Diposkan pada tunarungu

[Tuna Rungu] Perkembangan yang menggembirakan


Pose saat mau berangkat sekolah pagi
Senang sekali Nadifa sudah paham beberapa bahasa reseptif. Seperti misalnya dia sudah bisa menunjukkan mana gambar ikan, ketika diucapkan kata “mana ikan”. Menunjuk mata ikan ketika diucapkan kata “mana mata ikan”. Dengan ini saya semakin yakin sepenuhnya bahwa ABD (alat bantu dengar)-nya berfungsi.
Selain itu fungsi motoriknya sudah banyak percepatan, sudah bisa melepas dan memakai celana sendiri, sudah bisa naik ke motor tanpa bantuan, dan kebiasaan-kebiasaan repetitif/berulang yang diduga gejala autisnya sudah jauh berkurang seperti suka berputar-putar sendiri, suka mendelik-delik matanya.
Memang, sudah beberapa minggu ini Nadifa juga kami pindahkan ke sekolah inklusi alias sekolah umum playgroup, yaitu sekolah yang sama dengan kakaknya. Namun, sekolah siangnya di SLB tetap kami pertahankan sebagai wahana pembanding dan melatih konsentrasinya. Sepertinya Nadifa lebih senang di sekolah inklusi tersebut, terbukti suatu waktu ketika saya jemput dari sana untuk diantar ke sekolah siangnya, dia menolak, meski akhirnya mau juga, meski kelihatan bete gitu mukanya, hehe…
Kami akui kami masih sangat kurang untuk menjalankan metode AVT (auditory verbal therapy) mandiri di rumah, selain belum bisa membuat iklim yang kondusif, sarana yang masih kurang, dan manajemen bapak dan ibunya dalam membagi waktu untuk belajar 🙂
Kami berharap bisa segera menata hal tersebut untuk percepatan belajar Nadifa.
Diposkan pada jogja under cover, kesehatan, penyakit, salahkaprah, sex edu

Sex Edu – Nikmat membawa sengsara…


Sudah lama ga dapat kasus seru lagi secara udah jarang praktik…
Hari ini, seorang mahasiswa almamater saya (parah!), 21 tahun, dengan keluhan nyeri saat buang air kecil, dari lubang penis keluar nanah, riwayat berhubungan seksual dengan pacarnya yang satu kota asal dengannya, mahasiswinya kuliah di kota yang berbeda.
Alasan berhubungan adalah sekadar coba-coba, pacar sudah berpengalaman artinya sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain sebelum dengan mahasiswa ini.
Mengeluarkan sperma di luar vagina si mahasiswi artinya ga pake pengaman.
Lupa menanyakan, melakukannya di mana? di kursi, di tempat tidur, di semak belukar?  tapi yang jelas di kota yang sama tempat mereka berasal, mungkin pas lagi mudik bareng 
Saran ke mahasiswa, cek laboratorium sampel air kencing dan nanahnya dulu, kemungkinan diagnosis penyakit kencing nanah (GO), menjelaskan risiko jangka panjang bila terkena GO, yaitu saluran pipisnya akan mengkerut dan akan sangat sulit pipis, akhirnya nanti harus dioperasi (pucat dia…)
Syukurlah, katanya kapok ga mau berhubungan seks lagi, mudah-mudahan… 🙂
Pic dari sini
Diposkan pada curhat, livinginjogja, open source, pernik, tips

TIPS – Bila Tak Ada Pembantu


Ini sudah hari kedua tanpa pembantu rumah tangga, karena Bi Inem, begitu biasa dipanggil anak saya, akhirnya resign setelah hampir setahun menjadi bagian dari keluarga kami dengan mengajukan alasan diminta suaminya pulang ke kampung.
Sejak hampir 4 tahun punya anak, kami memang baru 2 kali punya pembantu rumah tangga. Susyehnye cari pembantu itu sudah rahasia umum kayaknya. Susyeh dalam artian cari yang awet itu dan ga musingin kepala tingkahnya. Tapi ini benar-benar mustahil bagi kami, pasti selalu ada masalah.
Ya, udah ga usah membahas itulah, meski pun kami tetap berharap bisa mendapatkan segera pembantu lainnya.
Tips ini seperti, mungkin, tips keluarga lainnya yang tanpa pembantu dalam hidup mereka *ssyiaah! Simak deh:
1. Harus ga malas bangun pagi sekali, telat dikit, pasti berabe ke arah belakangnya. Mana hari Senin ini istri saya upacara lagi, biasanya yang rebutan untuk berangkat dulu-duluan itu di hari Jumat, karena sama-sama ada jadwal senam.
2. Bagi tugas, tapi sebenarnya bagi tugas ini ga mutlak, yang penting saling mengisi, jangan saling menunggu (saya sih masih suka diingatkan karena sering menunggu ini), misal: istri lagi menyuci pakaian, ya kita nyuci piring dan gelas kotorlah, istri lagi masak, ya kita ngasih makan anak, istri nyiapin perlengkapan anak sekolah, ya kita mandi’in anak.
3. Memanfaatkan tetangga. Ini memang harus punya hubungan baik dengan tetangga, saya perhatikan dua hari ini halaman rumah saya yang seuprit selalu bersih dan ada bekas-bekas sapu lidi. Nah, tadi pagi saya memergoki bapak tetangga depan yang orang Nasrani, lagi nyapu’in halaman rumah saya, tentu saja sekalian dengan halaman rumahnya dia dong. Eh, tapi ini ga baik kan ya? memanfaatkan…., hahaha, habis, ya saya memang masih belum sempat nyapu-nyapu halaman lagi, internal rumah saja belum tersapu.
4. Outsourcing alias pake jasa pihak ketiga yang berbayar (tentu), ya itung-itung sebagai ganti pembantu, seperti jasa laundry. Ini istri kemarin sore sudah pergi ke laundry dengan 6 kilogram pakaian kusut siap di setrika, sekaligus survey, ternyata ada yang di dekat rumah, dan sekalian hari ini petugas laundrynya akan mulai melakukan antar-jemput pesanan, hehehe… murah habis sekitar 9 ribuan, brarti sekitar 1500 rupiah per kilo. Masalah klasik dengan laundry biasanya telat nganter dan kadang ga beres setrikaannya, jadi diantisipasi dengan mengontrak 2 tempat laundry.
5. Masak sendiri? kemarin walau ada pembantu pun kita ga rekomen untuk masak, selain buang waktu dan seringnya ga enak masakannya, juga ternyata budgetnya malah mahal. Maka  2 bulanan pake jasa outsourcing katering, murah juga oiy…, cuma 15 ribu per hari, untuk 6 hari jadi 90 ribu atau 360 ribu per bulan. Hari Ahad difokuskan variasi makanan lain, bisa beli lagi di luar atau masak sendiri, tergantung selera dan budget, hihi…
6. Penitipan anak, di awal dulu ini yang paling pusing, sempat pernah sekali-dua kali dititip tetangga, namun ternyata tetangga yang ini suka mengungkit-ngungkit “kebaikannya” dan disalahgunakan, jadi kita ga berharap akan seperti itu lagi. Alhamdulillah kedua anak kami, Ifa dan Nadifa, sudah sekolah play group semua, dan pulang sampai pukul 15/16. Jadi aman deh…
7. Lainnya? sumbang saran ya… karena rumah masih berantakan, belum disapu, belum dipel, tempat tidur masih awut-awutan, nanti sore juga masih ga kepikir mau ndulangin anak makan karena udah capek…
Pic dari sini
Diposkan pada imunisasi, kesehatan, obat

Pencegahan Penularan Cacar Air Dengan Tablet Acyclovir


Masih ada aja yang kena cacar air, termasuk anaknya teman saya, dan dia khawatir menular ke anggota keluarga yang lain, lalu saya berikan resep pencegahannya yang pernah saya gunakan dulu. Dan ternyata saya belum mendokumentasikannya di MP saya sendiri, hehe…

Langsung aja deh…

Dosis pencegahan dengan tablet acyclovir untuk cacar air adalah 40 miligram per kilogram berat badan per hari, dibagi dalam 4 dosis atau 10 miligram per kilogram berat badan untuk sekali pemberian. Berikan dosis ini setiap 6 jam selama 7 hari atau 1 minggu dalam rentang waktu 7-14 hari sejak dugaan paparan virus yaitu hari di saat timbulnya demam pertama kali. Diusahakan tepat waktu dengan menggunakan alat time reminder pada ponsel setiap jam 06.00, 12.00, 18.00, dan 00.00 (ini untuk mudahnya saja, yang penting setiap 6 jam)

Contoh di saya:

  • Untuk istri dan pembantu (dewasa), saya berikan 800 mg (2 buah tablet 400 mg) setiap 6 jam selama 7 hari. Berarti butuh 56 tablet atau hampir 6 strip (1 strip berisi 10 tablet)
  • Untuk anak saya yang beratnya 10 kg, saya berikan 100 mg (1/2 tablet 200 mg) setiap 6 jam  selama 7 hari
  • Untuk anak saya yang beratnya 20 kg, saya berikan 200 mg (1 tablet 200 mg) setiap 6 jam  selama 7 hari

Sediaan generik acyclovir tablet yang saya jumpai di tempat saya adalah 200 mg dan 400 mg.

Rasa tablet acyclovir (generik) ini tidak pahit, tapi netral, dan mudah sekali larut dalam air, sehingga tidak sulit diminumkan pada anak-anak, bisa dicampur makanan atau susu. Harganya juga murah, hanya sekitar 70-80 ribu per 100 butirnya.

Semoga berguna.