Diposkan pada imunisasi, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Buat Yang Ragu: Pahami 8 Fakta Penting Soal Imunisasi


Sampai saat ini, beberapa pendapat keliru di masyarakat tentang imunisasi masih sering terjadi. Sebagian orang merasa bahwa imunisasi tak diperlukan lagi lantaran pada dasarnya manusia sudah dikaruniakan kekebalan oleh sang pencipta.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Soedjatmiko, Sp.A K (Msi)  di sela-sela acara journalist class, dengan tema “Kesehatan Fisik dan Mental Anak Sebagai Investasi Tak Ternilai Bagi Bangsa”, Rabu, (3/8/2011) di Jakarta.

Menurut Soedjatmiko, pendapat tersebut sebetulnya tak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. “Benarnya adalah bahwa memang betul Tuhan telah memberikan kekebalan pada tubuh kita. Tapi kalau kumannya dalam jumlah banyak dan ganas, tubuh kita tidak akan bisa melawan,” katanya.

Ia mencontohkan, pada negara-negara maju yang sosial ekonomi nya baik, gizinya bagus, dan lingkungannya bersih, masih bisa terkena wabah bakteri E Coli. Padahal, sebagaimana diketahui, mereka bukanlah dari sosial ekonomi yang buruk. Pada kasus tersebut Soedjatmiko berkesimpulan bahwa, kebersihan badan, lingkungan dan gizi yang baik belum mampu untuk mencegah penyakit menular.

“Ini untuk mengcounter pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa imunisasi itu tidak perlu,” tegasnya.

Soedjatmiko juga memaparkan 8 fakta seputar imunisasi yang perlu diketahui. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada lagi salah kaprah di masyarakat mengenai imunisasi.

1. Imunisasi merangsang kekebalan spesifik bayi dan anak

Pemberian vaksin akan merangsang peningkatan kekebalan spesifik pada bayi dan anak untuk membunuh kuman atau racun yang dihasilkan oleh kuman yang masuk ke dalam tubuh. Jadi vaksin tidak melemahkan kekebalan tubuh, tetapi justru merangsang peningkatan kekebalan tubuh yang spesifik terhadap kuman atau racun.

2. Imunisasi mencegah penyakit berbahaya

Kalau anak tidak di imunisasi, maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit. Bila kuman berbahaya yang masuk bersifat ganas dan banyak, maka tubuh tidak akan mampu melawan, sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal. Sampai saat ini, imunisasi yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk imunisasi rutin meliputi, Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Campak dan vaksin jemaah haji (Maningitis).

3. Imunisasi lebih praktis dan efektif cegah penyakit

Imunisasi lebih praktis, karena sangat cepat meningkatkan kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak. Setelah diimunisasi dalam waktu 2-4 minggu, maka akan mulai terbentuk kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak untuk melawan kuman. Sementara itu, pemberian ASI, hidup sehat, dan kebersihan lingkungan memang dapat menurunkan risiko serangan penyakit, tetapi membutuhkan waktu  berbulan-bulan untuk memperbaikinya. Sehingga lebih sulit dan lebih lama hasilnya dibandingkan imunisasi.

4. Negara maju tetap butuh imunisasi

Negara maju dengan tingkat gizi dan lingkungan yang baik tetap melakukan imunisasi rutin pada semua bayinya, karena terbukti bermanfaat untuk bayi yang diimunisasi dan mencegah penyebaran ke anak sekitarnya. Sampai saat ini menurut data WHO, sekitar 194 negara maju maupun sedang berkembang tetap melakukan imunisasi rutin pada bayi dan balitanya. “Jadi, tidak benar kalau ada informasi yang mengatakan negara kaya tidak membutuhkan imunisasi. Mereka tetap melakukan vaksinasi, bahkan vaksin yang diberikan jauh lebih banyak,” kata Soedjatmiko.

5. Tidak ada negara yang melarang program imunisasi

Sampai saat ini, tidak ada satupun negara yang melarang program vaksin. Semua ahli-ahli di dunia dan pemerintah yakin dan sepakat bahwa program vaksin pentng dan bermanfaat untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit berbahaya.

6. Vaksin imunisasi di Indonesia adalah produk lokal

 Vaksin yang digunakan untuk program imunisasi di Indonesia dibuat oleh PT. Biofarma Bandung dan sudah dinyatakan aman oleh badan internasional WHO. Bahkan vaksin buatan Biofarma saat ini sudah digunakan oleh Unicef untuk lebih dari 120 negara didunia. “Masa, negara lain percaya sama produk kita, tapi kita sendiri nggak,” katanya.

7. Pasca imunisasi muncul ‘kejadian ikutan pasca imunisasi’

Setelah imunisasi kadang muncul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) seperti demam ringan sampai tinggi, bengkak, kemerahan dan gampang rewel. Menurut Soedjamiko, kejadian seperti itu adalah reaksi yang umum terjadi pasca imunisasi. Biasanya dalam hitungan 3-4 hari, gejala tersebut akan berangsur-angasur hilang dengan sendirinya.

8. Setelah diimunisasi masih bisa terkena penyakit, tapi ringan

Soedjatmiko mengatakan, perlindungan imunisasi memang tidak ada yang 100 persen. Artinya, setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit, tapi kemungkinannya sangat kecil yakni sekitar 5-15 persen.

Sumber: http://health.kompas.com/read/2011/08/04/11245835/Pahami.8.Fakta.Penting.Soal.Imunisasi

Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ga kapok…


Akhirnya kisahnya bersambung…sebelumnya silakan baca di Keputihan 2 Tahun. Ya, sepertinya saya ingat, pihak laboratorium tidak mau melakukan pemeriksaan pap smear dengan alasan pasien belum menikah. Saya lupa, karena sama rekan sejawat saya yang menerima kontrol pasien itu tidak dituliskan itu dari hasil pemeriksaan apa, sehingga hasil yang bisa saya baca di catatan medis hanya: terdapat bakteri gram negatif, dan jumlah leukosit yang banyak, mungkin itu cuma hasil swab (apusan) cairan vagina atau cuma dialihkan ke periksa urin atau air kencing saja. Aneh juga sih, kok bisa memeriksa cairan vagina tapi ga mau melakukan pap smear. Kalau pasiennya setuju dengan informed consent, mestinya tidak menjadi masalah, toh untuk kepastian diagnosis pasien itu sendiri. Setahu saya papsmear itu boleh dilakukan pada orang yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, meski dia belum menikah. Apa pihak lab takut menghilangkan selaput dara si pasien? yang justru saya pertanyakan, apakah si pasien memang masih perawan? setelah berhobi ria melakukan hubungan seks? entahlah…

Nah, kembali ke “ga kapok”-nya pasien saya itu. Oleh teman saya, diterapi dengan antibiotik selama 5 hari, belum membaik, lalu ditambah dengan anti jamur dan jenis antibiotiknya diganti. Entahlah, si pasien sembuh apa tidak, karena tidak kontrol, untuk melaporkan perkembangan keluhannya.

Setelah 3 bulan berlalu, si mahasiswi berjilbab datang lagi, dengan keluhan demam, mual, pusing, nyeri perut kanan bawah, keputihan, dan sering buang air kecil. Lalu sama teman saya diperiksa lab urin (air kencing)-nya. Hasilnya, hari ini dia datang menyerahkan hasil lab urin dengan hasil warna urin yang keruh, jumlah sel darah putih yang banyak, dan kandungan bakterinya positif. Ya, sudah diagnosis ditegakkan saja: urinary tract infection atau infeksi saluran kencing, atau ISK. Untuk mempertajam saja, lalu saya tambah proses tanya jawabnya.

“Habis menahan pipis?”

“Engga…”

“Habis berhubungan seks…?”

‘Iya, Dok…?”

“Kapan..?”

“Dua minggu sebelumnya Dok..”

“Dua minggu sebelum timbul keluhan?”

“Iya…”

“Pake pengaman?”

“Pake…”

“Sama siapa?”

“Teman…”

“Itu teman yang sudah tunangan?” (saya nanya gini bukan berarti klo udah tunangan, boleh ngeseks sembarangan loh…)

“Engga…”

“Jadi, belum pasti ya (nikahnya), brarti nanti bisa lari…meninggalkan mba..?”

“…..”

“Jadi pake pengaman ga menjamin juga….aman buat cowok, ga aman buat mba…apa lagi komplikasi ini ga terduga, bisa ke ginjal loh…”

“….”

“Jadi, sebaiknya dihentikan saja kegiatan berisiko itu….ya risikonya mungkin ga hamil klo pake kondom, tapi mungkin bisa ada iritasi dan alergi sama kondom…”

“….”

“Cowoknya yang minta ya….?” (maksudnya yang minta berhubungan seks duluan….)

“Iya…”

“Lain kali, beranilah bilang “tidak”…, karena tetap perempuan yang akan dirugikan….”

“Iya, Dok…”

“OK, setelah minum obat yang saya berikan, hari Sabtu kontrol ya, buat evaluasi…”

“Ya, Dok, makasih….”

“Ya”

———————————————————————————————————————————-

Referensi berguna:
http://labparahita.com/parahita/2011/02/pemeriksaan-pap-smear/
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/kiayati/2009/01/30/lets-talk-pap-smear/
http://www.kznhealth.gov.za/papsmear.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Pap_smear
http://www.medicinenet.com/urine_infection/article.htm
http://emedicine.medscape.com/article/233101-overview
http://www.mayoclinic.com/health/urinary-tract-infection/DS00286

Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Ngeseks Saat Mens


“Terimakasih ya Dok ya….”
———————————————————————————————————————————-
Kali ini saya lebih kalem ketika ketemu pasien yang melakukan hubungan seks di luar nikah, apalagi karena kebodohannya…

Saya berharap nasihat-nasihat saya nantinya bisa masuk dan tidak menjadi bumerang terhadap pasien, saya usahakan tidak melakukan penghakiman langsung kepada pasien.

Saya mau cerita lagi tentang pasien saya sore kemarin, seorang mahasiswi 18 tahun, anak kedokteran hewan, tampilan biasa saja menurut saya. Datang dengan keluhan pusing mual pilek perut perih. Lalu saya tetapkan diagnosisnya cuma Common Cold (flu) dan Dyspepsia (sakit maag). Beri obat untuk meringankan gejala yang dirasakannnya dan menyebutkan anjuran dan pantangan.

Lalu mahasiswi tersebut bertanya kepada saya: “Kalau gejala hamil itu apa saja Dok…?”

“Pernah hubungan seks?” saya menyolot.

“Iya, Dok…”

“Kapan?”

“Dua minggu yang lalu…”

“Mens terakhir kapan, hari pertamanya…?”

“Dua minggu yang lalu, Dok…”

“Hari keberapa mens, tepatnya berhubungan?”

“Kedua…”. “Bisa hamil ga Dok, apa gejala yang saya rasakan ini tanda-tanda hamil…?”

“Bisa jadi…”, jawab saya

“Apa itu sedang masa subur?”

“Bukan masa subur…, tapi masa hidup sperma kan tidak bisa diduga…”

“Oooo, lama ya Dok?”

“Bisa jadi…, lah mba berhubungan pake pengaman?”

“Engga…”

“Dikeluarin di mana?”

“Ga sempat keluar Dok…, cuma lendir gitu, ga ada putihnya…sperma putih kan Dok?

“Mmm…, sama sapa berhubungan?”

“Pacar, Dok…”

“Berhubungan pertama kali? mba masih perawan waktu itu?”

“(mimik ga yakin, mengangguk saja…), kalau cairan bening itu ada spermanya Dok?”

“Bisa ada…, sperma itu kan sel yang kecil, ga bisa kelihatan dengan mata biasa, harus pake mikroskop, kalau yang putih itu jumlah spermanya lebih banyak, sudah kumpulan gitu…”

“(manggut-manggut), jadi gimana Dok, saya hamil ga? saya takut Dok…”

“Belum bisa ditentukan sekarang…, kita observasi saja, mbanya kontrol saja nanti…saat siklus berikutnya, bila tidak mens…, mensnya teratur?”

“Teratur Dok, tapi kadang maju tanggalnya…”

“Ya, ga pa pa, perkiraan saja majunya kapan, klo ga keluar mensnya, ke sini saja, nanti kita tes…”

“Ya, Dok..”

“Baik, untuk sakit yang ini, obatnya sudah saya resepkan, bisa ditunggu di depan apotek, nanti dipanggil…”

“Terimakasih ya Dok ya….”

“Sama-sama…”
———————————————————————————————————————————-
Pic dari sini

Diposkan pada baksos, dokter, kesehatan, penyakit, salahkaprah, yankes

Pengobatan Gratis, Masihkah Perlu?


Sabtu, 14 Mei lalu, saya sempat menyaksikan acara baru reality show Trans TV, Pukul 18.30-19.00: “Pengabdian” yang menghadirkan sosok dr. Irma Rismayanty, dokter muda lulusan FK UI yang menerobos daerah terpencil di wilayah Serang, Banten untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat temporer selama beberapa hari. Dia menginap di sana dan melakukan beberapa kegiatan seperti pengobatan gratis dan penyuluhan.

Sebenarnya saya dulu sering sekali mengadakan dan ikut acara-acara bakti sosial pengobatan gratis begitu. Apalagi kalau keluar kota, pasti saya semangat, soalnya sekalian jalan-jalan, hehehe…

Berbicara pengobatan gratis, memang lebih mudah dalam penyelenggaraannya, namun tidak semudah dalam melihat efek jangka panjangnya terhadap kegiatan tersebut. Berdasarkan pengamatan saya pengobatan gratis sering tidak bersifat kontinyu alias berkesinambungan dan jarang disertai dengan penyuluhan yang efektif serta advokasi bagi masyarakat awam untuk lebih membuka wawasan mereka.

Contoh lain kasus pengungsi Merapi di shelter-shelter ternyata sebagian besar dari survey tim saya, mereka sudah jenuh dengan yang namanya pengobatan massal yang gratis. Obat-obatan mahal tidak diminum dan dibiarkan saja tergeletak di rumah masing-masing. Obat-obat jenis antibiotik sudah jelas tidak akan sesuai perlakuannya sehingga justru akan mempertinggi risiko kekebalan terhadap kuman penyakit. Obat-obat penyakit kronik seperti hipertensi dan diabetes bahkan dapat semakin parah bila peserta pengobatan massal tidak punya kesadaran untuk melanjutkan pengobatan di pusat pelayanan kesehatan terdekat seperti puskesmas.

Tapi, apakah pengobatan massal dan gratis tidak diperlukan lagi? Tergantung, bila untuk fase bencana yang akut alias untuk jangka waktu yang singkat, maka masih sangat diperlukan karena memang ada keterbatasan akses pengobatan. Untuk daerah terpencil memang juga masih sangat perlu. Tentu saja sangat perlu diiringi dengan advokasi kepada para pemegang kebijakan untuk mau turun tangan dan memberikan tindak lanjut terhadap mereka yang menjadi kaum marjinal ini. Selain itu perlu upaya terus-terusan untuk menyadarkan masyarakat kita tentang pentingnya kondisi sehat dan kemampuan untuk mendeteksi secara dini penyakit-penyakit yang berbahaya.

Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Sex Edu – Keputihan 2 Tahun


Hari ini saya menemukan pasien yang luar biasa lagi. Lagi-lagi seorang mahasiswi dengan kerudungnya yang cukup rapi, datang mengeluhkan menderita keputihan (leukorea) selama 2 tahun. Riwayat hubungan seksual pertama kali sejak 1 tahun sebelum periksa ke saya. Jadi dia sudah mengalami keputihan sebelum perawannya direnggut dengan sukarela oleh teman akrabnya sendiri (bukan pacar) saat berumur 17 tahun. Sekarang dia berumur 18 tahun.
Sebelum pernah melakukan kontak seksual, saya memperkirakan keputihannya masih dalam batas normal karena tidak berbau, tidak gatal, dan masih bening. Masalah timbul setelah dia melakukan hubungan seksual dengan cara yang sangat-sangat tidak aman. Jarang menggunakan kondom, jadi teman prianya melakukan coitus interruptus atau senggama terputus atau azl. Sama seperti kasus yang saya tulis sebelumnya bahwa perilaku ini tetap berisiko untuk menimbulkan kehamilan. Apalagi ketika saya tanyakan mengenai kegiatan gonta-ganti pasangan. Ternyata si mahasiswi mengetahui bahwa teman prianya itu juga melakukannya dengan perempuan lain. Lalu apakah mahasiswi ini melakukan dengan 1 teman prianya saja? Ternyata juga tidak. Dia mengaku berhubungan dengan 2 pria saja.
Lalu dia menanyakan ke saya: “Apa saya mungkin terkena kanker leher rahim?” Tentu saja saya jawab: “Sangat bisa”
Karena saya penasaran, tidak langsung saya rujuk ke dokter obsgin seperti kasus sebelumnya. Tapi saya cek dulu ke laboratorium untuk pap smear dan cek kandungan dari cairan vaginanya. Mudah-mudahan kisah ini bersambung untuk menjadi pelajaran bagi kita bersama.
Diposkan pada dokter, kesehatan, penyakit

Sex Edu – Keputihan 2 Tahun


Hari ini saya menemukan pasien yang luar biasa lagi. Lagi-lagi seorang mahasiswi dengan kerudungnya yang cukup rapi, datang mengeluhkan menderita keputihan (leukorea) selama 2 tahun. Riwayat hubungan seksual pertama kali sejak 1 tahun sebelum periksa ke saya. Jadi dia sudah mengalami keputihan sebelum perawannya direnggut dengan sukarela oleh teman akrabnya sendiri (bukan pacar) saat berumur 17 tahun. Sekarang dia berumur 18 tahun.
Sebelum pernah melakukan kontak seksual, saya memperkirakan keputihannya masih dalam batas normal karena tidak berbau, tidak gatal, dan masih bening. Masalah timbul setelah dia melakukan hubungan seksual dengan cara yang sangat-sangat tidak aman. Jarang menggunakan kondom, jadi teman prianya melakukan coitus interruptus atau senggama terputus atau azl. Sama seperti
kasus yang saya tulis sebelumnya bahwa perilaku ini tetap berisiko untuk menimbulkan kehamilan. Apalagi ketika saya tanyakan mengenai kegiatan gonta-ganti pasangan. Ternyata si mahasiswi mengetahui bahwa teman prianya itu juga melakukannya dengan perempuan lain. Lalu apakah mahasiswi ini melakukan dengan 1 teman prianya saja? Ternyata juga tidak. Dia mengaku berhubungan dengan 2 pria saja.
Lalu dia menanyakan ke saya: “Apa saya mungkin terkena kanker leher rahim?” Tentu saja saya jawab: “Sangat bisa”
Karena saya penasaran, tidak langsung saya rujuk ke dokter obsgin
seperti kasus sebelumnya. Tapi saya cek dulu ke laboratorium untuk pap smear dan cek kandungan dari cairan vaginanya. Mudah-mudahan kisah ini bersambung untuk menjadi pelajaran bagi kita bersama.
Diposkan pada dokter, jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah

Sex Edu – Ketagihan


Saya mau bertanya kepada laki-laki MPers di sini, terutama yang sudah menikah. Berapa kali berhubungan suami istri dalam waktu 1 minggu? Ga perlu dijawab deh, cukup disimpan di hati 🙂 Trus saya mau nanya lagi: biasanya yang ngajak berhubungan laki-laki (suami) duluan atau perempuan (istri) duluan? Lagi-lagi ga usah dijawab deh, entar melebar kemana-mana, hehehe….

Maksud saya adalah ingin berbagi tentang (lagi-lagi) tentang pergaulan remaja zaman sekarang yang gimana gitu, dibilang kebablasan, ya memang kebablasan…

Hari ini saya dapat pasien dengan kasus yang menarik hati (bukan pasiennya yang menarik hati saya, tapi kasusnya)

Seorang mahasiswi kedokteran berusia 19 tahun datang untuk curhat masalah yang dihadapinya. Dia mengeluhkan keluar flek/cairan kecoklatan dan bergumpal sejak 6 hari yang lalu. Pernah mengalami hal yang sama 1/2 tahun yang lalu.

Saya sendiri belum tahu pasti itu apa. Tapi yang jelas hasil wawancara medis yang cukup rinci saya mengetahui, dia baru saja 1 minggu yang lalu melakukan hubungan seksual dengan pacarnya tanpa memakai kondom, alias sperma dikeluarkan di luar vagina. Pertama kali berhubungan umur 16 tahun masih dengan pacar yang sama. Perbuatan terlarang tersebut dilakukan di rumah pacarnya. Memang ini belum bisa ditentukan dia hamil atau tidak karena belum sampai kepada masa dia mengalami telat menstruasi. Tes hormon via urin pun masih menunjukkan hasil negatif. Pasien itu akhirnya saya rujuk saja ke dokter ahli obstetri dan ginekologi (kebidanan dan onderdil reproduksi wanita).

Saya bukan mau membahas kasus itu secara mendetail, tapi ingin memaparkan edukasi yang saya berikan kepada mahasiswi itu. Sehingga beberapa pertanyaan iseng, saya ajukan kepada mahasiswi itu.

“Emang enak berhubungan itu mba?” Tentu saja dia ga mau jawablah, hehehe…cuma mesem aja.

“Trus yang ngajak berhubungan siapa?” Dijawab: “Ya, pacar saya, Dok”

“Biasanya kalo berhubungan, paling banyak dalam sebulan berapa kali? Dijawab:”Jarang Dok, kita berhubungan pada tanggal-tanggal tertentu, paling banyak 3 kali dalam sebulan…”

Ini edukasi saya:
“Maaf ya mba, bukan maksud memprovokasi ya…
Ya, kalo masalah agama ya tahu sendirilah…
Mba nih anak kedokteran kan?
Tahu ga, klo ngeluarin sperma di luar itu belum tentu ga bisa hamil?
Mba tahu ga klo pacar mba itu setia, ga berhubungan atau jajan dengan perempuan lain…? Biasanya kalo orang, terutama cowok kalo sudah pernah berhubungan seks, dia akan merasa ketagihan. Ga cukup itu kalo cuma 3 kali dalam sebulan. Trus, apa mba ga khawatir pacar mba itu berhubungan dengan cewek lain? Iya kalo cewek lain itu bersih, lah kalo pacar mba jajan dan kena penyakit, entar malah mba kena getahnya juga kan…? belum lagi nanti kalo hamil, lalu ditinggal sama pacar mba…lalu mba mikir untuk aborsi dengan taruhan nyawa mba sendiri…”

Yang sempat membuat saya mangkel adalah, dia ngomong: “Saya ga takut kalo hamilnya Dok, tapi yang lebih ngeri dari itu, apa saya kemungkinan kena HPV (Human Papilloma Virus) yang menyebabkan kanker serviks?”

Saya pikir: apa dia ga ngerti ada yang lebih bahaya dari itu seperti HIV??

Bener-bener deh…mau ngomong apa lagi saya….?

Diposkan pada dokter, jogja under cover, livinginjogja, penyakit, salahkaprah

Jogja Under Cover III: Pentingnya pendidikan seksual yang benar



Pic dari sini


Banyaknya kasus penderita penyakit seksual dan kehamilan yang tak diinginkan oleh ABG dari usia sangat muda sampai tingkat mahasiswa, menjadikan aku begitu yakin akan pentingnya pendidikan seksual yang benar sejak anak-anak masih usia dini. Bahkan seharusnya kurikulum pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi sudah sangat mendesak diberlakukan di sekolah-sekolah. Kebanyakan bagi pelaku seks bebas/multipartner dan mereka yang ga begitu ngeh dengan perilaku berisiko lainnya terkesan sekali mereka tidak mengerti arti kesehatan reproduksi dan risiko-risiko berbahaya yang harus mereka terima.

Pengalamanku sendiri dan rekan sejawat di kantor terhadap kasus-kasus tersebut lumayan menggiriskan hati. Berikut aku akumulasikan saja beberapa kasusnya, beberapa sudah pernah aku tulis lengkap dan sering aku catatkan di status, waktu FB/fesbuk-ku masih hidup.

Misalnya, keperawanan hilang dari seorang mahasiswi karena  coba-coba dengan pacarnya, ngakunya sih cuma 1 kali saja melakukan hubungan seksual. Terus periksa untuk mengetahui apakah masih perawan atau tidak (aneh kan…), dan hamil atau tidak.

Lalu, seorang mahasiswa yang datang karena menderita sakit kelamin yaitu kencing nanah (uretritis gonorrhea) karena berhubungan seks dengan pacarnya (ngakunya pake pengaman dan pacarnya setia alias ga berhubungan dengan orang lain, bullshit! Siapa yang percaya dengan omongan orang suka ngeseks bebas?!) lalu setelah sembuh 8 bulan kemudian menderita kutil kelamin (condyloma acuminata) dan sudah di”bakar” (kauterisasi) di RS, lalu terkena jamur kulit (tinea cruris) di sekitar alat kelaminnya.

Lalu, yang miris, seorang mahasiswi muda, hamil 5 bulan, yang berencana mau menggugurkan kandungannya, dan mau ditinggalin sama pacarnya, ortunya juga belum tahu kalau dia hamil, duh…

Lalu, pasangan muda (belum nikah) datang periksa, eh, ga tahu klo si cewek hamil 7 bulan, lantas perut yang buncit itu selama itu dianggap apa?!

Lalu, seorang ABG perempuan bau kencur masih 12 tahun, hamil 3 bulan, datang dengan pacar (ternyata adik kelasnya) dan ortunya, meminta surat keterangan hamil untuk menikah di pengadilan agama, karena KUA tidak berani menikahkan karena masih di bawah umur.

Lalu, pasangan muda, pegawai cafe dugem yang cukup terkenal di Jogja, datang mengeluhkan karena masalah sakit kelamin juga, ditanya kapan nikahnya, malah cekikikan dan mengarang cerita bohong (dikira kita ga ngerti kalau mereka bohong apa?!)

Lalu, seorang mahasiswa yang mengaku gay, periksa dengan keluhan sakit juga pada kelaminnya yang ada “dua” itu, karena kadang dia jadi cowok, kadang jadi “cewek”. Ada juga mahasiswa lain yang main ke salah satu tempat lokalisasi terkenal di Jogja, kena sakit kelamin juga, ada juga mahasiswa  yang lain merasa ketakutan secara ada keluhan di sekitar mulutnya . Dia baru dikerja’in oleh seorang waria untuk melakukan kegiatan oral dan dibayar loh…

Lalu, seperti QN-ku barusan, seorang calon ibu muda 17 tahun yang MBA (married by accident), datang dengan pasangan yang imut-imut dan ibu kandungnya yang menurutku juga “gaul” (sama degan anaknya pake cat rambut pirang sebagian), dengan keluhan perut terasa kencang-kencang, padahal usia kehamilannya baru sekitar 8 bulan, ternyata dipake buat berhubungan seks dengan suami mudanya itu (padahal sebenarnya sebagian besar juga ga mengalami apa-apa bila berhubungan seks waktu hamil, entahlah…)

Lalu seorang mahasiswi cantik kayak artis, putih, imut, mungil, kalem, (sampai aku terkagum-kagum) mau periksa apakah dia hamil atau tidak, ternyata hamil, langsung cemberut dan cemas, dan ga pernah datang lagi… malu apa ya…

Lalu yang lucu, seorang mahasiswa, datang dengan kelamin lecet-lecet sampai berdarah, ternyata melakukan masturbasi secara serampangan, entahlah ga tau cara persisnya, ga aku gali lebih dalam.

Lalu, kasus yang paling gres, sampai keluar di koran lokal setengah nasional, tentang kasus pengguguran yang terjadi di toilet sebuah RS tetangga RS tempat aku kerja, oleh seorang perempuan masih SMP. Bukan pihak RS yang menggugurkan tetapi si pacar yang sebelumnya sudah memberikan ramuan-ramuan untuk menggugurkan janin tersebut.

Lalu, lalu…lalu… puluhan kasus lainnya… yang kalo mau diceritakan semua, bisa bosan dan muak membacanya. 🙂

Referensi sebelumnya:

Mahasiswi oh mahasiswi…Jogja Undercover versiku, bagian I

Jogja Undercover versiku, bagian II: Apakah harus EGP?

KHUSUS DEWASA: Seks liar itu nikmat, taaapiii…

Diposkan pada dokter, penyakit

Mata pancing nyangkut di kepala


Seorang anak laki-laki diantar Bapaknya ke UGD, tanggal 18 Desember lalu. Di kepalanya tertancap sebuah benda asing yang ternyata adalah sebuah mata pancing atau mata kail. Si anak bersama teman-temannya mancing ikan di sebuah sungai. Ga tahu jelasnya gimana, tiba-tiba temannya mengayunkan tongkat pancingnya, eh kok mata kailnya malah nyangkut di kepala si anak 

Mengevakuasi mata pancing tidaklah semudah yang dibayangkan, bagi anda yang hobi atau pernah memancing ikan, dibutuhkan usaha yang lebih untuk melepaskan mata pancing dari mulut seekor ikan, apalagi dengan ukuran kait yang besar. Mata pancing didesain agar mudah menancap, tetapi susah dilepaskan karena pada ujungnya terdapat duri/kait seperti pada mata tombak atau anak panah.

Teorinya sih, untuk melepaskan mata pancing ini dari kepala si anak, mata pancing tersebut di-bablas-kan (ditembuskan) lagi ke arah luar kulit kepala sehingga kait/durinya kelihatan. Nah, selanjutnya kaitnya tinggal dipotong. Bicara sih enak, tapi tempat kami ternyata belum tersedia tang potong, apalagi ternyata ukuran kailnya lumayan besar dan terbuat dari besi putih, jadi yaaa… keras banget! Dicoba motong pake gunting pemotong jaringan…waduh malah guntingnya yang rusak…

Mikir…mikir…sambil cari alat yang lebih memungkinkan dan ga ketemu, jadinya diputuskan untuk meng-insisi alias meng-iris kulit kepala si anak, sedikit saja…

Tentu saja sebelum prosedur coba-coba di atas tadi, sudah dilakukan pembersihan dan pembiusan lokal pada lokasi trauma. Akhirnya mata pancing bisa diambil, luka insisi dijahit dengan 1 kali jahitan luar, kemudian luka dibungkus, eh, diperban….

Untuk pencegahan, selanjutnya diberikan suntikan anti tetanus, obat anti nyeri dan antibiotik spektrum luas.

Beres deh, si anak pulang dengan senang…

Diposkan pada kesehatan, penyakit

TIPS – Bagi yang mau diet ketat :-)


Rating: ★★★★★
Category: Other

Mumpung masih lebaran haji dan banyak tersedia makanan enak tapi bisa mematikan bagi beberapa orang, maka aku kopaskan artikel menarik berikut:
—————————————————————

Keadaan Lapar Rasulullah

Dari An Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad Saw hanya mendapat kurma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.” (HR. Muslim dan Tarmidzi).

An Nu’man bin Basyir juga katanya, bahwa “Pada suatu ketika Umar bin Khattab menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia. Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Aku pernah datang kepada Rasulullah ketika dia sedang shalat dengan duduk, maka aku pun bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa aku melihatmu shalat dengan duduk, apakah engkau sakit?’ Jawab beliau, ‘Aku lapar, wahai Abu Hurairah.’ Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu beliau berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia.” (HR. Muslim).

Dari Aisyah dia berkata, “Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, dan beliau juga tidak makan, karena kami tidak punya lampu. Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.” (HR. Ahmad).

Abu Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah katanya, “Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan.

Dari Aisyah dia berkata, “Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah tidak pernah berasap.” Berkata Urwah, “Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu?” Jawab Aisyah, “Kurma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah dari kaum Anshar yang membawakan untuk kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah katanya, “Sering kali kita duduk sampai 40 hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya, ‘Jadi apa makanan kamu untuk hidup?’ Jawab Aisyah, Kurma dan air saja, itu pun jika dapat.”

Dari Masruq berkata, “Aku pernah datang mengunjungi Aisyah lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh, ‘Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya!’ Aku bertanya, Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin? Aisyah menjawab, ‘Aku teringat keadaan di mana Rasulullah telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari’.” (HR. Tarmidzi).

Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut, “Tidak pernah Rasulullah kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia.

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah, “Rasulullah tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri.”

Dari Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar.” (HR. Tarmidzi).

Dari Abu Hurairah berkata, “Pernah Rasulullah mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Rasulullah meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu.” (HR. Bukhari).

Pernah Fathimah datang kepada Rasulullah membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah, “Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?” Fathimah menjawab, “Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu!”

Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah berkata, “Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan, ‘Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu’.”

Dari Sahel bin Sa’ad dia berkata, “Tidak pernah Rasulullah melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya, ‘Apakah tidak ada pada zaman Rasulullah ayak yang dapat mengayak tepung?’ Jawabnya, Rasulullah tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi, ‘Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu?’ Jawabnya, Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya.” (HR. Bukhari).

Abu Talhah berkata, “Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (HR. Tarmidzi).

Ibnu Bujair berkata, “Pernah Rasulullah merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat’.”

Dari Aisyah dia berkata, “Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada umat ini sesudah kepergian Rasulullah ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalela lah syahwatnya!” (HR. Bukhari).
Subhanallah, Maha Suci Allah…

Dari beberapa hadits di atas, betapa zuhud dan sabarnya Rasulullah, karena beliau menganggap kehidupan akhirat lebih baik dari pada kehidupan dunia. Sesungguhnya Rasulullah orang yang sangat kaya harta (kalau beliau mau). Akan tetapi, bukan berarti beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu lapar dan miskin. Rasulullah mengajarkan kepada kita agar mempunyai pola hidup sederhana, kita tetap berusaha dan bekerja keras, namun tidak menggantungkan semuanya kepada dunia.

Kelemahan umat Islam yang lebih memahami bahwa keberadaan Rasulullah itu miskin. Sejarah membuktikan bahwa sesungguhnya Rasulullah adalah seorang pebisnis ulung.

Di usia 7 tahun beliau memulai berbisnis dengan usaha manajemen (menggembalakan) kambing milik para investor (kabilah). Lima tahun kemudian beliau memulai perjalanan bisnisnya ke Negeri Syam yang berjarak lebih dari 1.000 km dari tempat tinggal beliau. Dari pengalaman menjual barang-barang dagangan para khalifah tersebut, beliau boleh dibilang sukses. Etos kerja yang kian tinggi serta kredibilitas (Al-Amin) beliau menjadikannya pebisnis yang (hampir) selalu beruntung. Hal itu menyebabkan banyak investor (pemimpin kabilah) yang kemudian menitipkan uangnya kepada Rasulullah.

Pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan sesama pebisnis, Khadijah, yang juga dikenal cukup sukses. Mahar kawin yang beliau serahkan adalah 25 ekor unta. Kalau dimisalkan 1 ekor unta senilai Rp. 10 juta, maka mahar beliau saat itu sekitar Rp. 200 juta. Zaman sekarang pun amat sangat jarang ditemukan pemuda yang menikah dengan mahar sebesar Rp. 200 juta. Apalagi, kalau diumpamakan bahwa unta saat itu senilai dengan sebuah mobil, maka mahar yang beliau berikan setara dengan 20 mobil.

Sungguh hebat! Hanya saja, kemudian Rasulullah memang memberikan hartanya untuk kepentingan umat. Setiap tahunnya beliau malah menyumbangkan tak kurang dari 600 ekor unta. Rasulullah adalah seorang yang kaya raya. Hanya saja, kekayaan yang diraihnya betul-betul melalui jalan yang halal dan ridlo. Beliau juga senantiasa menjaga kredibilitas dan menyalurkan kembali kekayaan beliau sebagai jalan penolong bagi orang-orang yang lemah di sekitarnya.

—————————————————————
Catatan:
Aku sebenarnya juga masih senantiasa berusaha untuk diet, entah kapan berhasil dan konsisten, lah, pulang kampung aja kemarin dibekalin rendang dan makanan bernuansa durian, hehe….

Mudah-mudahan beberapa hari ini ga mendapatkan menu daging-dagingan 🙂

Sumber tulisan: http://mahluktermulia.wordpress.com/2010/02/10/keadaan-lapar-rasulullah/

Gambar dari: http://www.widyadara.com/wp-content/uploads/2010/06/Tips-Diet-Alami.jpg