
Bagian pertama silakan baca di
sini
Menyambung perihal salah paham/kaprah terhadap dokter….ini tanggapanku:
Salah paham I
Sebenarnya tidak semua dokter itu harus buka praktik (buka warung… hehehe). Karena sesungguhnya ada banyak saluran kerja bagi mereka yang lulus dari sekolah kedokteran, bisa jadi peneliti, bisa jadi dosen, bisa jadi birokrat, bisa jadi artis (hehehe). Di dunia kedokteran sendiri dikenal dua jalur karir yaitu profesi (klinisi, jenjang spesialis, private health ) atau akademisi (termasuk menjadi dosen, peneliti, atau birokrat, biasa di sebut aliran public health). Jalur klinisi biasanya praktik pribadi atau kerja di instansi pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumahsakit, sedang jalur akademisi biasanya kerja di institusi pendidikan atau lembaga konsultan. Tetapi tidak mesti begitu, karena banyak yang menggabungkan keduanya. Birokrat dalam hal ini bahkan bisa berasal dari kedua jenis jalur tersebut.
Salah paham II
Menurutku, dokter memang profesi mulia, karena terkait dengan menyelamatkan hidup/nyawa manusia. Untuk ukuran Indonesia memang dokter masih dianggap sebagai kaum "terpandang", aku pun sulit memungkirinya. Pernah pas pulang kampung saja, aku naik sepeda jalan-jalan, malah diceletuki: "Dokter kok naik sepeda sih….?"
Nah, inilah yang salah menurutku, masyarakat kita sendiri ternyata berperan besar memperbesar stigma/stereotype/citra yang demikian. Sehingga akhirnya wajar saja dokter tiba-tiba tidak tahan dengan image tersebut, bahkan bisa menjadi buas, "melahap" pasiennya. Sebagai gambaran saja, sebagian dokter terkonsentrasi di kota besar. Di Jakarta saja terdapat lebih kurang 20 persen dokter spesialis dari total jumlah dokter spesialis di Indonesia. Bayangkan….apalagi kalau bukan demi yang satu itu….. **mirisss**
Selain itu, kalau mau menjadi kaya sekaya-kayanya, sebenarnya tidak selayaknya memilih profesi dokter, karena sangat mungkin akan terjadi penyimpangan-penyimpangan seperti kolusi dokter dengan pabrikan farmasi, pembodohan pasien, dan yang lebih parah terjadi malpraktik.
Salah paham III & IV
Yah, kalau dapat (pengen nyari) jodoh seorang dokter itu sesuatu yang heboh en asyik, ya boleh-boleh aja sih. Cuma itu….alasannya banyak yang ga masuk akal gitu. "Biar bisa ada yang mengobati kalo sakit…" Menurutku ini alasan terbanyak. Termasuk aku sendiri dulunya juga dianjurkan oleh ortuku masuk sekolah kedokteran, karena alasan yang satu ini, belum ada keluarga kita yang jadi dokter…. " :-b
Kenyataannya seorang dokter pada akhirnya sering tidak bisa mengobati bila ada anggota keluarganya yang jatuh sakit, karena berbagai alasan etis dan emosional, takutnya ntar bukan akal sehatnya yang jalan ketika mengobati. Atau begini, aku sendiri pernah nawari sepupu kecilku yang mo khitan, sama aku aja…tapi toh dia-nya yang maluww 😀
Alasan berikutnya tentu saja alasan prestise! entahlah kenapa bisa begitu. Padahal istriku sendiri aja tidak pernah bercita-cita mendapatkan jodoh (bahkan cenderung alergi dengan) dokter. Sama sih dengan cita-citaku, tapi di akunya berhasil ga dapat dokter, di dianya malah gagal..hehehe….



Yah…, dari pagi aku sibuk berkutat dengan pekerjaan, praktik, dan malamnya ada acara rutin mingguan sampai pukul 23-an.
paginya padahal kami sempat ngobrol lama membicarakan (baca: mengevaluasi) perjalanan pernikahan kami, sampai istriku sesenggukan mengenang beberapa hal yang tidak mengenakkan…aku pun sebenarnya sempat berkaca-kaca, tapi ku coba menahan diri sambil menenangkan istriku…
sedang dia tentu saja memesan bakso…
)










Tadi iseng-iseng buka MP, eh ada hetsot panitia 