka baik :-), terus aku baru ingat: “eh, mungkin ga dia hamil??”, teman bilang: “o, iya, patut dicurigai itu, duluw-duluw juga banyak kasus begitu…” walah…! Ternyata benar, pas kontrol berikutnya, diperiksa oleh temanku itu (sayang sih, bukan aku yang periksa, hehehe…). Akhirnya dia ngaku melakukan hubungan seks (itu pun setelah melalui anamnesis/wawancara yang sangat panjaaaaaang, kata temanku di statusnya). Great!! Di sinilah kami juga ditantang menjadi detektif yang hebat… 😀 Hasil tes kehamilannya juga positif. Tapi obat yang diberikan teman kemarin itu, kontra indikasi dengan orang hamil, bisa-bisa malah keguguran (tapi, mungkin itu yang diharapkan oleh si mahasiswi….). Akhirnya obat distop, dan pasien hanya disuruh kontrol lagi.

Perkembangan lanjut belum jelas, karena oleh dokter lain, pasien dirujuk ke ahli kandungan, karena hasil tes kehamilannya jadi negatif (apa mungkin digugurkan ya…?? wallahu a’lamu…), yang jelas kata dokternya, ekspresi si mahasiswi senang banget, ketika tahu tesnya jadi negatif, kita tunggu perkembangannya saja…

pic dari sini

Diposkan pada livinginjogja

Menjadi orang merdeka di Jogja



Menjelang peringatan kemerdekaan RI ke-62, aku teringat kembali saat menjadi panitia kampung setahun lalu di salah satu dusun di Maguwoharjo, Sleman. Begitu banyak kegiatan untuk menyambut hari bersejarah tersebut, ada kerja bakti, jalan santai, lomba anak-anak, dan acara puncaknya sendiri. Sayang sekali tahun ini belum sempat ikut meramaikan lagi di kampung baruku, maklum kemarin sempat lama absen sehingga tidak tahu perkembangan lingkungan.

Kalau sudah begini, terasa ada kekurangan secara kehidupan bersosialiasasi membutuhkan hal-hal seperti ini. Dan Jogja itu salah satu tempat di Indonesia yang mampu memberikan miliu (lingkungan) baik untuk belajar bermasyarakat. Minat “urbanis” untuk hijrah ke kota gudeg sejauh yang aku tahu, memberikan alasan demikian, selain sebagai wilayah yang sangat nyaman tentunya 😀

Menjadi orang merdeka di Jogja sangat memungkinkan, dalam artian tidak terkungkung dengan ego individulis sebagaimana di banyak kota besar lain. Yah, aku lebih suka mengatakan makna merdeka itu sebagai orang yang tidak kuper, peduli dengan sekitar, komunikasi yang lancar, dan baik dengan tetangga, hehehe…

Merdeka dalam artian bebas mengekspresikan ego kita seluas-luasnya tanpa mengindahkan peraturan, menurutku, secara tak sadar telah menjadikan kita justru terkungkung oleh batas ego kita. Berapa banyak orang yang sakit (terutama sakit psikis, bahkan tak jarang merembet ke penyakit fisik) secara memaknai kemerdekaan “sa’penak’e dewe” (semau gue).

Kalau anda datang ke Jogja, di titik manapun anda berhenti, insyaallah kesempatan untuk menjadi orang yang merdeka terbuka lebar 😀

Pic dari sini

Diposkan pada livinginjogja

Melestarikan becak…haruskah??



Becak!!
Dua suku kata ini melekat amat dalam di memoriku. Bukan apa-apa, melainkan transportas ajaib itu juga sempat mengisi relung hati terdalamku, :-b

Waktu kecilku di Kota Bengkalis (kota yang sekarang katanya termasuk salah satu kota kaya dan tercepat perkembangannya), sering banget menggunakan becak. Yah, becak di sana memang beda dikit dengan becak di Jogja. Kalo di Jogja kan supirnya ada di belakang penumpang, nah kalau di sana supirnya ada di samping. Klo supir di depan? mungkin cuma di Cina kali yaa, tapi itu seprtinya bukan jenis becak karena tidak dikayuh dengan kaki, tapi ditarik langsung oleh supirnya (secara aku sering lihat film Jet Lee..hehehe).

Cuma pas dah dewasa gini…kok ada rasa iba dan segan yang mendalam ketika harus “terpaksa” menaiki becak….
Iya, kalau terpaksa saja aku naik becak, bukan karena mahal dan lambatnya sih, tapi karena ga tega dengan pak supirnya yang bersimbah peluh dan ngos-ngosan 😦 Apalagi klo di Jogja kan supirnya ada di belakang, jadi seperti gimana gitu….
Pernah aku terpaksa naik becak, karena ga ada transport lain menuju suatu pedalaman, wah…wah…pak supirnya “mesakke” (kasihan). Udah jalanannya ga rata, naik turun, pake becek lagi… 😦 sebagai orang yang masih berperikebecakan :-b tentu aku turun dong, mengiringi tukang becak sampai jalannya mulus, bahkan harus membantu mendorong ketika jalanan mendaki…hehehe

Nah, berbicara pelestarian becak (terinspirasi oleh salah satu tulisan di Harian Kedaulatan Rakyat), ….aku pikir memang harus begitu. Di Jakarta saja ada pelestarian bajaj (yaa, maksudnya perlahan dikonversi menjadi bajaj berbahan bakar gas). Begitu juga seharusnya dengan becak, apalagi kalo ada jaminan kesejahteraan bagi supir becak oleh pemerintah, misalnya supir becak di gaji oleh pemerintah daerah (seperti supir bis trans Jakarta), tentu saja harus ditentukan trayeknya: mencakup batas jarak tempuh dan jurusannya, bobot penumpang, ketentuan tips/bonus, dan rotasi supir dan becaknya. Selain itu kalo becak lebih seragam wujudnya dan lebih “bersih”, misal diciptakan becak dari fiber glass, dengan ban tubeless, plus gear switcher, hehehe…

Ya, pokoknya aku dukunglah pelestaian becak di Jogjkarta ini 😀

Ada yang ingat lagu tentang becak??? (itu loh yang liriknya digubah oleh mahasiswa kalau lagi demonstrasi…)

Klo aku ingatnya: “Abang tukang becak…mari dong kemari…aku mau beli…loh..!!”
pic dari sini