Diposkan pada kontemplasi, korupsi

Antara Pamrih dan Gayus


Link (Shared from Pak Dono)

Seorang rekan baru saja menemukan tasnya yang semula tertinggal di kereta dalam perjalanan Virgin Train London-Manchester. Kebetulan saya waktu itu bepergian bersama teman ini dari London, jadi saya tahu betapa khawatir dan shock-nya si teman ini setelah sadar tasnya tertinggal di kereta api malam itu. Tas ransel itu berisi pasport, laptop dan sejumlah uang yang tidak sedikit. Malam itu juga kami telepon dan datang mengunjungi loket lost property di stasiun tujuan utama, dan juga bertanya pada manajer perusahaan kereta api yang ada di sana. Namun tidak ditemukan tanda-tanda dimana tas itu berada. Kereta api yang kami gunakan semula juga sudah tidak berada di stasiun itu, sudah pergi entah kemana.

Besok paginya, si teman ini menyambangi lagi stasiun kereta api itu untuk mencari tahu keberadaan tas yang berisi barang-barang yang penting itu. Bayangkan saja, pasport adalah identitas diri yang paling penting di negeri orang. Apalagi di dalamnya juga ada stiker visa yang mengijinkan si pemegang paspor untuk tinggal di negeri ini selama menjalankan studinya. Di dalam laptopnya juga mungkin berisi dokumen-dokumen penting bagi studi si teman. Jika sampai tidak ditemukan, pasport harus diganti, visa harus dibuat ulang, laptop harus direlakan, dan dokumen elektonik dalam laptop juga musnah. 

Setelah hampir putus asa dan pasrah kalau tasnya benar-benar tidak bisa ditemukan, tidak dinyana selang beberapa hari kemudian seorang manajer perusahaan perawatan kereta api mengirim email berisi pemberitahuan akan ditemukannya tas yang hilang itu dalam kereta yang dulu kami naiki. Betapa lega dan senang hati sang teman ini ketika tahu tasnya ditemukan. Bahkan tas itu kemudian diantar ke kediamannya oleh salah satu personel British Transport Police, tanpa ada kekurangan atau kehilangan di dalamnya.

Hal ini mengingatkan pada pengalaman seorang kawan yang juga pernah mengalami hal serupa. Kebetulan saya juga dalam perjalanan bersama dia saat itu. Tasnya tertinggal di rak barang dalam gerbong kereta api di salah satu stasiun kota London. Saat kami sadar tasnya tertinggal di sana, si kereta sudah berjalan meninggalkan stasiun menuju pemberhentian selanjutnya. Segera saja kami laporkan kehilangan ini ke petugas stasiun dan si petugas segera mengontak rekannya yang bekerja di stasiun tujuan berikut dari rangkaian kereta api itu. Kami lalu diminta segera naik kereta api selanjutnya menuju stasiun berikut dan menemui petugas yang ada disana. Ternyata tas dan segenap isinya ditemukan dengan baik tanpa kehilangan satu hal pun. Pasport, laptop dan barang-barang penting lainnya masih di sana. Senang menerima tasnya masih lengkap, si teman ini memberikan beberapa kaus souvenir bagi si petugas stasiun, walau umumnya hal ini jarang dilakukan di tanah ratu Elizabeth ini. Dengan mengucapkan terima kasih tulus saja sudah cukup. Mereka hanya menjalankan tugasnya. Menemukan dan mengembalikan tas yang hilang itu adalah bagian dari tugasnya tanpa perlu minta imbalan apa-apa.

Saya sendiri juga pernah kehilangan serupa, namun bukan berupa tas atau laptop. Saya pernah tidak sengaja lupa meletakkan handphone di bangku kereta api, dan lupa mengambilnya kembali saat saya tiba di stasiun tujuan di dekat rumah. Tanpa sadar telah melupakan si handphone, saya berjalan pulang ke rumah pelan-pelan. Tidak disangka saat masuk rumah telepon rumah berdering, dan si penelpon di ujung telepon mengabarkan kalau dia menemukan telepon saya di atas kereta api. Si penelepon adalah kondektur kereta api yang saya naiki tadi. Ia menemukan nomor rumah saya karena dalam call register muncul entri berjudul ‘Home’, yang jelas menggambarkan bahwa nomor itu adalah nomor rumah kediaman saya. Lalu saya segera diminta kembali ke stasiun tempat saya turun tadi karena ia akan kembali melintasinya saat si kereta api kembali ke arah stasiun kota asal.

Tentu saja saya segera berlari ke stasiun dan menunggu si kereta kembali datang. Begitu datang, dengan melihat saya menunggu di platform stasiun ia langsung menyerahkan si handphone (yang saat itu masih cukup gres kondisinya) pada saya tanpa bertanya apa-apa. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus lalu ia segera masuk kembali ke dalam kereta api untuk meneruskan pekerjaan dan perjalanannya.

Dari ketiga pengalaman pribadi di atas, saya merasa tidak ada pamrih pada ketiga pihak yang membantu menemukan barang-barang hilang itu. Mereka hanya menjalankan tugasnya dengan baik. Jangan sangka mereka tidak butuh uang, karena saya tahu juga sebenarnya gaji mereka-mereka ini tidak besar-besar amat. Memang secara nominal gaji pegawai di Inggris relatif lebih besar dibanding gaji di Indonesia, tapi pengeluarannya juga besar jadi sebenarnya ujung-ujungnya sama saja.

Lalu saya bayangkan pengalaman-pengalaman ini pada beberapa cerita teman-teman lain khususnya ketika masih di Indonesia. Biasanya, kalau kita ketinggalan sebuah barang berharga di kendaraan umum, kita tidak bisa harapkan bisa menemukan lagi barang-barang itu, atau setidaknya jika bisa ditemukan kembali ada yang hilang atau tidak lengkap. Kadang juga si penemu barang meminta imbalan baik secara terang-terangan maupun terselubung halus. Penemu kebanyakan berpamrih saat mengembalikan barang temuannya.

Apalagi jika kita sambungkan ini pada kasus Gayus yang sedang hangat diberitakan di media massa Indonesia. Gayus adalah pegawai negeri yang berurusan dengan pengurusan pajak beberapa perusahaan besar. Saat selesai membantu pengurusan pajak perusahaan-perusahaan itu, ia lalu menerima uang terima kasih dalam jumlah yang aduhai. Mulai dari $500 ribu, $1 juta, sampai $2 juta. Semua ini didapat ekstra dari pihak yang ‘berterima kasih’ atas jerih payah kerjanya.Tidak heran kemudian diketahui bahwa si Gayus ini, dalam usia yang relatif muda (30 tahun), ada uang sejumlah 25 milyar rupiah dalam rekening2nya, dan harta jenis lain dalam safe deposit box seharga 74 milyar!

Sebagai pegawai departemen keuangan, Gayus sudah menerima gaji dari rekening pemerintah untuk menjalankan tugasnya membantu para wajib pajak itu. Jadi, ucapan ‘terima kasih’ berupa uang ini sebenarnya adalah penerimaan yang tidak bisa dibenarkan alias gratifikasi. Apalagi gaji pegawai di departemen keuangan jumlahnya relatif memadai, jauh lebih besar dibanding pegawai negeri sektor lainnya.

Gayus tentu tidak sendirian. Dulu saya sering heran kalau bepergian ke kompleks perumahan pejabat pertanahan, perpajakan, atau kejaksaaan. Maaf-maaf saja, di sana mudah kita lihat rumah-rumah perkasa dan mentereng yang rasanya tidak sesuai dengan besar pendapatan sebagai pegawai negeri. Darimana sumber dana untuk membangun rumah-rumah keren itu? Mudah-mudahan sih bukan seperti apa yang Gayus lakukan. Tapi sangat sulit bagi saya untuk tidak berprasangka buruk pada pemilik rumah-rumah itu. Tapi jangan su’udzon lah yaw 😀

Diposkan pada tak terkategorisasi

Ga ikut sholat Jumat. karena hujan….


Diposkan pada tak terkategorisasi

"Batuk berdahak keluar darah segar dikira leukemia…", kesimpulan seorang pasien yang cari literatur diinternet :-D Gampang amat kalau begitu untuk jadi dokter, hehe….


Diposkan pada kesehatan, obat, tips

Tips – Resep Awet Muda I


Rating: ★★★★★
Category: Other

Pic dari sini

“Forgiveness research” atau penelitian tentang perilaku memaafkan termasuk bidang yang kini banyak diteliti ilmuwan di sejumlah bidang keilmuan seperti kedokteran, psikologi dan kesehatan. Hal ini karena sikap memaafkan ternyata memiliki pengaruh terhadap kesehatan jiwa raga, maupun hubungan antar-manusia.

Jurnal ilmiah EXPLORE (The Journal of Science and Healing), edisi Januari/Februari 2008, Vol. 4, No. 1 menurunkan rangkuman berjudul “New Forgiveness Research Looks at its Effect on Others” (Penelitian Baru tentang Memaafkan Mengkaji Dampaknya pada Orang Lain).

Dipaparkan pula bahwa berlimpah bukti telah menunjukkan perilaku memaafkan mendatangkan manfaat kesehatan bagi orang yang memaafkan. Lebih jauh dari itu, penelitian terbaru mengisyaratkan pula bahwa pengaruh memaafkan ternyata juga berimbas baik pada kehidupan orang yang dimaafkan.

Worthington Jr, pakar psikologi di Virginia Commonwealth University, AS, dkk merangkum kaitan antara memaafkan dan kesehatan. Dalam karya ilmiahnya, “Forgiveness in Health Research and Medical Practice” (Memaafkan dalam Penelitian Kesehatan dan Praktek Kedokteran), di jurnal Explore, Mei 2005, Vol.1, No. 3, Worthington dkk memaparkan dampak sikap memaafkan terhadap kesehatan jiwa raga, dan penggunaan “obat memaafkan” dalam penanganan pasien.

Memaafkan dan Kesehatan

Penelitian menggunakan teknologi canggih pencitraan otak seperti tomografi emisi positron dan pencitraan resonansi magnetik fungsional berhasil mengungkap perbedaan pola gambar otak orang yang memaafkan dan yang tidak memaafkan.

Orang yang tidak memaafkan terkait erat dengan sikap marah, yang berdampak pada penurunan fungsi kekebalan tubuh. Mereka yang tidak memaafkan memiliki aktifitas otak yang sama dengan otak orang yang sedang stres, marah, dan melakukan penyerangan (agresif).

Demikian pula, ada ketidaksamaan aktifitas hormon dan keadaan darah si pemaaf dibandingkan dengan si pendendam atau si pemarah. Pola hormon dan komposisi zat kimia dalam darah orang yang tidak memaafkan bersesuaian dengan pola hormon emosi negatif yang terkait dengan keadaan stres. Sikap tidak memaafkan cenderung mengarah pada tingkat kekentalan darah yang lebih tinggi. Keadaan hormon dan darah sebagaimana dipicu sikap tidak memaafkan ini berdampak buruk pada kesehatan.

Raut wajah, daya hantar kulit, dan detak jantung termasuk yang juga diteliti ilmuwan dalam kaitannya dengan sikap memaafkan. Sikap tidak memaafkan memiliki tingkat penegangan otot alis mata lebih tinggi, daya hantar kulit lebih tinggi dan tekanan darah lebih tinggi. Sebaliknya, sikap memaafkan meningkatkan pemulihan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Kesimpulannya, sikap tidak mau memaafkan yang sangat parah dapat berdampak buruk pada kesehatan dengan membiarkan keberadaan stres dalam diri orang tersebut. Hal ini akan memperhebat reaksi jantung dan pembuluh darah di saat sang penderita mengingat peristiwa buruk yang dialaminya. Sebaliknya, sikap memaafkan berperan sebagai penyangga yang dapat menekan reaksi jantung dan pembuluh darah sekaligus memicu pemunculan tanggapan emosi positif yang menggantikan emosi negatif.

Kesehatan Jiwa

Selain kesehatan raga, orang yang memaafkan pihak yang mendzaliminya mengalami penurunan dalam hal mengingat-ingat peristiwa pahit tersebut. Dalam diri orang pemaaf, terjadi pula penurunan emosi kekesalan, rasa getir, benci, permusuhan, perasaan khawatir, marah dan depresi (murung).

Di samping itu, kajian ilmiah membuktikan bahwa memaafkan terkait erat dengan kemampuan orang dalam mengendalikan dirinya. Hilangnya pengendalian diri mengalami penurunan ketika orang memaafkan dan hal ini menghentikan dorongan untuk membalas dendam.

Kedzaliman

Harry M. Wallace dkk dari Department of Psychology, Trinity University, One Trinity place, San Antonio, AS menulis di Journal of Experimental Social Psychology, Vol 44, No. 2, March 2008, hal 453-460 dengan judul “Interpersonal consequences of forgiveness: Does forgiveness deter or encourage repeat offenses?” (Dampak Memaafkan terhadap Hubungan Antar-manusia: Apakah Memaafkan Mencegah atau Mendorong Kedzaliman yang Terulang?). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa menyatakan pemberian maaf biasanya menjadikan orang yang mendzalimi si pemaaf tersebut untuk tidak melakukan tindak kedzaliman serupa di masa mendatang.

Obat Memaafkan

Berdasarkan bukti berlimpah sikap memaafkan yang berdampak positif terhadap kesehatan jiwa raga, kini di sejumlah negara-negara maju telah dilakukan berbagai pelatihan menumbuhkan jiwa pemaaf dalam diri seseorang. Bahkan perilaku memaafkan ini mulai diujicobakan di dunia kesehatan dan kedokteran dalam penanganan pasien penderita sejumlah penyakit berbahaya.

Orang yang menderita resiko penyakit jantung koroner dan tekanan darah tinggi berpeluang mendapatkan manfaat dari sikap memaafkan. Telah dibuktikan bahwa 10 minggu pengobatan dengan menggunakan “sikap memaafkan” mengurangi gangguan kerusakan aliran darah otot jantung yang dipicu oleh sikap marah.

Rasa sakit kronis dapat diperparah dengan sikap marah dan kesal (dendam). Penelitian terhadap orang yang menderita sakit kronis pada punggung bawah menunjukkan bahwa rasa marah, sakit hati dan sakit yang dapat dirasakan secara inderawi lebih berkurang pada mereka dengan sikap pemaaf yang lebih besar.

Kampanye Memaafkan

Kini terdapat gerakan memaafkan yang dipimpin oleh Everett L. Worthington Jr., profesor psikologi di Virginia Commonwealth University, AS. Prof. Worthington adalah seorang psikolog klinis yang juga menjabat Direktur Marital Assessment, Therapy and Enrichment
Center (Pusat Penilaian, Pemulihan dan Pengokohan Perkawinan) di Universitas tersebut.

Gerakan yang bersitus di www.forgiving.org ini menyediakan informasi seputar berlimpah hasil penelitian seputar memanfaatkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu. Selain itu abstrak makalah konferensi ilmiah tentang memaafkan, nama para ilmuwan dan pusat-pusat penelitian ilmiah tentang memaafkan ini juga dapat dijumpai di situs ini.

Selain dampak baiknya pada kesehatan jasmani dan rohani, kaitan antara erat sikap memaafkan dengan hubungan antar-manusia, seperti hubungan suami istri, anggota keluarga, maupun anggota masyarakat juga telah banyak diteliti. Sikap memaafkan berpengaruh baik pada pemulihan hubungan antar-manusia tersebut.

“Memaafkan dapat mengobati seseorang, perkawinan, keluarga, masyarakat, dan bahkan segenap bangsa. Kami mengajak Anda bergabung dengan masyarakat-memaafkan kami dan menjadi bagian dari usaha yang semakin berkembang dalam rangka menyebarluaskan anjuran memaafkan ke seluruh dunia. Kami menawarkan situs ini untuk mempelajari penelitian ilmiah tentang memaafkan, dan berbagi pengalaman Anda sendiri tentang memaafkan, atau terilhami oleh orang lain. Memaafkan adalah sebuah keputusan dan sekaligus sebuah perubahan nyata dalam pengalaman emosi. Perubahan dalam emosi itu terkait erat dengan kesehatan raga dan jiwa yang lebih baik.” Demikian papar www.forgiving.org

Hikmah Ilahiah

Nampaknya, ilmu pengetahuan modern semakin menegaskan pentingnya anjuran memaafkan sebagaimana diajarkan agama. Di dalam Al Qur’an, Hadits maupun teladan Nabi Muhammad SAW, memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang mendzalimi merupakan perintah yang sangat kuat dianjurkan. Salah satu ayat berkenaan dengan memaafkan berbunyi:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi
barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat
jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-
orang zalim.”
(QS. Asy Syuuraa, 42:40).

Anda mau sehat?
Belajarlah memaafkan mulai hari ini.

Sumber tulisan dari sini

Diposkan pada inspiring, kesehatan, obat

Blog Keren Profesor Muda, penuh dengan ilmu obat-obatan


http://zulliesikawati.wordpress.com/about-me/

Tadi aku browsing tentang obat-obat psikotropik (http://id.wikipedia.org/wiki/Psikotropika) karena lagi kesel alias gusar belum mendapatkan tambahan obat dari resepku sendiri di beberapa apotek di sekitar rumah. Memang susah karena dibatasi. Apotek pada bilang obatnya ga ada. Ga tahu, ga ada itu maksudnya membohongi apa karena memang aku butuh banyak atau karena sediaannya generik, entahlah. Tapi memang obat-obatan tersebut masuk kategori keras dan beredar terbatas, karena bisa disalahgunakan.

Nah, dari iseng itu malah ketemu blog keren seorang profesor muda dari UGM dan aku belum pernah ketemu orangnya. Isi blognya luar biasa, banyak ilmunya deh…

Ini aku kutipkan profil beliau dari blognya sendiri.

Nama saya Zullies Ikawati. Saya lahir di Purwokerto. Masa kecil sampai remaja saya habiskan di Purwokerto, di SD Santa Maria, SMP Negeri 1, dan SMA Negeri 1 Purwokerto. Meraih gelar S1 di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada tahun 1992, di tempat yang sama, saya meraih gelar apoteker pada tahun 1993. Sejak itu, saya bergabung di almamater sebagai staf pengajar hingga sekarang. Gelar doktor saya peroleh tahun 2001 dari Ehime University School of Medicine Japan di bidang Farmakologi. Mulai 1 Oktober 2008, saya berhak menyandang gelar Guru Besar alias Profesor di bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik (begitu bunyi SK-nya). Sebuah cita-cita kecil untuk menjadi profesor pada usia 40 tahun telah tercapai, alhamdulillah….

Saat ini saya masih aktif mengajar beberapa mata kuliah di Fakultas Farmasi UGM baik di tingkat S1, S2, maupun S3, seperti Farmakologi Dasar, Farmakologi Molekuler, Farmakoterapi Sistem Saraf, Farmakoterapi Sistem Pernafasan, dan Farmasi Klinik; serta membimbing skripsi, thesis dan disertasi mahasiswa S1, S2 dan S3. Saya juga (pernah) mengajar di Fakultas Farmasi beberapa universitas swasta, antara lain Universitas Islam Indonesia (UII) Yogya, Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS), Universitas Setia Budi Surakarta, STIFAR dan Universitas Wahid Hasyim di Semarang.

Periode ini saya menjadi Pengelola Program Pendidikan S2 Magister Farmasi Klinik di Fakultas Farmasi UGM (silakan kunjungi http://mfk.farmasi.ugm.ac.id ). Di sela-sela kesibukan tadi, saya mencoba menyusun buku (lihat halaman My books). Buku pertama saya yang berjudul “Pengantar Farmakologi Molekuler” telah diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press tahun 2006, dan telah dicetak ulang tahun 2008. Buku kedua yaitu “Farmakoterapi Penyakit Sistem Pernafasan” diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Adipura Yogyakarta pada tahun 2007. Buku ketiga tentang ”Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya “ yang ditulis bersama Hartati Nurwijaya telah diterbitkan oleh Penerbit Elexmedia Computindo bulan Oktober 2009, mudah-mudahan dapat diterima oleh masyarakat luas. Buku keempat dan lima yang masing-masing berjudul “Cerdas Mengenali Obat” dan “Resep Hidup Sehat” sudah diterbitkan PT Kanisius pada tahun 2010 ini. Buku ke-enam yang berjudul “Farmakoterapi Penyakit Sistem Syaraf” sedang dalam proses penerbitan oleh PT Pustaka Adipura, Yogyakarta. Semoga bisa segera dinikmati.

Diposkan pada tak terkategorisasi

Ditanya lagi: Maaf, Dok, boleh tanya, umurnya berapa ya? *penasaran seorang mahasiswa


Diposkan pada jalan jalan

Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta


Waktu ke Jakarta kemarin saat mau melihat dan merawat anakku yang sakit, ga terlalu terlihat kecanggihan terminal 3 ini. Tapiii, pas mau pulang ke Jogja, baru deh kerasa suasana OK-nya. Desain minimalis, futuristik, serasa bukan di Indonesia :-b

Katanya terminal ini bisa menampung 20 juta penumpang!

Diresmikan 28 April 2009 oleh Presiden SBY.

Sampai saat ini baru ditempati oleh Low Cost Carrier yaitu Air Asia dan Mandala. Harusnya segera penerbangan lain pindah ke terminal ini, biar lebih nyaman 🙂

T3 dibangun di atas lahan seluas 30.000 meter persegi dan menelan biaya Rp285 miliar.

Rencananya terminal ini terdiri atas satu bangunan utama dan lima sub-terminal (pier), masing-masing sub-terminal dapat menampung kurang lebih 4 juta penumpang per tahun. Tiap pier dikembangkan sebagai modern village bernuansa mal dengan meeting point dimana penumpang yang sudah check-in dan belum naik ke pesawat masih dapat berkumpul dengan pengantarnya.

Referensi:
http://www.jalanjajanhemat.com/2010/10/terminal-3-soekarno-hatta/
http://anjari.blogdetik.com/2010/05/06/terminal-3-yang-modern-dan-ramah-lingkungan/
http://www.adhi.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=182:terminal-3-of-soekarno-hatta-airport-&catid=115:featured-project&Itemid=69&lang=ind

Diposkan pada tak terkategorisasi

Mendadak harus ke Jakarta siang ini, karena si bungsu sakit parah, mohon doa ya…


Diposkan pada kesehatan, livinginjogja, olahraga

Usaha membakar lemak



Ini merupakan gerakan isolasi untuk otot dada.
Tujuan latihan: untuk mengembangkan ukuran dan definisi otot dada tengah.
Fly machine bukan merupakan pilihan yang baik untuk mengembangkan masa otot dada, tetapi sangat berguna untuk menciptakan definisi otot dada.

Alhamdulillah bisa (memulai komitmen) berolahraga lagi, meski jenis olahraga yang ini bukan selera utamaku (ga banyak paham tentang fitness, walau dulu pernah ikut 6 bulanan waktu masih mahasiswa). Karena manajemen waktu masih berantakan, yah… apa yang ada dimanfaatin dan dijalani dulu, yang penting usahanya bisa langgeng.

Ceritanya, kemarin sebelum berangkat kerja udah niat mau manfaatin fasilitas fitness di tempat kerja, jadi nyomot kaos seadanya buat ganti. Target tercapai. Selesai sholat isya dan jam kantor tutup pukul 20.00. Minta izin ke security buat menggunakan ruang fitness.

Lumayan bisa menyegarkan badan 1 jam. Gejala flu langsung hilang. Cukuplah untuk awalan, badan jadi segar dan otot rada kencang kembali, perutnya yang masih kendor, hehe… Apalagi sampai rumah mandi air hangat trus minum susu, mmhhh, berharap nyenyak tidur malam… (loh, bentar ya, dipublish dulu nih…)

Mudah-mudah usaha (kembali) untuk olah raga bisa konsisten minimal 3 kali seminggu 1-2 jam setiap kalinya.

Diposkan pada kesehatan, kontemplasi, rokok, salahkaprah

Kampanye anjuran merokok



Dengan modal 4000 zat kimia beracun dalam sebatang rokok, pakai semua cara buat membangun pabrik kimia pribadimu.

Silakan merokok sepuasnya yah…hehehe….

Enjoy aja!

Cuma tar, karbondioksida dan nikotin doang kok. 200 lebih zat berbahaya lainnya loe gak perlu tau, tapi rasain aja.

Masih banyak celah kok nyerah, tanya kenapa

Dengan modal 4000 zat kimia beracun dalam sebatang rokok, pakai semua cara buat membangun pabrik kimia pribadimu.

Nggak ada loe, nggak rame!

Tiap tahunnya sekitar 57.000 jiwa manusia berhasil rame-rame berhenti merokok di sini. Mau bergabung?

Sumber gambar:
http://fc00.deviantart.net/fs16/f/2007/145/f/b/PSA_lets_smoke1_by_chocoplay.jpg
http://fc00.deviantart.net/fs16/f/2007/145/c/2/PSA_Lets_Smoke3_by_chocoplay.jpg
http://fc00.deviantart.net/fs18/f/2007/145/2/3/PSA_Lets_Smoke2_by_chocoplay.jpg