Diposkan pada tak terkategorisasi

Runtuhnya Teori ‘Gen Gay’


Mumpung rame kembali kasus pelegalan kawin sejenis di US oleh Obama…

avatar Iwan YuliyantoIwan Yuliyanto

…dan Dialog Tentang Indonesia Tanpa Diskriminasi |

Gay

Bismillah…

Jurnal ini tambahan penjelasan tentang runtuhnya teori ‘Gen Gay’ pada jurnal sebelumnya: Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak.

Berawal dari obrolan dengan Tyas Sarce, pegiat Indonesia Tanpa Diskriminasi (ITD); juga dengan teh Onya Aza, pegiat Anti Sepilis dan Anti LGBT. Saat obrolan sampai bagian tentang fitrah manusia, Tyas Sarce menulis:

Lihat pos aslinya 2.255 kata lagi

Diposkan pada android, gadget, tunarungu

Menyiasati screen time yang berlebihan pada anak


mac

Keberadaan gadget elektronik yang memiliki fitur layar di era moderen membuat anak lebih malas untuk beraktifitas secara fisik. Orang tua sering tidak menyadari keberadaan gadget memberikan dampak yang serius bagi anak. Memang tidak semua gadget berfitur layar membuat anak malas beraktifitas secara fisik karena ada juga gadget yang justru memberikan anak semacam edukasi tertentu. Biasanya gadget jenis ini ada di sentra permainan anak di pusat perbelanjaan atau tempat wisata.

Kami pun merasa begitu, gadget merupakan ancaman tersendiri bagi kami, yang memiliki anak berkebutuhan khusus/ABK (tuna rungu). Anak ABK memerlukan kondisi bermain dan belajar yang harusnya lebih terkondisikan agar mampu menerima input yang sesuai diharapkan. Dan yang lebih penting lagi menghindari ketergantungan yang parah terhadap permainan-permainan di gadget. Anak sekarang selain sulit dicegah, mereka juga justru lebih kreatif mencari celah untuk mendapatkan keinginan mereka. Dalam kasus Nadifa (dan juga kakaknya), meski pun gadget sudah diberi proteksi password sekali pun, ternyata mereka bisa membongkarnya. Calon hacker juga ternyata, haha…

Untuk televisi lebih gampang di saat ini, karena sudah bisa lebih diatur kapan boleh nonton TV, apalagi sejak kami tidak lagi berlangganan TV satelit, dan kami sendiri juga sudah jarang menonton TV. Sedang untuk small gadget seperti android handset, itu jauh lebih sulit. Apalagi biasanya gadget jenis ini terkoneksi terus ke internet. Sehingga sangat banyak hal yang bisa dieksplorasi oleh anak. Mereka sudah terbiasa membuka google play store untuk mendownload sendiri game kegemaran mereka, atau pun tahan memelototi berjam-jam channel youtube favorit mereka. Dahulu kalau dilarang mengakibatkan mereka marah-marah dan justru sulit diajak belajar alias waktu ngambeknya sangat panjang. Untunglah sejalan waktu ada hal-hal yang bisa dimodifikasi agar screen time lebih bisa dikendalikan.

1. Membiasakan anak beraktifitas outdoor/luar ruangan. Bagaimana pun ini butuh energi besar bagi orang tua untuk memfasilitasi anak agar anak bisa beraktifitas di luar rumah. Sangat susah di situasi dunia perkotaan dengan lahan/halaman yang sempit. Sampai saat ini pun aktifitas di luar masih seperti yang dulu, les renang. Kadang main pasir di tanah tetangga, kadang main air, menyiram tanaman, senam, main petak umpet, hula hop, dan sebagainya. Sebenarnya banyak sekali referensi mengenai aktifitas outdoor. Syaratnya cuma satu: kemampuan orang tua untuk meluangkan waktunya menemani anak bermain. Ini yang susah. Padahal di zaman orang tua kecil dulu, banyak sekali aktifitas outdoor yang bisa dilakukan.

2. Mengurangi waktu koneksi ke internet. Ini jelas susah dilakukan bila gadget terkoneksi full internet. Kami menyiasatinya dengan menggunakan modem berjenis wifi mini router, sehingga lebih cepat digunakan saat dibutuhkan, dimatikan bila tidak diperlukan. Bila anak sudah memegang gadget dan terlihat siap membuka youtube atau google play store, modemnya tinggal dimatikan. Tentu saja orang tua juga tidak bisa koneksi ke internet. Memang itu konsekuensi, tidak mengapa. Yang sulit adalah ketika orang tua sedang butuh koneksi internet seperti untuk membalas email, dan sebagainya. Ini bisa disiasati, misalnya dengan menggunakan dua jenis modem, tapi ini justru menambah biaya. Cara lain yang lebih praktis dan tidak keluar biaya tambahan, yaitu dengan melakukan filtering. Ini memerlukan pengaturan di aplikasi modemnya sendiri. Saya biasanya menggunakan filtering berdasarkan MAC address dari gadget yang digunakan atau berdasarkan alamat website tertentu. Filtering menggunakan MAC address akan memblokir penggunaan internet di gadget yang kita inginkan. Jadi orang tua tetap bisa melakukan koneksi melalui gadget lain, misal laptop, ketika harus melakukan koneksi ke internet. Dengan sistem seperti ini sampai sekarang anak tidak melakukan protes, karena bisa kita lakukan dengan diam-diam.

3. Melakukan kompensasi dengan memeberikan fasilitasi mainan yang interaktif dan memerlukan aktifasi motorik yang lebih banyak. Bila mempunyai budget/anggaran khusus buat membeli mainan, tentu ini dapat menggantikan permainan-permainan virtual di gadget, sehingga memungkinkan anak mengembangkan motorik, berkonsentrasi, dan belajar secara lebih baik. Syukur kalau orang tua lebih kreatif membuat mainan-mainan biaya murah bahkan tanpa biaya sebagaimana pengamalam mereka sewaktu kecil dulu.

4. Dan lain sebagainya, silakan orang tua atau teman-teman yang mempunyai pengalaman, dapat menambahkan tip-tipsnya. Terimakasih.

Diposkan pada hemat, keuangan, teknologi, tips

Efisiensi


IMG_20150605_231022-

Beberapa waktu lalu saya sempat menulis untuk mengikuti lomba mengenai energi, sayang saya tidak terlalu serius untuk memperjuangkan agar artikel saya itu masuk nominasi. Tidak mengapalah, yang penting ide (untuk) menulis (lagi) sudah terealisasi, dan sedikit banyak sudah tertuang dalam wujud tulisan yang bisa dibaca banyak orang dan berharap memberikan inspirasi dan manfaat.

Kali ini saya mau bercerita terkait judul tulisan ini. Yah, efisiensi. Tentu kata ini saya yakin sudah tidak asing bagi kita semua. Silakan cari maknanya yang begitu banyak di google. Saya sendiri mengartikan efisiensi sebagai penghematan. Hemat dari hal-hal yang selama ini dirasakan sebagai pemborosan. Berhemat dari kegiatan-kegiatan yang seharusnya bisa ditiadakan bila hasil yang dicapai bisa sama bahkan bisa lebih baik. Terkadang efisiensi tidak memberikan kenyamanan. Tetapi kan, kenyamanan itu karena faktor pembiasaan saja. Dan kita mungkin sudah sedikit paham, terkadang kenyamanan itu lama-lama bisa membunuh kita dengan lebih cepat. Membunuh dalam artian sebenarnya, atau membunuh kemampuan diri kita untuk lebih maju menghadapi tantangan agar survive dalam dunia yang semakin keras ini.

Baiklah… supaya tidak melebar kemana-kemana, saya langsung saja cerita mengenai proses-proses efisiensi yang sedang saya lakukan di tempat kerja dan di rumah. Memang ada bagian tertentu yang dari sananya sudah terlanjur sejak awal sehingga tidak bisa dilakukan efisiensi yang berarti seperti desain rumah dan kantor, lokasi rumah dan kantor, jarak ke tempat kerja, daya listrik PLN, dan sebagainya. Namun di era yang semakin keras ini, efisiensi menjadi suatu kewajiban untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dengan pengorbanan (uang dan tenaga) yang lebih kecil, dan tentu saja bisa memberikan tabungan dan sedekah yang lebih banyak. Berikut proses efisiensi yang saya lakukan:

1. Listrik
Sekarang setiap ada bola lampu yang rusak, maka saya selalu mencari penggantinya dari jenis LED, kalau bisa cari yang paling murah, dibandingkan dengan merek termahal dan katanya terbaik, tapi sebisa mungkin juga cari yang ada garansinya. Akhirnya bisa juga dapat bola lampu seharga 60 ribuan (lebih murah dari itu belum dapat yang ada garansi, tapi saya coba juga, siapa tahu awet , hehe) berkapasitas 12 watt, cukup untuk penerangan efektif namun hemat energi. Selain itu kami senantiasa, terutama saya yang paling rewel, mematikan lampu bila tidak digunakan, saat tidur kami usahakan tidur dengan lampu maksimal 5 watt saja, kalau perlu tidak usah pakai penerangan sama sekali. Banyak tulisan yang menjelaskan tidur tanpa penerangan lebih sehat. Yang paling susah dilakukan sampai sekarang adalah mengkondisikan suhu ruangan kamar tidur agar tidur tetap nyaman. Lingkungan dan desain rumah yang tidak menguntungkan membuat suhu ruang juga tidak bersahabat. Namun ada beberapa cara yang kita lakukan. Bila kondisi ruangan tidur suhunya tidak nyaman, yah, terpaksa AC hidup. Dulu di awal, masih rajin membuat setingan agar AC tidak terlalu boros listrik seperti mengaktifkan fitur low energy, fitur timer off/otomatis off bila sudah pukul 2-3 dinihari. Cara lain kalau lagi tidak terlalu panas, dengan membuka pintu kamar tidur sehingga sirkulasi udara lebih baik, jangan membuka jendela, nanti malah maling bisa masuk, hehe. Cara ini terpaksa bila AC sedang rusak, hehe. Bisa dikombinasikan dengan menghidupkan kipas angin. Bersyukurlah bagi mereka yang bisa membuat rumah yang tidak memerlukan AC. Berkaitan dengan AC ini, saya sendiri pernah menderita sakit persendian lutut karena terlalu sering terpapar udara AC secara langsung, karena juga suka lupa memakai pelindung seperti selimut. Tidur yang paling nyaman bagi saya ketika AC ruangan hidup adalah dengan memakai sarung atau celana di bawah lutut. Sayangilah lutut kita… Dan bagaimana pun sampai sekarang saya merindukan rumah tanpa AC, dan itu memerlukan investasi mahal, entah kapan bisa terealisasi. Mahal di awal, namun bisa murah untuk proses lanjutannya. Untuk peralatan komputer, alhamdulillah sampai sekarang ga punya komputer desktop/PC yang watt-nya amat besar itu. Meski sudah banyak akhir-akhir ini komputer hemat energi…, secara pribadi saya belum membelinya, masih memakai laptop biasa saja. Namun untuk kantor kami sedang melakukan eksperimen dan substitusi untuk perangkat komputer hemat energi ini. Semoga sukses dan nanti bisa dibuatkan reviewnya. O, iya sekarang saya sangat jarang sekali nonton TV, selain acara TV sekarang banyak yang tidak bermanfaat, kok kayaknya lebih enak tidur atau browsing daripada menonton, haha…

2. Bahan bakar
Bahan bakar utama di rumah seperti di dapur sampai sekarang menggunakan gas LPG, sayang sekarang gas juga semakin mahal. Efisiensi yang bisa dilakukan sebatas bagaimana memasak yang efisien. Mungkin nanti istri saya bisa menyumbang cara masak yang efisien ini, karena saya sendiri ketika masak, masih boros, haha… O, iya, sayang juga, memasak nasi pilihannya masih memakai energi listrik yang juga besar dan semakin mahal. Masih menunggu kompor yang memiliki efisiensi tinggi untuk memasak nasi. Katanya ada ya…, tapi kali harganya juga mahal, haha…
Untuk kendaraan bermotor, sampai sekarang masih bermimpi punya sepeda yang layak agar bisa lebih banyak menggunakan sepeda untuk kemana-mana. Saat ini saya lebih prefer memakai kendaraan roda dua bila cuaca mendukung, dan tingkat kemacetan lagi parah-parahnya. Memakai mobil pun saya betul-betul berusaha mengemudi secara eco drive (susah loh, mesti nekan emosi ga terpancing ngebut-ngebutan dan main banyak rem, pagi hari lebih suka AC dimatikan, buka jendela dikit untuk hirup udara segar). Sebisa mungkin saya sewaktu memakai kendaraan sudah memetakan daerah macet agar tidak boros bahan bakar.

3. Makan
Terus terang, sekarang lebih banyak makan di rumah, tetap enak masakan istri daripada jajan di warung. Ternyata ini sangat menghemat pengeluaran. Meski pun akhirnya boros saat ga bisa nahan makan bersama di luar atau emosi membeli mainan untuk anak-anak. Di kantor rencana pengadaan katering mandiri masih tahap wacana saja, semoga bisa terealisasi yah…

4. Minum
Sayang, air sumur kami tidak mendukung untuk layak buat diminum. Was-was aja gitu, selain belum dites, juga karena tingkat iritasinya cukup tinggi terbukti tangan yang mudah teritasi saat digunakan untuk mencuci. Sampai sekarang masih minum dari air galon komersial yang cukup menguras budget, artinya yah, belum efisien. Target ke depannya ingin beralih ke mesin filter air yang sekarang banyak bermunculan dari merek terkenal. Semoga. Untuk kantor pun kami akan mereplace semua galon komersial dengan produksi sendiri dengan mesin sendiri. Smoga juga bisa segera. Banyak sekali hematnya loh…

5. Pulsa
Penggunaan pulsa menjadi salah satu perhatian saya sejak lama. Syukurlah akhirnya terpecahkan juga setelah melalui berbagai eksperimen dan evaluasi. Saya dan istri menggunakan nomor pasca bayar CDMA merek terkenal. Gratis telpon semaunya. Abonemen cukup bayar 25 ribu saja. Internet akhirnya memakai pasca bayar juga, cukup 90 ribu unlimited per bulan, pakai bersama sudah lebih dari cukup buat streaming youtube, browsing, chit-chat di grup-grup media sosial, pokoknya puaslah, dapat 15 GB per bulan untuk FUP-nya.

6. Saya kira kalau ditulis semua, banyak deh… maksudnya tulisan ini juga bisa mendapatkan masukan dari para pembaca, model-model efisiensi yang sedang diterapkan oleh teman-teman, siapa tahu bisa saya contoh. Sangat ditunggu share-nya yah, makasih…

Tulisan ini dibuat memakai tablet windows (yang jelas hemat energi), diterangi lampu belajar emergensi LED, dan kipas angin plafon (cuaca begitu sumuknya…). Diupload menggunakan jaringan internet hemat pulsa.

Diposkan pada dokter, kesehatan, konsultasi

Konsultasi Dokter Online, Layakkah?


Tulisan ini terkait proyek aplikasi (sementara baru bisa di perangkat Android dan emulatornya) yang sedang dikembangkan oleh teman-teman saya, saya hanya salah satu penasihat, fasilitator, reviewer, sekaligus sebagai pemain juga. Aplikasi yang dimaksud adalah ChatDoctor, aplikasi konsultasi jarak jauh dokter dengan pasien secara real time melalui akses internet. Aplikasi ini bisa diunduh melalui Google Play. Pada proses pengembangan ini memberikan kebebasan bagi member berkonsultasi secara gratis.

Sebagai salah satu dokter yang mengampu rubrik konsultasi pada aplikasi ini, saya merasakan aplikasi ini berguna bagi masyarakat yang membutuhkan akses cepat (real time) dikala mereka terkena masalah kesehatan tertentu. Sepertinya mereka sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini, terbukti dengan beberapa testimoni positif yang masuk ke dalam ruang konsultasi saya.

Memang sebagai produk teknologi, dalam pengembangannya, masih banyak kekurangan aplikasi ini yang masih menyulitkan bagi dokter dan pasien. Seperti proses arsip yang belum sempurna untuk keperluan rekam medis secara online. Beberapa bugs yang muncul juga turut membuat kurang nyaman, namun ini justru membuat aplikasi ini semakin sempurna dengan semakin banyaknya masukan. Kesulitan lain adalah masih sedikit dokter yang mau berpartisipsi dalam aplikasi ini. Bisa dipastikan bahwa dokter yang bergabung dalam aplikasi ini adalah dokter yang melek teknologi serta mau meluangkan waktunya untuk memberikan ruang konsultasi kepada masyarakat. Ini yang paling susah saya kira. Praktik dokter secara online sebenarnya sama saja dengan offline, namun di sini dituntut ketelitian yang lebih dalam memberikan advise kepada pasien. Saya sendiri dari dulu sudah terbiasa memberikan konsultasi jarak jauh melalui media internet mau pun via sms atau telepon, jadi tidak ada masalah berarti. Kecuali satu mungkin, yaitu waktu yang lebih agak tersita, karena tag line dari apliasi ini adalah real time. Begitu pasien bertanya, dokter sebaiknya secepat mungkin memberikan respon. Ini yang masih sulit juga, memerlukan komitmen kuat, gadget yang handal, dan koneksi internet yang stabil. Selama terlibat di aplikasi ini saya belum mendapatkan konsultasi kasus emergensi dari masyarakat, meski pun suatu saat bisa saja terjadi seperti line 911 di luar negeri. Sehingga trik yang diterapkan adalah membatasi jam praktik online, yaitu dengan mencantumkan jam praktik sehingga bisa dilihat oleh member, namun sepertinya ini belum efektif. Masih banyak yang bertanya di luar jam praktik. Yah, sebenarnya ini bisa dimaklumi, sama saja ketika kita praktik secara offline, semisal di rumah, meski ada jam praktik tertulis jelas di plang praktik, ya tetap saja ada pasien yang berobat di luar jam praktik. Ini menjadi tantangan, selain tag line real time, aplikasi ini juga mencita-citakan online non stop 24 jam, stand by untuk konsultasi. Yah, memang perlu sumber daya dokter yang banyak, itulah tantangan.

Mungkin ada yang bertanya, biasanya dari para sejawat dokter sendiri: Layakkah aplikasi seperti ini dijadikan salah satu sarana pengambilan keputusan medis bahkan memberikan rekomendasi tertentu kepada masyarakat yang bisa jadi berdampak negatif dikarenakan keterbatasan tertentu seperti tidak bertatap muka secara langsung? Mungkin kita lupa, bahwa selama ini para dokter juga menerima berbagai konsultasi seperti kondisi yang ada pada aplikasi ini. Dan selama ini tidak menjadi masalah. Memang ada batasan, kasus apa saja yang bisa ditangani secara tidak langsung seperti ini. Ini tentu memerlukan kreatifitas yang tinggi dari seorang dokter dalam menggali informasi yang sebagian besarnya bersifat tulisan, gambar, dan attachment lainnya seperti video dan audio. Inilah yang disebut sebagai telemedicine. Syukur-syukur kalau ke depan bisa ada standar yang lebih jelas, semacam pedoman praktik online bagi para dokter. Untuk ini kita bisa mengambil referensi dari website-website konsultasi yang sudah ada banyak baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Di samping kemungkinan efek negatifnya, ada banyak efek positif yang memberikan keuntungan bagi dokter dan masyarakat bila bergabung dalam aplikasi seperti ini. Dokter bisa mendapatkan kepercayaan yang lebih dan meningkatkan angka promosi dirinya atau institusinya bila bergabung dengan aplikasi ini, karena aplikasi ini memberikan ruang iklan seperti tempat dokter praktik disertai dengan peta onlinenya. Keuntungan bagi pasien terutama adalah mendapatkan akses konsultasi yang jauh lebih mudah, dengan biaya yang sangat murah.

Semoga aplikasi ini ini semakin berkembang dan memberikan kemanfaatan yang lebih banyak kepada masyarakat. Aamiin.

Referensi:

http://chatdoctor.net/

https://play.google.com/store/apps/details?id=xrb21.chat.dokter&hl=en

https://kitabisa.com/chatdoctor

Diposkan pada kesehatan

Sikap Positif Tubuh Dapat Memperbaiki Mood, Kepercayaan Diri, dan Kondisi Kesehatan


High vs Low Power Poses Sumber: http://thespiritscience.net/
High vs Low Power Poses
Sumber: http://thespiritscience.net/

Secara tidak sengaja saya menemukan sebuah video inspiratif dan aplikatif, setelah browsing untuk penyegaran pengetahuan dan skill presentasi saya. Sumber asli video ini ada di website TEDTalks (ted.com) atau langsung ke http://www.ted.com/talks/amy_cuddy_your_body_language_shapes_who_you_are

Video ini bisa langsung teman-teman download dan jangan lupa memilih teks terjemahan (subtitle) untuk bahasa Indonesia ya…

Video-video di TEDTalks ini memang sangat menginpirasi bagi para penontonnya, dulu saya ingat saya pernah posting di blog saya ini mengenai cara penurunan berat badan secara revolusioner, ada di https://widodowirawan.wordpress.com/2013/04/04/menguruskan-badan-hanya-minum-jus-selama-60-hari/

Nah, video kali ini bercerita tentang penemuan ilmiah dari Prof. Amy Cuddy (beliau sendiri yang presentasi di video itu) mengenai sikap tubuh yang dapat mempengaruhi kadar hormon testosteron dan kortisol. Saya tidak usah terangkan apa itu fungsi kedua hormon itu karena sudah dijelaskan dalam video dan transkrip/subtitle video yang saya sertakan di sini. Bagi yang memerlukan artikel ilmiah Prof Cuddy bisa dilihat di Power Posing Brief Nonverbal Displays Affect Neuroendocrine Levels and Risk Tolerance: http://pss.sagepub.com/content/21/10/1363.abstract dan di https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&uact=8&ved=0CEcQFjAI&url=http%3A%2F%2Fdash.harvard.edu%2Fbitstream%2Fhandle%2F1%2F9547823%2F13-027.pdf%3Fsequence%3D1&ei=09KUVNedOI6VuQT1i4LgCQ&usg=AFQjCNF_XmzmLJG6WcP0MxUDgQ7KzxLbIw&sig2=r5ZIQ-hFmA3nQmxTbeKHHw

Namun, temuan ini dapat diperluas dengan menduplikasi temuan ini dalam proses-proses terapi penyembuhan pasien dengan faktor-faktor yang dipengaruhi oleh hormon adrenalin dan kortisol serta kondisi psikosomatis lainnya, seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, gangguan jiwa, dan sakit lambung/maag/dispepsia.

Yang jelas, inti dari temuan beliau itu ada 2 yaitu:

1. bahwa “tubuh juga dapat mempengaruhi pikiran sebagaimana – yang sudah lumrah – pikiran mempengaruhi tubuh”.

2. bahwa untuk menuju perubahan pikiran itu diperlukan “keterpaksaan”, melalui kepalsuan/berpura-pura sampai kita benar-benar (sering tanpa disadari) berada dalam kondisi/pikiran yang kita inginkan.

Hal ini pernah juga saya presentasikan dahulu waktu masih pendidikan koasistensi di bangsal ilmu jiwa mengenai feedback positif dari senyuman (yang dipaksa dalam kondisi tidak mood) untuk perbaikan mood dan kondisi kejiwaan lainnya. Jadi jangan lupa untuk diterapkan sehari-hari agar jiwa dan tubuh kita semakin sehat, serta awet muda 😀

Selamat beraktifitas kembali dan berbahagia dengan hidup teman-teman.

————–

Saya ingin mulai dengan menawarkan sebuah cara gratis dan sederhana, dan Anda hanya perlu mengubah sikap tubuh Anda selama dua menit. Tapi sebelum saya memberikannya, saya ingin meminta Anda sekarang untuk sedikit memeriksa tubuh Anda dan apa yang Anda lakukan dengan tubuh Anda. Jadi, berapa dari Anda membuat diri Anda tampak lebih kecil? Mungkin Anda sedang membungkuk, menyilangkan kaki Anda mungkin memeluk pergelangan kaki. Kadang-kadang kita menyilangkan tangan kita seperti ini. Kadang-kadang kita membukanya lebar-lebar. (Tawa) Saya bisa melihat Anda. (Tawa) Jadi, saya ingin Anda memperhatikan apa yang sedang Anda lakukan sekarang. Kita akan kembali membahas tentang itu dalam beberapa menit,dan saya berharap jika Anda belajar untuk sedikit mengubahnya,hal ini dapat secara signifikan mengubah cara hidup Anda.

Jadi, kami benar-benar kagum dengan bahasa tubuh,dan khususnya sangat tertarik dengan bahasa tubuh orang lain. Anda tahu, kita tertarik kepada hal-hal seperti, misalnya – (Tawa) – sebuah interaksi yang canggung, atau senyuman, atau pandangan merendahkan, atau mungkin kedipan yang sangat canggung,atau bahkan mungkin sesuatu seperti jabat tangan.

Narator: Tibalah mereka di No. 10, dan lihat ini polisi beruntung bisa berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat. Oh, dan inilah Perdana Menteri dari …? Tidak. (Tawa) (Tepuk tangan)
(Tawa) (Tepuk tangan)

Amy Cuddy: Jadi, sebuah jabat tangan, atau tanpa jabat tangan, bisa kita bahas selama berminggu-minggu. Bahkan di BBC dan The New York Times. Jadi, jelas ketika kita berpikir tentang perilaku nonverbal, atau bahasa tubuh – kami menyebutnya nonverbal sebagai ilmuwan sosial – itu adalah bahasa, jadi kita berpikir tentang komunikasi. Saat kita berpikir tentang komunikasi, kita berpikir tentang interaksi.

Jadi, apa yang bahasa tubuh Anda komunikasikan kepada saya? Bahasa tubuh apa yang sedang saya komunikasikan kepada Anda?

Dan ada begitu banyak alasan untuk percaya bahwa ini adalah suatu cara yang valid untuk melihat ini. Jadi, ilmuwan sosial
telah menghabiskan banyak waktu untuk melihat efek dari bahasa tubuh kita, atau bahasa tubuh orang lain, pada penilaian. Dan kita membuat penilaian sepintas dan membaca kesimpulan dari bahasa tubuh. Dan penilaian-penilaian tersebut bisa menentukan pencapaian hidup yang sungguh penting seperti siapa yang kita pekerjakan atau promosikan, siapa yang kita ajak berkencan.

Contohnya, Nalini Ambady, seorang peneliti di Universitas Tufts, menunjukkan bahwa ketika orang menonton 30 detik klip tanpa suara tentang interaksi nyata antara dokter-pasien, interaksi nyata antara dokter-pasien, PENILAIAN MEREKA AKAN KERAMAHAN DOKTER JUGA MENENTUKAN APAKAH DOKTER ITU AKAN DITUNTUT ATAU TIDAK. Jadi ini TIDAK TERLALU BERHUBUNGAN DENGAN APAKAH DOKTER TERSEBUT KOMPETEN ATAU TIDAK, TAPI APAKAH KITA MENYUKAINYA DAN BAGAIMANA MEREKA BERINTERAKSI?

Secara lebih dramatis, Alex Todorov di Princeton telah menunjukkan kepada kita bahwa penilaian pada wajah-wajah kandidat politik dalam satu detik saja menentukan 70 persen hasil dari pemilihan anggota senat Amerika dan hasil pemilihan kegubernuran, dan bahkan, di dunia digital, emoticon yang digunakan dengan baik dalam negosiasi online dapat memberikan nilai tambah bagi Anda dalam negosiasi tersebut. Kalau Anda memakainya dengan buruk, bisa gawat. Bukan?

Jadi ketika kita berpikir tentang nonverbal, kita berpikir tentang bagaimana kita menilai orang lain, bagaimana mereka menilai kita dan apa akibatnya. TAPI, KITA CENDERUNG LUPA, MASIH ADA PENONTON LAIN YANG TERPENGARUHI OLEH NONVERBAL KITA, YAITU DIRI KITA SENDIRI.

Kita juga dipengaruhi oleh nonverbal kita, pikiran kita dan perasaan kita, dan fisiologi kita. Jadi nonverbal apa yang saya maksud di sini? Saya seorang psikolog sosial. Saya mempelajari prasangka, dan saya mengajar di sebuah sekolah bisnis yang kompetitif, jadi tanpa terelakkan lagi saya jadi tertarik pada dinamika kekuatan. Saya jadi sangat tertarik dengan ekspresi nonverbal dari kekuatan dan kekuasaan. Dan apa ekspresi nonverbal dari kekuatan dan kekuasaan? Nah, inilah mereka.

Dalam kerajaan hewan, ini berkaitan dengan ekspansi. Jadi, Anda membuat diri Anda kelihatan besar, Anda merentang, Anda mengambil tempat lebih besar, pada dasarnya Anda membuka diri. Ini adalah tentang membuka diri. Dan ini nyata terjadi di dunia hewan. Tidak hanya terbatas pada primata. Dan manusia melakukan hal yang sama. (Tawa)

Jadi mereka melakukannya baik ketika mereka memiliki kekuatan yang berkesinambungan, maupun ketika mereka merasa kuat sesaat. Dan yang satu ini sangat menarik karena ini benar-benar menunjukkan betapa universal dan tuanya ekspresi kekuatan ini. Ekspresi ini, yang dikenal sebagai kebanggaan, telah dipelajari oleh Jessica Tracy. Dia menunjukkan bahwa orang yang dilahirkan dengan penglihatan dan orang yang buta sejak lahir sama-sama melakukannya ketika mereka memenangkan suatu kompetisi fisik. Jadi saat mereka melewati garis akhir dan menang, walaupun mereka belum pernah melihat orang lain melakukannya.

Mereka melakukan ini. Kedua tangan terangkat seperti “V”, dagu sedikit diangkat. Apa yang kita lakukan saat kita merasa lemah? Kita melakukan kebalikannya. Kita menutup. Kita membungkus diri kita. Kita membuat diri kita kecil. Kita takut menyenggol orang di sebelah kita. Jadi sekali lagi, baik hewan maupun manusia melakukan hal yang sama.

Dan ini yang terjadi bila Anda mempertemukan yang kuat dan yang lemah. Jadi yang cenderung kita lakukan ketika dihadapkan dengan kekuatan adalah kita bereaksi terhadap nonverbal orang lain.

Jadi jika ada seseorang yang jauh lebih berkuasa daripada kita, kita cenderung membuat diri kita lebih kecil. Kita tidak meniru bahasa tubuh mereka. Kita lakukan kebalikannya. Jadi saya memperhatikan perilaku ini di ruang kelas, dan apa yang saya lihat? Saya lihat bahwa mahasiswa MBA benar-benar menunjukkan seluruh rentang kekuatan nonverbal.

Jadi ada orang yang seperti karikatur alfa, masuk ke dalam ruangan, mereka langsung ke tengah ruangan bahkan sebelum kelas dimulai, seakan mereka benar-benar ingin menguasai daerahnya. Ketika mereka duduk, mereka seperti membuka lebar. Mereka mengangkat tangan seperti ini. Yang lainnya ada yang kelihatan menciut ketika mereka memasuki ruangan. Begitu mereka masuk, Anda bisa melihatnya. Anda melihatnya di wajah mereka dan tubuh mereka, dan mereka duduk di kursi mereka dan mereka membuat diri mereka kecil, dan mereka berbuat seperti ini ketika mereka mengangkat tangan. Saya perhatikan beberapa hal tentang ini.

Satu, Anda tak akan terkejut. Hal ini tampaknya berkaitan dengan jenis kelamin. Jadi wanita sangat cenderung untuk melakukan seperti ini dibandingkan pria. Wanita selalu merasa lebih lemah daripada pria, jadi hal ini tidak mengejutkan. Tapi hal lain yang saya perhatikan adalah tampaknya hal ini juga berkaitan dengan sejauh mana para mahasiswa berpartisipasi, dan seberapa baik partisipasi mereka. Dan hal ini sangat penting dalam ruang kelas MBA, karena partisipasi berbobot setengah dari nilai. Jadi sekolah-sekolah bisnis telah bergumul dengan kesenjangan nilai antar jenis kelamin. Anda mendapatkan para wanita dan pria dengan kualifikasi yang setara saat mendaftar dan ketika Anda menemukan kesenjangan dalam nilai, dan tampaknya mungkin sebagian disebabkan oleh perbedaan tingkat partisipasi.

Jadi saya mulai ingin tahu, begitu, oke, jadi ada orang-orang yang datang seperti ini, dan mereka berpartisipasi. Mungkinkah kita dapat membuat orang-orang untuk “berpura-pura” dan kemudian itu membuat mereka dapat lebih berpartisipasi?

Jadi rekan utama saya, Dana Carney, di Berkeley, dan saya benar-benar ingin tahu, apakah kita dapat “berpura-pura” sampai kita berhasil? Dapatkah kita melakukan ini sebentar dan kemudian benar-benar mengalami perubahan sikap sehingga membuat kita tampak lebih kuat?

Jadi kita mengetahui bahwa nonverbal kita mempengaruhi bagaimana pikiran dan perasaan orang tentang kita. Ada banyak bukti.

Namun pertanyaan kita sebenarnya adalah, apakah nonverbal kita mempengaruhi bagaimana pikiran dan perasaan kita tentang kita sendiri? Terdapat bukti bahwa mereka memang berpengaruh.

Sebagai contoh, kita tersenyum ketika kita merasa bahagia, namun juga, ketika kita dipaksa tersenyum dengan menggigit bolpen seperti ini, ini membuat kita merasa bahagia. Jadi ini bekerja dua arah. Ketika berhubungan dengan kekuatan, ini juga bekerja dua arah. Kalau Anda merasa kuat, Anda cenderung melakukan ini, tetapi mungkin juga ketika Anda berpura-pura kuat, ada kemungkinan Anda juga jadi benar-benar merasa lebih kuat.

Jadi pertanyaan keduanya adalah, begini, jadi kita tahu bahwa pikiran kita mempengaruhi tubuh kita, tapi apakah tubuh kita juga sungguh mempengaruhi pemikiran kita? Dan ketika saya mengatakan pikiran, pada orang yang kuat, apa yang saya maksudkan?

Jadi saya berbicara tentang pemikiran dan perasaan dan segala hal fisiologis yang membentuk pemikiran dan perasaan kita,dan dalam kasus ini, itu adalah hormon. Saya meneliti hormon.

Jadi bagaimana pemikiran yang kuat dan yang lemah apabila dibandingkan? Orang yang sangat kuat cenderung untuk, tentu saja, lebih tegas, dan lebih percaya diri, lebih optimis. Mereka sungguh merasa bahwa mereka akan menang bahkan dalam permainan peluang. Mereka juga cenderung untuk mampu berpikir secara lebih abstrak. Jadi terdapat beberapa perbedaan. Mereka mengambil lebih banyak resiko.

Terdapat banyak perbedaan antara orang yang kuat dan orang yang lemah. Secara fisiologi, terdapat pula perbedaan pada dua hormon utama: testosteron, yang merupakan hormon dominasi, dan kortisol, yang merupakan hormon stres. Jadi yang kita temukan adalah bahwa pejantan alfa dalam hirarki primata mempunyai testosteron yang tinggi dan kortisol yang rendah, dan pemimpin yang kuat dan efektif juga mempunyai testosteron yang tinggi dan kortisol yang rendah.

Jadi apa artinya hal ini?
Bila Anda berpikir tentang kekuatan, orang cenderung berpikir bahwa ini hanyalah tentang testosteron, karena itu berkaitan dengan dominasi. Tapi sebenarnya, kekuatan juga berkaitan dengan bagaimana Anda bereaksi terhadap tekanan. Apakah Anda ingin mempunyai pemimpin yang kuat, yang dominan, testosteron tinggi, namun mudah dipengaruhi stres? Mungkin tidak, bukan? Anda menginginkan orang yang kuat dan tegas dan dominan, tetapi tidak terlalu reaktif, orang yang santai.

Jadi kita tahu bahwa dalam hirarki primata, bila seekor alfa ingin mengambil alih kekuasaan, bila suatu individu ingin mengambil alih peran alfa secara mendadak, dalam beberapa hari, testosteron individu tersebut telah naik secara signifikan, dan kortisol telah turun secara signifikan. Jadi kita punya bukti ini, bahwa tubuh dapat mempengaruhi pikiran, setidaknya pada tingkat wajah, dan juga bahwa perubahan peran dapat membentuk pikiran. Jadi apa yang terjadi, misalnya, Anda mengambil perubahan peran, apa yang terjadi kalau Anda melakukannya pada tingkat minimal, seperti manipulasi kecil, intervensi kecil berikut?

“Untuk dua menit,” Anda katakan, “saya ingin Anda berdiri seperti ini, dan ini akan membuat Anda merasa lebih kuat.” Jadi inilah yang kami lakukan. Kami memutuskan untuk membawa orang ke dalam lab. dan menjalankan eksperimen kecil, dan orang-orang ini mengambil, selama dua menit, antara pose kekuatan besar atau pose kekuatan rendah, dan saya hanya akan menunjukkan kepada Anda lima pose, walaupun sebenarnya hanya ada dua jenis. Jadi ini satu.

Dua lagi. Yang ini dijuluki pose “Wonder Woman” oleh media. Dan ini dua lagi. Jadi Anda bisa saja berdiri atau Anda dapat duduk. Dan ini adalah pose kekuatan rendah. Jadi Anda melipat tangan, dan membuat diri Anda lebih kecil. Yang satu ini kekuatan sangat rendah. Ketika Anda menyentuh leher, Anda seperti sedang melindungi diri.

Jadi inilah yang terjadi. Mereka masuk, mereka meludah ke dalam tabung kecil, kami menginstruksikan, “Selama dua menit, Anda harus melakukan ini atau itu.” Mereka tidak melihat foto pose. Kami tidak ingin memancing mereka dengan konsep kekuatan. Kami ingin mereka merasakan kekuatan, bukan?

Jadi selama dua menit mereka melakukan ini. Kemudian kami bertanya kepada mereka, “Anda merasa sekuat apa?” pada serangkaian kondisi, kemudian kami beri mereka kesempatan untuk berjudi, dan kemudian kami ambil sekali lagi contoh ludah. Itu saja. Itu keseluruhan eksperimen. Jadi inilah yang kami temukan. Toleransi resiko, dalam hal ini berjudi, yang kami temukan adalah bahwa ketika Anda berada dalam kondisi pose kekuatan tinggi, 86 persen orang akan berjudi. Ketika seseorang berada pada kondisi pose kekuatan rendah hanya 60 persen, dan ini merupakan perbedaan yang sungguh sangat besar.

Inilah yang kami temukan tentang testosteron. Berdasarkan kondisi awal ketika mereka datang, orang dengan kekuatan tinggi mengalami kenaikan sekitar 20 persen, dan orang dengan kekuatan rendah mengalami penurunan sekitar 10 persen.

Jadi sekali lagi, dua menit, dan Anda mendapatkan perubahan ini. Inilah yang Anda dapatkan tentang kortisol. Orang dengan kekuatan tinggi mengalami penurunan sekitar 25 persen, dan orang dengan kekuatan rendah mengalami kenaikan sekitar 15 persen. Jadi dua menit menyebabkan perubahan-perubahan hormonal ini yang pada dasarnya mengatur otak Anda untuk menjadi antara tegas, percaya diri dan nyaman, atau mudah terpengaruh oleh stress, dan merasa seperti dimatikan. Dan kita semua pernah merasakannya, bukan?

Jadi tampaknya nonverbal kita sungguh mempengaruhi bagaimana pikiran dan perasaan kita tentang diri kita sendiri, jadi ini bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk kita sendiri.

Juga, tubuh kita dapat mengubah pikiran kita. Namun pertanyaan berikutnya, tentunya, adalah dapatkah melakukan pose kekuatan selama beberapa menit sungguh mengubah hidup Anda secara berarti? Jadi ini di lab. Ini hal kecil, begitulah, hanya dua menit. Di mana Anda bisa benar-benar menerapkan ini? Yang sungguh menarik bagi kita, tentunya.

Dan jadi kami pikir inilah, yang sungguh penting, di mana Anda ingin menggunakan ini adalah situasi evaluatif seperti situasi ancaman sosial. Di mana Anda sedang dievaluasi, baik oleh teman-teman anda? Seperti remaja di meja makan siang.

Bisa juga, misalnya, untuk orang-orang yang berbicara di pertemuan dewan sekolah. Mungkin memberikan presentasi singkat atau berbicara di muka umum seperti ini atau melakukan suatu wawancara kerja. Kami memutuskan bahwa satu yang mengena untuk banyak orang karena sebagian besar orang pernah mengalaminya adalah wawancara kerja.

Jadi kami mempublikasikan temuan ini, dan media mencermatinya, dan mereka berkata, “Oke, jadi ini yang Anda lakukan ketika Anda pergi untuk wawancara kerja, bukan?” (Tawa)

Begitulah, jadi kita tentu saja terkejut, dan berkata, “Ya ampun, bukan. Bukan. Sebenarnya bukan itu yang kami maksudkan. Untuk banyak alasan, jangan. Jangan. Jangan lakukan itu.”

Sekali lagi, ini bukan tentang Anda berbicara kepada orang lain. Ini adalah Anda berbicara kepada diri Anda sendiri. Apa yang Anda lakukan sebelum Anda pergi ke sebuah wawancara kerja? Anda melakukan ini. Betul? Anda duduk. Anda melihat ke iPhone atau Android Anda, tanpa mengganggu siapa pun. Anda, begitulah, Anda melihat catatan Anda, Anda membungkuk, membuat diri Anda lebih kecil, ketika sesungguhnya yang seharusnya Anda lakukan mungkin adalah ini, misalnya, di kamar mandi, bukan? Lakukanlah itu. Sempatkan dua menit. Jadi inilah yang ingin kami uji. Oke? Jadi kami bawa orang ke sebuah lab, dan mereka melakukan lagi antara pose kekuatan tinggi atau rendah, kemudian mereka melalui sebuah wawancara kerja yang sangat menegangkan. Selama lima menit. Mereka direkam. Mereka juga dinilai, dan para penilai telah terlatih untuk tidak memberikan sedikit pun feedback nonverbal jadi mereka tampak seperti ini. Bayangkan ini adalah orang yang mewawancarai Anda. Jadi selama lima menit, tidak ada apa-apa, dan ini lebih buruk daripada dicela.

Orang-orang membenci ini. Ini adalah situasi yang disebut oleh Marianne LaFrance sebagai “berdiri di dalam pasir apung sosial.” (percakapan membosankan yang tidak bisa dihentikan)

Jadi ini benar-benar menaikkan kortisol Anda secara drastis. Jadi ini adalah wawancara kerja yang harus mereka lalui, karena kami benar-benar ingin melihat apa yang terjadi. Kemudian kami meminta empat orang penilai untuk menonton rekaman wawancara. Hipotesis kami tidak diinformasikan kepada mereka. Dan mereka tidak tahu situasi dan kondisinya. Mereka tidak tahu siapa yang sedang berpose seperti apa, dan mereka akhirnya melihat rekaman ini, dan mereka bilang, “Oh, kami mau
mempekerjakan orang-orang ini,” – semua yang berpose kekuatan tinggi – “kami tidak mau mempekerjakan orang-orang ini, Hasil evaluasi kami terhadap orang-orang ini jauh lebih baik secara keseluruhan.”

Tetapi apa yang mendorong hal ini? Ini bukan tentang isi pembicaraan. Ini tentang pembawaan yang mereka bawa dalam pembicaraan. Juga, karena kami menilai mereka berdasarkan semua variabel ini secara berhubungan dengan kompetensi, seperti: sebaik apa struktur pembicaraan? Sebaik apa pembicaraan? Apa kualifikasi mereka? Tidak ada pengaruh pada variabel kompetensi tersebut. Yang terpengaruh adalah ini, hal seperti ini: orang membawa kepribadian asli mereka, pada dasarnya. Mereka membawa diri mereka sendiri. Mereka membawa ide mereka, tetapi sebagai diri mereka sendiri, tanpa, sebutlah, sisa diri mereka. Jadi inilah hal yang mendorong pengaruh, atau membawa pengaruh.

Jadi ketika saya bercerita tentang hal ini, bahwa tubuh kita mengubah pikiran kita dan pikiran kita mengubah perilaku kita, dan perilaku kita dapat mengubah hasil usaha kita, mereka berkata kepada saya, “Saya tidak… Ini terasa menipu.” Bukankah begitu?

Jadi kubilang, “Berpura-puralah sampai Anda berhasil.” – “Saya tidak bisa… Ini bukan saya. Saya tidak ingin mencapai ke sana dan kemudian masih merasa seperti curang. Saya tidak mau merasa seperti penipu. Saya tidak mau mencapai ke sana hanya untuk kemudian merasa tidak pantas ada di sana.” Dan itu sungguh pernah saya rasakan juga, karena saya akan menceritakan kepada Anda sebuah cerita pendek tentang menjadi seorang penipu dan merasa seperti tidak pantas berada di sini.

Ketika saya berusia 19, saya mengalami kecelakaan yang sangat parah. Saya terlempar keluar dari mobil, terguling-guling beberapa kali. Saya terlempar dari mobil. Dan saya bangun di bangsal rehabilitasi untuk cedera di kepala, dan saya mengundurkan diri dari perkuliahan, dan saya akhirnya mengetahui bahwa IQ saya turun sebesar dua standar deviasi, yang merupakan hal yang sangat traumatis. Saya tahu IQ saya karena saya biasa dianggap cerdas dan dulu saya dianggap anak berbakat.

Jadi saya keluar dari universitas, saya terus berusaha untuk kembali. Mereka bilang, “Kamu tidak akan bisa menyelesaikan kuliah. Masih ada hal-hal lain yang bisa kamu lakukan, tetapi kuliah bukan jalan untukmu.” Jadi saya sungguh berjuang dengan ini, dan saya harus katakan, kehilangan identitas Anda, identitas penting Anda, dan bagi saya merupakan sebagai orang yang cerdas, hal itu diambil darimu, tidak ada hal yang membuat Anda merasa lebih tidak berdaya daripada itu.

Jadi saya merasa sungguh tidak berdaya.Saya berjuang dan berjuang dan berjuang, dan saya mendapat keberuntungan, dan berjuang, dan beruntung lagi, dan berjuang lagi. Akhirnya saya lulus kuliah.

Saya membutuhkan empat tahun lebih lama daripada rekan-rekan saya. Dan saya meyakinkan seseorang, malaikat pembimbing saya, Susan Fiske, untuk membimbing saya, dan akhirnya sama diterima di Princeton, dan saya merasa seperti, saya tidak pantas berada di sini. Saya seorang penipu.

Dan malam sebelum pidato tahun pertama dan pidato tahun pertama di Princeton adalah pidato 20 menit di hadapan 20 orang. Itu saja. Saya begitu takut akan ketahuan di keesokan harinya sampai saya menelfon dia dan bilang, “Saya mau keluar.” Dia bilang, “Kamu tidak boleh keluar, karena saya sudah mendukung kamu dengan segala resikonya, dan kamu harus bertahan. Kamu akan bertahan, dan inilah yang akan kamu lakukan. Kamu akan berpura-pura. Kamu akan memberi pidato setiap kali kamu diminta untuk pidato. Kamu hanya akan melakukan dan melakukannya dan melakukannya, walaupun kamu merasa ketakutan dan merasa lumpuh dan hampir pingsan, sampai kamu mencapai saat itu ketika kamu bilang, ‘Ya ampun, saya melakukannya. Seperti saya telah menjadi pantas untuk ini. Saya benar-benar melakukannya.'”

Jadi itulah yang kulakukan. Lima tahun di sekolah pascasarjana, waktu yang cukup singkat, saya di daerah Barat Laut. Saya pindah ke Harvard, saya di Harvard sekarang, saya tidak memikirkannya lagi, tetapi untuk beberapa waktu yang lama, saya terus berpikir, “Tidak pantas berada di sini. Tidak pantas berada di sini.”Jadi pada akhir dari tahun pertama saya di Harvard, seorang mahasiswi yang belum pernah berbicara di kelas sepanjang semester, saya pernah bilang kepadanya, “Begini, kamu harus berpartisipasi, kalau tidak, kamu tidak akan lulus,” Dia datang ke kantor saya. Saya sungguh tidak mengenalnya sama sekali. Dan dia bilang, dia datang, dengan putus asa, dan dia bilang, “Saya tidak seharusnya ada di sini.” Dan itulah saatnya untuk saya. Karena dua hal terjadi. Yang pertama adalah: saya menjadi sadar, “Ya ampun, saya tidak merasa seperti itu lagi.” Begitulah. Saya tidak merasakan itu lagi, tetapi dia merasa demikian, dan saya sangat mengerti perasaan itu. Dan yang kedua adalah: dia memang pantas ada di sini! Seperti, dia bisa berpura-pura, dia bisa menjadi itu. Jadi saya katakan, “Iya, betul kok! Kamu memang pantas berada di sini! Dan besok kamu akan berpura-pura bisa, kamu akan membuat dirimu kuat, dan, begitulah, kamu akan – ” (Tepuk Tangan)

(Tepuk Tangan)

“Dan kamu akan pergi ke ruang kelas, dan kamu akan memberikan komentar yang terbaik.” Tahukah Anda? Dia benar-benar memberikan komentar terbaik yang pernah saya dengar, dan orang-orang menengok dan mereka seakan berkata, “Ya Tuhan, Saya bahkan tidak pernah memperhatikan dia duduk di sana.”

Dia datang kembali kepada saya beberapa bulan kemudian, dan saya menyadari bahwa dia bukan sekedar berpura-pura sampai dia berhasil, dia telah benar-benar berpura-pura sampai dia menjadi benar-benar menjadi itu. Jadi dia telah berubah. Dan jadi saya ingin katakan kepada Anda, jangan hanya berpura-pura sampai berhasil, berpura-puralah sampai Anda benar-benar menjadi seperti itu. Lakukanlah terus sampai Anda benar-benar menjadi seperti itu dari dalam diri Anda.

Hal terakhir yang akan saya berikan kepada Anda adalah ini:

Perubahan kecil dapat membawa perubahan besar. Jadi ini adalah dua menit. Dua menit, dua menit, dua menit. Sebelum Anda akan masuk dalam situasi evaluatif yang menegangkan untuk dua menit, coba lakukan ini, di dalam lift, di dalam toilet, di meja kerja, di belakang pintu. Itulah yang perlu Anda lakukan.
Mengatur otak Anda untuk menghadapi situasi itu dengan kemampuan terbaik.

Naikkan testosteron Anda. Turunkan kortisol Anda. Jangan tinggalkan situasi itu sambil merasa seperti, “Aduh, tadi saya tidak menunjukkan siapa saya sebenarnya. “Tinggalkan situasi itu sambil merasa seperti, “Oh, saya sungguh merasa bahwa saya telah mengatakan siapa saya dan menunjukkan siapa saya.”

Jadi saya ingin meminta Anda, untuk mencoba pose kekuatan dan juga saya ingin meminta Anda untuk membagikan ilmu ini, karena ini sederhana. Saya tidak punya kepentingan pribadi dalam hal ini. Berikan. Bagikan dengan orang-orang, karena orang yang dapat paling banyak dapat menggunakannya adalah tanpa sumber daya dan tanpa teknologi dan tanpa status dan tanpa kekuatan.
Berikan kepada mereka karena mereka dapat melakukannya diam-diam. Mereka hanya perlu tubuh mereka, sedikit keleluasaan pribadi, dan dua menit, dan ini secara signifikan dapat meningkatkan pencapaian dalam hidup mereka.

Terima kasih. (Tepuk tangan) (Tepuk tangan)

————–

PERINGATAN: jangan lakukan posisi high power poses itu di tempat umum apalagi di depan bos Anda sekalian ya? bisa dimakan nanti lakukan di tempat tertutup dan ga dilihat orang lain… kecuali Anda bos-nya 😀

Diposkan pada rumah sakit

Rumahsakit Elektronik, Tulisan I


Ilustrasi mengenai edukasi pasien secara elektronik. Sumber: http://tablet-news.com/
Ilustrasi mengenai edukasi pasien secara elektronik. Sumber: http://tablet-news.com/

Menjadikan rumahsakit (RS) tempat saya berkerja, memiliki sistem berbasis elektronik secara menyeluruh adalah impian besar saya. Impian ini tentu tidak mudah begitu saja terwujud mengingat sebagian besar komponen di RS saya masih belum begitu akrab dengan sistem elektronik. Ya, maklum saja, unsur RS sebagian besar, secara umum, masih berorientasi melayani pelanggan (pasien dan keluarganya serta mitra) tanpa perlu memikirkan efektifitas dan efisiensi proses melahirkan layanan itu sendiri. Sebenarnya ini agak ambigu menurut saya, di satu sisi sebenarnya generasi terkini (termasuk generasi tua yang terpapar era teknologi elektronik) telah dilingkupi oleh lingkungan elektronik, baik sadar atau tidak sadar, justru telah mereka akrabi dalam kehidupan sehari-hari. Namun di sisi lain, sebagian besar justru tidak menjadikan sarana ini untuk benar-benar mempermudah hidup mereka dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Bisa dikatakan sebagian besar hanya untuk gaya hidup saja, biar dianggap tidak gagap teknologi, tidak dianggap kurang pergaulan. Namun, tidak menyadari filosofi, hal yang melandasi, lahirnya suatu teknologi elektronik, yaitu mempermudah hidup dan kehidupan. Akhirnya tidak sedikit juga di  era elektronik terjadi permasalahan. Contoh nyata, era elektronik sosial media. Indonesia termasuk pangsa besarnya, dan tidak jarang kita dengar semakin marak kasus-kasus permasalahan hidup dan kemasyarakatan yang lahir dari keberadaan sosial media elektronik ini.

Baiklah, saya kembali ke topik. Namun saya tidak mau membahas pengertian dari sistem elektronik itu sendiri, bisa jadi akan banyak perdebatan. Boleh saja, ada yang bilang digitalisasi, ada yang bilang paperless, ada yang bilang komputerisasi, ada yang bilang otomatisasi, ada yang bilang macam-macam lainnya. Terserahlah. Saya ingin memberi gambaran saja bahwa yang ingin diharapkan dalam penerapan RS elektronik inilah adalah untuk mempermudah proses-proses pelayanan kerumahsakitan, memberi nilai tambah, perbaikan kualitas, dan peningkatan kuantitas. Tentu saja kesan level terendah dari sistem elektronik itu adalah: biar kelihatan canggih. Itu hanya efek ikutan saja.

Ada banyak segi yang bisa kita wujudkan dalam menuju RS berbasis elektronik. Coba kita perhatikan berapa banyak unsur proses pelayanan non-elektronik dalam sistem kerumahsakitan. Ada proses surat menyurat atau keadministrasian meliputi surat keluar masuk, memo, notulensi, undangan, disposisi, surat keputusan, surat edaran, surat peringatan, dan sebagainya. Ada proses pelayanan medis itu sendiri meliputi catatan medis pasien, berkas surat rujukan, surat persetujuan medis, surat pemeriksaan penunjang, proses edukasi pasien dan keluarga. Ada proses administrasi keuangan seperti tagihan biaya, dan sebagainya. Ada proses pengelolaan sumber daya lainnya seperti sarana prasarana, dan kekaryawanan. Sebagian besar pada awalnya dan masih berstatus sebagai proses yang dilakukan secara non-elektronik. Di sinilah mungkin bisa terjadi perbedaan persepsi. Contohnya, dalam sistem pengolahan karyawan sudah dilakukan secara elektronik kok, buktinya semua berkas kekaryawan sudah dilakukan input menggunakan komputer. Namun ketika ditanyakan apakah sudah bisa dilakukan pemetaan profil umum kekaryawan suatu rumahsakit secara cepat dan realtime, serta otomatis? Tentu ini belum banyak yang bisa. Jadi kembali lagi kepada tujuan awal penggunaan sistem elektronik ini.

RS saya sebenarnya sudah cukup lama melakukan perekaman data pasien secara elektronik dengan menggunakan komputer. Namun juga masih dilakukan secara manual menggunakan kertas dan alat tulis konvensional. Jadinya malah terjadi beban ganda dan justru memperlama proses. Berbicara untuk contoh sistem elektronik dari catatan medis pasien ini misalnya, apa saja output yang kami harapkan: untuk memperbaiki proses, menghasilkan output yang lebih baik? Tentu kami mengharapkan kualitas dan kuantitas yang jauh lebih baik. Apa saja itu? Saya coba rincikan apa saja kemudahan dan perbaikan kualitas yang akan kita dapatkan bila kita menerapkan catatan medis elektronik secara baik pula:

  1. Waktu tunggu pasien dari proses pendaftaran, menunggu dokter, menunggu obat, menunggu pembayaran sangat jauh bisa berkurang. Mengapa ini bisa terjadi? Coba kita bayangkan proses manual dengan menggunakan kertas dan alat tulis konvensional. Permasalahan yang biasa terjadi dan mengesalkan bagi proses pelayanan misalnya: petugas rekam medis akan mencari dokumen kertas pasien di dalam lemari arsip. Bayangkan sebuah lemari arsip yang penuh dengan tumpukan kertas pasien, terkadang catatan medis pasien tidak ada di tempatnya, hilang, dan sebagainya. Kemudian ada jarak lokasi dan waktu ketika proses manual pencarian dilakukan oleh petugas. Bayangkan waktunya bisa berapa lama. Belum lagi ketika pasien sudah sampai di depan ruang tunggu dokter, ternyata berkas catatan pasien itu belum sampai ke ruang dokter. Belum lagi dokternya bingung dengan berkas catatan medis yang dia buka, kok ada berkas riwayat catatan pasien yang hilang, tidak lengkap, atau tidak terbaca. Semua ini bisa sangat dikurangi dengan sistem elektronik yang baik. Cukup bagi petugas dengan hanya duduk manis di depan monitor komputer, melakukan entri, pencarian, dan pengiriman data pasien, semua secara elektronik. Saya sendiri pernah sejak lama (sekitar 6 tahun) menjalani sistem ini waktu masih praktik sebagai dokter, sangat efisien dan “secepat kilat”. Secepat kilat ini maksudnya bila sudah menjadi budaya alias terlatih. Ada unsur jarak dan waktu panjang yang dihilangkan di sini.
  2. Kesalahan proses medis sangat bisa dikurangi. Berapa sering terjadi kesalahan penulisan resep karena tulisan resep dokter tidak terbaca, atau obat yang tertukar? Dengan sistem elektronik yang baik bisa diterapkan resep elektronik dan sistem verifikasi interaksi antar-obat yang merugikan pasien sehingga bisa mencegah terjadinya malpraktik.
  3. Pasien tidak direpotkan dengan berkas-berkas yang dia bawa. Bayangkan bila suatu sistem elektronik sudah bisa dikatakan sempurna. Maka pasien cukup membawa semacam chip sebagai pengganti kartu berobat yang itu memuat semua informasi tentang pasien tersebut, bahkan pasien pun bila perlu tidak lagi membawa chip, identitas biometriknya bisa dimanfaatkan seperti rekaman sidik jari, retina mata, dan sebagainya. Sangat-sangat membantu dan mempermudah birokrasi dan keadministrasian.
  4. Mempermudah edukasi. Proses edukasi pasien dan atau keluarganya biasanya menjadi permasalahan dan keluhan yang sering terjadi. Dokter terlalu cepat memeriksa dan bertatap muka dengan pasien sehingga informasi kurang bahkan tidak didapatkan dengan baik oleh pasien dan keluarganya. Di luar negeri cukup lumrah pasien mendapatkan edukasi secara elektronik. Dokter dan paramedis dibekali sistem edukasi pasien berbasiskan elektronik sehingga dapat mengakses dan memberikan informasi yang diperlukan pasien dan keluarga secara lebih baik dan lengkap. Dan bahkan pasien dan keluarga pada akhirnya diberikan akses informasi tersebut, tentu saja dengan bahasa yang sudah disesuaikan agar mudah dipahami, misalnya informasi tentang cara minum obat dengan baik dan benar, informasi tentang penyakit pasien, informasi tentang pola hidup sehat, dan sebagainya.
  5. Berkas-berkas laporan menjadi realtime dan akan jauh lebih akurat. Ini masalah krusial bagi manajemen sebuah rumahsakit karena berkaitan dengan sistem pengambilan keputusan. Bila data yang diterima salah atau mengalami distorsi, tidak mustahil dampaknya jelek juga bagi proses pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup kerumahsakitan.

Nah, itu sebuah contoh kecil saja begitu banyak manfaat bila sistem elektronik diterapkan dengan baik. Untuk proses di sistem lainnya dan kendala-kendalanya, akan saya paparkan ditulisan berikutnya, insya Allah.

Lanjutan: Rumahsakit Elektronik, Tulisan II

Diposkan pada android

Optimalisasi Handset Android Jadul


Hanset jadul saya: Hisense E-910

Sudah hampir 3 minggu handset android yang biasa saya pakai mondok di Pusat Reparasi (Galeri) Smartfren. Sehingga dengan terpaksa saya harus menggunakan handset android jadul saya yang keluaran Smartfren juga. Sampai sekarang cukup betah memakainya, meski kesulitan dengan kualitas kamera ala kadarnya. Kelemahan lain di baterai, meski sudah saya belikan baterai yang lebih mahal dari baterai originalnya (karena galeri Smartfren sudah ga ada stok baterai) tetap saja ga bisa tahan dalam setengah hari. Di sini fungsi powerbank sangat berperan ketika handset saya sedang sekarat baterainya.

Handset ini sudah lama saya oprek alias di-root. Jadi bisa diinstal aplikasi sebanyak apapun yang saya mau, sudah pernah saya instal sampai lebih dari 180 aplikasi. Bagaimanapun beban utamanya ada di kapasitas RAM dan baterai, sedang memori dari micro SD-nya ga masalah karena saya pasang kapasitas 32 GB dengan kecepatan kelas 10.

Sekarang saya optimalkan untuk aplikasi yang sering saya gunakan, sisanya saya back up termasuk aplikasi game yang biasanya dimainkan anak-anak saya, hitung-hitung supaya mereka ga menjamah handset saya terlalu sering, hehehe….

Berikut daftar aplikasi di handset saya terkini:

Tampilan Drawer
Tampilan Big Keyboard
Tampilan Desktop

/system/app mover: mengubah tipe aplikasi
AdFree: mencegah munculnya iklan
Android Device ID: identitas handset
Anti Theft Alarm Pro: bisa buat menjebak maling
App Lister: menampilkan daftar aplikasi
Atasoy LANPhone: buat video call via wifi
BBM: buat chat
Big Keyboard: keyboard supergede
Blackmart: biasa… buat cari aplikasi berbayar yang gratis
DU Meter: indikator kecepatan download dan upload
Disable Service: memperingan android dengan menonaktifkan komponen aplikasi
ES File Explorer: browser file plus
ES Task Manager: optimalisasi RAM
EasyNote: membuat catatan penting
Facebook: media sosial
File Expert: browser file plus
File Manager: browser file biasa
Html Reader: membuka file html
Jadwal Sholat dan Kiblat: sesuai namanya
KeepAwake: layar android tetap nyala
Kingsoft Office: membuka file word, ppt, excel, pdf
MP3 Video Converter: mengubah file video
MX Player Pro: buat nonton film
Memory App Cache Cleaner: optimalisasi RAM
MirrorOp Sender: penampil layar android ke pc
Opera Mini: browser internet
Photo Grid: penggabung gambar
Photo Editor: pengedit gambar
QuickPic: browser gambar
Samba Filesharing: sharing ke jaringan
Screenshot Easy Pro: penangkap tampilan di layar
Soul Movie: buat nonton film
Sound Recorder: perekam suara dan telpon
Speedtest: uji kecepatan internet
Telegram: buat chat
Terminal Emulator: mirip command prompt pc
Titanium Backup: aplikasi backup dan restore
TubeMate: pengunduh video youtube
VNC Viewer: penampil layar pc di layar android/kendali jarak jauh pc
Walkie Talkie: komunikasi suara via wifi
Web PC Suite: antarmuka android ke pc via web browser
WhatsApp: buat chat
Wi-Fi Auto-connect: sesuai namanya
Wi-Fi Talkie: komunikasi suara via wifi
Wifi Analyzer: pendeteksi kekuatan sinyal wifi
Wifi Protector: pelindung koneksi wifi
WordPress: blogging
akRDC: penampil layar pc di layar android/kendali jarak jauh pc
androidVNC: penampil layar pc di layar android/kendali jarak jauh pc
bVNC Pro: penampil layar pc di layar android/kendali jarak jauh pc
droid VNC server: tampilkan layar android di pc
goo.gl: penyingkat tautan
iDisplay: tampilkan layar android di pc
iQuran: al quran lengkap
myMail: baca dan kirim email

I love this gadget, smart gadget for smart people, mestinya….

Diposkan pada penyakit

Fakta dan Mitos Hipertensi


Apa kabar teman-teman? Semoga tetap sehat ya… saya berusaha menulis kembali 😀

Kali ini saya dipaksa menulis, karena mendadak didera insomnia karena masih berkutat dengan henpon android jadul saya, browsing mengenai berbagai hal. Jadilah akhirnya saya putuskan berhenti setelah lewat tengah malam, dan mengambil air wudlu untuk sholat malam. Lalu sebelum tidur saya putuskan untuk menuangkan sedikit ide tulisan dari sekian banyak ide yang masih mengendap di kepala saya… (sabar ya, nanti di keluarkan endapannya satu persatu…)

Sabtu pagi kemarin RS saya menyelenggarakan kegiatan hospital community development yang berfokus pada program pencegahan bahaya tekanan darah tinggi (hipertensi) melalui pemberdayaan kader kesehatan masyarakat dengan tema pelatihan penggunaan alat pengukur tekanan darah.

Selama acara, peserta dengan antusias mengikuti sampai-sampai sesi tanya jawab tidak dapat menampung luapan permintaan pertanyaan yang membludak karena keterbatasan waktu. Namun perihal utama yang saya tangkap dalam acara ini adalah, ternyata masih banyak masyarakat yang belum begitu paham mengenai hipertensi ini, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang meminta klarifikasi dari rumor yang beredar di masyarakat tentang hipertensi ini.

Baiklah, saya tidak akan mengulang pertanyaan yang diajukan peserta kepada dokter penyuluh pada waktu acara itu, namun saya kumpulkan saja rangkumannya mengenai fakta dan mitos mengenai penyakit hipertensi ini. Dan tentu saja saya paparkan sesuai pengetahuan dan daya ingat saya selama saya mengikuti acara itu, maklumlah, untuk sekarang saya sudah tidak praktik dokter lagi, jadi sedikit banyak sudah ada yang lupa 😀 Jadi teman-teman bisa menambahkan atau melakukan pencarian lanjut melalui mesin google tentang fakta dan mitos lainnya yang belum saya paparkan di sini. Semoga saya bisa memaparkan secara sederhana agar bisa dipahami.

Ini dia…

Faktanya:

  1. Hipertensi, berdasarkan standar terkini adalah tekanan darah yang angkanya sama atau lebih dari 120 milimeter air raksa untuk tekanan sistol (yaitu tekanan pada saat jantung memompa darah, masyarakat awam biasa menyebut tekanan atas) ATAU adalah tekanan darah yang angkanya sama atau lebih dari 80 milimeter air raksa untuk tekanan diastol (tekanan pada saat jantung relaksasi atau mengembang, masyarakat awam biasa menyebut tekanan bawah). JADI, untuk ukuran sekarang tekanan darah 120/80 itu sudah termasuk tidak normal.
  2. Tekanan darah kita selalu berubah, naik turun mengikuti irama biologis, aktifitas, dan situasi lingkungan. Pada kondisi beraktifitas normal, tekanan darah terendah terjadi saat pagi hari bangun tidur, dan paling tinggi pada malam hari.
  3. Penyebab hipertensi sebagian besar tidak diketahui, sebagian kecilnya disebabkan oleh penyakit tertentu.
  4. Hipertensi adalah pembunuh berdarah dingin, karena sebagian besar TIDAK mempunyai gejala apa pun, sehingga seringkali seseorang tidak mengetahui bila tekanan darahnya tidak normal. Untuk itu penting melakukan pemantauan tekanan darah secara berkala.
  5. Hipertensi merupakan kelompok pembunuh utama yang menyebabkan banyak kematian. Perkiraan statistik, 1 dari 4 orang penduduk bumi menderita hipertensi. Jadi, kalau penduduk dunia ada 8 milyar, maka 2 milyarnya menderita hipertensi.
  6. Sekali menderita hipertensi, maka seumur hidup hipertensi akan menemani. Jadi hipertensi tidak bisa sembuh, tapi tekanan darah bisa dikendalikan untuk berada dalam kisaran normal.
  7. Hipertensi yang tidak terkendali memberikan akibat kepada kerusakan organ-organ utama tubuh seperti jantung, ginjal, otak, mata. Kematian atau disabilitas sering sekali terjadi bila organ-organ itu sudah melampaui toleransinya dalam menerima tekanan darah yang tinggi.
  8. Hipertensi dapat dikendalikan melalui faktor-faktor yang dapat diubah yaitu perbaikan gaya hidup seperti berhenti merokok dan minum alkohol, rutin berolahraga, menu dan pola makan yang sehat dan seimbang, mengurangi tingkat stres, dan minum obat antihipertensi.
  9. Obat hipertensi tidak menyebabkan ketergantungan dan efek samping obat hipertensi sangat jarang dan jauh tidak bermakna dibandingkan dengan akibat hipertensi yang tidak terkendali akibat tidak teratur minum obat. Obat hipertensi sebagian besar tidak dapat membuat tekanan darah menjadi lebih rendah dari normal.
  10. Minum obat hipertensi harus teratur seumur hidup. Obat tetap harus diminum meski pun saat pemeriksaan tekanan darah menunjukkan angka yang normal, karena tidak ada yang bisa mengetahui kestabilan tekanan darah seorang penderita hipertensi dalam satu harinya, sehingga fungsi obat adalah memelihara kestabilan tekanan darah.
  11. Alat kontrasepsi hormonal (pil KB, suntik, susuk KB) pada orang tertentu dapat memicu terjadinya hipertensi, oleh karena itu konsultasikan dengan baik dengan dokter mengenai pemilihan alat kontrasepsi yang tepat.

 Mitosnya:

  1. Hipertensi adalah penyakit orang tua. Memang, faktor usia adalah salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi, tapi tidak selalu. Banyak usia muda penderita hipertensi. Tidak jarang kita mendengar orang dengan usia di bawah 40 tahun bahkan di bawah 30 tahun mengalami hipertensi dan mengalami komplikasinya seperti stroke pada otak. Tentu ini sangat erat dengan faktor lain seperti genetik dan gaya hidup yang jelek.
  2. Hipertensi adalah penyakit yang dapat sembuh, jadi kalau kepala tidak pusing lagi atau leher tidak terasa kencang-kencang lagi, berarti tekanan darah sudah normal. Obat boleh distop. Ini mitos.
  3. Hipertensi dapat disebabkan karena terlalu banyak makan daging kambing. Tidak makan daging kambing pun aktivitas makan dapat menaikkan tensi. Itulah perlunya mengukur tekanan darah dalam keadaan santai/istirahat agar hasilnya valid.

Demikian sedikit yang bisa saya paparkan, semoga pada pukul 02.25 ini tekanan darah saya tidak terlalu tinggi. Saatnya istirahat untuk menormalkan kembali tekanan darah. Wassalam.

Diposkan pada alat bantu dengar, deafness, hearing impairment, istri, pernik, tunarungu

Recharge…


Kiri: Nadifa, Kanan: Ifa
Kiri: Nadifa, Kanan: Ifa

Sekian bulan lamanya saya tidak menulis di blog ini. Bahkan setelah melewati tahun pun belum terisi lagi blog ini. Jelas ada banyak rasa yang hilang. Kalau dibilang tidak sempat rasanya tidak juga, mungkin hanya rasa malas dan semakin banyaknya distraksi, hal-hal lain yang simpel, menarik, seperti aktifitas chat di grup-grup smartphone. Rasanya menulis di blog bukan menjadi sebuah kenikmatan dan bukan menjadi bentuk refreshing lagi. Mesti ini harus didobrak dengan segenap usaha. Salah satunya dengan mengisi lagi dengan tulisan ini. Saya tidak ingin otak penuh dengan ide-ide yang dibiarkan membusuk saja.

Kalau berbicara ide, tentu banyak sekali yang terlintas, meski pun gadget sudah super canggih, namun tak berdaya juga untuk menuangkannya dalam blog ini. Semoga kali ini berhasil 😀

Sebenarnya, banyak sekali hal menarik yang saya temui ketika saya vakum dalam kegiatan menulis di blog beberapa bulan ini. Selain fokus terbesar ada di tempat kerja, saya bersama istri juga masih intens berkutat dengan anak-anak. Dan itu penuh dengan cerita-cerita yang amat layak dibagi di blog ini. Bagaimana pun blog ini lebih abadi bagi saya dibanding dengan grup-grup media sosial dan di smartphone yang gampang hilang begitu saja.

Baiklah, mengawali lagi, saya ingin cerita saja tentang perkembangan dalam kehidupan keseharian saya dan keluarga. Tidak usahlah dulu membahas masalah kerjaan yang sudah cukup rumit dan memakan waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya. Sudah cukup pusing. Maka, saya akan kembalikan dulu blog ini sebagai awalan untuk memotivasi diri kembali untuk menulis sebagai wadah refreshing dan memory reminding.

Ceritanya, anak-anak saya sekarang sudah mulai memasuki masa-masa akhir balita. Eh tidak…, malah yang pertama, sudah lewat masa balita dan sebentar lagi sudah mau sekolah di SD, sudah diterima di sebuah SD. Tinggal menghitung bulan wisudanya di TK. Waktu terasa cepat saja berlalu, terbukti juga anak kedua, tahu-tahu sudah jadi pretty little girl yang semakin memerlukan perhatian lebih. Sampai kita rembukan lama, istri saya bertekad mengajukan cuti di luar tanggungan negara untuk mendampingi anak kedua yang spesial ini. Saya dukung penuh dan berharap bisa berjalan lancar permohonannya. I love you full, Yang…

O, ya, kedua anak saya ini sekarang sudah pintar berenang. Ya, karena memang kita kursuskan renang. Putri pertama yang ceriwis awalnya kursus privat sebelum akhirnya masuk klub renang, dan sudah sempat mendapatkan penghargaan dari sebuah lomba renang. We proud of you, girl! Putri kedua sudah bisa berenang gaya marinir melalui privat dengan 2 guru sekaligus, atau lebih tepatnya gaya anjing, hahaha… iya, gaya renang dengan kepala yang tidak menyelup ke air dan kedua tangan mengayuh di bawah permukaan air. Dan itu sudah berani dia lakukan di tempat dalam. Salut kepada para pelatihnya yang penuhdengan inovasi.

Kedua putri saya ini juga sudah tidak mengompol lagi ketika tidur di malam hari. Ibunya pintar membuat strategi bagaimana bisa berhasil tidak mengompol lagi. Jelas, biaya diaper semakin tertekan, termasuk biaya susu yang awalnya luar biasa besar, sekarang sudah jauh berkurang. Biaya terberat sekarang adalah biaya pendidikan, terapi, dan perlengkapan bantu mendengar untuk putri saya yang kedua. Di kedua telinganya sekarang masih bergantung alat bantu dengar yang harganya melebihi anting-anting dan harga motor. Tapi saya senang dengan perkembangan kemauan belajar, konsentrasi dan daya juang anak kedua saya ini. Sehingga, khusus dia, sudah lama saya buatkan akun facebook. Tempat mendokumentasikan dan berbagi. Padahal saya sendiri malas bermain facebook, karena memang sudah saya matikan lama sekali facebook saya itu.

Nah, gara-gara anak saya yang kedua ini saya juga akhirnya terpaksa terjun ke dunia facebook kembali dan bergabung di dalam grup-grup yang berhubungan dengan ke-spesial-an anak kedua saya ini. Takdir pun membawa ke dunia pergaulan baru, dunia difabel, saya terlibat secara online dan offline dengan komunitas difabel. Senang sekali rasanya bertemu dengan komunitas baru ini. Ada peningkatan rasa empati, kemanusiaan, sensitifitas dalam diri, di samping rasa “sensi” yang semakin meningkat juga. Iya, sensi bila ada orang yang masih merendahkan kaum difabel.

Demikian saja yang bisa saya tulis di siang hari ini sebelum menyantap ransum di tempat kerja. Saya berdoa untuk diri saya agar tetap terjaga motivasinya, buat mengisi blog ini. Aamiin.

Diposkan pada android, blacberry, gadget

Nikmatnya Hijrah BB Messenger dari Blackberry ke Android


Momentum diluncurkan Blackberry Messenger a.k.a. BBM oleh RIM Blackberry ke Playstore Android dan AppStore Apple beberapa hari lalu menjadikan saya ikut-ikutan mengaktifkan BBM saya di Android.

Meski di awal sedikit bingung dengan cara registrasi yang ribet yaitu dengan masuknya email yang saya daftarkan ke dalam daftar tunggu, namun akhirnya berhasil juga. Meski ada cara lain yang lebih cepat yaitu dengan menggunakan ID Blackberry kita atau ada cara “curang” sehingga tidak perlu masuk daftar tunggu, silakan di google caranya, hehe.

Saya juga menemukan dan membaca perihal artikel-artikel online mengenai migrasi (lebih tepatnya diversifikasi, membuang eksklusifitas) BBM ke Android dan IOS/Iphone. Meskipun BBM untuk Android ini belum sempurna seperti belum ada menu untuk menambahkan klasifikasi kontak BBM, menu ekspor/impor kontak, dan fasilitas voice call. Namun fungsi dasarnya sudah sangat cukup untuk ber-BBM secara normal. Beberapa kali di perangkat Android saya, aplikasi BBM-nya close mendadak, tapi tidak hang, atau timbul jam pasir kayak di BB, hehe… tapi itu tidak terlalu menggangu, namanya juga masih versi-versi awal. Mudah-mudahan BBM untuk selain Blackberry bukan semacam jebakan bagi user, seperti dipaksa untuk akhirnya membayar aplikasi tersebut. Meski pun saya baca ada niat dari RIM Blackberry untuk memonetisasi BBM versi Android dan IOS-nya. Yah, wait and see saja.

Yang jelas ada kelebihan dan kekurangan yang saya rasakan dengan BBM di perangkat Android itu.

Kelebihannya:
– Jelas lebih cepat dan murah untuk spek henset Android yang minimal, misalnya merek henset Android apa pun bisa dipasang BBM asal sudah versi ICS (Ice Cream Sandwich), minimal. Namun ternyata masih ada laporan dari teman-teman yang mendapatkan peringatan bahwa perangkat Android-nya tidak kompatibel alias tidak bisa dipasang BBM, meski pun spek dan syarat versi-nya sudah terpenuhi. Untuk itu saya coba carikan solusi, ketemulah file instalasi BBM yang sudah dimodifikasi untuk perangkat yang dikatakan oleh Playstore tidak kompatibel. Bisa download di https://widodowirawan.com/file/bbm.apk

Sudah ada yang coba pasang file BBM hasil modifikasi itu, dan berhasil, hanya dengan menggunakan perangkat Android seharga kurang dari 1 juta rupiah.

Lebih cepatnya itu juga karena Android sangat jarang mengalami hang, kalau lambat pun, tidak akan ada jam pasir atau pakai acara copot baterai seperti di BB, cukup melakukan bersih-bersih dengan aplikasi yang banyak tersebar di Playstore. Saya pun tidak khawatir dengan jumlah grup dan kontak yang lebih banyak dibandingkan dengan BB saya yang sebenarnya juga masih OK banget kinerjanya, karena hanya saya minimalkan aplikasinya untuk BBM dan Push Email. Tipe BB saya Huron 8830, yang dulu saya beli seharga 750 ribu, dan konon bekasnya saja ga sampai angka 400 ribu, bahkan mungkin sudah tidak laku dijual, hahaha. Tapi boleh dibandingkan kebandelannya dengan BB canggih sekali pun, karena saya termasuk rajin melakukan perawatan BB saya itu (meski BB ini sudah pernah berenang di air), ya bukan perawatan fisik sih, karena itu BB juga sudah retak casing-nya di sana-sini. Tapi pemeliharaan jumlah memori, bila sudah timbul jam pasir satu kali saja, maka saya restart pake aplikasi, jadi ga perlu copot baterai. Copot baterai terpaksa dilakukan bila BB benar-benar freeze alias hang. Tidak ada jalan lain, karena dengan soft restart dengan tombol kombinasi ALT + Right CapsLock + DEL pun tidak mempan. Karena menurut saya fungsi dasar BB itu selain buat telepon dan SMS, ya buat BBM dan Push Email tadi. Saya tidak menggunakan aplikasi pihak ketiga di BB yang banyak digunakan oleh orang seperti Whatsapp, Yahoo Messenger, Picture Editor seperti PicMix dkk, dan aplikasi alay lainnya yang akan sangat memberatkan kerja BB itu sendiri. Browsing dan Streaming di BB apalagi, sudah lama tidak saya gunakan. Karena hitungannya hanya buang-buang duit dengan harga paket yang mahal.

– Jelas lebih murah, karena di Android, cukup membayar paket internet unlimited yang harganya tidak sampai 50 ribu rupiah, dan saya sudah dapat paket full service seperti di BB.

– Jelas meringankan, karena ga perlu lagi banyak-banyak bawa perangkat henset, ya maklum saja, beberapa teman masih ada yang bersikukuh bertahan di BB, jadi saya harus mengalah sedikit. Tapi dengan adanya BBM untuk Android ini, tidak ada alasan itu lagi, cukup bawa 1 perangkat saja di saku. Bahkan Android zaman sekarang itu fungsinya sudah sangat bisa menggantikan komputer atau laptop. Semuanya bisa kita lakukan dengan 1 perangkat saja. Keuntungan tambahan yang didapatkan misalnya: saya tidak akan sering lupa lagi, meninggalkan henset saya (sebenarnya kececeren) di toilet, di tempat kerja, di parkiran dan sebagainya, karena banyaknya perangkat yang harus dibawa. Kebetulan juga Android saya punya spek yang bagus dengan sistem dual CDMA dan GSM, sudah sangat cukup, baterainya juga sudah powerfull, kalau pun terpaksa, tinggal bawa Power Bank ukuran kecil buat cadangan baterai. Jauh lebih simpel.

Kekurangannya cuma satu menggunakan BBM di Android, itu mungkin hanya menurut saya sih… karena saya juga sudah nyaman dengan BB kuno saya itu dengan keypad fisiknya yang empuk dan smooth untuk mengarang indah atau cit-cat berjam-jam dengan teman-teman. Di sistem Android masih jarang perangkat yang menyertakan keypad fisik. Meski katanya nanti di masa datang akan ada keypad jenis taktil yang akan muncul otomatis di bawah layar sentuhnya, hebat ya… Untuk urusan keypad layar sentuh ini saya siasati dengan memasang keypad qwerty layar sentuh super besar sehingga jari dan mata saya lebih nyaman, dan mengetik jadi lebih cepat dan minim kesalahan.

Sekian aja ya, ini mungkin hanya jadi tulisan tunggal saya di bulan Oktober, banyak ide sih, tapi karena mood-nya hari ini yang dipicu oleh euforia diversifikasi BBM ini, ya dipaksa juga buat menulis di sela-sela kesibukan mikir dan mengerjakan yang lain. Selamat meninggalkan Blackberry Anda. Menjadikan perangkat BB Anda sebagai ganjal pintu, akan membantu mendobrak kapitalis RIM Blackberry yang sudah lama menjajah Indonesia 😀

Note: O, iya, dulu saya pelit ngasih PIN BBM karena saya cuma pakai BB jadul yang rawan hang, nah sekarang bolehlah kita uji kehandalan BBM di Android ini dengan “kerelaan” mengumbar PIN BBM Android saya, ini 75338F84.