Diposkan pada baksos, dokter, kesehatan, penyakit, salahkaprah, yankes

Pengobatan Gratis, Masihkah Perlu?


Sabtu, 14 Mei lalu, saya sempat menyaksikan acara baru reality show Trans TV, Pukul 18.30-19.00: “Pengabdian” yang menghadirkan sosok dr. Irma Rismayanty, dokter muda lulusan FK UI yang menerobos daerah terpencil di wilayah Serang, Banten untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat temporer selama beberapa hari. Dia menginap di sana dan melakukan beberapa kegiatan seperti pengobatan gratis dan penyuluhan.

Sebenarnya saya dulu sering sekali mengadakan dan ikut acara-acara bakti sosial pengobatan gratis begitu. Apalagi kalau keluar kota, pasti saya semangat, soalnya sekalian jalan-jalan, hehehe…

Berbicara pengobatan gratis, memang lebih mudah dalam penyelenggaraannya, namun tidak semudah dalam melihat efek jangka panjangnya terhadap kegiatan tersebut. Berdasarkan pengamatan saya pengobatan gratis sering tidak bersifat kontinyu alias berkesinambungan dan jarang disertai dengan penyuluhan yang efektif serta advokasi bagi masyarakat awam untuk lebih membuka wawasan mereka.

Contoh lain kasus pengungsi Merapi di shelter-shelter ternyata sebagian besar dari survey tim saya, mereka sudah jenuh dengan yang namanya pengobatan massal yang gratis. Obat-obatan mahal tidak diminum dan dibiarkan saja tergeletak di rumah masing-masing. Obat-obat jenis antibiotik sudah jelas tidak akan sesuai perlakuannya sehingga justru akan mempertinggi risiko kekebalan terhadap kuman penyakit. Obat-obat penyakit kronik seperti hipertensi dan diabetes bahkan dapat semakin parah bila peserta pengobatan massal tidak punya kesadaran untuk melanjutkan pengobatan di pusat pelayanan kesehatan terdekat seperti puskesmas.

Tapi, apakah pengobatan massal dan gratis tidak diperlukan lagi? Tergantung, bila untuk fase bencana yang akut alias untuk jangka waktu yang singkat, maka masih sangat diperlukan karena memang ada keterbatasan akses pengobatan. Untuk daerah terpencil memang juga masih sangat perlu. Tentu saja sangat perlu diiringi dengan advokasi kepada para pemegang kebijakan untuk mau turun tangan dan memberikan tindak lanjut terhadap mereka yang menjadi kaum marjinal ini. Selain itu perlu upaya terus-terusan untuk menyadarkan masyarakat kita tentang pentingnya kondisi sehat dan kemampuan untuk mendeteksi secara dini penyakit-penyakit yang berbahaya.

Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Sex Edu – Keputihan 2 Tahun


Hari ini saya menemukan pasien yang luar biasa lagi. Lagi-lagi seorang mahasiswi dengan kerudungnya yang cukup rapi, datang mengeluhkan menderita keputihan (leukorea) selama 2 tahun. Riwayat hubungan seksual pertama kali sejak 1 tahun sebelum periksa ke saya. Jadi dia sudah mengalami keputihan sebelum perawannya direnggut dengan sukarela oleh teman akrabnya sendiri (bukan pacar) saat berumur 17 tahun. Sekarang dia berumur 18 tahun.
Sebelum pernah melakukan kontak seksual, saya memperkirakan keputihannya masih dalam batas normal karena tidak berbau, tidak gatal, dan masih bening. Masalah timbul setelah dia melakukan hubungan seksual dengan cara yang sangat-sangat tidak aman. Jarang menggunakan kondom, jadi teman prianya melakukan coitus interruptus atau senggama terputus atau azl. Sama seperti kasus yang saya tulis sebelumnya bahwa perilaku ini tetap berisiko untuk menimbulkan kehamilan. Apalagi ketika saya tanyakan mengenai kegiatan gonta-ganti pasangan. Ternyata si mahasiswi mengetahui bahwa teman prianya itu juga melakukannya dengan perempuan lain. Lalu apakah mahasiswi ini melakukan dengan 1 teman prianya saja? Ternyata juga tidak. Dia mengaku berhubungan dengan 2 pria saja.
Lalu dia menanyakan ke saya: “Apa saya mungkin terkena kanker leher rahim?” Tentu saja saya jawab: “Sangat bisa”
Karena saya penasaran, tidak langsung saya rujuk ke dokter obsgin seperti kasus sebelumnya. Tapi saya cek dulu ke laboratorium untuk pap smear dan cek kandungan dari cairan vaginanya. Mudah-mudahan kisah ini bersambung untuk menjadi pelajaran bagi kita bersama.
Diposkan pada dokter, kesehatan, penyakit

Sex Edu – Keputihan 2 Tahun


Hari ini saya menemukan pasien yang luar biasa lagi. Lagi-lagi seorang mahasiswi dengan kerudungnya yang cukup rapi, datang mengeluhkan menderita keputihan (leukorea) selama 2 tahun. Riwayat hubungan seksual pertama kali sejak 1 tahun sebelum periksa ke saya. Jadi dia sudah mengalami keputihan sebelum perawannya direnggut dengan sukarela oleh teman akrabnya sendiri (bukan pacar) saat berumur 17 tahun. Sekarang dia berumur 18 tahun.
Sebelum pernah melakukan kontak seksual, saya memperkirakan keputihannya masih dalam batas normal karena tidak berbau, tidak gatal, dan masih bening. Masalah timbul setelah dia melakukan hubungan seksual dengan cara yang sangat-sangat tidak aman. Jarang menggunakan kondom, jadi teman prianya melakukan coitus interruptus atau senggama terputus atau azl. Sama seperti
kasus yang saya tulis sebelumnya bahwa perilaku ini tetap berisiko untuk menimbulkan kehamilan. Apalagi ketika saya tanyakan mengenai kegiatan gonta-ganti pasangan. Ternyata si mahasiswi mengetahui bahwa teman prianya itu juga melakukannya dengan perempuan lain. Lalu apakah mahasiswi ini melakukan dengan 1 teman prianya saja? Ternyata juga tidak. Dia mengaku berhubungan dengan 2 pria saja.
Lalu dia menanyakan ke saya: “Apa saya mungkin terkena kanker leher rahim?” Tentu saja saya jawab: “Sangat bisa”
Karena saya penasaran, tidak langsung saya rujuk ke dokter obsgin
seperti kasus sebelumnya. Tapi saya cek dulu ke laboratorium untuk pap smear dan cek kandungan dari cairan vaginanya. Mudah-mudahan kisah ini bersambung untuk menjadi pelajaran bagi kita bersama.
Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Sex Edu – Ketagihan


Saya mau bertanya kepada laki-laki MPers di sini, terutama yang sudah menikah. Berapa kali berhubungan suami istri dalam waktu 1 minggu? Ga perlu dijawab deh, cukup disimpan di hati 🙂 Trus saya mau nanya lagi: biasanya yang ngajak berhubungan laki-laki (suami) duluan atau perempuan (istri) duluan? Lagi-lagi ga usah dijawab deh, entar melebar kemana-mana, hehehe….

Maksud saya adalah ingin berbagi tentang (lagi-lagi) tentang pergaulan remaja zaman sekarang yang gimana gitu, dibilang kebablasan, ya memang kebablasan…

Hari ini saya dapat pasien dengan kasus yang menarik hati (bukan pasiennya yang menarik hati saya, tapi kasusnya)

Seorang mahasiswi kedokteran berusia 19 tahun datang untuk curhat masalah yang dihadapinya. Dia mengeluhkan keluar flek/cairan kecoklatan dan bergumpal sejak 6 hari yang lalu. Pernah mengalami hal yang sama 1/2 tahun yang lalu.

Saya sendiri belum tahu pasti itu apa. Tapi yang jelas hasil wawancara medis yang cukup rinci saya mengetahui, dia baru saja 1 minggu yang lalu melakukan hubungan seksual dengan pacarnya tanpa memakai kondom, alias sperma dikeluarkan di luar vagina. Pertama kali berhubungan umur 16 tahun masih dengan pacar yang sama. Perbuatan terlarang tersebut dilakukan di rumah pacarnya. Memang ini belum bisa ditentukan dia hamil atau tidak karena belum sampai kepada masa dia mengalami telat menstruasi. Tes hormon via urin pun masih menunjukkan hasil negatif. Pasien itu akhirnya saya rujuk saja ke dokter ahli obstetri dan ginekologi (kebidanan dan onderdil reproduksi wanita).

Saya bukan mau membahas kasus itu secara mendetail, tapi ingin memaparkan edukasi yang saya berikan kepada mahasiswi itu. Sehingga beberapa pertanyaan iseng, saya ajukan kepada mahasiswi itu.

“Emang enak berhubungan itu mba?” Tentu saja dia ga mau jawablah, hehehe…cuma mesem aja.

“Trus yang ngajak berhubungan siapa?” Dijawab: “Ya, pacar saya, Dok”

“Biasanya kalo berhubungan, paling banyak dalam sebulan berapa kali? Dijawab:”Jarang Dok, kita berhubungan pada tanggal-tanggal tertentu, paling banyak 3 kali dalam sebulan…”

Ini edukasi saya:
“Maaf ya mba, bukan maksud memprovokasi ya…
Ya, kalo masalah agama ya tahu sendirilah…
Mba nih anak kedokteran kan?
Tahu ga, klo ngeluarin sperma di luar itu belum tentu ga bisa hamil?
Mba tahu ga klo pacar mba itu setia, ga berhubungan atau jajan dengan perempuan lain…? Biasanya kalo orang, terutama cowok kalo sudah pernah berhubungan seks, dia akan merasa ketagihan. Ga cukup itu kalo cuma 3 kali dalam sebulan. Trus, apa mba ga khawatir pacar mba itu berhubungan dengan cewek lain? Iya kalo cewek lain itu bersih, lah kalo pacar mba jajan dan kena penyakit, entar malah mba kena getahnya juga kan…? belum lagi nanti kalo hamil, lalu ditinggal sama pacar mba…lalu mba mikir untuk aborsi dengan taruhan nyawa mba sendiri…”

Yang sempat membuat saya mangkel adalah, dia ngomong: “Saya ga takut kalo hamilnya Dok, tapi yang lebih ngeri dari itu, apa saya kemungkinan kena HPV (Human Papilloma Virus) yang menyebabkan kanker serviks?”

Saya pikir: apa dia ga ngerti ada yang lebih bahaya dari itu seperti HIV??

Bener-bener deh…mau ngomong apa lagi saya….?

Diposkan pada dokter, jogja under cover, livinginjogja, penyakit, salahkaprah

Jogja Under Cover III: Pentingnya pendidikan seksual yang benar



Pic dari sini


Banyaknya kasus penderita penyakit seksual dan kehamilan yang tak diinginkan oleh ABG dari usia sangat muda sampai tingkat mahasiswa, menjadikan aku begitu yakin akan pentingnya pendidikan seksual yang benar sejak anak-anak masih usia dini. Bahkan seharusnya kurikulum pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi sudah sangat mendesak diberlakukan di sekolah-sekolah. Kebanyakan bagi pelaku seks bebas/multipartner dan mereka yang ga begitu ngeh dengan perilaku berisiko lainnya terkesan sekali mereka tidak mengerti arti kesehatan reproduksi dan risiko-risiko berbahaya yang harus mereka terima.

Pengalamanku sendiri dan rekan sejawat di kantor terhadap kasus-kasus tersebut lumayan menggiriskan hati. Berikut aku akumulasikan saja beberapa kasusnya, beberapa sudah pernah aku tulis lengkap dan sering aku catatkan di status, waktu FB/fesbuk-ku masih hidup.

Misalnya, keperawanan hilang dari seorang mahasiswi karena  coba-coba dengan pacarnya, ngakunya sih cuma 1 kali saja melakukan hubungan seksual. Terus periksa untuk mengetahui apakah masih perawan atau tidak (aneh kan…), dan hamil atau tidak.

Lalu, seorang mahasiswa yang datang karena menderita sakit kelamin yaitu kencing nanah (uretritis gonorrhea) karena berhubungan seks dengan pacarnya (ngakunya pake pengaman dan pacarnya setia alias ga berhubungan dengan orang lain, bullshit! Siapa yang percaya dengan omongan orang suka ngeseks bebas?!) lalu setelah sembuh 8 bulan kemudian menderita kutil kelamin (condyloma acuminata) dan sudah di”bakar” (kauterisasi) di RS, lalu terkena jamur kulit (tinea cruris) di sekitar alat kelaminnya.

Lalu, yang miris, seorang mahasiswi muda, hamil 5 bulan, yang berencana mau menggugurkan kandungannya, dan mau ditinggalin sama pacarnya, ortunya juga belum tahu kalau dia hamil, duh…

Lalu, pasangan muda (belum nikah) datang periksa, eh, ga tahu klo si cewek hamil 7 bulan, lantas perut yang buncit itu selama itu dianggap apa?!

Lalu, seorang ABG perempuan bau kencur masih 12 tahun, hamil 3 bulan, datang dengan pacar (ternyata adik kelasnya) dan ortunya, meminta surat keterangan hamil untuk menikah di pengadilan agama, karena KUA tidak berani menikahkan karena masih di bawah umur.

Lalu, pasangan muda, pegawai cafe dugem yang cukup terkenal di Jogja, datang mengeluhkan karena masalah sakit kelamin juga, ditanya kapan nikahnya, malah cekikikan dan mengarang cerita bohong (dikira kita ga ngerti kalau mereka bohong apa?!)

Lalu, seorang mahasiswa yang mengaku gay, periksa dengan keluhan sakit juga pada kelaminnya yang ada “dua” itu, karena kadang dia jadi cowok, kadang jadi “cewek”. Ada juga mahasiswa lain yang main ke salah satu tempat lokalisasi terkenal di Jogja, kena sakit kelamin juga, ada juga mahasiswa  yang lain merasa ketakutan secara ada keluhan di sekitar mulutnya . Dia baru dikerja’in oleh seorang waria untuk melakukan kegiatan oral dan dibayar loh…

Lalu, seperti QN-ku barusan, seorang calon ibu muda 17 tahun yang MBA (married by accident), datang dengan pasangan yang imut-imut dan ibu kandungnya yang menurutku juga “gaul” (sama degan anaknya pake cat rambut pirang sebagian), dengan keluhan perut terasa kencang-kencang, padahal usia kehamilannya baru sekitar 8 bulan, ternyata dipake buat berhubungan seks dengan suami mudanya itu (padahal sebenarnya sebagian besar juga ga mengalami apa-apa bila berhubungan seks waktu hamil, entahlah…)

Lalu seorang mahasiswi cantik kayak artis, putih, imut, mungil, kalem, (sampai aku terkagum-kagum) mau periksa apakah dia hamil atau tidak, ternyata hamil, langsung cemberut dan cemas, dan ga pernah datang lagi… malu apa ya…

Lalu yang lucu, seorang mahasiswa, datang dengan kelamin lecet-lecet sampai berdarah, ternyata melakukan masturbasi secara serampangan, entahlah ga tau cara persisnya, ga aku gali lebih dalam.

Lalu, kasus yang paling gres, sampai keluar di koran lokal setengah nasional, tentang kasus pengguguran yang terjadi di toilet sebuah RS tetangga RS tempat aku kerja, oleh seorang perempuan masih SMP. Bukan pihak RS yang menggugurkan tetapi si pacar yang sebelumnya sudah memberikan ramuan-ramuan untuk menggugurkan janin tersebut.

Lalu, lalu…lalu… puluhan kasus lainnya… yang kalo mau diceritakan semua, bisa bosan dan muak membacanya. 🙂

Referensi sebelumnya:

Mahasiswi oh mahasiswi…Jogja Undercover versiku, bagian I

Jogja Undercover versiku, bagian II: Apakah harus EGP?

KHUSUS DEWASA: Seks liar itu nikmat, taaapiii…

Diposkan pada dokter, penyakit

Mata pancing nyangkut di kepala


Seorang anak laki-laki diantar Bapaknya ke UGD, tanggal 18 Desember lalu. Di kepalanya tertancap sebuah benda asing yang ternyata adalah sebuah mata pancing atau mata kail. Si anak bersama teman-temannya mancing ikan di sebuah sungai. Ga tahu jelasnya gimana, tiba-tiba temannya mengayunkan tongkat pancingnya, eh kok mata kailnya malah nyangkut di kepala si anak 

Mengevakuasi mata pancing tidaklah semudah yang dibayangkan, bagi anda yang hobi atau pernah memancing ikan, dibutuhkan usaha yang lebih untuk melepaskan mata pancing dari mulut seekor ikan, apalagi dengan ukuran kait yang besar. Mata pancing didesain agar mudah menancap, tetapi susah dilepaskan karena pada ujungnya terdapat duri/kait seperti pada mata tombak atau anak panah.

Teorinya sih, untuk melepaskan mata pancing ini dari kepala si anak, mata pancing tersebut di-bablas-kan (ditembuskan) lagi ke arah luar kulit kepala sehingga kait/durinya kelihatan. Nah, selanjutnya kaitnya tinggal dipotong. Bicara sih enak, tapi tempat kami ternyata belum tersedia tang potong, apalagi ternyata ukuran kailnya lumayan besar dan terbuat dari besi putih, jadi yaaa… keras banget! Dicoba motong pake gunting pemotong jaringan…waduh malah guntingnya yang rusak…

Mikir…mikir…sambil cari alat yang lebih memungkinkan dan ga ketemu, jadinya diputuskan untuk meng-insisi alias meng-iris kulit kepala si anak, sedikit saja…

Tentu saja sebelum prosedur coba-coba di atas tadi, sudah dilakukan pembersihan dan pembiusan lokal pada lokasi trauma. Akhirnya mata pancing bisa diambil, luka insisi dijahit dengan 1 kali jahitan luar, kemudian luka dibungkus, eh, diperban….

Untuk pencegahan, selanjutnya diberikan suntikan anti tetanus, obat anti nyeri dan antibiotik spektrum luas.

Beres deh, si anak pulang dengan senang…

Diposkan pada dokter, kontemplasi

Sumpah Dokter Indonesia




Demi Allah, saya bersumpah bahwa:

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;

Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja­an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;

Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Diposkan pada dokter, penyakit

Percobaan bunuh diri setengah hati


Ini menyambung dari QN-ku di http://subhanallahu.multiply.com/notes/item/56

Tentang percobaan bunuh diri setengah hati seorang perempuan muda, tadi malam jam 12 aku ikut nyelonong ke kamar operasi untuk melihat langsung dan pengen tahu cara melakukan repair terhadap tendon (jaringan elastis penghubung otot dan tulang untuk menghasilkan pergerakan) yang putus.

Jadi kalau tendon tersebut cedera atau bahkan putus akan terjadi gangguan gerak sampai lumpuh.

Kebetulan pada kasus percobaan bunuh diri ini yang putus cuma satu tendon, yaitu yang menghubungkan otot lengan bawah bagian dalam dengan struktur tulang di pergelangan tangan untuk pergerakan fleksi/menekuk. Sementara fungsi pergerakan semua jari masih normal karena tidak ada tendon dan persarafan yang cedera.

Karena tendon bersifat hampir avaskuler (miskin bahkan tidak ada pembuluh darah), maka penyembuhan akan sangat lama, minimal 1 bulan, dan selama itu persendian yang mengalami cedera harus diistirahatkan.

Mudah-mudahan pasien itu bertaubat setelah kasus percobaan yang paling parah ini, karena dari bekas-bekas luka sebelumnya tidak menunjukkan tingkat fatalitas yang tinggi, cuma tersayat permukaan kulit saja.

Diposkan pada curhat, dokter, livinginjogja

Beruntunglah yang tidak mudik! :-)


Sebenarnya tahun ini aku berencana tetap “mudik”, tapi cuma ke kampung istri yang jaraknya 3 jam perjalanan berkendaraan, itu pun cuma 3 hari, dari lebaran kedua sampai hari Senin. Lebaran pertama aku masih ada jam dinas siang di RS. Meskipun aku salah satu pejabat (hehe…) di RS, ga enak aja klo mau libur seenaknya, karena aslinya juga aku udah banyak libur kok terutama kalau kunjungan rutin ke Jakarta menjenguk anak istri, selain itu dalam rangka monitoring kegiatan pelayanan, karena sering hari libur besar terjadi banyak masalah.

Nah, kapan mudik ke kampungku sendiri di Pekanbaru, Riau sana? wallalahu a’lam, entahlah… sudah 5 tahun aku ga pulang ke kampung halaman sendiri. Sebenarnya itu bukan rekor terlama aku ga pulang ke kampung halaman, semasa kuliah dulu 6 tahun aku ga pulang kampung. Sebenarnya bingung juga mendefinisikan kampung halaman, wong leluhurku keturunan Jogja juga, sehingga malam takbiran dan sholat Idul Fitri aku berencana di pantai Parangtritis/Parangkusumo (kangen berat dengan suasana ini…), ya, itung-itung mungkin itu alasan masih ada dinas di hari pertama lebaran, biar semua dibagi ratalah, mbah putri yang hidup sendiri bisa dikunjungi, mertua bisa dikunjungi. Nah, kapan giliran ortuku di sana? rencananya kami akan mengambil cuti bareng, mungkin dalam waktu 2-3 bulan ke depan, syukur-syukur kalau bisa tepat Idul Adha/lebaran kurban. Secara kami sekeluarga belum pernah bertemu ortuku di Pekanbaru, Riau, selama 5 tahun ini. Beruntung Mama-ku yang sempat menjenguk cucunya saat istri masih mukim di Bogor, itu pun karena “kecelakaan” 🙂

Profesiku sebagai dokter di RS sangat menyulitkan untuk mencari waktu libur yang pas. Sama saja kayak profesi lain yang benar-benar harus jadi tumbal saat liburan besar seperti polisi, perawat, bidan, dan berbagai profesi lain yang harus senantiasa siap walau pun itu waktu liburan bagi orang pada umumnya. Hahaha, kapan ya aku pensiun jadi dokter… :-b

Pic dari sini

Diposkan pada dokter, kesehatan

Apakah kamu ngorok waktu tidur? hati-hatilah…


Hayooo, siapa yang suka ngorok tidurnya, ngakulah…hehehe. Jujur saja, aku sekali-kali juga suka ngorok (mendengkur/snoring) kok, kadang juga ngelindur ga jelas :-b Itu kata istriku. Tapi sekali-sekali loh…

Nah, ini aku mau cerita. Ketika i’tikaf di masjid tadi malam, mendadak tidurku terbangun oleh “alarm” dengkuran yang amat keras. Ga tahu berapa desibel sih, yang jelas berisik bangetlah, harusnya kan bangun jam 3 sesuai kesepakatan dan sudah distel di alarm handset.

Ternyata seorang teman yang mendengkur sangat keras itu, wah udah deh aku ga bisa tidur, lalu aku sholat bentar, terus lihat itu orang yang masih mendengkur, kesal juga sebenarnya, enak-enak pake selimut hangat, keliatannya asyik banget ga peduli orang lain terganggu, hahaha… Sebenarnya bukan dia aja yang mendengkur, banyak yang lain tapi ga begitu keras. Nah teman yang satu ini ada keanehan, aku perhatikan sekitar 10-15 detik ga bernapas, atau kadang dadanya bergerak-gerak ketahan, tapi ga kelihatan keluar napasnya. Lalu tiba-tiba dia kesedak atau kebatuk dan megap-megap alias tersengal-sengal napasnya, lalu normal kembali, terus ngorok lagi, tertahan lagi napasnya 10-20 detikan, begitu seterusnya, dan sepertinya dia tidak menyadarinya. Lalu aku iseng nyiram beberapa tetes air kemasan gelas ke wajahnya, langsung gelagapan itu orang, ga tau sadar atau engga, yang jelas tidur lagi, hehehe….

Nah, setelah subuhan, aku datangi dia, dan menerangkan kalau dia punya tanda-tanda penyakit berbahaya yaitu SLEEP APNEA atau henti napas waktu tidur. Kita bahas saja jenis henti napas yang sering terjadi yaitu jenis sumbatan atau obstruktif jalan napas.

Cara menilai apakah kamu cenderung menderita henti napas waktu tidur (Modifikasi dari Snore Score punya American Sleep Apnea Association), jawablah pertanyaan berikut:

1. Kamu seorang yang keras suara ngoroknya dan/atau teratur ga ngoroknya?
2. Pernah ga kamu merasa terkesiap/terkejut atau berhenti bernapas waktu tidur?
3. Kamu bangun dengan rasa lelah atau mengantuk ga? atau bangun dengan sakit kepala ga?
4. Sering ga kamu merasa letoy atau loyo selain waktu tidur?
5. Kamu tertidur ga waktu lagi duduk, lagi baca, lagi nonton, atau lagi nyetir?
6. Sering ga kamu punya masalah dengan daya ingat atau konsentrasi?

Beberapa pertanyaan di atas bisa kamu ketahui dengan meminta observasi dari orang lain atau kamu rekam sendiri kegiatan tidurmu dengan kamera video 😀

Lebih OK lagi bila kamu tes di RS dengan menggunakan alat yang namanya Polisomnografi, nanti aktifitas tidurmu direkam oleh suatu alat yang terhubung dengan komputer.

Selanjutnya kamu bisa menyimpulkan dari menjawab pertanyaan di atas. Bila kamu memiliki satu atau lebih gejala-gejala ini maka kamu berisiko lebih tinggi untuk mengalami sumbatan napas waktu tidur. Bahasa kerennya OSA = Obstructive Sleep Apnea. Hati-hati juga bagi kamu yang kelebihan berat badan, memiliki leher yang besar (hehehe, Mike Tyson nih…), dan/atau memiliki tekanan darah tinggi, maka risiko terkena OSA akan meningkat lebih tinggi.

OK, itu dulu aja, aku lagi banyak pasien nih… panjang kalau semuanya dimuat di sini :-b Untuk singkatnya bila ada gejala tersebut di atas sebaiknya datangi dokter spesialis saraf, THT-KL, atau paru-paru. Lain-lainnya bisa ditanyakan di kolom komentar jurnal ini, aku jawab sebisanya deh, atau klo ga sabar ya baca sendiri ya direferensi berikut, hehe….

Pic dari sini

Referensi lanjut bisa di baca di Snore Score, di Sleep Apnea, di Wiki, di Sleep Apnea Index, dan di Gangguan Tidur Bisa Menyebabkan Kematian