Diposkan pada tak terkategorisasi

Klo sekarang lagi di Gombong, Kebumen nih, ngantar istri ke Jakarta dan njenguk anak pertama, lumayan bisa nginap 1 malam, ntar sore cabut ke Jogja lagi :-)


Diposkan pada tak terkategorisasi

Lagi di Grogol, Parangtritis, bermalam di rumah mbah Putri…


Diposkan pada asuransikesehatan, kontemplasi

Pesan Nabi Yusuf Terlupakan Oleh Kaum Muslimin


Rating: ★★★★★
Category: Other

Ah, bagus sekali ini tulisannya,ternyata memang mukjizat dan sekaligus bisa jadi dalil motivasi 🙂

———————————
Sura Yusuf (12) merupakan rujukan utama Kaum Muslimin untuk menabung dan berasuransi. Akan tetapi Sura Yusuf ini hanya tersosialisasi pada kaum Muslimin sebagai Sura yang dibacakan kepad Ibu Hamil supaya janinnya kelak ganteng seperti Nabi Yusuf. Namun makna yang terkandung dalam Sura Yusuf sesunggungnya banyak sekali, bukan hanya sebagai Sura yang dibacakan untuk Ibu Hamil. Dalam Sura Yusuf telah mencatat perdagangan orang, sifat diskriminasi orang tua terhadap anak, hakim yang adil, penguasa yang lalim, tabir mimpi, dan terpenting tentang menabung dan berasuransi.

Pada saat saya mengikuti training asuransi Pelatihnya bukan seorang muslim, namun ia secara cerdas dan sadar menjelaskan firman Allah dalam Sura Yusuf terutama ayat 47 dan 48. Ini mujizat Quran untuk Manusia (bukan hanya kaum Muslimin).

Sura Yusuf ayat 47, bunyinya “Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Ayat 48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

Sungguh dahsyat ayat ini telah memberikan petunjuk yang pasti bahwa manusia tidak selamanya mapan, namun suatu waktu akan merasakan kesengsaraan. Hal ini dapat dianalogikan – saat sehat kita mengumpulkan semua harta, pada masa sulit merasakan jeri payah selama masa sehat.

Pertanyaannya sekarang mengapa Kaum Muslim tidak banyak menabung dan berasuransi? Jawaban sementara, belum banyak ustad yang diamanahi untuk mencerdaskan umatnya, secara sadar memperkenalkan ayat-ayat Al-Quran yang telah teruji. Selain itu…para ustad masih berkutat dengan masalah hilafiah. Yang seharusnya mereka memberikan pemahaman yang mumpuni kepada umatnya, justru mereka lebih banyak menakut-nakuti umatnya.

Masjid Corong Perbankan dan Asuransi

Sudah saatnya Masjid sebagai corong Perbankan dan Asuransi. Tidak henti-hentinya ustad Antonio Safei memperkenalkan mengenai Bank Syaria, namun upaya beliau belum banyak mendapat sokongan yang masif sampai ke daerah Perdesaan.

Ustad dan imam Masjid patut mengoreksi diri – apakah telah menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama dalam membangun umat? Jika belum, maka sudah saatnya untuk berubah. Selama ini Al-Quran terkenal bukan oleh Kaum Muslimin, justru oleh umat lain – lihat saja mereka yang sukses memperkenalkan Asuransi, Lebah, dan lain-lain mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai rujukan utama, meskipun mereka tidak secara nyata menyatakan. Begitu juga, jika kita memperhatikan literatur tentang motivasi, maka sebagian besar rujukannya Al-Quran dan Al-Hadist. Itupun juga mereka tidak secara nyata menyebutkannya. Hanya mereka yang secara sadar telah menyelesaikan pembacaan Al-Quran dan Al-Hadist dapat menemukannya.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita mengenai ”Kelapa Sawit” yang mengalami masa booming sekitar beberapa tahun yang lalu. Para petani dan pengusaha terus memperluas lahannya, namun mereka lupa menabung dan mengantisipasinya. Saat Kelapa Sawit mengalami penurunan, petani dan pengusaha kelagapan. Intinya, mereka lupa pesan dalam Sura Yusuf (12).

Begitu juga banyak kaum Muslim yang miskin tidak dapat menyekolahkan anaknya, karena mereka belum menjadikan Al-Quran sebagai pegangan hidup, selain mereka tidak punya Quran, juga tidak bisa baca. Ini semua menjadi tanggung jawab Masjid.

Pesan Allah kepada Nabi Muhammad untuk umat Manusia Baca…Baca…Baca… Bukan hanya baca huruf tetapi semua pesan yang ada di alam.

Ayo Menabung dan Berasuransi…
———————————

Sumber: http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2010/11/18/pesan-nabi-yusuf-terlupakan-oleh-kaum-muslimin/

Gambar: http://pcinsureme.files.wordpress.com/2009/08/car-insurance-funny.jpg

Diposkan pada jalan jalan, travelling

Pulang kampung setelah 5 tahun ga pulang, bagian I


Lebih dari 2 bulan yang lalu kami sudah merencanakan untuk pulang kampung besar-besaran sekeluarga ke Pekanbaru, Riau. Tepatnya kampung halamanku. Masalah yang ada tidak sesederhana yang diduga. Setelah pesan tiket pesawat PP, ternyata bulan November ini Gunung Merapi meletus. Namun itu tidak memadamkan tekad yang sudah bulat. 5 tahun aku belum pulang kampung sejak menikah dan sejak anak-anak lahir. Belum tentu juga tahun depan akan bisa menyediakan waktu dan uang buat pulang.

Dengan sistem relasi sekarang, dipisahkan dari 3 tempat yang berbeda. Anak pertama di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Aku di Sleman, Yogyakarta, dan istri serta anak kedua di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Jadi keberangkatan dilakukan secara estafet. Pertama, anak pertama (Ifa) diantar oleh iparku ke Jogja. Lalu, dari Jogja aku membawa Ifa ke Jakarta naik kereta api yang aku pesan mendadak, dan alhamdulillah masih dapat gerbong cadangan eksekutif satu-satunya yang harga tiketnya hampir menyamai tiket pesawat. Bandara Adi Sucipto masih ditutup dan tiket sudah di-refund, namun tetap harus mengurus di Cengkareng saat check-in di sana.

Sampai di Cengkareng, ketemu dengan istri dan anak kedua (Nadifa) yang sudah menunggu untuk check-in. Stresor untuk ketiga kalinya terjadi di sana setelah sebelumnya sempat stres dengan antrian panjang di Adi Sucipto dan Stasiun Tugu. Untunglah pesawatnya telat…hhhh…baru sekali ini agak senang kalau pesawat telat.

Alhamdulillah, Ahad siang, 7 November sekitar pukul 14 lewat kami sampai di Bandara Sultan Syarif Qasim II, Pekanbaru, Riau. Masih was-was juga, karena katanya taksi Pekanbaru termahal di Indonesia, jarak 3 km saja bisa bayar 30 ribu. Ternyata engga (mungkin sudah diperbaiki oleh pemda). Sampai rumah kena 70 ribu yang berjarak kira-kira 15 km dari bandara.

Karena kami memang merencanakan pulang kampung ini sebagai kejutan tanpa memberi tahu siapapun selain keluarga di Gombong, maka pertemuannya menjadi heboh sekali dan penuh keheranan, hehehe. Kami di sambut oleh adik-adikku yang ternyata lengkap ada di rumah dengan anak-anaknya, serta bapak dan mamaku…senangnya membuat mereka terkejut dan gembira….

Di Pekanbaru kami stay selama 1 minggu, tidak banyak tempat yang kami bisa kunjungi (entar aku buatin jurnal buat lokasi jalan-jalannya) karena fokus silaturahim, ngobrol ngalor-ngidul, dan ngurus anak yang mendadak menjadi sangat manja alias rewel, mungkin situasi baru, tapi mereka cepat akrab kok sama siapa saja 😉

Nah, Hari Ahad berikutnya, tanggal 14 siang kami cabut kembali ke Jakarta, dan tiket ke Jogja juga sudah di-refund karena ternyata bandara masih tutup. Sampai di Jakarta langsung cabut ke Gambir naik Damri. Wah, ternyata di Gambir sudah penuh antrian tiket. Parah benar situasinya dan kami sangat stres di sana, karena selain menjaga anak, kami sendiri energinya terkuras karena belum makan. Antrian selama 3 jam belum dibuka-buka dengan alasan menunggu kepastian penambahan gerbong cadangan serta perbaikan dan pemeriksaan kereta api di Manggarai.

Mendekati jam 21, kami memutuskan untuk memesan tiket untuk besok pagi saja. Ternyata yang langsung ke Jogja juga sudah habis, bahkan yang malamnya juga sudah habis, tinggal sebuah kereta eksekutif yang mahalnya minta ampun, 300 ribu per orang, padahal kami butuh 4 kursi. Aku stres sendiri sambil menggendong Ifa yang beratnya, minta ampun, hehehe, mana dia minta susu dan kecapean, jadi ngaso dan tidur sebentar nggelosor di lantai. 15 menit aku ngantri lagi dan tanya ke petugas kereta apa aja yang kosong untuk besok malam. Alhamdulillah masih ada Sawunggalih Utama, meskipun cuma sampai Gombong (perhentian terakhir sampai Kutoarjo). Tanya yang eksekutif ternyata cuma tinggal 3 kursi, akhirnya pesan yang bisnis saja. Dan akhirnya bisa lega dapat tiket meski harus telat 1 hari. Selanjutnya kami transit dulu di kontrakan istri di bilangan Ragunan, mengumpulkan tenaga untuk keberangkatan Senin malam. Jadilah hari Senin kami jadikan untuk menyortir ulang bawaan, dijadikan 1 koper saja, menyuci pakaian, dan main ke Kebun Binatang Ragunan….

Syukurlah akhirnya kami bisa sampai ke Gombong, dan Selasa siang aku cabut ke Jogja naik bis, sendirian saja karena cuti istri masih 1 minggu lagi, dan lebih baik di Gombong saja mengingat situasi di Jogja belum pasti dan kasihan kalau ditinggal-tinggal nantinya.

Diposkan pada tak terkategorisasi

Sudah niat untuk ga makan daging kurban, eh, malah diantar sama tetangga yang beda agama, daging kurban jatahku, aku bilang aja: "tolong diambil aja, silakan dimasak, aku ga bisa masak, apalagi cuma sendirian". Eh, ga berapa lama datang lagi tuh tetangga membawa semangkok daging wangi yang sudah masak dibumbui…waduh makasih banyak *masukin kulkas dulu aja buat besok-besok…hehehe


Diposkan pada tak terkategorisasi

apakah Menkominfo bisa BERTINDAK? Judi berkedok konten lelang dari telkomsel (atau mungkin privoder lain), mau sampai kapan???


Diposkan pada kesehatan, penyakit

TIPS – Bagi yang mau diet ketat :-)


Rating: ★★★★★
Category: Other

Mumpung masih lebaran haji dan banyak tersedia makanan enak tapi bisa mematikan bagi beberapa orang, maka aku kopaskan artikel menarik berikut:
—————————————————————

Keadaan Lapar Rasulullah

Dari An Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad Saw hanya mendapat kurma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.” (HR. Muslim dan Tarmidzi).

An Nu’man bin Basyir juga katanya, bahwa “Pada suatu ketika Umar bin Khattab menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia. Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Aku pernah datang kepada Rasulullah ketika dia sedang shalat dengan duduk, maka aku pun bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa aku melihatmu shalat dengan duduk, apakah engkau sakit?’ Jawab beliau, ‘Aku lapar, wahai Abu Hurairah.’ Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu beliau berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia.” (HR. Muslim).

Dari Aisyah dia berkata, “Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, dan beliau juga tidak makan, karena kami tidak punya lampu. Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.” (HR. Ahmad).

Abu Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah katanya, “Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan.

Dari Aisyah dia berkata, “Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah tidak pernah berasap.” Berkata Urwah, “Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu?” Jawab Aisyah, “Kurma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah dari kaum Anshar yang membawakan untuk kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah katanya, “Sering kali kita duduk sampai 40 hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya, ‘Jadi apa makanan kamu untuk hidup?’ Jawab Aisyah, Kurma dan air saja, itu pun jika dapat.”

Dari Masruq berkata, “Aku pernah datang mengunjungi Aisyah lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh, ‘Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya!’ Aku bertanya, Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin? Aisyah menjawab, ‘Aku teringat keadaan di mana Rasulullah telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari’.” (HR. Tarmidzi).

Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut, “Tidak pernah Rasulullah kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia.

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah, “Rasulullah tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri.”

Dari Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar.” (HR. Tarmidzi).

Dari Abu Hurairah berkata, “Pernah Rasulullah mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Rasulullah meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu.” (HR. Bukhari).

Pernah Fathimah datang kepada Rasulullah membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah, “Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?” Fathimah menjawab, “Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu!”

Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah berkata, “Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan, ‘Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu’.”

Dari Sahel bin Sa’ad dia berkata, “Tidak pernah Rasulullah melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya, ‘Apakah tidak ada pada zaman Rasulullah ayak yang dapat mengayak tepung?’ Jawabnya, Rasulullah tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi, ‘Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu?’ Jawabnya, Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya.” (HR. Bukhari).

Abu Talhah berkata, “Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (HR. Tarmidzi).

Ibnu Bujair berkata, “Pernah Rasulullah merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat’.”

Dari Aisyah dia berkata, “Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada umat ini sesudah kepergian Rasulullah ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalela lah syahwatnya!” (HR. Bukhari).
Subhanallah, Maha Suci Allah…

Dari beberapa hadits di atas, betapa zuhud dan sabarnya Rasulullah, karena beliau menganggap kehidupan akhirat lebih baik dari pada kehidupan dunia. Sesungguhnya Rasulullah orang yang sangat kaya harta (kalau beliau mau). Akan tetapi, bukan berarti beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu lapar dan miskin. Rasulullah mengajarkan kepada kita agar mempunyai pola hidup sederhana, kita tetap berusaha dan bekerja keras, namun tidak menggantungkan semuanya kepada dunia.

Kelemahan umat Islam yang lebih memahami bahwa keberadaan Rasulullah itu miskin. Sejarah membuktikan bahwa sesungguhnya Rasulullah adalah seorang pebisnis ulung.

Di usia 7 tahun beliau memulai berbisnis dengan usaha manajemen (menggembalakan) kambing milik para investor (kabilah). Lima tahun kemudian beliau memulai perjalanan bisnisnya ke Negeri Syam yang berjarak lebih dari 1.000 km dari tempat tinggal beliau. Dari pengalaman menjual barang-barang dagangan para khalifah tersebut, beliau boleh dibilang sukses. Etos kerja yang kian tinggi serta kredibilitas (Al-Amin) beliau menjadikannya pebisnis yang (hampir) selalu beruntung. Hal itu menyebabkan banyak investor (pemimpin kabilah) yang kemudian menitipkan uangnya kepada Rasulullah.

Pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan sesama pebisnis, Khadijah, yang juga dikenal cukup sukses. Mahar kawin yang beliau serahkan adalah 25 ekor unta. Kalau dimisalkan 1 ekor unta senilai Rp. 10 juta, maka mahar beliau saat itu sekitar Rp. 200 juta. Zaman sekarang pun amat sangat jarang ditemukan pemuda yang menikah dengan mahar sebesar Rp. 200 juta. Apalagi, kalau diumpamakan bahwa unta saat itu senilai dengan sebuah mobil, maka mahar yang beliau berikan setara dengan 20 mobil.

Sungguh hebat! Hanya saja, kemudian Rasulullah memang memberikan hartanya untuk kepentingan umat. Setiap tahunnya beliau malah menyumbangkan tak kurang dari 600 ekor unta. Rasulullah adalah seorang yang kaya raya. Hanya saja, kekayaan yang diraihnya betul-betul melalui jalan yang halal dan ridlo. Beliau juga senantiasa menjaga kredibilitas dan menyalurkan kembali kekayaan beliau sebagai jalan penolong bagi orang-orang yang lemah di sekitarnya.

—————————————————————
Catatan:
Aku sebenarnya juga masih senantiasa berusaha untuk diet, entah kapan berhasil dan konsisten, lah, pulang kampung aja kemarin dibekalin rendang dan makanan bernuansa durian, hehe….

Mudah-mudahan beberapa hari ini ga mendapatkan menu daging-dagingan 🙂

Sumber tulisan: http://mahluktermulia.wordpress.com/2010/02/10/keadaan-lapar-rasulullah/

Gambar dari: http://www.widyadara.com/wp-content/uploads/2010/06/Tips-Diet-Alami.jpg

Diposkan pada tak terkategorisasi

terdampar di Jakarta….


Diposkan pada tak terkategorisasi

bersiap meninggalkan Jogjakarta menuju pulau Andalas selama 1 minggu, moga Jogja tenang ya…


Diposkan pada kontemplasi

Benarkah Bahwa Gunung-gunung Sebenarnya Bergerak?


Rating: ★★★★★
Category: Other

Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an, 27:88)

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi. Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut: Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil.

Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Sumber: http://penyejukhatiku.wordpress.com/2009/02/19/benarkah-bahwa-gunung-gunung-sebenarnya-bergerak/

Foto: http://news.yahoo.com/nphotos/Mount-Merapi-volcano-erupts/ss/events/sc/102510mountmerapi