Diposkan pada tak terkategorisasi

Mengapa dunia kesehatan jalan ditempat? bagian ketiga (tamat)


Mengapa dunia kesehatan jalan ditempat? bagian ketiga
(yang belum paham, bisa lihat bagian kedua dan pertama)

Setelah kita mengerti begitu banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan itu sendiri (yang belum paham, bisa liat bagian kedua dan pertama), terus mengapa masih saja, sekali lagi masih saja terjadi gap terhadap status kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Masalah utamanya ternyata ialah kerjasama lintas sektor yang sangat minim.
Sektor kesehatan dengan instansi dinas dan sarana kesehatannya saja tentu tidak akan mampu, walaupun sudah setengah mati, untuk mempengaruhi determinan kesehatan yang begitu banyak. Diperlukan peran serta sektor lain untuk mengintervensi determinan tersebut.

Aku tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa yang menyebabkan kerjasama tidak pernah berjalan dengan baik selama in karena ego-sektoral yang tinggi, semua merasa memiliki tugas masing-masing dengan urusan sektornya masing-masing. Bukan itu…
Tetapi lebih kepada kemampuan aktor di sektor kesehatan sendiri yang kurang mampu mengkomunikasikan pentingnya kontribusi sektor lain terhadap determinan yang berada di luar jangkauan orang kesehatan sendiri. Apalagi tidak ada fasilitator politik yang baik dalam hal ini level struktur yang lebih tinggi, seperti top manager-nya pemda (gubernur atau bupati atau sekda).

Kembali untuk kasus flu burung ini, tadi malam aku sempat nonton wawancara panel di SCTV yang menghadirkan perwakilan dari Komnas Penanggulangan Flu Burung, Menteri Pertanian Anton Apriantono, dr. Kartono Muhammad, dan dr. Tjandra Yoga Aditama. Panelis terakhir baru saja pulang dari Amerika untuk menyaksikan cara penanggulangan flu burung di sana. Sempat juga dibahas bagaimana Vietnam dan Malaysia menangani permasalahan flu burung yang bisa ditarik kesimpulan bahwa faktor penentu utama bukanlah sistem layanan kesehatan yang baik. Tapi ada faktor lain, seperti di Vietnam yang melibatkan sektor kepolisian dalam mengawasi masyarakat yang mbalelo (ini kan memang sistem komunis…jadi emang keras, tapi ternyata terbukti efektif). Malaysia yang lebih mirip sistem kesehatan dengan Indonesia juga bisa dikatakan berhasil agar flu burung tidak merebak secara masif.

Nah, mengapa Indonesia susyaaahhhh? Pak Anton mengeluhkan dan menggarisbawahi bahwa dia sudah memberikan “legal warning” kepada kepala-kepala daerah (gubernur) terhadap flu burung, bahkan kata dia, inisiatif yang muncul dari pihak lain sebenarnya semuanya berawal dari peringatan kementerian pertanian ini. Tapi memang memang selama ini tidak diblow-up secara besar-besaran oleh media massa/elektronik. Pak Kartono memberikan komentar bahwa salah satu halangannya adalah masalah desentralisasi/otonomi yang membuat daerah seperti berleha-leha terhadap peringatan tersebut. Tidak cukup hanya perintah dari menteri tapi juga harus dari presiden, katanya.

Sepertinya memang dalam kasus flu burung ini, kementerian pertanian menjadi tumbal tempat menumpahkan kekesalan. Padahal  menurut Pak Kartono lagi, bahwa seandainya kasus ini menjadi pandemi (wabah global, seperti zaman dulu pernah terjadi pandemi flu…), mau tidak mau memerlukan kerjasama lintas sektor yang maksimal, karena salah satunya bahwa akibat pandemi adalah krisis ekonomi. Untuk kasus flu burung ini, bila diramalkan atau telah terjadi pandemi, maka harus ada persiapan dan pengorbanan tertentu supaya korban manusia tidak berjatuhan secara masif. Mengapa krisis ekonomi? ya, jelas lah. Pelarangan pemeliharaan unggas secara global akan mengakibatkan sektor usaha akan mengalami penurunan….rumah makan padang akan gulung tikar (hehehehe…), terjadi pengeluaran uang besar-besaran untuk menuntaskan kasus ini dan mengobati penderitanya, menimbulkan pengangguran masif sehingga perlu dicarikan alternatif kerja pengganti (ini peran sektor perdagangan, industri, dan tenaga kerja), dan lain sebagainya.

Nah, masih mau buta, tuli, dan bisu???? percayalah tidak ada orang yang aman dari kesakitan dan kematian, sehingga sangat diperlukan pengertian bersama dan kerjasama intensif antar sektor. Semuanya itu akan terwujud dengan baik bila banyak di antara pejabat mempunyai komitemen politis dan kemampuan stewardship (pengawasan) yang baik.

Diposkan pada tak terkategorisasi

Mengapa dunia kesehatan jalan ditempat? bagian kedua


Melanjutkan tulisanku sebelumnya tentang dunia kesehatan kita yang masih jalan ditempat bahkan semakin mundur ke belakang pada beberapa kasus.

Mengapa setelah dunia politik kita rambah-pun masih saja permasalahan kesehatan belum begitu banyak perubahan. Yah, seperti yang kukatakan bahwa itu hanya salah satu bagian yang dapat menolong masyarakat kita terlepas dari permasalahan kesehatan secara berkelanjutan.

Masih banyak faktor-faktor lain yang menjadi penentu status kesehatan masyararakat. Faktor ini kita sebut sebagai determinan kesehatan.

Faktor klasik dunia kesehatan pada zaman baheula hanya terbatas kepada faktor individual/host saja. Bahwa manusianya itu sendiri yang menyebabkan dirinya sakit.

Pendekatan terbaru tentang determinan kesehatan ini ialah pendekatan sosio-epidemiologi. Anda tidak usah terlalu pusing mengetahui artinya, yang penting adalah bahwa kesehatan juga sangat dipengaruhi oleh faktor selain individu yaitu lingkungan sosial dan lingkungan strukturnya.

Agak mirip dengan ini ialah tentang teori Blumm (silakan searching sendiri tentang Blumm theory).

Kegiatan utama untuk perbaikan derajat kesehatan masyarakat sangat diarahkan kepada pengkondisian faktor-faktor determinan tersebut.

Memang tidak setiap wilayah/negara memiliki determinan kesehatan yang sama persis.

Standar utama yang banyak dianut oleh dunia ialah dari salah satu Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals-MDGs) yaitu: kemiskinan, kelaparan, pendidikan dasar, perbedaan jender, angka kematian balita, angka kematian ibu, HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain, lingkungan, air bersih, pemukiman kumuh, sistem finansial, perdagangan, negara-negara kecil, pembebasan hutang, pekerjaan, obat-obat esensial, dan teknologi informasi.

Kalau kita mengambil dari contoh dari Kanada maka determinannya ialah:

1. Pendapatan dan status sosial

2. Jaringan penyokong sosial

3. Pendidikan

4. Pekerjaan dan kondisi kerja

5. Lingkungan sosial

6. Lingkungan fisik

7. Biologi dan warisan genetik

8. Latihan kesehatan perorangan dan keterampilan bertahan

9. Pembangunan anak sehat

10. Pelayanan kesehatan

11. Jenis kelamin

12. Budaya

Perhatikan, bahwa pelayanan kesehatan hanya salah satu faktor saja. Faktor individu juga hanya segelintir saja. Bahkan jika kita melihat dari pendekatan asli dari sosio-epidemiologi akan lebih kompleks lagi. Faktor indvidunya mencakup perilaku, karakteristik perorangan (jenis kelamin, ras, usia), dan keberadaan sosio-ekonomi (pendapatan, pendidikan, pekerjaan). Faktor sosial mencakup modal sosial (norma, kepercayaan, aturan informal), konteks budaya, dan lingkungan (sosial, sosio-ekonomi, isolasi, fisik). Dan faktor struktural meliputi situasi hankamnas, perubahan kependudukan (migrasi, urbanisasi, rasio kelamin), kekerasan dan diskriminasi terstruktur (rasisme, jender, stigma), perundang-undangan (hukum, penegakan hukum), dan lingkungan kebijakan (kebijakan perekonomian, kebijakan kesehatan, kebijakan sosial).

Jadi mau-tidak-mau kita harus mau belajar memahami dan bersama-sama berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat sesuai dengan bidang/sektor masing-masing.

Diposkan pada tak terkategorisasi

Mengapa dunia kesehatan jalan ditempat? bagian pertama


Tulisan ini berkaitan dengan aktivitasku dalam merampungkan tesis masterku.

Pernahkan kita bertanya mengapa kesehatan masyarakat kita itu sangat sulit untuk ditingkatkan?

Jangankan Indonesia, negara maju seperti negara Kanada dengan sistem kesehatannya yang terkenal paling baik di dunia masih saja merasa kesulitan dalam meningkatkan taraf hidup kesehatan masyarakat mereka.

Kita sering berpikir bahwa kegiatan kuratif (pengobatan penyakit) sebagai satu-satunya cara meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.

Dimana-mana, pemerintah (terutama pemerintah daerah) lebih suka membangun sarana pelayanan/pengobatan kesehatan seperti rumahsakit dan semacamnya. Di mana-mana masyarakat menyalahkan sistem pelayanan kesehatan yang jelek, semakin banyak malpraktik, kecenderungan diskriminasi pelayanan, dan tarif berobat yang selangit.

Seorang ahli penyakit dari Jerman terkenal pada abad 19, Rudolf Virchow mengatakan bahwa "kedokteran merupakan ilmu sosial, dan politik tidak lain merupakan ilmu kedokteran yang semakin meluas"

Inilah kuncinya, bahwa sebenarnya dunia kesehatan itu sangat beririsan erat dengan dunia politik (beberapa ahli yang lain menyebutkan erat juga dengan bidang perekonomian). Di beberapa negara maju bahkan sudah banyak jurusan pendidikan politik ekonomi kesehatan (health policy & economic)

Virchow menekankan, bila kedokteran/kesehatan ingin berhasil, maka harus memasuki kehidupan sosial dan politik. Ini tentu saja dapat dimengerti, seperti pada kasus wabah penyakit yang belakangan ini banyak terjadi di negara kita, ambil contoh kasus flu burung (avian influenza-AI) dengan virus H5N1 (dan varian lain)-nya. Bagaimanapun tindakan kedokteran konvensional dengan merawatinapkan dan mengisolasi pasien flu burung sampai sekarang tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan, bahkan kalau anda mengetahui dan menyimak berita bahwa sebenarnya sebagian kasus flu burung hanya berupa "suspect" alias masih tersangka atau dugaan semata.

Terus mengapa pemerintah mengeluarkan statement untuk melarang masyarakat untuk memelihara unggas?. Semata-mata ini untuk usaha preventif, sebagaimana keberhasilan negara Vietnam mengeliminasi flu burung ini dengan kebijakan pelarangan pemeliharaan unggas, terutama di wilayah pemukiman. Tapi bagaimana dengan Indonesia? poltikus kita memang belum banyak belajar dan memang belum banyak memahami dan para pakar kesehatan kita juga belum begitu banyak "ngeh" dengan dunia politik.

Diposkan pada tak terkategorisasi

Kopdar Dadakan MPers Jogja!!


Kemarin, rabu siang aku di sms mba Hida tuk ikut kopdar di SD Tumbuh. Untungnya ga ada acara, jadi bisa skalian cari makan malam dan ktemu teman-teman MP scr baru skali ini aku kopdar lebih dari empat mata. Habis pulang kantor, and nyampe di rumah hampir magrib, mandi…trus sholat, langsung cabut bareng istri ke lokasi.

Baru tahu aku, klo di SD tumbuh itu ada kafe-nya, padahal kan sering tuh lewat sana .

Tapi sayang sekali (padahal udah semangat berlaper-laper dari rumah ), mba Hida sms klo kafe-nya tutup! wah!! innalillahi…mbo yoo kok ndak dimata-matai dulu toh dari sorenya…but that’s nobig deal lah! masih ada tempat lain. Sambil menunggu yg lain, kami ktemu mba Hida dan Lala. Weh sepiii amat, di gelap-gelap gitu, untung ga ujan dan ga ada nyamuk… Tak lama, mba Tika and adiknya Ita tiba di lokasi. Suwerrrr, aku pikir mba Tika itu bu Teres, yg sama-sama mukim di Aussie, jebule yg satu lagi, dulu yang ikut kopdar yg di bunderan UGM yah?! hehehe..sorry mba Ti, rada pelupa…

Mba Tika usul cabut ke warung sebelah, namanya “Minahasa”, boljug juga nih, pengen ngerasain masakan Minahasa….eh…eh…jebule maneh warung kaki lima bertenda ijo, namanya “…..(lupa)…Minang…gitu. Wah…wah… ternyata warung masakan Padang toh, hahaha…

Ya, udah deh…udah laper berat gini ga mikir lagi, pokoknya makan!! Baru tau juga mba Tika masih bawa “budaya” sono, pake pembuka-pembuka sgala. Mulanya pesan minum dulu, aku milih jus Tomat, eh dah habis, jadi ganti pake es jeruk. Terus sebagai pembuka, pesan Kerang saos tiram, eh, kata penjualnya dah habis juga, loh…!! Gimana nih warung! ternyata tinggal ayam-ayaman, ikan-ikanan, itu pun dah ga lengkap menunya. Ah, peduli amat, yg penting ganjal perut dulu…
Syukur akhirnya bisa kenyang juga. Ampe nambah nasi loh…Klo dah kenyang gini masih mau tambah durian? tobat deh, tar malah keluar semua… Tapi, mba Tika ngajak lagi ke es Krim TipTop di Jl Mangkubumi. Wuiiiih….wah..klo yg ini sih susyah nolaknya, kbetulan kita kan gila e krim, jadi yah, walo dah kenyang, ayok aja deh!

Sampai akhirnya kita selesai minum/makan es krim, sambil nunggu mba Difla & temannya (siapa yah?ooo…aku tau…mba Liana yah!). Tapi tokonya keburu mau tutup, akhirnya kita keluar aja…eh mba Difla dah datang. Kita foto-foto, trus scr hari dah larut malam (hampir jam 22) dan lokasi tinggal agak jauh (padahal ada yg lebih jauh lagi, hehehe) aku dan istri permisi. Pertemuan yg menyenangkan, smoga lain waktu bisa terselenggara dan dengan kehadiran lebih banyak MPers.

to mba Tika: thanx for the souvenir
Foto-foto nungguin diaplot ama Lala & mba Tika deh…

Udah nih fotonya liat di
sini

Diposkan pada tak terkategorisasi

Akhirnya betah juga :-D




Setelah istri ikut aku ke Serang, akhirnya bisa betah juga :-), apalagi kemarin ahad, sudah pindah kos ke tempat yang lebih apik (ssssttt…ibu kosnya ternyata anaknya yang maen film Virgin, yang sempat menjadi film kontroversial di Indonesia, Angie. Sekarang kata ibunya anaknya lagi sibuk promosi film terbarunya “Hantu Jeruk Purut”. Pas waktu ngomong, ibunya hampir keceplosan ngomong “Hantu Jeruk Nipis”, hahaha…… Istriku paling senang klo diajak jalan-jalan, apalagi klo jalan-jalannya ke griya kuliner alias rumah makan. Menu di atas saat kami makan di Sari Banten. Waktu itu kita makan Pepes Peda (huuuhh, namanya keren, ternyata cuma ikan asin dipepes! :-b, Daging Gepuk (kata istriku sih dagingnya ditumbuk, tapi kok ga gepeng ya?!), plus lalapan dan minum es kelapa, mmmmmhhh, nikmaaat…pas perut lagi laper banget setelah pulang jalan-jalan dari Banten Lama. Foto-foto lengkap bisa diliat di sini, referensi lain di sini.


Diposkan pada tak terkategorisasi

Konsultan oh konsultan… (suka duka) <– bagian kedua dulu nih


Untuk proyek fasilitasi pembuatan sistem kesehatan daerah dan master plan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang Banten ini, aku mulai membandingkan suka dukanya menjadi konsultan. Untuk ini aku membandingkan dengan teman istriku yang bekerja di lembaga konsultan manajemen dan keuangan syariah. Waktu itu dia sedang (mungkin masih sampai sekarang) terlibat sebagai konsultan untuk persiapan Bank Pembangunan Daerah (BPD) membuka cabang syariah-nya Yogyakarta.

Perbandingkan kasarnya begini aja:

Oleh kliennya (atau mungkin juga oleh lembaganya) dia diberi fasilitas rumah kontrakan mewah, komputer, internet (walau cuma via telkomnet), pembantu, dan sopir pribadi dan tentu saja mobilnya.

Sedang kan aku? Waktu hari pertama di Tangerang sempat nginap di hotel yang cukup mewah (ga tau bintang atau bukan, tapi semua fasilitas ada, kecuali kolam renang kayaknya :-b), terus setelah hijrah ke Serang, ternyata aku telah disediakan kamar kos yang kecil (sebenarnya masih lebih besar dari kamar dikontrakanku sekarang…tapi ya itu…cuma sebuah kamar). Harganya lumayan mahal untuk standar kamar kos di Jogja. Cuma berisi satu kasur ukuran satu orang plus bed, lemari kecil dan kamar mandi dalam, tapi, ya Allah, aku baru sadar ternyata hawa panas di Serang juga berimbas ke dalam kamar ini. Jadilah aku basah kuyup dan susah tidur. Walaupun udah sempat beli kipas angin besar. Bahkan sebelum tidur aku juga mandi lagi. Sampai hari kedua ini aku belum mendapatkan fasilitas transpotasi yang memadai, masih naik becak, belum berani naik angkot dan ojek untuk ke tempat yang jauh. Terus ga ada guide-nya lagi, sementara “guide” yang bisa aku pakai adalah peta Kabupaten Serang yang aku beli di sebuah toko buku kecil. Hehehe…lucu juga sih waktu itu aku minta ditunjukkan jalan oleh bapak pengemudi becaknya, eh ternyata dia juga ga tau, jadi harus tanya-tanya dulu sana-sini. Habis membeli peta, mau beli tas pinggang (butuh sekali untuk membawa macam-macam seperti notes, kuitansi, HP, flashdisk, uang+dompet, digicam, peta, dsb, karena aku cuma membawa tas ransel besar dan travell-bag untuk di pesawat). Tapi ternyata tempatnya cukup jauh, ntar kasihan sopir becaknya. Akhirnya kita makan dulu di resto murahan, tapi enak sih… :-b. Setelah itu aku memutuskan untuk pulang dulu aja ke kos. Ooops…mampir dulu di toko elektronik mau beli booster antena TV-Tuner-ku (ingatkan…? tentang review TV-Tuner-ku…). Sayang sekali boosternya ga ada yg cocok dengan antenaku. Masa mau beli antena baru sih?! Hehehe…wah…hobi nonton tertunda dulu nih….Aku baru ingat klo di rumah kan aku naruh antenanya di kamar atas alais dilantai dua, jadi sudah jelas tanpa booster, klo di kos di Serang sini? Wah…masa mau beli kabel antena lagi? Masa mau beli tiang antena? Ah, entar ajalah mikirnya…
Segini dulu aja ya…

Ada komen dari teman-teman MP? terutama yang di Serang & Tangerang nih…

Diposkan pada tak terkategorisasi

Hati-hati berkunjung ke Taman Safari Indonesia


Rating: ★★★★★
Category: Other

Aku ambilkan dari milis….
————————————–
Mohon untuk menyebarluaskan ke teman dan orang terdekat anda, supaya lebih berhati-hati bila berkunjung ke TSI.
Di bawah ini adalah pengalaman kami yang tidak akan kami lupakan seumur hidup karena amat berbahaya dan menyeramkan ketika berada di TSI.

Hari Minggu lalu (bertepatan hari pertama bulan puasa), kami berkunjung ke TSI dengan menggunakan mobil keluarga, 4 orang dewasa dan 2 anak kecil dengan tujuan refreshing, melihat binatang yang belum pernah kami lihat secara langsung dan dekat terutama yang besar dan liar atau berbahaya.

Belum lama kami berada di TSI, kira-kira 10 menit, mobil kami memasuki area binatang yang bukan binatang buas (kijang, banteng dll), tiba-tiba mobil kami mogok dan meski sudah mencoba untuk merestart beberapa kali, tetapi mesin sama sekali tidak bisa di hidupkan kembali. Kami pikir mungkin cipratan air telah menyebabkan mobil kami mogok saat baru saja melewati genangan air seperti sungai kecil di TSI.

Meski pun ragu-ragu, karena tidak terlihat ada petugas TSI di dekat situ, akhirnya paman saya turun untuk membuka kap mesin. Kami tidak membunyikan klakson karena takut mengganggu binatang di TSI. Kami pikir, area ini adalah area yang aman, bukan area binatang buas, jadi kami berusaha tenang menunggu di dalam mobil sambil ngobrol.

Namun tiba-tiba kami terkejut ketika melihat seekor singa yang entah dari mana datangnya sudah berada di belakang mobil kami dan berjalan ke arah depan mobil dimana paman kami berada. Lalu… entah kenapa kami semua seperti terhipnotis melihat singa itu mendekati paman kami yang asyik mencari kerusakan mobil dan tidak tahu dengan kedatangan singa itu. Kami benar-benar hanya terpaku melihat singa itu tanpa berusaha untuk memberitahu paman ada bahaya yang datang?.

Dan..?? bertepatan paman menutup kap mesin…. ketika itu pula singa sudah berada tepat dibelakang tubuh paman saya, sehingga tampak sangat jelas oleh kami dari dalam mobil bagaimana sangat dekatnya singa terhadap paman dan ………… ……… ……… ……… ……… …….

saat itu pula singa itu langsung mencolek bahu paman saya seraya berkata, “kagak usah takut … gua lagi puasa ….. kenapa mobilnya … mogok nih ye…..” !!!

Joke aja….

Diposkan pada tak terkategorisasi

Sedekah buat pak polisi :-b



Pak polisi…pak polisi…mengapa dikau menjadi pemeras masyarakat? Sepertinya dilema menjadi seorang polisi tidak akan selesai-selesai. Sudah gajinya kecil, masuknya susah, akhirnya kompensasi penghasilan diambil dari memeras masyarakat, benar-benar jadi perampok terselubung…

Berulang kali aku ditilang oleh polisi lalu lintas, ya…, masalahnya itu-itu aja, SIM (surat izin mengemudi) sudah kadaluwarsa. Malas benar mau ngurus SIM, walaupun kalau diitung-itung, jumlah total sedekah tilang buat polisi sudah melebihi biaya pembuatan SIM…

Sampai sekarang aku mikir, apakah kita ikut berdosa ketika harus mengurus SIM lewat calo, padahal kalau ikut tes normal sulit sekali lulusnya, ada aja yang dicari-cari kesalahannya…

Pernah dulu aku ditilang saat pake motor butut yang ga ada lampu rating/sign dan lampu stop/belakang, padahal surat-suratnya lengkap. Waktu itu pas baru pulang dari melayat/takziyah. Tau-tau mendekati lampu merah, mesin motornya ngadat, pas ada pos polisi lagi…Sudah takdir untuk ditilang waktu itu, apalagi motornya berwarna ngejreng gitu, ungu (violet), kuning, dan hitam…hehehe….

Tahu ga, sama polisinya diminta berapa? untuk 2 kesalahan itu, beliau, a(ke)parat negara itu minta upeti 75 ribu rupiah, wah kaget juga aku, karena memang tidak bawa cukup uang pada waktu itu. Akhirnya aku minta disidang aja. Saat disidang ternyata banyak juga terdakwa lain selainku. Sama aja, oknum pengadilan juga setali tiga uang dengan polisi. Mestinya sidang dimulai pukul 8 pagi, dimolorkan sampai pukul 10. Kayaknya itu memang sengaja, agar para terdakwa tidak sabar menunggu dan menempuh jalan pintas membayar langsung ke oknum pengadilan. Iya sih, ternyata cukup banyak yang bayar langsung via oknum (bahkan sampai tukang parkirnya ikut terlibat). Udah gitu, oknumnya ga tau malu lagi, terang-terangan nawarinnya, seingatku waktu itu sekitar 50-an ribu untuk 2 kesalahan. Weleh, aku nyoba bersabar, dan alhamdulillah bisa ikut sidang, jadi terdakwa, hehehe…
Ternyata cuma membayar 25 ribu rupiah…

Nah, hari Sabtu kemarin, waktu nemenin istri ke Klaten, aku kena tilang lagi di depan kompleks Candi Prambanan (setahuku emang sering diadakan operasi di situ, apalagi pas tanggal tua). Singkat cerita, aku disuruh membayar sendiri di BRI Sleman atau minta “dibayarkan”.
“Berapa, Pak?”
“30 ribu…”
(hah…ini polisi emang lagi cari duit bener…)
“OK, saya bayar di BRI aja..terus ngambil STNK-nya di mana?”
Sambil oknum polantas menulis surat tilang, aku tanya: “Pak, peraturan sebenarnya seperti apa sih? setahu saya biasanya cuma 15-20 ribu tuh…?”
Dia ga jawab.
Ku lihat dia menuliskan angka 20 ribu di kuitansi tilang, wah!
“20 ribu ya, Pak…OK, kalau gitu saya bayar di sini aja, sama kan?
“Lah, tadi mau bayar di BRI, bayar di BRI aja sana…”, kata polisi itu.
“Wah, klo sama aja, ya mending saya bayar langsung aja di sini, Pak, klo 30 ribu sih, jelas saya ga mau bayar…wong, peraturannya ga jelas begitu!”
“Siapa yang bilang 30 ribu?”
“Itu. tadi sama Bapaknya yang satu lagi…”
Dia diam aja
“Ya, sudah, tanda tangan dulu…”
“Wah, saya ga mau tanda tangan, Pak, saya mau bayar di sini aja!” (sambil emosi…, “Kalau peraturan begini terus, pantas aja saya males ngurus SIM saya, Pak!”
(dia ngalah, teman-temannya juga rada keder melihat aku emosian gitu, hehehe…)
“OK, tanda tangan aja…bayar di sini aja…”
Aku tanda tangan dan menyerahkan 20 ribu rupiah, yah…itung-itung sedekah lah buat oknum itu, mungkin dia juga butuh duit persiapan ramadlan (sebenarnya aku enggan bayar ditempat, bukankan itu termasuk menyogok juga ya?, tapi gimana lagi, urusan yg bertele-tele membuat aku lebih memilih yg instan, apalagi istriku menunggu sambil merengut begitu…

Mudah-mudahan polisi kita semakin mampu bekerja profesional dan tidak bertindak serba birokratis, dan yang paling penting tidak korupsi (aku yakin, uang yg aku beri tadi, ya masuk ke kantong mereka, sebagian disetor sama atasannya, ini bocoran dari pak lik-ku yang polisi juga…)

Selamat melaksanakan puasa Pak Polisi, semoga di bulan puasa ini tidak ada tilang ya, soalnya aku masih belum sempat ngurus SIM, hehehe…

Diposkan pada tak terkategorisasi

Nonton di mana saja dan kapan saja dengan USB TV Box 330


Rating: ★★★★★
Category: Computers & Electronics
Product Type: Other
Manufacturer:   Gadmei

Sudah hampir 3 bulan usia pembelian TV Tuner eksternal USB merek Gadmei yang aku beli di pameran komputer Jogja Expo Center (JEC). Dengan harga 275 ribu rupiah plus antena 20 ribu rupiah, hobi nontonku lumayan tersalurkan. Beberapa pertimbangan membelinya: lebih hemat listrik karena di koneksikan ke notebook dan suplai daya langsung dari USB, sangat mobile karena berukuran mungil tapi antenanya berukuran besar, jadi ga lucu kalau harus dibawa ke mana-mana, bisa meng-capture apa yang tampil di monitor, hasilnya bisa disimpan dalam bentuk gambar atau film, jadi kan enak tuh bisa merekam acara favorit kita, dan yang lebih canggih gadget ini bisa men-scheduling perekaman sehingga aku ga perlu repot-repot harus mantengin monitor saat menunggu tayangan tertentu, misal saja karena aku udah ngantuk, padahal ada acara menarik yang ditayangkan larut malam, ya…tinggal di stel aja waktu perekamannya, habis merekam, komputer juga bisa diprogram shutdown secara otomatis, hebat kan…?
O, iya selain itu, TV eksternal ini isa meng-capture dari instrumen lainnya, misalnya kamera dan VCD player. Beberapa hari yang lalu aku nyoba transfer rekaman dari kaset mini DV yang diputar via camcorder melalui gadget ini. Hasilnya… so great, langsung bisa menjadi file mpeg, dan waktu transfernya juga tidak begitu lama.

Kekurangannya sih hampir ga ada, paling cuma engga dilengkapi dengan radio FM, hehehe…

Bukan promosi sih, untuk feature yang dimiliki oleh TV box ini dibandingkan dengan harganya yg terhitung murah dibanding merek lain, aku merekomendasikan bagi teman-teman yang butuh kemudahan-kemudahan. OK?

Diposkan pada tak terkategorisasi

Sendiri lagi…(aku menepis sepi itu dalam ikatan yang manis)


Sendiri lagi….(kok seperti judul lagu ya…?)

Iya, teman-teman, malam Sabtu ini aku sendiri lagi. Istri aku “pulangkan” ke Kebumen agar dia tidak kesepian di rumah, loh?! Iya, karena aku akan pergi ke Semarang sampai hari Ahad malam besok, insha4JJI…

Karena berangkatnya jam 23, sambil menunggu maka aku cobalah menulis lagi di MP ini.
Mungkin teman-teman bertanya, knapa aku sering sendiri? Maksudnya sih bukan sendiri di rumah. Tapi mesti karena ada acara ke luar kota, entah itu dari kantor, studi, atau organisasi yang aku tekuni. Nah kali ini karena ada pertemuan sillaturahim, tepatnya di kota Atlas, Semarang. Sebenarnya istriku juga sedang magang, sehingga mestinya hari Jumat dan Sabtu besok juga masuk, tapi….karena di rumah sepi alias home alone, maka atas kesepakatan…maka pulanglah sayangku itu ke haribaan ortunya alias mertuaku, hehehe…

Ya, beginilah klo belum diberikan momongan, memang rumah terasa sepi, apalagi kontrakan kami itu luas banget, jadi cukup “menyeramkan” kalau tinggal sendiri. Bayangkan aja 4 kamar 2 lantai. Dan kata pemiliknya memang rumah itu rada-rada gimana gitu, ada “penunggunya” hiiiii….!!

Tapi, alhamdulillah, kami masih dilindungi 4JJI sehingga blum pernah bertemu dengan sesuatu yang aneh…
Kok jadi cerita yang seram-seram yah? hehehe….

OK, back to topic! Iya, kami di Jogja memang belum memutuskan untuk menetap, aku juga masih membuka peluang karir sekaligus sambil sekolah lagi. Sehingga istriku juga tidak begitu enak (sebenarnya aku sih yg lebih ga enak) untuk meninggalkanku, cieee… (bener, dia bilang begitu kok, gara-gara orang satu nih, aku terkatung-katung di Jogja, gitu katanya…hahaha…)

Kalau aku sih berprinsip, selama masih ada kesempatan berkarir di Jogja, dan suasana kerja masih kondusif, apa salahnya untuk ditekuni…benar kan?

Tapi aku juga sering diingetin sama istri: “Mas, ingat umur dong….klo masih berpetualangan terus kapan bisa hidup tenang…?”
Aku pikir istriku benar juga, dan salah satu akibatnya jadinya aku kadang sering membuat istriku “terbengkalai”…maafkan aku ya Sayang…

Tadipun sebenarnya tidak tega melepas dia, sehingga ketika masih diperjalanan aku telepon dia, nanyain udah sampai di mana perjalanan…Dan aku juga call ibu mertua, klo istriku/anaknya pulang, karena aku ada acara ke Semarang.

Kadang kami juga berintrospeksi, apakah karena ini ya, 4JJI belum memberikan kami amanah berupa anak? Untuk diketahui aja pernikahan kami sudah berjalan satu tahun lebih, dan kami sehat-sehat aja. Beberapa hari yang lalu udah sempat periksa. Tapi karena dokternya laki-laki, jadi urung deh…(hehehe, padahal waktu masih studi/koas dulu kan aku juga harus lihat pasien yang wanita ya, hehehe, curang! sekarang aku sendiri yg kena batunya, ketika harus periksa ke dokter kandungan.

Gitu dulu aja deh, nanti klo lagi senggang waktunya, aku lanjutkan deh ceritanya…sekarang mau siap-siap berangkat…
See you again on monday, insha4JJI…