Diposkan pada homo seksual, kesehatan, salahkaprah

Kenapa Laki-laki Normal Bisa Jadi Homoseks?


Maaf, masih malas untuk menulis, jadi masih hobi ngepek dari tempat lain, buat koleksi :-b

——————————–
Tanya:
Dok, apakah benar kecenderungan homoseksual adalah karena faktor gen? Sebab ada seorang laki-laki yang menjadi penyuka pria sejak usia 7 tahun, padahal dia tidak pernah sama sekali diperkosa, dipegang-pegang atau mendapatkan perlakuan tidak senonoh homoseks. Bahkan ia sangat laki-laki sekali dan tidak keperempuanan (tidak banci). Tidak pernah dididik untuk menjadi perempuan dengan bermain boneka atau masak-masakan. Terimakasih dok.

Samsul (Pria Lajang, 25 Tahun), southjkt@yahoo.com
Tinggi Badan 176 cm dan Berat Badan 73 kg

Jawaban:
Faktor-faktor yang secara pasti menentukan orientasi seksual manusia adalah salah satu bahan perdebatan paling hangat diantara para peneliti ilmu hayat dan ilmu kedokteran yang sampai sekarang belum berakhir.

Banyak bukti-bukti penelitian yang saling membantah satu sama lain. Perdebatan ini bertambah panas dengan keterkaitannya yang sangat erat dengan norma-norma sosial dan agama.

Bukti-bukti makin banyak menunjukkan kontribusi faktor-faktor genetik dalam menentukan orientasi seksual ini. Dalam kata lain, faktor-faktor genetik berperan dalam menjadikan seseorang homoseksual (penyuka sesama jenis) atau heteroseksual (penyuka lawan jenis).

Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak ada satupun dari bukti-bukti tersebut yang menunjukkan peran absolut faktor genetik. Artinya, faktor lingkungan juga memainkan peranan yang signifikan.

Jika faktor genetik memainkan peran absolut tentu studi kembar identik pada orang-orang homoseksual akan menemukan bahwa jika salah satu pada kembar identik menjadi homoseksual maka yang lainnya juga homoseksual.

Perlu diketahui, bahwa pada kembar identik, materi genetiknya (DNA) sama persis satu sama lainnya. Namun bukan ini yang terjadi. Terdapat variabilitas. Jika yang satu homoseksual, ternyata belum tentu yang lain juga homoseksual. Sehingga menjadi jelas, bahwa ada faktor non-genetik memainkan peranan.

Penelitian terbaru (2010) yang dilakukan diantara orang-orang kembar dengan perilaku homoseksual di Swedia menunjukkan hal ini. Penelitian tersebut memberi estimasi bahwa, pada laki-laki, faktor genetik memainkan 34-39 persen peranan dalam kejadian homoseksualitas, sementara 61-64 persen lagi dimainkan oleh faktor lingkungan yang spesifik individu.

Yang dimaksud dengan faktor lingkungan spesifik individu adalah faktor lingkungan dimana hanya orang tertentu saja yang terpapar. Faktor lingkungan ini ada yang bersifat sosial dan ada pula yang bersifat biologis.

dr. Teguh Haryo Sasongko, PhD
(hehe, kebetulan beliau ini kakak kelas ku beda 2 angkatan, mantan ketua BEM FK UGM, salah satu orang yang menjalani brain drain/hijrahnya para sarjana ke luar negeri)
Ahli Genetika Molekuler, (peneliti dan pengajar) di Human Genome Center, School of Medical Sciences, Universiti Sains Malaysia, 16150 Kubang Kerian, Kota Bharu Kelantan, Malaysia.

Sumber: Detik Health
Gambar dari sini

Diposkan pada kesehatan, kontemplasi, rokok, salahkaprah

Kampanye anjuran merokok



Dengan modal 4000 zat kimia beracun dalam sebatang rokok, pakai semua cara buat membangun pabrik kimia pribadimu.

Silakan merokok sepuasnya yah…hehehe….

Enjoy aja!

Cuma tar, karbondioksida dan nikotin doang kok. 200 lebih zat berbahaya lainnya loe gak perlu tau, tapi rasain aja.

Masih banyak celah kok nyerah, tanya kenapa

Dengan modal 4000 zat kimia beracun dalam sebatang rokok, pakai semua cara buat membangun pabrik kimia pribadimu.

Nggak ada loe, nggak rame!

Tiap tahunnya sekitar 57.000 jiwa manusia berhasil rame-rame berhenti merokok di sini. Mau bergabung?

Sumber gambar:
http://fc00.deviantart.net/fs16/f/2007/145/f/b/PSA_lets_smoke1_by_chocoplay.jpg
http://fc00.deviantart.net/fs16/f/2007/145/c/2/PSA_Lets_Smoke3_by_chocoplay.jpg
http://fc00.deviantart.net/fs18/f/2007/145/2/3/PSA_Lets_Smoke2_by_chocoplay.jpg

Diposkan pada kontemplasi, pernik, salahkaprah

Bencana Alam: Cobaan atau Perbuatan Tangan Kita Sendiri?


Rating: ★★★★★
Category: Other

Sedang mencari jawaban yang lebih mendekati, ketemu artikel berikut. Sampai saat ini aku cukup puas dengan penjelasan “mengapa Allah mengatakan bahwa segala musibah adalah akibat dari ulah kita sendiri”. Walau pun beberapa kalimat masih bisa diperdebatkan. Wallahu a’lamu.
—————————————————————————————————————-

Berbagai bencana/musibah/bahaya menerpa Indonesia. Mulai dari tsunami, banjir, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, hingga perang antar suku atau tawuran antar anak sekolah/preman/penduduk.

Meski 80% rakyat Indonesia Muslim, namun banyak kemungkaran terjadi. Korupsi merajalela. Begitu pula pornografi. Dekat kedatangan bintang porno Miyabi, terjadi gempa Padang. Dekat kedatangan bintang porno Tera Patrick, terjadi letusan gunung Merapi dan Tsunami di kepulauan Mentawai. Minuman keras dan narkoba merajalela. Begitu pula dengan tawuran antar pelajar/penduduk. Aliran sesat bermunculan. Selain Ahmadiyah dan Liberal yang tak kunjung selesai, banyak pula orang yang mengaku sebagai Nabi dari Tukang Cukur hingga Mantan Pelatih Badminton. Kejahatan seperti penculikan anak dan pembunuhan merajalela. Dengan banyaknya kemaksiatan di depan kita yang nyaris berjalan tanpa pencegahan dari kita, bagaimana mungkin Allah bisa ridho kepada kita?

Umumnya orang di Indonesia menganggap itu sekedar ujian dari Allah sebagaimana ayat di bawah:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” [Al Baqarah 155-156]

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Ath Thagaabun 11]

Kita harus menerima cobaan itu dengan sabar dan mengucapkan kalimat istirja’ bahwa kita semua akan kembali kepada Allah. Insya Allah korban yang semasa hidupnya rajin beribadah kepada Allah, Saleh, dan sabar akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagai contoh Mbah Maridjan yang tewas karena awan panas gunung Merapi, dikabarkan masih shalat dan tewas dalam keadaan sujud. Insya Allah beliau meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah.

Meski demikian, dari berbagai ayat-ayat Allah di bawah, Allah menyatakan bahwa segala bencana/musibah/bahaya yang menimpa kita itu adalah karena perbuatan tangan kita sendiri. Mungkin ini menyakitkan bagi kita terutama yang terkena bencana. Tapi coba kita kaji firman Allah/ayat-ayat berikut:

“Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya” [Al Anfaal 51]

“Azab yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Ali ‘Imran 182]

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [Asy Syuura 30]

Ayat-ayat di atas cukup jelas. Bahwa segala musibah/bencana yang menimpa kita tak lepas dari perbuatan kita sendiri. Sebagai contoh, banjir Jakarta. Kita bisa saja menganggap itu cobaan dari Allah dan berhenti berpikir sampai di situ. Tapi jika kita tak mau belajar, bencana banjir akan terus berulang. Banjir di Jakarta tak lepas dari ulah manusia. Berbagai rawa yang merupakan tempat lari dan meresapnya genangan air hujan atau dari hulu seperti Rawa Badak, Rawa Mangun, Rawa Sari, dan sebagainya dirubah manusia jadi bangunan dan jalan. Bagi yang biasa melewati jalan Tol Sediyatmo Cengkareng tahun 1980-an tentu masih melihat banyak hamparan rawa yang luas di kiri kanan jalan sepanjang puluhan kilometer. Namun sekarang 95% sudah berubah jadi pabrik, perumahan, dan jalan. Jadi begitu hujan beberapa jam saja, Jakarta langsung tergenang banjir karena air tidak bisa meresap ke tanah atau terbuang ke rawa.
Tak jarang orang membangun rumah-rumah di pinggir kali. Bahkan ada pula yang menguruk kali untuk dijadikan rumah sehingga sebagai contoh Kali Ciliwung yang dulu lebarnya sekitar 65 meter lebih bisa susut tinggal 10 meter saja! Bahkan kurang. Sampah-sampah yang dibuang ke Kali Ciliwung mengakibatkan Kali yang dulunya dalam menjadi dangkal sehingga bisa terlihat dasar sungainya di musim kemarau. Hal ini mengakibatkan volume air hujan yang seharusnya muat ditampung Kali Ciliwung jadi tidak muat dan luber membanjiri perumahan warga. Tak jarang petugas penyapu jalanan membuang sampah hasil sapuannya ke dalam gorong-gorong saluran air yang ada di pinggir jalan. Akibatnya begitu banjir, saluran tersumbat dan timbul genangan air banjir.

Mungkin tidak semua begitu. Tapi karena perbuatan segelintir orang, semua bisa terkena banjir. Allah memperingatkan kita akan adanya siksa/bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja. Tapi juga bisa menimpa orang-orang yang beriman:

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” [Al Anfaal 25]

“Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan orang-orang tertentu, hingga masyarakat umum melihat kemunkaran di hadapan mereka sedang mereka mampu mengingkarinya tapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian, maka Allah akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu.” [HR. Ahmad dan Ath-Thabrani, dalam Al-Awsath].

Diriwayatkan, ada shahabat yang bertanya:

“Wahai Rasulullah apakah kami akan binasa, sedang di tengah kami ada orang-orang saleh?’ Nabi menjawab, ‘Ya, jika keburukan telah meluas.” [HR. Muslim].

Coba kita lihat Indonesia. Meski 80% rakyat Indonesia Muslim, namun banyak kemungkaran terjadi. Korupsi merajalela. Begitu pula pornografi. Dekat kedatangan bintang porno Miyabi, terjadi gempa Padang. Dekat kedatangan bintang porno Tera Patrick, terjadi letusan gunung Merapi dan Tsunami di kepulauan Mentawai. Minuman keras dan narkoba merajalela. Begitu pula dengan tawuran antar pelajar/penduduk. Dengan banyaknya kemaksiatan di depan kita yang nyaris berjalan tanpa pencegahan dari kita, bagaimana mungkin Allah bisa ridho kepada kita?

Belum lagi dengan ketidak-adilan hukum. Para koruptor trilyunan proses hukumnya begitu panjang dan bisa bebas. Sementara pencuri buah semangka, 2 buah pisang, atau pun 3 biji kopi hukumannya begitu cepat. Ada pula ulama yang ditangkap dengan tuduhan/stigma teroris. Padahal belum tentu dia teroris. Jika orang awam yang dizalimi saja doanya akan dikabulkan Allah tanpa tabir, apalagi jika ulama/ahli zikir yang dizalimi.

Para ahli mungkin berpendapat tsunami terjadi karena pergeseran lempeng bumi atau Gunung api meletus akibat magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Para ahli paling berhenti pada makhluk/ciptaan Allah. Pikiran mereka tidak sampai kepada penciptanya: Allah.

Bukankah Allah yang menciptakan lempeng bumi dan juga gunung berapi? Bukankah lempeng dan gunung berapi itu sejak dulu ada? Kenapa tidak meledak dari dulu, tahun kemarin, atau tahun sebelumnya?
Hendaknya kita sebagai orang yang beriman dan berpikir menganggap segala bencana yang terjadi merupakan teguran bagi kita untuk memperbaiki diri.
Bagi yang merasa beriman, jangan tersinggung. Sebab Nabi Nuh saja serta segelintir pengikutnya yang beriman, tetap kampung halamannya ditimpa azab oleh Allah karena mayoritas penduduknya durhaka terhadap Allah. Begitu pula dengan Nabi Luth dan pengikutnya saat mayoritas kaumnya durhaka.

Namun ada pelajaran di situ. Untuk menghadapi banjir, Nabi Nuh membangun perahu besar bersama pengikutnya. Saat banjir melanda, mereka naik perahu dan selamat. Cuma orang yang tak mau naik perahu yang celaka. Bisakah kita mengambil pelajaran dari sini? Adakah daerah yang saban 5-10 tahun kebanjiran menyediakan 1-2 perahu karet sehingga warganya bisa menyelamatkan diri dari banjir.

Ada pun Nabi Luth, saat akan terjadi bencana bersama pengikutnya melarikan diri dari kampung halamannya sehingga mereka selamat. Hanya orang yang tinggal saja yang kena azab berupa batu yang jatuh dari langit.

Nah 3 hari sebelum Gunung Merapi meletus, kera-kera sudah turun gunung. Esok harinya rusa-rusa menyusul. Jadi Allah sebetulnya sudah memperingatkan para penghuni gunung Merapi agar segera mengungsi sehingga mereka bisa selamat. Sebetulnya Allah member Gunung api yang sewaktu-waktu bisa meletus agar manusia tidak menjadikan gunung tersebut sebagai perumahan/jalan. Jika gunung tersebut akhirnya padat oleh perumahan seperti Jakarta, maka air hujan tidak bisa menyerap di situ. Akibatnya mata air dan sungai-sungai akan kering sehingga warga Yogyakarta, Magelang, Klaten, Boyolali dan tempat lain yang dekat gunung Merapi akan kesulitan air tawar yang bersih.

Sebagai contoh mata air Umbul Wadon (di dasar Kali Kuning), yang menjadi andalan warga lereng Gunung Merapi dan Perusahaan Air Minum Daerah Kabupaten Sleman dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Wilayah Gunung Merapi merupakan sumber bagi tiga DAS (daerah aliran sungai), yakni DAS Progo di bagian barat; DAS Opak di bagian selatan dan DAS Bengawan Solo di sebelah timur. Keseluruhan, terdapat sekitar 27 sungai di seputar Gunung Merapi yang mengalir ke tiga DAS tersebut (Wikipedia). Belum lagi ekosistem lainnya seperti hutan serta binatang-binatang yang ada di sana.

Begitu pula dengan gunung-gunung lainnya. Allah meminta kita agar tidak merusak:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” [Al A’raaf 56]

“…janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” [Al A’raaf 85]

“Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” [Al Baqarah 11]

“…Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [Al Baqarah 60]

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” [Al Baqarah 205]

Jadi jika kita merusak alam atau sengaja tinggal di tempat yang berbahaya misalnya rawan banjir, rawan longsor, rawan tsunami, rawan letusan gunung berapi seandainya terjadi bencana, siapakah yang salah?

“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” [Ar Ruum 36]

Di antara kesalahan itu adalah korupsi yang merajalela. Sehingga Indonesia yang merupakan Negara yang kaya penuh dengan minyak, gas, emas, perak, tembaga, tanah yang subur, laut yang luas dan penuh ikan, akhirnya justru tidak memiliki kekayaan itu karena para pejabat yang korup menyerahkannya kepada pihak asing yang mayoritas non Muslim. Akhirnya mayoritas rakyat Indonesia miskin sehingga mereka tidak bisa membangun rumah yang bebas banjir atau tahan gempa.

Jika seluruh rakyat Indonesia mencoba menghentikan korupsi sehingga rakyat Indonesia makmur dan bisa membangun rumah yang kuat di tempat yang aman, niscaya meski ada bencana, mayoritas rakyat Indonesia tetap selamat. Sebagai contoh Jepang yang negerinya jauh lebih rawan gempa, namun karena penduduknya makmur dan mampu membuat bangunan tahan gempa, dalam 20 tahun terakhir ini korban jiwa akibat gempa justru lebih sedikit daripada di Indonesia.

Oleh karena itu kita harus melakukan amar ma’ruf nahi munkar seperti melawan korupsi, pornografi, dan kejahatan lainnya. Dan hendaknya kita berdoa agar lepas dari hukuman Allah:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah 286]

Cobaan bukan Cuma bencana alam, tapi juga perang antar pelajar, preman, dan penduduk. Tawuran antar pelajar kerap kita saksikan di mana banyak yang berakhir dengan korban jiwa. Begitu pula perang antar preman/mafia dengan pedang dan pistol. Belum lagi konflik Ambon, Poso, Sampit, dan sebagainya:
“Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).” [Al An’aam 65]

Banyaknya bencana dan cobaan yang berulang-kali terjadi, sebagai contoh dalam minggu yang bersamaan saja ada di Minggu Terakhir Oktober 2010 ini selain Gunung Merapi yang meletus, Tsunami di Mentawai juga terjadi. Hendaknya kita (terutama penulis) bertobat dan mengambil pelajaran:

“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? [At Taubah 126]

Nabi Nuh dan Nabi Luth kampungnya dimusnahkan Allah karena meski ada Nabi, namun mayoritas rakyatnya maksiat kepada Allah. Di Indonesia korupsi, perzinahan, pornografi, aliran sesat merajalela. Bahkan banyak yang mengaku sebagai Nabi.

Bagaimana Allah ridho?

(salinan ini sudah diedit sebagian untuk menghindarkan SARA)

Sumber:
http://syiarislam.wordpress.com/2010/10/29/korupsi-dan-kemaksiatan-merajalela-bencana-alam-cobaan-atau-perbuatan-tangan-kita-sendiri/

Diposkan pada kesehatan, penyakit, salahkaprah, selingkuh

KHUSUS DEWASA: Seks liar itu nikmat, taaapiii…


Tadi sore ada telpon dari seorang teman akrab waktu sekolah dulu. Nama, umur dan identitas lain seperti daerah dan asal sekolah aku rahasiakan.

Dia minta waktu untuk ngobrol lama, ya, udah aku bilang OK, walau banyak antrian pasien. Lalu aku minta waktu ke petugas front office.

Dia mengatakan mau mengkonsultasikan temannya kepada aku. Katanya temannya itu, seorang pria, menghamili seorang janda kembang, yang sudah mempunyai tunangan.

Langsung aja aku balas: “bukan kamu yang menghamili?” *dengan nada bercanda
Spontan dijawab: “ya, enggalah Do!”
“OK, dilanjut…”, kataku.
“Jadi gimana ceritanya?” lanjutku.

“Iya, Do, temanku itu kan ceweknya beberapa hari yang lalu keguguran, perdarahan gitu…”
“Terus…”
“Nah, dia nanya, bahaya ga tuh, karena takut ceweknya itu kesakitan perutnya…? trus dia nanya harus periksa apa aja dan apa obatnya?”
“Hamilnya sudah berapa bulan?”
“Ga, tahu…”
“Menstruasi terakhir kapan…?”

“Mmm…Do, dokter itu wajib menjaga rahasia pasien ya…?”
“O, iya, jelas”, kataku.
“Trus tadi kok bisa kamu nuduh aku yang melakukan…?”
“Aku ga nuduh, karena aku tahu kamu yang melakukan kan? ayo ngaku aja… (ekspresiku cengengesan sambil ngakak)

“Hehe, OK-lah Do, memang aku…”
“OK, ga pa pa, dilanjut…”
“Tapi kamu jaga rahasia ya? kamu bisa kan ini hubungan aku sebagai pasien dan kamu sebagai dokter..?”
“OK…OK, ga pa pa, jangan khawatir, aku udah pengalaman, banyak kok yang kayak kamu…, OK lanjut aja…” (dalam hatiku tertawa….)
“Sebenarnya dia udah punya tunangan, Do, cuma dia dan aku sama-sama senang aja…, awalnya sih bisa jaga, tapi-lama-lama ya, gitu…keenakan. Awalnya aku tembak di luar. Selanjutnya aku coba tembak di dalam, kok ya keterusan….Kata dia ga apa-apa, mungkin dia pengalaman kali ya Do, dia setelah berhubungan loncat-loncat, katanya biar spermanya langsung keluar dan ga sempat masuk…, dari awal aku ga pernah pake pengaman. Tapi aku heran aja, kok sampai berkali-kali dia ga hamil ya..jadi aku khawatir jangan-jangan aku yang mandul, atau dia yang mandul…”

OK, jadi mens terakhirnya kapan…?”
“Ya, sekitar 3 minggu yang lalu…, trus aku kan takut dia kenapa-kenapa, ya, aku tahu itu dosalah, takut aku takut kenapa-kenapa, jadi aku harus gimana Do…?”
“Ya, yang jelas harus periksa dulu ke dokter kandungan, nanti dipastikan apa benar sudah keguguran apa belum…”

Terus dia tanya mengenai biaya. Aku jelaskan saja secara diplomatis dan perkiraan kemungkinan pemeriksaan sampai kemungkinan tindakan, obat, dan kisaran biayanya.

“Emang sudah berapa lama dan berapa kali kamu begitu?”, aku mulai iseng dan pengen tahu, hehe.
“Benar Do, seumur hidup aku, ini baru yang pertama kali (*sepertinya yang ini aku percaya dia jujur, hehe…). Aku begitu sama cewek itu bulan Mei kemarin, sebanyak 3 kali, terus bulan Juni ada 20 kali lah…, dan bulan seterusnya 3-4 hari sekali…” (*untung ga 3-4 kali sehari, hehe…kayak minum obat aja…). Nah, pas bulan puasa kemarin seringlah, nah, setelah lebaran, dia bilang dia ga mens, dan ada perubahan yang dia rasakan dalam dirinya, ya seperti orang hamil gitulah….”

“Di mana kamu begituan sama dia?
“Di rumahku…”

“Wah, kalau kamu udah sampai hamilin dia, harusnya kamu tanggung jawab dong…”, celetukku.
“(Kedengaran emosi nadanya) aku tanggung jawab Do, tapi kalau untuk nikahi dia kayaknya ga mungkin, dia kan udah punya tunangan, bentuk tanggung jawabku ya itu menanggung biaya periksa dan obat untuk dia itu! Lagipula sebenarnya awalnya dia ga bilang, itu aja aku paksa ngomong baru mau ngaku, kalau dia hamil…”

“OK, ya, segera aja kamu periksa, selesaikan secepatnya, setelah itu kamu cari cewek lain aja (*maksudku bukan untuk digitu’in lagi, hehe…), lain kali hati-hati kalau berbuat, semuanya ada akibatnya. Kamu pernah ga kepikiran kalau cewekmu itu ga jujur? apa ga mungkin dia sama tunangan juga begituan?”

“Jujur, Do, dia bilang dulu sebelum berhubungan sama aku, pernah sekali sama tunangannya, tapi cuma sekali itu kata dia…”
“Mmm, aku ga percaya sama cewekmu itu…”
“Kamu ga percaya?”
“Iya, aku dah sangat berpengalaman dengan yang beginian, banyak pasienku dulu yang akhirnya ngaku juga bahwa sebenarnya dia ga jujur atau bahkan sebenarnya dia tidak kenal siapa atau tahu persis pasangannya. Sulit percaya pada orang yang suka ngobral begitu…jangan-jangan sebenarnya dia hamil juga bukan berasal dari punyamu…”
“Gitu, ya…”
“Iya, pokoknya kamu harus hati-hati dan segera menjauh, kamu ga tahu kan klo dia ternyata berpenyakit, kasihan kamunya, ga sekarang penyakit itu akan mengenai kamu, bisa saja setahun atau beberapa tahun kemudian, atau bisa juga dalam beberapa bulan ke depan ini…”
“Ga langsung ketahuan ya, Do…?” (mulai keder kedengaran suaranya…)
“Iya, contohnya HIV, kamu mau kena penyakit itu, padahal pembawanya biasanya ga menunjukkan sakit apa-apa, penyakit menular seksual lainnya juga begitu, pembawanya kelihatan sehat-sehat aja…”
“Ga ada obatnya kalo HIV, Do?”
“Iya, cuma nunggu mati aja, kamu mau? ya, mudah-mudahan kamu ga kena, aku cuma mengingatkan aja, coba 3 bulan lagi kamu tes deh misal untuk tes HIV dan penyakit menular lain siapa tahu kena…”

“Ya, Do…ya, pokoknya aku udah memutuskan segera menjauhi cewek itu dan ga begituan lagi”
“OK, eh, sorry nih, pasiennya udah menumpuk banget, ntar lagi deh kamu bisa telpon aku lagi kalau masih butuh info atau mau tanya-tanya, udah ya…”
“OK, Do…”

——-
Penting: beberapa kalimat di atas sarat dengan kesalahan persepsi dalam kesehatan reproduksi yang berakibat fatal, mohon diperhatikan dan silakan ditanya kalau ga paham… 🙂

Pic dari sini

Diposkan pada curhat, dokter, salahkaprah

Pernahkan anda bekerja full melebihi 24 jam…?


Bukan untuk menyombongkan diri, tapi beginilah keadaanku sekarang, dan sebenarnya lebih banyak yang lebih parah dari aku. Hari ini dari kemarin saja, aku kerja sekitar 30 jam. Dan tidak sekali itu saja, setiap minggunya hampir selalu kena hal demikian, bukan lembur, tapi memang masih jam kerja. Padahal aku hanya memanfaatkan fasilitas 2 tempat kerja saja dari 3 tempat kerja yang diperbolehkan bagi seorang dokter. Pindah dari satu tempat kerja, ke tempat kerja yang lain.

Aku sih masih muda masih kuat, tetapi yang luar biasa ada temanku sekantor, udah kepala 4 lebih, masih kuat aja wara-wiri di tiga tempat praktik. Bahkan ada adik kelasku yang sampai melanggar sampai 5 tempat praktik. Ya, tapi itu, kalau seminar selalu ketiduran 😀

Kami sebenarnya tidak mau seperti itu tapi banyak hal yang menuntut para dokter seperti gila kerja. Karena kebutuhan material, karena kebutuhan permintaan pelayanan yang tidak bisa ditolak karena memang suatu tempat membutuhkan dokter, dan mungkin yang masih muda butuh kejar setoran buat biaya nikah, hehehe…

Aku sadar sebenarnya ini tidak “sehat”, dokter akan tidak waspada, contohnya seorang dokter bedah di tempatku, sudah 2 kali kecelakaan dengan mobilnya saat menyetir sendiri, karena kantuk yang luar biasa. Bahkan kecelakaannya yang paling parah membuat cacat wajah dan penglihatannya. Namun Allah masih memberikan kesempatan beliau untuk berbakti dan melayani. Sekarang beliau tidak pernah menyetir sendiri, pasti minta dijemput atau diantar dari rumahnya…

Seperti banyak hal yang ditulis tentang pandangan miring terhadap profesi dokter, sebenarnya banyak kisah-kisah heroik individual dokter yang tidak terekspos. Mulai dari kerasnya kondisi alam yang terpencil, bahaya dari berbagai kerusuhan etnis, sampai pada bahaya perang seperti yang dialami kakak kelasku waktu ikut jadi relawan di Kapal Mavi Marmara, kepunyaan Turki.

Aku sendiri juga berpengalaman dari berbagai keikutsertaan sebagai relawan bencana, jadi lumayan bisa merasakan kerasnya pengabdian profesi dokter. Kami berharap saja semua pihak memandang secara berimbang tentang profesi ini karena banyak hal yang melatarbelakangi mengapa terjadi hal-hal yang sebenarnya tidak seharusnya terjadi.

Seandainya penghasilan dokter itu layak, maka dokter-dokter dari instansi pemerintah tidak perlu mangkir dalam jam kerjanya dan nyambi di banyak tempat. Seandainya harga obat itu murah, maka dokter tidak akan banyak yang terjerumus dalam kolusi dengan pabrikan farmasi. Seandainya pendidikan dokter itu terjangkau maka akan lebih banyak melahirkan dokter yang tidak matre. Seandainya masyarakat bisa berpikir jernih, maka dokter-dokter tidak akan terbeban dengan stigma-stigma tertentu.

Sekedar curhat saja… 🙂

Diposkan pada kesehatan, penyakit, politikkesehatan, rokok, salah urus, salahkaprah

Seri ceramah Ramadlanku: berhenti merokok sebagai salah satu ciri kebaikan seorang muslim


[Ringkasan, dengan berbagai ralat]

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Ba’da tahmid dan shalawat…

Bapak, Ibu, Saudara yang dirahmati oleh Allah,

Puasa melatih kita untuk menjadi orang yang bertaqwa. Dan untuk menjadi orang yang bertaqwa itu adalah memupuk hal-hal yang baik dari diri kita dan meninggalkan hal-hal yang buruk.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasssalam bersabda: “Kebaikan Islam seseorang adalah manakala ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”” Hadits hasan diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan lain-lain.

Salah satu hal yang buruk atau tidak bermanfaat bagi diri kita adalah merokok. Meskinya tidak perlu fatwa dari MUI atau Muhammadiyah bila kita benar-benar menimbang kemanfaatan palsu dari rokok dan keburukan yang sangat nyata darinya.

Triliunan pendapatan negara dari cukai dan pajak rokok jauh lebih kecil bila dibanding biaya yang ditimbulkan dari akibat rokok tersebut. Taruhlah dalam sebulan kita menghabiskan 200 sampai 300 ribu untuk jatah rokok. Setahun bisa 3 juta sendiri. Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri selama merawat pasien di RS, sehingga tidak perlu lebih dahulu mengungkap hasil penelitian yang banyak tentang akibat buruk rokok. Contoh, bila seorang pasien dengan bronkitis atau radang saluran paru sebagai akibat ringan dari merokok, bila mondok saja minimal selama 4 hari, sudah menghabiskan ongkos 4 juta. Baru ini saja sudah melebihi biaya pembelian rokok kita selama setahun. Apalagi kasus yang lain seperti penyakit jantung, stroke, kanker nasofaring dan paru?

Fakta mengejutkan datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 yang mencatat angka belanja rokok pada masyarakat miskin menempati urutan kedua kebutuhan bahan pokok setelah beras. Luar biasa. Angka yang melebihi 7% ini berada di atas angka pembelian telur, gula pasir, tempe, mie instan, tahu, dan kopi, yang hanya berada di bawah angka 4%.

Bisnis rokok banyak dikatakan berkontribusi besar pada negara dan memakmurkan masyarakat. Ini “fakta” yang menyesatkan. Keuntungan dan kemakmuran hanya didapat oleh petani pemilik lahan dan bos pabrik rokok. Maka saya salut dengan salah satu gubernur dari Jawa Tengah yang sudah memulai program konversi petani tembakau menjadi tanaman kopi. Kerugian akibat rokok diterima oleh sebagian besar masyarakat kita bahkan orang yang tidak merokok sekalipun. Dan orang yang tidak merokok ini memiliki risiko lebih besar terhadap bahaya rokok. Sehingga saya menghimbau kepada mereka yang masih belum bisa meninggalkan aktifitas merokok, ya mbok berusahalah untuk merokok secara “sehat”, tidak membawa orang lain seperti istrinya dan bayinya terkena akibatnya. Merokoklah pada tempat yang jauh dan sudah ditentukan bagi perokok. Dan sebisa mungkin segera berhenti, karena itu tidak ada kebaikannya sama sekali.

Rokok tidak adanya bedanya dengan narkoba yang membuat ketagihan dan sakaw bila sudah kecanduan. Fenomena susah berpikir, badan loyo, lidah pahit sebenarnya sama dengan tanda-tanda sakaw dalam derajat ringan, karena memang beberapa zat dalam rokok memicu ketergantungan.

Sayang sekali pemerintah kita masih belum berpihak dengan rakyatnya, mereka masih memikirkan keuntungan yang tidak seberapa dengan mengorbankan rakyat banyak. Ini terbukti dengan adanya kesepakatan peningkatan produksi rokok dengan perusahaan rokok sebanyak 265 milyar batang untuk tahun 2015. Coba kita bayangkan. Penduduk kita hampir berjumlah 250 juta. Bila semuanya merokok, maka setidaknya setiap hari, setiap orang di negara ini setidaknya membakar 3 batang rokok. Luar biasa. Kita benar-benar dibodohi oleh para pemilik saham rokok, yang notebene paling besar dimiliki oleh orang-orang asing.

Sekali lagi saya menghimbau kepada kita semua, dalam bulan yang penuh berkah ini, menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk meninggalkan rokok.
Mohon maaf bila ada kesalahan, semua kebenaran datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Billahit taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Diposkan pada dokter, kesehatan, politikkesehatan, salahkaprah, yankes

Kampanye No Puyer, Menyesatkan!


Entahlah, siapa yang lebih dahulu memulai kampanye anti pemakaian obat sediaan bubuk (puyer) ini. Dari awal memang sudah aneh saja melihat alasannya yang mengada-ada dan terkesan ada motif bisnis yang melatarbelakangi kampanye ini.

Sayangnya kampanye No Puyer ini sudah sangat menyebar di jagat internet beberapa tahun terakhir, dan di saat terakhir ini malah menjadi booming di media massa elektronik alias dunia pertelevisian dan media massa cetak alias koran.

Aku awalnya udah ga begitu “care” karena sangat kental kesan no evidence based medicine yang relevan dan substansial terhadap kampanye ini. Apalagi dengan jargon lain “Obat Puyer Membahayakan” justru ditangkap oleh orang awam sebagai sesuatu yang sangat menakutkan dan menjadi salah kaprah. Beberapa hari sebelum ini aku  mengikuti seminar yang di adakan oleh sebuah subbagian Ilmu Kesehatan Anak FK UGM (almamaterku), ketika ada peserta menanyakan tentang kampanye puyer ini. Di jawab oleh seorang senior spesialis anak: terlalu berlebihan, bukan puyernya yang salah, tetapi bagaimana prosedur dan etika peresepan obat dan mekanisme pembuatan puyer tersebut. Apalagi sekarang untuk konteks Indonesia tidak banyak obat tunggal  dalam sediaan non puyer, misal sediaan sirup yang bisa diperoleh.

Aku hanya menghimbau teman-teman jangan termakan kampanye no puyer yang menyesatkan ini. Sebagai panduan bagi orang tua ketika berobat ke dokter, jangan takut ketika dokter memberikan puyer. Tapi yang penting perhatikan obat apa saja yang diberikan, fungsinya, cara minumnya, dan reaksi sampingnya. Jika perlu mintalah salinan resep sehingga bila kontrol atau ke dokter lain, dapat dilihat riwayat pengobatannya.

Berikut aku lampirkan beberapa link bantahan terhadap kampanye No Puyer ini, dan beberapa link berisi tips bila harus menerima resep sediaan puyer:

Perdebatan Soal Puyer Tidak Pada Substansinya

Kontroversi Puyer, Membuat Masyarakat Bingung

YLKI: Konsumsi Obat Puyer Masih Dilematis

Puyer Dilarang, Obat Anak Bisa Mahal

IDI : Sesuai Prosedur, Obat Puyer Tak Masalah

—————————————————————————–
Klo gitu aku ikut-ikutan kampanye ah… 🙂

Puyer?? Siapa Takut!!

pic dari sini

Diposkan pada curhat, dokter, jogja under cover, kesehatan, kontemplasi, livinginjogja, salahkaprah

(Seharusnya) Berbahagialah penderita AIDS…


Satu lagi pasien pria dengan infeksi HIV meninggal hari ini di RS tempatku bekerja. Umurnya masih sangat muda, 30 tahun. Sangat berat ketika harus kuterangkan ke sang bapak tentang penyakit  anaknya yang mengantarkannya ke pintu maut tersebut. Stigma tentang penderita AIDS memang sangat berat, keluarga yang awalnya merasa cukup bersedih dengan kejadian itu akhirnya juga merasa sedang terkena aib yang sangat besar. “Sudah banyak orang yang tahu belum, dok?” sela bapaknya dengan cemas. “Jangan khawatir, pak, privasi pasien tetap kita jaga, hanya saya, perawat di sini, dan bapak yang tahu. Selanjutnya nanti terserah bapak bagaimana mau bicaranya dengan keluarga.”, kataku berdiplomasi.

Memang komplikasi AIDS dengan hadirnya penyakit oportunis pada pasien ini sudah termasuk berat, sudah terjadi infeksi pada otaknya yang mempengaruhi kejiwaannya, dan infeksi pada organ vital lainnya. Cuma sayangnya, baru saat mondok ini saja dia diketahui terinfeksi HIV. Yah, sungguh sayang…

Kenapa aku katakan sangat disayangkan?
Seperti teman-teman ketahui, masa inkubasi (masuknya penyebab penyakit sampai saat kelihatan gejala) untuk HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang, bisa tahunan, bahkan mencapai puluhan tahun. Sehingga tentu saja sangat disayangkan ketika baru diketahui setelah mencapai fase terminal AIDS sendiri. Aku ga begitu tahu pasti darimana sang pasien terinfeksi. Cuma ada petunjuk: si pasien memiliki tato yang banyak, dan selama beberapa tahun yang lalu bekerja sebagai driver di wilayah ibu kota. Sudah pisah dari istri sejak empat tahun yang lalu (mudah-mudahan istrinya ga kena infeksi…)

Sebagaimana jenis penyakit fatal lain yang bisa diramal usia hidupnya di dunia, tentulah dalam masa-masa menderita penyakit mematikan ini penderita dapat lebih berbuat yang lebih baik bagi dirinya dan orang lain. Bagi mereka yang merasa masa lalunya kelam (tidak semua penderita HIV adalah orang yang berlumuran dosa), sangat terbuka pintu taubat yang sebesar-besarnya. Sungguh “enak” sehali mereka itu… diberikan “peringatan” yang amat jelas oleh Sang Pencipta, agar bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum ajal menjelang…

Beruntunglah mereka…, yah…, beruntunglah mereka jika benar-benar paham ketika telah diberikan kesempatan emas itu, maka pergunakanlah kesempatan itu…

— kutuliskan jurnal ini dalam keadaan bersedih…. tambah sedih melihat pola kampanye penanggulangan HIV/AIDS yang sering salah arah…. 😦 so, mari bantu penderita AIDS menghadapi sisa hidupnya secara benar —

Pic dari sini

Diposkan pada curhat, livinginjogja, salahkaprah

PNS lebih OK?


“Wah, bayi swasta nih, ya… ooo, moga besok anak kedua ya…” (maksudnya: klo udah anak kedua aku sudah kerja di instansi negeri), celetuk seorang bidan puskesmas yang menerima anakku untuk diimunisasi. Itu setelah aku bilang, aku kerjanya di RS swasta. Sebuah “guyonan” yang menjengkelkan!! Tapi kupikir untuk apa melayani hal “kecil” itu, biarin aja…

Istriku aja ga lebih kurang lagi jengkelnya dari aku. “Wah, anak swasta nih ye…” diulanginya kata tersebut ke Ifa, anak kami.

Ga begitu ngerti aku, apa sih maksud si bidan ngomong begitu. Apa ini karena pas musim CPNS? 🙂 sehingga bidannya punya kesan tersendiri terhadap PNS? entahlah…

Klo yang aku pikirkan sih, mungkin bidan itu mengira swasta itu ga elit, ga dapat tunjangan kesehatan anak, sehingga sampai imunisasi anak aja ke puskesmas, padahal kan di mana-mana yang namanya imunisasi dasar itu gratis. Bahkan klo mau sih tinggal aku suntik sendiri aja si Ifa (seperti yang aku lakukan waktu imunisasi HiB pertama). Sama istri sudah dijelaskan pengennya imunisasi di tempat yang dekat aja dari rumah.
Klo perkiraanku benar, bidan itu salah besar. Justru kerja di swasta itu jauh lebih enak, kerja lebih semangat, gaji jelas lebih besar, tunjangan kesehatan keluarga dan hari tua? alhamdulillah di tempatku bekerja menjamin itu semua.

Istriku nanggapi juga: “Ya, memang gitu pendapat masyarakat awam…”
Ah, udahlah…malas membahas lebih lanjut. Yang penting akunya memang dari dulu ga berminat jadi “antek” pemerintah kok… 🙂

Diposkan pada dokter, livinginjogja, salahkaprah

Fitnah menjadi seorang dokter…. bagian ke-1


Sebuah fragmen kehidupanku: (mohon maaf klo bahasanya campur aduk, sampe sekarang aku terus terang belum mahir bahasa Jawa…hehehe…)

“Kowe ki piye toh, Do, ra gelem praktek? mesak’e ilmune ilang mengko”
“Kan nek wis praktek ngko oleh SIP toh, kan iso praktek neng umah…”
(salah paham pertama)

(kamu ini gimana toh, Do, ga mau praktek? sayang kan ilmunya ntar ilang)
(Kalo kamu dah praktek kan nanti dapat SIP, jadi bisa praktek di rumah…)

“Aku ki duwe cita-cita, anakku sesok tak arepke dadi dokter”
“Lah, ngopo mba? sesok-sesok ki dadi dokter ki luwih angel loh, peraturan prakteke mesti luwih akeh, dokter itu makin digencet”
“Soale dokter iku, semelarat-melarate dokter, isih luwih terpandang neng masyarakat, opa maneh neng daerah…wooo, batine mesti akeh…”
(salah paham kedua)

(aku punya cita-cita, anakku besok aku harapkan jadi dokter)
(kenapa mba? besok-besok ini jadi dokter akan lebih sulit loh, peraturan prakteknya pasti akan makin sulit, dokter semakin digencet)
(soalnya dokter itu kan, sekere-kerenya dokter, masih lebih terpandang di masyarakat, apalagi klo di daerah….wooo, hartanya mesti banyak…)

“Mas, Dodo, tolong mba dibantu, dicarikan teman mas Dodo yang dokter ya, buat kemenakan mba…” <– untung aku udah nikah :-))
“Do, ada ga teman doktermu yang cewek, bisa dong aku dicomblangi…satu aja….” (salah paham ketiga)
“Kenapa harus cari yang dokter toh..?”
“Ya, dari keluargaku pengennya begitu, blum ada yang dokter, ntar klo ada yang sakit kan ada yang ngobati…” (salah paham keempat)

halah…halah…

…..masih banyak yang lainnya…. 🙂