Diposkan pada tak terkategorisasi

Aduuuh…sakit banget nih :-(


Gara-gara makan ga teratur dan dengan beberapa menu “asing” yang ku santap kemarin, pagi ga sarapan, siang bebek kremes yg belum pernah sama sekali ku makan waktu maksibar MPers, trus ditraktir siomay sama teman kantor, malam telat makan dengan menu kakap bumbu yg ga jelas gitu, akhirnya perut sakit luar biasa plus mual saat bangun dini hari tadi. Niatnya tadi mau puasa dan sudah nyiapin sahur, akhirnya gagal. Apalagi subuh tadi aku langsung diare, lemeees…dan maagku kambuh skaligus. Ya, Allah, mana ga ada cadangan obat lagi di rumah…Mudah-mudahan aku bisa berangkat kerja hari ini, mana ada rapat lagi ntar sore…skarang aku tepar di kasur menenangkan perut yg lagi mengamuk ini. Terasa juga ya kalau lagi singel begini, ga ada yang biasa ngurusin secara istri lagi pulang kampung sejak ahad kemarin. Untung tadi nelponin jadi langsung dicerewetin lagi akunya, lumayan menghibur…hehehe. Aduh… masih sakit nih..perih..panas.. makanya lain kali kalau makan jangan mikir lidah aje, pikirkan kan juga tuh perut..

Diposkan pada dokter

Hehehe, dapat "pujian" dari pasien


GR juga nih (dikit sih…), habis…, seorang mahasiswi nanya ke aku:

“Sebelum kerja di sini di mana lagi, Dok?”
“Aku ndoble, eh, triple ding… di xxx dan di zzz”
“Mmm…kok kayaknya dokter beda ya, sama yang lain…?”
“O, iya, memang…jelas beda dong…” (masih ga ngeh…)
“Angkatan berapa, Dok?”
“Angkatan 98”
“Jadi…, kelahiran…80”
“Bukan, 79”
“O, iya, Dok, beda gitu, klo dokter lain…ditanya cuma jawab: “ya..ya..mmm”, tapi kalau dokter engga, jelas gitu…” (hehehe, di sini aku GR abisss)
“O, iya, benar, aku juga ngerasa begitu di sini, aku memang beda kok..hehehe”

Kemudian aku jelaskan ke dia:
“Ya, gimana ya mba, kan aku juga sering bingung kalau dapat pasien dari dokter lain, waktu ditanya: “kemarin dokternya ngasih obat apa, diagnosisnya apa, hasil foto dan lab-nya apa?”, walah pada bengong juga ga tau begitu…, nah, aku kan jadi ngerasa, gimana klo itu kita yang sebagai dokternya…?

Jadi, memang, akhirnya aku buktikan sendiri, mengapa dokter ga suka banyak bicara (silakan di klik link-nya).

Jadi pilihannya kembali kepada kita, aku, sebagai dokter yang butuh banyak belajar dan menularkan pengetahuan kepada pasien, bukan membuat pasien menjadi semakin bodoh dan bisa terus diperdaya oleh dokter yang suka diam…hmmmm… 🙂

Catatan: Aku bilang juga ke mbak-nya, “Ya, tapi kalo pasien ramai banget, terpaksa aku ga bisa ngomong banyak mba, kasihan kan yang mengantri…”

Gambar di comot dari sini

Diposkan pada dokter, rokok

Dik…boleh merokok, tapi….


Ini dialog singkat ketika menerima keluhan seorang mahasiswi dan juga seorang mahasiswa yang berobat karena batuk-batuk lama, nyeri pada tenggorokannya, dan sesak napas. Ya, mereka mengaku sendiri klo merokok aktif dengan intensitas tinggi. Ini contoh pasien yang baik, belum ditanya udah menjawab…hehehe

"Aduh Dik…kenapa masih merokok, ga kasihan apa, sama badan sendiri…?"


"Iya, Mas…ini juga udah mulai dikurangi"


"Bagus, klo bisa ya distop, kasihan kan badannya, apa mau bergaya, klo sakit gini kan ga keren lagi?"


"Engga kok, sudah kebiasaan kali Mas…." (aku: sama aja kan…hehehe)

Terus terang, aku sebenarnya miris plus kasihan, plus "benci" sama perokok. Selain merugikan orang lain, ya itu tadi, kok ya ga mikir, klo dah sakit, kan jadi susah gitu…

Jadi, pas momennya tepat gini sekalian aku beri edukasi deh, biar bisa lebih dipikirkan apa yang telah mereka lakukan.

Jadi silakan saja merokok jika siapa dengan konsekuensinya… (tapi mbok ya aku ragu gitu…)

Konsekuensi merokok:

1. Kantong cekak (dalam setahun bisa menghabiskan duit jutaan bahkan puluhan juta rupiah)

2. Membawa orang lain menderita sakit

3. Jadi kebiasaan (karena mungkin awalnya cuma coba-coba, "pengobat" stres)

4. Mulutnya bau (mungkin hanya sesama perokok yang suka baunya)

5. Habis uang buat berobat

6. Menimbulkan penyakit jantung dan pembuluh darah

7. Menimbulkan kanker paru dan saluran napas

8. Sekarat

9. tambahin ya…

10. tambahin lagi ya…hehehe

11.Masuk kubur

Sekedar catatan: salah satu dosenku dulu meninggal akibat kanker nasofaring/saluran napas karena beliau perokok berat, sejak itu ada peraturan di fakultas kami, wilayah bebas rokok dan asap rokok, kecuali bagi yang mau merokok disediakan di samping kandang hewan percobaan (sekalian ikut jadi manusia percobaan….masih juga ga mau mikir!!)

Gambar dicomot n dikrop dari
sini

Diposkan pada jogja under cover

Mahasiswi oh mahasiswi…Jogja Undercover versiku, bagian I


Jogja Undercover versiku!! Yah, ingin sekali membuat bahasan ini sejak lama, akhirnya bisa terwujud juga. Beberapa tahun silam, peneliti muda Iip Wijayanto pernah mengadakan studi yang hasilnya sangat mengejutkan, mengenai virginitas di kalangan mahasiswi. Terindikasikan sebagian besar sampel penelitiannya tidak perawan lagi.

Aku awalnya tidak terlalu pedulilah, apalagi memang Iip mengambil sampel sebagian besar mahasiswi yang kuliah di kampus yang notabene bisa ditebak ke arah mana tipe pergaulannya….

Waktu masih koasistensi (praktik dokter muda) di bagian ginekologi dan kandungan, sebenarnya aku cukup banyak mendapatkan kasus akibat pergaulan terlarang tersebut. Lucu-lucu dan gemes juga kalau mengingat kembali. Ada yang ingin menggugurkan kandungannya, karena pacarnya belum lulus kuliah. Ada yang ketakutan hamil dan selaput daranya robek karena baru sekali berhubungan dengan pacarnya, pas dites kehamilan, masih negatif, kelihatan raut mukanya gembira…
Ada yang paling lucu nih, seorang mahasiswi di universitasku periksa ditemani pacarnya, kok ga dapet “tamu” udah sekian lama, eh ternyata pas diperiksa dia hamil 30 minggu lebih…

Sekarang aku kembali menemukan hal-hal tersebut, di kampusku tercinta ini, yang aku duga orangnya “bersih-bersih”, ternyata banyak kejadian serupa. Contoh saja seorang pasien, mahasiswi yang cantik sekali (menurutku…), memeriksakan diri dengan keluhan tidak enak pada perutnya, belum juga datang “tamu”. Aku kan selalu berbaik sangka gitu lah, sehingga terapinya masih biasa-biasa saja. 😀 Beberapa hari kemudian, datang lagi dengan keluhan yang sama, tetapi dengan alasan, obatnya hilang, jatuh entah kemana…terus aku beri lagi obat yang sama, dan disarankan kontrol lagi.

Pas kontrol berikutnya, giliran temanku yang sudah sangat berpengalaman dengan kasus-kasus demikian, memeriksa mahasiswi tersebut. Yah, dia masih menduga hanya masalah hormonal biasa, sehingga diberikan obat yang biasa pula, tetapi sebenarnya berbahaya bagi orang hamil. Yah, inilah risikonya kalau pasien ga mau ngaku ketika ditanya, apalagi kita kan seringnya berbaik sangka gituww… :-). Aku yang ngerti, klo dia itu pasienku, menanyakan tentang kemunginan dugaan temanku, yah, sama aja, masih berprasangka baik :-), terus aku baru ingat: “eh, mungkin ga dia hamil??”, teman bilang: “o, iya, patut dicurigai itu, duluw-duluw juga banyak kasus begitu…” walah…! Ternyata benar, pas kontrol berikutnya, diperiksa oleh temanku itu (sayang sih, bukan aku yang periksa, hehehe…). Akhirnya dia ngaku melakukan hubungan seks (itu pun setelah melalui anamnesis/wawancara yang sangat panjaaaaaang, kata temanku di statusnya). Great!! Di sinilah kami juga ditantang menjadi detektif yang hebat… 😀 Hasil tes kehamilannya juga positif. Tapi obat yang diberikan teman kemarin itu, kontra indikasi dengan orang hamil, bisa-bisa malah keguguran (tapi, mungkin itu yang diharapkan oleh si mahasiswi….). Akhirnya obat distop, dan pasien hanya disuruh kontrol lagi.

Perkembangan lanjut belum jelas, karena oleh dokter lain, pasien dirujuk ke ahli kandungan, karena hasil tes kehamilannya jadi negatif (apa mungkin digugurkan ya…?? wallahu a’lamu…), yang jelas kata dokternya, ekspresi si mahasiswi senang banget, ketika tahu tesnya jadi negatif, kita tunggu perkembangannya saja…

pic dari sini