Diposkan pada tak terkategorisasi

Kekasih Standard vs Kekasih Sejati


Rating: ★★★★★
Category: Other

Lagi bantu’in istri nyari artikel, eh ketemu sebuah bait-bait menarik berikut ini:

Kekasih Standard vs Kekasih Sejati

Kekasih standard selalu ingat senyum di wajahmu
Kekasih sejati juga mengingat wajahmu waktu sedih

Kekasih standard akan membawamu makan makanan yang enak-enak
Kekasih sejati akan mempersiapkan makanan yang kamu suka

Kekasih standard setiap detik selalu menunggu telpon dari kamu
Kekasih sejati setiap detik selalu teringat ingin menelponmu

Kekasih standart selalu mendoakan mu kebahagiaan
Kekasih sejati selalu berusaha memberimu kebahagiaan

Kekasih standard mengharapkan kamu berubah demi dia
Kekasih sejati mengharapkan dia bisa berubah untuk kamu

Kekasih standard paling sebal kamu menelpon waktu dia tidur
Kekasih sejati akan menanyakan kenapa sekarang kamu baru telpon?

Kekasih standard akan mencarimu untuk membahas kesulitanmu
Kekasih sejati akan mencarimu untuk memecahkan kesulitanmu

Kekasih standard selalu bertanya mengapa kamu selalu membuatnya sedih?
Kekasih sejati akan selalu mananyakan diri sendiri mengapa membuat kamu
sedih?

Kekasih standard selalu memikirkan penyebab perpisahan
Kekasih sejati memecahkan penyebab perpisahan

Kekasih standard bisa melihat semua yang telah dia korbankan untukmu
Kekasih sejati bisa melihat semua yang telah kamu korbankan untuknya

Kekasih standard berpikir bahwa pertengkaran adalah akhir dari segalanya
Kekasih sejati berpikir, jika tidak pernah bertengkar tidak bisa disebut
cinta sejati

Kekasih standard selalu ingin kamu disampingnya menemaninya selamanya
Kekasih sejati selalu berharap selamanya bisa disampingmu menemanimu

diunduh dari: http://www.dudung.net/index.php?naon=depan&action=detail&id=446&cat=3&pilihan=2&keyword=Kekasih%20Standard%20vs%20Kekasih%20Sejati

Diposkan pada tak terkategorisasi

APAKAH ANDA PENGGEMAR KANGKUNG ? Sebuah Hoax!!


Rating: ★★★★★
Category: Other

“Mohon maaf harus memasukkan yang satu ini, karena aku ga bisa terus mengirimkannya ke salah satu milisku.”
————————————————————————————————————–
Mmmh….apa teman-teman ga bisa konfirmasi dulu, apakah tulisan ini benar. Padahal sudah banyak yang mengategorikannya sebagai hoax/berita bohong.
Silakan search di google.

Ini sebagian link bantahannya. Semoga lain kali bisa lebih hati-hati dan tidak membuat orang lain juga was-was, cos I love waterspinazie very much too, hehehe…
http://jalansutera.com/2007/03/28/hoax-kangkung-itu/
http://oyr79.com/getfriends/index.php?topic=110.msg214;topicseen

Ternyata yang menulis cerita ini juga seorang dokter, wah…wah…
Ini link-nya: http://basukipramana.blogspot.com/

Kalau mau lihat sebagian pembahasan “forward-an” yang dicurigai sebagai hoax, bisa klik di :
http://hoax.wordpress.com/2007/01/06/yang-berbahaya-di-lingkungan-kita/

Kalau mau baca tentang empat mata (apa hubungannya??!! hehehe…) klik di: http://jalansutera.com/2006/12/12/empat-mata-itu/

Semoga bisa teliti terhadap tulisan-tulisan yang masuk ke mailbox kita.
————————————————————————————————————–
Widodo Wirawan, dr
Magister Kebijakan & Manajemen Pelayanan Kesehatan
Gedung IKM, Lt. 1 FK UGM
Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 547659 Fax. (0274) 542900
http://wwirawan.web.ugm.ac.id/

Diposkan pada tak terkategorisasi

Cenderung status quo


Peduli amat!!! begitu yang terbersit dalam pikirku, setelah menyaksikan sebuah berita tentang penemuan rasi/gugus/konstelasi bintang baru oleh ahli astronomi (klo ga salah namanya Ophiucus….). Sssttt…sebenarnya bukan pada hal penemuan ini yang aku permasalahkan. Yang pasti para peneliti bidang astronomi tidak akan pernah mau berada pada status quo karena mereka tahu pasti bahwa ilmu pengetahuan akan terus berkembang.

Sepertinya ini akan berimbas juga pada bidang astrologi. Kemungkinan besar akan ada penambahan zodiak juga pada sistem astrologi yang telah mapan. Bukan perubahan itu yang aku permasalahkan… hehehe. Tapi para pengikut aliran astrologi ini yang cenderung pro status quo. Ah, pedui amat! Mau berubah atau engga…

Eh, tapi ini nih yang paling membuat aku tidak habis pikir. Tidak lain ialah beberapa tanggapan yang muncul dari para fanatik aliran ini. Ketika dimintai tanggapan bahwa bidang astrologi akan mendapat tambahan zodiak, sebagian besar menjawab dengan antusias. “Ya ga maulah, aku ga mau zodiakku diubah, udah sesuai kepribadianku, udah sesuailah…”. “Kalau yang negatif-negatif sih ya… engga aku ikutilah (loh! katanya udah sesuai… Dodo), yang positif-positif kan udah sesuai sama aku…”

“Jadi aku ga mau, aku tetap Virgo aja…, ntar kalau berubah, kepribadianku jadi lain lagi…”

Haaalaaah….astaghfirullah. Kalau orang ndeso yang kuper dan tidak berpendidikan yang ngomong begitu sih, ga peduli aku. Tapi ini para generasi muda kita yang katanya lebih pintar dari generasi sebelumnya…

Aku pikir manusia itu cenderung untuk mempertahankan status quo diri dan lingkungannya. Apalagi kalau terdapat keuntungan dari kondisi tersebut. Sayangnya banyak gelintir orang yang tidak tahu apakah kondisi itu baik bagi dirinya atau tidak. Termasuk orang-orang pintar. Pintar belum tentu paham kan…Kalau boleh aku katakan manusia ini disebut sebagai kaum fanatis/ekstrimis (bukan teroris loh… :-D). Ya, tentu aja ada ekstrimis kanan dan ekstrimis kiri. Yang saya maksud ialah kaum ekstrimis kiri.


glossary:

status quo=keadaan sebagaimana seperti sekararang/sebelumnya

zodiak=simbol yang mewakili 12 buah gugus bintang

Diposkan pada tak terkategorisasi

Enak banget….


Habis nyuci dan bersih-bersih, aku cabut keluar mau ngambil duit, makan dan potong rambut. Iya potong rambut, dah mulai gerah nih, secara cuaca Serang dah mulai panas kembali. Kemarin lihat ada barbershop di sebelah sebuah warnet. Kayaknya biasa aja pelayanannya. Setelah masuk, langsung duduk dan dilayani potong rambut. “Gaya Mandarin, ya…” , hehehe…sengaja pilih style ini biar lebih lama bertahan. Kalau potong cepak dah bosan si…

Lihat tarif potongnya rada terkejut juga. Anak-anak 5000 rupiah, dewasa 7000 rupiah. Di Jogja biasanya aku langganan di Kompak (tahu kan…?), yang punya semboyan “Tempat Potong Rambut Orang Cerdas” lengkap dengan papan reklame Alber Einstein-nya. Di sana paling mahal cuma 5000 rupiah.

Eh, tapi aku keburu berprasangka…ternyata enak banget potong rambutnya, ga grasa-grusu, santai, sampai terkantuk-kantuk aku-nya saking menikmati seliweran mesin potongnya. Trus rapi banget hasilnya. Sesekali gunting berseliweran juga dan terakhir pisau cukurnya beraksi… :-D. Emang agak lama sih, tapi jadi menikmati gitu…Dan yang paling enak lagi nih…ada layanan plus, layanan pijat…., iya tukang potongnya, setelah selesai motong, memulai memijat kedua bahu dan tengkukku, wuihhh, nikmaaat….  (padahal baru tadi pagi istriku nawarin hadiah pijat selama satu jam kalau tesisku bisa kelar, hehehe…).

Pijatan berlanjut ke kedua lengan dan jari-jariku….enaaaak, sambil ngantuk-ngantuk gitu. Ga kelupaan kepalaku jadi sasaran dipijat. Lucu banget gaya mijatnya, ga ngerti pake gaya apa itu. Diurut, ditekan, dibekap, macam-macam deh…. Terakhir, tangan sang barber memegang puncak kepala dan daguku dengan kain, trus…kreeekkk, “dipatahin” ke kiri, dan ke kanan, wah…wah…enaaaak tenan, seger.

Jadi ketagihan nih, udah lama ga pernah dapat layanan plus gini. Dulu sih, pernah waktu masih di Pekanbaru, cuma mijatnya pake mesin gitu, jadi ga begitu enak. Apalagi, kayaknya tadi orang di sebelahku dipijatnya pake minyak tawon gitu, wuihhh, pasti lebih kerasa lagi tuh enaknya.

Jadinya 7000 rupiah terasa puas banget deh… :-D. Buat teman-teman yang mampir ke Serang. Kalau sempat cobain deh, potong rambut di dekat perempatan Ciceri, Serang. Namanya kalau ga salah Parahiyangan Barbershop. Specially for men, hehehe…

 

Diposkan pada puisi

Rasa…


Rasa

Sayangku….
Beginikah rasa keterikatan hati?
Yang amat menyiksa batin ini…
Sungguh selaksa kerinduan menghujam diri
Hingga tak ragu kukatakan
Dirimu mengungkung fikiran






















Sayangku…
Slalu tanyamu padaku
“Cintakah Mas padaku?”
“Mmm…ragukah dirimu padaku?”, alihku…
“Hingga tiap kali hendak jawabku?”

Memang kubukanlah peromantis dalam kata
Namun kuberharap tertuang dalam bait cerita…
Cerita kehidupan kita di mayapada
Seperti akuku padamu
Kala kita bersama dalam pelukan kalbu

Sayangku…
Andai dapat kucurahkan
Segenap rasa menghamba jiwa
Tuk dirimu sang pesona dunia
Kapankah kembali memadu rasa?
Agar lepas derita yang kubawa

Sayangku…
Nantilah aku di ujung sendu
Nantikan aku tuk hapus galaumu
Jangan pernah ada seutas ragu
Akan cintaku untukmu
Pelukku untukmu Sayangku… X:-)X

Serang, penghujung pekan, 16:59, Feb 10.

Diposkan pada tak terkategorisasi

Suka makan, tetapi bersisa?


Aku suka memperhatikan orang-orang, terutama mungkin para cewek kali ya…(benar ga ni?).
Aku memperhatikan, kenapa kalau mereka makan, tidak (pernah) dihabiskan. Mungkinkah makanan itu tidak lezat sehingga terlalu eneg kalau harus dihabiskan. Mungkinkah takut gemuk? Mungkinkah anoreksia nervosa? Mungkinkah hanya sekedar gengsi dan malu?

Aku tidak bisa men-judge-nya. Karena setahu aku memang belum pernah ada survey mengenai hal ini. Apakah frekuensinya sama antar pria dan wanita? aku ga tau. Apakah rasionya sama antara orang kaya dan orang miskin? aku ga tau. Apakah sebarannya sama antara anak-anak dan dewasa? aku ga tau juga… :-b

So, perlu diteliti kali yah?

Tapi…dari perspektif sederhana, aku ingin menunjukkan dampaknya yang luar biasa.

Sisa-sisa makan ini bisa sangat bermanfaat buat ayam-ayam kita, bisa bermanfaat buat ikan-ikan kita, bisa mengenyangkan kucing-kucing kita, bisa mengenyangkan anjing-anjing kita. Bisa juga kali ya…buat tanaman kita, buat pupuk…dan yang jelas bisa sangat mengenyangkan semut-semut bahkan kuman-kuman di sekitar kita… :-D.

Bila satu orang menyisakan sebutir nasi saja setiap kali makan. Maka dengan asumsi bahwa kita makan tiga kali dalam sehari dan jumlah penduduk dunia sekitar 5 milyar jiwa, maka dalam sehari kita dapat mengumpulkan 1 x 3 x 5.000.000.000 = 15.000.000.000. 15 milyar butir nasi. Bila sebutir nasi berbobot 2 mg, maka 15 milyar sama dengan 30 kali sepuluh pangkat 9 mg nasi atau 30 ribu kilogram atau 30 ton nasi!!!

Kalau 1 orang perharinya hanya menghabiskan 1/2 kg beras, maka 30 ton ini cukup untuk kebutuhan 60 ribu hari, atau selama 164 tahun!!! Adakah usia manusia di zaman sekarang mencapai angka segitu?

Jika harga nasi tersebut itu dikonversi ke rupiah, maka seharinya bisa menghasilkan 120 juta rupiah (jika per kg beras=4000). Ini seharga rumah mewah. Dengan modal 3 butir nasi perhari, kita bisa memberikan 1 buah rumah mewah kepada seorang tuna wisma setiap harinya…

Diposkan pada tak terkategorisasi

Tips Menghadapi Banjir


Tips Menghadapi Banjir
Sumber: Tim Bakornas

1. Amankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi
2. Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN
3. Mengungsilah ke tempat aman
4. Hindari berjalan di dekat saluran air
5. Siapkan obat-obatan
6. Jika air meninggi, hubungi instansi terkait

Diposkan pada tak terkategorisasi

Mengapa dunia kesehatan jalan ditempat? bagian ketiga (tamat)


Mengapa dunia kesehatan jalan ditempat? bagian ketiga
(yang belum paham, bisa lihat bagian kedua dan pertama)

Setelah kita mengerti begitu banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan itu sendiri (yang belum paham, bisa liat bagian kedua dan pertama), terus mengapa masih saja, sekali lagi masih saja terjadi gap terhadap status kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Masalah utamanya ternyata ialah kerjasama lintas sektor yang sangat minim.
Sektor kesehatan dengan instansi dinas dan sarana kesehatannya saja tentu tidak akan mampu, walaupun sudah setengah mati, untuk mempengaruhi determinan kesehatan yang begitu banyak. Diperlukan peran serta sektor lain untuk mengintervensi determinan tersebut.

Aku tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa yang menyebabkan kerjasama tidak pernah berjalan dengan baik selama in karena ego-sektoral yang tinggi, semua merasa memiliki tugas masing-masing dengan urusan sektornya masing-masing. Bukan itu…
Tetapi lebih kepada kemampuan aktor di sektor kesehatan sendiri yang kurang mampu mengkomunikasikan pentingnya kontribusi sektor lain terhadap determinan yang berada di luar jangkauan orang kesehatan sendiri. Apalagi tidak ada fasilitator politik yang baik dalam hal ini level struktur yang lebih tinggi, seperti top manager-nya pemda (gubernur atau bupati atau sekda).

Kembali untuk kasus flu burung ini, tadi malam aku sempat nonton wawancara panel di SCTV yang menghadirkan perwakilan dari Komnas Penanggulangan Flu Burung, Menteri Pertanian Anton Apriantono, dr. Kartono Muhammad, dan dr. Tjandra Yoga Aditama. Panelis terakhir baru saja pulang dari Amerika untuk menyaksikan cara penanggulangan flu burung di sana. Sempat juga dibahas bagaimana Vietnam dan Malaysia menangani permasalahan flu burung yang bisa ditarik kesimpulan bahwa faktor penentu utama bukanlah sistem layanan kesehatan yang baik. Tapi ada faktor lain, seperti di Vietnam yang melibatkan sektor kepolisian dalam mengawasi masyarakat yang mbalelo (ini kan memang sistem komunis…jadi emang keras, tapi ternyata terbukti efektif). Malaysia yang lebih mirip sistem kesehatan dengan Indonesia juga bisa dikatakan berhasil agar flu burung tidak merebak secara masif.

Nah, mengapa Indonesia susyaaahhhh? Pak Anton mengeluhkan dan menggarisbawahi bahwa dia sudah memberikan “legal warning” kepada kepala-kepala daerah (gubernur) terhadap flu burung, bahkan kata dia, inisiatif yang muncul dari pihak lain sebenarnya semuanya berawal dari peringatan kementerian pertanian ini. Tapi memang memang selama ini tidak diblow-up secara besar-besaran oleh media massa/elektronik. Pak Kartono memberikan komentar bahwa salah satu halangannya adalah masalah desentralisasi/otonomi yang membuat daerah seperti berleha-leha terhadap peringatan tersebut. Tidak cukup hanya perintah dari menteri tapi juga harus dari presiden, katanya.

Sepertinya memang dalam kasus flu burung ini, kementerian pertanian menjadi tumbal tempat menumpahkan kekesalan. Padahal  menurut Pak Kartono lagi, bahwa seandainya kasus ini menjadi pandemi (wabah global, seperti zaman dulu pernah terjadi pandemi flu…), mau tidak mau memerlukan kerjasama lintas sektor yang maksimal, karena salah satunya bahwa akibat pandemi adalah krisis ekonomi. Untuk kasus flu burung ini, bila diramalkan atau telah terjadi pandemi, maka harus ada persiapan dan pengorbanan tertentu supaya korban manusia tidak berjatuhan secara masif. Mengapa krisis ekonomi? ya, jelas lah. Pelarangan pemeliharaan unggas secara global akan mengakibatkan sektor usaha akan mengalami penurunan….rumah makan padang akan gulung tikar (hehehehe…), terjadi pengeluaran uang besar-besaran untuk menuntaskan kasus ini dan mengobati penderitanya, menimbulkan pengangguran masif sehingga perlu dicarikan alternatif kerja pengganti (ini peran sektor perdagangan, industri, dan tenaga kerja), dan lain sebagainya.

Nah, masih mau buta, tuli, dan bisu???? percayalah tidak ada orang yang aman dari kesakitan dan kematian, sehingga sangat diperlukan pengertian bersama dan kerjasama intensif antar sektor. Semuanya itu akan terwujud dengan baik bila banyak di antara pejabat mempunyai komitemen politis dan kemampuan stewardship (pengawasan) yang baik.

Diposkan pada tak terkategorisasi

Mengapa dunia kesehatan jalan ditempat? bagian kedua


Melanjutkan tulisanku sebelumnya tentang dunia kesehatan kita yang masih jalan ditempat bahkan semakin mundur ke belakang pada beberapa kasus.

Mengapa setelah dunia politik kita rambah-pun masih saja permasalahan kesehatan belum begitu banyak perubahan. Yah, seperti yang kukatakan bahwa itu hanya salah satu bagian yang dapat menolong masyarakat kita terlepas dari permasalahan kesehatan secara berkelanjutan.

Masih banyak faktor-faktor lain yang menjadi penentu status kesehatan masyararakat. Faktor ini kita sebut sebagai determinan kesehatan.

Faktor klasik dunia kesehatan pada zaman baheula hanya terbatas kepada faktor individual/host saja. Bahwa manusianya itu sendiri yang menyebabkan dirinya sakit.

Pendekatan terbaru tentang determinan kesehatan ini ialah pendekatan sosio-epidemiologi. Anda tidak usah terlalu pusing mengetahui artinya, yang penting adalah bahwa kesehatan juga sangat dipengaruhi oleh faktor selain individu yaitu lingkungan sosial dan lingkungan strukturnya.

Agak mirip dengan ini ialah tentang teori Blumm (silakan searching sendiri tentang Blumm theory).

Kegiatan utama untuk perbaikan derajat kesehatan masyarakat sangat diarahkan kepada pengkondisian faktor-faktor determinan tersebut.

Memang tidak setiap wilayah/negara memiliki determinan kesehatan yang sama persis.

Standar utama yang banyak dianut oleh dunia ialah dari salah satu Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals-MDGs) yaitu: kemiskinan, kelaparan, pendidikan dasar, perbedaan jender, angka kematian balita, angka kematian ibu, HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain, lingkungan, air bersih, pemukiman kumuh, sistem finansial, perdagangan, negara-negara kecil, pembebasan hutang, pekerjaan, obat-obat esensial, dan teknologi informasi.

Kalau kita mengambil dari contoh dari Kanada maka determinannya ialah:

1. Pendapatan dan status sosial

2. Jaringan penyokong sosial

3. Pendidikan

4. Pekerjaan dan kondisi kerja

5. Lingkungan sosial

6. Lingkungan fisik

7. Biologi dan warisan genetik

8. Latihan kesehatan perorangan dan keterampilan bertahan

9. Pembangunan anak sehat

10. Pelayanan kesehatan

11. Jenis kelamin

12. Budaya

Perhatikan, bahwa pelayanan kesehatan hanya salah satu faktor saja. Faktor individu juga hanya segelintir saja. Bahkan jika kita melihat dari pendekatan asli dari sosio-epidemiologi akan lebih kompleks lagi. Faktor indvidunya mencakup perilaku, karakteristik perorangan (jenis kelamin, ras, usia), dan keberadaan sosio-ekonomi (pendapatan, pendidikan, pekerjaan). Faktor sosial mencakup modal sosial (norma, kepercayaan, aturan informal), konteks budaya, dan lingkungan (sosial, sosio-ekonomi, isolasi, fisik). Dan faktor struktural meliputi situasi hankamnas, perubahan kependudukan (migrasi, urbanisasi, rasio kelamin), kekerasan dan diskriminasi terstruktur (rasisme, jender, stigma), perundang-undangan (hukum, penegakan hukum), dan lingkungan kebijakan (kebijakan perekonomian, kebijakan kesehatan, kebijakan sosial).

Jadi mau-tidak-mau kita harus mau belajar memahami dan bersama-sama berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat sesuai dengan bidang/sektor masing-masing.

Diposkan pada dokter

Dokter pelit ngomong?


Aku sering mendapat pertanyaan-pertanyaan dari keluarga dan teman-temanku terkait penyakit yang mereka atau orang lain alami. Tentang gejala-gejalanya, prosedur pemeriksaannya, prosedur pengobatannya, harga obatnya, sarana kesehatan atau dokter yang berkompeten.

Sering juga secara langsung aku menyaksikan teman-teman bahkan keluargaku sendiri “ditipu” oleh rekan-rekan sejawatku. Misal saja tentang diagnosis yang salah, tidak ada penjelasan atas penyakit mereka, obat yang salah, obat yang kemahalan, prosedur pemeriksaan yang salah, dsb. Bahkan kemarin aku baru dikeluhkan oleh salah satu staf di dinas pertanian tentang suaminya yang meninggal karena kesalahan diagnosis dan penanganan yang lambat dari sebuah rumahsakit terkenal dan berstatus paling baik di sini. Bahkan akhirnya rumahsakit itu diperingatkan keras oleh kepala dinas kesehatan agar jangan sampai terulang (tapi aku ga yakin tuh…pasti akan terulang).

Aku memaklumi banyak sekali dugaan malpraktik (ataupun memang malpraktik murni) oleh rekan-rekanku semata-mata sebenarnya karena “dokter itu pelit ngomong”
Ya, benar sekali!! para dokter itu sebagian besar memang sulit ngomong, terutama yang tidak idealis seperti aku (hehehe…kadang aku sebenarnya juga malas ngomong…maklum dokter juga manusia, ada capeknya juga).

Mengapa dokter malas ngomong dengan pasiennya? Ini dari pengalaman dan pengamatan selama ini.
1. Dokter itu takut pasiennya banyak tahu (pasien jadi pintar dari dokternya)

2. Dokternya emang tidak tahu, belum tahu tentang penyakit pasiennya. Kalau aku biasanya kadang tidak tahu tentang fungsi obat yang ditanyakan oleh temanku ketika berobat ke dokter, karena memang obat itu banyak sekali jenis dan namanya-nya, apalagi yang punya merek dagang (obat sediaan spesialistik). Jadi harus buka-buka buku obat atau searching di Internet.

3. Dokter memang bukan spesialis (paham benar) tentang sesuatu yang ditanganinya (biasanya akan dirujuk).

4. Emang sifat si dokter yang pendiam (diam itu emas, hehehe..)

5. Dokter capek ngomong (apalagi pasiennya banyak banget, dan pasiennya suka ngeyel pada sok tahu…hehehe). Jadi cape deh…

6. Memang pasiennya yang rada malu-malu (atau takut kali) tanya-tanya sama si dokter, jadi ya ga perlu dong dokternya buang-buang energi buat ngomong.

7. Menurut anda? apalagi yang menyebabkan dokter ga banyak omong? (sakit gigi? takut ditaksir pasiennya?hahaha….)

Nah, kesalahpahaman selama ini akibat komunikasi oral antara dokter & pasien yang kurang hamonis yang sering mengarah kepada kasus-kasus malpraktik.

Tips berikut dariku semoga bisa berguna bagi anda yang awam:

1. Cerewetlah kalau bertemu dokter (maksudnya ketika berobat tau menemani rekan/keluarga). Maksudnya cerewet yang pada tempatnya gitu…

2. Jangan takut pada dokter, kalau dia galak (dulu aku pernah ngalami waktu masih SMP, digertak sama dokternya…yah aku tinggal aja tuh dokter .tinggal cari dokter lain…)

3. Yang perlu anda tanyakan (biar cerewetnya ga kelewatan…) ialah:
“kira-kira apa penyakitnya, Dok?”
(jangan putus asa kalau dokternya belum bisa jawab atau tidak tahu) tanyakan aja: “perjalanan gejala penyakitnya bagaimana ya?”
“kemungkinannnya bisa apa saja nantinya?”
“apa yang bisa saya lakukan untuk mendukung diagnosis dan penyembuhan penyakit saya?
“apa pantangannbagi panyakit saya”
“saya harus bagaimana, Dok?”
“bagaimana prosedur pemeriksaan/pengobatan yang harus saya lalui, Dok?
“apa saja pemeriksaannya?
“ada alternatif lain, Dok?”
“bagaimana cara saya menggunakan obat ini Dok?”
“Apakah ada obat yang lebih murah, Dok?” (ini penting, mintalah yang Generik terlebih dahulu, jangan mau asal diberi obat)
tanyakan kegunaan obat :”yang ini buat apa, Dok?”

4. Anda bisa mencari second opinion (bertanya ke dokter lain tentang penyakit anda dan lainnya)

5. Bantulah dokter untuk untuk belajar ngomong sama pasiennya dengan cara mengkampanyekan setiap pengalaman anda ketika berhubungan dengan dokter kepada orang lain.

6. Jangan mengejek/mencibir/kehilangan kepercayaan/melarikan diri, bila dokter membuka kepekan/contekan/catatan/menelepon konsulennya (seniornya) ketika dia bingung/tidak tahu/tidak hapal/ragu. Karena sebenarnya setiap dokter sudah dibekali pengetahuan tentang alur perjalanan penyakit, alur pengobatan, jenis obat dan sebagainya. Cuma terkadang lupa dan perlu memastikan, atau memang belum pernah mendapatkan kasus penyakit anda tersebut. Ini akan sangat membantu anda semakin ditangani secara benar oleh dokter tersebut. Asal si dokter tidak selalu membuka contekannya atau terlalu vulgar mengungkapkan ketidaktahuannnya di depan anda, maka anda tidak perlu khawatir. Gunakan senjata anda yaitu mencari second opinion.

Semoga berguna.