Diposkan pada tak terkategorisasi

Aternatif Pengering Alat Bantu Dengar (ABD)


a-1a-2

Sampai saat ini saya belum sempat, belum ada alokasi uang, survei merek belum lengkap, dan masih ragu membeli pengering untuk ABD Nadifa. Dehumidifier atau pengering menggunakan butiran silika ternyata tidak mencukupi buat ABD Nadifa karena produksi keringatnya yang mengerikan. Tidak mau terulang dengan ABD sebelumnya yang sempat berkarat ringan dan bahkan berlumut (berkerak) hijau keputihan pada bagian ulir tempat melekat tubing dan tempat baterai yang memang ada unsur logamnya, maka saya agak “strik” dengan kondisi ABD yang harus selalu kering dan terhindar dari kelembaban.

Dari referensi yang saya baca, pengering ABD yang ideal adalah yang memiliki kemampuan menghilangkan kelembaban yang mikro sekalipun sampai pada onderdil di dalam ABD dan memiliki kemampuan desinfektan/pembunuh kuman dengan cahaya ultraviolet. Namun buat saya yang utama adalah kering, karena dalam kondisi kering kuman tidak bisa hidup. Meskipun memakai pengering ideal, dianjurkan tutup baterai ABD berada dalam kondisi terbuka, ini berfungsi untuk ventilasi atau tempat lewat uap air mikro yang mungkin masih tersisa di dalam ABD, sehingga bisa menguap di udara bebas ketika dalam kondisi pengeringan. Nah, untuk sistem pengering yang tertutup, uap ini justru dapat mengalami kondensasi/pengembunan ketika suhu pengering turun, atau pengering dimatikan, sehingga di sinilah perlunya fungsi penyerap/absorben dari butiran silika yang biasanya berwarna biru. Bila tidak menggunakan silika harusnya pengering mempunyai semacam kipas untuk mendorong uap air tersebut keluar dari ABD dan kotak pengeringnya. Bila tidak, bisa kita bayangkan kalau ternyata uap air masih ada di dalam pengering, seperti kondisi saat kita merebus air, maka uap yang menempel dapat menjadi air kembali dan mengenai ABD dan bisa masuk ke dalamnya, ini justru berbahaya bagi ABD.

Bagi yang masih terkendala dana, kesempatan, dan akses jarak, untuk membeli pengering ABD yang harganya berkisar antara 500 ribu sampai jutaan, bisa menggunakan cara yang masih saya pakai sampai sekarang, dan saya masih terus mengevaluasi cara ini. Misalnya dengan mencari tahu efek samping menggunakan cara ini. Karena sebelumnya saya menggunakan “pengering tanpa modal” yaitu dengan menaruh ABD Nadifa yang lama di atas perangkat elektronik yang sedang ON, seperti receiver TV, namun seorang audiologis melarangnya, entahlah saya juga belum mengerti, apa sebabnya tidak boleh, dugaan saya bisa merusak ABD karena suhunya tidak stabil, bisa menjadi sangat panas, atau mungkin gelombang elektromagnet dari perangkat elektronik tersebut bisa mempengaruhi kerja ABD, yang ini saya belum paham, karena ABD lama Nadifa masih dalam kondisi baik saja.

Audiologis itu pula yang memberitahu saya untuk menggunakan cara sederhana ini bila belum mempunyai pengering standar.

Sebelum menggunakan pengering, sebaiknya ABD yang kelihatan basah oleh keringat atau air bisa dikeringkan terlebih dahulu dengan lap (handuk) atau tisu bersih, ini untuk mempercepat pengeringan dan mengurangi beban kerja pengering. Semua komponen ABD yaitu ABD itu sendiri, tubing, earlmold, baterai, dan receiver FM (bagi yang sudah punya), ikut dikeringkan juga. Bahkan dulu waktu Nadifa masih memakai Kids Clip atau tali penjepit ABD ke pakaian Nadifa, agar tidak lepas dan jatuh di sembarang tempat ABD-nya, juga ikut saya keringkan.

Untuk pengering sederhana ini, saya hanya memerlukan perangkat lampu belajar dengan bola lampu pijar 5 watt (nomor 4), serta wadah untuk menaruh ABD dan baterai (nomor 5). Lebih jelas, perhatikan gambar yang ada. Kondisi dan posisi ABD saat dikeringkan terlihat seperti pada gambar. Baterai dikeluarkan dari ABD (nomor 2), dan tutup tempat baterai ABD dibiarkan terbuka maksimal (nomor 1). Tubing dan earmold tidak perlu dilepas (nomor 3).

Wadah ABD bisa menggunakan bahan apa saja, yang penting bersih dan tidak gampang rusak bila kena panas. Sebaiknya wadah tempat menaruh ABD tersebut diberi alas. Saya menggunakan butiran silika, sisa dari yang tidak termanfaatkan. Bisa juga menggunakan kain perca yang bersih. Bila tidak ada alas pun tidak mengapa, yang penting bersih dari debu dan tidak lengket. Saya sendiri menggunakan wadah ABD-nya dari tempat makanan Nadifa. Sebelumnya saya menggunakan juga wadah yang lebih kecil dari Tupperware. Atau menggunakan wadah dehumidifier ABD sendiri yang dibiarkan terbuka tutupnya. Bahkan saya pernah tidak menggunakan wadah apa pun, ABD digeletakkan saja di atas rak lemari kayu, di bawah sinar lampu 5 watt. Sangat praktis. Tapi cara ini rawan, karena ABD mudah kotor, bisa lengket kena cat kayu tempat ABD ditaruh (nomor 6).

Hal yang penting adalah melakukan survei atau menilai kondisi panas yang dihasilkan oleh lampu 5 watt, serta jarak lampu ke ABD dan wadahnya (nomor 7). Ini penting, jangan sampai terlalu panas karena jarak terlalu dekat atau panasnya kurang karena jarak terlalu jauh. Pada contoh gambar, saya menggunakan lemari tertutup dengan kaca bening. Di awal percobaan dulu, saya senantiasa melihat kondisi ABD, terlalu panas apa tidak, mungkin jaraknya terlalu dekat dengan lampu. Jadi menilainya secara subjektif saja. Perhatikan juga keadaan di sekitar pengering yang mungkin membahayakan. Contoh pada saya ini tidak ideal, karena pengering ditaruh di lemari/rak penyimpanan buku, yang bisa saja menyebabkan kebakaran. Taruhlah ABD dan pengering di tempat yang tinggi, agar tidak mudah terjangkau dan disenggol oleh binatang peliharaan atau orang yang ada di rumah. Kalau memakai rak lemari, taruhlah di bagian paling atas. Seperti contoh, sebaiknya pakailah lemari kaca yang tembus pandang, agar kita bisa tahu kondisi yang terjadi saat pengering bekerja.

Untuk mengukur suhu paparan pada ABD, termometer ruangan sangat dianjurkan (saya hanya menggunakan termometer untuk manusia yang tentu saja kurang valid dan terbatas pengukuran suhunya). Perlu dicatat kestabilan suhu dari beberapa interval waktu dalam sehari, untuk memastikan bahwa tidak terjadi lonjakan suhu yang membahayakan ABD dan lingkungan sekitar, karena kita tidak menggunakan timer atau saklar otomatis maupun pengatur suhu otomatis untuk pengering sederhana ini.

Untuk contoh ini, saya mendapatkan data untuk ABD yang dipakai Nadifa yaitu batas suhu kerja tertinggi ABD adalah 60 derajat celcius. Dari referensi juga, saya memperoleh data kerja alat pengering komersial berkisar di suhu 32-35 derajat celcius, merek pengering lainnya berkisar antara 43-51 derajat celcius. Sehingga dengan acuan ini kita bisa menentukan sendiri suhu paparan dari pengering sederhana menggunakan lampu belajar 5 watt ini, dengan mengatur jarak lampu ke ABD, kepadatan benda lain disekitar ABD (seperti buku yang ada di lemari), dan kondisi tempat pengering: apakah terbuka atau tertutup. Kondisi tertutup tentu lebih stabil suhunya, tapi bisa saja melonjak suhunya, bila ventilasi tidak baik. Silakan dicoba sendiri, syukur-syukur kalau punya alarm peringatan untuk batas suhu pengering ini atau pemutus listrik otomatis untuk lampu bila suhu sudah sudah melewati batas aman.Tapi malah jadi tidak praktis lagi, dan mahal harganya.

Saran saya, tetaplah usahakan pengering ABD ideal dari pabrik, dengan harga yang memang mahal, tapi tidak lebih mahal dari harga ABD anak kita, tentu merupakan suatu investasi yang sangat berharga bagi usia pemakaian ABD anak kita. Gunakan pengering sederhana ini bila memang ada faktor-faktor yang saya sebutkan di atas. Semoga bermanfaat.

Diposkan pada alat bantu dengar, deafness, hearing impairment, tunarungu

Stetosklip Alternatif


Kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar turut berimbas pada kebutuhan orang tua yang memiliki anak dengan gangguan pendengaran. Ditambah lagi dengan situasi sulitnya mendapatkan asesoris pelengkap bagi alat bantu dengar mereka. Cukup banyak orang tua yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan perangkat pendukung tersebut. Salah satunya stetosklip yang berfungsi untuk memeriksa hearing aids/alat bantu dengar/ABD anaknya secara rutin.

Buat para orang tua yang kesulitan mendapatkan stetosklip untuk memeriksa hearing aids anaknya, bisa mencoba alternatif dengan menggunakan stetoskop murah yang bisa dibeli di toko-toko penjual peralatan medis. Kisaran harga stetoskop murah ini 20 ribu-50 ribu. Saya sendiri sudah mencoba dengan stetosklip dengan harga 35 ribu. Hasil yang di dapat lebih bagus dari stetosklip yang harganya lebih mahal dari harga stetosklip modifikasi ini. Bahkan stetosklip modifikasi ini masih bisa digunakan untuk melakukan pemeriksaan secara mandiri kepada anak-anak kita ketika mengalami sakit yang memerlukan pemeriksaan secara mandiri oleh orang tua sebelum dibawa ke dokter.

Untuk dapat menggunakan stetoskop sebagai stetosklip alternatif, caranya:
– Lepaskan chest piece (nomor 1) dari tubing stestoskop (nomor 2).
– Lepaskan earmold dari tubing hearing aids (nomor 3). Bisa juga earmold tidak dilepaskan, namun ujung earlmold tidak pas dengan ukuran lubang tubing stetoskop.
– Untuk mulai mendengarkan dan memeriksa fungsi hearing aids, masukkan tubing hearing aids pada lubang tubing stetoskop (nomor 4), pasang kedua ear pieces stetoskop di telinga untuk mendengarkan.
– Bila suara hearing aids yang didengar melalui stetoskop ini masih terlalu keras bagi telinga orang tua, dapat ditambahkan peredam berupa kasa atau kapas yang ditutupkan pada kedua ear pieces stetoskop.

 

klik gambar untuk memperbesar

Diposkan pada agama, bisnis, halal life

Gonjang-ganjing Kehalalan Restoran Solaria


Beberapa waktu lalu di status BBM teman saya, dicantumkan bahwa dia sedang makan dengan anak istrinya di Resto Solaria, Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta. Karena saya dapat referensi, yang saya sendiri belum pastikan kebenarannya, maka saya katakan kepada teman saya itu juga melalui BBM, bahwa Solaria belum jelas kehalalannya. Maka tak lama statusnya berubah menjadi “Astaghfirullah…”. Lalu saya tanyakan lagi kelanjutannya, ternyata dia sekeluarga pergi ke toilet, dan memuntahkan isi perutnya…

Ternyata drama tentang Solaria berlanjut, istri saya dulu pun terbiasa makan di Solaria waktu masih di Jakarta. Di grup BB beredar juga macam-macam tentang Solaria. Terakhir hari ini, saya menyimak status Facebook teman yang ditautkan sebuah link mengenai klaim Solaria, membantah isu sajiannya tidak halal. OK-lah dari pada berlanjut ga jelas, sebagaimana kebiasaan saya dahulu ketika ada isu seperti ini, maka saya langsung email LPPOM MUI yang memang sebagai lembaga pengawas dan sertifikasi produk halal.

Begini jawabannya:

————–

Kepada Yth,

Bapak Widodo Wirawan,
Terima kasih atas email yang telah dikirimkan. Kami informasikan bahwa, sehubungan dengan banyaknya pertanyaan dari masyarakat mengenai kehalalan restoran Solaria, maka bersama ini disampaikan bahwa MUI melalui Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) belum pernah melakukan pemeriksaan atas produk makanan/minuman dan atau mengeluarkan sertifikat halal untuk restoran Solaria di mana pun, sehingga MUI tidak menjamin kehalalan makanan/minuman yang disajikan oleh restoran Solaria.

Demikian pengumuman ini disampaikan, untuk menjawab kebingunan masyarakat serta demi melindungi umat Islam dari makanan yang tidak terjamin kehalalannya.

Klarifikasi ini juga kami sampaikan melalui website resmi LPPOM MUI dengan link sebagai berikut:

http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/detil_page/8/1604/30/

Demikian informasi ini kami sampaikan. Apabila ada pertanyaan mengenai produk halal lainnya, silakan menghubungi kami kembali. Terima kasih.
Regards,
Sekretariat LPPOM MUI

Ir. Hj. Osmena Gunawan (Mrs)
Vice Director

See the biggest Indonesia International Halal Expo (INDHEX) 2013
on Oct 30 – Nov 2, 2013 at JI EXPO Kemayoran Jakarta.
For More information contact us : +6251 8358748 / +6221 3918917
CP : Agung (+6281316928827) / Eko (+628129853571)
Email : info@halalmui.org

Secretariat Office (Jakarta)
Majelis Ulama Indonesia Building, 3rd Floor.
Jl. Proklamasi No. 51 Menteng, Jakarta Pusat 10320, Indonesia
Phone. 62 21 3918917 & Fax. 62 21 3924667

Operational Office (Bogor)
Gd. LPPOM MUI – Kampus IPB Baranangsiang
Jl.Raya Pajajaran Bogor 16144, Jawa Barat, Indonesia
Phone 62 251 8358748 & Fax 62 251 8358747
————–

Nah, sudah jelaskan. Kalau saya sendiri, lebih baik menghindarinya, sebagaimana dahulu, saya menghindarkan anak-anak saya untuk makan permen Yupi sebelum ada kejelasan mengenai kehalalannya.

Diposkan pada kesehatan, makanan, penyakit

Tips: Mengelola sakit maag selama berpuasa.


Ini pengalaman saya secara pribadi, sebagai dokter, juga penderita sakit maag/lambung. Saya sudah ditemani oleh penyakit ini sejak masih SMP kelas 3, akibat dari pola makan yang tidak teratur, kalau sudah berkutat sama hobby, makan bisa jadi aktifitas nomor kesekian. Makanya saya waktu kecil ceking bodynya, hehehe… Penyebab sakit maag bukan hanya karena pola makan tidak teratur, untuk keterangan lebih lanjut, cari sendiri via google atau dokter lain ya… 😀

Untuk kali ini, karena pas bulan puasa, saya fokuskan pembahasan pengalaman saya dengan sakit maag ini melalui seputar tips agar kita dapat mengelola penyakit ini selama kita berpuasa. Puasa bagi penderita sakit maag bisa berakibat merugikan bila kita tidak mengerti bagaimana memperlakukannya. Puasa saya sendiri, pada waktu masih SMA terkadang batal karena kambuhnya sakit itu dengan akibat yang tak tertahankan seperti muntah-muntah, pusing berputar sampai seperti mau pingsan (saya seumur hidup belum pernah pingsan), dan rasa sakit perut yang tak tertahankan.

Semoga dengan tips berikut ini bisa membantu teman-teman yang mempunya sakit maag. Bagi yang belum sakit maag jangan sampai terkena ya, untuk diketahui saja saat awal terkena sakit maag (fase akut) itu sungguh sangat mengerikan, sampai jungkir balik guling-guling di kasur saya waktu itu sambil berceceran, eh bercucuran air mata.

OK, langsung simak tips berikut ala saya:

1. Jangan lupa minum obat maag berjenis masa kerja panjang seperti lansoprazole dan omeprazole pada saat sahur. Obat ini berfungsi mengurangi pengeluaran asam lambung secara berlebihan dari sumbernya. Tidak setiap orang cocok dengan obat ini, jadi terlebih dahulu bisa mendatangi dokter terdekat buat berkonsultasi.

2. Sebaiknya kurangi menu makanan yang mengandung pedas, makan cabe boleh asal tidak terlalu pedas dan dalam jumlah banyak (cabe sedang mahal tau…) dan diiringi dengan makanan/minuman lain untuk mengimbangi rasa pedas. Silakan perkirakan sendiri toleransi kita terhadap makanan pedas ini. Saya sendiri masih sulit melepaskan makanan pedas, maklum sudah terbiasa dari kecil makan pedas, hehe…

3. Hindari terlalu banyak makan sayur dan buah-buahan karena akan memperberat kerja lambung. Ini terlihat sedikit agak bertentangan dengan pola makan sehat yang mengharuskan konsumsi buah dan sayur secara rutin. Namun sekali lagi sesuaikan reaksi yang terjadi bagi lambung kita masing-masing. Saya sendiri maniak sayuran dan buah.

4. Makan tidak terlalu kenyang agar tidak menimbulkan rasa sebah/penuh/kembung dan memperberat kerja lambung. Untuk diketahui: porsi makan saya, terutama nasi, porsinya bisa berkurang 1/4 porsi dibanding tidak berpuasa, lauk pauknya yang banyak, hehehe…

5. Sebisa mungkin hindari minuman es di kala sahur dan buka. Padahal saya setiap hari minum es. Es dapat saja dikonsumsi setelah buka atau setelah memakan makanan lain, dan porsinya juga jangan terlalu banyak. Minum-minuman hangat akan membuat lambung lebih terasa plong, mempercepat terurainya gas-gas lambung yang mengurangi kenyamanan.

6. Sebisa mungkin jangan memakai pakaian yang ketat di daerah perut karena akan membuat gesekan antar mukosa (lapisan permukaan) lambung lebih mungkin terjadi. Pada penderita sakit maag kronis hal ini akan sangat berpengaruh karena mukosa lambung sudah ada yang mengalami kerusakan (luka/erosi). Pakaian ketat di seputar perut juga meningkatkan stresor otot di sekitar lambung yang justru lebih memicu terjadinya kembung. Saya sendiri lebih suka celana kendor pas di pinggang, tanpa menggunakan tali pinggang, di rumah saya lebih suka memakai t-shirt/kaos oblong, dan celana dengan pengikat tali/karet/celana olahraga.

7. Makanan dan minuman yang mengiritasi lambung kebanyakan bersifat individual (berbeda-beda) setiap orang, biasanya asam lambung akan meningkat dengan konsumsi kopi, coklat, teh, soda, sayuran berserat tinggi, buah-buahan asam dan berserat tinggi.

8. Makanan karbohidrat dengan serat tinggi justru baik bagi lambung dan meningkatkan pemecahan energi secara bertahap seperti oat dan gandum sehingga dapat memberikan rasa kenyang yang lebih lama. Puasa tahun lalu hampir tiap hari saya makan bubur oat, lauk pauk sekreatif mungkin, rasanya perut lebih enak dan rasa kenyang lebih lama dalam porsi sedikit dibandingkan nasi.

9. Kelolalah pikiran atau stresor fisik dan psikis. Terlalu banyak stresor akan meningkatkan pengeluaran asam lambung secara berlebihan.

10. Berhati-hati bila meminum obat yang dapat menyebabkan iritasi dan peningkatan produksi asam lambung, terutama obat-obat pereda nyeri. Bila terpaksa harus meminumnya, lakukan sesudah makan, dan perhatikan reaksinya terhadap lambung kita. Hentikan bila reaksi tidak bisa ditoleransi.

11. Bila gejala asam lambung muncul, beristirahatlah dengan membaringkan diri dalam posisi rileks, tarik napas panjang secara perlahan, pejamkan mata, tarik napas dari hidung dengan mengembangkan perut (bukan dada), tahan napas itu sejenak 1-2 detik, lalu hembuskan perlahan lewat hidung, lakukan berulang-ulang sampai keluhan berkurang. Untuk saya sendiri hal ini banyak membantu. Cara pengelolaan seperti ini terinpirasi ketika saya mengikuti bela diri yang menggunakan teknik olah napas perut.

12. Bila terasa kembung dan ada desakan dari perut untuk mengeluarkan gas ke saluran pernapasan, JANGAN diikuti. Maksudnya kita jangan melakukan sendawa secara aktif, sampai berulang-ulang glegek’an, eegh…eegh…eegh…. Inilah kebiasaan buruk yang pernah saya lakukan sebelum saya terlalu mengerti mekanisme dan komplikasi sakit maag. Bila kita masih saja melakukannya maka akan memperparah komplikasi refluks/berbaliknya/naik asam lambung keluar/atas lambung yang disebut dengan “heart burn” yaitu rasa terbakar pada rongga dada, kerongkongan, dan tenggorokan, disertai dengan rasa sesak napas. Heart burn ini adalah akibat naiknya asam lambung ke saluran pencernaan di atas lambung dan kadang bisa masuk ke saluran pernapasan, asam lambung yang kuat tentu akan menyebabkan area yang tak terlindungi dengan pelapis khusus akan terluka dan menyebabkan sensasi nyeri terbakar/panas/sesak napas tadi. Selain dengan kebiasaan buruk bersendawa secara aktif tersebut, makan/minum sampai perut penuh juga bisa mengakibatkan hal ini. Pada mereka yang memiliki komplikasi lemahnya katub/klep antara lambung dengan saluran makanan di atas lambung, hal ini lebih mudah terjadi terutama pada posisi horizontal/berbaring. Sering juga terjadi pada ibu hamil tua. Tentu cara menguranginya bisa dengan tidur pada posisi dada dan kepala lebih tinggi dari perut.

13. Sesuai tuntunan, makan sahur diakhirkan menjelang azan subuh bukan sebelum imsak dan menyegerakan berbuka begitu terdengar suara sirine/bedug/azan maghrib. Jangan merasa kuat dengan terlalu awal sahur atau tidak sahur dan menunda-nunda berbuka, kasihan lambungnya.

14. Jangan memaksakan diri untuk berpuasa bila gejala sakit maag terasa sangat berat seperti sampai muntah, lemas, sakit kepala berat, sakit perut tak tertahankan. Segeralah berbuka. Dan puasa boleh diganti di luar bulan puasa.

Demikian tips dari saya, semoga berguna.

Diposkan pada blacberry, curhat, gadget, internet, tips

Moody buat menulis? Bagaimana mengatasinya?


Moody? Saya banget itu! Menulis itu salah satu aktivitas yang sangat baik untuk me-recall informasi yang telah kita dapatkan melalui indra kita. Menulis juga sebagai ajang aktualisasi diri dan saling berbagi, menulis juga salah satu cara mengurangi tingkat stresor meski tergantung juga dengan apa yang akan ditulis (kalau menulis tesis ya tetap makin stres, hahaha…), menulis bahkan dapat mencegah penyakit lupa ingatan yang dalam dunia medis disebut demensia.

Sejak nge-trend-nya dunia blogging, menulis menjadi salah satu primadona bagi netizen (penduduk dunia maya), berbeda dengan virtual social networking (jejaring pertemanan maya), motif orang melakukan aktifitas menulis dalam blognya lebih beragam. Bagi saya sendiri seperti alasan yang saya kemukakkan di atas. Ada kalanya menulis dalam blog (diari online) yang berasal dari kata “web logging” sangat memberikan bantuan bagi diri saya sendiri untuk meninjau kembali momentum dari hal-hal yang pernah saya lakukan dalam hidup. Bahkan dari hal yang terkecil sekali pun, saya sedikit galau bin kecewa ketika saya susah untuk mengingat kapan saya membeli suatu barang yang menggunakan angsuran melalui kartu kredit saya. Meski hal itu bisa dilacak dari dokumen transaksi, namun mencari dokumen itu lebih sulit daripada membuka laptop, terus mengetikkan di google mengenai sesuatu yang pernah saya tulis. Bukankah justru hal ini yang saya maksud mengurangi stres. Maklumlah pengarsipan offline saya sungguh berantakan.

Selain itu, menulis hal-hal seputar dunia saya (medis) ternyata selain berguna bagi diri sendiri juga berguna bagi orang lain seperti “bagaimana cara mencegah penularan cacar air” yang ternyata banyak yang menanyakan. Dan untuk itu saya tidak harus berulang-ulang cerewet, cukup memberikan tautan (link) ke tulisan di blog saya yang berhubungan dengan hal tersebut.

Menulis itu sulit kalau tidak dimulai dari hal yang menyenangkan, hal yang menyenangkan biasanya terkait dengan hidup keseharian kita seperti aktifitas mengasuh anak, kegiatan seputar hobi, dan lain sebagainya. Makanya saya tidak membatasi apa yang akan saya tulis. Selain malah membuat stres juga karena saya memiliki sifat moody yang sangat parah.

Sulit kalau harus menargetkan tulisan kapan selesai dan naik tayang di blog. Harus meluangkan waktu khusus di depan laptop? Susah itu bagi saya, karena di laptop saya senangnya browsing buat membaca dan instalasi program-program atau hal lain yang memang harus pakai laptop. Akhirnya saya mencoba menerapkan tips simpel bagi diri saya sendiri. Saya mengoptimalkan ponsel yang saya bawa. Kebetulan saya membawa Blackberry (a.k.a. BB) jadul merek Huron 8830 yang saya persenjatai dengan Smartfren. Kadang saya juga membawa ponsel android saya yang juga dipersenjatai Smartfren. Maklumlah saya penggemar berat Smartfren meski dulu beberapa kali pernah dikecewakan. Namun ternyata menulis di ponsel yang memiliki keypad fisik itu jauh lebih enak dibanding dengan keypad virtual yang touchscreen itu. Keypad fisik QWERTY memberikan sensasi yang justru tidak melelahkan, meskipun sebentar lagi akan keluar jenis keypad fisik yang bisa timbul dari layar sentuh.

Meskipun belum optimal, selain karena pakai BB kuno – tapi keypadnya empuk dan renyah (emang kerupuk), juga belum bisa langsung posting ke blog ini karena saya biasanya cuma memakai paket BB untuk BBM dan Push Email saja. Jadi kalau mau upload tulisan setelah selesai diketik di BB, mesti diemail dulu, lalu emailnya dibuka di tempat yang ada koneksi internet buat upload seperti laptop atau android saya dan dipindahkan ke blog. Ga repot sih, meski ada cara langsung dari push email bisa langsung tayang di blog, cuma belum saya coba, mungkin di waktu lain. Dan bagi saya waktu terlama itu ya, membuat tulisannya. Untuk tulisan ini saja sampai berhari-hari baru selesai, karena membuatnya dicicil saat-saat senggang (daripada bengong atau cuma BBM-an ga jelas, hehe…) seperti saat saya menunggu Nadifa (anak saya) yang sedang diterapi wicara atau terapi okupasi. Bisa juga saya mengetik saat lagi di parkiran ketika menunggu orang, ya pas lagi kosong dan malas bengong tapi juga sedang ada mood menulis, ya langsung melanjutkan tulisan yang saya simpan di Memopad-nya BB.

OK-lah, akhirnya selesai juga tulisan ini ketika saya sedang di RS tempat saya kerja, sambil nunggu Nadifa terapi okupasi. Semoga berguna dan memicu ide yang lebih bagus dari teman-teman. Mohon kalau ada ide lain, jangan segan memberitahu saya. Terimakasih.

Diposkan pada kesehatan, penyakit

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Pada Bayi Kita, Pentingkah?


Masih banyak calon pengantin dan pasangan suami istri yang tidak begitu peduli dengan profil kesehatan (fisik) mereka, bahkan tidak terkecuali dengan mereka yang notabene berprofesi sebagai tenaga kesehatan, contohnya saya. Tapi itu bukan hal yang patut ditiru. Karena akhirnya saya dan istri pun “kena batu”-nya karena ketidakpedulian itu. Bukan bermaksud untuk mengungkit peristiwa lampau yang cukup mengharukan bagi kehidupan kami yang dikarunia anak spesial dari Sang Pencipta – tentu saja ini merupakan amanah yang sangat besar dan menjadi lahan bagi kami untuk menjadi orang tua yang hebat karena diberikan guru yang hebat pula, yaitu anak kami sendiri – melainkan untuk menjadi pelajaran bagi kami sendiri dan kita semua agar sesuatu hal yang mestinya bisa dicegah, diantisipasi, dikelola sedini mungkin dapat dilakukan secepatnya. Yah, sebagai bentuk kepedulian kita kepada generasi penerus kehidupan di masa depan dan sebagai orang tua yang menjadi pendidik yang baik bagi anak-anak kita.

Sekadar mengulangi saja, bahwa anak kedua kami, Nadifa Kamilia, yang biasa kami panggil “adek” merupakan anak tuna rungu alias difable (different ability people) klasifikasi gangguan pendengaran (hearing impairment) kategori Profound Sensori Neural Hearing Loss (Hilangnya Pendengaran Persyarafan Yang Sangat Berat). Sempat terlintas penyesalan beberapa saat lamanya, mengapa saya, yang notabene sebagai dokter pun kurang aware/peduli terhadap proses pra kehamilan, selama kehamilan, dan pasca kehamilan istri.

Nadifa sendiri baru terdeteksi di rahim istri ketika sudah berusia 4 bulan, meski pun kami sudah “tes pek” selama 2 kali sejak bulan-bulan awal telatnya menstruasi, namun mungkin sudah takdirnya belum terdeteksi dengan model kadar kualitatif hormon kehamilan itu. Istri akhirnya di bulan keempat pasca telat haid merasa ada benjolan keras bulat di perutnya. Langsung curiga hamil dan periksa USG dan benar hamil, dan sempat di”gerutui” sama dokter kandungannya.

Mulailah agak teratur periksa kehamilan, dan di trimester akhir terdeteksi jumlah cairan ketuban (liquor amnion) kurang dari normal. Cuma satu dokter yang bilang normal. Yah, cuma sampai di situ saja, belum terpikir mau tes-tes lain, yah terus terang itulah bentuk “ketololan” saya sebagai dokter. Maka jangan sampai terulang, termasuk bagi teman-teman yang awam sekali pun.

Lalu sampailah saat kelahiran, tepat di malam lebaran idul fitri, melahirkan dengan mudah secara normal karena berat Nadifa cuma 2,4 kilogram, sempat masuk inkubator/warmer selama sehari karena napas dan saluran napasnya tidak adekuat alias mengkis-mengkis alias kembang kempis dan berlendir banyak ketika pindah ke bangsal yang memakai AC. Secara fisik memang Nadifa terlihat lemah. Bulan-bulan selanjutnya di awal kehidupan terlihat Nadifa kurang aktif, perkembangan fisik seperti menegakkan kepala tidak secepat kakaknya. Menurut ibunya di bulan awal, Nadifa masih respon dengan beberapa suara, tapi entahlah, karena kami belum tes secara benar pada waktu itu. Istri juga ingat sekali tidak ada hal yang aneh atau penyakit yang tampak dialami istri selama hamil seperti beberapa tanda yang jelas adanya penyakit yang menggangu janin pada beberapa ibu hamil lainnya. Mungkin inilah salah satu sebab kewaspadaan kami begitu kurang.

Kecurigaan gangguan pendengaran mulai ada sekitar umur 4 bulan, tapi itu pun tidak yakin sekali karena Nadifa masih respon (terkejut) ketika mendengar beberapa suara, ya saya juga kadang menyaksikan responnya. Tapi ya itu tadi, kok ya tidak tergerak untuk tes secara lebih lanjut.

O, iya, sebenarnya kami juga pernah ke dokter anak di tempat kerja saya, dan Nadifa didiagnosis dengan gangguan perkembangan global (global delayed development) dan ukuran kepala lebih kecil dari normal (mikrosepali). Sayang benar kenapa kami tidak “mencecar” apa saja penyebab/kemungkinan kondisi itu dan dokter anak juga kurang memberikan informasi secara aktif, cuma disarankan USG kepala. Kami bawa Nadifa USG kepala di Cirendeu, Tangerang atas rujukan dokter anak RS Fatmawati yang tentu saja atas rekomendasi dokter anak saya yang di Jogja dan ketemunya “cuma” perbesaran ruang 4 pada tulang tengkorak (ventrikulomegali), itu pun “cuma” dianggap normal dan tidak signifikan atau tidak terlalu sesuai dengan diagnosis dokter anak dan dikatakan perlu dievaluasi. Sayang juga, kami tidak segera kontrol ke dokter anak atau mencari second opinion.

Akhirnya setelah istri mutasi ke Jogja, barulah kami  “agresif” dan mulai merasa “ngeh”. Saya berinisiatif membawa Nadifa periksa ke dokter THT, lagi-lagi di tempat kerja saya. Yah, seperti kecurigaan kami, Nadifa memang mengalami gangguan pendengaran. Dan itu baru kami periksa ketika Nadifa berumur 18 bulan, lalu dirujuk untuk tes yang lebih canggih di RSUP Sardjito dengan BERA, dan muncul diagnosis profound sensori neural hearing loss (SNHL) untuk kedua telinga tadi. Syukurlah kami tidak sampai harus tangis-tangisan, tapi yang jelas galau sekali dengan kondisi dan situasi waktu itu. Keluarga besar ikut galau juga dan ada yang tidak percaya. Tetangga pun masih menganggap normal anak usia segitu belum bisa bicara.
Entahlah, kebingungan kami seperti di jawab langsung sama Allah, habis kontrol THT untuk dapat penjelasan mengenai hasil BERA, sewaktu pulang, di depan lift RS kami bertemu seorang ibu dan anaknya yang sepertinya juga gangguan dengar. Saya ga sempat tanya identitas ibu itu, dia menyarankan kami ke sebuah hearing center yang cukup terkenal di Jogja. Panjang sebenarnya kisah pencarian informasi ini, singkat cerita akhirnya Nadifa bisa pakai Alat Bantu Dengar.

Lalu belum lama ini kami “iseng” ingin tahu dugaan kami mengapa Nadifa bisa mengalami gangguan pendengaran sejak lahir. Lalu kami melakukan CT Scan kepala dan tes laboratorium untuk deteksi TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus/CMV, Herpes). Benar dugaan kami, Nadifa ada riwayat terinfeksi Rubella, CMV, dan Herpes.

Penyesalan tidak ada gunanya, namun yang penting mengambil pelajaran, bahwa perlu melakukan deteksi dini gangguan pendengaran kepada anak kita, karena mendengar merupakan faktor penting untuk berbahasa dan menjalani kehidupan. Lalu apa tes yang perlu dilakukan kepada anak kita untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran? Kalau tidak mau menduga-duga langsung saja begitu anak kita lahir, kita minta dilakukan tes deteksi dini dengan alat bernama OAE (oto acoustic emission), sebuah alat berbasis komputer yang mampu mendeteksi kerusakan pada bagian rumah siput/koklea terutama fungsi rambut halus penerima getaran suara pada rumah siput itu. Tes ini sangat sederhana, cepat, tidak menyakitkan, dan murah harganya. Memang baru rumahsakit dan toko pusat alat bantu dengar tertentu saja yang memilikinya. Bisa kita tanyakan sama dokter THT dimana kita bisa memperoleh anak kita melakukan tes tersebut. Kebetulan juga di RS tempat saya bekerja juga bisa melakukan tes tersebut karena sudah bekerjasama dengan sebuah pusat alat bantu dari Jakarta. Bagi mereka yang tetap sulit mencari tempat tes ini, lakukan saja seperti orang tua zaman dahulu menguji pendengaran anaknya. Bisa dengan memberikan suara secara tiba-tiba seperti gebrakan meja, bagaimana reaksi anak ketika mendengar suara petir dan suara-suara lain di sekitarnya. Diperlukan sedikit kepedulian dan ketelitian terhadap ini, atau kalau masih ragu, datangi saja dokter THT (sebenarnya dokter umum juga bisa melakukan) yang biasanya akan melakukan tes secara sederhana juga menggunakan garpu tala dan tepukan tangan. Kita pun sebagai orang tua juga bisa kok kalau cuma pakai cara tepuk tangan di samping atau belakang anak yang mau kita tes.

Nah, bila sudah yakin anak kita ada gangguan pendengaran dengan sedini mungkin maka selanjutnya diperlukan upaya penanganan yang sedini mungkin pula. Memang harus ditentukan pula sebab pastinya karena bisa jadi si anak proses penyebab gangguan pendengarannya masih berlangsung seperti pada kasus infeksi bakteri pada telinga sehingga perlu dilakukan pengobatan medis untuk penyebab gangguan. Namun untuk bayi dengan gangguan pendengaran yang sudah terdeteksi di awal-awal kelahirannya, lebih banyak disebabkan faktor kehamilan ibunya. Meski pada beberapa kasus proses itu masih berlangsung ketika bayi lahir.

OK. Rumit kalau saya memaparkan semuanya. Intinya perlu dilakukan deteksi seawal mungkin agar penanganan yang tepat juga bisa diberikan seawal mungkin dan tentu kita berharap keberhasilan anak kita lebih besar untuk sembuh dari gangguan pendengarannya, atau proses gangguan itu tidak berlanjut dan semakin parah merusak sistem pendengarannya. Dan anak kita lebih mudah untuk belajar sedini mungkin agar sisa pendengarannya bisa terasah dengan harapan akhirnya dia bisa berbicara, berbahasa, dan memahami kehidupan seperti anak-anak lainnya.

Diposkan pada kesehatan, malpraktik, obat, pemerintah, politikkesehatan, yankes

Akar Masalah Pelayanan Dokter dan RS


Mumpung masih hangat pemberitaan mengenai pelayanan kesehatan di Indonesia yang amburadul dan seringkali dinisbatkan kepada rumahsakit dan dokter (serta tenaga kesehatan lain) yang berlaku sewenang-wenang kepada masyarakat yang akan dan sedang berobat, saya tertarik juga untuk menulis tentang apa yang saya ketahui. Saya mengajak melihatnya secara global agar kita lebih bisa melihat permasalahan dasar timbulnya masalah-masalah seperti itu.

Hak untuk sehat merupakan hak dasar manusia agar dia tetap hidup. Sehat yang saya maksud di sini seperti definisi WHO, meliputi sehat bio (fisik), psiko (jiwa), sosial, dan spiritual. Untuk itu, kesehatan mestinya menjadi salah satu pilar dasar yang diurus oleh negara sebaik-baiknya selain pendidikan, ekonomi, dan keamanan. Dokter dan paramedis menurut saya termasuk pengabdi negara untuk rakyat, baik itu PNS atau swasta. Ini tercermin dalam sumpah profesi yang memberikan keutamaan kepada perlindungan kehidupan.

Profesi di bidang kesehatan tidak terlepas dalam definisi lingkup tenaga profesional yang mempunyai standar pelayanan dengan konsekuensi standar penghasilan.

Namun berbeda dengan negara kita, di negara yang sudah baik sistem kesehatannya semua hal itu diatur dengan baik dan layak baik standar pelayanan profesinya yang merupakan bentuk kewajiban dari profesi bidang kesehatan maupun tarif atau imbal jasa sebagai sebuah hak yang sama pentingnya dengan pelaksanaan kewajiban.

Selain itu, yang membedakan kita dengan beberapa negara dengan sistem kesehatan yang sudah baik meliputi berbagai hal seperti sistem pembiayaan kesehatan yang layak. Bandingkan dengan sistem kesehatan kita, untuk pembiayaan berobat saja saja sebagian besar masyarakat masih merogoh dari sakunya sendiri (sistem out of pocket atau fee for service). Berbeda dengan negara yang sudah menganut sistem pelayanan berbasis asuransi untuk semua warganya. Bahkan ada ada subsidi warga kaya kepada warga miskin melalui alokasi pajak untuk kesehatan, dan itu jumlahnya termasuk sangat besar. Dengan sistem asuransi yang baik pula kita seharusnya bisa mengendalikan biaya obat. Untuk menerapkan sistem asuransi yang baik tidak bisa dengan premi/iuran asal-asalan seperti rencana pemerintah yang telah menentukan total premi subsidi bagi masyarakat miskin sebesar Rp 15.500 per bulan. Bagaimana mungkin dengan pembiayaan semurah itu pelayanan akan berjalan dengan baik, malah bisa justru terjadi sebaliknya. Sudah ada contoh nyata di Jakarta dengan Program KJS yang belum matang itu.

Selanjutnya negara kita sistem kesehatannya juga masih bersifat konsumtif. Contoh saja, untuk masalah obat, belum ada satu pun obat medis yang bahan baku aktifnya kita produksi sendiri. Jelas ini akan berpengaruh terhadap biaya pengobatan. Begitu juga dengan alat-alat kesehatan yang amat mahal, sebagian besarnya masih diimpor dari luar negeri.

Lalu, di negara kita ini, biaya pendidikan dokter yang sangat mahal dan lama waktunya, juga belum mendapatkan perhatian yang baik oleh pemerintah. Sudah ada usul sebaiknya sekolah kedokteran dibuat saja dengan ikatan dinas seperti pegawai pajak yang lulusan STAN, atau sekolah kedinasan lainnya. Sehingga kontrak penempatan tenaga medis maupun paramedis di seluruh Indonesia bisa lebih merata. Untuk pembayaran gaji dan lama waktu pengabdian di daerah terpencil bisa mencontoh perusahan pertambangan yang layak dalam menggaji tenaga medis/paramedis serta memberikan fasilitas penunjang seperti mess, fasilitas hiburan, pendidikan , dan sebagainya, agar tenaga kesehatan itu betah di tempat terpencil. Lagi-lagi ini bukan permasalahan sepele karena itu semua memerlukan pemerataan pembangunan.

Bila faktor-faktor di atas sudah diperbaiki. Bolehlah kita berharap dokter dan paramedis bisa melayani dengan tenang tanpa perlu memikirkan kejar setoran dan mendapatkan jumlah pasien sebanyak-banyaknya. Dengan gaji dokter dan paramedis yang layak, pasien bisa mendapatkan keuntungan dengan berobat tanpa perlu membayar (hanya membayar premi yang dimasukkan dalam pajak, atau subsidi), dokter/paramedis tidak perlu kerja rodi 24 jam di banyak tempat praktik yang pada akhirnya berdampak meningkatkan angka malpraktik dan rendahnya mutu pelayanan.

Jadi isu yang mesti diwujudkan dalam aksi nyata oleh pemerintah adalah: dokter/paramedis sejahtera, rakyat sehat. Itu sudah hukum sebab akibat. Bila tidak maka ibarat pilot pesawat yang mengemudikan pesawat dalam keadaan lelah dengan bayaran tidak layak, makan ancamannnya adalah keselamatan bagi dirinya dan penumpang pesawat itu sendiri.

Salam.
WidodoWirawan.Com